The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 08

Ki-ha tertangkap dan dikurung di Kuil Abullansa. Ho Gae sangat senang bisa bertemu kembali dengannya, ia telah menghabisan sepanjang malam menunggunya, tak tahu kapan ia kembali, dan sangat cemas kalau-kalau ia tak akan kembali.

Ki-ha: Aku punya sebuah permintaan padamu

Ho-gae: Katakanlah. Pemilik dari Joojak, apapun yang kau ingin aku bantu … katakanlah. Aku tak pernah menyangkan kalau Pemilik Joojak akan kembali. Aku mendengar aklau kau dan Pangeran Mahkota adalah teman semasa kecil.

Ki-ha: Dia bukanlah temanku. Dia adalah seseorang yang sangat kucintai (그린네- 사랑하는 사람 = Geu-rin-nae = Orang yang sangat kucintai). Dia adalah seseorang yang mana aku tak bisa hidup lagi jika ia mati. Selalu seperti itu dari permulaan. (Ini juga yang terjadi saat ia menjadi Ka-jin, bahkan bersumpah akan pergi ke kehidupan selanjutnya dengan Hwan Woong)

Ki-ha kemudian menyerahkan sebuah kotak yang berisikan kalung Jantung Joojak pada Ho-gae dan memintanya untuk menemukan pemilik Joojak yang lain. Ho-gae bertanya apakah sembarang orang bisa menjadi pemiliknya hanya dengan memegang jantung Joojak?

Ki-ha: Aku pikir pemiliknya bukanlah diriku. Joojak dan Jyooshin … semua ini tak aku pedulikan hari-hari ini. Aku tak dapat mengingat saat-saat ketika aku mejadi Joojak. Aku bukanlah pemilik sah Jantung Joojak!

Ho-gae mengatakan bukankah Ki-ha telah mengakuinya sebagai sang Raja? Ki-ha menjawab bahwa semua itu ia lakukan demi menyelamatkan Damdeok dan ia bersedia melakukan apa saja untuk mewujudkannya. Ki-ha memohon pada Ho-gae untuk menjadi Raja, Raja dari Goguryeo, Raja Jyooshin. Ki-ha memitanya untuk melepaskan dirinya dan membiarkan ia pergi pada Damdeok, ia akan memastikan kalau Ho-gae tak akan bertemu dengan mereka berdua lagi.

Ho-gae merasa sangat terluka mendengar perkataan Ki-ha, dan sejak saat ini, ia bertekad untuk membunuh Damdeok, yang dianggapnya telah merebut semua yang  ia miliki, ibunya, posisi Raja, bahkan sekarang wanita yang dicintainya, Ki-ha.

Ki Ha dilepaskan oleh Ho-gae tapi saat ia keluar dari sel tahanan dan berusaha melarikan diri, para pengawal segera muncul dan mengepungnya, membuatnya dipenjara lagi. Ki-ha melihat Sa Ryang dan memintanya untuk membantu dirinya.

Ba Son terus menantang Man-deuk untuk memukulnya.

Sa Ryang pergi menemui Joomochi untuk meminta bantuannya. Joomochi mengulangi 3 syaratnya:

1. Mereka tidak akan membunuh rakyat jelata!

2. Mereka tidak membunuh wanita, orang lanjut usia, dan anak-anak.

3. Mereka tidak akan menerima tawaran yang diberikan jika tidak menyukai orang yang memberi pekerjaan pada mereka.

Sa Ryang menjawab kalau mereka akan menyelamatkan seorang tak bersalah yang akan dibunuh pada siang hari nanti. Karena itulah ia sedang mencari orang-orang yang cukup berani untuk melakukan ini dan bertanya apakah Joomochi dapat melakukannya? Ba Son mengatakan padanya kalau orang yang akan mereka selamatkan ada di penjara keluarga Yeon.

Sa Ryang kembali dan memberitahu Ki-ha kala uia telah meminta Joomochi untuk membobol penjara dalam waktu satu jam lagi dan membawa Pangeran Mahkota ke tempat suku Chor No setelah itu.

Ki-ha sangat berterimakasih atas bantuan dari Sa Ryang.

Joomochi sedang bercakap-cakap dengan orang-orangnya dan memberikan perintah pada mereka. Seseorang diutus untuk mencari tahu mengenai situasi di dalam kediaman keluarga Yeon. Mungkin penjaganya sekitar 15 orang? Joomochi meminta orang-orangnya untuk tidak membunuh para penjaga tapi hanya dibuat pingsan saja.

Hyon-go dan rekannya datang mencari Joomochi dan kelompoknya. Hyon-go ingin menyewa Joomochi dan rekan-rekannya, bahkan sudah membawa uang kontan. Ba Son tidak begitu menyukai Hyon-go dan ia merasa kalau Hyon-go tidak melakukan usaha yang cukup untuk membebaskan Sojinee. Ba Son kemuidan memberithau Hyon-go bahwa suku Chor No telah mengirim seseorang dengan uang untuk menyewa Joomochi dan orang-orangnya untuk membobol penjara.

Hyon-go: Itu jebakan!

Sa Ryang kembali ke Markas Hwacheon dan dihukum oleh Dae Jangro. Ia bertanya apakah Sa Ryang berpikir apa yang ia lakukan itu baik bagi Joojak?

Seorang wanita pekerja keluarga Yeon sedang dalam perjalanan ke Penjara, membawa makanan dan bertemu dengan suaminya yang menjaga penjara.

Joomochi dan orang-orangnya menyusup masuk ke dalam kediaman Yeon.

Sa Ryang pergi ke penjara dan membunuh para penjaga di sana, termasuk suami wanita pekerja tadi. Kemudian Sa Ryang juga menccoba membunuh wanita itu, tapi selalu dihalangi oleh Sojinee. Lalu Joomochi dan anakbuahnya tiba, Sa Ryang segera membakar penjara dan meninggalkan sebuah simbol dari suku Chor No, membuat seakan-akan ini hasil pekerjaan dari Chor No, yang merencanakan pelarian.

Di tengah-tengah usaha Joomochi dalam menyelamatkan para tahanan, Sa Ryang berteriak-teriak di luar, bahwa para tahanan sedang melarikan diri dan Chor No ada di sini. Sojinee yang malang tampak tertegun kaku dan tetap berdiri, tidak berusaha melarikan diri. Sou Du-ru, anak dari Hok-gae (Kepala Suku Chor No) terpaksa harus menyeretnya keluar.

Orang-orang Joomochi dan para pemain Tim Hitam terkepung oleh para pengawal kediaman keluarga Yeon. Joomochi menggumam bahwa upah mereka terlalu kecil untuk pekerjaan ini. Mungkin ia pikir tugas ini adalah pekerjaan yang mudah. Tapi Joomochi memang benar-benar pria yang baik dan jantan, saat seorang penjaga berteriak pada mereka, beraninya mereka melarikan diri, Joomochi menyahut tanya, apakah mereka, para pengawal,  akan membukakan pintu penjara jika mereka memintanya? Hehehe … Joomochi berteriak pada para pengawal bahwa ia tak mau membunuh mereka dan meminta mereka untuk berhati-hati dan menyingkir dari jalannya.

Lalu ketika semakin banyak pengawal yang mengepung mereka, ia berteriak pada Man Deuk bahwa perintah untuk tidak membunuh telah dicabut.

Sojinee yang masih kaku, melihat pertarungan itu dan segera pulih. Ia memulai pertarungan dan Joomochi terpaksa harus menariknya pergi dan memintanya untuk lari. Joomochi kemudian berteriak pada Man Deuk kalau ia akan bertemu dengan mereka di luar, kemudian ia menutup pintu dan memalangnya dengan kapak besarnya. Wahahahah … aku rasa Man Deuk akan sangat marah karena telah ditinggal untuk bertarung sendirian … ahahaha …

Di luar, Ba Son dan Hyon-go mendatangi mereka dengan mengendarai kereta kudanya.

Dae Jangro sedang memberitahu Ki-ha untuk menyerah dalam menyelamatkan Damdeok, mereka berdua tidak akan bisa bersama. Ini akan mengganggu rencana Hwacheon dan menghalangi takdirnya sebagai Joojak. Ia bersumpah bahwa Damdeok tidak akan melihat matahari pagi esok dan bertanya apakah Ki-ha mengingat pada kehidupan selanjutnya bagaimana kekuatannya telah direbut dan kemudian ia mati bunuh diri tanpa mendapatkan cinta dari Hwan Woong …

Di dalam suatu kamar rahasia di tempat kerja Ba Son, para pemain Tim Hitam dari suku Chor No sedang melepas lelah. Seorang pria pendek memberitahu mereka bahwa penjagaan sangat ketat, gerbang Timur, Barat, dan Selatan telah ditutup karena serangan ke-3 suku. Pasukan Gaema akan segera tiba di Gerbang Utara, jadi si Ba Son pasti akan melewati gerbang itu sekarang. Pria itu memberitahu Sou Du-ru mengenai keberadaan Damdeok dan mereka seharusnya membawanya kembali ke Suku Chor no. Pekerjaannya akan selesai setelah ia menunaikannya.

Sebelum pergi, Sou Du-ru memberitahu Sojinee untuk tidur dan jangan menggigau dalam tidurnya.

Si pria pendek memberitahu mereka bahwa ada sesuatu aneh sedang terjadi karena ada rumor bahwa Hok-gae (Kepala Suku Chor No) telah melakukan penyelamatan terhadap mereka, tapi Sou Du-ru dan lainnya tak dapat memahami siapa atau mengapa rumor semacam itu tersebar.

Kenyataannya, simbol yang ditinggalkan oleh Sa Ryang menjadi buktinya dan memang bermaksud untuk memfitnah Suku Chor No, yang setia kepada Raja.

Sojinee, saat ia mendengar ini, segera beranjak pergi dari ruangan itu, tapi dihentikan oleh Joomochi di luar. Sojinee membual  bahwa kecuali ada emas di depannya dan pasukan Gaema, tak ada orang lain yang dapat menangkapnya, jadi Joomochi tak usah khawatir keselamatannya. Joomochi mengatakan jika ia bermaksud untuk menemui Pangeran Mahkota, sangat berbahaya jika pergi sendirian, tapi saat ia berbalik sedetik saja, Sojinee telah hilang … sungguh cepat!

Para pengawal sedang mengadakan penyelidikan menyeluruh di penjara dan menemukan simbol yang dianggap sebagai milik Suku Chor No. Ke tiga kepala suku yang lain sangat marah dan berpikir bahwa Suku Chor No bekerja sama dengan Raja. Mereka ingin pergi bersama dan bertanya mengenai keadaan anak-anak mereka pada Raja. Yeon Garyo memancing ke 3 kepala suku, bertanya apakah mereka masih dapat menganggap Raja yang sekarang sebagai Raja? (Ah .. ia berusaha mengumpulkan pengikut untuk melakukan pemberontakan)

Jenderal Kho melapor pada Raja bahwa ke tiga gerbang telah terbuka sehingga tidak menyisakan banyak pilihan lagi.  tersisa. Ia mendesak Raja agar menggunakan Pasukan Gaema tapi Raja mengatakan bahwa jika mereka melakukan itu, maka darah anak-anak Goguryeo (penduduk) akan tertumpah dan mereka akan terluka.

Raja mengatakan kalau sampai terjadi pertempuran antara Pasukan Gaema dan pasukan ke-tiga Suku, maka tidak baik bagi kerajaan ini! Jenderal Kho tidak peduli akan semuanya itu asalkan sang Raja dapat diselamatkan.

Lalu Yeon Garyo tiba dengan anakbuahnya dan juga Cheok-hwan (Kepala Pasukan Gaema). Jenderal Kho hanya mengijinkan Yeon Garyo yang masuk untuk menemui Raja. Jenderal Kho memberikan pandangan menusuk pada Cheok-hwan, menganggapnya sebagai seorang pengkhianat.

Yeon Garyo pada dasarnya datang untuk membujuk Raja untuk turun tahta … bernegosiasi. Ia memberitahu Raja bahwa ada suatu tempat di Istana di mana Raja dan Damdeok bisa hidup dengan nyaman untuk waktu yang lama. Ia menyatakan bahwa Raja telah menggunakan kekuasaannya sewenang-wenang dan melanggar kehendak Langit dengan berusaha menjadikan Damdeok sebagai seorang Raja padahal seharusnya Ho-gae lah yang menjadi Raja. Gaeryo mengatakan kalau ia tak bisa mengendalikan pasukan ke-3 suku jika mereka berhasil menerobos masuk ke dalam Istana.

Raja menjawab bahwa tujuannya menjadi soerang Raja adalah menjadikan Damdeok seorang Raja! Yeon Garyo salah paham dan menyangka kalau ini adalah keinginan egois dari seorang ayah dan bertanya apakah karena itu maka Raja meminta Pendeta Tinggi Shin Dang untuk berbohong dengan mengatakan bahwa Damdeok, sang Pangeran Mahkota juga dilahirkan di bawah Bintang Jyooshin?

Gaeryo mengatakan kalau ia memahami perasaan Raja karena ia sendiri adalah seorang ayah tapi rakyat Goguryeo telah menunggu lama kelahiran dari Raja Jyooshin dan seharusnya kehendak Langit tak boleh diabaikan!

Raja mengatakan lagi bahwa menjadikan Damdeok sebagai Raja Gogureyo adalah misi dan peranannya. Dan pada titik ini, Yeon Garyo pergi meninggalkan Raja, mengetahui kalau Raja tak akan bergeming sedikitpun.

Raja kemudian memberitahu Jenderal Kho untuk meinggalkan Istana dan mencari keberadaan Damdeok, sang Pangeran Mahkota. Ia boleh membawa sebanyak mungkin pengawal. Raja mengatakan bahwa ia sebenarnya tak begitu yakin apakah Raja Jyooshin itu adalah Ho-gae, anak dari Yeon Garyo, ataukan Damdeok, anaknya. Tapi ia memberitahu Jenderal Kho untuk melindungi sang Pangeran Mahkota jika ia adalah sang Raja Jyooshin tapi bunuh Damdeok, anaknya itu, jika bukan. Rakyat tak boleh merasakan penderitaan karena adanya dua Raja (yang berarti akan ada peperangan saudara).

Jenderal Kho pergi melaksanakan perintah sang Raja, meninggalkan Kak-dan yang diserahinya tanggungjawab untuk melindungi sang Raja.

Tangan kanan Yeon Garyo tampak sedang berbicara dengan Dae Jangro, memberitahunya bahwa Raja menolah untuk turun tahta. Ia memberitahu bahwa tuannya meminta Dae Jangro untuk melaksanakan langkah mereka yang selanjutnya. Sa Ryang kemudian pergi.

Ba Son berhasil melewati Gerbang Utara dengan selamat setelah memberikan sejumlah uang pada para penjaga, yang dikenalnya dengan baik. Ia membantu orang-orang Suku Chor No saat mereka sudah berada di luar Istana. Ketika mereka kembali ke dalam, ia melihat anggota-anggota Hwacheon (dengan jubah merah) sedang meninggalkan tempat itu dan Ba Son mengingat malam ketika keluarganya diserang dan ayahnya terbunuh. Ia segera bergegas kembali ke tempatnya dan mengambil pedangnya. Ia ingin pergi mengejar para pembunuh ayahnya untuk membalas dendam. Ia memberitahu Hyon-go dan Joomochi bahwa malam saat Bintang Jyooshin muncul, orang-orang ini datang dan menyerang keluarganya membuat ayahnya terbunuh. Hyon-go menyadari kalau mereka adalah Hwacheon.

Para anggota Hwacheon tiba di desa pengungsi, di mana Damdeok sedang bersembunyi. Mereka muali memukuli dan bertanya pada semua orang yang mereka temui di mana keberadaan Pangeran Mahkota. Damdeok sebenarnya tidak ingin bertarung, ia berusaha pergi dengan diam-diam. Seorang anggota Hwacheon melihat seorang wanita dnegan anaknya yang mati, dan berteriak padanya untuk memberitahu di mana keberadaan Pangeran Mahktoa. Ketika mereka akan memukulinya, Damdeok keluar dari persembunyiannya dan menghentikan mereka. Dan inilah pertarungan pertama Damdeok. Saat itu Daemdeok bukanlah seorang Pangeran yang lembut hatinya lagi.

Tapi Damdeok kalah jumlah dan ketika tepat ia akan dikalahkan, pada saat yang sangat genting, Suku Chor No datang dan menyelamatkan Damdeok. Lalu Sojinee berlari turun, memanah satu demi satu musuh dengan busurnya. Ia tampak sungguh gagah sekaligus cantik pada saat yang bersamaan, ketika matanya bertemu dengan mata Damdeok. Persis seperti Sae-oh.

Ki-ha sedang berpikir mengenai apa yang terjadi:

Cheok-hwan mengatakan bahwa Joojak telah megnakui Ho-gae sebagai Raja

Ho-gae memberitahu Damdeok agar tidak kembali ke Istaan atau ia tak akan mengampuni nyawanya lagi

Dan terakhir saat-saat sedih di mana Damdeok memberitahu Ki-ha agar tidak menderita demi diri Damdeok.

Para pemain dari Suku Chor No sedang beristirahat, dan si anak muda berkomentar bahwa Damdeok tampaknya sedang menunggu seseorang.

Tiba-tiba kuda-kuda nampak tidak tenang dan mereka segera tahu kalau musuh-musuh mereka datang mendekat. Mereka tahu kalau tidak dapat bertempur secara terbuka karena mereka kalah jumlah. Soo Du-ru mengusulkan untuk menggunakan salah satu taktik permainan Kuk Kyu … dengan berpencar ke arah yang berbeda sehingga membuat musuh-musuh mereka bingung, tak mengetahui yang mana Damdeok yang asli. Mereka percaya kalau rencana ini akan berhasil.

Mereka berhasil melarikan diri dengan selamat menggunakan taktik itu dan berkumpul di dekat sungai, beristirahat. Sou Du-ru berkata bahwa mreeka akan sampai di tempat Suku Chor No keeskokan malam. Damdeok mengatakan kalau ia tak akan pergi ke sana. Ia bermaksud akan kembali lagi ke Goongnaeseong karena ia ada hal yang harus ia lakukan, tapi ia mendesak mereka untuk melanjutkan perjalanan mereka ke Suku Chor No.

Anggota yang paling muda, Dal Gu ingin pergi dan kembali ke rumah segera. Ia mengatakan kalau mereka telah menderita karena Damdeok, dilempar ke penjara, dan juga yang lain, itu semua karena Damdeok bergabung dalam permainan Kuk Kyu, yang seharusnya tidak dilakukan. Itu bukanlah urusah Damdeok apakah mereka nantinya menang atau kalah. Sojinee sangat marah mendengar perkataan Dal gu dan melemparkan sesuatu padanya.

Sojinee bertanya apakah ia bisa hidup dengan menjalani kehidupan seperti itu? Sojinee merasa sangat jijik dengan Suku Chor No. Ia memberitahu mereka bahwa itu adalah kerjaan dari Yeon Ho-gae yang membayar para bajingan itu untuk memukuli mereka dan Damdeok bermain demi mereka karena mereka semua sedang terluka, dan sudah tak ada pemain cadangan yang tersisa lagi. Lalu Sojinee menendang Dal Gu dan mengatakan kalau ia tak ingin bertemu dengan mereka lagi. Tapi justru dengan demikian, Sou Duru, yang sebelumnya sudah ragu-ragu mengambil keputusan untuk meninggalkan Damdeok, sekarang menjadi semakin ragu-ragu lagi.

Lalu tampak Damdeok sedang berkuda menuruni bukit, diikuti oleh Sojinee … dan kemudian diikuti oleh yang lainnya. Damdeok menoleh ke belakang dan melihat mereka semua, tampak wajah Damdeok terkejut tapi kemudian berubah menjadi sangat senang, bahagia karena melihat mereka … meskipun ia tak mengatakan apapun, karena ia percaya bahwa semua orang di belakangnya ini mempercayai dirinya dan setia. Ia bisa mempercayai mereka.

Kontras dengan pengalaman yang dialami oleh Damdeok sebelumnya, di mana ia merasa sangat sedih karena bahkan para pengawalnya yang seharusnya  melindungi dirinya, berbalik melawannya, jadi ia merasa sendirian di dunia ini.

Tangan kanan Yeon Garyo pergi menemui kepala suku Gwan Ro dan memberitahunya bahwa ia tahu di mana keberadaan anaknya. Mereka dikurung id satu tempat milik Raja, di dalam Goongnaeseong. Pangeran dan suku Chor No sekarang dalam perjalanan untuk membunuh ketiga anak dari para kepala suku. Tentu saja si kepala suku sangat marah dan segera bersiap pergi untuk menyelamatkan anaknya.

Pada saat yang bersamaan, para penduduk desa Geo-mool juga sedang bergerak.

Kelompok Damdeok mencapai tempat di mana anak-anak dari ketiga kepala suku ditahan. Ketika melihat mereka, sebuah sinyal pertanda dikirim oleh anggota Hwacheon dan ketiga anak kepala suku dibunuh. Saat kelompok Damdeok tiba dan melihat mayat ketiga orang itu, Sou Du-ru segera menyadari bahwa ini adalah jebakan … untuk memancing Damdeok dan mereka ke tempat ini.

Kepala suku Gwan Ro muncul dan tentu saja berpikir kalau kelompok Damdeok telah membunuh anaknya. Damdeok tahu kalau tidak ada gunanya ia mengatakan apapun. Si kepala suku bersumpah akan membunuh Damdeok untuk membalaskan dendam kematian anaknya. Sou Duru mendesak Damdeok untuk melarikan diri … tapi Damdeok ragu-ragu sejenak, mungkin ia sedang menimbang-nimbang, apakah ia harus tinggal untuk menjelaskan hal yang sebenarnya (berarti ia bertindak sebagai pria sejati) atau melarikan diri (yang mana ia bertindak seperti seorang pengecut). Tapi akhrinya Damdeok memutuskan untuk pergi, dikejar oleh pasukan di belakang mereka dan terkepung saat di hutan. Tampaknya sudah tidak ada jalan keluar lagi dan mereka pasti mati, tapi tiba-tiba kabut muncul membuat semua orang tak dapat melihat jelas. Orang-orang dari desa Geo-mool telah tiba! Dan menggunakan sihir mereka untuk menyelamatkan kelompok Damdeok!

Sou Duru sangat khawatir kalau-kalau Raja mungkin berada dalam bahaya, karena pasti para kepala suku berpikir anak mereka telah dibunuh oleh Damdeok. Damdeok bertanya apakah Suku Chor No dapat tiba di Istana malam itu juga tapi Sou Duru berkata kalau mereka butuh 2 hari.

Damdeok bertanya padanya apakah ia tahu Daejasong (kelihatannya satu tempat di kediaman Pangeran Mahkota). Mereka bisa berdiam dan merencanakan sesuatu di sana.

Sojinee bermaksud untuk mengikuti mereka tapi Damdeok menghentikannya. Ini adalah pertama kali ia memanggil nama Sojinee. Damdeok memberitahunya agar kembali ke Goongnaeseong dan mencari tahu situasi di sana … dan “Kumohon padamu bantulah aku ..”

Si pria pendek bertanya ke mana kelompok Damdeok akan pergi, dan Sojinee mengatakan kalau dirinya ada sesuatu yang penting yang harus dilakukan, dan meminta si pria pendek untuk memberitahu gurunya (Hyon-go) mengenai kepergiannya.

Ketika kelompok Damdeok pergi, ternyata mereka sedang diawasi oleh seorang anggota dari Hwacheon.

Dae Jangro memberitahu Ho-gae bahwa Damdeok dan Suku Chor No  telah berhasil melarikan diri lagi. Ia mengatakan kalau ia tahu Ho-gae menginginkan darah Damdeok di pedangnya. Dae Jangro berjanji bahwa ia dan ke-tiga suku akan membuatnya menjadi Raja, tapi untuk itu mereka harus membunuh Damdeok dulu.

Ho-gae kemudian pergi disertai oleh orang-orang dari Hwacheon.

Dae Jangro bergumam bahwa harinya akan segera tiba … Malam itu (17 tahun lalu), jika saja ia mendapatkan semua ke-4 simbol dewa, Hwacheon lah yang akan menjadi berkuasa … Kemudian ia bertanya-tanya di mana Yeon Garyo.

Pada saat itu, Yeon Garyo sedang menyerahkan semacam surat pada anakbuahnya.

Kepala Suku Gwan Ro kembali dengan membawa kembali jenazah anaknya dan kedua anak kepala suku yang lain. Ia menempatkan mereka di depan Istana. Kak-dan melihat ini dan melaporkannya pada Raja.

Pasukan ke-3 suku masuk menyerbu Istana sementara para pengawal Kerajaan berlarian untuk menggabungkan diri, karena jumlah mereka kalah dengan para penyerang. Kak-dan memberitahu kepala pasukan pengawal bahwa prioritas utama mereka adalah melindungi keselamatan Raja.

Ke-3 kepala suku meminta bertemu dengan Raja dan Pangeran Mahkota, ingin bertanya mengenai kematian anak-anak mereka. Pendeta Tinggi mengatakan bahwa kehendak Langit tak bisa diubah! Ke-3 kepala suku meminta agar pintu dibukakan.

Damdeok dan yang lain tiba di Daejasong.

Ho-gae juga tiba dengan orang-orang dari Hwacheon.

Damdeok menemukan kalau pintu Daejasong ternyata tertutup ….

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s