The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 15

Ho-gae, mengikuti perintah dari Gooknaeseong,  menggerakkan pasukannya menuju ke Utara …

Gooknaeseong

Cheonji Shindang

Ho-gae mengirimkan pesan pada Ki-ha kalau mereka telah meninggalkan wilayah Baekjae dan sekarang menuju ke Utara seperti yang telah diperintahkan. Paras Ki-ha tanpa ekspresi. Pendeta senior memberanikan diri untuk bertanya apakah pesan itu benar-benar dari Langit, karena selama ini Shindang tak pernah turut campur dalam masalah peperangan.

Ki-ha berbalik dan memberinya pandangan dingin sehingga pendeta senior segera menutup mulutnya. Ki-ha mengatakan kalau ia sekarang adalah Pendeta Tinggi dari Shindang dan juga pemilik Joojak, ia tak perlu menjawab semua pertanyaan itu satu persatu.

Lalu Ki-ha meminta pendeta senior untuk menghubungi Yeon Garyeo karena ia memiliki sesuatu yang perlu didiskusikan dengannya. Pendeta senior bertanya apa itu. Ki-ha tidak menjawabnya, ia hanya diam lalu memandangnya kembali dengan pandangan tajam. Pendeta senior segera menutup mulutnya. Sudah banyak yang tahu kalau Pendeta Tinggi sebelumnya tidak pernah berurusan dengan Yeon Garyeo jika memungkinkan. Pendeta Tinggi sebelumnya tidak menyokongnya tapi sekarang, Ki-ha benar-benar mengatakan kalau dirinya memiliki sesuatu yang perlu didiskusikan dengan Yeon Garyeo. Karena itulah pendeta senior terlihat sangat terkejut. Pandangan mata Ki-ha menunjukkan kebulatan tekadnya … Ia akan mengambil Goguryeo bagi anaknya …

Yeon Garyeo datang memenuhi panggilan dari Shindang. Ia pikir karena Shindang memanggilnya maka itu pasti urusan yang mendesak jadi ia segera bergegas datang. Ia tidak punya banyak waktu karena pergerakan 40 ribu orang menyebabkan dirinya mendapatkan banyak hal yang perlu dikerjakan.

Ki-ha bertanya padanya apakah Yeon Garyeo tahu kalau pasukan Raja sedang kembali ke Gooknaeseong? Yeon Garyeo menjawab kalau Dae Jangro telah mengatakan mengenai hal itu tapi bukankah lebih baik Ki-ha bertanya pada Hwacheon saja? Ki-ha bertanya lagi padanya apakah ia tahu kalau Raja akan kembali ke Istana? Yeon Gagryeo menjawab apakah raja punya pilihan lain lagi? Di depannya ada Benteng Gwanmi dengan 3 ribu orang mempertahankannya dan dibelakangnya ada 10 ribu prajurit Baekjae yang mendatanginya.

Ki-ha kemudian mengatakan kalau ada sesuatu yang perlu dilakukan oleh Yeon Garyeo untuknya. Sembari menuang secawan teh bagi dirinya sendiri, pertama, ia harus mengurus para bangsawan yang tetap setia pada Raja sebelumnya, lalu menggantikan mereka dengan  orang-orangnya sendiri di Dewan Istana.

Yeon Garyeo: (tertawa geli) Jadi sekarang setelah kau berhasil menguasai Kuil maka kau juga berniat untuk mengatur urusan negara juga?

Ki-ha: Raja tidak boleh sampai menginjakkan kaki ke Istana saat ia kembali.

Yeon Garyeo tampak terkejut mendengar ini dari mulut Ki-ha.Karena meskipun Ki-ha dulunya anggota Hwacheon dan melakukan apapun yang diperintahkan Dae Jangro, tapi banyak yang tahu kalau Ki-ha mencintai Damdeok.

Ki-ha: Sampai Ho-gae mendapatkan Simbol Baekho, dan sampai aku, sebagai seorang Pendeta Tinggi Shindang, mengumumkan Ho-gae sebagai Raja Jyooshin, pasukan Raja tidak boleh diijinkan masuk ke Gooknaeseong.

Yeon Garyeo: Meskipun aku mengumpulkan Dewan Istana, mereka tidak akan menyetujuinya …

Ki-ha: (menyela) Kau tidak memahami situasinya … sekarang ini Raja sedang memimpin pasukan yang berpengalaman dan selalu mendapatkan kemenangan, serta memiliki persenjataan dan perlengkapan yang terbaik  Jika pasukan itu masuk ke Gooknaeseong, apa kau pikir kau masih akan diijinkan untuk tetap berada di posisimu sekarang?

Dae Jangro: (tiba-tiba muncul) Kalian tak usah mencemaskan akan hal ini karena Pasukan Raja telah menyerang Gwangmiseong.

Yeon Garyeo: (tidak mempercayai pendengarannya) Apa? Bukankah Raja hanya memiliki 4 ribu orang?

Dae Jangro: Sepertinya dugaan kita kemungkinan besar benar, Simbol Chung Ryong mungkin ada di Gwangmiseong, kalau tidak mengapa ia begitu bodoh menyerang Gwangmiseong, yang dijaga oleh seorang penguasa monster hanya dengan 4 ribu orang? Bahkan meskipun dengan jumlah 10 kali lipatpun masih tidak mungkin menundukkan Gwanmiseong! Dia telah kehilangan akal sehatnya dan serakah, ingin mendapatkan Simbol itu. Meskipun ia telah memenangkan 10 benteng sebelumnya, tapi Gwanmiseong berbeda. Setiap orang yang berani menyerang Gwanmiseong tak ada yang pulang hidup-hidup.

Ki-ha duduk dengan tenang selama percakapan itu dan menghirup cawan tehnya … entah apa yang ada dalam pikirannya.

———————————

Di Gwanmiseong Baekjae

Terompet peperangan bergema dan semua prajurit segera bersiaga di posisi mereka masing-masing bersiap untuk mempertahankan benteng dari serbuan Pasukan Goguryeo.

Di luar benteng, Pasukan Raja bersiap untuk berperang. Sekelompok kecil prajurit memimpin penyerangan ini. Baris pertama adalah pasukan infantri dengan perisai besi. Barisan kedua adalah pasukan kavalri dengan perisai. Dan barisan terakhir adalah pasukan kavalri pemanah.

Ga Guen dan para jenderalnya mengawasi semua ini dari atas benteng. Ia melihat pasukan Goguryeo sedang menunggu di bawah bukit dekat benteng. Seperti yang sudah-sudah, Ga Guen tampaknya sangat yakin kalau peperangan ini akan segera berakhir karena jalan menuju ke benteng hanya satu saja.

Prajurit Gwanmiseong mulai melepaskan anak-anak panah atas perintah Ga Guen, tapi semuanya ditangkis dengan perisai besi yang dibuat Ba Son ^^ Setelah diperhatikan ternyata ada sistem yang digunakan oleh pasukan Goguryeo. Perisai akan diangkat untuk menangkis panah-panah musuh, tapi ketika serangan panah berhenti (para pemanah di atas benteng harus mengambil dan memasang kembali panah pada busur mereka sebelum bisa memanah lagi), maka barisan pemanah berkuda Goguryeo membalas dengan serangan panah ke arah pemanah di atas benteng Gwanmi yang menyebabkan banyak prajurit Gwanmiseong terluka. Seorang jenderal memberitahu Ga Guen kalau pasukan Goguryeo menggunakan panah Maekgoong.

Pada saat yang bersamaan, sebarisan kecil pasukan infantri berperisai tadi maju, setiap kali pasukan pemanah di atas benteng memanah mereka, pasukan infantri segera menggunakan perisai mereka untuk menangkisnya. Begitu terus sampai mereka tiba di depan pintu gerbang utama Gwanmiseog. Yang lain melindungi rekan-rekan mereka dengan memanahi pasukan di atas benteng.

Ketika pasukan infantri itu cukup dekat dengan pintu gerbang, mereka melemparkan botol-botol yang berisikan cairan yang mudah terbakar ke arah pintu gerbang, kemudian segera mundur.Parapemanah berkuda segera maju ke depan dan melepaskan panah berapi ke arah pintu gerbang, yang sudah berlumuran cairan dari botol-botol itu. Pintu gerbang utama Gwanmiseong segera terbakar hebat. Pasukan di atas benteng berteriak-teriak kalau pintu gerbang terbakar.

Sementara satu pasukan kecil itu melaksanakan tugas mereka, pasukan utama Goguryeo masih menunggu dengan tenang di bawah bukit di mana benteng itu berada. Damdeok mengamati strateginya berjalan dengan baik.

Setelah pasukan infantri mundur sampai di dekat mereka, pasukan kavalri berperisai dan kavalri pemanah segera mengikuti mundur ke pasukan utama.

Pada saat peperangan masih berlangsung, Ga Guen terkena sebatang panah dan segera digotong pergi ke tempat yang aman. Cheo-ro yang ada di ruangannya merasa kalau peperangan ini tampaknya tak menguntungkan bagi pihaknya. Ia segera mengambil tombaknya dan berjalan keluar dari ruangannya dan tak berapa lama kemudian ada ledakan di pintu gerbang utama, tampak Cheo-ro memacu kudanya menyerbu keluar dari pintu gerbang, menanti di atas bukit di luar benteng, menatap pada pasukan Goguryeo yang ada di bawah kemudian memacu kudanya ke bawah benteng.

Damdeok mengamati semua hal yang terjadi di peperangan ini dengan sikap tenang tapi otaknya berputar dengan strategi yang terbaik. Damdeok kemudian melihat seseorang keluar dari benteng dan berdiam dengan gagahnya di luar benteng. Yang lain juga menatap pendatang baru ini yang sosoknya begitu menggetarkan hati.

Jenderal Kho: Yang Mulia, dia adalah penguasa benteng Gwanmi.

Damdeok terus mengawasi sosok gagah itu yang berkuda menuruni bukit di mana benteng itu berada, Joomochi sangat bersemangat dan berniat untuk bertarung dengan orang itu, yang justru ditakuti oleh yang lainnya. Damdeok kemudian menatap pada Joomochi dan memberikan anggukan kecil. Joomochi segera mengangkat kapaknya tinggi-tinggi kemudian memacu kudanya ke arah sosok itu diikuti oleh anakbuahnya.

Saat Cheo-ro mengayun-ayunkan tombaknya di udara, kekuatan magis keluar di tombaknya. Cheo-ro mengayunkan tombaknya ke arah Joomochi dan rekan-rekannya, tiba-tiba segulung angin berhembus kencang membuat debu beterbanngan sehingga Joomochi dan yang lainnya segera berhenti. Kuda-kuda mereka meringkik ketakutan. Damdeok mengawasi dengan pandangan serius. Soojinee, Jenderal Kho, dan Hyon-go sangat cemas.

Anakbuah Joomochi terjebak dalam serangan angin berdebu itu. Joomochi berhasil keluar dan memacu kudanya menuju ke Cheo-ro, yang juga memacu kudanya ke  arah Joomochi. Saat kedua orang itu saling berpapasan, kapak dan tombak saling berbenturan, memperdengarkan suara nyaring yang memekakkan telinga. Jadi inilah pertama kalinya Pelindung Chung Ryong dan (bakal) Pelindung Baekho bertarung satu sama lain. Kapak Joomochi tergetar begitu keras akibat benturan itu, dan tangan Joomochi sampai merasa kesemutan karena getaran itu. Tapi kelihatannya, Cheo-ro juga terkejut karena Joomochi adalah orang pertama yang berhasil bertarung berhadapan dengan dirinya satu lawan satu.

Cheo-ro memacu kudanya ke arah anakbuah Joomochi dan mengayunkan tombaknya ke arah mereka, mengeluarkan kekuatan magisnya. Mereka semua jatuh dari kudanya, terluka parah. Damdeok dan yang lainnya masih tak bergerak dari tempat semula, memandang dari kejauhan, tapi rasa khawatir tampak di wajah mereka, terutama Soojinee, karena Soojinee dan Joomochi serta anakbuanya sangat akrab satu sama lain.

Hanya Joomochi yang tak terluka dan mereka bedua saling menatap satu sama lain sebelum kemudian memacu kuda masing-masing dengan kecepatan penuh. Joomochi mengayunkan kapaknya saat mereka berpapasan, tapi Cheo-ro membaringkan tubuhnya telentang di atas kuda menghindari kapak Joomochi. Joomochi kemudian membalikkan kudanya, dan memburu Cheo-ro.

Joomochi berhasil mengejarnya dan menyerangnya lagi beberapa kali, kali ini ia berhasil membuat luka gores di atas tubuh Cheo-ro. Tapi selanjutnya, ketika Joomochi akan melakukan serangan berikutnya, ia terpukul di dada dengan gagang tombak, membuat Joomochi sesak, Cheo-ro mengayunkan lagi tombaknya ke arah kaki kuda Joomochi, sehingga kudanya tersungkur dan Joomochi terjatuh dari kudanya. Joomochi terlihat mendapatkan luka berat.

Cheo-ro menghampiri Joomochi yang terbaring di tanah dan memuntahkan darah segar, ia merasa ragu-ragu sejenak. Saat ia akan menghabisi Joomochi, Soojinee memacu kudanya diikuti beberapa orang ke medan pertempuran. Soojinee memanah ke arah Cheo-ro, berusaha mencegahnya melanjutkan usahanya menghabisi Jooomochi. Anak-anak panah Soojinee, yang biasanya selalu tepat sasaran, dapat ditangkis dengan enteng oleh Cheo-ro hanya dengan sekali mengayunkan tombaknya. Lalu Cheo-ro mengayunkan kembali tombaknya ke arah Soojinee dan kelompoknya, yang terjatuh dari kuda mereka dan terbaring di tanah tak sadarkan diri.

Dan  sekarang badai pasir yang dibuat oleh Cheo-ro menjadi lebih kuat, bahkan mempengaruhi pasukan utama di mana Damdeok berada, yang sebenarnya sangat jauh jaraknya dari tempat Cheo-ro.

Damdeok merasa khawatir dengan keselamatan Soojinee dan Joomochi. Ia segera memacu kudanya menuju ke arah Cheo-ro. Dan ketika Damdeok semakin mendekat, jantung Cheo-ro (di mana Simbol Chung Ryong berada) mulai berdegup sangat kencang dan ia merasakan sakit. Ia tak dapat menghadapi Damdeok. Ia segera maju dan mengambil Soojinee yang terbaring di tanah kemudian berbalik dan memacu kudanya untuk pulang ke benteng, meninggalkan semua orang yang terluka dan terbaring di tanah dan Damdeok. Ini adalah pertama kalinya Cheo-ro tak dapat menghadapi seorang musuh.

Damdeok sampai di tempat Soojinee dan yang lain tergeletak di tanah, tak menemukan sosok Soojinee, kemudian menoleh ke arah Cheo-ro, yang sedang di atas kuda, mengawasinya dari bukit dengan Soojinee ada di pangkuannya.

——————————-

Perkemahan Pasukan Raja

Semua prajurit yang terluka mendapatkan perawatan, dan Dalbee menyerbu ke dalam tenda dengan tergopoh-gopoh, wajahnya tampak sangat cemas. Ia kemudian menemukan Joomochi, yang sedang dirawat oleh Ba Son dan seorang anakbuah Joomochi. Dalbee segera mendekatinya dan menggeser anakbuah Joomochi. Ba Son berdiri dan mengajak anakbuah Joomochi untuk keluar dengan menyeretnya untuk membiarkan Dalbee merawat Joomochi. Dalbee membubuhkan obat di tubuh Joomochi.

Joomochi: Aku bisa saja membunuhnya! Iblis itu … aku seharusnya membunuhnya! Ia benar-benar monster! Aku seharusnya …

Dalbee, yang sudah sangat marah, dan menangis,  memukul dada Joomochi, yang bekas dipukul Cheo-ro, Joomochi mengerang kesakitan …

Dalbee: (menangis marah) Jangan berkata seperti itu! Kau tahu kalau dia itu monster .. apa kau ini orang bodoh? (Joomochi jadi anak ayam, mengkeret melihat Dalbee marah) Dia itu monster jadi mengapa kau justru bertarung melawannya? (memukuli tubuh Joomochi) Tubuhmu penuh dengan bekas luka dan goresan! Lihat dirimu ini!

Ahahahah …. Joomochi yang malang, bukannya mendapatkan kata-kata manis dan penuh cinta maupun kata dukungan mengenai betapa beraninya dia, Joomochi justru mendapatkan teguran dan dipukuli habis-habisan oleh Dalbee. …😀

Dalbee kemudian membalut luka Joomochi. Joomochi sendiri melirik Dalbee yang menangis melihat luka-lukanya, hatinya merasa pahit-pahit manis .. ehehhehe ….  Joomochi kelihatannya justru menyukai tindakan Dalbee … Joomochi sangat puas dan jelas bahagia karena semuanya itu terlihat di wajahnya … meskipun ia terluka berat dan terus dipukuli oleh si jantung hatinya ^^

Di luar tenda Raja, Huk-gae dan anaknya, Dalgoo, sedang berdiri dan mengawasi ke sekeliling, gelisah dan tampak tak tenang, jelas ada sesuatu yang mengganjal di pikiran mereka. Mungkin mereka ingin meminta maaf pada Damdeok atas tindakan mereka sebelum ini. Dan kemudian Jenderal Kho lewat bersama sepasukan pengawal Raja dan melihat mereka.

Jenderal Kho: (menghampiri) Apa yang sedang kalian lakukan di sini?

Huk-gae: Apa?

Jenderal Kho: Kalian sudah melanggar perintah Raja. Kalian berdua sudah menyebabkan banyak nyawa prajurit yang berharga hilang. Kalian seharunya melakukan bunuh diri. Bagaimana kalian berani berdiri di sini?

Huk-gae: Eh .. ya .. begini .. aku datang kemari untuk mengakui kesalahanku … (berteriak sambil menggoyang-goyangkan tangannya) Tapi dia tidak memanggilku … jadi aku …

Jenderal Kho: (pada para prajurit) Tangkap para penjahat ini … (semua orang bingung dan serba salah, Jenderal Kho membentak) Apa yang sedang kalian lakukan?

Para prajurit saling memandang satu sama lain lalu menghampiri Huk-gae dan Dalgoo yang salah tingkah, Huk-gae marah dan berseru pada mereka ..

Huk-gae: (membentak) Hei .. kalian bajingan ini … apa kalian mau mati!

Dalgoo: (menyela) A .. aku minta maaf …

Dalgoo segera berlutut dan menyembah sekali pada Jenderal Kho, lalu memandang ayahnya dan menyuruhnya berlutut juga. Ayahnya jelas menolak dan bahkan balik menegur anaknya.

Huk-gae: Hei kau bocah bodoh, jika aku akan berlutut maka aku akan berlutut di hadapan Yang Mulia Raja, bukannya di depan tenda!

Ahahaha …. tak mungkin seorangpun dapat memaksa si tua gendut dan pemarah ini untuk berlutut kecuali Raja sendiri >.<

Di dalam tenda, Damdeok tenggelam dalam pikirannya sendiri. Hyon-go dan seorang tetua dari Geo-mool masuk.

Hyon-go: Yang Mulia, kita tak bisa menunda lebih lama lagi. Kita harus membawa pasukan yang ada dan secepatnya pergi dari sini.

Tetua: Kepala Desa, bagaimana dengan Soojinee?

Hyon-go: Kewajiban dari setiap anggota Desa Geo-mool adalah melindungi Raja Jyooshin dan tidak bisa mengecualikan Soojinee hanya karena ia seorang gadis. (pada Damdeok) Pasukan Baekjae Barat akan segera tiba esok lusa, dan jika mereka menggabungkan pasukan mereka dengan pasukan dari Gwangmiseong maka …

Damdeok: (masih berpikir) Buatlah persiapan. Kita akan bergerak sebelum matahari terbenam. Kirimkan pesan pada pasukan yang ada di benteng-benteng yang lain. Kita harus mundur tanpa diketahui oleh pasukan Baekjae Barat.

Tetua Geo-mool segera pergi untuk memberitahu yang lain mengenai perintah dari Raja. Damdeok bangun dari duduknya dan berjalan pelan …

Hyon-go menatap pada Damdeok dan mengatakan kalau Damdeok tak bisa melakukan apa yang sedang dipikirkannya saat ini … Ia tak boleh berpikir mengenai menyelamatkan Soojinee seorang diri.

Damdeok tetap diam .. tapi ia sudah memutuskan sendiri apa yang akan ia lakukan.

—————————–

Perkemahan Pasukan Ho-gae di selatan dari Dataran Habook

Pertemuan di adakan di depan tenda Jenderal Obool. Cheok-hwan dan Ilsu mengamati mereka dan tampak tidak senang.

Ho-gae tampak minum-minum sendirian di dalam tendanya. Ilsu dan Cheok-hwan masuk menemuinya dan memberitahu Ho-gae mengenai tindakan pasukan mereka dan juga perasaan para jenderal. Cheok-hwan mengusukan untuk mengadakan pertemuan untuk mengklarifikasi ini, tapi Ilsu lebih suka membunuh beberapa dari mereka sebagai bentuk peringatan.

Tapi kelihatnnya Ho-gae tidak mendengarkan mereka. Ia bangun dan terhuyung-huyung hampir jatuh. Ia bertanya, “Apakah ia masih belum kemari? Mengapa ia tidak ada di sini?” Ia di sini adalah Ki-ha. Cheok-hwan merasa tidak puas karena sebagai seorang prajruit elit, ia tidak menyetujui seorang komandan menjadi mabuk dan tak berguna hanya karena seorang wanita, bahkan sama sekali tak peduli dengan pasukan mereka.

Di tempat Jenderal Obool, seorang jenderal mengatakan kaalu Pelindung Joojak telah menjadi Pendeta Tinggi Shindang. Jenderal Obool menyahut itu bukanlah masalah bagi mereka, tapi Shindang tak seharusnya turut campur dalam masalah peperangan. Lalu yang lain berkata, tapi bukankah sebagai Pelindung Joojak sekaligusPendeta Tinggi,ia akan dapat mengetahui segalanya? Tapi Jenderal Obol tidaklah terkesan dengan kenyataan ini.

Jenderal Obool kemudian mengatakan kalau Ho-gae adalah komandan dari 40 ribu orang prajurit tapi ia justru mendengarkan wanita itu. Jika wanita itu memintanya pergi, ia akan pergi,  jika ia menyuruhnya datang, maka Ho-gae akan datang padanya seperti seekor anjing setia. Tampaknya jenderal Obool tidak menyukai Ki-ha. Seorang lain mengatakan kalau Ho-gae telah minum-minum sejak meninggalkan Baekjae. Lalu Jenderal Obool berkata mungkin Ho-gae memang dilahirkan di keluarga Yeon dan terlahir di bawah Bintang Raja Jyooshin, tapi ia masih muda dan kurang pengalaman.

Tiba-tiba, semua obor di sekitar perkemahan berkobar menjadi api besar. Semua orang menjadi terkejut dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Dan kemudian mereka melihat Ki-ha sedang berjalan ke arah mereka … dan setiap kali Ki-ha berjalan melewati setiap api, itu berkobar. Ki-ha berpakaian merah membara … apakah ini berarti  ia bermaksud menyatakan dirinya bukan saja sebagai Pelindung Joojak tapi juga Shaman Api?

Ia berhenti di hadapan Jenderal Obool dan yang lainnya, meminta mereka untuk membawanya ke tenda Ho-gae.

Sementara itu di dalam tenda, Ho-gae terbaring mabuk. Ki-ha masuk dan melihat kondisinya seperti itu, ia segera menghampiri Ho-gae dan menyeka keringatnya.

Ho-gae terbangun dan melihat Ki-ha berada dekat dengannya, dan bertanya apakah ini mimpi? Karena jika ini bukan mimpi maka ia tak mungkin ada di dekatnya seperti ini dan merawatnya.

Ki-ha mengatakan kalau ini bukanlah mimpi dan memintanya untuk mendengarkan pada apa yang akan ia katakan. Tapi pada saat Ki-ha mau melanjutkan perkataanya, Ho-gae meraih tangan Ki-ha dan membawanya ke pipinya.

Ki-ha mengatakan kalau kapanpun ia memikirkan Ho-gae, Ia merasa sangat menyesal. Ho-ge selalu berada di sampingnya sepanjang waktu. Ki-ha memang benar-benar menyesal … karena Ho-gae adalah satu-satunya orang sejauh ini yang tidak berupaya mencari keuntungan darinya.

Ki-ha mengatakan kalau ia tak sanggup meninggalkan Ki-ha.

Ki-ha bertanya pada Ho-gae, akankah ia masih berada di sampingnya sepanjang waktu? Tak peduli apapun yang akan dirinya perbuat, tak peduli seberapa banyak dirinya berubah?

Ho-gae perlahan-lahan bangun … mungkin merasakan perubahan sikap Ki-ha terhadap dirinya. Ki-ha melanjutkan, bahwa di masa yang akan datang, ia akan meminta bantuan yang lebih banyak lagi dari Ho-gae. Ho-gae harus menemukan Simbol Baekho, Simbol Chung Ryong dan kemudian mengambil alih Goguryeo.

Ho-gae menatapnya kemudian berkata dengan nada penuh cinta di suaranya, tidakkah ia tahu sampai sekarang? Ia tak perlu meminta bantuan .. ia hanya harus mengatakannya. Karena dirinya adalah miliknya. Meskipun Ho-gae menjadi jahat, tapi harus diakui kalau satu-satunya kebaikan yang ia miliki adalah ia benar-benar setia (dan tunduk) pada satu wanita saja.

Ki-ha menjawab kalau ia menginginkan Ho-gae. Ia ingin hatinya dan jiwanya, dan ketika ia tak butuh Ho-gae lagi maka ia akan membuangnya begitu saja. Ho-gae merasakan kesendirian dalam suara Ki-ha sehingga ia berusaha memeluknya, tapi Ki-ha bergerak menjauh. Ho-gae ingin bersikap mesra tapi Ki-ha bersikap seakan-akan mereka adalah orang-orang yang sedang berbisnis. Ki-ha memberitahu Ho-gae untuk menemukan Simbol Baekho dan kemudian berbalik padanya, mengatakann dengan suara dingin, “Jika Damdeok datang kemari, kuminta kau membunuhnya!”

Ki-ha mengatakan kalau ia akan mencoba Damdeok untuk datang ke tempat Ho-gae bukannya kembali ke Gooknaeseong, dan ketika itu terjadi, Ho-gae harus membunuhnya.

Ho-gae terlihat tak begitu terkejut mendengar perkataan Ki-ha, meskipun ia tahu dulunya Ki-ha begitu mencintai Damdeok tapi sekarang ingin membunuhnya. Ho-gae menerima Ki-ha apa adanya tak peduli perubahan apapun yang terjadi, asalkan Ki-ha bisa berada di sampingnya dan tidak bersama Damdeok.

Ho-gae bertanya apakah Ki-ha juga akan membunuh dirinya suatu hari kelak dengan cara yang sama? Ki-ha menjawab kalau ia tidak tahu. Ho-gae dengan sedikit kepahitan dalam tawanya mengatakan kalau ia juga punya permintaan pada Ki-ha .. dan itu adalah jika memang ia harus mati suatu hari nanti, ia memohon agar Ki-ha tidak meminta orang lain untuk melakukan itu, tapi ia lebih senang kalau mati di tangan Ki-ha … ouch .. pria yang aneh …
Ki-ha tidak mengatakan apapun tapi beranjak pergi. Tapi kemudian ia berbalik dan menoleh untuk menatap kembali pada Ho-gae sebelum benar-benar pergi. Ekspresi wajahnya tak bisa terbaca, mungkinkah ia merasa menyesal pada Ho-gae, pria yang benar-benar mencintainya dengan sepenuh hati bahkan bersedia melakukan apapun bagi dirinya namun sebaliknya ia tak bisa membalasnya …

Pasukan Damdeok sedang berkemas-kemas seperti yang diperintahkan oleh Damdeok. Huk-ge sedang mengeluh pada Jenderal Kho, mengapa mereka harus mengembalikan semua wilayah Baekjae yang telah mereka rebut dengan susah payah dan berkorban jiwa dan darah? Tidakkah seharusnya mereka mencoba lebih keras lagi untuk menembus Gwanmiseong? Jenderal Kho hanya berdiam saja dan menatapnya dengan pandangan serius … Huk-gae tampak ragu-ragu …

Tiba-tiba Dalgoo datang tergopoh-gopoh dan mengatakan kalau Raja tidak ada di mana-mana tapi ia meninggalkan pesan bagi Jenderal Kho.

Jenderal Kho membaca pesan itu tapi kemudian segera bergegas lari dengan wajah terlihat sangat cemas. Ketika Huk-gae mencoba memanggilnya, Jenderal Kho hanya melemparkan pesan itu pada Huk-gae, yang kemudian memungutnya. Ia membacanya kemudian melemparkan pesan itu dan menyusul Jenderal Kho dengan terburu-buru. Dalgooo memungut pesan itu, membacanya dan berlari menyusul ayah dan Jenderal Kho dengan tergopoh-gopoh … aahahha …

Hyon-go sedang meninggalkan perkemahan ketika ia dihentikan oleh Joomochi, tampaknya sedikit pulih, yang kemudian berkata: “Ayo pergi bersama-sama!”

Hyon-go bertanya: Memangnya kemana?

Joomochi: Bukankah kau pergi untuk menyelamatkan Soojinee?

Hyon-go: Kau masih terluka dan tak akan selamat jika kau pergi …

Joomochi: Kau juga tak akan bisa melakukan apapun sendirian.

Hyon-go: (sedikit tersinggung) Aku adalah Pelindung Hyunmoo, yang dikirim oleh Langit! Maka Langit yang akan melindungiku!

Joomochi: Kau percaya itu?

Hyon-go sangat berterima kasih atas niat Joomochi untuk menyelamatkan Soojinee. Tapi Joomochi seperti merasa malu dan berkata kalau ia tidak bermaksud untuk pergi menyelamatkan Soojinee. Ia seorang bayaran dan akan menyerahkan masalah Soojinee pada Hyon-go. Ia ke Gwanmiseong untuk sesuatu yang lain. Hyon-go menyebutnya orang baik dan manis.

—————————————–

Benteng Gwanmi

Di ruangan Cheo-ro, Cheo-ro menjulurkan tangannya untuk menyentuh Soojinee yang masih tidak sadarkan diri dan tiba-tiba ia langsung dipenuhi dengan kilas balik dari kehidupan Soojinee sebelumnya, ketika ia menjadi Joojak Hitam. Jantung Cheo-ro mulai berdegup dengan keras dan ia segera menarik tangannya dari Soojinee dan menjauh.

Soojinee sendiri menjadi terbangun, dan mendapati dirinya ada di sebuah ruangan yang seperti hutan. Ia bangkit dan mengawasi ke sekelilingnya, mencoba untuk mencari jalan keluar selain pintu yang terkunci namun gagal.

Soojinee merasakan kehadiran seseorang dan berteriak supaya hantu keluar dan berkelahi dengannya, tapi Cheo-ro dari tempat tersembunyi, bertanya, “Apakah aku pernah bertemu denganmu?”

Adahembusan angin keras di belakang Soojinee dan Soojinee segera berbalik, melihat kursi dan pohon dan tanaman menjalar di sekelilingnya. Ia berjalan ke belakang kursi tersebut dan menemukan hutan. Itu hutan yang sangat aneh … penuh dengan daun-daun yang berguguran.

Sementara itu ….

Hyon-go dan Joomochi tiba di dekat tembok Gwanmiseong dan sedang mencari jalan untuk masuk dengan diam-diam. Hyon-go mencari sebuah lubang kecil tapi Joomochi mengatakan kalau ia bukanlah seekor anjing sehingga harus merangkak masuk dan lagi ia tak bisa masuk jika lubangnya terlalu kecil … >.<

Mereka mengintip pada gerbang Gwanmiseong dan tiba-tiba seluruh area itu bercahaya gemerlap dengan obor-obor yang dibawa oleh para prajurit di atas benteng. Mereka bedua sangat terkejut! Mereka ketahuan! Uh oh! Apa yang harus mereka lakukan sekarang??

Tapi ternyata bukan mereka, itu Damdeok di depan pintu gerbang Gwanmiseong, dan meminta bertemu dengan Penguasa Benteng Gwanmi.  Damdeok mengatakan kalau ia adalah seorang prajurit dari Pasukan Raja Goguryeo. Ga Guen bertanya apakah ia sendirian dan kemudian Damdeok menjawab kalau tidak perlu 100 orang untuk mengatakan apa yang perlu ia katakan. Ia memegang sebuah benda yang berbentuk seperti pedang dan mengatakan kalau itu adalah bukti yang diserahkan Raja Goguryeo pada dirinya.

Hyon-go dan Joomochi baru menyadari kalau orang itu adalah Raja mereka yang sedang berdiri di depan gerbang … uh oh … ini lebih parah daripada yang mereka duga … Raja sangat nekat, mungkin begitulah pikiran mereka.

Damdeok bertanya apakah Penguasa Benteng tidak ingin menukar 10 penguasa benteng yang telah mereka tangkap sebelumnya? Ia mengatakan ingin bertemu dengan penguasa benteng Gwangmi secara pribadi.

Pintu gerbang dibuka dan Damdeok dengan membawa bendera Goguryeo memasuki benteng sendirian tanpa rasa takut. Joomochi merasa cemas dan akan menyusulnya, tapi Hyon-go segera menghentikannya dan menariknya untuk bersembunyi. Hyon-go mengatakan jangan sekarang.

Hyon-go dan Joomochi, entah bagaimana caranya, berhasil menyusup masuk ke dalam benteng.

—————–

Soojinee masih berjalan-jalan di hutan yang aneh, melihat-lihat ke sekelilingnya dan mendadak ia melihat Cheo-ro, sedang duduk di lekukan akar sebuah pohon. Cheo-ro tidak menggunakan topeng mukanya, sehingga wajahnya yang sangat mengerikan dan kulit tubuhnya bersisik berwarna kebiruan terlihat oleh Soojinee, yang mengejutkan Soojinee tentunya.

Sementara itu …

Ga Guen berkata bagaimana bisa seorang Raja mengijinkan seorang prajurit untuk datang sendirian memasuki Gwanmiseong? Damdeok menjawab kalau Raja hanya ingin  menyelamatkan orang-orangnya, meskipun itu hanya satu orang saja. Dan bukankah hal yang sama akan dilakukan oleh Penguasa Gwanmiseong?

Ga Guen, yang kelihatannya sangat tertarik dan terkesan oleh “prajurit” yang tak mengenal takut ini berbalik menghadapinya dan mengatakan pada Damdeok bahwa ia adalah Ga Guen, Jenderal Gwanmiseong. Ia bertanya nama Damdeok, tapi Damdeok berkelit dengan mengatakan jika dirinya menjawab Ga Guen, maka itu juga kebohongan belaka jadi ia lebih suka tak mengatakannya.

Ga Guen kemudian tiba-tiba teringat dengan pertandingan Kyukku dan menyadari bahwa orang di hadapannya ini adalah Damdeok, Raja Goguryeo sendiri. Ia memberitahu Damdeok bahwa dirinya dulu pernah menyusup masuk ke Goguryeo dan menyaksikan pertandingan Kyukku sebelumnya. Damdeok mendongak dan menatap Ga Guen, menyadari kalau jenderal satu ini benar-benar mengenalinya. Tapi keduanya tidak mengatakan apapun mengenai ini, kecuali Ga Guen mengatakan kalau pertandingan itu sungguh luar biasa.

Soojinee pelan-pelan mendekati Cheo-ro dan memegarng tongkatnya dengan erat … merasa sedikit takut.

Cheo-ro mengatakan kalau ia adalah monster. Karena itu ia tak pernah jatuh sakit karena ia bukanlah manusia. Soojinee, yang memang polos, bertanya jika ia bukan manusia, kalau begitu apakah ia seekor anjing?

Cheo-ro menyahut kalau semua orang selalu menjauhinya merasa takut dekat dengan dirinya. Dan ia mulai menangis …

Wajah Soojinee melembut … dia benar-benar seorang gadis yang baik hati. Ia mendekati Cheo-ro dan melihat  wajahnya (yang tanpa topeng) dan tersurut mundur, tapi ia tidak lari ketakutan. Ia bertanya apakah itu adalah wajahnya yang sebenarnya? Bahkan dengan suara yang lebih lembut bertanya apa sebenarnya yang terjadi. Soojinee bertanya lagi, apakah memang dari semula sudah seperti ini? Tapi Cheo-ro terus menangis.

Soojinee  menjulurkan tangannya untuk menyentuh tangan Cheo-ro, yang bersisik, dan bertanya apakah ia baik-baik saja? Dan ketika Soojinee menyentuh tangannya, jantung Cheo-ro berdegup dengan kencang lagi.

Cheo-ro bertanya siapa Soojinee baginya? Dan siapa pria yang bersamanya tadi? (mengacu ke Damdeok). Cheo-ro bertanya mengapa hatinya sangat sakit. Soojinee meskipun menatap sepenuhnya pada wajahnya yang mengerikan, tak merasa ngeri sama sekali. Mungkin inilah ketika Cheo-ro benar-benar jatuh cinta pada Soojinee, bukan karena “perasaan” Chung Ryong. Dan ini mungkin pertama kalinya bagi Cheo-ro ketika seseorang, terutama seorang gadis, begitu dekat dengannya dan menunjukkan rasa khawatir baginya. Tiba-tiba Cheo-ro meraih topengnya dan memasangnya kembali ke wajah kemudian beranjak pergi. Soojinee sendirian di tengah hutan.

Damdeok dan Ga Guen berdiri di luar ruangan Cheo-ro, dan Ga Guen memberitahu dari luar pada Cheo-ro kalau Damdeok ingin bertemu dengannya. Cheo-ro mempersilahkan mereka untuk masuk. Ga Guen memberikan penghormatan pada Damdeok. Aaawww … Ga Guen ternyata menghormati Damdeok.

Damdeok masuk dan melihat kalau ruangan itu tampaknya kosong, namun ia tetap mengatakan kalau ia bersedia untuk mengembalikan 10 benteng jika Cheo-ro mau melepaskan Soojinee.

Tiba-tiba, beberapa cahaya padam, dan Cheo-ro bertanya pada Damdeok apakah gadis itu kekasih  Damdeok. Damdeok tertegun dan tak menjawab.

Di tempat lain ..

Joomochi melumpuhkan beberapa penjaga tanpa banyak tenaga. Hyon-go terlihat begitu terkesan dengan kemampuan Joomochi … hehehe….

Damdeok berjalan masuk ke hutan sihir, dan terdengar suara seperti seekor naga sedang bernapas dengan berat. Ah … bukankah Cheo-ro si Woon Sa, si Naga Biru?

Joomochi mencoba untuk mendorong sebuah pintu sekuat tenaga agar terbuka (yang menghubungkan lorong menuju ke ruangan Cheoro). Hyon-go menyemangatinya untuk mencoba lebih keras lagi. Joomochi merasa frustasi dan ingin mendobrak pintu itu dengan kapaknya tapi lagi-lagi dihentikan oleh Hyon-go.

Lalu muncullah Ga Guen dan bertanya apakah mereka bersama-sama engan orang tadi yang datang duluan? Joomochi mengatakan kalau ia tak mengerti apa yang dikatakan Ga Guen. Hehehe … Hyon-go bersembunyi di belakang Joomochi …. Ia tidak mengandalkan otot tapi otak …😀

Ga Guen kemudian bertanya apakah Raja Goguryeo benar-benar adalah Raja Jyooshin? Dan .. ah .. Joomochi berkata, “Tunggu sebentar” lalu ia menoleh pada Hyon-go dan bertanya bagaimana mereka harus menjawab … aahahha …

Hyon-go menyadari kalau orang yang dihadapannya bukanlah benar-benar musuh, mengatakan jika saja dirinya mengenali kalau pria itu adalah Raja Jyooshin maka ia juga bisa saja menjadi Raja Bekjae.

Hyon-go mengatakan kalau dirinya adalah Kepala Desa Geo-mool, dan Simbol Hyunmoo mereka telah mengakui pria tadi sebagai Raja Jyooshin. Dan ia melanjutkan … jika itu memang benar, maka apa yang akan dilakukan olehnya? Ga Guen menjawab kalau ia telah menunggu Raja Jyoohsin. Ketika Bintang Jyooshin muncul, ia telah menyusup masuk ke Goguryeo untuk mengamati Yeon Ho-gae (yang dipercaya banyak orang adalah Raja Jyooshin) dan kemudian menyaksikan Damdeok. Ia kemudian mengatakan kalau Damdeok benar-benar adalah Raja Jyooshin maka ia tak akan membunuh tuannya dan akan berhasil menarik kembali Simbol di jantungnya. Hyon-go bertanya apa yang ia katakan? Ga Guen mengatakan bahwa pria tadi baru saja masuk, dan jika memang benar ia adalah Raja Jyooshin maka dia pasti bisa menyelamatkan tuannya. Hyon-go bertanya di mana Simbol itu berada … dan Ga Guen menoleh ke arah ruangan Cheo-ro.

Damdeok berada di dalam hutan, berjalan mengamati sekelilingnya. Demikian juga dengan Soojinee. Hutan itu berkabut dan ada perasaan ganjil melingkupinya.

Tiba-tiba, pisau Damdeok, yang dulunya adalah Pedang Joomong, dan sebelumnya adalah Busur Langit milik Hwan Woong, mulai bercahaya. Beberapa struktur bangunan mulai terlihat samar-samar … Hembusan angin tetap terasa kuat dan Damdeok merasakan kehadiran seseorang di dekatnya. Ia menutup mata dan berkonsentrasi, dan hembusan angin menghilang. Pisau Joomong terus bercahaya.

Cheo-ro mengendap-endap di belakang Damdeok. Ia menyerang Damdeok dengan tombaknya tapi ditolak oleh sebuah perisai pelindung sihir yang tiba-tiba muncul. Saat Cheo-ro mengarahkan tombaknya ke arah Damdeok, kilas balik dari kehidupan mereka sebelumnya muncul … gambaran Hwan Woong silih berganti menggantikan Damdeok, demikian juga dengan Woon Sa.

Cheo-ro mencoba untuk menyerang lagi tapi ditolak kembali, bahkan kali ini lebih kuat. Ia terpental sehingga menabrak pohon dan merasa sangat lemah. Cheo-ro terus mencengkeram dadanya. Ia berteriak pada Damdeok, memintanya untuk menyelamatkan dirinya.

Dan Damdeok kemudian memegang erat pisau itu (dengan kilas balik ketika Ki-ha mencoba membunuh Damdeok dengan Pedang Joomong saat ujian Gaori, dan menjadi pisau yang sekarang). Tapi pisau itu juga dulunya adalah Busur Langit yang telah digunakan oleh Hwan Woong … dan tiba-tiba muncullah jalur cahaya dari pisau itu sehingga membentuk Busur Langit. Lalu Damdeok melepaskan panah Langit ke arah jantung Cheo-ro (dengan kilas balik saat Hwan Woong melakukan hal yang sama terhadap Sae-oh >.< )

Panah Langit melesat ke arah jantung Cheo-ro dan kekuatan Simbol terlepas dari diri Cheo-ro.

Soojinee, Joomochi, Hyon-go dan Ga Guen mendengar keributan di dalam ruangan dan segera berlari mengarah ke mereka berdua.

Cheo-ro jatuh ke tanah dan tampak seperti orang mati. Damdoek kemudian perlahan-lahan berjalan menghampirinya dan mengambil topengnya. Soojinee muncul dan tampak khwatir. Ia menyentuh leher Cheo-ro dan menyatakan kalau Cheo-ro masih hidup.

Lalu Simbol Chung Ryong keluar dari jantung Cheo-ro dan Damdeok mengambilnya.

Hyon-go, Joomochi, dan Ga Guen muncul, dan Ga Guen mengatakan kalau itu adalah Simbol Chung Ryong. Ia kemudian melihat ke arah Cheo-ro yang pingsan dna berkata kalau Simbol itu telah ditanamkan di jantung Cheo-ro sejak ia berumur 10 tahun … kilas balik di malam ketika Hwa Cheon menyerang benteng Jin … Damdeok melihat ke Simbol itu dan kemudian ke Ga Guen.

Damdeok keluar berperang tidak bermaksud untuk mencari Simbol Chung Ryong tapi justru sekarang Simbol itu ada di tangannya. Dan ini membuat Damdeok semakin yakin daripada sebelumnya bahwa ia benar-benar adalah Raja Jyooshin dan ada tanggungjawab yang harus ia penuhi.

Ga Guen memberikan penghormatan (dan sekaligus pengakuan) pada Damdeok sebagai Raja Jyooshin.

Dan pada saat yang bersamaan, kulit tubuh dan juga tampang Cheo-ro perlahan-lahan menjadi seperti aslinya seperti disihir.

Sementara itu

Di pasar dekat Istana Gooknae, pertunjukan sandiwara diadakan kembali, sang pemain sandiwara mengatakan mengenai ekspedisi Ho-gae ke utara untuk berperang dan menundukkan suku-suku di sana. Ia memuji-muji betapa hebatnya Ho-gae..

Si pria pendek dari Geo-mool (dan beberapa orang lainnya) menyela pemain sandiwara itu dan mengatakan kalau Ho-ge memimpin 40 ribu orang untuk menyerang Baekjae tapi kenyataannya tak melakukan apapun. Yang lain mengatakan kalau Raja mereka berhasil merebut 10 benteng dan bahkan menyerang Gwangmiseong, yang katanya tak bisa ditembus oleh pasukan manapun. Si pria pendek mengatakan kalau Raja bahkan tidak membawa 10 ribu orang ataupun seribu orang. Lalu ia berbalik dan mengawasi ke sekeliling, dan menunjuk ke arah makanan dan persediaan yang akan dikirim ke pasukan Ho-gae, lalu dengan kasar ia memberitahu semua orang bahwa makanan dikirim lagi .. dan itu semua diambil dari rakyat.  Si pemain sandiwara kehilangan penontonnya, yang mulai menyadari kalau mereka terlalu berlebihan dalam menyanjung Ho-gae.

——————

Kediaman Keluarga Yeon

Banyak orang sedang sibuk mengangkut makanan dan persediaan di depan kediaman keluarga Yeon. Yeon Garyeo dan Chojodoo sedang berdiskusi dengan membentangkan sebuah peta, berusaha menemukan rute tercepat untuk menyusul Ho-gae dan pasukannya.

Yeon Garyeo mengatakan kalau Ho-gae harus dapat menunjukkan beberapa hasil supaya dilihat semua orang. Dae Jangro mengatakan kalau Pendeta Tinggi telah pergi menyusul Ho-gae.

Yeon Garyeo mengatakan meskipun Ho-gae adalah anak lelakinya, tapi ibunyalah yang membentuk Ho-gae sehingga ia menjadi seperti sekarang ini. Dae Jangro mengatakan kalau ia telah mendengar mengenai ibu Ho-gae, yakni istri Yeon Garyeo.

Lalu Yeon Garyeo mengatakan kalau ibu Ho-gae telah mengajar Ho-gae sejak masih kecil bagaimana bertingkah sebagai seorang Raja … dari caranya berjalan sampai berlari. Ibunya mengajarkan semuanya pada Ho-gae. Ia kemudian bertanya pada Dae Jangro apakah ia tahu maksud perkataannya ini. Dae Jangro mengatakan kalau Pendeta Tinggi akan memperlakukan Ho-gae sama dengan ibunya.

Yeon Garyeo mengatakan kala Ho-gae seperti Langit itu sendiri bagi ibunya tapi bagaimana dengan Joojak? Siapa Ho-gae baginya?

Sementara itu

Di tempat pandai besi Ba Son yang ada di Gooknaeseong, si pria pendek menyerbu ke dalam dan menemukan pria yang sebelumnya telah ditangkap oleh Hwacheon ada di lantai dua, sedang makan bola-bola nasi.

Pria kurus itu hampir tersedak dan si pria pendek segera mencarikan air untuknya. Ia mendengar kalau dia telah ditangkap oleh Hwacheon, jadi terkejut saat melihatnya masih hidup. Kelihatannya pria kurus itu habis disiksa dengan hebat.

Si pria kurus mengatakan kalau ia harus dapat menemukan Ba Son, ia harus mengatakan sesuatu padanya. Si pria pendek bertanya apa itu, dan si pria kurus berbisik di telinganya.

———————

Gwanmiseong

Cheo-ro mulai pulih dengan cepat .. dan Ga guen membawakannya minuman dan juga sebuah cermin … Cheo-ro melihat tangannya, yang mulai berangsur-angsur normal. Ia kemudian menatap cermin dan melihat wajahnya kemudian menguliti bekas kulit kering di wajahnya. Wajah Cheo-ro kembali normal … hehe bibirnya tebal loh … ^^

Hyon-go mengeluh karena mereka tak bisa tetap tinggal di Gwanmiseong untuk memerintah di sini karena Damdeok telah mengirimkan semua pasukannya pulang. Dan juga sangat berbahaya bagi mereka untuk pergi sendirian karena mereka akan melewati wilayah Baekjae. Ahahaha … Hyon-go benar-benar mengeluh sedemikian rupa sehingga membuat Damdeok menyuruhnya berhenti😀

Soojinee menatap ke depan dan mengatakan kalau mereka tidak akan sendirian.

Dan kemudian mereka melihat Huk-gae, Dalgoo, Jenderal Kho dan beberapa orang mendatangi mereka. Hyon-go tampak sangat lega dan  senang … ahahahh …

Tapi Damdeok tampak tak terlalu gembira. Pada kenyataannya ia terlihat mengerutkan keningnya dan bertanya pada Jenderal Kho, tidakkah Jenderal Kho telah menerima perintah darinya? Jenderal Kho menjawab kalau ia sudah menerimanya. Mereka telah memberitahu para prajurit untuk mundur dan kembali ke Gooknaeseong. Damdeok kemudian bertanya, kalau begitu mengapa mereka semua ada di sini? Oh hoh … Damdeok terlihat marah … tapi tetap saja keren😀

Huk-gae mengatakan kalau mereka telah memberitahu para prajurit untuk meninggalkan tempat ini tapi mereka menolak untuk pergi.

Jenderal Kho, menatap pada Damdeok dan mengatakan kalau Damdeok telah berjanji bahwa Damdeok tak akan mati sebelum dirinya. Jadi ia mempercayainya dan menunggu. Huk-gae berteriak, Damdeok tidak boleh benar-benar percaya karena Jenderal Kho mengatakan kalau sampai Raja tidak muncul saat matahari terbit, maka ia akan menyerang benteng itu sendiri … ahahahah …

Damdeok tampak surut amarahnya dan tersenyum melihat tingkah Huk-gae, tampaknya ia benar-benar menyukai si tua gendut itu ^^ …  Huk-gae yang tak menyadari kalau Damdeok tak lagi marah, melanjutkan betapa Jenderal Kho ternyata tidak setenang tampangnya. Dalgoo, anaknya, menghentikan ayahnya dan mengarahkan telunjuknya pada ayahnya …  ahahahah … ^^

Dan kemudian semua orang tertawa terbahak-bahak …. ^^

18 comments on “The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 15

  1. Semangat terus yach….’
    Ceritanya bagus banget….!!!! Bikin Penasaran….!!!!
    Aku akan dukung terus sampe selesai….
    Thank’s….., udah bekerja keras…, bwt kami semua..!!!!
    Muach……

  2. terlambat nemu blog ini, perlu waktu 2 hari baca dari episode 1, akhirnya sekarang bisa istirahat, tapi cepet lanjutin ya…, biar gak kelamaan penasarannya, hehehe😉 thanks…….

  3. aku tungguu next chap nya,,,, n_n

    aku pensaran bngettt ,,, >,<
    aku nonton baru episode 10 ,,, jd krn pnsrn aku bc aja sinopsis slnjt na nya,,,

    jeongmal gomawoyo ,,, n_n

  4. lucu sma kalimat ini…..

    Cheo-ro melihat tangannya, yang
    mulai berangsur-angsur normal. Ia
    kemudian menatap cermin dan
    melihat wajahnya kemudian menguliti
    bekas kulit kering di wajahnya. Wajah
    Cheo-ro kembali normal … hehe
    bibirnya tebal loh … ^^

    hahaha…ada2 aja kang andi…
    knp ga sekalian d pajang aj foto nya cheo-ro biar keliatan bibirnya setebal apa…wkwkwk

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s