Hong Gil Dong – Episode 18

Gil Dong berusaha menguasai rasa takutnya saat ia dikepung oleh 5 hantu perempuan berambut panjang dan berbaju putih, yang menghunus pedang mereka dan bersiap untuk membunuh Gil Dong. Gil Dong menguatkan hatinya untuk bertarung … tapi tiba-tiba satu hantu melihatnya lebih dekat dan mengatakan: “Uh … bukan dia …”

Pimpinan hantu-hantu itu meminta maaf: “Maaf, kami salah mengira kau sebagai orang lain …” Dengan itu, para hantu wanita itu segera melayang pergi.

Oops. Ternyata .. mereka sebenarnya sedang memburu pria ini:

Aku memang mengharapkan saat ia memukuli seorang gisaeng di gibang tadi, agar pria jahat ini mendapatkan balasannya …. tapi tak kusangka secepat ini …. Para hantu wanita menemukannya dan segera menyerangnya. Pagi hari berikutnya, ia ditemukan telah mati tertusuk …

In Hyung memimpin penyelidikan, dan meskipun semua orang tahu kalau Hwal Bin Dang tak ada kaitannya, In Hyung memutuskan kalau ini adalah kesempatan untuk menjatuhkan kesalahan ini pada mereka. Dia memerintahkan anakbuahnya untuk menyebarkan berita kalau Hwal Bin Dang menjadi buronan karena berbagai pembunuhan baru-baru ini.

Gil Dong dan Chang Whe bertemu untuk mendiskusikan situasi ini, karena rumor palsu yang disebarkan oleh In Hyung sangat buruk bagi mereka berdua. Gil Dong menduga kalau ia dapat menangkap para hantu wanita itu dan menyerahkan mereka, maka itu akan memecahkan masalah yang  sekarang mereka hadapi.

Chang Whe tampak mengambil kesempatan sejenak menatap Gil Dong dan menebak kalau Gil Dong sedang ketakutan, dan bertanya: “Apakah kau yakin kau dapat menangkap mereka? Kau sudah berhadapan dengan mereka dan kau kehilangan mereka.” Gil Dong membela diri: “Aku kehilangan mereka karena aku tak menyangka dan bersiap-siap. Mereka berpakaian sungguh-sungguh menakutkan. Kau tidak melihatnya jadi kau tidak mengetahuinya.”

Petunjuk satu-satunya yang dimiliki oleh Gil Dong adalah sepotong kain yang dijatuhkan oleh seorang dari hantu wanita itu. Gil Dong memang dari awal tidak percaya kalau mereka itu adalah hantu beneran, meskipun mereka itu memang bergerak dengan kecepatan yang luar biasa dan seakan-akan seperti hantu. Gil Dong mencium bau yang tak biasa dari mereka, juga di potongan kain itu, mungkin saja itu berasal dari produk-produk Tiongkok.

Ketika ia pergi untuk menyelidiki, Mal Nyo dan Su Geun terus menggodanya, mengetahui Enok telah mengatakan kalau ia bermaksud hanya menghormati Gil Dong sebagai ketuanya, yang berarti Enok hanya akan menghormatinya saja, tak lebih dari itu. Gil Dong segera merasa tidak suka dengan kata “menghormati”, karena selama Enok bersikeras menghormatinya, maka Enok tidak akan mau mengakui kalau dirinya benar-benar jatuh cinta sepenuhnya pada Gil Dong.

Gil Dong pergi untuk memperbaiki itu dan mengajak Enok untuk melakukan tugas bersamanya. Tapi Enok masih sibuk memindahkan kayu bakar, jadi Gil Dong melangkah mendekatinya dan membantu, membuat Enok berterima kasih:

“Gil Dong, kau sungguh-sungguh ketua yang pintar! Aku menghormatimu!”

Ya elah …. itu BUKAN yang ia mau dengar, jadi Gil Dong mengomel dengan bergumam dan segera menendang dan membuang tumpukan kayu bakar itu ke tanah, berteriak: “Hormat? Apakah kau masih menghormatiku sekarang? Huh?”

Merasa tersinggung dan bingung, Enok membatalkan pujiannya, dan Gil Dong memberitahunya: “Itu benar! Dan jangan menghormatiku juga di waktu yang akan datang!” Gil Dong pergi dengan kepuasan jahat, benar-benar senang karena telah kehilangan penghormatan dari Enok.

Mengenai potongan kain hantu, Gil Dong menemui Pedagang Wang untuk membantunya mengidentifikasikannya. Pedagang Wang mengenali bau dari potongan kain itu seperti lada Tiongkok, dan noda di atasnya adalah kimchee.

Gil Dong menyusuri desa, dan kemudian ia berhasil mendapatkan wanita yang mengenali potongan kain tersebut: itu milik sebuah kedai sup di desa, yang dioperasikan oleh beberapa ajumma.

* Ajumma dalam bahasa Korea berarti seorang wanita yang sudah menikah, atau wanita yang sudah cukup umur untuk menikah.

Para ajumma mengenali Gil Dong sebagai orang yang menjadi salah sasaran semalam, dan kelihatannya para ajumma itu tidak menganggap Gil Dong sebagai suatu ancaman, karena mereka segera mengakui kalau merekalah yang menyamar sebagai para hantu wanita dan justru mengundangnya untuk makan bersama-sama.

Gil Dong mencoba memahami mengapa para wanita itu membunuhi para bangsawan, dan memberitahu mereka mengenai maksud dirinya untuk menghentikan perbuatan mereka itu. Pimpinan para ajumma itu meminta maaf karena membuat Hwal Bin Dang dalam situasi yang sulit, tapi jika Gil Dong berusaha untuk menghentikan mereka, maka para ajumma itu akan bertarung melawannya juga: “Kami tidak akan pernah berhenti!”

Mereka tetap pada rencana mereka semula, jadi Gil Dong mengikuti mereka saat mereka pergi untuk melakukan latihan rutin mereka sehari-hari …

Mereka telah berlatih mengasah kemampuan bertarung selama 5 tahun ini, tak peduli siang dan malam. Gil Dong mencoba untuk memahami alasan mereka dan bertanya:

“Apakah kalian menjadi hantu karena kau memiliki musuh yang ingin kalian lawan? Apakah kalian telah menyiapkan diri selama lima tahun ini untuk melakukan semacam balas dendam?”

Kakek Heo sedang mempertimbangkan apa yang harus ia lakukan mengenai identitas yang sesungguhnya dari Enok. Kakek Heo menguji reaksi Enok apakah ia menyukai hidup secara mewah dan berpakaian bagus seperti si nona Eun Hye. Enok berpikir sejenak, tapi memutuskan menentangnya” “Kalau begitu aku tak bisa bersama-sama lagi dengan Gil Dong.” Kakek Heo: “Kau sangat menyukainya sampai seperti itu?” Enok mengangguk: “Yeah, benar. Aku sangat berbahagia sekarang.”

Sementara itu, Su Geun dan Mal Nyeo terus saja bersenang-senang dengan menggoda Pasangan Yang Menolak Untuk Mengakui Yang Tak Terelakkan, memberi petunjuk pada Enok bahwa Gil Dong keluar untuk bertemu dengan beberapa wanita. Enok yang frustasi: “Mengapa ia pergi keluar hanya untuk bertemu dengan para wanita?”

Mal Nyeo bertanya dengan pura-pura tak bersalah: “Apa masalahnya? Kau katakan kalau dia adalah ketua yang hanya kau hormati belaka.” Mereka tidak memberikan Enok alasan detil mengapa Gil Dong keluar, misalnya bahwa sebenarnya semua wanita itu sudah cukup tua untuk menjadi ibu Gil Dong.

Pimpinan ajumma yang sekarang menyamar sebagai hantu, menceritakan pada Gil Dong mengenai sebuah “kisah hantu yang menakutkan” dan kemudian Gil Dong menyadari saat mendengarkan kisah tersebut, bahwa kisah yang diceritakan oleh pimpinan ajumma itu adalah peristiwa yang nyata.

Pada masa lampau di sebuah desa, ada seorang kepala daerah yang baru saja diangkat. Satu malam, ia dikunjungi oleh 2 hantu wanita, berpakaian putih, yang memintanya untuk mengungkapkan keadilan. Diperkosa dan dibunuh, para wanita itu mengenali para pelakunya sebagai para penjagal hewan dari kelas rendah. Hari selanjutnya, semua para penjagal itu dieksekusi mati sebagai hukumannya.

Chang Whe, mendengarkan kisah yang sama dari Chisu, menarik kesimpulan bahwa pasti ada “alasan sesungguhnya” sehingga para penjagal tersebut dibunuh. Kelihatannya, pelaku dari kejahatan itu sebenarnya adalah seorang anak bangsawan yang sangat berkuasa, tapi karena si kepala daerah yang baru dikunjugi oleh (terduga) roh-roh para korban, dia sebaliknya membunuh para penduduk dan anak bangsawan itu bebas. Lebih jauh lagi, orang-orang yang membunuh para penduduk dalam nama “keadilan” ternyata adalah para bangsawan, yang baru-baru ini dibunuhi oleh para hantu samaran ajumma.

Pimpinan ajumma itu melanjutkan:

“Tapi tidakkah itu sangat aneh? Sesosok hantu muncul dan mengatakan kalau seorang penjagal yang bersalah, dan tak ada orang yang bertanya. ‘Benarkah sesosok hantu mengatakan itu? Tak ada yang namanya hantu!’

Aku sungguh-sungguh begitu  ingin mengetahuinya, aku ingin bertemu dengan hantu itu dan bertanya padanya, ‘Apakah anakku benar-benar membunuhmu?’ Aku pergi menemui seorang dukun, seorang cenayang, melakukan apapun yang bisa kupikirkan, tapi hantu itu tak muncul di hadapanku …

Aku merasa sangat marah dan merasa diperlakukan tak adil sehingga kami semua memutuskan kalau kami akan menjadi para hantu itu sendiri.”

Dayang Noh mengunjungi seorang bangsawan tua, mencoba untuk meraih dukungannya. Ini adalah kakek kandung Enok, ayah dari Menteri Ryu yang terbunuh, yang telah mengajukan petisi agar kematian Ratu dan Chang Whe diselidiki kembali. Bangsawan ini sangat berkuasa dan memiliki banyak pengikut, karena itu ia adalah seorang sekutu kuat yang sangat potensial.

Chang whe percaya Tuan Ryu tua ini dapat dimenangkan hatinya sehingga membantu mereka sekali ia tahu mengenai kejadian terperinci dari terbunuhnya anaknya, yang selama ini ditutu-tutupi. Saat ia tahu kalau anaknya mati karena posisinya yang menghalangi jalan Kwang Whe untuk bertahta, yang mana Menteri Ryu adalah pewaris tahta selanjutnya jika Chang Whe meninggal, maka pasti Tuan Ryu tua ini akan segera berpihak ke Chang Whe. Tapi sebenarnya Tuan Ryu tua ini juga memiliki agenda sendiri, ia berharap cucu perempuannya ditemukan kendati ia mendengar bahwa kemungkinanya sangat kecil bahkan tidak ada. Seperti yang sudah diduga, Ryu memberikan janjinya pada Dayang Noh kalau ia akan mengumpulkan dukungan dari para pengikutnya.

Sekarang setelah identitas Enok sudah diketahui, tak akan membutuhkan waktu yang lama berita itu akan tersebat. Eun Hye memulai rencananya, meskipun tujuan akhirnya belumlah jelas. Pertama, ia memberi obat-obatan dari Kakek Heo, dan menggunakan transaksi itu sebagai alasan bercakap-cakap mengenai Enok dan memberikan sedikit petunjuk yang cukup memberikan pertanda bagi Kakek Heo untuk menyadari bahwa Eun Hye sedang membicarakan identitas Enok yang sebenarnya. Kakek Heo kemudian mengunjungi kediaman Ryu untuk mengamati kehidupan yang seharusnya dimiliki oleh Enok.

Dalam kebimbangannya, hati Kakek Heo dalam tempat yang benar, karena ia memang memperhatikan keadaan Enok. Dia tak yakin apakah Enok akan merasa senang saat mengetahui kalau ayah Gil Dong lah yang membunuh keluarganya, dan cemas bahwa Enok yang sudah bertumbuh menjadi wanita dengan jiwa bebas akan merasa terkurung jika ia menjadi seorang nona besar dari keluarga bangsawan.

Mungkin karena bodoh? Chang Whe dan Dayang Noh yang mengetahui kesamaan nama dari Heo Enok dan Ryu Enok, tapi Dayang Noh hanya menghela napas belaka: “Betapa baiknya itu bagi pihak kita jika kita dapat menemukan cucu perempuan Tuan Ryu!” ….

Chang whe mengingat suatu waktu saat masih ia kecil, i telah bertemu dengan Ryu Enok yang seorang gadis kecil, dan bertanya-tanya apakah itu sebuah kebetulan yang dirancang oleh takdir, atau ada sesuatu yang lebih …

Berikutnya saat Gil Dong pergi untuk mengunjugi para wanita kenalannya, Enok segera menawarkan diri untuk menemaninya. Ketika Gil Dong bertanya mengapa, Enok tergagap, karena telmi tentunya: “I-itu tentu saja bukan karena kau akan pergi menemui para wanita!” … ahahaha … alasannya sendiri udah disebut …

Gil Dong memandangnya dan tertawa dalam hati, tapi kemudian ia mengajaknya bersama-sama untuk bertindak sebagai pengalih perhatian sementara Gil Dong mengumpulkan fakta-fakta, dan Enok melakukan tugasnya dengan memuaskan, karena tidak ada sesuatu yang paling disukai oleh para ajumma itu selain memaksa anak muda untuk makan banyak … dan Enok si tukang makan menerimanya dengan sukacita …

Enok dan keempat wanita lainnya sangat cocok satu sama lain, mereka berbincang-bincang dengan serunya dengan Enok masih makan. Sementara itu Gil Dong dan nyonya pimpinan para ajumma mengawasi dari kejauhan. Nyonya pimpinan bertanya pada Gil Dong: “Apakah dia gadismu?” dan berkomentar kalau itu sungguh suatu pencobaan bagi Gil Dong untuk dapat  memberi makan yang cukup pada Enok dan menjaganya tetap selamat, “Tapi tetap, kau telah membuat pilihan yang bagus.”

Gil Dong mengamati Nyonya  itu yang sedang  menambal pakaian, pakaian duka dari penguburan anaknya, dan nyonya itu memberitahu Gil Dong, dengan pasrah, bahwa ini adalah kehidupan yang ia dan rekan-rekannya yang lain tahu. Rasa dendam inilah yang membuat mereka terus maju, tapi tetap saja, ia mengingatkan Gil Dong untuk menjauh dari cara hidupnya seperti ini.

Lalu setiap 0rang menyiapkan rencana besar malam ini:

In Hyung menemukan keterkaitan satu sama lain dari para korban hantu-hantu wanita, dan berhasil melacak bangsawan terakhir yang masih hidup. Dia menebak dengan tepat kalau bangsawan ini adalah bangsawan terakhir yang akan menjadi target selanjutnya, dan berharap untuk menangkap para hantu wanita dan juga Gil Dong.

Sementara itu, para hantu samaran ajumma, telah mendengar bahwa target mereka akan pergi di hari berikutnya, jika mereka mau membalas dendam, maka itu harus dilakukan malam ini juga.

Para ajumma menyusup ke kediaman bangsawan yang menjadi target mereka dan akan menyerangnya, tapi dikarenakan semua orang sudah menduga hal ini, mereka dihentikan oleh In Hyung dan para petugas polisi bawahannya. Para petugas berhasil mengejutkan para hantu wanita itu dan menghentikan serangan mereka. Pada akhirnya karena sudah kalah set dan kalah jumlah, semua wanita itu terbunuh …. aduh ….

Gil Dong berlari ke tempat kejadian. Tujuan awalnya untuk menghentikan mereka berubah setelah mendengar kisah mereka, hatinya dipenuhi dengan rasa iba, ia tak akan menangkap mereka, tapi ingin menghentikan mereka melakukan pembunuhan lebih lanjut.

Sayangnya Gil Dong datang terlambat, ia sampai di tempat itu saat tubuh para ajumma sudah dibaringkan di luar kediaman bangsawan yang menjadi target.

Rasa sedih berubah menjadi murka saat ia mendengar para petugas polisi itu mencemooh para ajumma itu dan juga rencana balas dendam mereka. Gil Dong melihat tubuh para wanita itu yang telah mati dan mengingat perkataan nyonya pemimpin itu sebelumnya: “Kau adalah Hwal Bin Dang. Apakah kau ingin menyelamatkan kami? Aku minta maaf, tapi tak ada yang bisa diselamatkan.”

Gil Dong segera menyerbu mereka dan berhasil mendekati si bangsawan, menghunus pedangnya dalam kemarahan hebat. Semua orang di sekitar keduanya membeku sementara Gil Dong membuat si bangsawan itu berlutut di hadapannya. Gil Dong bersiap untuk menyerang sedangkan pria bangsawan itu memohon ampun padanya.

Disertai dengan teriakan, Gil Dong mengangkat pedangnya dan mengayunkannya ke bawah, sementara setiap orang mengawasinya dengan rasa terkejut …

… dan apa yang ia lakukan bahkan membuat semua orang lebih terkejut lagi daripada sekedar membunuh pria itu. Gil Dong dalam kemarahannya menebas topi kebangsawanan dan juga rambut di kepalanya, pada pokoknya tindakannya itu berarti melucuti dan merendahkan simbol kekuasaan dan kehormatannya.

Gil Dong: “Aku tak akan mengambil jiwamu, tapi duniamu! Itulah pembalasan dendamku!”

Chang Whe mengawasi dari kejauhan, tertegun: “Pria itu … kuat.” Dalam kenyataannya, kekuatan Gil Dong itu seperti suatu panggilan yang membangkitkan sesuatu di dalam diri Chang Whe:

Chang Whe: “Jika ia membunuh pria itu, aku akan berpikir kalau ia lebih lemah dari diriku. Tapi aku sadar sekarang kalau ia lebih kuat daripada yang kuduga selama ini.”

Enok mencoba untuk memahami: para wanita ajumma, pembunuhan itu, dan semuanya. Dia tak dapat mengerti hal-hal yang berkenaan dengan pembalasan dendam dan musuh. Mal Nyeo memberitahu Enok bahwa memang lebih baik Enok tak usah memahami semuanya, dunia ini memang memerlukan orang-orang seperti dia di dalamnya.

Gil Dong menguburkan para ajumma. Di kuburan, Hae Myung memberitahu dia bahwa ayahnya dulu pernah menghabiskan seluruh harinya di makam ibu Gil Dong:

Hae Myung: “Memikirkan akan dunia yang telah membunuh orang yang ia cintai, dan mengetahui bahwa dunia semacam itu adalah dunia yang ia bangun dan jaga, dia hanya bisa memandang kosong. Dunia ini telah membuat para wanita ini sebagai kriminal juga. Mereka patut dikasihani.”

Mengetahui kebenaran dari identitas Enok memberikan pemikiran yang mendalam bagi Menteri Hong. Pihaknya telah kehilangan pedang, dan sekarang Enok masih hidup. Ini sungguh tak baik bagi pihak mereka. Kwang Whe, seperti biasanya, sangat muuarah .. bukan marah loh … tapi muuarah … ketika mendengar sekali lagi keterlibatan Gil Dong, yang selalu menentangnya setiap saat.

Karena itulah, Hong mengusulkan satu cara untuk menangkap Gil Dong demi kebaikan pihak mereka. Dia memberitahu Kwang Whe: “Kau harus membunuhku. Supaya dapat menangkapnya, aku harus mati.” Dia berlutut untuk menunjukkan kesetiaannya, siap menyerahkan hidupnya demi melindungi rajanya.

Berbicara mengenai kesetiaan:

Gil Dong: “Ketika kau menjadi Raja, buatlah sebuah dunia sebagai tempat di mana orang-orang tak diperlakukan dengan tak adil karena terlahir dalam status sosial rendah. Tak memiliki sedikitpun kelas rendahan berarti bahwa juga tak ada kelas tinggi. Jika kau terikat pada  kelas tinggi, kau tak dapat menyelamatkan mereka di kelas rendahan.”

Chang Whe: “Aku tak dapat pilih kasih terhadap salah satu dari keduanya. Mereka semua lah yang membuat negara ini berdiri.”

Gil Dong: “Aku tahu. Kenyataan tak bisa diabaikan. Mulailah dengan menjadi seorang Raja, ubahlah banyak hal. Janganlah menjadi seorang tolol dengan mengabaikan kenyataan, tapi jangan menjadi kejam dan melepaskan idealisme mu juga.

Aku akan mengerti dan mempercayaimu ketika kau harus berkompromi dengan mereka, sebanyak aku juga tak menyukai itu.

Jadi mengertilah dan percayalah padaku ketika aku melawan mereka, sebanyak kau juga tak menyukai itu.

Maka, kita akan dapat bekerja bersama sampai akhirnya.

Kau berkata kalau kau ingin menjadi Raja yang diinginkan oleh rakyat dengan demikian kau akan menjadi Raja yang diangkat oleh rakyat. Kita akan pergi bersama-sama. Menjadi Raja. Kita akan mengangkat raja yang mengubah dunia ini. Untuk dapat melakukan itu, aku akan menjadi lebih kuat lagi.”

Chang Whe memberitahu Chisu (pada kenyataannya ia sebenarnya berbicara kepada dirinya sendiri):

Chang Whe: “Aku telah berpikir bahwa menggunakan dirinya akan membuatku menjadi Raja yang akan melindungi dunianya. Karena itulah yang terjadi selama ini. Tapi sebaliknya ia menggunakan diriku untuk mengubah dunia ini. Dia dan aku berbeda dari semula, karena ia mulai dari dasar, dan aku dari puncak. Jika kami tidak bertemu entah di tengah-tengah di mana, kami akan berbenturan, bukankah demikian? Maka dapatkah aku berpisah jalan dengannya?”

Chang Whe diperkenalkan pada Ryu dan para pengikutnya. Ryu membaca tulisan di pedang, dan semua para bangsaman mengucapkan sumpah dukungan mereka yang kekal pada Chang Whe sebagai “Raja yang sebenarnya” dari kerajaan ini.

Ketika Chang Whe berada di dalam rumah Ryu, anakbuahnya tetap berjaga di luar, dan seorang di antara mereka mengenali Kakek Heo yang sedang mengintip di luar.

Sementara itu setelah melakukan pengamatan berulangkali pada kediaman Ryu, akhirnya Kakek Heo memutuskan untuk menyimpan hal ini karena Enok sudah bahagia tanpa mengetahuinya, dan menjadi dirinya sendiri seperti sekarang.

Kehadiran Kakek Heo, dan beberapa pertanyaan yang telah ia tanyakan selama ini mengenai Enok, akhirnya meyakinkan Chang Whe dan Dayang Noh bahwa Ryu Enok dan Heo Enok itu adalah orang yang sama …. weleh … butuh berapa episode tuh sampai keduanya sadar …. jangan-jangan ketularan telminya si Enok ya … ahahaha …😛

Enok, yang sulit untuk memahami perkembangan terakhir, tak tahu berbuat apa untuk memberikan penghiburan pada Gil Dong.

Gil Dong menjawab, “Hanya awasi saja aku. Kau telah setuju bahwa itu yang akan kau lakukan. Semua itulah yang harus kau lakukan untukku.” Mengingat janji lamanya, Enok menyahut, “Baiklah, aku hanya akan mengawasimu dari jauh.”

Gil Dong: “Jangan jauh-jauh, mendekatlah. Awasilah semuanya dari sampingku.”

Enok: “Di sampingmu, seperti ini?”

Gil Dong: “Yeah, seperti ini.”

Enok: “Yang perlu kulakukan hanya tetap seperti ini untuk menghiburmu?”

Gil Dong: “Dasar si Bodoh”

One comment on “Hong Gil Dong – Episode 18

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s