The Duo – Episode 10

Catatan: Aku mencoba untuk membuat sinopsis The Duo, tapi ternyata ini membutuhkan waktu yang cukup banyak yang menyita sebagian besar waktuku, sehingga nda sempat melakukan apapun lainnya … jadi jangan terlalu berharap ya …. apalagi dikejar-kejar dengan LBS … wah … ga sanggup deh kayaknya …

———————————————————————————————–

Cheun Doong memberitahu anakbuahnya untuk mengantarkan beberapa barang dagangannya, termasuk kulit rusa kepada pejabat pemerintah di Departemen Permintaan Domestik, tapi sebelum mereka mengirimkannya, Cheun Doong meminta agar diberi segel merah dulu. Anakbuahnya mengiyakannya dan segera meringkas barang-barang tersebut.

Geum Ok datang dengan tandu, dari luar ia sudah berteriak-teriak memanggil Cheun Doong, yang segera menghampirinya. Geum Ok menyuruh pembawa tandu menurunkannya dan segera keluar menemui Cheun Doong.

Cheun Doong: Kau datang, akashi?

Geum Ok: (tersenyum senang) Aku datang untuk meminjam buku pada Dong Nyeo …

Cheun Doong: Untungnya kau suka membaca tidak seperti kakakmu itu.

Geum Ok mengeluarkan hadiah dari Cheun Doong yang dititipkan pada kakaknya,

Geum Ok: Terima kasih karena telah memberiku norigae ini …

Cheun Doong: Apakah kau menyukainya?

Geum Ok: Aku akan memberitahumu nanti…  Apakah kau juga memberi hadiah pada Dong Nyeo?

Cheun Doong: Ya …

Geum Ok: (sedikit cemberut, tapi sudah menduganya) Sungguh lebih baik jika kau hanya membelikan hadiah untukku seorang.

Cheun Doong: (tertawa kecil) Tapi Dong Nyeo tidak akan senang nantinya…

Geum Ok: (merajuk) Kau tahu … aku tak yakin kalau aku mau menerima hadiah ini …

Cheun Doong: Kenapa tidak, akashi? Aku berkeliling seharian di pasar untuk memilihkan hadiah untukmu.

Geum Ok: (sedikit senang) Kalau begitu, mana yang lebih mahal? Hadiah untukku atau untuk Dong Nyeo?

Cheun Doong: Semuanya sama persis, hanya warnanya saja yang berbeda …

Geum Ok: (merajuk lagi) Kalau begitu aku akan menemui Dong Nyeo dan memeriksanya …

Cheun Doong: (tampak tak mengerti) Mengapa kau begitu kekanak-kanakkank, akashi?

Geum Ok: Aku memang masih anak-anak … Aku akan pergi dan melihatnya …

Geum Ok segera menjengitkan bibirnya pada Cheun Doong dan berlalu ke dalam untuk menemui Dong Nyeo. Cheun Doong hanya bisa memandangi punggungnya dan merasa geli…

Geum Ok masuk ke kamar Dong Nyeo yang tampak sedang sibuk membaca laporan …

Geum Ok: Unni ..

Dong Nyeo: (sedikit terkejut) Aku tidak tahu kalau kau datang…

Geum Ok: Pertama, sini aku lihat norigae yang diberi oleh Direktur Cheun Doong padamu … (tangannya terulur pada Dong Nyeo)

Dong Nyeo: (heran) Norigae?

Geum Ok: Unni, apakah kau mau menggodaku?

Dong Nyeo: (berpikir kilat) Ah … (mengambil sebuah kotak dan mengeluarkan norigae dari dalamnya, menunjukkan pada Geum Ok) Apakah yang kau maksudkan ini?

Geum Ok membandingkannya, dan memang persis sama hanya warnanya yang sedikit berbeda .. Geum Ok berwarna biru laut sedangkan milik Dong Nyeo biru kehijauan …

Geum Ok: Kau mendapat warna yang lebih cantik … Ayo kita bertukar ….

Dong Nyeo: Jika kau memang menginginkannya maka …

Geum Ok: (menyela) Unni … aku malah lebih marah karena kau sedikit sekali memikirkan urusan ini. (Dong Nyeo memandangnya tak mengerti). Aku minta maaf, tapi aku ingin keduanya …

Geum Ok memandang dengan mata berbinar-binar kemudian mengambil norigae yang ada di tangannya Dong Nyeo, melihat kedua norigae di tangannya dengan senang. Dong Nyeo terkejut, sedikit tak menyangka norigae nya direbut, tapi kemudian memandang Geum Ok dengan pandangan geli …

Dong Nyeo dan Geum Ok pergi keluar ruangan

Cheun Doong: Kau sudah keluar?

Geum Ok: (menunjukkan kedua norigae di tangannya) Unni memberikan miliknya padaku, kedua norige ini tampak lebih bagus jika berpasangan.

Cheun Doong terkejut dan memandang Dong Nyeo …

Dong Nyeo: (tersenyumm) Memang seperti yang dikatakannya

Cheun Doong tampak sedikit kecewa

Geum Ok: Unni, terima kasih banyak …

Dong Nyeo: Jagalah baik-baik keduanya …

Geum Ok mengangguk, pelayang wanita Geum Ok memanggilnya untuk masuk ke tandu karena mereka harus segera pulang.

Geum Ok: Kalian bisa pergi lebih dahulu … (melirik Cheun Doong) Aku ingin direktur yang menemaniku.

Cheun Doong merasa serba salah, memandang Dong Nyeo, yang memintanya untuk mengantarkan Geum Ok. Geum Ok segera meraih tangan Cheun Doong dan mengajaknya pergi, tapi Cheun Doong mengatakan kalau banyak yang harus dikerjakan olehnya di tempat ini, dan meminta pelayan Geum Ok agar membawa akashi pulang ke rumah. Geum Ok tampak kecewa dan bertanya apakah Cheun Doong benar-benar tak bisa mengantarnya. Cheun Doong menyahut kalau masih banyak yang harus diatur olehnya jadi tak bisa melakukannya. Dong Nyeo memandangi Cheun Doong. Geum Ok menyerah dan bertanya kapan Cheun Doong bisa mampir untuk menemuinya.  Cheun Dong menjawab diplomatis bahwa ia akan mampir kalau itu tak mengganggu ayahnya. Geum Ok tampak sangat kecewa, kemudian memandang Dong Nyeo dan berpamitan.  Dong Nyeo mengangguk dan mengucapkan selamat tinggal dan berhati-hati di jalan. Geum Ok segera pergi, sebelumnya ia melirik dengan kecewa pada Cheun Doong. Dong Nyeo mengantarkan kepergian Geum Ok sampai ke luar kediaman mereka bersama dengan Cheun Dong. Geum Ok mengeluarkan kepalanya dari tandu melihat mereka dan melambaikan tangan. Dong Nyeo membalasnya, Cheun Dong membungkukan sedikit badannya.

Dong Nyeo: Dia gadis yang sangat lugu, gadis yang baik.

Cheun Doong: Kau masih dapat berbicara demikian setelah ia merebut hadiahmu?

Dong Nyeo: Belikan aku satu lagi lain kali.

Dong Nyeo kemudian masuk ke dalam, Cheun Doong hanya bisa memandangi punggungnya.

Dong Nyeo di kamarknya meringkas peralatan minum, Cheun Doong menyusulnya.

Cheun Doong: (masuk) Akashi … Apakah kau masih mengingat Pelajar Lee?

Dong Nyeo: Pelajar Lee?

Cheun Doong: Orang yang mengkhianati ayahmu 10 tahun yang lalu.

Dong Nyeo: (menghentikan gerakannya) Aku masih mengingatnya dengan amat jelas.

Cheun Doong: Dia ditemukan tadi malam, mati ditusuk.

Dong Nyeo: (cawan di tangannya terjatuh, ia sangat terkejut) Siapa yang memberitahumu mengenani ini?

Cheun Doong: Pengumuman sudah ditempel di mana-mana.

Dong Nyeo: Apakah mereka mengatakan siapa pembununya?

Cheun Doong: Mereka memberitahu kalau kemungkinan pelakunya adalah para pencuri yang telah merampok uangnya, dan kemudian membagi-bagikan kepada rakyat miskin.

Dong Nyeo menatap Cheun Doong dengan hati yang bergejolak dengan hebat. Tiba-tiba terdengar suara orang bertanya apakah Direktur ada di dalam. Cheun Doong menyuruhnya masuk. Seorang pria masuk, memberikan hormat pada Cheun Doon dan Dong Nyeo kemudian memberitahu Cheun Doong kalau mereka dalam masalah. Para pejabat di kantor pemerintahan menolak sutra yang dikirimkan oleh perusahaan mereka. Cheun Doong terkejut dan bertanya mengapa bisa terjadi, apa alasannya. Pria itu menjawab tidak tahu, tapi para pejabat memberitahu kalau mereka ingin bertemu dengan direktur. Cheun Doong bertatapan dengan Dong Nyeo, tak mengerti.

Saat Cheun Doong menuju ke sana, seorang pedagang ikan sedang mengajukan protes karena barang dagangannya dianggap tidak memenuhi kriteria. Pedagang itu tidak terima dan bertanya pada para pedagang yang lain, seorang pedagang mengenali kualitas dari ikan milik pedagang ikan tersebut, dan mengatakan kalau ini adalah barang kualitas baik, yang layak untuk dihidangkan di meja Sanghwang Mama. Petugas yang bertanggungjawab memberitahu mereka bukan itu masalahnya, tidak bisa ya tidak bisa. Pedagang ikan meminta untuk bertemu dengan atasannya, tapi si petugas mengatakan kalau itu sia-sia saja. Seorang pria lain menemui pedagang ikan itu dan membisikkan kalau ia tahu bagaimana cara barang-barang itu dievaluasi, kemudian ia saling berpandangan dengan petugas tadi, sama-sama mengerti. Pedagang ikan itu segera mengikuti orang tadi, Cheun Doong menyaksikan semua itu.

Petugas melihat Cheun Doong dan segera menemuinya. Cheun Doong bertanya di mana pengawas petugas itu. Petugas tadi segera mengajak Cheun Doong untuk menemui atasannya.

Cheun Doong dibawa masuk ke sebuah kantor untuk menemui pejabat yang berwenang. Petugas tadi memberitahu atasannya kalau direktur Cheun Doong sudah datang. Pejabat itu melirik sebentar kemudian memberitahu Cheun Doong untuk duduk.sementara ia sibuk dengan pekerjaan menghitungnya. Cheun Doong segera duduk di kursi di hadapan pejabat itu. Pejabat itu kemudian bertanya apa yang sedang terjadi di luar. Petugas memberitahunay bahwa ada orang yang sedikit membuat keributan, karena tidak mengerti bagaimana semuanya berjalan di tempat ini. Tapi itu bukan sesuatu yang serius.  Pejabat itu bertanya bukankah orang itu adalah orang yang sama semalam, si cerewet berpakaian kuning. Si petugas mengiyakannya. Pejabat itu memberitahunya kalau orang itu masih membuat masalah, mintalah polisi untuk menahannya. Petugas itu mengerti, kemudian meninggalkan ruangan itu setelah diminta pergi oleh atasannya.

Pejabat tadi mengatakan pada Cheun Doong kalau Cheun Doong memiliki 100 gulungan sutera. Cheun Doong mengiyakannya. Pejabat itu kemudian bertanya apa hubungannya dengan kediaman Tuan Kim Jin Sa. Cheun Doong menjawab kalau beliau adalah teman ayahku. Pejabat itu mengangguk-angguk mengerti, dan mengatakan kalau ia aslinya berencana untuk meminta hanya satu dari dua saja, tapi dengan banyak orang memperhatikan mereka, maka itu sangat tidak bagus. Cheun Doong langsung bertanya tanpa tedeng aling-aling, jadi apakah kau bermaksud bahwa kau harus menerima tanda terima kasih? Pejabat itu tertawa kecil dan mengatakan, kalau saja ini orang lain, perhitungannya adalah dua dari dua. Cheun Doong tampak tidak sabar. Pejabat itu kemudian melanjutkan, mengingat hubungannya dengan Tuan Kim, maka aku akan menerima hanya setengah untuk satu dari dua saja. Apakah itu cukup? Baiklah kita lakukan saja demikian. Cheun Doong segera menyelanya, dengan pembagian seperti itu maka aku sama sekali tidak mendapatkan untung. Pejabat itu menjawab, aku tak dapat mengubahnya, bukan? Semua harga sekarang naik. Dibandingkan dengan tahun lalu, tanda terima kasih juga naik. Cheun Doong menghembuskan napas kesal. Pejabat itu bertanya, apa yang akan kau lakukan? Apakah kita sepakat atau tidak? Cheun Doong segera menjawabnya, aku tak dapat menentukan itu sendirian. Untung sekarang biarkan dulu masalah ini. Kita bicarakan lain kali. Pejabat itu menyahut, tidak bisa! Pertama, berikan tanda terima kasih, maka kemudian kau bebas untuk melakukan apapun yang kau mau. Cheun Doong tampak kebingungan …

Cheun Doong keluar dari Departemen dan menemukan seorang pedagang sedang dipukuli dan ditendangi oleh para penjaga Departemen, sementara barang-barang dagangannya terbakar. Cheun Doong serba salah. Beberapa pedagang mau membantu rekannya itu, tapi mereka juga ditendang dan dipukuli. Beberapa penjaga segera bersiaga dengan tombak di tangan mereka mengancam para pedagang itu. Pedagang yang dipukuli tadi berhasil berdiri dan segera menghadang di depan, mengatakan, apakah kalian semua ingin suap? Aku lebih baik membakar habis barang-barangku daripada melakukannya! Ia mendesak para penjaga. Cheun Doong takut kalau para penjaga benar-benar bertindak kalap, maju ke depan dan meminta agar pedagang itu menenangkan dirinya, ia tak bisa bertindak seperti ini. Tapi para pedagang lain segera mempersenjatai diri mereka dengan tongkat dan tombak menghadapi para penjaga. Cheun Doong terperangkap di tengah-tengah dengan pedagang yang dipukuli tadi.

Cheun Doong bingung sejenak dan segera menghadang di hadapan para penjaga, mengatakan kalau mereka tidak bisa bertindak seperti itu. Cheun Doong kemudian berbalik menghadang di hadapan para pedagang, meminta mereka agar menahan diri dan meletakkan senjata secepatnya. Para pedagang masih tak mau melakukannya. Pedagang yang dipukuli tadi berujar pada Cheun Doong, di mana keadilan di dunia ini, aku sudah mengantri dari kemarin petang.

Pejabat tadi keluar disertai para pengawalnya bersenjata api, maju ke depan dan mengarahkan jarinya pada para pedagang, kalian berani melakukan kerusuhan di sini? Para pedagang segera mundur ketakutan melihat pengawal bersenjata api itu. Pejabat Departemen segera memerintahakan pegawainya untuk menangkap pedagang yang dipukuli tadi. Pedagang tadi meronta-ronta saat ditangkap, Cheun Doong gelisah tak karuan, merasa serba salah.

Tuan Kim melihat istrinya baru turun dari tandu, bertanya darimana ia barusan pergi. Kepala rumah tangganya menjawab kalau mereka baru saja sampai dari mengunjungi Tuan Min. Nyonya Kim tampak sangat girang dan memberitahu suaminya kalau ia akan menceritakan nanti di dalam.

Tuan Kim dan istrinya masuk ke ruangan keluarga. Nyonya Kim mengatakan kalau ia pergi ke rumah Tuan Min untuk melihat anak lelaki termuda di keluarganya.  Tuan Kim tidak mengerti.

Nyonya Kim: Nali .. tak ada orangtua yang lebih baik sebagai besan daripada keluarga mereka, anak pertama menjadi seorang penasihat, anak kedua adalah seorang menteri, dan sekarang anaknya yang termuda baru saja berhasil lulus dari ujian Gwaego (Ujian Nasional Sipil, diperuntukkan hanya bagi anak bangsawan), dan dapat memilih salah satu dari 6 posisi di pemerintahan. Tuan Kim bertanya lagi, apa yang baik mengenai hal itu? Seperti kau tidak tahu saja bahwa posisi-posisi itu dibeli dengan uang. Si istri masih girang, berkata, tapi bukankah keluarga Min adalah keluarga yang sangat terkemuka. Tuan Kim kemudian memberitahu istrinya, lupakan saja karena aku tidak ingin anak gadisku menikah dengan anggota keluarga Min. Tuan Kim kemudian pergi meninggalkan istrinya yang terkejut melihat sikap suaminya.

Malam hari, pesuruh dari Tuan Lee yang selamat saat pembunuhan semalam diajak oleh Gwi Dong dan seorang rekannya ke tempat kejadian perkara untuk memberitahu mereka mengenai apa yang terjadi pada saat malam kejadian.

Pesuruh: Kami sedang berjalan menuju kemari …. Kemudian tiga orang bertopeng muncul dari sana, dan satu orang di antaranya mengeluarkan pisau.

Gwi Dong: Bisakah kau memberitahu kami lagi, dan menunjukkan dimana tepatnya tempat itu?

Kilas balik semalam, sesaat sebelum Tuan Lee dibunuh …

Tuan Lee dan pesuruhnya yang membawakan lentera untuk menunjuk jalan sedang berjalan di jalan sepi ketika tiba-tiba tiga orang menghadangnya, seseorang sudah menghunuskan pedangnya. Dua orang di depan, seorang di belakang. Tuan Lee terkejut dan bertanya, siapa kalian? Mau apa? Pesuruh tadi mendekatkan lenteranya pada seorang di antara penghadang yang ada di depan, tapi penghadang itu segera membacok lentera tadi ke tanah sehingga padam, dan pesuruh tadi jatuh ke tanah, diancam dengan pedang. Seorang di antara mereka bertanya pada Tuan Lee, apakah kau Pelajar Lee? Lee bertanya, apa mau kalian? Dijawab, kami kesini untuk mengambil nyawamu! Kemudian dua orang di muka dan belakang menyabetkan pedangnya ke tubuh Lee, dan orang yang di depan mengakhirinya dengan tusukan ke tubuh Lee, yang langusng jatuh tersungkur berdarah-darah .. Pesuruhnya sangat ketakutan dan menangis melihat tuannya mati, menyangka kalau sekarang pasti gilirannya. Ketiga orang itu mengawasi pesuruh Tuan Lee.

Kembali ke masa kini …

Pesuruh: Semua terjadi begitu tiba-tiba … aku sangat bingung dengan apa yang sedang terjadi … Setelah itu mereka mengikatku di pohon ini (Pesuruh itu membawa mereka berdua ke pohon itu). Kemudian menyumpal mulutku dan pergi.

Gwi Dong: Mereka tidak mengatakan yang lain?

Pesuruh: Tidak ..

Petugas A: Apakah kau tahu seseorang yang memiliki dendam pada Tuan Lee

Pesuruh: Aku tahu banyak orang yang mengatakan kalau ia adalah orang yang kejam, tapi aku tak dapat memikirkan siapa yang benar-benar ingin membunuhnya.

Gwi Dong: Baru baru ini, apakah kau melihat orang yang berdebat dengannya setelah perayaan kelulusan Ujian Nasional?

Pesuruh: Beberapa hari yang lalu aku melihatnya merayakannya dengan seseorang, dan terjadi perdebatan keras saat itu. Dia bahkan melemparkan pot pipis di kamar pada Tuan Kim.

Gwi Dong: Siapa orang itu?

Pesuruh: Dia secara teratur datang ke rumah, meminta uang pada Tuan Kim. Tapi selalu ditolak. Tuan Lee mengatakan kalau orang itu adalah bekas seorang hakim daerah dari kota kelahirannya.

Gwi Dong: Seorang bekas Hakim Daerah?

Pesuruh: Ya, tapi sekarang bajingan itu sering sekali melakukan perjudian di rumah judi.

Gwi Dong langsung tahu siapa bajingan yang dimaksud oleh pesuruh itu … yakni paman adik ibunya…

Dan sekarang pamannya itu sedang berjudi dengan ketiga orang lainnya …  bergumam pada roh kekayaan agar memberinya keberuntungan … tapi kalah …

Penjaga rumah judi rahasia ini melihat gerakan mencurigakan di luar pagar, ia segera bertindak menghampiri pintu pagar dan bertanya siapa itu. Terdengar suara  wanita menjawabnya, kalau tidak dibukakan maka ia akan segera menendang roboh pintu itu. Penjaga rumah itu segera membukakannya, tampak Keun Nyeon ada di depan pintu. Ia tahu kalau Jo Seon Dal, ada di dalam, dan bahwa rumah ini adalah rumah judi rahasia. Penjaga itu serba salah. Keun Nyeon mau masuk tapi segera dihalangi oleh si penjaga dan diseret pergi.

Di dalam, si paman Gwi Dong sudah kehabisan uang karena kalah, tapi masih di sana, melihat kartu dari seorang pemain, dan menyatakan kalau kartu Seon Dal itu bagus, jika menang ia pinjam 2 nyang. Seon Dal kesal dan menutup kartunya kemudian mengatakan kalau keberuntungannya barusan pergi sudah gara-gara si paman Gwi Dong … Dan ternyata memang Seon Dal menang dengan gemilang … si paman Gwi Dong memuji-mujinya tapi Seon Dal tetap saja berkata bahwa ia tak akan meminjamkan uang di rumah judi. Paman Gwi Dong mengatakan kalau itu hanyalah 2 nyang saja …mengapa ia begitu pelit … tapi sebelum dijawab, penjaga di luar masuk ke dalam dan memberitahu mereka semua kalau ada laporan para petugas kepolisian sedang menuju ke tempat mereka. Semua orang segera terburu-buru memberesi uang mereka, paman Gwi Dong berusaha menyembunyikan 2 nyang dari Seon Dal, tapi ketahuan dan segera direbut oleh pemilik aslinya. Paman Gwi Dong tampak sangat memelas … kasihan juga ya lihatnya … tapi kalo ingat perbuatannya saat jadi hakim daerah … hemmm … pantas deh ….

Seon Dal segera keluar dan terburu-buru ingin pergi, namun dihadang oleh Keun Nyeon. Seon Dal awalnya sangat terkejut, menyangka si Keun Nyeon adalah polisi tapi begitu melihat jelas kalau itu bukanlah polisi tetapi justru Keun Nyeon, ia merasa lega sekali.

Di sebuah Gibang, Kapten Gong dan Chan Gam, sedang berkumpul dengan Tuan Hwang. Tuan Hwang bertanya apa kali ini. Chan Gam menjawab kali ini kulit rusa dan ginseng. Kapten Gong memberitahu Chan Gam untuk menyisakan untuknya kali ini, yang dijawab oleh Chan Gam tentu saja. Khusus untuknya telah dipersiapkan secara khusus, kemudian meminta Tuan Hwang agar kali ini ia mencicipi sup ginseng kulit rusa. Kedua bahan itu sangat baik jika dicampur. Tuan Hwang menyahut, dikarenakan panas tubuhku yang tinggi, aku tidak mengkonsumsi kulit rusa maupun ginseng. Chan Gam merasa serba salah, tapi Tuan Hwang menenangkannya, jangan mencemaskan diriku.

Tuan Hwang kemudian bertanya berapa banyak isi dari muatan itu? Chan Gam memberitahu kalau kereta dihela kerbau itu sudah hampir terisi penuh. Kapten Gong bertanya pelabuhan mana yang akan digunakan untuk pengiriman kali ini? Chan Gam menjawab, seperti persetujuan semula, Pelabuhan Ferry Ujung Barat. Kapten Gong menyahut, Pelabuhan Ferry Ujung Barat lagi? Tuan Hwang mendengar kalau para petugas dari pemerintah sedang mengawasi dengan seksama Pelabuhan itu. Chan Gam beralasan kalau aliran sungainya yang paling aman. Tuan Hwang menyahut, kau tahu ketika aku dulu mempercayai kata-katamu justru membuatku jatuh dalam masalah lebih besar. Ketika kita disuruh berbagi isi muatan, aku hampir saja kehilangan nyawa dari salah satu anakbuahku. Kapten Gong bertanya, jadi lokasi mana yang lebih baik? Tuan Hwang menjawab, kali ini aku berencana akan menggunakan Mapo. Ya benar, aku akan bertanya mengenai lokasi itu, Mapo. Kemudian ia mengatakan kalau ia ada pekerjaan yang harus diselesaikannya kemudian ia akan keluar.

Tuan Hwang keluar dari ruangan, Chan Gam segera mengikutinya dan memberitahu ketiga pengawal pribadinya, yang segera menyambut Tuan Hwang. Seorang gisaeng menemuinya dan mengatakan kalau mereka baru saja menyiapkan hidangan, mengapa Tuan Hwang sudah mau pergi. Tuan Hwang menjawab kalau teruskan saja dan layani dengan baik yang lainnya yang masih berada di ruangan tadi. Seorang pengawal mengeluarkan beberapa keping uang, tapi hanya memberikan satu saja pada gisaeng tadi, yang sebelumnya sangat senang dan menjadi hilang semangat karena hanya diberi satu keping … tapi tetap berterima kasih. Chan Gam kemudian mengucapkan selamat jalan pada Tuan Hwang, yang menyuruhnya untuk terus merayu dan menyanjung Kapten Gong. Chan Gam yang sebenarnya ingin ikut tersenyum kecut. Tuan Hwang segera pergi dari Gibang, diikuti oleh ketiga pengawalnya.

Gisaeng tadi meminta Chan Gam, yang sedang tidak enak hati, untuk masuk kembali ke ruangan, dan dituruti oleh Chan Gam.

Tuan Hwang keluar dari Gibang dan naik usungan duduknya kemudian segera berangkat, tak menyadari sedang diintai oleh seseorang bercadar muka.

Seon Dal pulang ke kedai minum, masuk kamarnya di mana ia tinggal bersama Mak Soon, mengeluh betapa punggungnya sakit, kemudian menegur Mak Soon karena telah menipunya. Mak Soon membela diri kalau ia tak pergi ke sana dan yang menemuinya, bagaimana ia bisa pergi sedangkan ia ada di tempat ini sibuk untuk menjual minuman. Seon Dal menegur Mak Soon karena berbicara terlalu keras, tidak baik baginya. Mak soon sadar dan memelankan suaranya, mengatakan itu karena Seon Dal selalu saja menuduhnya padahal ia tak melakukan semua itu. Seon Dal merasa serba salah, aku bisa mati kalau situasi ini menjadi semakin buruk. Apa yang membuatmu sangat kesal? Mak Soon mengatakan kalau ia hanya memberitahu Keun Nyeon kemana harus mencari, tapi tak menyuruhnya untuk pergi ke sana. Seon Dal bertanya mengapa ia harus memberitahu Mak Soon jika ia mau pergi ke suatu tempat. Mak Soon beralasan kalau punggung Seon Dal tidak begitu baik. Entah kau menang atau kalah, yang penting rawatlah tubuhmu itu dulu baru berpikir mengenai judi. Kau seharusnya berbaring sampai punggungmu membaik. Seon Dal membentak Mak Soon, jangan bicara omong kosong, aku tahu bagaimana mengurus diriku sendiri!

Sementara itu Soe Dol (yang satunya Seon Dal, yang ini Soe Dol, nyaris sama) ada di luar kamar, mendengarkan semua itu dengan hati sedih sambil minum-minum untuk mabuk ditemani Keun Nyeon.

Keun Nyeon: Sesungguhnya, siapa orangnya yang bangun sebelum subuh, mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api? Dan sekarang justru mempedulikan pria itu yang punggungnya sakit? Dia (Mak Soon) sungguh keterlaluan!

Soe Dol: Biarkan saja! Jangan mengatakan apapun padanya!

Seon Dal keluar diikuti oleh Mak Soon.

Mak Soon: Makanlah dulu baru pergi ..

Seon Dal: Biarkan aku pergi, aku tidak makan!

Seon Dal memakai kasutnya kemudian beranjak pergi, Mak Soon memanggilnya …

Mak Soon: Jo Seon Dal! Jo Seon Dal!

Seon Dal: (berbalik, pada Keun Nyeon) Kenapa kau katakan kalau prajurit datang? Kau mengacaukan rumah judi itu!

Keun Nyeon: Aku minta pada mereka agar dibiarkan masuk, tapi ditolak oleh mereka! Dan sekarang, apakah kau mau mengatakan kalau aku yang seharusnya ditangkap?

Keun Nyeon sangat marah dan ingin menghajar si Seon Dal, tapi Mak Soon menghalanginya …

Mak Soon: Jangan seperti ini, unni …

Seon Dal: Sungguh aku sial bertemu dengan orang-orang konyol seperti kalian di hidupku!

Seon Dal segera beranjak pergi.

Mak Soon: Jo Seon Dal, aku akan pergi juga! Jo Seon Dal!

Keun Nyeon dan Soe Dol mengawasi kepergian kedua orang itu. Keun Nyeon sangat kesal … “Bajingan! Mengapa ia mengatakan hal semacam itu baru sekarang?” Keun Nyeon mau mengejar dan menghajar si Seon Dal tapi Soe Dol menghalanginya, dan menyuruhnya untuk mengabaikannya saja. Keun Nyeon berbalik sangat kesal pada Soe Dol yang lemah hati …

Soe Dol menyusuri arah mereka tadi pergi dan menemukan si Mak Soon sedang duduk di depan sebuah rumah, bertanya apakah Soen Dal menghilang. Mak Soon kesal dan menyuruhnya pergi. Mengapa sih si unni itu begitu usil dengan urusan orang lain. Mengapa ia mengganggu orang yang sedang asik berjudi? Soe Dol berusaha membela Keun Nyeon, menjawab karena ia berusaha untuk mengubah kebiasaan berjudi mereka. Dan menyuruh Mak Soon melihat ke sisi baiknya, Mak Soon segera menyemprotnya, sisi baik apa? Katakan pada unni agar tidak datang ke rumahku lagi.  Soe Dol menyahut, kalau Seon Dal telah kehilangan uangnya sehingga begitu marah dan mengatakan hal yang seperti itu. Sebenarnya jika kau benar-benar percaya padanya, tunggu saja, dan lihatlah ia akan kembali untuk menemuimu. Mak Soon bertanya, jika dia tidak kembali apa yang harus kulakukan? Soe Dol menjawab bahwa ia akan kembali saat ia benar-benar membutuhkan uang. Apakah kau pikir ia kembali karena benar-benar menyukaimu? Dia menyukai uangmu, itulah mengapa ia datang padamu. Mak Soon sangat marah, itu bukan karena uang! Aku tidak punya uang untuk kuberikan padanya sekarang! Soe Dol, ah .. aku mengerti, itu memang yang layak ia dapatkan … Mak Soon segera bangkit berdiri dan mendorongnya, Pergilah. Haruskah kau mengatakan hal semacam itu untuk mempermalukanku dan membuatku sedih? Soe Dol tak pergi, bahkan mendekatinya dan bertanya, haruskah aku mengatakan padamu mengapa Jo Seon Dal seperti ini? Itu karena kau bergantung padanya seperti ia itu sebuah pohon … ia pikir kau akan melakukan segalanya demi dirinya. Mak Soon tampak sedang mencerna kata-kata Soe Dol. Soe Dol melanjutkan, wanita di rumah seharusnya secara teratur menolaknya. Tapi karena kau memegangnya dengan erat, itulah mengapa ia merendahkan dirimu…. Ahahaha … padahal ini kata-kata dari Keun Nyeon pada si Soe Dol sendiri di episode sebelum ini … “Aigoo … aku tak ingin mendengar ini … apa yang kau tahu?” ujar Mak Soon.

Keun Nyeon mendatangi mereka dan bertanya, di luar sangat dingin, apa yang sedang kalian berdua lakukan di luar sini? Masuklah dan makan malam bersama-sama … Mak Soon masih merasa jengkel menyahutnya, mengapa aku harus makan malam bersama dengan Unni? Aku tidak mau kau mengatur urusanku, dan juga aku tak mau kau datang ke rumahku! Secepatnya kembali ke rumahmu sendiri! Soe Dol terkejut dengan kata-kata kejam dari Mak Soon. Keun Nyeon bertanya, sakit hati, apakah kau kira aku ini seorang pengemis? Mak Soon membentaknya, pergi! Kemudian masuk ke dalam rumah … Keun Nyeon menyahutnya, jangan khawatir gadis pelayan, meskipun kau menyuruhku untuk pulang, aku tak akan pergi! Soe Dol berjingkat-jingkat mau pergi, tapi Keun Nyeon segera bertanya padanya, mau pergi kemana kau? Soe Dol menjawab kalau ia akan menyalakan api … kemudian cepat-cepat pergi … Keun Nyeon hanya bisa menatapnya apa boleh buat …

Pertama lihat di episode 1 aku sangat kasihan dengan Mak Soon tapi lama-lama justru sekarang malah tambah jengkel deh …

Soe Dol menyalakan tungku penghangat (persis seperti yang telah diciptakan oleh Jang di Seo Dong Yo, yang sekarang dengan luas digunakan di seluruh pelosok Joseon). Keun Nyeon datang dan menegurnya, apakah kau menghangatkan ruangan orang itu? Ada kemungkinan kalau orang itu akan pulang malam ini. Bahkan meskipun ia tak kembali kau tetap saja menyalakan api. Soe Dol menyahut, jika ia pulang dan api tak dinyalakan maka akan terasa dingin seperti es, dan sulit untuk menyalakannya. Keun Nyeon segera menyuruhnya keluar karena ia ingin menyiramkan air ke tungku penghangat itu. Soe Dol bertanya, mengapa kau seperti ini? Keun Nyeon kehabisan kata-katanya menghadapi otak si Soe Dol yang begitu bodoh …

Ia duduk di hadapan Soe Dol dan bertanya, mengapa kau bisa berbicara seperti itu? Mengapa kau justru mengurusi orang itu? Soe Dol menjawab, apa lagi yang bisa kulakukan? Keun Nyeon menjawab, mudah saja, pukul dia atau lebih baik pukul dia sampai mati! Buatlah demikian sehingga ia tak berani kembali lagi kemari. Soe Dol tampak tertunduk, Keun Nyeon bertanya, apakah itu karena kau tidak memiliki kekuatan? Soe Dol sedikit tersinggung dan menjawab, aku yakin kalau aku memiliki kekuatan yang cukup untuk mengalahkannya! Keun Nyeon tak habis mengerti dan bertanya, kalau begitu mengapa kau seperti seeokr sapi yang habis dipatuki oleh seekor ayam? Mengapa kau bisa sebodoh ini? Keun Nyeon merasa kesal sendiri menghadapi sikap dari Soe Dol …. sebenarnya aku juga … mentolo ngoperasi otaknya si Soe Dol …

Soe Dol mengatakan, kalau dia menyukai Jo Seon Dal dan bukannya aku, apa yang dapat kulakukan? … yo pergi goblok … cari wanita lain … !!! Keun Nyeon benar-benar kehabisan kata-kata …. ahahahah … bagus juga tampang si Keun Nyeon ini … asli …. Keun Nyeon bertanya, jadi apakah kau bermaksud untuk menjadi pelayan Mak Soon seumur hidupmu? Soe Dol bertanya, apakah aku sungguh tak berguna? Keun Nyeon menjawab, tentu saja kau bukannya tak berguna. Soe Dol berujar, ketika aku melihat diriku sendiri, aku merasa tak berguna. Mak Soon sangatlah cantik. Dari semua batu di sungai, ia akan dipilih sebagai satu yang tercantik. Itu adalah hati manusia. Entah itu pria atau wanita, siapa yang tidak suka dengan seorang yang cantik? Keun Nyeon menyahut, memilih batu dan memilih orang tidaklah sama! Apapun yang kau ambil tetaplah sama saja.

Soe Dol mengatakan, aku sadar kalau aku orang yang jelek. Bagaimana bisa aku memintanya untuk menyukai seorang seperti diriku ini? Aku juga menyukai wanita yang menarik. Mengapa seorang wanita harus berbeda? Keun Nyeon mencoba menghiburnya, kau sebenarnya tidak terlalu jelek, jika diperhatikan secara teliti, kau memiliki beberapa bagian yang menarik. Kau punya hidung yang dapat dibandingkan dengan hidung ayahku yang bagus. Sol Deo memandangnya, kemudian menundukkan kepalanya, mengatakan, tak peduli apapun, hidup seperti ini sungguh mustahil. Di dunia ini, tak ada orang yang lebih patut dikasihani selain diriku. Soe Dol menangis.

———————————-

masih 1/2 jalan …

Iklan

24 comments on “The Duo – Episode 10

  1. ketemu lg dgn koh andy..ketemu lg dgn istilah mentolo..hahaha..mksh atas kerja kerasnya membuat sinopsis the duo ini. Drama historikal spt inilah yg aku suka..sekali lg mksh banyak koh andy..

    • udah dapat koq lind donlodnya …. tapi ga sanggup untuk sementara ini, soalnya udah banyak pe er sinopsis : Hong Gil Dong; Warrior Baek Dong Soo, Tree With Deep Roots, dan melengkapi Huh Joon dari episode 1-19 😦 …. mungkin baru bisa seminggu – 2 minggu lagi 😦

  2. wah, ko andi juga bikin sinopsis ini,
    ini drama yang nyebelin kedua setelah Damo.
    tapi di The Duo banyak adegan seru, dan lucu, apalagi waktu gwidong nyamar jadi unshim, wahahahahah..

    mau tanya nih, waktu Gwi Dong mau berburu setan di gubuk tandu pengemis*atau apalah nama tempat belajarnya Cheon Dong itu* episode berapa ya??

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s