The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 04

Sinopsis singkat:

Damdeok mengunjungi kediaman Yeon untuk memberikan penghormatan terakhir pada altar ibu Ho-gae. Ia kemudian memberitahukan kejadian yang sebenarnya pada mereka.

Pada mulanya Hogae menolak cerita Damdeok dan ayah Hogaae menganggap Damdeok berbohong tapi Damdeok berkata hanya orang takut dan pengecut yang akan berbohong. Ia melanjutkan bahwa tabib yang bekerjasama dengan ibu Hogae telah di penggal dan menunjukkan kepalanya pada mereka.

Ayah Hogae, yang kelihatannya menyadari kesalahan istrinya, berterimakasih pada Damdeok karena tidak memenggal isterinya dan sebaliknya membiarkan Nyonya Yeon minum racun, yang mana hanya sedikit orang saja yang tahu kebenarannya, sehingga dapat menyelamatkan dan mempertahankan harga diri dan nama keluarga Yeon.

Tentu saja Damdeok tidak akan  melakukannya karena dirinya tidak ingin mengambil resiko jika terjadi kemarahan dan pemberontakan terbuka dari pihak keluarga Yeon, padahal untuk saat ini kekuatan Raja dan dirinya masih belum menandingi kekuasaan keluarga Yeon.

Ayah Hogae meminta Hogae untuk bersabar dan menunggu waktu yang tepat. Untuk  sementara ini mereka jangan dulu mengambil tindakan apa-apa. Tapi Hogae telah bersumpah bahwa ia akan membalas dendam atas kematian ibunya ketika dirinya kelak menjadi Raja.

Di istana, Raja Gogookyang amat terkejut saat mengetahui kebenarannya lalu ia menjelaskan pada Damdeok mengapa Nyonya Yeon tidak menyukai dirinya.

Tiga belas tahun yang lalu ketika Permaisuri Raja terdahulu  disandera oleh musuh selama 13 tahun, ia melahirkan seorang anak laki-laki (Ojiji, yakni Raja Gogookyang, ayah Damdeok) ketika ia sedang dalam pengasingannya dan tidak berada di Goguryeo.

Hal ini mengakibatkan tersiarnya desas-desus bahwa ayah dari si bayi itu bukanlah Raja melainkan orang lain,  Ojiji bukanlah keturunan dari sang Raja dan dalam darahnya tidak mengalir darah bangsawan. Disebabkan desas-desus itu yang tidak menguntungkan dirinya dan keluarganya, maka Ojiji beserta keluarganya baru kembali ke Istana ketika Damdeok  berumur 8 tahun.

Setelah Damdeok mendengar penjelasan dari ayahnya, ia merasa sangat sedih dan  ingin berlatih. Ia pergi ke tempat biasa ia berlatih. Di sana ia bertemu dengan Ki-ha, yang sudah lebih dulu sampai. Ki-ha memberi petunjuk pada Damdeok dan menguraikan langkah-langkah bela diri agar Damdeok dapat berlatih dengan lebih mudah.

Damdeok kemudian bertanya pada Ki-ha, apakah baik kalau kita menjadi kuat bahkan jika itu berarti harus membunuh  ibu teman dekatnya. Damdeok ternyata masih terbebani dengan kematian ibu Ho-gae dan sangat bersedih. Ki-ha tak menjawab pertanyaannya, namun dalam pikirannya, Kiha mengatakan bahwa lebih baik jika Damdeok bertambah kuat dan lebih kuat lagi karena dengan demikian maka  Damdeok tidak akan terluka di masa yang akan datang.

Hyon-go sedang memegang tangan seorang wanita bangsawan untuk membacakan ramalan garis tangannya, ketika Soojini datang dan menggodanya, menyuruhnya untuk merayu wanita itu.

Soojinee kemudian  bertemu dengan Jumuchi  dan kelompoknya. Sojinee kelihatannya melihat bahwa mereka punya uang dan membawa mereka ke seorang wanita. Keluarga wanita itu adalah kelompok yang menjaga Simbol Baekho, si Harimau Putih Poong Baek. Saat desa mereka diserang, ayahnya telah dibunuh dan saudara lelakinya melarikan diri dengan Simbol itu.

Soojinee mencoba membujuk mereka untuk menjual senjata tua mereka tapi wanita itu mengatakan bahwa senjata kapak ini kurang bagus. Jumuchi merasa tersinggung dan menunjukkan keahliannya dengan melempar kapaknya sehingga membelah dua sebuah pohon.

“Jumuchi adalah reinkarnasi dari Poong Baek, si Harimau Putih.

Damdeok suka keluyuran di jalanan dan berteman baik dengan para anak jalanan. Anak-anak jalanan  memanggilnya Hyung (kakak besar).

Damdeok membantu seorang  suami dari wanita pemilik kedai makanan,  dengan cara menjadi pelayan mereka. Salah satu pemimpin kelompok menyapanya  dan bertanya apakah Damdeok ingin pergi berjudi bersamanya. Tampaknya Damdeok sudah terbiasa dengan kehidupan rakyat jelata dan bahkan dapat membaur dengan baik di antara mereka.

Kemudian tampak Damdeok sedang membantu seorang nenek tua yang sedang melakukan proses pengerjaan pewarnaan, dan dibantu dengan anak-anak lainnya.

Beberapa tahun telah berlalu … anak-anak itu telah menjadi pemuda dan pemudi …

Suatu hari di sebuah rumah judi, Damdeok  melihat Soojinee yang telah kehilangan semua uangnya. Lalu ia melihatnya sedang mencopet kantung uang dari dua orang laki-laki, dan kemudian melihat Hyon-go sedang berlalu dengan kantung uang itu dan meminta Sojinee untuk mengikuti kedua orang tadi.

Sojinee menemukan keduanya sedang berada di kandang kuda, menaruh semacam rumput jerami di sebuah tempat makan kuda. Kuda-kuda ini adalah kuda pacu yang akan digunakan dalam ‘pertandingan ‘semacam polo’ keesokan harinya, rupanya mereka berupaya membuat kuda itu sakit. Permainan polo itu versi Korea dan disebut dengan 격구.

Soojinee berusaha mencegah kedua orang tadi dan segera saja perkelahian terjadi. Kemudian pengurus kandang datang dan mengira kalau Soojinee adalah penjahatnya. Pertarungan tak seimbang terjadi, Soojinee melawan tiga orang. Damdeok, yang selama ini mengintil di belakang Soojinee, muncul dan mencoba mengurungkan niat orang-orang tersebut untuk bertarung dengan Soojinee tapi tidak berhasil. Akhirnya dengan terpaksa  Damdeok mengajak Soojinee untuk melarikan diri dari sana.

Soojinee mencoba mendapatkan uang milik Damdeok dan  mengundangnya ke sebuah gibang, menyangka kalau Damdeok tidak pernah ke tempat seperti  itu (karena wajah Damdeok menunjukkan rasa terkejut, tapi terkejut di sini kelihatannya karena Damdeok tidak menyangka kalau seorang gadis akan mengajaknya ke tempat demikian). Tapi ketika mereka tiba di gibang, para wanita di tempat tersebut ternyata sangat mengenal Damdeok (tidak heran karena Damdeok memang bertumbuh di jalanan). Sojinee jelas kaget dan kecele.

Soojinee kembali dikejar-kejar orang dari tempat pelatihan kuda. Soojinee meminta Damdeok agar membantunya tapi Damdeok menolaknya dengan tingkah menggemaskan.

Raja mengadakan kunjungan mendadak ke kediaman Daemdeok. Pengawal di kediaman Damdeok kelihatannya tidak kaget saat mendapati Daemdeok tidak ada di kamarnya. Mereka tampaknya sudah tahu kebiasaan dari Pangeran yang satu ini yang sering keluar Istana dan keluyuran di jalanan.

Para pengawal itu juga yakin kalau Ki-ha tahu di mana ia bisa menemukan Damdeok, Mereka segera membawakan jubahnya lalu ia segera pergi ke tempat di mana biasanya Damdeok  memanjat dinding untuk masuk kembali ke Istana. Ki-ha menunggu Damdeok di sana dan betul saja Damdeok sedang memanjat dinding untuk kembali masuk ke Istana. Ki-ha memarahi Damdeok (hehehe Pangeran Mahkota dimarahi orang biasa … baru tumon😛 )

Ki-ha menegurnya dan berkata agar Damdeok bersikap selayaknya seperti seorang Pangeran, jangan bertingkah seperti seorang berandal jalanan. Tapi Damdeok mengalihkan pembicaraan dan meminta Ki-ha untuk menyalakan api (ini adalah kemampuan yang bisa dilakukan oleh Joojak, salah satu dari Empat Dewa). Damdeok meminta Ki-ha untuk tinggal sebentar menemaninya tapi Kiha tidak bersedia melakukannya karena ia sangat disiplin, akibat dari latihannya selama bertahun-tahun.  Lalu Damdeok  mengungkapkan pada Ki-ha betapa dirinya amat kesepian dan tak ada seorangpun yang mau menemaninya di Istana.

Keesokan harinya, Soojinee menemui Damdeok dan sangat marah padanya karena tidak membantunya kemarin. Damdeok menggodanya apakah Soojinee  menginginkan dirima karena Soojine koq selalu mengikutinya sepanjang hari.

Kelihatannya kali ini Damdeok sedang menjual beras …? Soojinee berusaha membujuknya untuk berjudi untuk membuat uangnya menjadi 4 kali bahkan 10 kali lipat dari sekarang. Tapi entah bagaimana justru Soojinee akhirnya malah membawa Damdeok ke Hyon-go untuk membaca ramalan garis tangannya.

Tapi tentu saja, pada dasarnya Hyon-go itu seorang penipu dan melakukan kecurangan. Karena tentu saja semua orang yang berusaha mengetahui nasib mereka pasti merasa tidak beruntung, sehingga ia hanya mengatakan hal-hal yang berbau keberuntungan untuk memuaskan pelanggannya.

Hyon-go mengatakan pada Damdeok bahwa ia akan mengungkapkan rahasia keberuntungannya hanya dengan 2 nyang, tapi tentu saja Damdeok, yang pintar, mengetahui hal yang sebenarnya.

Ho-gae sedang memberikan instruksinya pada orang-orangnya, hanya ingin memastikan kalau mereka menang.

Kemudian tampak 4 tim keluar dengan cukup menyolok. Ho-gae berada di tim Kuning.

Yeongaryo melihat Dae Jang Ro, pimpinan Kuil Abullansa di event itu dan mengatakan pada seorang anakbuahnya kalau ia ingin bertemu dengan Dae Jang Ro.

Damdeok memandang dengan penuh perasaan saat ia melihat Ki-ha sedang menari dengan para gadis lain sebelum event itu dimulai. Sojinee duduk di sebelah Damdeok menikmati kemeriahan acara itu.

Dan kemudian permainan dimulai. Tim Kuning melawan Tim Biru.  Ho-gae berhasil membuat angka!

Dalam pada itu, Ho-gae mengingat perkataan ayahnya, bahwa jika ia menjadi raja maka ia bisa berbuat apa yang ia mau.

Tampak Soojinee terpesona pada kegagahan Ho-gae dan bersorak baginya. Ia merasa sudah jatuh cinta pada Ho-gae.

Damdeok memberitahu Sojinee bahwa itu adalah kekerasan, tapi Soojinee membantah bahwa itu diperbolehkan selama tidak melukai kuda mereka (mengakibatkan penunggangnya jatuh dan terluka). Damdeok mengawasi permainan itu kemudian mengatakan bahwa kelihatannya ada logam di dalam tongkat  mereka, padahal logam tidak diperbolehkan. Soojinee dan Damdeok segera pergi dari tempat duduk mereka untuk pergi menyelidiki.

2 comments on “The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 04

  1. Maaf sebelumnya…….
    tapi kenapa tidak ada gambarnya ?
    plot ceritanya juga agak membingungkan dari episode sebelumnya
    Sy lebih menyukai yg berupa dialog

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s