Hong Gil Dong – Episode 16

Mencondongkan tubuhnya ke arah Enok, Gil Dong mengatakannya dalam nada yang hangat, sedikit merayunya:

Gil Dong: “Kau tidak merasakan apapun, bahkan seperti ini? Tatapanmu goyah. Ini bukanlah cara seseorang menatap ketuanya dengan rasa hormat.”

Enok: “A-a-apa?”

Gil Dong: “Lihat itu, kau kesulitan bernapas juga. Ayo lanjutkan, bernapaslah. Atau kau memang memerlukan pernapasan buatan? Jika kau menutup matamu, aku akan memberimu sebuah percobaan”

Gemetaran, Enok dengan gugup memberitahu Gil Dong bahwa ia dapat bernapas, ia tak butuh pernapasan buatan …. aaaaaaaaaaaa …. coba jawab iya … adegan ciuman deh … ngarep banget sih … ahahaha … Gil Dong menemukan bahwa usaha berani Enok untuk mengendalikan rasa ketertarikannya sangat lucu, dan melepaskannya.

Gil Dong memberitahunya (benar-benar bermaksud menggoda rasa ketertarikan dari Enok, dengan sedikit mundur) bahwa dia akan mengabulkan keinginan Enok, dan memuji kesabaran dan pertahanan dirinya. Berpura-pura tidak menyadari betapa Enok salah tingkah, Gil Dong pergi dengan mengatakan “Jiayou!” dengan cerianya … Sahutan “Jiayou!” dari Enok tidak begitu bersemangat. Setelah Gil Dong pergi, ia mencoba untuk menyelidiki pikirannya.

Hae Myung bertanya pada Gil Dong apakah ia memutuskan untuk menerima Enok ke gerombolan mereka, dan dijawab: “Ya, kami akan tinggal bersama sekarang.” Hae Myung mengingatkan kalau itu akan sulit. Gil Dong memahaminya:

“Tapi memaksa diri kami sendiri untuk berpisah sangat berat di pihaknya, dan juga di pihakku. Kami akan tinggal bersama dan mengawasi satu sama lain.”

Dengan sedikit menawan, Gil Dong menggerutu bahwa Enok telah mengembangkan sebuah perasaan  sabar dan tabah “yang tak berguna banget ..” Tapi Gil Dong bersedia untuk menerima pengharapan dari Enok: “Aku seharusnya mengimbangi langkahnya, dan berlaku perlahan-lahan tapi pasti.” Yang mana menunjukkan bahwa Gil Dong sudah memutuskan, akhirnya,  untuk berhenti menentang hubungan mereka dan membiarkan saja semuanya mengalir apa adanya.

Pengetahuan yang baru dari Eun Hye mengenai identitas sebenarnya dari Enok memberinya perdebatan moral dalam hatinya: masih tak dapat melepaskan cintanya pada Gil Dong, ia tahu bahwa informasi ini nantinya akan dengan drastis mempengaruhi hubungan Gil Dong dengan Enok. Dia tahu kalau dirinya tak bisa bersama dengan Gil Dong:

“Tapi itu justru membuatku semakin marah. Aku tak dapat memilikinya, tapi seseorang dengan alasan lebih besar untuk tak dapat memilikinya sekarang justru berada di sisinya … Aku terus saja memiliki pemikiran yang salah ini, pikiran buruk untuk mengatakan semuanya ini padanya (mengenai Enok) meskipun itu hanya akan melukainya lebih dalam.”

Untuk saat ini, dia masih menyadari bahwa tindakannya ini adalah salah, tapi siapa yang tahu berapa lama alasannya ini akan menahan rasa cemburunya?

Chang Whe, yang memahami kekuatan yang telah diberikan dalam bentuk dukungan dari Hwal Bin Dang, memberitahu Dayang Noh bahwa kewajibannya sebagai Raja bukanlah karena pedang belaka, tapi seperti yang telah dikatakan oleh Gil Dong, karena rakyat: “Jika aku bersama dengannya, dapatkah aku menjadi semacam Raja yang diinginkan oleh rakyat?” Dayang Noh mengingatkan akan bahaya yang terletak di dalam dukungan tersebut: Memang benar bahwa dukungan Gil Dong akan membantu Chang Whe dalam mencapai tujuannya. Keterlibatan Gil Dong akan memenangkan dukungan dari rakyat bagi Chang Whe, sementara pedang akan memenangkan dukungan dari para bangsawang: “Tapi bagaimanapun juga, pikirkan dengan seksama. Orang-orang yang sedang diperangi oleh Gil Dong adalah para bangsawan!”

Chang Whe bermain-main dengan sisi kegelapannya, memberitahunya dengan senang: “Aku memegang dua pedang di tanganku, Hong Gil Dong dan pedang Sa Yin. Aku ingin menggunakan keduanya.” Dayang Noh tak mau menghabiskan waktunya untuk bermain-main dan segera mengambil sisi gelap, dia mempertimbangkan kalau Gil Dong adalah bahaya yang harus dilenyapkan, dan ingin menyingkirkannya demi kebaikan Chang Whe, lagi … )

Chang Whe mengirimkan Chisu dan anakbuahnya ke markas Hwal Bin Dang untuk mengantarkan senjata, dan meyampaikan sebuah pesan pada Enok, hanya mengatakan bahwa ia baik-baik saja tanpa Enok, dan masih dapat tertawa seperti biasanya. Tentu saja itu sepenuhnya bohong, tapi Chang Whe ingin meringankan perasaan Enok, yang memang berpikiran sederhana, tak punya alasan untuk meragukan pesan itu.

Sementara itu Chang Whe sekali lagi mengatakan pada dirinya sendiri bahwa baik-baik saja tanpa Enok Tapi dasar Chisu yang sangat menyayangi tuannya tak dapat menanggung bagaimana Chang Whe terus saja bersedih tanpa Enok menyadari sama sekali mengenai perasaanya. Jadi ia kemudian mulai memberitahunya, “Sebenarnya, bukan seperti itu …” tapi ia memotong perkataannya sendiri, seakan-akan sadar bahwa bukan dirinya yang seharusnya mengatakan itu…..

Sementara itu, setelah beberapa kali perbincangan juga perdebatan di antara petarung Yongmun (anakbuah Chang Whe) dan para bandit dari Hwal Bin Dang, dua kelompok itu akhrinya saling memahami dan mengikat hubungan satu sama lain. Su Geun menghibur mereka dengan kisah-kisah yang berlebih-lebihan, Gom dengan bercanda mencuri sebuah pedang, Mal Nyeo merayu mereka, dan Yeon jatuh cinta dengan senjata yang dibuat dengan indahnya, yang dihadiahkan pada para bandit  ….

Kisah legenda Kakek Heo mengenai Gil Dong terkenal kembali saat bagaimana ia berhadapan dengan Raja. Kisah-kisah kemampuan Gil Dong yang luar biasa terlalu khayal untuk dipercayai, tapi para penduduk mulai mempercayainya karena bagaimana bisa ia dapat mengatur rencana melarikan diri dari Istana yang banyak sekali penjaganya, dengan sukses!

Kwang Whe, sementara itu, termakan oleh kegilaannya, ia perlu menangkap Gil Dong untuk menutup semua hal yang lain. Dia kemudian memerintahkan orang-orangnya untuk menjadikan Gil Dong sebagai target utama mereka.

Inilah penjahat kita yang baru. Seorang Duta Besar Tiongkok, dia di sini atas perintah resmi (dan para menteri di pemerintahan berusaha melakukan yang terbaik untuk menerima dengan hangat duta ini), tapi tak mau menyia-nyiakan waktu dengan rencana terselubungnya untuk membuat penduduk Joseon menjadi kecanduan pada opium.

Sudah ada banyak orang yang terpancing, dipengaruhi oleh harganya yang sangat murah sekali, tapi sekali orang-orang itu kecanduan, maka ia berencana untuk dengan drastis menaikkan harga opiumnya.

Gil Dong mendengar mengenai  opium itu, dan segera saja menentukan bahwa menghancurkan penjual opium adalah misi selanjutnya dari Hwal Bin Dang. Misi mereka kali ini akan dibantu oleh kelompok pedagang Chang Whe, yang sudah terlibat karena Menteri Seo telah menemui para pedagang Yongmun meminta bantuan untuk  mengadakan sebuah pesta perjamuan bagi si duta besar.

Gil Dong merencanakan pergerakan dari Hwal Bin Dang, dan bertanya siapa dari mereka yang akan menemaninya dalam tugas pertama ini. Segera, tangan Enok mengacung di udara, dan yang lainnya segera mengundurkan diri. Tapi Gom, yang mungkin ke-telmi-annya setara dengan Enok, dengan senangnya mengacungkan tangannya, membuat Yeon memaksanya untuk menurunkan tangannya lagi … eheheheh ….

Jadi Gil Dong membawa Enok bersamanya ke sebuah gibang untuk mencari tahu mengenai sumber dari opium itu ….

Pada satu saat, seorang gisaeng tertarik dengan Enok, berpikir kalau Enok seorang pria muda yang tampan. Bermaksud untuk menghindari masalah lebih lanjut, Gil Dong segera mengalihkan perhatian si gisaeng dengan meraih tubuhnya untuk duduk di pangkuan Gil Dong. Gil Dong bercumbu mesra dengan si gisaeng, kemudian dengan halus bertanya mengenai “barang” yang menjadi sangat populer beberapa waktu ini.

Enok sangat tidak senang menatap mereka berdua …. cemburu nih yeeeee … 😛

Si gisaeng membawa mereka untuk bertemu dengan penjual opium, yang enggan untuk memberi Gil Dong apa yang ia inginkan (jumlah opium yang sangat banyak untuk dijual kembali).

Tiba-tiba gisaeng tadi masuk dan memberitahu mereka untuk segera pergi karena para petugas polisi sedang menuju kemari untuk melakukan pemeriksaan rutin. Tak mengetahui kalau itu adalah petugas polisi palsu, yakni si Su Geun yang menyamar, memimpin rekan-rekannya untuk menyerbu ke gibang, si penjual opium mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Gil Dong karena telah membantunya lolos dari kekacauan tadi dan mengajak mereka ke kediamannya, markas opium.

Gil Dong dan Enok sangat terkejut mendapati pemandangan menyedihkan dari orang-orang yang tampak terkulai lemas di mana-mana, kurang sadar akibat dari candu.

Penjual tersebut membawakan sebuah pipa candu agar Gil Dong mencicipi contohnya, dan Gil Dong berusaha menolaknya, tapi tak berhasil. Menjadi sangat jelas bahwa dia harus menyedotnya sedikit, karena si penjual mengatakan padanya kalau seorang penjual yang kecanduan barang itu akan menjualnya dengan lebih baik …. loh … bukankah penjual yang kecanduan justru akan menghabiskan sendiri barang dagangannya dan menjadi bangkrut? Karena itu biasanya penjual narkoba tidak menikmati barangnya …

Memikirkan untuk mengisap opium membuat Enok dan Gil Dong mual, tapi mereka tak dapat menanggung resiko membuat si penjual curiga. Akhirnya, Enok merebut pipa itu dan mengisapnya, Gil Dong tak berdaya untuk mengajukan protesnya, dan Enok meyakinkan si penjual bahwa barang itu memang bagus.

Mereka mengesahkan transaksi mereka kemudian berpisah. Enok merasa pusing dan tidak enak badan karena efek dari opium, dan ketika Gil Dong bertanya padanya mengapa ia melakukan itu, Enok menjawab kalau Gil Dong tak boleh mengambil resiko menjadi terganggu kesehatannya. Gil Dong menggendong Enok di punggungnya, pulang ke markas mereka.

Untuk beberapa hari kemudian, Hwal Bin Dang mengawasi para penjual opium dan tetap mengamati pergerakan mereka. Hwal Bin Dang berhasil mendapatkan lokasi gudang utama para pedagang itu sebagai kediaman dari Duta Besar Tiongkok.

Gil Dong bekerja sama dengan Chang Whe, dan mereka membuat rencana bersama. Gil Dong berniat untuk menyusup ke gudang itu dan merampok semua opium itu. Chang Whe akan menangani segalanya yang berkaitan dengan si Duta Besar.

Gil Dong masih mondar-mandir di tempat itu setelah urusan mereka selesai, membuat Chang Whe bertanya padanya apa ada yang diinginkannya lagi. Gil Dong sedikit ragu-ragu, kemudian berkata: “Aku sangat lapar. Berikan aku beberapa kue kering. Kue keringmu di sini sangat enak! … walah … ketularan Enok rupanya si Gil Dong … ahahahah ….

Sebuah pesan disampaikan melalui sebuah panah ke para pengawal Istana, menggambarkan peta yang digambar oleh Gil Dong untuk menunjukkan target mereka, yang berkaitan dengan opium itu. Sebuah pesan asal corat-coret di kertas itu mengindikasikan bahwa Hwal Bin Dang akan menyerbu titik yang ditandai.

In Hyung menganggap ini sebagai tantangan dari Gil Dong, dan memerintahakn anakbuahnya untuk segera bergerak. In Hyung yang berpandangan cupat jatuh ke pancingan Gil Dong, polisi akan menjaga lokasi yang ditandai, dan sementara polisi berhasil disibukkan, juga pihak Yongmun akan mengadakan pesta perjamuan untuk Duta Besar Tiongkok dan para pejabat pemerintahan Joseon di sebuah Gibang, maka Hwal Bin Dang akan bergerak untuk menyusup ke kediaman Duta Besar Tiongkok untuk mencuri opium.

Saat pesta, yang diadakan malam hari, sangat nyata bahwa Duta Besar Tiongkok, yang menganggap Joseon sebagai sebuah kerajaan kecil remeh yang perlu ditundukkan, mengakibatkan  dari para penjabat pemerintahan yang bangga dengan kerajaannya tersinggung, di antara mereka terdapat Menteri Hong, Seo, dan Choi, tapi mereka tak dapat membuat tamu kehormatan mereka tersinggung dan mengakibatkan memburuknya hubungan diplomasi kedua kerajaan.

Menteri Seo bersedia dengan sepenuhnya untuk melakukan kowtow (penghormatan besar ala Tiongkok) pada Duta Besar Tiongkok dengan sikapnya yang menjilat, tapi Menteri Hong merasa kesulitan untuk melakukan itu.

Gil Dong menyerbu gudang opium dengan sukses, tapi menghadapi halangan yang tak diperkirakan sebelumnya, seorang pria yang sangat besar (raksasa ? ), kelihatannya senjata rahasia dari si Duta Besar. Pria besar ini kelihatannya kejam deh …

Setelah berulangkali tak berhasil memberi pukulan yang menyakitkan pada si pria besar malah ia sendiri yang kesakitan karena terpukul oleh lawannya, Gil Dong bergabung dengan rekan-rekannya, mengatur siasat dan berhasil menjatuhkan si pria besar.

Hwal Bin Dang segera mengumpulkan kotak-kotak kayu berisikan opium, kemudian menuju ke tempat pesta dilangsungkan ….

…. di mana Gil Dong segera masuk tanpa basa-basi. Dia menyerbu melewati meja dan menendang Duta Besar yang korup ke tanah, jijik dengan perbuatan jahat yang telah dilakukannya.

Gil Dong segera saja dikenali oleh para menteri, termasuk ayahnya, dan tanda bahaya segera dibunyikan, membuat para pengawal bersenjata segera menyerbu masuk untuk menangkap Hong Gil Dong yang termashyur. Tapi segera saja, para petarung Yongmun yang menyamar dengan cadar muka, mengambil posisi, menghunuskan senjata untuk melindungi Gil Dong.

Gil Dong menghardik pada semua orang, si duta besar, para pejabat, untuk membuat mereka bertindak bersama-sama (artinya untuk menghentikan perbuatan mereka yang sangat korup … ), kemudian pergi keluar. Chang Whe menyuruh semua orang untuk mengikuti Gil Dong keluar ruangan untuk melihat dengan mata kepala mereka sendiri mengenai “barang” yang dibawa masuk ke negeri mereka oleh si Duta Besar.

Semua orang segera berhamburan keluar untuk melihat Gil Dong mengungkapkan apa yang tersembunyi di dalam kotak-kotak kayu: opium dalam jumlah yang sangat besar! Dan saat ia akan membakar opium itu dengan api (… wah apakah ini aman ya … bukankah opium itu  dihisap dengan cara dibakar … ???), Chang Whe tak sengaja melihat ke atas dan mendapati salah seorang anak buahnya di jendela, mengambil posisi untuk memanah Gil Dong dengan sebuah busur bersilang (crossbow)!

Dalam situasi kacau seperti itu tak ada seorangpun yang melihat tindakan orang itu, kecuali Dayang Noh, yang memerintahkan ini dari semula, sangat ingin untuk melenyapkan Gil Dong.

Tanpa adanya kesempatan untuk meneriakkan peringatan, Chang Whe membuat sebuah keputusan cepat dan juga terburu-buru …

Dia melompat di depan Gil Dong, menjadikannya korban dari panah yang dilepaskan. Chang Whe terpanah tepat di dadanya … membuat semua orang sangat terkejut, tak terkecuali pemanah itu dan Dayang Noh sendiri ….

Iklan

One comment on “Hong Gil Dong – Episode 16

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s