Tree With Deep Roots – Episode 07

Raja Sejong menyusun teka-teki yang ditinggalkan oleh Pelajar Yoon-pil, dan karakter “Mil Bon” (Akar Tersembunyi) terbentuk. Tak seorangpun dapat menyelesaikan teka-teki itu karena itu adalah bahasa yang tidak mereka ketahui, dan merupakan satu bahasa yang dikerjakan oleh Sejong dengan hati-hati dan secara sangat rahasia. Ia sangat kesal saat mengetahui kebenaran dari pesan kematian Yoon-pil, dan perasaan kesalnya semakin bertumpuk saat Muh-hyul tiba untuk memberitahu bahwa jenazah dari para pelajar telah hilang.

Shim Jong-soo membahas mengenai “pimpinan kelompok” Mil Bon, mengapa sampai sekarang masih belum melakukan suatu gerakan. Nyonya pimpinan Ban Chon tidak menyetujui pendapatnya, dan menyerahkan padanya perintah langsung dari pimpinan nmereka sendiri. Si pria bertopeng, Pyung, melapor pada pimpinan mereka bahwa pelajar Sung Sam-moon dan Park Paeng-nyeon adalah orang yang telah mencuri jenazah-jenazah itu.

Chae-yeon dan kedua rekannya duduk berdiskusi siapa ada di pihak siapa. Ia menuliskan semua nama para pemain politik, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati, So-yi, si pria bertopeng, pencuri jenazah, dan pengirim paket terbungkus kain. Ia memisahkan mereka menjadi dua, ke sebelah kanan dan sebelah kiri, siapa yang ada di pihak Raja dan siapa yang melawannya. Ini adalah cara hebat yang digunakan oleh Chae-yoon dalam memecahkan kasus ini, dan ia akhirnya mendapat satu kesimpulan yang bagus. Hal yang paling mendesak adalah, di mana jenazah-jenazah itu sekarang, tapi Chae-yoon tahu kalau pencuri jenazah itu pasti ada di antara pelajar di Jiphyunjeon … (setelah tindakannya memancing reaksi dengan meminta kepala pelajar untuk mengijinkannya memeriksa tubuh setiap pelajar untuk mencari tato)

Satu-satunya kartu yang masih belum dapat ia tebak adalah So-yi. Ia tak tahu mengapa si pria bertopeng tidak membunuhnya, dan itu sudah cukup membuat mereka mencurigainya.

Chae-yoon ingin mencari tahu siapa yang mencuri jenazah-jenazah itu, dan mengetahui kalau para pelajar pasti mengetahui etika dan akan mengembalikannya kepada keluarga mereka, jadi di sanalah mereka akan menunggu.

Sungguh menarik, Jo Mal-saeng tiba-tiba membuktikan kesetiaannya pada Raja dengan memimpin Raja Sejong ke gua di mana ayah Sejong, Raja Taejong, pernah masuk dan melihat ke dalam. Gua itu masih seperti sedia kala dengan pahatan di dinding oleh Jung Do-jun. Jo Mal-saeng melakukan ini untuk membuktikan pada Sejong bahwa kelompok Mil Bon memang benar-benar ada, karena mendiang Raja Taejong telah memberinya perintah untuk bertanggungjawab membantu anaknya nanti, Raja Sejong, jika ada sesuatu yang mengerikan mulai terjadi di Istana. Peristiwa mengerikan benar-benar terjadi dan Jo Mal-saeng mau tidak mau harus maju dan melibatkan dirinya.

Berlawanan dengan gua yang gelap dan membuat orang merinding, sebuah rencana persengkongkolan sedang dibuat di siang hari bolong. Shim Jong-soo sedang melaksanakan misi dari pimpinan kelompok Mil Bon untuk menemukan Guru Hae-gang. Jika mereka dapat membujuknya untuk bergabung dengan Mil Bon, maka separuh pelajar di Joseon akan mengikuti jejaknya. Si guru tua itu bertanya persis sama dengan yang ditanyakan oleh Sejong, siapa yang masih hidup dan memimpin Mil Bon? Mereka berdua sampai pada kesimpulan yang sama pada waktu bersamaan, Jung Do-jun dan saudara lelakinya, Jung Do-gwan mungkin sudah mati, tapi anak Jung Do-gwan, yakni Jung Ki-joon, selamat. Dan tampaknya dialah yang sekarang memimpin kelompok Mil Bon. Nah loh … eng ing eng …

Chae-yoon melakukan penyelidikan secara setahap demi setahap, dan berakhir pada kediaman Heo Dahm untuk menyatakan dukacita pada keluarga dan juga penghiburan pada mereka karena tak ada jenazah mendiang. Ia bertanya mengenai paket yang ia berikan pada Heo Dahm saat ia pertama kali sampai di Ibukota, paket itu dibungkus dengan kain hijau. Ternyata isinya adalah sebuah buku, yang mana mereka sebut sebagai Bi Ba Sa Ron, tapi yang membuat penasaran adalah, buku itu bertuliskan karakter Sansekerta.

Chae-yoon ingin tahu siapa yang bisa membacanya, yang kemudian membawanya ke sebuah toko buku di Ban Chon. Wanita di rumah Heo Dahm mengatakan kalau Heo Dahm mendiskusikan buku itu dengan pemilik toko, hanya saja Chae-yoon tidak dapat menemui pemilik toko buku itu saat ia berkunjung ke sana, sebaliknya ia bertemu dengan si Pyung, tanpa topeng muka.

Chae-yoon berpura-pura kalau ia akan membeli buku, dan pada prosenya melihat gelang besi milik Pyung, mengenali simbol yang ada di gelang itu sebagai simbol yang digambar oleh So-yi untuknya. Chae-yoon tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat mengetahui itu dan segera pedang terhunus mengancam lehernya. Pyung bertanya pada Chae-yoon bagaimana ia bisa mengenali dirinya? Tapi Cho-tak memburu masuk dan pertarungan segera berlangsung. Pyung tak punya pilihan lain lagi selain berusaha kabur, dan ia menerobos melalui jendela kemudian naik ke atap untuk melarikan diri.

Pyung menggunakan teknik lompatan khusus untuk melarikan diri, tapi saat Chae-yoon akan melakukan hal yang sama untuk mengikutinya, Cho-tak menghentikannya dan berkata kalau terlalu banyak orang yang menyaksikan. Mereka mencoba untuk mengejar Pyung dengan cara tradisional, alias menggunakan kaki mereka di jalan, tapi gagal. Saat ia merasa uring-uringan, Cho-tak memanggil Chae-yoon dan bertanya apakah Guru (bela diri) Chae-yoon mungkin terlibat dalam kasus ini? Karena Pyung menggunakan teknik lompatan yang sama yang selalu dibanggakan oleh Chae-yoon selama ini. Chae-yoon mengatakan kalau itu tidak mungkin, kelihatannya sih, karena gurunya menghilang sejak dua tahun yang lalu …

Raja berdiri sendirian di tengah-tengah ruangan pertemuan (sebenarnya sih tidak, karena So-yi ada di sana tapi hanya diam saja selama itu). Di tempat itulah Raja melepaskan semua uneg-uneg hatinya dengan suara sekeras mungkin sesuka hatinya. Di dalam hatinya, Raja Sejong tak hanya sudah menduga kalau Mil bon masih ada dan terorganisasi dengan baik, tapi itu juga artinya Jung Ki-joon masih hidup dan baik-baik saja. Dan di atas semua itu, Chae-yoon juga masih hidup dan sehat walafiat, dan sekarang ada di Istana … untuk membunuh dirinya.

Nyonya pemimpin Ban Chon mendengar kalau pengawal istana telah memasuki toko buku, dan segera memanggil semua penduduk desa untuk mempersenjatai diri. Sudah dinyatakan terlarang bagi pasukan kerajaan untuk memasuki Ban Chon, jadi kedua pihak, baik penduduk desa maupun pengawal Istana sama-sama saling berhadapan dan menjaga posisi mereka masing-masing.

Chae-yoon memcahkan situasi itu dengan berhadapan muka dengan Nyonya pemimpin, dan nampaknya si Nyonya tidak mengenali Chae-yoon, atau Ddol-book saat mudanya. Chae-yoon menunjukkan bahwa mereka datang tanpa membawa senjata, dan bertanya mengenai Pyung. Si Nyonya beralasan, dirinya mungkin memang pemimpin desa tapi ia tak bisa mengenali satu-satu penduduk desanya. So-yi juga ada dalam kerumunan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu, tapi ia dalam sebuah misi dari Raja. So-yi sedang menggunakan percakapan tanpa suara dengan seorang pelajar, Jang Seong-soo, yang sedang menyamar.

Kehadirannya tak luput dari pengamatan Chae-yoon, yang bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang dilakukan oleh seorang dayang Istana di tengah-tengah Ban Chon. Saat So-yi berhasil bertemu dengan sang pelajar secara pribadi, ia menyerahkan sebuah surat pada pelajar itu. So-yi kemudian memberitahu Jang Seong-soo untuk memberikan semua data yang telah ia miliki sampai sekaramg (mungkin itu proyek super rahasia pembuatan tulisan Hangul) dan menyerahkannya pada So-yi, kemudian membakar semua buku-buku yang berkaitan dengan itu yang ada di Jiphyunjeon. Itu adalah perintah dari Raja, dan ia tak bisa menolaknya kecuali mematuhinya. Jang Seong-soon  memberitahu So-yi kalau ia akan bertemu dengan So-yi tengah malam nanti di kuil untuk menyerahkan semua informasi yang So-yi butuhkan.

Jo Mal-saeng menemui raja dan memberitahu kabar, yang sebenarnya sudah didengar Sejong baru saja dari Mu-hyul, bahwa Chae-yoon dan para prajurit menyerbu toko buku di Ban Chon.

Tapi Jo Mal-saeng juga memiliki alasan lain, untuk mewanti-wanti Raja agar tidak mudah mempercayai semua orang.

Anggota-anggota Mil Bon ada di mana-mana. Jangan mempercayai seorangpun, tidak Universitas Sungkyunkwan, tidak juga para pelajar Jiphyunjeon yang ia sayangi. Tak ada yang tahu siapa yang menjadi anggota Mil Bon, dan Sejong harus menerima kenyataan bahwa ia harus mewaspadai mereka yang sulit untuk ia curigai (alias orang kepercayaannya) … Jo Mal-saeng kemudian meminta Raja agar mempercayakan penyelidikan itu padanya, bukannya pengawal kerajaan (alias Chae-yoon).

Sejong tampak berpikir sejenak … Jika ia tak bisa mempercayai semua orang, mengapa ia harus mempercayai Jo Mal-saeng? Jo Mal-saeng diam untuk beberapa saat kemudian meminta diri dan mengatakan kalau ia sudah melaksanakan tugasnya.

Petugas Lee Shin-juk telah melakukan beberapa tindakan yang mencurigakan untuk beberapa waktu, dan masih belum jelas di pihak mana ia berdiri. Tapi setelah Jo Mal-saeng berusaha membuktikan dirinya bisa dpercaya (untuk sekarang) maka berpapasannya mereka kemudian sangat layak untuk diperhatikan. Istana penuh dengan mata dan telinga di mana-mana, dan Lee Shin-juk mengetahui kedatangan dan kepergian Jo Mal-saeng secara sembunyi-sembunyi untuk bertemu dengan Raja. Apa yang sebenarnya yang sedang ia perbincangkan dengan Raja?

Jo Mal-saeng dengan sederhana menjawab kalau Lee Shin-juk tahu semua pertemuan rahasianya dengan Raja, maka itu bukan lagi seubah rahasia, bukankah demikian? Ia kemudian bertanya pada Shin-juk mengenai Mil Bon. Setelah Jo Mal-saeng pergi, pertanyaan itu bergema terus di pikiran Lee Shin-juk.

Perkataan Jo Mal-saeng sangat mempengaruhi Raja secara mendalam, dan Mu-hyul mendapati Raja sedang berbaring tanpa mengenakan jubah Rajanya. Jelaslah Mu-hyul adalah bawahan yang paling dekat dan terpercaya, lalu Sejong bertanya padanya, “Apakah kau mempercayai orang-orang?”

Mu-hyul menjawab kalau ia percaya pada Sejong, yang mengatakan jika memang demikian, mengapa Mu-hyul begitu besar keinginannya untuk membunuh Ddol-bok padahal Mu-hyul mengenal diri Chae-yoon dengan baik? Pada prinsipnya, Mu-hyul membunuh orang karena ia mempercayai (baca: mengenal) mereka, orang lain membunuh orang karena mereka tidak mempercayai orang-orang yang mereka bunuh, dan Sejong merasa ingin membunuh orang saat ia tidak mempercayai dirinya sendiri.

Nyonya pemimpin Ban Chon bertemu dengan bawahannya yang setia, si pembunuh gelap, Pyung. Ia bertanya bagaimana ia bisa dipergoki oleh Chae-yoon? Pyung menjawab tidak tahu dan Nyonya itu memberitahu Pyung agar tidak membuat kesalahan sekali lagi, karena Sung Sam-moon adalah target mereka yang berikutnya!

Sementara itu, Jang Seong-soo dipanggil di hadapan semua pelajar atas gambar tak pantas yang ia simpan. Jelaslah si Pelajar Jang tahu kalau ia akan dilepaskan dengan mudah (lebih baik gambar-gambar itu yang ia korbankan daripada rekan-rekannya mengetahui mengenai misi rahasianya) dan ia segera bertindak sesuai dengan keadaan, jatuh berlutut dan mengatakan kalau ia telah melakukan kesalahan besar. Ia seharusnya segera ditendang keluar.

Pelajar Sung Sam-moon saat itu hadir ketika Pelajar Jang dituduh menyimpan gambar-gambar tak layak (alias p-o-r-n-o ^^ ), tapi melihat sesuatu yang lepas dari pengamatan pelajar lainnya. Ia menunggu sampai Jang Seong-soo sendirian, dan bertanya blak-blakan mengenai semua hal yang menarik rasa ingin tahunya, Pelajar Heo Dahm sedang mempelajari Sansekertan, Yeon-pil sedang mempelajari balok-balok percetakan, dan sekarang Pelajar Jang sedang tertangkap basah olehnya mempelajari Naskah Phags-Pa.

” Naskah Phags-pa adalah sebuah alfabet yang disusun oleh Kubilai Khan, Kaisar Dinasti Yuan dari Tiongkok. Alfabet itu hanya digunakan seabad saja sebelum Dinasti Yuan digantikan oleh Dinasti Ming, dan alfabet itu menjadi punah.

Pelajar Jang menyangkal semuanya, sampai akhirnya Sam-moon mencengkeram bajunya dan menyingkapkan gambar tato yang sama dengan yang dimiliki oleh Jang, yakni tato kotak dengan  lingkaran di dalamnya. Tato yang juga terdapat pada jenazah-jenazah para pelajar. Jang masih berusaha mengelak dengan mengatakan kalau itu hanyalah sebuah tahi lalat, dan tak ada yang khusus mengenai gambar-gambar yang ia miliki, ia hanya ingin melihat gambar-gambar porno. Tapi Sam-moon tahu banyak, ia dipenuhi rasa penasaran bahwa kelompok Mil Bon ingin membunuhnya, jadi ia segera berkelahi dengan Jang untuk mengorek keterangan darinya.

Tapi bukan hanya rasa penasaran saja yang memenuhi benak Sam-moon. Ia tahu kalau anggota-anggota dari organisasi Chun Ji (Langit dan Bumi) satu demi satu dibunuh dan ia mungkin takut akan keselamatan dirinya. Dan juga, kelihatannya ia ingin tahu kebenaran yang sesungguhnya yang disembunyikan oleh anggota lain dalam satu organisasi yang sama dengannya, seperti Jang. Ia memohon pada rekannya itu untuk memberitahu padanya apa yang sedang Raja kerjakan, karena dengan demikian ia bisa mencari tahu siapa yang sedang membunuhi para pelajar, dan juga mengapa? Tapi lebih penting dari itu, siapa berikutnya?

Jang akhirnya kelihatan menyerah, dan memberitahu Sam-moon untuk kembali dahulu dan menunggunya, ia akan memberikan jawaban padanya nanti. Sementara itu, di balik bayang-bayang pepohonan, Pyung dengan topeng mukanya sedang mengawasi mereka berdua.

Chae-yoon dan Sam-moon mengambil jalan berbeda menuju ke gunung tapi berakhir di tempat yang sama.

Chae-yoon dkk sebelumnya telah melakukan penyelidikan setahap demi setahap, sangat menyusahkan dan membuat mereka menderita dalam mencari tahu siapa yang mencuri jenazah para pelajar. Dan setelah sebuah tanya jawab dengan seorang tua, yang mana rumahnya dijadikan tempat menyimpan jenazah curian oleh Sung Sam-moon dan Park Paeng-nyeun, ia sampai di gunung untuk mencoba menemukan Sam-moon.

Tapi pada saat itu, mereka berdua melihat orang ketiga yang datang melalui jalanan gunung yang  menuju ke kuil, yang juga sedang mereka berdua lalui. Dia adalah Dayang So-yi. Ia datang untuk bertemu dengan Jang Seong-soo dan mendapatkan informasi yang dijanjikan oleh Pelajar Jang padanya sebelum ini.

Pyung menemui Pelajar Jang di kuil, tapi entah mengapa ia tak langsung membunuh si pelajar Jang langsung, yang mana memberi kesempatan pada Pelajar Jang untuk berteriak memperingatkan siapapun yang ada di gunung, yang sedang mengarah ke kuil untuk melarikan diri. Mungkin Jang sedang memperingatakan So-yi yang telah mengadakan perjanjian dengannya. So-yi tetap berniat untuk menuju ke atas gunung dan menuju ke arah teriakan itu, yang tiba-tiba berhenti mendadak. Chae-yeon mengetahui kalau itu artinya orang itu sudah mati, dan memperlihatkan dirinya pada So-yi dengan tujuan untuk menghentikannya untuk berjalan lebih jauh. Chae-yeon menyuruhnya untukk kembali turun dan memberitahu Raja kalau Pelajar Jang sudah mati.

Tapi sebenarnya Pelajar Jang belumlah mati, hanya saja ia mengalami kesakitan yang hebat. Darah tampak mengucur keluar dari telinganya dan Pyung segera merebut paket terbungkus kain yang dibawa oleh Pelajar Jang.

Pyung berusaha melarikan diri, tapi ia bertemu dengan Cho-tak di tengah hutan, menyarangkan sebuah pukulan di bahu Cho-tak. Tampaknya ilmu bela diri Cho-tak juga tidak cetek-cetek amat, ia cukup bisa menandingi Pyung. Saat Chae-yoon bertemu dengannya, Cho-tak memberitahu Chae-yoon kalau tidak ada seorangpun di sekitar tempat itu, gunakan saja teknik lompatan itu dengan sepuasnya dan tangkap bajingan bertopeng itu!

Chae-yoon berhasil menyusul Pyung, yang dengan sombongnya bertanya apakah Chae-yoon sedang memburu paket terbungkus kain. Chae-yoon masih kesal dan marah karena mendapatkan sedikit goresan di leher karena pedang Pyung di toko buku sebelumnya, dan segera bertanya, paket apa? Ia hanya ingin Pyung membuka topengnya, bukankah dirinya sudah melihat mukanya sebelum ini, jadi apa lagi yang perlu ia sembunyikan?

So-yi berlari sekuat tenaga dari gunung tanpa berhenti bermaksud untuk memberitahukan kejadian di atas gunung pada Raja. Ia menggunakan pasir di atas tanah sebagai tempat menulisnya, karena ia tak membawa kertas bersamanya. Raja Sejong tampak begitu marah saat membaca tentang kematian dari Pelajar Jang Seong-soo juga.

Sejong menumpahkan amarahnya pada So-yi, mengutuk dan berteriak ke arah So-yi, karena ia sangat geram tak dapat menghentikan pembunuhan demi pembunuhan ini.

Sementara itu, Pyung meremehkan Chae-yoon dan mengatakan kalau ia bukanlah siapa-siapa dan tak ada harganya untuk dibunuh, tapi Chae-yoon membuktikan kalau perkataan Pyung itu adalah omong kosong belaka ketika ia menggunakan teknik lompatannya saat melawan Pyung dengan maksud memotong topengnya (dan mungkin juga kepalanya 😛 ). Dan sekarang Pyung menjadi tertarik … sampai saat ini Pyung merasa kalau ia adalah orang satu-satunya yang dapat menggunakan teknik lompatan yang digunakan oleh Chae-yoon, yang mana diajar oleh orang yang dipanggil Guru oleh Chae-yoon.

Pyung ingin tahu siapa yang mengajarkannya teknik itu tapi Chae-yoon mana mau memberitahunya. Sebaliknya ia sangat senang untuk memancing si orang misterius ini untuk bertarung dengannya …

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s