The Return Of Iljimae – Episode 22

Wol-hee dan Iljimae dipojokkan dalam usaha mereka untuk melarikan diri. Tapi ninja dengan kostum hitam2, datang menyelamatkan Wol-hee – dan bayangan Iljimae yang siap2 melempar shuriken membuat para pria berpedang itu lari tunggang langgang. Hanya saja, orang itu adalah Cha-doljimae!

Sedangkan, Iljimae yang asli berhadapan dengan Park Bi-su. Park dikeliling oleh anak buah Kim Ja-jeom tapi Park menyatakan kalau pertempuran itu adalah pertempuran satu lawan satu. Park Bi-su menghunus pedangnya, melemparnya ke dinding, dan membuat kedua orang itu, Park dan Iljimae, melakukan perang tanpa senjata. Mereka saling serang, tapi kemudian saling meraih pedang masing2 untuk bertempur lagi.

Pertarungan ini seimbang sebab kedua saling serang dengan seimbang. Mereka saling serang dengan pedang tapi ada saat dimana mereka berhenti untuk memastikan siapakah yang terluka. Lalu sesuatu terjatuh dari bagian perut Iljimae – benda itu adalah sebuah figura yang dulu diberikan oleh Miyamoto yang dimaksudkan untuk memberikan Iljimae perlindungan.

Park Bi-su memandangi tangannya dan melihat ada darah segar mengalir melalui pedangnya – dia telah ditebas oleh pedang Iljimae. Iljimae berkata kalau dia sangat ingin membunuh Park Bi-su tapi dia sudah bersumpah tidak akan membunuh lagi, lalu memperingatkan Park agar tidak ikut campur lagi. Gugup, beberapa pria yang lain melakukan persiapan untuk melawan Iljimae saat dia beranjak pergi – sampai suara drum menghentikan langkah Iljimae.

Anak buah Kim Ja-jeom berbaris memukul drum itu, yang memberikan efek yang diingkan pada Iljimae. Iljimae berjuang untuk mempertahankan agar dirinya tetap tenang tapi dia menjatuhkan pedangnya dan jatuh berlutut. Anak buah Kim mengikat Iljimae dan menyeretnya pergi. Akan tetapi, Gu Ja-myung dan anak buahnya juga tiba di TKP. Anak buah Kim yang mengenakan topi bamboo mencoba kabur dan dipanah oleh para polisi. Iljimae akhirnya bangun dari pingsannya.

Gu Ja-myung memerintahkan anak buahnya untuk menangkap orang2 itu sebab terlibat dalam peledakan illegal. Tapi sayang, Kim Ja-jeom datang dengan lugunya dan menambah kacau situasi di tempat itu. Kim mengatakan kalau dia berada di sekitar daerah itu dan melihat Iljimae bertarung dengan para pria bertopi bamboo itu, jadi secara naluriah dia memerintahkan anak buahnya menangkap Iljimae, karena Iljimae merupakan buronan polisi. Gu tahu kalau ini hanyalah bualan belaka. Tapi dia juga sadar kalau dia sefang berhadapan dengan seorang pria yang berkuasa. Jadi Gu Ja-myung berusaha untuk bersikap tenang.

Gu Ja-myung dan Kim Ja-jeom berdebat tentang bagaimana Iljimar harus dihukum. Gu Ja-myung ingin membawa Iljimae ke kantor polisi, tapi Kim Ja-jeom malah ingin membawa Iljimae ke petugas pengawal istana. Tapi untuk kali ini Gu menang dan membuktikan kalau merupakan tanggung jawabnya menangkap Iljimae – Iljimae sudah menyerah pada mereka. Gu Ja-myung mengeluarkan surat yang ditulis oleh Iljimae. Surat itulah yang mengarahkan Gu menangkap Iljimae dan pria lainnya dan mencatat semua perampokan yang pernah dilakukan Iljimae di masa silam. Lebih jauh, Iljimae memberikan info kepada Gu Ja-myung lokasi dimana dia ditangkap. Untuk itulah, merupakan kewenangan polisi menangkap Iljimae.

Iljimae, yang sejauh ini memandangi Kim Ja-jeom dengan amarah akhirnya berbicara: “Meski aku tertangkap, aku tidak akan tertangkap oleh tanganmu.” Gu Ja-myung melaporkan pada atasannya, mendapatkan petunjuk bagaimana menangani Iljimae. Surat yang menjelaskan jejak kejahatan Iljimae, tapi tidak ada bukti nyata yang membuktikan kalau Iljimae berhubungan dengan perampokan itu. Lebih jauh, korbannya adalah para bangsawan korup yang tidak akan mengakui kalau mereka dirampok.

Gu Ja-myung menyebutkan kalau ketika seorang penjahat mengakui dan menyerahkan dirinya, dia diberikan hukuman yang lebih ringan. Contohnya, pengasingan ketimbang hukuman mati. Lebih jauh, Iljimae membantu pemerintah menghentikan aktivitas para kelompok gang di masa lalu, membuatnya memperoleh nilai baik karena melakukan perbuatan terpuji. Sang atasan setuju dengan saran Gu Ja-myung melakukan pengasingan, tapi dia juga tidak yakin apakah peraturan undang2 akan memungkinkan hal itu terjadi.

Semua teman-teman Iljimae bersedih atas kabar tertangkapnya Iljimae – Keol-chi menangis, sedangkan Wol-hee merasa bersalah sebab dia yakin Iljimae tertangkap adalah karena dirinya. Bae Sun-dal berpikir kalau Iljimae melakukan hal yang cerdas dan meminta Wol-hee melihat sisi baiknya – jika Iljimae ditangkap Kim Ja-jeom, Iljimae pasti sudah dibunuh. Wol-hee mengatakan kalau dia sudah tidak punya harapan lagi, sambil menangis tersedu-sedu. Wol-hee melanjutkan, “Hukum di negeri ini menguntungkan mereka yang kaya! Hukum di negeri ini tidak memberikan keuntungan bagi orang2 biasa! Harapan?!”

Gu Ja-myung menyelidiki kasus itu dengan optimis yang mana Iljimae sama sekali tidak punya optimisme itu – Gu Ja-myung berharap meski Iljimae diasingkan, dia akan bisa bertemu dengan ibunya, tapi Iljimae sudah begitu yakin kalau dirinya akan dihukum mati. Ketidakyakinan Iljimae sepertinya lebih nyata dari keyakinan Gu Ja-myung, dimana hal ini terbukti dengan perintah raja untuk menyerahkan penyelidikan kasus Iljimae kepada polisi kerajaan. Tidak hanya itu, orang yang menginterogasi Iljimae nantinya adalah Kim Ja-jeom.

Kim Ja-jeom menuduh Iljimae memiliki niat makar, yang merupakan tuduhan tidak wajar sehingga Iljimae harus tertawa setelah mendengarkannya. Tapi Kim Ja-jeom lebih kuat dalam posisinya kali ini, dan dia punya kemampuan menambahkan tuduhan palsu kepada Iljimae.

Pertama-tama, Kim Ja-jeom mengancam akan menyeret Tuan Choi jika Iljimae tidak mengakui pengkhianatannya. Jika melakukan itu maka pengembangan senjata yang dilakukan Tuan Choi akan terungkap. Tentu saja, Tuan Choi bekerja atas perintah raja tapi perintah itu adalah perintah rahasia, jadi sudah tentu raja tidak akan mengakuinya, yang artinya Choi pasti dihukum mati. Kim Ja-jeom memberikan pilihan – iljimae bertanggung jawa atas semuanya sendiri atau menyeret semua orang bersamanya. Yang bisa Iljimae lakukan hanyalah marah, memperingatkan Kim Ja-jeom kalau Surga akan menghukumnya atas semua dosa2nya. Kim jelas tidak takut pada surga.

Jadi pada akhirnya Iljimae diberikan hukuman mati. Gu Ja-myung ketakutan – tidak masuk akal menuduh Iljimae melakukan maker; tidak ada satu bukti pun yang mengarah kesana. Tapi karena Iljimae mengaku, fakta dan bukti itu tidak lagi jadi masalah. Eksekusi hukuman mati itu bahkan tidak akan ditunda lagi: besok. Gu Ja-myung sangat panik – tidak hanya ini artinya dia akan gagal menyelamatkan Iljimae tapi dia juga akan melanggar janjinya mempersatukan ibu dan anak. Gu Ja-myung sama sekali tidak punya waktu.

Setelah mempertimbangkan dilemma yang dialaminya, Gu Ja-myung memutuskan kalau dia tidak bisa mengatakan pada Baek-mae kalau dia tidak bisa menepati janjinya, atau bahwa putranya telah mati. Gu Ja-myung bersumpah: “Aku akan memenuhi janjiku padamu.”

Ketika Gu Ja-myung menyelesaikan rencana akhirnya, Gu menulis surat dan menutupnya. Dia juga menyuruh Soo-ryun pulang dan mengunjungi ruang tahanan Iljimae. Gu Ja-myung sebenarnya tidak diijinkan melihat Iljimae tapi Gu memperdengarkan suaranya yang paling tegas dan mengatakan kalau kepolisian masih punya tahap akhir penyelidikan sebelum dilakukan hukuman mati. Dia memerintahkan petugas yang lain keluar agar dia mendapatkan privasi.

Di dalam tahanan, Iljimae diam tanpa harapan untuk bisa kabur. Tapi ketika Gu Ja-myung menjelaskan dimana Iljimae bisa menemui ibunya, perkataan2 itu membuat Iljimae seolah-olah terbangun – bagaimana Baek-mae dulu datang ke Hanyang untuk memasakkan makan malam buat Gu Ja-myung yang dia makan bersama Iljimae, dan bagaimana Gu berpikir kalau Baek-mae sudah pulang ke rumah, tapi pada kenyataannya dia malah tinggal di rumah Gisaeng.

Iljimae akhirnya menyadari siapa ibunya ketika Gu Ja-myung menjelaskan ibunya tinggal di lading ginseng. Iljimae tersadar, “Ibuku ada di depan mataku dan aku tidak mengenalinya. Ibu yang begitu aku rindukan.” Iljimae meminta Gu agar tidak memberitahukan ibunya kalau dia meninggal tapi hanya mengatakan kalau dia pergi jauh. Tapi Gu Ja-myung membuat Iljimae bingung dengan mengatakan kalau dia harus menemui Baek-mae lalu Gu melepaskan borgol Iljimae. Gu Ja-myung melepaskan lencana polisinya dan mengatakan baju tahanan, dan memerintahkan Iljimae untuk keluar dari dalam ruang tahanan.

Iljimae keberatan – dia tidak bisa menukar hidupnya dengan Gu Ja-myung. Tapi Gu menjawab dengan tenang, “Aku sudah berjanji pada Baek-mae, bahwa tidak peduli apapun yang terjadi, aku akan menyelamatkan putranya.” Pekerjaannya sebagai polisi juga merupakan sebuah janji, “Tapi janjiku pada Baek-mae juga sebuah janji. Aku tidak akan berjanji kalau aku tidak dapat memenuhinya.”

Demikianlah, Iljimae mengenakan seragam Gu Ja-myung lalu kabur. Di dalam ruang tahanan, Gu mengeluarkan cincin kawin yang dia beli untuk dirinya dan Baek-mae lalu mendesah bahwa cincin kawin milik Baek-mae tidak akan pernah sampai pada pemiliknya. Pada saat inilah kita tahu apa isi surat yang Gu Ja-myung tulis yang ditujukan untuk kepala polisi – sebuah surat bunuh diri. Di dalam surat itu, Gu Ja-myung meminta maaf karena sikapnya tapi juga menjelaskan bahwa dia punya alasan yang bagus menyelamatkan Iljimae. Gu Ja-myung bunuh diri di dalam penjara.

Setelah menerima surat dari Gu Ja-myung, kepala polisi menyimpulkan kalau dia harus merahasiakan alasan kematian Gu yang sebenarnya. Bakal menjadi hal gila mengakui bahwa Gu Ja-myung membebaskan seorang penjahat. Sebaliknya, mereka akan mengarang cerita kalau Iljimae membunuh Gu Ja-myung dan melarikan diri. Ketika berita kaburnya Iljimae tersebar, Kim Ja-jeom menjadi was2. Dia yakin kalau dirinya akan menjadi target pertama Iljimae dan tidak ada Park Bi-su yang melindunginya lagi. Kim Ja-jeom lalu memanggil peramal untuk mengetahui takdirnya.

Berita yang diramalkan lebih baik dari yang dikira, sebab sang peramal mengatakan kalau Kim Ja-jeom akan naik ke posisi perdana menteri. Senang dengan hasil ramalan itu, Kim tidak memaksa lebih jauh lagi waktu sang peramal menolak menjelaskan apalagi yang akan terjadi dan bahkan dia menerima permintaan sang peramal agar berhenti memanggilnya sebab dia akan pensiun dan tinggal di gunung.

Akan tetapi, ketika sang peramal pulang ke rumahnya, dia segera mengemasi barang2nya dan mengatakan pada pria yang tinggal bersamanya kalau mereka harus segera pergi: “Mereka yang ada di dekat Tuan Kim akan mati semuanya.” Sang peramal tidak bisa mengatakan pada Kim Ja-jeom bagian lanjutan dari ramalan – bahwa setelah Kim menjadi perdana menteri, dia tidak akan diingat. Dengan meninggalnya Gu Ja-myung, petugas polisi yang lain dipaksa menutupi cerita yang sebenarnya dan diperintahkan menangkap Iljimae. Soo-ryun sangat marah kehilangan bos yang dicintainya dan bersumpah akan mengejar Iljimae.

Yang-po dan Wang Hweng-bo juga kembali memutuskan akan menangkap Iljimae sebab akan sangat memalukan kembali ke Cina dengan tangan kosong. Tidak sadar akan perkembangan yang terbaru, Baek-mae tetap mencari berita tentang Iljimae dari para pengelana yang mengatakan padanya kalau Iljimae berhasil ditangkap oleh polisi. Khawatir atas keselamatan Iljimae, Baek-mae memutuskan untuk keluar mencari info lanjutannya dan bertanya kepada para pengelana dari Hanyang tentang berita terbaru Iljimae.

Akan tetapi, para pengelana ini telah meninggalkan kota sebelum hukuman diumumkan – hari sebelum kaburnya Iljimae – jadi mereka yakin kalau Iljimae sudah mati. Baek-mae hancur. Selama bertahun-tahun, dia hidup dengan satu harapan kalau dia akan bersatu dengan Iljimae, yang sekarang sudah pergi. Dan ketika Iljimae sedang menuju ke rumah ibunya, Baek-mae menulis sebuah surat yang ditujukan untuk Gu Ja-myung, tanpa tahu kalau Gu Ja-myung sudah meninggal:

Baek-mae: sebelum aku bertemu denganmu, hidupku hanyalah nama lain dari ketidakbahagiaan. Memikirkan hal itu, rahasanya benar2 kehidupan yang kosong. Kau mengatakan padaku tentang anakku dan memintaku hidup bersama denganmu. Kau bilang kau ingin bersama, bahwa orang2 seperti kita bisa hidup bahagia. Apa hari itu bisa datang? Apa itu nyata? Aku tidak percaya. Tapi sedikit demi sedikit, aku mulai bertanya apa kebahagiaan jadinya nanti dan apakah aku juga bisa merasakannya. Aku tersenyum ketika memikirkan itu dan menyadarai kalau itu adalah kebahagiaan. Aku bahagia. Selagi aku merindukan kebahagiaan, dalam beberapa hal aku bahagia. Terima kasih sudah menghargaiku ketimbang yang aku lakukan sendiri… Selamat tinggal yang aku rindukan.

Iljimae terus melangkahkan kakinya, ratusan bunga plum bermekaran yang menandakan kalau dia sudah semakin dekat dengan tempat tujuan. Ketika Iljimae mendekati rumah Baek-mae, dia sudah selesai menulis surat dan mengambil sebuah kantong. Di dalam kantong itu terdapat satu amplop bubuk.

Iljimae sudah dekat tapi berhenti di pasar untuk membeli hadiah, sebuah sikat kaligrafi. Dia tidak tahu kalau waktunya sudah hamper habis dimana pada saat yang bersamaan, Baek-mae menaburkan bubuk itu ke dalam air, dia percaya kalau putranya sudah mati… akhirnya, Iljimae tiba di luar rumah Baek-mae. Iljimae mendekat dengan perlahan.

sumber: meylaniaryanti.wordpress.com

Iklan

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s