Warrior Baek Dong Soo – Episode 25

Chun menundukkkan kepala dan melihat lukanya. Yeo Un menarik pedangnya. Chun terhuyung sedikit ke belakang menahan rasa sakit. Ia memegang bahu Yeo Un dan bertanya, “Sudahkah kau meraih Langit di tanganmu?” Yeo Un tak menjawabnya, Chun menepuk pundaknya dan berbalik pergi.

Ketika Chun berjalan pergi, Yeo Un merasa lemas dan jatuh berlutut di tanah. Chun berhenti berjalan dan mengatakan, “Un, janganlah kau ikuti langkah takdirku!” Yeo Un mendongak dan menatap punggung Chun, air mata menggenang di matanya, Un berpkir, “Aku tak akan mengikuti langkahmu! Aku bukan lagi seorang pembunuh gelap! Aku akan melepaskan jalan pembunuh gelap … Aku akan melepaskan semua itu, Dong Soo.” Chun berjalan pergi dengan terhuyung-huyung. 

Jin Ju sedang berjalan di sebuah jalan yang gelap, tiba-tiba ia dikepung oleh para prajurit. Jin Ju terkejut tapi tak takut, bertanya apa maksud dari mereka. Dae Ung menampakkan dirinya dan membuat senyum licik.

Chun sedang berjalan sendirian dengan pelan, terluka. Jin Ju tanpa bersuara melangkah menemuinya. Dae Ung sedang bersembunyi di antara semak-semak dengan senjata busurnya mengarah pada Chun.

Segera setelah Chun melihatnya, ia membuat senyum lembut. Jin Ju yang melihat Chun terluka, berbisik padanya memohon agar Chun kembali saja. Chun tersenyum dan berjalan mendekati Jin Ju.

Para prajurit segera menyerbu keluar, Jin Ju terkesima, ia segera melihat di belakangnya dan sangat terkejut mellihat banyak prajurit sudah berbaris. Tuan Hong juga ada di sana, mengawasi dari belakang. Chun merasa terkejut dan mengawasi ke sekelilingnya. Jin Ju menatapnya dengan penuh ketakutan.

Dae Ung, mengarahkan busurnya pada Chun, berkata “Chun, ini adalah kesalahanmu karena mencoba untuk membunuhku, sekarang kau tidak dapat melarikan diri dari sang maut!”

Chun terus berjalan mendekati Jin Ju, seorang prajurit memanah kakinya, ia jatuh berlutut dengan satu kaki, namun segera bangkit berdiri. Panah lain mengenai dadanya, ia jatuh lagi dan darah mengucur dari mulutnya.

Chun mencoba untuk kembali bangun, Jin Ju sangat bersedih melihatnya dan menggelengkan kepalanya sambil menangis, memohon padanya untuk tidak mendekat, namun Chun masih bergerak untuk mendekatinya.

Chun mengatakan padanya bahwa ia sungguh-sungguh menyesal dan minta maaf, Jin Ju menangis tersedu-sedu. Chun menatap pada Tuan Hong. Jin Ju memohon pada Chun agar kembali saja. Tuan Hong kemudian menganggukkan kepalanya memberi tanda pada anaknya, Hong Sa Hae, yang segera memerintahkan untuk melepaskan panah pada Chun dan Jin Ju.

Chun segera meraih dan memutar tubuh Jin Ju, ia menggunakan tubuhnya sendiri sebagai pelindung, menerima semua anak panah yang dilepaskan ke arah mereka berdua. Chun memeluk Jin Ju erat-erat. Jin Ju tak bisa percaya dengan apa yang dilakukan oleh Chun. Chun memegang wajah Jin Ju dan tersenyum lagi dengan lembut, ia memberitahu Jin Ju agar tidak meneteskan air mata membasahi wajahnya yang cantik lagi, “Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa!”

Bertindak lebih jauh, Dae Ung dengan tangan gemetaran keras melepaskan anak panah dari busur-silangnya.

 

Tubuh Chun tersungkur ke depan, terkena panah Dae Ung di punggungnya, ia perlahan-lahan merangkak ke depan sampai kepalanya bersandar pada bahu Jin Ju, dan kemudian menghembuskan napas terakhir di pelukan Jin Ju. Ooooooohhhh tidaaaaaakkkkkkkkkk ….. hiks … hiks ….  T_T  …. Chun yang keren tewas …. huaaaaaaaaaa …. >.<

Waktu berlalu dengan cepat, banyak orang datang ke kediaman Sa Mo dengan tujuan mencari ahli pedang terhebat di Joseon, Baek Dong Soo, untuk menantangnya bertarung. Jin Ju, Ji Sun, Sa Mo dan Jin Ki mengawasi ke arah mereka, kemudian seakan tidak ada yang terjadi melanjutkan kembali apa yang mereka kerjakan sebelumnya. Seorang pria maju dan berteriak dengan lebih keras bertanya siapa yang bernama Baek Dong Soo?

Sa Mo mengatakan kalau teriakan orang itu sungguh bising dan meminta Jin Ju untuk mengurusnya. Jin Ju berteriak balik mengatakan kalau ia sendiri juga sibuk sekarang, kemudian ia berbalik menghadapi para pria itu dan bertanya apa mereka mencari pertarungan pedang yang sesungguhnya? Pria itu mengangguk dan bertanya apakah ia Baek Dong Soo. Jin Ju terkesima tapi lalu memberitahu pria itu biayanya 20 yang! Ia menunjukkan sebuah kotak di tempat itu, yang bertuliskan: pertarungan tangan kosong 5 yang, pedang kayu 10 yang, pedang sebenarnya 20 yang. Pria itu segera mengangguk pada seorang anakbuahnya, yang menjatuhkan 20 yang di kotak itu. Jin Ju tersenyum senang.

Mereka bertarung, tapi Jin Ju dengan mudahnya mengalahkan pria penantang itu. Ia menendangnya keluar dan memberitahu pria tersebut ketika pria itu merasa lebih jago baru silahkan datang menantang lagi.

Di sebuah desa, dua orang tampak sedang bertarung, orang-orang lewat segera berkumpul membentuk lingkaran untuk melihat. Tampak pemenang dari pertarungan itu sudah terlihat, wasit mengangkat tangan seorang pemuda dan menyatakannya sebagai pemenang dari pertarungan itu. Si wasit kemudian bertanya siapa nama pemuda itu, yang menjawab kalau ia dipanggil Baek Dong Soo. Semua orang menjadi terkejut karena ternyata pemuda itu adalah Baek Dong Soo yang asli, mereka segera berkerumun lebih mendekat untuk menyalaminya, pemuda itu tersenyum.

Di Hoksa Chorong, dua orang, dengan mata ditutup dibawa masuk dan memperkenalkan mereka pada Penguasa Langit. Tutup mata keduanya kemudian dilepas. Keduanya mengingat duel mereka dulu dengan Cheon.

Ye Un maju ke depan dengan mata tertutup dan bertarung dengan keduanya. Yeo Un tanpa susah payah berhasil mengalahkan mereka. Seorang yang memegang buku berkata, “”Penguasa Langit Hoksa Chorong bergerak seperti bayangan dan membunuh, seperti yang sudah aku tahu, tapi … ” Rekannya menyambung, “Kau masih benar-benar muda.” Yeo Un mengangguk dan memberitahu mereka bahwa Penguasa Langit yang sebelumnya sudah ia kalahkan.

Kedua orang itu terkejut, “Apakah maksudmu ia dikalahkan olehmu?” Yeo Un bertanya apakah mereka bersedia mengikutinya. Keduanya berpandangan satu sama lain.

Dong Soo sedang duduk di sebuah kedai minum,  memesan makanan dan minuman kemudian sibuk menulis dan menggambar pada sebuah buku, isinya mengenai seni bela diri dan pertarungan. Sekelompok orang datang dan mengganggu acara makannya, bertanya apakah Dong Soo adalah murid dari Malaikat Pedang Gwang Taek? Dong Soo membenarkannya. Pria itu  segera menodongkan pedang mereka pada Dong Soo dan menantangnya.

Dong Soo mengawasi pedangnya dan mengatakan, “Pedang bermata dua, panjangnya sekitar 6 kaki 5 inchi, dan beratnya sekitar 3 geun.” Dong Soo menyentuh pedang itu dan bertanya pada si pria apakah tidak terlalu berat baginya? Pria itu sangat marah, dan mulai mengayunkan pedangnya terarah pada Dong Soo. Dong Soo segera melompat menghindar dan, tanpa menggunakan pedang, ia menepuk kepala pria itu hanya dengan buku di tangannya. Pada akhirnya, pria itu kalah dan terjatuh, Dong Soo bertanya apakah dilanjutkan? Anakbuah pria itu segera menyeretnya pergi dari tempat itu.

Dong Soo kembali di tempatnya tadi, ia kemudian berpikir mengenai “pedang bermata dua” dan menggambarkan sebuah pedang bermata dua di bukunya.

Hong Do sedang lewat di kedai itu, dan ketika melihat Dong Soo, ia bertanya, “Bukankah kau Yeongsuk?” Dong Soo mendongak dan tersenyum melihatnya, dan bertanya apa yang sedang Hong Do lakukan di tempat ini? Hong Do menjawab kalau ia sudah berkeliling untuk melihat negeri yang indah ini, dan untuk melukis, tapi ternyata di sini, di Naju, siapa pikir kalau mereka berdua akan bertemu.

Orang ketiga datang dan bergabung dengan mereka, ternyata Cho Rip. Dong Soo sangat senang melihatnya dan senyumnya segera melebar, ia bangun dan memeluknya.

Mereka bertiga duduk di tempat Dong Soo dan minum bersama, Dong Soo segera saja tahu bahwa pertemuan yang dikatakan tidak sengaja ini adalah kebohongan belaka, sudah pasti ada masalah di Istana sehingga mereka sekarang mencarinya.

Cho Rip mulai membeberkan sebuah cerita, “Setengah bulan yang lalu, karena perkataan seorang shaman yang terkenal, seluruh Hanyang menjadi kacau-balau!”

Seorang shaman wanita sedang melakukan ritualnya, tampak Tuan Hong duduk di sana. Shaman itu mulai menggumamkan manteranya, “Pangeran Mahkota harus mati, Pangeran Mahkota harus mati, hanya dengan kematian Pangeran Mahkota lah maka negeri ini bisa makmur!” Tuan Hong segera menyerahkan sekantung koin emas dan memberitahunya, “Meskipun dengan sebuah pedang ada di lehermu, kau harus tetap berbicara seperti ini tanpa mengubah pikiranmu sama sekali!” Tuan Hong kemudian tertawa terbahak-bahak … sangat senang ..

Suara Hong Do, “Selain perkataan shaman itu yang sangat cepat menyebar, tanda-tanda kesialan terus terjadi di Istana, bahkan sebuah boneka voodo telah ditemukan di depan Istana kediaman Pangeran Mahkota!”

Dong Soo bertanya apakah boneka itu hasil perbuatan si shaman wanita? Hong Do mengiyakan, tapi mereka tidak tahu siapa yang membawanya ke Istana. Cho Rip menyambung, masalahnya adalah, bahwa shaman itu, meskipun sampai ia mati tetap mengatakan hal yang sama. Dong Soo menghela napas … dadanya merasa berat …

Raja dan sang Pangeran berdiri berdampingan sementara sang shaman wanita diadili dan disiksa, namun ia tetap mengucapkan mantera, “Hanya dengan kematian Pangeran Mahkota, maka negeri ini bisa makmur!”

Dong Soo bertanya, meskipun mereka tidak tahu keseluruhan ceritanya, tidakkah semuanya sudah mereda sekarang? Hong Do mengatakan kalau itu tidak akan semudah itu.

Raja dan sang Pangeran melihat meteor yang jatuh dari langit. Tuah Hong bertanya pada Raja, tidakkah itu adalah meteor merah? Menteri Kim mengatakan kalau perkataan shaman wanita itu sungguh menjadi masalah besar, tapi “Kenapa sekarang ada meteor yang menandakan ketidakberuntungan melewati Istana?” Raja tidak dapat menjawabnya.

Hong Do mengatakan, mulai dari hari itu, sang Raja menderita demam dan masih berbaring di tempat tidurnya. Dong Soo mendengarkan kisah itu dengan seksama, ia juga bertanya apakah ada yang bisa ia lakukan, ia tidak memiliki kemampuan untuk menangkap sebuah meteor yang ada di langit. Cho Rip dan Hong Do berpandangan satu sama lain.

Cho Rip melanjutkan ceritanya, selama dalam perjalanan kelilingnya ke seluruh negeri, sebuah rumah judi berdiri di Hanyang. Hong Do menyambung, entah itu wanita atau pria, muda atau tua, jika mereka bisa bertarung maka mereka boleh ikut, rata-rata taruhan lebih dari 1000 yang.

Di rumah judi, Jin Ju menyamar sebagai seorang pria naik ke ring untuk mengikuti pertarungan. Ia mampu mengalahkan lawannya dan mendapatkan hadiah uangnya. Tak sengaja Jin Ju melihat kehadiran Hong Sa Hae dan sepupunya ada di tingkat dua.

Hong Do mengatakan, lebih lebih, meskipun tidak ada bukti, ada gosip yang beredar bahwa Hong Dae Ju telah menanamkan modalnya di rumah judi itu. Cho Rip mengatakan bahwa mereka sudah menyiapkan kuda untuk Dong Soo. Ketiganya segera berangkat dan memacu kuda kembali ke Hanyang.

Yeo Un sedang mengawasi pedang-pedang yang berbaris di depannya, mengingat kata-kata Chun, “Perhatikan dengan seksama, beratus-ratus tahun sudah berlalu namun pedang-pedang itu masih dalam kondisi aslinya, tidak pernah digerakkan lagi. Pedang-pedang ini adalah bukti hidup dari sejarah panjang Hoksa Chorong!”

Gu Hyang menghampiri Yeo Un dan bertanya, “Hoksa Chorong akan kau bubarkan? Apakah itu benar?”

Yeo Un, “Kau bisa mengikutiku, tapi aku tidak akan memaksamu!”

Gu Hyang, “Ini tidak akan mudah, maksud perkataanku adalah, bukankah ini adalah Hoksa Chorong yang memiliki sejarah panjang beratus-ratus tahun?? Meskipun diumpamakan ada perintah pembubaran Hoksa Chorong dari Kerajaan, namun para bangsawan dan pedagang yang telah berhubungan dengan Hoksa Chorong sangat banyak. Akar kita tertanam sangat dalam!”

Yeo Un menyahut, “Aku tahu, jika saja Hoksa Chorong tidak dicabut sampai ke akar-akarnya, maka ketika aku sudah tidak ada di sini, yang lain akan membangunnya lagi. Karena itulah, bahkan akarnya pun harus dimusnahkan!”

Gu Hyang mengatakan, meskipun Un mempertaruhkan nyawanya, tidak ada jaminan kalau Un bisa melakukan itu. Yeo Un menatapnya, “Maukan kau membantuku?” Gu Hyang menatapnya balik dan kemudian menganggukan kepalanya.

Dae Ung sedang menyelesaikan santapannya, ia memeriksa jarinya yang terpotong dan mengatakan bahwa dengan makan membuat ia merasa sangat kuat. Ia berpikir mengenai saat Dong Soo menusukkan sebuah jarum akupungtur ke tubuhnya, Dong Soo memberitahunya bahwa untuk sementara ia bisa hidup dengan normal. Dae Ung bergumam, “Penguasa Langit telah hilang, Malaikat Pedang juga sudah tidak ada. Sekarang yang tertinggal hanyalah seorang Baek Dong Soo!” Ia kemudian membuka sebuah kotak dan memeriksa batangan-batangan emas di dalamnya.

Raja merasa kurang enak badan, ia sedang di kamarnya ditemani sang Ratu. Ratu mengulangi perkataan shaman wanitua itu pada Raja berpura-pura penuh perhatian. Perkataan itu mengingatkan Raja pada insiden yang tidak menyenangkan, ia terbatuk-batuk, jelaslah bahwa kata-kata itu lah yang mempengaruhi kesehatannya.

Di luar kamar, Ratu menghentikan Pangeran yang akan memasuki kamar raja, Ratu memberitahu bahwa Raja membutuhkan istirahat jadi Pangeran seharusnya kembali saja hari ini. Pangeran menuruti perintah Ratu.

Ratu memberitahu Hong Dae Ju bahwa rencana mereka tidak boleh ada kesalahan sedikitpun! Tuan Hong mengatakan bahwa sudah ada ramalan dari shaman itu, dan ia telah membuat pemandangan meteor jatuh. Hong mengusulkan untuk mempercepat langkah mereka selanjutnya. Ratu mengangguk setuju.

Yeo Un bergabung dalam pertemuan para pedagang, salah satu pedagang berteriak bahwa jika mereka memberi pihak Un 70%, apakah Un ingin mereka mati kelaparan? Yeo Un memberitahu mereka, bahwa apa yang mereka pikir sekarang ini adalah milik mereka, bukankah jika bukan karena Tuan Hong maka semuanya akan hilang? Para pedagang tak bisa berdebat lagi. Mata-mata tuan Hong memberitahu mereka, tidak ada diskusi lagi, 70% harga mati! Dua pedagang merasa tidak setuju dan segera bangun menyatakan kalau mereka akan berhenti, Yeo Un bangun dan menebas mereka.

Yeo Un, “Jika seseorang ingin membatalkan kesepakatan kita, kuminta putuskan sekarang juga!” Tak ada seorangpun berani bergerak. Hong Sa Hae sangat puas dengan sikap dan tindakan Yeo Un.

Hong Sa Hae melaporkan pada ayahnya mengenai pandangan Yeo Un dan juga tindakannya yang menunjukkan kerjasama. Tuan Hong mengatakan, meskipun sedikit terlambat, seperti yang telah dikatakan, bahwa tanaman gandum akan menundukkan kepalanya saat matang. Tuan Hong tertawa senang, sekarang ini, barak Pasukan Kerajaan, Pengawal Istana, dan Kantor Persenjataan, Komandan Pelatihan dan juga semua pimpinan barak pasukan, undang mereka semua ke gibang, ia menyuruh putranya.

Si mata-mata bertanya mengenai barak Pasukan Kerajaan. Tuan Hong mengatakan bahwa kapten Pengawal Istana adalah Seo Yu Dae yang ia benar-benar ingin bunuh dan cincang sampai tak berbentuk lagi, apakah ia tak tahu itu?

Yeo Un bertanya bagaimana situasinya. Gu Hyang memberitahunya bahwa luka kedua pedagang itu tidak dalam dan sudah lekas dirawat. Gu Hyang juga memberitahu bahwa kedua pedagang itu ia minta untuk meninggalkan Hangyang segera. Dan jika ingin tetap mempertahankan nyawanya, jangan pernah kembali memasuki Hanyang.

Yeo Un bertanya apa yang ada di tangannya? Gu Hyang memperlihatkannya sebuah buku dan mengatakan kalau itu adalah buku daftar dari semua pejabat faksi Noron yang mendapatkan suap dari para pedagang di kota, ada sekitar kira-kira 200 orang.

Yeo Un bertanya, 200 orang? Gu Hyang memberitahu bahwa bukan hanya para pejabat dari tingkat tiga dan di bawahnya tapi juga ada beberapa dari tingkat dua dan bahkan para pejabat tinggi militer, dan para pemimpin daerah di wilayah lain.

Yeo Un memanggil dua orang, yang ternyata kedua orang yang di awal berlatih tanding dengan Yeo Un. Ia memberitahu keduanya bahwa ada sesuatu yang dapat mereka lakukan untuknya. Rumah Judi yang didanai oleh Hong Dae Ju, Yeo Un berpikir bahwa pasti ada rencana rahasia di balik semuanya itu. Ia memerintahkan keduanya untuk pergi ke sana dan melakukan penyelidikan. Keduanya segera pergi.

Seorang mata-mata datang dan melaporkan pada Yeo Un bahwa Baek Dong So bersama sama dengan Tuah Hong Guk Yeon (Cho Rip) dan si pelukis Kim Hong Do sedang lewat melalui Cheongju, mereka seharusnya akan sampai di Hangyang segera. Yeo Un memerintahkan padanya untuk mengawasi setiap gerakan ketiganya dan melaporkannya langsung pada dirinya, lalu menekankan lagi, jangan sampai kehilangan fokus pada mereka.

Yeo Un bergumam, “Jadi kau sekarang kembali, Baek Dong Soo.” Ia memikirkan apa yang ia katakan pada Dong Soo beberapa waktu lalu ketika ia berusaha menusuknya tapi gagal, bahwa “selanjutnya adalah giliranmu, Dong Soo!”

Dong Soo kembali ke kediaman Sa Mo, mereka berdua sangat senang melihat masing-masing sehat tak kurang suatu apapun dan saling berpelukan dengan hangat. Dong Soo bertanya mengenai Rumah Judi. Sa Mo tersenyum dan mengatakan kalau Jin Ju telah cukup aktif di sana. Dong Soo bertanya, :Jin Ju?” Ji Sun menawarkan diri untuk mengantarkannya ke sana.

Di depan Rumah Judi, Dae Ung sedang menyamar dengan menjadi penjual tiket masuk ke Rumah Judi. Ia melihat Dong Soo dan Ji Sun lalu mengamati mereka sejenak. Kedua anak buah Yeo Un juga melihat keduanya.

Dong Soo dan Ji Sun memasuki Rumah Judi. Dong Soo mengawasi sekeliling tempat itu dan melihat anak Hong Dae Ju dan sepupunya sedang duduk di tingkat ke dua. Di ring tempat bertarung, petarung selanjutnya diumumkan. Jin Ju, menyamar sebagai seorang pria, naik ke ring dan pertarungan dimulai. Ji Sun menyentuh Dong Soo dan memberikan tanda pada Dong Soo untuk melihat ke atas ring.

 

Dong Soo tersenyum saat ia mengenali bahwa itu adalah Jin Ju yang ada di atas ring. Pertarungan masih berlangusn, dan pada akhirnya Jin Ju berhasil mengalahkan lawannya.

Dengan gembira, Ji Sun mengambil hadiahnya, dan ketika ia berputar, Jin Ki berjalan kearahnya. Jin Ju berdehem berusaha melegakan tenggorokannya dan berbicara pada ayahnya dengan menirukan suara pria, tapi Jin Ki bertanya apa yang sedang ia lakukan di tempat ini, dan menjewer telinganya, menyeretnya ke luar dari tempat itu. Dong Soo dan Ji Sun mengikuti mereka dari jauh. Dae Ung melihat keduanya keluar, ia kemudian masuk ke dalam dan berbicara dengan manajer rumah judi.

Dae Ung bertanya di mana para petarungnya tinggal, si manajer berpura-pura tidak mengerti apa yang dibicarakan Dae Ung, tapi Dae Ung mengatakan kalau ia tahu semuanya, bukankah Dae Ju telah menyewa banyak petarung hebat? Si manajer tampak terkejut, Dae Ung melembarkan sebatang emas, si manajer terbelalak dan kemudian memintanya mendekat dan berbisik mengenai lokasi dari para petarung itu.

Jin Ki menyeret Jin Ju di telinganya, Jin Ju mencoba menerangkan bahwa sekarang kelompok dagang mereka kekurangan dana, ia menunjukkan bahwa dengan ini mereka bisa mendapatkan cukup dana. Jin Ki menegurnya bahwa ia masih tidak malu mengenai perbuatannya. Dong Soo tidak tega melihat Jin Ju ditegur ayahnya segera keluar dan memanggil mereka beruda, berkata “Bagaimana bisa kau memperlakukan seorang anak gadis yang sudah dewasa seperti ini?” Keduanya segera menoleh dan sangat senang melihat kedatangan Dong Soo.

Jin Ju mencoba menjelaskan bahwa ia tidak melakukan itu demi dirinya sendiri, ia memohon Ji Sun untuk mengatakan sesuatu membelanya. Ji Sun mengatakan bahwa itu benar, pedagang sayuran di dekat mereka semuanya telah bankrut karena pemerasan yang dilakukan oleh para pedagang di kota. Sa Mo bertanya apakah ada yang tahu mengapa itu terjadi?

Jin Ju mengatakan kalau ia melihat Hong Sa Hae di rumah judi, jadi Sa Mo berpikir bahwa gosip itu pasti benar. Jin Ki menyela, ia melihat pada Jin Ju dan bertanya, bukankah Jin Ju sudah mencapai umur yang pantas menikah, berapa lama lagi ia akan bertingkah laku seperti seorang anak lelaki? Seharunya ia belajar sedikit pada Ji Sun! Dong Soo tersenyum geli saat mendengar itu.

Dong Soo menunjukkan buku yang ditulisnya pada Sa Mo dan Jin Ki. Jin Ki berkomentar, kekuatan senjata dan kelemahannya tertulis dalam detail yang terperinci tapi … Dong Soo menyahut, ya, daripada seni bela diri yang biasa dipelajari orang biasa, ini bisa dianggap sebagai buku mengenai seni bela diri dari pasukan, dan ini ia lakukan menurut perintah sang Pangeran.

Dae Ung berjalan masuk ke kamp di mana para petarung Tuan Hong tinggal. Ia menunjukkan pada mereka sekotak penuh emas, jika mereka dapat memotong tangan dan kaki Dong Soo maka mereka akan mendapatkan dua kali lipat dari itu, memotong kepalanya, itu akan berlipat tiga. Mereka menerima tawaran itu, Dae Ung memberitahu mereka untuk merahasiakan ini dari Hong Dae Ju.

Ji Sun dan Mi So melihat Hong Sa Hae dan seorang anakbuahnya di pasar, dan melihat kalau mereka sedang mengumpulkan barang-barang pesanan mereka. Ji Sun dan Mi So segera kembali dan memberitahu semua orang mengenai itu, dari apa yang mereka kumpulkan, Jin Ki mengatakan kalau Tuan Hong kelihatannya sedang membuat senjata. Sa Mo memberitahu Dong Soo untuk menyelidiki rumah judi itu, mungkin saja mereka berhasil mendapatkan petunjuk di sana.

Dae Ju mengatur sebuah pertemuan di antara para pejabat kepala pasukan. Satu dari mereka bertanya mengapa Yu Dae tidak hadir? Dae Ju memberiakn alasan bahwa Raja masih belum pulih benar, jadi bagaimana bisa kapten Pengawal Istana dapat datang ke tempat seperti ini?

Di Istana, Pangeran mencoba untuk mendapatkan ijin untuk menjenguk Raja, tapi tak ada jawaban.

Yu Dae bertanya pada Cho Rip apakah ia telah membawa kembali Dong Soo? Cho Rip mengiyakan dan ia telah memberitahu secara singkat mengenai situasi yang ada, bahwa penyelidikan harus segera dilangsungkan. Yu Dae menghela napas dan mengatakan, “Awan gelap … awan gelap datang membawa angin topan.”

Dalam pertemuan yang diadakan oleh Dae Ju, ia meminta semua orang untuk minum bersama-sama, semakin mereka banyak minum, semakin riuh gembira suasananya. Mereka tertawa riang gembira. Setelah semuanya pergi, Gu Hyang mencicipi minuman itu dan bertanya-tanya apa isinya? Anah buah Tuan Hong tertawa dan mengatakan, mereka mabuk air tawar dan mengatakan bahwa itu adalah anggur yang sangat bagus. Hong Dae Ju menatap tajam anakbuahnya.

Raja masih belum sehat, tapi ia meminta sang Ratu untuk memanggil Pangeran. Raja memberitahu Pangeran bahwa, meskipun penyakit sepele seperti ini, ia tampaknya tidak bisa bangun, jadi ia tidak bisa menangani masalah politik lagi. Dan sekarang berhubung usia Pangeran sudah sesuai untuk daericheongjeong (menggantikan memerintah) maka ia meminta Pangeran untuk menggantikannya sementara. Ratu dan Pangeran sendiri tertegun, Raja mengatakan bahwa ia akan mengeluarkan sebuah titah, jadi Pangeran harus mempersiapkan diri.

Saat kembali ke kamarnya, Ratu memanggil Menteri Kim dan Tuan Hong. Menteri Kim sangat terkejut ketika mendengar berita itu dari Ratu. Tuan Hong memberitahunya bahwa hal ini tidak boleh terjadi! Ratu memerintahkan Tuan Hong untuk mempercepat rencana mereka.

Di Hoksa Chorong, meja bundar di tengah ruangan penuh dengan kotak-kotak. Yeo Un bertanya pada seorang anak buahnya apakah ia telah menyelidiki rumah judi itu? Pria itu mengiyakan, tampaknya kemampuan dari para petarung di rumah judi itu biasa-biasa saja, tapi petarung yang lebih andal direkrut. Gu Hyang menyimpulkan kalau pihak Tuan Hong sedang mengumpulkan petarung andal, tidakkah itu berarti bahwa mereka nantinya tidak akan bergantung sepenuhnya pada Hoksa Chorong? Seorang anakbuah Un memberitahu bahwa semuanya sudah siap, jadi Un bangun dan meminta mereka semua untuk mengikutinya.

Yeo Un bertemu dengan Hong Dae Ju. Ia membuka kotak yang dibawanya dan bertanya di mana ia berencana untuk menggunakan segel palsu Kerajaan itu? Dae Ju tertawa, ia bertanya apakah Yeo Un ingin tahu?

Anak buah Un menjatuhkan segel-segel palsu itu di depan setiap rumah pejabat pemerintah.

Gu Hyang bertanya apakah segel kerajaan itu ditaruh di depan semua kediaman pejabat Noron? Un mengangguk, dan bertanya apakah Gu Hyang dapat menebak apa maksudnya itu. Gu Hyang mengatakan padanya bahwa pada malam sebelumnya, Hong Dae Ju mengundang semua pimpinan militer untuk minum-minum, tapi bukan anggur yang disuguhkan pada mereka melainkan air tawar, dan sangat menarik melihat bahwa semua orang yang minum air itu tidak menjadi marah, sebaliknya mereka memuji rasanya. Yeo Un, “Ini adalah caranya untuk mengkonfirmasi kesetiaan dari semuanya, dimulai dari para pemimpin pasukan militer!”

Gu Hyang berpikir bahwa segel palsu Kerajaan dikirim ke semua pejabat Noron juga untuk menguji kesetiaan mereka. Yeo Un setuju dengannya, para pejabat yang setia akan menemui Raja ketika mereka mendapatkan segel palsu itu, dan para pemberontak akan mencari Dae Ju. Yeo Un tertawa keras, ia dapat melihat maksud di balik rencana Dae Ju bahwa, “Itu adalah pemberontakan”, kata Un.

Gu Hyang menambahkan bahwa dari cara Dae Ju yang sangat berhati-hati kali ini, tampaknya tidak hanya untuk mengusik sang Pangeran. Yeo Un mengatakan bahwa para pejabat Noron yang menerima segel palsu itu tidak akan dapat tidur malam ini.

Memang benar, semua pejabat Noron yang menerima segel palsu itu, masing-masing tampak berpikir dengan keras.

Dong Soo masuk ke rumah judi dan mengawasi ke sekliling. Si manajer memberinya koin, jika Dong Soo menang maka ia akan mendapatkan dua kali lipat, tapi jika kalah maka hanya mendapatkan sejumlah ini.

Dong Soo melangkah masuk ke ring, ia bertarung dan tak membutuhkan waktu lama untuk menang. Hong Sa Hae melihatnya dan melapor pada ayahnya. Tuan Hong memberitahu anaknya kalau ia memang sudah menantikan ini, ia meminta anaknya untuk melanjutkan rencana mereka lebih berhati-hati lagi.

Para pejabat Noron mendatangi Dae Ju, dan bertanya apakah segel palsu itu dikirim olehnya. Mereka sangat marah bahwa Dae Ju berani menguji mereka. Dae Ju memberitahu mereka semua bahwa itu adalah ide dari Ratu. Dikarenakan Raja masih belum bisa bangun dari tempat tidurnya karena sakit, Raja mengusulkan daericheongjeong, jadi sebelum mereka bisa melakukan gerakan selanjutnya, mereka perlu menyelidiki siapa-siapa saja yang ikut rencana mereka dan siapa yang tidak. Lebih jauh lagi, para pejabat Noron yang tidak hadir sekarang, akan menerima nasib mereka yang pantas nanti.

Para pejabat Noron, yang tidak pergi menemui Dae Ju, ditangkap atas tuduhan pemberontakan karena segel palsu ditemukan di rumah mereka. Yeo Un muncul di kediaman Dae Ju. Un mengingat perkataan Gu Hyang, ia mengusulkan, setelah mengumpulkan semua petinggi militer, mereka tentu sekarang sedang mempersiapkan sebuah kudeta militer.

Setelah semua pejabat Noron pulang, Dae Ju memberitahu Yeo Un untuk keluar karena ia tahu Un ada di tempat itu. Yeo Un sedikit terkejut karena Dae Ju mengetahui kehadirannya. Un keluar dan Dae Ju mengajaknya masuk untuk minum bersama. Sembari minum, Dae Ju mengatakan bahwa bukankah mereka berdua adalah rekan seperjuangan yang berada dalam perahu yang sama? Yeo Un meyakinkan Dae Ju bahwa ia tidak melupakan perjanjian mereka, lalu ia segera mengatakan tanpa tedeng aling-aling, “Jadi benar itu adalah pemberontakan?”

Dae Ju berhenti minum, kemudian mengatakan kalau Un benar, ia pasti nanti akan membutuhkan bantuan Un. Yeo Un bertanya apa yang bisa ia lakukan untuk membantu Dae Ju? Dae Ju tertawa dan mengatakan bahwa Un terlalu terburu-buru, tapi pertama-tama, ada seorang tamu yang perlu dilihat oleh Un. Kenjo melangkah masuk ke dalam.

Cho Rip menginformasikan pada yang lain bahwa daericheongjeong telah diputuskan, meskipun titah belum turun. Jin Ki berpikir bahwa karena ini maka Istana sekarang pasti dalam situsi yang kacau. Yu Dae mengatakan, jika hanya ini maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh pihak mereka, tapi pergerakan yang dilakukan oleh pihak Noron, kelihatannya mereka merencanakan sesuatu. Dong Soo mengatakan bahwa orang-orang ini adalah orang-orang yang telah membunuh Pangeran Mahkota Sado, apapun yang sedang mereka rencanakan bukanlah sesuatu hal yang aneh lagi.

Jin Ju mengikuti Dong Soo yang keluar, ia bertanya apakah Dong Soo akan pergi besok dan Dong Soo mengiyakannya. Mata Jin Ju bersinar-sinar gembira dan Dong Soo tahu kalau Jin Ju sedang memikirkan suatu rencana.

Dae Ju mengundang Un dan Kenjo untuk minum, Yeo Un segera memotong basa-basi dan meminta langsung ke persoalan saja, mengapa Kenjo datang ke Joseon lagi? Kenjo mengatakan bahwa alasannya sama dengan Un. Keduanya sama-sama memikirkan duel terakhir mereka, di mana Kenjo kalah atas Un.

Melihat adanya ketegangan di antara mereka, Dae Ju mengusulkan sebuah tempat di mana mereka berdua pasti suka, dan meminta waktu mereka berdua keesokan harinya.

Jin Ju, menyamar sebagai pria, sedang berjalan menuju ke rumah judi. Dong Soo yang sudah menantinya segera meraih lengannya dan bertanya apakah ia benar-benar ada alasan untuk masuk ke sana? Jin Ju mengatakan kalau Dong Soo terlalu cerewet. Mereka berdua masuk ke dalam, mata-mata Dae Ju melihat keduanya dan segera keluar.

Mata-mata itu menemui Dae Ju dan membisikkan sesuatu padanya. Dae Ju juga sedang dalam perjalanan menuju ke rumah judi bersama-sama dengan Kenjo dan Yeo Un. Ia mengangguk ke anakbuahnya dan melanjutkan perjalanannya ke rumah judi.

Di dalam rumah judi, sang manajer berteriak pada orang-orang untuk menaruh taruhan mereka. Jin Ju naik ke ring. Dong Soo segera mencekal lengannya dan mengingatkannya bahwa ini bukanlah permainan kanak-kanak dan memintanya untuk berhati-hati. Jin Ju dengan lembut memberitahu Dong Soo agar tidak cemas, dan ia segera masuk ke ring. Pertarungan di mulai. Dae Ju, Yeo Un, dan Kenjo naik ke tingkat dua. Mereka duduk dan mengamati pertarungan di ring.

Kenjo melihat Dong Soo di bawah, ia bertanya pada Dae Ju bukankah ia adalah murid dari si Malakat Pedang? Yeo Un segera melihat ke bawah, persis saat Dong Soo juga sedang mendongak karena tertarik perhatiannnya ke tingkat dua …. Pandangan keduanya bertemu ….

Iklan

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s