The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 21

Kediaman Yeon

Yeong Garyeo berpakaian putih-putih, menuliskan surat pada Rajanya, Damdeok.

“Yeon Garyeo: Karena penilaianku yang gelap dan hati pemberontak, Aku, Yeon Garyeo, seharusnya sudah membayar kejahatanku sejak lama. Aku menyembah di hadapan Yang Mulia dan mengatakan kata-kata ini. Langit sekarang menyingkapkan sedikit demi sedikit bahwa kaulah Raja Jyooshin yang sebenarnya. Tapi aku tak bisa menerima ini.”

Yeon Garyeo, diiringi oleh Chojodo, yang membawakan talam berisikan buku-buku  berjalan menuju ke Ruang Penelitian Geomool. Yeon Garyeo memberikan beberapa buku pada anggota-anggota Geomool sambil menjelaskannya satu persatu perihal buku-buku itu.

Yeon  Garyeo: (memberikan beberapa buku) Ini adalah catatan laporan atas dana yang diperlukan untuk biaya pemeliharaan benteng-benteng yang baru saja direbut di wilayah Baekjae … (buku-buku berikutnya) Yang terpenting dari semua ini adalah catatan laporan mengenai galangan kapal … (beberapa buku lagi) Ini adalah catatan laporan atas cara-cara mengatur sebuah galangan kapal … (buku-buku terakhir) Dan ini adalah catatan laporan atas persediaan bantuan yang dikirimkan ke benteng-benteng.

Selesai menemui orang-orang Geomool, Yeon Garyeo berpisah dengan Chojodo.

“ Jika Langit sudah menentukan segalanya, apa gunanya semua usaha dan manipulasi yang telah kita lakukan? Dan jika Langit telah memilih Raja Jyooshin nya, atas syarat-syarat apa pilihan itu dibuat?”

Yeon Garyeo memasuki Desa Geomool dan menuju ke ruangan rahasia di mana kedua Simbol Dewa disimpan

“Aku akan menyalahgunakan kepercayaan dan kekuasaan yang telah kau berikan padaku, dan mengambil Simbol-simbol Dewa pertanda Raja Jyooshin. Aku akan mengirimkan keduanya pada anakku.”

Yeon Garyeo memasuki ruangan rahasia dan menunjukkan segel Perdana Menteri sehingga para penjaga mempersilahkannya masuk.

“Anakku, Ho-gae, yang tak diindahkan oleh Langit. Bahkan, meskipun ia mungkin dapat menggunakan kekuatan simbol-simbol itu, aku masih ingin memberitahukannya ini, “Sekarang karena Yang Mulia tak bisa berharap pada kekuasaan dan kekuatan Langit … gunakanlah usahamu sendiri dan jadilah Raja! Biarkanlah rakyat di tanah ini untuk memilih Raja mereka sendiri.””

Yeon Garyeo mengawasi ke sekeliling ruangan rahasia dan membuka tempat penyimpanan kedua Simbol Dewa: Simbol Joojak dan Chung Ryong lalu mengambil keduanya.

Cheonji Shindang

Ki-ha meletakkan Simbol Pendeta Tinggi di atas kursi  Pendeta Tinggi di ruangan sembahyang di Kuiil lalu berjalan keluar dari lorong Kuil, tanpa sekalipun menoleh ke belakang.

Kediaman Yeon

Yeon Garyeo telah menanti di halaman depan kediamannya dengan sebuah kotak berisikan kedua Simbol Dewa dan menyerahkannya pada Ki-ha. Ki-ha dan Sa Ryang memberikan penghormatan mereka pada Yeon Garyeo kemudian mereka berdua segera pergi. Ki-ha merasa sedikit bersalah pada Yeon Garyeo.

Yeon Garyeo memasuki kediamannya …

“Kau pernah mengatakan padaku sebelumnya … bahwa Jyooshin adalah surga yang sangat indah bagi orang-orang Baedal. “

Yeon Garyeo mengawasi ke sekeliling halamannya …

“Aku telah mengkhianati kepercayaan yang diberikan Yang Mula padaku. Aku tak memiliki hak untuk melihat surga yang indah itu.”

Yeon Garyeo memasuki ruangaan abu tempat abu istrinya disemayamkan. Berganti pakaian putih-putih. Ia menuangkan anggur ke sebuah cawan, membuka sebuah tutup botol kecil dan menuangkan isinya ke cawan anggurnya. Yeon Garyeo mengangkat cawan itu, menawarkannya pada papan nama istrinya baru langsung meneguknya sekaligus …

“Yang Mulia, Raja dari negeriku Goguryeo … sekarang setelah aku memikirkannya .. Aku tak pernah menantikan Raja Jyooshin. Kelihatannya aku justru ingin untuk menciptakan Raja Jyooshin itu sendiri. “

Yeon Garyeo duduk di kursinya memandang pada papan istrinya …

Ah ... Ya … Itulah sebenarnya yang aku inginkan …”

Tubuh Yeon Garyeo menjadi lunglai dan tertekuk ke sisi kiri …. ia mati menyusul istrinya ….

[Andy: Jika kalian tidak mau bingung dengan tulisanku di atas, lebih baik kalian ulangi membaca sejenak tulisan yang miring saja, karena tulisan yang miring itu adalah isi surat wasiat Yeon Garyeo pada Raja Damdeok]

Jalanan Gooknaeseong

Soojinee berjalan-jalan di jalanan Gooknaeseong, diikuti terus oleh Cheoro.

Soojinee: Aku tak akan menemui Raja. (berhenti dan berbalik pada Cheoro) Aku tak akan pergi kepadanya. (berjalan kembali)  Aku tak bisa! Aku akan pergi berjalan di jalanku. (berhenti dan berbalik lagi) Biarkan aku menyelesaikan apa yang harus aku lakukan. Aku tak tahu siapa yang menginginkanku untuk kembali, tapi aku punya sesuatu yang harus aku lakukan sekarang. Hm ..?

Cheoro mau mengikutinya lagi tapi tapi tak sanggup melanggar kata-kata Soojinee ^^

Sementara itu ..

Perkemahan Raja, Khitan

Di dekat perkemahan Raja, seorang Geomool telah menerima Burumsae yang membawa surat pesan …

Hyeondong sedang berlari tergesa-gesa menuju keTenda Utama,iasudah terlambat menghadiri pertemuan … Sesampainya di depan Tenda Utama, Hyeondong berhenti untuk menormalkan kembali napasnya sejenak baru dengan langkah perlahan masuk ke dalam Tenda Utama.

Di dalam Tenda Utama, perdebatan sengit sedang terjadi ^^ Biasa … siapa lagi pembuat keributan kalau bukan si tua gendut Huk-gae ^^

Huk-gae: Jika mereka punya sesuatu yang perlu dibicarakan, beritahu saja mereka untuk datang kemari!  Bagaimana bisa Raja Goguryeo pergi menemui musuh di lokasi yang telah ditentukan hanya dengan tujuh orang, Yang Mulia!

Damdeok: (cuek dengan Huk-gae dan asik menulissurat) Jangan biarkan pasukan di perbatasan dengan Houyan bergerak. Kita tak bisa mempercayai mereka sementara ini. (menyerahkansuratpada Hyon-go yang ada di belakangnya)  Galangan kapal di Gwanmiseong menjadi sebuah masalah bagi kita. Aku harap agar Tuan Yeon mengurus masalah ini bagiku. Dia akan tahu bagaiamana untuk mengaturnya.

Huk-gae: (menghampiri Damdeok) Yang Mulia, biarkan aku pergi mewakilimu. Aku akan membawa tujuh orang. Kumohon kau mengijinkanku untuk melakukannya.

Damdeok: (tersenyum sabar) Jenderal!

Huk-ge: Ya, Yang Mulia!

Damdeok: Jika aku tidak membangun hubungan dengan mereka, maka aku harus kembali lagi ke Gooknaeseong. Dan ketika itu terjadi, maka 5 ribu orang kita akan diburu oleh mereka seperti binatang buruan.

Huk-gae baru terbuka pikirannya … ia terdiam dan merenungkannya ^^

Hyon-go yang tadi keluar untuk mengirimkan pesan Damdeok kembali masuk ke Tenda Utama

Hyon-go: Yang Mulia, sebuah pesan telah tiba. Kita telah setuju untuk mendirikan tenda. Mereka akan mengirimkan dua belas wakilnya. Ini adalah jumlah minimun dari keempat suku. Ah .. dan di dalam tenda, tak boleh ada prajurit yang diijinkan masuk.

Damdeok: (bangun bediri, pada Huk-gae) Persiapkan tujuh pasukan sehingga mereka dapat mempertahankan diri dari semua jurusan.

Huk-gae: (membungkuk hormat) Jangan khawatir mengenai itu, Yang Mulia.

Jenderal Kho: (masuk tenda) Yang Mulia, sudah waktunya.

Raja mengambil pedangnya dari Dalgoo dan berjalan keluar, tapi berhenti sejenak di depan Hyeondong saat melihatnya.

Damdeok: Kaukah yang menemaniku?

Hyeondong: Ya, Yang Mulia.

Damdeok: (tersenyum senang) Jika keadaan menjadi berbahaya, tetaplah di dekatku selalu. Jangan menjadi takut. Hanya tetap bersamaku dan jaga nyalimu agar tak gentar. Mengerti?

Hyeondong: Ya ..

Huk-gae melihat Hyeondong seorang yang lemah mersaa sedikit kecewa dan menahan Damdeok …

Huk-gae: Ah . Yang Mulia! Jika kau ingin membawa seseorang, kau seharusnya membawa orang yang tahu bagaimana untuk bertarung! (menoleh pada Hyeondong) Ehm .. apa yang ingin kau lakukan dengan bocah ini?

Damdeok: Jika aku membuat sebuah kesalahan, ia akan mencatatnya sehingga kesalahan itu tak terulang kembali. “Sekali adalah kesalahan, tapi dua kali adalah sebuah dosa .. “

Tiba-tiba Damdeok teringat kalau perkataan itu adalah perkatan Soojinee …

Soojineee: Sekali adalah kesalahan, tapi dua kali adalah sebuah dosa .. Jadi dalam hal itu … (mencium bau anggur dari botol minuman yang dipegangnya) .. yang perlu kau lakukan hanyalah minum sedikit dan sisanya adalah milikku! (mengulurkan botol anggur pada Damdeok dengan pandangan bersungguh-sungguh)

Damdeok tersadar kembali ..

Damdeok: (menyambung) Itu lah yang mereka katakan …

Damdeok pergi dengan tersenyum geli, Hyeondong segera mengikutinya, Dalgoo menyusul mereka setelahnya, meninggalkan ayahnya yang masih memikirkan perkataan Raja ^^

Damdeok dan ketujuh orang lainnya berkuda menuju ke tempat pertemuan  …

Hyeondong: Pertemuan diadakan di Dataran Awoosae. Itu semua terjadi seperti yang telah direncanakan oleh Yang Mulia Raja dari pertama kali saat ia menginjakkan kakinya di wilayah Khitan. Rencana itu juga diputuskan dari bagian utara dari tempat pertemuan.

Damdeok dan yang lainnya berkuda ke arah tenda yang didirikan di tempat perjanjian.

Beberapa perwakilan orang Khitan segera keluar menyambut Damdeok dan rombongannya.

Damdeok mengawasi mereka sejenak kemudian turun dari kudanya dan menghampiri orang-orang tersebut. Tampak seorang gagah berdiri di barisan paling depan, di sambping kanannya berdiir Dutai. Damdeok menduga kalau orang itu adalah Atilla sendiri, Khan Khitan. Atilla memberikan tanda mempersilahkan Damdeok untuk masuk tenda.

Hyon-go meraup tanah dan menyerbarkannya, menebak arah angin …

Hyon-go: Ini angin selatan … Mereka harus tiba sebelum angin berubah arah …

Di wilayah Khitan yang lain ..

Tampak beberapa orang Geomool, termasuk si pria pendek, memacu kuda mereka melewati padang luas…..

Di Tenda Pertemuan

Joomochi dan yang lainnya masuk mengiringi Damdeok ke dalam tenda, berhadapan dengan pihak Atilla dan keempat suku Khitan.

Atilila: Aku Atiila, Khan Khitan, dipilih pada musim semi sebelumnya oleh delapan kepala suku. Aku tidak akan membuang waktuku untuk berbasa-basi. Apa yang kau lakukan di atas tanah kami?

Kepala Suku Katakitai : (nada marah) Separuh dari sukuku tewas, dan semua desa kami telah dibakar habis! (berseru) Suku Katakitai akan membalas dendam sampai orang terakhir dari suku kami menghembuskan napas terakhirnya!

Suasana memanas, masing-masing pihak saling berhadapan pandangan mata saling menantang lawan di hadapan mereka. Damdeok masih tetap tenang di tempatnya tak terpengaruh dengan semua ini, pandangannya hanya tertuju pada Atilla.

Atilla menaruh kapaknya di atas meja kemudian memberikan tanda pada Dutai yang segera memberikan tabung bambu, yang berisi surat Damdeok.

Atilla: Aku telah mendengar kalau Raja Goguryeo yang baru lebih ahli dalam tipu muslihat daripada ilmu perang. Jadi aku akan bertanya padamu. (membanting tabung bambu) Tipu muslihat macam apa ini?

Damdeok: Kapan kita dapat berhenti saling mengancam dan duduk bersama untuk membicarakan masalah sebenarnya?

Dutai: Khan, Raja Goguryeo yang baru ini telah bersusah payah untuk mengirimkan orang-orang Khitan yang mati untuk naik ke surga.  Jadi …

Atilla: (tampak berpikir sejenak) Jika demikian adanya, aku akan memberikan kesempatan padanya. Bagaimana pikiran para kepala suku?

Semua kepala suku diam dan mundur, menyatakan kalau mereka tak berkeberatan dengan usulan Atilla.

Atilla segera memberikan tanda pada Damdeok, mempersilahkannya duduk, yang artinya pembicaraan bisa dimulai …

Melihat Damdeok duduk, Joomochi dan yang lainnya segera menyimpan senjata mereka dan mundur …

Atilla duduk dan langsung menyenggol masalah utama ..

Atilla: Apakah suratmu membicarakan hal yang sebenarnya? Bahwa orang itu, Yeon Ho-gae, yang menumpahkan darah di wilayah Khitan sehingga membuatnya seperti neraka, adalah seorang pemberontak Goguryeo?

Damdeok: Kejahatannya adalah tidak  mematuhiku. Niatku dari awal selalu ingin menjalin persekutuan dengan Khitan, tapi dikarenakan tindakannya sehingga menimbulkan kesalahpahaman yang besar di antara kita. Ia akan membayar atas kejahatannya itu.

————————

Perkemahan Ho-gae, Khitan

Si pria pendek dan yang lainnya mengawasi perkemahan Ho-gae, si pria pendek melemparkan pasir dan melihat arah angin kemudian menengok ke langit …

Tenda Pertemuan

Atilla: (membuka kotak hadiah) Apa ini? Apa kau pikir kalau kami akan melupakan megnenai orang-orang yang telah terbantai hanya dengan sedikit sogokan ini?

Damdeok: (nada tenang) Apa yang akan kau lakukan jika aku memintamu untuk melupakan semuanya itu?? (Atilla terkejut) Jika delapan suku Khitan menggabungkan pasukannya untuk berperang melawan Goguryeo, kau pikir akan menang? Pasukan yang kau lihat selama dua bulan ini adalah pasukan pemberontak Goguryeo. Apa kau ingin melihat apa yang akan terjadi jika aku memberangkatkan semua pasukan kami kemari? (Atilla tampak shock) Apakah kau ingin membuat tanah Khitan menjadi tanah orang-orang mati?

Atilla segera kembali ke kursinya, memukul meja dan mengambil kapaknya ..

Atilla: Jadi apa yang kau ingin katakan, Raja Goguryeo?

Damdeok: Siapa yang akan menjadi saudara muda kami yang pertama dari antara empat suku di sini? (Parakepala suku masih tak paham) Suku yang bersekutu dengan Goguryeo tak akan pernah takut dengan suku yang lain lagi.

Kepala Suku Kakitai: Apa yang baru saja kau katakan?

Damdeok: (memandangnya) Siapa yang akan menjadi saudara muda kami?

Kepala Suku Kakitai: (berteriak marah) Apa? … Saudra muda?

Sang Kepala Suku Kakitai menghunuskan pedangnya dan menyerang, diikati beberapa orang lainnya tapi Joomochi, Dalgoo, Jenderal Kho, dan Mandeuk segera menghadang mereka semua. Damdeok hanya duduk dengan tenang tanpa sedikitpun menunjukkan rasa gentar atau terintimidasi. Hyeondong berdiri di belakang Damdeok, mencatat semua yang terjadi dalam pertemuan ini.

Jenderal Kho berhasil menundukkan Kepala Suku Kakitai dan mengancam lehernya dengan pedang.

Kepala Suku Kakitai: (berseru pada yang lain) Hentikan! Hentikan pertarungan!

Atilla menghantamkan kapaknya ke meja, membuat semua orang segera menghentikan pertarungan dan mundur. Jenderal Kho masih mengancam Kepala Suku Kakitai.

Atilla: (berseru marah) Raja Goguryeo!

Damdeok: (bangun berdiri) Meskipun kau tidak mau mendengarnya, kau mau tidak mau harus melakukannya.

Kepala Suku Kakitai: (dilepaskan Jenderal Kho) Kami tak akan pernah menjadi sekutu dari Goguryeo!

Damdeok: Dalam permasalahan apapun di Khitan, delapan suku hampir tak pernah memiliki kesepakatan yang sama antara satu dengan yang lain. Kalian telah berperang , membunuh dan merampok satu sama lain. Dan tak hanya itu, kalian dikelilingi oleh kerajaan-kerajaan kaya sementara rakyat kalian mati karena kelaparan. Berapa lama kalian akan tetap hidup semacam itu?

Kepala Suku Kakitai: (berseru) Atilla! Sampai kapan kau akan berhenti mendengarkan celotehannya? Aku akan membalaskan dendam atas nama rakyatku! (berteriak ke arah luar)

Tiba-tiba …

Terdengar suara sorak sorai dari luar, pihak Damdeok segera waspada. Kain tenda dibuka dan nampak banyak prajurit telah mengepung tempat itu dan mengarahkan panah mereka pada pihak Damdeok. Joomochi dan lainnya segera membentuk formasi melindungi Damdeok, mengelilingi Damdeok sehingga ia berada di tengah.

Tapi … walaupun dalam kondisi demikian pun, Damdeok masih menunjukkan mental dan hati bajanya. Ia tetap berdiri tenang dan tak bergerak, memandang tajam pada Atilla, hanya Atilla.

Damdeok: Apakah kalian ingin terus mendengar apa yang akan terjadi jika Goguryeo menjadi saudara tua kalian? Ataukah kalian akan membunuhku dan lebih suka menghadapi Goguryeo ketika Yeon Ho-gae menjadi Raja?

Atilla mau tidak mau tergerak hatinya dan merasa kagum. Suku Khitan adalah suku yang menghargai keberanian di atas segalanya. Apalagi Raja Goguryeo yang satu ini tampaknya memiliki kepribadian yang lebih baik dan memiliki kebijaksanaan luar negeri yang memihak mereka dibandingkan dengan Yeon Ho-gae. Atilla menoleh ke kanan dan ke kiri, memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan ini.

Atilla: Sebagai Khan, aku akan melanjutkan pertemuan kita dengan Raja Goguryeo.

Damdeok: Dalgoo …

Dalgoo: (menoleh) Ya, Yang Mulia.

Dalgoo segera menghampiri meja samping dan menyerahkan beberapa papan kecil bergambar pada Dutai, yang memberikan buku itu pada Atilla. Atilla meletakkan kembali kapaknya dan mengamati papan-papan bergambar itu.

Damdeok: Di wilayah dari para saudara muda, kami akan mendirikan pasar di jantungkotasetiap suku. Pria dan wanita dari setiap ras dan kebangsaan akan dapat berdagang dalam damai dan bebas. Dan setiap ternak yang kalian kembangbiakkan akan dapat ditukar dengan pakaian, gandum, dan logam.

Atilla: (tertawa sinis) Apakah kau mau bilang bahwa Raja Goguryeo datang sendiri kemari hanya untuk menjual beberapa barang? (melemparkan papan gambar ke meja)

Damdeok: (tersinggung) Hanya menjual katamu? (dengan lantang) Aku meengatakan kalau kami akan membangun jalan raya dari Gooknaeseong sepanjang jalan sampai berakhir di wilayah kalian! Aku beritahu padamu bahwa jalan raya itu akan melewati tepat di tengah wilayah kalian! Apakah kau masih tak memahami apa artinya itu, Atilla, Khan Khitan?

Atilla tampak tertarik tapi masih tak mempercayai perkataan Damdeok ..

Atilla: Kau bisa memberitahu pada kami niatmu yang sebenarnya sekarang. Kau meminta pertolongan pada kami karena kau pikir kau tidak akan dapat menangkap Yeon Ho-gae dengan tanganmu sendiri. (berseru sambil menghantam meja) Jadi mengapa kau berbicara omong kosong ini?!

Perkataan Atilla separuh benar namun Damdeok sudah punya rencana sendiri walaupun tanpa bantuan Khitan. Ia hanya ingin agar Khitan tak mengganggunya dalam perburuannya dan berharap agar mereka kelak bisa menjadi sekutu Goguryeo, tapi akan menjadi bonus jika Suku Khitan juga akan membantunya dalam melawan Ho-gae.

Damdeok dengan tenang kembali duduk ..

Damdeok: (nada angkuh) Aku tidak perlu bantuanmu untuk memanggil para prajuritku sendiri. Lagipula, 40 ribu orang itu akan kembali kepadaku dalam beberapa hari ini.

Damdeok segera memberi tanda dan Dalgoo mengeluarkan terompet tanduknya kemudian meniupnya, menggemakan usara terompet kemana-mana.

Tak berapa lama terdengar sayup-sayup suara sorak-sorai beribu-ribu orang di kejauhan. Pasukan Goguryeo ternyata masih berada di tempat mereka, tak ada yang menyerbu ke tempat pertemuan. Atilla, para kepala suku, dan pasukannya bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa tidak ada pasukan yang datang, tapi mereka hanya mendengar sorak-sorai saja? Apakah itu artinya Raja Goguryeo benar-benar datang hanya dengan beberapa orang ini saja?

Damdeok: Orang-orangku sedang menunggu di tempat yang telah kita sepakati. Inilah bagaimana Goguryeo menepati janjinya. (memandang pada Atilla) Beginikah Khitan menepati janjinya?

Atilla terpukul harga dirinya … tapi dalam hatinya Atilla mengakui kalau Raja yang satu ini memang Raja sejati, yang berani berucap berani bertindak, sekali berjanji ia akan menepatinya.

Atilla: (menghantamkan kembali kapaknya ke meja) Aku butuh bukti!

Damdeok: Aku mendengarkan.

Atilla: Berikan padaku kepala Yeon Ho-gae. Hanya setelah aku melihat kepalanya dan menyentuh darahnya, aku akan memasang api unggun untuk saudara kami yang baru dan melanjutkan pembicaraan ini.

Jenderal Kho tampak terkejut dan memandang pada Damdeok, yang menatap tajam pada Atilla.

Perkemahan Ho-gae.

Di dekat perkemahan Ho-gae, si pria pendek menatap pada kertas bertulisan di tangannya. Ia lalu memberi tanda dan beberapa orang Geomool segera mempersiapkan beberapa layangan besar.

Pria pendek: Berperang tidak hanya dilakukan dengan pedang.

Si pria pendek segera memerintahkan mereka untuk menerbangkan semua layangan itu.

Beberapa saat kemudian …

Paraprajurit Ho-gae melihat kedatangan layang-layang di atas perkemahan mereka lalu tampak beribu-ribu kertas disebarkan dari layang-layang tersebut. Semua kertas-kertas itu terbawa angin selatan menuju ke arah perkemahan pasukan Ho-gae dan menyebar ke seluruh pelosok perkemahan.

Paraprajurit ingin tahu apa sebenarnya kertas itu dan memungutinya, ternyata kerjtas-kertas itu berisikan tulisan. Cheok-hwan melihat kejadian ini dan geram, ia segera merebut semua kertas di tangan para prajurit yang terlihat, tapi percuma saja karena masih ada ribuan kertas jatuh dari langit dan berserakan di tanah perkemahan.

Cheok-hwan segera bergegas masuk ke Tenda Utama dan dengan penuh kemarahan menegur para jenderal di dalam, yang sedang berdiskusi.

Cheok-hwan: (berteriak marah) Apa yang sedang para penjaga kalian lakukan?

Cheok-hwan membanting kertas-kertas itu ke atas meja di hadapan para jenderal.

Ilsuh heran dan tak mengerti, ia segera membaca salah satu kertas itu tapi segera menjadi terkejut.

Ilsuh: Kau mendapatkan ini dari mana?

Cheok-hwan: Kita akan menangkap biang keladinya! Pergi dan lakukan sesuatu mengenai ini!

Para Jenderal melihat kertas itu tapi segera menyembunyikannya begitu melihat Komandan Ho-gae masuk. Ho-gae tak bisa dikelabui dan meminta kertas itu pada Ilsuh. Ilsuh dengan terpaksa memberikan kertas yang di tangannya pada Ho-gae, yang langsung membacanya kemudian meremasnya.

Ho-gae: (meremassurat) Tentu saja Raja kita tersayang, Damdeok, berniat untuk menggunakan cara-cara licik daripada pertempuran langsung.

Beberapa prajurit ditugaskan untuk merebut semua kertas dari rekan-rekan mereka.

Beberapa saat kemudian ..

Para Jenderal dikumpulkan di dalam Tenda Utama.

Ho-gae: Raja telah memulai menggunakan tipuan rendahan lagi. Ilsuh ..

Ilsuh: Ya ..

Ho-gae: Lokasi pasukan Raja?

Ilsuh: Dia berada di selatan berjarak 3 hari berkuda. Dilaporkan kalau ia hanya membawa 5 ribu prajurit bersamanya.

Jenderal Obool: Apakah kita akan memindahkan pasukan kita? Atau kita akan menyerang dahulu?

Ho-gae: Dia berharap kalau kita mengambil tindakan lebih dahulu. Aku tak punya keinginan untuk merangkak ke dalam perangkap yang sudah jelas terlihat. Tapi …supaya strategi ini berhasil, kita harus memastikan kalau pasukan kita tidak goyah pendiriannya! … Jenderal!

Semua: Ya!

Ho-gae: Pastikan kalau para prajurit tidak goyah dalam pendirian mereka!

Semua: Ya, komandan!

Semua orang segera pergi tapi Cheok-hwan tetap tinggal. Ho-gae menghampirinya.

Ho-gae: Apakah kau merasa gelisah dalam hatimu?

Cheok-hwan: Jika aku boleh jujur, ya aku merasa gelisah. Dia masih tetap raja kita, dan itu adalah pasukannya.Apakah kau benar-benar mengusulkan agar kami bertempur melawan mereka?

Ho-gae: Tidakkah kau mengerti? Raja kita itu tidak ingin aku untuk tunduk padanya. Hal yang paling ia inginkan adalah agar seseorang sepertimu membunuhku dan membawakan kepalaku kepadanya. (Cheok-hwan menundukkan matanya) Apakah itu yang ingin kau lakukan?

Cheok-hwan: (menatap mata Ho-gae) Saat kau masih berumur sebelas tahun, kau sedang berperang melawan Houyan.

Ho-gae: Itu benar.

Cheok-hwan: Saat itu aku menyaksikanmu. Bahkan pada usia yang masih semuda itu, kau berlari lebih cepat di garis depan pertempuran dan memanah lebih jauh daripada orang lain. Dan selama peperangan berlangsung kau selalu tersenyum. Kau dikatakan terlahir di bawah Bintang Jyooshin dan kau sangat berbeda dibandingkan kami semua. Saat itu aku membayangkan bagaimana jadinya kalau kau nantinya menjadi raja. Pemikiran itu sendiri sudah bisa dianggap sebagai tindakan pengkhianatan.

Ho-gae: (menatap tajam, nada serius) Aku mungkin akan berjalan di atas neraka mulai dari saat ini. Apakah kau masih akan mengikutiku?

Cheok-hwan: (pandangan teguh) Aku akan selalu berada di belakangmu.\

Ho-gae tidak meragukan perkataan Cheok-hwan, ia membalikkan tubuhnya dan tenggelam dalam pemikirannya.

Malam hari …

Beberapa prajurit berkumpul di dekat api unggun. Seorang prajurit masih memiliki kertas tadi siang. Dikatakan bahwa mereka memilikirigahari untuk mengambil keputusan. Setiap orang yang kembali kepada Raja akan menjadi bagian dari Pasukan Raja! Beberapa orang bertanya, bagaimana jika mereka tidak mematuhinya? Maka mereka akan dianggap sebagai pemberontak! Seorang menyeletuk, jadi mereka tidak bisa pulang ke rumah dong?Paraprajurit lain segera menyuruhnya menutup mulut.

Tapi ada seorang yang bertanya, bagaimana kalau justru yang terjadi sebaliknya, komandan mereka yang sekarang berhasil menjadi Raja? Orang tadi bertanya, apakah itu artinya mereka bisa pulang ke rumah? Yang lain menyuruhnya tutup mulut lagi. Prajurit yang memiliki kertas bertanya, apakah mereka masih ingat apa yang dikatakan oleh para prajurit bayaran yang sebelumnya datang di perkemahan mereka? Bukankah mereka mengatakan kalau Yang Mulia memiliki tiga Simbol Dewa! Yang lain melanjutkan kalau Raja telah menundukkan Gwanmiseong dan bahkan memerintah atas Chung Ryong sendiri. Prajurit yang tadi menjerit lagi, itu artinya mereka bakalan tidak bisa pulang ke rumah! Yang lain segera memukulinya untuk tutup mulut ^^

Sementaa itu ..

Perkemahan Pasukan Raja

Ba Son menyibukkan diri dengan mengasah pedang di bengkel pandai besi. Dalbee datang membawakan makanan untuknya. Dalbee cemas melihat kondisi Ba Son.

Dalbee: (nada khawatir) Berhentilah bekerja untuk sementara. Kau tidak makan maupun tidur! Kapan kau berhenti bersikap seperti ini? (Ba Son tak menjawabnya) Aku sungguh sedih melihatmu ..

Dalbee pergi dari tempat itu tapi betemu dengan Raja yang sedang berjalan ke arah bengkel pandai besai. Dalbee segera menyingkir dan memberikan jalan untuk Raja, yang datang dengan diiringi oleh Joomochi, Hyon-go, dan Jenderal Kho.

Damdoek melihatnya dan berhenti sejenak di hadapan Dalbee.

Damdeok: (nada bersimpati) Kalian berdua pasti telah banyak menderita.

Dalbee: (membungkuk hormat) Maafkan kami karena telah membuat Yang Mulia mencemaskan kami.

Damdeok kemudian melihat ke arah Ba Son dan menghampirinya. Ba Son memberi hormat pada Damdeok.

Damdeok: (nada lembut) Aku mendengar mengenai kakakmu. Apakah kau baik-baik saja?

Ba Son: …

Damdeok melihat kondisi Ba Son yang masih sedih tak mau mengganggunya lagi sehingga ia membalikkan tubuh bermaksud untuk pergi …

Ba Son: Simbol Baekho ..

Damdeok batal pergi dan menghadapi Ba Son.

Ba Son: (nada menyesal) Aku seharusnya memberitahumu sejak awal. (suara bergetar) Aku seharusnya memberitahumu pertama sehingga kau dapat mendapatkannya terlebih dahulu. Tapi .. tapi aku benar-benar tidak tahu. (menahan tangis) Aku benar-benar tidak tahu di mana kebradaan kakakku.Aku pikir aku akan bisa bertemu dengannya jika aku mengikutimu kemanapun kau pergi. (Ba Son menangis)

Damdeok memegang pundak Ba Son yang menanngis karena mengingat kematian kakaknya.

Damdeok: (nada bersimpati) Kau butuh beristirahat.

Ba Son: (suara bergetar) Si Ho-gae itu telah mendapatkannya. Aku memberikannya dengan kedua tanganku sendiri. Kakakku … yang tak pernah kulihat selama 17 tahun … telah menyimpannya dengan taruhan nyawanya tapi aku justru memberikan itu pada Ho-gae dengan kedua tanganku ini.

Damdeok: (berusaha menenangkannya) Begini, Ba Son, …

Ba Son: (suara sedikit histeris) Aku ingin memotong kedua tanganku ini, tapi … aku datang kemari untuk memotong kedua tanganku, tapi … (seperti orang bingung) ada begitu banyak pedang dan kapak yang tumpul di sini …  (Damdeok menahan tangan Ba Son)

Damdeok: (dengan nada tegas tapi lembut) Dengarkan aku dengan seksama. Kedua tangan ini bukanlah milikmu sendiri. Aku tak akan mengampunimu jika kau melukai keduanya.

Ba Son perlahan-lahan memandang pada Raja nya. Ia melihat kesungguhan di mata Damdeok. Rasa sesalnya sedikit berkurang ..

Damdeok: (tersenyum manis) Dan patikan kalau pemilik kedua tangan ini makan dan tidur dengan baik. Kau paham?

Ba Son menganggukkan kepalanya berulangkali dan mengiyakan, ia menutup matanya dengan punggung tangan .. menangis terisak-isak …tapi kali ini berbeda … ia mennagis karena terharu atas perhatian rajanya dan rasa sesalnya akan semakin bertambah jika ia benar-benar memotong kedua tangannya yang berarti mengecewakan Raja nya ini yang sangat ia hormati.

Joomoci menoleh pada Dalbee, yang terharu melihat kejadian ini. Joomochi tiba-tiba hatinya juga terharu, bukan karena apa-apa tapi karena ia akhirnya bisa bertemu lagi setiap hari dengan Dalbee ^^

Damdeok mengajak Dalbee ke Tenda Utama untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi pasukan Ho-gae. Tapi pertanyaannya justru sangat menggelitik semua orang.

Damdeok: Bagaimana kondisi sepatu mereka?

Dalbee: (heran) Sepatu mereka?

Damdeok: Mereka telah berada di luar selama setengah tahun. Aku ingin tahu bagaimana keadaan mereka.

Dalbee: Erhmmm .. begini … para prajurit yang menjaga kami memasang kain di sekeliling sepatu mereka. Aku rasa sepatu mereka pasti mulai rusak. Oh .. dan banyak di antara mereka mengalami masalah dengan kulit. Daging dan makanan yang baik hanya boleh disantap oleh para perwira tinggi. Dan .. yang paling penting, mereka tidak punya cukup air.

Dadmeok mengingat semua informasi ini lalu melihat ke arah Hyon-go.

Hyon-go: Kita sudah bisa memulainya, Yang Mulia.

Damdeok: Berangkatkan pasukan kita!

Jenderal Kho: Sekarang, Yang Mulia?

Damdeok tidak menjawabnya tapi menghampiri pada peta besar yang ada di tenda itu.

Damdeok: (memandang pada peta) Kita akan bergerak sebelum matahari terbit, dan mengurangi jarak di antara kita dan Ho-gae menjadi satu hari saja.

Perkemahan Ho-gae, Khitan

Sayup-sayup terdengar suara aneh yang mengalun seakan-akan sedang melagukan sesuatu ….

Para prajurit tertidur, tapi seorang di antara mereka, yang sebelumnya berulangkali mengatakan ingin pulang ke rumah, masih terjaga dan mendengarkan suara alunan lagu itu, kemudian mulai menangis sehingga membangunkan rekan-rekannya yang sedang tidur.Paraprajurit yang baru bangu itu juga mendngar suara aneh yang mengalun dan bertanya-tanya suara apa itu. Lalu saat si prajurit ditanya mengapa ia menangis, ia menjawab kalau ia merindukan ibunya ^^ Yang lain segera menyuruhnya untuk diam, si prajurit itu masih sesenggukan. Beberapa orang mendengarkan suara mengalun itu dan mulai terpengaruh … mata mereka berkaca-kaca …

Cheok-hwan keluar tenda, mendengar alunan lagu itu dan mengawasi ke sekelilingnya kemudian berjalan dan bertemu dengan Ilsuh. Keduanya sama-sama mendengarkan alunan suara itu dan menduga kalau itu dari luar perkemahan. Mereka berdua segera bergegas menuju ke kandang kuda untuk mengambil kuda mereka.

Sementara itu .

Di luar perkemahan, beberapa orang Geomool sedang berkuda mengelilingi perkemahan Ho-gae dalam jarak tertentu sambil meniup suatu alat yang mengeluarkan bunyi mengalun itu.

Cheok-hwan dan Ilsuh sedang berkuda melakukan patroli dengan beberapa orang prajurit, berusaha melacak sumber suara itu. Tapi tiba-tiba seorang dari prajurit Gaema berseru kalau ada beberapa orang desertir. Segera beberapa prajurit Gaema yang melakukan patroli memacu kudanya untuk mengejar para desertir yang berusaha lari.Paraprajurit Gaema segera membunuh orang-orang itu yang berniat melarikan diri dan membelot kepada Raja. Beberapa orang desertir meminta ampun …

Cheok-hwan dan Ilsuh menyaksikan semua kejadian itu dengan persaan geram.

Cheok-hwan: (berseru lantang)Paraprajurit dengarkan aku!Paradesertir akan dieksekusi di tempat!

Para prajurit dari Pasukan  Gaema berkuda melakukan patroli ,,, beberapa sosok banyangan mengendap-endap mengawasi keadaan sekitar, kemudian menuju ke kandang kuda ..

Di sebuah jalanan desa Khitan, para penduduk desa segera berlarian menyelamatkan diri begitu melihat serombongan prajurit desertir berlari ke arah mereka.Paraprajurit Gaema mengejar para prajurit yang desertir dan membunuh mereka tanpa ampun. Seorang prajurit Gaema bahkan sampai menggeledah rumah penduduk dan menemukan prajurit yang desertir, menyeretnya keluar dan membunuhnya.

Perkemahan Ho-gae

Ho-gae sedang menerima laporan dari Ilsuh di dalam Tenda Utama ketika Jenderal Obool masuk dengan tergesa-gesa.

Jenderal Obool: Komandan!Paraprajurit yang melakukan desersi jumlahnya semakin meningkat. Kita tidak bisa menghentikan mereka lagi!

Ilsuh: (pada Ho-gae) Kau harus meningkatkan jumlah patroli! Kita harus menghentikan mereka sebelum lebih banyak prajurit yang desersi.

Jenderal B: (muncul)  Apakah kita membunuh semuanya? Apakah kita telah membunuh semua desertir itu? Komandan! Berikan perintahmu!

Jenderal Obool: Kau harus cepat memutuskan. Setiap detik yang ditunda maka akan membuat keadaan semakin memburuk.

Ho-gae menerima semua laporan dan usulan itu secara serentak saling susul menyusul , membuatnya terkesima dan tampak tak tahu apa yang harus ia lakukan …

Para prajurit Gaema masih memburu para prajurit yang desertir sampai ke desa Khitan lainnya.Parapenduduk segera berlarian menyelamatkan diri ke dalam rumah, tak mau menjadi korban salah sasaran.Paraprajurit desertir satu persatu terbunuh oleh Pasukan Gaema. Soojinee mengawasi semua kejadian itu dari loteng suatu bangunan. Satu orang desertir meminta ampun namun segera ditendang dan ditusuk beramai-ramai oleh para prajurit Gaema.

Soojinee tak tega melihat semua kejadian sadis itu dan beniat menutup jendela, namun ia melihat ada seorang prajurit desertir yang masih hidup dan bergerak. Soojinee memutuskan keluar dari ruangannya setelah melihat kalau para prajurit Gaema sudah pergi.

Para penduduk memberanikan diri untuk keluar dari rumah dan melihat begitu banyak tubuh yagn bergelimpangan di jalan desa mereka. Darah membasahi jalanan membuat berwarna merah ….

Soojinee melangkahi tubuh-tubuh para prajurit yang kini telah menjadi mayat, mencari di antara mereka apakah ada yang masih hidup dan tiba-tiba mendengar suara batuk-batuk seseorang. Soojinee segera menghampirinya dan bertnaya apakah ia baik-baik saja. Prajurit itu meminta Soojinee untuk menolongnya. Soojinee segera memapah orang itu bangun dan membantunya pergi dari jalan. Tanpa Soojinee ketahui, Cheoro mengawasinya dari ujung jalan.

————–

Perkemahan Ho-gae

Beberapa prajurit yang desertir, termasuk prajurit yang rindu rumahnya, ditendangi dan diseret ke hadapan Jenderal Obool.

Jenderal Obool: Kalian orang-orang tolol! Aku akan memenggal kepala kalian dan mempertontonkannya kepada semua orang sehingga melihatnya! Beraninya kalian yang mengaku sebagai prajurit Goguryeo melakukan desersi? (Ho-gae dan Ilsuh mendatangi tempat Jenderal Obool) Itu tak diijinkan dan tak mungkin dilakukan!

Jenderal Obool menghunuskan pedangnya, semua prajurit desertir ketakutan. Ho-gae yang ada di belakang Jenderal Obool menahan tangannya yang memegang pedang. Jenderal Obool segera mundur sementara Ho-gae sendiri yang maju menanyai mereka.

Ho-gae: Apakah kalian akan pergi ke Pasukan Raja?

Semua: ….

Ho-gae: Beritahu aku mengapa kalian ingin meninggalkan aku dan pergi ke Raja! Jika alasan kalian cocok, aku akan membiarkan kalian untuk hidup.

Si prajurit yang rindu rumahnya memberanikan diri berbicara ..

Prajurit: Aku …

Ho-gae: Teruskan

Prajurit: itu menegakkan tubuhnya, memandang pada Ho-gae dengan memelas.

Prajurit: (menahan tangis) Aku hanya ingin pulang ke rumah. Ibuku sudah tua dan sendirian, dan ia sekarang sedang sakit. Semua saudara-saudaraku telah mati di peperangan dan aku satu-satunya yang masih hidup …!

Ho-gae segera mencekal bajunya dan menariknya hingga berdiri …

Ho-gae: (nada dingin) Berapa banyak orang yang tidak pernah kehilangan anggota keluarganya dalam peperangan? Musuh tepat ada di hadapanmu, tapi kau ingin pulang ke rumah? Orang-orangku mempertaruhkan jiwanya dimedanpertempuran, tapi kau membalikkan badanmu untuk pulang ke rumah sendirian?

Si prajurit menangis karena tahu Ho-gae tak akan mengampuninya kali ini, Ho-gae mendorongnya ke rekan-rekannya prajurit desertir.

Prajurit: (menyembah) Kumohon ampuni aku ..  kumohom ampunilah aku sekali ini saja.

Ho-gae: (nada dingin) Jika kau mengatakan kalau kau pergi ke pasukan Raja demi kehormatan Goguryeo, maka aku tak akan harus membunuhmu … sayang sekali, tapi jawabanmu salah!

Ilsuh segera maju ke depan dan menusukkan pedangnya langsung ke jantung prajurit tadi dan langusng mencabutnya, mata Ilsuh merah buas. Jenderal Obool dan Jenderal B menyaksikan ini dengan mata terbelalak, saling pandang satu sama lain.

Ho-gae: (nada tegas) Semua desertir akan membayar untuk pengkhianatan mereka! Harga berkhianat adalah hidup mereka!

Ho-gae meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar, Ilsuh melaksanakan eksekusi sama seperti pada prajurit tadi, menusuk langsung ke janutung para prajurit desertir.

Jenderal Obool dan Jenderal B sungguh tak percaya akan semuanya ini … memandang ke arah perginya Ho-gae ..

Keesokan paginya ..

Beberapa orang desertir berkuda di padang, mereka berhasil mencuri kuda semalam. Tapi beberapa orang prajurit Gaema mengejar mereka dengan cepat dan berhasil menyusul. Para prajurit Gaema segera mengepung para prajurt desertir, yang terlihat putus asa.

Tiba-tiba ..

Seorang prajurit Gaema terjatuh dari kudanya karena terkena anak panah … semua orang heran, seorang prajuirt Gaema kembali terjatuh dari kuda karena anak panah. Kini semua orang-benar-benar merasa terkejut …

Tak berapa lama kemudian terlihat Jenderal Kho berkuda memimpin para prajurit Gaema Jyooshin milik Raja menghadapi para prajurit Gaema Goguryeo milik Ho-gae

Para prajurit desertir sangat lega dan senang melihat kedatangan pasukan Raja, mereka segera memacu kuda menghampiri Jenderal Kho dan pasukannya, yang menyambut mereka dengan senang hati dan tangan terbuka.

Jenderal Kho memajukan kudanya mendekat pada para prajurit Gaema Ho-gae ..

Jenderal Kho: Beritahu Komandan Ho-gae ini: “Yang Mulia Raja telah tiba. Dia harus datang dan menyembah di hadapan Yang Mulia Raja. “

Para prajurit Gaema Ho-gae segera membalikkan kuda mereka dan kembali ke perkemahan Ho-gae.

Perkemahan Raja

Dalgoo berlari tergesa-gesa memasuki Tenda Utama, berhenti untuk memberi hormat pada Raja, yang sedang berbicara dengan Jenderal Kho mengenai situasi kini.

Dalgoo: Yang Mulia, Khan Atilla berada di sini.

Damdeok: Apakah ia membawa para prajuritnya?

Dalgoo: Sekitar 2 ribu orang.

Damdeok tersenyum simpul mendengarnya …

Damdeok keluar tenda diiringi Jenderal Kho dan Dalgoo, menemui Atilla di luar tenda.

Damdeok: Kau tidak mengirimiku pemberitahuan kalau kau akan datang.

Atilla: Karena kita akan menjadi saudara nantinya, kami pikir kami bisa membantu kalian.

Damdeok: Aku tak tahu jika aku butuh bantuan untuk menggerakkan orang-orangku ..

Atilla: (memotong) Aku tahu kalau kau mencoba melindungi para desertir dari pasukan Ho-gae. Kami hanya ingin satu hal: Kepala dari Yeon Ho-gae! Kau dapat melakuan apapun yang kau inginkan. Tapi kami akan menghukum musuh kami dengan tangan kami sendiri …

Damdeok: (memotong) Kau telah menyinggung diriku! (Atilla terkejut; dengan nada tegas) Yeon Ho-gae adalah pemberontak Goguryeo, yang telah melakukan pengkhianatan. Satu-satunya orang yang berhak untuk menghukumnya hanyalah Raja dari Goguryeo! Apakah kau paham ini?

Damdeok memandang tajam pada Atiila, menunjukkan padanya siapa yang “saudara tua” dalam hal ini. Atilla hanya bisa diam. Damdeok kemudian membalikkan tubuhnya dan masuk kembali ke tendanya, sama sekali tak menawarkan Atilla untuk masuk, tampaknya Damdeok benar-benar merasa tersinggung dan marah. Atilla dan Dutai hanya bisa memandang punggung Damdeok.

Dutai merasa kesal dalam hatinya, menganggap permintaan Raja Goguryeo ini tidak masuk akal dan bertekad akan membunuh Ho-gae dengan tangannya sendiri demi menghibur arwah para rekan-rekannya yang mati dibantai oleh Ho-gae.

Beberapa waktu kemudian, Damdeok sedang ada di luar tendanya, menghadapi sebuah meja dengan peta besar di atasnya. Damdeok sedang melakukan diskusi dengan Jenderal Kho dan Huk-gae, Hyon-go datang menghampiri mereka diiringi Hyeondong.

Hyon-go: Yang Mulia, sebuah pesan telah tiba dari Gooknaesong.

Damdeok segera mengambil gulungan pesan dan membacanya.

[Andy: Gulungan pesan ini adalah gulungan surat yang telah ditulis oleh Yeon Garyeo sendiri kepada Raja Damdeok. Surat yang ditulisnya di atas yang kubuat miring tulisannya]

Damdeok: Tuan Yeon telah ..  mengambil kedua Simbol Dewa.

Semua orang terkejut mendengarnya ..

Huk-gae: Apa? (nada marah) Kita seharusnya membunuhnya sejak dulu saat kita masih punya kesempatan.

Damdeok: Dia sudah meninggal.

Semua orang terdiam, tak paham apa yang sedng terjadi …

Damdeok: Dikatakan kalau ia membunuh dirinya sendiri.

Damdeok menutup gulungan pesan itu dan berjalan ke samping, tampak wajahnya sangat sedih dan pikirannya begitu kalut. Ia menaruh kedua tangannya di atas pinggang, memandang ke kejauhan …

Damdeok: (nada duka) Goguryeo telah kehilangan Perdana Menteri terbaiknya.

Tapi Damdeok tidak ingin larut dalam kesedihan, ia segera pulih dan berbalik menghadap pada yang lainnya lalu berjalan ke arah mejanya.

Damdeok: Guru!

Hyon-go: Ya, Yang Mulia!

Damdeok: Cari tahu berapa banyak desertir yang telah datang ke pihak kita.

Hyon-go: Ya, Yang Mulia!

Damdeok: (berhenti) Jenderal Kho!

Jenderal Kho: Ya, Yang Mulia!

Damdeok: Pastikan kalau orang-orang kita melindungi mereka.

Jenderal Kho: Aku akan mematuhinya.

Huk-gae: (tidak sabaran) Apakah kita akan menyerang mereka?

Damdeok: (berjalan) Ketika Ho-gae mendapat tahu kalau ayahnya telah meninggal, ia akan mencoba untuk menyerang kita. Ktia akan kehilangan keuntungan kita jika itu terjadi. (masih sambil berjalan, berseru pada yang lain) Jenderal !

Para Jenderal: Ya, Yang Mulia!

Damdeok berhenti di tengah-tengah para Jenderalnya, yang tengah datang mendatangi.

Damdoek: Kita akan membagi para prajurit kita menjadi kelompok-kelompok kecil berjumlah lima ratusan orang! Guru, akan menunjukkan pada kalian jalur pergerakan kalian!

Semua Jenderal: Baik!

Hyon-go: (pada semua jenderal) Kita ke arah sini …

Hyon-go segera pergi dengan para Jenderal untuk memberitahu mereka jalan mana yang harus ditempuh dan apa siasat yang telah direncanakan oleh Damdeok.

Damdeok kembali berjalan diiringi Huk-gae, Jenderal Kho, dan Dalgoo.

Damdeok: Prioritas utama kita adalah berusaha membuat Ho-gae bingung sehingga menunda serangan pertamanya. Prioritas yang kedua adalah membawa kembali para desertir sebanyak yang memungkinkan. (berhenti, dengan nada sedih)  Skenario terbaik adalah … membuat sebuah pemberontakan di perkemahan Ho-gae sendiri.

Damdeok berjalan pergi meninggalkan Huk-gae, Jenderal Kho, dan Dalgoo di belakang. Huk-gae menghampiri Jenderal Kho dan saling berpandangan, kemudian mengawasi punggung Raja mereka, tak mengerti apa yang sedang dipikirkannya.

Joomochi dan orang-orangnya dari Suku Shiwoo sedang bersantai-santai. Tiba-tiba terdengar suara terompet bergema. Mandeuk penasaran apa yang sedang terjadi.

Mandukl: (pada Joomochi) Ketua! Mereka sedang memberangkatkan para prajurit!

Mandeuk segera memberi tanda para rekan-rekannya yang lain dan pergi untuk mencari tahu lebih lanjut.

Joomochi tertinggal di belakang, ia sedang bersama-sama dengan Dalbee, yang membetulkan rompi kulitnya.

Joomochi: (meminta rompinya) Sini ..

Dalbee: (lega) Ya, ini juga sudah selesai. Ini …

Dalbee segera berdiri dan memakaikan baju rompi itu pada Joomochi, yang terlihat wajahnya senang.  Dalbee kemudian membenarkan posisi baju rompi baru menyingkir ke samping.

Dalbee: (membungkuk hormat) Hati-hati di jalan.

Joomochi menganggukkan kepalanya sebagai balasan lalu berjalan perlahan, tapi segera membalikkan tubuhnya menatap pada Dalbee, yang heran dan memberi hormat lagi, yang dibalas dengan anggukan kepala dari Joomochi ^^ Dalbee lalu beranjak pergi, tapi Joomochi tidak tahan lagi sehingga menarik tangan Dalbee yang mau pergi. ( Go Go Go Joomochi !! hehehehe ^^ ) Dalbee terkejut setengah mati ..

Joomochi: (tergagap) Aku .. aku ada sesuatu yang harus kukatakan padamu ..

Joomochi segera tersadar kalau ia sedang memegang lengan Dalbee dan melepaskannya, Dalbee memegangi tangannya yang sedikit kaku karena tertarik tadi. Dalbee tersipu malu …

Joomochi: (gugup) Aku .. Aku maksudkan .. aku ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu … Nanti saat aku kembali .. aku akan .. aku akan mengatakan sesuatu padamu.

Joomochi masih ingin berbicara lebih banyak lagi, tapi ….

Damdeok: Joomochi!

Damdeok muncul diiringi Dalgoo dan beberapa pengawal pribadinya sedang menghampiri ke arah Joomochi dan Dalbee ^^ Joomochi memejamkan matanya merasa kesal ^^ Ga kesampaian deh ^^ Dalbee menatap Joomochi dengan geli bercampur malu ^^ Joomochi dengan sedikit jengkel pada Rajanya, menoleh untuk melihat apa sih yang di maui si Damdek kali ini sampai-sampai mengganggunya di saat yang kritis begini! ^^

Damdeok: Aku ingin kau menemaniku.

Joomochi: (masih kesal) Aku khan selama ini selalu menemanimu!!

Damdeok: (memotongnya) Aku berencana untuk menemui Ho-gae tanpa seorangpun dari Suku Khitan mendapat tahu mengenai hal ini.

Joomochi: (rasa kesalnya langsung sirna) Huh?

Damdeok menyadari seusatu, ia memandang pada Dalbee, yang langsung menunduk memberi hormat.

Damdeok: (pada Joomochi) Ayo kita pergi ..

Joomochi masih di belakang, enggan meninggalkan Dalbee. Ia menoleh perlahan ke arah Dalbee, yang menatapnya khawatir. Tanpa berkata apapun Joomochi segera pergi menyusul Rajanya. Dalbee memandang punggung Joomohci dengan mata memancarkan kecemasan, berdoa dalam hatinya supaya mereka selamat, terutama Joomochi.

Perkemahan Ho-gae

Ho-gae memasuki kamar pribadinya di dalam Tenda Utama dengan tergesa-gesa, ia melihat Sa Ryang, yang memberi hormat padanya lalu pergi meninggalkan mereka berdua, dan langsung menemui Ki-ha, yang sedang duduk menantinya.

Ki-ha: Ini adalah surat dari ayahmu. (menyerahkan segulungan surat)

Ho-ge: (tersenyum senang, dengan nada lembut) Wilayah ini adalah medan pertempuran. Bagaimana kau bisa datang kemari?

Ki-ha: (tetap tenang) Itu adalah surat wasiat Tuan Yeon.

Ho-gae: (terkejut) Surat wasiat … ? (tampak tak percaya) Apakah Raja menghukum mati ayahku? Atas dasar apa? Kenapa? (berteriak) Kenapa?

Ki-ha: (memandang tajam) Dia membunuh dirinya sendiri. Setelah aku meninggalkan Gooknaesong.

Ho-gae: Apa?

Ki-ha: Dia memintanya padaku, jadi aku memberikan itu padanya. Racun yang sama yang telah mengambil jiwa ibumu, Nyonya Yeon.

Ho-gae membanting gulungan surat ke atas meja dan menghampiri Ki-ha, menariknya berdiri.

Ho-gae: Apa yang kau katakan? Apa kau mau bilang kalau kau memberikan ayahku racun untuk membunuh dirinya sendiri dengan itu? (membentak) Kau memberikan racun itu pada ayahku?

K-ha menatap Ho-gae dengan pandangan tenang.

Ki-ha: Benar, aku lakukan itu. (Ho-gae terhuyung mundur, shock) Dulu juga ada insiden yang sama di Taeshil [Makam Kerajaan]. Raja sebelumnya memberitahuku untuk tidak menjadi penghalang bagi anaknya untuk menjadi Raja, dan ia menusukkan sendiri Pedang Raja Joomong ke jantungnya dan membuat diriku yang dipersalahkan.

Ho-gae: (terkejut lagi) Kau dulu mengatakan kalau kau yang membunuhnya.

Ki-ha: Tidak, bukan diriku. Aku tidak dapat memberitahukan kebenarannya. Aku tak dapat memberitahukan pada semua orang, bahkan tidak juga pada Langit! … Tapi Tuan Yeon berbeda, ia memintaku untuk pergi bersama dengan dirimu. Ia memohon padaku untuk membuatmu menjadi Raja.

Ho-gae tampak shock mendengar semua ini … pikirannya sangat kalut …

Tiba-tiba ..

Cheok-hwan berseru-seru memanggilnya …

Cheok-hwan: Komandan! Di mana kau Komandan?

Cheok-hwan mau masuk ke ruangan pribadi Ho-gae tapi dihentikan oleh Sa Ryang, yang berjaga di luar.

Cheok-hwan. (berseru ke arah dalam) Gebang Barat sudah runtuh, para prajurit desertir telah pergi dalam jumlah yang besar!

Di dalam

Ho-gae masih shock dan tak menjawabnya …

Ki-ha membuka kotak yang ia bawa, menunjukkan isinya, yakni dua Simbol Dewa.

Ki-ha: Ini adalah dua Simbol Dewa. Kita akan segera memiliki kekuatan dari Langit. Dan … (membuka jubah luarnya, menunjukkan sosoknya yang sedang mengandung) Aku datang padamu untuk menjadi ayah dari anakku.

Ho-gae: (terkejut) Apakah dia miliknya? Apakah dia anaknya?

Ki-ha: Tak ada harapan yang tertinggal di Gooknaesong. Kita harus pergi ke negeri lain untuk memperkuat kekuasaanmu. Aku akan membantumu untuk menaklukkan negeri-negeri dahulu.

Ho-gae: (berteriak) Cukup!

Ki-ha: Kau mengatakan kalau kau akan selalu bersamaku.

Ho-gae: Aku bilang cukup!

Ki-ha: Kau mengatakan kalau kau akan selalu ada di sisiku tak peduli apapun, (nada bergetar) tak peduli bagaimana aku berubah …!

Ho-gae memandangnya dengan pandangan menusuk sehingga Ki-ha terdiam … Ho-gae tak tahan lagi dan segera keluar, meninggalkan Ki-ha sendirian.

Ho-gae keluar dari ruangan pribadinya dan mengambil pedang ..

Ho-gae: Berangkatkan para prajurit untuk berperang!

Cheok-hwan: Para prajurit sekarang ada di ujung pemberontakan …

Ho-gae: (membentak) Aku bilang berangkatkan para prajurit untuk berperang! (dengan terengah-engah, pada Ilsuh yang baru datang) Kumpulkan semua jenderal!

Ilsuh: Ya, Komandan!

Ho-gae menghunuskan pedangnya dan mengancam Sa Ryang …

Ho-gae: Bawa pergi wanita itu yang ada di dalam sana… dan pergilah dari tempat ini secepat mungkin! Pergilah ke manapun di mana aku tak akan pernah bisa melihatnya lagi!

Di dalam

Ki-ha menutup kotak penyimpanan Simbol Dewa, dan tiba-tiba merasakan rasa sakit di perutnya, Sa Ryang yang baru masuk sangat terkejut melihatnya dan segera memapahnya bangun. Ki-ha nampak menahan sakit, napasnya terengah-engah …

Beberapa saat kemudian …

Para Jenderal telah berkumpul di Tenda Utama

Ho-gae: Apa?

Jenderal B: Kumohon tarik kembali perintahmu! Bagaimana bisa kita membunuh semua prajurit desertir? Mereka yang desersi ada ribuan jumlahnya! (berseru) Apakah kau mau melakukan pembantaian besar-besaran?

Jenderal Obool: Kalau begitu, apakah kau mengusulkan kalau kita mendukung mereka?

Jenderal B: Para prajurit Goguryeo pergi untuk bergabung dengan Pasukan Raja! (membentak) Apanya yang disebut desertir?

Cheok-hwan: (berseru) Omong kosong apa yang kau bicarakan? Komandan yang ada di hadapanmu ini adalah Raja yang sebenarnya!

Ho-gae hanya diam saja melihat semua perdebatan ini, pikirannya sangat kalut … kejutan yang bertubi-tubi membuat pikirannya tak bisa berpikiran secara normal …

Jenderal C: Pasukanku berasal dari Suku Sono dan kami telah menerima sebuah pesan dari kepala suku kami. (nada tegas) Kami akan pergi untuk bergabung dengan Pasukan Yang Mulia Raja!

Cheok-hwan: (membentaknya) Jenderal!

Ilsuh maju menghadapi Jenderal C, menghadangnya …

Ilsuh: Kau harus melewati diriku dahulu!

Tiba-tiba ..

Seorang perwira masuk berseru ..

Perwira: Komandan! Pasukan Raja mendekat dari arah Barat!

Jenderal Obool: (maju) Apakah mereka akan menyerang? Berapa banyak jumlah mereka di luarsana?

Perwira: Mereka bergerak dengan sangat cepat. Kami tak bisa memperkirakannya! Mereka mendekat dengan cepat sekali!

Cheok-hwan: (menoleh pada Ho-gae) Ini adalah penyerangan! Berikan perintahmu pada kami!

Jenderal Obool: (pada Cheok-hwan) Kau katakan kalau Raja kita adalah seorang pengecut!

Seorang perwira masuk terburu-buru menemui para jenderal yang sedang berdebat ..

Perwira 2: Suku Khitan mendatangi dari arah Selatan! Mereka berjumlah ribuan orang banyaknya!

Cheok-hwan: (berseru) Apa katamu? Apakah Raja sudah bersekutu dengan Khitan?

Jendral C: Suku Soonno, Sono, dan Gwanno telah memutuskan. Kami akan pergi!

Jenderal C segera berbalik akan pergi diikuti oleh orang-orangnya. Ho-gae masih terpana mendengar semua kejadian ini, pukulan bertubi-tubi membuatnya seperti orang mabuk … pikirannya bukan lagi pikiran orang normal …

Jenderal Obool menahan Jenderal C

Jenderal Obool: Jenderal! Tidakkah kau telah bersumpah untuk bersatu hati dengan kami?

Jenderal B: Kami tidak datang ke Khitan untuk menjadi pemberontak!

Cheok-hwan: (pada Ho-gae) Komandan! Beritahu apa yang harus kami lakukan!

Suara Cheok-hwan hanya bergema di telinga Ho-gae namun Ho-gae tak mendengarnya, ia berjalan maju menuju ke Jenderal C dengan pandangan mata sinting ..

Jenderal C: Ke empat propinsi akan pergi kepada Raja. Jika kalian menghentikan kami, kami akan menyerang kalian!

Jenderal C segera berbalik dan beranjak pergi, tapi kali ini ia tidak ditahan oleh tangan manusia, tapi sebuah pedang menusuk tubuhnya dari belakang membuatnya langsung tersungkur jatuh tewas di tanah. Tampak Ho-gae dengan pedang berlumuran darah di tangannya. Semua jenderal menjadi terkejut oleh tindakan Ho-gae.

Ho-gae: (nada dingin menusuk) Jangan berbalik memusuhi diriku! Jangan mengkhianati aku!

Jenderal B tidak terima rekannya dibunuh dengan cara pengecut seperti itu, ia sangat marah.

Jenderal B: (menunjuk pada Ho-gae) Aku akan mengambil kepalanya dan memberikannya pada Raja!

Jenderal B dan beberapa orang segera menghunuskan pedang mereka tapi Cheok-hwan dan yang lainnya menghentikan mereka.

Cheok-hwan: Tangkap semua orang-orang ini. Pasukan Gaema! Tangkap mereka!

Ilsuh dan para pengawal segera melindung Ho-gae, sementara para Jenderal yang lainnya menghadang jalan pergi Ho-gae dan yang lainnya. Mata Ho-gae memerah dan napasnya terasa berat … ia dalam batas kegilaan.

Di lain tempat ..

Soojinee merawat prajurit yang semalam ia selamatkan dan sekarang berbaring di sebuah tempat tidur.

Soojinee: Kelihatannya pendarahan sudah berhenti. Hey bangun! (memukul luka si prajurit) Kau belum mati, khan?

Prajurit: (mengaduh) Terima kasih!

Soojinee: Kau membuatku takut saja!

Soojinee menyelimuti si prajurit dan keluar, menemukan Cheoro sudah ada di lantai bawah menunggunya. Soojinee turun ke bawah dan menghampirinya.

Soojinee: Mengapa kau selalu mengikutiku kemanapun aku pergi? Apakah kau sama sekali tak punya harga diri? (mendekati Cheoro) Apakah kau benar-benar begitu terobsesi padaku?

Cheoro hanya diam saja tak menjawabnya, ini membuat Soojinee merasa tidak enak …

Soojinee: Seseorang dulu pernah mengatakan kata-kata yang sama padaku. Sudah sangat lama sekali.

Cheoro: Aku merasakan kegelisahan yang aneh. (Soojinee sedang sibuk dengan masakannya) Aku merasakan seakan-akan dia sedang memanggilku.

Soojinee: Siapa emangnya?

Cheoro: Aku merasa seakan-akan aku harus berada di sampingnya.

Soojinee: (masih sibuk memasak) Di samping siapa?

Cheoro: (beranjak bangkit) Dia tidak berada jauh. Aku harus pergi menemuinya. Aku merasa sangat gelisah.

Soojinee: (berbalik) Sang Raja?

Cheoro: Ayo kita pergi!

Soojinee: Gelisah? Mengapa?

Cheoro: Aku beritahu dirinya kalau aku akan membawamu padanya.. Aku ingin menepati janjiku padanya.

Soojinee terkejut dan merasakan air mata mulai menggenang, yang selalu ia rasakan setiap teringat pada Damdeok. Soojinee mengejapkan matanya berulangkali dan membelakangi Cheoro berpura-pura mengaduk masakan.

Soojinee: Hey, Penguasa Benteng … Bisakah aku meminta bantuan padamu?

Cheoro: Katakan padaku.

Soojinee: Aku tahu kalau kau sudah bekerja keras dalam menemukan aku dan kemudian menyelamatkan diriku. Karena itulah aku merasa sangat tidak enak dengan permintaanku ini. (berbalik pada Cheoro)  Katakan pada Raja ini: Katakan padanya kalau kau tidak dapat menemukan Soojinee. Katakanlah padanya aku di suatu tempat yang tak dapat kau temukan.

Soojinee berjalan ke sebuah kursi dan duduk menyenderkan tubuhnya sambil menghela napas.

Cheoro: Bukankah kau adalah wanitanya Raja?

Soojinee: (tersenuyum) Mungkin di kehidupanku selanjutnya. Jika aku terus berdoa mengenai itu dengan sungguh-sungguh setiap hari sepanjang hidupku.

Cheoro: (heran) Apakah kau melakukan sesuatu kesalahan padanya? Sesuatu yang tak dapat diampuni?

Soojinee: Tch … kau bicara seperti kau tahu sesuatu …  Bisa dikatakan kalau aku takut aku akan melakukan sesutau yang tak dapat diampun.

Cheoro tak bisa memami maksud perkatan Soojinee dan memikirkannya …

Soojinee: (bangun berdiri) Hey, Penguasa Benteng. Jagalah Rajaku. Dia itu suka berbuat seenaknya sendiri jadi selalu ikuti dia jika itu terjadi. Dan temanilah dirinya minum-minum dari waktu ke waktu. (Cheoro memandang Soojinee tajam) Dan … buatlah ia tersenyum sekali sehari. (mata Soojinee berkaca-kaca, ia berjalan pergi) Aku akan membayar hutangku ini di kehidupanku yang selanjutnya. Aku sangat senang bisa bertemu denganmu. Sampai jumpa lagi di kehidupan selanjutnya.

Soojinee menepuk pundak Cheoro kemudian beranjak pergi naik ke loteng.  Cheoro hanya mengawasinya. Cheoro sebenarnya ingin menemani Soojinee, namun hatinya selalu gelisah tak tenang … merasakan tarikan kuat di hatinya untuk menemui Rajanya.

Cheoro meninggalkan Soojinee dan ia sekarang memacu kudanya melewati hutan menuju ke arah di mana Rajanya berada.

Malam hari ..

Soojinee sudah beriap-siap dan akan menaiki kudanya saat ia melihat dua orang yang dikenalnya sedang menuju ke arahanya. Soojinee segera menyembunyikan dirinya dan mengawasi mereka.

Sa Ryang menghela kudanya sambil menuntun kuda yang dinaiki oleh Ki-ha. Ki-ha tampak pucat dan cara duduknya terlihat tidak stabil. Soojinee heran dan bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang mereka lakukan di sini, dan apa yang sedang terjadi pada Ki-ha, yang terlihat kesakitan?

Sa Ryang menghentikan kuda mereka lalu turun dan membantu Ki-ha untuk turun dari kudanya. Ki-ha berpegangan pada Sa Ryang namun rasa sakitnya tiba-tiba memucak, membuatnya setengah terjatuh, menyebabkan guncangan di perutnya. Ki-ha mengerang kesakitan.

Sa Ryang: (nada cemas) Apa kau tidak apa-apa?

Sa Ryang membawa Ki-ha memasuki sebuah rumah kosong dan membaringkannya dengan hati-hati di sebuah pembaringan.

Sa Ryang: (sangat cemas) Aku akan mencari seorang wanita yang dapat membantumu.

Sa Ryang menyelimuti Ki-ha dan meninggalkannya pergi. Ki-ha menggunakan sapu tangannnya untuk digigitnya menahan rasa sakit yang datang bertubi-tubi …

Sa Ryang memasuki sebuah rumah yang beranggotakan sorang ibu, nenek, bayi dan  dua orang anak kecil.  Penghuni rumah itu terkejut dan bertanya siapa dirinya tapi Sa Ryang segera menyeret si ibu keluar, yang lain berteriak-teriak memanggilnya, namun mereka takut dengan Sa Ryang. Sa Ryang sebelum pergi memandang kembali ke arah si bayi. Rencana sudah dibuatnya …

Sa Ryang menyeret terus si wanita di sepanjang jalan, si wanita itu merasa ketakutan dan bertanya pada Sa Ryang ke mana ia akan pergi.  Soojinee melihatnya dan mengikutinya pergi.

Sesampainya di tempat Ki-ha, wanita tadi menyadari kalau Ki-ha sedang akan melahirkan sehingga tanpa bertanya langsung menghampiri Ki-ha dan memeriksa bagian bawah tubuhnya … tampaknya ketuban sudah mulai pecah …

Wantia: (pada Sa Ryang) Ambilkan aku air.

Sa Ryang segera pergi untuk mengambil air, meninggalkan si wantia itu bersama dengan Ki-ha.

Wanita tadi segera membantu Ki-ha .. Ki-ha menjatuhkan sapu tangan yang digigitnya, yang nampak darah disana, menunjukkan betapa Ki-ha benar-benar kesakitan sehinga menggigit sapu tangan itu kuat-kuat sampai berdarah.

Wantia: Lihatlah kemari. Kumohon bukalah matamu. (berteriak) Kau seharusnya melahirkan si bayi! Bangunlah, Ayo!

Si wanita bingung dengan keadaan Ki-ha, mengawasi ke sekeliling dan kemudian pergi meninggalkan Ki-ha untuk mencari sesuatu, entah apa …

Soojinee melangkah masuk ke dalam rumah dengan diam-diam, melihat tak ada seorangpun di dalam sana kecuali Ki-ha, yang sedang berbaring dan mengerang kesakitan sementara matanya terpejam.

Soojinee berjalan mendekat kemudian mengeluarkan pedang pendeknya dan bermaksud menusuk Ki-ha. Ki-ha mengerang lebih keras dan tangannya terulur seperti menggapai ke arah Soojinee, membuat Soojinee ragu-ragu … Soojinee, yang dasarnya memang berhati baik, merasa tidak tega dan segera mengurungkan niatnya. Ia duduk di sebelah Ki-ha dan memegang tangan yang diulurkan Ki-ha padanya, berusaha memberikan dukungan pada Ki-ha untuk bertahan.

Sa Ryang di jalanan dengan membawa ember, sedang berusaha mencari air tapi melihat para anggota Hwacheon sudah mengepungnya, dan Dae Jangro berkuda mendekatinya dari belakang.

Perkemahan Raja

Joomochi ada di luar, ia baru saja makan dan perutnya terasa kenyang lalu bersendawa keras  Jomoochi mengawasi ke sekelilingnya …

Joomochi: (bergumam) Aku ingin tahu apakah Raja kita sudah makan atau belum?

Joomochi pergi ke Tenda Utama, ia masuk dengan santainya ^^

Joomochi: Ahhh .. perutku sungguh kenyang (menepuk perutnya)

Tiba-tiba Joomohci wajahnya menjadi cemas melihat kondisi dari Damdeok, yang terlihat tak begitu baik, tampak sedang menderita …

Joomochi: (nada cemas) Oi .. ada apa?

Joomochi segera meletakkan kapaknya di meja dan menghampiri Raja yang tampak sama sekali tidak baik, membungkuk di atas meja, keringatnya bercucuran dengan deras dan napasnya terengah-engah tak beraturan ….

Joomochi: Hei, lihatlah kemari, Raja!

Damdeok mulai normal napasnya … ia tak mengerti apa yang sedang terjadi padanya, kekuatannya seakan-akan lenyap dan tubuhnya terasa sakit semua … Damdeok mendongakkan kepalanya ….

———

Sori … seharusnya bisa selesai dr tadi, tapi tadi pagi pas ngetik tiba-tiba kompi langsung padam tanpa peringatan >.< alias listrik mati >.< tapi cuman beberapa menit, emangnya PLN ga ada kerjaan?,  membuat sebagian ketikanku menghilang tanpa jejak T.T … terpaksa dengan hati jengkel bercampur kesal aku ngetik ulang deh T.T … begitulah mengapa sinopsis ini terlambat T.T

Iklan

28 comments on “The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 21

  1. Ўªªªªª ​​اَللّهُ oppa kok nanggung amat ƪ‎​​‎​(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)Ʃ
    Penasaran tingkat dewa bener2 dach
    Tetap semangat yah andi oppa
    Cia cia ciahhhhhhhh…
    SEMANGAT yoweSsS..

  2. waah dh kayak baca cerbung d dlm cerbung..1/4..1/3..1/2..tp gk papa deh, udah syukur d buatin..thxs yaa..dtunggu klanjutanny..:)

    • ahahahaa … ^^ iya ya .. ^^ soalnya aku pengin lebih membuat penasaran kalian ^^ so kalian ntar lebih menikmati saat membaca sinopsisku karena menggebu2 pengin tahu jalan ceritanya ^^

  3. kurang setuju deh sama caranya yeon garyeo mendapatkan simbol joojak & chung ryong, kok gampang bgt ya…, mestinya kan simbol itu di jaga ketat,..:-( tapi suka sinopsisnya… semangat ya mas andy…….LANJUUUTT….. 😉

  4. Org blg mbuat org lain snang itu akn dpt berkah…
    Cnthx dgn buat sinpsis “the legend” smpe slesai mk banyk yg snang..bnyk yg doakn oppa @ndi ttep sehat biar cpt nlis snpsisx smpe episod 24..
    Cos bnyk yg suka “the legend”….
    Smgt ya..

  5. Hmm
    Mas aNdi cemangut yaH
    WAlaupun nntn tiap malam ,tapi ttp aja penasaran ma eps terakhirx
    Cepet2 selesain yah mas
    Ơ̴̴̴̴̴̴͡.̮Ơ̴͡

  6. hiks…hiks,nanggung banget sich ceritanya,..T_T…..trus.semalem pada mati lampu,jd gak bisa nonton di lbs tv..nambah sedih deh..
    Mas Andy cepet diselesain donk……biar gak mati penasaran…..

  7. ayo donk sdikit lgiii,,,, dri pgi bka ni web bru 1/2 truuuuus jd geeeeemeeeeeeeeeeeezzzzz,,, tetap semangat pko@ bwt yg nulis,,,

  8. Baca sinopsis mata sampe nak keluar saking penasarannya eh baca komentar perut yg rasanya nak keluar komentarnya smua lucu2.ha..ha..ha..ha..ha SEMANGAT.. MERDEKA..!!

  9. kalo baca sinopsis jadi tambah ngerti pas nonton filmnya…bis kadang suka bingung pas nonton filmnya…apalagi pas perang2 itu…so, makin semangat deh baca sinopsisnya…lanjut gan! oia, makasih juga udah dibuatin sinopsisnya..

    • Di tunggu kelanjutanya…..udah nga sabaran…di tempatku susah banget nyari DVD nya…….nunggu di LBS……nga kuat penasarannya…Chia yo…

  10. mau tanya nich..
    sojinee sm damdoek berapa lama sich gak ketemu,..
    4 simbol dewanya kn dikasih ke ho gae,ntar balik lagi ke tangannya damdoek gk?…
    n tau gak damdoek,kalo anaknya kiha tu anak dia jg???????????

      • abisssss.gak sabar sich,dr senin..gk bisa nonton lbs.mgkn sampe jumat gak bisa nonton…kadang di monopoli nonton si tarzan cewek.eh kadng mati lampu ..(PLN teganya dirimu)..paksa dech nunggu sampe minggu.(klo minggu lbs ngulang lg.langsung muter 5 episode)..semangat mas andy T_T lanjutin sinopnya.

  11. kaka admin…
    ni sinopsisny kn blom ad gambrny., nnti kalo uda slese buat sinopsinya klo bisa diksi gmbr ya…

  12. Tidak bsa terima..;-> ko andy mengerikan sekali..bsa membuat org penasaran tingkat tinggiT_T.. Mengerikan.. Award mengerikan dbrikan kpd “KO ANDY”..

  13. KEREN ABIS !!!! TP SUSAH DSNI SERING MATI LAMPU. MAKLUM XMANTAN GT. DI TUNGGU SINOPSISNYA YA. PK GAMBAR DONG BIAR TAMBAH KEREN .. THKS

  14. Terimakasih banyak2222 cuma disini aku nemu recap The Legend
    Drama nya sendiri susah di streaming apalagi didownload. aku cuma pernah nemu recap sd ep 3 di dramabeans…tapi cuma disini ada recap lengkap…Bahasa Indonesia lagi!!!!
    Aku juga sudah baca recap Hong Gil Dong n The Princess Man. KEREN!!

    So…thank u n tetap semangat ya……

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s