The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 16

Yeon Garyeo mengatakan pada Dae Jangro kalau ibu Ho-gae telah mengajar Ho-gae sejak masih kecil bagaimana bertingkah sebagai seorang Raja … dari caranya berjalan sampai berlari. Ibunya mengajarkan semuanya pada Ho-gae. Ia kemudian bertanya pada Dae Jangro apakah ia tahu maksud perkataannya ini. Dae Jangro mengatakan kalau Pendeta Tinggi akan memperlakukan Ho-gae sama dengan ibunya.

Yeon Garyeo mengatakan kala Ho-gae seperti Langit itu sendiri bagi ibunya tapi bagaimana dengan Joojak? Siapa Ho-gae baginya?

Perkemahan Pasukan Ho-gae

Selatan Dataran Hanook.

Ilsuh ingin menemui Ho-gae tapi dihentikan oleh para pengawal sehingga ia menjadi kecewa dan berbalik pergi.

Ho-gae di dalam tenda sedang bersama dengan Ki-ha, yang mengenakan pakaian perang pada Ho-gae. Ho-gae terus menatap pada Ki-ha …

Ki-ha: Kita sudah kehabisan waktu .. Ketika kau memburu Simbol itu, tundukkan semua orang dan wilayan yang kau temui.

Ho-gae: Tundukkan … ?

Ki-ha: Rebut Simbol Dewa dan tanah utara, dan kembalilah ke Gooknaeseong lebih kuat dan berkuasa daripada sebelumnya. Dan … Jadilah Raja Jyooshin. (Memeluk Ho-gae dari belakang)  Aku akan menunggu dirimu …

Ho-gae merasa kalau saat ini adalah saat yang paling membahagiakan dirinya … Kali ini bukan Damdeok, tapi diirnya yang dinantikan oleh Ki-ha … hatinya merasa manisnya cinta dan tak sia-sialah penantian dan pengorbanannya .. Ho-gae membalikkan tubuh ingin memeluk Ki-ha … namun Ki-ha sudah menghilang, tak ada di manapun, meninggalkan Ho-gae sendirian di tengah tenda … Ho-gae mengambil pedang di atas meja kemudian beranjak keluar tendanya …

Ho-gae memacu kudanya disertai sepasukan prajurit berkuda elit … menyerang beberapa desa Khitan demi menemukan Simbol Baekho … dengan tanpa ampun ia membunuh setiap orang yang ia temui …

Tempat Pandai Besi Ba Son

Ba Son memeriksa para pandai besi yang bekerja di bawahnya, memberikan semangat pada mereka, bahkan memberikan petunjuk pada salah satu pandai besi bagaimana menempa pedang …

Ba Son melihat Dalbee sedang berlari dengan tergesa-gesa, berteriak padanya agar tidak berlari karena ia bisa jatuh dan benar saja tak lama kemudian Dalbee tersandung dan jatuh …tapi ia bangun lagi dan dengan terengah-engah  menarik Ba Son, memberitahu kalau banyak orang datang, Ba Son bertanya orang macam apa? Dalbee dengan napas memburu memberitahu kalau orang-orang itu berasal dari benteng-benteng Baekjae yang telah mereka rebut. Mereka datang kemari. Ba Son bertanya-tanya apakah ini artinya mereka akan berperang lagi? Padahal banyak perbaikan yang belum selesai …

Si pria pendek dari Geo-mool dan si pria kurus, asisten Ba Son, turun dari kereta kuda mereka dan berjalan masuk ke dalam Gwanmiseong …

Beberapa orang Baekjae menemui Huk-gae dan Dalgoo, memprotes rencana Pasukan Goguryeo yang akan mundur dan kembali ke Gooknaeseong. Bukankah mereka telah membukakan pintu gerbang dengan sukarela bagi Pasukan Goguryeo, karena Raja Goguryeo berjanji akan melindungi mereka baik itu dari pasukan Goguryeo sendiri maupun dari Baekjae. Raja telah berjanji akan membagi-bagikan makanan pada mereka, karena itulah mereka bersedia membukakan pintu gerbang dengan sukarela! Tapi sekarang bagaimana nasib mereka? Jika pasukan Baekjae datang, mereka semua pasti mati.

Huk-gae bertanya pada mereka, apa yang mereka ingin ia lakukan? Seorang pria berseru, karena sekarang mereka menjadi rakyat Goguryeo, tidakkah Goguryeo akan mengurus mereka? Tapi mengapa sekarang mereka hanya datang dan pergi saja seenaknya? Semua orang berseru-seru pada Huk-gea untuk mengurus mereka … Huk-gae berteriak menyuruh mereka semua diam, kemudian mendorong anaknya ke depan dan mengatakan kalau anaknya yang akan bertanggungjawab. Huk-gae sendiri segera pergi melarikan diri .. Dalgoo diserbu oleh rakyat yang kesal dan terpaksa melarikan diri menyusul ayahnya  … ahahahahah ….  Rakyat mengejar mereka berdua … heheheh :D

Prajurit-prajurit yang lain melihat kejadian itu dan merasa geli, berkata sungguh kacau …. Mereka kemudian berbicara mengenai Pasukan Baekjae Barat yang seharusnya mengejar Ho-ge sekarang kembali dan akan sampai dalam waktu dua hari. Jumlah mereka sekitar 10 ribu orang, jadi lebih baik mereka berdiam saja di dalam benteng dan tidak bertempur melawan pasukan Baekjae Barat. Kepala Suku Shiwoo bertanya, di manakah pasukan bantuan Goguryeo? Semua orang mengatakan kalau di luar sana ada 40 ribu prajurit! Bahkan hanya dengan jumlah 20 ribu saja mereka dapat mempertahankan benteng-benteng yang telah direbut. Kepala suku Shiwoo sangat kesal, padahal Raja mereka ada di sini, tapi mengapa … alasannya apa sehingga mereka tak mau datang? Ia mengumpat …

Si pria kurus asisten Ba Son sedang makan sementara si pria pendek menemui Hyon-go, Damdeok, Jenderal Kho, dan tetua Geo-mool, memberitahu mereka  kalau si asisten pandai besi itu masih muda dan lemah tapi disiksa dengan brutal. Ia hanya menjawab apa yang mereka tanyakan dan mengatakan kalau Ba Son sesungguhnya adalah anak gadis dari kepala desa pandai besi Heuksoo Malgal.

Tetua Geo-mool terkejut dan mengatakan bukankah Heuksoo Malgal adalah desa di mana sinar Simbol Baekho terlihat di malam Bintang Jyooshin muncul? Si pria pendek melanjutkan, banyak orang mengatakan kalau ayah Ba Son adalah pandai besi yang sangat terkenal. Keluarganya adalah penjaga Simbol Baekho selama beberapa generasi. Dan kakak lelaki Ba Son mengambil Simbol itu kemudian pergi melarikan diri ke arah utara.

Jenderal Kho bertanya-tanya mengapa Ba Son tak memberitahu Damdeok mengenai ini? Bukankah ia bergabung dengan pasukan Damdeok karena ia menyokong Damdeok? Tapi mengapa ia tidak meminta Damdeok untuk pergi ke arah utara, ke Khitan? Bukankah dengan demikian ia bisa mencari kakak lelakinya dan menemukan Simbol Baekho?

Damdeok hanya diam saja, namun ia mengingat pada malam sebelum mereka berangkat berperang ke Gwanmiseong. Ba Son menemuinya dan bertanya apakah Pendeta Tinggi akan mengakuinya secara resmi sebagai Raja Jyooshin jika ia menemukan ke-Empat Simbol Dewa? Damdeok mengiyakan. Ba Son langsung menyerbunya, kalau begitu mengapa ia tidak mencari saja Simbol-simbol itu? Tapi kenapa justru ia menuju ke Gwanmiseong untuk membantu Ho-gae? Ba Son mengakui kalau dirinya sebagai orang yang bodoh, yang hanya tahu bermain-main dengan logam.

Damdeok: Ada sesuatu yang lebih penting.

Ba Son: Apa itu?

Damdeok: (duduk) Para prajurit yang sekarang bersama dengan Ho-gae juga adalah rakyatku.  Dan adalah kewajibanku memastikan mereka agar pulang dengan selamat.

Ba Son: (duduk) Jika … Jika saja aku tak sengaja mengetahui di mana Simbol itu berada, apakah kau masih akan memandang nilai jiwa orang-orang itu lebih berharga daripada Simbol Dewa dan tetap pergi ke Gwanmiseong?

Damdeok: (tersenyum penuh pengertian) Ba Son … Kau telah membuatkan banyak pedang lebih dari sepuluh tahun di Gooknaeseong.

Ba Son: Bukan 10 tapi 17 tahun!

Damdeok: Kalau begitu ada kemungkinan kalau kau mengenal para prajurit dari setiap Suku …

Ba Son: Semua dari mereka mengenalku, dan demikian juga sebaliknya, aku mengenal mereka semua.

Damdeok: Kalau begitu kau mungkin juga mengenal banyak prajurit dari pasukan Ho-gae

Ba Son: Tentu saja ..

Damdeok: Kau pasti juga mengenal orangtua, istri, dan anak mereka.

Ba Son: Tentu saja!

Damdeok: (memandangnya dengan pandangan serius) Para prajurit itu mungkin saja semuanya akan mati.

Ba Son tampak terperangah dan menyadari kenyataan yang sebenarnya …

Damdeok: Kalau begitu aku bertanya padamu …Apa yang akan kau lakukan dalam situasi seperti ini, Ba Son?

Masa kini …

Hyon-go: Lalu apa yang ia katakan?

Damdeok: Ia berkata kalau ia akan pergi ke Gwangmiseong demi menyelamatkan teman-temannya. Dan setelah itu … ia berkata akan memberitahuku sesuatu …

Hyon-go: Jadi alasannya menemuimu malam itu mungkin ingin memberitahumu mengenai ini. Ia mungkin bermaksud akan memberitahumu bahwa kakak lelakinya dan Simbol Dewa ada di wilayah Khitan.

Damdeok menganggukan kepalanya dan tersenyum

Hyon-go kemudian bertanya di mana si asisten itu pada si pria pendek dan menyuruhnya untuk membawa si asisten untuk ia tanyai. Si pria pendek segera bergegas mencari si asisten itu di tempatnya makan, namun tempat itu kosong, ia bertanya pada prajurit yang berjaga namun penjaga itu tidak tahu.

Si pria pendek segera memberitahu Hyon-go dan yang lainnya kalau si asisten menghilang. Damdeok berpikir sesuatu dan menjadi cemas, ia segera bertanya di mana Ba Son, lalu beranjak pergi. Semua orang tak mengerti tapi mereka mengikuti sang Raja.

Si asisten menemui Ba Son, mengatakan kalau ia telah bertemu dengan kakak Ba Son dan sekarang kakaknya ada di benteng ini. Ba Son menjadi gembira tak kepalang dan segera mengikuti si asisten. Dalbee melihat mereka berdua dan menyusul Ba Son. Si asisten mengajak mereka berdua ke sebuah tempat yang sepi, dan sesampainya di tempat sepi, ia meminta maaf lalu bergegas pergi. Ba Son tak merngerti tapi kemudian ia dikepung oleh anggota Hwacheon. Ba Son dan Dalbee berusaha melarikan diri tapi tak bisa berbuat apa-apa karena jumlah mereka terlalu banyak. Ba Son dan Dalbee dimasukkan ke dalam sebuah kereta tandu yang seluruhnya terbuat dari papan. Sebuah benda milik Ba Son terjatuh di tanah.

Damdeok terlambat selangkah, ia mendatangi tempat pandai besi Ba Son dan menemukan kalau tempat itu kosong. Damdeok menyadari kalau ada yang tidak beres dan segera memerintahkan pencarian menyeluruh di seluruh Gwanmiseong.

Damdeok menemukan benda yang dijatuhkan Ba Son, hatinya merasa cemas, menyuruh Jenderal Kho untuk menutup pintu gerbang dan memeriksa setiap kereta yang lewat. Jenderal Kho mengiyakan dan segera mengeluarkan perintahnya.

Para prajurit segera dikirim ke pintu-pintu gerbang dan mengadakan pemeriksaan dengan ketat terhadap setiap orang yang keluar benteng.

Joomochi berlari menemui Damdeok dan mengtakan kalau pemeriksaan mereka sia-sia dan tak menemukan Ba Son. Damdeok mengatakan kalau ia sudah mendengarnya, mereka sudah mencari seluruh karavan tapi tak dapat menemukannya. Joomochi kemudian mengatakan kalau ia akan membawa orang-orang dari Suku Shiwoo untuk melakukan pengejaran dan membawa kembali Ba Son  dan … Kepala Penata Logistik. Damdeok menyuruhnya pergi bersama dengan Jenderal Huk-gae. Huk-gae heran dan tak mengerti. Damdeok mengatakan, karena ini wilayah musuh, mungkin ada di antara mereka pernah berdagang dengan Suku Jeolno. Jadi untuk menghindari pertempuran yang tidak perlu maka Huk-gae juga harus menyertai Joomochi.

Huk-gae mengatakan kalau saja ia melihat Ba Son masuk ke perkemahan Ho-gae maka ia akan membunuh Ba Son sehingga Ho-gae tak dapat menemukan lokasi dari Simbol Baekho … Tapi Damdeok memegang pundak si Jenderal dan mengatakan bukankah Ba Son telah menyelamatkan banyak jiwa para prajurit dengan keahlian pandai besinya? Jadi jangan melukai Ba Son. Huk-gae tertunduk malu dan mengiyakan. Damdeok kemudian memandang pada Joomochi dan menganggukan kepalanya.

Joomochi dan Jenderal Huk-gae beserta beberapa ratus orang segera memacu kudanya untuk keluar gerbang, namun pada saat yang bersamaan banyak pengungsi dari benteng-benteng lain yang masuk ke pintu gerbagn. Jeoomochi dan Jenderal Huk-gae tak bisa keluar melakukan pengejaran, dan setelah beberapa lama saling berdesak-desakan dan saling dorong, Joomochi dan yang lainnya akhirnya terpaksa mundur dan memberikan kesempatan kepada para pengungsi untuk masuk ke dalam Benteng. Perasaan cemas, kesal, amarah, gelisah bercampur aduk di hatinya saat memikirkan keselsamatan Dalbee.

Damdeok sedang di ruang rapat menatap pada peta besar yang tergantung, lalu menggoreskan jarinya di atas gambar benteng-benteng yang berbaris di hadapan benteng Gwanmi.

Damdeok: Pasukan Baekjae hampir tiba di Hogangseong …

Hyon-go: Ketika Ho-gae menarik pasukannya dari Hanseong, Pasukan Baekjae segera mengganti tujuan mereka ke arah kita.

Damdeok: Seberapa besar pasukan mereka?

Hyon-go: Mereka katakan sekitar 20 ribu orang.

Damdeok: Berapa jauh Hogangseong dari tempat ini?

Hyon-go: Kurang dari dua hari jika berkuda. Para prajurit tetap bersiaga dan para penduduk menjadi gelisah.

Terdengar keributan di luar sehingga menarik perhatian mereka, tampak para penduduk sedang bersitegang dengan pasukan Joomochi dan Huk-gae yang berusaha keluar benteng.

Joomochi mendaki bukit di dekat Gwanmiseong, diikuti anakbuahnya yang berkuncir, yang mengatakan sekarang bukan waktunya untuk mengejar para penculik Ba Son mempertimbangkan situasinya saat ini. Pasukan Baekjae berjumlah banyak dan sedang menuju ke Gwanmiseong. Mereka tidak akan meninggalkan benteng, khan? Joomochi menariknya kemudian mendorongnya ke belakang. Hatinya sangat kesal dan penuh dengan amarah dan gelisah.

Pertemuan militer …

Jenderal Kho: Pasukan Baekjae dikabarkan telah mencapai Hogangseoang pagi ini.

Damdeok: Berapa banyak jumlah mereka?

Jenderal Kho: Pasukan pendahulu berjumlah sekitar 5 ribu orang. Jika kau menjumlahkan mereka semua maka akan berjumlah lebih dari 30 ribu orang.

Jenderal A: Jika kita duduk di sini dan tak melakukan apapun, maka Pasukan Baekjae akan terus bertambah. Jika kita mengunci diri kita sendiri di Benteng Gwanmi, maka kita hanya akan dapat bertahan selama sebulan saja.

Huk-gae: (menepuk meja) Omong kosong! Strategi yang bisa kau kemukakan hanya mengubur diri kita sendiri di sini dan bersembunyi?

Jenderal A: Pasukan kita yang tersisa hanya berjumlah sekitar 3 ribu orang, belum lagi ratusan dari mereka masih terluka. Ini adalah hasil karena kau telah melanggar perintah ….

Huk-gae: (berteriak) Hasil … ? Bukankah benteng ini akhirnya menjadi milik kita? Ataukah kau tidak mengakuinya?

Jenderal A: Ini bukan karena dirimu, tapi Yang Mulia yang ….

Damdeok: (menyela) Pasukan Baekjae tidak akan datang kemari … (semua orang terkejut dan melihat ke arahnya) Pasukan Baekjae tidak akan datang ke Gwanmiseong. (Semua orang masih tidak paham maksudnya) Raja Baekjae yang sekarang, Jinsawang, merebut tahta dari keponakannya, Ashin. Pengecualian Hanseong, sebagian wilayah di luarnya mendukung Pangeran Ashin daripada Jinsawang. Jinsawang dan Ashin saling memperebutkan siapa yang berhak duduk di atas takhta sebagai Raja Baekjae. Pasukan kedua belah pihak sama dalam jumlah dan kemampuan. Tambahan beberapa ribu orang akan membuat keseimbangan ini terganggu. (menoleh pada Jenderal Kho) Pasukan siapa yang ada di benteng Hogang?

Jenderal Kho: Milik pangeran Ashin.

Damdeok: (membalikkan tubuhnya dan berkacak pinggang) Kalau begitu dalam kasus ini … Jinsawang tak akan mengirimkan pasukan bantuan.

Jenderal Kho: Tapi bukankah mereka telah kehilangan Gwanmiseong yang sangat berharga?

Damdeok: Kau benar! Tapi ketika seseorang dibutakan oleh keserakahan akan takhta, dia tak akan dapat melihat tanah maupun rakyatnya lagi. Jinsawang berharap kalau Pangeran Ashin akan berperang denganku dan kehilangan beberapa prajuritnya. Maka dengan itu ia dapat tetap berkuasa sebagai Raja. (dengan nada pasti) Jinsawang tak akan mengirimkan pasukan bantuannya. Dan ketika Pasukan Ashin mengetahui kalau pasukan bantuan tak akan datang, maka ia akan menarik pasukannya kembali ke Hanseong.

Jenderal Kho: (masih cemas) Tapi bagaimana kalau Pangeran Ashin mengetahui jumlah pasukan yang kita miliki yang hanya berjumlah beberapa ribu orang saja? Dia mungkin akan memutuskan untuk menyerang Gwanmiseong walaupun hanya dengan pasukan pendahulunya yang berjumlah 5 ribu orang. Ia mungkin berpikir jika ia berhasil mengalahkanmu maka rakyat akan berpihak padanya.

Damdeok: Aku juga telah memilkirkan strategi itu secara menyeluruh, berdasarkan yang telah kau ajarkan padaku.  (Jenderal Kho tampak senang) Mereka masih belum tahu kalau kita hanya memiliki 3 ribu orang. Kita harus membuat mereka berpikir sebaliknya.

———————–

Dalgoo diutus untuk menyebarkan desas-desus pada rakyat sehingga mereka mengabarkannya kembali kepada pasukan Baekjae, bahwa pasukan Raja Goguryeo yang ada di dalam Gwanmiseong berjumlah 10 ribu dan masih ada 20 ribu orang sedang menuju ke Gwanmiseong bahkan mungkin lebih banyak lagi. Begitulah mereka bisa merebut semua benteng-benteng itu termasuk Gwanmiseong. Jika rakyat memberitahukannya seperti ini maka keluarga mereka tak akan dituduh berkhianat. Rakyat sebenarnya sih tak peduli apakah itu Baekjae atau Goguryeo, yang penting bagi mereka adalah mereka dapat menanam dan memanen.

Gwanmiseong

Damdeok: Beritahu rakyat dan prajurit seperti ini: Tidak akan ada lagi peperangan, mereka dapat pulang ke rumah mereka.

Damdeok segera pergi, semua orang tak mengerti maksud dari perkataan Damdeok.

Kelihatannya Damdeok sedang berusaha menenangkan rakyat dan para prajurit sehingga tak perlu ada kekacauan yang berarti, yang nantinya justru berakibat buruk pada pasukan mereka yang tersisa.

Sementara itu …

Para penculik Ba Son sedang mengawal kereta yang mana berisi Ba Son dan juga Dalbee. Ba Son sangat marah dan kesal, sementara Dalbee cemas dan ketakuan.

Gwanmiseong

Para prajurit mengeluh karena Ba Son tidak ada, maka pedang dan tombak mereka menjadi tumpul.

Joomochi sangat kesal dan hatinya penuh amarah, ia gelisah setengah mati sehingga tak tahan lagi dan menemui Raja Damdeok, yang sedang menunduk di meja, menulis sesuatu.

Joomochi: Aku bisa saja langsung pergi, tapi aku merasa kalau aku harus menemuimu sekali lagi. Aku akan pergi menyelamatkan Ba Son. Tadinya aku sudah akan berangkat tapi para pengungsi datang. Aku akan membawa ratusan orang-orangku. (Damdeok mendongak) Aku telah melapor jadi aku sekarang akan berangkat, menganggap dirimu menyetujuinya. (Joomochi melangkah pergi)

Damdeok: Aku masih belum tahu … (Joomochi menghentikan langkahnya, dan menoleh) Aku tidak tahu apakah Pasukan Baekjae akan mundur atau mencoba untuk merebut kembali Gwanmiseong.

Joomochi: (berjalan menghampiri) Sampai barusan ini kau masih sungguh percaya diri.

Damdeok: Karena aku adalah seorang raja.

Joomochi: (menelengkan kepalanya) Huh?

Damdeok: (bangkit berdiri) Aku tidak punya kemampuan untuk bertempur sendirian seperti yang sebelumnya dimiliki oleh Penguasa Benteng Gwanmi. Tapi kau tahu …  Aku masih seorang Raja …. Sebagai seorang Raja aku tak dapat memberitahu bawahanku kalau kita sepertinya akan kalah.

Joomochi: (berusaha memberikan semangat) Tapi kau masih belum tahu kalau kita akan kalah atau menang, jadi …

Damdeok: (menyela) Aku telah mengirim kembali pasukan Baekjae yang ada di benteng Gwanmiseong.

Joomochi: (tertegun) Huh?

Damdeok: Mereka adalah prajurit Baekjae sampai tadi pagi. Mereka tak mungkin dapat bergabung dengan pasukan kita dan memerangi saudara-saudara mereka. Aku menyuruh mereka untuk pergi ke 10 benteng yang telah kita rebut dan melindungi rakyat disana.

Joomochi: Jadi kau membiarkan mereka pergi dengan membawa senjata dan perlengkapan terbaik? (berteriak) Kau baru saja menambah jumlah pasukan musuh!

Damdeok: Keluarga, jenderal, dan penguasa benteng mereka akan tetap tinggal di sini.

Joomochi: Sebagai sandera?

Damdeok: (mendongak) Sulit ya menjadi seorang Raja? Dia harus menipu dan juga menggunakan ancaman terselubung. Dia harus menjadi orang yang ahli dalam hal-hal seperti itu … (tertawa kering, menoleh pada Joomochi) Lalu ia akan membuat suatu permintaan pada seorang teman seperti dirimu, untuk tetap bersamanya. Dan jika ia mati, untuk mati bersama.

Joomochi duduk di undak-undak …

Joomochi: Lebih sulit untuk hidup bersama daripada mati bersama. (Damdeok duduk di dekatnya) Lalu, apakah kau sudah mendengar kabar darinya?

Damdeok: Siapa?

Joomochi: Aku seharusnya bertarung dengan si penguasa benteng itu dengan baik.

Damdeok tersenyum geli mendengarnya.

Sementara itu …

Ga Guen sedang membawakan makanan dan minuman bagi Cheo-ro tapi menemukan pembaringannya sudah kosong.

Di hutan di luar Gwanmiseong

Soojinee berjalan di tengah hutan dan merasakan seseorang sedang mengikutinya. Ia menggaruk kepalanya …

Soojinee: Aku mengerti! Aku mengerti sekarang! (berbalik dan berseru) Hei … apakah kau mendapatkan perintah dari Kau-Tahu-Siapa, khan? Ia memberitahumu untuk mengikutiku kemana saja dan mengawasi diriku, benar khan? (celingukan mencari penguntitnya) Benar? …. Aku berencana untuk mandi di sungaisana, jika kau ingin mengintip, intip saja sepuasmu, tak perlu bersembunyi. Tapi kau akan kecewa nantinya karena tak ada yang bisa dilihat, benar khan? Pastikan kalau tak ada seorangpun yang mengambil pakaianku!

Di sebuah sungai dengan air terjun kecil, Soojinee duduk di atas batu di tengah sungai sambil minum-minum.  Soojinee berbicara sendiri mengenai kejadian di benteng Gwanmiseong sebelumnya. Bagaimana Raja sendiri datang untuk menyelamatkan dirinya … sungguh tidak masuk akal! Dan jika ia mengucapkan terima kasih pada Raja, maka ia akan menyangkalnya. Dalam pada itu, Cheo-ro hanya mengawasi Soojinee dari kejauhan. Soojinee berdiri dan menirukan gaya Damdeok, berkata, “Ooi … Ooi … Apa kau sudah gila? Mengapa aku harus kesana untuk menyelamatkanmu? Aku datang kesana untuk menaklukkan Gwanmiseong dan bertarung dengan Penguasa Benteng.” Soojinee kemudian menggaruk kepalanya dan duduk, bergumam ia pasti sudah jadi sinting, sementara Ba Son dan Dalbee diculik, tapi ia selalu memikirkan kejadian itu lagi dan lagi …

Soojinee lalu bangun dan berkata kalau ia harus pergi menemui Raja, karena Raja sekarang pasti masih bangun dan nanti akan memintanya untuk membantu mengenakan pakaian perang. Tugas itu tidak mudah tahu … Sulit untuk mengangkat baju perang itu  kemudian masih harus mengikatnya sedemikian rupa, lalu … Benar-benar tidak mudah … Dan tidak setiap orang bisa melakukannya …

Malam yang panjang bagi Damdeok dan yang lainnya dimulai …

Jenderal Kho berjaga bersama para prajurit lainnya dan mengawasi patroli berkuda di dalam benteng lalu melihat ke arah luar … menantikan sesuatu …

Kepala Suku Shiwoo bergabung dengan rekan-rekannya berjaga di bagian benteng yang lain, mengawasi ke luar benteng …

Para anggota Desa Geo-mool termasuk Hyon-go sedang berjaga … Hyon-go sedang mengadakan ritual yang aneh, disaksikan oleh si pria pendek …  Tetua Geo-mool datang menghampiri Hyon-go dan bertanya apa yang sedang ia lakukan, Hyon-go bertanya bukankah mereka dari Desa Geo-mool adalah penjaga Hyunmoo [Woon Sa, si Naga Biru] yang merupakan Pelindung Hujan? Jadi ia melakukan ritual ini agar hujan turun dan menghanyutkan 10 ribu musuh mereka. Tetua Geo-mool hanya bisa menggelengkan kepala dalam hatinya melihat tingkah si kepala desanya .. ahahahah … Tetua Desa Geo-mool memberitahu Hyon-go kalau masih belum ada kabar apakah Pasukan Baekjae akan menyerang mereka atau tidak, lalu si tetua pergi. Hyon-go melanjutkan ritualnya … si pria pendek tak tahan lagi kantuknya dan tertidur, Hyon-go sangat kesal melihatnya … ahahaha …

Pagi harinya …

Burumsae terbang di atas Gwanmiseong, anggota Geo-mool segera bergegas pergi, sementara itu Jenderal A memandang ke bawah benteng dan melihat Dalgoo kembali, Huk-gae menyela di antara Jenderal A dan seorang anakbuahnya. Mereka melihat Dalgoo memacu kudanya dengan tangan kanannya mengacung ke atas sambil tertawa gembira.

Huk-gae menyertai anaknya menemui Damdeok untuk memberitahukan kalau Pasukan Baekjae Barat telah mundur.

Dalgoo: (sangat gembira) Mereka bergerak ke arah selatan. Mereka akan menyeberangi laut untuk kembali ke wilayah Baekjae Barat.  Aku melihat mereka naik ke atas kapal dengan mata kepalaku sendiri … (teetawa senang)

Damdeok tampak sangat lega … dan juga senang …

Huk-gae: (bersemangat) Tidakkah kau dengar itu Yang Mulia? Pasukan Baekjae telah mundur! Gwanmiseong benar-benar menjadi milik kita.  Ini milik kita! (tertawa keras)

Terdengar seruan bergema kalau Pasukan Baekjae telah mundur, semua orang segera berseru dan bersorak gembira saat mendengar kabar itu. Damdeok jelas sangat lega dan gembira … ia menatap ke arah para prajurit yang meluapkan kegembiraan mereka dengan melambaikan bendera …. Lalu ia melihat Ga Guen, Hyon-go dan tetua Geo-mool, lalu yang terakhir Soojinee yang tersenyum manis padanya.

Sementara itu di markas rahasia Hwacheon, Gooknaeseong.

Ki-ha menemui Dae Jangro, yang mengatakan kalau ia meminta Ki-ha datang karena ia tak bisa melakukannya di tempat Ki-ha sekarang berada, yakni Shindang. Ki-ha memberitahunya kalau ia telah menggunakan Kehendak Langit untuk menyingkirkan Menteri Yiship dari Dewan Istana karena ia dari Suku Jeolno. Dae Jangro memujinya. Tapi Ki-ha belum selesai, ia mengatakan kalau Young Chi-sun dari Geryu sekarang ada di penjara bawah tanah Kuiil Shindang karena ditemukan kalau ia menggunakan tanah milik Kuil demi kepentingan pribadinya. Dia pasti terlalu yakin dengan dukungan dari Yeon Garyeo. Dae Jangro tidak senang mendengar ini. Bukankah ia sudah memberitahu Ki-ha untuk tidak memburu lagi masalah itu. Ki-ha berpura-pura tidak tahu.

Ki-ha kemudian memberitahu Dae Jangro kalau lain kali ia tak akan semudah ini dipanggil untuk datang, lebih baik mereka berkomunikasi melalui surat saja.. Dae Jangro bertanya, apa itu artinya kalau Ki-ha tak akan mendengarkan perintah darinya lagi? Ki-ha mengatakan, “Jika itu sama dengan keinginanku, maka aku akan menerimanya!”

Dae Jangro: Damdeok telah mendapatkan Simbol Chung Ryong. Dia juga sudah menguasai  Gwanmiseong. (Ki-ha tampak terkejut, ia baru mendengar hal ini) Pastikan kalau pendukung Ho-gae lah satu-satunya yang berkuasa di Gooknaeseong! Tak peduli apapun yang terjadi, kita harus membuat Ho-gae menjadi Raja! Dan itulah keinginanku! (tersenyum kemenangan) Tidakkah itu sama dengan keinginanmu, Ki-ha nim?

Ki-ha memandang Dae Jangro dengan pandangan tajam dan perasaan geram …

———————

Gwanmiseong

Hyon-go memberikan perintah pada para anggota Geo-mool lainnya, menyuruh mereka bersiap-siap, satu kelompok mempersiapkan rute ke Khitan untuk Raja dan pengawal kerajaan, satu kelompok membantu Joomochi dan sukunya untuk ke utara menunggu di perbatasan Jeolno. Dan kelompok ketiga akan membantu Suku Jeolno, yang akan dibagi dua, satu akan menjaga benteng-benteng yang telah direbut dari Baekjae, dan yang lain kana menyusuri sungai Yoha … tiba-tiba tetua Geol-moo datang dan memberitahu Hyon-go kalau Raja tak akan pergi ke Khitan. Hyon-go terkejut. Raja akan kembali ke Gooknaeseong.

Damdeok, ditemani Soojinee, ingin menemui Cheoro tapi yang ada hanya Ga Guen. Damdeok kemudian menitipkan pesan kalau ia ingin sekali Cheoro bisa ikut dengannya dan akan menunggunya. Saat ia hendak keluar, Damdeok berbalik lagi dan mengatakan kalau Cheoro tak akan dilukai bahkan dapat mencari dirinya kapanpun ia mau. Damdeok kemudian melirik ke satu tempat di kamar itu dengan maksud tertentu lalu keluar dari ruangan.

Soojinee masih tinggal sebentar, ia bertanya pada Ga Guen apakah Cheoro tidak dapat bertarung lagi setelah ia tidak memiliki Simbol di dadanya? Soojinee kemudian mengambil tombak Cheoro, mengatakan, bukankah ia sangat hebat ketika ia masih memiliki Simbol Dewa di dadanya? Ga Guen menjawab kalau dulu bahkan sebelum ia ditusuk oleh Simbol Dewa, Cheoro adalah seorang yang sangat hebat dalam ilmu tombak. Ga Guen yakin walaupun tanpa Simbol Dewa, ilmu tombak yang dimiliki Cheoro masih hebat, walaupun nantinya ia tak akan bertempur seperti iblis lagi. Soojinee mengembalikan tombak itu ke tempatnya dan memberi pesan kalau ia akan menunggu Cheoro, menirukan gaya Damdeok ^^  .. hehehe … Soojinee emang jahil … Lalu pergi tapi sebelum keluar, ia juga berbalik lagi dan mengatakan kalau ia dan Cheoro harus bertanding untuk menentukan mana yang lebih hebat, busurnya atau tombak Cheoro. Soojinee melihat ke sekeliling kemudian menghampiri Ga Guen dan berbisik, “Yang kalah harus mentraktir anggur! Kami akan minum-minum sampai anggur keluar dari hidung kami!” Soojinee tersenyum geli kemudian ia pergi keluar ruangan.

Ga Guen kemudian menoleh ke tempat Damdeok tadi menatap, mengatakan kalau Raja akan segera berangkat menuju ke Gooknaeseong. Cheoro muncul dari belakang rak dan mengatakan kalau ia juga akan pergi ke Gooknaeseong.

Ga Guen bertanya apakah Cheoro sudah memutuskan untuk melayani Raja Damdeok?

Chero: (membalut tombaknya) Aku akan mengawasinya. Aku ingin melihat apakah ia benar-benar Raja Jyooshin, Raja yang harus aku layani.

Hyon-go mendatangi Damdeok, yang sedang bersama dengan si pria pendek,  dan bertanya mengapa Damdeok tak mau pergi ke Khitan untuk mengambil Simbol Baekho, tapi justru kembali ke Gooknaeseong? Damdeok bertanya mengapa Hyon-go tidak memberitahu dirinya kalau Ki-ha menjadi Pendeta Tinggi Cheonji Shindang. Hyon-go terdiam. Damdeok mengatakan orang yang melanggar kehendak Langit dan mengirimkan Ho-gae ke utara, orang yang menyingkirkan semua pendukung Raja sebelumnya dan menggantikannya dengan kroni-kroni Yeon, bukankah dia adalah Pendeta Tinggi? Hyon-go tampak gugup dan berusaha membela diri, mengatakan kalau ia bermaksud untuk memberitahu Damdeok nanti …

Damdeok: Apakah kau berniat untuk membohongiku?

Hyon-go: (tertawa gugup) Aku .. aku tidak bermaksud demikian …

Damdeok: (tegas) Aku akan kembali ke Gooknaeseong! (Damdeok beranjak pergi)

Hyon-go: Apakah kau kembali disebabkan wanita itu? (Damdeok berhenti) Apakah kau tidak mau mencari Simbol Baekho dikarenakan wanita itu?

Damdeok menoleh, dan teringat …

Pendeta Tinggi: Apakah kau melihat garis tanganku?  Digariskan di sini kalau aku akan berumur panjang. Tapi aku mengatakan ini kepadamu, Yang Mulia. Jika ada perubahan pada posisi Pendeta Tinggi sebelum tahun ini berakhir, berhati-hatilah terhadap Pendeta Tinggi yang baru! Wanita itu … ia akan menjadi musuh besarmu.

Damdeok membalikkan tubuhnya, menimang-nimang Simbol Chung Ryong di tangannya kemudian melemparkannya pada Hyon-go.

Damdeok: Kita telah mendapatkan satu Simbol Dewa lagi, jadi ambil itu dan lakukan penelitian terhadapnya! Cari tahu apa kegunaannya!

Damdeok segera bergegas pergi meninggalkan Hyon-go dan si pria pendek … Hyon-go menatap punggung Damdeok sampai ia menghilang dari pandangannya …

Raja Damdeok, Soojinee, Huk-ge dan Dalgoo, Jenderal Kho, dan Joomochi memacu kuda mereka melewati wilayah Baekjae kembali ke Gooknaeseong.

Gooknaeseong

Dua kurir pembawa pesan menyampaikan kedatangan Raja.

Chojodo berlari tergesa-gesa ke kediaman Yeon dan berseru kalau Raja akan kembali dalam waktu tiga hari lagi. Dae Jangro sedang duduk di sana dengan sikap tenang. Chojodo mengatakan kalau Raja sudah sampai di Jadaeseong.  Yeon Garyeo heran mengapa pasukan Raja bisa begitu cepatnya bergerak. Dae Jangro menjawab kalau pasukan Raja terdiri dari Pasukan Gaema Jyooshin. Mereka dapat berkuda ribuan li dalam sehari dan melewati tembok benteng di atas kuda mereka. Chojodo dengan gugup menyatakan kalau bukan itu saja … Garyeo bertanya apa lagi? Chojodo memberitahu kaalu Raja telah mendapatkan Simbol Chung Ryong. Penguasa Gwanmi ternyata adalah pelindung Simbol itu. Yeon Garyoe dan Dae Jangro menjadi terkejut, tapi Dae Jangro menyembunyikannya dengan baik lalu mengatakan kalau semua itu adalah rumor palsu.

Yeon Garyeo bangun dari duduknya sambil menepuk-nepuk meja, kemudian berjalan menghampiri Dae Jangro ..

Yeon Garyeo: Bagaimana bisa kau begitu yakin? Bukankah kau pernah mengatakan kalau Raja akan tewas saat di Gwanmiseong? Saat itu kau juga berbicara dengan penuh keyakinan.

Dae Jangro: Hwacheon memiliki mata-matanya sendiri di dalam Gwammiseong. Mereka telah melaporkan kalau sama sekali tak ada pertanda kalau Simbol Chung Ryong bangkit.

Chojodo: Oh .. bukti? Apakah kau maksudkan seperti cahaya menyilaukan yang terjadi di Daejaseong?  (Yeon menoleh ke arahnya, Chojodo segera menutup mulutnya dengan tangan)

Dae Jangro: (bangun berdiri) Simbol Dewa tak akan bangkit jika syaratnya tak terpenuhi. Sebuah Simbol yang tak bangkit sama seperti  sebuah batu. Syarat pertama, Raja, Simbol Dewa, dan Pelundung Simbol harus ada dalam satu tempat berdekatan. Tapi tidak cukup berdekatan saja .. Yang Mulia Hwan Woong telah menciptakan Simbol-simbol itu sebagai kunci dari sesuatu. Dan agar Simbol-simbol itu dapat bangkit, itu membutuhkan emosi dari Raja Jyooshin:

Untuk Joojak, maka diperlukan “hasrat membara” Dikatakan bahwa meluapnya perasaan dari Jyooshin Wang yang akan membangkitkan Simbol Joojak.

Untuk Hyunmoo, diperlukan “kemarahan mendalam”. Simbol Hyunmoo akan bangkit ketika Jyooshin Wang hatinya meluap dengan amarah..

Simbol Chungryong menantikan “belas kasihan yang dingin”  dan Baekho menantikan “keberanian murni”. Itulah yang tertulis di buku catatan kuno.

Yeon Garyeo: Itu adalah sesuatu yang tidak diketahui oleh orang-orang di tanah ini. Tapi saat ini, Yang Mulia telah menemukan Simbol Chung Ryong bahkan berhasil menguasai Gwanmiseong. Lihatlah saat ia nanti tiba di Gooknaeseong. Kau pikir kalau kau maupun diriku akan aman?

Dae Jangro: (tersenyum sadis) Bukankah itu alasannya mengapa Pendeta Tinggi mengucapkan kata-kata semacam itu? Dia telah memberitahu pada kita untuk tidak membiarkan Raja menginjakkan kaki di Gooknaeseong.

Yeon Garyeo dan Dae Jangro saling berpandangan, Wajah Yeon Garyeo menunjukkan ia sedang memikirkan sesuatu …

Sementara itu …

Sa Ryang dan Ki-ha sedang berjalan di dalam Istana …

Sa Ryang: Reaksi Dewan Istana tak begitu baik …

Ki-ha: Karena itulah aku telah memberitahumu untuk menggantikan merkan dengan para pendukung nya Yeon.

Sa Ryang: Tapi bukan hanya para politisi, bahkan kepala-kepala suku juga .. Mereka tidak akan menyetujuinya …

Ki-ha berhenti di depan pintu aula Istana … mendengarkan perdebatan yang berlangsung di dalam ..

Kepala Suku Gwanno: Apa yang kau katakan? Bagaimana bisa kita melarang seorang Raja memasuki wilayahynya?

Chojodo: Kepala Suku Gwanno, kapan kita melarangnya untuk memasuki Istana? Kita hanya memintanya untuk datang di waktu yang tepat ..

Kepala Suku 2: Tuan Yeon, apakah ini kehendakmu?

Ki-ha: (masuk ruangan) Ini adalah kehendak Langit! (semua orang menoleh dan melihat Ki-ha sedang memasuki ruangan) … Aku telah menerima kehendak dari Langit mengenai masa depan dari negeri ini. Aku datang kemari untuk menyampaikan pesannya. (menatap pada Yeon) Ijinkan aku bergabung dengan kalian.

Yeon Garyeo: Sebagai Perdana Menteri aku memberikan ijin padamu.

Semua orang segera berdiri menandakan penghormatan mereka.

Ki-ha: Raja telah menguasai 10 benteng Baekjae dengan jumlah pasukan kecil hanya dalam waktu 20 hari. (Dae Jangro mengintip dari balik tiang) Dan pada hari keduapuluh, ia juga berhasil menguasai jantung Baekjae, Gwanmiseong. Itu benar-benar keajaiban yang dikirim oleh Langit. Namun .. Langit merasa sangat tidak tenang … (Ki-ha melihat kehadiran Dae Jangro) … Pasukan Raja telah menumpahkan darah terlalu banyak dalam waktu yang sangat singkat. (Semua orang berkasak-kusuk mendengar ini)

Pertama, mereka harus memurnikan diri mereka dari darah yang tertumpah.

Kepala Suku Gwanno: Kalau begitu apa usulanmu Pendeta Tinggi? Apakah kau mengusukan kalau Raja tidak diijinkan untuk kembali ke Istana? Apa kau mengusulkan omong kosong ini?

Ki-ha: Yang Mulia boleh masuk, tapi pasukannya beserta semua senjata mereka harus di  luar Gooknaeseong. Dia harus datang sendirian ke Kuil Cheonji Shindang. Hanya setelah ia dimurnikan, maka ia diperbolehkan membawa masuk pasukannya ke Gooknaeseong.

Semua orang tampak ragu-ragu tapi alasan yang dikemukakan oleh Pendeta Tinggi memang masuk di akal sehingga mau-tak mau mereka memikirkannya kembali.

Ki-ha tahu kalau perkataannya telah merasuk dan diterima, ia segera keluar ruangan meninggalkan ruangan itu dalam perdebatan.  Yeon Garyeo dan Dae Jangro saling berpandangan … saling mengerti satu sama lain.

————————

Gam Dong yang mengikuti pertemuan itu segera keluar dari Istana, sayangnya Sa Ryang sudah mengawasinya.

Gam Dong menemui seorang kurir dan menyuruhnya untuk segera pergi dengan kuda tercepat, tapi sebelum kurir itu sempat naik kudanya, ia telah dibunuh oleh Hwacheon. Gam Dong terkepung dan tak berdaya …

Dae Jangro menemui Yeon Garyeo yang kelihatan cukup marah …

Yeon Garyeo: Apa … apa yang kau minta aku untuk menyetujuinya?

Dae Jangro: Beberapa prajurit dari Wei Utara akan memasuki Goguryoe. Aku hanyalah memintamu untuk mengirimkansuratpersetujuan ke benteng-benteng yang akan dilewati mereka untuk mengijinkan mereka lewat.

*Wei Utara adalah Kerajaan pertama dari Dinasti Utara Tiongkok

Yeon Garyeo: (mengangguk-anggukkan kepalanya) Jadi Pasukan Wei Utara akan melalui tanah kami dan memasuki Gooknaeseong … dan kau menginginkan keluarga Yeon untuk membantu mereka?

Dae Jangro: Aku beritahukan sebuah kebenaran padamu, mereka sebenarnya bukanlah pasukan Wei Utara, tapi pasukan Hwacheon … Tuan Yeon, apakah kau masih berpikir kalau Hwacheon hanyalah sebuah klan pedagang belaka … ?

Yeon Garyeo: Kalau begitu … apakah kau adalah mata-mata dari Wei Utara?

Dae Jangro: Wei Utara adalah satu dari banyak negara yang menyokong Hwacheon. Sementara keturunan dari Jyooshin mendirikan kerajaan Goguryeo di atas tanah Buyeo, banyak negara yang lahir dan hancur di wilayah tetangganya. Apakah kau akan lebih memahaminya jika aku memberitahumu kalau Hwacheon lah yang bekerja di balik semua itu? Negara yang menjadi terlalu kuat akan dihancurkan dan dibagi-bagi menjadi negara-negara yang lebih kecil. Kami memastikan kalau setiap negara sama dalam ukuran dan kekuatannya. Itu adalah tanggungjawab yang sangat melelahkan bagi kami. Dan sekarang Ho-gae akan diberikan semua tanah-tanah ini. Karena itulah, kau tidak bisa membatasi dirimu dengan masalah remeh seperti batas negara.

Yeon Garyeo: Dan … apa rencanamu dengan Pasukan Wei Utara?

Ki-ha: (masuk ruangan) Jika Raja datang sendirian ke Kuil, maka pasukannya akan ditinggal di luar. Meskipun mereka hanya beberapa ribu, tapi mereka adalah pasukan yang telah memenangkan banyak pertempuran dalam perang. Kita tak bisa membiarkan mereka tetap hidup.

Dae Jangro: 15 ribu prajurit sedang menuju kemari. Mereka sudah di belakang Damdeok mengikuti jejaknya.

Ki-ha: (menatap tajam) Aku mengusulkan padamu untuk mengambil alih kendali atas Gooknaeseong dan Goguryeo lalu … menunggu Ho-gae, Raja kita yang akan membawa dengannya Simbol Baekho.

Wilayah Khitan

Ho-gae memimpin pasukan elitenya untuk memburu Simbol Baekho, kali ini ia mengincar sebuah desa di wilayah Gunung Bu Khitan.

Pasukan Ho-ge menyerbu dan membantai semua orang tanpa ampun, tak peduli laki-laki atau perempuan, tua maupun muda, hanya beberapa orang pandai besi saja yang selamat tapi menjadi tawanan. Semua persediaan dan perlengkapan dirampas oleh pasukan Ho-gae.

Perkemahan Pasukan Ho-gae di Khitan.

Kereta yang  membawa Ba Son dan Dalbee sudah tiba. Keduanya segera diseret keluar dari kereta dan dihadapkan pada Ho-gae.

Ho-gae: Mereka katakan kalau kau berasal dari keluarga yang menjaga Simbol Baekho. (Ba Son berpura-pura tak mendengar) Hei .. kau … aku bertanya padamu!

Ba Son: (gugup) Aku … aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. (Prajurit di belakang Ba Son segera mendorongnya hingga terjatuh) Aduh .. aduh …Bukannya ini adalah pasukan Goguryeo? Bukankah kau adalah Komandan Ho-gae? Aku adalah Ba Son, pandai besi yang setia pada Goguryeo. Mengapa kau memperlakukan aku dengan cara seperti ini, tuan?

Ho-gae memberi tanda pada Ilsuh, yang langsung mengangkat tangannya dan beberapa orang diseret ke hadapan Ba Son dan Ho-gae. Ba Son tak memahami maksud Ho-gae.

Ho-gae: Apakah kau mengenali seorang di antara orang-orang ini?

Ba Son: Aku akan memberitahumu semua yang aku tahu. Jadi kumohon agar kau memberiku pertanyaan yang bisa kujawab ..

Ho-gae memberi tanda, dan Ilsuh menjadi algojonya, membunuh seorang pria tawanan. Ba Son terkejut dan Dalbee ketakutan ….

Ho-gae: (pandangan dingin) Mereka katakan kalau saudara lelakimu ada di daerah ini. Karena kau berasal dari keluarga pandai besi maka aku menduga kalau ia juga seorang pandai besi. Jadi aku telah menangkap semua pandai besi di wilayah ini. (menghampiri para tawanan) Jadi apakah ada yang kau kenal dari mereka?

Ba Son memandang mereka tapi tak ada saudaranya disana…

Ho-gae: Berikutnya …

Seorang tawanan kembali dibunuh … Dalbee berteriak ngeri … Ba Son hanya bisa terperangah, tak tahu apa yang harus dilakukannya …

Ho-gae: Berikutnya … (Ilsuh mendekati seorang tawanan) Apakah ia juga bukan saudara lelakimu? (Ba Son tak tahu harus menjawab apa) Berikutnya …

Dalbee: (menjerit) Tuan Ho-gae! Mengapa kau melakukan ini, Tuan Ho-gae! (Ilsuh mengurungkan niatnya membunuh) Tidakkah kau mengenaliku? Aku dulu pernah melayanimu, Tuan Ho-gae! Aku Dalbee! (Ho-gae menoleh) Kau dulu tidak seperti ini. Mengapa kau berubah begitu banyak? (menangis memohon) Kumohon agar kau jangan melakukan ini, Tuan Ho-gae!

Ba Son: Tidak … Tidak ada di sini, tak seorangpun di sini yang adalah kakakku.

Ho-gae: Lalu dia ada di mana?

Ba Son: Aku tidak … (Ho-gae menghunuskan pedangnya) Aku tahu! Aku tahu di mana dia! Aku pernah mendengar di mana ia pernah tinggal.

Ho-gae menyarungkan pedangnya dan menoleh pada Ba Son memberinya pandangan tajam: jangan pernah berani membohongiku …

Ho-gae berjalan bersama dengan Ilsuh …

Ilsuh: Jika kita berkuda terus maka kita akan mencapainya dalam waktu dua hari. Perlukah aku menggerakkan seluruh pasukan atau kau ingin memilih beberapa orang saja? … (Ho-gae diam) … Komandan ..!

Ho-gae: Dalbee … Namanya Dalbee …

Ilsuh: Ye ?

Ho-gae: Ketika aku masih kecil, ia yang mengurus makanan dan pakaianku. Dia benar … Mengapa … Mengapa aku berubah menjadi seperti ini?

Ilsuh: Aku akan memerintahkan mereka untuk memperlakukannya dengan baik sehingga ia merasa nyaman. Aku sendiri yang akan memastikannya.

Ho-gae: (berjalan pergi) Ia katakan kalau itu adalah desa terpencil di gunung, jadi beberapa orang saja cukup. Kita akan segera berangkat begitu hari terang.

Gooknaeseong, Kediaman Yeon.

Semua Anggota Dewan Istana diundang ke kediaman Yeon untuk mengadakan pertemuan.

Yeon Garyeo mendatangi ruangan di mana para anggota Dewan Istana sedang menunggu.

Kepala Suku Gwanno: (berdiri) Dewan Istana telah mendiskusikan ini bersama-sama .. tapi kami masih belum mendapatkan kesimpulan yang sesuai.

Yeon Garyeo: Kalau begitu aku akan bertanya pada kalian lagi, Raja yang telah pergi bukanlah Raja yang sama lagi saat ia kembali. Dia akan membawa Pasukan Gaema Jyooshin yang telah menanamkan rasa takut di hati pasukan Baekjae. Sebaliknya, kita tak memiliki pasukan untuk mempertahankan diri karena semua prajurit kita telah dibawa oleh Ho-gae.

Chojodo: Kalau begitu apa yang akan terjadi pada kita?

Yeon Garyeo: Ketika Yang Mulia memanggil Ho-gae untuk menyerang Gwanmiseong, kita telah mengabaikan perintahnya. Sebaliknya, kita justru mengirimnya ke Khitan.

Kepala Suku Gwanno: (berseru) Itu adalah hasil perbuatanmu dan Pendeta Tinggi!

Yeon Garyeo: Ketika semua anak-anak kalian tewas … Kalian ketiga kepala suku … bukankah kalian telah mengangkat pedang kalian terhadap Raja yang sekarang, apakah kalian melupakannya?

Kepala Suku 3: Bagaimana kita bisa menghentikannya? Ia memiliki Pasukan Gaema Jyooshin! Bagaimana kita bisa menghentikannya?

Yeon Garyeo: Pertama, tempatkan rakyat Gooknaeseong, baik pria maupun wanita, sebagai perisai di atas benteng.

Kepala Suku Gwanno dan yang lain segera bangkit berdiri dan marah mendengar usulan itu.

Kepala Suku Gwanno: Bagaimana kau bisa membuat usulan seperti itu!

Yeon Garyeo: Kedua, gunakan Pasukan Wei Utara dan menyerang Pasukan  Raja dari belakang.

Kepala Suku Gwanno: (berteriak)Tuan Yeon!

Yeon Garyeo: Kenapa? Kau tidak menyetujuinya? Pasukan Wei Utara sudah ada di dekat perbatasan kita. Jika kita mengirimkan pesan pada benteng-benteng untuk membiarkan mereka lewat …

Kepala Suku Gwanno: (menyela) Kau menjual seluruh negeaa kita demi kepentingan pribadimu? (Ia menghunuskan pedangnya tapi pengawal keluarga Yeon segera masuk dan melindungi Yeon)

Kepala Suku 2: (mengarahkan telunjuknya pada Yeon) Ini adalah negara besar Gogouryeo! Tuan Yeon, apakah kau sudah menjadi gila?

Kepala Suku Gwanno: Hari ini, aku akan membunuhmu, pengkhianat … !

Kepala Suku Gwanno menggerakkan pedangnya mengancam leher Yeon Garyeo, tapi semua pengawal segera mengarahkan senjata mereka pada Kepala Suku Gwanno.

Yeon Garyeo: (sikap tenang) Apakah kalian semua setuju dengan pendapatnya? (Semua orang memandangnya dengan penuh amarah) Baiklah .. aku sendiri juga rakyat Goguryeo. Tanpa Goguryeo maka tak ada artinya Jyooshin. (Yeon Garyeo mengalihkan pedang itu dari lehernya)

Sementara itu …

Pasukan Raja Goguryeo berderap maju melewati jalan menuju ke Gooknaseong dipimpin oleh Raja mereka, Damdeok ….

About these ads

12 comments on “The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 16

  1. saran aja nih…….klo bisa slesaikan sinopsis 1 drama dulu baru lanjut drama yg lainnya……soale bikin penasaran sih klo sinopsisnya jadinya cuma setengah……

    tp tetap semangat ya

  2. hwAAAAAAAAAA! aku gak bisa nontoooon.. TiPi sama receiver nya rusak kesamber petir.. :’( udah pake TiPi sama receiver cadangan sih.. tapi gak ada saluran LBS nya, #curhat

    gak nonton Seodong lagi. . :’(

    SEMANGAT KETIK SINOPSIS, OPPA, *JIAy! :D

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s