Warrior Baek Dong Soo – Episode 28

Dong Soo mengawasi ke arah langit, ia melihat meteor-meteor. Kenjo mengatakan kalau ia akan menunggunya dan pergi. Dong Soo bergumam, “Sa Mo, aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi. Aku akan melindungi mereka dengan kedua tanganku sendiri.”

Yeo Un menusukkan pedangnya ke tubuh Cho Rip. Cho Rip tampak terkejut dan bertanya tak percaya, “Un, bagaimana kau .. kau bisa … ”

Yeo Un menarik pedangnya, Cho Rip terhuyung ke belakang kesakitan. Yeo Un kemudian berbalik dan pergi bersama-sama dengan orang-orangnya Dae Ju.

Hong Do melihat kejadian itu, ia segera berlari menghampiri Cho Rip dan memapahnya.

Dae Ju melihat pada para sekutu dan anakbuahnya, mengangguk dengan penuh kepuasan. Ia kemudian menyatakan, “Mari kita mulai!” Mereka semua bergerak menuju Gerbang Istana.

Dae Ju memberitahu mereka, ia akan menemui mereka semua di Gangnyeongjeon (Kamar peraduan Raja). Semua orang segera berpencar seperti yang direncanakan sebelumnya. Yeo Un berjalan bersama-sama dengan Kenjo, orang-orang mereka dengan diam-diam menyebar.

Dong Soo bertemu dengan Hong Do yang sedang menggendong Cho Rip di punggungnya. Hong Do memberitahunya bahwa Cho Rip ditusuk dan pelakunya tidak lain adalah Yeo Un. Dong Soo tampak sangat shock. Hong Do segera mengatakan kalau ia akan mengurus Cho Rip, Dong Soo seharusnya pergi segera, jadi Dong Soo bergegas pergi.

Dalam perjalanannya, Dong Soo memikirkan Cho Rip dan berharap-harap cemas, “Jangan mati! Kau harus hidup!”

Dong Soo mendapatkan seekor kuda dan segera memacunya ke gerbang Istana, ia menyatakan jabatannya dalam pasukan dan meminta ijin untuk masuk. Tapi petugas penjaga memintanya untuk kembali saja, tidak seorangpun boleh masuk ke Istana malam ini tak peduli jabatannya. Dong Soo mencoba berpikir apa yang bisa ia lakukan sekarang.

Dae Ju menyuruh orang-orang yang mengikutinya untuk berhenti, ia memerintahkan keponakannya untuk pergi ke Paviliun Timur, ia masih tidak yakin. Jika Penguasa Langit melakukan gerakan yang mencurigakan, laporkan segera padanya.

Dong Soo memanjat pagar dan masuk ke dalam Istana, ia berlari melalui jalan-jalan yang gelap kemudian merasakan sesuatu dan berhenti. Orang-orang Jepang muncul dari balik bayangan mengepungnya. Dong Soo menghunus pedagnnya dan bertarung dengan mereka, ia dengan mudah mengalahkan dan membunuh mereka semua. Dong Soo melanjutkan perjalanannya.

Rombongan Dae Ju sampai di kediaman Raja, ia tingal di belakang dan mengirimkan anakbuahnya untuk bertarung dengan para pengawal pribadi Raja. Seseorang berlari menyerbu dan melukai seorang pengawal pribadi Raja. Pengawal tersebut sangat khawatir akan keselamatan Raja, tanpa mempedulikan lukanya ia dengan sempoyongan masuk ke dalam di mana Raja sedang melakukan pertemuan dengan Yu Dae.

Yu Dae menahan tubuh si pengawal, Raja bertanya apa yang terjadi. Pria tadi menyerbu ke dalam dengan sebuah pedang di tangannya, dan bergerak menuju ke Raja. Yu Dae segera memapaknya dan membunuh pria tadi.

Di luar, Dae Ju mulai membunuhi orang-orangnya sendiri saat ia maju ke depan. Seorang pria, setelah ditusuk, melihatnya dalam ketidakpercayaan, bertanya bagaimana bisa Dae Ju melakukan hal itu, Dae Ju menusuknya sekali lagi sebagai jawaban.

Para pengawal Raja menghadapinya, Dae Ju berteriak pada mereka bertanya apakah mereka tahu siapa dirinya. Kemudian seorang jenderal berlari ke tempat itu dengan beberapa pengawal lagi. Dae Ju bertanya mengapa ia terlambat. Bersama-sama mereka masuk dan menemui Raja.

Dae Ju melapor pada Raja bahwa ini adalah rencna pemberontakan, ada beratus-ratus banyaknya para pembunuh gelap yang sudah menyusup masuk ke Istana. Mereka semua sedang menuju ke tempat Raja. Dae Ju mengusulkan pada Raja untuk memanggil semua prajurit Pasukan Kerajaan untuk datang melindungi tempat ini.

Yu Dae dengan segera menolak ide ini, ia memberitahu Raja bahwa para Pengawal Raja sudah cukup untuk melindungi tempat ini, memanggil Pasukan Kerajaan di sini akan …. Dae Ju menyela dan membentaknya bahwa keselamatan Raja harus diutamakan, ia mendorong Raja agar segera mengeluarkan titahnya.

Raja menoleh pada Yu Dae kemudian pada Dae Ju, dan akhirnya memberitahunya untuk bertindak sesuai dengan keadaan. Yu Dae segera mengeluarkan ketidaksetujuannya, “Yang Mulia!”

Dae Ju sangat senang dan meyakinkan Raja bahwa dirinya bersama-sama dengan Raja jadi tidak aada yang perlu dicemaskan. Yu Dae tak bisa percaya apa yang baru saja ia dengar.

Dengan titah Raja, jenderal yang berada di luar kamar segera memerintahkan prajurit untuk membunyikan lonceng tanda bahaya, semua anggota Pasukan Kerajaan di Istana harus berkumpul di tempat ini untuk melindungi Raja.

Ketiga pengawal pribadi Pangeran mendengar lonceng yang memanggil semua Pasukan Kerajaan, mereka menyadari bahwa tinggal mereka bertiga saja yang tetap menjaga Paviliun Timur (kediaman Pangeran). Mereka segera memberitahukan hal ini pada Pangeran.

Kenzjo dan Yeo Un, bersama-sama dengan pasukan mereka, tiba di Paviliun Timur. Yeo Un berpikir mengenai perintah Dae Ju, “Penguasa Langit, kau pergi ke Paviliun Timur dan bunuh sang Pangeran. Saat Pangeran sudah mati, para prajurit dari 4 barak Pasukan Kerajaan akan memasuki Istana bersama-sama.”

Tugas Kenjo adalah menahan Dong Soo dan teman-temannya. Kenjo segera menyuruh Yeo Un untuk menyingkirkan Pangeran. Yeo Un maju ke depan …

Kenjo mengingat perintah rahasia Dae Ju, “Jika Penguasa Langit mengkhianati kita, kau bunuhlah Pangeran dan Penguasa Langit dengan tanganmu!”

Saat mereka bergerak maju, Dong Soo tiba dan membentak mereka, “Yeo Un, berhenti di tempatmu!” Yeo Un dan Kenjo membalikkan tubuh untuk memandangnya. Kenjo memujinya karena Dong Soo sangat cepat menyusul mereka, tapi Dong Soo tak akan sanggup melewatinya. Yeo Un berbalik dan melanjutkan langkahnya ke dalam.

Ketiga pengawal pribadi melapor pada Pangeran bahwa sekelompok pembunuh gelap telah tiba di kamar peraduan Raja. Pangeran terkejut dan bangun berdiri kemudian meraih tombak Woldo, ia segera memberitahu para pengawalnya untuk mengikutinya. Tapi para pengawal menghentikannya, kelihatannya Raja bukanlah target mereka dan meminta Pangeran untuk menunggu di tempatnya saja.

Di luar kamar Pangeran, Dong Soo berhadapan dengan Kenjo dan anak buahnya. Ia menghunuskan pedangnya dan dengan beberapa gerakan kilat membunuh semua orang-orang Jepang dengan mudah sambil bergerak maju ke hadapan Kenjo. Ketika tertinggal hanya Kenjo, Dong Soo memberitahunya untuk segera memutuskan siapa pemenangnya karena ia tak ada waktu untuk bermain-main dengan Kenjo. Kenjo setuju dan menghunus pedangnya bersiap menanti serangan Dong Soo.

Yeo Un mencapai kamar Pangeran, ia menghentikan orang-orangnya yang menyerang para pengawal. Ia kemudian menjatuhkan para pengawal dengan tangannya sendiri, tanpa membunuh mereka, dan menyuruh semua anakbuahnya  untuk menunggu di luar, jika ada orang yang menghalangi mereka, bunuh saja orang itu.

Yeo Un masuk ke dalam kamar Pangeran, ketiga pengawal pribadi Pangeran, yang juga dulunya teman-teman Yeo Un, memohon Pangeran agar Pangeran menyelamatkan diri saat melihat Yeo Un. Pangeran bertanya pada pada ketiganya apakah mereka mengenal orang yang baru masuk. Yeo Un melihat pada Pangeran dan memberitahunya bahwa ini adalah rencana pengkhianatan dari Hong Dae Ju.

Pangeran sangat terkejut mendengarnya, ia segera meraih Woldonya dan meminta Yeo Un untuk meinggir, ia harus pergi  ke Paviliun Raja. Yeo Un mengatakan bahwa Pangeran tidak boleh pergi ke mana-mana. Ketiga pengawal pribadi Pangeran berteriak padanya, bahwa mereka pasti akan mengambil jiwa Yeo Un.

Kenjo dan Dong Soo saling menyerbu lawannya, satu sabetan dari Dong soo dan Kenjo jatuh ke tanah.

Dong Soo menyarungkan pedangnya dan berkata, “Hidupmu berakhir di sini.”

Kenjo menjawabnya, “Pertarungan ini, aku tak menyesalinya.” Ia tewas di tempat itu. Dong Soo kemudian beranjak pergi.

Yeo Un keluar, dan ketika anakbuahnya bertanya mengenai Pangeran, ia tak menjawabnya. Seseorang ingin masuk dan mengkonfirmasi dengan kedua matanya mengenai tewasnya Pangeran, tapi Yeo Un segera menghunuskan pedangnya dan mengancamnya di leher memberitahu bahwa ia tak bisa masuk. Ketika orang itu menuduhnya berkhianat, Yeo Un menganggukkan kepalanya, bahwa memang dari permulaan ia tak pernah benar-benar ada di pihak mereka. Yeo Un memberitahu orang itu bahwa ia bukanlah lawannya, ia menyuruhnay untuk melihat ke belakan.

Ternyata itu Dong Soo yang berdiri di sana, ia berteriak pada Yeo Un dan bertanya apa yang sedang ia lakukan. Yeo Un melihat keponakan Dae Ju sedang mengintip ke arah mereka, ia berbalik dan berjalan pergi. Dong Soo berteriak lebih keras, “Aku tanya kau, apa yang sedang kau lakukan?” Yeo Un berbalik dan menjawabnya, “Baek Dong Soo, Aku minta maaf. Aku sekarang tak punya waktu untukmu.” dan ia berjalan pergi meninggalkan tempat itu.

Dong Soo ingin mengikutui Yeo Un tapi anakbuah Dae Ju yang dibawa Yeo Un menghentikannya. Dong Soo memberithau merek, hari ini mereka telah mempertaruhkan hidup mereka. Ia mengayunkan pedangnya dan memulai pertarungan.

Keponakan Dae Ju mencoba lari dari tempat itu, tapi Tae San dan Yu Dae memergokinya.

Di Paviliun Raja, Dae Ju mengatakan, untuk membunuh Pangeran ada lebih dari cukup waktunya, tapi mengapa semuanya terlihat begitu tenang dari Paviliun Timur? Ia bertanya pada anaknya, Sa Hae, apakah masih belum ada kabar dari sepupunya? Sa Hae mengiyakan, jadi apa yang harus mereka lakukan sekarang? Dae Ju mengatakan ia tak bisa menunggu lebih lama lagi, ia memerintahkan anaknya untuk membawa beberapa pembunuh gelap dan pergi sendiri untuk memeriksa keadaan.

Si keponakan Dae Ju telah dipukul tak sadarkan diri, Yeo Un kemudian mengambil terompet peringatan dari tangannya. Ia melihat Hong Sa Hae dengan orang-orangnya lewat, ia dan Tae Suan segera bersembunyi di balik bayangan. Saat mereka pergi, Yeo Un melemparkan terompet itu pada Tae San, ia mengatakan bahwa itu adalah tanda untuk mundur, “Tiuplah terompet itu saat subuh.” Tae San mengangguk mengerti.

Dong Soo membunuh semua penghadangnya dan segera menyerbu masuk ke dalam, ia memanggil Pangeran dengan suara keras. Ketiga pengawal pribadi Pangeran sudah bersiaga melindungi tapi sangat lega melihat Dong Soo masuk. Dong Soo juga sangat lega melihat Pangeran dan ketiga rekannya tak kurang suatu apapn, ia segera berlutut dan bertanya pada ketiganya apa yang telah terjadi?

Kilas balik, Yeo Un memberitahu sang Pangeran, “Orang-orang itu mencoba untuk membunuh Raja dan akan mengangkat Pangeran Eun Jong naik ke atas tahta. Agar supaya rencana pemberontakan ini sukses, mereka pasti akan berusaha membunuhmu.” (Pangeran Eun Jeon adalah adik tiri Pangeran Yi San, anak dari Pangeran Mahkota Sado dan Selir Gyeongbin)

Sang Pangeran bertanya apakah tujuan utama mereka adalah untuk membunuh dirinya?

Yeo Un mengiyakan, “Jadi sebelum Baek Dong Soo datang kemari, aku akan melindungi Pangeran.”

Ketika mendegar penjelasan mereka, Dong Soo tampak sangat terkejtu, ia bertanya kalau begitu apakah itu artinya Yeo Un ada di pihak mereka? Rekan Dong Soo mengangguk dan mengatakan, ia tidak tahu apa yang akan terjadi tanpa adanya bantuan dari Yeo Un. Tiba-tiba, seorang pria berteriak dari luar, “Bunuh mereka semua!”

Banyak orang menyerbu ke dalam dan berusaha membunuh Pangeran. Dong Soo dan yang lain, termasuk Pangeran, bertarung dan berhasil mengalahkan semua penyerbu. Hong Sa Hae dan pasukannya menyerbu ke Paviliun Timur. Dong Soo dan Pangeran serta ketiga pengawal pribadinya muncul menghadapi mereka. Melihat Dong Soo, Hong Sa Hae dengan kesal mengatakan, dia lagi, Bek Dong Soo.

Dong Soo berteriak pada mereka untuk menjatuhkan senjata mereka. Hong Sa Hae sangat geli, ia memberitahu Dong Soo untuk melihat pasukan yang ia bawa, orang yang seharusnya menjatuhkan senjata bukanlah pihaknya melainkan Dong Soo.

Pangeran berbicara, betapa beraninya mereka melakukan pemberontakan di Paviliun Timur. Hong Sa Hae bertanya jika Pangeran mengatakan kalau ia memiliki darah keturunan Raja, coba lihat saja apakah ia masih berani berbicara seperti itu ketika nantinya ia akan mati.

Dong Soo memberithau Pangeran kalau ia akan melawan mereka sendirian. Pangeran ingin membantunya tapi ketiga pengawalnya segera menghentikannya. Dong Soo meminta sang Pangeran untuk percaya padanya. Pangeran melihat ke arah para pemberontak, menyadari bahwa mereka kalah jumlah sangat banyak, ia bertnaya apakah Dong Soo benar-benar dapat melakkukan itu? Dong Soo mengangguk. Pangeran berkata, bagus, kalau begitu ia percaya Dong Soo, dan bergerak menyingkir.

Hong Sa Hae memerintahkan anakbuahnya untuk menyerang, mereka segera menyerbu Dong Soo, yang bertarung dengan gagah berani, tak membiarkan seorangpun dapat masuk ke dalam, Dong Soo membunuh semua lawan yang dihadapinya. Sampai pada orang terakhir, Dong Soo masih berdiri dengan gagah dengan pedang  di tangan kanannya berlumuran darah. Hong Sa Hae tak bisa mempercayai matanya sendiri bagaimana Dong Soo dapat menghadapi begitu banyak orang.

Dae Ju melihat ke langit dan nampak subuh mulai menjelang. Yu Dae tertawa dan berjalan ke arahnya, bertanya mengapa wajahnya tampak begitu cemas. Dae Ju bertanya apa yang sedang Yu Dae coba katakan.

Yu Dae menjawab bahwa dirinya bukannya tidak mengetahui mengenai rencana pemberontakan ini, ia juga tahu bahwa sekarang jantung Dae Ju sedang berdebar kencang dalam kegelisahan. Bahwa Dae Ju telah mengirim semua pembunuh gelap ke Paviliun timur, Yu Dae bertanya apakah itu akan berjalan lancar seperti yang dipikirkan oleh Dae Ju.

Dae Ju mengatakan bahwa ia mengirim lebih dari seratus orang ke sana, akankah pengawal di Paviliun Timur bisa menghadang mereka? Yu Dae tertawa, seratus orang tidak bisa dibilang terlalu banyak, bagaimana bisa tak ada kabar berita karena mereka pasti sudah mencapai Paviliun Timur sejak lama? Tidakkah De Ju menyadarinya sekarang, “Karena ahli pedang terhebat Joseon Baek Dong Soo, yang tidak taku akan kekuatan pasukan, sedang menjaga tempat itu.”

Dong Soo kembali mengambil sebuah pedang dari sesosok mayat, dan bertarung dengan kedua pedang di tangannya. Orang-orang mengepungnya dengan membentuk lingkaran dan mulai menyerang, ia bertarung dan bertarung, membunuh satu demi satu lawannya dari malam gelap sampai subuh menjelang. Yeo Un berdiri di kejauhan mengawasinya.

Tanda-tanda kelelahan mulai muncul pada wajah Dong Soo, ia terkena sabetan untuk pertama kalinya, dan terhuyung-huyung jatuh namun segera bangkit lagi dan melanjutkan untuk mempertahankan tempat itu.

Dan tiba-tiba Yeo Un meloncat ke dalam pertarungan itu untuk bergabung dengan Dong Soo menghadapi lawan-lawannya, membantunya untuk membunuh semua orang. Dong Soo melihat padanya dengan pandangan kelelahan. Yeo Un tersenyum dan memberi salam padanya, mengatakan sudah begitu lama sejak mereka bertarung bersama seperti ini.

Dong Soo bertanya padanya mengenai apa yang terjadi pada Cho Rip. Yeo Un menjawab bahwa ia harus melakukan itu demi membodohi orang-orang itu.

Kilas balik, Yeo Un menusuk Cho Rip dan memohonnya agar tetap diam, jangan bergerak.

Yeo Un tersenyum, ia memberitahu Dong Soo agar tak usah cemas, ia tidak menusuk di tempat yang vital, Cho Rip akan baik-baik saja. Dong Soo menghela napas lega dan mengatakan, sekarang mereka hanya butuh untuk mengurus orang-orang ini. Dan bersama-sama saling bahu membahu mereka melanjutkan pertarungan itu.

Keduanya bertarung layaknya binatang buas, dan satu-persatu orang jatuh seperti ranting pohon yang dipot0ng.

Para ahli tembak datang dan mengambil posisi, bersiap untuk menembak Dong Soo dan Yeo Un yang sedang bertarung. Hong Sa Hae kemudian memberikan perintah, “Tembak!” Peluru beterbangan, membunuhi kawan-kawan mereka sendiri. Dong Soo dan Yeo Un menggunakan mayat lawan mereka sebagai perlindungan.

Hong Sa Hae mengatakan ayo kita lihat apakah pedang mereka lebih cepat daripada peluru senapan. Dong Soo menghela napas dan mengatakan, “Mungkin kali ini kita benar-benar akan mati” Yeo Un tersenyum dan menyahut, “Kalau begitu mari kita mati bersama-sama.” Hong Sa Hae mengatakan, “Dasar bajingan! Kali ini akan menjadi yang terakhir. Tembak!”

Tiba-tiba sebuah panah melesat dan mengenai seorang penembak, yang lain berhenti melihat dari mana datangnya panah tersebut. Itu Jin Ju ada di atas atap. Sa Mo dan Jin Ki segera menyerbu masuk dari gerbang dan dengan cepat membunuh semua penembak itu, meninggalkan hanya Hong Sa Hae yang segera lari. Jin Ki menghentikan Jin Ju yang akan mengikutinya, mereka harus mengutamakan keselamatan Pangeran dan melindunginya.

Dong Soo memberitahu Yeo Un, “Un  … terima kasih.” Lalu ia berjalan menemui Sa Mo. Yeo Un berbalik dan meninggalkan tempat itu.

Sa Mo bertanya apakah Dong Soo baik-baik saja. Jin Ju mengatakan kalau Sa Mo berpikir Dong So akan mati, jadi ia datang kemari seperti angin. Jin Ki bertanya apakah Pangeran baik-baik saja. Dong Soo mengiyakan, Pangeran ada di dalam. Ia pikir ada kemungkinan kalau sekarang pihak lawan akan mengalihkan buruan kepada Raja, ia meminta mereka untuk menjaga Paviliun Istana, ia sendiri akan menuju ke Paviliun Raja.

SA Mo bertanya apa yang terjadi dengan Yeo Un, Dong Soo tersenyum, ia pikir Yeo Un kembali seperti ia dulu saat bersama dengan mereka. Sa Mo menjadi terkejut, kemudian tersenyum senang. Dong Soo beranjak pergi.

Sa Mo, Jin Ki dan Jin Ju masuk ke dalam untuk menemui Pangeran. Sa Mo memberitahu ketiga pengawal untuk menyarungkan pedang mereka, semuanya sudah tidak apa-apa sekarang, ia memberi hormat pada Pangeran.

Hong Sa Hae melapor pada ayahnya bahwa semua rencana mereka hancur karena Baek Dong Soo. Dae Ju bertanya, “Bahkan dengan seratus orang?” Hong Sa Hae menundukkan kepalanya. Dae Ju bertanya mengenai Penguasa Langit, Sa Hae menjawab bahwa Penguasa Langit juga sudah mengkhianati mereka, tubuh Dae Ju tampak bergetar keras menahan rasa amarah di hatinya. Hong Sa Hae bertanya apa yang harus mereka lakukan sekarang? Pemberontakan mereka sudah gagal. Dae Ju dengan segera menghardiknya, “Jika kau seorang pria maka kau seharusnya melihat sampai akhir setelah kau menghunuskan pedangmu!”

Lalu terdengarlah suara terompet, Dae Ju sangat terkejut, pemberontakan belum berakhir, tapi mengapa tanda mundur sudah diperdengarkan? Ia bertanya-tanya di mana keberadaan keponakannya. Lebih banyak prajurit masuk ke tempat itu dan berbaris menghadapi prajurit Dae Ju. Yu Dae muncul dan tertawa.

Ratu mendengar suara terompet itu, ia menghela napas kecewa dan memberitahu ayahnya bahwa kelihatannya pemberontakan sudah gagal. Yeo Un juga ada di sana sedang duduk menghadapi Ratu.

Kilas balik, sang Ratu meminta Yeo Un apakah seharusnya mereka memiliki rencana cadangan? Yeo Un memberitahu Ratu untuk membuat semua pejabat militer itu menjadi bawahannya. Ratu bertanya apakah Yeo Un ingin mengorbankan hidup Dae Ju? Yeo Un menyahut kalau seseorang harus bertanggunjawab atas pemberontakan ini. Jika gagal maka Ratu harus memutuskan hubungannya dengan Dae Ju saat itu juga.

Masa kini, Ratu memandang dengan hati-hati pada Yeo Un dan mengatakan bahwa dirinya berpikir, dengan kemampuan yang dimiliki oleh Yeo Un, mengambil nyawa Pangeran pasti sangat mudah. Yeo Un mengatakan Baek Dong Soo adalah ahli pedang terhebat di Joseon, Ratu terlalu memandang tinggi pada dirinya.

Ratu menoleh pada ayahnya, Menteri Kim,  dan memberitahunya bahwa apa yang terjadi hari ini tidak boleh tertuliskan di sejarah! Menteri Kim meyakinkan Ratu bahwa apapun yang membuatnya di bawah situasi yang buruk akan segera dilenyapkan.

Ternyata Tae San lah yang meniup terompet pertanda untuk mundur, atas perintah Yeo Un sebelumnya.

Seorang Jenderal, menunggu di luar Istana, mendengar terompet itu. Ia menduga kalau pemberontakan itu telah gagal, ia dengan segera memerintahkan anakbuahnya untuk meniup terompet dan suaranya bergema di seluruh Istana.

Dae Ju bertanya pada Yu Dae apa yang ia lakukan, Yu Dae memberitahu Dae Ju agar menarik pasukannya mundur dengan segera. Yu Dae lebih lanjut memberitahu Dae Ju bahwa pemberontakannya berakhir di sini. Dae Ju bertanya pemberontakan apa? Yu Dae kembali bertanya apakah Dae Ju meneruskan untuk berlaku tak tahu apa-apa sampai pada akhirnya? Dae Ju memerintahkan kapten yang ada di sampingnya untuk menangkap Yu Dae dan menunggu Raja. Tapi kapten itu tetap berdiri diam tak bergerak.

Suara Ratu (pada si kapten), “Jika pemberontakan ini gagal, kau harus mundur saat itu juga!”

Dae Ju berbisik padanya, bahwa sungguh bodoh berpikir bahwa dengan mundur sekarang akan membuatnya terlepas dari dakwaan. Jika pemberontakan ini gagal, mereka berdua akan kehilangan kepala mereka. Dae Ju mengatakan kalau ia akan menemui sang Ratu. Dae Ju kemudian memberithau anaknya untuk mengikutinya, mereka berdua segera pergi. Kapten itu mengarahkan pedangnya pada para prajurit Yu Dae.

Raja muncul dan berteriak pada mereka, bertanya mengapa mereka saling menghunuskan pedang satu sama lain? Ia segera memerintahkan mereka untuk menurunkan pedang. Yu Dae merasa tidak nyaman dengan situasi ini, sementara itu si Kapten memandang pada Raja, menimbang-nimbang keputusannya.

Kilas balik, Dae Ju mengatakan, “Berjuanglah untuk hidupmu dan usahakan untuk menang dengan segenap kekuatanmu karena sudah tidak ada jalan mundur lagi. Jika sudah sampai pada situasi seperti ini, kau akan bertannggungjawab untuk memenggal  kepala Yang Mulia Raja!”


Si Kapten berlari ke arah Raja, ia mengangkat pedangnya untuk membunuh Raja tapi sebatang pedang melesat entah dari mana dan menembus tubuh si Kapten, yang tersungkur jatuh dan mati. Raja berbalik untuk melihat, ternyata Dong Soo sedang menuju ke arah mereka.

Dae Ju dan anaknya sedang terburu-buru untuk menemui Ratu, mereka berpapasan dengan Yeo Un. Dae Ju bertnaya, “Bisakah aku bertanya alasanmu?”

Yeo Un, “Alasan? Tuanku, kau pernah mengatakan kalau ini adalah revolusi. Aku juga ingin melihat dunia yang baru runtuh!”

Hong Sa Hae sangat marah dan berusaha untuk membunuhnya.

Yeo Un berkata, “Aku adalah seorang pembunuh. Seorang pembunuh yang takut akan kematian, tidaklah eksis!” Kemudian ia melangkah mendekati Dae Ju, “Kau pernah mengatakannya sebelum ini, bahwa Taesan, gunung Taesan yang hebat akan runtuh di tanganku.”

Dae Ju mengatakan kalau semuanya belum berakhir. Yeo Un memandang padanya dan mengangguk kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.

Dae Ju dan anaknya tiba di Paviliun Ratu, ia memberitahu anaknya untuk mengawasi di luar kemudian ia pergi ke dalam sendirian. Menteri Kim duduk di samping sang Ratu. Dae Ju berjalan masuk dan berlutut di hadapan Ratu, ia memberi hormat dan mengatakan, “Meskipun pemberontakan ini gagal, selama Yang Mulia Ratu bersedia mengurusku, maka semuanya akan berlalu dengan rapi dan bersih.”

Ratu bertanya apa yang sedang Dae Ju bicarakan, itu adalah rencana yang sangat jahat, berusaha membunuh sang Raja, “Kau benar-benar ingin aku mengurusmu?”

Dae Ju menatap pada Ratu dan langsung tahu apa yang coba Ratu lakukan padanya, ia bertanya pada Ratu, bagaimana ia bisa seperti ini, ini adalah pemberontakan yang ia pimpin, “Mengapa? Apakah kau hanya ingin menginginkan kematianku?” Ia menekankan setiap kata-katanya itu pada sang Ratu.

Menteri Kim menyuruhnya berhenti berbicara hal yang omong kosong, “Apakah kau memang ingin agar aku menghukummu sekarang atas kejahatanmu dan mengirimku ke penjara Pengadilan Negara?”

Dae Ju mendengarkannya dan kemudian ia tertawa, “Yang Mulia, jika kau memang tidak peduli akan diriku, maka Yang Mulia juga tidak akan aman! Aku memiliki jurnal yang dapat menjadi bukti dari pemberontakan ini. Lebih jauh lagi, ada gulungan kontrak darah dari para pimpinan setia pemberontakan ini yang mengucapkan sumpah setia pada Yang Mulia Ratu.”

Ratu mulai merasa cemas, ia bertanya apa yang sedang Dae Ju bicarakan. Dae Ju memberitahunya untuk tidak meragukan kesetiaanya terhadap Ratu, tapi situasi ini telah berubah menjadi yang terburuk. Jika Ratu memang menginginkannya menjadi kambing hitam, sampai napas terakhinrya, ia akan menyeret Ratu bersama-sama.

Ratu menjadi sangat marah, apakah ia pikir trik kotornya ini akan dapat mengancamnya? Dae Ju memukulkan pedangnya di lantai dengan penuh amarah, jika demikian dirinya akan pergi pamit sekarang, akan ada badai darah mengamuk nanti, jadi dirinyaa harus bersiap-siap.

Dae Ju keluar dari kamar, sang Ratu memukulkan tangannya pada meja dengan marah. Tapi Menteri Kim justru tampak tersenyum ringan.

Kilas balik, Menteri Kim memberitahu Yeo un bahwa ada sebuah masalah. Kontrak darah dari semua orang yang berpartisipasi dalam pemberontakan ini, ada di tangan Dae Ju. Jika Yeo Un ingin melayani Ratu, ia harus mendapatkan benda itu terlebih dahulu.

Masa kini, Menteri Kim tertawa, ia memberitahu Ratu agar tidak usah khawatir dan tenang saja.

Dae Ju keluar dan memerintahkan anaknya untuk segera pergi meninggalkan Istana. Ia memandang pada langit dan bertanya-tanya, “Situasi seperti ini, bagaimana bisa semuanya menjadi seperti ini? Baek Dong Soo, ini semua karena perbuatanmu!”

Sa Mo ingin Pangeran menunggu di Paviliun Timur sedikit lebih lama lagi, tapi Pangeran ingin mengkonfirmasikan dengan matanya sendiri mengenai keselamatan Raja. Sa Mo mengatakn bahwa kekeraskepalaannya ini persis sama dengan ayahnya, Pangeran Mahkota Sado, si Pangeran Yi San menatap Sa Mo tanpa ekspresi. Jin Ki menyenggol Sa Mo untuk berhenti berbicara. Jenderal (yang turut dalam pemberontakan dan berjaga di luar Istana) datang dengan prajuritnya untuk mengawal keselamatan Pangeran. Jin Ki, Sa Mo dan Jin Ju tidak yakin, tapi Pangeran segera beranjak pergi disertai pengawalan ketat.

Pangeran dan Dong Soo datang menemui Raja. Dong Soo memberitahu Raja bahwa orang yang berada di balik pemberontakan kali ini adalah Hong Dae Ju. Raja tampak sangat tekejut. Dong Soo meminta agar Raja mengeluarkan chupo (perintah pengejaran dan penangkapan) untuk Dae Ju sesegera mungkin.

Raja memerintahkan, “Kirim pasukan untuk mengejar para pengkhianat dan tangkap dalangnya, Menteri Pertahanan!”

Pasukan segera menyebar untuk menggeledah ke seluruh Istana, Dae Ju membunuh semua prajurit yang mencoba menghadang jalannya.

Dong Soo keluar dari Istana dengan berita bagus, ia memberitahu Sa Mo bahwa semuanya sudah terselesaikan. Mereka berjalan bersama-sama tapi Dong Soo berhenti dan meminta mereka untuk pergi terlebih dahulu. Setelah mereka pergi, Dong Soo memanggil keluar Yeo Un. Yeo Un muncul dan berjalan menghampirinya. Dong Soo mengatakan, “Terima kasih.” pada Un tapi Yeo Un mengatakan kalau ia tidak datang kemari untuk mendengar perkataan itu dari mulut Dong Soo.

Dong Soo, “Aku berterima kasih padamu karena telah kembali menjadi Yeo Un yang dulu kukenal!”

Yeo Un hanya menghela napas, dan mengatakan kalau dirinya harus meninggalkan Istana demi menemukan Hong Sa Hae, “Dong Soo, kau carilah Menteri Pertahanan dan selesaikan masalah ini saat ini juga.”

Dong Soo tersenyum dan mengiyakan, Yeo Un berbalik untuk pergi. Dong Soo memanggilnya, “Maafkan aku karena mencurigaimu untuk sejenak.” Yeo Un tidak membalikkan badannya, tapi ia tersenyum sebelum pergi. Dong Soo melihat punggung Yeo Un yang pergi, dan kemudian tersenyum juga.

Tae San mengirim keponakan Dae Ju yang ditahannya pada Sa Mo.

Hong Sa Hae pulang ke rumahnya untuk mengambil gulungan yang berisikan kontrak darah.

Kilas balik, Dae Ju sedang memegang gulungan kontrak itu, mengatakan, “Pada benda ini lah keselamatan keluarga kita bergantung! Jadi lindungi ini tak peduli berapapun harganya!” Ia mengambil kontrak itu dan pergi untuk menyimpannya.

Bekas  anakbuah Dae Ju membawa banyak prajurit ke kediaman Dae Ju, memerintahkan mereka agar menangkap penjahat Hong Dae Ju dan anaknya yang mengadakan pemberontakan. Ia memerintakah agar mereka menggeledah rumahnya, mulai dari kamar Dae Ju. Istri Dae Ju keluar dan berteriak padanya, bagaimana ia bisa melakukan ini? Si kapten menundukkan kepalanya, merasa sedikit bersalah dalam hati.

Kilas balik, Yeo Un mengancam leher si anakbuah Dae Ju bertanya, “Apakah ada anjing yang akan menyelamatkan dirinya sendiri dan meninggalkan tuannya? Pria itu tubuhnya gemetar ketakutan. Yeo Un mengatakan, “Kau seorang penakut tanpa ada kehormatan sama sekali!” Pria itu menangis dan mengatakan kalau ia punya tanggungan keluarga, jadi ia tak berani maju mengaku. Yeo Un, “Jadi, kau pasti berusaha untuk terus hidup?” Pria itu mengangguk dengan bergetar.

Masa kini, anakbuah Dae Ju itu berteriak pada prajurit untuk menangkap semua anggota penjahat pemberontak. Istri Dae Ju ditangkap. Anakbuah Dae Ju itu segera masuk ke dalam kamar Dae Ju dan mencari gulungan kontrak, tapi ternyata tidak ada di sana.

Anak Dae Ju, Hong Sa Hae, ternyata telah berhasil mengambil gulungan kontrak itu dan sedang berlari terburu-buru.

Suara Dae Ju, “Pada Gerbang Barat, sebuah kereta tandu akan menunggumu. Bersembunyi di dalamnya dan untuk sementara tinggalakan kota ini.”

Tapi sesampainya ia di Gerbang Barat dan mendekati kereta tandu, orang-orang Hoksa Chorong sedang menunggunya di sana. Ia mengawasi ke sekitarnya dan melihat Yeo Un juga sedang berdiri di sana mencarinya.

Di tempat hukuman, Yu Dae melapor pada Pangeran bahwa, meskipun seluruh pasukan telah diutus untuk mencari, Dae Ju tak dapat  ditemukan di manapun. Pangeran berteriak pada Hong Sa Hae, yang sudah tertangkap, di mana ayahnya berada.

Hong Sa Hae tertawa, ayahnya sudah mengalami semua kesulitan sampai bisa sejauh ini, ia pasti sudah mempersiapkan serangan balik sekarang.

Hong Sa Hae berteriak, “Ketika waktunya tiba, Yang Mulia Pangeran seharusnya juga berhati-hati!” Yu Dae berteriak padanya betapa ia berani mengatakan hal semacam itu di hadapan Pangeran. Keponakan Dae Ju juga telah ditangkap, dan ada di sebelah Hong Sa Hae.

Pangeran memberikan perintahnya, “Pada mereka yang terlibat rencana pengkhianatan ini, mereka tak bisa dibiarkan hidup lebih lama lagi. Dalangnya, Menteri Pertahanan, akan diinterogasi di depan umum atas kejahatannya!” Ia kemudian menoleh pada Yu Dae, bahwa pada jeongosi (2 siang), Raja secara pribadi akan menanyai mereka. Dae Ju harus ditangkap sebelum itu!

Mereka mencari dan menggeledah seluruh tempat untuk menemukan Dae Ju. Jin Ki bertanya-tanya apakah Dae Ju sudah keluar dari Istana? Tapi Jin Ju menyahut, sampai tahap ini, sangatlah sulit bahkan untuk seekor tikus menyelinap keluar.

Dong Soo berkata kalau ia mungkin tahu di mana Dae Ju berada, pada hari seperti hari ini, hanya ada satu tempat di mana orang tak berpikiran untuk mencari.


Dae Ju sedang duduk di atas kursi takhta, yang berada di Ruangan Takhta. Ia mengawasi sekitarnya dengan mata bercahaya. Dong Soo berjalan melalui hall dan dengan tanpa suara mendekatinya. Dong Soo memintanya untuk turun dari kursi takhta itu sesegera mungkin.

Dae Ju, “Aku sangat yakin aku dapat mendapatkan segalanya. Aku sangat percaya selama aku menjulurkan tanganku maka aku akan mendapatkan semua yang kuinginkan.”

“Tahukah kau kalau Joseon didirikan dan bertahan sekian lama sampai sekarang, dengan darah begitu banyak orang yang mencoba untuk duduk di atas kursi ini? Beberapa orang berhasil mencapai kursi ini dan membuat sejarah baru. Beberapa orang mati sebagai penjahat tak bernama.” Air mata mulai turun dari matanya.

Sa Mo, Jin Ki, dan Jin Ju bergabung dengan mereka.

Dae Ju perlahan-lahan bangun dari kursi takhta dan maju ke depan, “Jika ada kesalahan yang telah aku lakukan adalah memotong sebelah tangan Malaikat Pedang Gwang Taek demi seorang bayi, yaitu kau Baek Dong Soo, tetap hidup. Hanyalah itu satu-satunya!” Ia berhenti di depan Dong Soo dan mengangkat pedangnya.

Dong Soo, “Ini adalah akhir yang tragis dari keserakahanmu yang berlebihan. Selain dari itu tak ada alasan lain!”

Dae Ju menjatuhkan pedangnya dan berlutut, “Aku, akan memberikan keputusan padamu metode apapun bagiku untuk mati.” Ia menertawai nasibnya ini. Mereka melihatnya tanpa bersuara.

Yeo Un memberikan kontrak darah pada Menteri Kim, yang memeriksanya dan merasa puas. Ratu tersenyum dan mengatakan kalau ia tak akan melupakan jasa Yeo Un. Yeo Un memberi hormat padanya.

Yu Dae memberitahu Pangeran bahwa Dae Ju sekarang dijebloskan dalam penjara, tidakkah mereka seharusnya menginterogasinya sekarang?

Di tempat hukuman, Raja sedang berteriak pada Dae dan memerintahkannya mengaku apakah rencana pemberontakan ini adalah rencanaya? Raja bertanya apakah memang benar Dae Ju lah dalang di balik rencana jahat itu?

Dae Ju, “Aku, Hong Dae Ju, hanya ingin memanggil siapapun, yang menganggap leluhur penjahat pemberontak sebagai pendiri negeri ini, untuk berdiri!” Raja tak bisa percaya Hong berani berkata seperti itu, ia bediri dan bertanya apakah, seperti yang ia katakan sekarang, leluhur penjahat pemberontak?

Dae Ju, “Lebih jauh lagi, aku ingin meluruskan sikap yang baru dari Dewan Istana. Akau hanya melakukan ini demi kemakmuran negeri ini. Mengapa aku harus dinyatakan bersalah?”

Raja, “Kau sungguh-sungguh berani menghina  para leluhur?”

Dae Ju, “Yang Mulia, satu-satunya yang kau butuhkan hanyalah kekuasaan. Tidakkah kau tahu kalau hanya kekuasaan yang dapat membuat seseorang berdiri di atas rakyat?”

Raja sangat marah dan tersinggung, memerintahkan, “Segera penggal kepala para pemberontak ini. Persiapkan hyosi!” (Hyosi adalah hukum penggal kepala di depan umum.)

Dae Ju berteriak, “Jika Pangeran Mahkota mewarisi takhta, maka akan ada pertumpahan darah yang tak pernah terlihat sebelumnya. Keinginan untuk membersihkan nama ayahnya yang sudah mati adalah watak yang sesungguhnya dari Pangeran Mahkota. Bagaimana bisa kau tidak tahu itu? Kau pasti akan menyesalainya, kau akan menyesalinya!” Para prajurit segera menyeretnya pergi.

Setelah semuanya selesai, Dong Soo tiba-tiba teringat dengan kondisi Cho Rip, ia segera berlari pulang.

Saat ia membuka pintu, Ji Sun berdiri di sana. Ia menjatuhkan barang yang dibawanya dan dengan penuh rasa lega, Ji Sun memluknya dan mengatakan kalau sangat bagus melihat Dong Soo baik-baik saja.

 

Hong Do mendekati mereka, ia mengatakan sepanjang waktu ini, jantung Ji Sun tak pernah merasa tenang sedikitpun. Dong Soo tersenyum dan memeluknya erat-erat. ia menepuk pundak Ji Sun dan mengatakan kalau semuanya baik-baik saja, tidakkah ia sekarang berdiri di depannya sekarang. Ji Sun menangis lega.

Mi So sedang merawat Cho Rip sambil menangis. Ia sadarkan diri dan menatap Mi So, menaruh tangannya di dekat Mi So. Mereka saling pandang satu sama lain, Mi So kemudian memegang tangan Cho Rip.

Dong Soo masuk ke dalam ruangan, Cho Rip bangun dan berkata kelihatannya semuanya sudah selesai, Dong Soo meyakinkannya, itu benar.

Jang Mi melihat ke belakang Dong Soo dan bertanya padanya apakah yang lain dan juga Sa Mo baik-baik saja. Dong Soo memberitahunya agar tidak usah khawatir, mereka semuanya baik-baik. Sa Mo berjalan masuk dan mengatakan, “Nyonya Jang, kau tidak usah mencemaskan diriku lagi.” Jang Mi sangat lega dan segera memeluknya, Sa Mo tersenyum dan balas memeluknya.

Hong Do berjalan mendekati Jin Ju dan tersenyum. Jin Ju memandanginya, ia merasa aneh atas kedekatannya. Dong Soo dan Ji Sun melihat pada mreka berdua dan tersenyum. Mi So menaruh kepalanya pada bahu Cho Rip dengan penuh perasaan, Cho Rip meringis kesakitan karena lukanya terbuka.


Rakyat berkerumun untuk menyaksikan hukum pancung kepala di depan umum. Dae Ju dan yang lainnya semua berlutut dengan tangan terikat.

Yu Dae mengumumkan kejahatan mereka pada khalayak umum, “Pengkhianat Hong Dae Ju, berusaha memberontak, memfitnah mereka yang setia, mengganggu ketenteraman Istana, berusaha menyakiti Yang Mulia Raja dan Pangeran Mahkota. Kepala para penjahat pengkhianat akan dipertontonkan di depan umum!”

Dae Ju menoleh pada anaknya yang tubuhnya gegetaran keras. Dong Soo bergabung dengan rakyat mengamati eksekusi ini. Melihat Dong Soo, Dae Ju tertawa keras.

Dong Soo memandang pada Dae Ju. Kemudian eksekusi dimulai dan semuanya dipenggal.

Di Istana, Pangeran tak bisa percaya apa yang baru saja ia dengar, “Apa? Apa yang baru saja kau katakan?”

Cho Rip, “Penguasa Langit ketua dari Hoksa Chorong adalah penjahat yang membunuh Pangeran Mahkota Sado.”

Pangeran bertanya lagi, “Benarkah orang itu yang membunuh ayahku?”

Cho Rip, “Ya, Yang Mulia Pangeran. Kumohon perintahkan untuk membubarkan kelompok pembunuh gelap, Hoksa Chorong. Setelah itu bunuh ketua mereka, si Penguasa Langit.”

Di Hoksa Chorong, Yeo Un membaca sebuah buku dan tersenyum puas.

Cho Rip melanjutkan, “Penggal kepala Penguasa Langit akan memperkuat kekuasaan.”

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s