The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 09

Yeon Ga Ryeo dan Dae Jang Ro sedang bercakap-cakap mengenai kepergian Damdeok menuju ke Daejasong, dan bagaimana ke-3 suku menghadapi Raja dan pasukannya. Yeon Ga Ryeo bertanya apa yang akan dilakukan oleh Dae Jang Ro untuk lepas dari masalah itu? Dae Jang Ro menjawab kalau ia hanya melakukan tugasnya.

Sa Ryang memimpin semua anakbuahnya menuju ke dalam Istana dan mulai membunuhi semua prajurit. Seorang prajurit yang sekarat berhasil membunyikan terompet tanda bahaya. Semua orang mendengar suara terompet itu dan mengetahui kalau Istana sedang diserang. Banyak prajurit berbondong-bondong kembali demi melindungi Raja tapi mereka bukan tandingan dari Sang Ryang dan anakbuahnya.

Kak-dan juga rekan-rekan wanitanya segera bergegas kembali dan memulai pertempuran dengan musuh.

Ki-ha juga mendengar suara terompet itu dan ingin meninggalkan ruangannya, namun ia dijaga dengan ketat. Ki-ha kemudian menaruh satu tangannya di Jantung Joojak dan langsung dipenuhi dengan kekuatannya. Ia melayang dan segera terbang, kekuatannya menyapu semua penjaga sehingga terjatuh.

Kak-dan tiba dan meminta Raja menuju ke Taeshil  untuk bersembunyi di sana.

Ki-ha sampai di Istana dan menemukan kalau semua prajurit telah tewas dan para anggota Hwacheon mencoba untuk menyerang Raja dan Kak-dan. Ia kemudian menjatuhkan beberapa anggota Hwacheon hanya dengan mengguankan jubahnya. Sang Ryang tiba dan melihat Ki-ha sehingga tidak menyerang lebih lanjut. Tampaknya Sang Ryang sangat setia pada Ki-ha (ataukah itu rasa cinta?)

Raja, Kak-dan, dan Ki-ha sampai di Taeshil. Raja meminta agar semua pengiringnya juga masuk. Tapi Kak-dan mengatakan kalau hanya Raja dan mereka yang menjadi wakil Langit (termasuk Ki-ha karena dari Shindang, dan juga mereka melihat kekuatannya saat ia menjatuhkan semua anggota Hwacheon) yang boleh masuk. Kak-dan mempercayakan keselamatan Raja pada Ki-ha.

Kak-dan mengalami pendarahan dan ia tidak tahu sampai rekannya memberitahu.

Raja mengatakan kalau ia tahu bahwa Ki-ha adalah teman Damdeok sejak kecil. Dan Ki-ha pernah menyelamatkannya saat ia diracuni beberapa tahun lalu bahkan sekarang juga menyelamatkannya.

Ki-ha mengiyakan, dan karena itulah ia harus melindungi Raja hari ini, tak peduli apapun. Ia akan membawa Raja keluar dari Gooknaeseong, di mana Pangeran Mahkota sedang menunggu kedatangan mereka. Raja kemudian bertanya apakah ini ide dari Pangeran Mahkota bagi mereka untuk melarikan diri? Ki-ha menyangkalnya tapi mengatakan kalau Damdeok memberitahunya Gooknaeseong sudah tidak aman bagi mereka saat ini. Mereka bisa hidup di suatu tempat yang jauh. Ki-ha mungkin mengambil keputusan untuk hidup dengan damai di samping Damdeok.

Raja mengatakan kalau ia juga menginginkan kehidupan seperti itu juga. Di dalam hatinya, ia ingin mereka semua pergi ke tempat yang jauh dan hidup tanpa rasa cemas. Betapa ia berharap ia bisa mengatakan hal itu. Raja yang sungguh malang, ia sebenarnya tidak ingin menjadi Raja, namun terpaksa menjalaninya disebabkan ramalan Raja Jyooshin.

Ki-ha mengatakan kalau sudah tidak ada waktu lagi, mereka harus segera pergi sebelum fajar menyingsing.

Raja mengambil pedang Joomong dan mengatakan sungguh luar biasa bahwa pedang itu masih tetap bersinar selama beratus-ratus tahun. Ki-ha mendesaknya untuk segera meninggalkan Istana.

Lalu Raja menunjuk sebuah vas bunga pada Ki-ha dan memintanya untuk membawakan vas itu padanya. Saat Ki-ha berbalik, Raja menusukkan pedang Joomong pada dirinya sendiri.

Ki-ha sangat terkejut dan segera bergegas menghampirinya.

Raja: Anakku dilahirkan di bawah Bintang Jyooshin. Kau dan aku tak bisa menghentikan ramalan ini.

Dengan napasnya yang tinggal satu-satu, Raja mengatakan bahwa anaknya, Damdeok, tak bisa melarikan diri dari takdirnya, dan Ki-ha harus menjauh dari Damdeok. Lalu ia meminta maaf pada Ki-ha.

Ki-ha dan  Raja yang malang. Tahu bahwa anaknya dan Ki-ha saling mencintai tapi ia harus menghentikan tali kasih mereka karena Damdeok adalah sang Raja Jyooshin dan tak dapat lari dari takdirnya hanya karena seorang wanita.

Ki-ha berusaha menyelamatkan Raja dan menarik pedang Joomong dari tubuhnya, tapi pada saat itulah, Kak-dan membuak pintu dan melihat perbuatannya. Kesalahpahaman yang berbuah tragedi. Kak-dan berpikir bahwa Ki-ha lah yang telah membunuh sang Raja.

Raja memberitahu Kak-dan bahwa ia harus membawa pedang Joomong pada Pangeran Mahkota dan membertiahu bahwa jika Damdeok ingin membalaskan dendam atas kematiannya maka ia harus menjadi Raja Jyooshin.

Kak-dan sangat marah dan mencoba untuk menyerang Ki-ha namun Ki-ha dilindungi oleh pelindung sihir.

Kak-dan: Siapa orangnya? Siapa yang mengirimmu? Yeon Garyeo? Jangan katakan padaku kalau itu dia!

Kak-dan berusaha berulangkali untuk membunuh Ki-ha, yang tampak pasrah, namun selalu dihentikan oleh pelindung sihir. Lalu pada usahanya yang terakhir, Kak-dan tertusuk oleh pedang Joomong sendiri. Lalu munculah Dae Jang Ro.

Dae Jang Ro memberikan ucapan selamat pada Ki-ha karena telah menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, tapi Ki-ha berulangkali mengatakan kalau itu bukanlah hasil perbuatannya, bukan ia yang melakukannya. Lalu Dae Jang Ro menaruh tangannya pada bahu Ki-ha dan Ki-ha pingsan.

Lalu tiba0tiba, semua lilin di depan ke Empat Simbol Dewa menyala terang.

Semua anggota Hwacheon meninggalkan Istana. Sojinee sampai dan menemukan kalau semua orang telah tewas kecuali Gam Dong.

Sojinee: Apa yang terjadi? Bagaimana dengan Raja?

Kak-dan dan dua orang wanita rekannya keluar, Kak-dan terluka parah. Ia tetap diam ketika Sojinee bertanya mengenai Raja. Mereka langsung tahu kalau Raja pasti sudah mati. Kak-dan mengatakan bahwa ia harus menemukan Pangeran Mahkota dan menyampaikan kata-kata terakhir Raja. Sojinee mengatakan kalau Pangeran Mahkota ada di Daejasong.

Lalu Hyon-go dan si pria pendek muncul. Sojinee memberitahu gurunya kalau ada sesuatu yang harus ia lakukan dan akan menmui Pangeran Mahkota. Tapi Hyon-go memberitahu Sojinee bahwa orang-orang dari Geo-mool tak bisa ikut campur dalam politik Goguryeo. Ia mencoba untuk menghentikan Sojinee. Sojinee tentu saja tak mau mendengarkannya dan tetap pergi.

Hyon-go berteriak pada Sojinee, mengapa ia turut campur dalam masalah ini? Hyon-go kemudian memerintahkan rekannya si pendek untuk membawa Gam Dang kembali ke desa.

Hyon-go menggerutu bahwa ia tak dapat memahami apa yang sedang terjadi di Istana dan hubungan antar anggota keluarga Raja, Hwacheon, Yeon Ho-gae, dll … hehehe apa benar si Hyon-go ini reinkarnasi dari Hyunmoo ya? Padahal Hyunmoo itu seharusnya adalah pemimpin dari 4 Dewa! Sojinee merasa berisik dan memberitahu gurunya untuk berhenti berbicara, mereka harus segera bergegas.

Kelompok Damdeok tiba di Daejasong dan menemukan kalau pintu gerbangnya tertutup. Ia berteriak bahwa ia Pangeran Mahkota Damdeok dan sedang diburu oleh musuh-musuhnya. Ia meminta pintu gerbang untuk dibukakan.

Pintu gerbang tetap tertutup dan para prajurit muncul dengan busur mereka terpasang anak panah mengarah pada kelompok Damdeok. Kapten mereka memberitahu pihak Damdeok untuk meletakkan senjata mereka sebaelum mendekat. Damdeok dan yang lainnya menoleh ke belakang dan melihat kalau musuh-musuh mereka sedang bersembunyi di balik bayangan hutan. Damdeok tahu kalau pihaknya akan segera diserang jika mereka meletakkan senjata. Sou Du-ru berteriak bahwa Prajurit Goguryeo tak akan pernah meletakkan senjata mereka walaupun sudah mati.

Lalu anakbuah Yeon Garyeo muncul di benteng itu dan bertanya apakah Damdeok masih mengingatnya. Ia mengatakan bahwa hari ini, ke-4 suku telah menandatangani persetujuan dengan Shindang, bahwa siapapun yang melihatnya, sang Pangeran Mahkota, harus menangkap dan membawanya kembali ke Shindang. Maka dari itu Kapten Daejasong hanya menjalankan perintah saja. Tampaknya inilah maksud dari surat itu, Yeon Garyeo telah membuat surat palsu yang diberikan pada si Kapten.

Damdeok bertanya pada yang lain untuk segera turun dari kudanya dan menggunakannya untuk perlindungan. Ia kemudain memacu kudanya ke gerbang dan memanah pada si Kapten dan juga anak buah Yeon … berteriak bahwa panah ini diberikan padanya oleh Raja Sosurim saat ia masih berumur 13 tahun. Panah itu hampir saja mengenai si Kapten dan juga anak buah Yeon, memadamkan satu dari lentera. Kedua orang itu sebenarnya sangat ketakutan. Kemudian Damdeok menghunuskan pedangnya dan melemparkannya ke arah mereka berdua, menusuk di tengah2 papan penanda.

Dengan tangannya yang terentang tanpa memegang senjata, ia berteriak, “Aku adalah Pangeran dari Goguryeo. Apakah kau masih takut padaku?”

Si anak buah Yeon menuduh kalau Damdeok berbohong dan tidak mungkin ia datang hanya dengan segelintir orang saja, pasti ia membawa sepasukan besar untuk mengambil alih benteng ini.

Si Kapten memerintahkan prajurit untuk memanah api berapi ke arah hutan, dan Ho-gae serta pasukannya terlihat. Kapten itu percaya bahwa Damdeok benar-benar membawa pasukan dengannya demi melakukan pemberontakan dan mengambil alih benteng.

Ho-gae berkomentar bahwa ayahnya adalah orang paling cerdik di Goguryeo dan telah merencanakan semua ini dengan baik. Tidakkah lebih baik bagi seorang cerdik seperti dirinya untuk menjadi Raja daripada seseorang yang hanya mengandalkan kelahirannya di bawah sebuah bintang?

Seorang dari Hwacheon bertanya pada Ho-gae bertanya kalau begitu apa yang ingin dilakukannya? Apakah ia ingin menunggu para prajurit keluar dari benteng itu dan menangkap Damdeok? Tapi Ho-ga mengatakan, “Aku telah memulai ini karena aku sudah tak bisa menunggu lebih lama lagi!”. Lalu ia segera mengambil sebuah anak panah dan mengarahkannya pada Damdeok.

Panah Ho-gae membuat Damdeok terjatuh dari kudanya. Lalu anggota Hwacheon yang lainnya segera memanah pihak Damdeok. Pihak Damdeok segera berkumpul dan  membuat perlindungan, tapi beberapa di antara mereka terluka. Damdeok, mendengar teriakan kesakitan dan melihat anakbuahnya terluka, segera berdiri, dan tanpa perlindungan ataupun senjata, berjalan menuju ke arah Ho-gae.

Ho-gae memanah pada Damdeok tapi hanya sedikit darah yang keluar.

Kapten benteng Daejasong yang melihat ini, menanyai anakbuah Yeon karena ia yang mengatakan kalau pasukan di hutan itu di pihak yang sama dengan Pangeran Mahkota.

Kelompok Kak-dan mencapai Daejasong.

Dua petugas berkuda melewati kelompok Jenderal Kho, yang kemudian menyuruh anakbuahnya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Damdeok berjalan menuju ke arah Ho-gae, hanya dengan 3 orang dari suku Chor No yang mengikuti di belakangnya.

Damdeok meminta Ho-gae untuk mengakhiri semuanya di sini, bukankah Ho-ga hanya menginginkan kematiannya? Sou Du-ru sangat marah dan bertanya mengapa Damdeok berbicara pada seorang pengkhianat? Ho-gae mengatakan karena semuanya sudah terlambat karena mereka telah melihat mukanya dan karena itu ia harus mengurus mereka juga.

Ho-gae sangat marah dan berteriak pada Damdeok, menyebutnya sebagai pembunuh ibunya.

Damdeok: “Kalau demikian, balaskan dendam ibumu! Jika kau adalah seorang prajurit Goguryeo, lakukanlah dengan kedua tanganmu sendiri. Atau kau tidak bisa melakukannya sendiri?”

Sou Du-ru mencoba untuk menghentikan Damdeok, tapi Damdoek justru yang menghentikan usahanya itu. Lalu Damdeok mematahkan panah yang menancap di tubuhnya dan menatap tajam pada Ho-gae, menantangnya.

Ho-gae mengambil pedangnya dan juga memberitahu anakbuahnya untuk tidak ikut campur.

Pertarungan yang sengit terjadi antara keduanya. Semua orang menahan napas saat melihat pertarungan itu saking terpesona sekaligus merasa tegang. Keduanya dipenuhi hawa membunuh.

Kelompok Sojinee datang dan melihat pertarungan itu. Sojinee ingin menyerbu dalam pertempuran itu untuk membantu tapi Hyon-go berhasil menghentikan niatnya itu. Hyon-go mengatakan kalau mereka tidak boleh ikut campur dalam politik Goguryeo. Mereka hanya bersumpah setia pada Raja Jyooshin dan tidak pada yang lainnya.

Kak-dan mengendari kereta ke tengah pertampuran itu sendirian dan Sojinee segera meloncat ke dalamnya diikuti dua orang pejuang wanita lainnya. Hyon-go tetap tinggal karena ia tidak ingin terlibat tapi ia merasa sangat khawatir dengan Sojinee, jadi ia berada dalam dilema. Sojinee berhasil menyandera Ho-gae, mengancamnya dengan panah beracun pada lehernya. Ia menyuruh Ho-gae untuk menarik mundur orang-orangnya.

Damdeok melihat Kak-dan dan bertanya, “Mengapa kau di sini? Bagaimana dengan Istana?”

Kak-dan, “Aku, Kak-dan, Pemimpin dari Pasukan Ke-tiga, menyampaikan pada Pangeran Mahktoa, kata-kata terakhir dari Raja!”

Damdeok sangat terkejut, “Kata-kata terakhir?”

Semua sangat terkejut mendengar kata-kata Kak-dan tak terkecuali dengan Ho-gae.

Kak-dan menyerahkan pedang Joomong pada Damdeok dan memberitahunya kata-kata terakhir dari Raja, yang mana Damdeok harus menjadi Raja Jyooshin jika ingin membalaskan kematian ayahnya. Kak-dan juga memberitahu kalau Raja diburu oleh musuh-musuhnya sepanjang malam dan bersembunyi di Taeshil bersama dengan Ki-ha, tapi Ki-ha membunuhnya.

Pada titik ini, baik Damdeok dan Ho-gae tampak terkejut. Damdeok tak bisa mempercayai itu dan menyebut Kak-dan berbohong. Kak-dan mengatakan kalau ia melihat Ki-ha menarik pedang keluar dari tubuh Raja. Damdeok benar-benar merasa terkejut tak terkira, dan menolak untuk mempercayainya. Kak-dan dengan napas terakhirnya mengatakan bahwa ia telah menyelesaikan tugasnya.

Semua orang sangat sedih dan terkejut. Sojinee menarik tangannya dari leher Ho-gae. Ho-gae terhuyung mundur tak percaya mendengar berita itu.

Pada saat itulah semua anggota Hwacheon mulai memanahi Damdeok. Dan Sojinee, melihat tindakan mereka, menjadi orang pertama yang melemparkan dirinya di depan Damdeok, menutupi dan melindunginya. Lalu yang lain menyusul, melindungi Damdeok sampai mereka semua bergerombol. Sou Du-ru menjadi orang yang paling banyak terpanah mencoba untuk melindungi Damdeok.

Ketika Hwacheon sedang mendekati Damdeok, dan kelihatannya tak mungkin ada jalan lolos baginya kali ini, tongkat Hyon-go (Simbol Hyunmoo) menjadi bercahaya.

Selarik sinar keluar dari tongkat itu dan melingkupi kelompok Damdeok dalam kubah cahaya.

Suara: Ketika hati Raja Yang Dijanjikan dipenuhi dengan amarah yang  meluap-luap, Simbol Hyunmoo akan bangkit. Waktu akan berhenti, namun ada seseorang di dalamnya yang akan bangkit. Dia adalah …. Raja Jyooshin!”

Saat itu seperti tidak nyata dan sangat magis, waktu berhenti.

Damdeok tidak memahami apa yang sedang terjadi. Ia berdiri dan melihat kalau semua orang dan semua benda berhenti di tempatnya. Lalu kemudian Hyon-go masuk ke dalam kubah cahaya itu dengan tongkatnya yang bersinar.

Hyon-go: Aku adalah Hyon-go, pemimpin ke-72 dari Desa Geo-mool. Hyunmoo, yang pertama dari Empat Sombol, bersama dengan Joojak (Phoenix Merah), Chung Ryong (Naga Biru), dan Baekho (Harimau Putih), memiliki tanggungjawab untuk menemukan sang Raja. Simbol Hyunmoo telah bersama-sama dengan kami selama beribu-ribu tahun. Sekarang, aku telah menemukan dirimu, sang Raja Jyooshin, dan aku memberikan salam padamu atas nama dari Desa Geo-mool.

Lalu Hyon-go menekukkan lututnya di hadapan Damdeok.

Ketika Jenderal Kho dan pasukannya menuju ke arah Daejasong, mereka melihat Ho-gae (bertopeng muka) bersama dengan orang-orang dari Hwacheon meninggalkan tempat itu.

Jenderal Kho tiba di Daejasong dan melihat jenazah-jenazah sudah  dibariskan dengan rapi. Tubuh Kak-dan ditutupi dengan pakaian luar Damdeok.

Kapten Benteng Daejasong menyeret anakbuah Yeon keluar dan mengatakan kalau ini semua kesalahan dari anakbuah Yeon yang telah berbohong mengenai Pangeran Mahkota.

Jenderal Kho: Di mana Pangeran Mahkota? Di mana ia sekarang?

Dal Gu menjawab kalau Pangeran telah pergi. Ia sudah lama pergi saat mereka bangun, menghilang seperti angin. Ia tak dapat melihat apapun.

Kapten memberitahu Jenderal Kho apa yang terjadi, bahwa ada cahaya yang menyilaukan mata dan ia harus menutup matanya, tapi ketika ia membuka mata, semua jenazah itu sudah terbaris rapi dan beberapa baris kata dituliskan di pasir. Kapten sangat kesal dan marah pada dirinya sendiri karena ia tidak membukakan gerbang bagi Raja Jyooshin. Bahkan anakbuah Yeon pun nampak sangat terkejtu.

“Mereka ini adalah bawahan yang setia dari Jyooshin dan mati demi melindungi nyawa Raja mereka.”

Itu adalah kata-kata yang tertuliskan di pasir

Yeon Garyeo tiba di Taeshil dan tampak terkejut dengan apa yang dilihatnya …

Joomochi sedang menggoda Ba-son mengenai cara makannya. Kalau ia seperti ini bukankah ia akan mati kekenyangan? Ba Son mengatakan kalau ia tak akan mati sebelum berhasil membalaskan dendam, karena itu ia akan terus hidup.

Seroang wanita, dari kediaman Yeon yang suaminya dibunuh Sa Ryang saat membebaskan tahanan, pingsan di dekat mereka. Ba Son bertanya pada Joomochi apa yang telah ia lakukan pada wanita itu … si Joomochi yang malang terus menggelengkan kepalanya ….

Ba son mencoba untuk membujuk wanita itu untuk makan, kalau tidak ia akan mati. Kemudian Ba Son memberitahunya kalau ayahnya juga telah dibunuh tapi ia terus melanjutkan hidup dan makan, jadi ia dapat membalaskan dendam kematian ayahnya. Tapi wanita itu justru menangis.

Anakbuah Yeon memberitahu Yeon apa yang terjadi di Daejasong … mengenai cahaya terang dan bagaimana semua jenazah telah berbaris rapi ketika ia membuka matanya. Kemudian ia bertanya-tanya apakah Ho-gae benar-benar sang Raja Jyooshin? Atau sebaliknya, mungkinkah justru Damdeok lah sang Raja Jyooshin?

Yeon Garyeo menyuruhnya untuk berhati-hati dengan pa yang ia ucapkan.

Dae Jangro meminta Sang Ryang agar menemukan Pangeran Mahkota dan juga Simbol Hyunmoo. Sa Ryang bertanya-tanya apakah Damdeok adalah sang Raja Jyooshin?

Pendeta Tinggi sedang melakukan ritual bagi Raja Gogookyang. Para prajurit (mengenakan seragam putih berkabung) mengumumkan kematian Raja pada rakyat.

Rakyat mendiskusikan mengenai kematian Raja dan mennggosip bahwa Damdeok lah yang telah membunuh ke-3 kepala suku dan kemudian Raja, karena ia ingin menjadi Raja meskipun seharusnya Ho-gae lah yang menjadi Raja.

Hyon-go, bersama-sama dengan Damdeok yang menjadi pendiam dan tergoncang, juga Sojinee yang terluka, dalam perjalanan kembali menuju ke Desa Geo-mool.

Semua penduduk desa berkumpul di halaman dan memberikan penyambutan atas kedatangan Hyon-go dan Damdeok. Kemudian Hyon-go memperkenalkan desa mereka pada Damdeok. Sojinee memberitahu Damdeok bahwa para penduduk sudah berkumpul dan memintanya untuk ceria sedikit karena mereka telah lama menunggunya.

Hyon-go: Semua rakyat desa Geo-mool berikan penghormatan kalian pada sang Raja!

Dan mereka semua berlutut di hadapan Damdeok … Damdeok mengawasi ke sekeliingnya … lalu ia tertawa dengan pahit …

Catatan: 

Aku rasa Raja Gogookyang tidak bermaksud memfitnah Ki-ha, ia hanya tidak ingin mereka berdua bersama-sama. Sebab Damdeok adalah Raja Jyooshin dan tidak boleh lari dari takdirnya itu hanya dikarenakan seorang wanita. Damdeok memiliki tanggungjawab dan tugas yang harus ia lakukan.

Selain itu mungkin juga alsan yang lain karena sang Raja tidak ingin Damdeok kembali ke Istana untuk menyelamatkannya. Resiko terlalu besar dan bisa-bisa Damdeok tertangkap atau terbunuh saat menyelamatkannya. Ia tak inign menjadi beban bagi Damdeok. Ia takut menjadi umpan memancing Damdeok untuk  keluar menyelamatkannya.

Iklan

8 comments on “The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 09

  1. emm… Jln crta’n terlalu tegang… Tpi taq ap lah… Untk mengsi wktu ku ksong..

    Koh andy.. Ad drama lain gak.? Yg crta’n hmpr sma dgn painter of the win at hur june.. Coz, 2 drma ni yg pling aq suka..

    Hehe

    • udah liat SKK (Sungkyunkwan Scandal) ? Lucu tuh … coba aja dibuka 😀 Yang ada di blogku ini yang cukup bisa menghibur kalian koq .. so coba aja baca semua .. apalagi gratis khan .. hehehe

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s