The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 13

Hogae dan pasukannya berbaris maju menuju peperangan.

Kurir pembawa pesan memacu kudanya dengan cepat, menyusul Pasukan Ho-gae dan menemui Ho-gae untuk menyampaikan perintah dari Raja. Ho-gae menerima pesan itu dan membacanya.

Ho-gae berkata betapa murah hatinya Raja yang mengirimkan Pasukan Gaema pada dirinya. Raja juga memerintahkan untuk  tidak memulai pertempuran kecuali Pasukan Gaema sudah tiba.

Para jenderal menjadi marah karena perintah itu tidak masuk akal dari sudut pandang mereka. Mereka berpikir bahwa mereka harus menyerang secepatnya sebelum Baekje sepenuhnya siap dan bala bantuan tiba.

Pembawa pesan menyampaikan satu pesan lagi dari Yeon Garyeo yang memberitahu bahwa Ki-ha akan datang bersama-sama dengan Pasukan Gaema sebagai Joojak yang melindungi pasukan.

Di Istana

Damdeok sedang melihat gambar rancangan kapal milik Suku Jeolno dan Huk-gae dengan senang hati menerangkan padanya.

Huk-gae: Ini adalah kapal perang terbesar dari suku Jeolno. Kapal ini dapat mengangkut sekitar 50 tentara dan kami memiliki sekitar 30 buah. Dibandingkan milik kita, kapal perang dari Baekje adalah jenis kapal perang besar dan dapat membawa ratusan tentara, tapi kapal itu kebanyakan digunakan di sungai, jadi tidak begitu berguna untuk peperangan.

Damdeok membuka-buka gambar rancangan perahu dan melihat ada gambar yang menarik perhatiannya.

Damdeok: Apa ini?

Huk-gae: (terkejut) Mengapa itu di sini? (merasa sedikit malu) Ini .. ini kalau bisa kumohon kau mengabaikannya saja. Ini adalah kapal barang yang sudah diperlengkapi persenjataan. Kapal itu bisa memuat banyak barang tapi geraknya sangat lambat … Eh .. sebenarnya sih bukannya bergerak tapi lebih tepatnya mengapung  dan mengikuti arus.

Damdeok nampak gembira dan memandang Huk-gae

Damdeok: Ini dia. Ini adalah yang aku inginkan.

Huk-gae: Maaf? Kau bilang kalau kau mengingkan sebuah kapal untuk peperangan. Apakah kau yakin dengan kapal ini?

Damdeok: Berapa banyak yang kau miliki?

Huk-gae: Ah. Ini sih bukan kapal untuk peperangan. Jika kita menggunakan  kapal semacam ini ketika kita menghadapi pasukan angkatan laut dari Baekje, maka ..

Damdeok: (menyelanya) Berapa banyak tentara dan kuda yang bisa diangkut oleh kapal ini? Kita harus memindahkan sebanyak 3.000 tentara dan 4.000 kuda. Apakah kau pikir itu mungkin?

Hyon-go: Yang Mulia, kita memiliki 4000 tentara dan 5300 kuda. Joomochi menyebarkan panggilan berperang dan banyak orang yang berbondong-bondong datang memenuhi panggilannya, melebihi apa yang kita perkirakan.

Damdeok tersenyum senang kemudian menoleh pada Huk-gae …

———————-

Joomochi dan beberapa anakbuahnya menaiki sebuah tebing di tepi laut kemudian seorang dari mereka meniup terompet,  suara terompet itu menggema sampai ke bawah tebing.

Untuk beberapa saat lamanya tak ada suatu gerakan ataupun jawaban dari bawah … Terompet dibunyikan untuk kedua kalinya … Joomochi menutup matanya dan memusatkan pendengarannya …

Suara sahutan dari banyak terompet dari bawah dan seberang tebing terdengar lantang, Joomochi membuka matanya dan melihat banyak orang muncul … Ia tersenyum lega …

Orang-orang itu datang berbondong-bondong dan berkumpul di bawah tebing. Mereka semua berasal dari Suku Shiwoo (Suku asli Joomochi), Suku Yangduri, Suku Dangbang, dan Suku Heukbalgol. Semua memenuhi panggilan Joomochi, yang dianggap sebagai pimpinan mereka. Joomochi sangat senang bertemu dengan mereka semua.

Joomochi mengangkat kapaknya dan berterima kasih pada mereka semua karena telah bertahan hidup sampai sekarang dan juga karena telah memenuhi panggilannya. Tapi sekarang ia meminta mereka untuk mengikutinya untuk berperang, dan mungkin saja mereka akan kehilangan nyawa. Joomochi bertanya dengan lantang pada mereka, “Apakah kalian masih mau mengikutiku?”

Para pimpinan suku segera meniup terompet mereka sebagai jawaban, yang lain segera bersorak-sorai. Joomochi mengangkat kembali kapaknya tinggi-tinggi dan senyuman bangga dan terharu nampak di wajahnya.

————————–

Di bengkel pandai besi milik Ba Son

Para pandai besi sangat sibuk untuk membuatkan senjata bagi pasukan Damdeok.

Ba Son tergopoh-gopoh datang dengan membawa beberapa baju pelindung pada Damdeok, Soojinee, dan Jenderal Kho.

Ba Son: (terengah-engah) Lihatlah ini, baju pelindung ini dibuat dengan bahan dan keahlian yang terbaik. (menunjukkan sebatang panah) Hanya anak panah ini saja yang dapat menembusnya. (Damdeok mengambil panah itu dan memperhatikannya). Dan hanya perisai ini yang dapat menahan panah-panah seperti itu (Ba Son mengambil perisai dan menunjukkannya pada Damdeok). Apakah kau ingin menyentuhnya?

Damdeok dan Soojinee mengetuk perisai itu, Damdeok tampak puas …

Damdeok: Berapa banyak yang kau miliki sekarang? Kami harus segera berangkat secepatnya.

Ba Son: Saat kau berkata “segera”, seberapa cepat itu menurutmu? Karena aku pikir konsep waktu ku dan dirimu mungkin saja berbeda …

Damdeok: (menoleh pada Hyon-go) Guru, kau sudah menentukan tanggalnya?

Hyo-ngo: (tampak bingung) ah … setelah besoknya besok … ah bukan, setelah besoknya besoknya besok ….

Ba Son melongo mendengar jawaban Hyon-go tak mengerti apa yang ia bicarakan … ahahaha ….

Damdeok: (menoleh pada Ba Son) Dia maksudkan tiga hari lagi.

Bason: (meringkas semua baju, perisai, dan anak panah) Aku tahu pasti begini! Aku tahu kau akan tiba-tiba muncul di malam hari, memukul kepalaku dan meminta sesuatu yang tidak masuk akal seperti ini. Kau membuatku gila!

Ba Son beranjak pergi tapi kembali lagi dan merebut panah yang dipegang oleh Damdeok, “Berikan padaku!”

Ba Son segera pergi dengan barang-barangnya, Damdeok berkacak pinggang dan kemudian tersenyum geli melihatnya.

—————————–

Damdeok menemui Joomochi dan orang-orangnya. Anakbuah Joomochi yang baru hanya berdiri menatap pada Damdeok, tak mengenalinya sebagai Raja.

Joomoochi: (menegur mereka) Dia adalah Raja Goguryeo yang Agung, tidakkah Suku Shiwoo kita punya sopan santun?

Kepala Suku Shiwoo: Pimpinan kami mengatakan kalau Raja Goguryeo berjanji akan mengembalikan tanah kami. Kami adalah Suku Shiwoo yang akan berperang melawan 10 ribu tentara Baekjae sampai mati. Jika niatmu adalah ingin menaklukkan kami dan menjadikan kami bagian dari Goguryeo, beritahu kami sekarang!

Joomoochi: (maju dan mendesis) Kau ini …

Damdeok: (menahannya) Joomoochi …(Ia berbisik pada Joomochi) Kau bukannya benar-benar pimpinan mereka, khan?

Soojinee mendengarnya dan tertawa kecil tapi kemudian menutup mulutnya dengan tangan, Joomochi meliriknya dengan kesal, Soojinee berusaha diam.

Damdeok: (masih berbisik) Mereka tidak benar-benar percaya pada perkataanmu.

Joomoochi: Sama dengan dirimu. bukanr? Para bangsawan mempercayai kata-katamu seperti laiknya gonggongan anjing di jalanan … (mereka berdua saling pandang dan tersenyum geli bersama-sama) Kau yang telah memulainya …

Damdeok: Apakah mereka biasanya berpakaian seperti itu?

Joomoochi: Apakah kau menyukainya? Apakah kau ingin agar aku untuk meminta mereka menangkap seekor dan membuatkannya bagimu?

Damdeok: Apakah mereka akan mematuhi perintahmu?

Soojinee: (menyela di antara mereka) Kita akan mengadakan pesta? Pesta dengan minuman anggur dan daging bakar!

Joomochi: (kesal) Soojinee kau …

Selama itu, semua orang hanya mengawasi Joomochi dan Damdeok berbisik-bisik.

Damdeok: Jenderal Kho!

Jenderal Kho: Ya, Yang Mulia.

Damdeok: Semua orang terlihat sangat lapar.

Jenderal Kho: (memandang pada Damdeok) Baiklah, Yang Mulia.

Damdeok menoleh pada orang-orang baru itu dan kemudian pergi, Joomochi juga mengikutinya, tapi sebelum itu ia menuding mereka dan berkata, :”Kalian sungguh menakutkan!”

——

Di Desa Geo-mool

Sebuah gulungan peta diletakkan di atas meja ..

Hyon-go: Baekje dibagi menjadi Timur dan Barat. Benteng Gwanmi terletak di tengah-tengah keduanya. Jika kita dapat menguasai Benteng Gwanmi, maka kita dapat menguasai wilayah laut di sekitarnya. Bagaimana?

Damdeok mengamati peta itu dengan pikiran mendalam …

Hyon-go: Di dekat laut, yang mana Benteng Gwanmi menghadap, terdapat sebuah galangan kapal terbesar di dunia. Jika kita bisa menguasainya maka kita akan mendapatkan keahlian yang terbaik dalam membangun kapal. Tak ada negara yang tidak mau menguasai Benteng Gwanmi. Dinasti Yan dan Qi dari Tiongkok … bahkan Raja-raja terdahulu kita akan segera bangun saat mendengar namanya.

Tapi Benteng Gwanmi seperti impian yang tak bisa digapai. Lokasi geografis dari Benteng Gwangmi terlihat tak dapat ditembus. Hanya ada satu jalur jika pihak luar ingin menyerangnya. Tak peduli berapapun jumlah prajurit yang kau miliki, sangatlah tidak mungkin untuk meruntuhkan pertahanan mereka. Tapi ada yang sesuatu yang lebih menakutkan daripada itu …

Penguasa Benteng Gwanmi yang sekarang telah menggantikan ayahnya sejak berumur 10 tahun. Bisakah kau percaya itu? Dia selalu bertempur sendirian sejak ia berumur 10 tahun.Dan ketika sang penguasa pergi bertempur sendirian, apa yang dilakukan orang-orangnya? Mereka menjauh dari tempat pertempuran itu dan hanya mengamati dari kejauhan. Mengapa? Karena mereka juga akan mati jika terlalu dekat dengannya.

Banyak yang menyebut kalau Penguasa Benteng Gwangmi bukanlan manusia. Mereka katakan kalau ia berubah menjadi seorang iblis saat ia terjun dalam peperangan. Bukan hanya seseorang yang gila berperang tapi iblis perang itu sendiri! Dia menjadi monster, ia menjadi Dewa Kematian bagi musuh-musuhnya.

Damdeok tampak tak terpengaruh dengan kisah Hyon-go, ia tetap pada pendiriannya.

Damdeok: Aku ingin menguasai Benteng Gwanmi.

Kepala Suku Shiwoo: Ketua! Jadi … apakah ini pertempuran pertama yang harus kita hadapi? Apakah kita akan berperang melawan iblis itu?

Joomoochi: Mengapa? Apakah kau takut? Apakah kau akan terkencing-kencing di celanamu?

Keduanya tertawa terbahak-bahak tapi segera terdiam ketika ditatap serius oleh Damdeok.

Damdeok: Kita tidak bisa menguasai Benteng Gwanmi dengan kekuatan kita sendiri. Kita masih membutuhkan bantuan pasukan Ho-gae. Sampai saat itu tiba, kita harus membuat jalan menuju ke Benteng Gwanmi. (Damdeok tersenyum puas) Kita sekarang telah menyelesaikan persiapan yang kita butuhkan.

—————

Kuil Peramal Cheonji Shindang

Pendeta Tinggi sedang berdiri di depan peti mati Raja Gogookyang, Damdeok menghampiri peti itu dan berlutut di depannya.

Damdeok: (dalam hati) Tak ada pelepasan yang meriah saat kami berangkat. Aku berencana kaan pergi tanpa ada seorangpun yang tahu. Agar dapat menipu lawan kita maka kita harus menipu orang yang terdekat dengan kita.

Di halaman Istana

Chojodo berbicara pada Yeon Garyeo, “Mengapa ia tiba-tiba ingin pergi berburu? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?”

Mereka berdua bertemu dengan Damdeok, Soojinee, dan Jenderal Kho, beserta beberapa pengawal.

Damdeok: (pada Yeon Garyeo) Aku akan pergi berburu untuk sementara waktu. Kuminta agar kau menggantikanku untuk mengurusi masalah negara sampai aku kembali.

Yeon Garyeo: Yang Mulia, ini bukanlah waktu yang tepat. Para prajurit kita telah keluar berperang, tetapi mengapa kau …
Damdeok: Itulah mengapa aku keluar berburu. Beberapa pemburu telah menemukan rusa putih di Gunung Youngsoo. Aku berencana untuk menangkapnya kemudian mengorbankannya pada Dewa sebagai kurban persembahan. Rusa putih adalah pertanda baik …Aku akan membawanya kembali hidup-hidup. Dan karena ada kau di sini, maka aku bisa pergi tanpa rasa khawatir.

Yeon Garyeo: Yang Mulia ….

Damdeok tak mau membuang waktu lagi, Ia segera pergi dari hadapan Yeon Garyeo, yang menatap kepergiannya dengan pandangan menusuk …

Damdeok segera bergegas menaiki kudanya, dan bersama-sama dengan yang lain memacu kudanya keluar Istana …

————

Damdeok dan yang lainnya mengadakan rapat untuk menentukan jalan mana yang akan mereka tempuh.

Hyon-go: Ada dua jalan yang bisa digunakan untuk mencapai Benteng Gwanmi.

Yang pertama melalui jalan darat. Dari Gooknaeseong sampai ke Benteng Gwanmi kau harus melalui tiga puluh benteng. Agar kita bisa menguasai semua benteng-benteng itu paling tidak kita membutuhkan sekitar 50 ribu prajurit dan  waktu selama 3 bulan. Padahal seperti yang kau tahu, kita hanya memiliki sekitar 4 ribu orang saja.

Lalu apa pilihan yang kedua? Berlayar di atas air. Kita akan pergi melalui laut.. Lalu apakah kita akan melakukan peperangan di laut? Tidak sama sekali, melawan armada laut yang terkuat di dunia? Kita belum cukup bodoh untuk melakukannya! Kita akan mengikuti arus sungai dan berhenti di Benteng Sukhyun. Dari benteng itu sampai ke Benteng Gwanmi ada 10 benteng saja. Bagaimana menurut Yang mulia?

Damdeok: Kita harus secepatnya mengalahkan ke-sepuluh benteng itu dalam waktu 20 hari. Aku harap kalian semua telah mempersiapkan pasukan kalian.

Jenderal Kho: Pasukan Pengawal Kerajaan sudah siap!

Joomochi: Kami orang-orang Shiwoo sudah siap berperang sejak kami masih bayi.

Damdeok tersenyum mendengar ucapan Joomochi, ia menoleh pada Soojinee yang tersenyum padanya, lalu pada Hyon-go.

———

Propinsi Jeolno, di tepi Sungai Yosu

Persiapan perang dilakukan, semua orang sibuk menyiapkan barang-barang dan perlengkapan yang mereka butuhkan. Damdeok datang untuk melihat persiapan mereka sudah sampai di mana. Ia berkuda melewati Ba Son.

Ba Son memanggil para prajurit dan membagi-bagikan baju pelindung baru berdasarkan tiga kriteria, besar, sedang dan kecil.

Dalbee sudah diangkat sebagai Kepala Unit Penata Logistik dan melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh. Ia mengawasi dan memeriksa setiap persediaan yang ada.

Damdeok mendatangi Dalbee, yang saat itu sedang mengangkat karung besar. Dalbee terkejut dan segera memberi hormat pada Rajanya.

Damdeok: Apakah kau Kepala Penata Logistik yang baru?

Dalbee: Ya, aku .. aku Dalbee, Yang Mulia …

Damdeok: Aku mempercayakan semuanya padamu. Kemenangan kami  tergantung di pundakmu.

Dalbee bingung tapi Damdeok melanjutkan pengamatannya, Soojinee lewat di dekat Dalhee, memberi tanda dengan lengannya agar Dalbee berjuang. Joomochi lewat di depannya dan meliriknya saja, Dalbee tampak sedikit salah tingkah sehingga terjatuh ke belakang akibat beban karung yang dipanggulnya. Joomochi melihat ini, sebenarnya mau membantu Dalbee tapi kemudian ia memacu kudanya, menyusul Damdeok dan yang lainnya.

Hyon-go mengawasi dari tepi sungai melihat kalau-kalau ada kapal yang datang. Damdeok dan yang lain datang menyusulnya.

Joomoochi: (pada Damdeok) Jadi di mana kapal-kapal yang katanya akan membawa kita secara diam-diam ke wilayah Baekjae?

Damdeok juga tidak tahu, ia menatap pada Hyon-go yang juga sedikit bingung, tapi tiba-tiba terdengar teriakan kalau kapal datang.

Damdeok dan yang lain melihat ke arah sungai, dan tampak di ujung kabut, beberapa bayangan kapal sedang mendatangi ke arah mereka berada. Hyon-go merasa sangat lega. Kapal-kapal itu mengarahkan haluan mereka menuju ke tempat yang dijanjikan.

————————

Di kediaman Keluarga Yeon

Suruhan Damdeok menemuinya dan mengatakan kalau ia membawa perintah dari Raja. Yeon Garyeo sedikit bingung. Suruhan Damdeok memberitahu Yeon Garyeo kalau Yang Mulia Raja sekarang sedang dalam perjalanan menuju ke Baekjae.

Yeon bertanya, bukankah ia sedang berburu?

Suruhan Damdeok menyahut kalau Raja pergi untuk memutus bala bantuan Baekjae Barat demi Ho-gae.

Yeon Garyeo tak bisa mempercayai ini. Suruhan Damdeok memberitahu kalau Raja takut musuh akan mengetahui rencananya sehingga ia menyembunyikan lokasinya juga rincian dari pasukannya.

Yeon Garyeo sangat kesal dan marah karena Raja tak mau berkonsultasi dulu dengan Dewan istana. Ia bertanya orang-orang macam apa yang dibawa oleh Raja?

Suruhan Damdeok dengan tenang menjawab kalau Raja akan segera mengirimkan perintahnya saat ia sudah mencapai tujuannya yang pertama. Sampai saat itu, Raja meminta agar Yeon Garyeo mengambil alih Dewan Istana dan urusan negara.

Yeon Garyeo bertanya, “Tujuan pertama?” Si suruhan Damdeok tak mau menjawabnya dan memberikan gulungan surat perintah dari Damdeok pada Yeon Garyeo, yang terpaksa menerimanya.

————————

Markas Rahasia Hwacheon

Yeongaryeo menyalahkan Dae Jangro karena tidak mendapatkan secuil informasi mengenai rencana Raja.

Yeon Garyeo: Tidakkah kau pernah berkata kalau kau akan menjadi mata dan telinga kami? Tidak, bahkan kau mengatakan kalau kau akan menjadi mata, telinga, dan kepala kami. Karena itulah aku membiarkanmu mengarahkan anakku! Aku mendengarkan nasihatmu yang memintaku untuk membangun pasukan dan mengirimnya kemana kau beritahu aku. Tapi mengapa aku tidak tahu mengenai ini? Bagaimana bisa aku, sebagai Penasihat Dewan istana, tidak mengetahui apa yang direncanakan oleh Raja?

Dae Jangro bangun dari duduknya dan menatap pada Yeon, yang mengalihkan pandangannya. Dae Jangro mendatangi sebuah meja kemudian membuka sebuah gulungan peta di atasnya.

Sa Ryang melaporkan pada Dae Jangro bahwa orang-orang yang bersama-sama Raja adalah Pasukan Pengawal Kerajaan yang dipimpin oleh Jenderal Kho dan Suku Shiwoo Malgal.

Yeon Garyeo sedikit terkejut mendengar Suku Shiwoo disebut.

Sa Ryang menjelaskan kalau Suku Shiwoo adalah orang-orang Malgal yang telah terusir dari wilayah mereka oleh penyerangan Baekjae puluhan tahun yang lalu. Mereka adalah suku yang terkenal karena keberanian mereka tapi dikhianati oleh suku Malgal yang lain.

Yeon bertanya mengapa orang-orang itu bisa bersama-sama dengan Raja Goguryeo?

Dae Jangro bertanya pada Yeon, bukankah Yeon mengatakan kalau Raja telah berangkat berperang untuk memutus pasukan bala bantuan Baekjae?

Yeon menjawab, itu isi pesannya.

Dae Jangro merasa kalau arah yang dituju oleh Damdeok sangat janggal. (Yeon tertarik dan menghampirinya, Dae Jangro menunjuk pada peta) Menurut sumber mereka, Raja sedang menuju ke arah Barat. Itu arah ke Jeolno bukan Baekjae. Ia yakin kalau Raja tidak bermaksud berperang melawan Baekjae. Mungkin ia pergi ke Jeolno untuk memperkuat hubungan mereka. Lagipula hanya beberapa ribu saja yang menyertai sang Raja, dan separuhnya adalah para bandit bukannya prajurit yang terlatih. Raja tidak memiliki pasukan sehingga ia tak bisa menyatakan perang pada siapapun. Karena alasan itulah maka dirinya tak memberitahu Yeon. Jika Yeon masih tidak percaya dan khawatir, mengapa tidak mengirim orang yang ia percaya pada setiap kepala suku. Jangan sampai mereka dihasut oleh tipuan sang Raja.

Yeon mengatakan kalau Raja, Damdeok, telah ia amati sejak lama, mereka seharusnya tidak meremehkannya. Jika ia ingin menyembunyikan sesuatu maka mereka tidak akan pernah tahu.

—————

Pasukan bantuan dari Benteng Sukhyun Baekjae berangkat menuju ke medan perang.

Pasukan Ho-gae bergerak maju dengan perlahan menuju ke arah Hansung.

Pasukan Damdeok sudah naik ke atas kapal dan sedang berlayar di atas sungai.

Di atas kapal, Damdeok mengadakan pertemuan dengan para pemimpin pasukan.

Jenderal Kho mengatakan bahwa 40.000 tentara dari Yeon Ho-gae bergerak lebih lambat dari yang diharapkan. Berkat itu, Baekje telah mengirimkan semua tentara ke perbatasan.

Tetua desa Geo-mool maju dan menunjuk pada gambar peta yang digantung di belakang Damdeok. Ia menerima kabar kalau benteng-benteng di sekitar sungai Yosu juga mengirimkan pasukan bantuan mereka. Mereka nampaknya sama sekali tidak berpikkir kalau ada orang yang berani menyerang dari sisi sungai.

Damdeok sedikit menganggukkan kepalanya, setuju dengan pendapat sang tetua.

Huk-gae maju dan mengatakan kalau mereka sekarang sedang melewati area ini, sambil menunjukkan suatu tempat di peta, lalu melanjutkan, dengan kecepatan perahu mereka sekarang, maka mereka akan tiba di wilayah Baekjae pada saat matahari terbit besok. Tapi sebelum memasuki wilayah musuh, mereka harus berhenti dulu untuk beristirahat. Huk-gae bertanya di mana Damdeok merencanakan tempat mereka untuk beristirahat?

Damdeok: Kita akan meneruskan perjalanan.

Huk-gae: Tapi itu sudah memasuki wilayah Baekjae.

Damdeok: (bangun berdiri dan maju ke depan peta) Kau mengatakan kalau kapal kita adalah kapal barang yang tak bisa digunakan dalam peperangan. Siapa yang akan membunyikan tanda bahaya ketika melihat kapal barang? Kita akan terus bergerak … Dan besok sore kita akan bersandar di tempat ini (Damdeok mengetukkan jarinya di satu tempat di peta)

Huk-gae: (terkejut) Yang Mulia, itu tepat di depan Benteng Sukhyun! Benteng itu adalah benteng terbesar di sebelah barat Gwanmi dan Timur Yoha!

Damdeok: (dengan penuh percaya diri) Karena itulah mengapa kita harus menguasainya terlebih dahulu!

Damdeok kemudian berbalik dan menghadap pada semua orang sambil berkacak pinggang ….

Damdeok: Kita tidak ingin menyerang benteng-benteng yang kecil terlebih dahulu yang pada akhirnya nanti akan memberikan waktu bagi benteng yang lebih besar untuk mempersiapkan diri mereka.

Serangan terhadap Benteng Sukhyun akan dipimpin oleh Pasukan Pengawal Kerajaan dan orang-orang Shiwoo.

Huk-gae: (kecewa) Lalu kau … kau hanya ingin Jeolno untuk tetap tinggal di atas kapal? Kau tidak ingin kami berperang?

Damdeok: Kau akan berpura-pura menyerang Benteng Gwanmi.

Huk-gae: (terkejut dan tidak mengerti) Berpura-pura? … Bukan untuk berperang, tapi berpura-pura akan berperang?

Damdeok: (tertawa geli) Pastikan kalau Gwanmi tidak mengirim bantuan lagi sampai kita memenangkan Benteng Sukhun.

Huk-gae: (masih tidak terima) Jadi setelah itu apakah kami berperang?

Damdeok: Jangan berperang dengan mereka. Kita tak dapat menyingkapkan betapa jumlah kita sangat kecil. Kita hanya perlu memastikan kalau pasukan bantuan kembali.

Joomochi: Kau ingin kami membawa 4 ribu orang dan memerangi benteng-benteng Baekjae, Benteng Gwanmi, dan juga pasukan bantuan yang kembali?

Damdeok: (tersenyum simpul) Tidak, kau tidak akan berperang dengan mereka. Ketika pasukan bantuan kembali, kita akan melarikan diri. (duduk santai) Para prajurit  yang terbaik dengan kudanya, dan juga baju pelindung yang paling ringan … tentunya melarikan diri bukanlah masalah besar.

Huk-gae: Lalu kau ingin agar kita menjadi umpan dan menarik perhatian dari pasukan bantuan, lalu lari dengan ekor di antara kedua kaki kita, dan memberikan kemenangan ini pada Ho-gae? (Semua orang memandang Damdeok) Bajingan itu yang telah membunuh Raja sebelumnya dan juga anakku?

Damdeok: (bersikap tenang dan kepala dingin) Pilihlah salah satu. Siapa yang akan kau perangi? Baekjae atau Ho-gae?

Huk-gae tak bisa menjawabnya, tapi berkata, “Yang Mulia, seorang pria hanya dapat melihat dunia ini sebesar dirinya. Apakah kau pikir kalau ia (Ho-gae) akan memahami rencanamu? Apakah kau pikir ia akan menyembah dan berterimakasih?”

Damdeok menoleh pada Hyon-go dan bertanya, “Akankah dia melakukannya?” Hyon-go berkata, “Besok, anggota kita akan bertemu dengan Ho-gae. Kami tak bisa menjamin apakah ia akan menyembahmu nanti, tapi kami akan mecoba untuk membuatnya mengerti (berdiri)  .. aaahhh … tapi mungkin saja ia masih tidak bisa memahaminya.”

Damdeok hanya tersenyum kecil …

————————–

Ho-gae telah memerintahkan untuk membangun kamp sementara di wilayah Baekjae.

Hyeongoong, salah satu anggota Geo-mool, bersama dengan rekannya Hyeonjang  mendatangi kamp Ho-gae dan ingin bertemu dengannya. Mereka diantar ke tenda pertemuan oleh seorang perwira. Seorang Jenderal dengan suara tinggi bertanya apakah sembarang orang bisa menemui Komandan Ho-gae? Perwira yang mengawal anggota Geo-mool meminta maaf pada mereka, semua orang di tempat itu sangat sensitif akhir-akhir ini karena perang tak kunjung dimulai. Si Jenderal tidak terima dan akan berkelahi dengan perwira tersebut, tapi seseorang melerai mereka.

Orang itu kemudian bertanya pada Hyeongoong apakah mereka datang dari Gooknaeseong? Hyeongoong menjawab kalau mereka dari tempat lain. Pria itu kemudian bertanya apakah mereka melihat keberadaan Pasukan Gaema, seharunya mereka bergabung dengan pasukan Ho-gae bersama dengan Pelindung Joojak, tapi sampai sekarang masih belum terlihat. Hyeongoong menjawab kalau ia tidak tahu karena ia sudah pergi terlebih dahulu.

Jenderal tadi masih emosi dan mengatakan kalau mereka tidak butuh Pelindung Joojak. Apa yang sebenarnya sedang ditunggu oleh Komandan Ho-gae? Pasukan Gaema ataukah wanita itu? Jenderal itu kemudian mau keluar tapi Ho-ga masuk ke dalam tenda, tampaknya mendengar seruan si Jenderal. Jenderal itu sempat berhenti sejenak tapi kemudian melanjutkan keluar dari tenda.

Hyeongoong membuka kotak yang dibawanya dan memberikan gulungan yang ada di dalam kotak pada Ho-gae.

Hyeongoong: (menghaturkan gulungan) Ini adalah perintah Raja.

Ho-gae: (khidmat) Aku akan menerimanya.

Ho-gae kemudian membuka dan membaca gulungan itu.

Ho-gae: Orang yang membawakanmu  gulungan ini akan menyampaikan pesanku.

Ho-gae menatap tajam pada Hyeongoong yang tak berkedip memandangnya.

Heyongoong: Pesan itu sangat penting sehingga tidak dapat dituliskan. Aku akan menyampaikan pesan Raja secara lisan.

Ho-gae: (tersenyum sinis) Kalau begitu mari kita dengar apa pesan yang penting itu!

Hyeongoong: Yang Mulia akan menyerang Benteng Sukhyun besok.

Ho-gae: (tidak mengerti) Menyerang?

Hyeongoong: Raja melakukan perjalanan ke Baekjae melalui sungai. Saat matahari terbit, ia akan mendarat di wilayah Baekjae. Setelah Benteng Sukhyun jatuh, maka ia akan menuju ke Benteng Gwanmi.

Ho-gae: (tertawa sinis) Heh, aku juga mendengar beberapa berita dari Istana, bahwa Raja telah meninggalkan Istana untuk berburu, tapi sebenarnya ia sedang menuju ke Jeolno. Mungkin itu demi mempererat hubungan persahabatan antara Jeolno dan Raja.

Hyeongoong: Yang Mulia Raja sedang mencoba untuk menghadang pasukan Baekjae Barat dengan resiko kehilangan nyawanya. Ketika berita mengenai penyerangan Benteng Gwanmi tersebar maka pasukan yang menuju ke aramu akan berbalik. Ia telah menginstruksikan untuk menunggu sampai waktu itu dan menyerang mereka dari belakang.

Ho-gae menatap pada Hyeongoong, yang balas menatapnya.

Tapi Ho-gae tidak mempercayai maksud baik Damdeok dan memerintahkan salah satu anakbuahnya, Il su, untuk memenjarakan anggota Geo-mool, dan mengorek keterangan dari mereka kalau perlu pakai saja kekerasan, apa sebenarnya tujuan sang Raja. Hyeongoong tak bisa percaya Ho-gae ternyata seperti itu, bahkan berani membangkang perintah Raja …

———-

Markas Rahasia Hwacheon

Dae Jangro heran dengan semua kesibukan yang terjadi, seorang prajurit memberitahu kalau Nona Ki-ha sedang di kamarnya, mempersiapkan keberangkantannya besok karena banyak hal yang harus ia lakukan.

Dae Jangro menemui Ki-ha di kamarnya dan meminta maaf karena besok ia tak bisa menemaninya pergi.

Ki-ha tenggelam dalam lamunannya, mengingat beberapa malam sebelumnya saat ia keluar untuk melihat keadaan Damdeok, dan menemukan ternyata Damdeok sedang minum-minum dan bersenda gurau dengan seorang wanita.

Dae Jangro mengatakan banyak hal yang perlu dikerjakan oleh Ki-ha besok setelah berangkat. Yang pertama menaikkan moral dan energy Ho-gae dan juga orang-orangnya dan menunjukkan kemampuannya di hadapan mereka. Tidakkah Ki-ha merasakan kalau kemampuannya semakin hari semakin besar.  Jika terus seperti ini maka mereka tak butuh 40 ribu orang lagi. Cukup dengan sedikit percikan api dari jari Ki-ha akan … Ki-ha menyelanya, mengatakan kalau Damdeok adalah Raja Jyooshin yang sejati, bukannya Ho-gae yang dipilih oleh Hwacheon, tapi Damdeok.

Dae Jangro tidak peduli, karena apa yang mereka butuhkan bukanlah Raja Jyooshin yang sejati, mereka hanya butuh seseorang yang memiliki darah dari Raja Jyooshin (Hwan Woong). Semua yang mereka butuhkan hanyalah darahnya. Darah itu dan juga ke-Empat Simbol akan memberikan mereka kekuatan dari Langit. Lalu ia mengatakan kalau Raja Jyooshin yang sejati jutru nantinya akan menjadi masalah bagi mereka.

(Untuk membuka Segel Langit di Altar Langit – lihat episode 01 – maka dibutuhkan seseorang yang memiliki darah keturunan dari Hwan Woong dan membawa Empat Simbol Dewa bersamanya)

Ki-ha bertanya, apa yang akan dilakukannya jika ada seorang lain yang memiliki darah Jyooshin?

Dae Jangro: “Tiga dari mereka?” .. Damdeok, Ho-gae lalu ?? kemungkinan seorang lain adalah bayi yang dikandung Ki-ha.

Dae Jangro mengatakan kalau ia tak peduli berapa banyak yang memiliki darah Jyooshin. Hwacheon harus melenyapkan semuanya kecuali satu yang dapat membantu mereka menemukan Empat Simbol Dewa.

Ki-ha: Dan orang yang tersisa, kau akan menggunakannya untuk melepaskan kekuatan Langit dan …

Dae Jangro: Kita juga harus melenyapkannya … (Ki-ha memegang perutnya yang terlihat membesar >.< ) Untuk mendapatkan kekuatan Langit, kita tidak dapat membiarkan benih Langit tetap hidup.

Dae Jangro tahu kalau Ki-ha tak akan mau membunuh janinnya. Ia meminta Ki-ha untuk mengingat kalau mereka, Hwacheon, telah menunggu selama ribuan tahun.

——–

Gooknaeseong

Pasukan Gaema berangkat diiringi oleh Sa Ryang dan Ki-ha, yang naik kereta tandu, akah bergabung dengan pasukan Ho-gae.

Di tengah hutan …

Di tengah perjalanan, Cheok-hwan memutuskan untuk beristirahat dan memanggil Ki-ha, tapi ternyata kereta tandu kosong, Ki-ha menghilang. Sa Ryang segera berbalik dan dengan anggota Hwacheon yang lain berusaha mencari Ki-ha.

Ki-ha ternyata ada di sebuah tebing, ia mengingat pertemuan Gaori, saat ia berusaha meraih tangan Damdeok, tapi orang yang ia cintai tak mau menanggapinya dan lewat begitu saja di depannya tanpa sekalipun menengok padanya.

Ki-ha berjalan ke tepi tebing dan bermaksud untuk meloncat, tapi Sa Ryang sampai di sana tepat pada waktunya, dan segera menegurnya.

Sa Ryang: Apa yang sedang mau kau lakukan?

Ki-ha: (nada sedih) Dia tak mau bertanya padaku … Dia bahkan tak bertanya padaku apakah itu benar? (Apakah Ki-ha yang membunuh ayahnya) Dia mencoba untuk membunuhku.

Sa Ryang: Kumohon kau kemari dan kita bicara baik-baik ..

Ki-ha: Ia tak pernah percaya padaku. Tapi mengapa ia membuatku terus berada di sampingnya? Siapakah diriku baginya?

Sa Ryang: (sangat takut kalau Ki-ha terjun) Nona Ki-ha …

K-ha (jatuh duduk) Aku tak tahu kesalahan apa yang kuperbuat? Aku, Pelindung Joojak … Aku tak pernah ingin menjadi ibu bumi ini. Aku hanya melakukan apa yang kalian ingin aku lakukan. Bagaimana semua ini bisa terjadi? Semua yang aku inginkan … hanyalah satu hal. Dialah satu-satunya yang aku inginkan. Apakah itu kejahatan yang besar?

Sa Ryang terdiam … ia mengerti kesedihan Ki-ha tapi semua ini adalah demi Hwacheon, yang telah menantikan selama ribuan tahun.

Ki-ha mengatakan kalau semua orang sama, baik dia (Damdeok), Hwacheon, maupun Sa Ryang. Mereka sekarang bersama-sama dengannya karena membutuhkan dirinya, tapi setelah tak berguna maka dirinya akan segera dibuang … Seperti yang ia (Damdeok) lakukan maka demikian juga kelak yang dilakukan Hwacheon padanya.

Ki-ha tetap berbicara pada Sa Ryang tapi yang ia pikirkan adalah Damdeok.

Ki-ha: Walaupun kau nanti membuangku, tidakkah kau seharusnya mengatakan sesuatu padaku terlebih dahulu? Katakan kalau kau telah memanfaatkan diriku dengan baik, katakana bahwa sekarang kau tidak membutuhkan diriku..(berseru) katakanlah betapa menyesalnya dirimu (karena sudah tak bisa memanfaatkan Ki-ha) !

Sa Ryang: Jadi … apa yang akan kau lakukan? Akankah kau melompat? Akankah kau melarikan diri dari kenyataan ini? Bisakah kau melakukan itu?

Ki-ha bangun dan menuju ke tepian tebing, Sa Ryang terkejut dan berseru, “Apakah kau juga akan membawanya bersama denganmu? Bayi yang kau kandung?|

Ki-ha: (menatap ke perutnya) Anak ini nantinya juga akan mati … Dia akan dipandang  hina seperti diriku dan akan mati pada akhirnya. Aku tak akan membiarkannya.

Sa Ryang: Manfaatkan dia, Ki-ha.  Manfaatkanlah dia, ambil keuntungan dari dunia ini, gunakanlah Hwacheon. Jika kau tidak menyukainya, buanglah

Ki-ha: Anak ini ….

Sa Ryang: Dengan demikian kau bisa melindungi anakmu!

Ki-ha: Akankah anak ini menginginkannya? (air mata mengalir di pipinya) Akankah dia ingin lahir ke dunia yang penuh kesedihan seperti ini?

Ki-ha berjalan semakin dekat dengan tepian tebing.

Sa Ryang: Ki-ha! Ki-ha! Kemarilah! Kemarilah, Ki-ha!

Ki-ha: (berjalan sambil memejamkan matanya) Aku tidak menyukai dunia ini. Bagaimana denganmu, anakku?

Ki-ha menjatuhkan dirinya dari tebing tapi ia ditahan oleh kekuatan Joojak, yang tiba-tiba keluar begitu ia mau melompat.

Pada saat yang bersamaan, Damdeok sangat gelisah dalam tidurnya.

Sa Ryang segera bergegas mendekati Ki-ha, ingin menariknya ke atas namun terpental jatuh ke belakang.

Damdeok semakin gelisah dalam tidurnya.

Ki-ha seperti dalam keadaan tak sadar diri, tubuhnya masih tertahan miring di tepi jurang, dengan kekuatan Joojak yang menahannya.  Cheok-hwan menyusul mereka dan sangat terkejut sekaligus kagum ketika melihat situasi ini.

Ki-ha ditarik oleh kekuatan Joojak ke tebing dan terduduk. Cheok-hwan sangat terpesona melihat kejadian itu. Sa Ryang sangat lega. Ki-ha sendiri memegang perutnya.

Sa Ryang: Darah Langit … Putera Langit …

Cheok-hwan dan Sa Ryang berlutut memberi penghormatan pada Ki-ha, termasuk pada anaknya. Ki-ha membuka matanya, dengan napas terengah-engah, pandangan matanya menunjukkan suatu kebulatan tekad.

Sementara itu Damdeok masih gelisah dalam tidurnya, ia memegangi dadanya dan tubuhnya bergoyang ke sana kemari.Soojinee cemas melihatnya dan berusaha membangunkan Damdeok, menggoyang-goyangkan tubuhnya. Damdeok, masih tak sadar, tiba-tiba bangun dan memeluk Soojinee. Soojinee terkejut dan berusaha membangunkannya tapi tak berhasil, ia kemuddian memeluk Damdeok dengan erat seakan-akan tak ingin kehilangan dirinya.

————

Joomochi turun ke geladak, mencari Dalbee, tapi ia salah mengira Ba Son sebagai Dalbee dan berusaha memegangya, namun Ba Son terbangun dan segera duduk, membuat Joomochi terkejut setengah mati, tapi ternyata Ba Son dalam keadaan “nglindur” dan jatuh tertidur lagi. Joomochi menghembuskan napas lega …. Ahahahah ….

Joomochi kembali berkeliling mencari Dalbee. Ia menemukan seorang perempuan sedang dipeluk salah seorang anakbuahnya. Joomochi marah dan menendang si pria, yang terbangun tapi terkejut saat melihat Joomochi. Joomochi lega saat melihat wanita itu ternyata bukan Dalbee.

Dalbee: (mendatangi dari belakang) Apa yang sedang kau cari?

Joomochi: (salah tingkah) Aku .. ehem … eh … aku … itu … (pada anakbuahnya tadi) Pergi tidur kau, dasar tolol! (Dalbee memandanginya dengan curiga …😀 )

Joomochi keluar ke dek dan memukuli kepalanya ..

Joomochi: Ada apa sih dengan dirimu hari ini, Joomochi! (berhenti dan menarik napas panjang) Kembalilah ke akal sehatmu!

Tiba-tiba Joomochi mendengar suara orang terjatuh dan menoleh, ia melihat Dalbee berusaha bangun kemudian mendekatinya dan mengulurkan sesuatu padanya.

Joomochi: (menerimanya) Apa ini?

Dalbee: Ini adalah batu pengasah terbaik yang disimpan Ba Son untukmu.

Joomochi: Oh .. terima kasih … (ia beranjak pergi)

Dalbee: Tunggu sebentar!

Joomochi berhenti dan Dalbee segera ke hadapannya, berlutut dan membetulkan sepatu bulu yang dikenakan Joomochi. Joomochi tampak senang tapi ketika Dalbee berdiri, ia segera memalingkan wajahnya, berpura-pura biasa.

Dalbee: Aku tak akan memberitahumu untuk melindungi dirimu sendiri saat waktunya berperang, lagipula tak akan ada seorangpun yang sanggup  melukaimu. Benar khan?

Joomochi memandangnya dengan tersenyum senang tapi segera memalingkan lagi wajahnya … jah … jual mahal banget … ahahahah

Joomochi: Begitulah …

Dalbee: Saat kau kembali nanti, aku akan mencucikan baju pelindungmu. Di atasnya pasti banyak darah musuhmu. Aku tak mau kalau ada darahmu di atasnya! Apa kau mendengarkan?

Joomochi: Itu .. eh …

Dalbee: Kumohon jangan terluka. Kami akan mendukungmu dari belakang.

Dalbee memberi hormat lalu beranjak pergi, tapi Joomochi memanggilnya, “Penata Logisitik!” Dalbee membalikkan tubuh, “Aku akan menyuruh beerapa orang dari sukuku untuk melindungi unitmu”, kata Joomochi.

Dalbee: Tak perlu melakukan itu. Kami juga tahu bagaimana untuk bertarung!

Joomochi: Itu … karena ada makanan di sana. Kami harus melindungi itu!

Joomochi kemudian pergi terlebih dahulu, Dalbee kembali ke tempatnya. Joomochi menghela napas lega, ia sangat tegang berbicara dengan Dalbee … ahahaha ….

Damdeok berjalan-jalan di dek kapal menikmati angin malam. Ia mendesah berusaha melepaskan beban di hatinya. Ia memandang ke arah laut, tiba-tiba sebuah tangan menjulurkan sapu tangan ke hadapannya.

Soojinee: (mengulurkan sapu tangan) Kau sudah baikan sekarang?

Damdeok menatapnya sebentar kemudian menerima sapu tangan itu.

Ssojinee: Mimpi macam apa yang kau alami tadi? (Damdeok seperti membeku) Apakah kau memimpikan wanita itu … ?

Ups .. Soojinee tahu kalau dirinya mengungkit hal yang tabu, ia segera memukuli mulutnya dengan pelan.

Damdeok: Itu sangat aneh, bukankah demikian?

Soojinee: Huh?

Damdeok: Aku sekarang tak bisa mengingat wajahnya dengan jelas ataupun suaranya. Aku mendengar sesuatu dalam mimpiku …tapi aku tak bisa mengingatnya.

Soojinee memandangnya dengan pandangan sedih, matanya berkaca-kaca, ia kemudian berpura-pura menguap …

Soojinee: Aku sungguh lelah! Ketika matahari terbit, kita akan menyerang. Aku berencana untuk tidur dengan nyenyak dan mulai peperangan dengan sebuah senyuman, tapi mungkin nanti aku akan jatuh tertidur selama peperangan berlangsung. (Damdeok memandangnya dengan pandangan tajam, Soojinee salah tingkah) Eh … aku pergi untuk tidur sekarang … (Soojinee menguap dan berjalan pergi)

Damdeok: Soojinee …

Soojinee: (berbalik) Ya .. ?

Di dek bawah, di ruang persenjataan

Damdeok membawa sebuah baju pelindung.

Soojinee: Apakah kau ingin aku memakaikan itu padamu? Apakah kau tidak tahu cara memakainya? (berbalik) Aku akan memanggili seseorang yang bisa melakukannya.

Damdeok: Kau yang melakukannya .. (Soojinee terkejut dan berbalik menatapnya) Cobalah!

Soojinee membantu Damdeok memakai baju pelindung itu, wajah mereka menjadi saling berdekatan, Damdeok memandangnya, Soojinee menundukkan muka dan segera ke belakang Damdeok, mengikatkan tali-tali di baju pelindung Damdeok. Lalu ia memakaikan pelindung di kaki Damdeok. Damdeok menatapnya lagi, Soojinee menundukkan muka kemudian pergi ke belakang Damdeok membetulkan semuanya.

Damdeok: Apakah kau besok akan pergi bersama-sama dengan para anggota Geo-mool?

Soojinee: Benar!

Damdeok: Mengapa kau tidak tinggal saja? (Soojinee terkejut) Kita tidak tahu, masalah macam apa kau nantinya akan menceburkan diri ke dalamnya. Mengapa kau tidak melekat padaku dan selalu berada di sampingku?

Soojinee: (cemberut) Kau kira aku ini lem apa?

Damdeok: Tidak bisakah kau untuk sekali saja … mengatakan “ya” dengan suara yang manis? Orang yang ada di hadapanmu ini .. adalah seorang Raja.

Soojinee: (tertegun lalu dengan suara perlahan) Ya …

Damdeok tersenyum geli mendengarnya ..

Damdeok kemudian mengambil sesuatu dari sebuah kotak dan menyerahkannya pada Soojinee. Kelihatannya sebuah botol wewangian ??

Sojinee: (heran) Apa itu?

Damdeok mendesis padanya

Soojinee: Ya ..

Damdeok menyerahkan botol itu pada Soojinee.

Damdeok: Itu dulu milik ibuku.

Soojinee kaget dan ingin menyerahkannya kembali pada Damdeok. Damdeok memandangnya .. kemudian dengan kedua tangannya, membuat tangan Soojinee menggenggam botol itu.

Damdeok: Jadi jangan menghilangkannya, dan bawa itu kembali. Jangan mencampuri hal-hal yang tidak penting dan menaruh dirimu dalam situasi yang berbahaya. Bawa kembali botol itu dengan selamat.

Soojinee menggenggam botol itu dekat di dadanya, tersenyum sekilas …

Damdeok: Apakah kau mendengarku?

Soojinee: (tersenyum manis) Ya ..

Soojinee tampak sangat senang karena Damdeok memperhatikannya bahkan mempercayakan botol wewangian itu padanya. Dalam hatinya ia tahu kalau Damdeok menggunakan alasan botol itu untuk menyuruhnya berhati-hati dan cepat kembali jika semua sudah selesai.

Di geladak kapal

Huk-gae dan Suku Jeolno berdiri dengan rapi dan gagah, Damdeok berjalan di antara mereka.

Damdeok: Ingatlah tiga hal. Yang pertama, kita tidak akan memerangi musuh dengan pedang dan tombak. Senjata kita dalam peperangan ini adalah rasa takut. Kita akan menjadi pasukan yang paling menakutkan di bawah kolong Langit.  Semua orang akan menyebut kita Pasukan Gaema Jyooshin (bukan Pasukan Gaema Goguryeo, yang dipimpin Cheok-hwan).

Yang kedua, kemenangan perang ini bergantung pada kecepatan. Dalam waktu 7 hari kita akan menguasai tiga benteng. Dalam tenggang waktu 20 hari kita akan menguasai 10 benteng.

Dan yang terakhir … Jangan ada seorangpun yang tewas!  Aku tidak butuh orang yang mati demi diriku! Hiduplah dan tetaplah berada di sampingku!

(Dengan nada berwibawa) Itu semua … adalah perintahku pada kalian semua sebagai Raja!

Soojinee, Hyon-go dan orang-orang dari Geo-mool turun ke perahu kecil. Mereka mendayung ke arah daratan.

———————————-

Keesokan harinya …

Benteng Sukhyun di Baekjae.

Pintu gerbang Benteng Sukhyun dibuka dan beberapa prajurit segera menempati posisi mereka. Rakyat yang sudah antri segera masuk satu persatu dan diperiksa oleh para prajurit.

Sojinee dan yang lain ada di antara antrian itu, menunggu dengan sabar giliran mereka. (hehehe .. pakaian mereka putih-putih jadi sangat mencolok)

Seorang kapten bertanya-tanya siapa mereka, apakah mereka ini para biksu? Hyon-go segera berakting dengan membacakan mantra, diikuti oleh Soojinee dan yang lainnya. Seorang penjaga memberitahu kaptennya mungkin saja mereka ini orang asing, tapi si kapten merasa kalau mereka pasti dari sekitar sini. Hyon-go segera memberikan sekantung uang padanya. Si kapten menerima dengan senang hati dan segera memberitahu yang lain kalau rombongan Hyon-go adalah para peramal nasib jadi biarkan saja mereka lewat. Si Kapten melanjutkan pemeriksaannya.

———-

Di sebuah pos penjagaan tepi laut dekat Benteng Sukhyun Baekjae …

Seorang prajurit melihat kedatangan belasan kapal yang tampaknya akan mendarat .. Ia memberitahu rekan-rekannya untuk memeriksa … Mereka memacu kudanya ke dekat kapal-kapal itu.

Tiba-tiba pintu-pintu kapal diturunkan dan Suku Shiwoo memacu kuda mereka, mendahului yang lain untuk naik ke darat dan menyerang para penjaga pantai.

Seorang penjaga yang masih tertinggal terkejut melihat kedatangan tiba-tiba sebuah pasukan tak dikenal. Ia segera menaiki kudanya dan memacu ke arah Benteng Sukhyun.

Joomochi dan Jenderal Kho memimpin penyerangan ini, semua orang sangat bersemangat karena akan berperang.

Damdeok menunggang kudanya dengan santai, mengamati ke sekelilingnya.

Penjaga pantai sampai di benteng dan segera meniup terompetnya, memberikan pertanda bahaya, ada serangan musuh. Pintu gerbang segera ditutup dan para prajurit benteng segera bergegas ke posisi mereka masing- masing. Para penduduk yang mendengar suara terompet sangat terkejut dan berlarian untuk bersembunyi.

Penguasa Benteng Sukhyun: Ada apa ini? Suara apa ini? Siapa yang menyerang kita?

Prajurit: Mereka adalah pasukan Goguryeo!

Penguasa: (terkejut) Kenapa mereka bisa ada di sini? (nada marah) Bukankah mereka katakan kalau pasukan Goguryeo ada di sebelah Utara! Kita mengirimkan pasukan kita untuk membantu mereka.! Tapi mengapa sekarang ada pasukan Goguryeo di sini?

Penguasa Benteng segera melihat situasinya dan memberikan perintah untuk mengirimkan pesan ke Benteng Okchun dan meminta bala bantuan.

Para prajurit Baekjae segera memanah pasukan Goguryeo, tapi setiap dari mereka menggunakan tameng besi yang dibuat Ba Son. Panah-panah itu sama sekali tak berpengaruh apa-apa! … Hidup Ba Son! …😀

Joomochi  meneriakkan teriakan peperangan, para pasukan pemanah berkuda Goguryeo segera melepaskan panah mereka dan banyak prajurit Baekjae terkena panah-panah itu yang langsung menembus baju pelindung mereka. Panah-panah yang dibuat Ba Son lebih kuat dan mampu menjangkau lebih jauh. Sekali lagi : Hidup Ba Son! Heheheh😀

Di dalam Benteng Sukhyun, di pintu gerbang utama.

Hyon-go dan yang lainnya segera bertarung dengan para prajurit yang menjaga pintu gerbang dan berhasil mengalahkan mereka. Hyon-go memberikan tanda untuk membukakan pintu gerbang utama. Dua prajurit mengepung Hyon-go sendirian, tapi tiba-tiba panah-panah melesat membunuh mereka. Soojinee beraksi …😀

Para prajurit pemanah di atas benteng menyadari kalau pintu gerbang dibuka dan berusaha turun untuk menutupnya, tapi terlambat …

Suara Damdeok: Suku Shiwoo akan masuk melalui pintu gerbang utama dan Pengawal kerajaan akan menghadang musuh sehingga memuluskan jalan Suku Shiwoo.

Joomochi dan rekan-rekannya segera memasuki Benteng dan mengacaukan suasana, Pasukan Pengawal kerajaan mengikuti di belakang dipimpin oleh Jenderal Kho.

Suara Damdeok: Ingatlah! Jangan bertarung terlalu lama! Yang perlu kita lakukan hanyalah mengerek naik bendera kita! Tujuan utama kita adalan menanamkan rasa takut di hati mereka.

Joomochi dan yang lain memacu kudanya di jalanan utama dalam Benteng Sukhyun, lalu Joomochi melemparkan sebuah tombak ke dinding benteng, membuat gulungan bendera terbuka.

Suara Damdeok: Orang-orang Suku Shiwoo harus tiba di Benteng Okchun sebelum kurir pembawa pesan dari benteng Sukhyun tiba di sana.

Joomochi memimpin rekan-rekannya untuk terus memacu kuda mereka keluar dari pintu belakang Benteng Sukhyun yang menuju ke arah Benteng Ochun, mereka harus bisa menyusul pembawa pesan dari Sukhyun. Soojinee mengikuti di belakang mereka.

Seorang prajurit Goguryeo melambaikan bendera merah di atas pintu gerbang utama Benteng Sukhyun. Damdeok, diiringi oleh pasukan pengawalnya, memasuki Benteng Sukhyun, yang telah jatuh ke tangan mereka dengan sangat cepat sekali. Damdeok memandang ke sekelilingnya.

12 comments on “The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 13

  1. wowww keren…….
    dari dulu cari sinop nih drama tapi gk ketemu”
    eh ternyata disini ada yang buat sinopnya
    hehehe…

    ditunggu kelanjutannya, OK!!

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s