Hong Gil Dong – Episode 23

Terguncang karena tersingkapnya kepalsuan dari pedangnya, Chang Whe masih menetapkan tujuannya untuk mengambil tahta. Ini tak akan mengubah jalannya, itu hanya akan mengubah maksud dari naiknya ia menjadi Raja. Meskipun ia telah mengumumkan untuk mengundang masyarakat umum ke perayaan pemahkotaannya, ia sekarang memerintahkan anakbuahnya untuk mengumpulkan para bangsawan untuk melakukan ritual itu sekarang juga. Secepatnya. Di tengah malam.

Chang Whe memerintahkan Enok untuk pindah ke Istana secepatnya, dia harus menjadi Ratu. Chang Whe tak akan membiarkannya pergi sekarang:

Chang Whe: “Kau harus bersama denganku sampai akhir. Meskipun menghadapi kematian, aku tak akan membiarkanmu pergi. Jika sampai terjadi sepertiitu, matilah di sampingku.”

Nada Chang Whe tergesa-gesa dan mendesak, sebelumnya ia telah bersabar untuk membiarkan Enok datang padanya dengan kemauannya sendiri, tapi sekarang ia tak mau dan tak bersedia lagi menunggu Enok.

Kwang Whemeramal kalau Chang Whe akan mengalami kesintingan yang telah menguasai dirinya, tapi Chang Whe tak goyah, mengatakan pada kakaknya bahwa dirinya tak selemah itu.

Kwang Whe punya satu “kejutan” lagi untuk Chang Whe, bahwa Gil Dong sudah tahu mengeni kepalsuan pedang Sa Yin itu. Itu memang mengejutkan Chang Whe, tapi ia tak terguncang seperti yang diharapkan Kwang Whe:

Kwang Whe: “Orang yang diinginkan oleh rakyat adalah dia [Gil Dong]. Kau hanyalah sebuah boneka dengan sebuah mandat kerajaan.”

Chang Whe: “Jika aku hanya bergantung pada mandat itu belaka, maka itu bisa saja benar. Tapi karena apa yang selama ini aku pegang terbukti adalah sebuah tiruan, aku akan berdiri di atas kekuatanku sendiri mulai sekarang dan melangkah di jalanku sendiri.”

Kwang Whe: “Kau bukanlah siapa-siapa! Semuanya hanyalah sebuah kebohongan!”

Chang Whe: “Aku sudah menjadi raja negeri ini. Dan aku tidak akan membiarkan tempatku dicuri dariku, seperti yang kau alami.”

Enok dipersiapkan untuk pernikahannya yang semakin mendekat pada Raja, dalam hatinya merasa tak bersemangat sama sekali namun ia tak mengucapkan sepatah katapun. Dia masih tak yakin apakah ia layak untuk menjadi seorang Ratu, tapi Chang Whe tak memberinya sebuah pilihan.

Dayang Noh mengingatkan Enok kalau Chang Whe selalu ada untuknya dalam masa-masa sulitnya. Enok mengakui itu: Chang Whe selalu ada di sisinya ketika ia pikir kalau Gil Dong telah mati dan ketika kakek Heo nya mati. Enok berjanji untuk melakukan yang terbaik yang ia bisa.

Chang Whe memerintahkan agar kakaknya diasingkan dari Istana.

Saat dalam perjalanan menuju ke pengasingannya, para pengawal berhenti di tengah perjalanan dan membiarkan Kwang Whe untuk beristirahat sejenak. Kwang Whe berkeliling di antara tunas-tunas bunga dan berpikir dengan rasa sesal betapa ia bisa saja menjadi seorang raja yang baik.

Pada saat yang bersamaan, segerombolan rakyat datang bersenjatakan berbagai peralatan pertanian, dan marah atas penderitaan yang mereka alami selama pemerintahan Kwang Whe.

Gerombolan rakyat itu menuju ke Kwang Whe, yang menerima takdirnya dengan tenag, pikiran terakhirnya sebelum dipukuli sampai mati adalah:

“Itu mungkin akan membuat mereka lebih marah saat mendengarku berkata bahwa aku merasa tidak adil juga, bahwa aku bisa saja menjadi seorang raja yang baik, bukankah begitu?”

Sejujurnya, Chang Whe lah yang berada di balik ini jauh daripada keinginannya yang sebenarnya untuk membunuh kakaknya.

Menteri Seo menggunakan pengetahuannya mengenai pedang tiruan untuk merangkak kembali naik pada kekuasaan. Gil Dong mendengar posisi baru dari Menteri Seo, dan Chang Whe membela diri kalau itu adalah sebuah “kompromi” yang perlu, dan mendesaknya bahwa demi membuat sebuah efek pada perubahan yang terjadi, orang-orang yang berkuasa harus dirubah.

Chang Whe mengambil kesempatan ini untuk mengajukan tantangan, jika Gil Dong sangat khawatir kalau Raja digiring ke arah yang keliru, maka bukankah ia seharusnya mengambil sebuah posisi di pemerintahan juga. Meskipun itu hanya sementara saja, Chang Whe menantangnya untuk menjadi seorang pejabat, menggiring Gil Dong sampai mau menerimanya.

Para pejabat yang lain sangat dongkol mengetahui Chang Whe mengangkat Gil Dong sebagai Menteri Perang. Para bangsawan sangat kesal, tapi rakyat jelata menyukainya, karena menurut mereka, itu membuktikan bahwa memang pada kenyataannya dunia ini sedang berubah.

Gil Dong segera melakukan pekerjaannya segera, dan mulai dengan mengumpulkan para bangsawan untuk melakukan wajib militer. Gil Dong dengan tegas memerintahkan bahwa anak-anak dari para bangsawan dan juga orang-orang kaya tidak boleh dikecualikan dari wamil hanya dikarenakan mereka kaya, sementara rakyat jelata harus mengikutinya.

Beberapa bangsawan dengan membawa surat kesehatan (palsu) berusaha menemui Gil Dong untuk memberikan pengecualian pada mereka. Mereka menggunakan alasan bodoh untuk penyakit (palsu) mereka, tapi Gil Dong tak bisa dibodohi. Dia segera menghardik mereka semua untuk melanjutkan latihan.

Dia juga menyita buku rekening gelap (membuktikan adanya penggelapan dana), dan dalam waktu singkat menyebabkan kegemparan di antara para pejabat lainnya. Gil Dong tak dapat disuap, tak  takut menyinggung perasaan orang-orang penting, dan berani untuk membuat segalanya dalam kekacauan, demikian keluhan para menteri pada Chang Whe. Oh tidak! Kegilaan apa yang akan menimpa sebuah negeri dengan seorang yang jujur memimpin di Kementerian Perang? ? (Hah, itu pertanyaan yang mana dunia tidak pernah mungkin tahu jawabannya.)

Tapi para menteri seharusnya tak perlu terlalu cemas berlebihan, karena Gil Dong tak berniat untuk tetap di posisi itu. Ia memberitahu Chang Whe bahwa ia ingin menunjukkan, meskipun untuk waktu yang sangat singkat, bahwa perubahan itu mungkin. Tapi dia juga meminta maaf karena menempatkan Chang Whe dalam posisi yang sulit.

Chang Whe mengingatkan Gil Dong bahwa dirinya tak dapat berpihak pada siapapun, karena sebagai Raja, semuanya adalah rakyat di bawah pimpinannya.

Gil Dong: “Dengan kata lain, kau ingin untuk melindungi dunia ini. Lagipula, kau adalah orang dengan posisi tertinggi di dalamnya. Jika Raja di tempat yang sangat tinggi dapat bekerjasama denganku, yang mendaki dari dasar, aku percaya kalau kita akan memiliki sedikit sekali pertarungan dan penderitaan.”

Rencana Eun Hye untuk menjatuhkan Gil Dong sedikitlah memutar, tapi berliku-liku dan sangat cerdas dalam caranya sendiri (selama itu tidak menjadi bumerang baginya.) Dia menulis sebuah kumpulan kisah mengenai perbuatan luar biasa dari Gil Dong dan menyuruh untuk membagi-bagikannya dengan rahasia. (Sementara Eun Hye berpendapat kalau kisah itu “menakutkan”, pengasuhnya menikmatinya sebagai sebuah kisah “yang sangat menarik”, karena apa yang para kelas bangsawan pandang sebagai sebuah revolusi yang menakutkan justru dipandang dengan pandangan positif oleh kelas bawah yang tertekan.

“Kisah dari Hong Gil Dong” kemudian tersebar dengan luas di antara penduduk, di antara orang-orang kaya juga di antara yang miskin, dan dengan singkat menjadi sebuah buku yang sangat populer. Niat Eun Hye adalah bahwa kisah yang revolusioner itu akan menimbulkan pemberontakan di antara kelas bawah, atau paling tidak menggelitik rasa takut para bangsawan akan timbulnya pemberontakan. Eun Hye menduga bahwa raja baru akan mendapati kalau reaksi dari tersebarnya buku itu akan sengat mengancam kedudukannya sehingga ia akan menurunkan tangannya untuk membunuh Gil Dong. Lalu, ia harap, obsesinya terhadap kisah kepahlawanan Gil Dong juga padam dan membuat hatinya tenang kembali, meskipun ia bertanya-tanya dengan muram jika ia sudah membiarkan perasaannya mewarnai kisah  Gil Dong dan ikut andil dalam  menciptakan sebuah kisah kepahlawanan yang berlebihan.

Chang Whe memang membaca buku itu, dan meskipun ia percaya bahwa Gil Dong bukanlah orang di balik penyebaran buku ini, tapi buku ini memiliki kemungkinan untuk menimbulkan ancaman sangat besar pada institusi kerajaan. Itu akan mendorong rakyat untuk memimpikan impian yang berbahaya. Gil Dong meyakinkan Chang Whe bahwa dunia yang tergambar dalam kisah itu juga bukanlah dunia yang inginkan, dia tak ingin menjadi seorang Raja.

Chang Whe: “Apakah maksudmu bahwa dunia baru yang kau harapkan tak memerlukan seorang Raja?”

Gil Dong: “Dunia selalu memerlukan seorang pemimpin. Tapi raja yang kami miliki sekarang bukanlah raja yang benar-benar diinginkan oleh rakyat, dia hanya seorang yang jatuh dari langit. Akan berbeda jika rakyat dapat memilih siapapun yang mereka inginkan untuk menjadi Raja mereka.

Chang Whe: “Itu bukanlah arti dari seorang Raja. Raja negeri ini tidaklah diputuskan dengan seperti itu! Apakah kau ingin menghancurkan monarki negeri ini?”

Gil Dong: “Meskipun jika kami berhasil menyingkirkan Raja dan para bangsawan, mereka semua akan kembali dengan sebutan yang berbeda. Dengan seseorang yang memerintah di atas, di bawahnya  kelas-kelas yang lebih rendah juga akan terbentuk kembali.

Aku katakan bahwa negeri di mana semuanya dalam derajat yang sama tidak akan ada di dunia itu. Tapi mereka yang ada di kelas bawah selalu memimpikannya. Aku bertarung untuk membawa kami sedikit lebih dekat pada impian itu. Hwal Bin Dang dan aku ada di antara orang-orang itu demi tujuan itu.

Chang Whe: “Apakah maksudmu bahwa kau akan terus bertarung untuk dunia itu yang kau inginkan?”

Gil Dong: “Kita memang harus bertarung untuk mengubah hal-hal sedikit demi sedikit.”

Chang Whe: “Berhentilah sekarang juga! JIka kau tidak berhenti entah bagaimana, kau akan berbenturan dengan dunia yang harus aku lindungi!”

Gil Dong: “Aku akan berbenturan dan tidak akan hancur, dan aku akan terus bertumbuh dalam kekuatan sampai aku benar-benar hancur. Kau telah mengatakan kalau kau akan menerima dan memahami bahwa aku akan terus bertarung, meskipun kau tidak menyukainya. Kita akan menuju ke dunia yang lebih baik.”

Enok bertanya pada Chang Whe mengenai masa depan dirinya, Chang Whe mengakui bahwa peranan mereka telah ditentukan sejak lahir. Mereka telah ditakdirkan untuk menjadi Raja dan Ratu bersama-sama. Enok menyatakan keberatannya mengenai menjadi Ratu, bagaimana ia bisa mengambil posisi itu dengan hanya karena itu ditentukan sejak lahir?

Enok: “Aku tak tahu jika apakah itu benar-benar tidak apa-apa untuk seseorang seperti diriku menjadi seorang Ratu?”

Chang Whe: “Itulah bagaimana Raja dan Ratu negeri ini ditentukan.”

Enok: “Jika aku memang menjadi seorang Ratu, dan anakku juga sama bodohnya denganku, apakah benar-benar tidak apa-apa baginya menjadi seorang Raja? Tidakkah itu justru menimbulkan masalah besar bagi negeri ini?”

Chang Whe: “Kau sebut dirimu sendiri seorang bodoh, tapi kau telah memiliki jawaban dan pikiran yang sama seperti yang ia [Gil Dong] miliki.”

Chang Whemencoba sekali lagi menemukan persamaan tujuan dengan Gil Dong. Karena itulah, ia memberitahu Gil Dong, berhentilah di sini. Dia tak ingin bertarung melawan Gil Dong.

Gil Dong: “Sekarang setelah kau menjadi seorang Raja, kau ingin berhenti. Aku tak tahu jika ini adalah akhir bagimu, tapi ini adalah sebuah permulaan yang baru bagi kami.”

Chang Whe: “Aku adalah Raja, dan aku akan melindungi negeri ini.”

Gil Dong: “Aku akan terus melanjutkan pertarungan ini untuk membawa negeri ini lebih dekat dengan dunia yang aku harapkan.”

Chang Whe: “Dalam menjalani ini bersama-sama denganmu, aku tahu kekuatanmu. Aku ingin membuat kekuatan itu ada di sisiku dan bekerja demi negeri ini.”

Gil Dong: “Aku berjalan sejauh ini mempercayai kalau kau adalah seorang Raja yang memahami kekuatanku dan tahu bagaimana menghormatinya.”

Chang Whe: “Jadi kau tak ada pikiran untuk berhenti. Aku harus memikirkan lebih lagi apa yang harus kulakukan padamu di dunia ini.”

Gil Dong: “Jika kau berpikir untuk berhenti di sini, aku akan memikirkannya juga, mengenai apa yang harus kulakukan padamu di dunia yang sedang berubah ini.”

Para bangsawan dan menteri semuanya mengadakan pertemuan diam-siam karena takut dengan pengaruh Gil Dong dan bertekad untuk membujuk Raja untuk bertarung melawan Gil Dong dan Hwal Bin Dang  (bahkan jika perlu mengancamnya dengan menggunakan kebenaran mengenai  pedang tiruan itu.) Tapi Chang Whe muncul di pertemuan mereka itu, sangat murka karena tindakan mereka melakukan pertemuan tanpa sepengetahuannya, sama seperti Gil Dong menolak untuk tunduk padanya.

Dia menghardik pada para pejabatnya dan mengatakan kalau ia yang akan mengurus Gil Dong, ia akan melindungi kerajaanNYA dari siapapun yang membahayakan itu. Dan jika ada seorang, siapapun, SIAPAPUN juga menggunakan pedang Sa Yin tiruan untuk mengancamnya lagi, ia akan mempertimbangkan itu sebagai tantangan padanya dan akan membunuh mereka tanpa ampun.

Maka, Chang Whe berencana untuk melakukan pertempuran melawan Gil Dong atas nama melindungi institusi kerajaan. Sebelum ia memutuskan itu, ia membebaskan Enok dari kewajibannya untuk menikah dengan dirinya, dia tak akan memaksa Enok menjadi Ratunya. Seperti yang telah Enok katakan, Enok memang tak cocok di posisi itu. Dia akan membiarkan Enok merenungkannya kembali.

Chang Whe memerintahakna anakbuahnya untuk menyerang Hwal Bin Dang, dan pada saat yang bersamaan, Gil Dong tahu apa yang akan terjadi dan memerintahkan anakbuahnya untuk bersiap-siap. Mereka akan meninggalkan markas mereka ini dan meloloskan diri sebelum jalan mereka dihadang oleh para prajurit Raja.

Untuk beberapa alasan, percakapan Enok dengan Chang Whe tak berarti bahwa ia bebas kembali ke Gil Dong. Dia dibebaskan dari beban untuk menjadi seroang Ratu, tapi sekarang ia masih seorang nona dari keluarga bangsawan. Dan Enok bersiap untuk meninggalkan Joseon menuju ke Tiongkok. Tapi saat ia sedang mengemasi barannya, ia terserang oleh kenangan (dan tusukan di hatinya) mengenai saat Gil Dong memberitahukan padanya agar bertahan selama mungkin yang bisa ia lakukan, selama ia masih bisa bertahan ia harus menjauh dari Gil Dong.

Tapi sekarang ia telah mencapai batasannya, dan ia segera menemui Dayang Noh dan memberitahunya tergesa-gesa: “Aku akan berlari menemuinya segera, kemudian kembali kemari. Jika aku tidak melihatnya untuk sekali saja, meskipun dari kejauhan, aku merasa aku mungkin bisa saja mati. Aku akan segera kembali.”

Tapi Dayagn Noh sekarang memiliki alasan yang lebih besar mencegah Enok menuju ke markas Gil Dong: “Jika kau ke sana, kau akan mati. Para prajurit telah dikerahkan semua utnuk menyerang Hwal Bin Dang.”  Enok bertanya dalam ketidakpercayaan jika Chang Whe yang memerintahkan penyerangan itu dan Dayang Noh mengiyakannya:

Enok: “Tapi mereka pernah di pihak yang sama?”

Lady Noh: “Ini bukanlah dunia di mana keduanya bisa berada di pihak yang sama.”

Di benteng gunung mereka, para pemberontak bertindak terlambat, para prajurit sudah dalam perjalanan ke sana. Raja pasti telah memajukan rencananya. Jika mereka menyebar, mereka semua akan terbunuh. Mereka harus bertahan sekuat tenaga di sini. Jadi Gil Dong dan semua anakbuahnya bersiap-siap untuk mempertahankan Hwal Bin Dang.

Dia juga menyita buku rekening dirusak (penggelapan dana),
dan dalam waktu singkat menyebabkan kegemparan di antara para pejabat lainnya. Gil Dong
adalah unbribable, takut menyinggung perasaan orang-orang penting, dan yakin untuk membuang
semuanya ke gangguan, para menteri mengeluh. Oh tidak! apa yang gila
akan menimpa negara dengan orang jujur ​​menjalankan Kementerian Perang nya? (Ha,
itu pertanyaan yang dunia tidak pernah mungkin tahu jawabannya.)

4 comments on “Hong Gil Dong – Episode 23

  1. thank’s ya,,w jdi lbih paham kenap gil dong dan raja chang whe memutuskan untuk tidak berada dijaln yang sama lagi,,klo nonton dvd teks’y suka ga jelas,jdi kurang di mengerti…tapi w suka banget sma drama ini…cuma drma hong gil dong yang w suka di antara drama yang bercerita tentang kerajaan..(dinasti/kolosal)

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s