Hong Gil Dong – Episode 15

Gil Dong sampai di kamar rahasia Raja, berharap untuk bertemu dengan Mal Nyeo, keduanya telah berencana untuk menemukan pedang itu dalam waktu singkat sementara mereka ada di sana. Chang Whe telah menginformasikan pada Gil Dong bahwa pedang itu seharusnya ada di bangunan ini karena sang raja terlalu paranoid untuk menyimpannya di Istana Utama.

Setelah menguasai keterkejutannya karena melihat kehadiran Enok, dan Enok memberi tanda mendukungnya, Gil Dong meneruskan rencananya semula. Mengetahi betapa terobsesinya Kwang Whe terhadap adik tirinya, Chang Whe, Gil Dong memberikan umpannya pada Raja dengan mengatakan bahwa ia tahu di mana sang Pangeran bersembunyi. Maka dari itu Raja terpecah perhatiannya, cukup untuk Enok mengamati area tersebut untuk mencari pedang, sementara Gil Dong bekerja memutuskan tali pengikatnya dengan pisau yang disusupkan padanya oleh seorang pengawal.

Kwang Whe diberikan semacam permainan oleh Gil Dong, dia hanya dapat mengajukan pertanyaan. Pertanyaan Kwang Whe memberi bukti betapa ia merasa tidak aman … “Apakah ia sepertiku? Sudahkah ia membunuh banyak orang?”, yang semakin lama perasaan itu bertumbuh semakin besar sementara Gil Dong membela Chang Whe: “Dia telah melakukan yang terbaik untuk tidak membunuh tapi sebaliknya melindungi rakyat.” Raja bereaksi dengan mengingat adiknya itu dengan campuran perasaan antara takut, benci dan bersalah, bahkan berhalusinasi bahwa Chang Whe telah datang untuk menantangnya, seakan-akan itu nyata.

Posisi Kwang Whe sebenarnya sangat menyedihkan, dia tidak hanya seorang perebut tahta yang haus akan kekuasaan, tapi berupaya untuk melanggengkan kekuasaan dengan cara apapun juga. Kalau saja sebelumnya Chang Whe masih “hidup”, maka yang akan dibunuh adalah Kwang Whe; salah satu dari mereka berdua memang ditakdirkan untuk mati, dan Kwang Whe lah yang pertama melancarkan serangannya.

Gil Dong menyaksikan bagaimana Kwang Whe yang sebelumnya berkata-kata dengan baik menjadi meracau sinting, dengan pandangan jijik, melihat dengan matanya sendiri betapa lemahnya penguasa negeri ini. Dia segera memberikan pertanyaan pada Raja:

“Jika kau adalah Raja, kau seharunya tidak membuat kegelisahan dirimu sebagai seorang anak tidak sah, menggiringmu untuk membunuh adikmu dan terjatuh dalam kesintingan. Kau seharunya merubah dunia menjadi lebih baik.

Gil Dong menghalau sang Raja, memberitahunya bahwa adiknya lebih berharga daripada dirinya: “Dia tidak membiarkan pikirannya lepas seperti yang kau miliki sekarang. Dia merenungkan dengan seksama alasan mengapa ia harus menjadi seorang Raja!”

Enok, sibuk mencari pedang, terkejut ketika mendengar Raja menyebutkan nama Chang Whe, menyadari bahwa pangeran yang dianggap mati itu adalah pira yang selama ini ia kenal. Untungnya, saat Raja kehabisan kesabaran dengan Gil Dong, Enok berhasil menemukan pedangnya.

Segera saja, Raja memanggil para pengawalnya. Enok meraih pedang dan melemparkannya pada Gil Dong, yang dengan gerakan kilat menggunakannya untuk mengancam ke leher Kwang Whe ketika para pengawal Raja menyerbu masuk.

Demi membebaskan Enok, Gil Dong mengajukan sebuah tawaran di hadapan Raja, apakah ia benar-benar ingin melihat adiknya yang lama hilang? Gil Dong akan memberitahu Kwang Whe di mana ia bisa bertemu dengan Chang Whe jika ia membiarkan Enok pergi. Sangat dirundung penasaran, Kwang Whe memerintahkan para pengawalnya untuk melepaskan Enok.

Gil Dong menyuruh Enok untuk melarikan diri, kemudian menaruh dirinya sendiri di depan satu-satunya pintu keluar, menghadang mereka untuk mengejar Enok. Gil Dong kemudian memberikan tempat pertemuan, yakni di makam Chang Whe, lalu segera pergi melarikan diri untuk menyusul Enok.

Bersama-sama, Enok dan Gil Dong lari melalui lorong tersembunyi di Istana dan menghindari para pengawal yang menyebar untuk mencari mereka.

Chang Whe berhasil mengkonfirmasi dengan para anggota Hwal Bin Dang bahwa Enok memang benar adalah Gisaeng yang dikirim ke Istana. Para bandit dengan cerdas menyatakan bahwa Chang Whe hanya peduli untuk merebut kembali pedang, dengan cara apapun juga; karena itu dia seharusnya tidak masalah dengan kepergian Enok sebagai pengganti satu-satunya yang bisa melaksanakan peran gisaeng.

Chang Whe sangat khawatir dan berusaha menghibur dirinya, memaksa dirinya untuk percaya bahwa : “Jika Enok bersama-sama dengannya, dia akan aman”. Dia juga memutuskan untuk menemui kakaknya, menduga bahwa itu akan memberi Enok dan Gil Dong waktu yang lebih banyak untuk melarikan diri dan segera menuju ke makamnya.

Menemukan keamanan sementara di dalam sebuah bangunan di Istana, Gil Dong mengambil momen sejenak untuk melepaskan kemarahannya pada Enok, betapa beraninya ia menaruh dirinya dalam bahaya seperti itu?, Enok memprotesnya kalau semuanya bekerja sesuai rencana pada akhirnya, tapi Gil Dong tak dapat mengatasi perasaannya yang bergidik karena hampir saja gagal: “Bagaimana jika semuanya tidak bekerja sesuai rencana?”

Kehabisan bahan untuk menyalahkannya, Gil Dong akhirnya mencemooh penampilannya, mengatakan betapa penampilannya ini kelihatan begitu konyol, “memakai pakaian yang bahkan tidak cocok untuk kau pakai!” Enok membantahnya: “Mal Nyeo berkata kalau aku terlihat sangat cantik!” Gil Dong, terlalu kesal untuk memikirkan kembali jawabannya, menyahut: “Karena kau terlihat sangat cantik itulah yang membuatku semakin marah!” … ahahah … akhirnya terlepas juga tuh isi hatinya … 😛

Gil Dong segera saja meralat kesalahannya itu: “Aku maksudkan, pakaianmu yang sangat cantik!”, tapi sudah terlambat, Enok sangat bersuka cita … Gil Dong pikir ia sangat cantik!!! ….. nah loh ….

Kedua bersaudara itu akhirnya bertemu di luar makam Chang Whe, yang dibangun oleh Kwang Whe setelah “kematian” dari Chang Whe.  Pertemuan kembali mereka membuat Raja gemetar dalam rasa tidak percaya, melihat adiknya dengan campuran antara perasaan takut dan sayang:

Kwang Whe: “Bagaimana kau bisa selamat? Apakau kau bekerja sama dengan Hong Gil Dong? Apakah kau juga seorang pencuri?

Chang Whe: “Dia bukan hanya seorang pencuri biasa. Dia adalah seseorang yang melawan semua hal yang kotor yang telah kau ciptakan di dunia ini. Dia mungkin masih berkeliaran di luar sana saat ini, tapi dia akan menghadapinmu dan melawan duniamu ini sampai pada akhirnya.”

Kwang Whe: “Hwal Bin Dang? Sungguh lucu. Seorang pencuri menyelamatkan mereka yang miskin?”

Chang Whe: “Kakak, kau tidak berhak untuk menghina seseoran yang menyelamatkan mereka yang miskin. Kaulah orangnya yang menciptakan dia, karena dunia yang kau ciptakan ini dunia yang miskin. Semakin miskin kau buat rakyatmu, ia akan menjadi semakin besar.”

Tak dinyana Chang Whe dan Gil Dong, keduanya saling membela satu sama lain. Meskipun mereka bermusuhan, mereka ternyata mengenali kekuatan yang lain, dan berhasil menggali penghormatan, setengah enggan, kepada pihak yang lain.

Eun Hye mencoba untuk mengunjungi Gil Dong di Istana kembali, hanya kemudian untuk mendengar bahwa Gil Dong telah melarikan diri. Pengawal menyebutkan bahwa seorang gisaeng juga terlibat, yang membuat Eun Hye bertanya-tanya mengenai identitas gisaeng itu, dan memimpinnya ke kamar Enok di Gibang. Baru saja ia ada di luar kamar, ia tak sengaja mendengar Kakek Heo bercakap-cakap dengan Hae Myung, mencemaskan Enok. Kakek Heo mengatakan kalau ia tak dapat membiarkan Enok berhubungan dengan Gil Dong berlanjut seperti sekarang karen mereka adalah musuh, dan berharap mengetahui Enok itu berasal dari keluarga mana.

Rasa penasaran membuat Eun Hye bertanya pada ayahnya untuk mendapatkan informasi, dan tertegun ketika mengetahui bahwa Enok sebenarnya berasal dari sebuah keluarga bangsawan yang terkenal, dilahirkan sebagai Ryu Enok.

Gil Dong dan Enok berhasil meloloskan diri dari Istana dengan memakai pakaian pengawal Istana. Mereka ditemui oleh Dayang Noh dan anakbuahnya, yang meminta pedang itu. Mengatakan bahwa pedang itu aman, Gil Dong memberitahu Dayang Noh bahwa ia akan menyerahkan itu ketika mereka benar-benar aman.

Jadi Enok dan Gil Dong dibawa pergi dengan sebuah tandu, tersembunyi dari para pengawal yang sedang memburu mereka. Kembang api diluncurkan untuk memberitahukan pada semua kelompok yang terkait bahwa Gil Dong telah berhasil keluar dengan selamat dari Istana.

Enok menikmati pemandangan itu, “Itu seperti mereka memberikan ucapan selamat karena kita berhasil melarikan diri!” Sementara Gil Dong tidak begitu terkesan, dia mengambil kesempatan untuk menaruh tangannya di tubuh Enok dan mendekapnya, menggerutu dengan keras beralasan, “Sungguh sempit di tempat ini.”

Chang Whe segera bergegas dari pertemuannya dengan Raja menuju ke tempat yang telah dijanjikan. Semuanya sangat lega karena rencana mereka telah berhasil dengan sukses, tapi perhatian Chang Whe terbesar adalah keselamatan Enok.

Ketika dia menemukan Enok selamat dan tak kurang suatu apapun, ia baru bisa menenangkan dirinya. Sementara para bandit memberikan ucapan selamat pada Gil Dong, Chang Whe bergumul untuk mendapatkan ketenangannya. Gil Dong setuju untuk menyerahkan pedang setelah dia dan semua anggota kelompoknya sampai di rumah dengan aman, dan tanpa mempedulikan protes dari Dayang Noh, Chang Whe menyetujuinya.

Enok ingin pergi bersama Gil Dong, membuat Chang Whe kecewa, tapi Gil Dong memberitahunya untuk kembali dulu sekarang, dengan penekanan bahwa ia dapat bergabung dengan mereka nanti. Gil Dong memuji Enok karena melakukan tugasnya dengan baik hari ini kemudian menyuruhnya pergi.

Sedikit menunjukkan rasa memiliki, Gil Dong memberitahu Chang Whe untuk menjaga keselamatan Enok. Chang Whe menjawabnya: “Aku akan melakukannya walaupun kau tidak mengatakannya padaku.” Gil Dong, bertekad untuk memberikan kata penghabisan, menambahkan: “Dan jangan memberinya makan kue terlalu banyak!”

Kembali ke tempat perwakilan pedagang, Chang Whe meminta maaf karena telah membuat Enok dalam posisi yang berbahaya. Sekarang karena ia tahu siapa Chang Whe sebenarnya, Enok merasa canggung dan mengubah caranya berbicara dengan penuh hormat, menyebutnya Yang Mulia, tapi Chang Whe tidak ingin Enok untuk memperlakukannya berbeda dari biasanya: “Karena dirimu, aku dapat tertawa sejenak. Jangan ambil itu juga dariku!” Enok kemudian berkata kalau ia akan mencoba bersikap seperti yang ia lakukan sebelumnya, sebelum ia tahu identitas dari Chang Whe, kemudian memberikan ucapan selamat karena Chang Whe telah melakukan tugasnya dengan sangat baik.

Gil Dongbertemu dengan Chang Whe lagi untuk menyerahkan pedang.  Setelah beberapa percakapan ramah, Gil Dong memberitahu Chang Whe, “Istana sungguh-sungguh nyaman. Nanti ketika kau menjadi Raja, pastikan untuk mengantarku berkeliling!” Penekanan ini sangat jelas: Gil Dong sekarang menyokong usaha Chang Whe untuk menjadi seorang Raja!

Gil Dong: “Sejauh mana kau menjadi Raja, kau lebih baik daripada raja yang sekarang.”

Chang Whe: “Kau sendiri juga tak terlalu buruk. Aku dapat memberimu posisi pejabat di Istana.”

Gil Dong: “Aku tak memerlukan itu. Sebaliknya, pastikan kau membuat sebuah dunia di mana itu mungkin bagi seseorang seperti diriku untuk mendapatkan posisi di pemerintahan. Jangan menjadi Raja karena pedang, yang menyatakan bahwa kau pewaris tahta yang sah, tapi dapatkah kau menjadi seorang raja yang akan melindungi mereka, yang seperti kami yang menginginkan kau untuk berkuasa?”

Chang Whe: “Bisakah kata-kata itu menjadi jawaban dari pertanyaanmu: mengapa harus aku yang menjadi Raja?”

Gil Dong: “Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, kau jauh lebih baik daripada kakakmu!”

Chang Whe: “Apa yang akan kau lakukan mulai sekarang? Jika kau pergi untuk melawan secara terang-terangan, kau tidak dapat meneruskannya seperti yang sudah kau lakukan selama ini.”

Gil Dong: “Jika aku ingin menhindari kematian, aku harus bertumbuh lebih kuat!”

Chang Whe: “Aku akan membantumu!”

Gil Dong: “Segalanya sudah berubah sekarang. Kamilah yang akan membantumu sekarang!”

Gil Dong berjalan pergi dengan gayanya yang biasa, dan Chang Whe mengatakan pada dirinya sendiri:

“Mendapatkan dirinya adalah sebuah kekuatan yang lebih besar bagiku bahkan daripada pedang ini.”

Serius? Sangat keren, khan?

Tak mendapatkan balasan cinta, In Hyung, yang mengetahui perasaan Eun Hye pada Gil Dong, kebencian di dalam hatinya sungguh memuncak. Dia memberitahu ibunya: “Aku sangat membencinya sehingga aku ingin membunuhnya!” dan kelihatannya ia bersungguh-sungguh dalam perkataannya itu. Bukankah Gil Dong telah mencuri tempatnya di hati dua orang yang ia ingin cintanya terbalas: ayahnya dan Eun Hye. Dia pergi menemui Raja dan menyatakan kesetiaan padanya, berjanji akan memburu Gil Dong dan membunuhnya. Raja merasa satu persamaan dengannya, mereka berdua adalah orang yang terancam dengan adik mereka yang lebih berkemampuan.

Kwang Whe mengangkat In Hyung sebagai kepala polisi yang bertanggungjawab untuk menjatuhkan Hwal Bin Dang. Bukannya merasa bangga, Menteri Hong dengan bijak memberitahu In Hyung bahwa posisinya itu terlalu berat untuk ia tangani. In Hyun telah membuat keputusan dan bertekad untuk menangkap Gil Dong untuk menunjukkannya pada ayahnya bahwa ia mampu.

Gil Dong mempersiapkan sebuah kamar di Hwal Bin Dang untuk kedatangan Enok, dengan lucunya memerintahakan pergantian beberapa hal di kamar itu demi memastikan kenyamanan Enok. Yeon bertanya apa yang akan dilakukan oleh Gil Dong jika Enok memutuskan tidak datang, tapi Gil Dong menolak kemungkinan itu dan meyakinkan Yeon kalau Enok pasti datang.

Yeon menyahut: “Dia dapat tetap tinggal dengan para pedagang. Di sana sangat nyaman, dan dia (Chang Whe) memperlakukannya dengan baik. Dia juga tahu kalau dia (Chang Whe) juga seorang pangeran.” Gil Dong bersikukuh, “Tidak mungkin dia tak akan datang!”, tapi Gil Dong tampak sedikit ragu-ragu … dan itu sangat .. sangat menarik …

Enok mengucapkan selamat tinggal pada Chang Whe sebelum pergi ke markas Hwal Bin Dang di gunung. Sekarang setelah ia memiliki tujuan di hidupnya, dia merasa lebih kuat, ketika dai tidak memiliki kekuatan untuk melakukan apapun, semua yang bisa ia lakukan hanyalah menangis dan merasa kasihan pada dirinya sendiri.

Chang Whe merasa berduka dan juga terluka dengan keberangkatan Enoka, dan kecewa bahwa Enok masih belum bisa menduga mengenai perasaannya pada Enok. Ketika Enok berjanji akan mengunjunginya sesekali, Chang Whe memberitahunya kalau ia merasa lebih baik jika Enok tidak melakukannya. Dengan telmi nya yang biasa, Enok berpikir kalau Chang Whe merasa tidak nyaman karena Enok tahu mengenai identitas Chang Whe yang sesungguhnya, dan berharap akan kebahagiaan Chang Whe. Dengan rasa enggan yang besar, Chang Whe mengucapkan selamat tinggal, dan meyakinkan dirinya sendiri, “Aku dapat kembali ke diriku sebelumnya. Aku baik-baik saja sebelum ia datang menggangguku.”

Sampaii di Hwal Bin Dang, Enok menyaksikan Gil Dong sedang memberikan pidato yang menggugah para anakbuahnya. Dia memberitahu mereka bahwa hidup mereka akah segera berubah, musuh mereka telah menjadi lebih kuat, dan pekerjaan mereka akan lebih berbahaya. Dia memberikan mereka kesempatan untuk pergi, tapi rekan-rekan terdekatnya (Su Geun, Mal Nyeo, dan Yeon) meyakinkan Gil Dong bahwa mereka selalu bersamanya sampai akhir.

Gil Dong: “Kita adalah Hwal Bin Dang, menyelamatkan orang lain, dan menyelamatkan diri kita sendiri juga. Nama ini sedikit ceria .. tapi hey .. itu keren! Aku tidak tahu berapa banyak halangan kita akan bertambah, tapi kita semua akan melaluinya bersama-sama, sampai pada penghabisan!”

Mal Nyeo menggoda Enok mengenai perasaannya pada Gil Dong, tapi Enok merasa gelisah. Mendengar pidato dari Gil Dong, ia baru menyadari betapa yang lain sangat berbudi luhur, dan dibandingkan dengannya, ia merasa malu karena telah memiliki pandangan begitu sempit akan segalanya. Tapi ia meyakinkan Mal Nyeo bahwa meskipun ia datang dikarenakan ingin bersama dengan Gil Dong, ia juga bermaksud benar-benar menjadi salah satu dari mereka: “Aku hanya akan berpikir kalau Gil Dong adalah pemimpinku!”

Mal Nyeo bertanya-tanya apakah ia bisa, karena ia sudah jatuuuuuuhhh cinta pada Gil Dong, dan Enok mennjawab kalau ia memutuskan untuk menghilangkan perasaan romantisnya. Mal Nyeo tidak mempercayainya sedetikpun …. ahahahah … aku juga tidak … ngakaq ….

Dan begitulah, ketika Gil Dong datang menemuinya, dia segera tergesa-gesa mengatakan pada Gil Dong, berusaha meyakinkan Gil Dong bahwa ia datang kemari tidak bermaksud untuk bersama dengan Gil Dong. Dia kesini hanya ingin menjadi seorang anggota dari Hwal Bin Dang.

Enok: “Jika kau mau, aku akan memanggilmu ketua juga, seperti yang dilakukan Gom.”

Gil Dong: “Benarkah?”

Enok: “Yeah. K-ketua ..”

Gil Dong: “Ketua?”

Enok: “Gil Dong, aku memikirkanmu sebagai seorang ketua yang luar biasa. Pria Gagah Cahaya Bulan dalam Jubah Hitam sungguh patut dihormati, tapi aku dapat menghormatimu juga.”

Merasa geli, Gil Dong tersenyum dan bertanya, “Benarkah? Kau bisa hanya menghormatiku?”

Enok mengendalikan dirinya sendiri dan memberitahu Gil Dong: “Aku dapat melakukan itu!”

Gil Dong membuat gerakan maju tiba-tiba, kedekatan Gil Dong membuat Enok tak bersiap, dan Gil Dong bertanya apakah Enok memang bermaksud demikian. Gil Dong kemudian menundukkan tubuhnya lebih dekat, mencondongkan tubuhnya di atas Enok dan membuat Enok memiringkan tubuhnya ke belakang …

“Meskipun aku melakukan hal ini?”

6 comments on “Hong Gil Dong – Episode 15

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s