Warrior Baek Dong Soo – Episode 24

Yeo Un berhasil menghentikan Hong Sa Hae tepat pada waktunya, sebelum ia memerintahkan pasukannya melepas panah.

Sementara itu Chun dan Gwang Taek tidak menyadari bahwa jiwa mereka baru saja terancam bahaya, keduanya masih bertarung dengan sengit.


Chun: Gwang Taek, kau … karena dirimu, hidupku menjadi lebih berwarna. Terima kasih!

Gwang Taek: Aku juga sangat berterima kasih padamu!

Chun menghunuskan pedangnya, Hong Sa Hae dengan cepat segera memerintahkan para prajurit untuk melepaskan anak panah pada keduanya sebelum Un sembat bereaksi.

Gwang Taek melihat ke atas dan menggunakan pedangnya untuk menangkis semua anakpanah, membuat perhatiannya teralihkan ketika pedang Chun bergerak dengan cepat menuju tubuhnya. Chun dengan mudahnya menebas badan Gwang Taek tanpa perlawanan sama sekali. Gwang Taek ambruk ke muka dan pedangnya terjatuh ke tanah.

Yeo Un menatap pada Gwang Taek dengan perasaan cemas, membuat Hong Sa Hae mendapatkan kesempatan untuk menyingkir bersama-sama dengan pasukannya.

Saat Gwang Taek ambruk, Chun menyadari apa yang sedang terjadi. Pandangan matanya tampak penuh dengan rasa tidak percaya, ia bertanya apakah Gwang Taek pikir ia akan senang melihat kondisi Gwang Taek seperti ini? Gwang Taek membalas, saat dulu Ga Ok membutuhkannya, ia tidak membuang semua demi Ga Ok: “Aku tidak melakukan apapun baginya bahkan tidak sekali pun. Untuk wanita yang kucintai dengan sepenuh hatiku, tidak sekalipun aku dapat membuang segala yang kumiliki.”

Chun menyuruhnya untuk menutup mulut dan tidak berbicara lagi. Gwang Taek berkata sekarang akhirnya ia dapat pergi dengan tenang dan bersama-sama dengan Ga Ok lagi.

Chun menutup matanya dalam kesedihan yang mendalam, bertanya apakah Gwang Taek memang begitu mengharapkan agar bisa mati seperti ini? Gwang Taek menjawab, “Aku ingin agar kau kembali ke dirimu dulu … Ga Ok …. Ga Ok … Aku ingin sekali untuk bertemu dengan dirinya …”

Chun dengan sedih berkata, “Kau akan segera bertemu dengannya.” Ia kemudian berbalik dan berjalan pergi.

Dong Soo c datang terlambat, ia melihat Gwang Taek, kaget melihatnya terluka parah. Dong Soo segera berlari mengampirinya dan berlutut di hadapan Gwang Taek, menangis sedih. Dong Soo ingin mengejar Chun namun Gwang Taek mencegahnya. Gwang Taek memberitahu Dong Soo untuk melebihinya, “Kau adalah satu-satunya orang yang dapat melebihi diriku. Bukan hanya menjadi ahli pedang terhebat di Joseon, namun juga menjadi yang terhebat di seluruh dunia.” Dong Soo mendengarnya dan menangis lebih keras.

Jin Ju berlari menemui ayahnya, “Ayah!”

Yeo Un melihat semuanya dari jauh kemudian segera mnyelinap pergi.

Gwang Taekmemanggil anaknya, “Jin Ju … Jin Ju …” Ia menyentuh wajah Jin Ju, “Aku minta maaf Jin Ju … Aku mencintaimu … anak … anak gadisku …!”

Gwang Taek meninggal .. Jin Ju menangis demikian juga dengan Dong Soo …

Hong Sa Hae melapor pada ayahnya, Tuan Hong. Hong Dae Ju bertanya pada anaknya, tidakkah ia mendengar perintahnya untuk menarik mundur pasukan pemanahnya? Si mata-mata memberitahu bahwa ketika ia sampai di sana, semuanya sudah terlambat. Tuan Hong menatap anaknya dengan tajam dan bertanya apakah Chun melihatnya? Hong Sa Hae mengatakan bahwa Chun tidak melihat wajahnya, namun Un melihat. Dae Ju masih mengawasi anaknya, ia menyadari bahwa anaknya telah membuat satu kesalahan yang sangat fatal!

Tampak Chun menyerbu masuk ke ruangan itu, semua orang menjadi ketakutan kecuali Tuan Hong yang dengan tenang menghirup cangkirnya. Tuan Hong bertanya apa yang dapat ia lakukan bagi Chun? Chun bertanya siapa yang melakukannya? Hong Sa Hae menundukkan kepalanya. Tuan Hong menjawab kalau itu semua hasil perbuatannya, tapi Hong Sa Hae maju dan menyangkalnya, “Tidak, itu hasil perbuatanku!” Ia menghunus pedangnya kemudian menyerang Chun terlebih dahulu, tapi Chun dengan mudah menangkap lengannya dan mendorongnya ke atas tanah, memelintir tangannya.

Chun menghunuskan pedangnya dan bermaksud memotong lengan Hong Sa Hae, Tuan Hong dengan terpaksa mengatakan, “Itu karena Banwi!” Chun berhenti, Tuan Hong melanjutkan bahwa itu bukannya karena ia tidak ingin membunuh Gwang Taek, tapi ketika ia mendengar bahwa Gwang Taek menderita Banwi, ia segera memerintahkan pasukannya untuk mundur.

Tapi Chun tidak percaya, mengatakan bahwa tidak seorangpun boleh berbohong padanya. Ia dengan perlahan-lahan menusukkan pedangnya ke tangan Hong Sa Hae, yang segera saja menjerit kesakitan.

Kemudian Chun menarik kembali pedangnya dan menusukkannya ke meja di depan Tuan Hong, “Oleh karena hubungan pertemanan kita di masa lalu, aku akan mengampuninya sekali ini. Tapi di masa yang akan datang, aku anggap kita berdua tidak saling mengenal. Begini lebih baik!” Chun kemudian mengambil kembali pedangnya dan segera pergi.

Wajah Tuan Hong tampak memerah karena menahan amarah, ia segera memerintahkan keponakannya untuk memanggil tabib.


Jin Ju ditemani Jin Ki tampak sedang menunggui jenazah Gwang Taek yang telah dibawa ke kediaman Sa Mo. Ia berbicara pada jenazah ayahnya, bahwa seharusnya ia memanggil Gwang Taek ayah lebih awal. Tapi ia tidak punya keberanian, “Aku minta maaf … aku minta maaf ayah …” Jin Ju menangis tersedu-sedu.

Dong Soo ada di luar, menangis sendirian. Ji Sun datang menghampirinya dari belakang dan menyentuh bahunya dengan lembut.

Setelah tangan anaknya dirawat oleh tabib, Tuan Hong memberi nasihat pada anaknya, bahwa jika ia mendapatkan luka sedikit saja jangan berlaku seperti seorang bayi, tapi sebaliknya balaslah dua kali lipat. Tuan Hong sangat jengkel dan marah dengan tindakan Chun, “Mengkhianati diriku? Dia membuatkau ingin membunuhnya!” Tuan Hong kemudian memerintahkan mata-matanya dan keponakannya untuk mencari Dae Ung di pemakaman nantinya, ia beranggapan bahwa Dae Ung akan sangat membantunya nanti dalam membunuh Chun.

Sa Mo memanggil Dong Soo untuk masuk ke dalam dan memberitahunya bahwa ada sesuatu yang harus ia lihat.

Kilas balik, Gwang Taek memberitahu Sa mo bahwa jika saja ia mati dalam pertarungannya dengan Chun, Sa Mo harus menunjukkan luka-luka di tubuhnya pada Sa Mo.

Sa Mo mendesak Dong Soo untuk mengamati tubuh Dong Soo dengan baik-baik. Mata Dong Soo membelalak dalam rasa tidak percaya dan memberitahu Sa Mo bahwa ia tak bisa melakukan hal itu, bagaimana ia bisa menggangu jenazah gurunya?

Sa Mo meyakinkan Dong Soo bahwa itu adalah wasiat dari Gwang Taek. Dong Soo harus melihatnya!

Dong Soo dengan terpaksa masuk ke ruangan di mana jenazah Gwang Taek disemayamkan, ia duduk di pojok sambil merenungkan mengenai wasiat dari Gwang Taek padanya memintanya untuk mengamati jenazahnya, dan juga perkataannya yang masih mengiang di telinga bahwa Dong Soo harus melebihi diri Gwang Taek, menjadi seorang ahli pedang terhebat di dunia! Dong Soo kemudian bangun dengan perlahan-lahan, ia berlutut di samping jenazah Gwang Taek dan memberi penghormatan mendalam, ia meminta maaf pada roh Gwang Taek dan tangannya menjulur untuk membuka pakaian putih yang dikenakan pada jenazah Gwang Taek.

Dengan air mata bercucuran, Dong Soo memeriksa tiga tebasan luka di tubuh Gwang Taek satu persatu dengan teliti, dan ia berhasil menggambarkan bagaimana masing-masing luka itu dilakukan oleh Chun.

Raja memerintahkan Pangeran untuk memastikan pemakaman Gwang Taek berjalan dengan baik dan menyelesaikannya tanpa ada permasalahan berarti. Pangeran kemudian keluar dan memberitahu ketiga pemgawal pribadinya bahwa, “Seorang yang hebat telah pergi, mengurus semuanya dengan tnnpa cacat sama sekali.”

Para pejabat membicarakan mengenai kematian dari Gwang Taek, bahwa ia mati dalam duel, dan sekarang meninggalkan murid satu-satunya Baek Dong Soo. Tuan Hong dan Menteri Kim Hubn Gu mendengar ini.

Keduanya menemui Ratu, yang bertanya Tuan Hong, sekarang setelah Gwang Taek mati mengapa Dae Ju masih kelihatan tidak gembira? Menteri Kim mengatakan, “Gurunya memang sudah mati tapi bukankah muridnya masih hidup?” Ratu kemudian bertanya apakah yang ia maksudkan adalah si pemuda Baek Dong Soo? Hun Gu menyahut bahwa si pemuda Baek Dong Soo itu penuh dengan semangat muda dan reputasinya juga terkenal baik.

Dae Ung mendengar orang-orang lewat yang berbicara mengenai kematian dari Gwang Taek, dan ia tersenyum senang. Mata-mata dan keponakan Tuan Hong akhirnya menemukan Dae Ung yang sedang memeriksa prosesi pemakaman Gwang Taek. Mereka berdua membawa Dae Ung pada Tuan Hong.

Dae Ung bertanya pada Tuan Hong, apakah mereka bisa membunuh Chun sekarang? Tuan Hong berpikir mungkin si Dae Ung punya strategi yang bagus, dan bertanya apakah mereka sebaiknya membicarakan mengenai rencana itu bersama-sama, karena ia benar-benar berharap untuk dapat melenyapkan Chun. Hong kemudian  menunjukkan sekotak penuh emas. In kemudian mengatakan bahwa Chun punya anak gadis tidak sah, alias Jin Ju, Hong Dae Ju tampak sangat terkejut. Tampaknya Dae Ung tidak tahu yang sebenarnya, bahwa Jin Ju bukanlah anak dari Chun melainkan Gwang Taek.

Pada iring-iringan prosesi pemakaman Gwang Taek,banyak ahli pedang dan juga yang lainnya ikut mengantarkan kepergian Gwang Taek.

Sa Mo menyebarkan abu Gwang Taek yang langsung diterbangkan oleh angin, dan mengatakan pada roh Gwang taek untuk mencari Ga Ok, pergi ke gunung dan lautan.

Dong Soo mengingat kenangannya bersama dengan Gwang Taek saat gurunya itu masih hidup.

Suara hati Dong Soo: “Muridmu ini pasti akan melebihi dirimu, Guru, dan akan menyelesaikan perjalanan untuk menguasai seni bela diri Joseon.”

Cheon sedang duduk sendirian dan minum-minum, Dae Ung menyelinap di belakangnya, menatapnya kemudian bergumam, “Penguasa Langit, sekarang adalah giliranmu!”

Yeo Un berpikir mengenai apa yang dikatakan Gwang Taek padanya, “Kalian berdua adalah seperti anak-anakku sendiri.” Gu Hyang mendatanginya dan bertanya apakah Un tidak akan pergi untuk menghadiri pemakaman? Un mengatakan bahwa ia tak bisa pergi ke sana karena pasti tidak akan disambut dengan baik, lagipula Gwang Taek telah meninggalkan banyak hal yang belum terselesaikan di bahu Dong Soo.

Sa Mo untuk terakhir kalinya mengeluh tindakan Gwang Taek yang menyembunyikan penyakit kankernya pada mereka bahkan  sampai pada matinya.

Jin Ki mengatakan meskipun Gwang Taek telah meninggalkan mereka, namun ia akan bersama-sama dengan Ji di sana. Ia pasti lebih bahagia di sana daripada di sini. Sa Mo memberitahu Dong Soo untuk mengatakan sesuatu. Dong Soo mengatakan, “Dalam kebahagiaan … ia meminta kita untuk hidup dalam kebahagiaan.”

Jin Ju merasa hatinya sangat sedih dan mencengkeram baju di dadanya, ia menyingkir dari yang lain dan berdiri sendirian di tepi laut. Dong Soo menghampirinya dari belakang dan memanggil namanya.

Jin Ju mengatakan pada Dong Soo, “Jika saja aku tahu bahwa ia akan pergi dengan cara seperti ini, aku mungkin akan memegang tangannya untuk mencari kehangatan seorang ayah. Dan aku akan melakukan apa yang pantas dilakukan seorang anak perempuan pada ayahnya. Dong Soo, bagiku … di sini … di sini … aku merasa sangat pedih!” Ia menepuk baju di dadanya, “Tepat di sini .. di tempat ini! Sangat sesak sehingga membuatku tak dapat bernapas!” Jin Ju menangis dan memberitahunya agar membiarkannya sendirian untuk sementara lalu beranjak pergi sendirian.

Chun duduk sendirian di tepi danau dan berbicara pada roh Gwang Taek, bertanya apakah sekarang ia bersama-sama dengan Ga Ok,  “Kau, mengapa kau memancing tanpa  umpan?” Chun duduk di sana sampai subuh menjelang dan menyaksikan matahari terbit.

Yeo Un sedang mondar-mandir dan berpikir mengenai hal-hal yang belum diselesaikan oleh Gwang Taek, ia mengingat mengenai pertarungan antara Gwang Taek dan Chun. Lalu ia bertanya dalam hati, “Kau paling tidak memiliki tiga kesempatan untuk melukai Chun, apakah kau ingin meninggalkan ini untuk Dong Soo?”

Tampak Dong Soo sedang berlatih dengna tekun, mengingat apa yang telah diajar Gwang Taek padanya.

Cho Rip membawa Pangeran ke gudang senjata dan menunjukkan pada Pangeran mengenai tombak Pangeran Mahkota Sado. Pangeran mengambilnya dan kemudian berlatih dengan menggunakan tombak itu. Raja tak sengaja berjalan di dekat sana dan melihatnya.

Raja bertanya pada Pangeran mengapa ia mengambil tombak itu, Pangeran mengatakan bahwa ia hanya ingin mewarisi tradisi kerajaan dan berlatih seni bela diri. Raja memerintahkan agar tombak itu diambil dan dilebur.  Pangeran tampak  sangat cemas, ia bertanya bukankah itu adalah Tombak Woldo yang ditinggalkan oleh Raja Hyojong? Raja membentak balik padanya bahwa benda ini bisa menyakitinya, apalagi jika orang luar mendengar kalau ia menggunakan tombak yang ternyata adalah senjata kesayangan  milik ayahnya, sang Pangeran Mahkota Sado. aRaja kemudian memerintahkan Yu Dae untuk membawa tombak itu pergi.

Ji Sun sangat khawatir mengenai Dong Soo, Sa Mo bertanya apakah Dong Soo tidak kembali semalam? Ji Sun menjawab kalau ini sudah berlangsung 4 hari. Sa Mo memintanya untuk tidak menunggu Dong Soo, ketika Dong Soo ingin maka ia pasti akan kembali.

Dae ung membawa senjata yang khusus dibuat untuknya, sebuah busur dan anak-anak panah, bermaksud untuk menggunakannya pada Chun.

Chun duduk sendirian, ia kemudian melihat seorang ayah dan anak gadisnya sedang berjalan bersama-sama membuatnya teringat pada Jin Ju. Tapi ayah si gadis itu ketakutan saat melihat Chun dan segera menggiring anaknya pergi.

PhotobucketPhotobucket

Chun kemudian mendatangi kediaman Sa Mo dan bertanya mengenai keberadaan Dong Soo, Mi So mencoba untuk menusuknya dengan sebuah pisau mengatakan bahwa Chun telah membunuh ayahnya. Chun dengan mudah mengambil pisau itu dari tangan Mi So dan bertanya siapa nama ayahnya. Mi So menjawab ayahnya bernama Jang Dae Po. Chun kemudian mengatakan bahwa tindakan Mi So bisa dimengerti lalu mengembalikan pisau itu pada Mi So. Sebelum Mi So mencoba untuk menusuknya lagi, Jin Ju datang dan memanggil Chun.


Jin Ju bertanya padanya apa maksudnya datang kemari ataukah ada seseorang yang ingin ia bunuh sekarang? Jin Ju memberitahu Chun bahwa ia tak pernah merasa takut akan Chun meskipun tahu kalau Chun itu jahat, tapi ia benar-benar tak pernah takut. Tapi sekarang ini, Chun membuatnya takut, “Ketika aku berpikir bahwa kau yang telah membunuh ayahku dengan pedang itu. Bagaimana teganya seorang yang telah membunuh ayahku sekarang muncul di hadapanku? Bagaimana kau tega? Bagaimana kau tega? Aku bahkan tidak sempat memanggilnya ayah! Aku sekarang tidak bisa memegang tangannya yang hangat! Karena itu aku bertanya padamu, mengapa? Mengapa kau harus membunuh ayahku? Mengapa?” Jin Ju mendekatinya dan memegang tangannya untuk mengusirnya pergi. Tapi Chun duduk seperti batu dan tidak mau pergi.

Mi So bergegas menemui Dong Soo dan memintanya untuk membalaskan dendam bagi ayahnya.

Sa Mo dan Jin Ki muncul. Sa Mo segera menyeret Jin Ju pergi menjauh dari Chun dan Jin Ki bertanya apa yang ia lakukan di tempat ini. Sa Mo menghunuskan pedangnya, mengatakan Chun seharunya meminta ampun pada Gwang Taek di kehidupan selanjutnya, tapi Jin Ki menghentikannya.

Chun memberitahu semua orang bahwa ia kemari hanya untuk bertemu dengan Dong Soo. Saat Sa Mo membentaknya, Chun kembali betanya dengan nada datar mengenai keberadaan Dong Soo. Ia memberitahu mereka, ia tetap akan di sini walaupun mereka akan membunuhnya. Ia kemari untuk bertemu dengan Dong Soo. Chun duduk dengan sabar menanti kedatangan Dong Soo.

Dong Soo berlari secepat mungkin untuk pulang dan saat ia sampai, hari sudah menjadi gelap.

Chun memandang ke depan dan memberitahu Dong Soo untuk keluar dan menemuinya. Chun kemudian pergi terlebih dahulu, Sa Mo memperingatkan Dong Soo untuk berhati-hati. Dong Soo meminta Sa Mo dan Jin Ki untuk menjaga Jin Ju, kemudian mengangguk pada Jin Ju untuk menenangkannya lalu beranjak pergi menyusul Chun.

Chun dan Dong Soo berjalan ke tempat yang sepi. Dong Soo memberitahunya kalau ia akan menyerang dan segera melakukan serangan. Chun menghindarinya dengan mudah.

Suara hati Chun: “Apakah seperti ini? Gwang Taek, apa yang telah kau tinggalkn untukku, apakah ini?”

Chun bertarung sambil berpikir, “Bocah ini ilmu pedangnya masih kurang matang, apakah demi ini kau membuang hidupmu? Apa yang ingin kau katakan untuk ku lakukan? Apakah aku harus membunuh bocah ini, Baek Dong Soo?”

Pertarungan mereka berlangsung di sepanjang jalan, membuat orang-orang yang lewat ketakutan dan segera menyingkir jauh-jauh. Terlihat juga keponakan Tuan Hong dan mata-matanya sedang mengawasi dari jauh. Dong Soo suatu kali mendapatkan keuntungan namun Chun segera memulihkan kedudukannya.

Dong Soo dan Chun akhirnya berhenti, dengan pedang Dong Soo menodong leher Chun dan pedang Chun di depan dada Dong Soo.

Chun bertanya, “Kau tidak akan mampu untuk membunuh diriku. Sebuah pedang digenggam oleh hati sang pemegangnya. Tapi dari apa yang kulihat, hanya ada kemarahan dan duka di hatimu. Tidakkah kau menyadarinya? Jika kau ingin membunuhku, maka kau harus menusukkan pedang ini ke jantungku dengan pikiran yang tetap untuk benar-benar membunuhku!”

Kemudian Dong Soo mengingat, suara Gwang Taek, “Hanya pikiran yang tetap dan tenang yang dapat menggerakkan pedang!”

Chun:: “Sejauh ini aku sedang membayar hutangku (pada Gwang Taek). Mulai sekarang kau harus mempertaruhkan hidupmu!” Dan mereka berdua kembali bertarung. Kali ini dengan lebih dahsyat.

Mereka saling bertukar tusukan dan sabetan, satu menangkis satu menusuk, satu menyabet satu menghindar.  Dong Soo mulai berada di atas angin.

Dong Soo berhasil menebas tubuh Chun sekali, tepat sebelum Chun menebas kepalanya. Darah mengucur dari dadanya, Chun menunduk melihat lukanya dan menghela napas. Chun menyarungkan kembali pedangnya, “Apakah kau tahu, bahwa Gwang Taek pernah mencoba untuk memancing tanpa umpan? Aku tidak tahu apa maksudnya! Apa yang sedang coba ia tangkap!” Chun kemudian mengangguk dan pergi dengan sedikit sempoyongan karena lukanya.

Ketika Dong Soo dalam perjalanan pulang, entah dari mana Un sudah menghunus pedangnya dan berlari menyerang Dong Soo. Un mencoba untuk menusuk Dong Soo namun Dong Soo dapat menangkisnya dengan pedangnya.

Dong Soo: Apa yang sedang kau lakukan?

Yeo Un: Itu adalah serangan terbaikku. Karena kau berhasiil menghindar dan tetap hidup setelah menerima serangan pedang seperti itu, Dong Soo, kau sekarang adalah ahli pedang terhebat di Joseon. Namun, aku akan menjadi pembunuh gelap terhebat di Joseon. Pikiranku sekarang, yang pertama, adalah naik ke posisi itu. Selanjutnya, kau adalah sasaranku selanjutnay, Dong Soo!” Yeo Un menyarungkan pedangnya dan pergi.

Dong Soo kembali pulang dan semua orang sangat senang melihatnya selamat tanpa kurang suatu apapun. Sa Mo bertanya apa yang terjadi pada Chun? Dong Soo menggelengkan kepalanya menyatakan bahwa ia tidak membunuh Chun. Sa Mo menghiburnya bahwa lain kali ia bertemu dengan Chun, Dong Soo harus memenggal kepala Chun. Jin Ju tampak sangat lega dan juga kecewa pada saat bersamaan.

Chun, diikuti oleh Un, menuju ke sebuah tempat lapang yang sepi dan duduk di sana. Un menemuinya dan membungkuk hormat yang dibalas dengan sopan oleh Chun.

Yeo Un: Penguasa Langit, kau tidak pernah sekalipun mengajariku sebuah pelajaran. Kau hanya memberiku perintah sebagai seorang pembunuh gelap. Tapi kau barusan mengajari Dong Soo.

Chun: Itu adalah pilihanmu sendiri.

Yeo Un:  Ya, ini adalah jalan yang telah kupilih. Jadi, mulai dari sekarang, aku akan melakukannya dengan caraku sendiri.  Entah itu  hati maupun kehidupan dari seseorang, aku ingin semuanya. Untuk menjadi Penguasa Langit yang baru dari Hoksa Chorong, aku harus mengambil nyawa dari Penguasa Langit yang sekarang.

Chun mengangguk setuju memang sekarang ini adalah waktunya. Ia berdiri dan bersiap untuk melakukan duel dengan Yeo Un.

Kilas balik, saat Chun pertama kali bertemu dengan Yeo Un remaja.

Chun: Lalu, bersediakah kau pergi bersamaku?

Yeo Un berpikir bahwa dirinya tidak akan bersembunyi maupun menyembunyikan segala sesuatunya.

Kilas balik, Chun: Seorang pembunuh dan seorang ahli bela diri, apa perbedaan di antara mereka?

Yeo Un berpikir: Jika ada darah yang bisa kuambil, maka aku pasti akan mengambilnya!

Kilas balik, Chun memegang wajah Un, “Itu adalah ekspresi yang sangat bagus! Pandangan matamu sekarang seperti seorang pembunuh gelap yang menguasai hidup dan mati dari kehidupan orang lain. Ini adalah ekspresi yang seharusnya dimiliki seorang pembunuh gelap yang sesungguhnya.”

Yeo Un berpikir, “Satu satunya hal yang tertinggal bagiku adalah jalan seorang pembunuh gelap!”

Mereka bertarung beberapa saat, dan pada akhirnya Yeo Un berhasil menusukkan pedangnya ke tubuh Chun. Chun tertegun, matanya membelalak. Kemudian ia dengan perlahan melihat ke tempat di mana Un menusuk tubuhnya.

Chun memandang pada Yeo Un. Mereka berdua tetap berdiri dengan diam karena sudah mengetahui hasilnya …

3 comments on “Warrior Baek Dong Soo – Episode 24

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s