Tree With Deep Roots – Episode 08

Chae-yoon dan Pyung bertarung semalam suntuk, bahkan Chae-yoon tampak sangat gembira ketika mengetahui kalau ia dan Pyung seimbang. Dia memberitahu Pyung kalau ia tak bermaksud memancing dia, dan meyakinkan Pyung kalau mereka nanti akan memiliki waktu yang cukup banyak jika ia bisa menangkap Pyung dan dengan begitu ia bisa dengan resmi menyiksa Pyung ….. ah sisi gelap si Chae-yoon ….

Mereka berdua sama-sama menarik napas di tengah pertarungan, tapi bersiap untuk melanjutkan sampai mereka mendengar suara Mu-hyul di kejauhan. So-yi telah memberikan peringatan pada Raja dan Mu-hyul atas perintah Chae-yoon, tapi sekarang perintahnya itu justru memberikan waktu bagi Pyung untuk melarikan diri. Tapi sebelum itu, Pyung menjatuhkan paket yang terbungkus kain. Dan Chae-yoon dengan sembunyi-sembunyi mengambilnya kemudian memasukkannya ke dalam saku sebelum ia kemudian mengejar Pyung.

Pyung tahu kalau Chae-yoon pantang menyerah, dan merencanakan rencana yang cukup rapi sehingga menjauhkan Chae-yoon darinya. Ia menggunakan teknik lompatan untuk kembali ke Cho-tak, yang masih terluka akibat pertemuan mereka sebelumnya, dan menusuknya di dada. Chae-yoon sekarang harus memilih, menyelamatkan temannya atau tetap mengejar Pyung. Tak peduli betapa amarah bertumpuk-tumpuk di dadanya, Chae-yoon masih seorang yang baik dan sahabat sejati (ini adalah kali kedua Chae-yoon memilih menyelamatkan seseorang daripana mengejar Pyung). Chae Yoon memeriksa dan merawat luka temannya sedangkan Pyung segera menjauh.

Damdeok bertemu dengan Mu-hyul, kemudian memimpinnya ke atas gunung, di mana ia yakin kalu seseorang telah tewas. Mereka sampai di tempat kejadian perkara tapi tidak menemukan sesosok tubuh, namun menemukan beberapa bukti kalau sesosok tubuh pernah ada di sana (ada ceceran darah di lantai dan dedaunan). Mereka menyimpulkan kalau si pembunuh gelap pasti telah mengambil jenazah lagi.

Keesokan paginya, Chae-yoon memasuki sebuah ruangan dan mendapati kalau Park-po telah memanggil Ga Ri-on (si penjagal, koroner, sekarang ahli bedah? Apa yang tidak dilakukannya ya? 😛 ) dan memohon agar menyelamatkan hidup Cho-tak kemarin malam. Parkpo bergurau dengan Cho-tak dan mengatakan sesuatu mengenai “hidup rendahan”, sehingga Cho-tak menatap Chae-yoon dengan gugup karena melihat kalau Chae-yoon mendengar gurauan itu dan menganggapnya sangat serius. Chae-yoon berkata ada banyak orang (berstatus) rendahan dan jabatan rendahan, tapi hidup rendahan tidak ada. Parkpo lebih baik meluruskannya dan segera!

Mereka disela oleh atasan mereka, yang seperti baru saja melihat sesosok hantu dan hampir tak bisa berbicara. Ini membuat Chae-yoon, Parkpo dan Ga Ri-on menuju ke TKP yang baru dilihat atasan mereka.

Semua orang berkerumun di dekat TKP, sesosok tubuh telah ditemukan dan terjadi kericuhan karenanya. Kali ini, jenazah itu ditemukan di atas sebuah perahu yang ditemukan mengapung begitu saja di atas air. Raja, para pelajar, dan bahkan para dayang sedang menunggu dengan napas tertahan, tapi Sejong menggunakan “topeng” wajahnya yang biasa. Kelihatannya Raja dapat menebak siapa yang ada di dalam perahu itu.

Mu-hyul jelas tahu, dan memerintahkan Ga Ri-on untuk memeriksa jenazah di atas perahu. Ga Ri-on menyingkapkan kain yang menutupi jenazah itu dan ternyata itu adalah tubuh Pelajar Jang Seong-soo, yang terlihat menghitam, karena racun senjata Pyung, membuat semua orang ngeri dan shock. So-yi melihat sekilas pada mayat dan tiba-tiba matanya berputar ke atas, lalu pingsan di tempat.

Semua orang menampakkan wajah terkejut mereka, tapi baru setelah pesan di bawah jenazah terbuka maka Pelajar Sung Sam-moon jatuh ke tanah, dan Raja terlihat sedang menahan rasa amarahnya. Tulisan itu tertuliskan dalam karakter Mandarin, dan terbaca: “Sekuntum bunga hanyalah sekuntum bunga dan tak bisa berubah menjadi sebuah akar.” Tulisan yang sama juga ada di dinding gua di mana Jung Do-jun mengukirnya, dan itu juga apa yang ditulis di kertas ujian keponakannya, Jung ki-joon, beberapa tahun yang lalu.

Itu adalah moto dari Mil Bon, dan jelaslah pesan itu bermaksud memperingatkan: Mil Bon ada di sini. Dan sekarang waktunya Raja Sejong waspada akan sekitarnya.

Mu-hyul merasakan hatinya tidak enak ketika Sejong memerintahkan semua orang pergi dari kamarnya dengan alasan ia ingin tidur siang. Mu-hyul tahu kalau Sejong bahkan tidak bisa tidur saat malam hari, jadi siapa yang ia ingin bodohi bahwa ia ingin tidur di siang hari bolong?

Tapi tidur siang tak pernah ada di pikiran Sejong, karena ia terus bergulingan di atas tempat tidurnya, menahan rasa amarah di hatinya dan mencengkeram baju di dadanya. Ia sedang bergumul dengan sisi idealis dari dirinya, yang biasanya bisa ia kendalikan, mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Mil Bon, yang sekarang berpengaruh pada fisiknya.

Ia masih mengingat bagaimana ayahnya mengejeknya saat ia sekarat, mengatakan kalau jalan yang dipilih anaknya untuk memimpin negeri ini akan lebih buruk, dan Sejong setuju dan berteriak di ruangan kosong. Ini lebih buruk. Ia tak bisa menjadi lebih buruk lagi sementara ia bergumul dengan sisi gelapnya, sisi yang tak ingin menyembunyikan racun kekuasaan, tapi ia tak akan semudah itu menyerah. Karena itu artinya ia akan kalah terhadap ayahnya, yang pasti akan merasa sangat puas memenangkan pertarungan ini di alam kubur sana.

Hampir sama dengan keadaan Sejong, So-yi juga ada di tempat tidur, mencengkeram baju di dadanya dan sulit untuk bernapas. Dayang yang lain berkata bukankah bukan hanya So-yi saja yang melihat mayat itu? Tapi mereka tidak tahu kalau So-yi mengenal orang itu sebelumnya dan sekarang tiba-tiba sudah mati dengan mengenaskan. Karena So-yi juga terlibat dalam proyek rahasia pembuatan bahasa oleh Raja, maka semua orang yang telah mati sejauh ini adalah orang-orang yang ia kenal. Sama halnya kejadian ini mempengaruhi fisik Sejong, kematian demi kematian juga mempengaruhi kesehatan So-yi.

Sam-moon, yang sangat terpengaruh dalam atas semua kejadian di sungai, memberikan surat pemberitahuan ketidakhadirannya pada temannya, Park Paeng-nyeon. Ia harus mengambil waktu bebas untuk menyelidiki misteri ini sampai ke dasar-dasarnya, tak peduli apapun nanti akibatnya.

Pejabat Lee Shin-juk ternyata adalah seorang anggota dari Mil Bon. Ia memberitahu rekannya mengenai rahasia yang selama ini ia simpan bahwa sudah hampir 20 tahun sejak ia menerima perintah terakhir dan ia pikir Mil Bon telah bubar. Tapi sekarang ia mendapatkan perintah untuk mengaktifkannya kembali.

Kilas balik, ia mengingat percakapannya dengan Jung Ki-joon 20 tahun yang lalu, ketika ia bertanya kemana Jung Ki-joon akan pergi, yang dijawab kalau tak ada tempat ke mana ia bisa pergi. Ia akan bersembunyi di antara rakyat.

Sementara itu, Pyung bertemu dengan rekan-rekan Mil Bon nya, dan luka di atas wajahnya tak luput dari Pimpinan. Pyung berbohong mengenai penyebab lukanya, yakni Kang Chae-yoon, karena ia tampaknya tertarik dengan keahlian bertarung Chae-yoon. Setelah ia berada di luar, ia mengirimkan seorang pria untuk pergi mencari Lee Bang-ji, guru Chae-yoon yang telah menghilang selama 2 tahun ini.

Waktunya pemeriksaan mayat, yang sekarang menjadi rutinitas setiap kali ada yang mati. Kali ini hanya Chae-yoon dan Ga Ri-on saja dan juga tubuh si Pelajar Jeong Seong-soon yang baru meninggal. Ga Ri-on menarik sebuah jarum panjang dari dasar tengkorak kepala, titik nadi yang berhubungan dengan otak, yang dapat menyebabkan kematian langsung dan mengerikan. Tapi bukan itu saja, karena tubuh mayat menekuk dengan posisi aneh, Ga Ri-on menyimpulkan kalau itu adalah akibat dari racun yang mematikan. Penasaran .. sungguh membuat penasaran … mengapa Pyung menggunakan dua cara yang sangat berbeda hanya untuk membunuh Pelajar Jang, padahal satu saja sudah bisa membunuhnya?

Chae-yoon tahu kalau ia diikuti ketika meninggalkan tempat Ga Ri-on, tapi ia seorang yang tabah dan berani, ia membiarkan dirinya diikuti dan kemudian “ditangkap” oleh tak lain tak bukan si Pelajar Sung Sam-moon, yang jelas kekurangan pengalaman dalam menculik seseorang. …. ahahaha …

Sam-moon mungkin terbukti sebagai orang yang sangat pintar dalam masalah literatur, tapi ia sangat buruk dalam bertindak rahasia dan berwibawa karena posisinya justru menjadi terbalik dengan Chae-yoon, dan jelaslah sudah siapa yang bertindak sebagai penyelidik dan terdakwa dari kedua orang ini … heheheh …

Kedua orang itu benar-benar pas satu sama lain secara intelektual, dan Chae-yoon memang membutuhkan seorang rekan yang fasih literatur, tepatnya karena ia bukanlah orang yang tahu segalanya, jadi mereka berdua sama-sama untung. Ia mengusulkan untuk bekerja sama dengan memberikan secarik kertas yang habis terbakar, dan memberikan si Sam-moon 3 alasan mengapa mereka seharusnya bekerja sama: satu, secarik kertas yang ia berikan itu adalah yang ditinggalkan oleh Yoon-pil pada saat kematiannya. Dua, Jika Sam-moon bisa memecahkannya maka Chae-yoon akan menyerahkan padanya buku yang dimiliki oleh Pelajar Jang sebelum mati. Dan terakhir, mereka memiliki tujuan yang sama. Mereka berdua ingin memecahkan masalah ini, dan sekarang mereka berdua bisa bekerja bersama-sama untuk saling membantu sama lain.

Raja, sedikit bergurau kasar, melakukan pertemuan mendadak antara para pelajar dan pejabat. Di ruangan pertemuan suasana sangat tegang karena mereka semua berpikir kalau Raja akan membicarakan mengenai pembunuhan-pembunuhan yang terjadi baru-baru ini … tapi peraasaan Raja sedang ringan karena ia mengumumkan agenda pertemuan kali ini: Perubahan Aturan Pajak!

Ini adalah tindakan yang sangat pintar, karena ia dapat menggunakan isu panas ini untuk memancing perhatian semua orang … dan melupakan mengenai pembunuhan sebaliknya membicarakan aturan-aturan pajak. Satu-satunya orang yang dapat melihat maksud di balik ini semua adalah Jo Mal-saeng. Ia mengawasi keadaan sekitarnya seperti seorang dewasa sedang mengawasi anak-anak kecil.

Pangeran Gwangpyeong menemui Sejong dan mencoba mengatakan dugaannya bahwa Raja menggunakan Perubahan Aturan Pajak sebagai pengalihan dari masalah yang sebenarnya. Raja menjadi aneh. Pangeran Gwangpyeong memang menyatakan kebenaran yang sesungguhnya, bahwa Sejong membawa isu pajak itu ke Dewan Istana untuk melihat siapa-siapa yang memihaknya maupun yang tidak. Mungkin juga Sejong telah melakukan perkataan Jo Mal-saeng sebelumnya, waspada pada setiap orang, karena ia tidak menyatakan semua rencananya pada anaknya sendiri.

Park-po melihat So-yi keluar Istana dengan menyamar sebelumnya, dan memberitahu Chae-yoon kemana ia pergi, dan tak lain tak bukan sisi gunung di mana pembunuhan terjadi kemarin malam, dan So-yi kelihatannya sedang mencari sesuatu. Apa yang tidak diketahui oleh So-yi adalah kalau Chae-yoon secara diam-diam telah menyimpan paket, dan ia ingin agar So-yi menemukannya. Karena ia masih belum mengetahui di pihak mana kesetiaan So-yi berada. Chae-yoon sangat percaya diri kalau ia akan mengetahui apa yang akan dilakukan oleh So-yi  dengan buku, yang sementara itu setengah mati dicarinya di mana-mana.

So-yi menemukan buku yang dijatuhkan oleh Chae-yoon, yang bersama dengan Park-po berdiri tek jauh dari So-yi. Tapi kalau Chae-yoon berharap ia dapat mengikuti So-yi dan meihat apa yang akan dilakukan So-yi dengan buku itu, Chae Yoon sungguh kecele karena So-yi mempelajari halaman demi halaman, menghapalkannya sampai melekat di otaknya, kemudian ia merobek-robek halaman buku dan membakarnya.

Tindakan So-yi memang tak menandakan apakah ia musuh atau kawan? Chae-yoon memutuskan kalau So-yi ini orang yang menarik.

Raja merasa kesal, idenya membawa perubahan aturan pajak pada Dewan Istana justru bekerja melawan dirinya, semua orang menjaga jarak dengannya  Shim Jung-soo sedang dalam tugas penyamaran dari Mil Bon, dan tidak malu-malu menggosok yang lainnya melawan Sejong dengan mengatakan, apa sebenarnya yang Raja coba katakan dengan semua ide mengenai “Perubahan Pajak” ini …. adalah bahwa Neo Konfusius tidak dapat memerintah Joseon …

Ketika Muh-hyul memberitahu Sejong mengenai semua pertemuan rahasia di belakang punggun Raja Sejong, Raja menjadi geram. Ia marah karena usahanya yang terbaik ternyata masih belum cukup. Kesalahan apa sebenarnya yang telah ia lakukan? Semua yang ia inginkan hanyalah membangun sebuah negeri. Semua lawan-lawannya justru sekarang menyuruhnya untuk mempelajari Konfusius.

Raja sungguh-sungguh hatinya dipenuhi kemarahan dan kebingungan keitka ia bertanya jujur pada Mu-hyul, “Kapan Konfusius benar-benar mengatakan sebuah negara tidak boleh membuat almanak sendiri? Kapan Konfusius pernah mengatakan kalau kita tidak dapat mendengar apa yang rakyat inginkan secara pribadi?”

Sejong sedang berhalusinasi beberapa kali, karena ia sekarang ada di Jiphyunjeon dan melihat dirinya muda dulu sedang duduk membaca.

Sejong melompat seperti orang sinting begitu melihat bayangan masa mudanya, memberitahu kalau dia telah membunuh banyak orang yang tak bersalah. Jika saja ia tak begitu picik dan angkuh ketika ia masih muda, maka semua ini tidak akan terjadi. Jika ia tidak memilih untuk mengambil langkah di jalan yang berkerikil dan mencoba untuk menggunakan kata-kata dan literatur daripada kekuasaan, mungkin hasilnya akan berbeda.

Dengan aura wibawanya yang besar, bayangan muda itu meyakinkan Raja Sejong bahwa belum terlambat untuk mengubah segalanya. Sejong masih dapat pergi ke makam ayahnya, seperti yang telah diprediksi oleh Raja Taejong, dan menangislah di sana kemudian memohon maaf. Ini adalah kata-kata yang Sejong perlu dengar tapi ia tak mau mendengarnya, dan ia berubah dari seorang yang penuh dengan rasa amarah menjadi pria yang menangis. Ia kemudian mendapati dirinya sendirian lagi, ia baru saja berhadapan dengan sisi gelapnya.

Chae-yoon telah mengikuti So-yi sepanjang hari sebagai bagian dari penyelidikannya, dan ia berakhir di tempat Ga Ri-on, yang mana So-yi baru saja masuk dan menghilang. Ia mendapati kalau So-yi datang untuk mendapatkan dua macam bahan obat, fungsi obat pertama untuk membuat orang tetap terjaga, dan yang kedua sebuah obat anestasi yang sangat kuat yang dapat membuatnya sedikit koma. Chae-yoon menjadi khawatir saat melihat ini, dan alasan ini cukup untuk membuatnya memunculkan diri dan mengingatkannya untuk tidak melakukan itu. Ia mengambil campuran obat itu dan tahu kalau kesadaran So-yi tak akan bertahan lama.

Tapi dia juga tahu mengapa So-yi melakukan ini, ia bertanya, apa yang terjadi padamu? sehingga membuatmu sangat takut untuk menghadapi mimpi-mimpimu? Kalau saja Chae-yon tahu bahwa kata-katanya dulu selalu menghantui mimpi So-yi sampai sekarang.

Baik Chae-yoon maupun So-yi tidk mendengar kedatangan Raja dan rombogannya, tapi Sejong yang ada di luar mendengar percakapan mereka. Ia ingin tahu bagaimana Chae-yoon tahu mengenai semua efek dari obat-obatan itu.

Chae-yoon tak mau berbohong, dan memberitahu Raja kalau dulu ia menggunakan obat-obatan itu karena ayahnya adalah satu-satunya orang di dunia ini yang ia miliki, ayahnya adalah dunianya, dan ketika ia mati, Chae-yoon merasa sendiri dan kesepian. Ia tak dapat tidur setiap malam karena ia merasa kalau ayahnya selalu menunggunya di dalam mimpinya, bertanya mengapa ia harus mati.  Wajah Sejong dan so-yi berubah, nampaknya mereka merasakan hal yang sama.

Sejong lebih tertarik bagaimana Chae-yoon akhirnya dapat mengatasi kecanduan obatnya? Jelaslah ia sedang memperhatikan kesehatan So-yi. Balas dendam, kata Chae-yoon, karena menurutnya itulah yang memperbaiki kondisinya yang sangat buruk. Tapi perkataan ini masih tidak bisa mengangkat beban berat di hati Sejong, dan Sejong kemudian bertanya megnapa ia melanjutkan untuk melangkah di jalan yang penuh dengan kerikil tajam?

Chae-yoon: Aku, tanpa adanya tekad balas dendam, bukanlah aku lagi!

Dan Sejong, menyadari kalau ia bukannya dirinya lagi jika ia tak memiliki tekad di dalam hatinya. Kabut tersingkap dari dalam hatinya. Ia bahkan memberitahu Chae-yoon untuk meneruskan jalannya. Ia akan melangkah di jalannya sendiri.

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s