Tree With Deep Roots – Episode 06

Kekacauan masih berlangsung dengan hebat, setiap orang berusaha memadamkan api di kantor percetakan, tapi Chae Yoon sedang menjalankan misi. Amarah menggemuruh di dadanya saat ia mengguncang-guncang So Yi, mencoba untuk menyadarkannya dari kondisi setengah sadarnya bermaksud untuk mengorek keterangan dari So Yi mengenai siapa pria yang tadi ada di kantor percetakan itu. Park Po dan Cho Tak datang dan menarik Chae Yoon dari So Yi sehingga rekan-rekan So Yi dapat membawanya pergi.

Ketika Mu-hyul sedang mengingat kenangannya akan Ddol-bok kecil, So-yi juga mengingat hal yang sama selama malam itu dan terbangun dengan terkejut. Dia dengan rasa putus asa menggengam kantung yang sama persis dengan kantung yang dulu ia buatkan bagi Ddol Bok, kemudian mengingat saat di mana Ddol Bok mempersalahkan dirinya saat di penjara untuk semua yang terjadi. Ddol Bok mengira So Yi dapat membaca sehingga jika ia memang benar bisa, maka mereka akan tahu kalau dayang kecil itu telah menipu mereka mengenai surat itu dan kejadian tragis itu tak akan terjadi. (Kurasa So Yi juga mempersalahkan dirinya mengenai “kematian” Ddol Bok, ia tak tahu kalau Ddol Bok masih hidup).

Sejong merasa dirinya ketinggalan sesuatu dari kejadian malam kemarin, karena tubuh Pelajar Yoon Pil ditemukan di dalam kantor percetakan Istana. Ini adalah orang ketiga yang dibunuh dalam beberapa hari saja, dan terlihat Raja Sejong sangat lelah karena kejadian yang berturut-turut itu.

Ketika ia melakukan pertemuan dengan Dewan Istana, sikapnya berubah banyak dan menjadi lebih serius. Dia ingin menyelesaikan pertemuan itu sesegera mungkin, dan hanya membacakan daftar kerusakan yang terjadi : api tidak dapat dipadamkan cukup cepat, dan juga ada seorang penyelundup di Istana semalam. Bagaimanapun juga, kantor percetakan Istana dapat dibangun kembali dan juga penyelundup itu dapat ditemukan, tapi tak ada satupun yang dapat membangkitkan kembali Yoon-pil. Itulah penekanan yang ia katakan pada pertemuan, dan semua pejabat yang hadir merasa sedikit kaget.

Chae-yoon dan So-yi yang sudah terpisah bertahun-tahun lamanya, sekarang saling berhadapan dipisahkan sebuah meja. Chae-yoon sedang menginterogasi So-yi mengenai kejadian semalam. Chae-yoon sebelum masuk ke ruangan sudah diberitahu oleh dayang yang berjaga di luar kalau So-yi tidak dapat berbicara, jadi Chae-yoon harus bersabar menunggu ketika So-yi harus meulis semua jawabannya. Namun kita mendengar suara pikiran So-yi mengenai apa yang tertulis di kertas, jadi sebenarnya itu hampir seperti percakapan normal.

Jelaslah sudah bahwa measing-masing dari keduanya tidak mengenali orang yang berada di hadapannya, karena berpikir bahwa yang lain sudah mati saat kecil. Chae -yoon menginterogasi So-yi dengan serius dan tak kenal kasihan, walaupun kadang Chae-yoon harus bersabar menunggu jawaban yang ditulis So-yi. So-yi cerdas dan mampu berpikir cepat, namun Chae-yoon lebih cepat lagi, dan setiap kali So-yi berusaha menghindar dari pertanyaan, Chae-yoon tidak termakan oleh jawabannya dan terus menekan So-yi untuk memberikan jawaban sebenarnya.

Tapi pada kenyataannya, So-yi hanya memberitahu Chae-yoon hal-hal yang sudah diketahui oleh Chae-yoon. Chae-yoon melihatnya di kantor percetakan dengan orang bertopeng … mengapa orang itu tidak membunuh So-yi? Akhirnya So-yi menggambar sebuah simbol di secarik kertas, dan itu tergambar di gelang orang bertopeng itu. So-yi dapat mengingat apapun hanya dengan melihatnya sekali saja (bakat yang memang sejak kecil ia punyai).

Langkah interogasi lebih lanjut terhenti dengan kedatangan dari Pangeran Gwangpyeon. Pangeran memberitahu Chae-yoon bahwa So-yi pergi ke kantor percetakan karena menjalankan tugas darinya, kemudian ia menggiring So-yi keluar ruangan. Saat mereka berdua bertukar pandang, hal ini tidak lepas dari pengamatan tajam Chae-yoon.

Chae-yoon pergi ke sisa bangunan yang dulunya kantor percetakan untuk mencari penduduk Ban Chon yang berprofesi sebagai penjagal dan juga koroner, Ga Ri-on. Tubuh dari Pelajar Yoon-pil diletakkan di antara sisa-sisa dari barang-barang yang terbakar, dan Ri-on menjelaskan bahwa tidak ada luka nyata bekas pembunuhan yang bisa ia temukan. Chae-yoon mencatat hal ini, dan kemudian memutar pikirannya sambil mengatakan bahwa sampai sejauh ini sudah melibatkan elemen tanah, air, dan api yang telah digunakan untuk membunuh tiga orang.

Ga Ri-on mendengar pemikiran Chae-yoon dengan rasa tertarik dan memberikan tatapan misterius pada punggung Chae-yoon, menyadari bahwa Chae-yoon ternyata mengetahui metode rahasia yang mana telah membunuh Pelajar Dahm.

Kemudian terlihat bahwa Mu-hyul menyadari mengenai identitas dari Chae-yoon, dan bisa diduga, ia bereaksi dengan berencana untuk membunuh Chae-yoon. Ia masin mengingat bagaimana Ddol-bok bertekad untuk membunuh Raja meskipun ia masih kecil, dan faktanya ternyata Chae-yoon meminta secangkir minuman yang dituangkan oleh Raja secara pribadi tidaklah lepas dari kecurigaan Mu-hyul. Ia berencana untuk membawa Chae-yoon ke luar Gerbang Utara, secara rahasia, di mana nantinya ia akan membunuh Chae-yoon di sana.

Namun ternyata rencananya buyar ketika Chae-yoon mendapatkan panggilan dari Istana, di mana Sejong memintanya untuk menjelaskan secara pribadi  mengenai kejadian malam kemarin. Kesempatan yang cukup terbuka ini membuat Chae-yoon menghitung-hitung mengenai jumlah penjaga dan juga jaraknya dengan Raja, berapa persen kemungkinan ia berhasil dalam membunuh Sejong secara gelap sekarang.

Chae-yoon menjelaskan apa yang terjadi saat kantor percetakan terbakar menurut apa yang ia lihat dan alami. Saat itu ia menemukan pria bertopeng dan So-yi sedang berdiri  saling mengawasi dengan cukupu tenang berlawanan dengan situasi yang sedang terjadi. Dan ketika si pria bertopeng bergerak untuk meloloskan diri, So-yi pingsan. Chae-yoon harus memilih antara mengejar si pembunuh itu atau menyelamatkan So-yi. Dan seperti yang telah diketahui, Chae-yoon akhirnya memilih untuk menyelamatkan So-yi.

Sejong bertanya bagaimana bisa Chae-yoon berada tepat di luar saat insiden itu terjadi? Tapi Chae-yoon enggan menjawabnya … tapi kemudian ia bertanya apakah ia bisa menunjukkannya saja karena dengan demikian ia bisa menjelaskannya lebih baik. Entah Chae-yoon sedang berencana untuk membunuh raja atau tidak, karena hanya dengan satu lompatan ia bisa mendekati sang Raja. Namun pada saat itu Mu-hyul memburu masuk ke dalam dan menghentikan Chae-yoon, dan Chae-yoon keluar ruangan dengan tangan kosong, tapi ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini adalah pilihan yang tepat. Kesempatannya sangat kecil untuk membunuh Sejong kali ini. Ia akan menunggu sampai Raja menuangkan minuman secara pribadi untuknya, saat itu ia tidak boleh gagal!

Mu-hyul memberitahu Raja Sejong mengenai identitas Chae-yoon yang berhasil ia bonkar, bahwa Chae-yoon itu tidak lain adalah Ddol-bok. Ketika Sejong mengingat kembali, seluruh sikapnya berubah, wajahnya tampak sangat tersiksa dan sedih. Ia masih mengingat dengan jelas apa yang Ddol-bok katakan bertahun-tahun yang lalu dan merasakan betapa berat beban  karena telah menyebabkan ayah anak itu dan semua orang yang Ddol-bok kenal terbunuh.

Raja tidak beraksi seperti yang dikira oleh Mu-hyul mengenai kenyataan bahwa Chae-yoon datang ke Istana untuk membunuhnya, jadi Mu-hyul mengingatkannya bahwa Ddol-bok adalah satu-satunya orang yang paling dirindukan oleh So-yi. So-yi berpikir bahwa ia telah mati, dan Sejong akhirnya membuat keputusan tegas. So-yi tidak boleh tahu bahwa Ddol-bok masih hidup.

Raja Sejong mengingat kembali saat ia masih muda dulu, ketika ia pertama kali bertemu dengan Dam (So-yi muda) ketika Dam melemparkan batu ke punggungnya. Dam saat itu adalah dayang muda Istana yang masih dalam pelatihan, setelah ia diselamatkan oleh Ratu Soheon, yang saat itu juga muncul. Sang Ratu memberitahu Sejong bahwa Dam kehilangan kemampuannya berbicara saat malam hari di mana seluruh keluarganya terbunuh. Rasa bersalah Lee Do karena kematian ayah Soheon dah seluruh keluarga Lee Do sendiri tampak di atas wajahnya, dan kemudian ia meminta maaf pada Dam.

Sejong datang untuk menemui So-yi, yang menyampaikan apa yang ia ingat dan menuliskannya mengenai Yoon-pil sebelum ia mati. Jelaslah bahwa Sejong datang tidak untuk mendengarkan berita ini, karena ia mulai mendaftar semua orang yang telah mati: Yoon-pil, Pelajar Dahm, Go In-sul, ayah mertuanya, semua pamannya, semua keluarga dan teman-teman So-yi. Semuanya sudah mati. Dia dipenuhi dengan emosi ketika ia mengatakan bahwa sejak malam itu, dia telah mengambil sumpah untuk tidak membiarkan siapapun mati, tapi sekarang tampaknya mayat-mayat menumpuk di tengah jalannya dan ia tersesat …

So-yi terus menulis jawabannya selama pembicaraan mereka, tapi ketika ia menuliskan bahwa semua itu bukanlah salah Sejong, sikap Sejong berubah sepenuhnya …

Dalam sekejap mata, Sejong dari bersedih menjadi penuh dengan amarah, menampakkan sisi yang menakutkan dan berkuasa. Ia berseru kalau semua itu adalah salahnya! Semua yang terjadi di Joseon adalah tanggung-jawabnya. Dia lah yang membunuh semua orang itu!

so-yi kembali menulis bahwa itu bukanlah kesalahannya. Sejong merampas dan merobek kertas dari tangan So-yi. Tapi So-yi menuliskannya lagi. Sejong merobeknya. Lagi dan lagi dan lagi, berulang-ulang sampai akhirnya tindakan Sejong melambat, dan kemarahannya mulai sirna. Ketika So-yi kembali akan menulis, Sejong menghentikannya dengan menaruh tangan di atas tangan So-yi dan menangis. Dalam hal ini juga memperlihatkan bagaimana So-yi yang dulu mempersalahkan Sejong atas kematian keluarga dan teman-temannya berubah menjadi lebih memperhatikan kesejahteraan dari Sejong.

Saat dia akan pergi, Sejong memerintahkan So-yi agar tidak menangis.  Ia tidak ingin So-yi mengucurkan setetes airmata untuknya, dan dalam pikirannya terdengar bahwa orang yang sangat dirindukan oleh So-yi, yakni Ddol-bok, sudah ada di Istana untuk membunuh dirinya.

Raja Sejong: Jika kau tergoncang, maka aku juga akan roboh. Jadi janganlah tergoncang!

Di kios penjagal, Ga Ri-on sedang memindahkan balok-balok cap huruf dari tenggorokan mayat pelajar yang baru-baru ini tewas sementara Chae-yoon dan rekan-rekannya memperhatikan.

Tiada seorangpun yang tahu apa maksud dari empat balok itu, terutama bagi orang yang dibawa oleh Cha-yoon sendiri karena terkenal hanya besar mulutnya saja (dengan tujuan agar orang itu menyebarkan berita ini ke seluruh penjuru kota). Tampaknya ini adalah salah satu rencana dari Chae-yoon lagi.

Sementara Ga Ri-on pergi untuk menyerahkan empat simbol (yang terdapat pada empat balok huruf) pada Raja Sejong di atas empat kertas yang berbeda, Chae-yoon dan Cho-tak menemukan sesuatu petunjuk. Di atas tubuh mayat pelajar itu, tersembunyi tepat di atas pergelangan kakinya, sebuah tato kecil tergambar kotak dengan sebuah lingkaran di dalamnya.

Sementara itu, rencana Chae-yoon ternyata bekerja dengan baik, dan dalam waktu yang tidak lama, Sung Sam-mon menghambur masuk ke aula belajar. Park Paeng-nyeon mencoba memperingatkannya dengan mengatakan bahwa mereka masih dalam masa berkabung, tapi Sam-moon meyuruhnya tutup mulut dan mengatakan kalau dirinya tak harus mendengarkan. Pelajar Yoon-pil telah meninggalkan pesan kematian, dan tak ada seorangpun di antara mereka yang tahu apa artinya, tapi mereka akan mencoba untuk memecahkannya.

Chae-yoon tahu kalau ia tidak bisa berdiam diri saja terus menerus, dan menyadari, meskipun ia pintar tapi ia bukan orang yang tahu akan segalanya. Lagipula Pelajar Yoon-pil menjadikan kata “pintar” benar-benar sebagai profesinya. Jadi Chae-yoon tak mau membuang sedikitpun waktunya untuk memecahkan teka-teki yang tak terpecahkan. Mengapa? Karena ia tak bisa! Tapi ia tahu bahwa pasti ada seseorang di luar sana yang mengenali kode rahasia yang akan melakukannya, dan sekarang hal yang perlu ia lakukan adalah menunggu. Untuk sementara ini, ia menuju ke Jiphyunjeon untuk mencari petunjuk mengenai arti tato yang telah mereka temukan.

Saat Chae-yoon dan rekan-rekannya sampai di Jiphyunjeon, mereka mengenali Wakil Ketua Pelajar, Shim Jong Soo. Mereka baru saja melihatnya mengenakan baju biasa di pasar sementara ia dengan mudah mengalahkan orang-orang Ming yang membuat kekacauan. Ia telah menunjukkan keahlian seni bela diri yang luar biasa hanya dengan menggunakan papan tanda pengenalnya … (halah kayak Gwang Taek di Warrior Baek Dong Soo aja … )

Tak usah dikatakan lagi, permintaan Chae-yoon  untuk memeriksa setiap jengkal tubuh dari para pelajar langsung ditolak mentah-mentah. Setiap pelajar mendengar percakapan itu, dan ia mengawasi setiap dari mereka. Mereka semua tahu wajahnya, tapi ia sekarang juga tahu wajah mereka.

Setiap orang masih berusaha untuk memecahkan teka-teki Yoon-pil. Di kamar yang lain, semua pimpinan para pelajar tampaknya menyimpulkan bahwa teka-teki itu mengarah ke Utusan Ming, secara tersirat. Para pelajar yang lain berkumpul, tapi semua pikiran mereka yang disatukan tampaknya masih tak dapat meemcahkannya. Perasaan Sung Sam-moon sedang terasa ringan sehingga banyak bercanda dengan rekan-rekannya, jelas tidak terlalu menganggap semua ini terlalu serius … sampai ia tiba-tiba menjadi diam dan  kemudian ia mulai menganggap teka-teki ini sesuatu yang tak bisa diabaikannya. Ia kemudian mengundang Park Paeng-nyeon untuk keluar karena ia ingin mengajaknya segera pergi dari tempat ini, sekarang ini bukanlah waktunya untuk memecahkan teka-teki itu, dan ia mencoba untuk berkomunikasi hanya dengan pandangan mata dan aksi tubuhnya.

Chae-yoon dan rekannya, si pengawal Istana, Park-po telah menyamar untuk mengamati di luar Jiphyunjeon. Park-po tampak menikmati tugasnya ini karena sebentar sebentar ia menunjuk orang ini dan itu, memberitahu Chae-yoon secara detil mengenai apa yang dipakai oleh orang-orang itu saat mereka mendekati tempat mereka berdua berjaga. Sung Sam-moon dan Park Paeng-nyeon juga lewat dan tampak dalam perasaan yang cerah saat mereka meningalkan perpustakaan, dan Park-po mengatakan bahwa Sam-moon adalah orang yang paling normal di antara para pelajar itu karena ia tak punya otak. Hah …

Nah … orang yang mengganggu kesenangan Park-po sekarang adalah Cho-tak, yang berlari melewati muntuk memberitahu mereka berdua bahwa mayat-mayat telah menghilang dari kios penjaga. Ini adalah berita buruk untuk Jo Mal-saeng yang telah menyebarkan  kekuatan besar untuk menemukan di mana mayat-mayat itu disembunyikan, tapi sekarang menedapati bahwa mayat-mayat itu telah dicuri orang lain.

Para pelaku pencurian mayat itu tak lain tak bukan ternyata adalah Paeng-nyeon dan Sam-moon, yang katanya tak punya otak … mereka tak punya tujuan yang jahat dalam pikiran mereka selain sedikit bermain seakan-akan detektif.

Orang yang memegang kipas ternyata tak lain tak bukan adalah Wakil Ketua Pelajar, Shim Jong-soo. Jelaslah ia adalah salah satu anggota dari kelompok Akar Tersembunyi, karena ia bertemu dengan wanita pemimpin desa Ban Chon sambil membawa empat simbol teka-teki yang masih belum dapat dipecahkan. Dan kelihatannya kedua pelajar itu tidaklah dalam kelompok yang sama karena si Nyonya itu juga mencoba untuk mencari tahu keberadaan mayat-mayat yang menghilang itu.

Si Nyonya menyatakan bahwa Yoon-pil berhasil menemukan petunjuk mengenai kelompok rahasia mereka sebelum ia mati, jadi ke-empat simbol itu pasti mengandung petunjuk yang mengarah pada kelompok mereka … tapi mereka tak bisa memecahkannya dengan apa yang mereka lakukan sekarang ini.

Berita buruk bagi kedua pelajar itu, karena kelihatannya mereka mencuri mayat itu untuk melihat apa yang dilihat oleh Chae-yoon: tato kotak dengan lingkaran di dalam. Dan perasaan ngeri mulai merambati hati mereka karena mereka menemukan bahwa masing-masing mereka juga memiliki tato yang sama di pergelangan tangan mereka. Oh … memang bukan berita baik …

Tak seorangpun dari keduanya yang kelihatannya mengetahui bahwa mereka berdua ternyata bukan satu-satunya anggota dari organisasi yang mereka sebut Chun Ji. Ketua organisasi mereka pasti sedang dalam misi rahasia, tapi tidak ada seorangpun dari keduanya tahu apa itu. Keduanya tampak sangat terkejut karena bukankah ini berarti bahwa mereka berdua kemungkinan besar ada dalam daftar untuk dibunuh? Oh tidak ….!

Saat para pelajar berusaha untuk memecahkan teka-teki Yoon-pil, Sejong dan juga Shim Jong-soo memiliki bagian dari teka-teki yang asli sebenarnya yang telah ditinggalkan oleh Yoon-pil. Yoon-pil tampaknya berhasil dalam sebagian tujuannya dengan membuat Shim Jong-soo tampak sangat frustasi karena ia tak dapat memecahkan teka-teki itu sekeras apapun ia berusaha. Hal sebaliknya, Raja Sejong dengan tenang merenungkan bagian-bagian teka-teki itu. Daripada menjadi sangat  karena frustasi sehingga Shim Jong-soo merobek-robek kertas-kertas  itu, sang raja justru menaruh kertas-kertas itu dalam satu susunan formasi.

Tiga huruf pertama jika disusun akan menjadi kata “mil”. Yoon-pil tampaknya tahu kalau ia akan segera mati, dan menuliskan teka-teki ini dari susunan huruf yang dianggapnya hanya delapan orang di dunia ini yang tahu … tapi pada kenyataannya tak seorangpun dari anggota Chun Ji tahu (seperti yang terlihat dari Sam-moon dan Park-nyeon). Tapi Yoon-pil juga tahu kalau Sejong pasti mampu untuk membacanya, dan ketika raja berhasil menyusun kata kedua dengan hanya beberapa sapuan kuas, kemuraman tampak di wajahnya. Ia sekarang tahu apa yang coba Yoon-pil sampaikan padanya: Akar Tersembunyi!

Iklan

3 comments on “Tree With Deep Roots – Episode 06

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s