Hong Gil Dong – Episode 22

Enok berteriak pada Gil Dong sementara ia diseret pergi, dan Gil Dong mendengarnya, mengenali suara yang dikenalnya, meskipun Gil Dong tak melihatnya. Dia segera pergi mencarinya sedangkan Enok berusaha melawan para penangkapnya dan berhasil meloloskan diri.

Enok sedang bersembunyi di antara bangunan yang dilumuri oleh minyak ketika Gil Dong menemukannya. Enok segera memberitahunya bahwa Raja tampaknya telah mengetahui rencana para pemberontak dan sedang mempersiapkan serangan balik. Gil Dong tiba-tiba melihat adanya minyak yang meleleh turun dari dinding, menyadari kalau raja yang sinting bermaksud untuk membakar habis Istana. Dia dan Enok berpisah, Gil Dong berniat untuk menghadang Raja, dan Enok bertugas memberi peringatan pada para pemberontak agar tidak menggunakan bahan peledak yang sedang dipersiapkan untuk digunakan.

Para anggota Hwal Bin Dang yang lain, tak menyadari perkembangan yang ada, sedang melakukan rencana mereka semula. Raja berhasil menyelinap keluar dari pesta untuk meloloskan diri dari Istana, juga para bawahannya yang setia. Di luar Istana, In Hyung menunggu Kwang Whe untuk sampai di tempat yang aman sehingga ia bisa memerintahkan anakbuahnya melepaskan panah api untuk membakar Istana, yang sudah dilumuri dengan minyak.

Gil Dong bergegas lari untuk mencegah Raja meninggalkan Istana, tapi ia menemukan kalau Kwang Whe sudah dalam perjalanan keluar. Gil Dong segera menghadangnya ketika sudah dekat dengan pintu gerbang Istana. Mereka berdua saling memandang dengan tajam, yang tampaknya berlangsung begitu lama karena hari tiba-tiba sudah berganti dari siang menjadi malam … wew ga capek tah main pelototan begitu lama ??? ga perih tuh mata ….. hehehehe 😛

Gil Dong mengatakan pada Raja bahwa semuanya sudah berakhir:

Gil Dong: “Teruskan saja langkahmu dan larilah keluar Istanamu ini. Dunia itu sekarang bukanlah milikmu lagi.

Sangat murka, Kwang Whe berteriak memerintahkan untuk menyalakan api dan membunuh Gil Dong …

… tapi itu sudah terlambat, karena para pemberontak sudah sampai di tempat itu. Chang Whe memimpin pasukannya, kemudian rakyat jelata bergabung, dan para bangsawan pendukung Kakek Ryu berkumpul. Mereka semua mengepung dan memusatkan perhatian mereka hanya pada Raja.

Para prajurit pengawal Raja dan penjabat bawahannya juga telah tertangkap semua.

Akhirnya, Chang Whe memunculkan dirinya dan berjalan ke tahta yang sekarang kosong. Hwal Bin Dang menyaksikan ini dengan rasa puas. Berdiri di tempat Raja, Kakek Ryu membacakan tulisan yang terukir di pedang, kemudian menyerahkan pada Chang Whe. Dengan itu, semua orang yang hadir berlutut di hadapannya, memanggilnya, “Yang Mulia”.

Semua kecuali Gil Dong, yang dengan sifatnya biasa berjanji pada Chang Whe kalau nanti, saat mereka sendirian, akan berlutut dan menyatakan kesetiaannya pada Chang Whe jika ia berhasil membuktikan dirinya sebagai seroang Raja yang bijaksana dan baik. Chang Whe dengan bersemangat bersumpah kalau ia akan membuat Gil Dong melakukan itu. Tak seperti Dayang Noh, yang tak mau membicarakan andilnya Enok dalam kudeta hari ini, Chang Whe bertindak sebaliknya dengan berterimakasih dan merasa bangga akan tindakan dari Enok. Enok mengatakan padanya kalau ia sudah melupakan betapa perasaannya menjadi lebih baik karena merasa berguna:

Enok: “Ketika aku bertarung bersama-sama Gil Dong, aku bahkan dapat menangkap harimau dengan keberuntungan dan kemampuanku. Aku sudah melupakan itu. Sekarang, tidak peduli apapun yang terjadi, aku tidak akan melupakannya.”

Chang Whe: “Apa kau pikir bersama denganku hanya akan membuatmu melupakan itu? Jika aku membuatmu tetap bersamaku, aku pikir aku akan memiliki keberuntungan yang baik dan menjadi seorang yang hebat, tapi apakah itu hanya akan membuatmu lupa hal semacam itu?

Enok: “Berbicara yang sebenarnya, ketika aku melakukan hal-hal seperti ini yang sebenarnya tak cocok dengan diriku yang bodoh ini, aku menjadi takut kalau-kalau aku akan menjadi seorang yang tidak beruntung dan tak berguna.”

Tak menunggu waktu lama, Chang Whe menghadapai sedikit perselisihan dengan para pendukung barunya. Chang Whe bertekad untuk menciptakan dunia yang baru dan penuh dengan kebaikan, sebuah ide yang bertentangan dengan para pelindung prinsip lama, yang dipimpin oleh Tuan Ryu. Sementara Chang Whe sungguh percaya mengenai cita-citanya atas kudeta ini, banyak dari para bangsawan yang mendukungnya lebih tertarik dalam bidak politik, melengserkan raja yang sinting dan mengangkat raja baru yang nantinya akan memberikan mereka kekuasaan.

Chang Whe memberitahu Tuan Ryu bahwa dirinya akan hanya mengangkat orang yang layak untuk menempati posisi-posisi di pemerintahan. Tuan Ryu sangat tidak senang.

Pada akhirnya, Chang Whe sekali lagi bertanya apakah Gil Dong benar-benar tidak tertarik dengan posisi di pemerintahannya, Chang Whe bermaksud memberi Gil Dong posisi yang sebelum ini dipegang oleh ayahnya, Menteri Hong. Dan juga dengan Gil Dong diberikan posisi di pemerintahan akan menjadi bukti bahwa dunia sungguh-sungguh sedang berubah. Gil Dong menjawabnya: “Dunia tidak hanya berubah sekali saja. Tak peduli bagaimana perubahannya, pada dasarnya selalu saja ada mereka yang lemah dan teraniaya.” Gil Dong akan melanjutkan untuk bertarung di pihak mereka.
Chang Whe juga menebak kalau Gil Dong tak akan hadir untuk melihat ia dimahkotai sebagai Raja, Gil Dong menjelaskan bahwa kehadirannya mungkin saja menciptakan ketegangan di antara para pengikut baru Chang Whe, meskipun mereka berdua tahu bahwa itu hanyalah sebuah alasan. Alasan sebenarnya di balik itu karena Enok akan ada di samping Chang Whe sebagai Ratu yang terpilih.

Chang Whe bertanya apakah Gil Dong punya nasihat untuk diberikan atau permintaan bantuan. Gil Dong memang punya satu permintaan, meminta Chang Whe mengampuni nyawa kakaknya, In Hyung. Chang Whe menyetujuinya karena menganggap In Hyung bukanlah orang yang sangat berbahaya sehingga perlu dieksekusi. Chang Whe akan mengasingkannya saja. Dia bertanya lagi apakah Gil Dong tidak mau bertanya mengenai seseorang yang lain, mengacu pada Enok, tapi Gil Dong menjawab:

“Orang itu bukanlah seseorang untuk siapa aku bisa minta darimu. Sebagai seseorang yang sangat kuhormati dan paling kuat menurutku, aku akan percaya kalau dia (Enok) akan selalu baik-baik saja.”

Pada saat-saat kemenangan mereka, Su Geun dan Mal Nyeo akhirnya melengkapi cumbu rayu mereka sebelumnya, di mana Su Geun mengusulkannya beberapa saat sebelum pertarungan di Istana berlangsung dan dijawab Mal Nyeo kalau ia akan memikirkannya. Dan sekarang Su Geun sangat ingin tahu apakah iya atau tidak. Lucunya, Su Geun sang ahli penggoda wanita justru menjadi seorang idiot yang berbicara dengan gugup, dan Mal Nyeolah yang mengambil inisiatif, meraih Su Geun dan menciumnya dengan paksa, Su Geun terbelalak kaget … dan juga senang …. aahahahahha … dasar si Separuh Geun … Pagi harinya, semua orang tahu mengenai kejadian semalam dan menggoda si Separuh Geun mengenai itu.

Gom mengusulkan kalau Gil Dong seharusnya membawa Enok pergi ke Tiongkok dan hidup bahagia bersama dengan Enok di sana, sementara yang lain juga setuju kalau itu adalah ide yang sangat bagus. Mungkin setelah mereka memiliki 3 anak, mereka bisa kembali ke Joseon. Gil Dong tergerak dengan ide itu, merenungkannya sejenak, tapi kemudian menolaknya dan mengatakan kalau itu mustahil.

Ryuterlihat kalau ingin membuat masalah, merasa kesal atas pendirian Chang Whe mengenai prinsip persamaan derajat. Chang Whe menginginkan agar perayaan naik tahtanya terbuka untuk umum, karena ia adalah Raja dari rakyat sekarang, tak mempedulikan sedikitpun protes dari para menteri berkelahiran bangsawan. Ryu mengingatkan Chang Whe bahwa jika ia membuka Istana untuk semua bawahannya, mereka akan datang untuk menemui Hong Gil Dong, bukannya Chang Whe sendiri. Mereka akan melihat bahwa Chang Whe hanyalah seorang “boneka” belaka yang mereka angkat ke tahta. Keangkuhan Ryun yang dengan beraninya mengeluarkan kata-kata semacam itu membuat Chang Whe murka, mungkin dalam hatinya ia tertusuk karena menyadari kebenaran kata-kata Ryu.

In Hyung sagnat terkejut mendapatkan kunjungan dari Eun Hye sementara ia berada dalam Penjara Istana. Eun Hye telah mendengar bahwa In Hyung bertindak cepat dalam menyelamatkan ayahnya. Dengan airmata menetes di pipinya, Eun Hye berterima kasih pada In Hyung dan meminta maaf, In Hyung sudah melakukan segala hal yang bodoh ini adalah untuk diri Eun Hye meskipun perasaanya tak berbalas.

Mungkin saja empati Eun Hye untuk perasaan cinta In Hyung yang tak berbalas didukung fakta bahwa ia merasakan penolakan yang sama.

Eun Hye kemudian pergi menemui Gil Dong untuk medapatkan jawaban darinya, kali ini untuk yang terakhir kalinya, mengenai statusnya dengan Gil Dong. Eun Hye meraih tangannya dan meminta Gil Dong untuk terakhir kalinya untuk berada di sisinya. Dia tak pernah gagal dalam mendapatkan yang ia inginkan, jadi sebelum ia melakukan sesuatu yang bodoh sebagai balasan penolakannya, Eun Hye mau Gil Dong berada di sisinya.

Gil Dong bertanya, “Ingat apa yang kukatakan saat pertemuan kita yang pertama? Bahak aku merasa kasihan padamu?” Gil Dong tak meraih tangannya dan sebelum pergi, mengatakan: “Aku merasa lebih buruk terhadapmu sekarang.”

Dan bisa diduga, Eun Hye tidak menerima penolakan itu dengan baik. Sama sekali. Pada kenyataanya, dia berayun dari satu perasaan yang ekstrim yang satu ke perasaan ektrim yang lain, dari “I Love U” ke “Jika aku tak bisa memilikinya, tidak seorangpun boleh!”

Eun Hye menemui ayahnya dan mengatakan pada ayahnya dengan muram untuk memastikan bahwa Gil Dong dibunuh.

Sementara itu ayahnya sedang melakukan yang terbaik untuk mendapakan kembali posisinya di bidang politik, meraba-raba dalam wilayah yang sangat berbahaya. Chang Whe sudah tahu mengenai kesetiaan Seo yang cepat sekali berubah menurut hembusan angin, karena Seo tidaklah setia kepada siapapun kecuali pada dirinya sendiri, dan Seo pergi menemui Kwang Whe, yang sekarang dipenjada di dalam Istana.

Kwang Whe memberitahu Menteri Seo mengenai kartu terakhirnya, yang mana ia simpan selama ini untuk dipergunakan pada saat yang tepat. Dan kartunya itu adalah? Kesaksian pandai besi yang membuat pedang Sa Yin tiruan, yang sekarang dipegang oleh Chang Whe.

Kwang Whe meminta sebuah pertemuan dengan Chang Whe untuk menyingkapkan kartu terakhirnya dengan memberitahu adik tersayangnya mengenai kebenaran yang tersimpan selama ini. Dengan campuran perasaan girang dan sedih, Kwang Whe menjelaskan bahwa mereka berdua merasa terbebani terlalu berat atas keyakinan bahwa ayah mereka telah menuliskan titahnya di pedang Sa Yin.

Kwang Whe: “Aku datang untuk membicarakan mengenai ibumu, yang akan melakukan apa saja untuk memastikan mahkota Raja dikenakan oleh putranya. Penyebab terutama dari kematian ibumu adalah pedang itu, tiruan yang telah dibuat oleh sang Ratu.”

Chang Whe: “Apa yang sedang kau bicarakan?”

Kwang Whe: “Pedang yang asli yang dibuat oleh Ayah kita tidak ada tulisan di atasnya. Semuanya telah direncanakan sejak semula, dan berdasarkan dari kebohongan sang Ratu, aku telah menghancurkan hidupku seperti ini, dan kau hidup sepanjang waktu mempercayai kalau Ayah telah menunjukmu sebagai pewaris tahta. Seseorang yang telah menghabiskan seluruh hidupnya percaya akan janji palsu kekuasaan bukanlah diriku, tapi kau!”

Chang Whe: “Kau pikir aku percaya itu?”

Kwang Whe: “Siapa yang pertama kali memberitahumu mengenai titah di atas pedang itu? Bukanlah Ayah, benar khan? Aku berani bertaruh bahwa itu dikatakannya setelah kematian Ayah. Setelah tiruan pedang itu dibuat.”

Chang Whe mengingat kembali pada masa kecilnya, memikirkan berbagai peristiwa yang sekali lagi mengkonfirmasikan pernyataan Kwang Whe: bagaimana pedang itu dihadapkan padanya setelah kematian ayahnya, bagaimana ibunya yang haus kekuasaan sangat berkeras, bahkan pada saat-saat terakhirnya, bahwa ia harus mengingat mengenai haknya yang “sah” atas tahta.

Kwang Whe tertawa keras saat melihat reaksi Chang Whe yang hancur hatinya:

Chang Whe: “Tak mungkin! Tidak mungkin ibuku melakukan hal seperti itu!”

Kwang Whe: “Dia adalah seorang Ratu yang akan melakukan apapun untuk membuat anaknya menjadi Raja.”

Chang Whe: “Demi … diriku?”

Kwang Whe: “Chang Whe, kau hanyalah sebuah bidak di dalam permainan perebutan kekuasaan. Ratu yang membuat pedang palsu itu berkeras kalau titah yang tertulis di atas pedang adalah perintah Raja. Untuk melakukan itu, dia mungkin telah melakukan hal yang lebih jauh lagi terhadap Ayah. Demi dirimu, Ratu telah membunuh Ayah!”

Chang Whe: “Ibuku … demi aku … Ayah …. ?”

Kwang Whe: “Dia telah membunuh Ayah!”

Chang Whe sangat bimbang dalam hatinya dan merasa terguncang  saat meninggalkan tempat Kwang Whe ditahan. Kemudian ia pergi menemui Ryu dengan pedang Sa Yin tiruan untuk mengkonfirmasikan kisah Kwang Whe, dan untuk melihat pedang yang asli. Ryu mengingatkan Chang Whe bahwa ini semua dilakukan demi Chang Whe, dan bahwa ibunya dan Ryu sendiri telah menaruh hidup mereka dalam bahaya demi Chang Whe, bahkan ibunya telah mati demi impiannya menjadikan Chang Whe sebagai Raja.

Reaksi Chang Whe adalah shock dan pandangan matanya kosong, dunianya baru saja runtuh di sekelilingnya, dunia yang telah dibuat oleh ibunya ….

Tak menyadari kalau Chang Whe sudah tahu kebenarannya, Gil Dong dan Dayang Noh mendiskusikan apa yang harus mereka lakukan pada pedang yang asli. Apakah pedang itu harus dihancurkan? Atau disembunyikan? Apapun yang terjadi, mereka harus menjaga rahasia ini dan tak mengungkapkannya pada Chang Whe, yang sangat percaya diri dalam mewarisi tahta, dan pastinya nanti akan hancur ketika mengetahui keberanannya … yah setidaknya mereka berdua benarn mengenai ini … Gil Dong percaya kalau tindakan mereka ini karena: “Dia adalah Raja yang kita pilih. Aku akan melindunginya.”

Dalam perjalanannya akan pulang, ia bertemu lagi dengan Enok. Enok mengatakan pada Gil Dong kalau ia berusaha dengan sangat keras menjalani kehidupan barunya, “Karena aku harus tinggal di sini. Karena aku adalah Ryu Enok.”

Enok: “Tapi jika … jika saja aku berusaha untuk menahannya dan itu tak bekerja dengan baik … maka … bolehkah aku pergi kepadamu?”

Gil Dong: “Tidak bisa. Tetaplah bertahan.”

Enok: “Bodoh.”

Gil Dong: “Jika kau datang padaku, aku tidak akan bisa mengirimmu kembali. Jadi sampai kau merasa kalau kau sekarat karena menahan dirimu, kau tak boleh datang menemuiku. Jika kau bisa menahannya, seperti sekarang ini … Selama kau bisa bertahan, kau tidak bisa melakukan itu.”

Seakan-akan tubuhnya lunglai tak bersemangat, Chang Whe terhuyung-huyung kembali ke Yongmun, tepat pada waktunya untuk menyaksikan Enok dan Gil Dong sedang berbincang-bincang. Dia melihat keduanya sebentar, kemudian berbalik dan dengan wajah muram berjalan pergi menjauh.

Gil Dong meninggalkan Enok, berkata dalam hati: “Aku dapat menahannya.”

Enok masih di tempatnya semula, berkata dalam hati: “Aku masih dapat menahannya. Jadi ini bukan waktunya.”

Dan tentu saja, itu tidak pernah menjadi waktu yang tepat bagi Eun Hye, yang sangat marah, mencoba memikirkan cara yang terbaik untuk membunuh Gil Dong.

“Aku harus memikirkannya dengan seksama. Aku harus mendapatkan cara yang terbaik sehingga Pangeran menurunkan tangan untuk membunuhnya. Jika ia menyelesaikan ini untukku, aku akan merasa lebih baik, bukankah demikian?”

Dari Cinta menjadi Benci … oh dunia …

Gil Dong sedang memberikan pidato pada para , memberikan optimisme dan harapan untuk raja mereka yang baru, sementara Chang Whe terlihat sungguh malam dan wajahnya muram penuh dengan rasa pesimis.

Gil Dong: “Dengan raja baru kita, kita tidak lagi pemberontak … Kita melakukan semua ini bersama-sama dengan Raja!”

Chang Whe membayangkan kakaknya duduk di sampingnya, tertawa keras seperti orang sinting dan memberitahunya (dan memberinya isyarat bahwa ia sinting??) : “Adik, aku mengucapkan padamu selamat datang di tempat ini.”

Pada saat yang bersamaan:

Gil Dong: “Aku mengucapkan pada kalian selamat datang ke dunia kita yang baru!”

Sementara itu, sekarang Chang Whe berada sendirian di tahtanya yang dingin:

Chang Whe: “Apakah ini adalah akhir dariku?”

Gil Dong: “Ini bukanlah akhir! Ini adalah permulaan! Raja yang kita angkat akan memulai semua ini.”

One comment on “Hong Gil Dong – Episode 22

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s