The Return Of Iljimae – Episode 23

Iljimae begitu gugup menantikan pertemuan dengan ibunya. Iljimae memasuki rumah Baek-mae dan menemukannya sedang tertidur, sambil memeluk bunga plum emas. Iljimae berlutut dihadapan Baek-mae dan memanggilnya dengan lembut dan syukurlah, Baek-mae membuka matanya.

Bingung, Baek-mae bertanya kenapa Iljimae ada disini. Iljimae lalu mengeluarkan puisi yang Baek-mae tulis untuknya ketika dia masih bayi dan membacakan puisi itu untuknya. Mendengar kata2 yang tidak asing itu, Baek-mae menengadah dan sebuah kesadaran menamparnya… Baek-mae meminta bantuan untuk duduk ketika Iljimae berkata, “Ibu, aku Iljimae.” Baek-mae berkata kalau dia mendengar Iljimae telah ditangkap dan mati. Iljimae menjelaskan kalau Gu Ja-myung telah menyelamatkannya dan menyuruhnya kesini: “Aku benar2 putramu, Ibu.” Baek-mae akhirnya memercayainya dan mereka pun berpelukan.

Tapi Baek-mae jatuh dari pelukan itu. Dengan khawatir, Iljimae bertanya apa ibu sakit. Dengan penuh usaha, Baek-mae mendesah, “Bagaimana bisa ini terjadi? Seandainya saja aku tahu kalau kau masih hidup…” Kemarahan Iljimae muncul mendengar kata2 itu serta setelah memegang tangan ibunya yang dingin. Melihat berkeliling ruangan, Iljimae melihat amplop dengan bubuk dan ketakutan pun menyebar di wajah Iljimae. Baek-mae menjelaskan, “Aku akan mengikutimu.”

Iljimae protes dan Baek-mae mengakui kalau merupakan sebuah beban menjalani beberapa tahun belakangan ini: “Sekarang ibumu akan membuang semua bebannya dan beristirahat. Saatnya merasakan kelegaan.” Iljimae memohon agar ibunya bertahan. Baek-mae kehilangan kesadaran waktu dia selesai mengucapkan kata terakhirnya, “Anakku…” Iljimae mulai terisak, “Bagaimana ini bisa terjadi? Aku tidak bisa mengucapkan selamat tinggal seperti ini. Ketika kita baru saja bertemu…”

Beberapa saat kemudian, Iljimae bersiap-siap kembali ke Hanyang, hanya saja dia disambut oleh kemunculan Yang-po. Meski ada fakta kalau Yang-po sempat menawan Iljimae, tapi dia berkata kalau dia ada di pihak Iljimae dan kelihatannya dia dapat dipercaya. Ada suasana yang aneh dalam kemunculan Yang-po sebab sikapnya merupakan sebuah tantangan langsung bagi Iljimae terhadap semua harapannya, tapi Yang-po malah memiliki kode etik tertentu dan kode itu kelihatannya sangat terhormat.

Yang-po menjelaskan kalau Iljimae sama sekali tidak memberikan apapun bagi dirinya disini selain hukuman mati. Iljimae juga sebaiknya kembali ke rumah lamanya di Yodong dan menikahi Moran. Iljimae sama sekali tidak punya keinginan itu dan mengatakan pada Yang-po untuk kembali. Yang-po mengingatkan Iljimae kalau dia tidak aman di Joseon lalu mengatakan dimana Iljimae dapat bertemu dengannya kalau Iljimae berubah pikiran.

Merasa sangat putus asa dengan pilihan yang terbatas, Iljimae menemui Yeol-gong dan mendapatkan kesimpulan, “Aku tidak punya cara lain. Aku harus bertemu dengan raja dan memegang kepala Kim Ja-jeom.” Reaksi Yeol-gong begitu kering, “Apa kau ingin raja meninggal karena terkejut?” Tidak, sebenarnya Yeol-gong sangat menentang pembunuhan. Dia tidak punya solusi tapi menyarankan agar Tuan Choi mungkin punya jalan keluar dengan kekuasaan yang dia miliki.

Tuan Choi bertanya bagaimana pendapat Iljimae kalau dia pergi ke Cina. Perang sekarang sudah dekat dan mereka harus bersiap-siap untuk kenyataan yang akan datang. Iljimae bertanya apakah ini artinya negara Joseon sudah tidak punya harapan lagi dan Choi menjawab, “Kita tidak bisa menang tapi kita bisa menjauhi kekalahan.” Ada beberapa orang yang bekerja secara rahasia untuk menemukan strategi perang Cina. Mereka ada di Cina dan Iljimae dapat menjadi bantuan besar bagi mereka.

Akan tetapi, Iljimae enggan, merasa begitu sakit. Tuan Choi percaya kalau Iljimae bisa melakukan yang terbaik di Cina tapi Iljimae bertanya apa hal itu akan membawa perbedaan. Iljimae berkata pada Yeol-gong, “Semua orang yang peduli padaku di negeri ini sudah pergi. Dal-yi, guru, Gu Ja-myung dan ibuku. Aku adalah orang yang tidak bisa menjaga nyawa orang2 yang dekat denganku. Seberapa baik aku akan jadinya? Apakah semuanya akan menjadi baik jika aku bersama Wol-hee dan membuatnya bahagia?” Yeol-gong meminta Iljimae memikirkan kebaikan yang lebih besar, tapi Iljimae tahu kalau setidaknya dia mampu membuat Wol-hee bahagia.

Yeol-gong: Jika kau mengandaikan sebuah gunung, apa kau suka atau tidak, kau adalah lereng gunung. Takdirmu adalah menjadi yang paling pertama yang merasakan hujan dan angin. Wol-hee adalah sebatang pohon. Tapi jika kau menanam pohon di lereng gunung, maka pohon itu tidak akan tumbuh. Dan badai tidak akan menidurkanmu.

Ini sangat sulit bagi Iljimae… tapi nasehat itu meyakinkannya. Keol-chi sangat marah para keputusan Iljimae. Keol-chi memaki Iljimae atas sikap kejam Iljimae kepada Wol-hee: “Kau seharusnya tidak melakukan ini. Aku menyalamatkanmu bukan untuk membiarkanmu melakukan ini. Bukankah kau anakku, ketika aku mengambilmu dari air itu dan memelukmu? Kau adalah anak yang diberikan surga padaku. Begitulah aku membesarkanmu, tapi bukan begini seseorang seharusnya memperlakukan orang lain.

Kata2 itu menyakitkan, tapi Iljimae tetap yakin pada tugasnya. Keol-chi menyampaikan percakapannya pada Wol-hee yang segera berlari menemui Iljimae. Wol-hee masih lemah dan bahkan sulit bangun dari tempat tidurnya. Satu hal yang tidak perlu ditakutkan Iljimae yaitu menemukan jalan ke Cina, sebab hal itu sudah terselesaikan: Yang-po tidak berharap Iljimae berubah pikiran, tapi dia senang mendengar kalau Iljimae mau ikut. Yang-po setuju pada permintaan Iljimae agar segera berangkat dan menghentikan kekhawatiran Wang Hweng-bo kalau Iljimae bisa saja menipu mereka.

Keberangkatan mereka diganggu oleh kedatangan Wol-hee, yang datang dengan menunggang kuda. Wang Hweng-bo mengatakan kalau kemunculan seorang kekasih bisa saja mengubah pikiran Iljimae, tapi Yang-po dengan bijak mengatakan kalau mereka sebaiknya menunggu. Wol-hee jatuh ke tanah tapi Iljimae sama sekali tidak menolongnya. Wol-hee memohon: “Bawa aku juga. Yang harus kau lakukan adalah membawaku, entah itu ke Cina atau ke ujung dunia, atau bahkan ke dunia lain.” Iljimae menyuruh Wol-hee kembali. Wol-hee menjawab, “Tidak akan. Jika aku akan kembali, aku tidak akan mengikutimu dari awal. Aku juga akan pergi.”

Iljimae tidak membiarkan emosi mengubah pikirannya dan berkata, “Aku sudah selesai dengan semua yang bisa aku lakukan di negeri ini. Jangan bersikap seperti itu dan kembalilah.” Penolakan Iljimae begitu tenang hingga Yang-po dan Wang Hweng-bo pun merasa kasihan pada Wol-hee. Ketiga orang ini pun berangkan ke Yodong lalu berpisah setelah mereka tiba disana. Tujuan pertama Iljimae adalah kuburan ibu angkatnya. Disinilah Moran, mantan kekasih Iljimae, akhirnya berrtemu lagi dengan Iljimae ketika Iljimae memberi hormat pada orang tua angkatnya.

Iljimae mengatakan pada Moran kalau dia sangat berdosa pada kedua orang tuanya. Iljimae bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada mereka dan bagaimana ibunya meninggal. Moran mengatakan semuanya. Ibu angkat Iljimae meninggal dunia setahun setelah Iljimae pergi ke Joseon. Ayah angkatnya lalu ikut ajaran katolik dan suatu hari dia pergi begitu saja, memutuskan semua tali komunikasi. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi padanya.

Moran senang Iljimae akhirnya kembali. Dia tahu semua tentang Iljimae sebab Yang-po selalu mengiriminya surat. Bahkan luka bakar yang dialami Iljimae juga dilaporkan. Ketika Iljimae mulai bicara, Moran mulai merasakan kalau Iljimae akan mengatakan hal2 yang membuat harapannya hancur. Jadi Moran menyela, “Kau tidak harus mengatakan apapun. Sudah cukup kau kembali lagi kesini.” Moran memegang tangan Iljimae dan bersumpah, “Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi.” Moran mencari Yang-po memohon untuk menghentikan Iljimae agar jangan pergi, tapi Yang-po menolak – pekerjaannya sudah selesai.

Dua orang lagi ternyata juga mengikuti Iljimae ke Cina: biksu Dok-bo dan Soo-ryun. Tiga wanita bersaudara bernama Jin, Sun dan Mi melakukan pertunjukkan. Iljimae duduk di sebuah meja dan mengeluarkan kipasnya, yang merupakan tanda bagi ketiganya. Salah satu dari tiga wanita itu mendekati Iljimae dan mengatakan kalimat misterius dan Iljimae menjawab dengan tenang. Setelah percakapan ini, ketiga wanita itu menuntun Iljimae ke sebuah ruangan dimana dia dikenalkan pada pemimpinnya, seorang pria bernama Yi-myung, yang merupakan rekan Iljimae di Cina.

Ye-myung dan ketiga wanita itu bekerja secara rahasia menemukan strategi pasukan Qing untuk menyerang Joseon. Rencana itu sudah ditulis dan mereka tahu dimana rencana itu diletakkan tapi mereka tidak bisa masuk ke sana sebab rencana itu diletakkan di istana Qing. Kembali ke Hanyang, dimana kondisi Wol-hee semakin lemah. Karena inilah, Yeol-gong akhirnya bertindak dan menunjukkan sesuatu pada Wol-hee. Iljimae ternyata menyuruh Yeol-gong menjaga baju pengantin yang dulu dia beli di pasar untuk Wol-hee. Baju itu adalah baju yang tidak jadi dibeli Wol-hee.

Yeol-gong menjelaskan, “Iljimae tidak menyuruhku untuk menyerahkan baju ini padamu sekarang, tapi menjaganya sampai dia kembali. Tapi melihatmu seperti ini, aku tidak menyimpan ini terus menerus.” Iljimae sebenarnya tidak ingin memberikan baju itu langsung pada Wol-hee, untuk jaga2 kalau dia tidak kembali. Hal ini membuat semua orang tenang. Tidak hanya Wol-hee yang senang mendengar kalau Iljimae berencana kembali. Mereka tidak lagi kecewa pada Iljimae dan meminta Wol-hee untuk berbahagia sebab dia sudah tahu bagaimana perasaan Iljimae.

Wang Hweng-bo berencana kembali menjalani hidupnya yang dulu, tapi tidak dapat menghubungi pemimpinnya yang dulu. Saat dia pergi ke markasnya yang lama, ternyata markasnya itu sudah kosong. Dok-bo mengambil kesempatan dan menawarinya sebuah posisi – bagaimana kalau Hweng-bo bekerja bagi kaisar? Dan apa yang Hweng-bo tahu soal Iljimae? Karena itulah, Wang kembali mengikuti Iljimae berkeliling kota, dan melaporkan kalau Iljimae melakukan pengintaian di sekitar istana. Dia pasti punya rencana.

Sementara itu, trio Jin-Sun-Mi bertemu dengan petugas kekaisaran Qing. Meski mereka bekerja dengan Yi-kyung untuk Joseon, sekarang mereka menawarkan info kalau Iljimae berkeliaran di istana dan mungkin berusaha mengacau. Malam itu, Iljimae masuk ke dalam istana, melewati Wang Hweng-bo, yang mengintai Iljimae muncul. Untuk itulah, ketika petugas Qing meminta anak buahnya menangkap pengintai, mereka malah menangkap Wang Hweng-bo yang mereka yakini sebagai Iljimae.

Iljimae bergerak tanpa terlihat dan menggunakan alat membuat lubang melalui langit2 di ruang kaisar. Iljimae masuk ke ruangan itu, mengikuti detail yang diberikan Yi-myung dimana pada saat seperti ini para dayang dan kaisar tidak muncul. Seperti info yang diberikan, Iljimae menemukan rencana penyerangan di laci di dekat pedang kerajaan. Iljimae harus melihat dokumen itu dan menghafal isinya, tapi tidak mengambil dokumen itu – jika Qing tahu maka mereka akan mengubah rencana.

Setelah memeriksa dokumen itu, Iljimae melihat pedang kaisar, yang sudah diwariskan turun temurun. Ketika kaisar kembali ke ruangannya, dia menyadari kalau pedangnya menghilang. Pada tempatnya, ada sebuah bunga plum emas. Sang narrator mengatakan kalau cara ini sama seperti ketika Iljimae menempelkan pisau ke bantal Kim Ja-jeom sebagai sebuah peringatan.

Wang Hweng-bo ditangkap petugas istana, dan dianggap sebagai Iljimae sesuai dengan info yang didapat. Para petugas itu tidak percaya pengakuan Wang kalau mereka menangkap orang yang salah. Dan Wang Hweng-bo pun disiksa agar memberikan informasi. Iljimae memberitahukan rencana tentara Qing pada Yi-myung: mereka pertama-tama berencana menyerang dari utara, sedangkan sisa tentara yang lainnya menyerang Hanyang langsung. Mereka hanya perlu 10 hari mencapai Hanyang dari perbatasan, yang jauh lebih cepat dari perkiraan Joseon sebelumnya.

Ini info penting dan Yi-kyung menulis rencana musuh di selembar kertas. Iljimae akan mengantarkan surat itu kepada Joseon tepat waktu untuk mempersiapkan pertahanan. Ketika Iljimae bersiap-siap melakukan perjalanan pulang, Iljimae mendapatkan sebuah kunjungan: Soo-ryun. Iljimae tersenyum, mengira kalau Soo-ryun sepihak, tapi ekspresi wanita itu muram. Tanpa peringatan Soo-ryun kemudian menusuk Iljimae dan menuduh Iljimae telah membunuh Gu Ja-myung.

Sambil memegang perutnya, Iljimae ambruk ke lantai. Dia mengatakan kalau Soo-ryun salah – dia tidak akan pernah membunuh Gu. Tapi dia tidak punya waktu membela diri, hal yang paling serius saat ini adalah menyerahkan dokumen itu. Iljimae menyerahkannya pada Soo-ryun lalu Iljimae pingsan.

Soo-ryun tidak mengerti isi dokumen itu tapi mengambilnya juga, tepat ketika para penjahat menyerangnya. Dia melawan para penjahat itu, berlari ke luar ruangan dan berusaha kabur dari mereka dijalanan. Ketika Soo-ryun berpikir kalau dia aman, dia dipojokkan oleh Yi-myung. Dok-bo sampai di kamar Iljimae untuk memeriksa kerusakan – dia telah mengirim anak buahnya mengejar Iljimae dan beberapa diantara mereka telah dikalahkan Soo-ryun.

Iljimae masih berjuang untuk hidup tapi Yi-myung memarahi Soo-ryun karena sikap bodohnya itu. Yi-myung menceritakan tentang kematian Gu dimana Iljimae bercerita kalau Gu rela menukar hidupnya dengan Iljimae. Soo-ryun menyangkap tapi Yi-myung lalu meminta Soo-ryun membaca dokumen itu. Soo-ryun pun akhirnya mengerti. Yi-myung berkata dengan kasar, “Karena sikapmu ini, nasib negara telah dilempar ke keadaan yang parah. Kau membuat kematian Gu tidak berarti. Dia mengajarkan Iljimae cara menolong orang lain, tapi bagaimana bisa kau tidak mengerti?”

Jin Sun Min menawarkan diri membawa dokumen itu tapi Yi-myung menolak dengan alasan situasi sudah panas dan jalan sudah ditutup. Jadi Soo-ryun menawarkan diri melakukan tugas itu, dia bersumpah akan mengantar dokumen itu ke orang yang tepat. Jalanan menjadi begitu sulit bagi Soo-ryun. Dia bahkan harus bertarung dengan pasukan Qing di dekat perbatasan. Soo-ryun tetap berusaha kabur tapi tentara Qing terlalu banyak dan mereka sudah semakin dekat.

Ketika Soo-ryun dipanah di tangannya, wanita ini tetap sanggup meneruskan perjalanannya, dengan menarik anak panah itu. Dengan tentara yang mendekat, Soo-ryun memandangi sungai di bawahnya dan bergumam, “Aku harus mengantarkan surat itu.” Soo-ryun melompat ke dalam air dan para tentara mulai memanah ke arah sungai. Soo-ryun masih hidup tapi mungkin karena anak panah di punggungnya, Soo-ryun akhirnya meninggal juga.

Berikutnya, dokumen itu telah dibawa oleh seorang tentara Joseon ke seorang panglima di perkemahan tentara. Panglima itu membaca isi dokumen lalu bertindak untuk melanjutkan informasi di dokumen itu. Tapi detik berikutnya, dokumen itu dibawa ke panglima yang lain, yang mungkin saja bertanggung jawab atas masalah itu. Panglima itu membaca dokumennya. Tapi Kim Ja-jeom lah yang membakar surat itu.

sumber: meylaniaryanti.wordpress.com

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s