Warrior Baek Dong Soo – Episode 22

Jin Ki berlari panik mencari Jin Ju dan menemukan anaknya diikat di sebuah gudang. Jin Ju mencoba untuk mengingatkan ayahnya untuk keluar, tapi Jin Ki terlambat untuk menyadari adanya jebakan. Dae Ung keluar dan memberitahu Jin Ki jika ia bergerak, maka gudang itu akan dibakar dan Jin Ki akan mati juga. Jin Ki menjadi sangat marah karena meskipun dirinya yang ingin dibunuh oleh Dae Ung, tapi Dae Ung justru menangkap Jin Ju. Dae Ung melepaskan anak panah yang telah dipasang pada busur-silang nya, melukai Jin Ki.

PhotobucketPhotobucket

Sementara itu Dong Soo sedang berlatih dengan Gwang Taek dan tiba-tiba teringat sesuatu sehingga berhenti dan bertanya di mana Jin Ki sekarang. Tiada seorangpun yang tahu, tapi Mi So mengatakan bahwa Jin Ki terlihat sedang bingung mencari Jin Ju sepanjang hari. Dong Soo pergi memeriksa markas lama para bandit untuk melihat apakah mereka di sana.

Di markas, Dong Soo hanya menemukan para bandit. Sementara itu Sa Mo juga dihinggapi rasa cemas. Mi So bertanya-tanya apakah Jin Ju dan Jin Ki sudah berkemas dan pergi begitu saja, tapi Jang Mi tak percaya dan memberikan alasan bahwa Jin Ju tak mungkin meninggalkan Dong Soo begitu saja tanpa berpamitan.

Jin Ki masih sanggup bertahan, dan Jin Ju mendapatkan pukulan yang lain. Dae Ung kemudian berencana memancing orang lain ke tempat itu, kali ini adalah Sa Mo. Jin Ju berjuang untuk membebaskan dirinya sendiri. Jin Ki memberitahu anaknya bahwa Jin Ju harus berhasil keluar dari sana hidup-hidup dan memastikan Dong Soo dan Gwang Taek selamat. Jin Ki memohon agar Jin Ju berhasil meloloskan diri hidup-hidup.

Dong Soo kembali dari markas bandit, dan melapor pada Sa Mo bahwa keduanya tidak ada di mana-mana. Hong Do si pelukis juga muncul dan sangat panik begitu mengetahui kalau Jin Ju telah menghilang lebih dari sehari sekarang. Mereka segera berpencar untuk melakukan pencarian, meninggakan hanya Jang Mi di rumah jika saja ada yang kembali.

Photobucket

Gwang Taek saat itu ternyata sedang menemui seorang tabib  dan hasil pemeriksaannya sama: kanker perut.  Tabib itu memberitahunya bahwa waktunya sudah tidak tersisa banyak.

Un menemukan gulungan milik Un yang di dalamnya terdapat nama-nama pendekar, ia bertanya pada salah seorang anakbuahnya untuk mencari si pemburu hadiah Jang dan si pelajar. Dia kemudian bertanya  di mana keberadaan Dae Ung. Un diberitahu kalau Dae Ung pergi membawa busur silang dan anak-anak panah, dan masih belum kembali. Un menyadari kalau Dae Ung sedang merencanakan sesuatu dan bertanya di mana sekarang ia berada …

Photobucket

Un kemudian keluar dan melintasi hutan bersama dengan dua anakbuahnya. Mereka pergi menuju ke gudang di mana Dae Ung berada, dan Un sangat terkejut saat melihat Jin Ju dan Jin Ki berada di sana, sama-sama terluka. Un tertegun dan kemudian memikirkan sesuatu. Ia mengirim kedua anakbuahnya pergi.

PhotobucketPhotobucket

Dae Ung mengupah seorang anak kecil untuk menyampaikan pesan lain, kali ini pada Sa Mo. Pesan ini memberitahu Sa Mo untuk datang sendirian kalau tidak maka Jin Ju dan Jin Ki akan mati.

Pada saat yang bersamaan, sebuah pesan tersampaikan pada Dong Soo melalui sebuah anak panah. Dong Soo membaca pesan itu dan segera berlari …

Photobucket

Dae Ung masuk ke ruangan dan bertanya menyindir apakah mereka masih hidup. Jin Ju mengatakan bahwa ia nanti pasti akan membunuhnya. Dae Ung tersenyum dan mengatakan kalau Jin Ju tidak bisa melakukan apapun saat ia terikat seperti itu. Dau ung kemudian mengambil tempat dan tidur.

Dan sedikit kilas balik, ternyata dalam usahanya untuk melepaskan ikatan, kantung kecil yang diberikan oleh Hong Do sebelumnya terjatuh dari sakunya, dan di dalamnya ada perhiasan rambut kecil milik Ji. Jin Ju mengambilnya dan menggunakannya sebagai alat untuk membuka borgol di pergelangan lengannya. Dan sekarang ia memainkan sebuah pisau besar yang ia temukan.

Ketika Dae Ung mulai bangun, Jin Ju menaruh pisau itu ke lehenya, namun Dae Ung ternyata memegang sebuah pisau yang digunakan untuk melepaskan sebuah busur-silang, yang terarah pada ayahnya. Jin Ju segera melepaskan pisaunya.

Dong Soo sampai di tempat itu saat hujan mulai turun, sementara Un tetap bersembunyi saat melihat Dong Soo memasuki gudang itu.

Dae Ung sangat terkejut ketika melihat yang datang bukanlah Sa Mo melainkan Dong Soo. Dong Soo meyakinkan Jin Ju bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia kemudian menghunuskan pedangnya dan memberitahu Dae Ung bahwa hari ini adalah hari di mana Dae Ung akan mati. Dae Ung menunjukkan jebakan yang telah ia siapkan, dan mengatakan kalau Dong Soo bergerak sedikit saja maka Jin Ju dan Jin Ki akan mati saat itu juga. Dong Soo terkejut dan geram kemudian bertanya apa yang Dae Ung inginkan.

PhotobucketPhotobucket

Dae Ung melepaskan salah satu dari tali di busur-silang nya. Dong Soo gagal dalam usahanya menangkap anak panah yang melesat, tapi Jin Ju menunduk tepat pada waktunya sehingga tak mengenainya. Dae Ung melepaskan lagi yang lain, dan kali ini Dong Soo menangkis dengan pedangnya. Dalam keadaan panik, Dae Ung meraih busur silang yang lain dan mengarahkannya pada Dong Soo. Dae Ung mengatakan bahwa tidak seorangpun, tidak juga Gwang Taek, yang mampu menangkis anak panah dengan jaran yang sedekat itu. Dong Soo dengan tenang menyuruh Dae Ung untuk memanahnya.

Jin Ju cemas dan berteriak apa yang sedang Dong Soo coba lakukan, tapi Dong Soo memitanya untuk tutup mata dan tunggu saja dirinya. Kemudian ia memberitahu Dae Ung untuk melanjutkan dan memanahnya.

Jin Ju menutup matanya, Dae Ung melepaskan anak panah, dan Dong Soo secara bersamaan segera melemparkan sebuah pisau kecil dengan tangan kanannya yang mengenai lengan Dae Ung, serta menangkap anak panah yang melesat itu dengan tangan kirinya.

Sementara itu hampir bersamaan waktunya, Sa Mo sampai di tempat itu sambil meneriakkan nama  Jin Ju dan Dong Soo.

Dae Ung yang tahu rencananya kali ini gagal segera meraih sebatang obor dan mengancam akan membakar gudang itu jika mereka mendekati dirinya. Dong Soo tak mempedulikan celotehan Dae Ung, ia segera pergi dengan membawa Jin Ki sementara Jin Ju dibantu oleh Sa Mo. Mereka semua menjauh dari bangunan itu.

Photobucket

Setelah mereka pergi semua, lengan Dae Ung tiba-tiba terkena sebuah senjata rahasia sehingga ia menjatuhkan obor ke atas tumpukan jerami, membuat gudang itu terbakar. Di luar, Un berjalan pergi sambil mengawasi bangunan itu terbakar.

Dong Soo dan yang lainnya kembali ke rumah Sa Mo dan segera merawat Jin Ju dan Jin Ki.

Dae Ung menyeret dirinya pergi menjauh dari kebakaran itu dan menuju ke sebuah kolam untuk mendinginkan tubuhnya yang terbakar di sana-sini.

Selanjutnya, Tuan Hong bertemu dengan Tuan Kim. Kim menyatakan bahwa mereka telah menganggap remeh Dong Soo. Hong mengakui bahwa Dong Soo ternyata adalaah seorang ahli pedang yang hebat melebihi perkiraannya selama ini. Kim bertanya apa tindakan mereka selanjutnya. Sekarang karena mereka telah menjatuhkan kesalahan pada bandit Jepang untuk semua y ang terjadi maka lebih sulit lagi untuk menyentuh sang Pangeran. Hong mengatakan bahwa mereka harus tetap melangkah sebelum pihak dari Pangeran memiliki waktu untuk bersiap dan bereaksi. Ia memberitahu Tuan Kim kalau ia akan memikirkan suatu rencana lain nanti.

Photobucket

Ji Sun memberitahu Dong Soo meskipun luka Jin Ki terlihat parah, namun tidaklah fatal. Hong Do menambahkan bahwa pasti Dong Soo merasa baikan karena Jin Ju hanya memanggilnya saat ia berada dalam bahaya. Saat Dong Soo mengalihkan pandangannya pada Ji Sun, Hong Do kembali mengatakan bahwa Dong Soo benar-benar tidak mengerti perasaan dari seorang wanita. Dong Soo lalu memandang pada kertas yang dikirim padanya melalui anak panah dan memberitahu mengenai keadaan Jin Ju. Saat Dong Soo bertanya kertas apa itu, Dong Soo menjawab kalau ia tidak yakin mengani isinya dan segera menggenggamnya. Dalam hati Dong Soo bertanya-tanya apakah Un yang mengirimnya sehingga ia berhasil menyelamatkan mereka.

Photobucket

Beberapa waktu kemudian, Sa Mo bertanya apakah ijin dagang Ji Sun sudah dipulihkan. Ji Sun mengiyakan, tapi Sa Mo sangat gusar karena barang-barang yang dirampas sudah rusak dan tidak dikembalikan. Jadi sekarang mereka membutuhkan uang untuk memulai lagi  usaha dagang mereka. Ji Sun mengatakan kalau ia akan mencari jalan. Ji Sun kemudian keluar dan melihat-lihat pasar untuk mencari tahu apa yang bisa ia lakukan, sementara itu Jang Mi dan Mi Su datang dengan makanan untuk santapan mereka.

Ketika mereka sedang bersantap, Dong soo bertanya di mana Gwang Taek. Sa Mo mengatakan kalau hari pertarungan kurang 3 hari lagi, jadi kemungkinan besar ia sedang berlatih entah di mana. Semua orang juga menganggap demikian, tapi kenyataannya bahwa Gwang Taek sedang berada di  kediaman seorang tabib. Si tabib mendesaknya untuk minum ramuan obat, yang akan memberikan Gwang Taek beberapa hari lebih lama. Gawng Taek tersenyum pada kenyataan itu, dan mengatakan bahwa beberapa hari saja sudah cukup baginya.

Photobucket

Gwang Taek kemudian menuju ke tempat di mana ia biasa berlatih dan mengingat kata-kata terakhir Ji. Dia mengawasi ke sekitarnya dan tiba-tiba melihat penampakan dari Ji yang berpakaian putih bersih, dengan air mata menetes di pipinya, kemudian menghela napas sedih dan berbalik pergi. Gwang Taek bergumam bahwa Ji sudah menjadi angin, selalu mengikutinya kemanapun pergi.

Dong Soo tiba di tempat itu, dan ketika Gwang Taek kembali dari impiannya, ia mengatakan pada Dong Soo bahwa ia dulu pernah memberitahunya bahwa Dong Soo sudah menjadi ahli pedang terhebat, dan julukan itu adalah beban yang sangat berat. Meskipun itu adalah julukan yang diidam-idamkan banyak pendekar namun itu juga sangat tidak nyaman. Julukan itu membuatnya sangat lelah dan merasa dalam kesulitan, juga tidak membantu dalam melindungi orang yang ia cintai. Sekarang semua yang ia inginkan adalah menjadi seperti angin … (mengulangi, walaupun Dong Soo sama sekali tidak tahu, kata-kata Ji mengenai kematian). Gwang Taek mengatakan kalau ia ingin hidup seperti itu untuk sisa hidupnya, dan kemudian ia tertawa … Dong Soo sama sekali tak memahami perkataan dan sikap dari Gwang Taek …

Gwagn Taek kemudian terbatuk-batuk, membuat Dong Soo khawatir, tapi kemudian ia tersenyum dan mengatakan kalau tak apa-apa.

Sementara itu, Chun masih berada di tepi danau, sedang berpikir untuk berlatih. Tapi ternyata ia merasa heran pada dirinya sendiri karena sekarang ia bahkan tak sanggup untuk menyakiti seekor capung yang hinggap pada pedangnya.

Photobucket

Dong Soo berpapasan dengan Ji Sun di jalan dan kemudian menemaninya saat melakukan kunjungan ke berbagai kumpulan pedagang. Mereka menyatakan penyesalan mereka dan menolak untuk memberi pinjaman pada Ji Sun tanpa adanya jaminan.

Chun sedang memancing saat Un mengunjunginya. Un mengingat nasihat Chun untuk mempertahankan Ji Sun. Chun bertanya padanya apakah jabatannya sebagai Chun Joo yang baru mengalami kesulitan? Un menyangkalnya, tapi Chun memberitahu Un bahwa tak ada alasan untuk berbohong padanya. Chun memberitahu Un bahwa ketika ia berada dalam posisi Un sekarang, saat ia merasakan tekanan yang menyesakkan dadanya, ia juga merasakan haus darah. Ia tidak tahu apakah itu adalah wataknya saat memegang pedang untuk menumpahkan darah, ataukah itu karena ketegangan dalam pertarungan yang membuatnya begitu merasa hidup. Namun setelah Ji mati, ia menyadari mungkin ia memang adalah ahli pedang yang terbaik saat ini, tapi dirinya yang sebenarnya sudah lama mati bersama dengan Ji. Kini ia menyesali kehidupannya yang dulu dan tidak mau Un mengalami hal yang sama.

PhotobucketPhotobucket

Chun memberitahu Un bahwa bukanlah Un yang membunuh sang ayah. Justru ayah Un sendiri yang membunuh diri. Un mendebat bahwa ialah yang membunuh ayahnya, tapi Chun menolak pernyataannya dan mengatakan kalau yang membuat ayah Un mati adalah dirinya sendiri. Sedikit kilas balik … ketiganya sebenarnya menyatakan hal yang sama-sama benar … Un ke sana untuk membunuh ayahnya namun gagal, Chun melemparkan sebuah pisau pada punggung si ayah, dan kemudian ayah Un mengambil pisau dari Un kemudian menusuk dirinya sendiri. Jadi hasil akhirnya adalah memang ayah Un terbunuh.

Chun memberitahu Un bahwa Un tak pernah punya takdir pembunuh pada dirinya. Takdir itu yang selama ini dipercayai oleh Un tidak pernah ada.

Un menjadi sangat tertegun. Ia kemudian mengulangi lagi, “Kau maksudkan bahwa ayahku mati karena takdir yang sebenarnya tidak pernah ada? (Kalau kalian masih ingat bahwa itu adalah takdir yang dipercayai oleh ayah Un yang kemudian tertanam dalam benak Un) Un menjadi marah dan mengatakan bahwa ia selama ini percaya bahwa ia menunggangi takdir itu, dan ia sangat membenci dirinya sendiri karena itu.

Photobucket

Chun bertanya pada Un apakah Un membencinya, tapi Un menjawab bahwa terlalu jauh untuk menyalahkan Chun dan sekarang dirinya tidak bisa mundur lagi. Un mengatakan bahwa untuk menjadi Chun Joo yang berikutnya, kau harus membunuh Chun Joo yang berkuasa, itu adalah aturannya. Un kemudian menghunuskan pedangnya tapi Chun memberitahu bahwa sekarang masih belum waktunya dan menyuruh Un untuk menunggu sedikit lagi.

Kembali ke markas Hoksa Chorong, Gu Hywang memberikan laporannya.

Tiba-tiba seorang pedagang bertandang ke kediaman Sa Mo untuk menawarkan bantuannya pada Ji Sun. Ji Sun menanyainya mengapa pedagang itu menawarkan uang dan ginseng untuk menbantu dirinya? Pedagang itu mengatakan bahwa bantuannya tidaklah gratis, ia ingin mendapatkan ginseng merah yang di tangan Ji Sun dan juga hak dagang mereka dengan Qing. Ji Sun tampak berpikir kemudian menyetujuinya, pedagang itu segera menyerahkan sejumlah banyak dana pada Ji Sun.

Photobucket

Sa Mo menjadi sangat bercuriga dengan kesepakatan yang tampaknya begitu mudah, tapi Ji Sun menunjukkan bahwa mereka telah melakukan kesepakatan yang seperti itu di masa lalu. Tentu saja, kembali ke pasar, si pedagang tadi tampak menemui Un, yang sekali lagi mengulurkan tangannya di balik layar tanpa Ji Sun dan Dong Soo ketahui.

PhotobucketPhotobucket

Kembali ke Istana, sang Pangeran tampak berdebat dengan Cho Rip mengenai rencana untuk mengubah silsilahnya. Singkat cerita, karena sang ayah, Pangeran Sado dianggap sebagai seorang pengkhianat, maka itu akan menjadi noda pada silsilah keluarga sang Pangeran Yi San dan dikhawatirkan nanti itu akan mengancam posisinya. Jadi, rencanaya adalah membuat paman Pangeran, yang mati muda, “mengadopsi” sang Pangeran. Itu hanyalah di atas kertas saja karena kedua pangeran sudah meninggal, tapi Pangeran Yi San keberatan dengan alasan kalau itu akan menghina kehormatan ayah kandungnya. Cho Rip memberitahu Pangeran bahwa ia harus menerima perubahan ini dengan tujuan untuk menjadi Raja yang selanjutnya, dan ketika ia sudah duduk di atas takhtanya, ia bisa dengan leluasa mendeklarasikan bahwa Sado adalah ayah kandungnya.

Cho Rip kemudian menemui sang Raja untuk mengusulkan perubahan ini. Raja tampak tidak senang dengan ide ini, tapi Cho Rip berpendapat bahwa ini akan membantu untuk memastikan keselamatan Pangeran dan akan menolongnya untuk naik ke atas takhta.

Tuan Kim bertemu dengan Ratu dan Tuan Hong untuk merencanakan rencana Pangeran ini. Ratu mengatakan bahwa Pangeran ternyata memiliki seorang pembantu yang andal jika mereka bisa memikirkan rencana seperti ini. Kim memberitahu Ratu bahwa itu akan membuat kehidupan mereka lebih sulit jika Pangeran benar-benar akan naik ke atas takhta. Bagaimanapun juga Hong mengatakan bahwa ia mungkin memiliki sebuah rencana.

Dalam rapat dewan Istana, tuan Hong dan Kim memuji rencana itu pada Raja, yang justru membuat Seo makin curiga pada mereka. Kemudian mereka mengusulkan bahwa sangatlah pantas bagi sang Pangeran melakukan perjalanan untuk mengunjungi makam “ayah” barunya untuk menunjukkan hormatnya. Raja setuju.

Kiriman ginseng sampai ke kelompok dagang Ji Sun, dan kelihatannya semuanya akan berjalan baik dalam usaha mereka kali ini. Cho Rip datang memberitahu mereka semua mengenai usulan kunjugan ke makam. Gwang Taek berpikir bahwa itu terlalu berbahaya, tapi Cho Rip mengatakan bahwa bagaimanapun  juga Pangeran memang akan melakukannya suatu saat nanti.

Photobucket

Gwang Taek mengajak Dong Soo ke Istana untuk meminta Raja agar menunda perjalanan itu. Raja menolak permintaan mereka.

PhotobucketPhotobucket

Jadi kedua pihak sama-sama mendiskusikan rencana ini. Di satu pihak adalah Tuan Kim, Tuan Hong, Hong Sa Hae, Kenjo dan juga Un, demikian juga dengan pasukan mereka. Di lain pihak adalah Pangeran, Dong Soo, Cho Rip, Hong Do, Jin Ju, Sa Mo dan juga para bekas bandit, demikian juga dnegan para pengawal dan pasukan mereka yang lain.

Kedua pihak sama-sama sedang menghadapi peta yang sama dan juga memiliki rencana yang hampir sama. Masing-masing pihak tahu ke mana Pangeran akan pergi, titik-titik di mana kemungkian penyergapan akan dilakukan maupun dijaga, dan juga semua rute untuk meloloskan diri. Tapi sebagai kartu kemenangannya, Gwang  Taek memberikan pada Sa Mo sebuah kalung yang diberi oleh Raja untuk melindungi mereka dari para penjahat.

Gwang Taek mengingatkan mereka bahwa keselamatan Pangeran adalah yang terutama!

Di lain pihak, Hong memberitahu Un bahwa ini adalah waktu bagi Un untuk menyerang Pangeran. Ketika Un tidak menjawab, Un mulai mengancamnya dengan menggunakan keselamatan Ji Sun. Un menjadi marah dan menghantamkan cangkirnya ke atas meja, memperingatkan Hong bahwa jika ia lain kali mengancam Un dengan keselamatan Ji Sun, Un akan membunuh Hong saat itu juga. Un mengatakan bahwa ia akan tetap menepati kesepakatan mereka kemudian pergi. Kenjo bertanya pada Hong apakah Un memang petarung yang hebat, dan Hong menjawab bahwa Kenjo pasti akan mendapatkan pertarungan yang cukup menarik melawan Un.

Dalam perjalanannya keluar, Gu Hyang mendekati Un dan memberitahunya bahwa seharusnya Un membawa Ji Sun dan pergi saja, karena Hong sedang memanfaatkan mereka. Un memberitahunya bahwa Gu Hyang tahu terlalu banyak, dan menyuruhnya agar tidak usah ikut campur.

PhotobucketPhotobucket

Mata-mata Hong tetap mengamati pihak Pangeran dan ketika iring-iringan mereka sudah bergerak meninggalkan Istana, Hong segera memberikan perintah pada anakbuahnya untuk mengejar mereka, dan semua orang pada posisi mereka masing-masing.

Penyergapan pertama datang seperti yang telah diduga, di hutan. Kelompok Sa Mo sudah siap menangkal mereka dan segera menyerang para penyergap sebelum penyergapan itu dimulai. Naman ternyata semua itu adalah tipuan, karena kelompok penyergap yang lain ada di dekat sana dan segera mereka melakukan penyerangan terhadap para pengawal Pangeran.

Sementara iring-iringan itu berlanjut, mereka melalui sebuah kota hantu, dengan kelompok penyergap lain yang sedang menanti kedetangan mereka. Kelompok Sa Mo kembali menyerang kelompok penyergap itu tapi tiba-tiba Hong Sa Hae dan sepupunya muncul dengan disertai para pengawal Istana untuk menangkap Sa Mo dan juga anakbuahnya dengan tuduhan sebagai pembunuh gelap.

Di lain tempat, Tuan Hong mencoba  untuk mengira-ngira apa yang sedang terjadi melalui sebuah peta, dan bertanya-tanya di mana penyerangan terakhir pada rombongan Pangeran akan terjadi. Dan ternyata itu direncanakan saat iring-iringan Pangeran melewati kota hantu.

Sa Mo dan Hong Sa Hae saling bertukar ejekan dan hinaan, Sa Mo mengatakan bahwa tak mungkin lah pihak Hong mampu mengalahkan Dong Soo. Tapi pada saat itu juga Hong Sa Hae menunjuk Un yang sedang berjalan menuju Pangeran untuk menyerangnya.

Photobucket

Para pembunuh gelap menghentikan iring-iringan itu di jalan yang sempit. Mereka mulai menghambur keluar dan menyerang rombongan sang Pangeran. Un tampak berlari menuju ke arah sang Pangeran, bertarung dengan para pengawal untuk membuka jalan ….

One comment on “Warrior Baek Dong Soo – Episode 22

  1. ^_^ hyung, dr jin lanjut ya… ganbatte !!
    jangan lama-lama lho oppa, i’ll wait your great recap as soon as possible hehehe…
    gamsahamnida🙂😛

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s