The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 05

Sinopsis singkat:

Di dalam arena 격구, permainan di mulai antara Tim Kuning (dipimpin oleh Ho-gae) dan Tim Biru. Ho-gae menjadi orang pertama yang memasukkan angka dan ayahnya mengingat apa yang ia katakan, jika Ho-gae menjadi Raja maka Ho-gae bisa melakukan apa yang diinginkan hatinya. Sojinee tampak terpesona pada Ho-gae.

Tim Kuning sedang menyerang Tim Biru. Damdeok yang selama ini mengamati pertandingan dengan seksama berkomentar bahwa ini adalah kekerasa, tapi Soojinee menjawab bahwa itu diperbolehkan selama kuda-kudanya tidak terluka. Kemudian Damdeok mengatakan kalau tampaknya ada logam di dalam tongkat Tim Kuning, yang seharusnya tidak diijinkan.

Sojinee meninggalkan arena untuk menyelidiki, dan diikuti oleh Damdeok. Saat mereka berdua berjalan melewati Dae Jangro (Biksu kepala Abullansa, pimpinan suku Hwacheon), Simbol Joojak bercahaya. Dae Jangro melihat ke arah Ho-gae dan berpikir bahwa dengan ini nyata sudah bahwa Ho-gae memang benar-benar adalah Raja Jyooshin, karena jantung Joojak akan bercahaya saat Raja Jyooshin dan pemilik sejati Joojak saling berdekatan satu sama lain. Dae Jangro melihat Ki-ha dan Ho-gae, merasa yakin kesimpulannya benar karena saat itu Ki-had an Ho-ga posisi mereka cukup dekat. Tanpa diketahui oleh Dae Jangro, Simbol Joojak itu bersinar karena Raja Jyooshin yang sejati, yakni Damdeok, dan pemilik kalung Joojak yang sah, yakni Sojinee baru saja melewatinya.

Sojinee adalah reinkarnasi dari Sae-oh, pemilik sah kalung Joojak. Ia memiliki kekuatan Api yang sangat besar bahkan melebihi Ki-ha, namun tidak tahu bagaimana menggunakannya sehingga kekuatan itu tersimpan saja di dalam tubuhnya. Sedangkan Ki-ha, yang adalah reinkarnasi Ka-jin, memang memiliki kekuatan Api tapi itu adalah hasil latihannya selama ini dengan kalung Joojak.

Sementara itu di Markas Tim Kuning, Sojinee menghadapi salah satu anakbuah Ho-gae dan bertanya megenai tongkat yang mereka gunakan dan meminta imbalan uang jika mereka mau dirinya menutup mulut. Mereka tentu saja tidak mau dan berusaha menangkap Sojinee tapi mana mau Sojinee ditangkap. Pertarungan pun pecah, dan tiba-tiba Ho-gae muncul, bertanya apa yang sedang terjadi.

Sojinee berusaha untuk melarikan diri dan kemudian Damdeok muncul. Sojinee kaget melihatnya dan berteriak agar Damdeok segera melarikan diri bersama-sama dengannya agar tidak tertangkap. Tapi kemudian Sojinee melihat kalau semua orang memberikan penghormatan pada Damdeok dan saat itulah ia baru sadar bahwa Damdeok adalah si Putera Mahkota ketika Ho-gae memanggilnya Tae Ja Nim. Damdeok bertanya pada Ho-gae apakah ia sadar bahwa perbuatannya dengan menaruh logam di dalam tongkat adalah melanggar peraturan? Tapi melihat dari tampang Ho-gae, tampaknya Ho-gae tidak tahu semua itu, dan kemungkinan besar ini hasil kerja dari anakbuahnya sendiri. Ho-gae ingin mengungkapkan kebenarannya dan menerima semua konsekuensinya tapi Damdeok mengatakan tidak usah, karena seharusnya dirinya tidak ada di luar Istana, ia tidak ingin masalah ini berlanjut.

Sojinee diberi uang untuk tutup mulut. Ia bertanya mengapa Damdeok membiarkan mereka? Damdeok menjawab bahwa ia ada “hutang” yang harus ia bayar pada Ho-gae. Di belakang mereka beruda, tampak Ki-ha sedang memandang pada Damdeok dan Sojinee. Kemudian ia mengatakan sesuatu pada Sa Ryang mengenai Damdeok yang tampaknya gembira dan tertawa bersama dengan Sojinee.

Sojinee bergumam sesuatu pada dirinya sendiri mengenai percakapannya dengan Damdeok. Damdeok sebelumnya telah memintanya agar tidak memberitahu siapapun kalau dirinya adalah sang Pangeran Mahkota. Dan kemudian Hyon-go datang menemuinya dan bertanya bagaimana keadaan Ho-gae. Sojinee kemudian menceritakan insiden tadi. Sebelum kejadian tongkat itu, si Sojinee memang sangat terpesona dan seakan-akan hatinya berdebar kencang mellihatnya. Hyon-go menggodanya dengan mengatakan kalau Sojinee pasti ditolak.

Di dalam ruangan rahasia di Kuil Abullansa, Dae Jangro sedang memberitahu Ki-ha mengenai peristiwa bercahayanya kalung Joojak dan ingin pergi ke kediaman Yeon untuk mengkonfirmasikan apakah Ho-gae adalah sang Raja. Lalu Ki-ha bertanya, “Dan jika itu memang benar, maka …?” Dae Jangro menjawab bahwa jika memang benar Ho-gae adalah Raja Jyooshin, maka mereka harus membantunya untuk menjadi Raja Goguryeo dan juga menemukan ke tiga simbol Dewa yang lainnya.

Damdeok menyelinap kembali ke Istana dan menemukan kalau Ho-gae sedang menunggu dirinya. Damdeok sangat terkejut karena ia pikir lokasinya ini sangat rahasia. Mereka berdua bercakap-cakap mengenai kejadian tongkat itu.

Ho-gae sedang minum-minum. Ia bertanya pada anakbuahnya mengapa ia harus melakukan taktik rendahan seperti itu. Anakbuahnya menjawab bahwa mereka harus memenangkan pertandingan ini.

Dan kemudian anakbuah Ho-gae terlihat memberikan sejumlah uang pada dua orang lelaki, dan orang-orang ini terlihat menyerang Tim Hitam (yang juga sedang keluar untuk minum-minum). Beberapa pemain dari Tim Hitam terluka. Daemdeok lewat dan berusaha menolong mereka untuk mendapatkan perawatan tabib tapi para pemain Tim Hitam itu tak ingin luka mereka diketahui oleh orang banyak, atau mereka tidak bisa main keesokan harinya. Kemudain Sojinee membawa mereka kembali ke tempat mereka menginap. Ki-ha, entah dengan cara bagaimana, merasa kalau dirinya dibutuhkan dan sedang menunggu Damdeok ketika ia datang menemui Ki-ha untuk mmeinta bantuannya merawat orang-orang dari Tim Hitam.

Ki-ha merawat luka-luka mereka. Hyon-go bertanya pada Sojinee bagaimana ia bisa mengenal seseorang yang berasal dari Shin Dang dan apakah Damdeok adalah temannya? Kemudian terjadi percakapan antara Damdeok dan pimpinan dari Tim Hitam (yang juga anak dari suku Chor No).

Sojinee bertanya pada Ki-ha apakah mereka berdua pernah bertemu sebelumnya?

Lalu Sojinee memergoki Damdeok dan Ki-ha saling berpandangan dengan penuh perasaan dan tampak memahami satu sama lain.

Pada pertandingan keesokan harinya, para pemain yang lebih muda harus bermain karena pemain utama mereka terluka. Pimpinan dari Tim Hitam berhasil menyarangkan gol dan memenangkan pertandingan. Ho-gae kemudian tampak berkerut kening dan seorang anakbuahnya memukul tongkat mereka pada sepatunya, yang merupakan pertanda untuk menyerang Tim Hitam … dan tampak serangan mereka sangat brutal. Tak tahu apakah itu diijinkan atau tidak tapi sang wasit menghampiri ke tengah lapangan dan menghentikan permainan karena pimpinan dan seorang anggota termuda dari Tim Hitam terluka cukup serius.

Wasit meminta pemain pengganti, tapi Tim Hitam berada dalam dilema karena mereka sudah tidak memiliki pemain cadangan. Para pemain utama semuanya terluka dalam pertandingan ini. Damdeok dan Sojinee kemudian mengajukan diri sebagai pengganti mereka dan masuk ke dalam arena.

Pertandingan dilanjutkan. Ternyata tak disangka-sangka kerjasama antara Sojinee dan Damdeok sangat hebat. Damdeok beberapa kali telah menyarangkan golnya dan di tengah-tengah permainan, pelindung kepala Sojinee terlepas. Ho-gae mengenalinya dan ia segera menduga kalau orang yang satunya itu pasti Damdeok. Ia bertanya pada anakbuahnya: “Kau tahu yang mana dia khan?” Pria itu mengiyakan, dan pertanda diberikan untuk menyerang Damdeok.

Ho-gae terus menerus memukul Damdeok dan didorong jatuh dari kuda. Damdeok hampir saja terinjak kuda yang ditunggangi Ho-gae, entah sengaja atua tidak, dan Sojinee datang untuk menyelamatkan Damdeok. Tapi pada saat itu pelindung kepala Damdeok terlepas dan dengan demikian maka identitasnya juga terbuka.

Protes segera dinaikkan oleh Yeongaryo, sebagai seorang anggota keluarga kerajaan, seharusnya mereka tidak boleh bergabung pada tim suku manapun, karena bisa dianggap sebagai pilih kasih dan ini tidak adil.

Raja yang melihat Damdeok ikut dalam pertandingan itu sangat marah. Ingat, sang Raja telah memberitahu pada semua orang kalau Damdeok tubuhnya lemah dan tidak begitu cerdas. Memperlihatkan dirinya sedemikian rupa hanya akan membawa masalah bagi dirinya karena semua orang akan memperhatikannya mulai dari sekarang.

Raja menghukum Tim Hitam dengan memenjarakan mereka. Damdeok memberitahu ayahnya bahwa itu adalah kesalahannya dan yang lain tidak melakukan apapun. Hanya ia yang bersalah jadi hukum saja dirinya jangan orang lain. Damdeok juga dihukum kurung di Istana Tae Shil (di mana adaalh Istana tempat menyimpan ari-ari anggota keluarga Raja).

Hyon-go dan yang lainnya sangat mengkhawatirkan keadaan Sojinee, bertanya-tanya apakah Sojinee akan dihukum mati.  Kemudian mereka berdiskusi bagaimana caranya melepaskan Sojinee.

Dae Jangro pergi ke kediaman Yeon dan menawarkan diri untuk membantu Ho-gae, jika ia benar adalah Raja Jyooshin. Dae Jangro memberitahu Yeongaryo bahwa ia memiliki jantung Joojak.

Ki-ha tertangkap oleh Pendeta Tinggi saat mencoba untuk meninggalkan Shin Dang, dalam rangka membantu Damdeok.

————-

Dam Deok menantang Kak-dan untuk bertarung. Jika dirinya menang, maka ia akan pergi dari tempat itu.

Damdeok menolak pedang yang diulurkan oleh Kak-dan.

Kakdan mengatakan, “Aku takut kau akan terluka!”

Damdeok menjawabnya, “Aku tak akan menjerit walaupun aku terluka. Aku berjanji!”

Pertarungan di antara keduanya sangat sengit dan berimbang.

Setelah pertarungan berakhir, Damdeok bertanya pada Kak-dan, “Omong-omong, kau tadi mengatakan namamu siapa?”

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s