Warrior Baek Dong Soo – Episode 27

Ratu meminta Yeo Un untuk membawakan kepala Baek Dong Soo padanya …

Dong Soo sedang bertarung, ia mengalahkan semua pengejarnya. Dae Ung mengintip dari balik sebuah bangunan dan menyadari kalau rencananya tidak berhasil. Dong Soo melihatnya dan Dae Ung segera melarikan diri.

Tapi Dae Ung berpapasan dengan Sa Mo dan Jin Ju, ia membalikkan tubuh dan bermaksud berlari ke arah lain namun Dong Soo sudah berhasil mendekatinya.

Tak ada jalan keluar, jadi Dae Ung memohon agar mereka mengampuni nyawanya, mengatakan bahwa ia tak terlibat apapun dan sekarang hidup sebagai orang biasa.

Dae Ung merangkak dan memeluk kaki Sa Mo. Sa Mo menendangnya dan menghunus pisau jagal bermaksud untuk membunuh Dae Ung. Tapi Dong Soo menghentikannya dan mengatakan kalau Dae Ung sudah banyak menderita, jadi biarkan saja ia pergi ….. (Ohhh tidaaaaaakkk ….. bunuh aja tuh orang yang menjengkelkan!! Dah muak liat wajahnya >.<.)

Sa Mo berkata keras pada Dong Soo bahwa orang ini seharusnya dibunuh saja sejak lama! (Aku setuju 100%!!) Jin Ju juga bertanya apakah Dong Soo lupa apa yang telah Dae Ung lakukan pada dirinya dan juga ayahnya, jadi ia tak bisa melepaskan Dae Ung. Tapi Dong Soo memberitahu Dae Ung untuk segera menyingkir dari hadapan mereka, sebelum ia merubah pikirannya.

Dae Ung segera terhuyung-huyung pergi …

Sa Mo sangat jengkel dan membentak Dong Soo, apakah ia lupa kejahatan yang telah orang itu lakukan sampai saat ini? Dong Soo balas bertanya, Apakah membunuhnya dapat mengubah segalanya? Dong Soo kemudian mengajak mereka pergi dari tempat itu.

Yeo Un menatap pada Ratu, dan bertanya apakah ada alasan Ratu sehingga ia menginginkan kepala Dong Soo? Ratu balas bertanya apakah seorang pembunuh gelap memerlukan sebuah alasan untuk menghunuskan pedangnya? Yeo Un mengangguk, mengatakan bahwa dari semua orang, Ratu memilih seseorang yang tak dapat ia bunuh.

Ratu berkata, kau tidak bisa melakukan ini, tak bisa melakukan itu, apakah ia bermaksud mencari-cari alasan saja? Yeo Un meminta maaf padanya.

Ratu kemudian berkata, “Kalau begitu …. ”

Beberapa waktu kemudian, Yeo Un memberi hormat dan pergi. Apa perintah Ratu pada Yeo Un masih belum diungkapkan pada kita …

Sepeninggal Yeo Un, Ratu mengatakan pada ayahnya, ia pasti akan berusaha membuat Yeo Un menjadi salah seorang dari bawahannya. Tuan Kim mengatakan tidak begitu buruk dengan bekerja sama dengan Yeo Un untuk sekarang.

Dae Ung berpapasan dengan para petarung yang ia sewa kemudian dikepung oleh anak buah Dae Ju juga, mereka membawanya ke hadapan Dae Ju. Dae Ju mengatakan, ia mendnegar bahwa Dae Ung berusaha menusuknya dari belakang.

Dae Ung menyangkal dan beralasan bahwa ia hanya ingin membunuh Baek Dong Soo. Jadi Dae Ju bertanya apakah Dae Ung berhasil membunuhnya? Dae Ung terdiam dan tak dapat menjawabnya. Dae Ju melanjutkan,  jika Dae Ung tak dapat membunuh Dong Soo, sudah sewajarnya jika Dae Ung yang akan mati, karena ia tahu terlalu banyak dan bahkan berani menyuruh para petarung sewaan Dae Ju.

Dae Ung langsung tahu nasibnya, ia memohon pada Dae Ju agar mengampunyi jiwanya tapi Dae Ju tak mau mendengarnya dan memerintahkan anakbuahnya untuk memulai penyiksaan. Mereka menggulungnya dalam sebuah tikar, dan kemudian mereka memukulinya berulangkali dengan tongkat kayu. Dae Ung berteriak-teriak kesakitan.

Kenjo dan Dae Ju mengawasi penyiksaan itu. Dae Ju bertanya pada Kenjo kapan anakbuahnya akan datang, Kenjo menjawab kalau mereka akan datang sebelum hari yang direncanakan, saat sinsi (3 – 5 sore).

Suara ratu: “Sebelum osi (jam 11-1 siang) pada hari itu, potonglah salah satu tangan Dae Ju!” Itu adalah perintah yang diberikan oleh Ratu pada Yeo Un.

Yu Dae mengembalikan tombak pada sang Pangeran, bahwa ia tak berani untuk melebur Woldo (Tombak Pangeran Mahkota Sado). Pangeran bertanya apakah ia ingin melanggar perintah Raja? Yu Dae menjawab, jika demikian, ia sudah siap menerima hukumannya. Cho Rip memperingatkan Pangeran bahwa suasana di luar Istana tidak begitu meyakinkan, jadi jika mereka membutuhkan tindakan yang dibutuhkan, kapanpun itu, ia meminta Pangeran agar tak melepaskan Woldo dari tangannya.

Jin Ju masih sangat frustasi mengapa Dong Soo membiarkan Dae Ung pergi. Jang Mi tersenyum dan mengatakan, Dong Soo semakin lama semakin menjadi seperti ayah Jin Ju, Jin Ju menjadi sangat gembira.

Sa Mo bertanya pada Dong Soo apakah ia bisa mengatasi mereka berdua (Sa Mo dan Jin Ki)? Dong Soo mengatakan kalau ia akan mencobanya untuk mengetahui itu. Mereka bertiga bertarung,

Dong Soo menggunakan tombaknya untuk melucuti senjata kedua lawannya, dan pada akhirnya, berhasil mengalahkan mereka berdua. Jin Ki tampak sangat puas bahwa sekarang ilmu bela diri Dong Soo sudah melebihi Malaikat Pedang.

Sa Mo bertanya bagaimana Dong Soo mempelajari tombak semacam itu? Dong Soo menjawab bahwa gurunya, si Malaikat Pedang lah yang telah mengajarinya.

Ji Sun dan Mi so kembali, lalu mereka semua segera masuk ke dalam untuk melakukan pertemuan. Sebelum ia masuk ke dalam, Dong Soo merasakan kehadiran seseorang di dekat tempat itu, ia menyadarinya dan membiarkannya.

Saat Dong Soo masuk ke dalam, Kenjo muncul dari kejauhan mengawasi punggungnya. Saat ia sendirian, Kenjo berpikir, “Ahli pedang terhebat Joseon adalah Baek Dong Soo?

Di dalam, mereka semua berkumpul untuk mendengarkan berita yang dibawa Ji Sun dan Mi So yang baru saja berkeliling di pasar. Ji Sun mengatakan kalau ia melihat anakbuah Dae Ju mendorong sebuah kereta gerobak ke sebuah tempat pandai besi. Tapi saat pria itu keluar, mereka melihat kereta gerobak itu kosong.

Mereka berdua mencoba untuk menyusup masuk ke dalam, tapi sama sekali tak ada jejak yang mencurigakan.

Dong Soo mengatakan kalau itu tak mungkin, ia berpaling pada Jin Ju yang mengangguk dan mengatakan kalau menyamar adalah keahliannya, serahkan saja padanya. Jin Ki memintanya untuk tidak pergi ke rumah judi itu lagi, Jin Ju tampak cemberut tapi menyetujuinya.

Dong Soo mengusulkan agar mereka melakukan pengamatan pada kediaman Dae Ju. Sa Mo memperingatkan Dong Soo agar menaruh ekstra hati-hati.

Hong Sa Hae memberitahu ayahnya bahwa dengan penambahan para petarung dari Jepang, mereka secara kasar memiliki sekitar seratus orang untuk berpartisipasi dalam pemberontakan. Dae Ju kemudian bertanya mengenai para ahli tembak. Hong Sa Hae mengatakan kalau ia sudah mendapatkan beberapa ahli tembak yang andal, dengan itu, ia memberitahu ayahnya bahwa mereka sekarang sudah siap, hanya tinggal menunggu perintah ayahnya. Dae Ju bertanya apakah ia menghubungi Hoksa Chorong. Sa Hae mengiyakan, seseorang sudah dikirim ke sana.

Dong Soo menusup masuk ke kediaman Dae Ju, ia melihat beberapa orang sedang minum-minum. Tae San ada di antara mereka. Dong Soo kemudian berjalan menuju ke belakang bangunan dan menemukan Dae Ung tergulung dalam sebuah tikar, dengan tangan terikat.

Dong Soo berlutut dan menuangkan air pada bibirnya, Dae Ung membuka matanya. Dong Soo kemudian melepaskan ikatannya dan melepaskannya, menyuruh Dae Ung pergi.

Dae Ung sangat bingung menatapnya dengan air mata menggenang di matanya, ia bertanya pada Dong Soo mengapa Dong Soo melakukan hal seperti ini? Apakah Dong Soo membiarkannya melarikan diri agar supaya nanti Dong Soo dapat mengejarnya?

Dong Soo, “Jika aku benar-benar ingin membunuhmu, aku pasti sudah melakukannya sebelum ini. Aku tidak ingin melakukan seperti yang kau katakan, jadi cepatlah pergi!” Lalu Dong Soo bangkit berdiri dan pergi, meninggalkan Dae Ung sendirian, terperangah tak percaya karena Dong Soo bersedia membantunya.

Dae Ung bangun berdiri dan mencoba untuk menyelinap keluar dari rumah itu, melewati para penjaga yang sedang minum-minum. Tapi orang-orang itu melihatnya, mereka segera bangun dan mengikutinya.

Yeo Un melakukan pertemuan dengan Dae Ju di rumahnya. Dae Ju mendengar kalau Yeo Un bertamu dengan sang Ratu, ia bertanya apakah Ratu menyuruhnya untuk melakukan sesuatu? Yeo Un memberitahu Dae Ju bahwa Ratu ingin dirinya memenggal kepala Baek Dong Soo.

Dae Ju tampak sangat senang mendengarnya, ia bertnaya apa jawaban Yeo Un. Yeo Un mengatakan kalau ia memberitahu Ratu ia akan membunuh Baek Dong Soo.

Sementara itu di luar kamar, Dong Soo sedang menguping mereka dan menjadi terbelalak …

Dae Ju kemudian bertanya apakah Yeo Un mampu membunuh satu-satunya teman dekatnya? Yeo Un tersenyum, “Teman dekat? Itu sudah lama berlalu!” Dong Soo sangat terkejut mendengar itu, kemudian tiba-tiba seseorang memergokinya dan berteriak, “Siapa di sana?”

Dong Soo melihat Kenjo sedang berdiri agak jauh, menantinya. Dong Soo melompat dari bayangan gedung dan memunculkan dirinya pada Kenjo, kemudian berbalik untuk pergi.

Kenjo menghentikannya dan bertanya mengapa ia terburu-buru untuk pergi? Kelihatannya sangat sulit untuk mengundang Dong Soo kemari, haruskah dirinya membawakan segelas teh sebelum Dong Soo pergi? Kenjo menebak bahwa temannya ada di dalam.

Dong Soo tidak mengucapkan sepatah katapun, dan beranjak pergi, tapi Kenjo menghunuskan pedagnnya tidak membiarkannya pergi.

Mereka akan bertarung ketika Yeo Un memanggil nama Dong Soo.

Dae Ju mengatakan Baek Dong Soo mengunjungi rumahnya, jadi apa yang bisa ia lakukan baginya? Kelihatannya justru ada pertunjukkan yang lebih menarik terjadi di rumahnya dari pada di rumah judi.

Dong Soo memperingatkannya bahwa Dae Ju lebih baik membiarkannya pergi. Dae Ju tertawa, “Karena kau telah menyusup masuk ke sarang harimau sendirian, kau harus menanggung sendiri akibatnya!”

Para prajurit pengawal muncul dan segera mengepung Dong Soo. Yeo Un berteriak padanya, “Baek Dong Soo! Bagaimana bisa kau bahkan tidak dapat menahan dirimu sehari saja?” Dong Soo membalasnya, “Jadi, itukah mengapa kau membuat persetujuan untuk membunuhku?”

Dae Ju berteriak pada para pengawalnya untuk mulai  menyerang.

Di lain tempat, orang-orang Dae Ju juga berhasil menyusul In, mereka memukulnya jatuh ke tanah dan memberitahunya bahwa Dae Ju telah memberi perintah pada mereka untuk membunuh Dae Ung. Seorang dari pengejar menunjukkan Dae Ung racun yang diberikan ole Dae Ung padanya sebelum ini, dan akan menaruhnya di mulut Dae Ung, tapi tiba-tiba sebatang panah mengenai punggung orang itu. Yang lain terkejut dan segera mengawasi ke sekeliing, Dae Ung memanfaatkan kesempatan emas ini dan segera melarikan diri. Sebatang panah mengenai seorang lagi,  yang lain menjadi ketakutan dan segera kabur.

Jin Ju keluar dari persembunyiannya, ia berpikir apa yang dikatakan oleh Jang Mi, bahwa Dong Soo semakin mirip saja dengan ayah Jin Ju. Jin Ju menghela napas, dikarenakan oleh itu, ia tahu kalau dirinya perlu menjaga bagian belakang Dong Soo.

Di kediaman Dae Ju, para pengawal menyerang Dong Soo, pertarungan itu terus berlangsung sampai Dong Soo berhasil menjatuhkan mereka semua. Tae San dan juga yang lainnya, yang sebelumnya mengejar Dae Ung, menggabungkan diri. Tapi Kenjo memberitahu mereka untuk berhenti, ia sendiri yang akan berurusan dengan Dong Soo. Tapi Dae Ju tidak mengijinkan itu, mengatakan bagaimana ia bisa membiarkan Kenjo menangkap seekor serangga, jika sampai terjadi demikian mau di mana ia taruh mukanya. Dae Ju kemudian mengangguk pada anakbuahnya.

Para ahli tembak keluar dan menyusun formasi di depan Dong Soo. Dae Ju tertawa, meskipun ilmu bela diri Dong Soo lebih hebar dari saat ini, “Dapatkah kau menghindar tembakan mereka?”

Yeo Un menggenggam tangannya berkeringat dingin, ia diam-diam meraih sarung pedagnnya. Tapi Dae Ju sudah menyangkanya, ia memberitahu Un untuk menghentikan gerakannya.

Dong Soo memejamkan matanya tapi tidak mau mundur. Yeo Un berpikir, “Apa yang sedang kau lakukan Baek Dong Soo? Apakah kau ingin mati?”

Dong Soo dalam keadaan berdiri dan memejamkan matanya, ia mempersiapkan dirinya untuk menghadapi apa yang akan terjadi.

Dae Ju memberikan tanda dan para penembak melepaskan tembakan. Tapi sebelum mereka menarik pelatuk, sebuah panah menjatuhkan seorang penembak. Hal ini membuat yang lain bersiaga, mereka mengamati keadaan sekitar untuk mencari tahu dari mana anak panah itu berasal.

Di atap sebuah rumah, Jin Ju sedang meraih anak panah yang lain, tapi Jin Ki meraih bahunya.

Jin Ki melemparkan sebuah benda yang meledak di tengah-tengah para pengawal Dae Ju, membuat asap naik dan berhamburan ke mana-mana, menutupi pandangan semua orang di sana. Dong Soo segera menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri.

Dae Ju dengan terpaksa membiarkan kejadian ini, ia memberitahu semua orang, sebelum hari yang direncanakan, tiap-tiap orang harus mengurus diri mereka sendiri. Yeo Un beranjak pergi, ketika ia melewati Tae San, ia diam-diam memberitahunya untuk bersiap.

Dae Ju duduk bersama dengan Kenjo, ia menyimpulkan kejadian tadi, bahwa Baek Dong Soo memanjat pagar dan menyusup masuk, tampaknya ia telah mendengar sesuatu. Tapi sampai sekarang kelihatanya Dong Soo masih belum menemukan suatu petunjuk mengenai rencana pihaknya. Tapi tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga.

Jin Ju, Jin Ki dan Dong Soo berhasil meloloskan diri dengan selamat. Jin Ki berteriak pada Jin Ju karena bertindak semaunya, membuatnya sangat takut sehingga jantungnya hampir saja copot. Jin Ju tertawa dan mengatakan kalau ayahnya tampak baik-baik saja sampai sekarang, di belakang mereka Dong Soo mengikuti dengan tersenyum geli.

Dae Ung berjalan sempoyongan, ia tertawa atas apa yang telah ia saksikan dan alami barusan. Bahwa Dae Ju memerintahkan untuk membunuhnya sebaliknya Dong Soo justru membantunya untuk melarikan diri.

Dae Ung berkata pada dirinya sendiri, “Baek Dong Soo, kau bajingan! Aku sungguh ingin membunuhmu! Tapi bagaimana bisa kau menampakkan ekspresi wajah seperti itu saat melihatku? Apakah aku memant terlihat patut dikasihani? Sebenarnya siapa yang sedang menyelamatkan siapa? Mengapa itu membuat hatiku tergetar seperti ini?” Dia menangis dan tertawa bergantian seperti orang sinting.

Dong Soo, Jin Ki dan Jin Ju kembali ke kediaman Sa Mo. Ji Sun sedang menunggu Dong Soo, sangat senang ketika melihat ketiganya kembali.

Ji Sun kemudian melihat darah di tangan Dong Soo kemudian meraih tangannya dan bertanya, bagaimana bisa tiada seharipun di mana tubuhnya benar-benar tidak terluka? Ji Sun mengeluarkan saputangan bersih dan menggunakannya untuk mengusap darah itu. Dong Soo mengatakan kalau ia tidak apa-apa, tak usah mencemaskan dirinya dan tersenyum dengan lembut. Jin Ju melihat mereka berdua dan merasa hatinya sedih. Jin Ki menyeretnya pergi dari sana.

Dong Soo, Cho Rip, dan Sa Mo bercakap-cakap mengenai usaha Dong Soo mengamati kediaman Dae Ju. Dong Soo memberitahu mereka berdua bahwa kelihatannya rencana pemberontakan mereka akan dimulai dalam waktu dekat, tapi rencana detilnya dan waktunya masih belum terungkap. Sa Mo merasa sangat kesal bahwa mereka tahu mengenai rencana pihak Dae Ju tapi masih tidak dapat mencegahnya. Cho Rip berpikir bahwa mereka seharusnya melaporkan ini kepada Pangeran, ia meminta Dong Soo  untuk menemui Pangeran di Istana bersama-sama dengannya. Dong Soo menyetujui usul Cho Rip.

Yeo Un memberitahu Gu Hyang apa yang diperintahkan Ratu padanya, bahwa Ratu bermaksud untuk memotong kedua tangan Dae Ju. Un menyuruhnya untuk bersiap-siap, dan memberinya sebuah pesan, “Ini harus dilakukan sebelum osi (jam 11-1 siang)” Gu Hyang menerima pesan itu dan segera pergi melaksanakannya.

Seorang pembunuh gelap melaporkan pada Yeo Un bahwa apa yang telah disangka oleh Yeo Un ternyata benar, bahwa orang-orang Jepang yang meninggalkan pemukiman mereka dan bergerak menuju ke Hanyang. Yeo Un memerintahkan agar ia tetap mengawasi pergerakan orang-orang Jepang itu, dan memberinya laporan saat mereka mencapai Hanyang. Pembunuh gelap itu mengiyakan dan segera melaksanakannya.

Yeo Un menghela napas, “Kelihatannya waktunya sudah tiba.”

Ia kemudian berpikir atas apa yang telah didengar oleh Dong Soo, bahwa ia menerima perintah untuk membunuh Dong Soo.

Kilas balik, setelah Jin Ki melemparkan bom asap, keduanya bertemu. Dong Soo menaruh tangannya di bahu Yeo Un dan mengatakan, jika Un menginginkannya untuk menyerah, itu hanya bisa terjadi jika Un membunuhnya.

Yeo Un memegang bahunya sambil memikirkan Dong Soo.

Dong Soo juga sedang berdiri sendirian di tengah malam, memikirkan Yeo Un, bahwa Yeo Un menerima perintah Ratu untuk membunuhnya.

Gu Hyang menyampaikan pesan Un pada seorang pejabat, kemudian pejabat itu memberikan kepada orang lain, ke orang lain lagi, dan lagi, sampai pada seseorang yang menaruhnay pada sebuah buku. Ada orang lain yang mengambil buku itu dan memberikannya pada seorang pejabat tingkat tinggi (berbaju merah kemungkinan seorang menteri). Ia membaca pesan di dalam buku itu dan segera memberikan perintah pada orang-orangnya untuk “menangkap dia!” (Dia di sini tidak disebutkan siapa)

Prajurit menangkap anakbuah Dae Ju yang selama ini menjadi tangan kanannya, bahwa seeorang telah melaporkan kalau ia telah mengumpulkan suap dari para peserta ujian militer dan membuat mereka kelulusan yang tidak sah.

Dong Soo saat itu sedang keluar dan melihat penangkapan ini.

Di Paviliun Ratu, Pangeran sedang berkunjung dan bercakap-cakap dengan sang Ratu.

Ratu memberitahu Pangeran bahwa meskipun Raja berharap agar Pangeran menggantikannya menjadi penguasa sementara, Ratu takut bahwa ini nanti justru akan menyakiti Pangeran. Pangeran mengatakan kalau kata-kata itu harus ia pelajari, ia akan melakukan yang terbaik dalam berurusan dengan permasalahan negara ini. Ratu mengatakan, itu memang adalah tanggung jawab Pangeran. Menteri Kim datang menyela dan meminta bertemu Ratu, kemudian ia masuk ke dalam. Ratu mempersilahkan Pangeran untuk pergi, Pangeran bangun dan memberi hormat lalu beranjak pergi. Ketika ia berpapasan dengan Menteri Kim Han Gu, ia melihat sebuah sangkar burung yang dibawa seorang dayang lalu pergi.

Menteri Kim memberitahu Ratu mengenai berita bahwa anak buah kepercayaan Dae Ju ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara, kemudian menunjukkan pada Ratu seekor burung dalam sangkarnya.

Ratu membaca surat Yeo Un yang isinya memberitahu Ratu bahwa anakbuah kepercayaan Dae Ju sekarang ada di penjara, jika Ratu melepaskan burung ini, hidup orang itu bisa ditolong.  Jika ia tetap membuat burung itu dalam sangkar, maka kepala orang itu akan  dipenggal sebelum waktu osi. Ratu tersenuum senang.

Dong Soo memberitahu Pangeran bahwa Dae Ju, ia yakin, sekarang sedang merencanakan pemberontakan, tapi waktu dan isi rencananya yang sebenarnya masih tidak diketahui, karena itu sangat sulit untuk membuat tindakan pencegahannya.

Dong Soo menemui Pangeran dan melihat Woldo, ia menjadi terkejut. Pangeran mengatakan bahwa tombak ini adalah tombak yang dulu digunakan oleh ayahnya, Pangeran Sado.

Kilas balik, Pangeran Mahkota menanyakan nama seorang bocah, yang mengaku namanya adalah Baek Dong Soo. Pangeran Sado tersenyum dan mengatakan bahwa mereka telah bertumbuh dengan baik, menyatakan bahwa Dong Soo, Yeo Un, dan Cho Rip, adalah masa depan dari Joseon.

Dae Ju menjenguk anakbuahnya di penjara dan bertanya apakah ia benar-benar tidak bersalah. Pria itu menghindari mata Dae Ju, dan berkata, sesungguhna ia tidak terlibat secara langsung. Dae Ju mengerutkan keningnya, Hong Sa Hae memburu ke samping ayahnya dan memberitahunya, meskipun informasi yang dilaporkan adalah benar namun tak ada cara untuk mengetahui siapa yang melapor. Dae Ju bertanya-tanya siapa orang itu … kemudian ia menyadari sesuatu …

Dae Ju mengunjungi Ratu, ia bertanya mengapa Ratu melakukan itu … Ratu berpura-pura tak tahu dan bertanya apa yang sedang Hong bicarakan. Menteri Kim juga mengikuti sandiwara Ratu, ia menegur Dae Ju apakah ia menuduh bahwa Ratu berkaitan dengan dipenjaranya anak buah Dae Ju?

Dae Ju menatap Ratu dengan pandangan tajam, ia mengetahui yang sebenarnya tapi di luar mengatakan sebaliknya, menjawab pertanyaan Menteri Kim bahwa ia tidak berani melakukan hal itu. Ratu mengatakan bahwa itu bukanlah hasil perbuatannya.

Dae Ju memberi hormat pada Ratu dan mengatakan, dirinya benar-benar telah melakukan kesalahan besar. Dae Ju kemudian memperingatkan Ratu bahwa hari H mereka sudah mendekat, jadi mereka tak bisa membuat langkah mereka terhalang oelh karena permasalahan seperti ini. Dae Ju mengusulkan ratu agar melepaskan anakbuahnya dulu, dan menyelidiki kejahatannya nanti, dalam rencana mereka ini ia sangat diperlukan tenaganya. Ratu mengatakan kalau ia akan memikirkannya. Dae Ju memberi hormat kemudian pergi.

Menteri Kim bertanya pada Ratu apakah ia berpikir, bahwa si Penguasa Langit, tidakkah ia terlalu berhati-hati sebagai seorang pembunuh gelap? Ratu mengatakan hanya mereka dengan tingkat pemikiran seperti ini yang pantas menjadi bawahannya.

Raja perlahan-lahan mulai pulih, ia ingin segera memberikan Pangeran titah untuk menjadi Penguasa Pengganti. Mendengar ini, tangan Ratu mulai bergetar. Raja memikirkan mengenai rumor baru-baru ini mengenai Pangeran dan juga protes dari para pejabat, adalah karena Pangeran tidak pernah diakui dalam menjalankan negeri ini. Dalam hal keabsahan, sudah tidak ada masalah, semuanya akan segera mereda begitu sang Pangeran mulai memerintah. Raja mengatakan pada RAtu bahwa besok di hadapan Dewan Istana, ia akan menurunkan titahnya, tapi sekarang ia memberitahu Ratu dahulu. Ratu sangat cemas dalam hatinya, tapi ia berlaku seperti biasa dan memberi hormat.

Anakbuah Dae Ju keluar dari penjara, ia sangat berterimakasih atas bantuan dari Dae Ju. Dae Ju memperingatkannya bahwa rencana mereka akan dilaksanakan dalam dua hari ke depan, jadi jangan sampai membuat kesalahan lagi.

Hong Sa Hae masuk ke dalam dengan terburu-buru, memberitahu ayahnya bahwa Raja telah pulih. Dae Ju mengangguk dan paham bahwa Ratu pasti sedang mencarinya saat ini. Baru saja ia berpikir demikian, seorang dayang memanggilnya dan memberitahu bahwa Ratu ingin bertemu. Dae Ju tersenyum puas dan berkata bahwa Ratu harus membayar harga karena telah berani mengusiknya. Ia tertawa terbahak-bahak.

Ratu memukul meja bertanya apakah mungkin untuk memajukan rencana mereka satu hari? Dae Ju menjawab tidak dapat dilakukan, sekarang adalah saat yang menentukan, memajukan rencana mereka berarti tidak sepenuhnya semuanya disiapkan sempurna, kemungkinan rencana mereka gagal akan menjadi tinggi. Ia memberitahu Ratu, tapi jjika ia ingin menghentikan keluarnya titah Penguasa Pengganti, mereka tidak kekurangan pilihan. Ratu menjadi tertarik, ia pun bertanya apa itu?

Menteri Kim mendengarkan rencananya, kemudian berteriak tidak setuju. Dae Ju bersikukuh bahwa ini adalah satu-satunya cara. Ratu menghentikan ayahnya yang mau menegur Dae Ju, ia pikir Dae Ju benar. Menteri Kim menjadi sangat cemas bagaimana bisa Ratu berani mengambil resiko seperti itu. Ratu menyahut, hanya satu hari saja tidak masalah. Menteri Kim menghela napas. Dae Ju sangat puas dengan rencananya.

Para petarung Dae Ju berbaris, orang-orang Jepang juga sudah siap.

Gu Hyang melapor pada Yeo Un mengenai berita ini.

Di kediaman Sa Mo, Jin Ju mengusulkan, jika mereka tetap mengawasi pergerakan orang-orang Jepang, maka itu sudah cukup. Tapi Cho Rip berpikir bahwa Dae Ju tidak akan menggunakan mereka semudah itu. Jin Ki mengatakan bahwa jumlah orang-orang Jepang di pasar untuk beberapa waktu ini meningkat drastis. Sa Mo menanyai Dong Soo apakah ia punya rencana. Dong Soo mengangguk dan kemudian menjelaskan rencananya pada mereka semua.

Di Istana, Ratu dengan sengaja meminum suatu ramuan sehingga jatuh sakit.

Raja mendengar Ratu sakiit sehingga ia menengoknya dan bertanya pada tabib yang memeriksa. Tabib memberitahu Raha dengan suara bergetar bahwa penyakitnya sama seperti waktu dulu yakni alergi.

Orang-orang Jepang bergerak melalui pasar. Dong Soo memberitahu rekan-rekannya untuk berpencar, Cho Rip pergi dengan Mi So, Dong Soo dengan Jin Ju.

Dae Ung sedang berbaring di tepi jalan sepi, seorang anak lewat dan memanggilnya, anak itu memberikan gula-gulanya. Dae Ung tersenyum dan menerimanya. Ia memandang anak itu dan bertanya di mana ia tinggal. Anak itu menunjuk ke desanya dan kemudian melanjutkan perjalanannya. Dae Ung mengucapkan selamat tinggal pada anak itu, karena hari ini ia dan Dae Ju akan mati bersama.

Cho Rip dan Mi So mengikuti orang-orang Jepang itu yang masuk ke sebuah rumah, para pejabat yang ikut ambil bagian dengan rencana Dae Ju mulai bermunculan. Cho Rip melihat wajah-wajah mereka, ia segera pergi dengan terburu-buru.

Gu Hyang juga melihat mereka semua, ia segera bergegas melapor pada Yeo Un, yang bertanya apakah orang-orang Jepang sudah sampai, “Sudah tidak ada jalan kembali, tak ada jalan mundur.” Anakbuah Un menginformasikan bahwa Dae Ju sedang mencarinya.

Dong Soo dan Jin Ju sedang berkeliling dan kemudian mengawasi suatu rumah di mana mereka pikir itu adalah gudang bubuk mesiu. Baunya tercium tapi tak ada jejak dari benda itu. Dae Ung muncul dan memberitahu mereka di mana benda itu disembunyikan. Ia memberitahu mereka tidak usah cemas, ia tak akan mencoba untuk menyakiti mereka lagi.

In berkata, “Baek Dong Soo, meteor … meteor adalah permulaan saja.” Dong Soo bertanya apa yang ia maksudkan. Dae Ung memikirkan kembali ketika ia disiksa di kediaman Dae Ju, ia mendengar percakapan Dae Ung dan Kenjo.  Tapi lain dari itu, ia tidak tahu. “Mulai dari sekarang, semuanya terserah padamu!” Dae Ung membawa sebuah kotak bubuk mesiu. Dong Soo masih tak mengerti petunjuk yang diberikan Dae Ung, “Meteor?”

Dae Ung mendatangi kediaman Dae Ju, ia bergumam “Hong Dae Ju, hentikan pekerjaan kotormu, mari kita bersama-sama pergi ke neraka!” Banyak pengemis yang berlari ke gerbang, para penjaga terpaksa sibuk menahan mereka membuat gerbang yang lain kosong, Dae Ung memanfaatkannya untuk menyusup masuk ke dalam.

Di dalam rumah, Dae Ju sedang melakukan pertemuan dengan anak dan tangan kanannya. Ia mengatakan bahwa sebelum hari H, pasti ada orang-orang tertentu yang harus mereka singkirkan terlebih dahulu, Seo Yu Dae dan juga … Baek Dong Soo! Dae Su bertanya pada tangan kanannya apakah ia telah mengunjungi biro polisi? Pria itu mengiyakan, mereka telah mengumpulkan cukup  bukti sehingga saat para penduduk desa  muncul maka akan dianggap sebagai komplotan perampok. Dae Ju mengatakan bahwa desa itu sudah seperti desa asal mereka, jika pihaknya menuduh mereka bahwa mereka adalah kelompok pencuri, Baek Dong Soo tak mungkin hanya berdiam diri saja. Dae Ju memerintahkan, “Beritahu mereka, jika mereka menolak, bunuh di tempat!” Ia kemudian beralih ke Kenjo dan memintanya untuk pergi dengan mereka dan membawa hasil yang baik. Dae Ju memerintahkan anaknya untuk memanggil Penguasa Langit.

In menguping pembicaraan ini dari luar, ia bergumam, “Desa?”, ia memikirkan anak kecil tadi.

Yeo Un datang dan langsung masuk, Hong Sa Hae memberitahu ayahnya kalau semuanya sudah disiapkan dengan baik. Dae Ju mengatakan, hari ini saat haesi (9-11 malam), rencana mereka akan dimulai dari langit. Ia kemudian berkata pada Yeo Un, ” Ini adalah revolusi yang akan mengubah sejarah Joseon. Penguasa Langit, tak peduli apapun kau tak boleh melupakan perintahku!” Yeo Un hanya mengangguk tanpa suara.

Tangan kanan Dae Ju dan banyak prajurit sedang menuju ke desa, Hong Do melihat mereka.

Dong Soo sedang mengadakan pertemuan dengan rekan-rekannya. Dong Soo mengatakan jika mereka menggunakan jenderal pasukan militer dan juga orang-orang Jepang, itu tak cuma hanya mengancam Pangeran. Sa Mo mengatakan bahwa Dae Ju sedang menunjukkan belangnya, itu adalah tindakan pemberontakan melawan Raja dan membuat ini menjadi konspirasi berdarah. Sa Mo bertanya apakah Jin Ki dan Jin Ju sudah mendaki Gunung Bugak? Dong Soo mengatakan kalau pemberontakan kali ini akan dimulai dengan pertanda meteor.

Tampak Hong Do berlari-lari dan memanggil Dong So kemudian masuk dan bergabung dengan mereka, ia memberitahu mereka bahwa para prajurit baru saja berangkat dan kelihatannya ditugaskan  untuk menyapu bersih kelompok pencuri yang dinyatakan bersembunyi di desa.

Sa Mo tampak sangat marah, para pencuri hidup sebagai rakyat biasa, alasan macam apa ini? Ia memerintahkan Choh Rip untuk melaporkan situasi ini dan berdiskusi cara terbaik untuk menangkalnya dengan Yu Dae, dan Dong Soo akan menyertainya.

Jin Ki dan Jin Ju berlari mendaki gunung Bugak. Mereka melihat orang-orang sedang mempersiapkan layang-layang, mereka segera menendang semua layang-layang itu.

Tangan kanan Daeju sedang meneriakkan perintah penangkapan, sesuatu yang berdebu membuatnya terganggu. Dae Ung dengan tangan kanan memegang obor, maju menghampiri mereka dan mengatakan kalau mereka semua harus mati dengan lubang-lubang mesiu di tubuh mereka. Ternyata apa yang dianggap debu oleh mereka sebenarnya adalah bubuk mesiu yang sengaja ditaburkan oleh Dae Ung. Para prajurit tampak ketakutan. Dae Ung berteriak keras pada semua orang di tempat itu untuk lari, dan kelihatannya tempat itu ternyata sudah ditinggalkan penghuninya.

Sementara Dae Ung berteriak-teriak seperti orang gila, Kenjo mencekal tangannya, obor jatuh ke tanah dan Kenjo menusukkan pedang ke tubuh Dae Ung. Kenjo kemudian beranjak pergi. Dae Ung benar-benar mendapatkan luka yang berat, ia menggapai obornya. Kenjo dan tangan kanan Dae Ju berbalik dan membelalakkan mata mereka.

Dae Ung mengambil kotak bubuk mesiu dan menyalakannya dengan obor. Kenjo terkejut dan segera berteriak pada orang-orangnya untuk segera lari menjauh. Dae Ung melemparkan kotak itu ke udara dan kotak itu meledak. Tubuh berserakan di atas tanah, Dae Ung duduk di sana mengatakan kalau cahaya kembang api itu sangat indah, ia sangat puas dan kemudian menutup kedua matanya.

Cho Rip berlari secepat mungkin untuk menyampaikan berita, ia berpapasan dengan Yeo Un dan orang-orang Dae Ju. Yeo Un berkata padanya, “Janganlah kau membenciku” Ia menghunuskan pedangnya dan maju ke depan.

Di tempat ledakan tadi, Dae Ung duduk di sana sedang sekarat. Seorang anak menangis baginya, Dae Ung menjulurkan tangan untuk menyentuh dagunya, memberitahu anak itu untuk berhenti menangis. Ibu anak itu datang dan menyeretnya pergi, Dong Soo dan Sa Mo sampai di tempat itu. Dae Ung melihat Dong Soo dan tersenyum.

“Kau di sini. Baek Dong Soo, pedangmu telah menyelamatkan semua orang di desa ini. Kau telah merubah seorang iblis seperti aku ini. Kau benar-benar seorang Hwalingeom sejati. Kau beratus-rstus kali lipat, beribu-ribu kali lipat lebih kuat daripada Malaikat Pedang. Terima kasih … Terima kasih karena telah membiarkan seseorang seperti diriku dapat melakukan perbuatan baik sekali ini.” Dae Ung meraih tangan Dong Soo dan menariknya mendekat.

*Hwalingeom berarti prinsip ilmu pedang yang menyelamatkan nyawa daripana mengambil nyawa seseorang.

“Malam ini, ada konspirasi jahat yang sedang berlangsung. Pergilah, pergi dan hentikan mereka! Itu sudah cukup bagi diriku yang hidup jahat.” Tubuh Dae Ung berkelojotan sebentar dan ia meninggal dengan mata terbuka lebar.

Dong Soo merasa sedih untuknya, ia menjulurkan tangannya untuk menutup mata Dae Ung. Kenjo berjalan menemuinya. Dong Soo bertanya apakah ini hasil perbuatannya?

Kenjo mengatakan kalau ia sangat iri akan orang-orang yang seperti Dong Soo yang memiliki cita-cita yang jelas. Ia bertnaya-tanya apakah Dong Soo tahu kalau pemenuhan cita-cita  itu didasarkan pada kekuatan. Jika kau tidak punya kekuatan, kau bahkan tidak akan berani mengungkapkan cita-citamu.

Dong Soo:  “Kau salah! Bukanlah kekuatan yang membuat cita-citamu. Justru cita-cita lah yang memberikan kekuatan pada seseorang.”

Kenjo: “Aku sangat ingin tahu, situasi sudah terlanjur menjadi seperti ini, bisakah kau mengubah semua itu?”

Sementara itu di atas gunung, banyak orang sedang menerbangkan layang-layang. Seorang pria berseru memerintah, “Potong talinya!”

Mereka semua menggunakan obor untuk memotong setiap tali dari layangan itu. Layang-layang itu mengangkasa ke langit dan menjadi terbakar, menciptakan efek seperti banyak meteor. Seorang pria berteriak, “Malam ini adalah revolusi Joseon!”

Jin Ki dan Jin Ju melihat bahwa langit bercahaya oleh karena layang-layang itu. Mereka berhenti sejenak, apa yang mereka temukan sebelumnya ternyata hanyalah tipuan yang sudah direncanakan matang. Keduanya segera berlari menuju tempat menerbangkan layang-layang.

Yeo Un menusukkan pedangnya ke tubuh Cho Rip. Cho Rip menjadi sangat terkejut, “Un, bagaimana kau tega …” Yeo Un tidak mengatakan apapun. Cho Rip mendongak ke atas dan melihatnya, “Meteor …”

Sa Mo memanggil Dong Soo. Mereka melhat meteor-meteor di angkasa. Dong Soo menjadi sangat cemas …

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s