The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 14

Di sebuah pos penjagaan Baekjae di dekat tepi laut di mana Benteng Sukhyun berada  …

Seorang prajurit melihat kedatangan belasan kapal yang tampaknya akan mendarat .. Ia memberitahu rekan-rekannya untuk memeriksa … Mereka memacu kudanya ke dekat kapal-kapal itu.

Tiba-tiba pintu-pintu kapal diturunkan dan Suku Shiwoo memacu kuda mereka, mendahului yang lain untuk naik ke darat dan menyerang para penjaga pantai.

Seorang penjaga yang masih tertinggal terkejut melihat kedatangan tiba-tiba sebuah pasukan tak dikenal. Ia segera menaiki kudanya dan memacu ke arah Benteng Sukhyun.

Joomochi dan Jenderal Kho memimpin penyerangan ini, semua orang sangat bersemangat karena akan berperang.

Damdeok menunggang kudanya dengan santai, mengamait ke sekelilingnya.

Penjaga pantai sampai di benteng dan segera meniup terompetnya, memberikan pertanda bahaya, ada serangan musuh. Pintu gerbang segera ditutup dan para prajurit benteng segera bergegas ke posisi mereka masing- masing. Para penduduk yang mendengar suara terompet sangat terkejut dan berlarian untuk bersembunyi.

Penguasa Benteng Sukhyun: Ada apa ini? Suara apa ini? Siapa yang menyerang kita?

Prajurit: Mereka adalah pasukan Goguryeo!

Penguasa: (terkejut) Kenapa mereka bisa ada di sini? (nada marah) Bukankah mereka katakan kalau pasukan Goguryeo ada di sebelah Utara! Kita mengirimkan pasukan kita untuk membantu mereka.! Tapi mengapa sekarang ada pasukan Goguryeo di sini?

Penguasa Benteng segera melihat situasinya dan memberikan perintah untuk mengirimkan pesan ke Benteng Okchun dan meminta bala bantuan. Dua orang prajurit segera dikirim untuk meminta bantuan. Mereka memacu kudanya dengan cepat.
Para prajurit Baekjae segera memanah pasukan Goguryeo, tapi setiap dari mereka menggunakan tameng besi yang dibuat Ba Son. Panah-panah itu sama sekali tak berpengaruh apa-apa! … Hidup Ba Son! …😀

Joomochi  meneriakkan teriakan peperangan, para pasukan pemanah berkuda Goguryeo segera melepaskan panah mereka dan banyak prajurit Baekjae terkena panah-panah itu yang langsung menembus baju pelindung mereka. Sekall lagi : Hidup Ba Son! Heheheh😀

Di dalam Benteng Sukhyun, di pintu gerbang utama.

Hyon-go dan yang lainnya segera bertarung dengan para prajurit yang menjaga pintu gerbang dan berhasil mengalahkan mereka. Hyon-go memberikan tanda untuk membukakan pintu gerbang utama. Dua prajurit mengepung Hyon-go sendirian, tapi tiba-tiba panah membunuh mereka. Soojinee beraksi …😀

Para prajurit pemanah di atas benteng menyadari kalau pintu gerbang dibuka dan berusaha turun untuk menutupnya, tapi terlambat …

Suara Damdeok: Suku Shiwoo akan masuk melalui pintu gerbang utama dan Pengawal kerajaan akan menghadang musuh sehingga memuluskan jalan Suku Shiwoo.

Joomochi dan rekan-rekannya segera memasuki Benteng dan mengacaukan suasana, Pasukan Pengawal kerajaan mengikuti di belakang dipimpin oleh Jenderal Kho.

Suara Damdeok: Ingatlah! Jangan bertarung terlalu lama! Yang perlu kita lakukan hanyalah mengerek naik bendera kita! Tujuan utama kita adalan menanamkan rasa takut di hati mereka.

 Joomochi dan yang lain memacu kudanya di jalanan utama, lalu melemparkan tombak ke dinding benteng, membuat gulungan bendera terbuka.

Suara Damdeok: Orang-orang Suku Shiwoo harus tiba di Benteng Okchun sebelum kurir pembawa pesan dari benteng Sukhyun tiba di sana.

Joomochi memimpin rekan-rekannya untuk terus memacu kuda mereka menuju ke arah Benteng Ochun, rmereka harus bisa menyusul pembawa pesan dari Sukhyun. Soojinee mengikuti di belakang mereka.

Seorang prajurit Goguryeo melambaikan bendera merah di atas pintu gerbang utama Benteng Sukhyun. Damdeok, diiringi oleh pasukan pengawalnya, memasuki Benteng Sukhyun, yang telah jatuh ke tangan mereka dengan sangat cepat sekali. Damdeok memandang ke sekelilingnya.

Dua orang kurir pembawa pesan yang dikirim untuk meminta bala bantuan berhasil disusul oleh Joomochi dan Soojinee. Dua kurir itu dibelejeti hingga  tinggal celana pendek saja dan diikat beradu punggung di atas seekor kuda … ahahahaha … pasti ini idenya Soojinee deh😛 Pasukan Suku Shiwoo menyusul Joomochi dan Soojinee yang mendahului mereka di depan.

Penguasa Benteng Sukhyun berhasil ditangkap bersama dengan para pengawalnya, mereka duduk berlutut. Jenderal Kho berkuda ke arah mereka.

Penguasa: Aku adalah Penguasa Benteng ini. (bangun berdiri) Kau harus membunuhku …!

Jenderal Kho menendang dadanya sehingga ia jatuh berlutut lagi, sambil memegangi dadanya yang terasa sakit.

Jenderal Kho: Aku tidak memiliki waktu untuk turun dari kudaku, jadi aku akan berbicara seperti ini. Raja telah menurunkan perintahnya. Siapapun yang mengambil nyawa orang yang tak bersenjata, siapapun yang menyentuh seorang wanita, atau mengambil apapun yang bukan miliknya, dia akan dipenggal saat itu  juga.

Penguasa: Seorang pejuang Baekjae tidak akan menyerah meskipun nantinya ia mati! (Heran deh, kalo gitu kenapa ia ga bunuh diri aja?? )

Jenderal Kho: Aku sih tak peduli apakah kau mau menyerah atau tidak. Aku hanya memberitahumu perintah dari Rajaku saja. Jadi buanglah senjatamu dan hiduplah sebagai seorang bawahan dari Rajaku, atau bunuh semua jenderalmu dan bunuh dirimu sendiri. Lakukan yang kau mau. (Jenderal Kho memutar kudanya dan akan pergi)

Penguasa: Paling tidak beritahukan pada kami nama Rajamu.

Jenderal Kho: (menoleh ke belakang) Namanya tak bisa diucapkan dengan sembarangan pada setiap orang.

Tapi Jenderal Kho berhenti saat melihat Damdeok sedang berkuda ke arah mereka. Penguasa Benteng juga memandang ke arah  yang sama dan melihat Damdeok berkuda dengan gagahnya .. Bae Yong Joon emang kereennn … ^^

Damdeok berhasil merebut Benteng Sukhyun pada hari yang ke-2.

Benteng Okchun

Prajurit di Okchun melilhat  kedatangan para pembawa pesan dan membuka gerbang bagi mereka.

Dua kurir pembawa pesan segera memacu kuda mereka memasuki Benteng. Setelah berada di dalam, mereka turun dari kuda, dan ternyata keduanya adalah Joomochi dan Soojinee yang mengambil pakaian dari kedua kurir asli dan menyamar sebagai mereka berdua.

Joomochi: Mengapa kau tidak kembali saja? Apakah kau ingin membuat Raja menangis karenamu?

Soojinee: Bukankah kau yang harus menjaga dirimu sendiri? Tidakkah kau punya seseorang yang akan mengelus-elusmu nanti?

Joomochi: (gugup)  Apa? Omong kosong apa itu?

Soojinee: (menatap matanya) Tidakkah kau tahu? Wanita itu mengatakan bahwa setiap kali ia melihat dirimu, jantungnya berdegup sangat kencang sampai mau jatuh ke tanah!

Joomochi: (membuka pelindung kepalanya) Be .. benarkah?

Soojinee: (tersenyum) Benar! (Joomochi tersenyum senang mendengarnya) Atau tidak? (Senyum Joomochi langsung memudar, hatinya kesal)

Soojinee tertawa keras melihat Joomochi dapat ditipunya … tangannya menuding-nuding Jooomochi, dan mengatainya, “Bodoh” … Dasar Soojinee memang jahil.

Para penjaga gerbang menegur mereka, keduanya segera mengeluarkan senjata dan membunuh semua penjaga gerbang lalu membuka gerbang utama Benteng Okchun dan menunggu rekan-rekan mereka di depan gerbang utama.

Soojinee:Kau bahkan tidak tahu namanya, benar khan? Apakah kau sudah memegang tangannya?

Joomochi: (menoleh) Apa??

Soojinee: (menggodanya) Bagaimana kau bisa tak berguna seperti itu? Jika  kau ingin tidur dengannya, itu akan memakan waktu bertahun-tahun! … wahahaha Soojinee asli bengal ….

Joomochi: (kesal) Makanan macam apa yang harus dimakan oleh gadis-gadis sehinngga bisa menjadi seperti dirimu???

Soojinee: Setiap malam, hati seekor kura-kura. Setiap tiga hari, sebuah kepala ular beracun. Dan ginseng liar sebulan sekali!

Dari kejauhan nampak Suku Shiwoo memacu kuda tepat ke arah mereka berdua yang sedang berdiri di depan pintu gerbang yang dibuka.

Joomochi: Benarkah?

Soojinee: Apakah kau pikir itu sungguhan? Dasar bodoh!

Suku Shiwoo sudah dekat sehingga keduanya segera menyingkir memberi jalan pada mereka.

Damdeok berhasil menundukkan Benteng Okchun pada hari ke-5.

Huk-gae membacakan pernyataan dari Raja Goguryeo di hadapan para prajurit.

Huk-gae: Raja Goguryeo berbicara, (membuka gulungan kertas) Baekjae dulunya adalah sebuah negara yang terlahir dari Goguryeo, jadi siapapun yang akan memegang tangan saudara tuanya maka akan dianggap sebagai saudara. Demikianlah perkataan Raja bagi semua orang yang ada di benteng ini.

(Andy: Maksud perkataan “siapapun yang akan memegang tangan saudara tuanya maka akan dianggap sebagai saudara” adalah siapapun yang menyerahkan diri dan bergabung dengan Goguryeo (sebagai saudara tua) maka akan dianggap sama dengan prajurit / bawahan Goguryeo yang lainnya.

Ba Son berlari ke tempat menyimpan senjata-senjata rampasan, sangat senang melihat banyak sekali senjata-senjata itu. Tapi segera kecewa saat memeriksa senjata-senjata itu yang menurut Ba Son kualitasnya jelek.

Raja Goguryeo menundukkan Benteng Eulmi pada hari ke-6.

Huk-gae: (melanjutkan) Semua barang-barang di gudang Penguasa Benteng, yang dulunya milik rakyat, akan dikembalikan lagi pada rakyat.

Terlihat banyak prajruit membawa karung-karung gandum di punggung mereka dan menumpuk di hadapan Dalbee. Dalbee berusaha mengatur mereka.

Dalbee: Satu sak setiap orang. Datang dan ambillah bagian kalian! Bagi anak-anak yang berumur kurang dari 10 tahun, ambillah sak yang lebih kecil. (Pada seorang prajurit yang menggendong sekantung gandum) Hei, bukan disitu, sak itu harus ke sana. Bukan di sana! Ini di sini … ! (Dalbee terjatuh dari tempatnya berdiri)

Huk-gae: (melanjutkan) Jangan melukai rakyat! Setiap orang yang melakukan itu akan dipenggal! Setiap prajruit Baekjae yang tak ingin berperang bagi Goguryeo tidak akan dieksekusi. Mereka juga tak akan ditahan sebagai sandera.

Raja Goguryeo menundukkan Benteng Yuhgoon pada hari ke-11

Rakyat membukakan pintu gerbang dan memberikan kemenangan tanpa setitikpun darah tertumpah bagi pasukan Damdeok.

Huk-gae: (melanjutkan) Jika mereka menyerahkan senjata-senjata mereka, mereka diijinkan untuk meninggalkan benteng. Pergi dan beritahukan pada benteng-benteng yang lain.

Raja Goguryeo menundukan Benteng Alphae pada hari ke-10

Tampak banyak prajurit yang pergi dari Benteng karena tidak mau tunduk kepada Goguryeo, tapi mereka sudah dilucuti baik senjata maupun perlengkapan perang yang lain, hanya berpakaian biasa dan bertangan kosong.

Huk-gae: (melanjutkan) Raja Goguryeo menantikan tindakan yang menunjukkan kesetiaan kalian.

Peperangan masih berlanjut …. Sebagai ilustrasi kemenangan Damdoek, di atas sebuah peta nampak  daerah yang memerah menjadi semakin meluas dan melebar. (Merah adalah tanda Goguryeo) Pasukan Damdeok memenangkan peperangan satu demi satu, beberapa bahkan tanpa meneteskan darah sedikitpun.

Warna merah di atas peta semakin meluas dan mendekati Benteng Gwanmi …

————————-

Di sebelah Utara dari Benteng Palgon Baekjae.

Perkemahan Pasukan Goguryeo Ho-gae.

Pasukan Gaema akhirnya bergabung dengan Pasukan Ho-gae.

Cheok-hwan memberikan laporan pada Ho-gae dan para jenderal yang menunggu mereka mengenai bergabungnya Pasukan Gaema. Seorang Jenderal menyindir keterlambatan mereka, apakah Pasukan Gaema membawa kuda di punggung mereka? Berapa banyak waktu yang terbuang karena menantikan kedatangan mereka.

Ho-gae tak menghiraukan si Jenderal itu dan bertanya di mana orang yang mereka kawal ke tempat itu? Cheok-hwan memberikan penjelasan kalau mereka terlambat karena ia jatuh sakit dalam perjalanan itu sehingga mereka mau tidak mau menunggu sampai ia siap untuk melakukan perjalanan lagi. Ho-gae tampak terkejut dan cemas.

Si Jenderal kembali menyindir, sungguh hebat, peperangan ditunda karena seorang perempuan. 40 ribu orang tak melakukan apapun demi satu wanita …?

Cheok-hwan sangat marah dan menghunuskan pedangnya, mengancam leher si Jenderal. Semua orang menjadi terkejut.

Jenderal A: Apa maksudmu ini?

Cheok-hwan: Jangan menghinanya! Dia bukan sekedar wanita biasa! Dia adalah Pelindung Joojak! (Cheok-hwan melepaskan ancamannya dari sang Jenderal)

Ho-gae tidak mengerti mengapa Cheok-hwan tampak begitu marah dan berdedikasi pada Ki-ha …

Cheok-hwan: Kami melihatnya!

Kilas balik, Cheok-hwan melihat Ki-ha yang ditarik oleh kekuatan Joojak dan mendudukkannya di tepi tebing.

Cheok-hwan: (pada Ho-gae) Dia adalah Joojak yang sesungguhnya! Dia adalah salah satu dari Empat Pelindung yang akan memimpin negeri kita untuk menjadi negeri Jyooshin!

Ho-gae: (bangun berdiri) Jadi di mana dia sekarang?

Cheok-hwan: Dia sempat tak sadarkan diri untuk beberapa hari, tapi saat ia sadarkan diri, dia mengatakan kalau dia akan kembali ke Gooknaeseong. Dia mengatakan kalau ada sesuatu yang harus dikerjakan di sana ..

Tiba-tiba terdengar seruan kalau seorang pembawa  pesan datang, yang memberitakana kalau Yang Mulia Raja telah berhasil menundukkan empat Benteng Baekjae: Sukhyun, Okchun, Eulmi, dan Aphae.

Ho-gae tampak terkejut dan tidak percaya, perasaan kesal dan amarah nampak di wajahnya.

Hyeongoong dihadapkan pada Ho-gae, nampaknya ia sudah disiksa.

Ho-gae: (mencekal kerah baju Hyeongoong) Beritahukan padaku. Beritahu aku pesan dari Raja! Beritahu aku!

Hyeongoong: Yang Mulia Raja mengatakan kalau ia akan menyerang wilayah di tengah-tengah antara Baekjae Timur dan Barat. Jika ia melakukannya, maka pasukan bala bantuan yang dikirim ke wilayah ini akan berbalik dan kembali. Ia memintamu untuk mengikuti mereka dan menyerang Benteng Gwangmi bersama-sama. Maka Benteng Gwanmi akan ….

Ho-gae (menggncang Hyeongoong) Di mana itu? Simbol Chung Ryong …Itu taka da di Baekjae Timur tapi Barat! Ia mengirim pesan palsu padaku dan pergi sendiri ke Barat.

(Andy: Aneh deh … wong Ho-gae khan tahu Simbol itu di Timur khan diberitahu Dae Jangro, kenapa sekarang menyalahkan Damdeok sih?? Ga beres kali otaknya >.< )

Hyeongoong: Ia mengatakan kalau kita dapat menguasai laut jika kita menyerang Benteng Gwanmi dan memecah Baekjae Timur dan Barat.

Ho-gae: (mendorong Hyeongoong jatuh) Benteng Gwanmi  … ? Simbol itu pasti ada di sana …

Hyeongoong: Komandan! Yang Mulia Raja telah membuat dirinya sebuah pengalihan untukmu! Kau harus mengikuti pasukan yang mundur dan menyerang mereka!

Seorang perwira datang dan memberitahu kalau pasukan Baekjae mundur bahkan pasukan  bala bantuan juga ;kembali.

Jenderal A: (pada Ho-gae) Tak usah banyak berpikir lagi! Mari kita serang Baekjae! Ini adalah kesempatan kita untuk mengambil alih Hanseong!

Hyeongoong: (berseru) Bukan Hanseong! Yang Mulia Raja telah mengatakan kalau kita harus menyerang Benteng Gwanmi terlebih dahulu!

Ekspresi wajah Ho-gae tampak bingung dan tak tahu harus berbuat apa …

Perwira lain berseru pada Ho-gae mengapa ia masih ragu-ragu? Bukankah mereka memiliki 40 ribu orang?

Ho-gae membalikkan diri memunggungi mereka semua, wajahnya masih tampak seperti orang linglung …

Hyeongoong perlahan-lahan berdiri dan mendekati Ho-gae …

Hyeongoong: (nada membujuk) Kumohon … Ikutilah perintah Yang Mulia Raja. Yang Mula melakukan ini demi dirimu dan pasukanmu …

Tiba-tiba …

Ho-gae menghunuskan pedang yang di atas meja, membalikkan tubuh sambil mengayunkan pedangnya pada Hyeongoong, yang langsung jatuh dan tewas seketika. Semua orang terkejut menyaksikan kebrutalah Ho-gae … Mereka menatapnya dengan tidak percaya … Wajah Ho-gae terkena cipratan darah Hyeon-goong tampak mengerikan …

Ho-gae: Siapa yang kau panggil Yang Mulia? (ia mengawasi ke sekelilingnya)

——————–

Gooknaeseong, Goguryeo

Chojodo tampak berlari tergesa-gesa sampai napasnya memburu. Ia berlari ke arah Perdana Menteri Yeon, yang sedang berjalan bersama dengan para pejabat militer dan kepala suku. Seorang pejabat militer bertanya apa yang sedang Raja lakukan pada saat seperti ini pada menteri-menterinya? Bagaimana kita bisa tidak tahu apakah ia sesungguhnya sedang berburu ataukah berperang? Apakah mereka ini dianggapnya sebagai menteri atau anjing di lapangan?

Seorang kepala suku mengatakan kalau Yang Mulia Raja turun berperang dan sekarang telah berhasil memenangkan empat benteng. Bukankah itu sangat baik bagi negeri mereka?

Pejabat kedua bertanya, empat benteng yang telah dikuasai itu, siapa yang akan ditugaskan untuk mengaturnya?

Pejabat pertama mengatakan bukankah sudah jelas, pasti Kepala Suku Jeolno! Satu untuk anaknya dan yang lain untuk keponakan-keponakannya. Sekarang ia pasti sedang melompat-lompat dengan gembira.

Si kepala suku bertanya, jadi apa yang terjadi dengan Ho-gae, yang telah membawa semua pasukan bersamanya?

Mereka semua juga ingin tahu mengenai hal itu. Pejabat kedua bertanya mengapa Ho-gae yang telah membawa dengannya 40 ribu pasukan masih belum memenangkan bahkan desa kecil sekalipun?

Chojodo berhasil menyusul mereka, dan memberitahu dengan napas terengah-engah kalau Yang Mulia Raja telah berhasil menduduki benteng yang kelima! Bahkan Yang Mulia sama sekali tak menggunakan sebatang anak panah untuk menguasainya. Yeon Garyeo tampak sangat kesal dan pergi meninggalkan mereka. Kepala Suku bertanya pada Chojodo, sama sekali tanpa sebatang anak panah? Chojodo tak menjawab tapi segera menyusul Yeon Garyeo.

————————-

Cheonji Shindang

Seorang pendeta wanita senior memberitahu Pendeta Tinggi kalau rakyat benteng lah yang telah membukakan pintu gerbang bagi Yang Mulia Raja. Itu adalah kemenangan tanpa pertumpahan darah.

Pendeta Tinggi bangun dari duduknya dan berjalan ke depan ..

Pendeta Tinggi: Dia mendapatkan tuntunan dari Langit. Rakyat Baekjae dan Goguryeo sebenarnya adalah saudara-saudari yang dilahirkan di bawah Langit yang sama. Semua ini adalah kehendak dari Langit. Pada subuh esok hari, kita akan memulai upacara untuk mendoakan kemenangan. Beritahu semua orang agar mempersiapkannya dengan baik.

Tiba-tiba terdengar suara mencurigakan dari luar, pendeta wanita senior dan beberapa rekannya segera menuju ke luar untuk memeriksanya, tapi mendadak semua pintu tertutup dan Pendeta Tinggi dan ketiga pengawalnya terisolasi di dalam ruang sembahyang, pendeta wanita senior tak bisa masuk ke dalam. Ia memanggil-manggil Pendeta Tinggi.

Ketiga pengawal Pendeta Tinggi jatuh tak sadarkan diri satu persatu, penyebabnya sebutir mutiara. KI-ha kemudian memunculkan dirinya dan berjalan ke tempat Pendeta Tinggi berada. Pendeta Tinggi menatapnya dengan pandangan tajam.

Ki-ha: Apakah kau sehat-sehat saja?

Pendeta Tinggi: (nada tinggi) Pelindung Joojak, apa yang membuat orang penting seperti dirimua ke tempatku?

Ki-ha: Aku ingin bertanya sebuah pertanyaan pada dirimu, karena itu aku butuh suasana yang tenang.

Pendeta Tingg: Aku yang akan bertanya dahulu. Joojak adalah salah satu dari Empat Dewa Pelindung Jyooshin dan seharusnya melayani sang Raja. Apakah perkataanku salah?

Ki-ha: Tidak! Kau tidak salah!

Pendeta Tinggi: Dari apa yang dilihat oleh Cheonji Shindang, Raja yang sekarang adalah Raja Jyooshin yang sejati. Tapi apakah kau tidak melihatnya, Pelindung Joojak?

Ki-ha: Aku melihatnya!

Pendeta Tinggi: Tapi kau justru membunuh ayahnya dan mengakui orang lain sebagai Raja Jyooshin. Apa maksudmu yang sebenarnya?

Ki-ha: (mendekati Pendeta Tinggi) Ada sesuatu yang Pendeta Tinggi tidak tahu. Kekuatan Joojak dulunya tidaklah selalu seperti sekarang. Itu dulunya adalah milik dari Ibu Bumi, Shaman Api, tapi itu dicuri oleh Raja Jyooshin. Bahkan sejak aku masih muda, aku selalu mendengar cerita itu.

Kilas balik, Ka-jin menerima kekuatan api dari shaman terdahulu. Kekuatan Ka-jin diambil oleh Hwan-woong dan disegel dalam permata ruby merah, Jantung Joojak.

Ki-ha: Aku diberitahu untuk mengambil kembali kekuatan api, dan merebut kekuatan Langit dari mereka dan menjadi Ibu Bumi kembali … tapi … (berjalan ke belakang Pendeta Tinggi) Setelah aku bertemu dengannya, aku merasa semuanya itu sangat mengganggu … Semuanya itu tak kupikirkan sama sekali … aku tak peduli sama sekali mengenai masa depan dunia ini. Aku hanya ingin hidup demi satu orang … (menoleh pada punggung Pendeta Tinggi) Tapi ternyata aku salah.

Pendeta Tinggi: (menoleh pada Ki-ha) Lalu apa yang akan kau lakukan?

Ki-ha: (mendongak ke atas) Apa yang akan kulakukan?

Pendeta Tinggi: Ingatlah bahwa kau adalah orang yang paling dipercaya oleh Yang Mulia Raja.

Ki-ha: Aku dulu juga berpikir demikian …

Pendeta Tinggi: Aku juga menganggapmu sebagai anak perempuanku.

Ki-ha: Ya, kau dulu memang demikian.

Pendeta Tinggi: Apa yang akan kau lakukan?

Ki-ha: Maafkan aku … Yang pertama akan kulakukan adalah mengambil alih Kuil ini.

Pendeta Tinggi: (menatapnya tak percaya) Apa?

Ki-ha: (menatap mata Pendeta Tinggi) Apakah kau akan memberikannya padaku?

Ki-ha mendekati Pendeta Tinggi, yang mundur dengan mata terbelalak dipengaruhi oleh kekuatan Ki-ha. Ki-ha memeluk Pendeta Tinggi, air mata mengalir di pipinya.

Ki-ha: Kekuatanku semakin meningkat dari hari ke hari. Karena ada sesuatu yang berharga di dalam diriku. Dia membangunkan kekuatanku.

Ki-ha meletakkan tangannya di atas kepala Pendeta Tinggi dan menggunakan kekuatannya sehingga tangannya bercahaya.

Ki-ha: Aku adalah sang Ibu Bumi, aku harus mempersiapkan Bumi ini bagi anakku. Dan anakku akan menjadi Raja yang sejati, tanpa mempedulikan kehendak Langit maupun Bumi. Bantulah aku …

Wajah Pendeta Tinggi  tampak tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Ki-ha dan berusaha menentang kekuatannya …

Pintu terbuka, pendeta wanita senior segera memburu masuk dan menemukan Pendeta Tinggi dan yang lainya sedang berbaring di tanah tak sadarkan diri. Pendeta wanita senior terkejut dan memanggil-manggil Pendeta Tinggi dan segera memapahnya bangun. Ia bertanya pada salah satu pengawal yang baru sadar, apa yang terjadi pada Pendeta Tinggi. Tapi pengawal itu juga tidak tahu, Pendeta Tinggi mulai sadar namun tampak linglung, membuat semua orang cemas.

Ki-ha berjalan keluar dari Cheonji Shindang …

Ki-ha: Apakah kau melihatnya? Ini baru permulaan! Aku akan memberikan Goguryeo padamu, anakku! Dan setelah itu, apa lagi yang akan kuberikan padamu?

——————————–

Perkemahan pasukan Damdeok

Banyak prajruit yang tampak sangat kelelahan dan ada yang  tertidur … namun dibangunkan oleh rekan-rekannya.

Hyon-go: Mereka telah berkuda tanpa henti selama limabelas hari. Para prajurit pasti merasa sangat kelelahan sehingga mereka lebih rela untuk ditusuk daripada berperang.

Para prajurit kembali duduk dan tidur-tiduran karena saking capeknya. Di dalam tenda, Soojinee terangguk-angguk mengantuk karena lelah dan bosan mendengar rapat.

Hyon-go: Pasukan Baekjae Barat yang telah dikirim ke tempat Ho-gae telah berbalik dua hari lalu. Mereka akan segera kemari.

Huk-gae tampak lelah, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi sambil mendongak ke atas, sementara Damdeok menyandarkan kepalanya di tangannya yang menyiku di meja. Mereka berdua sama-sama menutup mata. Jenderal Kho berdiri dengan tegak di samping Damdeok sambil mendengarkan Hyon-go yang masih sangat bersemangat menerangkan.

Hyon-go: (memandang pada Damdeok, yang kelihatan tidur) Jika mereka datang kemari saat kita dalam kondisi seperti ini, hasilnya sudah jelas terlihat. Jika mereka mendapati kita tidur-tiduran seperti ini, maka kita akan dibantai seperti serombongan tikus.

Damdeok: (membuka matanya) Apakah masih belum ada kabar dari Ho-gae?

Hyon-go: Aku tahu! Aku juga tidak mengerti apa yang telah terjadi, aku juga belum menerima kabar dari Hyeongoong. Ah … paling tidak seharusnya ia mengirim sebuah laporan.

Huk-gae: (masih bersandar dengan mata tertutup) Apakah kau berpikir mereka akan benar-benar datang? (membuka matanya lalu duduk tegak) Apakah kalian berpikir kalau Ho-gae akan benar-benar membawa pasukannya kemari untuk membantu kita?

Jenderal Kho: Itu adalah perintah Raja! Bagaimana ia berani untuk tidak mematuhinya?

Huk-gae (tertawa geli dan berdiri) Sungguh Raja dan Jenderal, kalian berdua … betapa polosnya jalan pikiran kalian berdua! (Semua orang menatap Huk-gae) Begini ya, apa yang akan terjadi jika ia benar-benar membawa pasukannya kemari untuk mematuhi perintah dari Raja? Siapa yang akan menjadi Komandan di sini? Tentu saja Raja! Jadi, Ho-gae yang memimpin 40 ribu orang berada di bawah Raja, yang hanya memimpin 4 ribu orang? Apakah kalian pikir mereka bisa menerimanya?

Jenderal Kho: Jika ia tidak datang, maka semuanya akan menjadi lebih rumit. Saat Pasukan Baekjae Barat berbalik dan menuju kemari, jika Ho-ge tidak membantu kita, maka kita semua akan …

Huk-gae: Hanya tertinggal satu cara … Mereka katakan kalau Benteng Gwanmi tak bisa ditembus. Maka yang harus kita lakukan adalah masuk ke dalamnya.  Jika kita bisa memasukinya, maka kita akan aman!

Damdeok: Jika kita mau memasukinya, maka kita harus bisa menembus terlebih dahulu benteng yang katanya tak bisa ditembus itu ….

Huk-gae tampaknya menyadari ada yang salah dalam kata-katanya dan salah tingkah … ahahahaha … Mungkin Huk-gae berpikir kalau Penguasa Benteng akan sukarela membuka pintu bagi mereka ?? ahahaahha …

Damdeok: Apakah kau ingin aku mengirimkan orang-orangku ke kematian mereka?

Huk-gae: Kita ini sedang berperang dan para prajurit kita sudah siap jika memang harus mati! (menepuk dadanya) Tak ada seorangpun dari anakbuahku yang takut mati!

Damdeok: (memejamkan mata, tampak berpikir) Jika kita tetap tinggal di sini, maka orang-orang kita akan mati sia-sia. Jika kita mencari perlindungan di Benteng Gwangmi maka itu berarti hidup para prajurit kita dipertaruhkan. (memandang Huk-gae) Strategi macam apa itu?

Huk-gae terdiam …

Damdeok: Kita akan menunggu sampai besok sore, jika tidak ada kabar dari Ho-gae maka kita akan kembali ke Goguryeo.

Semua orang terkejut mendengar perkataan Damdeok …

Huk-gae: Bagaimana dengan benteng-benteng yang telah kita kuasai?

Damdeok:Kita akan mengembalikannya pada mereka. (bangkit berdiri) Orang-orang ini telah melihat apa yang telah kuperbuat di tempat ini. Lain kali ketika mereka melihatku, mereka mungkin akan segera membukakan pintunya bagiku. Itu sudah cukup bagiku.

Damdeok segera berlalu dari tempat pertemuan, Huk-gae berusaha memanggilnya namun Damdeok sudah jauh …

Huk-gae keluar ke perkemahan dan berteriak sekuat tenaga, berusaha melepaskan rasa kesal di hatinya. Anak keduanya, Dal Gul,  mendengar teriakan ayahnya dan menghampirinya, bertanya apa ada yang mengganjal di hati sang ayah. Huk-gae menyuruh anaknya mendekat dan bertanya, apakah Raja menyuruh mereka tidak bertarung malam itu di Daejaseong? Bukankah ia menyuruh mereka agar tidak bertarung?

Kilas balik, Ho-gae memanah Damdeok, Song Du-ru ingin membela Damdeok tapi Damdeok menyuruh mereka untuk tidak ikut campur. Ho-gae memacu kudanya menyerang Damdeok. Song Du-ru melemparkan senjata pada Damdeok, yang segera menerimanya dan menghantam kaki kuda Ho-gae, yang langsung tersungkur jatuh.

Dal Gul menjawab ayahnya, ia bertarung sendirian. Tapi orang-orang Ho-gae yang rendah itu … mereka memulai memanahnya.

Kilas balik, pasukan Ho-gae memanah ke arah Damdeok, tapi Soojinee segera bertindak lebih cepat, ia menubruk Damdeok sehingga terjatuh dan membuat tubuhnya sendiri sebagai perisai dari panah. Semua orang segera melakukan hal yang sama, mereka memburu ke arah Soojinee dan Damdeok, menelungkupkan tubuh mereka ke atas keduanya. Sou Du-ru segera berlari ke depan mereka semua, menjadikan dirinya sebagai tameng hidup. Ia menerima banyak anak panah di tubuhnya sebelum akhirnya terjatuh telentang dan menghembuskan napas terakhirnya.

Huk-gae: Jadi begitu ya … Sou Du-ru menggunakan tubuhnya sendiri sebagai perisai, melindungi Yang Mulia dari anak-anak panah.

Dal Gul: (menganggukkan kepalanya dengan sedih) Benar …

Huk-gae: (menganguk-anggukkan kepalanya) Baiklah … Sekarang aku mengerti sudah …Karena itulah ia menjadi lemah hati. Karena itulah Yang Mulia Raja dipenuhi dengan rasa takut. (nada tinggi) Tapi aku … aku tak tahan melihat keberaniannya menciut. Heaaaaaa (ia berteriak lagi)

Huk-gae kemudian mengajak anaknya untuk merencanakan sesuatu. Tampak Huk-gae dan Dal-gul sedang memberikan perintah pada anak buah mereka. Joomochi melihat mereka dari kejauhan.

————————-

Gooknaeseong

Kediaman Yeon

Yeon Garyeo dan Chojodo berjalan sambil berbicara ..

Yeon Garyeo: Mereka katakana ia adalah orang yang lemah dan rapuh … Mereka katakan kalau ia bahkan tidak bisa berburu. Tapi, pertama ia mengikuti turnamen Kukkyu lalu sekarang ia bahkan memenangkan perang! Sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Mereka sampai ke aula besar dan memasukinya ..

Chojodo: Tuan, pembawa pesan sedang menunggu. Mungkin kau seharusnya menuliskan pesan pada Tuan Ho-gae dulu …

Yeon Garyeo: (menepuk meja beberapa kali) Apa yang harus kutulis? Dia (Raja)  hanya membawa 4 ribu orang tapi mendapatkan kemenangan yang gemilang. Semua orang tahu kalau dia (Ho-gae) membawa 40 ribu orang tapi tidak menghasilkan apapun! Haruskah aku menuliskan ini padanya?

Dae Jangro: Tak semua orang tahu itu …

Yeon Garyeo: Oh .. hoh … Orang yang katanya tahu segalanya ada di sini sekarang. Apakah kau juga tahu mengenai ini? Apakah kau juga mengetahui kalau kita akan dipermalukan seperti ini?

Dae Jangro: Kenyataan mengenai Raja hanya membawa 4 ribu orang saja dan memasuki wilayah Baekjae, tidak semua orang tahu mengenai ini. (Yeon Garyeo tidak mengerti arah perkataan Dae jangro) Karena itulah mengapa kita sekarang mulai membuat mereka tahu akan kenyataan itu.

Yeon Garyeo: Kau membocorkan informasi ini pada mereka?

Dae Jangro: Berita mengenai jumlah pasukan Raja akan segera mencapai Benteng Gwanmi besok. Karena itulah, hari berikutnya … Tidakkah kau merasa kalau Penguasa Benteng Gwanmi akan melakukan sesuatu setelah mendengar berita itu? (Yeon tampak berpikir) Dan satu hal lagi … Aku memiliki secuil informasi yang sangat menarik untukmu.

————–

Beberapa hari sebelumnya, seorang asisten Ba Son dihadapkan pada Dae Jangro, Sa Ryang yang membawanya ke markas rahasia Hwacheon.

Dae Jangro: Ada seorang pandai besi terkenal bernama Ba Son. Seorang pria yang bekerja untuknya memberitahuku sebuah cerita yang menarik. Pria itu memberitahuku kalau Ba Son aslinya berasal dari desa pandai besi di Heuksoo Malgal

Yeon Garyeo: Apa yang begitu istimewa dari desa itu?

Dae Jangro: Pada malam Bintang Jyooshin mucul, sebuah cahaya yang berasal dari Simbol Baekho bersinar dari desa itu.

Asisten Ba Son membuka sebuah rahasia mengejutkan pada Dae Jangro.

Asisten Ba Son: Kapanpun ia mabuk, ia akan selalu mengatakan bagaimana saudara lelakinya menghilang. Ia mengatakan kalau saudaranya menyembunyikan diri dengan sebuah benda yang sangat berharga dan saudaranya itu sedang menunggu Raja Jyooshin. Ia mengatakan kalau Raja Jyooshin harus datang sehingga ia bisa melihat saudaranya itu lagi. Karena itulah mengapa ia sekarang pergi dengan Raja Jyooshin ini. Tapi aku tidak pergi! Aku tidak pergi! Jadi kumohon ampuni aku! Lepaskanlah aku!

Yeon Garyeo: Utara … ?

Dae Jangro: Kami telah mengirimkan orang untuk mencari seorang pandai besi yang terkenal dan hidup secara tersembunyi. Itulah mengapa kau harus mengirimkan sebuah pesan pada Ho-gae untuk membawa pasukannya ke Utara.

Yeon Garyeo: Bagaimana dengan Yang Muila Raja yang ada di dekat Benteng Gwanmi?

Dae Jangro: Akan sulit baginya untuk hidup lebih lama lagi. Aku memberitahumu untuk tidak mencemaskan mengenai dirinya lagi ..

Yeon Garyeo: Dua pertiga dari 40 ribu pasukan itu adalah prajurit sukarela. Para pemimpin mereka pasti akan ingin tahu alasan mengapa mereka bergerak ke utara.

Dae Jangro: (tertawa) Langit yang akan mengirimkan jawabannya. Orang yang menerima pesan ini harus mempersiapkan dirinya sendiri. (tertawa lagi)

 ——————-

Cheonji Shindang

Terdengar suara mantra menggema di Kuil Peramal. Para anggota Cheonji Shindang berbaris maju dengan rapi dan teratur, masuk ke dalam ruangan sembanyang di Kuil Peramal.

Pendeta Tinggi di kamarnya tampak masih linglung, sampai-sampai memerlukan bantuan untuk memakaikan jubahnya.

Di dalam Kuil Peramal

Pendeta senior: (membakar surat mantra) Langit memberikan pada kita Yang Mulia Hwan Woong. Yang Mulia Hwan Woong memberikan kita Dan Goon.

Pendeta senior menaruh surat mantra yang terbakar itu dalam baskom besi dan membawa baskom besi itu ke hadapan Pendeta Tinggi, yang terlihat berdiri tak stabil.

Pendeta senior: (melanjutkan) Joomong melahirkan tanah di antara Langit satu dengan lainnya.

Pendeta Senior melihat Pendeta Tinggi seperti dalam kondisi kerasukan dan segera menghentikan pembacaan mantra dari anggota lainnya. Pendeta Tinggi mengambil alat ritual (semacam dua bilah bamboo dengan logam berukir di dalamnya) kemudian menggoncangkannya di atas kepala sembari berputar menghadap pada para anggota Shindang. Semua orang terkejut …

Pendeta Tinggi: Langit mengirimkan pesan ini … Semua orang yang tersebar ke empat penjuru Jyooshin, … Berkuasalah kau yang telah membangun tanah di antara Langit satu dan yang lainnya … Sekarang Jyooshin yang baru .. Jyooshin …

Tubuh Pendeta Tinggi bergooncang dengan keras … tampaknya ia sedang melawan kekuatan Ki-ha … semua orang terkejut melihatnya … Ki-ha memasuki lorong ke ruang sembahyang.

Pendeta Tinggi: (melanjutkan) Menjadi telinga dari Langit … dan mata dari Langit … Kirimkanlah kekuatan yang baru kepada mereka …

Tubuh Pendeta Tinggi bergoncang kembali, Ki-ha sampai di hadapan Pendeta Tinggi .. Pendeta Tinggi berhasil menguasai diri dan berseru sambil menggelengkan kepalanya, “Tidak … Tidak!” Ki-ha naik ke altar dan berhadapan dengan Pendeta Tinggi yang jatuh berlutut. Pendeta Tinggi menatapnya dengan pandangan kemarahan, berseru .. “Kau … Ki-haaaaa …” Lalu ia jatuh tak sadarkan diri, semua orang sangat cemas melihat kondisi Pendeta Tinggi.

Ki-ha duduk di tanah sambil memeluk Pendeta Tinggi dan mengelus pipinya, berbisik pada Pendeta Tinggi, yang masih membuka matanya namun tidak terfokus…

Ki-ha: Aku menganggapmu sebagai ibuku juga. Aku benar-benar meenganggapmu demikian. Jadi sekarang pergilah dalam damai …

Ki-ha mengusap wajah Pendeta Tinggi yang segera menutuup matanya, Pendeta senior segera mengambil alih Pendeta Tinggi dan memanggil-manggilnya …

Pendeta Tinggi: (suara pelan) Berikan Simbol Pendeta Tinggi pada Ki-ha … (kepalanya terkulai, ia telah menghembuskan napas terakhir di pelukan pendeta senior)

Pendeta senior menatap Ki-ha yang berdiri agak jauh, tak memandang mereka. Pendeta senior lalu mengambil Simbol Pendeta Tinggi (yang dipakai sebagai alat ritual sebelumnya) tapi ragu-ragu untuk memberikannya pada Ki-ha.

Ki-ha: (menegur) Kau seharusnya melakukan apa yang harus kau lakukan! Aku menunggu panggilan dari Langit!

Pendeta senior: (nada duka, pada semua orang) Pendeta Tinggi telah meninggalkan dunia ini menuju ke Langit. Sebelum ia pergi, ia telah menunjuk Pendeta Tinggi penggantinya.

Pendeta senior menghampiri Ki-ha dan memberikan Simbol Pendeta Tinggi padanya. Ki-ha menatap pendeta senior dengan tajam. Pendeta senior dengan terpaksa membungkukkan badannya memberikan penghormatan pada Ki-ha sebagai Pendeta Tinggi selanjutnya. Semua orang mengikuti tindakan pendeta senior. Ki-ha meninggalkan ruangan itu dan meninggalkan orang-orang yang meratapi kematian Pendeta Tinggi sebelumnya.

————————-

Perkemahan Pasukan Ho-gae

Pembawa pesan dari Gooknaeseong datang dan menyerahkan sebuah gulungan pesan pada Ho-gae.

Ho-gae: (pada semua orang) Ini adalah pesan dari Gooknaeseong.

Jenderal A:  Apa isinya? Apakah kita akan menyerang Hanseong ataukah Benteng Gwanmi?

Ho-gae: Isinya menyuruh kita ke Utara.

Cheok-hwan: Utara? Utara mana?

Ho-gae: Utara dari Yoha, Simbol Baekho dikatakan ada di sana.

* Utara dari Yoha berarti wilayah bagian utara Yosu, wilayah Georan.

Perwira B: Bagaimana dengan Simbol Chung Ryong di Baekjae?

Cheok-hwan: Akankah Yang Mulia Raja juga pergi ke Utara? (Ho-gae diam) Apakah … Yang Mulia Raja belum mengetahuinya?

Ho-gae: Kuil Peramal telah menerima sebuah pesan dari Langit. Pesan ini dikirim oleh Dewan Istana. Inilah isinya: “Ditemukan bahwa Simbol dari Chung Ryong ada di Benteng Gwanmi. Simbol ini mungkin sudah diambil oleh Yang Mulia Raja, karena itu Ho-gae akan bergerak ke Utara Yoha. Dia harus mengambil Simbol Baekho”

Jenderal A: Kalau begitu, apakah kita akan meninggalkan Yang Mulia Raja? Pasukan dari Baekjae Barat telah bergerak menuju ke Benteng Gwangmi, dan ia hanya memiliki 4 ribu orang … (Ho-gae menatapnya tajam sehingga sang Jenderal terpaksa tutup mulut)

Ho-gae: (bangun berdiri) Resimen Pertama!

Jenderal A: (berdiri) Ya, Komandan.

Ho-gae: Kita akan menggerakkan pasukan sebelum matahari terbit! Resimen kedua akan menjaga persediaan.

Jenderal B: (berdiri) Ya, Komandan.

Ho-gae: Resimen ketiga dan keempat akan menunggu sampai matahari terbenam baru berangkat.

Cheok-hwan dan Jenderal C bangun berdiri.

Ho-gae: Resimen kelima akan memastikan kalau Baekjae tidak mengetahui rencana kita ini.

Seseorang menguping pembicaraan Ho-gae dan para Jenderal, ia segera bergegas menuju ke tempat yang sepi dan melepaskan seekor burung ke angkasa. Itu ternyata Burumsae …

——————————–

Perkemahan Raja Goguryeo

Dua anggota Geo-mool melihat Burumsae dan segera menjemputnya. Pesan itu segera disampaikan pada Hyon-go, yang ada di ruang pertemuan.

Damdeok: Utara?

Hyon-go: Ya, itu benar. Mereka berpikir kalau Simbol Baekho ada di sana. (Damdeok tampak kecewa) Dan … Dan Hyeongoong yang pergi ke sana atas perintahmu … telah meninggal. (Damdeok dan yang lain terkejut, Soojinee segera ke belakang Hyon-go untuk mengintip baca pesan itu) Tenggorokannya telah ditebas … oleh Ho-gae sendiri … (Mata Damdeok menampakkan api kemarahan yang belum pernah ia tampilkan selama ini)

Jenderal Kho: Ini jelas adalah pengkhianatan! Aku akan mempersiapkan pasukan. Kita harus terlebih dahulu kembali ke Gooknaeseong …

Tiba-tiba …

Dalbee berlari masuk tergopoh-gopoh ..

Dalbee: (panik) Yang Mulia ..! Yang Mulia ..!

Semua orang menoleh melihatnya dan tak mengerti ..

Dalbee: Mereka telah menghilang! Mereka pergi!

Ba Son menyusul masuk sembari terengah-engah dan gugup … menggoyang-goyangkan tangannya

Ba Son:  Semuanya hilang! Senjata-senjata, panah-panah, semuanya! (Semua orang terkejut lebih lagi) Pencuri macam apa yang mencuri persenjataan yang digunakan untuk berperang? Apakah ini mungkin? (Damdeok tampak menyadari sesuatu)

Dalbee: Mereka mengambil persediaan yang cukup untuk 5 hari …  Persediaan 5 hari untuk seluruh pasukan ..!

Damdeok: (bangkit berdiri, bertanya pada Jenderal Kho) Di mana Jenderal Huk-gae dan Joomochi?

Jenderal Kho: ….

Damdeok segera bergegas pergi ke luar diikuti oleh Jenderal Kho, Soojinee dan yang lainnya.

Di luar tenda ..

Jenderal Kho: Apa yang akan kau lakukan?

Damdeok: Kita harus membuat mereka kembali. Mereka semua akan mati!

Jenderal Kho segera menghadang jalan Damdeok dan memandangnya dengan tajam.

Damdeok: Apakah aku tidak melakukan apapun? Orang-orang yang telah melanggar perintahku dan pergi berperang … (nada marah) Apakah kau ingin aku tidak melakukan apapun karena mereka telah melanggar perintahku?

Jenderal Kho: Ini adalah medan pertempuran. Seorang Raja tak bisa pergi berkuda sendirian!

Damdeok: (pada prajurit di belakangnya) Enam prajurit akan menemani diriku!

Prajurit: Baik, Yang Mulia! (Soojinee tampak cemas)

Damdeok: (pada Jenderal Kho) Apakah itu cukup? (beranjak pergi)

Jenderal Kho: (menahan Damdeok) Ini tidak seperti dirimu, Yang Muila!

Damdeok: (melepaskan diri dari Jenderal Kho dengan marah) Lalu apa lagi yang harus kulakukan? Orang-orang bodoh itu pergi untuk mati! (Jenderal Kho menatapnya dengan pandangan lembut) Aku tak akan membiarkan mereka mati lagi di depanku. (menatap Jenderal Kho) Aku tak akan pernah membiarkan seorangpun mati karena diriku! Minggirlah sekarang, Jenderal Kho Woo Choong!

Damdeok beranjak pergi tapi dihalangi sekali lagi oleh Jenderal Kho ..

Jenderal Kho: Yang Mulia …! (berlutut di hadapan Damdeok) Aku, Kho Woo Choong, seorang Jenderal yang bahkan tidak dapat melindungi Raja sebelumnya. Aku tak bisa membiarkan hal itu terjadi lagi. Meskipun aku tak bisa melindungi Yang Mulia Raja sebelumnya … kumohon agar kau mengijinkanku untuk menepati janjiku padanya.  Yang Mulia Raja sebelumnya, telah mempercayakan keselamatanmu di tanganku. Yang Mulia …. !

Amarah Damdeok yang meluap-luap menjadi surut karena tindakan jenderal yang setia ini. Ia adalah orang yang telah merawatnya sejak kecil dan mengajarinya apa yang sekarang ia miliki. Satu-satunya orang yang selalu berada di sisinya apapun yang terjadi (kecuali Soojinee tentunya). Kesetiaannya tak perlu diragukan lagi. Damdeok mau tak mau menjadi luluh hatinya.

Damdeok: Soojinee!

Soojinee: Ya?

Damdeok: Hitung pasukan yang tersisa sehingga kita bisa pergi.

Soojinee: (lega) Ya, Yang Mulia ..

Soojinee segera pergi melaksanakan perintah Raja.

Damdeok menatap Jenderal Kho, yang masih berlutut, kemudian juga berlutut di hadapannya.

Damdeok: Jenderal ..

Jenderal Kho diam, tapi Damdeok tersenyum, kemarahannya hilang sepenuhnya, ia mengulurkan tangannya dan meletakkannya di atas bahu Jenderal Kho.

Damdeok: Aku akan pastikan kau menepati janjimu pada ayahku.(Jendral Kho menatap wajah Damdeok) Aku tidak akan mati sebelum dirimu! Aku berjanji! (Jenderal Kho menundukkan kepalanya, dan airmata menetes jatuh) ….. ini adegan yang mengharukan banget … hiks .. hiks …. T.T

Sementara itu, para pencuri itu ternyata benar adalah pasukan Suku Jeolno, yang memacu kudanya dipimpin oleh Jenderal Huk-gae dan anaknya. Tak lama kemudian Joomochi dan Suku Shiwoo bergabung dengan mereka.

Huk-gae sangat senang melihat Joomochi …

Huk-gae: Anakbuah mu sungguh jelek-jelek …

Joomochi: Kau seharusnya tetap tinggal bersama dengan orang-orangmu di tenda. Apa kau pikir medan perang itu untuk bermain-main?

Huk-gae: Tutup saja mulutmu dan berkudalah di belakangku!

Joomochi: Mereka mengatakan kalau seorang iblis berdiam di Benteng Gwanmi. Ia dapat membunuh ratusan orang hanya dengan sekali ayunan tombaknya. Aku akan menandingi tombaknya dengan kapakku! Kakek Jenderal, kau ikuti saja aku pelan-pelan!

Joomochi memacu kudanya diikuti oleh orang-orang sesukunya meninggalkan Huk-gae dan orang-orangnya di belakang …

Huk-gae: (kesal karena diremehkan) Dasar bajingan kecil …! (pada anaknya) Ayo kita pergi! Cepat!

Huk-ge segera memacu kudanya menyusul Joomochi ..

————–

Benteng Gwangmi Baekjae

Seorang Jenderal tua, berambut dan berjenggot putih, Ga guen sedang melihat halaman kosong di kediaman penguasa benteng. Dia adallah Ga Guen, guru dari Cheo-ro.

Ga Guen mengingat masa di mana Cheo-ro masih kecil dan sedang mempelajari ilmu tombak darinya.

Kilas balik, saat itu Cheo-ro berlatih tanding dengan Ga Guen. Tampak kalau Cheo-ro memang cukup bagus, tapi lebih dari itu, ia memiliki tekad yang kuat. Ia kalah dalam latihan tersebut dan terdorong jatuh, Ga Guen berbalik dan bersiap-siap akan pergi, berpikir kalau itu adalah akhir pelajaran hari itu, tapi Cheo-ro kembali bangun dan mengarahkan tombaknya pada Ga Guen, ia menginginkan pertarungan lagi. Ayah Cheo-ro lewat dan memujinya, senang dengan kemampuan anaknya dan kemudian mengambil tombak anaknya, yang masih mengancam Ga Guen.  Begitulah Cheo-ro begitu pantang menyerah sekaligus keras kepala. Cheo-ro memberikan hormat pada ayahnya, tapi ayah Cheo-ro menyuruhnya memberi hormat juga pada gurunya, karena Cheo-ro bisa menjadi sehebat ini atas jasa gurunya yang hebat.

 Ayah Cheo-ro memuji kalau anaknya begitu ahli dalam ilmu tombak. Ga Guen menjawab aklau Cheo-ro dapat menggunakan semua senjata tapi ia sangat berbakat dalam ilmu tombak. Ayah Cheo-ro kemudian mengembalikan tombak pada anaknya. Saat Cheo-ro kecil berjalan gontai dengan perasaan sedikit kecewa karena kalah dan akan meninggalkan tempat itu, ia melihat Bintang Jyooshin muncul di langit.

Ga Guen menuju ke sebuah lorong yang gelap bercahayakan remang-remang dari lampu minyak. Ia sampai di sebuah kamar dan meminta ijin untuk memasuki ruangan.

Saat ia masuk ke dalam, tampak dalam kamar itu seperti dunia lain .. ruangan itu hampir seperti hutan liar, terdapat beberapa pohon dan juga tanaman menjalar. Cheo-ro, dengan topeng di wajahnya, sedang duduk di kursi satu-satunya di ruangan itu.

Ga Guen: Mata-mata kita di Gooknaeseong telah mengirimkan sebuah laporan. Mereka mengatakan kalau pasukan Goguryeo yang telah mengalahkan sejumlah benteng kita hanya berjumlah 4 ribu orang. Para penguasa benteng yang lain pasti telah terjatuh dalam tipu dayanya. Satu dari pasukannya sedang menuju ke utara benteng kita.

Cheo-ro: Berapa banyak?

Ga Guen: Kelihatannya 1000 orang lebih sedikit. Apa yang akan kita lakukan? Kita dapat mengatasi jumlah sekian tanpa kau keluar untuk bertarung dengan mereka.

Cheo-ro: (nada letih) Mengapa?

Ga Guen: (terkejut tidak mengerti) Huh?

Cheo-ro: Mengapa mereka tidak membiarkan kita sendirian? Mereka seharusnya tidak datang kemari. Mereka seharusnya tidak datang untuk mati.

Ga Guen sedikit mundur karena gentar …

Huk-gae dan Joomochi beserta orang-orang mereka sedang menunggu di dekat Benteng Gwanmi, mengamati Benteng itu.

Huk-gae mengatakan kalau kelihatannya benteng itu kosong, semua prajurit langsung berdiri dan akan bergerak ke Benteng, tapi Huk-gae menyuruh mereka untuk duduk lagi.

Huk-gae: Mereka ingin kita masuk ke dalam. Mereka tidak mau keluar.

Dal Gu: Apakah kita benar-benar akan menyerang?

Joomochi: (bangun dan berjalan) Aku katakana sekali lagi ya, Penguasa Benteng itu adalah lawanku!

Huk-gae menarik Joomochi hingga berlutut … dan meberi tanda jari di bibirnya, menyuruhnya tidak berisik.

Joomochi: (kesal) Kita datang kemari bersiap untuk perang! Mengapa sekarang kita bersembunyi layaknya para tikus? Tidakkah kita akan berprang dengan mereka?

Huk-gae: (gregetan) Jika kita berperang seperti ini, maka kita akan menjadi onggokan daging!

Huk-gae: Kalau begitu Kakek Jenderal, kau bisa berjalan ke sana tapi aku akan berlari!

Joomochi bangun dan mau pergi tapi sekali lagi ia ditarik jatuh oleh Huk-gae.

Huk-gae: Pertama, kita harus memancing mereka keluar dari Benteng. Kau tahu apa yang dianggap oleh mereka sangat berharga?

Joomochi: Aku ndak suka berpikir, katakan saja apa maksudmu!

Huk-gae: Begini, kau akan membawa anakbuahmu dan menyerang galangan kapal. Maka bajingan-bajingan itu pasti akan mengirim prajurit mereka keluar untuk menghadapimu. Aku yang akan mengurus Benteng mereka, yang tanpa pertahanan. Ini lah yang dinamakan strategi perang!

Joomochi: (baru sadar) Memangnya sekarang kita ada di mana?
Perkemahan Raja Goguryeo

Pertemuan diadakan untuk membahas pergerakan mereka melawan Benteng Gwanmi dan menyelamatkan Huk-gae dan yang lainnya

Hyon-go: Mereka pasti akan menyerang galangan kapal. Itu adalah aset paling berharga dari Benteng Gwangmi.

Damdeok: Tidakkah itu juga rencana dari semua pasukan yang menginginkan Benteng Gwanmi? Menyerang galangan kapal dan menunggu para prajurit Benteng Gwanmi untuk keluar. Serang para prajurit dan menerobos masuk melalui pintu yang terbuka.

Hyon-go: Itu benar .. (tampak Soojinee sedang memainkan rambutnya)

Damdeok: (menoleh pada Hyon-go) Tapi tidakkah itu sebuah ide yang buruk? Itu bisa terjadi jika dan hanya jika pasukan yang ada di luar benteng sangat besar. Jumlah kita terlalu sedikit dan akan dengan mudah dihancurkan.

Hyon-go Itu benar! Itulah yang coba aku katakan sebelumnya!

Damdeok: Jenderal Huk-gae tak akan punya strategi lain selain menyerang galangan kapal. Dan penyerangan itu kemungkinan besar akan dilakukan oleh Suku Shiwoo. Lalu …

Soojinee menatap Damdeok dengan pandangan cemas, ia khawatir dengan keselamatan Joomochi.

Damdeok mengerti maksud tatapan Soojinee ..

Damdeok: (pada Jenderal Kho) Pilih beberapa orang untukku. Dan aku butuh seseorang yang dapat memimpin mereka.

Soojinee: Aku yang akan pergi …

Soojiene sangat senang dan segera berkemas pergi, membawa busur dan tabung anak panahnya, tapi Damdeok memanggilnya ..

Damdeok: Soojinee!

Soojinee berhenti dan menatap Damdeok

Soojinee: Tak ada seorangpun yang dapat membawa kembali Joomochi kecuali aku. Aku tak punya pilihan lain.

Soojinee segera pergi sebelum Damdeok melarangnya .. Damdeok sendiri merasa cemas dengan keselamatan Soojinee, tapi juga apa boleh buat, ia tahu kalau kata2 Soojinee benar adanya. Kecuali Soojinee dan dirinya sendiri, tak ada seorangpun yang dituruti oleh Joomochi.
Ga Guen melapor pada Cheo-ro mengenai situasi yang terjadi.

Ga Guen: Musuh telah mendekat. Mereka berjumlah sekitar seribuan orang. Jika kita tidak yakin dengan jumlah mereka, aku akan mengirimkan semua prajurit kita. Tapi kita sekarag tahu kalau jumlah mereka hanya separuh dari kita. Akankah kita keluar dan megurus mereka sendiri?

Cheoro: (nada letih) Kita akan menunggu.

Ga Guen: Panah Maekgoong dari Goguryeo terkenal akan kekuatan dan jarak jangkaunya. Jika mereka memanah dengan anak panah itu, maka …

Cheoro: Kita akan menunggu! …. (berhenti sejenak) Ga Guen ..

Ga Guen: Ya, Tuan …

Cheoro: Tidakkah mereka akan pergi? Mengapa mereka tidak kembali saja?

Ga Guen: Aku akan membawa prajurit dan mengurus mereka. Aku akan memastikan kalau kau tidak harus menerjunkan diri dalam pertempuran ini. Rencana mereka akan sama. Selalu sama dari dulu.

Malam hari …

Galangan Kapal Benteng Gwanmi Baekjae.

Joomochi dan seorang anakbuahnya dengan pelan-pelan muncul dari dalam air. Mereka segera menyerang  dua orang penjaga di atas kapal dan menyalakan api.

Para penjaga lain melihat kebakaran itu dan segera memperingatkan rekan-rekannya yang lain. Para prajurit segera berlarian untuk memadamkan api dan sebagian mencari musuh.

Dalam kekacauan itu, oomochi dan orang-orangnya menyerang para prajurit di galangan kapal itu, tapi lebih banyak lagi prajurit yang datang, tampaknya pasukan bala bantuan telah tiba. Joomochi tanpa gentar segera menyerbu mereka diikuti oleh yang lain.

Sementara itu beberapa perahu sedang mendekat dengan diam-diam …

Joomochi dan orang-orangnya terjebak di tengah-tengah kepungan prajurit Benteng Gwanmi. Tampaknya akibat sering diserang, maka prajurit yang menjaga galangan kapal pasti berjumlah banyak.

Saat pasukan Gwanmi yang lebih banyak jumlahnya akan menyerang kelompok Joomochi, tiba-tiba beberapa batang anak panah membuat banyak orang jatuh. Joomochi keheranan dan mencari sumbernya, ia menemukan beberapa orang sedang berdiri di tepi air, Soojinee di antara mereka, tersenyum dan memberi tanda padanya. Soojinee segera berlari diikuti oleh para prajurit. Joomochi sangat senang dan menjadi bersemangat melihat bala bantuan tiba.

Mereka segera menyerang balik para prajurit Gwanmi, yang menjadi terdesak dan mundur.

Esok paginya ..

Sorang kurir pembawa pesan terlihat memacu kudanya dengan cepat menuju ke Benteng Gwanmi, dengan pemberitahuan mengenai serangan semalam.

Damdeok: Jangan berperang demi kemenangan! Tujuan kita bukan mencari kemenangan. Pertama-tama kita harus memancing pasukan Baekjae keluar dari Benteng Gwanmi. Yang kedua, kita harus membuat mereka percaya. Mereka harus percaya kalau jumlah kita sangat banyak.

Sekelompok prajurit keluar dari Gwanmiseong.

Damdeok: Kita akan membagi prajurit kita menjadi tiga kelompok dan mengirim mereka ke tiga arah berbeda. Kita akan menyerang kemudian mundur. Kita akan menggunakan metode yang sama saat menyerang Benteng Sukhyun.

Jenderal Kho: Aku sudah mengirimkan sebuah pesan pada Jenderal Huk-gae agar tidak menyerang para prajurit yang keluar dari benteng.

Damdeok: Tambahkan ini di pesanmu. Jika ia melanggar perintahku lagi, maka ia akan bergabung dalam peperangan sebagai prajurit biasa bukan sebagai Jenderal lagi!

Jenderal Kho: Aku akan memberitahukan ini dengan sejelas-jelasnya padanya.

Damdeok kemudian keluar dari tenda diikuti oleh Jenderal Kho.

Hyon-go menatap kepergian Damdeok dan berkomentar kepada rekannya, “Raja tampaknya sedang menikmati ini” Rekan Hyon-go tampak bingung dan tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Hyon-go.

Hyon-go: Otak dan hatinya melakukan hal yang berbeda. Otaknya (yang berarti pikiran logis) mengatakan tidak, ktia tidak bisa melakukan ini, kita harus melarikan diri, kita harus menyelamatkan para prajurit. Tapi hatinya berbeda (yang berarti hasrat dan emosinya) dan mengatakan .. bagus, bagus … ayo kita coba sekali lagi … Siapa bilang itu mustahil? Ayo kita berperang!

Rekan Hyon-go tambah bingung dengan perkataan Hyon-go …

Hyon-go: Tidak tidak tidak … Bagaimana kita bisa mengetahui pikiran dari Raja Jyooshin?

Hyon-go keluar tenda menyusul Raja.

Rekan Hyon-go sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan Hyon-go dari awal sampai yang baru saja, ia menggelengkan kepalanya, mungkin menganggap Hyon-go apa sudah sinting?

Sekelompok prajurit Baekjae tampak keluar dari Gwanmmiseong. Anggota Geo-mool yang memata-matai mereka segera melepaskan burung ke angkasa.

Tiga desa telah diserang dan pimpinan pasukan Baekjae yang telah keluar untuk memeriksa kerugian mereka meminta anakbuahnya untuk memberitahu Penguasa Gwanmiseong mengenai kejadian ini.

Dal Goo mengawasi dari balik rimbunan semak-semak dan melihat lebih banyak prajurit dikirim keluar benteng. Dal Goo segera berlari kembali dan memberitahu ayahnya kalau mereka datang.

Dal Goo: Jumlahnya kali ini sekitar 3-400 orang.  Pagi ini, mereka menuju ke Barat, dan sekarang mereka menuju ke Selatan.

Huk-gae mendengar ini tertawa dengan keras, yang lain juga mengikutinya, tertawa keras, lalu Huk-gae berhenti tiba-tiba dan berkata pada anaknya.

Huk-gae: Apa yang sudah kukatakan padamu? Aku katakan padamu kalau Yang Mulia pasti akan membantu kita!

Dal Goo: (bingung) Kapan? (batinnya: perasaan si ayah ga pernah kasih nasihat seperti itu😛 )

Huk-gae: Perhatikan dan pelajari baik-baik. Ini apa yang disebut kesetiaan! Yang Mulia menanggung beban yang sangat berat dan tak dapat melangkahkan kaki untuk maju ke depan. Aku telah mempertaruhkan nyawaku dan membukakan jalan demi dirinya.

Dal Goo: (bingung dan masih ada yang tidak ia mengerti) Kau tahu …

Huk-gae: Apa?

Dal Goo: Apa yang akan kau lakukan jika Yang Mulia Raja meninggalkan kita?  Lagipula kita sudah melanggar perintahnya dan keluar berperang. (Huk-gae tak berpikir sampai demikian) Jadi meskipun ia meninggalkan kita dan pergi, kita …

Huk-gae: (memukul kepala anaknya) Maka kita harus menyalahkannya. Kita akan mati dengan menepuk-nepuk dada kita dalam keputusasaan karena tidak pernah melihat kemenangan. Jadi pergi dan katakan ini pada Yang Mulia.

Huk-gae mendorong anaknya sampai jatuh …

Huk-gae: Katakan padanya bahwa para prajurit telah keluar dari Gwanmiseong dalam tiga gelombang, totalnya 2 ribu orang. Sekarang para prajurit yang tertinggal di dalam benteng hanya ada 500 orang. Beritahu dia untuk datang segera dan merebut Gwanmiseong.

Damdeok dan Jenderal Kho memimpin pasukan mereka menuju ke Gwanmiseong …

Kemudian tampak  Soojinee  dan Joomochi memacu kudanya ke arah Gwanmiseong untuk bergabung dengan Damdeok, dengan diikuti oleh Suku Shiwoo  … mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi sambil bersorak penuh kemenangan …

Damdeok melihat kedatangan mereka dan senyum tampak di wajahnya …ia senang melihat mereka berdua selamat tak kurang suatu apapun …

16 comments on “The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 14

  1. ih, aku ngeliat gambar si Sujine nyender di bahunya Cheoro,. apa si cheoro nanti gabung sama dam duk yah? wah gak sabar liat cerita selanjutnya..🙂

    • Cheoro hanya dianggap teman saja sama Soojinee, tapi Cheoro sudah kadung mendapatkan “perasaan cinta” Chung Ryong terhadap Sae-oh / Soojinee, saat Simbol Chung Ryong masih tertancap di jantungnya ..

      • ohh, gitu..🙂
        itu mah emang sifatnya si Soojinee, hahhahahah😀
        nggak sabar nunggu cerita selanjutnya,
        keep fight!😄

  2. keren banget ceritanya….
    lajutannya jangan lama2 ya…😉

    eh tapi ngomoong2 anak yang di kandung Kiha tu anaknya sapa ya???

    • sori .. seharian ini donlod dari episode 15 sampe 24, dan liat filnnya, jadi ga buat sama sekali, besok baru buat lagi, omong2 aku ga dapet episode 23, kayaknya ntar loncat deh >.<

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s