King Gwanggaeto The Great – Episode 01

PROLOG

Damdeok sedang duduk di kursi takhtanya, menjulurkan tangannya, ragu-ragu sejenak antara memilih tombak atau pedang, tapi kemudian ia meraih pedang di sampingnya dan menghunuskannya keluar …

Damdeok: Aku adalah Damdeok, Raja Goguryeo. Aku bertempur dalam banyak peperangan di hidupku. Banyak penyerbu yang mati dengan pedangku ini. Banyak raja dari negara-negara musuh yang berlutut di hadapan pedang ini.

Aku menginginkan kedamaian, tapi aku harus berperang dengan musuh-musuh yang menyerang Goguryeo. Aku tak bisa membiarkan mereka menyerang Goguryeo lagi. Aku tak dapat membiarkan mereka membuat rakyatku menderita lagi. Aku berusaha membuat Goguryeo menjadi kuat.

Aku hanya memikirkan Goguryeo.Ada banyak percobaan dan kesukaran. Tapi aku tetap melangkah maju demi rakyatku.

Jangan sebut aku sebagai Raja yang hanya ingin memperluas wilayahnya. Aku jutru berusaha untuk memperluas masa depan Goguryeo dan juga impian dari rakyatku.

Bagi setiap orang yang menjadi rakyat Goguryeo dan ingin hidup dalam damai.

Bagi setiap orang yang merasa bangga menjadi keturunan dari Goguryeo.

Itulah takdirku … Dan aku tetap akan mengikuti takdirku ini meskipun nantinya aku terlahir kembali.

 ——————————————-

Zhongsan, Ibukota Houyan.

* Kekaisaran Houyan [Yan Akhir] adalah salah satu kerajaan di antara Enam Belas Kerajaan di masa Dinasti Jin Timur, Tiongkok.

Suara tambur bergema di pagi hari …

Para prajurit bebaris rapi dengan perlengkapan terbaik mereka … mengikuti seremoni di halaman Istana.

Seorang pria dengan baju perang putih perak maju ke depan Kaisar Houyan, Murong Chui, dan memberi hormat padanya.

Kaisar bangun berdiri, mengambil sebuah pedang dari talam beludru kemudian mengangkatnya …

Kaisar Murong Chui: (berseru) Aku menganugerahkan semua kekuasaan kepada Pangeran Mahkota untuk mengalahkan Goguryeo dan memerintah dunia!

Kaisar kemudian mengulurkan pedang itu pada pria yang ada di hadapannya, Pangeran Mahkota segera maju dan mengambil pedang itu dengan rasa hormat. Wajahnya tampak bertekad bulat.

Murong Bao: Aku mematuhi perintah Paduka!.

Murong Bao kemudian membalikan tubuh dan menghunuskan pedangnya kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi …

Murong Bao: (berseru) Aku, Murong Bao, Pangeran Mahkota Houyan, bersumpah kepada Langit! Aku pasti akan mengalahkan Goguryeo! Dan aku akan memenggal kepala semua Raja Goguryeo!

Kaisar memandang Pangeran Mahkota denngan bangga dan puas.

Murong Bao: (berseru) Mari kita berperang! Mari kita berperang!

Semua prajurit menghentakkan kaki dan menggerakkan tangan mereka ke atas dalam gegap gempita membalas seruan peperangan dari Murong Bao.

Di jalanan Zhongsan …

Rakyat menyerukan kebanggaan mereka saat Pangeran Murong Bao dan pasukannya melewati jalan raya.

Seseorang terpelajar melihat semua ini dengan pandangan tajam dan sedikit khawatir di matanya. Ia adalah Ko Un, anak dari Menteri Kepala Goguryeo, Gae Yeongsu.

Tiga orang datang dengan penuh waspada, mengawasi ke sekeliling mereka. Ketiganya menemui  Ko Un.

Ko Un: Apakah kalian berhasil mencari tahu?

Pria A: Ya. Kelihatannya ada sekitar 3 ribu pasukan berkuda dan 10 ribu pasukan infantri. Dan melihat kalau Murong Bao sendiri yang memimpin maka pasukan ini cukup lemah.

Ko Un segera ke belakang salah satu kereta barang, mengambil kertas dan alat tulis untuk menulis surat pada ayahnya ..

Suara Ko Un: Ayah, ini aku Ko Un, Pasukan Houyan baru saja meninggalkan Zhongsan, ada sekitar 10 ribu pasukan infantri dan 3 ribu pasukan berkuda …

Tiba-tiba ..

Tiga orang prajurit memergoki kelompok Ko Un, Ko Un segera menyelipkan surat itu ke balik bajunya, dan memberi hormat pada ketiga prajurit ..

Kapten: Siapa kalian …

Ketiga prajurit itu menghunuskan pedang mereka dan mengancam Ko Un serta rekan-rekannya.

Ko Un:  (berpura-pura gugup) Kami adalah pedagang yang menuju ke Dongjin dan kami didesak oleh waktu.

Ko Un mengulurkan tangannya, berusaha menyuap dengan dua keping perak tapi pemimpin prajurit itu menolak bahkan menepis tangan Ko Un sehingga kepingan perak itu terjatuh ke tanah. Ia kemudian memberi tanda pada kedua rekannya untuk menggeledah. Sebuah sangkar  berisikan dua ekor burung ada di atas salah satu kereta. Ko Un takut mereka curiga.

Ko Un: Membiakkan burung menjadi suatu tren hari-hari ini.

Ko Un kembali berusaha menyuap tapi si kapten menepis tangan Ko Un lagi. Kali ini seorang prajurit menemukan sangkar yang berisikan dua ekor merpati pos.

Prajurit Houyan: Ada merpati pos di sini.

Kapten: Apa? Merpati pos?

Si kapten berusaha memeriksa tapi Ko Un dan rekan-rekannya segera membuat ketiganya tak berkutik. Ko Un mengancam si kapten dengan pisau di lehernya.

Ko Un: Ke arah mana perginya pasukan ini?

Kapten: Tak tahu!

Ko Un memberi tanda pada seorang rekannya, yang langsung membunuh prajurit yang ia tawan. Ko Un kemudian mendekatkan pisau ke leher si Kapten

Kapten: (ketakutan) Para prajurit yang pergi sekarang hanyalah untuk pengalihan.

Ko Un: Pengalihan?

Kapten: Mereka mencoba untuk menipu mata Goguryeo sehingga mengira kalau jumlah pasukan mereka kecil. (Ko Un dan rekan-rekannya terkejut) Sejumlah 100 ribu orang sudah melintasi perbatasan.

Ko Un: (terkejut setengah mati) 100 ribu katamu? 100 ribu sudah melintasi perbatasan?

Kapten: Benar … Kumohon …Kumohon padamu … ampuni aku.

Tapi Ko Un tak mau menanggung resiko dipergoki lagi, ia segera memotong tenggorokan si Kapten yang langsung jatuh lunglai.

Ko Un dan yang lain mendorong gerobak mereka dengan tergesa-gesa … Wajah Ko Un tampak sangat cemas …

Narasi: Di tahun 342, Murong Huang menginvasi Goguryeo. Makam Raja Micheon digali dan jenazahnya diambil. Karena alasan itulah Goguryeo memiliki dendam terhadap orang-orang Xianbei.

 Anak Murong Huang, Murong Chui mendirikan Kekaisaran Houyan. Goguryeo dan Houyang berperang memperebutkan Dataran Tengah. Murong Chui sangat ingin mengalahkan Goguryeo karena ayahnya tidak mampu melakukannya. Ia membangun pasukan yang sangat besar dan menyerang Goguryeo.

Benteng Yodong

Prajurit: (berseru) Sinyal api … ada sinyal api dari arah Benteng Gaemo!

Jenderal Ko Mu, anak gadisnya  dan beberapa pengawalnya bergegas menemui si prajurit.

Jenderal Ko Mu: Di mana itu?

Si prajurit mengarahkan jarinya ke arah gunung jauh di depan, Jenderal Ko Mu mengamatinya dan melihat benar ada sinyal api dari sana… Semua orang terkejut melihat sinyal asap itu dan merasa cemas.

Goongnaeseong, Ibukota Goguryeo

Sekelompok prajurit berkuda memacu kuda mereka memasuki Goongnaeseong membawa pesan dari perbatasan.

Pertemuan darurat segera dilakukan, Raja memanggil semua pejabat dan menteri  …

Raja Gogookyang: (terkejut)  Apa? Pasukan Houyan telah melintasi perbatasan?

Menteri A: Benar Yang Mulia,  saat ini Gaemoseong sedang diserang.

Raja Gogookyang: Bagaimana dengan kerusakannya? Dan berapa jumlah pasukan musuh?

Menteri Yeo Soi: Menurut sumber kami, hanya ada 20 ribu prajurit. Kita punya lebih dari 50 ribu prajurit di Barat Laut. Mereka pasti dapat mengalahkan pasukan musuh.

Tiba-tiba …

Kepala Kementrian Gae Yeongsu muncul ….

Gae Yeongsu: (berseru) Bukan 20 ribu! Mereka berjumlah sekitar 150 ribu orang!

Semua orang terkejut dan saling berkasak-kusuk satu sama lain, tidak percaya kalau Houyan mampu menggerakakn prajurit sebegitu besarnya.

Gae Yeongsu: (memberi hormat pada Raja) Yang Mulia, jumlah mereka ada 150 ribu dan Pangeran Mahkota Murong Bao sendiri yang memimpin mereka.

Yeo Soi: Yang Mulia itu tidak masuk akal! Jumlah mereka tidak mungkin lebih dari 20 ribu orang. Mata-mata kita di Houyan juga mengatakan hal yang sama.

Gae Yeongsu: Itu adalah rencana mereka untuk membuat kita tak waspada. Anakku tak pernah sekalipun memberikan pesan yang salah!

Yeo Soi melihat ketegasan Gae Yeongsu menjadi ragu-ragu …

Gogookyang: (nada cemas) Kalau begitu … adakah cara untuk menghentikan mereka?

Gae Yeongsu: Mereka datang dengan jumlah yang sangat besar, kita tak akan dapat menghadapi mereka jika kita tercerai berai. Berikanlah perintah pada para penguasa daerah di wilayah Barat Laut sekarang juga. Perintahkan mereka untuk mengirimkan pasukan bantuan ke Yodongseong.

Gogookyang: (heran) Yodongseong?

Gae Yeongsun: Benar, Yang Mulia! Bahkan pasukan Houyan tak dapat maju lebih jauh sebelum melewati Yodongseong. Yodongseong akan menjadi medan pertempuran yang menentukan!

Gogookyang: Menteri Kepala benar! Menteri Pertahanan Yeo Soi akan mengirimkan perintah kepada penguasa daerah: “Kirim pasukan bantuan ke Yodongseong secepatnya!”

Yeo Soi: Baik, Yang Mulia.

Yeo Soi bangkit berdiri dan akan pergi, namun terdengar seruan memanggil Yang Mulia.

Jenderal A: (berlari masuk ke dalam ruangan) Yang Mulia …Adapesan mendesak dari perbatasan Utara.

Gogookyang: Pesan mendesak apa?

Jenderal A: (berseru) Yang Mulia, Hyeondoseong … Hyeondoseong telah direbut!

Gogookyang: (terkejut setengah mati) Apa? Hyeondoseong?

Semua orang tanpa kecuali sangat terkejut mendengar Benteng Hyeondo telah direbut musuh dengan begitu cepat.

Wilayah Hyeondoseong …

Sekelompok pasukan berkuda dipimpin Jenderalnya memacu kuda mereka dengan cepat, meninggalkan benteng yang terbakar di belakang. Tapi Jenderal Ko Chang masih berat dan berhenti untuk mengawasi Hyeondoseong.Paraprajurit mendesak sang Jenderal untuk segera bergegas pergi. Si Jenderal ragu-ragu tapi kemudian terdengar suara para pengejar mereka. Sang Jenderal mau tak mau menggebah kudanya lagi dan segera pergi meninggalkan para pengejarnya. Pimpinan pasukan pengejar itu adalah Murong Bao.

Jenderal Ko Chang terus memacu kudanya melewati hutan tapi tiba-tiba beberapa batang tombak dilemparkan dan menancap di hadapannya, membuat Jenderal Ko Chant terkejut sehingga menghentikan kudanya. Pasukan penyergap turun dari pohon dan mengepung Jenderal Ko Chang dan anak buahnya sementara Murong Bao dan pengiringnya tiba di tempat itu.

Jenderal Fengba: (mengancam leher Ko Chang dengan pedang) Apakah kau Ko Chang, anak Penguasa Benteng Yodong, Ko Mu?

Ko Chang: (berteriak) Kau! Jangan menghinaku lagi! Bunuh saja aku sekarang!

Murong Bao: (tertawa menghina) Dia ingin mati, kabulkan saja keinginannya!

Jenderal Fengba: (ragu-ragu) Tapi dia adalah anak dari Penguasa Benteng Yodong. Kita masih bisa memanfaatkannya.

Murong Bao: (tersinggung) Apa? (memukul kepala Jenderal Fengba) Kau pikir aku tidak punya kemampuan sehingga harus menyandera anak dari Penguasa Yodongseong?

Jenderal Fengba: …

Muraong Bao: (menunjuk pada Ko Chang) Cepat bunuh dia sekarang juga!

Jenderal Fengba: (memberi hormat) Baik, Pangeran.

Ko Chang memandang Murong Bao dan Jenderal Fengba dengan pandangan benci. Jenderal Fengba mengangkat pedangnya dan akan mengayunkannya, Ko Chang menutup matanya dan menerima nasibnya ketika …

Tiba-tiba …

Sebatang anak panah melesat menembus tubuh seorang prajurit Houyan, semua orang terkejut dan Jenderal Fengba menghentikan pedangnya, menoleh ke sumber suara …

Sepasukan berkuda berderap menghampiri tempat itu, dan tampak seorang pemuda gagah berkuda paling depan. Kou Chang memandang mereka dengan pandangan bersinar penuh harap … Pasukan bantuan telah tiba! Sedangkan Murong Bao dan pasukan Houyan menjadi terkejut.

Pemuda tadi mengangkat busurnya, mengambil dua anak panah, dan langusng melepaskannya ke arah pasukan Houyan, menyebabkan dua orang tewas seketika itu juga.

Pemuda itu melompat turun dari kuda dan mendarat di dekat tombak-tombak yang menancap di tanah, yang tadi dilemparkan oleh para pasukan penyergap Houyang. Ia mengambil tombak-tombak itu dan bergantian melontarkannya ke arah pasukan Houyan. Beberapa orang tertembus oleh tombak dan tewas. Pasukan Houyang kalut, pemuda tadi segera menghunuskan pedangnya saat ia kehabisan tombak yang bisa dilemparkan, dan menyerang Murong Bao, yang mundur-mundur terus.

Sepasukan prajurit Goguryeo menyusul pemuda tadi, yang berdiri dengan posisi pedang tegak lurus.

Murong Bao: (terengah-engah, jantungnya masih berdebar kencang) Kau sungguh ahli dalam memainkan pedang! Darimana asalmu?

Pemuda misterius: Aku adalah Jenderal hantu yang melindungi Goguryeo! (menggerakkan pedangnya ke arah pasukan Houyan) Aku akan membuat kalian semua menjadi hantu-hantu! Ayo!

Pemuda misterius tadi segera berlari paling depan untuk menyerang pasukan Houyan. Pertempuran sengit segera terjadi antara Pasukan Houyan yang dipimpin oleh Murong Bao melawan si pemuda gagah misterius tadi.

Murong Bao dan si pemuda misterius bertarung satu lawan satu. Pada awalnya nampak seperti Murong Bao mampu bertarung seimbang dengan si pemuda misterius, namun setelah beberapa saat, tampak kalau si pemuda misterius itu lebih unggul dan berhasil mengenai baju pelindung di bagian pinggang Murong Bao, yang kemudian terjatuh. Murong Bao tidak terluka namun Jenderal Fengba sangat khawatir. Jenderal Fengba segera menyerang si pemuda misterius dan berseru pada prajurit lainnya untuk melindungi Pangeran Mahkota. Beberapa orang segera melindungi Murong Bao.

Pemuda Misterius: (mundur) Pangeran Mahkota? (mengarahkan pedang pada Murong Bao) Aku akan memenggal kepalamu untuk menebus kesalahanmu karena telah menyerang Goguryeo!

Murong Bao: (sangat marah) Kau! Beraninya kau!

Pemuda misterius: Aku akan menunjukkan padamu betapa menakutkannya pedangku ini!

Jenderal Fengba: (tidak terima tuannya dihina!) Sungguh kurang ajar kau!

Jenderal Fengba segera maju menyerang si pemuda misterius, yang menghindarinya dan beberapa orang lainnya, kemudian si pemuda misterius menyerang Murong Bao langsung. Murong Bao berusaha membela dirinya namun kalah unggul sehingga terjatuh dalam posisi duduk. Si pemuda misterius mengayunkan pedangnya, bermaksud memenggal kepala Murong Bao, namun hanya terkena pelindung kepalanya sehingga tergores begitu dalam. Murong Bao sendiri tidak apa-apa, tapi wajahnya sangat pucat. Jenderal Fengba dan beberapa orang segera menarik berdiri Murong Bao.

Pemuda misterius: (mengarahkan pdang pada Murong Bao) Apakah kau akan bersembunyi di balik anakbuahmu?

Jenderal Fengba dan yang lain tersinggung dan sangat marah.

Jenderal Fengba: Tunjukkan rasa hormatmu! Dia adalah Pangeran Mahkota!

Pemuda misterius: (pada Jenderal Fengba) Aku tak mau bertarung denganmu! Minggirlah dari jalanku!

Sementara itu dalam pertempuran antara pasukan Houyan dan Goguryeo, nampaknya kemenangan tidak berpihak pada Houyan karena banyak prajurit Houyan yang terbunuh … Jenderal Fengba tahu kalau mereka tidak segera pergi dan menunda lebih lama lagi maka bisa-bisa terkepung oleh pasukan Goguryeo.

Jenderal Fengba: (pada yang lain) Apa yang sedang kalian lakukan! Bawa pergi Pangeran Mahkota dari sini secepatnya!

Prajurit Houyan segera mundur dengan membawa Pangeran Mahkota Murong Bao. Jenderal Fengba sebelum pergi menoleh ke pemuda misterius.

Jenderal Fengba: Aku pasti nanti akan memenggal kepalamu! (Ia bertgegas pergi menyusul yang lain)

Pemuda misterius itu hanya mengawasi kepergian pasukan Houyan, kemudian ia segera menghampiri Kou Chang yang duduk bersender pada sebuah pohon.

Pemuda misterius: Paman! Paman!

Ko Chang: (membuka matanya, napas berat) Aku tidak apa-apa! Tapi dengan direbutnya Hyeondoeong maka kita harus mundur ke Yodoseong. Cepat!

Pemuda misterius itu segera membantu pamannya bangun dan pergi menuju ke Yodongseong.Paraprajurit yang lain segera mengikuti keduanya.

Parapengungsi dan prajurit dari Hyeondoseong berduyun-duyun datang ke Yodongseong.  Jenderal Ko Mu turun tangan sendiri menemui para pengungsi dan berusaha memberikan semangat dan penghiburan. Ia lalu melihat Ko Chang sedang dipapah oleh si pemuda misterius, diikuti oleh para prajurit.

Seorang gadis menghampiri Ko Chang, cemas dengan keadaannya ….

Anak gadis Ko Mu: (cemas) Kakak!

Ko Chang: Aku tidak apa-apa! Jangan khawatir!

Jenderal Ko Mu menghampiri mereka, Ko Chang segera memberikan hormat dengan mengepalkan tangannya dan memukulnya ke dada, kemudian ia berlutut di hadapan Jenderal Ko Mu.

Ko Chang: (nada sedih dan menyesal) Aku tak dapat mempertahankan benteng Hyeondo, Komandan. Kumohon kau membunuhku saja!

Ko Mu tampak menahan perasaannya … Benteng memang telah jatuh ke tangan musuh, namun anaknya dan jenderal lainya beruntung bisa selamat …

Ko Mu: (pada seorang jenderal bawahannya) Bagaimana status musuh kita?

Jenderal B: Mereka telah menyusun formasi yang sempurna dan sekarang  mereka sedang berencana untuk mengepung Yodongseong! Jumlah mereka sekitar 50 ribu prajurit dan berada sejauh 4 km dari sini.

Ko Mu: (berpikir) 50 ribu …

Tiba-tiba …

Jenderal C: (berseru) Komandan …

Ko Mu menoleh dan melihat si Jenderal C dan yang lainnya tergesa-gesa menuju ke arahnya.

Jenderal C: Komandan, Pasukan bantuan dari Baegamseong dan Ansiseong telah disergap tiba-tiba.

Semua orang terkejut dan merasakan kekecewaan yang besar …

Ko Mu: Target mereka adalah Yodongseong! Mereka ingin mengisolasi Yodongseong! Kita harus mempertahankan benteng dan menyiapkan serangan balik! Jika kita tak bisa mempertahankan benteng ini maka Goongnaeseong akan berada dalam bahaya besar!

Tiba-tiba …

Seorang perwira berlari tergesa-gesa memberitahukan kalau musuh telah datang!

Ko Mu dan yang lainnya terkejut mendengar itu dan segera bergegas ke artas benteng untuk melihat situasi. \

Di luar benteng nampak lautan manusia … puluhan ribu pasukan Houyan telah datang tepat di depan benteng Yodongseong!

Ko Mu dan yang lainnya terperangah melihat jumlah mereka yang begitu besar …

Murong Bao memberikan tanda, dan Fengba serta beberapa orang prajurit berberndera putih maju ke depan pintu gerbang Yodongseong.

Fengba meminta Penguasa Yodongseong agar menyerah jika mau hidup, karena benteng Yodong telah terkepung dan tak ada jalan keluar. Seorang jenderal menjawab kalau mereka tak akan menyerah walaupun sampai mati. Tapi Fengba bertanya apakah mereka tak mempedulikan nyawa rakyat yang tak bersalah, yang akan mati karena mereka? Tapi Ko Mu dan yang lain tak bergeming. Pemuda misterius itu memperingatkan Fengba untuk segera membawa pasukannya pergi, dan memanah tepat di pelindung kepalanya, kemudian memanah sekali lagi, kali ini tiang bendera putih dipatahkannya. Semua orang terkejut melihat kemampuan si pemuda misterisu. Itu adalah peringatannya yang terakhir, demikian kata si pemuda misterius, jika mereka tak segera mundur dan pulang maka ia kana memastikan kalau tak seorangpun dari pasukan Houyang yang akan kembali.

Murong Ba sangat marah dan merasa terhina, ia bertekad untuk merebut Yodongseong apapun harganya sebelum Kaisar Houyan tiba. Murong Ba segera memerintahkan pasukannya untuk menyerang Yodongseong.

Tambur dibunyikan, pasukan Houyan segera bergerak untuk menyerang … Jenderal Ko Mu segera memerintahkan pasukannya untuk menempati posisi mereka dan bersiap-siap mempertahankan benteng.

Fengba memberikan tandanya dan beberapa pelontar batu (catapult) segera melepaskan batu-batu berapi, menyebabkan kerusakan yang cukup besar di dalam benteng, beberapa bagian benteng ambrol dan banyak prajurit terbakar. Murong Bao tertawa senang …. 1-0

Si pemuda misterius segera memerintahkan untuk melepaskan panah.Parapemanah mengambil posisi mereka dan mencari target kemudian melepaskan panah mereka. Banyak pasukan Houyan yang tewas karenanya.

Fengba melihat situasi tidak menguntungkan pasukannya segera memerintahkan pasukan berperisai untuk maju. Panah panah dari pasukan Yodongseong menancap pada perisai tak dapat menembusnya. Si pemuda misterius segera memerintahkan untuk memanah dengan melambungkannya ke atas pasukan berperisai.  Taktik ini berhasil dan banyak prajurit berperisai yang tewas. Tapi Fengba tak kekurangan akal, ia memiliki strategi yang cukup jitu. Fengba memerintahkan untuk memanah, dan para pemanah Houyan, yang ternyata brsembunyi di balik perisai, berhasil membunuh para pemanah Yodongseong. Murong Bao kembali tertawa senang … 2 – 0

Fengba mengeluarkan perintahnya lagi, dan sepasukan prajurit membawa tangga tinggi maju ke depan tembok Yodongseong.

Bendera merah dikibarkan, beberapa prajurit elite, dengan perlengkapan besi kuat di seluruh tubuhnya, diangkat naik dengan menggunakan bambu berbentuk seperti enggrang. Pasukan elite ini menyerang dan membunuhi para prajurit Yodongseong dari atas bambu sebaliknya prajurit Yodongseong tak dapat melukai mereka karena perlekngkapan mereka dari besi kuat.Paraprajurit Houyan melihat kesempatan baik ini dan segera menegakkan tangga dan menaikinya. Ko Mu berteriak pada pasukannya untuk tetap tenang.

Seorang jenderal segera memerintahkan para prajurit Yodongseong untuk mematahkan bambu yang dinaiki pasukan elite Houyan. Beberapa prajurit Yodongseong bahkan menggunakan batu dan gelondongan kayu untuk mematahkan serangan pasukan elite Houyan dan pasukan lainnya yang menaiki tangga. Murong Bao terkejut dan geram … hehe … 2-1

Seorang Jenderal Houyan memerintahkan agar battering ram untuk maju dan mendobrak pintu benteng.

* Battering Ram … hehehe yang sering main game perang mungkin dah tahu makhluk jenis apa ini ^^ itu adalah sebatang gelondongan kayu besar, dengan dipasangi besi pada ujungnya, yang digantung sedemikian rupa di atas sebuah kereta besar beroda empat beratapkan papan kayu untuk melindungi mereka dari panah, biasanya digunakan untuk menggempur gerbang benteng.

Beberapa orang mendorong battering ram dan mendekatkannya di pintu gerbang Yodongseong, kemudian mulai menggempur pintu gerbang itu.

Ko Mu menjadi terkejut, ia segera memerintahkan para prajurit untuk menuang minyak ke atas battering ram itu dan memanahnya dengan panah api sehingga berkobar. Tapi sangat disayangkan, atap papan kayu itu bisa menahan semuanya dengan cukup baik. Gempuran ke pintu benteng masih belum berhenti.

Si pemuda misterius memasang anak panah di busurnya dan mencari sasarannya, seorang kapten pasukan berkuda yang membawa bendera merah tadi, kemudian melepasnya sehingga kapten itu terjatuh dari kudanya dan tewas. Murong Bao terkejut …

Gempuran di pintu gerbang masih berlanjut, dan palang penahan pintu gerbang mulai bergetar. Belasan prajurit Yodongseong segera berlari untuk menahan pintu dari gempuran.

Si pemuda misterius segera memberikan perintahnya untuk mengincar kapten berkuda Houyan. Semua pemanah segera mematuhinya dan mengarahkan sasaran mereka ke semua kapten berkuda Houyan yang membawa bendera merah … kedudukan sama 2 – 2 ^^

Murong Bao: (terkejut dan geram) Dia hanya membunuh para kapten!

Gempuran di pintu benteng semakin kuat dan penghalang pintu mulai menunjukkan tanda-tanda mau patah. Jenderal Ko Mu mengambil sebuah tombak yang disulut api kemudian melontarkannya dengan sekuat tenaga ke arah battering ram. Tombak itu menembus atap dan menyebabkan bagian dalam terbakar. Api menyambar para prajurit yang menggerakkan battering ram itu sehingga mereka segera berlari berusaha menyelamatkan diri. Gempuran terhadap pintu benteng berhenti. Murong Bao melihat semua ini dengan geram … 2 – 3

Si pemuda misterius masih mengincar para kapten berkuda …

Murong Bao mellhat kalau situasi berbalik tidak menguntungkan bagi pasukannya. Ia segera memerintahkan untuk mundur. Pasukan Houyan segera berduyun-duyun mundur dari pertempuran …

Pasukan Yodongseong bersukacita ketika melihat pasukan Houyan mundur. Suara gegap gempita bergema di seluruh benteng.

Zhongsan, Ibukota Houyan

Rakyat memberikan sorakan gembira saat melihat pasukan Kaisar Houyan lewat di jalan raya … Kaisar Houyan, Murong Chui, memimpin sendiri pasukan untuk membantu anaknya, Murong Ba dalam penyerangan ke Goguryeo.

Ko Un mengawasi dari tempat tersembunyi keberangkatan Kaisar Houyan.

Ko Un: (dalam hatinya) Ada sekitar 200 ribu prajurit yang berangkat apalagi sekarang Kaisar Houyan sendiri yang memimpin … (Ia sangat cemas)

Seorang anakbuah Ko Un menghampirinya dan memberitahu kalau Kaisar Houyan akan menuju ke dataran utara Seoksan. Para pengintai mereka sudah mendahului untuk memeriksa keadaan. Ko Un mengatakan kalau mereka tak boleh percaya itu, kemudian ia meminta anakbuahnya untuk pergi terlebih dahulu dan mencari tahu situasinya, dan memnta Woonbong, kepercayaannya, untuk mengikuti pasukan Kaisar.

Goongnaeseong

Malam hari ..

Pertemuan darurat diadakan di Aula Istana …

Gogookyang: (terkejut) Apa? Kaisar sendiri?

Gao Yeongsu: Benar, Yang Mulia! Sekarang sudah 3 hari sejak ia pergi dengan 200 ribu prajuritnya. Dia akan segera tiba di Yodongseong.

Gogookyang: Apa kau barusan menyebutkan 200 ribu? Bukankah 200 ribu melebihi jumlah pasukan sebelumnya yang menyerang Yodongseong?

Gao Yeongsu: Itu benar, Yang Mulia!

Gogookyang: (sangat cemas) Serangan sebelumnya sudah sangat berat, tapi dengan jumlah pasukan yang hampir dua kali lipat sebelumnya, apa yang dapat kita lakukan?

Gao Yeongsu: Yang Mulia, jangan khawatir! Itu juga bisa menjadi kesempatan bagi kita untuk menangkap Kaisar Houyan!

Semua orang terkejut dengan pernyataan Gao Yeongsu …

Gogookyang: (shock) Apa? Menangkap Kaisar Houyan?

Gao Yeongsu: Benar! Ia memang memiliki 200 ribu prajurit, tapi kalau kita mempersiapkan pasukan untuk menyergapnya, kita mungkin dapat menangkapnya!

Semua orang merasa kalau ucapan Gao Yeongsu benar juga …

Gogookyang: Tapi bagaimana kita bisa mengetahui arah mana yang akan ia ambil?

Gao Yeongsu: Berdasarkan laporan mata-mataku, ia mengambil rute lurus ke utara. Laporan ini juga sama dengan mata-mata yang ada di perbatasan.

Gogookyang: Yang dikatakan oleh Menteri Kepala, apakah itu benar?

Yeo Soi: Benar, Yang Mulia, aku juga menerima laporan yang sama.

Gogookyang: Tapi mereka sangat pintar dalam rencana licik, jadi kita tidak bisa terburu-buru dalam mengambil keputusan.

Gao Yeongsu: Yang Mulia, Guan Qiujian dari Wei pernah menyerang Goguryeo dari Selatan. Ayah Murong Chui, Murong Huang juga pernah mencoba untuk menyerang Goguryeo dari Selatan. Murong Chui tak akan mengambil rute yang sama kecuali ia seorang yang bodoh. Dan lagi, bukankah kita punya menara isyarat di selatan dari Seoksan? Jika saja mereka mengambil rute itu maka kita pasti akan tahu dari tanda isyarat.

Raja: … (berdehem dan merasa ragu-ragu)

Gao Yeongsu: Perintahkan semua penguasa daerah di Barat Laut agar menggabungkan pasukan untuk melakukan penyergapan.

Raja: (mengangguk-anggukan kepalanya) Baiklah, lakukan seperti itu! Kirimkan perintahnya secepat mungkin!

Gao Yeongsu: (memberi hormat) Baik, Yang Mulia!

Wajah Gogookyang tampak sangat cemas … 200 ribu ?? Apakah mereka nantinya bisa bertahan dari serangan besar-besaran ini??

Sekelompok prajurit memacu kudanya keluar dari Goongnaeseong …

Tiga hari kemudian ..

Yodongseong

Sekelompok prajurit yang sama memasuki Yodongseong …

Pertemuan militer sedang diadakan untuk membahas strategi mereka melawan pasukan Houyan.

Seorang perwira masuk ke dalam dan memberikan pesan mendesak dari Goongnaeseong pada Jenderal Ko Mu.

Jenderal Ko Mu: (terkejut) Apa? Kaisar Houyan meninggalkan Zhongsan dengan 200 ribu orang prajurit 6 hari yang lalu? (Semua orang sangat terkejut) Ia berencana untuk mengambil alih dataran utara. Yang Mulia ingin agar pasukan yang berada di Barat Laut untuk melakukan penyergapan padanya. (Semua orang lebih terkejut lagi)  …. Apakah kalian sudah memeriksa menara isyarat di selatan?

Jenderal C: Sudah Komandan, dan tak ada yang terjadi. Jika mereka mengambil rute itu, kita akan segera mengetahuinya.

Damdeok: Jenderal! Kau tak boleh hanya bergantung pada isyarat api! Kau harus mengirimkan para pengintai dan memeriksa sendiri pergerakan musuh!

(Andy: hehehehe ternyata pemuda misterius yang gagah berani itu adalah pahlawan kita, si Damdeok, anak kedua dari Raja Gogookyang … aku mash terbayang-bayang dengan Bae Yong Joon rek ^^ … )

Jenderal C: Komandan, sudah terlambat untuk mengirimkan para pengintai. Ini sudah 6 hari, mereka pasti sudah dekat.

Jenderal B: Itu benar! Jika kita berencana melakukan penyergapan, maka kita harus secepatnya berangkat sekarang.

Damdeok: Tapi Komandan …

Jenderal Ko Mu: Aku mengerti kekhawatiranmu, Pangeran .. Tapi kita harus mempercayai informasi dari Goongnaeseong ini sekarang. (pada semua orang) Semua prajurit harus bersiap-siap untuk berangkat kecuali pasukan yang akan tinggal untuk menjaga Yodongseong! Aku sendiri yang akan memimpin dan berperang menghadapi Murong Chui!

Semua: Baik Komandan!

Semua orang segera berdiri dan meninggalkan tempat pertemuan untuk mempersiapkan pasukan mereka. Damdeok masih tinggal dan tampaknya ia masih merasa ada yang salah dan hatinya tidak tenang  ..

Di selatan Seoksan

Menara Isyarat Goguryeo

Seorang perwira Houyan memimpin beberapa orang mengendap-endap mendekati menara, saat melihat keadaan aman dan para prajurit Goguryeo tidak mengamati ke arah mereka, ia segera memberi tanda. Mereka bergegas menghampiri dinding dan menempelkan punggung. Si perwira melihat situasi sebentar kemudian mengangguk pada rekan-rekannya. Mereka menggunaakan alat semacam paku besar, memanjat dinding menara isyarat. Sementara itu para prajuirit yang menjaga menara sedang mengawasi ke arah tangga menara, tidak menyangka kalau musuh-musuh mereka memanjat dinding belakang. Pasukan Houyan dengan mudah menghabisi semua prajurit Goguryeo yang menjaga menara. Sang perwira segera mengibarkan bendera merah.

Kaisar Houyan melihat isyarat bendera itu dan tahu kalau taktik mereka berhasil dalam menguasai menara isyarat. Sekarang Goguryeo tak akan mengetahui kalau mereka melalui rute ini jadi mereka harus memanfaatkan jeda waktu ini untuk melalui wilayah itu sebelum matahari terbenam. Kaisar Houyan segera memacu kudanya dan memimpin pasukannya untuk bergerak.

Seorang prajurit memacu kudanya dengan terburu-buru ….

Jenderal Ko Mu dan yang lainnya sedang bersiap untuk berangkat, namun Damdeok menemuinya ..

Damdeok: Komandan, ada sesuatu yang menuruku aneh ..

Ko Mu: Huh?

Dadmeok: Sangat meragukan kalau Kaisar membiarkan rute yang dilaluinya diketahui dengan begitu mudahnya. Kuminta agar kau memecah pasukan menjadi dua dan mengirimkannya ke dua jurusan. Bukankah ada kemungkinan mereka melewati jalur selatan?

Ko Mu: Kita tak dapat memecah pasukan kita! Seperti yang sudah kau ketahui, kita bahkan tidak punya cukup prajurit untuk melawan 200 ribu orang pasukan Houyan!

Damdeok: Kalau begitu, beri aku hanya seribu orang prajurit saja! Aku akan mengambil rute selatan!

Ko Mu: Kau tak akan dapat menembus blokade hanya dengan seribu orang prajurit! (beranjak pergi)

Damdeok: Tapi Komandan …

Ko Mu: (berhenti dan menoleh padanya) Aku tahu kau ingin memastikannya, tapi aku tak mau mendengar lagi mengenai hal ini! Bukankah sama sekali tak ada isyarat dari selatan?  (Damdeok kesal pada si Jenderal kepala batu ini) Hanya ada satu cara untuk mengakhiri peperangan ini, yakni saat aku membunuh Kaisar Houyan!

Jenderal beranjak pergi dengan yang lain …

Tiba-tiba terdengar seruan dari luar gerbang, seorang utusan dari Baegamseong, dalam keadaan terluka panah di punggungnya, datang untuk melaporkan kalau Kaisar Houyan datang dari arah Utara. Ia melihat Bendera Emas disana.

Jenderal Ko Mu segera memerintahkan semua orang bergegas dan mengatakan kalau pasukan bantuan akan segera tiba. Mereka nanti akan menggabungkan diri dan maju ke Utara menghadapi Kaisar Houyan. Tapi saat ia melihat Damdeok akan berangkat bersama dengan yang lain, Ko Mu segera menahan dan memintanya untuk menjaga Benteng, dengan alasan begitu mereka pergi maka ada kemungkinan kalau pasukan musuh yang lain menyerang benteng.

Damdeok sangat kesal …

Sementara itu …

Perkemahan Pasukan Houyan Murong Bao.

Jenderal Fengba memacu kudanya memasuki perkemahan dan segera meloncat turun dari kudanya kemudian memasuki Kemah Utama, memberitahu Pangeran Mahkota Murong Bao kalau pasukan Goguryeo, seperti yang telah mereka duga, pergi melalui Gerbang Timur. Murong Bao bertanya ke mana mereka pergi. Fengba menjawab ke arah Utara. Murong Bae menepuk meja dengna gembira .. bagus sekali, katanya. Mereka benar-benar sekumpulan orang-orang tulol … Mereka telah terjatuh dalam perangkap Kaisar. Murong Bao segera memberitahu semua jenderal agar membiarkan jalur menuju ke utara kosong dan mereka akan segera menyerang Yodongseong memanfaatkan kesempatan selagi pasukan Goguryeo tidak ada. Ia berniat untuk merebut Yodongseong secepat mungkin.Parajenderal segera pergi dan meninggalkan Murong Bao sendirian di dalam tenda …

Murong Bao: Semuanya ada dalam telapak tanganku sekarang …

———————–

Yodongseong

Puluhan ribu pasukan Houyan pimpinan Murong Bao mengepung kembali Yodongsoeng.

Damdeok dan para jenderal lainnya mengwasi dari atas tembok benteng ..

Damdeok: (dalam hati) Bukankah ini aneh? Mengapa mereka tidak menyerang pasukan kami yang keluar benteng…

Tiba-tiba terdengar seruan dari beberapa prajurit, mengatakan kalau mereka telah menangkap seseorang yang berusaha memanjat tembok, tapi pada saat ditangkap ia mengaku suruhan dari Gae Yeongsu. Jenderal tidak percaya dan menyuruh para prajurit untuk membunuhnya …Paraprajurit menyeretnya tapi orang itu berteriak-teriak kalau ia bukanlah mata-mata, ia orang suruhan Ko Un, anak Menteri Gae Yeongsu. Damdeok mendengarnya dan segera menghampiri orang itu, mengenalinya sebagai Woonbong. Woonbong merasa lega karena Pangeran Damdeok mengenalinya.

Damdeok: Bukankah kau Woonbong? Mengapa kau ada di sini? Apakah kau baru saja dari Zhongsan?

Woonbong: Ya, kita dalam masalah besar.Kaisar Houyan, Murong Chui, memimpin pasukannya menyerang dari selatan!

Damdeok: Apa? Dari Selatan?

Woonbong: Benar! Aku sudah melihatnya! Berita mengenai kedatangan Kaisar dari Utara adalah palsu belaka!

Semua orang terkejut mendenger berita ini …

Damdeok: (pada Jenderal Yodongseong) Jenderal, beri aku 200 orang. Aku akan pergi ke Selatan dan membunuh Kaisar Houyan!

Jenderal Yodongseong: Tidak bisa! Bagaimana kau akan melawan pasukan yang sangat besar jumlahnya hanya dengan 200 orang saja?

Damdeok: Aku tidak akan bertempur melawan pasukan besar itu! Aku hanya akan memburu Kaisar Houyan!

Jenderal Yodongseong: Tidak bisa! Begitu kau keluar dari Yodongseong, kau akan segera dihabisi oleh mereka! Yang kita butuhkan sekarang adalah kurir pengirim pesan kilat! (beranjak pergi)

Damdeok: (menahan Jenderal) Sudah terlambat sekarang untuk mengirimkan pesan! Kumohon beri aku 200 orang prajurit dan juga seseorang yang mengenal wilayah Yodongseong dengan baik. Aku akan menembus blokade ini bagaimanapun caranya! Jika kita menunggu saja di sini, mereka akan segera melewati pengunugan yang kasar itu. Jika itu sampai terjadi, maka kita tak akan memiliki kesempatan sama sekali!

Jenderal: (berseru) Aku katakan tidak ya tidak! Aku akan mengirim kurir ke Komandan sekarang juga! Pangeran, tugasmu sekarang adalah menghentikan musuh yang ada di hadapan kita!

Jenderal segera pergi meninggalkan Damdeok dan yang lainnya. Anak gadis Ko Mu, Yakyeon, sangat kagum dan tergerak hatinya dengan kegagahan dan keberanian yang ditunjukkan oleh Pangeran Damdeok.

Yakyeon: Pangeran .. apakah kau benar-benar yakin bisa membunuh Kaisar Houyan? (Damdeok menatapnya tajam, matanya memancarkan keyakinan) Aku akan menjadi pemandumu. Aku lahir dan di besarkan di Yodongseong. Aku mengenal wilayah ini dengan baik. Serahkan saja padaku!

Damdeok memandang Yakyeon dengan tajam kemudian menganggukkan kepalanya …

Malam hari …

Kaisar Murong Chui dan pasukannya sedang bergerak melewati hutan di pegunungan …

Sementara itu di Yodongseong

Damdeok berdiri di hadapan 200 prajurit

Damdeok: (nada tegas) Kita akan membunuh Kaisar Houyan! Kita tidak menerima persetujuan dari Jenderal dan kita tidak akan mendapatkan bantuan pasukan! Kita akan membunuh Kaisar Houyan, Murong Chui, dengan tangan kita sendiri!  (memandang pada semua orang) Kita mungkin saja akan mati semua, begitu kita menginjakkan kaki di luar benteng ini. Tapi, siapa yang takut akan mati jika itu artinya ia bisa menyerlamatkan negeri kita? Jika kalian mempertaruhkan jiwa kalian untuk menyelamatkan negeri kalian, maka nama kalian akan tercatat di sejarah! (mengangkat pedangnya) Mari kita berangkat!

Yakyeon memang tidak membual, ia benar-benar tahu seluk beluk benteng maupun wilayah di luarnya karena dengan menggunakan lorong parit di belakang benteng, semua orang keluar dengna selamat dan tanpa dipergoki baik oleh teman sendiri maupun lawan mereka.

Yakyeon memimpin pasukan Damdeok dengna penuh waspada … mencarikan jalan yang teraman bagi mereka untuk melewatinya …

Sementara itu, Kaisar Houyan dengan penuh percaya diri memimpin pasukannya di depan, yakin tak seorangpun tahu kalau mereka telah menerobos dari arah Selatan.

Damdeok dan yang lainnya segera bersembunyi di semak-semak saat dekat dengan sebuah sungai, dan melihat jembatan yang dijaga ketat oleh para prajurit.

Damdeok: Kita sampai di tempat yang tepat. Kaisar Houyan bisa dipastikan akan lewat di tengah-tengah jembatan itu. Ambil alih penjagaan dan rebut jembatan itu! Somo kau ke kanan dan Woonbong kau ke kiri. Aku akan ke tengah!

Yakyeon: Lalu bagaimana dengan aku?

Damdeok: Kau tetap di sini dan kuminta agar mempersiapkan kantung-kantung berisi minyak. (pada yang lain) Saat aku melepaskan pisau pertama maka itu adalah isyaratnya! Ayo kita pergi …

Damdeok segera mengendap-endap ke depan ..  disertai Somo, Woonbong, dan beberapa orang prajurit, sementara Yakyeon dan sisanya menunggu dan mempersiapkan yang mereka perlukan ..

Damdeok memberi tanda untuk berhenti dan semua orang segera menundukkan badan mereka … Damdeok mengeluarkan pisau kecil diikuti semua rekan-rekannya … Dadmeok segera melempar pisaunya dibarengi serentak oleh semua orang … para penjaga segera berjatuhan tanpa sedikitpun suara keluar dari tenggorokan mereka. Damdeok segera maju dan lainnya mengikuti.

Beberapa orang segera menggantikan para penjaga jembatan,  sedangkan yang lain mengikuti Damdeok. Mereka juga berhasil membunuh semua penjaga di seberang jembatan tanpa susah payah. Beberapa prajurit segera menyingkirkan mayat-mayat penjaga itu. Beberapa orang menggantikan penjaga yang telah mati.

Yakyeon segera menyuruh semua orang bersiap dan membawa kantung-kantung berisi minyak, mereka menemui Damdeok di jembatan.

Damdeok: Kalian akan menuangkan minyak pada jembatan. Kita tempatkan juga kantung-kantung minyak sepanjang rangkaian jembatan sehingga kita bisa meruntuhkan jembatan itu. (Yakyeon mengangguk mengerti) Ketika Kaisar lewat jembatan dan berada di tengah-tengahnya, nyalakan api di jembatan! Ingat kita harus memotong jalan mundur Kaisar! Jadi jangan menyalakan api sampai aku memberi pertanda.

Semua orang: Baik!

Damdeok: Dan juga, api tetap harus dinyalakan meskipun ada di antara kita yang tertangkap, meskipun itu aku, apakah kalian mengerti! (Yakyeon terkejut)

Semua: Baik!

Damdeok: (bertekad bulat) Meskipun aku nanti menjadi abu, aku akan membunuh Kaisar Houyan terlebih dahulu!

Dalam pada itu …

Kaisar Houyan dan pasukannya tetap bergerak dengan langkah tetap menuju ke Yodongseong …

Di jembatan ..

Damdeok dan yang lainnya masih menuangkan minyak pada jembatan dan menggantungkan kantung-kantung minyak di bawah jembatan.  Damdeok dan yang lainnya memburu waktu dan bergegas melakukan rencana mereka … Tiba-tiba Woonbong melihat nyala api obor dari kejauhan dan berseru pada yang lainnya kalau musuh datang dan mereka harus segera bersembunyi. Yakyeon dan lainnya segera pergi dari jembatan kecuali para prajurit yang berpura-pura menjadi penjaga jembatan. Damdeok dan beberapa orang lainnya masih berada di bawah jembatan saat mendengar semua rekan-rekannya pergi dari jembatan, ia menduga kalau pasukan musuh pasti sudah datang, dan segera menyembunyikan diri dengan baik di bawah jembatan.

Kaisar Houyan memberikan isyarat pada pasukannya untuk berhenti tepat di depan jembatan …

Murong Chui: (tersenyum senang, menunjuk ke jembatan) Setelah kita melewati jembatan ini maka Yodongseong tak akan jauh lagi. Kita akan menuju ke Goongnaeseong dan bergabung dengan pasukan Pangeran Mahkota besok.

Kaisar kemudian memberikan perintah pasukannya untuk maju. Kaisar turun dari kudanya diikuti yang lain dan maju melangkah ke atas jembatan. Semua jenderal dan pengawal bersikap waspada.

Di bawah jembatan, Damdeok dan yang lainnya menanti dengna gelisah … tiba-tiba … seorang prajurit Damdoek menjatuhkan sebuah kantung minyak yang tercebur ke sungai sehingga menyebabkan suara berisik …

Parapengawal Kaisar Murong Chi segera menyelidiki sumber suara dan menemukan kalau di bawah jembatan ada musuh yang sedang menunggu.Parapemanah segera maju dan melepaskan panah mereka ke bawah jembatan. Semua prajurit Goguryeo yang ada di bawah jembatan kecuali Damdeok sendiri, tak ada yang selamat.

Damdeok segera menceburkan diri ke sungai berusaha menghindari anak-anak panah. Tak berhasil dengan upaya mereka memanahnya, tiga orang prajurit dengna membawa pedang terjun ke sungan berupaya untuk menangkap Damdeok. Tapi Damdeok dengan gesit menghindari mereka dan dengan pisau kecil membunuh ketiganya satu persatu. Damdeok kemudian naik ke permukaan air untuk mengambil napas … dan segera menyelam kembali …

Yakyeon melihat semua ini dengan cemas ingin membantu Damdeok tapi Kaisar Houyan masih belum ada di tengah jembatan dan mereka tak akan bisa memotong jalan mundurnya untuk kembali ke pasukannya …

Karena tak berhasil dengan cara sebelumnya, cara terakhirpun digunakan, rantai-rantai besi dilemparkan ke dalam sungai dan taktik ini berhasil karena Damdeok terbelit oleh rantai-rantai itu dan berhasil di seret naik ke permukaan, Damdeok berusaha melepaskan diri namun tak berhasil …

Iklan

10 comments on “King Gwanggaeto The Great – Episode 01

  1. baru baca sekilas episd 1 ko’ kayakx g sebagus the legend ya….kl king gwangaeto the great crtax ada mistic2x g? spt the legend kn ada 4 simbl kektn langtx. sy ska kl ada mstcx, lbih seru

  2. Lumayan bagus.. Ak menganggap yg jd dam_duk adalalh BYJ.. Tp gak da sujini.. Btw episodeny gak nahan.. 100 epsd, kyak sinet indonesia ja..xixixi

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s