Hong Gil Dong – Episode 21

Enok bermimpi …

Ia membawa penjepit rambut yang dibelikan kakeknya, sangat bahagia dengan masa depannya, dia akan segera menikah dengan Gil Dong. Melihat ke bawah, Enok melihat tangannya ternoda darah, dan teringat kalau kakeknya sudah mati. Gil Dong berjalan di depannya dan meninggalkannya di belakang, karena mereka berdua tak bisa bersama-sama lag.

Itu adalah mimpi yang ia alami sementara Chang Whe mengawasinya tidur. Di dalam mimpi dan dalam kenyataan, ia menggumamkan nama Gil Dong. Chang Whe mendengar ini sebelum ia kemudian mencuri sebuah ciuman dari Enok.

Sementara itu, Gil Dong mengingat janji ceria Enok untuk tetap bersama dengannya selamanya, dan berusaha menahan rasa kehilangannya.

Sebuah pemicu untuk melaksanakan kudeta diungkapkan oleh bangsawan
Ryu pada Menteri Choi bahwa ia tahu tentang pedang raja selama beberapa tahun ini,  dan kemudian memberikan petunjuk bahwa pedang itu bukanlah satu-satunya yang bisa memecahkan masalah. Katanya” Kita bertindak ketika ada alasan. Tapi kadangkala , supaya kita bisa bertindak, alasan bisa saja dibuat. Uh oh … apakah itu artinya kalau pedang itu adalah tiruan palsu?

Berusaha menyelidiki kebenaran apakah pedang itu palsu, Dayang Noh memerintahkan Yong Jin (secara rahasia) mencari petunjuk mengenai itu.

Tak mengetahui kalau keaslian pedang masih dipertanyakan, Kwang Whe meracau mengenai apa yang ia rasakan ketika ayahnya melewatkan dirinya demi memberikan tahta pada adiknya. Dia menyesali apabila di pedang itu tertulis: “Kwang Whe, kerjakanlah pekerjaanmu dengan baik.” maka ia bisa saja menjadi seorang Raja yang baik. Sebaliknya, semua pengkhianatan, persekongkolan, dan juga pembunuhan yang dilakukan demi menjaga ia bertahta telah mengubah dirinya ke dalam kesintingan ini. Seorang bawahannya mengusulkan pada Kwang Whe untuk menciptakan sebuah pedang baru untuk meringankan pikirannya. Kwang Whe merenungkan ide itu dan menyukainya sebagai suatu cara untuk mengusir para hantu-hantunya pergi menjauh dari dirinya.

Chang Whe ingin mengambil keuntungan dari rencana Raja yang akan mengadakan sebuah perayaan di Istana, menyusup masuk ke dalam Istana. Mereka akan menggunakan bermacam-macam cara dan penyamaran untuk menyelundup ke dalam, bersama-sama dengan senjata dan bahan-bahan peledak yang lebih banyak.

Tanggal sudah ditentukan, Gil Dong dan para anggota Hwal Bin Dong segera melatih pasukan mereka, yang diisi oleh banyak sampah-sampah masyarakat juga rakyat biasa. Mereka juga mengumpulkan banyak pengikut dari seluruh negeri, dari para pelajar sampai ke para prajurit, dan masih banyak lagi.

Gil Dong berbicara dengan suara penuh kepercayaan diri:

Gil Dong: “Kita semua punya tujuan yang sama sekarang. Kami semua bergantung padamu. Mereka adalah orang-orangmu sekarang. Mulailah mencari orang-orang yang akan berada di sisimu sekarang, seorang Raja memerlukan orang-orang yang cakap di sisinya untuk membantunya.”

Chang Whe: “Apakah kau benar-benar tak berminat sama sekali menjadi salah satu pengikutku?”

Gil Dong: “Jika aku terlibat, maka orang-orang yang kau bawa masuk ke dalam Istana tak akan menyukai hal itu.”

Chang Whe: “Jika kau menjadi rekan mereka, maka tidak ada alasan bagi mereka berkeberatan mengenai dirimu.”

Gil Dong: “Apakah kau benar-benar berpikir kalau aku akan melakukannya?”

Chang Whe: “Meskipun aku mengharapkannya, aku tahu kau tidak akan melakukannya. Tak ada alasan bagimu untuk melakukannya, kau bahkan memanggilku sebagai “nuh” (sebutan gaul untuk ‘kau’)

Gil Dong: “Ketika kau menjadi Raja, aku akan memanggilmu Yang Mulia.”

Chang Whe: “Aku akan menjadi seorang Raja pada siapa kau dapat berlutut memberi hormat dengan respek.”

Gil Dong: “Kuminta kau jangan mengecewakan kami, Yang Mulia.”

Kwang Whe memutuskan untuk tidak hanya membuat satu tapi banyak sekali pedang yang sama, dan dibuat oleh pandai besi yang sama, yang dulu telah membuat pedang ayahnya, yang sekarang dipegang Chang Whe. Kwang Whe memerintahkan In Hyung untuk menemukan para pandai besi tersebut.

Sementara itu, Yong Jin telah mengetahui bahwa sebenarnya ada 5 orang pandai besi yang membuat pedang aslinya, lalu tak lama setelah itu 3 orang menghilang. Dayang Noh percaya kalau mereka dibunuh untuk menjaga rahasia yang berkaitan dengan titah Raja yang terukir di atas pedang tetap tersembunyi. Dayang Noh menginstruksikan untuk mencari tahu keberadaan dua orang lainnya.

Kelompok Hwal Bin Dang mengambil kesempatan saat bertemu dengan Chisu untuk bertanya mengenai keadaan Enok, dan bertanya-tanya apakah ini artinya mereka tak dapat menemuinya lagi. Su Geun membayangkan bahwa ketika Chang Whe menjadi Raja, maka markas mereka akan menjadi aman lagi untuk dikunjungi, tapi Chisu memberi mereka sedikit petunjuk: “Meskipun benar itu terjadi, dia kelihatannya harus tetap berada di Istana.”

Mereka menangkap maksudnya, bahwa Enok kemungkinan besar akan menjadi Ratu mendampingi Chang Whe. Gil Dong mendengar percakapan ini  dengan … hati tawar? Kecewa? Menderita? Cemburu?

Hae Myung mencoba memberitahu Gil Dong bahwa Enok tidak dimaksudkan menjadi seorang Ratu, dan bahwa semuanya sudah kembali ke tempat yang seharusnya. (Ramalan Hae Myung hanya mengatakan kalau Enok akan menjadi seorang anggota Kerajaan bukan Ratu.) Tapi Gil Dong berpura-pura tak peduli, mengatakan: “Itu tak berarti apa-apa bagiku.”

Tapi saat Gil Dong sendirian, ia mengingat kenangannya saat di hari ia dan Enok memakan roti manis bersama-sama:

Enok telah menyebutkan dengan sangat gembira mengenai beberapa hal yang menjadi kesukaannya di dunia ini: Roti manis … ayam … dan terakhir kue kering cracker … Gil Dong bersungut-sungut atas daftar prioritasnya itu, jadi Enok meyakinkannya:

Enok had rhapsodized about her favorite thing in the world: sweet
buns. (Then chicken, then crackers.) Gil Dong mutters about her
priorities, so Enok assures him:

Enok: “Aku suka roti manis, ayam dan kue kering cracker, tapi hanya ada satu “I Love U” di dunia ini. Gil Dong, kaulah sebuah “I Love U” bagiku.

Gil Dong: “Apakah itu hal yang bagus?”

Enok: “Uh-huh!”

Gil Dong: “Maka aku akan membuatmu sebuah “I Love U” bagiku juga.”

Enok: “Benarkah?”

Gil Dong: “Katamu “I Love U” itu adalah hal yang bagus?”

Enok: “Kau sungguh-sungguh mengatakan ‘I Love U” ! Nantinya, kau tak bisa menarik perkataanmu itu setelah kau menemukan artinya! Gil Dong, ‘I Love U’.”

Kembali ke masa sekarang, Gil Dong bergumam, “Apakah ia pikir aku tidak tahu apa artinya itu? Aku bukanlah seorang bodoh seperti dia.” Gil Dong menyentuh pinggangnya, di mana Enok telah menusuknya:

Gil Dong: “Jika aku tahu kalau ini yang akan terjadi, aku lebih suka ditusuk lebih keras dan kemudian mati. Dia benar-benar melakukan usaha yang buruk dalam menusukku, itu sungguh terasa sakit sekali.”

Sebagai seorang bangsawan, Enok telah ditugaskan untuk belajar buku-buku dan menghapalnya. Enok mengeluh karena otaknya yang bodoh dan menemukan kalau buku-buku itu sangat sulit untuk dipahami:

Enok: “Aku selalu saja mendapat teguran. Itu sangat sulit. Aku ini orang bodoh!”

Chang Whe bersikeras membantunya, tapi Enok mengingatkan Chang Whe kalau dirinya sungguh bodoh dan Chang Whe akan mengetahui kalau itu mustahil mengajarinya literatur, Enok kemudian membaca bukunya, baris demi bari. Dan memang benar, Enok segera saja jatuh tertidur, membuat Chang Whe terpaksa mengakui kalau Enok memang benar dengan mengingatkannya sebelum ini.

Chang Whe mengamati Enok yang tertidur, dan memberitahu jika Enok beradaptasi dengan perlahan-lahan, tak merasa ditekan, maka Chang Whe yakin kalau Enok akan baik-baik saja:

“Enok, jangan pergi mencarinya di dalam mimpimu sekarang ini.”

Mencoba untuk merekrut beberapa dari pandai besi kenalan Yeon ke pihak mereka, Gil Dong dan Yeon sangat kecewa pada penolakan seorang pandai besi yang penakut, ia takut akan rencana mereka menyusup masuk ke Istana. Dia menyebutkan bahwa ia pernah membuat tiruan pedang dari Raja sebelumnya, mengkonfirmasikan kecurigaan selama ini bahwa memang pedang Sa Yin yang dipegang Chang Whe adalah tiruan. Pedang yang asli tak ada ukiran di atasnya,  tak seperti yang diyakini selama ini.

Gil Dong sangat shock atas terbukanya rahasia ini, dan bertanya siapa yang memesan pedang yang kedua, dan pandai besi memberitahunya bahwa itu atas perintah Menteri Ryu dang mati, dan juga sang Ratu, ibu Chang Whe.

Dan ini adalah sebuah ironi, di mana selama ini Chang Whe berbicara dengan penuh kepercayaan diri untuk melakukan kudeta, dengan alasan bahwa ialah pewaris tahta yang sah. Tapi satu demi satu, orang-orang di sekitar Chang Whe menyadari bahwa pedang itu dipalsukan atas perintah ibunya, dan ternyata DIA lah sang perebut tahta … bukannya Kwang Whe, kakaknya.

Gil Dong juga merasa terguncang atas pengungkapan rahasia itu, tapi tetap tak mengubah pikirannya mengenai rencana mereka. Dalam pikirannya, menempatkan Chang Whe di atas tahta adalah selalu sebuah pilihan, bukan hak surgawi atau hukum alam, atau segala omong kosong mengenai status kelahiran. Dayang Noh, di lain pihak, sangat merasa tersiksa dan hancur hatinya ketika  mengetahui bahwa ia selama ini, dalam seluruh hidupnya melayani, dan juga sangat-sangat setia, untuk alasan yang salah. Reaksinya sangat dalam sempai-sampai tak menyadari kehadiran Gil Dong dan juga keadaan sekelilingnya.

Tapi bukannya ini mengubah pikirannya, kesetiaannya sangat nyata pada Chang Whe. Ketika Gil Dong menyatakan kembali bahwa ia akan terus mendukung Chang Whe “dan memintanya percaya bahwa tekadnya tak akan terguncang.”, Dayang Noh mengatakan agar itu terjadi, Chang Whe tidak boleh mengetahui masalah ini. Ia memohon Gil Dong tidak memberitahu kebenarannya pada Chang Whe, Dayang Noh sendiri yang berjanji akan memberitahukannya pada saat yang tepat.

Itu  sangatlah kejam jika Gil Dong yang mengungkapkan rahasia ini, karena pertanyaannya sebelum ini mengenai apa hak Chang Whe untuk menjadi seorang Raja telah sangat menggoncang hati Chang Whe. Dan jika Gil Dong benar-benar mengungkapkan rahasia ini maka itu akan menghancurkannya. Tapi nantinya Dayang Noh dan Tuan Ryu setuju untuk menutupi masalah ini sepenuhnya.

In Hyung berhasil melacak pandai besi yang masih hidup dan tiba hanya berselisih sedikit saja dengan kepergian Gil Dong. Pandai besi itu dihadapkan pada Raja, pada siapa ia mengungkapkan kebenaran mengenai pedang tiruan itu.

Kwang Whe yang mendengari itu juga sangat terkejut dan sangat tertekan:

Mungkin ada orang yang  berpikir kalau dari semua orang maka Kwang Whe lah yang paling senang mendengar berita ini, tapi itu adalah suatu kepuasan yang sia-sia mengingat apa yang telah ia korbankan selama ini untuk mencapai dan menjaga tahta agar tetap di tangannya: orang-orang terdekatnya, rakyat tak bersalah, kesetiaan dari para bawahannya, dan terakhir kewarasannya. Dan sekarang ia tahu kalau ternyata semuanya ini tak perlu ia lakukan …. tahta itu memang dari dulu adalah haknya …

Adalah satu hal untuk melakukan tindakan yang memedihkan hati, seperti membunuh maupun memberontak, atas nama sebuah tujuan yang lebih besar atau lebih baik, meskipun tujuan itu tak layak maupun keji, tapi  menyadari bahwa ia bertanggungjawab atas semua pembantaian besar-besaran untuk memenangkan sesuatu yang sebenarnya telah ia miliki selama ini, bahwa ia sebenarnya pewaris tahta yang sah … yah itu adalah kemenangan yang sia-sia dan sangat menyedihkan …

Chang Whe menunjukkan pada Enok penjepit rambut ibunya (yang dulu ditemukan Enok), menjelaskan bahwa benda itu hanya dimiliki oleh seorang Ratu, kemudian memberikannya pada Enok. Itu membuat Enok berpikir sesaat untuk memahami apa sebenarnya maksud dari perkataan Chang Whe, dan tak yakin bagaimana menjawabnya. Chang Whe memintanya untuk memikirkan ini dengan seksama.

Sendirian di ruangannya, Enok mengamati penjepit rambut Ratu, kemudian mengeluarkan penjepit rambut yang lebih sederhana, yang dibelikan oleh kakeknya sebagai hadiah pernikahannya dengan Gil Dong nantinya: “Yang ini lebih cocok denganku. Aku lebih suka yang ini.”

Rencana akhir sudah dibuat untuk keesokan harinya, Gil Dong mengingatkan (dengan bercanda) Chang Whe untuk melakukan kerja yang bagus kali ini: “Kau telah gagal sebelumnya.”

Chang Whe: “Jika beberapa orang bodoh tidak muncul dan membuat bahan-bahan peledak itu meledak, kami pasti akan sukses waktu itu.”

Gil Dong: “Apakah kau masih mempersalahkanku untuk itu?”

Chang Whe: “Aku berpikir kalau usaha yang gagal itu sebagai sebuah keuntungan. Jika aku hanya tergantung pada titah di pedang, aku hanya memikirkan balas dendam. Aku tak bisa menjadi seorang raja yang baik nantinya.”

Gil Dong: “Kau pikir kau bisa menjadi raja yang baik sekarang? Jangan lupa, jangan membuatku menyesali pilihanku!”

Mendengar kalau Gil Dong telah datang untuk mampir ke Yongmun, Enok menemukannya sedang beranjak pergi dari tempat itu. Meskipun hanya berbasa-basi belaka, nada yang mereka bawakan tampak penuh dengan perhatian dan emosi saat Gil Dong bertanya bagaimana keadaan Enok sekarang. Gil Dong memberitahu kalau ia akan pergi untuk menangkap seekor harimau yang benar-benar besar, kali ini di Istana.

Gil Dong: “Ketika aku meninggalkan Istana, kau akan memasukinya, bukankah demikian? Maka kita tidak akan bertemu seperti ini lagi. Aku sangat senang melihatmu baik-baik saja dalam pertemuan terakhir kita ini. Jagalah dirimu.”

Enok: “Jaga dirimu juga”

Tapi …..

Tanpa sepengetahuan para pemberontak, Kwang Whe sekarang mengincar mereka, dan memiliki sebuah rencana sendiri. Dan itu adalah rencana yang sungguh gila ….

In Hyun menunjukkan keadaan yang sebenarnya bahwa ketika para pemberontak menyusup dan ada di mana-mana, sangatlah mustahil untuk memisahkan siapa yang setia pada Raja dan siapa yang ada di pihak Chang Whe. Maka dari itu, Raja menjawab, dia akan memecahkan masalah kecil yang menjengkelkan itu dengan membunuh semua orang yang ada di sana. Ini adalah waktu pembersihan besar-besaran! Kwang Whe menginstruksikan In Hyung untuk menyiapkan segala sesuatunya dalam rencana ini, membakar habis Istana sepenuhnya, memerangkap semua orang di dalamnya (tentu saja tanpa Raja sendiri dan para bawahan setianya)

Hari itu datang juga. Para undangan datang, perayaan disiapka dan para pemberontak berhasil menyusup masuk dengan melakukan berbagai penyamaran, Su Geun dan Mal Nyeo menjadi anggota pertunjukan, Gil Dong sebagai seorang pelajar.

Di adegan sampingan yang sangat lucu, Gil Dong segera dikelai oleh Menteri Seo, yang awalnya membuat Gil Dong gelisah tak keruan, sampai ia sadar kalau Seo berpikir kalau dirinya adalah orang lain. Bingung, Gil Dong mendengarkan celotehan Seo mengenai bagaimana ia melihat Gil Dong di sebuah Gibang beberapa waktu lalu dan mencoba untuk melacak keberadaannya, karena jika para pembaca ingat, Seo ingin seorang yang cukup mirip Gil Dong dapat mengalihkan kasih sayang Eun Hye terhadap Gil Dong yang asli … uehueueeu benar-benar ayah yang bodoh ….

Segera setelah In Hyung mendengar rencana Raja untuk membakar Istana, dia mencoba untuk menentangnya, tapi terlalu takut pada Kwang Whe untuk berdiri menantangnya. Tapi In Hyung memperingatkan Menteri Seo untuk pulang ke rumah dan tetap di sana untuk menjauhi bahaya, tanpa memerinci maksud perkataannya itu.

Di pihak pemberontak: Gil Dong mengambil posisinya di perayaan itu, bahan-bahan peledak sudah diselundupkan masuk, dan Chang Whe sedang menunggu waktu yang tepat di luar Istana dengan pasukannya, sampai kemduian waktunya tiba dan dia menyerukan: “Ini perang!”

Di pihak Raja: Istana dilumuri dengan minyak, dan para prajurit dipimpin oleh In Hyung, menunggu di luar. Sekali Raja berhasil melarikan diri dan aman, maka api akan segera dinyalakan.

Tapi saat ia pulang ke rumah, Menteri Seo yang kaget memberitahu Eun Hye mengenai peringatan samar-samar yang telah ia terima, yang segera mendorong Eun Hye ke bahaya. Dia berlari menuju ke Yongmun dan menemukan kalau semuanya telah pergi, dan sekarang merasa yakin kalau Raja pasti telah menduga mengenai rencana mereka dan kini sedang merencanakan semacam serangan balik. Eun Hye berlari menemui Enok dan memberitahunya menganai situasi yang gawat ini. Enok segera bertindak, dia harus pergi ke Istana untuk memperingatkan pihak Chang Whe dan juga Gil Dong.

Enok menggunakan pakaian prajurit yang pernah ia pakai sebelumnya ketika melarikan diri dari Istana, dan berhasil masuk ke dalam Istana. Terpeleset karena adanya minyak di tanah membuatnya waspada, bahwa minyak telah dioleskan pada semua bangunan Istana. Dia tak dapat masuk ke halaman bagian dalam, tapi ketika ia baru saja disuruh kembali oleh para penjaga, Enok melihat Gil Dong sedang beranjak pergi untuk memeriksa bagaimana kemajuan dari rencana mereka.

Segera saja Enok berusaha berteriak untuk mendapatkan perhatiannya, tapi tak dapat meneriakkan nama Gil Dong yang sudah begitu terkenal. Topinya tersenggol jatuh, membuat para penjaga sadar pada kenyataan bahwa : (1) Enok adalah perempuan yang sedang menyamar (2) dan karena itulah ia seorang penyusup, dan mereka segera mencekalnya, menyeretnya pergi. Dengan Gil Dong berjalan pergi menjauhi tempatnya berada dan tak ada cara lain menyusulnya, Enok meneriakkan sesuatu yang terlintas di pikirannya, berharap Gil Dong dapat mendengar dan menangkap maksudnya:

Enok: “I love you! I love you! I love you!!!

Mendengar suara dan juga kata-kata yang begitu dikenalnya, Gil Dong berhenti, dan membalikkan tubuhnya ….

4 comments on “Hong Gil Dong – Episode 21

    • bhs inggris, jadi enok emang teriaknya dalam bahasa inggris. Kenapa bisa bahasa Inggris? itu adalah kata2 yang didengar Enok pada saat ia di Tiongkok, saat seorang pria bule mengucapkannya pada kekasihnya saat mau pergi … dan Enok yang mendengarnya mengira kalau itu adalah sesuatu hal yang sangat baik karena sang wanita tampak sangat senang dan bahagia … sekian deh … 😀

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s