Hong Gil Dong – Episode 20

Setelah Gil Dong melangkah ke depan ayahnya dan tertusuk, Enok mulai tampak sedikit mendapatkan kesadarannya, menyadari apa yang telah ia lakukan. Gil Dong memberitahunya: “Enok … itu tidak apa-apa!” Tapi Enok merasa ngeri atas apa yang telah ia perbuat pada Gil Dong, dan menyangkal perkataan Gil Dong, melangkah mundur: “Tidak, itu bukannya tidak apa-apa …”

Chang Whe datang tepat pada waktunya ketika Enok roboh pingsan. Dia menangkap tubuh Enok, dan membawanya kembali ke markas Yongmun. Chisu mengartikan peristiwa ini dengan mengira bahwa Gil Dong pada akhirnya tak dapat membunuh ayahnya.

Gil Dong tetap tinggal dan merawat ayahnya yang terluka, yang telah terluka sedikit di atas matanya. Dengan semua hal yang terjadi barusan, Menteri Hong tampak tenang dan tak tergoyahkan.

Menteri Hong memberitahu Gil Dong kalau seharusnya Gil Dong tak menghentikan Enok, karena sekarang ia masih hidup maka ia akan memburu Enok lagi. Gil Dong menanyakan kesetiaan ayahnya pada Raja yang lalim, dan menyebut ayahnya sebagai seorang pengecut karena tetap bertahan di sisi Raja. Chang Whe saat itu sudah kembali dan berada di luar ruangan, menguping pembicaraan mereka berdua.

Gil Dong menjelaskan tindakannya tadi pada ayahnya, bahwa ini tidak berarti ia mendukung apa yang diperbuat ayahnya. Ia berniat untuk mengangkat seorang raja yang memang untuk rakyat: “Apa yang kulakukan hari ini dengan menghentikan pedang Enok dan melindungimu hanya untuk memenuhi kewajibanku sebagai anakmu belaka. Tapi aku akan meruntuhkan duniamu, kau yang telah membunuh ayah si Bodoh itu!”

Chang Whe, yang bertekad untuk melindungi Enok mulai saat ini, menemaninya ke makam Kakek Heo, dan memberitahunya kalau Enok masih punya kakek yang lain, yakni kakek kandungnya, yang ingin sekali bertemu dengan Enok. Dengan dunianya yang sekarang terjungkirbalik, Enok membutuhkan waktu membiasakan diri dengan pemikiran menjadi seorang Ryu Enok:

Enok: “Aku akan memikirkannya dengan hati-hati, jadi aku tidak membiarkan perasaanku menjadikan diriku orang yang berjiwa jahat.”

Enok juga tak mau kembali ke Yongmun sampai ia bisa menentukan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Chang Whe memberitahunya: “Kau tak bisa pergi menemui dirinya sekarang” Enok: “Aku tahu”.

Setelah Enok pergi, Gil Dong tenggelam dalam kesendirian yang murung.

Raja menjadi lebih bertekad untuk membunuh Gil Dong, dan memerintahkan agar para bandit itu ddipaksa sedemikian rupa  sehingga keluar dari tempat persembunyiannya. Secara khusus, karena markas Hwal Bin Dang berada di gunung dan tersembunyi jauh di dalam hutan, yang membuatnya menjadi sangat berbahaya dan sia-sia bagi para pasukan kerajaan untuk menyerbu, Kwang Whe memerintahkan semua jalan diblokade di seluruh pegunungan, membuat para penduduk desa yang tinggal di sana juga terjebak di dalamnya.

Kwang Whe: “Jika mereka tak ingin mati karena kelaparan atau kedinginan, beritahukan pada mereka untuk menangkap Hong Gil Dong dan menyerahkannya!”

Chang Whe menasihati Gil Dong untuk pindah dari pegunungan ke wilayah Yongmun, tapi Gil Dong menolaknya dan tak ingin didikte oleh taktik Raja. Chang Whe mengingatkannya bahwa pertempuran ini sia-sia, itu akan membuat orang-orang di pihak Gil Dong akan mengalami masa-masa sulit. Memikirkan Enok, Gil Dong dengan nada pahit mengulangnya:

“Membuat segala sesuatunya sulit bagi mereka di sisiku? Terdengar seperti seseorang yang kukenal.”

Sebagai hasilnya, para penduduk meluruk Hwal Bin Dang, karena mereka tak bisa bertahan jika semuanya berlanjut seperti ini. Mereka mengasari para bandit dan bahkan menahan Hae Myung sebagai sandera, untuk ditukar dengan Gil Dong.

Dalam kefrustasian dan kepahitannya, Gil Dong muncul untuk menghadapi mereka semua. Para penduduk desa sebenarnya tidak ingin menyerahkan Gil Dong, tapi mereka sekarang sudah sangat terpojok dan tak punya pilihan lain. Gil Dong sendiri bersikap angkuh dan sinis, bertingkah seperti “Bung, kelihatannya sudah tidak ada sesuatu yang perlu kusesalkan lagi” dan berteriak pada mereka dengan suara keras:

Gil Dong: “Baik, tangkaplah aku kalau begitu … Aku telah membuat kalian menderita, khan? Yah .. aku juga sedang menderita! Ayo datanglah dan tangkap aku!”

Dan dia benar-benar membiarkan para penduduk memukulinya, menendang dan menginjaknya, menyerangnya dengan peralatan tajam, tanpa membalas sama sekali.

Hae Myung turun tangan dan menghentikan para penduduk desa itu, tapi Gil Dong sangat marah dan berteriak pada si rahib agar tidak menghentikan mereka. Dia terusa saja berteriak pada para penduduk untuk datang dan menangkapnya, sampai akhirnya Hae Myung memukulnya sehingga pingsan dan menyeretnya pergi.

Di samping perasaan marah karena kehilangan Enok, dia juga merasa sangat kesal pada orang-orang yang munafik, yang gampang saja berbalik melawannya. Dalam kondisi normal, Gil Dong akan melihat tindakan mereka itu melalui kacamata pemahaman, tapi sekarang ia sendiri dalam kondisi terpuruk karena patah hati, dan memuntahkan ucapan-ucapan yang bernada pahit. Hae Myung bertanya di mana kebanggaanya itu pergi, dan Gil Dong menjawabnya: “Terpukul oleh kapak beliung dan roboh.”

Hae Myung lebih jauh menggelitik kesadarannya dengan mengatakan kalau mereka berbalik melawan padanya karena Gil Dong itu “kecil”, menjelaskan maksudnya:

“Karena seorang tak begitu penting sepertimu mengumpulkan kekuatannya, jika kau meminta mereka untuk bertempur bersamamu, mereka pikir kalau mereka bisa, dan melakukannya. Bukankah demikian?”

Mendengar laporan bahwa para penduduk membiarkan Gil Dong lolos dari cengkeraman mereka, Kwang Whe meningkatkan usaha sintingnya untuk menundukkan Gil Dong … dan memerintahkan seluruh desa untuk dibakar sampai habis, sebagai hukuman atas kegagalan dan juga ancaman agar mereka lebih baik berhasil lain kali.

Tapi Hwal Bin Dang tidak bisa dengan mudah dimanipulasi, dan mereka melawan balik dengan menghadang setiap pengiriman yang menuju ke ibu kota. Mereka merampok semua barang: makanan, perlengkapan, obat-obatan, dan kemudian membagi-bagikannya ke para penduduk desa. Dengan begitu orang-orang berkumpul mendukung pahlawan mereka dan menyatakan sumpah kesetiaan pada Gil Dong, dan bersedia melawan Raja bersama-sama dengannya.

Ketika di desa, Su Geun tak sengaja mendongak sementara ia membagikan barang-barang rampokan dan melihat sekilas bayangan Enok, mengawasi dari luar desa, tapi kemudian segera pergi.

Kemurkaannya mendorong Kwang Whe bertindak lebih gila lagi, memerintahkan SELURUH gunung yang diduga di mana markas Hwal Bin Dang berada agar dibakar.

Perintah ini menyebabkan para penasihatnya maupun bawahannya menentang dengan keras, tapi Raja memerintahkan mereka untuk mematuhinya. Dan kemudian para pasukan kerajaan segera masuk ke hutan dan mulai menyalakan api untuk membakar seluruh gunung, sementara Raja mengawasi semuanya terbakar dengan pandangan puas.

Sebelum kebakaran itu berlangsung lama, Gil Dong memimpin Hwal Bin Dang muncul untuk berhadapan dengan Raja dan pasukannya. Raja percaya kalau dirinya menang, dan sekarang Hwal Bin Dang datang untuk menyerahkan diri. Tapi Gil Dong dengan segera mengatakan niatnya secara langusng …

Gil Dong mengatakan kalau ia tak bermaksud untuk menyerahkan diri, dan demikian juga dengan rekan-rekannya yang lain, maupun para penduduk, yang muncul di belakang pasukan Raja. Semuanya membawa sebatang obor yang menyala.

Jika raja tidak segera memadamkan api yang telah ia buat dan pergi, maka Hwal Bin Dang akan mengobarkan api juga, dan akan memerangkap sang raja bersama-sama dengan Hwal Bin Dang dan para penduduk. Gil Dong secara pribadi meyakinkan Raja bahwa Raja akan mati dengannya. Raja telah mengambil lokasi yang sangat rentan, tempat yang akan mudah sekali untuk terbakar dan tak ada harapan untuk lolos. Jadi sekarang semuanya terserah pada Raja, pergi atau mati bersama dengan mereka.

Kwang Whe yang tak menyangka dan bersiap-siap untuk menghadapi peristiwa semacam ini, menemukan dirinya sendiri dalam kekalahan. Kedua pria itu, Raja dan Gil Dong berhadapan, dengan Gil Dong menolak mundur walaupun seinchi. Dalam situasi seperti ini, Menteri Hong datang dengan orang-orangnya, bermaksudn untuk menghentikan tindakan gila Raja. Hong berhasil membuka matanya (yang sebelumnya terluka serius oleh sabetan Enok), melihat samar-samar bayangan Gil Dong dan Kwang Whe yang saling berhadapan, dan kemudian, dunianya menjadi hitam saat ia kehilangan penglihatan sepenuhnya.

Kwang Whe berhitung-hitung mengenai situasinya, dan kemudian menyadari kalau itu nanti adalah pertempuran yang mana pihaknya dalam posisi yang kalah. Kwang Whe memberikan perintahnya, orang-orangnya memadamkan api.

Para penduduk merayakan kemenangan mereka dan bersorak-sorai menyuarakan Gil Dong sebagai seorang pahlawan. Beberapa bahkan terlalu jauh berspekulasi kalau “Raja dari rakyat” yang sangat ia ingin angkat adalah Gil Dong sendiri. Bisakah ia menjadi Raja yang besar?

Di kejauhan, Enok mengamati semuanya itu. Kemudian berbalik dan pergi, bertemu dengan Chang Whe yang juga datang untuk menyaksikan kejadian itu.

Chang Whe, yang belum pernah melihat Enok semenjak hari itu di makam Kakek Heo, bertanya: “Apakah kau tinggal di sini untuk melihatnya?” Eok mengangguk. Chang Whe: “Apakah kau bermaksud menemui dirinya?” Enok menggelengkan kepalanya, tidak.

Sementara itu, Su Geun mengatakan pada Gil Dong bahwa ia telah melihat Enok beberapa hari yang lalu, dan bertanya-tanya kalau Enok selama ini tinggal di desa ini untuk mengamati Gil Dong. Gil Dong terkejut dan segera pergi, menyusuri area itu untuk mencari tanda-tanda keberadaan Enok, tapi tak dapat menemukannya.

Enok kembali ke Yongmun dengan Chang Whe, telah berpikir untuk beberapa waktu:

Enok: “Gil Dong telah menghentikan diriku berbalik menjadi seorang dengan jiwa yang jahat ketika aku membiarkan kemarahan memenuhi pikiranku. Sekarang aku akan melanjutkan hidupku sebagai seorang manusia lagi. Aku tidak akan menjadi sesosok hantu dan mati seperti para ajumma di kedai sup. Sebelum aku hidup sebagai Ryu Enok, aku pergi untuk mengawasi Gil Dong dari kejauhan. Aku telah menyaksikan semuanya, jadi sekarang aku baik-baik saja.”

Chang Whe menjelaskan bahwa hidup sebagai Ryu Enok akan sangat sulit, dia ingin agar Enok tidak mengalami penderitaan itu.

Enok: “Ketika aku melihat Gil Dong menghentikan Raja untuk mengobarkan api itu, aku merasakannya sekali lagi. Perasaan bahwa aku ingin bersama dengan Gil Dong. Tapi aku tak dapat bersamanya sebagai seorang Heo Enok, jadi aku akan bersamanya dari kejauhan sebagai Ryu Enok. Jika aku tinggal dan berpergian di sisimu, kita bekerja sama dengan Gil Dong.”

Enok setuju untuk bertemu dengan kakek kandungnya, yang berterima kasih pada Dayang Noh karena mengembalikan cucu perempuannya pada dirinya. Enok masih belum memahami tujuan dari Dayang Noh, tapi Dayang Noh meyakinkannya bahwa masa lalu Enok bukanlah bagian yang paling penting, justru keberadaannya saat inilah yang sangat penting.

Maka kemudian ia mengambil tempatnya sebagai Ryu Enok, berpakaian seperti seorang nona besar dari keluarga bangsawan, dan diperkenalkan pada kelompok bangsawan yang dikumpulkan oleh kakeknya, sebagai cucu perempuan Ryu yang sudah lama hilang. Enok mengajukan sebuah usul pada mereka agar bergabung bersama untuk menggulingkan Raja, dan untuk mengumpulkan dukungan yang lebih banyak.

Gil Dong menyatakan kembali kalau Chang Whe memiliki dukungan darinya sebagai “pilihan yang paling masuk akal” untuk negeri ini. Chang Whe memperhatikan dengan sengit bahwa bagi Gil Dong, dirinya hanyalah “sebuah pilihan”, bukannya, katakanlah, Raja yang sah berdasarkan darah atau hak yang seharusnya sejak ia dilahirkan. Tapi Gil Dong membenarkan kata-katanya itu, mengatakan bahwa meskipun demikian, “Kau juga adalah orang yang sangat pantas.”

Pada saat itu, mereka mendapatkan kunjungan seorang tamu yang tak diharapkan: Menteri Hong.

Chang Whe mengamati dengan curiga sementara ayah dan anak berhadapan satu sama lain, dengan sang ayah yang akhirnya menjadi buta. Gil Dong sekali lagi mengatakan niatnya untuk meruntuhkan dunia ayahnya, sementara Menteri Hong sekali lagi menolak mengakui Gil Dong sebagai anaknya, mengatakn bahwa dunia yang ia lindungi sekarang tidak mengijinkannya untuk mengakui Gil Dong. Tapi sebenarnya dalam kata-kata itu bercampur dengan seruan hati sebenarnya dari Menteri Hong: “Ketika dunia itu menjadi nyata, maka kau dapat menemukanku di kuburanku. Tapi sebelum dunia itu nyata, jangan tunjukkan dirimu di hadapanku.” (Di baca: “Aku ingin sekali mengakuimu sebagai anakku, tapi aku tidak percaya kalau kita dapat memiliki dunia yang kau inginkan, jadi kau tidak bisa memanggilku sebagai ayah. Tapi nanti, mungkin saja dunia itu akan menjadi nyata, dan kemudian kau dapat mengakui diriku. Tapi itu mungkin tidak akan terjadi segera, jadi sungguh suatu hal yang sulit.”

Menteri Hong meninggalkan anaknya dengan perkataan terakhir yang sedikit berteka-teki, mengacu pada Chang Whe yang berdiri di samping Gil Dong:

Minister Hong: “Gil Dong, lindungilah rajamu sampai akhir.”

Gil Dong: “Aku akan melakukannya. Pasti.”

Tak berapa lama perkataan terakhir Menteri Hong menjadi jelas maksudnya, ketika ia bersiap untuk melakukan pengorbanan besar. Sementara ia berpakaian untuk ke Istana, In Hyung bertanya apakah ayahnya benar-benar menjadi buta, dan dijawab: “Pada akhirnya, mataku melihat kebenaran yang harus kulihat.” Gambaran itu mengacu pada saat Gil Dong melihat ke bawah ke arah Raja saat di hutan, ketika ia menantang Raja.

Kemudian Menteri Hong ke Istana dan mengakui semuanya di hadapan Raja dan para pejabat yang lain atas semua kejahatannya. Ia mengambil tanggungjawab seluruhnya dalam pembunuhan Menteri Ryu, membakar Istana yang membunuh Ratu dan dipercaya sebelumnya juga membunuh Chang Whe, mencuri pedang untuk menyembunyikan titah yang terukir di atasnya. Dengan melakukan tindakannya itu, Menteri Hong membebaskan Raja dan juga rekan-rekan Menteri di pihaknya atas semua kesalahan, atau kaitannya dengan kesalahannya. Tapi para pejabat tak bisa dibodohi, dan tahu kalau pengorbanan Menteri Hong ini dilakukan untuk melindungi sang Raja.

Raja terpaksa bertindak dengan hati yang sangat berat, memerintahkan agar Hong dihukum dengan “Sayak”. Kwang Whe menangis saat ia mengeluarkan perintah itu … Karena seperti yang diketahui, bahwa Menteri Hong mungkin adalah satu-satunya orang tersisa yang masih setia dan benar-benar memperhatikan keselamatannya.

Raja kemudian mengingat beberapa tahun lalu, pada masa mudanya, ketika ia masih menjadi seorang penguasa muda dengan sepenuh hati berniat menjadi seorang Raja yang baik. Hong telah meyakinkannya pada waktu itu bahwa ia akan terus bersama dengan Kwang Whe sampai pada akhirnya.

Kata kata ini juga berdengung di telinga Hong, dan sesaat sebelum ia meminum Sayak, ia berkata: “Aku minta maaf karena aku tak dapat menepati janji itu untuk memimpinmu sampai pada akhirnya.” (Yang mana menjelaskan nasihatnya pada Gil Dong, jangan membuat kesalahan yang sama dengan ayahnya.)

Menteri Hong melakukan hukumannya, meminum Sayak, dan kemudian terbatuk-batuk dalam penderitaan, pikiran terakhirnya adalah bahwa Gil Dong ada di sini, sedang mengawasinya, dan kemudian ia membalikan badannya ke arah anaknya, meskipun tidak dapat melihat Gil Dong.

Gil Dong memang benar saat itu ada di tempat eksekusi, mengawasi ayahnya yang melakukan hukuman. Tak ada kata-kata … tak ada tangisan … tapi ekspresi mukanya menunjukkan kedukaan yang mendalam dan matanya berkaca-kaca, seluruh isi hatinya terpancar di sana. Di kerumunan orang, Chang Whe juga mengawasi dengan penuh perhatian … lalu kedua pria itu menyadari kehadiran orang ketiga, Enok.

Sekarang sepenuhnya sendirian, Raja berduka dan menangis di Istananya yang begitu lengang. Rasa dukanya ini segera berubah menjadi kemurkaan, dan ia menjadi lebih bertekad lagi daripada sebelumnya untuk mengalahkan Gil Dong, dan juga Chang Whe.

Gil Dong dan Enok menjauh dari kerumunan orang, Gil Dong terdiam dan kemudian air mata yang ditahan-tahannya mengalir turun, Enok dengan nada sedih, berkata padanya:

Enok: “Aku tak bisa mengatakan padamu ‘Aku minta maaf’. Aku juga tak dapat memintamu untuk tidak menangis. Karena sekarang aku adalah Ryu Enok … Aku tak dapat menghiburmu dari sisimu, tapi aku akan selalu bertanya-tanya dalam hati bagaimana keadaanmu. Kau harus selalu tetap selamat.”

Perkataan terakhir Enok ini adalah pengulangan perkataan Gil Dong di Episode 11, ketika Gil Dong bertemu dengannya sebagai pria Cahaya Bulan, di mana Gil Dong sebelum berpisah mengatakan hal yang sama.

Enok melangkah pergi, tapi Gil Dong merengkuhnya dalam rangkulannya, tanpa kata. Mereka seperti itu untuk sejenak, menangis diam-diam, dan kemudian ketika Enok mendongak untuk melihat Gil Dong, ia sudah pergi.

Dayang Noh, sementara itu, memperingatkan Chang Whe mengenai Gil Dong sekali lagi. Dayang Noh tidak akan membuat suatu rencana jahat yang lain untuk menghancurkan Gil Dong, tapi hanya mengingatkan Chang Whe bahwa negeri ini tidak dapat diperintah oleh seseorang melalui kepopuleran belaka. Penekanannya adalah: Jika itu terjadi, maka rakyat akan berhimpun di belakang Gil dong dan mendukungnya untuk menjadi seorang Raja.

Malam itu, Chang Whe mengawasi Enok yang tertidur, hatinya sakit mendengar igauannya membisikkan nama Gil Dong saat tidur. Dia bertanya pada Enok: “Meskipun ia membuatmu menderita, akankah pada akhrinya kau masih memilihnya?”

Enok menggumamkan nama Gil Dong lagi, membuat Chang Whe semakin terluka. Chang Whe merasakan pukulan keras di hatinya dan mengatakan, dengan nada sedih dan sayu: “Kumohon … hanya untuk sekali saja … lihatlah padaku …”

Dan karena Chang Whe sangat ingin menghukumnya, ia mencondongkan tubuhnya ke atas Enok dan menciumnya.

Kembali ke Hwal Bin Dang, Gil Dong mengamati pada kantung sulaman Enok, merenung dalam diam …

Dan kemudian ia menjatuhkannya ke dalam api …

11 comments on “Hong Gil Dong – Episode 20

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s