Warrior Baek Dong Soo – Episode 26

Di rumah judi, melihat Dong Soo di bawah, Dae Ju berpikir, bahwa pertarungan selanjutnya pasti sangat menarik. Yeo Un sangat khawatir kalau Dae Ju mungkin saja sedang merencanakan sesuatu.

Jin Ju berhasil menjatuhkan lawannya, hanya saja si wasit mengatakan, “Menendang kantung pelir dilarang dan dianggap kalah sebagai penaltinya!” Jin Ju sangat kesal, seharusnya mereka memberitahu sebelumnya. Tapi wasit tak bergeming dan menyatakan bahwa di bagian tubuh manapun boleh, kecuali di kantung pelir, dan akan dinyatakan kalah. Wasit menyatakan bahwa lawan Jin Ju lah yang menjadi pemenangnya.

Pertarungan selanjutnya diumumkan, pertarungan antara Baek Ho dan Jang Tae San. Jin Ju memberitahu agar Dong Soo memenangkan pertarungan ini, Dong Soo melangkah masuk ke dalam gelanggang.

Dae Ju berkomentar bahwa petarung ini adalah murid Malaikat Pedang. Yeo Un memberitahu Hong bahwa lawannya terlalu lemah sehingga tidak akan menjadi pertarungan yang menarik sama sekali. Dae Ju bertanya apakah Yeo Un ingin pergi ke bawah dan bertarung, tapi Kenjo menyahut kalau ia yang akan melakukannya.

Kenjo turun dan masuk ke dalam gelanggang berhadapan muka dengan Dong Soo dan memberikan salam. Dae Ju bertanya pada Yeo Un, pada siapa ia akan mempertaruhkan taruhannya? Yeo Un tersenyum dan mengatakan ia tidak bisa berlaku seperti ia tidak mengenal teman baiknya, “Aku menaruh taruhanku pada Baek Dong Soo.”

Dae Ju berucap, “Sedangkan aku, aku akan ….”, ia berbisik pada telinga si manajer …. Sementara itu pertarungan dimulai.

Pertarungan itu berlangsung untuk beberapa waktu dan kemudian waktunya istirahat, ditentukan dengan jam pasir. Di tingkat dua, Dae Ju mengatakan bahwa pertarungan ini memang pertarungan yang benar-benar seimbang.

Sementara itu Jin Ju mengusap keringat Dong Soo dan bertanya-tanya bagaimana bisa lawan Dong Soo begitu hebat?

Dong Soo memberitahu Jin Ju bahwa lawannya itu adalah orang yang telah membuat kekacauan di Istana sebelumnya, ia juga adalah orang yang ikut ambil bagian dalam rencana pembunuhan terhadap Pangeran Yi San. Jin Ju kemudian memandang pada Kenjo dan merasa sedikit cemas. Ia kemudian memberi Dong Soo air minum, Dong Soo meminumnya sedikit tapi langsung berhenti. Ia menangkap aroma aneh di air itu, tapi ketika Jin Ju bertanya, Dong Soo segera meminumnya.  Waktu istirahat telah berakhir, pertarungan dimulai kembali.

Di gelanggang, sementara bertarung dengan Kenjo, Dong Soo terhuyung-huyung dan merasa sedikit pusing, ia kemudian jatuh ke tanah. Kenjo menyadari kondisinya yang tak sehat. Melihat kondisi Dong Soo seperti itu, Dae Ju tersenyum licik. Jin Ju segera dapat menduga bahwa ada sesuatu di air yang diminum oleh Dong Soo tadi.

Sa Mo dan Jin Ki yang berada di luar berusaha masuk ke dalam tapi tidak diijinkan jika tak punya tiket, sementara tiket sudah terjual habis. Seorang pria menodongkan dua tiket di wajah mereka dan berkata kalau itu untuk mereka. Pria tersebut menyembunyikan wajahnya dan segera berjalan pergi. Sa Mo berpikir bahwa pria itu mungkin adalah Dae Ung, si orang aneh. Mereka berdua segera masuk ke dalam.

Dengan kondisinya yang seperti itu, Dong Soo masih memaksakan diri untuk melanjutkan pertarungan tapi ia  tertusuk di dada oleh Kenjo. Dae Jo (pura-pura) heran dan bertanya-tanya mengapa Dong Soo seperti itu, Yeo Un tidak bisa tenang melihat Dong Soo tertusuk, ia mengatakan kalau Dong Soo pasti telah diracun.

Dong Soo menggunakan semua kekuatannya untuk mendorong Kenjo dan melepaskan diri dari pedangnya. Dae Ju menyatakan kalau ia mengenali trik tempat ini, dan melihat Dong Soo seperti itu, pasti mereka melakukannya lagi.

Yeo Un menatapnya dan bertanya dengan marah apakah mereka berani melakukan trik curang di dalam pertarungan duel di mana para petarung itu mempertaruhkan nyawa mereka? Dae Ju mengatakan padanya untuk melihat ke sekeliling, ini adalah rumah judi yang dibangun dengan darah dan daging, di mana seseorang dapat menghasilkan uang banyak, tapi juga dapat kehilangan segalanya hanya dalam sekejap mata, “Tidakkah kau merasa kalau pikiranmu itu salah jika kau kemari untuk mencari pertarungan yang adil?” Yeo Un tak dapat mendebatnya. Dae Ju menghirup minumannya dan mengatakan, “Kita seharusnya menikmati saja pertarungan ini, itu saja!” Yeo Un menyimpan kemarahannya di dalam hati.

Dae Ju bertanya apakah Yeo Un masiih menyisakan rasa simpati terhadap Baek Dong Soo? Yeo Un mengatakan bahwa itu bukanlah simpati, tapi jika itu bukan pertarungan yang adil maka itu tidak patut dibuat gembira. Dae Ju menganggukkan kepalanya, ia kemudian memberitahu Yeo Un untuk menunggu dan melihat saja, ketika Dong Soo berada dekat dengan pintu kematian maka itu akan menjadi sangat menyenangkan. Yeo Un menelan ludah, ia mencuri lihat pada jam pasir.

Melihat kondisi Dong Soo yang lemah, Kenjo mengatakan Dong Soo tidak berada dalam kondisi baik untuk melanjutkan pertarungan. Tapi Dong Soo bangun berdiri dan memberitahunya untuk memulai lagi. Mereka segera memulai kembali pertarungan, hanya saja Dong Soo tertendang ke atas tanah lagi.

Sa Mo sangat cemas melihat keadaan Dong Soo, ia kemudian teringat mengenai Dong Soo di masa lalu.

“Dong Soo, tahukah kau pria seperti apa kau ini? Setelah mengalami semua kesulitan dan halangan, kau telah sampai sejauh ini, benar khan? Tidak peduli apakah kau menghadapi pasukan yang besar dan kuat atau Raja Neraka, Dong Soo, tiada seorangpun yang dapat menahan langkahmu! Bangunlah, kau adalah anak Sa Gung, juga murid Malaikat Pedang, bukankah kau ini Baek Dong Soo?”

Dong Soo perlahan-lahan bangun kembali …

Jin Ju memandangnya dan berpikir masa lalu …

“Dong Soo, bukankah kau adalah orang yang tak pernah kenal rasa takut? Bukankah kau tidak takut apapun di dunia ini? Kau dapat melakukannya! Bukanakh kau ini Baek Dong Soo? Bukankah kau ini adalah ahli pedang terhebat Joseon, Baek Dong Soo?”

Dong Soo berdiri tegak dan kembali bersiap untuk bertarung …

 

Mereka berdua kembali melanjutkan pertarungan. Dan saat masing-masing dari mereka akan bergerak maju untuk menyerang lawannya, Yeo Un dengan diam-diam mengambil sebuah koin mata uang dan menerbangkannya ke jam pasir yang langsung pecah.

Jadi waktunya sudah habis untuk pertarungan babak ini. Dong Soo memegang pedangnya yang mengancam leher Kenjo demikian juga sebaliknya, pedang Kenjo ada di leher Dong Soo. Mereka berdua segera berhenti dan saling menjauh, tapi Dong Soo tiba-tiba tersungkur jatuh ke lantai.

Jin Ju, Sa Mo dan Jin Ki segera menghampiri Dong Soo dan membawanya keluar. Dae Ju melihat ke arah Dong Soo dan bertanya pada Yeo Un apakah itu hasil pekerjaannya. Yeo Un justru bertanya balik, apa yang sedang ia katakan. Dae Ju mengatakan bahwa Dong Soo tampaknya masih berumur panjang, ia kemudian menatap pada Yeo Un dan beranjak pergi.

Dong Soo mendongak dan menatap pada Yeo Un, mereka saling menatap satu sama lain. Dong Soo kemudian pingsan dan Yeo Un pergi.

Kenjo bertanya pada Dae Ju apakah ia yang meracuni Dong Soo, dan kelihatannya dirinya tak bisa mempercayai Dae Ju. Dae Ju tertawa dan mengatakan, “Tidakkah mereka berkata untuk mempersiapkan segalanya?” Kenjo mengatakan bahwa banyak orang yang mempertaruhkan nyawa baginya, jadi tolong jangan lakukan hal seperti ini di masa yang akan datang. Dae Ju tertawa dan mengangguk tanda mengerti, meskipun ia bertanya-tanya mengapa si Penguasa Langit tidak datang.

Sa Mo dan yang lain membawa Sa Mo kembali, Ji Sun yang merawatnya. Jin Ju bertanya pada Jin Ki apakah Dong Soo tidak apa-apa? Jin Ki memberitahu Jin Ju kalau Dong Soo sedang tidur, kelihatannya sangat lelah setelah bertarung.

Yeo Un diam-diam berjalan masuk ke tempat itu sambil berpikir apakah Dong Soo akan baik-baik saja. Ia kemudian ragu-ragu dan berbalik akan pergi, tapi Jin Ju melihatnya dan mengampiri Un dan bertanya apakah ia takut kalau Dong Soo masih bertahan hidup, “Jika ia hidup, Un, kau ingin membunuhnya dengan tanganmu sendiri?” Jin Ju mengatakan kalau ia sudah kehilangan ayah dan ibunya, sekarang ia tidak ingin kehilangan Dong Soo juga. Jin Ju mengingatkannya agar tidak berhubungan lagi dengan Dong Soo.

Yeo Un mengatakan, “Kau dan aku memiliki perasaan yang persis sama. Dong Soo … selalu menajdi temanku.” Ia kemudian pergi.

Jin Ju masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa Dong Soo, ia berhenti di depan pintu dan melihat ke dalam, tampak Ji Sun sedang merawat Dong Soo. Jin Ju kemudian berpikir mengenai kata-kata Yeo Un bahwa perasaan mereka berdua sama, Jin Ju memutuskan untuk membiarkan Dong Soo dan Ji Sun berdua.

Di Istana, tabib memeriksa kesehatan Raja dan tak berani mengatakan hasilnya. Raja tersenyum, ia tahu bahwa kekuatannya perlahan-lahan melemah, tiada seorangpun dapat melawan usia. Pangeran mengatakan itu karena dirinya tidak cukup  baik dalam merawat kesehatan Raja.

Raja tersenyum dan mengatakan bagaimana itu bisa menjadi kesalahan Pangeran? Ratu mendengarkan percakapan mereka dan merasa irihati, ia kemudian keluar dengan Pangeran, Ratu memuji rasa bakti Pangeran terhadap Raja. Pangeran bertanya balik bahwa itu masih belum cukup dan tidak seharusnya terjadi. Pangeran kemudian memberi hormat dan pergi. Ratu memberitahu ayahnya, Menteri Kim bahwa rencana mereka tidak bisa ditunda lebih lama lagi.

Anak buah Dae Ju mulai melaksanakan rencana mereka, mengirimkan pesan ke beberapa pejabat kunci.

Dong Soo sadarkan diri kemudian bangun dan berjalan keluar, ia merasa menyesal karena membuat semuanya menjadi khawatir. Ia kemudian duduk dan bergabung dalam pertemuan yang sedang diadakan. Yu Dae mengatakan bahwa orang-orang yang telah menang 3 ronde (di rumah judi) telah lenyap semuanya. Dong Soo mengiyakan.

Kilas balik, si manajer rumah judi memberitahu Dong Soo bahwa, dulu tempat ini tidaklah sebesar ini, kemudian seorang bangsawan pemerintah mengambil alih dan sekarang menjadi lebih besar, para petarung yang menjadi terkenal diberi uang dan dibawa pergi, jadi tempat ini seperti pasar tempat berjual-beli petarung andal.

Dong Soo mengatakan pada rekan-rekannya bahwa para petarung yang menghilang itu semuanya dipekerjakan oleh Dae Ju. Cho Rip mengatakan bahwa Dae Ju sedang merekrut para petarung yang bisa mati sewaktu-waktu tanpa seorangpun pedului akan mereka. Yu Dae berpendapat bahwa Dae Ju kemungkinan besar sedang membangun pasukan pribadi, dan mereka butuh bukti untuk mengungkapkan ini, ia bertanya apakah ada cara untuk mendapatkan bukti ini. Cho Rip mengusulkan kalau mereka harus mengamati pergerakan pihak Dae Ju.

Di Hoksa Chorong, Gu Hyang menerima sebuah pesan. Tae San memberitahu Un bahwa, baru-baru ini pihak Dae Ju telah membeli banyak baja, dan sekarang kosong di pasar. Jelaslah sudah bahwa itu untuk membuat senjata, tapi ia tak dapat melacak lokasi pembuatan senjata tersebut. Yeo Un mengatakan bahwa ketika seorang dapat melalui 3 ronde maka mereka akan mengirim orang itu ke sana, jadi tidak usah cemas.

Gu Hyang melapor pesan dari jaringan mata-mata mereka bahwa malam ini, akan ada pertemuan Noron di sebuah Gibang, Ratu juga akan hadir. Berita ini menarik perhatian Yeo Un. Kekuasaan militer di Istana dalam kendali Dae Ju dan kendali partai Noron ada di tangan Ratu.

Yeo Un, “Mengambil kesempatan baik ini untuk menunjukkan mukaku di sana bukanlah ide yang buruk.” Ia kemudian tersenyum.

Para pejabat dan Ratu silih berganti sampai di pertemuan. Dong Soo mengintip tempat itu. Gu Hyang merasakan beberapa gerakan, ia memanggil, siapa di sana. Dong Soo segera melangkah mundur ke tempat yang lebih gelap. Hong Sa Hae membawa beberapa prajurit untuk memeriksa.

Para penjaga melewati persembunyian Dong Soo, kemudian ia bangun dan akan mencari tahu keadaan tapi Yeo Un memanggilnya, dan memintanya untuk pergi, ini bukanlah permasalahan baginya untuk ikut campur. Dong Soo menolak dan mengatakan, seharusnya Yeo Un saja yang pergi. Yeo Un bertanya apakah Dong Soo pikir kalau kemampuan bela dirinya dapat menandingi kekuasaan orang-orang di tempat ini?

Yeo Un memohonnya untuk pergi, tak ada yang berubah meskipun Dong Soo ada di tempat itu. Dong Soo berbalik bertanya, kalau begitu apa yang bisa Un lakukan?

Dong Soo, “Lalu, dengan pedangmu yang ternoda begitu banyak darah, kau pasti akan mendapatkan apa yang kau inginkan!”

Yeo Un sangat kesal pada Dong Soo, berteriak, “Baek Dong Soo! Dan apa yang dapat dilakukan oleh pedang Malaikat Pedangmu? Pada akhirnya itu tidak dapat menyelamatkan siapapun. Terhadap mereka yang sudah mati, haruskah aku menyatakan ketidakberdayaanmu?” Dong Soo tersinggung dan menyuruhnya tutup mulut.

Yeo Un, “Begitu banyak orang terluka karena mempercayai kebohonganmu bahwa kau akan melindungi mereka. Jadi sekarang tolong simpan saja janjimu itu!”

Dong Soo mencengkeram kerah Un dan menyuruhnya tutup mulut. Yeo Un sengaja memukul luka Dong Soo yang ia dapat saat bertarung dengan Kenjo. Dong Soo sangat murka, ia mendekati Yeo Un.

Mereka bertarung dalam kegelapan. Keduanya silih berganti berada di atas angin, sampai Hong Sa Hae mendengar keributan itu dan berteriak pada mereka, siapa mereka? Yeo Un dan Dong Soo berhenti bertarung dan mengenali suara Hong Sa Hae, jadi mereka segera menyelinap pergi.

Di pertemuan itu, Dae Ju menunjukkan semua kontrak darah yang dilakukan oleh para pejabat Noron, kecuali Yu Dae. Ini adalah kontrak dari semua jenderal militer. Seorang pejabat terkejut melihat kontrak dari pasukan militer dan bertanya apakah Dae Ju ingin melakukan kudeta militer?

Dae Ju mengatakan bahwa itu adalah umpan untuk menangkap ikan yang lebih besar. Ia mengeluarkan sebuah gulungan kosong dan mengatakan, ia pikir bahwa mereka semua tahu apa yang diinginkan oleh Ratu, “Jika kita mati, kita akan mati bersama-sama. Jika kita hidup, maka kita hidup bersama-sama, bukankah begitu?” Dae Ju mengeluarkan sebuah pisau.

Tiap pejabat Noron silih berganti menggores jarinya dan menggunakan darah mereka masing-masing untuk menuliskan nama mereka di atas gulungan. Setelah semuanya selesai, gulungan itu diserahkan pada Ratu yang mengagumi kontrak darah itu dan merasa puas. Ia bertanya pada Dae Ju siapa orang baru di tempat mereka ini. Dae Ju memperkenalkan Kenjo dan menyatakan bahwa ia adalah petarung yang akan berdiri di garis depan pemberontakan mereka. Kenjo memberi hormat pada Ratu.

Ratu kemudian meminta Dae Ju untuk mengatakan persiapan apa yang sudah ia lakukan.

Keuangan sudah siap.  Para petarung yang direkrut mereka adalah orang-orang yang walaupun mati tak ada orang yang peduli untuk mencari tahu, jadi mereka sangat tepat untuk digunakan dalam pemberontakan ini. Pembuatan senjata, tombak dan pedang, masing-masing 200 buah, dan 20 rak penuh.

Dae Ju mengatakan bahwa hari itu, di sore hari, meteor lain akan jatuh, mereka akan menyebarkan rumor di pasar bahwa Pangeran ingin membunuh sang Raja.

Ratu mengatakan bahwa hidup yang dipertaruhkan di sini bukanlah Raja atau Pangeran melainkan kehidupan mereka semua. Ia menekankan bahwa, mereka semua harus mengukir itu dalam hati mereka. Dae Ju memberitahu Ratu untuk meninggalkan semuanya itu pada mereka, kemudian mereka memberi hormat pada Ratu.

Dong Soo dan Yeo Un menyerbu masuk ke dalam pertemuan itu, menjatuhkan semua pengawal secara bersama-sama. Semua para pejabat Noron menjadi terkejut. Dae Ju berteriak pada mereka apakah mereka tahu di mana mereka sekarang sehingga berani melakukan kekacauan. Ratu dengan tenang memberikan perintah untuk membiarkan mereka pergi dengan tenang. Jadi Hong Sa Hae berlutut menghormat pada Ratu dan membiarkan Dong Soo pergi.

Yeo Un tetap berdiri di sana. Dae Ju bertanya apa yang terjadi, ia tidak ingat kalau sudah mengundangnya. Yeo Un tersenyum, “Pertemuan rahasia yang dilakukan di tempat ini di malam hari.” Ia mengatakan jika saja Raja ada di sini, maka ini akan menjadi seperti pertemuan Dewan Istana. Menteri Kim Han Gu berteriak padanya, betapa beraninya ia berbicara omongkosong. Yeo Un menjawab, memang benar, seorang biasa seperti dirinya tidak bisa mengikuti pertemuan seperti ini. Ia kemudian memandang pada Ratu yang ada di balik tirai. Ratu balas memandangnya. Yeo Un kemudian pergi dengan santai.

Dae Ju memberi hormat pada Ratu, yang mengatakan bahwa rencana mereka akan segera dilakukan, jadi jangan melupakan itu.

Di luar, Dong Soo bertanya apa yang sedang terjadi di dalam sana. Yeo un bertanya mengapa Dong Soo begitu suka menimbulkan masalah kemanapun ia pergi. Dong Soo balas bertanya, lalu apakah ia harus menutup matanya buta pada perbuatan jahat mereka? Yeo Un memohon padanya, bahwa meskipun Dong Soo muncul sekarang, tidak akan membuat mereka takut sama sekali, dan juga Dong Soo tidak punya bukti sama sekali atas rencana mereka. Yeo Un mendesaknya untuk pergi, Dong Soo memandangnya kemudian berbalik dan beranjak pergi.

Yeo Un datang untuk menjumpai Dae Ju yang tampak sangat marah mengenai apa yang telah terjadi dalam pertemuan sebelumnya. Yeo Un menjelaskan pada Dae Ju bahwa ia hanya bergurau saja dengan temannya yang sudah lama tidak ia jumpai, dan bertanya apa masalahnya kalau begitu? Dae Ju tidak bisa percaya kalau Un hanya bergurau saja dalam pertemuan penting seperti itu. Yeo Un melempar balik perkataan Dae Ju sebelumnya, bukankah Dae Ju pernah mengatakan bahwa rumah judi dibangun dengan darah dan daging, mereka hanya perlu bersenang-senang saja.

Yeo Un mengatakan bahwa kehidupan mereka di medan pertempuran dibangun di atas darah dan daging, di mana ia  hanya bersenang-senang saja. Dae Ju mengerutkan keningnya, bertanya bagaimana Un tahu mengenai pertemuan mereka. Yeo Un tersenyum, jika saja itu adalah permasalahan di dalam Istana, ia mungkin tak akan tahu, tapi untuk masalah di luar Istana, Un bertanya apakah Dae Ju pikir ia tidak akan tahu? Dae Ju sekali lagi mengerutkan keningnya mengenai fakta baru ini, dan bertanya apa yang terjadi dengan Baek Dong Soo? Yeo Un tak menjawabnya jadi Dae Ju bertanya lagi lebih keras.

Yeo Un, “Mengenai dia … kenapa kau bertanya padaku? Mungkinkah itu bahwa kau mulai merasakan simpati terhadapnya?” Dae Ju berteriak marah karena jawaban Un yang dianggapnya tidak menghormati dirinya. Yeo Un kemudian mengatakan ia akan pergi tapi Dae Ju menghentikannya dan bertanya apakah Un tahu mengapa dirinya bersedia menahan provokasi dari Un, itu karena ia membutuhkan bantuan dari Un.

Dae Ju memberinya sebuah pesan dan memintanya agar mengirimkannya pada Kaisar Qing. Pesan itu ditulis oleh Ratu sendiri. Permasalahannya adalah Pangeran akan menggantikan berkuasa Raja Yeongjo sehingga sebuah titah kerajaan dari Kaisar sangat dibutuhkan untuk membatalkannya. Yeo Un sangat terkejut mendengar itu. Dae Ju memerintahkannya untuk mengirimkan pesan itu secara pribadi pada Kaisar, dan titah kerajaan harus sampai di Joseon, ke tangan Dae Ju,  dalam waktu setengah bulan.

Yeo Un menatapnya, ia meraih pesan itu dan segera pergi. Kenjo bertanya pada Dae Ju apa yang akan terjadi jika Yeo Un tidak menyampaikan pesan itu, Dae Ju memberitahunya bahwa itu bukanlah sesuatu yang perlu ia khawatirkan. Dae Ju bertanya pada anaknya mengenai seorang anakbuahnya, Hong Sa Hae menjawab kalau orang itu pasti sekarang sudah ada di gunung Bugak. Dae Ju menarik napas berat, nyata-nyata mencoba untuk mengendalikan amarahnya atas tindakan Yeo Un yang tidak menghormatinya sama sekali.

Di luar, Gu Hyang bertanya pada Yeo Un mengapa ia melakuakn tindakan seperti itu (pada pertemuan Noron), itu bukanlah wataknya. Yeo Un bertanya padanya, yang ia maksud dengan “watak” nya, apa itu? Gu Hyang menjawab, “Tak bergeming seperti gunung Tae San, dan tenang segerti laut, bukankah demikian?”

Yeo Un membalasnya, bahkan gunung Tae San ataupun laut dapat runtuh dan bergelombang hebat sekali waktu, lebih jauh, seseorang bisa saja terseret arus dunia ini, dan dirinya adalah orang yang seperti itu. Yeo Un kemudian berjalan menjauh, Gu Hyang menatap punggungnya dengan perasaan cemas yang terpancar di matanya.

Di gunung Bugak, anakbuah Dae Ju sedang menerbangkan layang-layang, seseorang memberikan perintah agar benangnya dipotong dengan obor. Saat layang-layang itu mengangkasa ke langit malam, layang-layang itu menjadi terbakar. Api itu bercahaya di angkasa dan tiap-tiap layang-layang mulai terbakar dan hancur berkeping-keping menjadi serpihan-serpihan kecil, melayang jauh dihembus oleh angin malam.

Yeo Un dengan diam-diam memasuki kediaman Sa Mo, dan ia mendengar suara sehingga mundur ke balik bayangan rumah, mendengarkan percakapan. Jin Ju sedang bertanya pada Dong Soo apakah ia benar-benar bertemu dengan Yeo Un, dan adakah sesuatu yang mengganggunya? Ji Sun hanya diam mendengarkan mereka. Dong Soo mengiyakan. Jin Ju berpikir mengenai apa yang dikatakan oleh Yeo Un padanya bahwa mereka berdua persis sama, selalu menganggap Dong Soo sebagai seorang teman.

Mi So duduk di sebelah Cho Rip, mengatakan bahwa hawa malam ini sangat dingin. Cho Rip bertanya apakah Mi So mau berjalan-jalan sebentar, membuat Mi So memandangnya dengan pandangan putus asa karena usulnya yang sama sekali tidak romantis. Lalu Mi So melihat sebuah meteor terlihat di langit, yang juga menarik perhatian Dong Soo.

Dong Soo dapat menentukan lokasi asalnya, itu datang dari arah Gunung Bugak. Dong Soo memandang Jin Ju, mengajaknya pergi menyelidiki ke gunung Bugak, ia segera berlari. Semua orang mengikutinya kecuali Ji Sun.

Yeo Un melangkah keluar dan memandangnya. Ia berpikir pada dirinya sendiri seakan-akan sedang berbicara pada Ji Sun, “Jika aku membuang jalan hidupku sebagai seorang pembunuh gelap, dapatkah aku melihatmu? Dapatkah tanganku yang ternoda banyak darah menerima pengampunan dari hatimu?”

Dong Soo dan yang lain-lain mendaki ke gunung. Jin Ju mencium bau minyak tak seberapa jauh. Anakbuah Dae Ju melihat mereka dan segera menyelinap pergi. Dong Soo dan rekan-rekannya menyelidiki tempat itu dan menemukan bubuk mesiu yang tersisa berbentuk seperti butiran gandum. Dong Soo mengatakan kalau ia mengerti sekarang, bahwa setiap kali sebuah meteor jatuh, selalu tepat saat ada angin timur laut bertiup ke Hanseong (wilayah ibukota). Kenapa? Karena hanya dengan menggunakan angin timur laut maka mereka bisa menciptakan meteor jatuh.

Dong Soo mengatakan, semuanya ini adalah jebakan, ia bisa menggambarkan semua proses pembuatan meteor palsu dalam pikirannya.

Banyak selebaran disebarkan di pasar membuat rumor, isinya, “Pangeran ingin menjadi seorang Raja demi membalas dendam atas kematian ayahnya yang dihukum tanpa bukti,  itu adalah kehendak dari  Langit” Hong Do mendengar orang-orang membicarakan hal ini.

Menteri Kim menyerahkan selebaran itu pada sang Pangeran, dan Raja membaca isinya, tangannya mulai gemetar, ia meremas kertas itu dan melemparnya.

Ketika ia kembali ke kamar tidurnya, sang Pangeran tampak sangat marah bagaimana semua ini bisa terjadi! Yu dae mengingatkannya untuk tetap tenang, ini waktunya bagi sang Pangeran untuk tetap mengendalikan diri dan melihat apa sesungguhnya tujuan mereka di balik rencana ini.

Pangeran menyahut, tetap tenang dan mengendalikan diri? Ia sudah merasa kalau semua pedang mereka sedang mengarah pada lehernya, “Aku beritahu kau, tawa mereka yang selalu aku dengar baik siang maupun malam tak mau lepas dari telingaku. Karena itu aku tak bisa tetap duduk diam dan menunggu kematianku. Mereka yang membawa bahaya padaku dan menghina nama ayahku pasti akan mendapatkan hukumannya dengan tanganku sendiri!”

Hong Do menunjukkan pada Dong Soo dan yang lainnya selebaran yang tersebar di pasar. Mereka berpikir bahwa ini adalah pekerjaan dari Dae Ju, tapi Jin Ki mengatakan kalau mereka tidak bisa melakukan gerakan tergesa-gesa. Dong Soo memberitahu mereka bahwa kemarin malam ia menemukan kebenaran di balik meteor-meteor, bahwa pihak lawan hanya memilih hari di mana angin timur laut bertiuup untuk menerbangkan layang-layang dengan bubuk mesiu dan membakarnya, diterbangkan dari puncak gunung Bugak. Dan juga para pegawai di kediaman Hong Dae Ju selain membeli bahan-bahan untuk melakukan rencana layang-layang itu, juga membeli potasium yang dapat digunakan untuk membuat bubuk mesiu.

Sementara itu di pasar, Ji Sun dan Mi So melihat orang-orang Dae Ju sedang membawa sebuah kotak berisi bubuk potasiumdari seorang pedagang. Mereka mendekati pedagang itu mengatakan akan membeli potasium, si pedagang menjawab kalau ia kehabisan stok. Jadi Mi So memintanya sedikit saja potasium, sejumlah yang diperlukan untuk membuat petasan kembang api, pedagang itu bersedia jika hanya sedikit  dan memberikannya pada mereka.

Jin Ki bertanya pada Dong Soo apakah Jin Ju tidak bersamanya, Dong soo memberitahu Jin Ki pasti Jin Ju pergi ke rumah judi dan memintanya tak usah terlalu khawatir.

Dan benar saja, Jin Ju sedang berada di rumah judi atas petunjuk Dong Soo.

Jin Ju mengingat perkataan Dong Soo, “Jika Jang Tae Sa menang satu ronde lagi, ia akan menjadi pemenang 3 ronde. Seseorang pasti akan mendekatinya, kau harus mengikutinya!” Jin Ju berkata, bahwa dirinya juga, jika menang satu ronde lagi maka akan menjadi pemenang 3 ronde.

Jin Ju masuk ke gelanggang dan pertarungan dimulai. Jin Ju menendang lawannya dan menjatuhkannya ke lantai dalam keadaan pingsan. Ia dinyatakan sebagai pemenang.

 

Jin Ju menikmati kemenangannya dan kemudian baru menyadari kalau ia telah melakukan sebuah kesalahan, sekarang ia menjadi pemenang 3 ronde. Si manajer memberitahu Jin Ju untuk mengikutinya dan Jin Ju memutuskan untuk melakukannya. Si manajer kemudian mengalihkan Jin Ju pada seorang anak buah Dae Ju, yang menyuruh Jin Ju untu mengikutinya.

Di pasar, Ji Sun dan Mi So mengikuti si pedagang ke gudangnya. Dae Ung mengikuti mereka jadi ia juga tahu di mana gudang pedagang itu berada.

 

Ji Sun dan Mi So pulang, mereka segera mengadakan pertemuan. Ji Sun memberikan contoh potasium pada Sa Mo dan memberitahu mereka semua bahwa ini adalah potasium yang masih belum diproses. Untuk membuat bubuk mesiu, mereka membutuhkan potasium, belerang, dan arang. Di antara ketiganya, yang paling banyak digunakan dan sangat sulit untuk didapatkan adalah potasium.

 

Sa Mo mengatakan kalau pihak lawan pasti merencanakan akan menggunakan senjata api dalam kudeta mereka. Jin Ki sangat khawatir mengapa Jin Ju masih belum pulang juga. Dong Soo akan pergi untuk memeriksanya, ia segera pergi bersama-sama dengan Hong Do, yang juga akan kembali ke Istana. Dae Ung melihat mereka dari kejauhan.

Dae Ung memberikan sebuah benda pada seorang pria, yang setuju untuk mengejar Dong Soo dan memberikan “hadiah” padanya, sejenis rajun yang telah diambil dari gigi ular. Ia memberitahu mereka untuk memastikan semuanya berhasil dengan benda ini.

 

Ratu memikirkan Yeo un, ia kemudian memberitahu ayahnya untuk diam-diam memanggi Un. Ia mengatakan bahwa pemberontakan mereka ini cukup beresiko, jadi mereka harus memiliki rencana cadangan. Menteri Kim mengatakan bahwa orang yang biasanya  mengadakan hubungan dengan Hoksa Chorong adalah Dae Ju.

Menteri Kim datang untuk bertemu dengan Dae Ju, yang menjadi terkejut ketika mendengar sang Ratu ingin bertemu dengan Penguasa Langit. Menteri Kim memberitahunya bahwa Ratu sangat tidak senang dan ingin menginterogasinya sendiri. Dae Ju setuju untuk melakukan kontak dengan Penguasa Langit.

Sepeninggal Menteri Kim, Dae Ju berusaha menduga-duga apa yang sedang dipikirkan oleh sang Ratu.

Dae Ju sedang berbicara dengan anaknya bahwa mereka masih membutuhkan lebih banyak petarung. Tangan kanan kepercayaan Dae Ju menunjukkan orang-orang barunya, ternyata mereka adalah Jin Ju dan Tae San. Si tangan kanan mengatakan bahwa kedua petarung ini telah menyatakan kesetiannya dan bersedia mati demi diri Dae Ju. Dae Ju memberitahu keduanya untuk bertarung sehingga ia bisa melihat ilmu bela diri mereka. Jadi Jin Ju berduel dengan Tae San sampai Dae Ju menyuruh mereka berhenti, merasa sangat puas.

 

Tapi anak Dae Ju, Hong Sa Hae mengenali Jin Ju, saat hari di mana mereka membunuh Chun. Ia kemudian mendekati Jin Ju dan memberitahu ayahnya bahwa Jin Ju bukanlah seorang pria melainkans seorang gadis. Ia segera mencopot topeng muka yang dikenakan oleh Jin Ju, dan menyatakan bahwa Jin Ju adalah anak Penguasa Langit sebelumnya, Chun. Semua orang melihat ke arah Jin Ju, Hong Sa Hae segera memanggil para prajurit untuk menangkap Jin Ju tapi Jin Ju segera bertarung dan berhasil melarikan diri ke luar ruangan.

 

Yeo Un sedang membaca surat Ratu untuk Kaisar Qing …

Suara Dae Ju, “Aku membutuhkan titah kekaisaran yang menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap Pangeran yang menggantikan berkuasa.”

Gu Hyang memberitahu Un bahwa ada pesan dari Istana, itu dari Ratu. Yeo Un berkata ternyata lebih cepat dari yang ia perkirakan. Gu Hyang bertanya apa yang akan ia lakukan? Un mengatakan bahwa itu adalah umpan yang ia lemparkan jadi ia memang harus menemuinya.

 

Dong Soo baru tahu dari si manajer rumah judi bahwa Jin Ju sudah menang 3 ronde pertarungan, tapi si manajer tidak tahu mengenai keberadaan Jin Ju. Dong Soo menjadi sangat cemas di mana Jin Ju mungkin berada.

 

Jin Ju berlari secepat mungkin untuk menjauhi para pengejarnya, ia kemudian berpapasan dengan Jin Ki dan Sa Mo di pasar.  Mereka segera membantu Jin Ju untuk mengalahkan para pengejarnya. Melihat pihak mereka sangat tidak diuntungkan maka Hong Sa Hae dan pasukannya mundur. Jin Ki menjewer kuping Jin Ju dan menegurnya karena sekali lagi ia telah mencari masalah, lalu menyeretnya pergi.

 

Para peterung Dae Ju bertemu dengan Dong Soo dan segera mengepunnya dengan bentuk lingkaran dan menyerangnya. Dong Soo bertarung dengan mereka dan dengan mudah mengalahkan mereka,  tapi ia dengan santainya memuji mereka bahwa mereka memang benar-benar punya sedikit kemampuan, para pengepung Dong Soo sangat tersinggung dan segera bersumpah untuk membunuhnya. Dong Soo berlari ke arah yang lain berharap kalau ia dapat mengikutinya.

Dae Ju mengatakan bahwa setiap langkah yang ia lakukan selalu Dong Soo menghalanginya, ia pikir kalau mereka pertama-tama harus memburu Baek Dong Soo. Kenjo mengatakan padanya bahwa meskipun tanpa rencana pemberontakan ini, ia dan Dong Soo suatu hari kelak akan bertemu, tapi ia tdiak yakin kapan itu akan terjadi. Hong Sa Hae memberikan laporan pada ayahnya dan mengakui  kesalahannya sehingga gagal menangkap Jin Ju.

 

 

Dong Soo memimpin para pengejarnya ke jalan yang sempit. Ia segera men menyarungkan pedangnya dan memanfaatkan waktu yang sangat sedikit itu untuk merenggangkan  Dong Soo kemudian tersenyum dan memberi tanda pada mereka untuk maju saja. Para pengejarnya segera maju menyerang, saat mereka sedang bertarung, senjata mereka yang berupa tombak panjang tertahan di dinding karena kondisi jalan sempit itu justru menjadikan Dong Soo berada di atas angin, ia menendang dan memukuli semua pengejarnya sampai berjatuhan ke tanah, kecuali pemimpinnya yang tersisa.

 

Yeo Un berjalan ke tempat yang dijanjikan, Ratu dan ayahnya, Menteri Kim, melihatnya dari tingkat dua. Tiba-tiba para pengawal yang menjaga tempat itu menyerang mereka. Yeo Un cukup cepat untuk menangkis gerakan mereka yang tiba-tiba datangnya. Un berhenti sejenak untuk melindungi pedangnya dan mengatur kembali posisi baju di bahunya, dengan santai mempersiapkan latihan yang nantinya akan melatih otot-otot mereka.

 

Yeo Un menggunakan pengetahuannya mengenai akupungtur untuk bertarung  dengan tangan kosong sampai semua pengawal berdiri tanpa bergerak karena ilmu totoknya.

Suara Ratu bergema dan memuji gerakan Yeo Un  yang sangat luar biasa, Ratu tersenyum. Yeo Un memandang ke tingkat dua dan mengetahui bahwa semuanya ini sudah direncanakan sejak semula untuk menguji ilmunya.

 

Yeo Un bertanya padanya mengapa ia mencari orang seperti dirinya. Ratu mengatakan kalau ia akan langsung ke intinya saja, “Bagaimana kalau kau menjadi bawahanku?” Yeo Un bertanya apakah itu artinya Ratu ingin ia berkhianat pada Dae Ju? Menteri Kim tertawa, mengapa Yeo Un berpikiran seperti itu, jika seorang luar biasa seperti dirinya bekerja bagi Ratu, maka itu akan lebih baik daripada membentuk pasukan besar. Yeo Un menyahut jika ia melakukan itu maka apa yang akan ia dapatkan?

Ratu tersenyum dan mengatakan, “Apapun yang kau inginkan, aku akan memberikannya padamu, semuanya, apakah itu kekayaan, kekuasaan, ketenaran, apapun itu lanjutkan saja dan katakan padaku.” Yeo Un memberitahu Ratu bahwa ia akan memikirkan kembali tawaran ratu.

Ratu mengatakan bahwa dirinya bukanlah orang yang memiliki kesabaran tak terbatas. Yeo Un menimpali bahwa ia juga bukan yang cupat dan pendek pikirannya. Ratu meminta Yeo Un untuk menunjukkan padanya apa yang Yeo Un miliki terlebih dahulu. Yeo Un mengatakan kalau dirinya adalah seorang pembunuh gelap, apa yang harus ditunjukkan oleh seorang pembunuh gelap?

Ratu: Tak peduli kepala siapapun itu, dapatkah kau membawanya ke hadapanku secepatnya sekarang?

Yeo Un: Kepala siapa yang kau inginkan?

RAtu: Bagaimana kalau kepala Yang Mulia Raja?

Yeo Un terkejut. Ia mengatakan bahwa gurauan Ratu sudah keterlaluan. Ratu tertawa dan mengatakan, “Kalau begitu …

 

 

Dong Soo masih bertarung. Si pemimpin menyerang Dong Soo dengan mengayunkan pedangnya tinggi-tinggi, sialnya, pedangnya menusuk di tiang atap. Dong Soo tertawa kecil, ia kemudian memukul wajah pria itu dan menendangnya dengan keras. Si pria itu berakhir dengan terjatuh tergeletak di atas anak buahnya. Dong Soo kembali melemparkan tertawa kecil.

 

Ratu: …. bawakan aku kepala dari murid Malaikat Pedang, Baek Dong Soo!

Yeo Un bersikap seakan acuh tak acuh atas permintaan Ratu. Ia menghela napas kemudian berbalik untuk memandang sang Ratu …

One comment on “Warrior Baek Dong Soo – Episode 26

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s