Warrior Baek Dong Soo – Episode 29 [Finale]

Dong Soo berkuda dengan santai menuju ke tempat perjanjian. Ia melihat Un sudah datang terlebih dahulu. Dong Soo memanggilnya, “Un!” Yeo Un menoleh.

Mereka berdua turun dari kuda dan berjalan berdampingan melalui padang rumput. “Un semuanya sudah berakhir, sekarang k au bisa kembali lagi.”

Yeo Un tersenyum tak menjawabnya. Kemudian ia melihat seorang anak dipukuli oleh teman-temannya dan terjatuh. Ia menghampiri anak itu dan membantu anak itu untuk berdiri. Yeo Un memegang tangannya dan memberi petunjuk pada anak itu bagaimana caranya memegang sebuah tongkat untuk berkelahi. anak itu memandang padanya dan kemudian lari menyusul teman-temannya.

Dong Soo tersenyum. Yeo Un mengatakan kalau dulu seperti ini saat seusia anak itu. Dong Soo setuju, pada waktu itu, ia pikir jika ia dapat mengalahkan Yeo Un, itu sudah cukup memuaskan baginya.

Yeo Un, “Jika aku tahu bahwa pedang di tangan kita bisa menjadi seberat ini, aku mungkin tidak akan memegangnya dari permulaan.” Dong Soo bertanya, “Apakah kau menyesalinya sekarang?”

Yeo Un mengatakan, “Tak ada seharipun aku tak menyesalinya. Karena ketika kau membunuh seseorang, kau akan meanggung rasa bersalah atas hidup orang yang kau bunuh.”

Dong Soo, “Un, aku tidak mengatakan apa yang kau lakukan adalah hal yang benar. Tapi kau tidak harus menanggung semua beban itu sendirian.” Yeo Un menoleh untuk menatap Dong Soo.

Di Istana, Pangeran bertanya, “Apa? Apa yang baru saja kau katakan?”

Cho Rip menjawab, “Penguasa Langit Hoksa Chorong adalah orang yang membunuh Pangeran Mahkota Sado!”

Pangeran, “Benarkah? Apakah orang itu benar-benar membunuh ayahku?”

Cho Rip mengiyakan, “Ya, Yang Mulia. Kumohon berikan perintah untuk membasmi kelompok pembunuh gelap, Hoksa Chorong, dan membunuh ketuanya, Penguasa Langit.”

Cho Rip melanjutkan, “Yang Mulia, setelah Menteri Pertahanan dieksekusi, kepercayaan Noron mulai gorah. Kita harus mengambil kesempatan ini untuk melenyapkan semua orang yang ikut serta dalam rencana pemberontakan ini. Kita tak boleh memberikan kesempatan untuk bangkit kembali.”

Pangeran bertanya, “Tidak memberikan kesempatan untuk bangkit kembali? Siapa yang kau maksudkan?”

Co Rip, “Aku maksukan kekuatan yang tersisa yang telah ditanam oleh Qing di negeri ini beratus-ratus tahun yang lalu, Hoksa Chorong!”

Pangeran, “Hoksa Chorong?”

Cho Rip, “Ya, Yang Mulia. Mereka disewa oleh orang-orang yang berkuasa, yang bersembunyi di balik bayangan Hoksa Chorong, dan telah banyak membunuh orang. Kelompok pembunuh ini, tidak hanya telah banyak membunuh pejabat tingkat rendah dan tinggi, bahkan mereka juga telah membunuh ayah Yang Mulia Pangeran, Pangeran Mahkota Sado. Mereka adalah penjahat yang sesungguhnya!” Seorang pejabat memperingatkan Cho Rip untuk berbicara seperti itu.

The Prince thinks about how Yeo Un had protected him during the uprising, he asks if  he’s the Sky Lord that Cho Rip’s talking about.  Cho Rip says yes. The Prince asks, “Isn’t he your trusted friend?” Cho Rip pauses then says, “He is my friend. But, I should not let that interfere.”

Sementara itu di Hoksa Chorong, Yeo Un sedang memeriksa sebuah jurnal dan tersenyum. Gu Hyang mengatakan kalau ia bisa melihat Un sedang gembira. Yeo Un, “Aku sangat lega karena bebanku sudah berkurang. Bukankah aku seharusnya gembira?” Gu Hyang tersenyum, merasa gembira juga untuk Un, kemudian ia bertanya apa yang akan dilakukan Yeo Un terhadap buku-buku ini. Yeo Un mengatakan ia akan menghancurkan semuanya. Ia memerintahkan Gu Hyang untuk membawa semua dokumen penting dan buku jurnal yang mencatat semua transaksi rahasia ke hadapannya.

Dong Soo bergabung dengan Sa Mo dan yang lain, yang sedang merayakan dieksekusinya Hong Dae Ju. Dong Soo mengatakan ia akan minum sampai hatinya puas. Ji Sun mengatakan kalau dirinya tak pernah melihat Dong Soo tertawa begitu gembira seperti ini untuk waktu yang lama. Jin Ju juga berpikiran yang sama. Hong Do menebak kalau itu pasti karena Dae Ju telah membayar hasil perbuatannya. Sa Mo berteriak ke langit, berbicara pada roh Gwang Taek, meminta agar menjaga mereka semua sehingga mereka bisa hidup bahagia. Semua orang minum-minum dan tertawa bersama-sama.

Di Istana, Dong Soo bertanya apa maksud dari Pangeran. Pangeran mengatakan, “Sebelum timbul dalam hatinya keinginan untuk membunuhku, aku harus membunuhnya terlebih dahulu. Raja sekarang mulai melemah dan menua, tapi aku masih punya banyak musuh di sekelilingku.” Ia menyatakan bahwa ia hanya melakukan tindakan pencegahan sebelum terjadi sesuatu.

Dong Soo bertanya apakah itu bukannya yang ada di pikiran Tuah Hong (Guk Yeong alias Cho Rip, yang sekarang menjadi pejabat pemerintah). Pangeran dengan sederhana mengatakan bahwa dirinya memiliki pandangan yang sama. Dong Soo memohon Pangeran agar menarik perintahnya, mengingatkan bahwa Yeo Un telah menyelamatkan nyawa Pangeran selama pemberontakan berlangsung, dan meyakinkan bahwa Yeo Un tak mungkin punya pikiran untuk memberontak.

Pangeran bertanya, “Bukankah ia yang membunuh ayahku?” Dong Soo tak bisa menjawab itu. Lanjutnya, “Bagaimana bisa aku membiarkan orang semacam itu terus hidup? Aku telah membuat keputusan, jangan mencoba untuk mempengaruhiku. Aku dengar kalau ia adalah teman dekatmu. Jika kau tidak tega untuk membunuhnya, aku tak akan menghukummu.” Dong Soo menghela napas dan hatinya sangat berat.

Gu Hyang menerima berita dari Istana, matanya terbelalak ketakutan saat membacanya. Ia segera menemui Yeo Un dan memberitahunya bahwa semua buku jurnal yang ia inginkan ada di sini. Yeo Un memerintahkan agar semua itu dibakar. Anakbuah Un memberinya opae (papan nama kecil penanda identitas alias KTP kalo jaman sekarang), Yeo Un memberitahu pria itu agar memberikannya pada semua orang sebagai identitas yang baru.

Pria itu bertanya pada Yeo Un apakah ia berharap untuk membentuk kelompok baru? Yeo Un tersenyum dan mengatakan, “Saat waktunya sudah tiba kau akan tahu.” Pria itu menerima jawaban Un, ia memandang penuh arti pada Gu Hyang kemudian pergi.

Gu Hyang bertanya pada Yeo Un, apakah ia pikir orang-orang itu bisa hidup sebagai orang biasa? Yeo Un mengatakan, “Mereka harus mengambil cangkul dengan tangan yang ingin memegang pedang, mereka pasti tidak akan langsung terbiasa. Tapi, itu beratus-ratus kali lebih baik daripada membasuh tangan mereka dengan darah.” Ia menoleh dan bertanya pada Gu Hyang, apakah ia berharap untuk membajak tanah juga? Gu Hyang memandangnya tapi tak menjawab pertanyaan Un.

Dong Soo berlari menemui Cho Rip, ia bertanya mengenai apa ini semua? Bagaimana bisa ia berlaku seperti ini? Cho Rip bangun dan beranjak pergi. Dong Soo berteriak padanya, “Yang Cho Rip!”, bertanya bagaimana ia bisa berkata hal seperti membunuh Un? Cho Rip berbalik padanya, mengatakan, untuk melindungi Pangeran, ia bersedia untuk melakukan segalanya.

Dong Soo, “Un adalah teman terpercaya kita, dia adalah temanmu juga!”

Cho Rip, “Dong Soo, kau seharusnya tahu, kami sudah berpisah beberapa waktu lalu!”

Dong Soo mencekal bajunya, “Tapi Un menyelamatkan jiwamu! Ia bisa saja membunuhmu, tapi sebaliknya ia menyelamatkan jiwamu!” Air mata menetes dari mata Dong Soo. Cho Rip berteriak, “Itu benar! Tapi itu hanya trik untuk membodohi Menteri Pertahanan!” Dong Soo mencengkeram kerahnya, “Yang Cho Rip!”

Cho Rip mengatakan, “Entah apakah Menteri Pertahanan ada di sana atau tidak, selama ia telah membuat keputusan seperti itu, ia dapat saja membalikkan pedangnya melawan kita. Dan ada puluhan bahkan ratusan pembunuh gelap. Bagaimana aku bisa membiarkan mereka tetap hidup?” Ia berteriak dan melepaskan dirinya dari cengkeraman Dong Soo. Dong Soo mencengkeramnya lagi dan memberitahunya untuk berhenti berbicara omong kosong, “Yeo Un berbeda! Ia berbeda!” Cho Rip mengatakan, “Perbedaannya adalah bahwa Un adalah … pemimpin mereka!” Kebenaran ini memukul Dong Soo, membuatnya melepaskan Cho Rip.

Cho Rip, “Dong Soo, tak peduli betapapun kau berusaha menutupinya, Un masih Penguasa Langit Hoksa Chorong, pimpinan dari kelompok pembunuh gelap.” Ada kesedihan terkandung dalam suaranya.

Dong Soo mengatakan jika Un akan kembali, “Kau dan aku seharusnya menyambutnya kembali bersama-sama. Tak peduli apapun yang lain lakukan, kau tidak bisa melakukan hal ini. Seperti hari-hari yang lalu, kita bertiga bersama-sama. Seperti hari-hari di mana kita tidak takut akan apapun juga!”

Cho Rip mengakui kalau ia tahu, itu sangat berat bagi dirinya juga, tapi mereka tak punya pilihan lain. Ia memberitahu Dong Soo untuk berdiam diri saja jika merasa tidak enak, “Entah kau melangkah atau tidak, Un harus mati!” Cho Rip melangkah keluar tapi berhenti sejenak di pintu dan berpikir, “Dong Soo ini adalah takdir kita bertiga!” … (Kentutlah … sori kasar …. aku ga seneng sama Cho Rip kali ini …. dia hanya terbakar oleh dendam dan iri hati saja >.< )

Dong Soo masih berdiri di tempatnya mengingat kenangan mereka bertiga saat masih bersama-sama. Ia kemudian menangis.

Dong Soo mendatangi seorang pedagang dan menyerahkan sebuah surat padanya. Ia memberitahu pedagang itu untuk menyampaikannya pada Penguasa Langit Hoksa Chorong. Pedagang itu pertama-tama berpura-pura tak mengerit, tapi Dong Soo berhasil meyakinkannya bahwa ini tidak bermaksud buruk.

Surat Dong Soo sampai pada Yeo Un, yang kemudian membacanya, dan memberikan surat jawaban yang ia berikan pada Gu Hyang, untuk meminta Dong Soo bertemu dengannya saat haesi (9-11 malam). Gu Hyang tampak memandang Un dengan pikiran mendalam, ia kemudian menerima perintahnya dan pergi.

Gu Hyang membakar surat itu di hadapan orang kepercayaanya. Pria itu bertanya apa yang sedang Gu Hyang coba lakukan? Gu Hyang memberitahu bahwa Pangeran telah memberikan sebuah perintah untuk menyingkirkan Penguasa Langit. Pria itu terkejut dan bertanya padanya mengapa ia tidak menginformasikan hal ini pada Penguasa Langit? Gu Hyang mengatakan, “Orang yang mengusulkan Pangeran agar membunuh Penguasa Langit adalah teman kepercayannya, Tuan Hong (Guk Yeong/Cho Rip). Orang yang juga menerima perintah itu adalah teman terpercayanya, Baek Dong Soo.”

Gu Hyang mengatakan bahwa Penguasa Langit pasti tak akan menghunuskan pedangnya melawan mereka. Pria itu bertanya apa rencanaya. Gu Hyang memberitahu bahwa dirinya akan membuat satu rencana, Gu Hyang meminta bantuan anak buahnya itu.

Dong Soo sedang memohon pada Cho Rip agar mempercayainya sekali ini saja dan bersama-sama dengan dirinya pergi untuk menemui Yeo Un. Sebuah panah melesat dan menancap di pohon dekat mereka. Dong Soo membaca pesan yang terpasang di panah tersebut dan memandang pada Cho Rip. Mi So memohon Cho Rip bahwa mereka dulunya adalah teman, mereka pasti memiliki kenangan bersama, ayahnya juga terbunuh oleh Hoksa Chorong, tapi Un berbeda dari mereka semua. Ia adalah teman di pihak Dong Soo dan yang lain.

Cho Rip akhirnya setuju dengan saran Dong Soo untuk bertemu dengan Yeo Un.

Gu Hyang mengatur satu hidangan yang layak bagi Dong Soo dan Cho Rip. Kelihatannya Gu Hyang lah yang menjawab surat Dong Soo, menggantikan surat Yeo Un, memberitahu mereka untuk bertemu. Ia menuangkan minuman pada kedua tamunya.

Cho Rip memberitahu Dong Soo bahwa sulsi (7-9 malam) sudah lewat, ia pasti tidak akan datang. Dong Soo memintanya untuk menunggu, ia pasti akan datang. Gu Hyang memandang mereka berdua dan berpikir, “Penguasa Langit tak akan datang!”

Cho Rip setuju untuk menunggu. Gu Hyang berpikir, “Saat Penguasa Langit datang, kalian tidak akan hidup lagi.” Cho Rip meminum lagi, Gu Hyang tersenyum manis. Anak buah Gu Hyang sedang menunggu di luar pintu. Gu Hyang berpikir, “Aku akan menggunakan caraku sendiri untuk melindungi Penguasa Langit.”

Dong Soo dan Cho Rip, keduanya tampak tertidur karena minuman itu. Gu Hyang bangun dan memanggil anakbuahnya yang menunggu di luar untuk masuk ke dalam. Tapi saat pria itu menyentuh Dong Soo, Dong Soo membuka matanya dan menghunuskan pedang mengancam di leher pria itu. Cho Rip juga bangun, ia bertanya pada Gu Hyang apakah Yeo Un yang menyuruh mereka untuk melakukan ini.

Gu Hyang mengatakan bahwa itu bukanlah atas perintah Yeo Un. Tapi Cho Rip terlalu marah, ia berteriak apakah Gu Hyang masih ingin dirinya mempercayai apa yang ia katakan? Ia berpaling pada Dong Soo dan mengatakan, “Ini adalah jawaban Un atas kepercayaan kita!” Dong Soo menolak pedapatnya bahwa itu tak mungkin terjadi. Cho Rip masih tidak mau mengakuinya. Gu Hyang dengan segera menyadair kesalahannya, dan mencoba untuk menjelaskan bahwa Penguasa Langit tidak ada hubungannya dnegan semua ini. Ini adalah rencananya sendiri.

Cho Rip tertrawa dan bertanya apakah ia akan membunuh seseorang tanpa perintah Penguasa Langit? Gu Hyang tak bisa menjawabnya.

Cho Rip menunjukkannya pada Dong Soo, apakah ia melihat bahwa tiada seorangpun di negeri ini dapat melepaskan diri dari cengkeraman pembunuh gelap Hoksa Chorong. Dong Soo menundukkan kepalanya. Cho Rip kemudian berteriak, “Bahkan tidak ada tempat untuk minum dengan tenang!” Kemudian ia mengatakan entah membunuh mereka atau tidak, itu adalah keputusan Dong Soo. Cho Rip kemudian meninggalkan tempat itu. Dong Soo memanggilnya untuk kembali tapi Cho Rip terus pergi.

Dong Soo memberitahu anakbuah Gu Hyang bahwa tak peduli apapun, beritahu Yeo Un untuk datang menemuinya. Ia kemudian berlari menyusul Cho Rip.

Dong Soo berhasil menyusul ChoRip, Cho Rip dengan marah bertanya apakah ia melihat sendiri bahwa ini adalah Un yang sebenarnya, yang mereka percayai. Ia kemudian berjalan pergi. Dong Soo mengejarnya kembali. Yeo Un berdiri di dekat tempat itu, mendengar pembicaraan mereka, ia merasa sedih dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia tahu bahwa ada sesuatu yang salah sedang terjadi.

Yeo Un masuk ke dalam ruangan dan mendesak Gu Hyang untuk memberitahunya apa yang sedang terjadi. gu Hyang memberitahunya bahwa Pangeran telah memerintahakan untuk menyingkirkan Un, dan orang yang melaporkannya untuk membunuhnya adalah Tuan Hong. Dan orang yang menerima perintah itu adalah teman kepercayaannya, Baek Dong Soo.

Yeo Un berkata pasti ada satu kesalahan di sini, mereka tak mungkin melakukan hal itu. Tapi Gu Hyang bersikukuh kalau ia mendapatkan infromasi ini dari jaringan mata-matanya, jadi tidak mungkin salah. Yeo Un mengatakan, “Aku masih tak dapat meminta pengampunan dari mereka. Meskipun mereka akan membunuhku seperti yang kau katakan, aku .. aku harus meminta pengampunan dari mereka.”

Yeo Un menyuruhnya untuk kembali ke markas, jika memang benar itu adalah perintah Pangeran, ia hanya butuh untuk menemuinya dan kemudian menyelesaikannya.

Yeo Un berkuda menuju ke Istana dan mnyusup masuk ke kamar Pangeran. Pangeran terkejut, Yeo Un mengatakan ia pikir bahwa Pangeran sedang mencarinya, jadi maafkan kekasarannya. Pangeran mengatakan betapa ia begitu berani datang kemari, ia mempersilahkan Yeo Un untuk duduk.

Pangeran menanyainya, apakah Un benar-benar telah membunuh ayahnya? Yeo Un mengiyakan. Pangeran menatapnya dan berkata, “Aku tak pernah mendengar sedikitpun bagaimana ayahku meninggal.” Yeo Un kemudian mengingat kejadian itu …

Kilas balik, Pangeran Mahkota sedang berduel dengan Chun, dan Chun menusuknya.


Masa kini, Yeo Un mengatakan, sampai saat ia memejamkan mata, Pangeran Mahkota Sado memimpikan ekspedisi ke Utara. Pangeran memejamkan matanya penuh rasa duka, kemudian ia menatap Yeo Un, “Kau memang benar-benar layak untuk mati!”

Yeo Un bertanya, “Atas alasan apa?”

Pangeran menjawab, “Satu, karena telah membunuh ayahku, sebagai anaknya, aku tak bisa mengabaikan ini!”

Yeo Un balas menjawab, “Aku tak pernah merasakan kegembiraan atas tindakan itu, masa lalu adalah hal yang menyakitkan bagiku. Aku akan pergi ke makam Pangeran Mahkota Sado dan menyembah sebanyak seribu kali di hadapannya. Aku akan memotong tanganku dan memohon maaf darimu.”

Pangeran melanjutkna, “Mengacaukan Istana, membunuh orang yang tidak bersalah, itu yang kedua.”

Yeo Un, “Aku akan memberikan semua aset yang dimiliki oleh Hoksa Chorong, dan mengembalikannya pada rakyat. Mulai dari saat ini, sejak (mata-mata) yang menyusup ke Istana, dan mereka yang telah berbaur dengan rakyat, semuanya akan segera dihapuskan.”

Pangeran mengatakan meskipun ia mengampuni semua itu, hanya ada satu hal yang ia tak bisa ampuni. Yeo Un bertanya padanya apa itu.

Pangeran berkata, “Mampu mematahkan semua keamanan, langsung masuk kamar pribadiku, ini adalah kemampuan yang luar biasa dari dirimu. Membiarkan seseorang sepertimu tetap hidup, bagaimana aku bisa tidur dengan tenang?”

Yeo Un mengatakan, “Segera setelah aku turun dari posisi Penguasa Langit Hoksa Chorong, aku akan membubarkan Hoksa Chorong.”

Pangeran memandang matanya, dan melihat bahwa pandangan mata Yeo Un tidak menampakkan sedikitpun kebohongan, “Aku akan mempercayai dirimu.” Yeo Un kemudian memberi hormat pada Pangeran dan mengundurkan diri dari sana.

Cho Rip dan Dong Soo sedang minum bersama di sebuah kedai. Cho Rip berkata, untuk Dong Soo, Un adalah teman terbaik dan keluarganya. Dong Soo, “Jadi kita seharusnya menemuinya sekali saja dan mendengarkan alasannya.”

Cho Rip mengatakan kalau itu adalah masalah Dong Soo, “Entah Yeo Un berbohong atau tidak, kau hanya tidak bisa menganggapnya sebagai kebohongan. Mengapa? Karena kau hanya melihat apa yang ingin kau lihat!” Dong Soo sama sekali tidak menyangkalnya.

Cho Rip melanjutkan, pada suatu kali, ia dulu juga seperti itu. Hari di mana Im Su Ung mati, bahkan ketika Pangeran Mahkota wafat pun ia masih mempercayai Un. Tapi bukankah Un meninggalkan mereka semua? Chho Rip berdiri, memberitahu Dong Soo untuk tidak mencoba meyakinkannya lagi, “Tekadku tidak kurang daripada kepercayaanmu padanya.” Cho Rip kemudian berjalan pergi.

Dong Soo masih duduk di kedai minum itu, minum-minum sendirian. Ia berpikir sendiri, “Bagaimana kau bisa begitu bodoh? Un, kau hanya perlu kembali saja. Un …”

Yeo Un muncul dan menghampirinya, bertanya “Apakah kau akan membunuhku?” Dong So mendongak dan segera bangun berdiri.

Yeo Un berkata, “Cho rip melaporkan aku dengan tujuan membuatku terbunuh. Dong Soo, kau telah bersumpah  pada Yang Mulia Pangeran untuk membunuhku.” Dong Soo mencoba untuk menjelaskan, tapi Yeo Un tak mau mendengarkannya, ia memberitahu Dong Soo bahwa ia telah menemui Pangeran, “Yang Mulia memberiku sebuah kesempatan untuk menebus kejahatanku.” Dong Soo yang mendnegarnya menjadi lega hatinya.

Yeo Un memberitahu Don gSoo, ia akan membubarkan Hoksa Chorong segerqa, dan juga akan pergi ke tempat yang sangat jauh. Dong Soo terkejut dan bertanya, “Pergi? Apa yang maksudmu? Tidakkah kita berdua sudah berjanji akan hidup bersama-sama? Kita bertiga?” Yeo Un bertanya bagaimana ia bisa hidup dengan Dong Soo? Ia akan pergi ke tempat yang tiada seorangpun mengenalnya, ke tempat yang sangat jauh, “Janganlah mencariku!” Un berbalik dan berjalan pergi. Dong Soo memanggilnya tapi Un tak menoleh sama sekali.

Jin Ki bertanya, bukankah ia Penguasa Langit Hoksa Chorong, melepaskan jalan sebagai pembunuh gelap tidak akan semudah itu. Sa Mo berpikir sama, kembali ke jalan yang benar, Yeo Un akan mengalami banyak kesulitan selama beberapa tahun ke depan. Ji Sun nampak khawatir ketika mendengar ini.

Di Hoksa Chorong, Yeo Un mengumumkan pada semua anakbuahnya, “Mulai dari hari ini dan selanjutnya, Hoksa Chorong akan segera dibubarkan. Ini adalah perintah dari Penguasa Langit!” Mereka semua terkejut dan saling berpandangan satu sama lain tidak mengerti.

Yeo Un, “Ini adalah papan nama dari orang-orang yang sudah meninggal di Joson, tapi kematian mereka masih belum dilaporkan, jadi tidak akan ada masalah bagi kalian untuk menggunakannya. Dan ini adalah aset Hoksa Chorong, aku akan membagi-baginya dengan rata pada kalian semua. Jadi kalian semua harus menyarungkan senjata kalian, bekerjalah dengan keras dan hiduplah dengan baik. Dengan cara itu, anak-anakmu bisa menikmati hidup yang mereka inginkan tanpa bernoda darah di tangan mereka.”

Seseorang bersuara bahwa selain pedang, tangannya tak pernah memegang yang lain. Ia berlutut, “Aku telah hidup sebagai seorang pembunuh gelap jadi aku akan mati sebagai salah satunya.” Yang lain juga segera berlutut, tapi Yeo Un tetap pada pendiriannya, “Ini adalah perintah. Kalian tak dapat menolaknya!”

Gu Hyang dan yang lain berkumpul membicarakan ini dan setuju untuk melaksanakan rencana mereka sendiri. Gu Hyang mengirimkan sebuah surat secara rahasia pada Cho Rip melalui jaringan mata-matanya. Cho rip membacanya dan berpikir, “Un, kelihatannya ini hanya antara kau dan aku.” Ia menggenggam pedangnya dan bergegas pergi.

Yu Dae melihatnya memegang pedang, ia bertanya mengapa seorang pejabat dengan tingkatnya (Joyudae), yang seharusnya memegang kuas tapi sebaliknya memegang pedang. Cho Rip menatapnya.

Cho Rip berkuda sendirian ke tempat pertemuan. Ia turun dari kuda dan mengawasi ke sekeliling. Tiga orang muncul dan menghampirinya. Tae San berkata pada Cho Rip, jika ia kemari untuk menemui Penguasa Langit, ia sangat menyesal, “Jadi memang benar kalian berdua adalah teman lama. Benarkah kau kemari hanya seorang diri?”

Cho Rip bertanya mengapa mereka memanggilnya kemari? “Apakah kalian berencana untuk membunuhku?” Tae San mengatakan meskipun ia tidak menginginkannya,  tapi kematian Cho Rip akan mendatangkan banyak keuntungan. Pria lain memberitahu Cho Rip, entah ia percaya atau tidak, Hoksa Chorong telah dibubarkan. Lalu lebih banyak pembunuh gelap muncul dan bergabung.

Cho Rip tersenyum sinis pada mereka dan berkata, “Jadi Hoksa Chorong yang katanya sudah dibubarkan, mengapa mereka mengarahkan pedang mereka padaku?” Tae San menjawab, “Ini adalah …” Ia menghunuskan pedangnya, “tugas terakhir!”

Cho Rip mengatakan, “Aku tidak mempercayai semua omong kosong kalian. Lihatlah kalian semua, hanya tahu membunuh orang, karena itulah kalian mengangkat pedang lagi. Kalian semua hanyalah pembunuh-pembunuh. Lakukan yang kalian inginkan, tapi meskipun aku mati di sini, tak akan ada yang berubah!” Ia kemudian menghunuskan pedangnya, bersiap menghadapi semua orang itu.

Di Hoksa Chorong, Yeo Un berjalan masuk dan berkata, Hoksa kelihatan terlalu tenang hari ini.  Ia bertanya, “Sudahkan Jang Tae San, Baekmyeon, Seosaeng pergi dari sini?” Gu Hyang tak dapat menatap matanya langsung, ia mengiyakan, setengah dari penghuni Hoksa Chorong telah pergi.

Yeo Un menatapnya tajam, “Bagaimana bisa kau berbohong padaku? Aku jelas-jelas telah mengatakan, letakkan senjata dan pergi. Tapi di gudang senjata sama sekali tidak ada satupun senjata. Apakah mereka pergi untuk membunuh orang lagi??” Ketika Gu Hyang tidak menjawabnya, Yeo Un mendesaknya untuk mengatakannya.

Gu Hyang menundukkan mukanya dan mengatakan, tidak, mereka tidak melakukannya, semua orang sudah pergi pagi ini … Yeo Un tampak marah, ia menghunus pedangnya, “Apakah kau benar-benar inign mati?” Gu Hyang menatapnya.

Yeo Un memacu kudanya dengan cepat melewati padang rumput, “Cho Rip! Kumohon kau tetap hidup, Cho Rip!”

Cho Rip sedang berjuang untuk mempertahankan dirinya dari serangan lawan-lawannya, tapi ia kalah jumlah. Para pembunuh gelap menyabetnya berulang kali, dan Jang Tae San bertiga bergantian menyerangnya dengan senjata mereka. Cho Rip jatuh dengan darah menutupi wajahnya, seorang pembunuh gelap menaruh pedangnya di leher Cho Rip.

Di Istana, Dong Soo bertanya pada Yu Dae apakah ia melihat Cho Rip. Dong Soo mengatakan kalau ia tak bisa menemukannya dan juga tidak ada di Perpustakaan Istana. Yu Dae sangat terkejut mengetahui kalau Dong Soo ternyata tidak pergi bersama dengan Cho Rip, Yu Dae mengatakan kalau Cho Rip pergi untuk menemui Un. Dong Soo terkejut dan hatinya bergetar cemas, “Apa?” Ia segera berlari keluar dan melewati ketiga pwngawal Pangeran.

Dong Soo berlari dengan sekuat tenaganya, “Cho Rip, tidak! Semuanya sudah diselesaikan, semuanya sudah berakhir! Kumohon! Jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk, kumohon!”

Di padang rumput, Jang Tae San dan yang lainnya akan mengeksekusi Cho Rip ketika Yeo Un muncul dengan berkuda dan berteriak pada mereka untuk berhenti. Ia segera melompat dari kudanya dan berlari menghampiri Cho Rip. Ketiganya segera memberi hormat pada Yeo Un, masih menganggapnya sebagai pimpinan mereka. Yeo Un menahan tubuh Cho Rip yang sudah setengah sadar dan memanggil-manggil namanya.

Cho Rip melihat padanya, “Jangan sentuh aku! Tidakkah kau mengerti?” Ia mencengkeram baju Ye Un, berbisik, “Selama kau ada, mereka tak akan lenyap. Selama kau hidup, baik itu Yang Mulia Pangeran maupun Dong Soo, tak ada seorangpun yang aman.”

Cho Rip melanjutkan, “Aku akhirnya mengerti, kau pikir Malaikat Pedang tidak membunuhmu karena ilmu bela dirinya tidaklah cukup? Itu karena ia tak dapat membunuh dirimu. Hal yang sama juga dirasakan oleh Jang Dae Po, Komandan Pelatih Im Su Ung, bahkan Pangeran Mahkota, semua orang berlaku seperti itu. Ini semua karena Hoksa Chorong. Un! Kau! Itu semua karena dirimu!

Cho Rip tersungkur ke atas tanah dan merasa kesakitan karena luka-lukanya. Yeo Un tak bersuara, meresapi kata-kata Yeo Un. Terlihat penderitaan di matanya. Ia melihat ke Langit, kemudian matanya menunjukkan tekad yang tak tergoyahkan.

Ia berdiri dan memerintahkan anakbuahnya untuk pergi, “Taruhlah pedangmu dan pergi.” Satu orang mencoba memprotes tapi Yeo Un menatapnya, “Ini adalah perintahku yang terakhir! Yang melawan, akan mati!”

Mereka menjatuhkan senjata mereka dan menyerah, memberi hormat dengan perasaan menyesal pada Un dan kemudian pergi. Yeo Un berdiri di sana sendirian.

Dong Soo tiba, ia segera melompat dari kudanya dan datang memapah Cho Rip, ia memanggilnya. Kemudian ia menoleh dengan penuh rasa amarah pada Yeo Un, “Kaukah yang melakukan ini, Un?” Un perlahan-lahan menganggukkan kepalanya, menerima tuduhan itu.

Dong Soo meletakkan Cho Rip dengan lembut ke atas tanah. Ia segera bangkit berdiri dan menghadapi Yeo Un, “Mengapa kau lakukan ini? Semuanya sudah berakhir, tapi mengapa kau melakukan ini?” teriak Dong Soo.

Yeo Un mengatakan, “Untuk sesaat, hanya untuk sejenak, aku juga berpikir seperti itu dan mempercayainya. Tapi ternyata itu hanyalah ilusi semata dari pengharapanku. Aku ini hanyalah seorang pembunuh!”

Dong Soo bertanya lagi, seberapa jauh ia ingin melakukan ini? Yeo Un berbalik menatapnya dan bertanya, “Baek Dong Soo, apa sebenarnya yang kau inginkan dariku? Aku seorang pembunuh gelap, pimpinan dari Hoksa Chorong, seorang musuh dari Joseon!”

Dong Soo memberitahu, “Un, takdir atau apapun itu hanyalah alasan belaka. Meskipun dirimu, kau dilahirkan bukanlah sebagai seorang pembunuh, kau masih akan berakhir seperti ini.”

Yeo Un bertanya, “Jadi? Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku? Apa yang kau ingin aku lakukan bagimu? Baek Dong Soo kelihatannya kita harus menyelesaikan persoalan ini hanya di antara kita berdua!” Un menghunus pedangnya.

Dong Soo, “Kau pikir kau bisa mengalahkan diriku?”

Yeo Un tertawa dan bertanya, “Apakah kau pernah? Apakah kau pernah mengalahkan aku? Walaupun hanya sekali?”

Dong Soo mengingatkannya, “Aku mungkin membunuhmu!”

Yeo Un membalas, “Kata-kata itu, katakanlah setelah kau mengalahkan diriku!”

Dong Soo menghunuskan pedangnya, mereka berdua segera bertarung sengit.

Kilas balik …

Dong Soo muda melihat pada Yeo Un muda. Sa Mo memberitahunya, “Dia adalah temanmu!”

Dong Soo mengatakan, “Teman?” Ia melihat pada Yeo Un dan tersenyum geli, “Teman kentut, ia hanyalah bocak laki-laki yang berparas cantik!”

Yeo Un mendengarnya dan tersenyum kemudian memanggil Dong Soo, “Hey!”

Yeo Un bertanya, “Kau mau menjadi temanku?”

Dong Soo menatapnya, “Apa? Berteman denganmu?”

Yeo Un mengangguk, Dong Soo cemberut.

Masa kini,

Dong Soo berada di atas angin dan mendapatkan kesempatan untuk menusuk Yeo Un, tapi ia ragu-ragu dan tak dapat melakukannya. Yeo Un mengambil kesempatan ini untuk melukai tangan Dong Soo.

Ketiga pengawal Pangeran dan para prajurit menyerbu ke tempat itu. Mereka segera menolong Cho Rip dan mengamati pertarungan itu.

Ketiga pengawal mengingat perintah Pangeran, “Kalian semua memimpin Pengawal Kerajaan ke sana. Jika Tuan Hong tampak dilukai, bunuh Penguasa Langit Hoksa Chorong!”

Dong Soo dan Un masih bertarung, kapanpun Dong Soo mendapatkan kesempatan untuk melukai Yeo Un, ia selalu menghentikan pedangnya. Yeo Un juga sama, ia tak dapat melakukan tikaman dan membunuh Dong Soo. Yeo Un menyadari kalau Dong Soo juga tak mau membunuhnya, ia segera melukai Dong Soo lagi dan berteriak, “Baek Dong Soo, kau harus memiliki tekad kuat jika ingin membunuhku!” Dan Yeo Un menghajarnya sehingga Dong Soo terdorong mundur. Itu melukai Dong Soo sangat dalam.

Mereka saling menatap satu sama lain.

Dong Soo bertanya, “Untuk yang terakhir kalinya, tidakkah kita bisa kembali seperti sebelumnya?” Airmatanya  menetes.

Yeo Un menjawab, “Kau adalah satu-satunya tempat berlindungku. Dong Soo, kau dan Cho Rip, aku pernah percaya bahwa jika aku bersama-sama dengan kalian, maka, aku tidak harus hidup dalam kegelapan. Saat-saat itu benar-benar membuatku sangat bahagia untuk sejenak, dan itu cukup bagiku.”

Dong Soo mersa sangat sedih mendengar jawabannya, ia menangis.

Yeo Un membuat keputusan akhir di hatinya, ia berlari menuju Dong soo, bergumam “Terima kasih, Dong Soo!”

Melihat Yeo Un berlari ke arahnya, Dong Soo juga berlari maju, tapi kemudian ia berlutut dengan menaikkan pedangnya tinggi-tinggi. Ia memejamkan matanya, berketetapan untuk tetap diam dan menerima apapun yang akan terjadi.

Yeo Un meloncat sangat tinggi dan saat di udara, ia melepaskan pedangnya, memutuskan untuk mengorbankan hidupnya.

Ia jatuh tepat pada pedang Dong Soo. Dong Soo masih menutup matanya dengan erat ketika ia merasakan tubuh Yeo Un mendarat di pedangnya, ia membuka matanya dan tampak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, “Un! … Un!”

Yeo Un memeluk Dong Soo dan mengatakan, “Sejak dulu, aku pikir bahwa jika aku memang harus mati di tangan seseorang, aku berharap itu adalah dirimu.”

Dong Soo menggelengkan kepalanya, “Kau masih bisa hidup! Un!”

Darah mengucur dari mulut Yeo Un … Pedang Dong Soo tepat menusuk pada organ vitalnya.

Yeo Un, “Di kehidupan selanjutnya, kepada Yang Mulia Pangeran, kepada Malaikat Pedang, aku akan berlutut dan memberikan penghormatan dengan sedalam-dalamnya. Jangan persalahkan dirimu demi seseorang seperti diriku!” Yeo Un menepuk punggung Dong Soo, “Terima kasih, Dong Soo.” Un memejamkan matanya dan menghembuskan napas penghabisan. Tangan Yeo Un yang memegang Dong Soo terjatuh lunglai.

Dong Soo dapat merasakan kalau jiwa Yeo Un sudah tiada, ia menangis dan memanggil-manggil nama Yeo Un, “Un, jangan mati! un! Un!” Dong Soo berteriak sekuat tenaganya, berusaha melepaskan kesedihan yang menggumpal di dadanya, “Un, jangan mati! Un!”

Dong Soo sedang minum-minum sendirian. Yeo Un muncul dan menghampirinya kemudian duduk di sampingnya. Ia mengawasi Dong Soo dan tersenyum. Dong Soo membalas senyumnya.

Dong Soo menuang minuman segelas lagi, tapi ketika ia mengangkatnya ke mulut, ternyata Ji Sun lah yang duduk di sampingnya. Ji Sun bertanya mengapa Dong Soo minum begitu banyak sendirian? Apakah ia sangat merindukan Un? Dong Soo menganggukkan kepalanya, ia sangat merindukan bocah itu, si Un!

Dong Soo berkata, “Tapi bocah itu hanyalah muncul di gelas anggur ini. Aku hanya ingin minum dan melupakannya, tapi aku memikirkannya lagi jadi aku hanya dapat mengisinya lagi. Aku ingin melupakannya setelah segelas itu. Tapi aku merindukannya lagi, jadi aku mengisinya lagi.” Ia menghela napas dan meminum lagi.

Mi So memanggil Dong Soo untuk masuk. Ia bangun dan mengikutinya.

Sebuah lilin ditiup padam. Suara berbisik-bisik, sebuah jari menusuk sebuah lubang di pintu kertas, suara tertawa geli. Tiba-tiba muncul cahaya dari dalam kamar …

Sa Mo berteriak dari dalam kamar, “Tidakkah kalian punya hal lain yang lebih baik untuk dilakukan? Apa yang ingin kalian lihat? Pergi sana!” Para pemuda itu tertawa dan menyingkir pergi.

Sa Mo dan Jang Mi sedang bersama di ruangan, Jang Mi dengan malu-malu memanggilnya sobangnim (suami). Sa Mo memberitahunya kalau ia akan menjaga Jang Mi selama sisa hidupnya. Ia memegang Jang Mi dan mengatakan kalau ini waktunya memadamkan lilin.😛

Jin Ki bergabung dengan kerumunan para pemuda yang sedang menggoda pasangan itu dari luar kamar,  meminta mereka untuk membuka pintu. Jin Ki tersenyum dan mengatakan, “Apa yang perlu dibuat penasaran? Seorang perjaka tua mendapatkan seorang istri?” Mereka semua tertawa terbahak-bahak …😀

Ketiga pengawal Pangeran memberitahu Jin Ki, ia tidak usah menyembunyikan diri lagi. Pangeran telah menghapuskan semua tuduhan yang diarahkan padanya. Jin Ju sangat senang. Jin Ki dipenuhi rasa terimakasih atas kebaikan sang Pangeran, matanya tergenang airmata, “Yang Mulia Pangeran bahkan rela mengurus masalah orang rendahan seperti aku. Aku sangat berterimakasih.” Mereka semua ikut senang dengan kegembiraan Jin Ki.

Dong Soo menoleh pada Ji Sun dan memegang tanganhya, Ji Sun memandangnya dengan hangat.

Hong Do meraih tangan Jin Ju dan tersenyum. Jin Ju memandangnya, Jin Ju  tampak kaku dan malu-malu.

Seorang pria bergabung dengan mereka, ternyata Cho Rip. Ia masih hidup. Ia berdiri dekat dengan Mi So dan tersenyum. Mereka semua menggodanya karena bertingkah lembut pada Mi So.

Di Istana, Raja memberikan harapan terakhirnya, “Kau harus menjadi seorang Raja yang baik. Mimpi yang tak dapat kupenuhi, hal-hal yang ayahmu tak dapat lakukan, kau harus menjadi seorang Raja bijaksana yang memberikan kemakmuran pada rakyat. Pada kehidupan selanjutnya di mana aku menemui ayahmu, aku akan meminta pengampunannya. Jadi jangan lah kau membenci kakek tua ini.” Sang Pangeran memberitahu kakeknya untuk tidak mengatakan hal seperti itu. Ratu dengan khawatir memandang sang Raja yang terbaring sakit.

Raja kemudian memejamkan matanya, ia wafat. Pangeran memanggil-manggilnya tapi Raja tak menyahutinya, Pangeran dengan berduka memberikan penghormatan pada kakeknya. Semua pejabat menyembah dan menyuarakan, “Yang Mulia Raja”, memberikan penghormatan terakhir padanya.

Pangeran memegang tombak Woldo ayahnya.

Kilas balik, Pangeran Mahkota Sado menggunakan tombak Woldok utnuk menghancurkan monumen yang didirikan oleh Kaisar Qing dan meyatakan, “Aku pribadi akan mengubah sejarah dari Joseon!”

Pangeran tampak sangat terinspirasi dengan tindakan ayahnya.

Raja Jeongjo duduk di atas takhta dan menyatakan, “Aku adalah anak dari Pangeran Mahkota Sado! Mulai dari saat ini, siapapun yang berani menghina Pangeran Mahkota Sado yang telah difitnah atau diriku, akan dihukum seberat-beratnya.”

(

Semua orang membungkuk hormat dan menyuarakan, “Terimakasih atas kebaikanmu, Yang Mulia Raja.”

Dong Soo menjadi seorang pejabat militer dengan jabatan tinggi dan bertugas untuk mengawasi latihan para prajurit. Hong Do menggambar semua teknik bertarung mereka. Dan Dong Soo mengumpulkan semua gambar itu ke dalam satu kumpulan buku mengenai seni bela diri.

Jin Ju sedang mengajarkan Mi So bagaimana bertarung. Cho Rip dan Hong Do melihat mereka. Cho Rip terkejut melihat Mi So sedang berlatih bela diri, ia segera berlari ke arah mereka berdua dan menghentikan Mi So dari latihannya.

Cho Rip bertanya pada Mi So apa yang sedang ia lakukan, itu sangat berbahaya! Mi So berkata kalau ia hanya ingin mempelajari bela diri. Tapi Cho Rip mengatakan kalau itu tidak pantas bagi seorang wanita untuk memegang sebatang pedang. Jin Ju tersinggung dan berteriak padanya, kalau begitu bagaimana dengan dirinya? Hong Do mendekati Jin Ju dan menunjukkan padanya sebatang kuas, menyuruhnya memegang itu saja. Kedua pira itu saling memberi tanda untuk privasi mereka, Hong Do segera mengajak Jin Ju pergi meninggalkan Cho Rip dan Mi So.

Mi So mencium Cho Rip di pipinya, Cho Rip terkejut. Mi So memandangnya dan menutup mata, Cho Rip memegang wajahnya kemudian menciumnya di bibir.

Hong Do menghampiri Jin Ju dengan membawa seikat bunga, ia memberitahu Jin Ju untuk menerima itu. Jin Ju menerimanya dan tersenyum. Hong Do kemudian menunjukkan lukisannya dan bertanya apakah Jin Ju menyukainya. Hong Do menjelaskan, dalam lukisan itu, itu adalah Jin Ju dan dirinya, “Seperti dalam lukisan ini, kau akan menjadi pengantin yang paling cantik di dunia.”

Jin Ju tidak mengatakan bagaimana yang ia rasakan saat itu, tampaknya sangat tersentuh. Hong Do mendekatkan dirinya dan menaruh wajahnya di samping wajah Jin Ju, memeluknya dengan lembut. Jin Ju tampak tertegun, kemudian melepas senyuman.

Sa Mo dan Jin Ki menikmati udara segar bersama-sama. Sa Mo mengatakan, “Dari apa yang kulihat, para ahli bela diri seperti kita, tidaklah berbeda dari awan yang bergelantungan di angkasa.” Ia mengarahkan telunjuknya ke langit. Jin Ki setuju, “Ya, berada di sana. Tak tahu kapan itu akan dicerai-beraikan oleh angin, yang datang entah dari mana.”

Sa Mo menggodanya dengan kata-kata puisi, “Kita selalu mempertaruhakn hidup kita dan bertarung sampai sekarang. Mari kita hidup lebih santai. Janganlah kita mati lebih dahulu sebelum waktunya karena sebatang pedang, mari kita mati karena usia tua.” Jin Ki tertawa, ia setuju, bersantai dan mati karena usia tua.

Dong Soo menyerahkan sekumpulan buku pada Pangeran. Itu adalah Muyeoidobotongji (buku seni bela diri yang menjelaskan 24 macam ilmu bela diri, digambar secara berurutan)

Raja Jeongjo berkata bahwa buku seni bela diri ini pastinya akan memperkuat pasukan Joseon. Ia memuji Dong Soo atas kerja kerasnya membuat buku ini.

Dong Soo keluar dari Istana dan teman-temannya memberikan ucapan selamat atas keberhasilannya, dan mereka sangat bangga akan Dong Soo.

Ji Sun berjalan di pasar, orang-orang yang lewat mengenalinya dan memberi hormat padanya. Ji Sun sekarang telah menjadi seorang pedagang ginseng yang dihormati di mana-mana. Tampak Dong Soo sedang menunggunya di atas kuda. Ji Sun melihat Dong Soo, ia melepas senyum.

Mereka berkuda bersama-sama saling berdampingan.

Sekelompok anak-anak sedang berkelahi, dan salah seorang di antaranya terpukul dan jatuh. Mereka meninggalkannya di belakang. Anak itu duduk di tanah merasa sangat kesal dan sedih.

Dong Soo turun dari kudanya dan menghampiri anak itu.

Dong Soo bertanya apakah ia marah? Apakah ia masih ingin bertanding dengan anak-anak yang lain lagi? Anak itu mendongak, “Tentu saja! Ayahku memberitahuku agar tidak mudah menyerah!”

Jawaban anak itu membuat Dong Soo tertegun dan membawa kembali kenangan masa kecilnya. Ia mengingat masa mudanya ketika ia bertekad untuk mengalahkan Yeo Un.

Dong Soo muda berteriak, “Tidakkah kau berkata kau tidak akan pernah menyerah? Bukankah kau mengatakan selama aku bertekad, aku dapat melakukan apapun? Dia seumurku. Tak ada alasan aku tak dapat mengalahkannya!”

Masa kini, Dong Soo tersenyum dan memberitahu anak itu, “Ya, kau benar. Tapi caramu bertarung, akan sepenuhnya tidak dapat mengalahkan anak itu. Tahukah kau apa itu seni bela diri?”

Anak itu menjawab, “Seni bela diri? Tidakkah itu adalah kemampuan untuk menghentikan dua tombak dan menyelamatkan kehidupan rakyat?” Dong Soo bangun dan menunjukkan karakter tulisan itu. Karakter tulisan di sini adalah karakter huruf Mandarin.

Kata “bela diri” terbentuk dari “2”, “tombak”, dan “berhenti”. Anak itu menggunakan tongkat kayunya untuk menggambarkan sebuah karakter tulisan di tanah, “Jadi kata “bela diri” berarti untuk menghentikan dua tombak saling berbenturan, lalu mereka menambahkan kata “seni” sehingga membuatnya menjadi “seni bela diri”.”

Dong Soo tersenyum dan menepuk kepala anak itu, “Kau sangat cerdas. Ya, kau benar. Seni bela diri bukan hanya sekedar menjadi kuat. Menyelamatkan seorang teman, rakyat, dan juga negeri, itu adalah seni bela diri yang sejati.”

Anak itu bertanya apakah Dong Soo seorang ahli bela diri. Dong Soo mengangguk dan mengiyakan. Anak itu bertanya, “Jadi kau dapat mengajariku?”

Dong Soo menyetujuinya. Jadi anak itu bertanya-tanya, “Benarkah?” Dong Soo mengusap kepalanya dan mengatakan mengapa ia berbicara seperti itu? “Panggil aku ‘Guru’!” Anak itu menggaruk-garuk kepalanya, “Kenapa begini?” Ia kemudian berteriak pada teman-temannya untuk  melakukannya sekali ronde lagi. Ia berbalik pada Dong Soo, “Tuan, kau telah berjanji akan mengajarkanku ilmu bela diri.” Dong Soo mengangguk, anak itu memberi hormat dan pergi. Ji Sun melihat pada Dong Soo dan tersenyum. Dong So mendongak mengawasi langit.

Senyum Ji Sun perlahan-lahan menghilang. Ia menoleh untuk mengawasi matahari yang terbenam.

Ji Sun menoleh pada Dong Soo, yang memberinya anggukan pasti. Mereka berkuda berdampingan menuju ke arah matahari terbenam.

T A M A T

Terima kasih kepada:

1. Thundieprattle.com

2. popv. wordpress.com

3. para pengikut setia dari SDK [S] K yang terus mendukung aku dan blogku😀

9 comments on “Warrior Baek Dong Soo – Episode 29 [Finale]

  1. sinopsisnya seru….jadi ga sabar mau baca sinopsis yang berkaitan sama drama ini, painter of the wind , sama wind in the palace,,,,,

  2. wah wah akhirnya kelar juga ni baek dong soo,,, makasih banyak ya atas kerja kerasnya….project berikut apa ni….? makasih banyak

  3. Hmm mengapa hrs sad ending??
    seharusnya Un tidak meninggal tetapi hidup damai bersama teman”nya…

  4. yoo seung ho ku kenapa harus die/????
    gak rela… coba ku yg nulis skenarionya un ku bikin hidup dan bahagia ever after with dongso his bestfrien….
    gak adil buat si tampan yang mati setelah dia jadi baik…

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s