Yi San [Wind Of The Palace] – Episode 01

Yi San [Wind Of The Palace | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Drama ini dimulai dengan perayaan yang diadakan di Istana. Perayaan itu begitu megah, para penari  menarikan tari-tarian yang indah dan menarik, para pengawal mempertontonkan keahlian mereka untuk menggunakan pedang, para pelukis Istana menggambar situasi perayaan dan makanan yang dihidangkan begitu lezat.

Yi San [Wind Of The Palace | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Raja YeongJo sangat menikmati acara di perayaan itu. Sampailah pada giliran pasukan senjata api untuk menunjukkan keahlian menembak. Mereka bersiap sedia, kelompok pertama menembak demikian juga kelompok kedua.

Yi San [Wind Of The Palace | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Semua orang sangat terkesan, namun saat kelompok ketiga sudah bersiaga, beberapa di antara mereka membalikkan badan dan mengarahkan senapan kepada rombongan Raja dan menembak, beberapa orang langsung roboh dan keadaan menjadi kacau. Kepala kasim segera berusaha melindungi raja sambil berteriak-teriak menyuruh para pengawal untuk menjaga keselamatan Raja.

Yi San [Wind Of The Palace | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Tiba- tiba rombongan pasukan tidak dikenal masuk ke dalam dan bertarung melawan para Pengawal Raja yang tidak siap.  Raja YeongJo dan Ratu segera  diungsikan menuju ke tempat yang aman di tengah kekacauan itu. Namun mereka akhirnya terpojok di tengah jembatan, para pengawal raja berusaha membuka jalan, namun terbunuh semuanya. Ketika itulah seseorang datang maju ke depan, ternyata Pangeran Mahkota Sado …

Yi San [Wind Of The Palace | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Raja YeongJo: (terkejut dan tidak percaya) Anakku, mengapa kau ….

Seorang pengawal Pangeran maju ke depan dan mengayunkan pedangnya ke arah Raja. Semua orang berteriak ….

Tiba-tiba Raja Yeongjo bangun dan menyadari kalau ia berada di kamar peraduannya, badannya penuh dengan keringat dingin dan hatinya masih berdebar kencang, ternyata itu semua hanyalah mimpi …

Yi San [Wind Of The Palace | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Halaman Gedung Pengadilan Istana

Malam hari

Yi San [Wind Of The Palace | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

(Terdengar suara menggergaji kayu) Seorang kasim berusaha membuat lubang pada sebuah kotak besar. Rekan-rekannya berjaga di sekelilingnya, mengawasi keadaan.

Kasim Nae Sun: (Berdesis) … Berhenti! (Ia mendengar suara langkah kaki mendekat)

Semua rekannya segera waspada dan mengawasi darimana suara itu berasal.

(Ternyata rekan mereka yang berjaga di depan) Kasim A: Cepat! Cepat!

Kasim Nae Sun: (merasa lega) Lanjutkan! Kita tidak boleh membuang-buang waktu lagi.

Kasim: Baik …

Kasim lain datang dari depan dan bersama-sama dengan kasim A yang berjaga tadi menghampiri Kasim Nae Sun.

Kasim Nae Sun: Bagaimana?

Kasim A: Tidak ada seorangpun di sekitar tempat ini, tidak juga penjaga Istana. (Rekannya mengangguk)

Kasim Nae Sun: (sangat senang) Langit berpihak pada kita.

Tiba-tiba terdengar suara patahan kayu, mereka berhasil membuat lubang kecil, cukup untuk memasukkan tangan.

Kasim: (pada Nae Sun) Tuan kita sudah menyelesaikannya.

Nae Sun sangat senang, ia berlutut di hadapan kotak diikuti oleh semua rekan-rekannya. Nae Sun memandang lubang itu dengan penuh hormat.

Nae Sun: (dengan berbisik) Yang Mulia, ini hamba. Ini hamba, Nae Sun.

Hening tak ada jawaban … semua orang gelisah

Kasim A: Apakah ia sudah … Apakah ia sudah menghembuskan napas terakhirnya?

Naeu Sun segera menoleh padanya sambil berdesis marah, Kasim A segera tertunduk ketakutan. Nae Sun kemudian menghadap lagi pada kotak itu dan memanggil kembali..

Nae Sun: Yang Mulia … Yang Mulia Pangeran Mahkota …

Tetap tak ada jawaban untuk beberapa saan, Nae Sun menjadi tertunduk sedih dan menangis sambil memanggil : “Yang Mulia Pangeran”

Tak dinyana sebuah tangan perlahan-lahan terjulur keluar dari dalam kotak. Nae Sun sangat terkejut melihatnya, namun semua orang menjadi senang karena ini pertanda kalau Pangeran Mahkota masih hidup.

Sado: (bergumam lemah) Nae… Nae Sun …

Nae Sun: (sangat sedih dan tertunduk meneteskan air mata) Yang Mulia Pangeran …

Semua orang sangat sedih dan berduka melihat nasib junjungan mereka.

Nae Sun: Ya … Ini hamba, Nae Sun. Bagaimana … bagaimana keadaanmu?

Sado: (lemah) Aku … Aku baik-baik saja …

Yi San [Wind Of The Palace | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Nae Sun: (nada sedih) Kau tidak makan apapun selama enam hari … Bagaimana bisa hal ini bisa terjadi pada dirimu? … Yang Mulia, kumohon kau bertahanlah untuk sedikit waktu lagi, kami semua akan berusaha untuk menyelamatkanmu.

Yi San [Wind Of The Palace | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Sado: Nae Sun … Nae Sun … Kumohon kau sampaikan pesan ini pada Ayahanda. Apakah kau mendengarkanku? (bernapas dengan berat) Sebelum aku mati, aku harus memberitahu beliau mengenai sesuatu.

Nae Sun: (memberi hormat) Ya Yang Mulia, hamba akan mematuhinya. Hamba akan menyampaikan pesan ini. Hamba akan mempertaruhkan hidup hamba untuk menyampaikan pesan ini …

Nae Sun beranjak maju dan mengulurkan tangannya untuk memegang tangan Pangeran Mahkota Sado yang terjulur keluar dari dalam kotak …

Tiba-tiba sebuah panah kecil mengenai dada Nae Sun yang mengaduh kesakitan, membuatnya melepaskan tangan Pangeran Sado… semua orang menjadi sangat terkejut dan bersiaga …

Sado: Apa yang terjadi ? … Nae Sun! Nae Sun apa yang terjadi?

Nae Sun segera berbalik dan semua orang segera berdiri saat melihat banyak orang menghambur masuk dan mengepung rombongan Nae Sun.

Nae Sun berdiri dan mencabut panah di dadanya, berdiri sempoyongan. Kepala pengawal Istana menghampirinya.

Nae Sun: (pada rekan-rekannya) Jangan mundur!

Kepala Pengawal: Beraninya kau melanggar perintah Raja dan berbicara pada tahanan itu! Kau telah melakukan hal yang bodoh, Kasim!

Nae Sun menyadari kalau ia dan rekan-rekannya tak akan lolos dari kematian …

Yi San [Wind Of The Palace | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Nae Sun: Aku punya permohonan … kumohon kau ijinkan aku untuk menyuguhkan air pada Pangeran Mahkota. Jika kau mengijinkan, maka aku akan meletakkan pedangku dan membiarkan kau untuk menahanku.

Kepala Pengawal: Kami tidak butuh tahanan …

Kepala pengawal menghunuskan pedangnya diikuti oleh kedua belah pihak saling menghunuskan pedang.

Nae Sun: Apakah kau takut bahwa jika aku tetap hidup maka ketidakbersalahan Pangeran Mahkota akan terbuka? (Kepala pengawal tampak ragu-ragu) Kau berada di pihak siapa? Siapa … siapa dalang di balik retaknya hubungan Pangeran Mahkota dan Raja? Siapa yang berusaha mencoba untuk membunuh Yang Mulia Pangeran?

Yi San [Wind Of The Palace | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Kepala Pengawal: Diam! (pada anakbuahnya) Bunuh mereka semua!

Para pengawal segera menyerang dan para kasim berusaha mempertahankan diri, namun karena  jumlah mereka kalah banyak, maka satu persatu kasim berjatuhan menjadi korban dari keganasan para pengawal.

Pangeran Sado yang mendengar suara pertarungan dan mengetahui kalau para kasim tidak akan menang sangat sedih … Namun disayangkan suaranya sangat lemah …

Sado: Tidak … Hentikan ..  Kumohon hentikan ….

Narasi:  Pada tanggal 19 Mei  1762 (tahun ke-38 pemerintahan Raja Yeongjo), itu adalah hari ke enam di mana Pangeran Mahkota Sado ditahan atas perintah Raja.

 Raja Yeongjo, ia adalah raja ke-21 Dinasti Joseon, menggunakan kekuatan dan kekuasaan yang sangat besar sehingga mampu membawa kedamaian di Joseon yang akan berlanjut selama 200 tahun. Tapi faksi-faksi Noron, Soron, dan Namin yang terbagi secara politik berada dalam perseteruan diam-diam antara satu sama lain..

 Faksi Soron yang sudah lemah karena telah kehilangan kekuasaannya berusaha menggunakan kekuasaan Pangeran Mahkota, yang mendukung mereka, untuk menggenapi rencana politik mereka. Tapi pihak oposisi, dengan maksud untuk menghalangi ambisi faksi Soron, memulai persengkongkolan untuk menjatuhkan Pangeran Mahkota.

 Sebagai akibatnya, tingkah laku Pangeran Mahkota Sado menjadi semakin ganjil. Di bawah perintah Raja, Pangeran Mahkota ditangkap dan ditahan di sebuah kotak penyimpanan beras.

Semua kasim telah tewas dan hanya tersisa Nae Sun, Kepala Pengawal menghampirinya dan mengayunkan pedangnya untuk membunuh Nae Sun. Sebotol minuman bernodakan darah jatuh dari tangan Nae Sun dan menggelinding ke bawah kotak tahanan Pangeran Sado, air mengucur keluar ….

Kepala Pengawal: Singkirkan mayat mereka dan pastikan tak ada sepatah katapun bocor keluar mengenai kejadian ini.

Wakil Pengawal: Baik …

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Para pengawal segera melakukan perintah atasannya untuk menyingkirkan mayat-mayat para kasim.

Sado: (nada duka) Kumohon bunuh aku … Kumohon bunuh aku saja …Mereka tidak melakukan satupun kejahatan … (menangis) Nae Sun … apakah kau di sana? Aku masih hidup … Aku masih hidup … Nae Sun, aku masih hidup … (Pangeran Sado menangis sedih)

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Narasi: Hari itu adalah hari ke-19 bulan ke-5 dan tahun 1762 … Pangeran Mahkoita menanti dengan gelisah akan kematian yang akan menjemputnya di kotak penyimpanan beras pada pagi hari itu… dan …. hari itu juga adalah hari di mana roda nasibku mulai berputar …

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Seorang gadis kecil menggendong seorang bayi di punggungnya melintasi padang, mengawasi ke sekeliling dengan mata beningnya …. Gadis ini adalah Sung Song Yeon, yang kelak menjadi Selir Sung. Ia akhirnya sampai ke suatu tempat yang penuh dengan orang-orang …

Song Yeon: Ah .. akhirnya kita sampai juga di sini. (menoleh pada adiknya)

Departemen Seni Istana

Semua orang sedang sibuk melakukan tugas mereka masing-masing … ada yang melukis bunga, pohon, lukisan orang, dan macam-macam lainnya … Song Yeon mengintip kegiatan mereka dengan rasa ingin tahu …

Song Yeon: Di sana ada lukisan bunga, sayur-sayuran dan juga kapal-kapal! (pada adiknya) Kau tahu, Wook kecil, ayah kita dulunya juga pelukis hebat di sini!

Song Yeon sedang menanti di halaman ketika ia melihat dua orang dayang membuang kertas dan sampah-sampah lainnya, keduanya lalu beranjak pergi.

Song Yeon: Hei, apa … apakah kalian membuang barang-barang ini?

Dayang: Ya kami memang membuang barang-barang ini. (keduanya segera pergi)

Song Yeon sangat senang dan segera mengambil kertas-kertas itu ketika seorang pria memanggilnya dan mengajak pergi. Song Yeon segera mengikuti pria itu.

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Orang tadi membawa Seong Yon untuk bertemu seseorang pria yang kelihatannya seorang pejabat.

Pejabat: (Mengamati Song Yeon dengan seksama) Apakah kau tadi mengatakan kalau namamu Sung Song Yeon?

Song Yeon: Ya Tuan…

Pejabat: Kau kelihatannya cukup pintar untuk ukuran seorang gadis kecil.

Pria: Ayahnya yang sudah meninggal dulu adalah seorang pria yang luar biasa, yang seharusnya bisa menjadi lebih dari sekedar seorang pelukis.

Pejabat: Benarkah begitu? Kelihatannya gadis ini bisa menjadi seorang calon dayang di Istana.

Song Yeon sangat senang mendengar perkataan pejabat itu.

Pria: Tapi mengingat kondisi Istana yang sekarang ini dalam keadaan goncang, apakah mereka masih mau menerima seorang calon dayang baru?

Pejabat: Raja telah memerintahkan agar kehidupan di Istana berlangsung normal seperti biasa. Pangeran Mahkota telah membuat Raja sangat marah. Apakah kau pikir ia akan mati di kotak penyimpanan beras itu? (Pria yang membawa Song Yeon hanya mengangguk-angguk dengan tampang bodoh) Tapi apa yang bisa dimengerti oleh pria seperti aku ini mengenai politik di Istana? Bawalah ia keluar dan persiapkan dia dengan baik …

Pria: Baik Tuan …

Song Yeon senang karena akhirnya pejabat itu memutuskan akan membawanya ke Istana untuk menjadi seorang calon dayang Istana.

Di luar

Pria: (menggendong Wook) Aku akan mengirim Wook agar diadopsi oleh keluarga tabib Istana. Aku yakin kalau mereka akan mengasuhnya dengan baik, jadi kau jangan pernah mencoba untuk mencarinya. Mengerti?

Song Yeon: (bersedih tapi menguatkan hatinya untuk tersenyum) Ya …

Pria: Kau harus bekerja dengan keras di Istana. Kau harus menjadi seorang dayang Istana dan membalas budi atas kebaikannya (pejabat yang membantu mereka).

Song Yeon: Baik Tuan.

Pria itu membalikkan tubuh dan beranjak pergi, tapi Song Yeon memanggilnya kembali.

Song Yeon: Tunggu sebentar Tuan. (Pria itu berbalik) Aku mohon agar Tuan mengijinkan aku untuk menghabiskan sedikit waktu saja bersama dengan Wook kecil.

Di teras rumah pejabat

Song Yeon melukis di secarik kertas bekas, menggambar ayah ibunya.

Song Yeon: Bagaimana menurutmu, Wook kecil? Apakah gambar ini terlihat seperti ayah dan ibu? (Wook hanya menatapnya dengan mata kecilnya) Sekarang aku akan melukis kita berdua. Aku akan menyimpan yang ini. Aku akan melihatnya setiap hari. (Song Yeon menggambar si bayi Wook, yang menatapnya)

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Aku akan melihatnya sebelum aku makan dan sebelum aku tidur. Aku akan terus melakukan itu sehingga aku akan segera mengenalimu ketika aku bertemu lagi denganmu nanti … (Song Yeon menggambar si  bayi Wook lengkap dengan selimutnya)

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Tapi ketika kau nanti beranjak dewasa, wajahmu pasti akan berubah. Bagaimana nanti aku bisa mengenalimu? Jika wajahmu berubah menjadi seperti wajah katak maka aku akan berpura-pura tidak akan mengenalimu. (Si Wook menangis) Oh .. tidak tidak Wook! Aku hanya bergurau denganmu. (Song Yeon segera menggendong Wook kecil untuk menghiburnya)

Aku akan pergi dan mencarimu .. Aku akan pergi dengan diam-diam dan menemuimu. Jadi Wook, ingatlah untuk bertumbuh dewasa seperti ayah dan ibu, agar aku nanti bisa mengenalimu. Janji ya … (Song Yeon merangkul adiknya dengan sayang)

Istana

Pangeran Yi San sedang merasa sangat gundah gulana dan gelisah dalam hatinya, kadang berdiri dan mondar-mandir terkadang duduk..

Kepala Dayang Paviliun Pangeran tampak tergesa-gesa dan memanggil Yi San.

Kepala Dayang: Yang Mulia … Yang Mulia Pangeran … …

Yi San: (berdiri) Bagaimana situasinya?

Kepala Dayang: Mereka tidak berhasil mengirimkannya. (Yi San tampak shock) Tampat itu dijaga dengan sangat ketat sehingga mereka tidak bisa mendekat sama sekali.

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Yi San: Lalu … lalu apa yang seharusnya kita lakukan? (terduduk sedih) Ini sudah hari kesepuluh di mana ayah sama sekali tidak mendapatkan air.

Kepala Dayang: Yang Mulia …

Yi San: Ini tidak bisa jadi … Aku … aku sendiri yang akan pergi ke sana …

Yi San segera beranjak pergi, tetapi Kepala Dayang menghentikannya.

Kepala Dayang: Tidak Yang Mulia Pangeran, kau tidak boleh pergi ke sana. Raja telah menurunkan perintah untuk melarang siapapun memasuki tempat itu.

Yi San tampak sangat terkejut mendenngar kabar itu.

Di bagian lain Istana

Serombongan anak-anak dan remaja lelaki sedang memasuki Istana.

Kasim Nam: Kalian adalah calon-calon kasim yang kelak akan menjadi kasim. Kasim harus melindungi keselamatan dari Raja dan anggota keluarga kerajaan dengan hidup kalian. Mulai sekarang, kami akan melatih kalian untuk meningkatkan kekuatan fisik kalian.

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Tampak beberapa anak digantung terbalik dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Ada yang dilatih dengan kepala di atas pasir dengan tubuh membentuk V terbalik. Beberapa anak tidak tahan, menangis dan berteriak tidak tahan, beberapa ada yang pingsan selama latihan.

Seorang anak bernama Dae Su mendapatkan giliran untuk digantung terbalik, Dae Su ketakutan dan tidak mau tapi seorang kasim menyeretnya dan dibantu rekannya menggantung Dae Su. Dae Su terus menjerit-jerit selama gilirannya.

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Kasim Nam: Duh .. anak ini ..

Kasim: Apakah aku harus menyumpal mulutnya?

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Kasim Nam: Lakukan saja!

Kasim: Baik Tuan ..

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Ketika si kasim akan mengambil kain, Dae Su bergoyang-goyang dengan keras sehingga ia jatuh ke tanah dengan celananya masih tergantung di tiang sehingga tubuh bagian bawahnya TELANJANG … ( OMG … aahahahahha ).

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Semua orang tertawa keras melihat kejadian lucu ini.  Si Kasim tadi melihat bagian bawah si Dae Su dan terkejut, ia memanggil kasim Nam, yang segera datang dan melihat “itu” nya Dae Su. Dae Su terkejut dan menyadari sesuatu, ia segera berusaha menutupi “itu” nya, tapi terlambat … Kasim Nam sangat terkejut karena ternyata Dae Su masih punya “itu” …

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Kasim Park (paman Dae Su) juga terkejut …

Kasim Nam: Bagaimana ini bisa terjadi?

Dae Su terlihat gugup dan ketakutan …

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Para kasim segera mengadakan rapat, Kasim Penanggung Jawab Pelatihan menegur Kasim Nam, bagaimana bisa anak yang belum dikebiri masuk dan menjadi seorang calon kasim? Kasim Nam beralasan mungkin saja ada kekeliruan di Departemen Bagian Dalam Istana. Kasim Penanggung Jawab bertanya pada Kasim Park kalau ia mendengar bahwa anak itu masih ada hubungan kekerabatan dengannya. Kasim Park dengan takut-takut mengiyakannya, anak itu adalah keponakannya.

Kasim Penanggungjawab: Mengapa kau tidak tahu kalau ia masih belum dikebiri?

Kasim Park: Aku minta maaf, tapi dulu sewaktu kecil ia pernah digigit oleh anjing, jadi aku tidak berpikir kalau akan ada masalah nantinya.

Kasim Penanggungjawab: Diam! Ia harus keluar Istana atau dikebiri! Apakah kau mengerti!

Kasim Park: (takut-takut) Baik Tuan, aku akan memastikan kalau masalah ini akan segera diurus.

Sementara itu

Dae Su: Aku ingin tahu, seberapa sakit jika “itu” ku dipotong?

Dae Su masih belum mengenakan celana, memegang “itu” nya dan menggoresnya …

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Dae Su: Ah .. auh …  segini? Oh tidak … itu akan mengeluarkan darah sangat banyak … Nanti bisa-bisa akan terasa lebih sakit lagi.

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Serombongan gadis kecil calon dayang dipimpin oleh beberapa dayang sedang lewat di dekat Dae Su ketika ia berteriak kesakitan dan memegangi “itu” nya.  Beberapa calon dayang melihat keadaan pakaian Dae Su dan tingkahnya yang konyol menjadi tertawa terbahak-bahak. Song Yeon ternyata sudah ada di antara mereka. Dayang yang memimpim mereka menegur karena keributan yang mereka buat tapi kemudian mendengar suara teriakan Dae Su dan menoleh untuk melihatnya.

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Dae Su juga mendengar suara tertawa para calon dayang sehingga ia mendongakkan kepalanya, ia menjadi sangat terkejut ketika melihat beberapa meter di depannya ada serombongan gadis kecil calon dayang sedang menertawainya. Wajah Dae Su memerah karena merasa malu. Ia segera menarik celananya dan berusaha berdiri, mencoba untuk pergi dari tempat itu, tapi terjatuh karena tersangkut celananya sendiri. Para gadis calon dayang kembali tertawa lebih keras lagi melihat kejadian konyol itu.

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Dae Su kembali berdiri dan sambil berlari ia berusaha membetulkan celananya.

Dae Su berhasil keluar dari situasi yang memalukan itu berlari ke dekat kolam Istna, ia kembali duduk dan memeriksa “itu” nya …

Dae Su: Apa yang bisa kulakukan?  Apa yang bisa kulakukan jika “itu” berdarah?

Song Yeon ternyata menyusulnya …

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Song Yeon: Hey …

Dae Su terkejut dan segera berdiri menyembunyikan diri di balik sebuah pohon di dekatnya, berusaha membetulkan celananya …

Dae Su: Oh … ya ampun …

Song Yeon juga terkejut dan segera menutup wajahnya dengan jubah lengannya ….

Dae Su: (berhasil membetulkan celananya dan duduk) Siapa … siapa kau?

Song Yeon yang masih menutupi wajahnya, menjulurkan tangannya yang memegang topi kasim versi kecil, milik si Dae Su.

Song Yeon: Nyonya yang menyuruhku untuk mengembalikan ini kepadamu.

Dae Su terpana … Melihat Dae Su tak bergerak, Song Yeon menghampiri Dae Su, tangan kanannya masih di wajah, dan memberikan topi itu pada Dae Su yang segera merebut topinya. Song Yeon kemudian segera berbalik dan beranjak pergi.

Dae Su: He … Hey … (Song Yeon berbalik, Dae Sun bertanya gugup) Apakah … apakah kau melihatnya?

Song Yeon: (tidak mengerti) Huh?

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Dae Su: A .. apakah kau melihat “itu” ku? (Dae Su merasa malu sendiri)

Song Yeon: …. (tersenyum geli dan berbalik kemudian beranjak pergi)

Dae Su: (gugup sendiri) Hey … kau … (berteriak) paling tidak jawablah pertanyaanku!

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Song Yeon: (berbalik) Jika tempat “itu” terasa sakit, kau seharusnya minum Teh Dandelion Merah, itu akan membuatmu sembuh lebih cepat. (Song Yeon mengira si Dae Su merasa kesakitan karena abis dikebiri :P)

Dae Su: A .. apa?

Song Yeon segera beranjak pergi dari tempat itu meninggalkan Dae Su yang melongo …

Terdengar suara orang berlari dan berteriak …

Kasim Park: PARK DAE SUUUUU …

Dae Su berusaha lari, tapi pamannya mana mau melepaskan si Dae Su. Ia segera mencekal Dae Su dan menjewar kupingnya dengan keras  Dae Su meringis kesakitan. …

Kasim Park: Kau si kecil ini …! Beraninya kau datang ke Istana tanpa dikebiri terlebih dahulu! Apakau kau sudah gila?

Dae Su: (menahan sakit karena kupingnya masih dijewer) Paman, aku tidak mau menjadi seorang kasim, aku ingin pulang saja!

Kasim Park: (sangat jengkel dan memukul kepala Dae Su) Kau bajingan kecil! Kau tidak bisa pulang setelah semua yang terjadi ini!

Dae Su: (berteriak kesal) Mengapa kau memukulku? Aku tidak ingin menjadi seorang kasim! Aku sangat takut!

Kasim Park segera menutup mulut si Dae Su yang berteriak-teriak keras.

Kasim Park: Diam! Kau lebih baik mengucapkan selamat tinggal pada barang pribadimu itu, karena aku akan mengikatnya dengan tali! (Ia menyeret Dae Su) Kesini kau!

Malam hari

Dua penjaga sedang berpatroli ketika mereka mendengar suara gemerisik daun.

Penjaga: Siapa di sana? Tunjukkan dirimu!

Karena tak terdengar jawaban, keduanya segera menghampiri sumber suara tadi dengan perlahan-lahan. Tapi ketika melihat tempat itu kosong dan tidak ada orang di sekitar sana, mereka berdua segera pergi untuk melanjutkan patroli mereka.

Sesosok bayangan kecil mengawasi kepergian mereka, ternyata Pangeran Yi San. Ia membawa sebuah bungkusan berwarna merah muda. Yi San mengawasi ke sekelilingnya.dan mengendap-endap pergi.

Dua orang gadis kecil calon dayang sedang disuruh, salah satunya adalah Song Yeon.

Calon dayang: Aku takut …

Song Yeon: (berusaha tegar) Jangan takut, ikut saja aku!

Calon Dayang: Arah sini …

Mereka berdua sampai ke bagian Istana dalam.

Calon Dayang: Sungguh gelap di sini, aku takut kalau ada hantu yang nanti muncul.

Song Yeon: Tahanlah sedikit! Gab Yi akan menghukum kita jika kita tidak membawa makanan dari Dapur Istana.

Calon Dayang: Tapi aku masih merasa takut, aku tidak bisa mengikutimu lagi …

Song Yeon: Kalau begitu kau tunggulah di sini, aku akan segera kembali…

Calon Dayang: (melihat ke sekeliling) Di sini sendirian?

Sementara itu Yi San sudah berhasil memasuki Istana bagian dalam tapi terkejut saat melihat dari kejauhan serombongan orang, yang tampaknya rombongan Ratu yang akan kembali ke kamarnya. Yi San segera bersembunyi tapi ia mendengar suara di dekatnya … ternyata Song Yeon berjalan persis di depan tempat persembunyian Yi San.

Song Yeon: Di dekat gudang makanan adalah gudang gandum dan dibelakangnya seharusnya adalah Dapur Istana.

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Yi San yang takut terpergok oleh rombongan Ratu, segera menuju ke belakang Song Yeon dan menekap mulutnya kemudian menyeretnya untuk bersembunyi sambil berbisik pada Song Yeon untuk tidak bersuara. Keduanya melihat rombongan Ratu yang sedang menuju ke arah mereka.

Yi San: Ikuti aku, jika kita tetap di sini, mereka nanti akan memergoki dan menangkap kita.

Mereka berdua segera berpindah tempat dengan mengendap-endap sambil melihat rombongan Ratu. Keduanya segera pergi dari tempat itu ketika melihat rombongan Ratu tidak melihat ke arah mereka.

Tak seberapa jauh, Song Yeon jatuh terduduk sambil meringis, ia membuka gaunnya dan memijat kakinya.

Yi San: Apa yang sedang kau lakukan di sini? Kau hampir saja membuatku terjerumus dalam masalah besar! (Song Yeon tampak mau menangis karena menahan sakit) Kau kelihatannya seperti dayang Istana, tapi apa yang sedang kau lakukan di tempat seperti ini? Bagaimana bisa seorang dayang Istana berkeliaran di Istana pada jam segini?

Song Yeon: A …aku …

Tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram kaki Song Yeon yang sakit sehingga Song Yeon menjerit, Yi San segera menekap mulut Song Yeon.

Yi San: Diam! Apa kau sudah sinting?

Tapi Song Yeon menunjukkan jarinya ke arah kakinya yang dicengkeram. Yi San melihat tangan itu dan berteriak terkejut demikian juga dengan Song Yeon, mereka segera berdiri dan mengawasi Dae Su yang keluar dari kolong bangunan tempat mereka bersembunyi.

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Yi San: Si .. siapa kau? Siapa kau?

Dae Su: (berdiri dan berusaha membersihkan pakaiannya) Aku hampir saja kencing di celana. Siapa kalian berdua ini?

Song Yeon melihat Dae Su dan mengenalinya ..

Song Yeon: Kau … kau ini … anak itu …

Dae Su juga mengenalinya …

Dae Su: Uh … (berteriak) “Barang” ku ….

Yi San segera menekap mulut Dae Su … tapi terlambat …

Suara pengawal: Siapa di sana? Siapa di sana?

Terlihat pengawal sedang mencari sumber suara, Yi San gugup dan segera mengajak kedua rekannya pergi.untuk bersembunyi. Dan untungnya para pengawal itu tak memeriksa dengan teliti sehingga mereka lolos. Ketiganya segera menghela napas lega dan jatuh terduduk saat melihat bahaya sudah berlalu.

Dae Su: Kita hampir saja tertangkap …

Song Yeon: Yah aku tahu …

Yi San: Dasar kalian pengacau … (Song yeon dan Dae Su menoleh ke arahnya) Kalian berdua berlutut!

Dae Su: … A .. apa?

Yi San: (bangkit berdiri, nada memerintah) Berlutut di hadapanku!

Song Yeon hanya menatapnya dengan heran demikian juga dengan Dae Su yang menatapnya dengan pandangan bodoh …

Yi San: Sekarang!

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Keduanya berlutut sementara Yi San mondar-mandir di sekeliling mereka berdua berlagak seperti bos … :P…

Yi San: Benarkah begitu? Kalau begitu itu adalah kesalahan dari atasanmu! Tapi bagaimanapun juga, adalah hal terlarang untuk berkeliaran di halaman Istana, jadi jangan ulangi lagi lain kali! Apakah kalian mengerti? (Pada Dae Su) Dan apa penjelasanmu? (Dae Su mendongakkan kepalanya) Apakah Kantor Urusan Dalam Istana juga memberimu tugas?

Dae Su: (tergagap) A .. aku .. aku hanya berjalan-jalan saja …

Yi San: Apa? .. berjalan-jalan? Aturan Istana sangat ketat, bagaimana kalian bisa tidak menghiraukannya?

Song Yeon: (mendongak, nada tidak terima) Lalu bagaimana denganmu sendiri? Apa penjelasanmu?

Yi San terkejut dan tidak dapat menjawabnya, tidak menyangka akan ditanya seperti itu …

Dae Su: (berdiri) Itu benar … Kau juga seharusnya tidak boleh berada di tempat ini, jadi kenapa kau justru menegur kami? (Song Yeon berdiri, menatap tajam Yi San)

Yi San: (tergagap)  A .. aku …

Dae Su: (membentak) Kau … kau harus berlutut juga! Kenapa kau menjadi pengecualian? Memangnya kau siapa?

Yi San: Aku tak punya alasan untuk memberitahumu!

Dae Su: (kesal) Apa?

Song Yeon: Kau bahkan menyuruh kami berdua untuk berlutut! (Yi San kalah bicara)

Dae Su: Setelah kupikir-pikir, ada sesuatu yang janggal mengenai dirimu. Aku tidak pernah melihat dirimu dalam masa pelatihan sebelumnya.

Song Yeon: (pada Yi San) Kau … siapa namamu? Katakan pada kami siapa namamu!

Yi San: A .. aku … namaku … (berpikir sebentar) Mu Duk … Namaku Mu Duk!  Alasan kalian tidak pernah melihatku .. (berpikir lagi) … itu karena aku sudah mendapat tugas.

Dae Su: Jangan bergurau! Bagaimana seseorang yang masih calon kasim sudah mendapat penugasan?

Yi San: (tertawa angkuh) Hah! Kau tidak tahu mengetahui hal ini? Berarti kau masih orang baru di Istana ini!

Dae Su: A … apa ??

Yi San: (nada angkuh) Calon Kasim yang mendapatkan nilai tertinggi selama masa pelatihan diberikan tugas di Kediaman Keluarga Raja. Aku sudah menyelesaikan masa pelatihanku bulan lalu dan sekarang aku melayani sang Pangeran.

Dae Su: Be .. benarkah? Apakah itu memang yang sebenarnya? (pada Song Yeon) Apakah kau mengetahui ada hal seperti itu? (Song Yeon menggelengkan kepalanya)

Yi San: Apakah kau tidak pernah menaruh perhatian semasa dalam pelatihan? Tidak heran aku memang harus mendisiplinkan dirimu. (Song Yeon dan Dae Su tertunduk kalah) Tapi aku ada urusan penting yang mendesak untuk kulakukan, aku harus pergi. Jadi kalian berdua jangan keluyuran lagi dan kembalilah ke kamar kalian masing-masing!

Yi San membalikkan tubuhnya, mengambil bungkusan dan beranjak pergi, tapi Song Yeon berlari mendekatinya.

Song Yeon: Tunggu … Jika kau tahu situasi Istana dengan baik, bisakah kau menolongku? Aku harus menemukan Dapur Istana.

Yi San: (ragu-ragu) Itu …

Song Yeon: Hanya beritahu aku bagaimana caranya pergi ke gudang gandum saja.

Yi San: Aku minta maaf, tapi aku tak bisa menolongmu karena aku harus melakukan tugas dari Pangeran.

Song Yeon: (kecewa) Baiklah …

Yi San segera beranjak pergi …. Raut wajah Song Yeon sangat sedih, tapi kemudian Yi San kembali lagi …

Yi San: Baiklah … Ayo kita lakukan cara ini saja  …

Song Yeon: (senang karena Yi San kembali) Cara apa? (Dae Su juga ingin tahu)

Di lain tempat …

Tampak rombongan Ratu bertemu dengan rombongan Kepala Pengawal Istana, mereka berdua saling bertukar isyarat tanpa membuka suara … Ratu kemudian melanjutkan perjalanannya … Si Kepala Pengawal memberikan jalan dan tersenyum puas sepeninggal Ratu…

Ratu dengan para pengiringnya menuju ke kamar peraduan Raja, Kasim Kepala Paviliun Raja menghadang Ratu di depan kamar dan membungkuk hormat.

Ratu: Mengapa kau harnya berdiri dan diam saja? Umumkan kedatanganku kepada Yang Mulia Raja!

Kasim Kepala: (serba salah) Tapi Yang Mulia Raja …Raja telah menurunkan perintah kalau beliau tidak ingin diganggu oleh siapapun malam ini.

Ratu menatapnya tajam, karena si Kasim tak mau melakukannya maka ia sendiri yang membuka suara ….

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Ratu: Yang Mulia, ini aku … Jung Soon …

Hening …

Ratu: Yang Mulia … ini aku, Ratumu …

Tak ada jawaban …

Kasim Kepala: Maaf Yang Mulia Ratu, Yang Mulia Raja …

Ratu segera menjatuhkan diri berlutut di depan kamar Raja, semua orang kaget …

Ratu: (nada memelas) Yang Mulia, ini sudah berlangsung 6 hari … Pangeran Mahkota belum makan dan minum setetes air pun selama 6 hari …  (Raja ternyata sedang duduk termenung) …. Apakah kau bermaksud untuk membunuh Pangeran Mahkota? (Raut wajah Raja tampak resah) Meskipun ia tidak dilahirkan dari rahimku, tapi aku tetap ibunya. Bagaimana kau bisa menyuruhku untuk berdiam diri saja dan hanya menyaksikan semua kejadian ini?

Kau tahu betapa berbaktinya Pangeran Mahkota terhadapmu. Dia tak akan pernah melakukan pengkhianatan itu! Kumohon agar kau bertemu dan berbicara dengannya … (Raja tampak berpikir) Yang Mulia, ia tak akan pernah bisa melakukan pengkhianatan seperti itu, kumohon agar kau bertemu dan berbicara dengannya. Kumohon agar kau berbicara dengannya sehingga semua kesalahpahaman ini dapat dijernihkan, Yang Mulia.

Ratu melakukan penyembahan dii depan kamar sebagai tanda bukti bahwa permintaanya setulus hati pada sang Raja. Raja tampak termenung dan berpikir …kemudian menghela napas …

Sementara itu …

Dae Su: Apa? Gedung Pengadilan Istana? Apa kau sudah sinting? Itu adalah daerah terlarang! Tak seorangpun diijinkan untuk menginjakkan kaki di sana!

Song Yeon: Kenapa? Kenapa itu dilarang?

Dae Su: Itu adalah tempat di mana terdapat kotak penyimpanan beras, yang berisikan Pangeran Mahkota di dalamnya!

Dae Su tiba-tiba sadar kalau berita ini tidak boleh sampai terdengar orang lain sehingga ia menutup mulutnya segera.

Dae Su: Apapun alasannya, kita tidak bisa mendekat ke sana. Itu sangat berbahaya!

Yi San: Kau tidak perlu untuk menyertaiku, yang perlu kau lakukan hanyalah berjaga-jaga mengawasi keadaan.

Song Yeon: (pada Dae Su) Apa yang akan kau lakukan? Apakau kau akan menyertainya?

Dae Su: Apa kau sinting? Kenapa aku harus pergi ke sana? Aku harus keluar dari Istana sebelum siang … ! (Ups, Dae Su segera menutup mulutnya dengan tangannya, menyadari kesalahan bicara .. Song Yeon juga terperanjat) Ap … Apapun itu, aku tidak akan pergi! Aku akan melanjutkan perjalananku saja! (Dae Su segera berbalik dan berjalan pergi)

Song Yeon: (kaget dan segera menyusulnya) Hey … Hey ….

Tapi Dae Su pura-pura tak mendengarnya dan terus berjalan pergi … Song Yeon membalikkan tubuhnya menatap Yi San.

Song Yeon: (menelan ludah) Baiklah … Ayo kita pergi … Aku akan membantumu! (Yi San tersenyum senang) Lagipula aku juga harus menemukan Dapur Istana.

Yi San: Kau yakin?

Song Yeon: (menganggukan kepalanya) Ya, di mana letak Gedung Pengadilan Istana itu?

Yi San: (nada senang) Gedung Pengadilan? … (berpikir sejenak) Ah tidak … kita akan pergi ke Dapur Istana terlebih dahulu! Aku pikir itu yang lebih baik.

Song Yeon: Benarkah? Apakah kita akan melakukan itu?

Yi San mengangguk dan segera beranjak pergi dengan Song Yeon mengikuti di belakangnya … Tiba-tiba seseorang berlari menyusul mereka …

Dae Su: Tunggu …. Tunggu aku … (Song Yeon dan Yi San berbalik) Aku juga pergi …

Song Yeon: Benarkah?

Dae Su: Hanya … hanya sampai ke Dapur Istna, aku tidak mau pergi ke Gedung Pengadilan.

Yi San: (tersenyum geli tapi sekaligus senang) Jadi kau ternyata seorang laki-laki, heh anak kecil?

Dae Su: Apa? Kau ingin mati ya ? Berapa sih usiamu?

Yi San tak mempedulikannya dan segera meraih tangan Song Yeon, mengajaknya pergi.

Dae Su: (masih tidak terima, berkacak pinggang) Hei …. Aku tahun ini berumur sebelas! Berapa usiamu?

Ketiganya berjalan dengan hati-hati, bersembunyi di balik bayangan pepohonan dan juga bangunan sambil mengawasi sekelilingnya dengan waspada sampai akhirnya tiba di salah satu pintu pagar Dapur Istana. Yi San mencoba untuk mendorongnya … tak bisa dibuka karena dipalang dari dalam.… Yi San mengira-ngira ketinggian dari pagar tembok itu dan menemukan akal …

Yi San: (pada Dae Su) Kau membungkuklah …

Dae Su: Mengapa? Kenapa tidak kau saja yang membungkuk?

Yi San: Uh huh … Cepatlah!

Dae Su: Tidak, kau saja yang membungkuk!

Song Yeon: Jangan bertengkar, sudah aku saja yang membungkuk!

Song Yeon mau membungkuk, Dae Su menjadi tidak enak sehingga ia mencegah Song Yeon, ia melirik kesal pada Yi San ..

Dae Su: Baiklah … baiklah … aku akan melakukannya!

Dae Su segera membungkukkan badannya untuk dijadikan pjakan oleh Yi San dan Song Yeon … ia mengerang kesakitan saat diinjak oleh kedua rekannya bergantian …

Mereka bertiga berhasil masuk ke halaman Dapur Istana, Yi San segera bergegas mengawasi keadaan sekitarnya sementara kedua temannya menunggu … Saat dirasa keadaan aman ia memberikan tanda pada rekan-rekannya dan mereka segera masuk ke dalam Dapur Istana.

Di dalam mereka bertiga segera berpencar untuk mencari barang yang dibutuhkan Song Yeon, tapi ternyata belum menemukannya. Dae Su menghampiri mereka sambil membawa sebuah bungkusan kain kecil dan membukanya, ternyata itu adalah nasi kepal yang dicari-cari Song Yeon. Dae Su sangat puas ketika melihat wajah senang dari Song Yeon.

Ketiganya segera pergi ke tempat di mana Dae Su menemukan nasi itu, dan sangat senang menemukan bermacam-macam makanan ada di sana. Yi San segera mengambil beberapa macam makanan dan menaruhnya ke dalam sebuah bakul yang dipegang oleh Song Yeon, sementara Dae Su dengan rakusnya makan apa yang ada … Yi San dan Song Yeon tertawa geli melihat tingkah Dae Su dengan mulut penuh bergaya pula …

Beberapa saat kemudian …

Patroli penjaga berkeliling memeriksa … Ketiganya bersembunyi di bawah jembatan kolam. Saat penjaga sudah pergi, Dae Su dan Yi San segera memanjat jembatan, namun Song Yeon tak bisa melakukannya, ia tergantung. Dae Su dan Yi San segera mengulurkan tangan kanan masing-masing bermaksud untuk menolong Song Yeon, Song Yeon memandang keduanya bergantian dan sedikit bingung memilih, namun akhirnya ia memilih tangan Yi San, Dae Su tampak kecewa dan menarik diri dari jembatan. Yi San berhasil menarik Song Yeon ke atas jembatan sementara Dae Su memandang iri padanya. Dae Su semakin jengkel saat melihat Yi San menepuk-nepuk dan membersihkan baju Song Yeon dari debu dan kotoran. Yi San langsung menarik tangan Song Yeon dan mengajaknya pergi, Dae Su hanya melongo menatap mereka lalu tersadar dan segera menyusul ke arah mereka pergi.

Ketiganya sudah sampai di daerah halaman Gedung Pengadilan, Yi San mengawasi ke sekelilingnya dan merasa curiga …

Yi San: Ada sesuatu yang aneh … Mengapa tak terlihat para penjaga?

Song Yeon: Bukankah itu justru bagus?

Yi San: (menoleh pada kedua temannya) Saat aku masuk, kalian harus segera pergi dari sini. Jika kalian tetap di sini, kalian nanti mungkin menghadapi bahaya besar. (Song Yeon mengangguk-angguk cemas)

Yi San: (pada Daesu) Bukankah kau seharusnya sudah melanjutkan perjalananmu?

Dae Su: Huh? Oh … iya … aku baru akan melakukannya …

Song Yeon: (pada Dae Su) Terima kasih atas bantuanmu ..

Dae Su: (senang hati) Eh … Sebenarnya seorang laki-laki memang harus melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang laki-laki. Omong-omong siapa namamu?

Song Yeon: Namaku Song Yeon … lengkapnya Sung Song Yeon!

Dae Su: Namaku Park Dae Su …

Yi San: (pada Song Yeon) Ayo kita pergi sekarang …

Song Yeon: Oh … baiklah … (Dae Su tampak tidak senang)

Yi San: (pada Dae Su) Omong-omong, jika kau ingin keluar dan melarikan diri dari Istana lebih baik kau hindari gerbang utama!

Dae Su: A .. apa? Melarikan diri? Siapa yang mau melarikan diri? Siapa?

Tapi Yi San sudah tidak mempedulikan Dae Su, ia bersama-sama dengan Song Yeon masuk ke halaman Gedung Pengadilan dengan mengendap-endap, bersembunyi di balik bayangan bangunan-bangunan.

Dae Su: (pada dirinya sendiri) Bagaimana ia bisa tahu kalau aku mau melarikan diri dari Istana?

Dae Su kemudian pergi ke arah lain …

Sementara itu …

Yi San mengawasi ke sekelilingnya, maju perlahan-lahan dan ketika tak melihat ada penjaga, ia segera memberi tanda pada Song Yeon. Mereka berdua maju sedikit, kemudian Yi San memberi tanda isyarat aku-ke-sana-kau-berjaga-di-sini-untuk-mengawasi, lalu segera pergi meninggalkan Song Yeon. Song Yeon mengawasi ke sekeliling dengan hati sedikit gentar dan takut …

Yi San maju perlahan-lahan menuju ke halaman Gedung Istana dan berhenti saat melihat kotak penyimpanan beras di mana ayahnya ditahan.

Yi San: Bagaimana … bagaimana ini bisa terjadi?

Yi San kembali melanjutkan langkah kakinya dengan hati sedih … sampai ke depan kotak tersebut.

Yi San: (nada sedih) Ini … Ini tidak bisa terjadi, Yang Mulia Pangeran Mahkota!

(catatan: sudah biasa pada jaman dahulu, seorang anak anggota keluarga kerajaan kadang memanggil ayahnya atau ibunya dengan jabatan/sebutan kehormatan)

Yi San segera menjatuhkan dirinya berlutut …

Yi San: (nada tangis) Ini tidak bisa terjadi ! (menyembah) Abamama ! …. Abamama! …

Sado: (suara lemah) Siapa itu? (Yi San terkejut tapi senang) Siapa … siapa di luar sana?

Yi San: (meneteskan air mata duka bercampur sedih) Abamama!

Sado mendengar suara anaknya menjadi terkejut dan seketika hatinya bergelora …

Sado: San? …. Benarkah kau itu anakku San?

Yi San: (menangis) Ya … ini aku, benar ini aku San!

Sado: San? Kau kah itu San?

Sado perlahan-lahan menjulurkan tangannya keluar dari lubang yang telah dibuat oleh anakbuah Kasim Nae Sun … Yi San melihatnya dan segera maju untuk menggenggam tangan ayahnya dengan kedua tangan kecilnya … Sado balas menggenggam tangan anaknya dengan erat …Yi San hatinya sangat berduka melihat keadaan ayahnya, ia menangis sedih …

Yi San: Abamama!

Sado: San … anakku San …

Yi San: (menangis sedih) Abamama! Betapa kurus kau sekarang! Bagaimana bisa tanganmu menjadi sekurus ini?

Sado: San … anakku San … apakah kau baik-baik saja? Apakah kau …. tidak disakiti?

Yi San: (mengangguk sedih) Ya …. Iya, Abamama!

Sado: (merasa sangat lega) Bagus! Itu sangat bagus! Tapi kau tidak boleh berada di tempat ini …

Yi San: Abamama, aku sekarang membawakan makanan untukmu untuk kau makan. Aku telah membawa ….

Sado: (memotong perkataan Yi San) Tidak! Tidak … anakku!

Yi San: Tidak Abamama! Kau harus makan sesuatu … (melepaskan tangan ayahnya dan mengambil buntalannya) Aku tidak bisa membawa banyak …. (mengambil nasi kepal dan menyusupkannya ke tangan ayahnya) Kumohon kau makanlah ini dan pulihkan kekuatan tubuhmu. Aku … aku akan kembali lagi … besok …

Sado: (menangis sedih) Akankah kau kembali lagi?

Yi San: (menangis lagi) Abamama!

Sado: Oh para dewa, kumohon … jangan biarkan sesuatu terjadi kepada anakku! (pada Yi San) Pergilah sekarang …. !

Yi San: (berat hati) Abamama!

Sementara itu …

Dae Su sedang berusaha untuk keluar dari Istana, berjalan mengendap-endap, hatinya sedikit gentar …  ia bersembunyi di balik sebuah tembok dan mengingat peringatan Mu Duk (alias Yi San) …

Yi San: Jika kau ingin keluar dan melarikan diri dari Istana lebih baik kau hindari gerbang utama!

Dae Su: Dia lebih kecil dari aku, tapi selalu memberitahuku apa yang harus kulakukan!

Dae Su beranjak pergi dari tempat persembunyiannya, tetapi segera menyembunyikan diri lagi saat melihat sebuah rombongan melintas. Dae Su mengintip dan melihat kalau itu ternyata adalah rombongan Raja sedang berjalan menuju ke arah Gedung Pengadilan Istana….

Dae Su: Uh oh … mereka .. mereka sedang menuju ke Gedung Pengadilan!

Ia segera beranjak pergi bermaksud untuk memberitahu Song Yeon dan Yi San, tapi kemudian ragu-ragu …

Dae Su: Aku tak tahulah ! Mengapa aku harus peduli pada mereka?

Ia berbalik lagi ke tempat persembunyiannya, tapi hatinya merasa tidak enak …

Dae Su: (Bingung dan serba salah) Aduh … apa yang harus kulakukan??

Di lain tempat …

Yi San: (menangis sambil memegangi tangan ayahnya) Aku tak bisa pergi, aku tak bisa meninggalkan Abamama di tempat ini dalam keadaan seperti ini!

Sado: Kau harus! Kau harus tetap hidup!

Yi San: Abamama!

Sado: Dengarkan aku, San! Di kotak penyimpanan jubahku, di sana ada lukisan milikku. Berikan itu pada kakekmu, Yang Mulia Raja. Lalu … lalu kakekmu akan memberikan waktunya untuk mendengarkanmu … (Yi San mendengarkan ayahnya sambil menangis) Dan …janjjilah padaku satu hal …Berjanjilah padaku kalau kau akan menjadi seorang Raja yang baik dan bijaksana. Jika saja … jika saja …. Ada sesuatu yang buruk terjadi pada diriku …. Janganlah simpan kepahitan di dalam hatimu! Janganlah kau hancurkan dirimu sendiri dengan kebencian dan amarah. Apakah kau mendengarkanku, San? (terdengar suara San menangis) Apakah kau mengerti kata-kataku, anakku?

Yi San: (menangis) Ya, Abamama! … Abamama!

Sado: Pergilah sekarang! Bergegaslah dan pergi segera!

Yi San: Abamama!

Sado: (berteriak lemah) Tinggalkan tempat ini sekarang! Cepat! Cepatlah! (Sado menarik tangannya ke dalam)

Yi San: (airmata bercucuran) Abamama! … Abamama! Abamama! … Abamama!

Tiba-tiba terdengar suara orang berteriak dengan tergesa-gesa

Song Yeon: Mu Duk! Mu Duk!

Yi San segera menoleh dan melihat Song Yeon berlari menuju ke arahnya … sementara Dae Su tampak bertingkah aneh di depan sana …

Song Yeon: Mu Duk! Masalah besar!

Yi San: (tidak mengerti) Huh?

Song Yeon: Kita ada dalam masalah besar! Seseorang sedang dalam perjalanan kemari!

Yi San terkejut dan menjadi panik …

Tandu Raja sampai di depan pintu gerbang Gedung Pengadilan …

Raja: Tahan!

Pengusung tandu berhenti demikian juga dengan pengiring lainnya.

Raja: (pada Kasim Kepala yang di sampingnya) Di mana semua para penjaga?

Kasim Kepala tampak terperanjat dan mengawasi ke sekelilingnya …  memang benar tidak ada seorangpun penjaga yang tampak.

Raja: Turunkan!

Para pengusung segera menurunkan tandu, Raja melangkah turun dan masuk ke melalui pintu gerbang Gedung Pengadulan. Raja semakin heran karena di dalam juga kosong. Raja melanjutkan tindakannya sampai di depan kotak penyimpanan beras, di mana Sado ditahan. Ia melihat ke sekitar dan menemukan sesuatu di bawah kotak …

Raja: (menunjuk) Apa itu? Benda apa itu?

Kasim Kepala: Apa … yang kau bicarakan, Yang Mulia?

Raja mendekati kotak dan menemukan kue beras serta sebiji roti pia di sana. Raja mengambilnya dan melihat ke sekeliling, tapi tempat itu kosong. Raja mengawasi kue beras itu dan tampak mengerutkan keningnya, marah …

Di lain tempat …

Yi San berlari sambil menarik tangan Song Yeon ke bagian Istana lain …. Yi San panik dan berusaha untuk menemukan tempat persembunyian. Mereka berlari terus dan berusaha melepaskan diri dari para penjaga yang mengadakan pencarian besar-besaran. Sekelompok patroli melihat sekilas bayangan mereka berdua dan segera mengejar, beberapa kelompok penjaga bergabung dan mengadakan pencarian menyuluruh.

Yi San dan Song Yeon berlari terus sampai ke pojok Istana yang ternyata jalan buntu. Suara-suara para penjaga semakin mendekat … Yi San panik dan bingung … Seorang penjaga melihat mereka dan berlari ke arah mereka … Yi San mati kutu … Tiba-tiba terdengar suara gemerisik daun… Sesosok orang memunculkan wajahnya dari lubang di bawah tembok yang ditutupi dedaunan …

Dae Su: (berbisik) Hei. Mu Duk, Song Yeon … Kalian kemari! Cepat!

Yi San dan Song Yeon sangat senang melihat Dae Su, ia segera mendorong Song Yeon untuk masuk lubang itu kemudian menyusul teman-temannya. Para penjaga sampai ke tempat mereka tadi dan bingung saat tidak ada seorangpun di sana, mereka segera menyebar untuk melakukan pencarian kembali dan sama sekali tidak memperhatikan ada lubang di bawah tembok.

Yi San kedua temannya segera menyingkir dari lubang itu …

Yi San: (pada Dae Su) Apa yang terjadi? Mengapa kau bisa berada di sini?

Dae Su: Itu bukan hal yang penting sekarang! Yang terutama sekarang adalah meloloskan diri. Istana sekarang sedang dipenuhi dengan para penjaga!

Yi San terkejut mendengar kabar itu sedangkan Song Yeon tampak ketakutan …

Di lain tempat …

Para penjaga kembali kepada Raja …

Raja: Di mana mereka?

Kepala Pengawal: Kami sedang mencari para penyusup itu.

Raja memandangi kue beras itu dan berpikir, kemudian tiba-tiba ia kelihatan menduga sesuatu …

Sementara itu …

Ketiga anak kecil itu berlari terus sampai kehabisan tenaga dan kelelahan … Mereka jatuh kelelahan …

Dae Su: (terengah-engah) Aku akan mati kali ini! Penglihatanku mulai berubah menjadi kekuningan!

Yi San:  (Menatap pada Song Yeon) Mengapa kalian berdua kembali lagi?

Dae Su: Itu karena aku melihat para penjaga sedang menuju ke arahmu. Kau akan tertangkap mereka!

Song Yeon: Aku juga akan pergi, tapi aku melihat Dae Su. Dan kemudian aku melihat obor-obor yang datang. Kau tidak tahu kalau mereka sedang datang menuju ke arahmu. Apalagi yang seharusnya kami lakukan?

Dae Su: Haizzz …. Aku sudah gila! Aku sudah kehilangan pikiranku! Apa yang harus kulakukan dengan “barang” ku?

Yi San: Terima kasih! Aku berhutang budi yang amat besar pada kalian berdua! Aku tidak akan melupakan hutang ini!

Song Yeon: Kau juga sudah membantu kami, koq!

Dae Su: Untuk saat ini, sekarang semuanya sudah berakhir bagiku! Pada saat pagi hari menjelang pasti nantai akan terjadi kekacauan besar di tempat ini!

Yi San: Ya, kau memang benar!  Kejadian malam ini akan menimbulkan kekacauan jika diketahui semua orang. Kita harus merahasiakan kejadian malam ini!

Song Yeon: Tentu saja! Bukankah kita ini adalah teman!

Yi San: (terkejut) Teman?

Song Yeon: Iya, teman!

Dae Su: Baiklah, kalau begitu mari kita membuat sebuah janji untuk selalu merahasiakan kejadian ini!

Dae Su menjulurkan kelingking kanannya, Song Yeon mengaitkan kelingkingnya pada Dae Su, Yi San melihat itu dan segera mengaitkan kelingkingnya pada Song Yeong dan menempelkan jempolnya pada jempol Dae Su.

Song Yeon: Kita sudah membuat sebuah janji dan sebuah sumpah untuk kita jaga pada malam ini. Sebuah rahasia untuk membantu dan mendukung satu sama lain selamanya! (Yi San dan Dae Su memandang Song Yeon) Mari kita menepati sumpah kita ini! (Memandang pada keduanya) Janji?

Dae Su: (tertawa senang) Janji!

Yi San: (tertawa gembira) Janji!

Mereka mengangkat tangan mereka yang saling terkait ke udara dan saling memandang satu sama lain, sama-sama tertawa senang.

Esok pagi …

Seperti yang sudah diperkirakan Yi San, pagi hari itu Istana sangat kacau … Raja memanggil semua pejabat untuk mengadakan pertemuan. Dalam pertemuan itu Raja melemparkan kue beras dan juga sebiji pia ke hadapan mereka.

Raja: Adakah di antara kalian yang tahu apa ini? Ini adalah sepotong kue beras!

Para pejabat masih belum tahu maksud Raja … memandangnya dengan bingung ..

Raja: Terhukum di kotak penyimpanan beras terbiasa untuk menikmati makanan ini. Apakah ini tidaklah menunjukkan sebuah tindakah kesetiaan yang mutlak? (nada tinggi) Dan apakah ini tidaklah menunjukkan tindakan pengkhiantan melawan Raja?

Para pejabat: (serempak) Ampuni kami Yang Mulia!

Raja: (nada marah) Temukan siapapun yang melakukan tindakan ini! Dia bersalah karena mengadakan hubungan dengan terhukum pengkhianat itu! Tangkap siapapun orang itu dan dakwa dia dengan pengkhianatan! Jika kalian tidak melakukan ini, tak seorangpun boleh memasuki Balairung Istana ini lagi!

Para pengawal Istana segera disebar untuk melakukan pemeriksaan yang teliti. Keributan ini juga sampai di Paviliun Hae Kyung dan mengherankan sang Putri Hong Hun Kyung (ibu Yi San, istri Pangeran Mahkota Sado) yang kemudian keluar dan melihat banyak prajurit sedang berpatroli.  Tiba-tiba seseorang memanggil sang Puteri.

Menteri Hong Bong Han: Yang Mulia Puteri

Puteri Hun Kyung: (berbalik dan senang melihatnya) Ayah!

Menteri Hong tampak resah dan memandang sekitarnya ..

Puteri Hun Kyung masuk ke dalam kamarnya diikuti oleh Menteri Hong Bong Han Mereka berdua duduk berhadapan.

Menteri Hong: Ini sungguh tidak masuk di akal! Aku yakin ini adalah sebuah persengkongkolan! (Puteri Hun tidak mengerti) Seseorang menuntun Raja sampai ke kotak penyimpanan beras sehingga Raja menemukan makanan itu.

Yi San [Wind Of The Palace] | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Puteri Hun Kyung: Siapa yang berani melakukan hal seperti itu?

Menteri Hong: Bisa saja itu tindakan dari beberapa menteri di Istana. Semua anggota faksi Noron menginginkan kematian dari Pangeran Mahkota.

Puteri Hun: (gelisah) Aku harus berbicara dengan Yang Mulia Raja! (Ia bangun dari duduknya)

Menteri Hong: (mencegahnya) Yang Mulia Puteri!

Puteri Hun: (kembali duduk) Ini sudah hari ke-tujuh! Hari ke-tujuh, ayah!

Menteri Hong: Kau harus memikirkan nasib dari anakmu! Tidakkah kau tahu watak Yang Mulia Raja? (Puteri Hun baru sadar) Jika kau melangkah setindak saja, dia akan menunjukkan kemarahannya, dan kepada siapa kau kira kemarahannya itu akan jatuh?

Puteri Hun: (hati tersiksa dan sedih) Ini sungguh terlalu banyak …. Ini tidak bisa terjadi! Dia adalah Pangeran Mahkota dari negeri ini! Akankah … akankah ia mati tanpa seorangpun maju untuk mengadakan pembelaan terhadap dirinya?

Sementara itu …

Yi San sedang mondar-mandir di depan pintu gerbang Istana  Dong Goong (Tempat kediaman Pangeran Mahkota Sado) ditemani para dayang pengiringnya. Ia kemudian menemui seorang kasim yang baru saja keluar dari dalam dan bergegas menghampirinya.

Yi San: Bagaimana situasinya?

Kasim: Setelah kejadian kemarin, tidak seorangpun diijinkan untuk memasuki Istana Dong Goong. (Yi San tampak terpukul) … Yang Mulia Pangeran ….

Paviliun Pangeran Yi San

Yi San mondar-mandir di kamarnya, resah memikirkan nasib ayahnya … kemudian mengingat pesan dari ayahnya ..

Sado: Dengarkan aku, anakku … di kotak penyimpanan jubahku, di sana tersimpan  lukisan milikku. Berikan itu pada kakekmu, sang Raja.

Yi San: Sekarang aku tidak bisa memasuki Istana Dong Goong, bagaimana aku akan mengambil kembali lukisan Abamama?

Yi San memikirkan sesuatu  kemudian berlari keluar dari kamarnya …

Di Istana Raja

Menteri A:  Pendapatan dari kantor-kantor dagang pemerintah yang dibuka tahun ini adalah 30 mendapatkan pengurangan pajak, 40 tak dikenai pajak, (tergagap) 12 …. 12 dikenai pajak penuh!

Raja: Tck …

Menteri A: (gugup) Untuk gudang penyimpanan yang baru, Haryanggyo untuk daerah pusat, dan Kwanghaegyo …. Kwanghaegyo … (lupa dan berusaha mengingat)

Raja menoleh pada Menteri tangan kanannya, yang memandang Menteri A

Menteri A: (masih berusaha mengingat-ingat dan gugup) Haeranggyo dan Kwanghaegyo  ada … ada di daerah pusat ….

Raja: Keluar!

Menteri A: (terkejut) Apa??

Raja: Keluar! Kau tidak layak untuk duduk di ruangan ini!

Menteri A: (ketakutan) Ampun Yang Mulia, tapi … !

Raja: Ada 42 yang menerima pengurangan pajak, 34 tak dikenai pajak, dan 16 dikenai pajak penuh! Gudang Pusat ada 2 di Haranggyo, dan masing-masing satu di Seungnaedong, Soopogyo, dan Hyanggyodong! Aku tidak tahu mengenai isi otakmu, tapi apakah tulisan tanganmu juga tak keruan? Keluar !

Menteri A: (gugup) Ba .. baik Yang Mulia … hamba … hamba akan pergi … (bangkit berdiri) Ma … maafkan hamba Yang Mulia … (memberi hormat dan keluar ruangan dengan lesu)

Raja menatapnya sejenak kemudian mengalihkan pandangan pada menteri-menterinya yang lain …

Raja: Bagaimana dengan hak perdagangan garam?

Menteri B: (terkejut dan gugup) Hak perda … perdagangan garam … garam dibeli dari Sabul, hak perdagangan … hak itu diberikan pada Yajang …Dan … dan hak perdagangan itu …

Raja: (memotongnya) Dasar tolol! (Menteri B tertunduk ketakutan) Pada bulan yang ketiga, jumlah garam yang sampai ke Istana berkurang. Pajak yang dikumpulkan untuk enam bulan dibagi antara 40 sampai 60. Para pedagang yang melanggar aturan pajak yang berkaitan dengan garam dilarang untuk melakukan perdagangan garam lagi!

Menteri B: Am .. ampuni hamba … Yang Mulia …

Raja: Lalu apa yang terjadi setelah itu?

Menteri B: (gemetaran) Semuanya … semuanya baik-baik saja …

Raja: (membentak) Keluar! Dasar orang tolol tak berguna! (Menteri B mendongak kaget) Pedagang Joopijang telah menimbun garam dengan tujuan untuk menaikkan harganya dan hampir saja menimbulkan kerusuhan karenanya. Dia telah dicabut hak perdagangannya dan dilarang untuk melakukan perdagangan garam! Para pedagang yang lain juga ada yang mencoba untuk menaikkan harga garam dengan mengurangi ketersediaannya di pasar! Jika kalian tidak tahu apa yang terjadi di luar sana, bagaimana kalian memerintah atas nama rakyat? (pada menteri B, membentak) Aku bilang kau keluar!

Menteri B: (ketakutan) Ba .. baik … hamba akan keluar sekarang … (Ia segera bangkit berdiri dah keluar dari ruangan)

Raja mengawasi lagi para menteri yang tersisa dengan pandangan tajam.

Raja: Selanjutnya …

Menteri C: Ampuni aku Yang Mulia, tapi … Bagaimana pikiran Yang Mulia Raja menunda pertemuan hari ini mengenai masalah rakyat? (Raja menatapnya tajam) Istana tergoncang karena kejadian kemarin, dan juga Yang Mulia terlihat tidak begitu sehat …

Raja: Apakah alasan-alasan itu sangat penting sehingga kita tidak dapat mendengar mengenai masalah yang tengah dihadapi oleh rakyat?

Menteri C: Maafkan hamba Yang Mulia.

Seorang kasim yang berjaga di luar masuk dan membisikkan sesuatu pada Kasim Kepala.

Kasim Kepala: Yang Mulia, cucumu sang Pangeran meminta untuk bertemu …

Raja tampak sedikit terkejut tapi kemudian meminta para menteri untuk keluar dan meninggalkan mereka berdua, kakek dan cucu, untuk bercakap-cakap. Para menteri segera mematuhinya.

Yi San masuk dan memberi hormat pada kakeknya.

Raja: Duduk! (Yi San duduk di hadapan Raja) Ada apa?

Yi San: Aku datang untuk mengajukan permohonan, Yang Mulia. (Raja sedikit kaget) Kumohon ijinkan aku untuk memasuki Istana Dong Goong.

Raja: Mengapa Istana Dong Goong?

Yi San: (ragu-ragu) Aku … aku tak bisa memberitahumu mengenai hal itu.

Raja: Bocah kurang ajar!

Yi San: Yang Mulia!

Raja: Cukup! Entah kau memberitahuku atau tidak, aku tidak akan mengijinkan kau untuk memasuki Istana Dong Goong!

Yi San: Yang Mulia!

Raja: Jika sudah selesai, kau boleh pergi! Aku masih setengah jalan untuk mendengar masalah-masalah rakyat!

Yi San: (terkejut mendengar berita itu) Kau akan pergi untuk mendengarkan masalah rakyat? (Raja meliriknya) Apakah kau benar-benar akan meninggalkan Istana hari ini? Ayahku sekarang ditahan … Dan hari ini mungkin saja hari terakhir ia menghembuskan napasnya yang terakhir … Tapi kau akan pergi untuk mendengarkan masalah-masalah dari rakyat? (Raja menatap Yi San dengan pandangan menusuk) Ayahku sama sekali tidak mendendam padamu. Dia bahkan memberitahuku untuk tidak membencimu. (Raja sekarang mengerti siapa penyusup malam itu) Tapi mengapa kau justru begitu dingin pada ayahku? …. Tidak, ini tidak bisa! Kumohon selamatkan ayahku! Kakek .. kumohon selamatkan ayahku!

Raja: Tinggalkan aku!

Yi San: Kakek!

Raja: Aku katakan tinggalkan aku! Kau adalah seorang bocah bodoh yang mengeluarkan kata-kata yang seharusnya disimpan saja dan justru menyimpan kata-kata yang seharusnya kau keluarkan! Kau benar-benar persis dengan ayahmu! (Yi San menangis mendengar kata-kata kakeknya)

(Andy: mungkin sebagian bingung dengan kata2 Yeongjo, tapi itu secara tersirat mengatakan pada cucunya, bahwa ia tidak seharusnya mengatakan bahwa “Ayahku tidak sama sekali tidak mendendam padamu” … ini berarti menunjukkan bahwa Yi San lah orang yang semalam menemui ayahnya dan meninggalkan makanan sebagai bukti …)

Raja: (pada Kasim Kepala) Dengarkan dengan seksama kata-kataku!

Kasim Kepala: Baik, Yang Mulia.

Raja: Beritahukan pada yang lain mengenai keberangkatan Pangeran dari Istana!

Yi San: (terkejut) Kakek!

Raja: Untuk sementara waktu, sang Pangeran akan tinggal di luar Istana bersama-sama dengan ibunya.

Yi San: Kakek!

Raja sudah menetapkan keputusannya dan Yi San tak bisa berbuat apapun.

Sementara itu …

Serombongan pengawal bergerak …

Para calon dayang dikumpulkan menjadi satu, Kapten Pengawal Istana maju ke depan mereka.

Kapten Pengawal: (pada wakilnya) Mereka terlihat di dekat kolam air, jadi mereka pasti meninggalkan bekas lumpur di sepatu mereka. Perintahkan gadis-gadis ini untuk menanggalkan sepatu mereka.

Wakil Kapten: Baik Tuan.

Song Yeon tahu kalau ia akan terlibat masalah besar kali ini dan menjadi panik …

Wakil Kapten: (pada anakbuahnya) Periksa sepatu mereka semua!

Para pengawal Istana: Baik Tuan!

Para pengawal segera memeriksa sepatu-sepatu para gadis itu, sampai pada Song Yeon yang masih tidak melepaskan sepatunya. Pengawal pemeriksa menyuruhnya untuk melepaskan sepatunya, Song Yeon dengan terpaksa menanggalkan sepatunya, ternyata bersih …

Hal yang sama juga terjadi pada calon kasim. Para calon kasim disuruh melepaskan sepatu mereka yang kemudian dijejer untuk diperiksa, dan ditemukan sepasang sepatu yang berlumpur. Petugas pemeriksa segera menunjukkannya pada Kapten Pengawal Istana.

Kapten Pengawal: Sepatu milik siapa ini?

Sementara itu …

Dae Su ternyata tidak ikut berbaris dan diperiksa sepatunya … ia sekarang dalam keadaan terikat di sebuah kursi dengan mulutnya terikat kain dan bagian bawahnya telanjang, “itu” nya dibebat dengan es.

Beragam pisau tampak di sampingnya dan tampak kasim Park Dal Ho sedang mengasah sebuah pisau untuk menajamkannya.

Dae Su: (Paman …. Kumohon tolong aku … paman!

Kasim Park: Ini demi kebaikanmu sendiri. Rasa sakitnya hanya sebentar, Dae Su. Saat kau menjadi seorang kasim, maka kau akan mendapatkan hidup yang berlimpah.

Dae Su: (menggelengkan kepalanya keras-keras) Tidak … aku tidak mau … !!

Kasim Park sudah selesai menajamkan pisau dan mendekati Dae Su, yang menjadi ketakutan.

Kasim Park: (melihat ke bungkusan es) Es itu pasti membuat “itu” mu lebih baik dan menjadi beku … (Dae Su menggelengkan kepalanya)

Kasim Park mengambil bungkusan es itu dan melihat “itu” nya Dae Su, kemudian menyiapkan pisau tajamnya …

Kasim Park: Dae Su … maafkan pamanmu ini …

Dae Su menggoyang-goyangkan badannya, sementara tangan kiri si paman memgang “itu” dan tangan kanannya perlahan lahan menggerakkan pisaunya menuju ….

Kasim Park: (berusaha menenangkan Dae Su) Tidak apa-apa … semuanya akan segera berakhir!

Kasim Park Dal Ho akan mengiris “itu” ketika beberapa orang masuk, membuat kasim Park terkejut dan segera melepaskan Dae Su, ia kemudian menatap pada orang-orang tersebut yang ternyata Kapten Pegnawal Istana dan wakilnya. Dae Su menatap mereka dengan pandangan berterima kasih …

Kapten Pengawal: Apakah bocah ini yang bernama Park Dae Su?

Kasim Park: (tidak mengerti) Benar …

Kapten Pengawal: (menunjuk pada Dae Su) Tangkap dia!

Wakil Kapten: Baik Tuan. (pada anakbuahnya) Bawa dia keluar!

Para pengawal: Baik Tuan!

Dae Su dan Kasim Park masih tidak tahu apa maksud semua ini …

Kasim Park: Ada apa ini?

Seorang pengawal membebaskan mulut Dae Su.

Dae Su: (lega, menatap “itu”nya) Aku selamat! “Barang” ku juga selamat! (pada Kapten Pengawal) Terima kasih Tuan, Terima kasih!

Kapten Pengawal mengambil sepatu berlumpur dari tangan wakilnya dan menunjukkannya pada Dae Su.

Kapten Pengawal: Apakah sepatu ini milikmu?

Dae Su: (polos) Ya, Tuan. Itu milikku. Kau bahkan membawakan sepatuku juga …

Kapten Pengawal: Ikat dia dan seret keluar!

Dae Su: (kaget) Apa? Apa?

Dae Su sangat terkejut demikian juga Kasim Park …

Sementara itu ..

Calon Dayang: (pada Song Yeon) Oh tidak … ini pasti dikarenakan kita pergi ke Dapur Istana saat malam hari. Aku takut!

Terdengar suara anak lelaki berteriak-teriak “Tidak .. tidak .. tidak”

Kaptem Pengawal: Seret dia kemari!

Song Yeon menjadi terkejut saat mengetahui kalau anak tersebut adalah Dae Su … habis sudah … Song Yeon memanggil Dae Su, yang kemudian menatapnya dan segera menundukkan kepalanya .. Song Yeon segera menutup mulutnya …

Kapten Pengawal: (pada Dae Su) Siapa dayang istana yang bersama denganmu?

Wakil Kapten: (menyeret Dae Su) Cari dia!

Dae Su diseret dan dihadapkan satu-satu pada calon-calon dayang Istana. Song Yeon ketakutan … Si Wakil Kapten bertanya pada Dae Su “Apakah dia?” setiap kali ia dihadapkan ke depan seorang calon dayang, Dae Su selalu menggelengkan kepalanya. Pada saat di depan Song Yeon, Dae Su terkejut dan sedikit ragu-ragu membuat sang Wakil curiga dan bertanya sekali lagi, dasar Dae Su sulit untuk berbohong, ia tak sengaja menganggukkan kepalanya.

Wakil Kapten: Tangkap dia!

Dae Su: (berteriak) Tidak! Saat itu tidak ada dayang Istana! Aku cuman sendirian! Aku bahkan tidak pernah melihat gadis ini sebelumnya! (Song Yeon tampak ketakutan)

Kapten: Apakah kau harus disiksa baru mau memberitahukan yang sebenarnya?

Dae Su berlari ke hadapan Kapten dan bergulung-gulung di sana ..

Dae Su: (berteriak-teriak) Tidak ada dayang Istana! Mengapa kau tidak mau percaya padaku?

Song Yeon ketakutan tapi juga merasa tidak enak hati melihat Dae Su menanggung semuanya …

Kapten Pengawal: (jengkel) Bawa bocak ini ke Kantor Interogasi dan temukan siapa yang menyuruhnya untuk melakukan itu! Pukul tapak kakinya sampai ia mengaku!

Si wakil kapten mengiyakan dan menyuruh anakbuahnya untuk membawa Dae Su. Dae Su yang diseret memohon ampun … Song Yeon merasa serba salah dan menangis dalam hati melihat nasib Dae Su …

Sementara itu …

Yi San di luar sedang termenung …

Seorang kasim menghampirinya dan memintanya untuk bersiap berangkat keluar Istana.

Saat Yi San sedang menuju ke tempatnya, ia mendengar suara orang berteriak-teriak, dan melihat Dae Sun terikat dan sedang digiring ke Kantor Interogasi.

Yi San: Dae Su ….

Yi San segera berlari menyusul mereka, para pengiringnya terkejut dan berusaha mengikuti sang Pangeran sambil memanggil-manggilnya. Yi San sampai di salah satu pintu pagar Kantor Interogasi tapi ternyata dikunci, ia segera mencari jalan lain sambil memanggil nama Dae Su berulangkali.

Di lain pihak …

Song Yeon tampak bersedih memikirkan nasib Dae Su, mengingat kata-kata Dae Su yanhg berusaha menutupi keterlibatannya…

Dae Su: Tidak! Tidak! Saat itu tidak ada dayang Istana! Aku cuman sendirian! Aku bahkan tidak pernah melihat gadis ini sebelumnya!

Song Yeon: (bersedih) Dae Su …

Tiba-tiba tiga orang gadis remaja memanggil Song Yeon dan menyuruhnya untuk ikut dengan mereka, Song Yeon tidak mengerti dan dengan gugup bertanya kenapa.  Dua orang gadis segera menggirinya pergi ke tempat sepi diiktui seorang lainnya. Ternyata Gab Yi yang menyuruh mereka.

Gab Yi: Kau pergi ke Gedung Pengadilan, benar khan? (Song Yeon terkejut) Kami menyuruhmu ke Dapur Istana untuk mengambil makanan, tapi kau kembali saat subuh! Katakan sesuatu! Kau adalah gadis yang dicari-cari oleh para pengawal, benar khan?

Song Yeon: Bukan .. Bukan !!

Gab Yi: (jengkel) Katakan yang sebenarnya! Kami akan mendapatkan masalah karena dirimu!

Song Yeon: Bukan! Bukan aku!

Gab Yi: (pada rekan-rekannya) Kita tidak punya pilihan laih. Tangkap dia!

Song Yeon: (berteriak) Tidak, jangan lakukan ini! Tidak!

Gab Yi: Sumpal mulutnya! (salah seorang rekannya menyumpal mulut Song Yeon)

Tiba-tiba  terdengar suara berkumandang …

Yi San: (nada memerintah) Lepaskan dia sekarang juga!

Gab Yi kaget dan ketakutan, ia menunduk memberi hormat ketika mengenali kalau yang menegurnya tadi adalah Pangeran Yi San. Yi San datang bersama dengan para pengiringnya.

Song Yeon masih dipegangi oleh kedua gadis yang lain, ia sangat heran dan terkejut ketika mendnegar Gab Yi menyebut Mu Duk sebagai seorang pangeran ….

Yi San: Apa yang kalian lakukan? Aku katakan pada kalian untuk melepaskan dia!

Gab Yi: (ketakutan) Ba .. baik, Yang Mulia.

Kedua gadis yang lain segera melepaskan Song Yeon. Song Yeon menatap pada Yi San …

Song Yeon: Mu Duk!

Yi San mendekat padanya …

Song Yeon: Mu Duk! … Mu Duk? …

Song Yeon tiba-tiba menyadari kalau anak lelaki di depannya ini bukanlah seorang kasim yang bernama Mu Duk yang selama ini ia kira, dan kelihatannya Mu Duk ini benar-benar seorang pangeran?

Sementara Yi San memandangnya dan sedikit serba salah …

 

6 comments on “Yi San [Wind Of The Palace] – Episode 01

  1. gagh sabar nunggu ceritanya yang versi b.indonesia, karena walaupun sudah tamat nonton, tpi kayaknya pake b.indonesia akan lebih menarik.. ^^
    akan terlihat perbedaan cara pangeran sado meninggal di drama ini dengan yang ada di baek dong soo..
    cia you!!!! jangan bosen-bosen bikin sinopsisnya ea…😄

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s