Hong Gil Dong – Episode 19

Setelah ciuman itu, Enok menjadi sangat bingung, tak tahu bagaimana harus bereaksi. Pertama dia menutup matanya, terlalu malu untuk menatap Gil Dong yang sedang mengawasinya untuk  menikmati perubahan wajah si Enok, kemudian Enok tidak tahan dan segera pergi keluar dengan terburu-buru menuju ke pos, terbuat dari kayu, terpeleset saat menaiki tangga, dan jatuh ke sebuah mata air … heheheheh …

Yang lain melihat tingkah Enok yang terburu-buru keluar dari ruangan, dan mengira Enok sedang bersedih, mengasumsikan yang terburuk. Tak tahu kalau Enok tertawa mengikik karena senang saat ia sendirian. Su Geun mencaci Gil Dong karena mempermainkan perasaan Enok (mengira kalau Gil Dong tak membalas perasaan Enok). Yang lain juga datang dan mengancam Gil Dong untuk memperlakukan “Enok kami” dengan baik, atau kalau tidak …. Melongo, Gil Dong bahkan tak dapat kesempatan untuk membela dirinya sendiri …. ahahahahaha ….

Berpikir kalau Enok sedang merasa sedih karena perasaanya tak berbalas, Gom memberitahu Enok kalau Gil Dong benar-benar sangat memikirkan Enok. Pada kenyataannya, dia menyimpan kantung kumal, yang dibuatkan oleh Enok,  selama ini dan sering sekali menatap kantung itu. Enok bertanya dengan penuh rasa ingin tahu, “Kantung cantik dengan sulaman bunga itu?” Gom: “Uh … aku tidak bisa menyebut kantung itu cantik … ” Enok dengan konyolnya jsutru  sangat senang mendengar itu.

Ketika Gil Dong sedang tidur, Enok menyusup masuk dan mendekatinya, dan dengan lucunya mulai menggerakkan tangannya menjelajahi SELURUH TUBUH Gil Dong. Sungguhan! Atas dan bawah, di dadanya, di bawah bajunya, tanpa rasa malu sedikitpun … auhauhauhauaha …. asli kocak …. Hati-hati Enok, mungkin ia memang tak melihatmu, tapi jika kau lakukan itu terus ia tak akan tidur terus … bisa-bisa terbangun dan “terbangun” …. aahhahahah😛

Tapi ternyata semua tindakannya itu bukannya tanpa tujuan, karena sebenarnya Enok sedang mencari kantung itu, yang kemudian ia temukan, bermaksud untuk memperbaikinya. Setelah Enok pergi, Gil Dong membuka matanya dan menggeritu bahwa sekarang Enok sama sekali tak malu sekarang …

Chang Whe bergumul dengan dilema, apa yang harus ia lakukan dengan pengetahuannya mengenai identitas sebenarnya dari Enok, yakni anak gadis yang lama hilang dari Menteri Ryu. Dayang Noh dan Chisu mendesaknya untuk menggunakan ini untuk keuntungan dirinya dalam politik, tapi Chang Whe ragu-ragu. Di satu sisi, ini adalah salah satu cara baginya untuk memenangkan Enok sehingga berada di sisinya, tapi di sisi lain, dia tak ingin memaksa Enok jika Enok tak memilihnya. Dia juga tak ingin melakukan sesuatu yang mungkin menyakiti Enok, yang mana itu pasti terjadi.

Chang Whe menginstruksikan Dayang Noh untuk menunggu sampai mereka mendapatkan bukti yang nyata, dan mengalihkan perhatiannya untuk melakukan rencana selanjutnya. Chang Whe berhasil mendapatkan dukungan dari bangsawan lebih banyak lagi (mereka menandatangani sebuah daftar nama untuk dukungan) dengan bantuan dari kakek kandung Enok, Tuan Ryu.

Reaksi raja terhadap usulan Menteri Hong, bahwa Raja harus membunuhnya untuk menangkap Gil Dong: pertama bingung, kemudian marah. Hong berpendapat kalau pengorbanannya ini adalah cara terbaik untuk mengikat yang telah longgar, ia lebih berguna jika mati daripada hidup pada saat ini. Raja berpendapat lain, dan melihat kalau ini adalah tanda bahwa pelayan setianya ini telah menyerah akan dirinya, dan meskipun Kwang Whe memberitahu Menteri Hong bahwa Hong mungkin telah mulai menyesali tindakannya selama ini, tapi Hong tak bisa menyerah akan dirinya! Kwang Whe menolak untuk melakukan rencana Hong dan memerintahkannya untuk tetap bersamanya sampai akhir.

Karena itu Hong kemudian memusatkan usahanya untuk menangkap Enok. Tapi tiba-tiba saat ia sendirian, Hong merasa jantungnya sangat sakit, ia mencengkeram dadanya dan meringis kesakitan.

Enok dan Kakek Heo mendiskusikan hubungannya dengan Gil Dong, dia sedikit bingung dengan beberapa peristiwa romantis yang terjadi padanya baru-baru ini, dan Kakek mengatakan, “Jika ia begitu menyukaimu sehingga ia begitu menghargai kantung kumal itu, kau sangat beruntung.” Enok bertanya-tanya apakah ia akan terlihat cantik di mata Gil Dong jika ia mengenakan hanbok, dan Kakek Heo menghela napas bahwa semuanya tampaknya berjalan dengan baik. Kakek Heo terlihat telah melepaskan perasaan enggannya melihat mereka berdua bersama, berujar bahwa ia hanya cemas kalau Enok sedang jatuh cinta tak berbalas.

Kakek menjanjikan kalau ia akan membelikan Enok sebuah penjepit rambut yang cantik, dengan mana ia akan mengirimkan Enok juga ke pernikahan. Kakek dan Enok berjanji akan bertemu lagi keesokan harinya saat orang-orang Yongmun datang menemukannya atas permintaan dari Dayang Noh. Setelah Enok pergi, Kakek Heo dikuntit oleh orang-orang Hong ketika ia sedang  berkeliling untuk membelikan sebuah penjepit rambut bagi Enok.

Saat pertemuan dengan kakek kandung Enok, Tuan Ryu, Dayang Noh memecah topik pembicaraan mengenai Enok, bertanya apakah ada cara yang pasti untuk membuktikan identitas cucu perempuannya. Ryu meyakinkan mereka bahwa ia akan mengenali cucunya hanya dengan melihatnya saja karena kemiripan sang cucu yang sangat dekat dengan sang ayah.  Pada saat itulah, seorang “tamu” dikumandangkan telah datang. Itu Enok, dan ini adalah sebuah kesempatan yang sangat baik bagi mereka untuk mengungkapkan kebenaran pada kedua marga Ryu itu, Tuan Ryu dan Ryu Enok, tapi pada saat terakhir, Chang Whe mengubah pikirannya. Dia pergi keluar untuk bertemu dengan Enok.

Enok akhirnya telah berhasil mengetahui perasaan Chang Whe terhadap dirinya, mungkin terungkap setelah ia mengalami sendiri dalam hubungannya dengan Gil Dong.

Enok: “Ketika kau dulu memberitahuku untuk tidak datang, aku pikir kau merasa tidak nyaman di dekatku setelah aku tahu kalau kau adalah orang dengan kedudukan yang tinggi. Tapi aku pikir aku salah mengenai hal itu.”

Chang Whe: “Apakah kau sudah mengetahuinya sekarang?”

Enok: “Tapi … Aku benar-benar, sungguh-sungguh sangat

Chang Whe: “Aku tahu itu, karena aku bukanlah orang yang bodoh dan telmi seperti dirimu. Enok … kau benar-benar seorang yang spesial bagiku.”

Enok: “Aku … aku tahu …”

Chang Whe: “Tidak, kau sangat-sangat spesial bagi diriku lebih yang kau tahu. Sangat berarti bahkan aku memaksa diriku sendiri untuk menyerah demi membuatmu bersama denganku, bahwa aku ingin melindungi dirimu. Itulah bagaimana pentingnya dirimu bagiku.”

Eun Hye berpikir mengenai ide untuk memberikan dukungannya bagi Chang whee. Dia menguji Dayang Noh:

Eun Hye: “Jika dia menjadi raja, bisakah Hong Gil Dong diangkat sebagai seorang bangsawan?”

Lady Noh: “Apakah itu yang kau harapkan?”

Eun Hye: “Dengan begitu, aku dapat memilikinya. Untuk membuat itu terjadi, aku dapat mengalihkan kekuatan ayahku ke pihakmu.”

Lady Noh: “Jika kau melakukan itu, kami harus melakukan seperti yang kau harapkan, bukan?”

Gil Dong membelikan Enok sebuah kacamata hitam, bertekad untuk membantu Enok menghilangkan fase “rasa malu”  sehingga mereka dapat melangkah lebih maju lagi dalam hubungan mereka … heheheeh … dan dalam rasa terimakasihnya yang  sedikit berlebihan (karena ini untuk pertama kalinya Gil Dong membayar sesuatu), Pedagang Wang memberinya sebuah berita. Dia mengingatkan Gil Dong bahwa anakbuah ayahnya telah berkeliling dan menyelidiki sesuatu, bertanya banyak hal. Dan penasarannya, kebanyakan pertanyaan itu seputar mengenai Enok, bukannya Gil Dong. Gil Dong kemudian mengingatkan Enok agar lebih berhati-hati menjaga dirinya dan juga kakeknya. Tapi Enok sangat percaya dengan kemampuan kakeknya untuk melindungi dirinya sendiri, dan memang Kakek Heo sangat lincah, terutama satu tahun belakangan ini…

… tapi dia tak cukup kuat untuk melawan semua anakbuah Hong, yang kemudian menangkapnya dan membawanya kepada Menteri Hong untuk ditanyai mengenai Enok.

Heo memohon ampun bagi Enok, bersikukuh bahwa Enok tak mengetahui apapun mengenai identitas aslinya, dan memohon pada mereka untuk tidak mengganggu Enoki. Hong ingin tahu untuk dirinya sendiri apakah Enok tahu, dan anakbuahnya berencana untuk menculiknya besok saat pengiriman obat, yang mana membuat Kakek Heo sangat panik: “Jangan ganggu Enok kami!”

Pada saat yang bersamaan, dalam situasi yang berlawanan, Enok masih tidak menyadari keadaan kakeknya dan merasa sangat bersuka cita atas semua keberuntungan dalam hidupnya … duuuhh …

Untuk perencanaan kudeta yang semakin mendekat, banyak pihak akhirnya terbagi hanya menjadi dua pihak utama: pemerintah yang sekarang, yakni Kwang Whe dan para pemberontak, pihak Chang Whe. Gil Dong sekarang bukan lagi hanya memimpin sebuah kelompok bandit belaka, tapi bagian dari pasukan pemberontak pangeran.

Pada akhirnya Gil Dong mencari dukungan yang lain, mengetahui bahwa pasukan pemberontaknya membutuhkan kekuatan yang lebih besar. Dia mendekati berbagai kelompok bandit dan meminta mereka untuk bergabung dengan usahanya untuk menggulingkan Raja mereka yang sekarang gila dan sangat busuk, dengan sang Pangeran. Para bandit yang lain menyukai ide untuk merubah dunia mereka ini dan setuju untuk bergabung dalam pertarungan ini.

Semua kelompok bersiap untuk melakukan pertempuran …

Bertekad untuk membunuh Gil Dong dan melindungi ayahnya, In Hyung mengarahkan pasukannya untuk menyerbu Hwal Bin Dang. Dia memimpin pasukannya melewati pegunungan menuju ke markas Hwal Bin Dang ….

…tapi para bandit telah bersiap siaga dan menunggu mereka. Mereka menunggu waktu yang tepat, kemudian menyergap para prajurit, yang tak menyangka dan tak bersiap-siap. Pertempuran berlangsung dengan cepat, berakhir ketika para prajurit tertangkap dalam perangkap Hwal Bin Dang: beberapa terjerat oleh jaring, dan tali-tali menyapu yang lainnya, membuat mereka tergantung terbalik di udara ….

Masih terikat, kecemasan utama Kakek Heo adalah ia harus mencega Enok tertangkap oleh anakbuah Hong. Dengan gerakan hati-hati, ia berhasil melepaskan ikatannya, kemudian bertarung dengan para penjaganya dan berhasil melarikan diri. Dia terluka, tapi tetap bertekad untuk bertemu dengan Enok sebelum Hong melakukannya.

Sayangnya, pengharapan terakhirnya tidak lah terkabul karena Enok datang di toko obat seperti yang direncanakan, dan menemukan dirinya telah terkepung oleh anakbuah Hong.

Enok melawan dengan berani tapi tetap saja kalah jumlah. Ia tertangkap, dan terkejut saat melihat kedatangan Menteri Hong. Enok lebih terkejut lagi ketika Hong bertanya padanya: “Apakah kau Ryu Enok? Apakah kau benar-benar tidak tahu siapa ayahmu dan siapa dirimu sebenarnya?” Bingung, Enok menjawab: “Aku hanyalah Heo Enok.”

Minister Hong: “Tak jadi masalah jika kau tak tahu apapun. Hidupmulah yang seharusnya sudah berakhir. Demi Raja, kau tak dapat terus hidup.”

Hong memerintahkan anakbuahnya untuk membawa Enok ke Istana, dan tepat saat itu Kakek Heo menyerbu mereka dan berhasil membebaskan Enok. Bersama-sama, mereka dapat menahan anakbuah Hong dan melarikan diri, tapi sebelum itu Kakek Heo mendapatkan luka lagi, kali ini ia ditebas di punggungnya …

Gil Dong berhadapan dengan In Hyung yang sangat marah, yang tergantung di udara karena terjerat salah satu perangkap. In Hyung meminta Gil Dong memberitahunya:

In Hyung: “Apakah kau berencana untuk membunuh ayah juga? Jika kau bergabung dengan Pangeran, maka kau pasti tahu kalau kau nanti pada akhirnya harus membunuh ayah!”

Gil Dong: “Kau tahu kalau bukan semuanya seperti itu. Dia tak seperti dirimu, dia tak akan mau bersembunyi.”

Gil Dong berjalan pergi meninggalkan In Hyung yang masih tergantung terbalik, eh! Sementara In Hyun berteriak dari atas pohon: “Aku akan membunuhmu sebelum itu terjadi!”

Enok membantu kakeknya yang terluka parah untuk bersembunyi, di mana Kakek Heo memberitahunya bahwa Enok adalah gadis yang baik hati: “Kau nantinya harus berbaik hati dan memaafkan segalanya … Aku sangat khawatir kalau nanti kau akan marah …”

Tapi Kakek Heo tak memiliki kesempatan untuk memberitahu Enok kebenarannya sekarang karena ia mati ….

Beberapa waktu kemudian, Chang Whe mendengar penyerangan terhadap Enok dan keberhasilan Enok melarikan diri. Chang Whe sangat cemas dan memerintahkan anakbuahnya untuk menyebar dan mencari Enok.  Ketika anakbuahnya menemukan Enok, Enok tampak kehabisan tenaga karena duka mendalam, duduk dengan pandangan kosong di samping jenazah kakeknya. Dia kemudian mulai menangis, dan tak sadarkan diri.

Di markas Hwal Bin Dang, para bandit juga mendengar berita mengenai insiden terhadap Enok yang terjadi di pagi hari tadi, dan ketika Gil Dong mulai berlari, dia bertemu dengan utusan dari Yongmun yang memberitahu bahwa Enok sudah aman dan sedang beristirahat di Yongmun.

Setelah merasa panik sejenak, Gil Dong berhasil diyakinkan, meskipun ia tak mengetahui kisah selurunya, atau mengenai kematian Kakek Heo. Gil Dong berencana untuk membawa kembali Enok dari markas Yongmun dengan dalam semangatnya yang ceria.

Setelah menghabiskan malam dengan menangis maupun duduk menyalahkan dirinya sendiri karena telah menempatkan kakeknya dalam bahaya, Enok diberitahu mengenai identitas yang sebenarnya mengenai dirinya oleh Chang Whe, yang menduga kalau inilah saat yang tepat untuk membiarkannya tahu. Chang Whe meringkas perincian di sekeliling kematian keluarganya, juga fakta bahwa ia ditangkap karena, sebagai Ryu yang selamat, dia adalah halangan bagi Raja yang sekarang. Kemudian sampai di hal yang terakhir, Chang Whe memberitahu identitas orang yang bertanggungjawab atas semuanya ini:

Chang Whe: “Orang yang membunuh kedua orangtuamu, yang membunuh kakekmu, dan yang mencoba untuk membunuhmu adalah Menteri Hong Seo Hyun, ayah Gil Dong”

Sementara Enok yang tertegun mencoba untuk memahami fakta yang ada, Dayang Noh memberinya sebuah benda yang ditemukan di tubuh kakeknya. Enok membuka pakaian berlumuran darah itu dan melihat sebuah jepitan rambut, yang dibelikan oleh Kakek Heo untuknya.

Dayang Noh dan Chang Whe kemudian meninggalkan Enok dengan maksud agar Enok menghabiskan waktu di kamar untuk menenangkan dirinya.

Sementara itu Enok memandangi jepit rambut di tangannya. Benda itu membangkitkan sebuah gelombang emosi yang bergerak tak beraturan, rasa tidak percaya, duka mendalam, putus asa, frustasi, sebelum akhirnya bergabung menjadi satu gelombang besar yang memberinya kekuatan: rasa marah! Enok: “Dia telah membunuh kakekku. Dia telah membunuh mereka semua!”

Kemarahan di dadanya mengambil alih kewarasannya: Enpk meraih pedang Chang Whe yang ditinggal dalam ruangan itu dan segera melangkah keluar dan meninggalkan markas Yongmun dengan tujuan di hatinya menuju ke arah targetnya …

Ketika Gil Dong datang untuk mengambil Enok, bersemangat untuk melihatnya lagi, Chang Whe menyela kedatangannya dan memberitahunya mengenai peristiwa yang terjadi baru-baru ini, bahwa kakek Enok telah terbunuh, dan pelakunya adalah ayah Gil Dong.

Sangat shock, insting pertama Gil Dong adalah pergi menengok Enok, tapi Chang Whe menghentikannya: “Kembalilah. Kau hanya akan lebih menyiksanya.” Dan kemudian mereka terkejut saat melihat kalau ruangan Enok kosong, Enok sudah menghilang entah kemana dan pedang Chang Whe juga hilang …

Sementara itu, Enok sedang berlari menyusuri kota dengan pandangan matanya sepenuhnya memandang ke arah mana kediaman Hong. Hatinya dipenuhi dengan kemurkaan dan dendam mendalam.

Enok sampai di kediaman Hong dan segera menyerbu masuk untuk menemui Menteri Hong, sementara Hong sedang meminum ramuan obat untuk jantungnya.

Enok memberitahu Hong: “Aku akan membunuhmu!” kemudian menyabetkan pedangnya di wajah Hong. Tapi itu bukanlah sabetan membunuh, hanya melukai wajah Menteri Hong. Kemudian Enok melangkah maju untuk melakukan niatnya untuk membunuh …

—tapi pedangnya ditangkis. Gil Dong masuk ke dalam kamar dan menangkis pedangnya. Mereka berdua dalam posisi masing-masing, sementara Menteri Hong merangkak keluar, terluka, dengan bantuan seorang pelayan.

Enok mengesampingkan Gil Dong dan segera mengikuti mangsanya keluar, tak tergoyahkan, bermaksud untuk menyelesaikan pekerjaan yang telah ia mulai tadi …

Gil Dong sekali lagi turun tangan, berlari ke hadapan Enok untuk mencoba menghentikan Enok, “Aku tak bisa membiarkanmu membunuh ayahku.” katanya. Tapi Enok terlalu dikuasai kemarahan sehingga tak mendengar atau lebih tepatnya tak mempedulikan kata-kata Gil Dong.

Enok menendangnya sehingga Gil Dong menyingkir. Enok melihat celah, menghunus pedangnya dan menusukkannya ke Menteri Hong …

— tapi Gil Dong maju ke hadapan ayahnya, dan menerima tusukan Enok …

Melihat pedangnya melukai pinggang Gil Dong, Enok terlihat mulai sedikit kembali akal sehatnya …

2 comments on “Hong Gil Dong – Episode 19

  1. Asli lucu banget adegan di awal… .tapi tragis di akhir… hick hick hick…. Hong Gil Dong baru mulai mendapat kebahagiaan sudah harus merasakan kehancuran… kasihan Gil Dong….Tidaaakkkk…!!!! (histeris sendiri)

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s