Budaya Korea – Perayaan Seollal

Tahun Baru Korea (Korea: Seollal (설날) atau Gujeong (舊正) adalah hari raya rakyat Korea yang terbesar dan terpenting. Seollal dirayakan secara meriah sehingga hari libur berlangsung selama 3 hari karena dianggap lebih penting daripada hari tahun baru kalender Gregorian. Walaupun tidak terlalu populer, istilah Seollal juga berarti Yang-nyeok Seollal (양력설날, tahun baru kalender Gregorian) atau Shinjeong (신정).

Seollal jatuh pada tanggal yang sama dengan Tahun Baru Imlek, kecuali ketika bulan baru muncul antara jam 15:00 UTC (tengah malam waktu Korea) dan 16:00 UTC (tengah malam waktu Cina). Dalam kasus ini (rata-rata terjadi 24 tahun sekali), bulan baru akan muncul “keesokan harinya” di Korea dibanding di Cina, dan Seollal akan dirayakan sehari setelah Imlek di Cina.

Tradisi yang dilakukan di dalam keluarga

Sebelum tahun baru

Hari terakhir bulan 12 Kalender Korea dinamakan seotdal geumeum dan malam sebelum tahun baru dinamakan jeya atau jeseok. Karena merupakan hari yang terakhir, sebisa mungkin orang-orang akan melunasi semua utang dan pembayaran serta berhenti menagih utang sampai tanggal 15. Pada jeseok, rumah tangga sibuk mempersiapkan tahun baru sampai tengah malam dan saling memberi hadiah akhir tahun berupa makanan dan minuman yang enak-enak kepada kerabat. Tradisi ini dinamakan sechan atau hadiah makanan. Pada malam tepat sebelum tahun baru, keluarga berkumpul dan orang tertua dalam keluarga melakukan deokdam.

Di hari pertama

Di pagi hari tahun baru Seollal, seluruh anggota keluarga, orang tua, pemuda-pemudi, pria dan wanita setelah mandi di pagi hari, mengenakan baju baru untuk menyambut tahun baru. Tradisi ini dinamakan seolbim. Setelah itu mereka akan melakukan jeongjo charye, memberi salam kepada leluhur. Seusai jeongjo charye, mereka mengunjungi dan memberi salam tahun baru (sebae) kepada kakek-nenek, orang tua, saudara yang lebih tua dan tetangga. Orang tua menerima kunjungan dan salam dari anak-cucu serta saudara-saudara yang lebih muda. Sementara itu, setelah memberi salam tahun baru kepada orang tua dan kakek-nenek, para pemuda baru boleh bertemu dan berkumpul.

Sudah menjadi tradisi pada tahun baru, para tamu dihibur dan disajikan makanan. Untuk orang dewasa biasa disajikan minuman keras, dan anak-anak diberi orang tuanya angpao (sebaetdon), kue dan buah-buahan. Orang yang sedang dalam masa berkabung selama satu atau dua tahun tidak melakukan kunjungan pada saat tahun baru, melainkan hanya menerima kunjungan saja.

Deokdam

Pada saat tahun baru, orang-orang berbicara dan mengungkapkan harapan dan hal-hal yang baik-baik, seperti mengharapkan kesehatan dan cita-cita. Ini dinamakan deokdam atau ungkapan harapan yang baik.

Sebae

Sebae adalah cara memberi hormat kepada orang tua, kakek dan nenek pada hari tahun baru. Anak-anak mengucapkan salam tahun baru sambil membungkukkan badan “saehae bok manhi badeuseyo” (새해 복 많이 받으세요) yang artinya semoga mendapat banyak keberuntungan tahun baru.

Permainan tradisional

Saat Perayaan Seollal banyak orang bermain permainan tradisional seperti Yut, permainan kartu Go-Stop, gasing, layangan dan jaegi chagi. Perempuan bermain neolt-twigi.

Layangan

Banyak anak-anak, dan juga orang-orang dewasa Korea, menikmati menerbangkan layang-layang, terutama saat perayaan Seollal. Layangan tradisional (yon) dibuat dari batang bambu dan kertas Korea. Pertarungan layang-layang berarti berusaha memutuskan benang layangan lawan dengan pisau kecil di ujung layangan yang meliuk-liuk di udara.

Neol-Ttwigi (Jungkat-jungkit ala Korea)

Tidak seperti di Barat di mana masing-masing duduk di ujung jungkat-jungkit dan berhadapan, para peserta neol-ttwigi berdiri di sisi mereka kemudian meloncat bergantian, mendorong lawan mereka ke udara. Mereka melakukan itu berulang-ulang, melihat seberapa tinggi mereka dapat melontarkan lawan mereka.

Neol-ttwigi [Jungkat-jungkit ala Korea]Neol-ttwigi

Yut (Permainan Empat Papan)

Permainan ini melibatkan 4 pemain ataupun tim. 4 papan kayu, masing-masing datar di sisi lain dan melengkung di sisi lain, dilontarkan di udara setiap giliran masing-masing pihak. Kombinasi dari papan datar dan lengkung yang menghadap ke atas menentukan angka untuk maju di atas meja permainan. Orang/tim pertama yang berhasil melalui semua jalan di atas meja permainan lah yang menang.

Papan Yut

Angka Yut

Meja Permainan Yut

Jaegi chagi

Jaegi chagi adalah permainan tradisional Korea yang dilakukan di luar ruangan. Permainan ini membutuhkan penggunaan kaki dan juga Jaegi, alat permainan berbentuk hampir sama dengan kok badminton, tapi terbuat dari sekeping koin / benda bulat datar berdiameter tertentu, dibungkus dengan kertas atau kain.

Penjelasan singkat mengenai cara permainannya, jika satu lawan satu maka orang yang berhasil menendang jaegi terus menerus tanpa sekalipun jatuh ke tanah dengan hitungan terbanyak yang menang. Jika dilakukan dalam permainan kelompok, para pemain membentuk lingkaran dan secara berurutan harus menendang Jaegi tanpa jatuh ke tanah. Pemain yang gagal menerima jaegi dari rekannya dan membiarkannya jatuh ke tanah dinyatakan kalah. Sebagai hukuman, yang kalah melontarkan jaegi pada pemenang sehingga ia dapat menendang jaegi sesukanya, dilontarkan pada para pemain lain. Ketika yang kalah berhasil menangkap kembali jaegi itu dengan tangannya, hukuman berakhir dan ia boleh kembali bergabung dalam permainan.

Masakan dan minuman tahun baru

Masakan dan minuman tahun baru Seollal dinamakan seol-eumsik dan seol-sul. Seol-eumsik adalah istilah untuk semua jenis makanan yang disajikan pada hari itu. Masakan yang harus ada adalah sup kue beras atau tteokguk. Minuman keras yang dingin disajikan pada hari pertama bermakna keluarga akan menyambut datangnya musim semi.

Tteokguk

Tteokguk dibuat dengan cara menumbuk adonan tepung beras yang sudah direbus dengan palu besar.Kemudian dibentuk menjadi gulungan yang dipotong bulat panjang yang akan direbus dalam kaldu daging, disajikan dengan daging sapi dan daging burung pegar. Sup ini juga disajikan sebagai sesajen jeongjo charye.Anak laki-laki ditanya umurnya dengan pertanyaan ”Neo tteokguk myeot geureut meogeot neunya?” (”Sudah berapa mangkuk tteokguk yang sudah kamu makan?”) yang bermakna sudah berapa kali ia merayakan tahun baru.

Di hari seollal juga banyak masyarakat Korea yang berdarmawisata seperti ke Gangneung dan Donghae di propinsi Gangwon di pesisir timur untuk menyaksikan terbitnya matahari pertama di tahun baru.

sumber:

  1. id.wikipedia.org
  2. en.wikipedia.org,
  3. http://www.Lifeinkorea.com

8 comments on “Budaya Korea – Perayaan Seollal

    • yup … satu nenek moyang .. ga cuman cina jepang dan korea, tapi vietnam, laos, kamboja, manchuria, bhutan, tibet juga sama sipitnya dan kulit putih …. sama2 suku bangsa indochina … aslinya dari daerah Yunnan … kalo ga salah😛

    • wah sebagian sih iya … tapi aku dah campuran … ada darah Jawa dari nenek buyutku … jadi udah ga seputih orang China asli, udah sedikit coklat … mata udah lebar ….😛 wong kadang2 malah dipanggil mas/abang sama orang China di daerahku yang ga kenal …. ahahahah tapi gapapa udah biasa😀

  1. haduhhh…jadi pengen terbang ke korea,,,,perayaannya seru banget,,ga kaya di indonesia,,,perayaan jadi hal yang tdak berkesan,,,korea mank keren padahal indonesia yg lbih dulu merdeka di bandingkan korea,,tp korea lebih maju n mmbudayakan budaya mereka,,,kapan ya negara qt spt mereka,,,???

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s