Hong Gil Dong – Episode 12

Chang Whe membuat Enok tertegun dengan pelukannya yang tiba-tiba, dengan sengaja mencegah Enok untuk melihat Gil Dong. Gil Dong sendiri tidak melihat mereka berdua karena asap yang tebal, berjalan pergi untuk berkumpul kembali dengan Yeon dan Gom.

Di dermaga, Dayang Noh menghadapi Menteri Hong, yang datang untuk melakukan inspeksi hasil dari insiden itu. Sial bagi Hong (dan untung bagi dayang Noh), setiap anakbuah dari Choi telah terbunuh, yang berarti tidak ada seorangpun dapat diinterogasi mengenai bahan-bahan peledak Choi. Dayang Noh meminta maaf pada Hong, tapi saat itu sudah tidak ada waktu, dan mereka dipaksa untuk bertindak sesegera mungkin kalau tidak maka Choi bisa melarikan diri. Hong terpaksa menerima penjelasan dari Dayang Noh meskipun ia tidak mempercayainya.

Gil Dong meneruskan perjalanannya melalui desa, dan berpapasan dengan In Hyung. Sebagai seorang pengecut, In Hyung telah memerintahkan pasukannya untuk maju, sedangkan ia sendiri mundur ke belakang untuk menghindari pertarungan. In Hyung memerintahkan orang asing berpenutup kepala untuk berhenti, dan Gil Dong sedikit ragu-ragu, bagaimana ia bisa melarikan diri sekarang tanpa  memperlihatkan wajahnya?, ketika seseorang memukulkan sebuah kendi di kepala kakaknya itu. In Hyung jatuh tersungkur dan tak sadarkan diri.

Ternyata orang itu Eun Hye, yang datang dengan tergesa-gesa untuk mencari Gil Dong, takut dengan keselamatannya. Gil Dong bereaksi setengah berterima kasih, setengah waspada karena Eun Hye telah membuat dirinya sendiri dalam bahaya. Lebih jauh lagi, jika Eun Hye tertangkap karena keterlibatannya dengan para bandit, tidak ada kebaikan bagi mereka semua.

In Hyung mulai sadar, jadi Gil Dong segera meraih Eun Hye dan menyeretnya untuk berlari, tapi mereka segera saja terpojol oleh para pengawal. Setelah ragu-ragu sejenak, Gil Dong melakukan hal yang terbaik yang bisa ia pikirkan ….

…. yang mana membuat Eun Hye menjadi “sandera” nya. Ini akan membuat Eun Hye selamat dan tidak dicurigai, dan membuat dirinya dan para bandit dapat mundur dengan selamat. Eun Hye tahu kalau Gil Dong sekarang bertindak sebagai penjahat kembali demi keselamatan dirinya, dan memegang tangan Gil Dong dengan penuh rasa terima kasih.

Mereka berdua berlindung sementara di sebuah gudang kosong, di mana Gil Dong melihat kalau Eun Hye terluka di kakinya, yang sudah tidak bersepatu karena hilang, terkena pecahan kaca dan berdarah.

Eun Hye tidak mengambil pusing akan lukanya, tapi Gil Dong merasa bersalah karena Eun Hye terluka disebabkan olehnya: “Bagaimana kau bisa berlari dengan kaki seperti ini?” Eun Hye: “Karena aku pikir lari secepat mungkin akan membuatmu keluar dari bahaya!”

Sementara Gil Dong merawat kakinya yang berdarah, tak sengaja kantong yang dibuat oleh Enok jatuh dan Eun Hye melihatnya.

Di desa, Enok bertanya pada Chang Whe yang sudah tenang apa maksud semua perbuatannya tadi. Apa maksudnya ia kehilangan seseorang? Mengapa Chang Whe memeluk dirinya? Enok bertanya-tanya jika Chang Whe sangat cemas karena dirinya telah marah pada Chang Whe baru-baru ini? Chang Whe mengakuinya, yang membuat Enok meyakinkannya: “Itu bukan karena aku membencimu, tapi karena kelihatannya kau sedang membuat kesalahan!”

Chang Whe memberitahunya kalau insiden dengan Choi sudah selesai, dan semua gadis telah kembali ke keluarga mereka masing-masing. Enok memujinya habis-habisan, merasa bangga akan tindakan Chang Whe. Chang Whe bertanya apakah dia telah didatangi oleh beberapa orang tak dikenal? Enok menyahut: “Bagaimana kau bisa tahu?”

Sedikit kilas balik, beberapa orang sebelumnya telah berusaha untuk menyerang Enok, ketika Kakek Heo mengetuk pintu. Orang-orang itu menyuruh Enok untuk mengirim pergi kakeknya, jadi Enok menjawab kalau ia sedang beristirahat, merasa kekenyangan karena telah makan terlalu banyak. Kakek kemudian segera menyerbu masuk dan menunjukkan beberapa kemampuan bertarungnya yang selama ini ia sembunyikan, dan memberitahu mereka, “Cucu perempuanku selama ini tidak pernah sekalipun merasa kekenyangan di hidupnya.”

Kembali ke masa sekarang, Enok memberitahu Chang Whe untuk tidak mencemaskannya, kemudian ia menyebutkan pria Cahaya Bulan penolongnya sebagai salah satu contoh keberuntungannya. Berdasarkan deskripsi yang diberikan, Chang Whe menyadari kalau orang itu pasti Gil Dong, tapi Enok selanjutnya memberitahu kalau pria itu tidak dapat mengungkapkan identitasnya pada Enok. Chang Whe menyahut, “Karena dia menyembunyikan identitasnya padamu, aku tidak ingin memberitahukannya padamu.”

Menteri Heo mendengar menghilangnya Eun Hye dari pengasuh tuanya yang gemetaran, mengatakan kalau Eun Hye sedang bersama-sama dengan Gil Dong, yang pasti dia akan aman. Ini tidak meringankan kegelisahan Seo: “Jika ia diculik, itu masalah besar. Jika ia mengikutinya karena menyukai Gil Dong, itu masalah besar yang lebih lebih besar lagi.” Ia kemudian memikirkan bagaimana ia dapat menemukan anak gadisnya dengan diam-diam, tanpa mendatangkan perhatian atas masalah ini? Jika saja ada organisasi rahasia yang memiliki hubungan dengan para pejabat tinggi yang dapat menemukan Eun Hye untuknya ….

Ini membawanya bertemu dengan Dayang Noh, yang tidak senang saat mendengar kalau Gil Dong masih hidup dan Chang Whe meminta bantuan dari Gil Dong sebelumnya untuk menahan para pengawal. Dia menyalahkan Gil Dong karena telah menghancurkan rencana mereka, walaupun sebenarnya, ini adalah pekerjaan dari Chang Whe kali ini.

Gil Dong selesai membalut kaki Eun Hye yang terluka dan mengingatkannya untuk lebih berhati-hati. Gil Dong memberitahunya, mungkin ini Eun Hye lakukan karena berpikir menyenangkan dan karena ia tidak pernah benar-benar merasa terluka.

Eun Hye: “Memang benar aku tidak pernah terluka. Itu karena aku tidak pernah membuat diriku terlibat dalam apapun juga sebelumnya.”

Gil Dong: “Sekarang karena kau sudah tahu apa yang terjadi ketika kau melakukan apa yang belum pernah kau lakukan sebelumnya, jangan bertindak seperti ini lagi. Hiduplah seperti yang telah kau lakukan sebelum ini. Alasan mengapa aku membiarkan kau bebas bertindak sebelumnya karena kau tahu batasan mana yang tidak boleh kau seberangi. Tapi sekarang kau telah menyeberangi batasan itu.”

Eun Hye: “Aku sangat mencemaskanmu, aku tidak dapat menahannya.”

Gil Dong: “Itu sudah menyeberangi batasanmu. Kau tidak dapat pergi lebih jauh lagi. Kembalilah ke sisimu di seberang sana. Kau sangat cerdas, kau seharusnya tahu itu dengan baik.”

Eun Hye: “Ya, Aku tahu itu.”

Gil Dong: “Kalau begitu pulanglah sekarang.”

Eun Hye: “Hong Gil Dong. Oleh karenamu, aku terluka untuk pertama kalinya. Tapi terluka karenamu tidak masalah bagiku.”

Gil Dong: “Apakah itu karena kau tidak pernah terluka parah sehingga kau tidak memiliki rasa takut?”

Eun Hye: “Aku takut terluka. Jika aku tidak ingin terluka, aku seharusnya berhenti saja.”

Gil Dong: “Jangan datang lagi.”

Eun Hye: “Kalau begitu datanglah lagi saat bulan purnama berikutnya. Demi perpisahan kita. Jika aku kembali ke sisi di mana seharunya aku berada demi kebaikan kita, aku harus memiliki waktu terakhir bersama denganmu. Aku bukanlah orang bodoh, jadi setelah itu, aku akan kembali ke sisi tempatku berada.

Kali ini keduanya berbicara sebagai dua orang dewasa dalam pemikirannya. Gil Dong lembut tapi tegas dan Eun Hye memang menyadari kenyataan yang tak bisa ia elakkan walaupun ia tidak menyukainya.

Enok menyadari betapa sedikitnya yang ia tahu mengenai Chang Whe dan mengajukan berbagai pertanyaan pada Chang Whe, dia tidak tahu apa yang Chang Whe lakukan, bahkan juga namanya. Chang Whe menjawab bahwa jika Enok mengajaknya berkeliling hari ini, dia akan memberitahu Enok namanya. Jadi mereka berdua menghabiskan hari itu dengan bersantap di beberapa kedai makanan, menyusuri desa. Chang Whe tampak menikmati momen kebersamaannya dengan Enok, demikian juga sebaliknya.

Shim Chung menemui para bandit, terutama Su Geun untuk memberikan rasa terima kasih dari semua gadis yang telah diselamatkan oleh para bandit. Dia menyebut Su Geun dengan sebutan resmi sebagai “Orrabuni” (Kakak) – persis seperti panggilan adik Su Geun terhadapnya – yang membuat hati Su Geun tergerak,  mengingatkannya saat-saat kematian dari adiknya. Gil Dong yang melihatnya, mengatakan kalau Su Geun sekarang sangat emosional sejak ia menjadi  “Setengah Geun” …. ngerti maksudnya khan …. ahahahahha …

Chung menyebutkan bahwa para penduduk desa menjuluki para bandit sebagai “Hwal Bin Dang”, yang mengacu pada status kelompok mereka sebagai pembela rakyat jelata. Para bandit menyukai sebutan itu, begitu keren, dan bahkan Gil Dong, yang bersikap acuh tak acuh di luar, merasa tergerak hatinya.  Dengan ini mereka telah diberi julukan oleh rakyat, dan terlihat mereka, para bandit, sangat bangga, membuat mereka lebih kompak lagi dan menjadi kelompok yang sesuai dengan julukan mereka.

Di penghabisan hari itu, Chang Whe menepati janjinya dan memberitahu Enok nama lengkapnya, tapi Enok tidak boleh membicarakannya keras-keras, atau memberitahukannya itu pada orang lain. Enok merasa tersanjung ketika mendengar alasan mengapa Chang Whe memberitahukan itu padanya: “Ketika aku berpikir kalau kau mengetahui nama asliku membuatku merasa kalau aku dapat menjalani  hidup dengan lebih terhormat lagi.”

Sedikit ragu-ragu, Enok bertanya apakah Chang Whe sebelumnya datang untuk menyelamatkannya. Enok tidak merasa yakin karena Enok memang dasarnya TELMI, tapi kelihatannya tindakan Chang Whe hari ini mendukung pemikirannya itu. Chang Whe tersenyum, dan memberitahunya dengan sedikit berteka-teki, “Untuk seseorang yang telmi dan harus memikirkan sampai sejauh itu,  itu berarti kalau aku telah ….. ” Dia berhenti sejenak, kemudian memberitahu Enok untuk mengikuti intuisinya. Enok bertanya-tanya apa maksudnya itu….

Atas tindakannya terakhir ini, Chang Whe meyakinkan Dayang Noh:

“Itu bukan karena aku ragu-ragu. Sederhana saja, aku hanya mencari jalan keluar. Jika aku tidak melakukannya sekarang, maka saat nanti aku menyadari kalau aku telah mengambil jalan yang salah, aku akan kehilangan jalan untuk kembali. Sekarang ini, daripada mencari jalan keluar, aku harus menemukannya dalam diriku sendiri.”

Sementara itu, Kakek Heo dengan bersemangat berpikir untuk menikahkan Enok pada Chang Whe dan membawakan salah satu hanbok gisaeng milik Enok jadi dia dapat memakainya dan nampak seperti seorang wanita normal. Enok: “Bagaimana bisa Bayangan Bulan memakai pakaian seperti itu?” — ngakaq ….

Sedikit terlambat, Enok baru mengingat kacamata Gil Dong yang hilang, dan bertanya pada Chung apa ia melihatnya saat di gudang. Chung memberitahunya kalau ia gunakan pecahan kacamata itu untuk memutuskan ikatan mereka. Sisa pecahan kaca yang lain mungkin saja masih ada di gudang. Enok mulai beranjak pergi dengan tergesa-gesa, kendatipun Chung menyuruhnya untuk menunggu sampai pagi hari menjelang. Chung kemudian berujar, “Kau persis seperti yang ia deskripiskan, kau benar-benar selalu terburu-buru dalam menghadapi sesuatu.” Enok mendengarnya dan segera berhenti, “Dia?” Apakah itu artinya pria Cahaya Bulannya itu seseorang yang ia kenal?

Gil Dong dan Su Geun adalah yang terakhir meninggalkan tempat persembunyian sementara mereka, setelah mengirim para bandit satu persatu pulang ke desa bandit, dan Su Geun segera saja mengambil kesempatan untuk mengusulkan melakukan sesuatu yang menyenangkan: mereka berdua dapat berpakaian dalam pakaian bangsawan mereka dan mengunjungi Gibang. (Gil Dong: “Kau pikir akan baik-baik saja di sana, Setengah Geun?”)

Dan tiba-tiba saja, Enok menyerbu masuk, membuat Gil Dong terpaksa bersembunyi.

Dia memaksa, “Apakah aku pikir aku tidak akan mengetahuinya karena aku ini bodoh? Aku seharunya menduga siapa kau sebelumnya!” Julukan Su Geun Mata Kelinci seharusnya cukup menjadi petunjuk kalau dia sebenarnya adalah sang pemimpin bandit.

Mengetahui kalau pria itu ternyata Su Geun, Enok menyambutnya dengan hangat dan sangat senang, dan keduanya kemudian menghabiskan malamitu dengan minum-minum dan berbincang-bincang.

Eun Hye telah memutuskan untuk mundur dan kembali ke kehidupan normal seperti sebelumnya dan tidak menolak saat ayahnya meminta pernikahannya dipercepat. (Menteri Seo khawatir kalau Gil Dong akan merusak rencana pernikahan ini dan kemudian menghancurkan hubungannya dengan Menteri Hong: Dia menyewa Dayang Noh untuk melenyapkan Gil Dong).

In Hyung sangat cemas berlebihan dan menemui Eun Hye. Tapi menyaksikan betapa pengecutnya ia di desa, pendapat Eun Hye mengenai diri In Hyun sangatlah rendah. Ketika In Hyung dengan bodohnya bersumpah akan menangkap para pelaku yang menculik Eun Hye, suatu penghinaan bagi Eun Hye, ditambah dengan sikap pasrahnya mengenai Gil Dong, segera menyahut dengan dingin:

“Bagaimana caranya? Kau tidak punya keahlian bertarung, tidak juga kebijaksanaan, bahkan tidak memiliki keberanian untuk maju. Teruskan saja seperti yang kau lakukan selama ini, dengan diam-diam, bersembunyi di belakang semua orang.”

Perkataan itu memang kejam, tapi layak diucapkan pada In Hyung. Dia sebenarnya tidak cocok menjadi seorang pengawal (ia menjadi seorang pengawal karena tidak cukup cerdas untuk menjadi seorang pejabat) dan hanya melakukan apa yang ia bisa lakukan. Seperti Gil Dong yang sebenarnya berkemampuan tapi terhadang oleh status sosial kelahirannya, In Hyung juga dalam posisi yang sama, terpaksa menerima posisi yang sebenarnya ia tidak bisa angani.

Mengingat bagaimana Gil Dong termenung melihat kantong lamanya yang rusak dan kumal, Eun Hye memutuskan untuk belajar bagaimana caranya untuk menenun untuk memberikannya pada  Gil Dong pada pertemuan terakhir mereka. Dia bertanya-tanya dengan hati sedih, “Akankah dia menghargainya?”

Saat Enok dan Su Geun masih berbincang-bincang, Gil Dong mengawasi dari pinggir. Su Geun tak sengaja terluput menyebutkan nama Gil Dong, tapi Enok tidak menjadi curiga, hanya berkata, “Aku tahu dia telah mati”. Dia meyakinkan Su Geun kalau dia baik-baik saja: “Yang hidup harus melanjutkan kehidupannya”

Enok kemudian menjelaskan kalau ia bekerja di kelompok pedagang karena persahabatannya dengan Chang Whe. Gil Dong di samping mendengus sebagai sahutan atas deskripsi Enok terhadap Chang Whe sebagai “pria jantan yang tampan”. Enok mengakui kalau dia pikir Chang Whe memiliki perasaan terhadap dirinya. Su Geun bertanya bagaimana reaksinya terhadap Chang Whe yang memeluknya, Gil Dong bersandar dan dengan seksama mendengarkan jawabannya, tapi Enok mengalihkan pembicaraan. (Su Geun menghela napas, “Kau sudah jatuh cinta padanya, Mata Kelinci”)

Beberapa tegukan kemudian, keduanya sudah mulai sedikit mabuk, Su Geun berusaha memotong sampai di sini dan beranjak pergi, tapi Enok memintanya untuk tinggal sedikit lebih lama. Dia senang berbincang-bincang dengan Su Geun karena itu mengingatkannya masa lampau: “Serasa Gil Dong masih bersama-sama dengan kita, seperti sebelumnya”. Su Geun: “Jadi kau masih memikirkannya”. Enok mulai menangis: “Tapi aku seharunya tidak memikirkan Gil Dong. Aku sudah lupa lagi.” Su Geun rasa kalau itu tidak masalah bagi Enok untuk memikirkannya dari waktu ke waktu, tapi Enok menggelengkan kepalanya, menangis: “Tidak baik bagiku untuk memikirkan Gil Dong. Jika aku melakukannya, aku tidak dapat terus melanjutkan hidupku”.

Enok: “Aku tidak akan dapat tidur ataupun makan, aku terus saja menangis. Aku tidak akan dapat membedakan apakah ini adalah mimpi atau kenyataan, dan aku selalu melihat Gil Dong ada di mana-mana. Tidak peduli bagaimana aku memanggilnya untuk dapat pergi bersama dengannya, dia selalu menghilang tanpa sepatah katapun. Kemudian aku terbangun, dan menangis …. Aku sungguh-sungguh tidak dapat hidup lagi. Supaya aku dapat terus hidup, aku putuskan untuk tidak memikirkan Gil Dong lagi. Apa yang dapat kulakukan? Itu bukan seperti saat dia pergi berburu harimau atau pergi ke tempat ke mana aku dapat pergi bersama dengannya. Kemudian saat hari demi hari berlalu, ada hari-hari di mana aku tidak memikirkannya.  Itulah bagaimana aku hidup selama ini. Tapi …  karena aku memang seorang yang bodoh … kadang-kadang aku lupa kalau aku seharusnya tidak memikirkan akan dirinya. Ketika itu terjadi, itu sangat menyakitkan bagiku … bahwa aku tidak dapat terus melanjutkan hidupku. Aku berharap hatiku dapat menjadi bodoh juga.”

OMG … Airmataku turun deh ….

In Hyung, terhenyak karena perkataan dingin dari Eun Hye, menjadi sangat mabuk di Gibang dan seorang gisaeng meminta tolong pada Kakek Heo untuk membantunya pulang ke rumah. Melihat Menteri Hong ada di rumah, Kakek Heo terserang kembali oleh perasaan yang dikenalnya, dan semua keraguannya menghilang ketika mendengar Menteri Hong berbicara, ia yakin Hong lah orangnya yang telah membunuh ibu Enok! Dia adalah musuh mereka berdua.

Saat Gil Dong mengawasi Enok yang tertidur, Enok terbangun sebentar dan melihat kalau Gil Dong sedang melihat ke arahnya. Tapi, karena rasa mengantuknya, dia berasumsi kalau ini adalah sebuah mimpi, dan bergumam, “Gil Dong … ayolah kita pergi bersama …” lalu tertidur kembali.

Chang Whe mengakui pada Chisu:

“Aku tidak mengatakan pada Enok mengenai diri Gil Dong yang masih hidup. Mengatakan kalau aku tidak punya alasan untuk menyingkapkan rahasia yang diusahakan oleh Gil Dong untuk tetap tersembunyi hanyalah suatu alasan belaka. Sebenarnya, aku tidak dapat mengatakan pada Enok karena aku tahu jika ia bertemu dengan Gil Dong, aku akan kehilangan dirinya.”

Saat Enok terbangun, Gil Dong sudah pergi. Berpikir ia memimpikannya semua itu, dia berkeliling di tempat di mana Gil Dong telah duduk, dan menyentuh dindingnya, dan menemukan kalau masih hangat.

Merasa bingung, dia bertanya-tanya: “Apakah ia benar-benar ada di sini? Apakah itu bukan mimpi? Itu bukanlah mimpi!”

Dia segera berlari keluar tepat pada waktunya untuk melihat Gil Dong sedang berjalan pergi, postur tubuh dan gayanya berjalan sangat dikenal oleh Enok. Dia memanggil, setengah tidak percaya: “Itu bukan mimpi. Gil Dong, bukankah itu kau?  Itu benar-benar kau!”

Gil Dong tetap diam tak mengucapkan sepatah katapun, tampak ia sedang menahan airmatanya yang akan keluar. Dia kemudian berbalik menghadapi Enok.

Enok: “Itu … benar-benar kau! Tapi ini bukan mimpi. Ataukah ini mimpi?

Gil Dong: “Ini bukanlah mimpi.”

Enok: “Kalau begitu …. apakah kau seorang hantu?”

Gil Dong: “Aku juga bukan seorang hantu.”

Enok: “Kalau begitu …. ini benar-benar dirimu?”

Gil Dong: “Dasar si bodoh.”

Iklan

2 comments on “Hong Gil Dong – Episode 12

  1. Akhirnya Enok tau juga Gil Dong belom mati.. Senangnya hehe 🙂 *berpelukan*

    Sukie Oppa buat aku aja *ngarep :p *

    Kk lanjutkan sinopsis Hong Gil Dong nya donk, penasaran nih 🙂
    Hwaiting ^^

  2. OMG aku juga gak bisa menahan air mata saat enok bercerita tentang gil dong sama su geun…sama spt saat enok diberitahu guru gildong, klau gil dong dah mati…hick hick hick… Bung Andy, kenapa gak ditulis lengkap ketika enok menyatakan sepertinya chang we menyukainya, dan reaksi gil dong yang gak percaya, namun setelah denger changwe memeluk enok, baru gil dong percaya, krn dia tahu pasti seorang changwe gak mungkin memeluk seseorang tanpa ada perasaan cinta yang tak tertahankan.. Aku suka adegan itu…biar bodoh meruntuhkan hati banyak pria…tentu saja karena kebaikan hatinya…Sorry, komentarnya panjang…

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s