The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 17

Pasukan Raja Goguryeo berderap maju melewati jalan menuju ke Gooknaseong dipimpin oleh Raja mereka, Damdeok ….

Kediaman Yeon

Yeon Garyeo: Kalau begitu aku akan bertanya pada kalian lagi, Raja yang telah pergi bukanlah Raja yang sama lagi saat ia kembali. Dia akan membawa Pasukan Gaema Jyooshin yang telah menanamkan rasa takut di hati pasukan Baekjae. Sebaliknya, kita tak memiliki pasukan untuk mempertahankan diri karena semua prajurit kita telah dibawa oleh Ho-gae.

Chojodo: Kalau begitu apa yang akan terjadi pada kita?

Yeon Garyeo: Ketika Yang Mulia memanggil Ho-gae untuk menyerang Gwanmiseong, kita telah mengabaikan perintahnya. Sebaliknya, kita justru mengirimnya ke Khitan.

Kepala Suku Gwanno: (berseru) Itu adalah hasil perbuatanmu dan Pendeta Tinggi!

Yeon Garyeo: Ketika semua anak-anak kalian tewas … Kalian ketiga kepala suku … bukankah kalian telah mengangkat pedang kalian terhadap Raja yang sekarang, apakah kalian melupakannya?

Kepala Suku 3: Bagaimana kita bisa menghentikannya? Ia memiliki Pasukan Gaema Jyooshin! Bagaimana kita bisa menghentikannya?

Yeon Garyeo: Pertama, tempatkan rakyat Gooknaeseong, baik pria maupun wanita, sebagai perisai di atas benteng.

Kepala Suku Gwanno dan yang lain segera bangkit berdiri dan marah mendengar usulan itu.

Kepala Suku Gwanno: Bagaimana kau bisa membuat usulan seperti itu!

Yeon Garyeo: Kedua, gunakan Pasukan Wei Utara dan menyerang Pasukan  Raja dari belakang.

Kepala Suku Gwanno: (berteriak)Tuan Yeon!

Yeon Garyeo: Kenapa? Kau tidak menyetujuinya? Pasukan Wei Utara sudah ada di dekat perbatasan kita. Jika kita mengirimkan pesan pada benteng-benteng untuk membiarkan mereka lewat …

Kepala Suku Gwanno: (menyela) Kau menjual seluruh negeaa kita demi kepentingan pribadimu? (Ia menghunuskan pedangnya tapi pengawal keluarga Yeon segera masuk dan melindungi Yeon)

Kepala Suku 2: (mengarahkan telunjuknya pada Yeon) Ini adalah negara besar Gogouryeo! Tuan Yeon, apakah kau sudah menjadi gila?

Kepala Suku Gwanno: Hari ini, aku akan membunuhmu, pengkhianat … !

Kepala Suku Gwanno menggerakkan pedangnya mengancam leher Yeon Garyeo, tapi semua pengawal segera mengarahkan senjata mereka pada Kepala Suku Gwanno.

Yeon Garyeo: (sikap tenang) Apakah kalian semua setuju dengan pendapatnya? (Semua orang memandangnya dengan penuh amarah) Baiklah .. aku sendiri juga rakyat Goguryeo. Tanpa Goguryeo maka tak ada artinya Jyooshin. (Yeon Garyeo mengalihkan pedang itu dari lehernya)

Tiba-tiba terdengar suara banyak langkah orang di luar ruangan. Sa Ryang dan para anggota Hwacheo mengepung ruangan di mana Dewan Istana berkumpul …

Para pengawal Yeon keluar dan berhadapan dengan Sa Ryang dan rekan-rekannya. Yeon Garyeo dan anggota Dewan Istana keluar melihat situasi.

Yeon Garyeo: Apa maksudnya ini?

Sa Ryang: Situasi sangat berbahaya bagi Dewan Istana untuk meninggalkan tempat ini. Dia telah meminta kalian untuk berdiam di tempat ini yang aman.

Yeon Garyeo tak bisa berbuat apa-apa …

Sa Ryang dan anggota Hwacheon yang lain berjaga di luar ruangan, satu-satunya yang dilepaskan hanyalah Yeon Garyeo.

Yeon Garyeo menemui Dae Jangro dan bertanya, “Apa maksud semua ini? Apa yang kalian lakukan di rumahku saat siang hari bolong begini?”

Dae Jangro: Kau tidak akan menunggu terlalu lama.

Yeon Garyeo: (penuh amarah) Kau yang menyatakan diri kalau kau akan melayani Ho-gae anakku … bagaimana kau berani mengangkat pedangmu dan mengancam para anggota Dewan Istana negeri ini?

Dae Jangro: (menyela) Tak diragukan lagi memang Hwacheon membutuhkan seorang Raja Jyooshin, karena hanya seorang Raja Jyoohsin lah yang dapat menemukan keempat Simbol Dewa.

Yeon Garyeo: Kalau begitu mengapa .. ?

Dae Jangro: Kau sudah tahu jawabannya. Meskipun kelihatannya kau tidak mau mengakuinya …(membalikkan tubuh dan berjalan pergi) Mereka katakan seseorang yang diramalkan akan datang. Aku membutuhkan orang itu. Aku harus mendapatkannya. Aku membutuhkannya dan juga keempat Simbol yang ia miliki.

Yeon Garyeo: (menyusulnya) Simbol Dewa …?

Dae Jangro: (berbalik) Aku tak bermaksud untuk mencelakai para anggota Dewan Istana yang ada di dalam … (berjalan melewati Yeon) Tapi tentu saja jika kau mau bekerja sama…  Dan segel Perdana Menteri …. Aku akan meminjamnya untuk sementara waktu.

Yeon Garyeo sangat kesal dan murka .. tapi ia tak bisa berbuat apa-apa …

Kesibukan terjadi di Cheonji Shindang.

Pendeta wanita senior menemui Ki-ha di ruangannya. Ia bertanya bagaimana Pendeta Tinggi bisa melakukan hal seperti ini. Benarkah ini adalah kehendak dari Langit? Apakah ia meminta agar melarang Raja kembali ke Istananya sendiri? Apakah ia benar-benar telah menerima kehendak Langit?

Ki-ha tak menjawabnya, ia bangun dari duduk dan beranjak pergi. Pendeta wanita senior memburunya, mengatakan kecuali memang ada bukti, maka Cheonji Shindang tak akan menerima kehendak Langit itu dan akan meminta semua anggota untuk menolak perintahnya.

Ki-ha: (berhenti) Waktu berlalu dengan cepat dan hampir habis, aku hampir putus asa. Karena itulah …

Pendeta senior: (berseru) Apakah kau tidak takut akan Langit? Bagaimana kau berani memalsukan Kehendak Langit demi memenuhi keserakahan manusia?

Ki-ha: (berbalik dan menatapnya tajam) Jika memang dibutuhkan, aku rela melakukan apa saja!

Ki-ha mendekati pendeta senior dan melakukan hal yang sama yang pernah ia lakukan pada Pendeta Tinggi sebelumnya. …

Ki-ha: Kau seharusnya tidak pernah mengemukakan keberatanmu padaku. Aku sudah katakan padamu kalau aku kehabisan waktu. Aku sudah katakan padamu kalau aku hampir putus asa…

Ki-ha menggunakan kekuatannya dan pendeta senior segera jatuh dengan tubuh lunglai ke atas tanah.

Ki-ha berjalan keluar dari ruangannya, meninggalkan tubuh pendeta senior yang tergeletek di tanah tak bergerak.

Ki-ha: Aku tak takut akan Langit karena aku sedang menciptakannya.

Perkemahan Raja di Selatan Gooknaeseong

Semua prajurit tampak senang dan bergembira karena mereka sudah dekat dengan Gooknaeseong, yang berarti mereka tak lama lagi akan dapat melihat keluarga mereka, istri, anak, maupun orangtua mereka. Beberapa orang bahkan bersenda gurau dan mengolok-olok para prajurit yang rindu dengan istri mereka ^^

Tapi ada juga beberapa yang heran, mereka sudah berjarak hanya 50 li tapi mengapa mereka berkemah di luar Gooknaeseong. Coba mereka langsung saja, bukankah mereka sekarang sudah ada di dalam Gooknaeseong? Jenderal mereka berusaha menenangkan mereka dan menyuruh untuk bersabar saja dulu.

Cheoro ada di luar, merawat tombaknya. Ia melihat Hyon-go yang sedang berjalan menuju ke tenda Raja.

Hyon-go mencari Raja dan menemukannya di belakang tenda, sedang mengurus kudanya.

Hyon-go: Yang Mulia, sesuatu yang aneh sedang berlangsung. Kita seharusnya sudah menerima kabar dari anggota Geo-mool beberapa waktu yang lalu.

Huk-gae dan anaknya, Dalgoo, menghampiri mereka berdua ..

Huk-gae: (berseru) Dasar orang-orang tolol! Yang Mulia pulang dengan membawa kemenangan. Mereka seharusnya keluar dan menemui kita! Kita sekarang tepat berada di depan Gooknaeseong, tapi di mana semua orang-orang itu?

Damdeok: Kapan kita mengirimkan pesan kepada mereka?

Huk-gae: Erhmm .. itu. … Kita sudah mengirimkan pesan dua hari lebih dahulu daripada pasukan kita, jadi seharusnya mereka sampai di Gooknaeseong kemarin.

Damdeok: (pada Hyon-go) Apakah tak ada pesan dari Geo-mool melalui Burumsae?

Hyon-go: Tak ada sama sekali. (heran) Apakah mereka semua mabuk karena tak ada yang mengawasi? Sebaiknya mereka tidak menyentuh anggur simpananku …

Damdeok: (berpikir sesuatu) Dalgoo …

Dalgoo: Ya, Yang Mulia.

Damdeok: Aku ingin kau pergi dan melihat situasi. Bawalah beberapa orang prajurit bersamamu.

Dalgoo: (tak mengerti) Apa yang harus kulihat?

Damdeok: Lihatlah apakah pintu gerbangnya tertutup atau tidak.

Dalgoo: (memberi hormat) Ya, Yang Mulia. (Ia segera pergi)

Huk-gae: (heran) Apakah yang kau maksudkan pintu gerbang Gooknaeseong?

Damdeok tak menjawabnya, yang berarti benar, dan mengawasi ke arah Gooknaeseong dengan pikiran kalut.

Di dalam Gooknaesong

Sa Ryang disertai beberapa anggota Hwacheon memerintahkan semua prajurit untuk menutup pintu gerbang sambil mengeluarkan Segel Perdana Menteri. Tapi sebelum itu, beberapa anggota Cheonji Shindang keluar gerbang atas perintah Ki-ha dan memacu kuda mereka ke arah perkemahan Raja.

Dalgoo melihat para pendeta wanita itu dan keheranan tapi ia beserta rekan-rekannya sedang dalam misi, sehingga ia memacu kuda ke arah pintu gerbang Gooknaeseong. Dalgoo dan yang lainnya turun dari kuda mereka setelah berada dekat tapi cukup jauh sehingga tak terlihat dari arah Gooknaeseong. Dalgoo menganggukkan kepala ke arah tetua Geol-moo yang ikut dalam misi ini. Tetua Geolmoo segera pergi sementara Dalgoo masih tetap mengawasi ke arah pintu gerbang Gooknaeseong yang tertutup.

Sementara itu di perkemahan Raja, para pendeta wanita ditemui oleh Damdeok.

Damdeok: Aku kira kalau Pendeta Tinggi yang akan datang menyambutku sendiri, apakah aku salah?

Pendeta wanita: Pendeta Tinggi meminta kami untuk menyampaikan Kehendak Langit pada Yang Mulia.

Pendeta wanita menghaturkan gulungan pesan pada Damdeok, yang tersenyum. Jenderal Kho maju dan mengambil gulungan itu kemudian membuka untuk membacanya. Soojinee ingin tahu isinya.

Damdeok: Apa isinya? Apa yang Langit inginkan dariku menurut pikiran Pendeta Tinggi yang baru?

Jenderal Kho: “Cheonji Shindang yang mewakili antara Langit dan Bumi, dan  mendengarkan suara Langit …. “

Jenderal Kho tidak melanjutkan bahkan menutup gulungan itu dengan perasaan marah di wajahnya kemudian menoleh pada Raja.

Jenderal Kho: Ini omong kosong, dan aku takut akan menusuk pendengaranmu, Yang Mulia. Kita harus membakar pesan ini secepat mungkin.

Soojinee sangat ingin tahu dan segera merebutnya dari Jenderal Kho kemudian membacanya sendiri ..

Soojinee: “Raja telah menumpahkan banyak darah dalam peperangan ini. Karena itulah ia tak bisa kembali ke Gooknaesong.”

Huk-gae: (tersinggung) Apakah itu gonggongan anjing? Separuh dari pasukan Goguryeo hidup di tengah peperangan! Hanya ada darah di medan perang bukan bunga-bunga!

Soojinee: (melanjutkan) “Yang Mulia harus datang sendirian ke Kuil Cheonji Shindang tanpa bersenjata untuk menebus darah yang telah ditumpahkan olehnya. Hanya dengan begitu maka pasukannya boleh masuk Gooknaeseong.” (menutup gulungan dengan emosi) Apakah mereka itu sudah gila?

Damdeok hanya menunduk dan tersenyum geli karena menyadari sesuatu.

Huk-gae: Yang Mulia! Pasukan Jeolno telah melakukan persiapan! Mari kita singkirkan semua bajingan itu yang ada di dalam Gooknaeseong …!

Damdeok: (menatap pendeta wanita) Apakah Pendeta Tinggi yang baru yang mengirimkan pesan ini?

Pendeta wanita: (memberi hormat) Benar, Yang Mulia.

Damdeok: Siapa saja yang berada di sana ketika ini, yang disebut sebagai Kehendak Langit, diumumkan?

Pendeta wanita: … (ragu-ragu)

Damdeok: Aku bertanya padamu apakah ini adalah keinginan dari Dewan Istana?

Pendeta wanita: Kami hanya diutus untuk menyampaikan pesan ini.  Kami tak dapat mengatakan yang lain.

Damdeok memberikan pandangan tajam pada pendeta wanita itu, yang menundukkan matanya, menghindari tatapan Damdeok.

Huk-gae: Yang Mulia! Tak usah ditanyakan lagi. Mari kita pergi dan menghancurkan mereka itu yang ….

Damdeok: (memotong) Apakah itu mungkin pengkhianatan? (menghampiri pendeta wanita) Tak banyak prajurit yang ada di Gooknaeseong. Mungkinkah mereka berani berhadapan dengan kita hanya dengan sejumlah kecil prajurit? Jika itu aku … aku akan kembali ke sukuku dan merencanakan sebuah tindakan balas dendam .. (Damdeok menaruh tangannya di pundak pendeta wanita, yang gentar dengan kewibawaan Damdeok) Apakah ini adalah keinginan dari Dewan Istana?

Pendeta wanita: Aku percaya kalau para anggota Dewan Istana dalam tahanan rumah di kediaman Perdana Menteri.

Damdeok merasa sedikit lega tapi juga marah, karena ini berarti kalau anggota Dewan Istana tak terlibat dengan insiden ini tapi ada orang-orang tertentu yang justru memanfaatkannya demi kepentingan pribadi mereka, dan orang-orang itu tak lain tak bukan adalah Perdana Menteri Yeon dan Ki-ha … mungkin juga Hwacheon ada di balik semua ini … Damdeok melihat ke arah Gooknaeseong …

Beberapa saat kemudian di dalam tenda pertemuan …

Tetua Geol-moo telah kembali dan melaporkan hasil pengamatannya.

Tetua Geo-mool: Mereka telah menutup semua pintu gerbang bahkan telah menyiagakan semua prajurit.

Huk-gae: Beri aku 500 orang saja, aku akan membukakan pintu gerbang untuk Yang Mulia dalam waktu seperempat hari. Yang Mulia, berikan perintahmu!

Joomochi dan Soojinee berdiri berdampingan mengikuti rapat tersebut ..

Damdeok: Jenderal Kho!

Jenderal Kho: Ya, Yang Mulia ..

Damdeok: Kita akan melakukan pengepungan pada Gooknaeseong. (semua orang terkejut) Kepung Gooknaeseong tapi jangan melakukan tindakan apapun sampai aku mengeluarkan perintah.

Jenderal Kho: Aku akan mematuhinya, Yang Mulia.

Huk-gae: (gelisah) Yang Mulia, bagaimana denganku? Bagaimana dengan Suku Jeolno?

Hyon-go: Yang Mulia, Hwacheon akhirnya menampakkan wajah mereka sesungguhnya. Mereka telah membuka watak asli mereka yang jahat …

Damdeok: (berjalan sambil memikir) Jika aku adalah Hwacheon, maka pertama yang akan kulakukan adalah menggunakan nama Dewan Istana. Dengan itu, mereka akan mengerahkan pasukan yang ada di luar Gooknaeseong untuk menyerangku dari belakang.

Jenderal Kho: Apakah Yang Mulia percaya kalau Pasukan Goguryeo akan berani menyerangmu?

Damdeok: Strategi kita kali ini adalah …. Bersiap-siap untuk yang terburuk! … (berbalik) Jenderal Huk!

Huk-gae: (langsung bangkit dari duduknya) Ya, Yang Mulia!

Damdeok: Gunakanlah namaku dan ambil alih ke lima benteng terdekat dengan Gooknaeseong! (memberikan Medali Raja pada Huk-gae yang menerimanya dengan penuh hormat)

Huk-gae: (tak paham) Ambil … Ambil alih?

Damdeok: Pertama, pastikan kalau mereka tidak akan menerima perintah dari siapapun. Yang kedua … persiapkan mereka untuk menghadapi invasi dari luar Goguryeo.

Huk-gae: (terkejut) Invasi dari luar Goguryeo?

Damdeok: Aku akan pergi ke Gooknasesong!

Damdeok beranjak pergi, tapi Soojinee segera berlari menghadangnya ..

Soojinee: Apakah kau akan pergi sendirian? Sekarang?

Hyon-go: Yang Mulia, kumohon padamu .. tidak bisakah kau mengubah kebiasaanmu itu? Kau punya kebiasaan untuk pergi seorang diri dalam menghadapi bahaya di depanmu.

Damdeok: (tersenyum geli) Mereka khan sudah mengatakan kalau tidak akan membuka gerbang kecuali aku pergi sendirian.

Hyon-go: Karena itulah .. erhm … aku maksudkan … eh …

Joomochi: (mendekati Raja) Orang-orangku … (semua orang menoleh padanya) … sangat ahli dalam memanjat rumah-rumah orang … dan memanjat tembok benteng tak banyak berbeda, jadi …

Damdeok: (tegas) Aku tidak akan memanjat tembok untuk masuk ke dalam Istanaku sendiri dan aku juga tak akan bertempur dengan para prajuritku sendiri. (Joomochi terdiam, tahu salah) Kita hanya akan bertempur pada saat melawan musuh-musuh kita!

Joomochi: Jadi … apakah kita nanti benar-benar akan bertempur?

Damdeok: Kita akan bertempur ketika aku menginginkannya, dan dengan cara yang aku mau! (berjalan pergi, semua orang mengikutinya, lalu pada Hyon-go) Guru!

Hyon-go: (berjalan di sampingnya) Ya?

Damdeok: Bisakah kau menghubungi anggota Geo-mool yang ada di dalam Gooknaeseong?

Hyon-go: Tentu saja!

Damdeok: Beritahu pada mereka untuk memastikan agar para penduduk menyingkir dan tak mendapatkan celaka.

Hyon-go: Baik, Yang Mulia.

Damdeok: Pertempuran akan terjadi di dalam Gooknaeseong.

Joomochi (berseru senang) Itu baru benar! Kita akan bertempur!

Pintu Gerbang Barat Gooknaeseong

Damdeok, diiringi oleh Joomochi, Soojinee, Cheoro, serta beberapa pengawal, berkuda ke pintu gerbang barat. Sesampainya di depan pintu gerbang, Damdeok segera turun dari kudanya diikuti yang lainnya.

Sementara itu di atas benteng, Dae Jangro dan Perdana Menteri Yeon mengawasi Damdeok dan rombongannya.

Dae Jangro: Dia seorang muda yang cukup pemberani.  Dia benar-benar meninggalkan pasukannya dan datang sendirian kemari.

Yeon Garyeo: (sedikit cemas) Bagaimana jika aku memintanya untuk kembali?

Daejangro: (tersenyum licik) Bagaimana dengan anggota Dewan Istana yang ada di kediamanmu? Bukankah menjadi sangat janggal jika Ho-gae menjadi Raja negeri ini tanpa adanya para anggota Dewan Istana?

Yeon Garyeo menatap Dae Jangro dengan kesal …

Pintu Gerbang Barat dibuka, Damdeok, Soojinee, Joomochi, Cheoro, dan beberapa prajurit lainnya masuk ke dalam. Damdeok berhenti sebentar memandang ke atas, melihat pada Yeon Garyeo, yang memberi hormat padanya dari atas benteng kemudian pergi.

Pintu Gerbang dalam dibuka dan Damdeok disambut oleh tiga anggota Cheonji Shindang.

Pendeta wantia: (memberi hormat) Cheonji Shindang telah menantikan Yang Mulia cukup lama …

Damdeok: (berbalik pada Soojinee dkk) Aku akan pergi sekarang. Saat aku kembali, akau akan mentraktir kalian dengan Anggur Kerajaan.

Damdeok masuk ke dalam disertai dengan ketiga anggota Cheonji Shindang. Soojinee tampak cemas, Joomochi merasa geram dan kesal, sedangkan Cheoro tetap tenang.

——————

Pintu Gerbang Barat bagian dalam ditutup …

Damdeok masuk dan menemui Yeon Garyeo yang menyambutnya.

Damdeok: (tersenyum sabar) Kau pasti sangat lelah mengurusi masalah negara selama aku pergi.

Yeon Garyeo: Aku mengucapkan selamat atas kemenanganmu, Yang Mulia. (penasaran) Apakah orang-orang itu saja yang melindungi dirimu? Di manakah Jenderal Kho … ?

Damdeok berjalan melewati Yeon dan mengawasi ke sekeliling mereka …

Damdeok: Satu-satunya bawahan yang keluar untuk menyambut kedatangan sang Raja … kelihatannya hanyalah dirimu satu-satunya, Perdana Menteri Yeon.

Yeon Garyeo: (merasa tidak enak hatinya) Apakah kau akan pergi ke Cheonji Shindang dahulu? Jika demikian, aku akan menyertaimu kesana…

Pendeta wanita: (menyela) Hari ini Cheonji Shindang tertutup bagi semua orang, hanya Yang Mulia yang boleh memasukinya.

Yeon Garyeo: (nada cemas) Yang Mulia, menurut pendapatku …

Damdeok: Adakah orang yang berani mencelakaiku di Istanaku sendiri? Di dalam negeriku sendiri? (Yeon tertunduk) Meskipun memang ada, mereka tidak akan melakukannya sekarang. Seluruh negeri hanya akan menerimanya jika dilakukan dengan cara yang benar dan sah, tak peduli siapapun yang menjadi Raja.

Damdeok kemudian menatap ke bagian atas benteng, melihat Dae Jangro sedang mengawasi dirinya. Dae Jangro memberikan hormat padanya, Damdeok segera berbalik dan pergi seorang diri memasuki Cheonji Shindang, diikuti oleh pandangan Dae Jangro.

Damdeok memasuki Kuil Cheonji Shindang, memberikan senjatanya pada pendeta wanita di depan dan melangkah dengan gagah tanpa keraguan sedikitpun ke dalam ruangan sembahyang.

Di Gerbang Barat …

Para prajurit yang menjaga gerbang barat mengerumuni Soojinee dan yang lainnya, bukan untuk mengancam mereka tapi justru bertanya mengenai kebenaran yang telah mereka dengar selama ini.

Prajurit A: Eh … apakah itu benar? Apakah benar kalau kalian telah menaklukkan 10 benteng Baekjae hanya dalam waktu 20 hari?  (tidak percaya) Bukankah butuh waktu 7 hari untuk mencapai benteng yang pertama?

Soojinee: (menggelengkan kepalanya) Berita macam apa yang telah kalian dengar? Berita mengenai Pasukan Gaema Jyooshin yang menggetarkan hati telah menggema di seluruh Baekjae!.Bagaimana bisa kalian tidak mendengarnya? Sini .. sini … (menarik salah satu prajurit yang datang bersamanya) Kau beritahukan kisah yang sebenarnya pada mereka.  (Prajurit itu dikerumuni yang lain)  Aduhhh … di mana ya kamar kecil  .. aku butuh kamar kecil … (Soojinee mau pergi)

Joomochi: (berseru) Aku, Joomochi, (mengayunkan kapak) mengayunkan kapakku …. (Soojinee menoleh padanya dan memberi tanda) … menjatuhkan lawan-lawan Raja Agung kita! (Joomochi melihat Soojinee) Ohhh … aku juga harus pergi ke kamar kecil ..

Prajurit penjaga sangat penasaran sehingga mengerumuni prajurit Raja lainnya dan meminta mereka menyelesaikan kisah kepahlawanan Raja … Cheoro memandang kepergian Soojinee dan Joomochi ..

Sementara itu …

Ki-ha sedang menanti di ruang sembahyan saat Damdeok memasuki ruangan itu.  Mereka berdua akhirnya saling berhadapan muka dan saling menatap satu sama lain untuk pertama kalinya sejak Damdeok kehilangan ayahnya.

Ki-ha: 10 benteng Baekjae dan juga Gwanmiseong … aku memberikan ucapan selamat padamu mewakili Langit.  (Damdeok hanya menatapnya tajam) Kita akan memulai Upacara Pemurnian saat siang hari … (berbalik) Karena itu kau pertama-tama harus ..

Damdeok: (memotong, dengan nada dingin) Bagaimana Pendeta Tinggi meninggal ? (Ki-ha tertegun sejenak) Apakah ini perbuatanmu?

Ki-ha: (berusaha mengendalikan suaranya) Bolehkah aku mengatakan kalau itu adalah Kehendak Langit?

Damdeok: (dengan nada tajam) Kau tidak mungkin melakukan itu atas kemauanmu sendiri … itu bukanlah wanita yang selama ini kukenal …

Ki-ha: Sejak awal … (berbalik menghadapi Damdeok) Kau tidak pernah mengenal siapa diriku sebenarnya …

Damdeok memandangnya tak berkedip dengan pandangan menusuk … Ki-ha balas menatapnya …

Damdeok: (nada dingin menusuk) Benar … Jadi apakah sekarang kau akan memberitahuku? .. Kau … dan Hwacheon yang berada di belakangmu … apa sebenarnya yang kalian inginkan?

Ki-ha: (maju sedikit) Pada saat malam kejadian itu … di desa yang mana aku telah membawamu … kau pernah bertanya bagaimana perasaanku.

Damdeok masih mengingat kejadian itu dengan jelas, kenangan itu begitu manis tapi sekarang Damdeok hanya merasakan sakit dan kepahitan di dadanya … saat itu di gua, Damdeok meraih tangan Ki-ha, yang menjatuhkan dirinya memeluk Damdeok dan menangis sedih …

Ki-ha: Apakah kau masih mengingatnya?

Damdeok: (hatinya sakit dan nadanya lebih dingin lagi) Aku sudah melupakan kejadian malam itu sejak lama …

Ki-ha: (hatinya tergetar dan sakit, nada suaranya bergetar) Kau bertanya padaku waktu itu dan sekarang aku akan menjawabnya … Hatiku hanya akan menjadi milik Raja Jyooshin. Aku akan melakukan apapun sehingga ia dapat membangun negeri Jyooshin lagi. Bahkan jika dibutuhkan, aku akan membuat Bintang Jyooshin dan menggantungnya di Langit

Dua kekasih … Dua musuh besar … siapakah sebenarnya mereka berdua ? Mengapa takdir begitu kejam? Apakah mereka memang harus hidup sebagai musuh? Tak dapatkah kenangan itu kembali lagi dan mereka menjadi sepasang kekasih? Melewati hari-hari yang begitu indah dan manis tak mempedulikan apapun yang terjadi di dunia ini dan mengembara jauh, meninggalkan semua kerumitan di belakang, tak peduli siapapun yang akan menjadi Raja Jyooshin, tak memikirkan Empat Simbol Dewa … hanya berdua hidup bahagia … Apakah semuanya itu tak dapat kembali lagi?? Mungkinkah dalam setiap kehidupan yang mereka jalani, mereka berdua selalu ditakdirkan menjadi musuh? Dahulu Ka-jin melawan Hwan Woong … sekarang Ki-ha melawan Damdeok .. kapankah lingkaran setan ini berakhir?

Damdeok melangkah ke belakang Ki-ha, mengingat masa kecil mereka …

Damdeok sedang mencari bahan-bahan obat di kebun Shindang demi mencari obat bagi ayahnya yang sakit pada perutnya, dan di sanalah ia bertemu dengan Ki-ha,

 Damdeok: Aku tak tahu apakah aku bisa mempercayai seseorang di Istana Gooknae? Aku dapat mempercayaimu, khan? Aku akan mempercayaimu, jadi tolonglah aku …

Ki-ha menatap pangeran kecil ini dengan kasihan dan simpati …

Kembali ke masa kini …

Damdeok: Raja Jyooshin yang kau maksud pasti Ho-gae … Aku dulu juga berpikir demmikian. Aku dulu juga berpikir kalau Ho-gae benar-benar akan menjadi Raja yang hebat bagi Goguryeo. (berbalik, memandang punggung Ki-ha) Aku menjadi seorang Raja sehingga tak seorangpun yang akan mati. Aku percaya entah itu Baekjae atau Goguryeo, kita semua adalah saudara dalam Jyooshin. Karena kepercayaanku ini sehingga para prajuritku menderita. (nada tinggi) Jadi jangan menghina para prajuritku dengan menggunakan alasan Upacara Pemurnian yang palsu!

Ki-ha mengingat masa kecil mereka …

Damdeok: Ki-ha …

Ki-ha: (berbalik) Ya?

Damdeok: Selalu bersamaku! Tinggalah di tempat di mana aku dapat melihatmu selalu.

Kembali ke masa kini …

Ki-ha: Kalau begitu, aku akan mengatakan ini … (berbalik dan menatap Damdeok) Aku yakin kalau kau masih ingat … Sumpah yang telah kita buat untuk melayani Raja Jyooshin yang membawa pulang Empat Simbol Dewa.

Damdeok: Jadi ..?

Ki-ha: Para anggota Dewan Istana ada di tangan kami. Dan kami mengingikan Simbol Hyunmoo yang ada di tangan Yang Mulia. Ketika Ho-gae kembali dengan membawa Simbol Baekho, kami akan memiliki 3 dari 4 Simbol Dewa. Karena kami telah memiliki Simbol Joojak.

Damdeok tiba-tiba tersenyum kecil mendengar perkataan Ki-ha, Ki-ha tak mengerti …

Ki-ha: Jika kau tak mau melakukannya, maka bunuh aku di tempat ini dan hentikan aku. Jika kau tak melakukannya, aku tak tahu apa yang dapat kuperbuat lagi setelah ini … Bunuh aku sekarang dan hentikan aku …

Damdeok menatapnya cukup lama …

Damdeok: Sebenarnya masih ada sedikit harapan yang tersisa di dalam hatiku. ..Karena itulah aku datang kemari untuk menemuimu .. Tapi sekarang … Semuanya sudah berakhir  … Aku sudah selesai denganmu ….

Damdeok berjalan pergi, meninggalkan Ki-ha yang tampak shock mendengar perkataan Damdeok … Ia ingin menahan Damdeok … ingin menjelaskan semuanya … ia ingin Damdeok mempercayainya, memeluknya, berbisik mesra di telinganya, ia ingin memberitahu kalau dirinya sedang mengandung anak Damdeok … namun mulutnya terkunci …

Damdeok keluar dari ruang sembahyang, para anggota Cheonji Shindang menutup pintu Kuil, melambangkan hubungan mereka sudah berakhir …pintu hati Damdeok sudah tertutup bagi Ki-ha …

Ki-ha memejamkan matanya …mengingat kenangan mereka berdua saat mereka masih bersama …

Saat mereka berkuda bersama saling bersenda gurau satu sama lain …

Saat Ki-ha menunjukkan kekuatan apinya pada Damdeok, dan Damdeok sangat senang …

Saat Ki-ha menusuk tangan Damdeok membuatnya pingsan ketika mereka dikepung oleh pasukan Gaema Goguryeo dan Ho-gae …

Saat Damdeok bertarung dengan para anggota Hwacheon di tengah hujan di tempat yang mereka janjikan, yang mana Ki-ha ingin sekali menjelaskan semuanya namun ternyata Hwacheon menggunakan kesempatan itu menjebak Damdeok dan membuatnya seakan-akan Ki-ha lah yang melakukannya …

Saat Ujian Gaori, di mana Ki-ha menusuk Damdeok dengan pedang Joomong …

Saat Ki-ha di tebing berusaha bunuh diri namun kekuatan Joojak menahannya …

Saat Pendeta Tinggi meminta agar Damdeok pergi sejauh mungkin karena keluarga Yeon telah menguasai Istana dan jangan kembali lagi, dengan cara itulah ia bisa tetap hidup … Damdeok menghunuskan pedangnya dan menghantam pilar bangunan, melampiaskan kemarahannya …

Masa kini …

Ki-ha membuka matanya … tahu kalau semua kenangan itu sekarang tinggalah kenangan belaka … mereka berdua sudah terpisahkan oleh takdir ….

Damdeok berjalan keluar dari ruang sembahyang dan mengambil pedangnya, menghunuskan pedangnya dan meluapkan rasa sedih dan amarahnya dengan memutuskan tali pembatas Shindang, seakan-akan juga memutuskan hubungannya dengan Ki-ha. Kali ini Damdeok benar-benar sudah tak menyisakan perasaannya pada Ki-ha …  Damdeok segera beranjak pergi meninggalkan Shindang …

Sementara itu di luar Gooknaeseong, di dekat Pintu Gerbang Barat, Jenderal Kho memacu kudanya dan memimpin beberapa prajurit terpilihnya mengawasi ke arah Gooknaeseong dari atas bukit. Ia menantikan saat yang tepat untuk masuk …

Di dalam Gooknaeseong

Damdeok berjalan di lorong-lorong bangunan, disertai dengan Joomochi dan Soojinee …

Joomochi: Kediaman Yeon sudah dipenuhi sepenuhnya oleh para Hwacheon, yang tampaknya telah mengambil alih tempat itu.

Damdeok: Apakah para pengawal Yeon juga bergabung dengan mereka?

Joomoch: Mereka melakukan penjagaan bersama-sama ..

Soojinee: Pasukan Pengawal Kerajaan sedang menunggu di dekat Istana. Mereka akan segera bergerak begitu menerima perintah darimu.

Joomochi: Bagus!

Soojinee: Tapi kau tahu, para Hwacheon ini berbeda … Mereka telah dilatih sebagai pembunuh gelap sejak masih kecil .. Jika kita langsung menyerang mereka dengan berhadapan seperti pertempuran normal, maka para prajurit kita akan dibantai. Hwacheon pasti menggunakan cara-cara licik untuk …

Damdeok: (memotong) Kita tak akan berhadapan langsung dengan mereka. Kita akan bertempur dengan cara terhormat jika musuh kita juga bertempur dengan cara terhormat. (mendongak ke langit) Masih belum siang?

Kediaman Yeon

Yeon Garyeo berada di kediamannya bersama dengan Dae Jangro. Mereka gelisah dan berjaga dengan waspada.

Dae Jangro: Ini sudah mendekati siang hari. Aku ingin tahu, berapa banyak Raja menghargai nilai para anggota Dewan Istana.

Yeon menatap ke arah ruangan di mana para anggota Dewan dikurung.

Chojodo berusaha keluar, tapi seorang prajurit Hwacheon mengancamnya dengan pedang sehingga ia mundur kembali.

Semua anggota Dewan Istana terlihat tidak tenang. Kepala Suku Gwanno tidak sabar lagi dan mau keluar, tapi Chojodo dan Kepala Suku 3 segera menahannya bertindak ceroboh.  Semua orang benar-benar tak tahu apa yang akan terjadi sehingga hati mereka gelisah … Apa yang akan terjadi nantinya pada mereka semua?

Damdeok, Soojinee, dan Joomochi sampai pada suatu tempat … Mereka berjalan dengan penuh kewaspadaan ..

Damdeok: Berapa banyak?

Joomochi: Tiga di sebelah kanan ..

Soojinee: Berikan dua padaku …

Ketiganya serentak segera berlari berpencar ke arah tiga jurusan …

Para anggota Hwacheon yang berjaga melihat kedatangan mereka dan bersaha melawan, namun dengan mudah dihabisi oleh Damdeok dkk. Bahkan Soojinee sempat memanah seseorang yang hendak menyerang Damdeok dari belakang…

Damdeok: (pada anggota Hwacheon yang masih hidup) Mereka katakan kalau markas rahasia Hwacheon ada di dekat sini …

Sementara itu …

Cheoro beserta para prajurit, yang dibawa oleh Damdeok, yang masih tinggal di Pintu Gerbang Barat menatap ke langit … waktunya sudah dekat …

Beberapa anggota Geo-mool segera menyebar ke seluruh pelosok kota, membunyikan gong kecil yang mereka bawa kemudian memperingatkan rakyat jelata agar segera pulang ke rumah mereka masing-masing atau masuk ke dalam bangunan … Rakyat sudah tahu kalau suasana di Gooknaseong memang menegangkan, tanpa banyak bicara segera meringkas dagangan mereka dan pulang, beberapa pejalan kaki segera berlari untuk mengamankan diri mereka …

Kediaman Yeon

Yeon dengan gelisah menanti …

Sa Ryang menemui Dae Jangro yang menyuruhnya segera bergerak, ini sudah waktunya … Seperginya Sa Ryang, Dae Jangro tampak tersenyum senang … mengira rencananya akan berhasil ….

Cheoro dan para prajurit Damdeok di Pintu Gerbang Barat segera menyerang pengawal yang menjaga pintu gerbang.

Suara Damdeok: Para Pengawal Kerajaan akan pergi ke pintu Gerbang Barat dan menundukkan para penjaga di sana. Buka Pintu Gerbang Barat dan bantu Jenderal Kho beserta pasukannya untuk memasuki Gooknaeseong secepat mungkin.

Cheoro dan yang lainnya berhasil dengan mudah mengalahkan para penjaga gerbang yang tak menyangka, lalu membuka pintu gerbang membiarkan para prajurit yang dipimpin oleh Jenderal Kho masuk ke dalam.

Suara Damdeok: Kepung kediaman Yeon dan dan jangan biarkan seorangpun keluar dari sana, jangan memancing kemarahan mereka karena mereka memiliki sandera. Lalu tunggulah kedatanganku.

 Jenderal Kho memimpin pasukannya memasuki Gooknaeseong dan segera menuju ke arah kediaman Yeon.

Markas Rahasia Hwacheon

Joomochi memulai penyerangan, membunuh dua penjaga gerbang markas. Soojinee membantu dari atas, memanahi semua orang yang maju untuk menyerang Joomochi. Joomochi segera membuka pintu gerbang dan nampak Damdeok dengan gagahnya masuk ke dalam, diikuti oleh pasukan elitenya, Pasukan Gaema Jyooshin. Pasukan Hwacheon segera menyerbu mereka …

Damdeok dan yang lainnya menerjang masuk dan membantai setiap anggota Hwacheon yang mereka temui tanpa kecuali. Soojinee, Joomochi, dan Cheoro bertarung habis-habisan … Damdeok sendiri tangannya yang memegang pedang penuh berlumuran darah dari musuh-musuhnya yang terus datang tanpa henti ke arahnya … Dalam pertempuran itu, Damdeok masih sempat melihat Soojinee, yang bertempur dengan penuh semangat, dan mencemaskan keselamatannya. Tapi saat melihat Soojinee mampu mempertahankan dirinya sendiri, Damdeok segera maju lagi dan menghabisi setiap Hwacheon yang ia temui.

Sementara itu pasukan Jenderal Kho masih dalam perjalanan mereka menuju ke kediaman Yeon …

Kediaman Yeon

Sa Ryang mengajak pasukannya untuk keluar dari kediaman Yeon, tapi saat mereka sampai di depan pintu, para pemanah muncul dari atap rumah di sekitar kediaman Yeon dan melepaskan panah mereka, membuat jatuh korban di antara para anggota Hwacheon yang keluar bersama dengan Sa Ryang. Sa Ryang sangat terkejut, ia mengawasi ke sekeliling dan melihat semua jalan sudah di kepung dengan pasukan berperisai dan pemanah. Sa Ryang melihat situasi mereka tidak menguntungkan segera memerintahkan untuk menutup pintu dan mundur ke dalam.

Markas Rahasia Hwacheo

Pasukan Hwacheon yang ada di markas mereka tercerai berai oleh Damdeok yang memimpin pasukannya dengan gagah berani. Joomochi mengayunkan kapaknya tak memilih siapapun lawannya … Cheoro mengikuti Damdeok di belakangnya, menebas kepala setiap orang yang menghadang jalannya dengan tombak di tangannya …

Kediaman Yeon

Para Hwacheon berusaha menyelinap keluar … namun semuanya terbunuh oleh pasukan Jenderal Kho. Setiap orang yang keluar dari kediaman Yeon terbunuh habis oleh para pemanah. Semua pintu gerbang segera ditutup oleh anggota Hwacheon … Pasukan Pengawal Kerajaan memburu sampai di pintu gerbang dan menghunuskan pedang mereka, berjaga di luar …

Markas Rahasia Hwacheon

Joomochi memimpin penyerbuan ke bangunan utama Hwacheon, beberapa orang di depan yang akan menyerang Joomochi terpanah oleh Soojinee. Joomochi mengayunkan kapaknya dan menebas anggota Hwacheon yang lolos dari panah Soojinee. Damdeok menyusul di belakang mereka berdua, menusuk anggota Hwacheon yang berusaha mengayunkan pedangnya ke arah Soojinee …

Semua orang segera berkumpul di samping Damdeok, termasuk Joomochi dan Soojinee, baru kemudian mereka masuk ke dalam bangunan utama bersama-sama.

Di dalam, pertempuran terus berlanjut, setiap Hwacheon yang mereka temui dibantai habis-habisan oleh Joomochi dan Soojinee. Damdeok dan yang lain menyusul di belakang. Dua orang Hwacheon melompat dari atas dan mendarat di belakang Damdeok, yang langsung mengayunkan pedangnya membunuh keduanya. Seorang prajurit Hwacheon melompat ke arahnya, tapi Damdeok segera menusukkan pedangnya tepat menembus ke perut orang itu.

Darah Joomochi meluap dengan adrenalin, sangat bersemangat membunuh semua Hwacheon yang menyerangnya. Soojinee melepaskan panahnya pada seorang prajurit Hwacheon tapi tiba-tiba mendengar suara keras di belakangnya, ia melihat seorang prajurit Hwacheon yang akan membokongnya, namun sebuah tombak tampak temus dari perutnya. Cheoro telah melindungi Soojinee. Soojinee menatapnya kagum dan penuh terima kasih. Cheoro hanya mengambil tombaknya dan langsung pergi mencari musuh lain.

Akhirnya Damdeok membunuh orang terakhir Hwacheon, semua orang segera menemuinya.

Joomochi: Apa yang sedang kita cari?

Seperti menjawab pertanyaan Joomochi, sebuah cahaya terang kemerah-merahan bercahaya dari balik sebuah tempat penyimpanan rahasia. Mereka semua segera menghampirinya …

Itu Simbol Joojak!

———————–

Kediaman Yeon

Dae Jangro menyuruh Sa Ryang dan anggota Hwacheon untuk berjaga di tempat-tempat strategis di kediaman Yeon.

Yeon Garyeo: (berteriak kepada pasukan yang ada di luar) Aku adalah Kepala Suku Geryu dan juga Perdana Menteri negara ini. Dengan alasan apa kalian menyerang kediamanku? Apakah kalian adalah pasukan yang bergerak tanpa adanya perintah dari pimpinan kalian? Kenapa tak seorangpun yang menjawabku?

Jenderal Kho: (dari luar) Tuan Yeon,  sudah lama kita tidak bertemu, (Yeon terkejut mendengar suara Jenderal Kho) aku adalah Kho Woo Chong dari Pasukan Pengawal Kerajaan. Yang Mulia telah menurunkan perintah agar tak membiarkan seorangpun meninggalkan tempat ini. Aku hanyalah mematuhi perintahnya, Tuan Yeon. Yang Mulia akan segera kemari. Persiapkanlah dirimu dan tunggulah kehadirannya.

Dae Jangro berjalan mondar-mandir … nampak sedang berusaha menyusun rencana …

Yeon Garyeo: Mengapa kalian ada di dalam Gooknaeseong? Apakah dengan ini kau menyatakan kalau seluruh Pasukan Kerajaan ada di dalam tembok Gooknaeseong? Bukankah kalian sudah diberitahu untuk tidak masuk ke dalam sampai kalian dimurnikan?

Jenderal Kho: (dari luar) Siapa yang berani memerintahkan Pasukan Yang Mulia Raja untuk datang atau pergi? Siapa yang berani menyandera bawahan Yang Mulia Raja? Tuan Yeon! Bagaimana kau bisa menjadi orang yang tak kenal takut dan mengkhianati Yang Mulia?

Di dalam ruangan ….

Semua anggota Dewan Istana mendengarkan percakapan ini, dan merasa sedikit lega … sebagian kekhawatiran mereka menghilang …

Kepala Suku Gwanno: (pada rekan-rekannya) Yang Mulia Raja ada di sini! (nada senang) Ia masih menganggap kita sebagai bawahannya!

Di  halaman …

Yeon Garyeo: (pada Dae Jangro) Apakah kau mendengarnya? Orang yang kau inginkan … ia memiliki banyak bawahan yang sangat setia. Itulah yang selama ini menjadi keanehan bagiku. Di mataku, ia selalu terlihat sebagai pria yangmalang, yang tak punya apapun untuk dibagikan pada yang lainnya.

Tiba-tiba …

Terdengar suara ramai di luar … Yeon Garyeo dan Dae Jangro keheranan, suara apa itu ….

Di luar Kediaman Yeon ..

Para prajurit berbaris rapi dan menghentak-hentakkan kaki mereka secara serempak sehingga menimbulkan suara keras bergema di lorong-lorong, menggetarkan hati …

Jenderal Kho sendiri heran dan menoleh, ia melihat Rajanya, Damdeok, diikuti oleh Soojinee, Joomochi, dan Cheoro, sedang berkuda melewati semua prajurit itu dan turun dari kudanya saat dekat dengan Jenderal Kho, yang berjalan menyambutnya.

Jenderal Kho: (membungkuk hormat) Kau baik-baik saja Yang Mulia?

Damdeok: Aku baru saja habis merampok sebuah rumah kosong .. ^^

Jenderal Kho:Paraanggota Dewan Istana ada di kediaman Yeon.

Damdeok dan Jenderal Kho berjalan menuju ke depan pintu utama Kediaman Yeon.

Di dalam kediaman Yeon  …

Suara derap kaki para prajurit masih terdengar, Dae Jangro dan Yeo Garyeon di dalam hati mereka bertanya-tanya apa yang sedang terjadi … Dae Jangro memberi tanda pada Sa Ryang, yang segera masuk ke dalam ruangan di mana anggota Dewan Istana berada.

Di dalam ruangan …

Sa Ryang masuk ditemani beberapa orang Hwacheon … Semua anggota Dewan Istana berdiri dan menatapnya dengan marah .. Sa Ryang balas menatap mereka satu persatu …

Suara derap kaki masih bergema … Damdeok dan yang lain sampai di depan pintu utama, Joomochi segera maju dan  menggunakan kapaknya membelah penghalang pintu sehingga pintu terbuka lebar.

Yeon Garyeo maju menyambut Damdeok yang masuk disertai para prajuritnya.

Damdeok: (memandang Yeon Garyeo dengan tajam) Aku mendengar kalau para bawahanku berada di sini.

Yeon Garyeo: Benar, mereka semua sekarang ada di kediamanku … semuanya ada di sini.

Damdeok: Kalau begitu … bisakah kau memberitahu mereka untuk keluar dan menyambutku?

Yeon Garyeo: (sedikit memutar tubuhnya, berbicara ke arah dalam) Apakah kau mendengar permintaan Yang Mulia Raja?

Dae Jangro: (muncul bersama Sa Ryang) Maafkan aku, Yang Mulia! Saat ini mereka sedang dalam penyanderaan.

Soojinee terkejut melihat mereka dan ingin maju melabrak tapi berhasil menahan diri.

Damdeok: (matanya berapi) Apakah kau ini adalah Pimpinan dari Hwacheon?

Dae Jangro: (membungkuk hormat) Kau menyanjungku, Yang Mulia. Kami adalah Klan kecil yang menyembah Api. Aku adalah pimpinan yang rendah dari mereka.

Damdeok: Aku dengar kalau tujuanmu adalah mengumpulkan ke-Empat Simbol Dewa.

Dae Jangro: Aku yakin kalau kau sudah mendengar itu dari Pendeta Tinggi, tapi aku menunggu di sini dengan tujuan untuk menukar mereka dengan apa yang kau miliki.

Damdeok tersenyum sinis dan melangkah masuk ke dalam …

Damdeok: Apa maksudmu dengan “apa yang kumiliki”? (mengeluarkan Simbol Joojak dan menunjukkannya pada Dae Jangro) Apakah ini yang kau maksud?

Wajah Dae Jangro tetap tenang tapi sebenarnya dalam hatinya sangat terkejut. Bagaimana bisa Simbol Joojak ada di tangan Damdeok? Apa ini artinya mereka telah menemukan dan menyerbu markas rahasia Hwacheon?

Sementara itu, Hyon-go dan rekan-rekannya dari Geo-mool masuk Gooknaeseong …

Kembali ke kediaman Yeon

Yeon Garyeo terkejut melihat Simbol Joojak ada di tangan Dadmeok. Dae Jangro dan Sa Ryang menatap Damdeok, menebak-nebak apa yang akan dilakukannya. Damdeok menyimpan kembali Simbol Joojak, lalu menoleh pada Yeon Garyeo.

Damdeok: Tuan Yeon …

Yeon Garyeo: Ya, Yang Mulia …

Damdeok: Apa tujuanmu sehingga rela bersekutu dengan orang-orang semacam ini …? (nada tinggi) Apa kau bersedia melakukan apapun demi menjadikan anakmu sebagai Raja?

Yeon Garyeo: (menatap Damdeok) Harapanku untuk melakukan itu tak berubah … Tapi … sekarang aku memohon dengan sangat mengenai sesuatu padamu, Yang Mulia.

Damdeok: Apa itu?

Yeon Garyeo: Segel Perdana Menteri telah diambil dariku .. Mereka telah pergi menuju ke benteng-benteng di dekat Gooknaeseong. Mereka ingin mengijinkan agar pasukan Wei Utara dapat memasuki wilayah kita. Kumohon agar kau menghentikan mereka, Yang Mulia.

Hyon-go: (muncul) Yang Mulia, benteng-benteng Goguryeo di perbatasan telah mengirimkan pesan kalau mereka telah menggerakkan pasukan mereka dan akan memperkuat pertahanan benteng. (Dae Jangro, Sa Ryang, dan Hwacheon lainnya segera menyelinap pergi) Tak seorangpun yang dapat melewati benteng-benteng itu dengan mudah.

Damdeok: Apakah itu cukup bagimu?

Yeon Garyeo tampak shock saat megetahui kalau Rajanya ini ternyata berpikiran jauh ke depan dan ahli strategi yang baik. Damdeok memandang ke arah Dae Jangro, tapi terkejut saat melihat mereka sudah menghilang. Damdeok segera bergegas masuk, diikuti oleh yang lainnya. Damdeok memeriksa ruangan di mana para anggota Dewan Istana dikurung … Tempat itu kosong, tak seorangpun ada disana… Damdeok merasa cemas dan segera memburu ke bagian yang lebih dalam dari Kediaman Yeon.

Joomochi mendorong pintu dan membukanya lebar-lebar … di dalam terdapat banyak pasukan Hwacheon menanti kedatangan Damdeok dan lainnya … Tapi para prajurit pemanah dari Pasukan Pengawal Kerajaan juga sudah menempati posisi mereka, menarik busur dan mengarahkannya ke pasukan Hwacheon … Kedua belah pihak dalam posisi bertahan tapi sewaktu-waktu dapat melangsungkan pertempuran …

Damdeok memasuki tempat itu diikuti yang lainnya, Yeon Garyeo menjadi orang terakhir yang masuk dan tercengang melihat situasi yang terbentang di depannya.

Para anggota Dewan Istana berada di halaman, dikumpulkan menjadi satu di bawah ancaman pedang dari prajurit Hwacheon, sedangkan Dae Jangro ada di lantai dua berdiri sendirian sedang menatap kepada pihak Damdeok.

Dae Jangro: Kau benar-benar mengagumkan! Raja yang sebelumnya pasti akan merasa bangga jika ia melihatmu seperti ini.

Damdeok tak menjawabnya, ia hanya menatap pada Dae Jangro dengan tajam. Dae Jangro mengangkat tangan kirinya, yang berselimutkan jalur-jalur sihir .. Dae Jangro mengerahkan sihirnya dan seorang anggota Dewan Istana terangkat di tengah udara. Semua orang terkejut dan terperangah saat melihat kejadian ini …. bulu kuduk mereka merinding …

Damdeok tak tahu apa yang sedang dipertunjukkan oleh Dae Jangro, tapi pertunjukkan itu terbukti sangat mengerikan, karena hanya dengan menggerakkan tangannya sedikit, “krek”, leher pria malang itu patah dan ia tewas dengan kepala tertekuk ke samping. Dae Jangro melepaskan sihirnya dan jenazah pria itu jatuh ke tengah anggota Dewan istana, yang menjadi ketakutan melihat demonstrasi itu. Seorang anggota Dewan Istana berdiri dan ingin melarikan diri namun segera terbunuh hanya dengan satu sabetan pedang prajurit Hwacheon.

Tak bisa dipungkiri, kejadian ini membuat semua orang mengkirik dan ngeri, tapi tidak dengan Damdeok, matanya justru menjadi berapi-api ….  Dae Jangro tampak puas dengan demonstrasinya ini …

Damdeok: (berteriak) Ini …

Dae Jangro menoleh ke arah Damdeok, yang mengeluarkan Simbol Joojak

Damdeok: Satu …

Damdeok membuang Simbol Joojak ke depan, semua orang terkejut dan tak mengerti maksudnya …

Damdeok: Dan kedua, Simbol Hyunmoo …

Damdeok menunjuk ke aran tongkat Hyon-go. Hyon-go maju dan mengangkat tongkatnya … Dae Jangro matanya bersinar-sinar … Semua orang mulai memahami …

Damdeok: Dan ini, Simbol Chung Ryong ..

Damdeok membuang Simbol Chung Ryong ke depan … Semua orang terperangah dan menanti apa yang akan dilakukan Damdeok … mereka seperti mengerti tapi juga tidak mengerti …

Damdeok: Kau menginginkan semua itu?

Dae Jangro: (ujung bibirnya berkedut, menahan senyum) Apakah kau akan memberikan semua Simbol itu padaku?

Damdeok: (dengan tegas dan penuh kemarahan) Kembalikan orang-orangku dulu!

Kepala Suku Soonno tidak tahan lagi dan segera bangkit berdiri dan maju, tapi dihalangi dengan pedang seorang prajurit Hwacheon.

Kepala Suku Soonno: Yang Mulia! Aku adalah Kepala Suku Soonno ingin bertanya satu hal padamu! Apakah kau benar-benar yang membunuh anakku? (Yeon Garyeo shock mendengar Kepala Suku Soonno bertanya ini)

Damdeok: (menatap mata Kepala Suku Soonno, dengan tegas) Tidak!

Kepala Suku Soonno: (mendesah sedih) Aku paham sekarang! Aku telah berkhianat padamu dan juga Jyooshin. Bagaimana sekarang aku bisa menjadi sebuah beban bagimu? Kumohon ampuni aku. Aku akan pergi terlebih dahulu daripada dirimu …

Kepala Suku Soonno memegang pedang yang mengancamnya dengan kedua tangan kemudian dengan sekuat tenaga menggerakkan lehernya ke arah pedang itu. Ia membunuh dirinya sendiri.

Semua orang terkejut dengan tindakan Kepala Suku Sonno … Damdeok tampak tidak percaya dengan apa yang terjadi …

Kepala Suku Gwanno bangun tapi pedang mengancam kembali di lehernya …

Kepala Suku Gwanno: Yang Mulia, Aku Kepala Suku Gwanno, memohon pengampunanmu seumur hidupku.

Damdeok: (tahu apa niatnya) Jangan …

Kepala Suku Gwanno: Kumohon padamu untuk menndapatkan kembali negeri Jyoohsin kita …

Kepala Suku Gwanno memegang pedang dengan tangannya dan berusaha menusuk dirinya dengan itu, tapi Damdeok sambil berteriak, “Jangaaannn!” segera menerjang ke depan.

Parapemanah segera beraksi begitu melihat kalau Raja mereka bergerak, mereka melepaskan anak-anak panah ke arah pasukan Hwacheon. Banyak korban berjatuhan di pihak Hwacheon akibat panah-panah itu.

Damdeok meloncat tinggi-tinggi untuk menyerang langsung ke arah Dae Jangro, yang dengan tenang memandang ke arah Damdeok. Damdeok menusukkan pedangnya ke wajah Dae Jangro, namun jalur-jalur sihir muncul dan menangkap pedang Damdeok dan menahannya di udara. Damdeok mengerahkan tenaganya namun sama sekali tak dapat bergerak maju maupun mundur. Dae Jangro mengangkat tangan kanannya dan Damdeok terlontar ke belakang, jatuh ke atas tanah.

Dae Jangro mengerahkan sihir di tangan kanannya dan meloncat dari lantai dua ke arah Damdeok yang berada di bawah. Damdeok segera mengindar. Dae Jangro menghantam tanah, yang langsung hancur dan retak-retak di sekelilingnya. Sungguh dahsyat!

Soojinee memasang anak panahnya dan memanah para anggota Hwacheon … Joomochi mengayunkan kapaknya membantai semua lawan-lawannya … Jenderal Kho membunuh setiap musuh yang ia temui …

Dae Jangro perlahan-lahan berdiri, memandang pada Damdeok dengan pandangan dingin. Damdeok segera menyerang Dae Jangro dengan pedangnya, namun setiap kali ia mengayunkan pedangnya, dengan santai Dae Jangro mengelakkan semuanya, seakan-akan Dae Jangro tahu ke mana arah setiap serangan dari Damdeok. … Ia seperti seorang anak-anak sedang melawan seorang Guru Besar Ilmu Pedang >.< … Damdeok sama sekali tak dapat menyentuh seujung rambut pun dari Dae Jangro.

Yang terakhir, ketika Damdeok meloncat dan mengarahkan pedang ke aranhnya, Dae Jangro menjepit pedang Damdeok hanya dengan dua jarinya, jari tengah dan telunjuk, kemudian mematahkannya dan menggunakan ilmu sihirnya melemparkan Damdeok ke belakang. Damdeok berhasil mendarat dengan kedua kakinya dalam posisi berlutut …

Jenderal Kho, Sojinee, dan Joomochi, masing-masing sedang sibuk melawan musuh-musuh mereka yang sangat banyak, tak melihat keadaan Damdeok …

Cheoro sedang bertarung dan menghabisi seorang anggota Hwacheon ketika ia melihat Simbol Chung Ryong yang ternyata berada didekatnya mulai bersinar … Cheoro segera melepaskan pelindung kepalanya dan menghampiri Simbol Chung Ryong, memungutnya dengan tangan kanan dari atas tanah. Jenderal Kho juga menyaksikan Simbol Chung Ryong yang bersinar itu demikian juga dengan Hyon-go, yang bersembunyi di balik sebuah tiang … ^^

Dae Jangro berhadapan satu lawan satu dengan Damdeok. Dae Jangro sedang bersiap menyerang Damdeok dengan ilmu sihirnya … Damdeok dengan pandangan dingin menatap ke arah Dae Jangro …

Tiba-tiba Cheoro mengangkat tombaknya yang sedang digenggamnya di tangan kiri, tombak itu bersinar kebiruan, seperti saat ia dulu menjadi Iblis Penguasa Benteng Gwanmi. Tapi kali ini berbeda, ia masih berwujud manusia dan saat ia menggunakan kekuatannya tubuhnya menjadi merah …

Dae Jangro merasakan suatu kekuatan besar sedang mengarah padanya, ia menoleh dan terkejut melihat kebangkitan Simbol Chung Ryong, demikian juga dengan Damdeok. Semua orang menghentikan pertarungan mereka dan melihat keajaiban itu dengan pandangan terpesona dan kagum …

Hyon-go: Untuk Hyunmoo, “kemarahan mendalam” … Untuk Chung Ryong, “belas kasihan yang dingin”

Paraanggota Dewan Istana menyingkir ke pojok dan melihat semua ini dengan pandangan tak percaya, kagum, bercampur takut …

Dae Jangro mengetahui kalau lawannya bukanlah Damdeok, tapi Cheoro. Tombak Cheoro semakin lama semakin bersinar terang kebiruan dan bergetar …Dae Jangro melangkanh ke arah Cheoro kemudian melompat untuk menyerangnya. Cheoro menggunakan kesempatan saat Dae Jangro di udara melemparkan tombaknya dengan sekuat tenaga sehingga menembus tubuh Dae Jangro, yang terpental tapi segera  menghilang saat masih di udara. Dae Jangro menggunakan ilmu sihirnya untuk melarikan diri. Tombak itu mendobrak jendela dan terus melesat keluar.

Damdeok dan yang lainnya memandang Cheoro dengan terkejut namun berbareng dengan rasa kagum …

Damdeok memandang ke arah Cheoro, yang warna merah di tubuhnya perlahan-lahan menghilang kembali ke warna normalnya. Kali ini Damdeok telah menemukan Pelindung kedua, Pelindung Chung Ryong. Tiga Simbol sudah di tangannya, namun ia hanya memiliki 2 Pelindung …

Perkemahan Ho-gae di Ladang Garam, Khitan

Jenderal Obool ingin menemui Ho-gae namun Jenderal B memberitahunya kalau Komandan Ho-gae tidak ada di tendanya karena telah pergi keluar dengan pasukan elitenya. Jenderal Obool ingin tahu di mana ia sekarang. Ia telah membawa beberapa ribu orang tanpa seorangpun tahu kemana perginya. Jenderal B mengatakan kalau itu adalah misi rahasia. Jenderal Obool merasa tidak senang, bukankah mereka ini para jenderal dan pemimpin, apanya yang harus dirahasiakan dari mereka? Keduanya sangat kesal dan tidak mengerti dengan tindakan Ho-gae …

Tiba-tiba …

Terdengar suara terompet menandakan kedatangan tamu, siapa gerangan? Ternyata utusan dari Damdeok yang membawa perintah Raja untuk Ho-gae. Jenderal B bertanya pada utusan Damdeok, apakah itu benar? Mereka telah mendengar kalau Yang Mulia telah merebut Gwanmiseong hanya dengan 4 ribu orang saja. Tidakkah itu hanya gosip dan bukan yang sebenarnya? Sang utusan mengatakan dengan bangga kalau ia juga mendapat kehormatan untuk ikut dalam peperangan mendampingi Raja pada saat itu.

Jenderal Obool: Yang Mulia turun ke medan pertempuran? Si pengecut itu ada dimedanpertempuran?

Utusan: 3 ribu pasukan kami gagal dalam penyerbuan pertama ke Gwanmiseong. Kami kehilangan sekitar 600 orang dalam pertempuran itu. Tapi pada malam itu, Yang Mulia memasuki Gwanmiseong seorang diri. Dia dengan kedua tangannya sendiri berhasil membuat Penguasa Gwanmiseong menyerah padanya.

Jendral Obool: (menggelengkan kepalanya tak percaya) Kau pasti berbohong. (Ia membalikkan tubuhnya)

Utusan Damdeok merasa tersinggung dan akan menghunuskan pedangnya namun Jenderal B dapat menahannya.

Jenderal B: Oh hoh .. jangan lakukan itu ..

Jenderal Obool dan si utusan saling berpandangan dengna mata berapi-api …

Sementara itu, anakbuah Joomochi yang berkuncir menyebarkan berita mengenai pertempuran yang dilakoni Raja mereka di wilayah Baekjae, dimulai dari Sukhyunseong sampai bisa merebut Gwanmiseong. Dan memberitahu kalau ternyata Penguasa Gwanmiseong memiliki Simbol Chung Ryong. Semua prajurit sangat bersemnagat mendengar kisahnya, karena ini berita baru bagi mereka … Si kuncir melihat mata-mata Geo-mool yang ada di pasukan Ho-gae, dan dengan alasan sakit perut ia segera pergi dari para prajurit yang mengerumuninya ingin mendengar kisah Raja mereka.

Mata-mata Geo-mool memberitahu si kuncir kalau Komandan Ho-gae pergi mencari Simbol Baekho. Si kuncir lalu bertanya apakah si mata-mata melihat Ba Son dan Dalbee, yang dijawab kalau mereka berdua juga ikut dengan Komandan Ho-gae. Hal ini membuat si kuncir menjadi pusing tujuh keliling, karena ia ditugaskan untuk mencari berita mengenai Dalbee, yang telah menjadi bunga malam di mimpi pimpinannya, Joomochi ^^

Perkemahan Pasukan Elite Khusus Ho-gae, Khitan

Seorang anggta Geo-mool dengan seekor Burumsae di tangannya, mengawasi perkemahan dari jauh.

Di dalam tenda tawanan, Ba Son dan Dalbee sedang makan .. Ba Son memuji kalau Ho-gae bukanlah seorang yang sepenuhnya jahat karena memberikan mereka makanan yang layak bahkan cukup enak. Dalbee mengatakan kalau memang dari muda Tuan Ho-gae nya seorang yang baik pada semua orang, bahkan juga pada para pelayannya. Ba Son menyeletuk, inilah yang dinamakan serigala berbulu domba.  Ho-gae yang sekarang, yang suka membunuh rakyat yang tak berdosa adalah pribadi Ho-gae yang sebenarnya. Tiba-tiba tenda terkuak dan Ilsuh menjemput Ba Son karena Ho-gae ingin berbicara dengannya. Dalbee meminta Ba Son untuk mengatakan semua yang ia tahu. Ba Son mengiyakannya.

Ba Son dihadapkan pada Ho-gae ..

Ho-gae: Apakah kau pernah melihatnya?

Ba Son: Apa?

Ho-gae: Raja Goguryeo, Damdeok, adalah pimpinan kalian, benar bukan? Apakah kau pernah melihatnya?

Ba Son: Aigoo tentu saja! Ia bahkan datang ke bengkel pandai besiku. Pertama aku tidak tahu siapa dia. Kedua kalinya ia berkunjung dengan membawa Pasukan Pengawal Kerajaan, dari situlah aku menyadari siapa dirinya …

Ho=gae: (memotong) Dia datang sendiri? Raja Goguryeo datang sendiri ke bengkel pandai besi?

Ba Son: Memang benar, itulah yang ia lakukan.

Ho-gae: Apa yang ia katakan?

Ba Son: Apa? (Ho-gae menatapnya tajam) Ah … maksudmu apa yang ia katakan padaku? Aku masih mengingatnya dengan jelas! Kata-katnaya persis seperti ini: “Kami akan segera pergi kemedanpertempuran. Bisakah kau membantuku untuk melndungi orang-orangku? Guru Hyon-go mengatakan kalau kau mungkin bisa membantuku, maukah kau melakukannya?”

Ba Son tersenyum lebar saat mengingat kejadian itu tapi segera menghilangkan senyumnya saat mellihat tatapan yang diberikan Ho-gae padanya.

Ho-gae: Jadi itulah mengapa kau bersedia membantunya? Karena itulah kau membuatkan baju pelindung yang sangat revolusioner, yang tidak hanya ringan tapi juga kuat dan juga panah Makgoong, yang dapat melesat lebih jauh daripada yang lainnya?

Ba Son: (gugup) Jadi begitulah .. itulah mengapa ..

Ho-gae: Kalau begitu kakak lelakimu, panah dan juga baju pelindung itu, ia dapat membuatnya juga, khan?

Ba Son:  Erhm .. mungkin hasilnya masih kurang bagus dibandingkan milikku, tapi tetap saja …

Ho-gae mengambil alat-alat pertanian dan melemparkannya di depan Ba Son yang terkejut ..

Ho-gae: Mereka katakan ini tidak berkarat meskipun sudah bertahun-tahun lamanya. Bahkan ada perkataan kalau semua petani bermimpii mendapatkan peralatan ini.

Ba Son dengan ragu-ragu mengulurkan tangannya dan mengambil satu alat pertanian, memeriksanya. Ho-gae perlahan-lahan berlutut di sampingnya ..

Ho-gae: Periksalah dengan seksama, Apakah itu adalah keahlian kakakmu?

Ba Son menangis saat memgamati alat pertanian itu … Ho-gae segera tahu jawabannya, ia berdiri dan bertanya pada Ilsuh

Ho-gae: Di mana orang yang telah membuat alat-alat ini?

Ilsuh: Dia ada di desa Khitai. Desa itu terletak di wilayah terpencil yang akan memakan waktu beberapa hari lamanya.

Akhirnya …. Setelah belasan desa ia hancurkan, ratusan orang yang ia bunuh, puluhan hari yang ia lalui, demi seorang pandai besi ia telah menghabiskan terlalu banyak hal … Kini ia mulai mendekati hasil yang ia cari selama ini …

Gooknaeseong

Di Aula Istana, para anggota Dewan Istana menanti Raja. Huk-gae menyindir mereka semua …

Huk-gae: (berseru) Apakah kalian semua sehat-sehat saja? Aku mendengar berita saat menuju kemari. Kalian semua sudah melakukan huru-hara di Istana dan akhirnya menyebabkan kekacauan..  (Huk-gae tertawa puas)

Chojodo: (kesal) Banyak orang yang mati dan terluka. Jadi kumohon agar kau tidak tertawa keras-keras …

Huk-gae: (justru teertawa dengan lebih keras, dan membentak) Aku, Huk-gae, hampir menari gembira saking girangnya. Teman-temanku yang mengira kalau aku sudah menjadi buta, tuli, dan gila akhrinya bersedia menyerahkan nyawa mereka demi Goguryeo. Bukankah itu adalah kesempatan yang menggembirakan hati? (pada Yeon Garyeo) Tidakkah kau berpikir demikian Perdana Menteri Yeon? (Huk-gae menghamprii Yeon yang duduk) Tapi lihatlah sekarang … (membungkuk) Tuan Yeon kehilangan kesempatan untuk menyerahkan nyawanya demi Goguryeo. Apakah itu sebabnya sehingga wajah Tuan Yeon seperti ini?

(berdiri tegak dan sedikit pongah, pada Gam Dong) Apakah Yang Mulia ada di dalam? Aku punya banyak hal yang harus dilaporkan pada Yang Mulia. Aku harus melaporkan apa yang terjadi di benteng-benteng yang lain … (tiba-tiba teringat sesuatu) Oh ya aku baru ingat … (mengambil Segel Perdana Meneri dari sakunya, lalu menggoyang-goyangkannya di hadapan Yeon) Segel Perdana Menteri! Bukankah ini adalah milikmu? (Huk-gae kemudian memasukkannya kembali ke saku, berbalik ke Gam Dong) Kapan Yang Mulia akan datang?

Gam Dong: Yang Mulia saat ini sedang mengadakan pertemuan dengan utusan dari Shilla. Setelah itu ia akan bertemu dengan para utusan dari negara-negara lain dan tak ada waktu kosong sampai matahari terbenam.

Huk-gae: (membalikan tubuhnya, pada Chojodo) Dia berkata kalau Yang Mulia sedang sibuk.

Chojodo: Kami tetap akan menunggu di sini.

Huk-gae menoleh pada Yeon Garyeo, yang hanya diam saja, yang berarti membenarkan perkataan Chojodo …

Catatan: Andy: Sori ga tahan lagi, ingin menambah sedikit … ehhehe😛 …

Kenapa sampai Kepala Suku Soonno akhirnya bertanya lagi “apakah kau yang membunuh anakku?” pada Damdeok? Bukankah mereka sudah mengetahui dengan mata kepala sendiri kalau Damdeok ada di tempat anak-anak mereka terbunuh? Bukankah itu sudah cukup menjadi bukti? … mungkin itulah pikiran mereka sebelumnya, mengira kalau Damdeok demi menjadi Raja bersedia menghalalkan segala cara bahkan membunuh anak-anak mereka.

Tapi semuanya mulai berubah ketika mereka semua melihat dengan mata kepala mereka sendiri kalau Damdeok membuang – benar-benar membuang – TIGA SIMBOL DEWA … yang dianggap sebagai benda suci dan menjadi bukti kalau dirinya adalah Raja Jyooshin. Damdeok sama sekali tak menganggap TIGA SIMBOL DEWA lebih berharga daripada nyawa mereka. Bukankah ini artinya Damdeok adalah orang yang menghargai nilai nyawa mereka lebih tinggi daripada SIMBOL DEWA?

Jadi apakah orang ini, yang rela menukarkan SIMBOL DEWA (yang dianggap semua orang sebagai benda suci dan tak ternilai harganya)  demi menyelamatkan nyawa orang lain, benar-benar akan membunuh seseorang demi ambisinya untuk menjadi seorang Raja?

Apakah mungkin orang yang melepaskan Tiga Simbol Dewa, yang dianggap sebagai bukti kalau seseorang adalah Raja Jyooshin, demi menukarnya dengan nyawa manusia biasa adalah orang yang akan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya?

Saat itulah semua orang menyadari kebenarannya ….

32 comments on “The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 17

    • aku ngebut .. jadi ga ambil capture videonya, kalo sama gambar, paling tidak aku butuh 2-3 hari buat lengkapin sinopsisinya. Ini lagi balapan dengan LBS … ^^

  1. Bagus bgt sinopny, lengkap & akurat..serasa nonton.. Dnger2 akhr critany sad ending y..? Ksih bocoran dikit dong yg tau..
    Ditunggu klanjutanya.. Ga pa2 gambrny entar ja lo udah slesai sinopny..

  2. wow keren bnget, jadi pengen buru” baca endingx nhe…!
    siapa she yg jdi kekasih sejatix damdoek, soojine ataw kiha..????

  3. mas andy kayakny punya bakat jd penulis…ada minat dlm hal tulis menulis gk?? Ah never mind yg pnting d tgu klanjutnny..penasarn euy

  4. Aku penasaran banget nih ama kelanjutannya. Tolong lanjutin donk sinopsisnya.
    Sebenernya aku bisa nonton sih di LBS, cuma baru episode 11 sekarang. Nungguinnya kelamaan.
    Sempet iseng ke mangga2 cari dvd-nya tapi dah jarang ada. Muter2 gk nemu.

    Yang semangat ya kak. Soalnya aku suka banget drama beginian. Beberapa saeguk yg udh aku tonton, Queen Seon Deouk, Jumong, Iljimae, Seodong Yo, Great Merchant, Dong Yi, sama film di Indosiar dulu lupa judulnya apa. Yg kisah dokter wanita pertama di korea tuh. Semua film2 di atas ampe sekarang masih inget tuh. Tapi aku sendiri sih paling suka Iljimae.🙂 *malah curcol*

    Lanjut ya kak🙂

  5. Makasih ya kk sinopsisnya.

    Tetap semangat, kalo bisa sih yg ini prioritas deh.

    Aku nungguin LBS kelamaan. Sekarang aja baru eps 11. Kalo baca sinopsisnya dulu kan lbh asik.

    Ditunggu kelanjutannya ya kk🙂

  6. emang sih takdir itu kejam tp dibalik kekejaman takdir tu ada sesuatu yg baik dan indah makanya kita gk boleh lari dari takdir hadapilah itu sesuai kemampuanmu karena tuhan telah menyusun takdir”mu dengan rapi dan sesuai urutan……:D

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s