The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 10

Di dalam Kuil Abullansa, Yeon Garyeo dan Dae Jangro sedang bercakap-cakap, membahas mengenai sinar menyilaukan yang terjadi di  Daejasung dan bertanya-tanya kemana menghilangnya Dam Deok.

Yeon Ga Ryeo bertanya apakah motif  Dae Jangro yang sesungguhnya? Tampaknya Dae Jangro sendiri mulai menduga apakah Damdeok lah Raja Jyooshin yang sejati?

Yeon Garyeo marah dan mengatakan,  ”Apa maksud perkataanmu? Ho-gae lah Raja Jyooshin! Raja yang telah kita nanti-nantikan selama beribu-ribu tahun lamanya!”

Daejangro berkata bahwa  kelompok  Hwacheon juga telah menunggu selama 2.000 tahun dan tidak mungkin salah … Pada kenyataannya Dae Jangro sendiri sekarang tidak terlalu yakin apakah benar Ho-gae adalah Raja Jyooshin yang sejati ataukah justru Damdeok? Yeon Garyeo  menyadari kalau tidak bisa benar-benar sepenuhnya mempercayai Daejangro, yang tampaknya memiliki rencana terselubung.

Ho-gae  memimpikan  cahaya menyilaukan lalu Ia  terbangun dan menjadi sangat ketakutan. Ho-gae hatinya merasa tak tenang dan pergi ke luar bermaksud mencari udara segar, namun bertemu dengan Ki-ha.

Ki-ha berhasil menyelundup masuk ke kediaman keluarga Yeon dan sekarang meletakkan pedang di leher Ho-gae, mengancamnya dan bertanya apakah Ho-gae berhasil membunuh Damdeok? Ho-gae balik bertanya bagaimana kalau dirinya berhasil membunuh Damdeok? Apa yang akan Ki-ha lakukan padanya? Ki-ha menjawab bahwa dirinya akan membunuh Ho-gae demi membalaskan dendam kekasihnya.

Lalu Ho-gae memberitahu Ki-ha mengenai cahaya yang ia lihat di Daejasong dan saat itu ia tak bisa bergerak sama sekali. Ho-gae bertanya pada Ki-ha, apakah ia yakin kalau Damdeok lah Raja Jyooshin yang sejati?

Ho-gae terus menantang Ki-ha untuk menusuknya, karena jika Ki-ha adalah Joojak, jadi ketika Ki-ha menusuknya, jika Ho-gae benar-benar Raja Jyooshin, maka ia tidak akan mati, karena bukankah 4 Dewa adalah pelindung Raja Jyooshin?

Ho-gae merobek baju di dadanya, kemudian berseru pada Ki-ha, “Ini … di sini … tepat di jantungku … kau tusuklah … lakukanlah!”

Sementara itu di tempat Suku Chor No, semua yang telah tewas jenzahnya dikremasi. Jenazah mereka ditutupi dengan perisai dan tombak lalu di atasnya bendera hitam perlambang Suku mereka.

Hok-gae (Kepala Suku Chor No) menyalakan api dan berseru, “Mereka ini adalah para pahlawan pemberani dari Suku Chor No … Oh Raja-raja Jyooshin yang di Langit … Tan Gun dari Jyooshin … kumohon terimalah roh-roh mereka.”

Damdeok juga terbangun dalam kaget dan ketakutan … Mungkin karena mimpi buruknya .. Ia melihat ke sekeliling kamar lalu pandangan matanya tertuju pada pedang Joomong, dan kemudian ia mengingat semua yang telah terjadi.

Damdeok bangun dan berjalan keluar. Saat ia akan  membuka salah satu pintu, Sojinee datang menghentikannya dan mengatakan, “Jalan keluarnya di sisi yang lain”. Sojinee memberitahu Damdeok bahwa dirinya tahu kalau Damdeok terbangun maka Damdeok akan segera pergi keluar. Karena itulah ia menunggu Damdeok di sini. Sojinee menyarankan pada Damdeok untuk berbicara dengan para tetua Desa Geo-mool, karena mereka itu memiliki pengetahuan yang cukup luas dan banyak perkara yang tidak luput dari pengamatan mereka.

Desa Geo-mool menjadi hiruk-pikuk karena kedatangan Damdeok. Mereka terus memberitahu Damdeok kalau ia tidak bisa kembali lagi ke Gooknaeseong apalagi ke Istana Raja. Musuh-musuhnya sedang berkeliling ke mana-mana mencarinya sekarang ini. Juga beredar isu yang mengatakan bahwa Damdeok telah mengadakan persekongkolan dengan Suku Chor No untuk menculik anak-anak ke-tiga kepala suku dan kemudian membunuh mereka. Lalu setelah itu ia membunuh ayahnya, Raja Gogookyang, karena ingin menjadi Raja. Yeon Ho-gae tidak berhasil membunuh Damdeok di Daejason jadi Ho-gae sekarang juga tengah mencarinya.

Damdeok sangat sedih dan bertanya mengapa semuanya bisa menjadi seperti ini? Hyon-go memberitahu Damdeok bahwa semua rumor itu akan menjadi “benar” seandainya Damdeok mati tapi bukankah sekarang ia masih hidup? Maka perlahan-lahan Damdeok bisa mencari bukti-bukti untuk menyangkal semua rumor dan tuduhan yang diarahkan padanya.

Hyon-go juga terus menyebut Damdeok, Raja (임금). Damdeok bertanya, “Mengapa? Mengapa kau terus saja memanggilku Raja?” Ia tidak ingin menjadi seorang Raja. Bukankah ayahnya masih hidup dan dialah sang Raja. Tapi Hyon-go memberitahu Damdok kalau ayahnya, Raja Gogookyang telah wafat. Damdeok menolak mempercayainya dan berkata kalau diriya harus melihat jenazah ayahnya dengna mata kepalanya sendiri. Hyon-go memberitahunya bahwa Raja telah mati, dibunuholeh Ki-ha, yang ternyata adalah anggota Hwacheon. Tampaknya Hwacheon juga sedang menunggu Raja Jyooshin untuk muncul.

Damdeok mencekal baju Hyon-go dan mengatakan, “Jangan panggil aku dengan sebutan itu!”

Tapi Hyon-go menyahut, “Kau masih tidak tahu? Simbol Dewa Hyunmoo milik Desa Geo-mool tidak melayani Raja Goguryeo … Dia melayani Raja Jyooshin!”

Damdeok sangat kacau hatinya dan berseru pada Hyon-go, bahwa dirinya sendiri yang hidup sementara semua orang mati gara-gara ingin melindunginya. Ia ingin sekali meninggalkan ayahnya, kerajaan ini, dan hidup dengan tenang bersama wanita yang ia cintai. Bagaimana bisa ia ditakdirkan menjadi Raja?

Lalu Damdeok memberitahu mereka untuk mencari orang lain saja, yang sangat menginginkan untuk menjadi seorang Raja dan meminta mereka untuk membiarkannya sendiri, Damdeok kemudian berjalan pergi dengan marah. Damdeok benar-benar merasa bersalah karena telah menyebabkan kematian banyak orang: Sou Duru, Kak-dan, bahkan ayahnya.

Sojinee segera mengintil di belakang Damdeok, dan Hyon-go tak mampu menghentikan gadis bengal itu. Kelihatannya Sojinee benar-benar menyukai Damdeok …

Di dalam Kuil Peramal, Yeon Garyeo datang mencari Pendeta Tinggi, yang bertanya apa yang Yeon Garyeo inginkan. Yeon Garyeo memberitahu Pendeta Tinggi untuk tidak perlu cemas, Raja sudah mati, rakyat sedang berduka dan ke-tiga kepala suku tidak akan menyerang lagi. Yeon berusaha membujuknya untuk bekerja sama namun Pendeta Tinggi mengatakan kalau ia tetap pada perkataannya semula, bahwa Damdeok lah Raja Jyooshin. Yeon Garyeo berusaha mengancamnya dengan mengatakan kalau ia akan menyerang Shindang jika Pendeta Tinggi tak mau menuruti keinginannay. Tapi Pendeta Tinggi tak bergeming sedikitpun.

Kapten Benteng Daejasong (Song Ju) dan anakbuah yeon muncul di Istana. Semua orang sedang menunggu. Ke-3 kepala suku berteriak dan ingin tahu di mana keberadaan Damdeok sekaragn. Yeon Garyeo bertanya pada ketiganya mengenai apa yang terjadi di Daejasong. Song Ju (Kapten Daejasong) terlihat berusaha membela diri dengan mengatakan kalau itu kesalahan dari anakbuah Yeon. Ia berusaha menjelaskan alasan mengenai mengapa ia tak membukakan pintu gerbang Daejasong. Anakbuah Yeon kemudian menyebutkan kalau sebuah pedang diserahkan pada Damdeok. Yeon Garyeo bertanya pedang apa itu? Song Ju menjawab kalau itu adalah Pedang Joomong. Semua orang sangat terkejut mendengar ini dan kemudian Yeon Garyeo bertanya, bukankah Pedang Joomong disimpan di dalam Taeshil? Mengapa diserahkan pada Pangeran Mahkota?

Pedang Joomong diletakkan di dalam Taeshil dan siapapun yang tidak memiliki darah keturunan raja tidak dapat memasukinya. Yeon Garyeo menduga kalau Damdeok lah yang membunuh Raja Gogookyang di dalam Taeshil. Kemudian semua menteri dan kepala suku mulai berseru dan berteriak di mana sekarang Damdeok, yang seharusnya menjawab semua pertanyaan mereka ini sekarang.

Yeon Garyeo mengusulkan bahwa Damdeok harus diturunkan dari posisinya sebagai Pangeran Mahkota dan juga semua permasalahan kerajaan akan diputuskan oleh ke lima suku sampai Damdeok ditangkap dan kebenaran diungkapkan. Yeon Garyeoh bertanya apakah ada yang berkeberatan atas usulnya, dan perlahan-lahan, satu persatu, semuanya menyetujui usulnya.

Tak lama setelah itu, satu perintah penangkapan Damdeok ditetapkan. Dakwaannya adalah Damdeok telah membunuh Raja. Semua orang membicarakan hal ini dan berkomentar bahwa Damdeok seharusnya dihukum karena telah membunuh ayahnya sendiri. Damdeok yang berjalan di pasar, mendengar ini saat ia lewat. Sojinee masih mengintil dekat di belakangnya.

Damdeok memberitahu Sojinee untuk kembali karena dirinya sudah tak punya hubungan lagi dengan pihak Sojinee (Desa Geo-mool). Tapi Sojinee menjawab kalau dirinya sudah berpikir mengapa dirinya mengikuti Damdeok, tapi tak menemukan jawabannya. Tapi Sojinee mengatakan kalau ia bisa memahami mengapa Damdeok tidak ingin agar dirinya mengikuti ataupun peduli pada Damdeok. Damdeok pasti takut kalau dirinya juga terbunuh seperti orang-orang dari Suku Chor No.

Sojinee kemudian bertanya pada Damdeok, kemana ia mau pergi pertama-tama … Shindang (di mana ayahnya dikubur) atau ingin bertemu dengannya (Ki-ha) terlebih dahulu? Tampaknya Sojinee benar-benar bisa memahaminya. Sojinee mengatakan kalau dirinya tak pernah pergi memasuki Cheonji Shindang sama sekali tapi wanita itu (Ki-ha) sekarang ada di kediaman keluarga Yeon dan ia bisa membawanya pada Damdeok. Tapi apakah itu tidak apa-apa?, tanya Sojinee. Damdeok bertanya apa maksudnya dengan pertanyaan itu. Sojinee menjawab bahwa menurut gurunya, Ki-ha adalah anggota Hwacheon dan ia bisa saja menbunuh Sojinee dulu baru membunuh Damdeok, seperti ia telah membunuh ayah Damdeok.

Damdeok jelas marah mendengar tuduhan ini. Ia berkata, “Kau dan gurumulah yang tidak kupercayai! Wanita itu, Ki-ha adalah orang yang kupercayai dengan hatiku!” Dan kemudian Damdeok berjalan pergi dengan hati kesal dan marah. Wajah Sojinee tampak sedikit keceswa dan sedih mendengar perkataan Damdeok.

Joomochi dan kelompoknya sedang berjalan-jalan saat ia melihat Dalhee (wanita yang suaminya dibunuh oleh Sa Ryang). Dalhee, yang sedang memeluk sepatu suaminya. Saat itu Ba Son sedang memasak tapi ia bukanlah tukang masak yang baik karena saat dirinya mencicipi masakannya sendiri hampir saja ia muntah.

Ba Son mengeluh karena Joomochi makan terlalu banyak dan bertanya apakah ia manusia?

Ba Son kemdian mengambil sekeranjang bola-bola nasi pada Dalhee dan mendesaknya untuk makan. Dalhee bahkan menanyainya apa yang ingin dimakan Ba Son?

Joomochi kemudian merebut keranjang bola-bola nasi itu, mengatakan kalau ia akan memberikan itu pada Desa Geo-mool. Seakan-akan ingin menyindir kalau orang yang ingin mati tidak seharusnya makan. Saat Ba Son dan Joomochi saling berdebat, sebuah bola nasi terjatuh ke tanah. Dalhee melihatnya, perlahan-lahan bangun dan mengambil bola nasi yang kotor itu dan mulai memakannya. Ba Son dan Joomochi melihatnya dengan terkejut. Lalu Dalhee meminta air dan Joomochi, dengan gugupnya, segera meminta air pada semua orang kemudian ia sendiri pergi mencari air untuk Dalhee.

Anakbuah Joomochi kembali dan memberitahu mereka apa yang terjadi di Daejasong … mengenai Pangeran Mahktoa yang diserang. Ba Son sangat cemas dengan keadaan Sojinee, anakbuah Joomochi mengatakan kalau keduanya, Pangeran Mahkota dan Sojinee, menghilang tapi orang-orang dari Suku Chor No, yang dulu mereka selamatkan, tealh terbunuh semua.

Damdeok tiba di Shindang dan dihentikan oleh seorang penjaga. Ia berkata, “Ayahku ada di dalam sana. Aku ingin melihatnya!”

Sojinee berhasil menyusup masuk ke dalam kediaman Yeon dan menemukan kamar Ki-ha. Ia berdiri di luar, mendengarkan percakapan antara Ki-ha dan Dae Jangro.

Ki-ha mengatakan bahwa tidak ada perlunya bagi Dae Jangro untuk melakukan semua ini karena Damdeok sebenarnya tidak ingin menjadi seorang Raja. Dae Jangro mengatakan kala ada dua alasan untuk itu:

1. Ia sedang bosan

2. Karena Damdeok, Ki-ha berusaha melarikan diri!

Ki-ha mengatakan kalau ia akan kembali, ia telah berjanji dengan Ho-gae dan ia kembali. Dae Jangro berseru padanya bahwa hatinya tidak kembali … Ki-ha mengatakan semua orang yang mati itu disebabkan oleh perbuatan Dae Jangro. Dae Jangro balas menjawab kalau semuanya itu terjadi karena hati Ki-ha, karena ia mencintai Damdeok.

Sementara itu di dalam Kuil Peramal, Pendeta Tinggi sangat bersyukur saat melihat Damdeok masih hidup.

Sojinee mempersiapkan sebuah catatan dan menyembunyikannya di bawah teko teh. Ia menyamar sebagai pelayan kemudian berjalan melewati Dae Jangro dan Sa Ryang, yang melihatnya dan merasa mengenalinya.

Sojinee membawa seperangkat alat minum teh dan meminta Ki-ha untuk minum. Ki-ha membalikkan tubuhnya dan tampak sedikit mengenali Sojinee, karena tampak Ki-ha ragu-ragu sejenak. Sojinee sekali lagi mendesaknya untuk meminum teh, beralasan kalau teh itu baik. Pada saat yang bersamaan, Sojinee menaruh tangannya di pisau, berjaga-jaga kalau Ki-ha akan menyerangnya. Ki-ha mengambil teko teh dan melihat catatan itu. Ia sangat lega dan senang, berterima kasih pada Sojinee karenanya. Lalu Sojinee sedikit berbalik dan menghalangi pandangan penjaga sehingga Ki-ha dapat membacanya. Sojinee cerdas banget😀 Tapi ekspresi Sojinee cukup aneh. Lalu Sojinee berjalan keluar dari ruangan, diamati oleh Dae Jangro dan Sa Ryang, yang memberitahu bahwa dirinya pernah melihat Sojinee di permainan Kukkyu bersama dengan Pangeran Mahkota.

Damdeok berdiri di depan peti mati Raja.

Pendeta tinggi memberitahu Damdeok bahwa Raja ditemukan di dalam Taeshil dan tubuh para pengawal semuanya terbaring mati sepanjang jalan dari kamar Raja menuju ke Taeshil. Kemudian Damdeok mengingat apa yang dikatakan ayahnya padanya saat ia masih kecil, bahwa dirinya memiliki darah keturunan raja. Damdeok juga mengigat perkataan ayahnya bahwa ayahnya tidak tahu siapa Damdeok sebenarnya dan berapa banyak orang yang telah menanti kedatangan Damdeok.

Pendeta Tinggi memberitahu Damdeok bahwa seseorang dari wanita yang menjaga di luar Taeshil masih hidup. Pengawal wanita yang terluka parah itu dibawa masuk. Ia mengatakan bahwa pada malam itu, mereka semua datang ke Shindang, mereka sedang menjaga di luar Taeshil dan hanya Ki-ha dan Raja yang ada di dalam ruangan. Pintu terbuka dan ia melihat Ki-ha sedang membunuh Raja dengan pedangnya. Setelah mendengar ini, Damdeok sangat .. sangat sedih dan beranjak keluar dari ruangan itu. Saat ia berjalan, Pendeta Tinggi memanggilnya, memberitahu Damdeok untuk sementara tidak kembali karena kerajaan ini sekarang di bawah perintah keluarga Yeon. Dengan demikian , Damdeok bisa tetap hidup. Dalam kemarahannya dan penuh rasa frustasi, Damdeok memukul pilar batu dengan pedangnya dan meretakkan pilar tersebut.

Sojinee dan Damdeok sedang menunggu Ki-ha. Damdeok tampak dalam pemikiran yang dalam … memikirkan kata-kata pejuang wanita yang terluka parah itu.

Ki-ha berusaha meninggalkan kediaman Yeon dan kaan menaiki seekor kuda, ketika ia dihentikan oleh Dae Jangro, yang bertanya ke mana ia pergi. Kemudian Dae Jangro bertanya apakah Ki-ha akan memberitahu yang sebenarnya? Apakah  ia bersama-sama dengan  Raja di Taeshil malam itu? Adakah orang lain yang bekerja sama dengannya? Ki-ha tak menjawabnya dan menyuruh Dae Jangro untuk menyingkir … yang ia lakukan. Tapi tentu saja semuanya itu adalah jebakan.

Damdeok melihat Ki-ha sedang memacu kuda ke arah mereka … lalu tiba-tiba Damdeok diserang. Ia melihat pasukan Hwacheon datang ke arah mereka dari segala penjuru, kelihatannya Ki-ha lah yang membawa mereka.

Sojinee mulai memanahi mereka semua dengan panahnya. Damdeok dan Sojinee, berdua melawan semua prajurit Hwacheon. Dalam pertempuran tak seimbang itu, Damdeok sempat memberikan tatapan menusuk pada Ki-ha … ingin pergi menemuinya, mendengarkan penjelasannya. Dan Ki-ha ingin pergi mendekati Damdeok tapi dihentikan oleh Sa Ryang. Pandangan Ki-ha menunjukkan kesedihan yang mendalam dan penyesalan sekaligus pasrah … tak lagi bisa dirinya membersihkan diri dari semua ini …

Perterungan berlangusg sengit dan Sojinee sebenarnya cukup hebat, tapi ia kalah jumlah. Sojinee terluka. Damdeok ragu-ragu .. ia terbelah antara keinginan untuk menemui Ki-ha dan membantu Sojinee. Tapi ketika Sojinee kelihatannya akan dicincang oleh senjata-senjata Hwacheon, Damdeok memutuskan untuk menyelamatkannya.

Keduanya berhasil melarikan diri di atas kuda di bawah derasnya hujan. Mata Ki-ha dipenuhi kesedihan dan kerinduan yang mendalam saat memandang mereka karena ia tahu bahwa inilah kesempatan terakhir yang ia miliki untuk memulihakn hubungannya dengan Damdeok.

Di desa Geo-mool, seorang tetua sedang melakukan akupungtur dan mengeluarkan racun dari tubuh Sojinee. Akhirnya tetua itu mengatakan pada Hyon-go bahwa Sojinee tidak akan apa-apa. Hyon-go menghembuskan napas lega.

Damdeok sedang duduk menunggu di luar ruangan, merasa sedih dan galau. Ia merasa bersalah karena telah menyebabkan Sojinee terluka parah, dan tak akan bisa memaafkan dirinya jika Sojinee meninggal. Hyon-go keluar dan memberitahu Dadmeok bahwa Sojinee tidak akan apa-apa tapi masalahnya adalah racunnya bukan lukanya. Damdeok tetap memandang pada pedangnya …

Damdeok sedang merawat Sojinee … tapi ketika ia sadarkan diri, Damdeok dengan nada biasa-biasa saja mengatakan, “Kau hidup” … Ouch mengapa ia tidak bisa lebih lembut lagi ya … >.<

Damdeok memberitahu Sojinee kalau ia berpikir Sojinee akan mati tapi Sojinee membalas bahwa ia tak semudah itu akan mati.

Lalu Damdeok mengatakan, “Aku telah memberitahumu sebelumnya, wanita itu, aku telah mempercayainya sejak aku berumur sebelas tahun!”

Sojinee menyahut bahwa kepercayaan adalah ibu dari tipuan. Dan Damdeok memanggilnya … “Oi” … tapi Sojinee segera menjawab kalau namanya adalah Sojinee!”

Damdeok sangat menyesal, oleh karena kesalahan yang telah ia perbuat, Sojinee hampir saja mati, ayahnya dan semua di Daejasong terbunuh.

Sojinee: “Jadi …?”

Damdeok: “Oi ..”

Sojinee: “Namaku Soojinee!”

Sojinee bertekad membuatnya memanggil dengan namanya bukan “Oi”

Damdeok memberitahu Sojinee bahwa guru Sojinee percaya kalau dirinya adalah sang Raja Jyooshin karena sinar dari Simbol Dewa mereka. Apakah Sojinee mempercayainya juga karena gurunya yang mengatakan itu?

Lalu Sojinee bangun dan menunjukkan luka di tubuhnya … Damdeok sebenarnya malu melihat tubuh Sojinee .. tapi Sojinee sama sekali tidak malu dan canggung …😀

Sojinee mengatakan bahwa sejak ia masih muda, kapanpun ia tergores atau terluka, semuanya akan sembuh hanya dalam waktu semalam. Tapi kali ini sedikit ada masalah karena racun ini adalah racun yang biasanya digunakan oleh Hwacheon.

Lalu Sojinee memberitahunya bahwa seorang Raja seharusnya seperti dirinya … Jika Damdeok menjadi seorang raja, akan lebih banyak orang lagi yang mungkin mati waktu itu. Jika perang pecah, dan ia meneriakkan “Serang!”, semua prajurit yang pemberani akan mengikuti perintahnya dan mereka bisa saja terbunuh. Dan ia akan menjadi bersedih dan menangis karena perintahnya menimbulkan begitu banyak kematian. Sojinee kemudian melanjutkan, karena itu, dirinya berpikir bahwa seorang raja seharusnya bisa cepat pulih dari penderitaan dan rasa sakit itu hanya dalam waktu semalam … tak peduli seberapa buruknya. Dan kemudian ia bisa berdiri tegak lagi dan mengatakan, “Ikuti aku, akulah sang Raja!”

Damdeok sedang mengamatinya, sedikit kagum dan terhibur. Mungkin tak ada seorangpun yang berbicara terusterang seperti Sojinee sebelumnya, menganggap dirinya sebagai seorang biasa bukannya Pangeran Mahkota.

Sojinee menyadari kalau ia mungkin telah mengatakan terlalu banyak dan berpura-pura sakit kepala dan ingin pergi tidur …😀

Lalu … Damdeok memanggil namanya, Soojinee … dan berterima kasih. Soojinee sangat senang sekali dengan tindakan Damdeok dan terus tersenyum dengan manis penuh rasa bahagia di hatinya.

Dae Jangro dan Yeon Garyeoh bercakap-cakap. Yeon Garyeoh mengatakan bahwa Damdeok telah pergi ke Shindang. Dae Jangro mengatakan kalau tak ada seorangpun sekarang akan mempercayai apa yang dikatakan oleh Shindang. Yan Garyeoh mengtakan bahwa rakyat Goguryeo percaya bahwa ia telah membunuh ayahnya sendiri, bukankah rakyat adalah senjata terkuat mereka di dunia ini? Karena itu jika rumor yang tersebar sudah sedemikian meluas maka tak akan ada orang yang mau repot repot mencari kebenarannya dan akhirnya rumor itu menjadi kebenaran itu sendiri. Yeon Garyeoh bertanya apakah Damdeok akan pergi atau tidak ke Shindang pada akhir bulan, Dae Jangro menyahut kalau dirinya sangat senang  jika itu terjadi.

Ho-gae di dalam kamar Ki-ha. Ia menyalakan lilin di kamar itu dan melihat Ki-ha ternyata sedang duduk dalam kegelapan. Ho-gae bertanya apakah Ki-ha tahu kalau sekarang adalah malam terakhir bulan ini. Dan bukankah akan ada upacara penguburan Raja dan akankah Pangeran Mahkota berada di sana?

Lalu Ho-gae merasa gelisah. Ia tahu bahwa Ki-ha dan Damdeok telah bertemu sehari sebelumnya dan bertanya apakah Ki-ha berencana untuk melarikan diri dengan Damdeok? Selama ini Ki-ha tetap berdiam diri tapi tiba-tiba ia bangun dan membuka pintu … menunjukkan kalau Ki-ha ingin Ho-gae keluar dari ruangannya. Jelas Ki-ha sama sekali tidak menyukainya.

Ho-gae memberitahu Ki-ha untuk meminta Damdeok agar tidak pergi ke Kuil. Jika ia tetap pergi, maka ia tak akan hidup. Lalu Ho-gae bertanya apakah Ki-ha pernah mendengar mengenai Pedang Kawori?

Dae Jangro bercakap-cakap dengan Yeon Garyeoh.

Dae Jangro pernah mendengar mengenai Pedang Kawori, yang digunakan oleh Pendeta Tinggi Shindang sebagai wakil Langit untuk menghakimi mereka yang tertuduh.

Yeon Garyeoh mengatakan bahwa hanya para bangsawan dan keturunan Raja Goguryeo saja yang tahu mengenai keberadaan pedang itu. Lalu Dae Jangro mengatakan kalau ia tidak begitu yakin apa yang ia dengar itu benar atau tidak, tapi jantung tertuduh akan ditusuk oleh pedang itu untuk melihat apakah ia bersalah atau tidak. Yeon Garyeoh sangat terkejut mengetahui kalau Dae Jangro mengetahui cukup banyak dan mengatakan kalau orang luar tidak akan mengetahui itu. Tapi Dae Jangro mengatakan bahwa ia mengetahuinya karena itu mungkin hanya digunakan sebagai alasan untuk membunuh mereka yang lebih berkuasa, karena itu digunakan oleh Shindang dan hanya para bangsawan dan anggota kerajaan yang tahu mengenai metode ini dan bukannya digunakan pada rakyat biasa. Dan kelihatannya tak seorangpun yang selamat dari itu. Yeon Gaeryo menyahut mungkin saja tak ada seorangpun dari mereka yang memang tidak bersalah.

Dae Jang ro mengatakan bahwa Damdeok mungkin tahu mengenai Pedang Kawori sedang menunggunya saat ia pergi ke Shindang keesokan hari. Ia bertanya-tanya masihkah Damdeok akan pergi?

Ho-gae memberitahu Ki-ha untuk memberitahu Damdeok kalau ia harus tidak datang ke Shindang, tapi jika ia datang, maka Ho-gae akan menggunakan Pedang Kawori pada Damdeok.

Di Kuil Abullansa, Ki-ha memberitahu Daejangro bahwa ia akan bersedia ikut serta dalam upacara itu. Ia adalah pemilik Joojak yang telah bersumpah setia pada Ho-gae bukanlah pada Pangeran Mahkota. Dae Jangro bertanya apakah Damdeok akan benar-benar pergi? Padahal ia telah dituduh dengan berbagai macam kejahatan … tapi Ki-ha mengatakan kalau Damdeok pasti pergi. Lalu Dae Jangro bertanya pada Ki-ha karena ia berasal dari Shindang, bagaimana sebenarnya cara kerja Pedang Kawori? Seseorang benar-benar ditusuk jantungnya dan melihat apakah ia akan mati atau tidak untuk membuktikan kalau ia tidak bersalah? Tapi Ki-ha bersikeras kalau Damdeok pasti pergi. Dae Jangro bertanya apakah ada gunanya Ki-ha pergi ke sana? Apakah Damdeok akan senang melihatnya di sana sedang menunggunya?

Lalu Ki-ha mengatakan bahwa dirinya tahu kalau ia tidak bisa mencintai Damdeok … tapi ia tetap ingin pergi … kali ini ia tidak meminta bantuan pada Dae Jangro karena jika Dae Jangro ingin agar dirinya menjadi Joojak di masa yang akan datang, maka ia akan membiarkan Ki-ha menghadiri perayaan itu. Ki-ha sedang menggunakan kekuatannya menekan Dae Jangro. Ki-ha kemudian pergi keluar dan Dae Jangro membiarkannya, tapi dengan senyum sinis tersungging di bibirnya.

Damdeok sedang bersiap-siap akan pergi dari Desa Geo-mool dan menemukan Hyon-go dan Sojinee ternyata sudah menunggunya. Hyon-go mengatakan karena Damdeok tidak ingin Hyon-go menyebutnya Raja, jadi apa yang ia ingin agar Hyon-go memanggilnya? Ataukah ia panggil saja dengan Pangeran Mahkota?

Hyon-go bermaksud agar Damdeok tidak pergi, karena anak-anak dari ketiga kepala suku telah terbunuh dan mereka sedang mencari kesempatan untuk balas dendam. Ia tak boleh pergi. Damdeok mengatakan kalau tidak masalah, Hyon-go hanya perlu menemaninya sampai sini saja.

Lalu Hyon-go mengatakan apakah itu karena harga dirinya atauka ia ingin menyerahkan diri pada mereka? Ia meminta agar Damdeok memakai sedikit otak di kepalanya untuk berpikir.

Damdeok: Tidakkah kau mengatakan kalau Langit telah mengutus Raja Jyooshin?

Hyon-go: Itu karena Langit telah mendirikan negara Jyooshin, jadi mereka mengirimkan sang Raja.

Damdeok: Jika demikian maka aku tak akan mati.

Hyon-go masih berusaha mendebat walaupun ia sudah melihat dengan kedua matanya sendiri kalau Simbol Hyunmoo melindungi Damdeok, dan karena itulah memastikan bahwa ia adalah Raja Jyooshin. Tapi kelihatannya sulit untuk Hyon-go percaya kalau Damdeok nantinya benar-benar tidak apa-apa dan sama sekali tidak terluka …

Damdeok kemudian mengatakan, bukankah ia, Hyon-go, mempercayai bahwa ia adalah Raja Jyooshin? Ataukah ia hanya menyebutnya Raja hanya sebagai sebutan belaka, tak ada makna di balik itu?

Damdeok mengatakan kalau sebenarnya dirinya juga tidak mempercayai ramalan itu, karena itulah ia akan pergi untuk bertanya pada Langit. Tampaknya Damdeok juga sedang bergumul, tak tahu mana yang harus ia percayai.

Lalu Sojinee berlutut di hadapan Hyon-go dan berbuat seakan-akan ia akan mengikuti Damdeok. Hyon-go berusaha menghentikannya tapi Sojinee menunjuk ke Langit dan mengatakan, “Pemimpin Desa Geo-mool, kau tidak mempercayainya?” Hyon-go merasakan apa boleh buat dan terpaksa mengikuti keduanya tapi bergumam sendiri bahwa mereka semua pasti sudah gila…😀

Pagi berikutnya, salah satu tetua datang untuk mengirim makanan pada Damdeok tapi menemukan ruangannya kosong.

Di Gooknaeseong

Ba Son, Joomochi, dan anakbuahnya sedang berjalan-jalan dengan Dalhe mengikuti di belakang mereka. Dalhee tersenggol dan terjatuh, Joomochi berhenti dan membantunya, memeriksa apakah Dalhee baik-baik saja. Mereka melanjutkan perjalanan, tapi Joomochi sering-sering menengok untuk melihat Dalhe, apakah ia masih mengikuti mereka …

Kemudian Ba Son melihat si pria pendek, bersama-sama dengan beberapa orang dari Desa Geo-mool, dan sedang memberikan perintah pada mereka .. untuk menyebar. Si pria pendek itu menyuruh mereka untuk bergerak secara rahasia tapi bagaimana mereka bisa melakukannya jika mereka adalah sekumpulan orang yang berpakaian putih menyolok … >.<

Ba Son menghadang jalan si pria pendek dan bertanya apa yang sedang ia kerjakan dengan begitu banyak orang-orang desa? Si pria pendek memberitahu bahwa ia sedang mencari pimpinan mereka, Sojinee, dan juga sang Raja. Ia menduga kalau mereka akan menuju ke Shindang meskipun sudah dibilangi jangan pergi ke sana. Ba Son bertanya tak mengerti, “Raja apa?” Dan si pria itu berseru, “Raja kami!”

Di dalam Shindang, semua menteri dan para pemimpin suku telah berkumpul. Pendeta Tinggi dan Ki-ha sedang berdiri di depan peti mati Raja Gogookyagn.

Para kepala suku menuduh Damdeok dan Suku Chor No karena telah membunuh anak-anak mereka, dan Damdeok juga telah membunuh ayahnya, Raja Gogookyang. Mereka menuntut mengapa Damdeok tidak hadir untuk menjawab atas semua tuduhan akan kejahatannya dan menekan Shindang untuk mencopot posisinya sebagai Pangeran Mahkota. Yeon Garyeo menuduh para pengawal karena telah mencuri pedang Joomong dari dalam Taeshil. Ia mengatakan bahwa banyak orang yang menyaksikan kalau seorang pengawal wanita telah memberikan pedang itu pada Damdeok.

Pada saat itulah, Damdeok muncul dan berkata, “Itu memang benar!”

Damdeok, Sojinee dan Hyon-go memasuki ruangan itu, membuat semua orang sangat terkejut.

Damdeok mengatakan bahwa pedang Joomong telah diberikan padanya oleh Pimpinan Pasukan Ke-Tiga dan namanya adalah Kak-dan. Ia telah menjaga keselamatan Raja sampai Raja mati dan seorang yang berani dan setia yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk mematuhi perintah Rajanya.

Lalu Damdeok mengumumkan, “Aku menjadi seorang Pangeran Goguryeo oleh kehendak dari Raja sebelumnya dan Langit. Sekarang, Langit telah mengirimkan diriku kemari!”

7 comments on “The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 10

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s