The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 22

Sa Ryang membawa Ki-ha memasuki sebuah rumah kosong dan membaringkannya dengan hati-hati di sebuah pembaringan.

Sa Ryang: (sangat cemas) Aku akan mencari seorang wanita yang dapat membantumu.

Sa Ryang menyelimuti Ki-ha dan meninggalkannya pergi. Ki-ha menggunakan sapu tangannnya untuk digigitnya menahan rasa sakit yang datang bertubi-tubi …

Sa Ryang memasuki sebuah rumah yang beranggotakan sorang ibu, nenek, bayi dan  dua orang anak kecil  Penghuni rumah itu terkejut dan bertanya siapa dirinya tapi Sa Ryang segera menyeret si ibu keluar, yang lain berteriak-teriak memanggilnya, namun mereka takut dengan Sa Ryang. Sa Ryang sebelum pergi memandang kembali ke arah si bayi. Rencana sudah dibuatnya …

Sa Ryang menyeret terus si wanita sampai ke tempat Ki-ha.  Soojinee melihatnya dan mengikutinya pergi.

Sesampainya di tempat Ki-ha, wanita tadi menyadari kalau Ki-ha sedang akan melahirkan sehingga tanpa bertanya langsung menghampiri Ki-ha dan memeriksa bagian bawah tubuhnya … tampaknya ketuban sudah mulai pecah …

Wantia: (pada Sa Ryang) Ambilkan aku air.

Sa Ryang segera pergi untuk mengambil air, meninggalkan si wantia itu bersama dengan Ki-ha.

Wanita tadi segera membantu Ki-ha .. Ki-ha menjatuhkan sapu tangan yang digigitnya, yang nampak darah disana, menunjukkan betapa Ki-ha benar-benar kesakitan sehinga menggigit sapu tangan itu kuat-kuat sampai berdarah.

Wantia: Lihatlah kemari. Kumohon bukalah matamu. (berteriak) Kau seharusnya melahirkan si bayi! Bangunlah, Ayo!

Si wantia bingung dengan keadaan Ki-ha, mengawasi ke sekeliling dan kemudian pergi meninggalkan Ki-ha untuk mencari sesuatu, entah apa …

Soojinee melangkah masuk ke dalam rumah dengan diam-diam, melihat tak ada seorangpun disanakecuali Ki-ha, yang sedang berbaring dan mengerang kesakitan sementara matanya terpejam.

Soojinee berjalan mendekat kemudian mengeluarkan pisau pendeknya dan bermaksud menusuk Ki-ha. Ki-ha mengerang lebih keras dan tangannya terulur seperti menggapai ke arah Soojinee, membuat Soojinee ragu-ragu … Soojinee, yang dasarnya memang berhati baik, merasa tidak tega dan segera mengurungkan niatnya. Ia duduk di sebelah Ki-ha dan memegang tangan yang diulurkan Ki-ha padanya, berusaha memberikan dukungan pada Ki-ha untuk bertahan.

Perkemahan Raja

Huk-gae sedang gelisah setelah mendengarkan kondisi Rajanya dan bermaksud menemuinya di tendanya, tapi sudah banyak orang disana  …

Huk-gae: (pada Dalgoo, suara pelan) Apa yang kudengar ini? Yang Mulia telah jatuh sakit?

Dalgoo: (nada sedih)  Aku juga tak tahu. Dia tiba-tiba roboh begitu saja.

Huk-gae memeberi tanda pada Hyon-go untuk mendatanginya.

Huk-gae: (suara pelan) Ada apa dengannya?

Hyon-go: Nadinya sangat tak beraturan dan kacau. Berdetak sangat cepat dengan kecepatan tinggi.

[Damdeok sedang diperiksa oleh seorang tabib]

Huk-gae: (suara pelan) Kenapa?

Hyon-go: Jika aku tahu alasannya ..

Seorang prajurit masuk dan memberi hormat, memberikan laporannya ..

Prajurit: Ada banyak prajurit desertir yang mendekat. Mereka sedang dikejar oleh dua orang berkuda.

Damdeok: (mata terpejam) Jenderal Huk ..

Huk-gae: (terkejut) Ya, Yang Mulia!

Damdeok: (membuka matanya, wajahnya lelah) Kuminta kau pergi dan menyambut mereka menggantikanku. Semua desertir akan diberikan tempat di dalam pasukanku.

Huk-gae: (bersikap tegak) Aku akan melakukan sesuai dengan perintahumu, Yang Mulia!

Huk-gae segera pergi melaksanakan perintah Rajanya.

Hyon-go: Separuh dari pasukannya telah membelot pada pihak kita. Jelaslah sudah kalau ada pemberontakan di perkemahannya.

Damdeok: (mata terpejam) Guru ..

Hyon-go: Ya, Yang Mulia ..

Damdeok: (membuka mata) Bicaralah pada para desertir dan cari tahu apa yang sedang dilakukan oleh Ho-gae.

Hyon-go: Aku akan melakukannya.

Hyeondong masuk ke dalam tenda dengan terburu-buru.

Hyeondong: (napas terengah-engah) Burumsae baru saja menyampaikan sebuah pesan yang mengatakan kalau sebuah pertempuran telah terjadi di antara para prajurit Ho-gae.

Hyon-go: Benarkah?

Damdeok: (mengambil keputusan) Mari kita pergi sebelum lebih banyak lagi orang-orangku yang terluka.

Damdeok segera bangun berdiri dan berjalan, namun kelihatnnya kekuatannya belum kembali karena saat ia mencoba berjalan, tubuhnya terhuyung mundur, matanya terpejam berusaha menghilangkan rasa pusing di kepalanya. Semua orang menjadi cemas dengan kesehatannya. Joomochi membantunya berdiri tegak.

Jenderal Kho: Yang Mulia, kau tidak apa-apa?

Damdeok tak menjawabnya … ia merasakan sesautu yang aneh terus menghisap kekuatannya …

Di lain tempat ..

Sang wanita telah kembali dan membantu persalinan, tapi Ki-ha tak sadarkan diri ..

Wanita: Kumohon bangunlah! (melihat ke bagian bawah tubuh Ki-ha)  Bayinya akan mati!

Soojinee: (tidak tega) Hei .. Hei .. Lihat kemari! Lihatlah kemari!

Wanita: (berseru) Kau harus mendorongnya! … Ayolah .. Kau harus mendorongnya! (Ki-ha mengerang dan mendorong) Dorong! Lebih keras! Lebih keras lagi!

Soojinee tetap di sisi Ki-ha menggenggam tangan Ki-ha.

Di luar ..

Dae Jangro berhadapan dengan Sa Ryang.

Dae Jangro: Aku memburu waktu kemari sehari semalam karena aku mendengar rumor yang aneh.Adarumor yang mengatakan kalau Simbol Joojak dan Chung Ryong sekarang dalam kepemilikan Ki-ha nim.

Sa Ryang: Ki-ha nim sekarang sedang dalam proses persalinan. Mungkin kau dapat mendiskuiskan hal ini dengannya nanti?

Dae Jangro: Bagaimana ini bisa terjadi? Ini masih belum waktunya.

Sa Ryang: Karena itulah aku pikir kalau dia sedang dalam situasi yang berbahaya.

Dae Jangro: (menatap tajam) Aku harap kau telah menjaga dengan baik benda yang telah kuberikan padamu.

Sa Ryang mengeluarkan kotak dingin yang dulu diberikan Dae Jangro padanya. Dae Jangro membuka tutunya, memeriksa.

Dae Jangro: Jika bayi itu laki-laki, kau harus melakukannya segera. Satu-satunya yang dapat disimpan di dalam kotak ini adalah jantung kecil dari seorang bayi yang baru lahir. Kau jangan sampai melewatkan kesempatan ini.

Sa Ryang hanya menundukkan kepalanya.

Perkemahan Ho-gae

Pasukan Gaema terdesak dengan para prajurit yang desertir.

Cheok-hwan mengawasi semua pertempuran ini kemudian membalikkan tubuh dan berjalan menuju ke Tenda Utama, menemui Ho-gae yang baru saja keluar dari tenda, diikuti oleh Ilsuh dan Jenderal Obool.

Cheok-hwan: Jumlah mereka semakin meningkat. Tak banyak yang dapat kita lakukan sekarang.

Ilsuh: Komandan, kita harus mundur sebelum terlambat.

Tapi Ho-gae yang sekarang sudah bukan Ho-gae yang biasanya, ia menghunuskan pedangnya.

Ho-gae: Jangan ikuti diriku lagi mulai dari sekarang.

Ho-gae segera maju kemedanpertempuran membuat ketiga orang jenderalnya tertegun ..

Ilsuh dan Cheok-hwan segera menghunuskan pedang mereka dan mengikuti ke mana Ho-gae pergi. Jenderal Obool hanya bisa terpana melihat ketiganya begitu nekat ….

Ho-gae memasuki medan pertempuran dan membunuh setiap prajurit desertir yang ia temui tanpa pandang bulu. Ilsuh dan Cheok-hwan mengikuti di belakangnya …. Ho-gae menjadi malaikat maut bagi pasukannya sendiri.

Di lain tempat ..

Sa Ryang bertemu dengan wanita yang membantu persalinan Ki-ha ..

Sa Ryang: Bagaimana dengan Ki-ha nim?

Wanita: Aku pikir keduanya, ibu dan anak, akan mati karena ibunya tidak sadarkan diri, tapi untungnya, bayi itu keluar dengan sendirinya.

Sa Ryang segera masuk ke dalam, meninggalkan si wanita, yang bergegas pulang ke rumahnya, untuk menemui keluarganya yang telah ditinggalkannya.

Di dalam, Sa Ryang melihat Soojinee, sedang duduk di samping Ki-ha, menggendong sang bayi dan menimang-nimanngnya dengan sayang.

Sa Ryang: Apakah ia baik-baik saja?

Soojinee: Ia hanya tidak sadarkan diri, masih belum mati.

Sa Ryang: (ragu-ragu) Anak itu … apakah itu perempuan?

Soojinee: Dia lelaki. Aku rasa aku tahu siapa ayahnya. (menaruh si bayi di samping Ki-ha) Tapi mengapa ia berada dalam medan pertempuran dengan kondisinya seperti ini?

Soojinee memandang sejenak pada Ki-ha dan si bayi, kemudian ia bangun berdiri dan beranjak pergi.

Soojinee: Aku merasa seperti orang bodoh.

Sa Ryang: Dia adalah eonni mu.

* Eonni: Kakak perempuan … sebutan dari perempuan pada perempuan lain yang lebih tua, tak harus saudara sekandung.

Soojinee menghentikan langkahnya dan menoleh pada Sa Ryang, tak mempercayai pendengarannya, mengira itu hanya akal-akalannya saja.

Sa Ryang: Ki-ha adalah eonni mu. Kami menculiknya dari Keluarga Hae di Baekjae.

Soojinee masih tak percaya … tapi tiba-tiba ia teringat pada masa kecilnya, saat ia melihat Ki-ha dan Sa Ryang di pasar.

Soojinee pada waktu itu merasakan ada sesuatu yang menarik perhatiannya sehingga ia segera berlari ke depan mereka dan berpura-pura berpapasan dengan keduanya. Saat Ki-ha dan Soojinee berpapasan, keduanya sama-sama merasakan ada rasa ganjil di hati mereka, saling tertarik satu sama lain.

Sa Ryang: Dia mendapatkan kembali ingatannya  beberapa hari yang lalu. Dia sudah tahu kalau kau adalah adiknya. (Soojinee menatapnya tidak percaya) Dan ayah bayi itu adalah Rajamu.

Soojinee merasa hatinya dipenuhi amarah yang ia sendiri tak bisa ungkapkan, ia menyerang Sa Ryang.

Soojinee: Kau bajingan … !

Sa Ryang dengan mudah menangkap tangan Soojinee

Sa Ryang: (dengan pandangan memohon) Selamatkanlah si bayi. Hwacheo sedang menunggu di luar. (Soojinee mengingat wajah Ki-ha remaja  saat bertemu di pasar) Mereka akan membelah dadanya dan mengambil jantungnya. Aku tak bisa menghentikan mereka. Kau harus menyelamatkannya.

Soojinee: (melepaskan diri) Omong kosong gila macam apa ini?

Sa Ryang merasa kalau waktunya mendesak, ia segera menghampiri pembaringan dan mengangkat si bayi, memandangnya dengan sayang lalu memandang pada Ki-ha, yang sedang tak sadarkan diri. Hati Sa Ryang sudah mengambil keputusan yang menurutnya terbaik.

Sa Ryang membawa bayi itu pada Soojinee.

Sa Ryang: (memohon) Bawa bayi ini jauh-jauh. Jangan biarkan seorangpun melihatnya sampai jantungnya menjadi besar.  Hwacheon ada di mana-mana. Gooknaeseong sudah bukan tempat yang aman.

Soojinee memandang pada Sa Ryang, dan melihat kalau matanya memancarkan kejujuran. Soojinee menerima si bayi dan menggendongnya, ia sudah jatuh hati pada si bayi sejak pertama melihatnya. Soojinee memandangnya dengan sayang.

Sa Ryang: Dia adalah anak dari Rajamu dan eonni mu.

Soojinee memandang pada Ki-ha dan kemudian pada si bayi, matanya berkaca-kaca.

Beberapa saat kemudian …

Ki-ha memimpikan kehidupan masa lalunya, di mana ia sebagai Ka-jin membuang bayi Sae-oh ke dalam jurang, Ki-ha menjadi tak tenang kemudian tersadar … ia segera bangun duduk dan mencari-cari bayinya di sekelilingnya tapi tak ada.sosok bayinya di manapun.

Ki-ha menjadi cemas dan segera bangun berdiri, dengan terhuyung-huyung ia berjalan bermaksud ke luar kamar, tapi ia menemukan sesosok tubuh wanita, yang terbaring di tanah, mati.  Ki-ha terkejut dan segera keluar …

Di rumah wanita yang membantu kelahiran Ki-ha, si nenek tampak termangu-mangu, menangisi cucu terkecilnya, si bayi yang mati dibunuh ….

Sa Ryang menyerahkan kotak dingin, yang berlumuran darah segar, pada Dae Jangro. Dae Jangro menerimanya dan mengintip isinya, dilihatnya jantung bayi yang masih segar ada di dalamnya.

Terdengar suara Ki-ha berteriak-teriak, Dae Jangro segera menoleh … Ki-ha berjalan terhuyung-huyung menuju ke arah mereka.

Ki-ha: Anakku! Di mana anakku? Di mana anakku?

Dae Jangro: Ki-ha sayang …

Ki-ha terkejut mendengar suara yang dikenalnya dan sekaligus dibencinya. Ki-ha perlahan-lahan membalikkan tubuhnya dan melihat Dae Jangro sedang berdiri bersama dengan Sa Ryang, menatap kearahnya.

Dae Jangro: Apakah kau baik?

Sa Ryang mau menghampiri Ki-ha, tapi melangkah mundur saat melihat Ki-ha sedabg menatapnya dengan pandangan tak percaya …

Dae Jangro: (pada Sa Ryang) Di mana Simbol-simbol Dewa? Tidakkah mereka ada dalam kepemilikannya?

Ki-ha memandang mereka berdua dan segera berjalan mendekat, menghajar semua anggota Hwacheon, yang berusaha menghalanginya, dengan mudah berkat kekuatannya.

Ki-ha: (berteriak) Di mana anakku?

Sa Ryang: Ki-ha nim! Anak itu …

Dae Jangro: (menyambung) … telah dibunuh. (Ki-ha terkejut) Sa Ryang telah membawakan jantung bayi itu padaku.

Ki-ha: Bohong …!

Dae Jangro: Haruskah aku menjelaskan kembali megnapa kita harus melakukan ini?

Ki-ha: (nada penuh amarah) Kau membohongiku!

Dae Jangro: Selama 2 ribu tahun, Hwacheon telah ..

Ki-ha: (berteriak marah) Tutup mulutmu!

Ki-ha menerjang ke depan, ia melompat dan mengarahkan pedangnya ke arah Dae Jangro. Sa Ryang maju dan mau mencegahnya tapi Dae Jangro mencekal bajunya dan menggunakan Sa Ryang sebagai tameng hidup.

Ki-ha terlanjur dibutakan karena amarah dan tak menyadari kalau Dae Jangro menggunakan Sa Ryang sebagai tameng hidupnya. Saat pedang itu menembus tubuh Sa Ryang, Ki-ha baru menyadarinya dan terperangah melihat apa yang telah terjadi. Ki-ha menatap tidak percaya kalau ia telah menusuk Sa Ryang.

Dae Jangro: Kau harus ingat, sebagai ibu bumi kau tak boleh melupakan Ho-jok.

Ki-ha tak mendengar Dae Jangro, yang ia perhatikan hanya Sa Ryang, yang sekarat. Sa Ryang jatuh terduduk demikian juga dengan Ki-ha. Sa Ryang terus menatap pada Ki-ha …

Dae Jangro: Jika kau ingin membunuhku, datanglah ke Abullansa. Jika kau menginginkan dunia ini, datanglah ke Abullansa. (Ki-ha menatapnya dengan penuh kebencian dan dendam) Itu adalah tempat di mana segalanya dimulai.

Dae Jangro membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai tanda berpamitan kemudian melangkah pergi dengan diawasi pandangan benci dan dendam dari Ki-ha.

Sepeninggal Dae Jangro, Ki-ha mulai berteriak histeris. Sa Ryang berusaha menyadarkannya.Adasesuatu yang harus ia katakan. Ki-ha sadar dan menatap pada Sa Ryang.

Sa Ryang: (suara pelan, nada memohon) Hiduplah. Kumohon kau terus hidup … Anakmu …

Sa Ryang tak dapat memberitahukan pesan terpentingnya … jiwanya sudah melayang terlebih dahulu. Tubuh Sa Ryang segera jatuh menggeletak di tanah. Ki-ha mengalami guncangan batin hebat, ia berteriak menumpahkan rasa sedih dan amarahnya …. Lalu menunduk menangisi kematian Sa Ryang …

Dae Jangro pergi ke ruangan di mana Ki-ha melahirkan, menemukan mayat wanita itu dan melangkahinya, lalu pergi ke meja dekat pembaringan di mana sebuah kotak berada. Dae Jangro membawa kotak itu dan pulang ke Abullansa.

Abullansa

Dae Jangro membuka kotak itu dan melihat kedua Simbol Dewa ada di dalamnya. Dae Jangro memandang kedua Simbol Dewa dengan seksama, teringat …

Sa Ryang dan dirinya sedang bercakap-cakap di gua rahasia, di mana ia memulihkan diri.

Dae Jangro: Ketika keempat Simbol Dewa yang bangkit ditemukan dan menempati posisi mereka, maka darah dari Keturunan Sejati harus digunakan sebagai kunci untuk membawa turun kekuatan Langit.

Dae Jangro menuangkan darah dari dalam kotak dingin dan menyadari kalau itu bukan darah dari anak Ki-ha dan Damdeok. Ia menjadi sangat marah …

Dae Jangro: Si bodoh itu … dia telah menipuku! Anak itu .. aku harus dapat menemukan anak itu! (berseru) Anak itu masih hidup!

Dae Jangro menutup kotak dengan keras, matanya buas ….

Pagi hari ..

Soojinee menggendong bayi sambil memacu kudanya dengan cepat berusaha pergi sejauh-jauhnya dari jangkauan Hwacheon.

————

Perkemahan Ho-gae

Pintu gerbang dibuka lebar-lebar seakan-anak menyambut Damdeok yang berkuda masuk ke dalam perkemahan diiringi dengan Jenderal Kho dan yang lainnya.

Perkemahan sudah dikuasai oleh para pasukan desertir, saat melihat kedatanagn Raja, mereka sangat senang dan terharu, menyembah ke tanah menyambut kedatangannya. Damdeok terus berkuda menuju ke Tenda Utama.

Jenderal Obool dan dua perwiranya segera berlutut begitu melihat kedatangan Damdeok.

Jenderal Obool: Kami telah berdosa dengan melawanmu, Yang Mulia. (mengangkat pedangnya, mengunjukkannya pada Raja) Aku berikan pedangku padamu dan menantikan penghakimanmu.

Hyon-go dan yang lainnya menunggu keputusan dari Damdeok. Damdeok memandang tajam pada Jenderal Obool, lalu mengulurkan tangannya, menyentuh pedang Jenderal Obool dan menurunkannya. Jenderal Obool tidak mengerti, tapi Damdeok segera maju dan memaksanya berdiri. Jenderal Obool merasa terharu dan menundukkan kepalanya pada Damdoek. Semua prajurit yang melihat ini segera menyembah lebih dalam dan berseru, “Yang Mulia!”

[Pasukan Ho-gae yang tersisa bergabung dengan Pasukan Yang Mulia Raja.]

Damdeok memasuki Tenda Utama dan melihat sisa-sia pertempuran tadi malam, seisi tenda tampak kacau balau.

Damdeok: Tak ada tanda-tanda dirinya?

Hyon-go: Kami telah mengirimkan pasukan pengintai ke segala jurusan.Adasekitar 20 orang Prajurit Gaema yang bersama-sama dengan Komandan Ho-gae. Dan arah yang mereka tuju …

Tiba-tiba …

Prajurit: Siapa disana?

Semua orang menoleh ke luar tenda dan melihat Cheoro masuk ke dalam tenda …

Joomochi: Oh .. Kau si penguasa benteng Gwanmi!

Damdeok senang melihatnya tapi heran karena melihatnya sendirian tanpa si dia …

Cheoro: Jika kau mencari Pasukan Gaema, aku melihatnya saat dalam perjalanan kemari. Mereka dikejar oleh sekitar 40 sampai 50 orang.

Damdeok menghampiri Cheoro ..

Damdeok: Di mana Soojinee?

Cheoro: … (menundukkan kepalanya)

Damdeok tahu kalau ada sesuatu yang terjadi, tapi ia tak mau mengungkitnya. Sekarang ada pekerjaan yang lebh penting.

Damdeok: (menoleh) Jenderal Kho!

Jenderal Kho: Ya, Yang Mulia!

Damdeok: Bawa para prajurit dan cobalah untuk menghadang Suku Khitan. Jangan bertempur, usahakan untuk mengalihkan perhatian mereka.

Jenderal Kho: Yang Mulia, apakah kau akan menyelamatkan nyawanya?

Damdeok: Aku sudah katakan padamu.Parapemberontak hanya boleh dihukum oleh diriku. (Pada Cheoro) Ikuti aku!

Damdeok beranjak pergi tapi Hyon-go menahannya.

Hyon-go: (nada khawatir) Kau seharusnya membawa pasukan bersamamu, jangan pernah pergi kemanapun seorang diri!

Damdeok: Jika kita menggerakkan pasukan kita maka Khitan akan segera mengetahuinya. Lalu kita akan terpaksa berperang dengan mereka. Guru!

Hyon-go: Ya!

Damdeok: Patuhi aku. Jangan kirimkan para prajurit untuk menyusulku!

Hyon-go: Tapi Yang Mulia, Khitan sedang  ..

Damdeok: (memotong) Kuminta kau menghadang mereka untukku.

Joomochi: (menyela keduanya) Ahh.. Ayo kita pergi! Kita seharusnya bergegas kesanasehingga kita bisa cepat makan! Aku sekarang kelaparan!

Joomochi memberi tanda pada Damdeok dengan alisnya^^ menyuruhnya segera pergi. Damdeok menepuk pundak Hyon-go kemudian beranjak pergi. Kali ini Hyon-go tidak menahannya lagi. Jenderal Kho, Joomochi, dan Dalgoo segera menyusul Raja mereka.

Huk-gae: (tak tahu apa-apa) Emangnya dia mau pergi kemana? (menghampiri Hyon-go) Tunggu dulu … dia tak akan pergi menyusul Ho-gae khan .. ?

Desa kosong dekat Suku Kidohari, Khitan.

Ho-gae dan orang-orangnya berkuda memasuki desa kosong bermaksud untuk beristirahat..

Sesampainya di dalam desa, Ho-gae turun dari kudanya, menahan rasa sakit di kakinya yang terluka semalam.

Ilsuh: Komandan, musuh akan segera menyusul kita!

Ho-gae: (napas terengah-engah)Adasesuatu yang aneh … aku merasa kalau kita seperti sedang diawasi.

Cheok-hwan, Ilsuh, dan prajurit yang lain segera mengawasi ke sekeliling mereka dengan sikap waspada.

Benar saja, sebuah anak panah melesat dan menancap di pintu sebuah rumah, lalu disusul dengan anak-anak panah yang lain. Pasukan pemanah muncul dari atas tembok memanahi Ho-gae dan yang lain. Beberapa orang menjadi korban anak panah.

Tiba-tiba tambak belasan orang muncul dari atap rumah dan loteng di sekitar Ho-gae dan pasukannya berada. Mereka melompat ke bawah dan menarik semua orang yang ada di atas kuda untuk jatuh bersama di tanah.

Ho-gae segera melompat dan memapak seorang Kidohari, membunuhnya di tengah udara. Ilsuh terjatuh dari kudanya tapi segera menyikut orang yang menariknya jatuh, ia segera bangun, mencabut pedangnya dan membunuh orang itu. Cheok-hwan menggunakan tombak yang dilemparkannya membunuh seorang Kidohari. Cheok-hwan mencabut pedangnya, turun dari kuda, dan segera membabat habis setiap orang yang menghalangi jalannya.

Ho-gae melawan seorang Kidohari ketika ada yang berusaha membokongnya dari belakang dengan melompat ke arahnya dengan kapak di atas kepala diayunkan pada Ho-gae. Ho-gae tak mau kepalanya hilang sehingga melompat menghindar sekaligus menyabet kepala orang itu, tapi akibatnya ia terjatuh ke tanah. Ilsuh tak ketinggalan membunuhi setiap orang yang ada di dekatnya.

Ho-gae, Ilsuh, dan Cheok-hwan memang prajurit yang terlatih dan di atas rata-rata, mereka dengan mudah mengatasi setiap lawannya tapi masalahnya, tak semua prajurit Ho-gae seperti  mereka. Banyak di antara mereka mati di bawah keroyokan pedang orang-orang Kidohari, yang jumlahnya tiga kali lipat. Musuh mereka seperti tak ada habis-habisnya, mati satu muncul dua, mati dua muncul empat, mati empat muncul sepuluh …

Ho-gae berusaha pindah ke tempat lain, tapi tiba-tiba dua orang turun dari lantai dua melompat ke hadapan Ho-gae, Ho-gae tanpa ragu segera membabat keduanya. Mereka pindah ke tempat yang lebih luas, tapi disanasudah menunggu banyak orang dari Suku Kidohari yang mengepung mereka. Tampaknya hari ini mereka terperangkap seperti tikus. Ho-gae dan yang lainnya mengawasi para pengepung mereka.

Tiba-tiba …

Seseorang berkuda, diiringi para pengawalnya, datang dan berhenti d belakang orang-orang Suku Kidohari. Ternyata Dutai, Kepala Suku Kidohari yang melakukan penyergapan ini.

Dutai: Siapa yang namanya Yeon Ho-gae?

Cheok-hwan: Beraninya kau menyebutkan namanya! Dia adalah Komandan Tinggi dari Goguryeo yang Besar!

Dutai: Dia sudah diberikan pada kami oleh Raja Goguryeo sendiri. Komandan Tinggi apanya!

Ho-gae: Benarkah itu? Apakah Raja Goguryeo benar-benar telah memberikan diriku padamu?

Dutai: Kau tidak mempercayai itu, jadi kau bersembunyi di antara orang-orangmu. Tapi ternyata kau keluar sendiri. Aku, Dutai dari Kidohari, akan mengambil kepalamu!

Ho-gae: (mengarahkan pedangnya pada Dutai dan maju) Tak akan semudah itu!

Kedua belah pihak akan bertempur tapi tiba-tiba beberapa anak panah menancap di tempat kosong yang memisahkan mereka, membuat semuanya terkejut dan berhenti berterak.

Dari arah sebaliknya, tampak Damdeok menghampiri orang-orang Kidohari. Ia ditemani oleh Joomochi, Cheoro, Dalgoo, dan beberapa pengawal saja, tidak sampai belasan.

Ho-gae menoleh dan memandang pada Damdeok. Dutai terkejut dan tak menyangka kalau Raja Gogryeo sendiri yang datang dengan sedikit pengawal.

Damdeok: (berseru pada Dutai) Tidakkah kau mendengarkan perintah dari Khanmu? Orang yang ada di hadapanmu adalah seorang Goguryeo. Kau tak dapat melukainya tanpa ada ijin dariku!

Yeon Ho-gae memandang Damdeok dengan pandangan tajam …

Dutai: Jika Khan tahu kalau kau melakukan ini, ia akan sangat marah! (berseru) Orang-orang Khitan! Ini adalah Raja dan Komandan Tinggi dari Goguryeo! Jika kita membunuh mereka maka kemenangan akan menjadi milik Khitan!

Semua orang Kidohari bersorak sorai ….

Ho-gae memandang Damdeok, yang tampaknya sedikit murung …

Damdeok: (berseru lantang) Aku berbicara kepada orang-orang Khitan!

Semua orang segera diam dan mundur karena perbawa Damdeok. Ho-gae cukup kagum dan mengawasi sekelilingnya tanpa mengurangi kewaspadaan.

Damdeok: Ini adalah peringatan terakhir dariku! (menatap pada Dutai) Aku telah datang kemari untuk bertemu dengan orang-orang senegaraku! (nada tegas) Aku tak akan menunjukkan belas kasihan jika kalian terus menghalangiku! (Dutai menahan amarahnya) Untuk mencegah peperangan yang lebih besar akan terjadi, semua dari kalian harus dibasmi habis untuk menutup mulut kalian! Apakah kalian masih tidak mau mundur?

Semua orang berdiam diri tapi menyiapkan senjata mereka …

Dutai: (berteriak) Orang yang berhasil membunuh Raja Goguryeo akan menjadi pejuang terhebat dari Khitan! (menghunuskan pedang) Serang!

Orang-orang dari Suku Kidohari segera menyerbu maju, menyerang pihak Ho-gae dan juga Damdeok.

Ilsuh, Cheok-hwan, Ho-gae dan prajurit yang tersisa segera bersiap membela diri …

Cheoro, Joomochi, Dalgoo, dan para pengawal Raja segera turun dari kuda mereka bersiap menghadapi penyerangan.

Ho-gae berdiri sendirian di tengah-tengah, memandang pada Damdeok, yang masih tenang duduk di kudanya.

Perintah Raja sudah jelas: Bunuh tanpa sisa!

Cheoro dan Joomochi menjadi yang pertama menyerang di pihak Damdeok, keduanya saling berdampingan membabat habis semua orang yang datang kepada mereka.

Damdeok memandang pada Ho-gae, yang mana langsung membalikkan badan menghabisi dua orang yamg melompat menyerangnya. Banyak orang berlari menyerbu ke arah Ho-gae.

Damdeok sendiri melompat dari kudanya dan membunuh orang-orang yang menghalangi jalannya.

Pertempuran berjalan dengan sengit, tapi kemenangan tak berpihak pada suku Kidohari. Walaupun yang dibawa oleh Damdeok tak sampai belasan, namun satu Cheoro dan satu Joomochi sama artinya dengan seratus orang ^^ … apalagi para pengawalnya dan Dalgoo juga bukan prajurit kacangan, mereka adalah Pasukan Gaema Jyooshin, yang telah menggetarkan Baekjae.

Demikian juga di pihak Ho-gae, Ho-gae sendiri termasuk Jenderal yang tangguh dan sudah terbukti dengan berbagai peperangan yang ia menangkan saat ia muda. Ilsuh adalah pengawal pribadi Ho=gae, salah satu prajurit elite. Dan Cheok-hwan? Ia adalah pimpinan dari Gaema Goguryeo! Bebrapa prajurit Gaema juga bukan prajurit yang mudah dibunuh. Mati pun mereka akan membawa beberapa musuh untuk mengiringi ke alam baka.

Satu demi satu orang-orang Kidohari jatuh berguguran ke atas tanah seperti dedaunan kering berjatuhan ke atas tanah. Dutai melihat situasi ini dan segera memacu kudanya menuju ke Damdeok, bermaksud untuk membunuh sang Raja. Tapi Damdeok bukan Raja pengecut dan lemah yang selama ini dikira orang. Ia sudah berlatih di bawah gemblengan Jendral Kho secara rahasia sejak masih kecil. Tak terkira beratnya latihan yang ia lakukan demi menjadi seorang yang layak dan bisa mengalahkan Ho-gae.

Damdeok melihat Dutai yang sedang memacu kuda ke arahnya. Damdeok segera meloncat dan mengayunkan pedangnya secepat kilat tak memberi kesempatan pada Dutai untuk mengayunkan pedangnya untuk menyerang maupun menangkis. Dutai hanya bisa terpana dan di atas lehernya terlihat segaris luka berwarna merah meneteskan darah, Damdeok telah menebas tenggorokannya. Tubuh Dutai terjatuh dari kudanya dan tergeletak di tanah, tewas.

Dalam pertempuran itu, Damdeok dan Ho-gae masih sempat saling berpandangan, mereka bergerak menuju ke arah masing-masing, saling menebas setiap orang yang ada di depan mereka.

Cheoro dikepung oleh banyak orang, namun ia hanya dengan sekali ayunan tombaknya sudah berhasil membunuh dua tiga orang. Beberapa orang menyerangnya tapi Cheoro dengan mudah menangkis hanya dengan sebuah tombaknya, kemudian melontarkan mereka dan menebas tubuh orang-orang itu.

Joomohci mengayunkan kapaknya, membunuh satu persatu orang yang datang. Joomochi membunuh orang-orang itu seakan-akan seperti sedang menebang kayu maupun membelah tunggul kayu. Tak ada yang lolos dari kapaknya.

Ilsuh menggunakan pedangnya menusuk, mengayun, membacok, membunuh semua orang-orang Kidohari yang berdatangan ke arahnya, tapi seorang dari mereka bershasil menyabetkan pedangnya ke punggung Ilsuh. Ilsuh terjatuh berlutut kesakitan, namun berdiri kembali dan membunuh pembokongnya.

Cheok-hwan dikeroyok banyak orang, ia berhasil membunuh beberapa dari mereka tapi seorang musuh berhasil memanfaatkan ruang terbuka di tubuhnya dan menusuk perutnya dengan pedang. Cheok-hwan terkejut sejenak tapi dengan segera ia membunuh penusuknya. Dengan menahan rasa sakit ia lalu mencabut pedang dari perutnya dan membunuh seorang Kidohari dengan pedang itu.

Jangan ketinggalan Dalgoo! Iapun sibuk membunuh setiap orang Kidohari tanpa kecuali. Membunuh musuh-musuh yang terlihat oleh matanya.

————————

Beberapa waktu kemudian …

Dedaunan kering berguguran di tanah …..

Semua orang dari Suku Kidohari, yang jumlahnya berpuluh-puluh orang, telah bergelimpangan di tanah menjadi mayat-mayat beralasakan dedaunan kering.

Damdeok melangkah perlahan memandangi semua mayat-mayat itu, termasuk di antaranya para prajurit Gaema Goguryeo.

Damdeok: (pada Ho-gae)  Apa kau melihat mereka? Orang-orang yang telah mati karena kita?

Ho-gae: (terngah-engah) Yang Mulia, Raja Goguryeo … (berteriak menahan sakit)

Damdeok: Inilaah apa yang harus dilakukan seorang Raja. Seorang yang harus membuat keputusan yang sangat kritikal setiap hari meskipun ia bukanlah seorang yang dapat melihat masa depan. Dan setiap kali dan setiap waktu selalu ada penyesalan. Jika saja kau datang saat aku memanggilmu, mungkin semuanya akan selesai hanya dengan sedikit orang yang tewas.

Ho-gae: Berhentilah berbicara omong kosong! Jika kau datang untuk membunuhku, lakukan saja! Sehingga aku dapat membunuhmu!

Damdeok: Apakah kau sebegitu inginnya menjadi seorang raja?

Ho-gae: Tidakkah kau mengerti? Aku tak pernah ingin menjadi Raja. Apa yang selama ini aku inginkan hanyalah untuk membalas dendam padamu.

Ho-gae berteriak dan menerjang maju … Damdeok segera berlari memapaknya. Mereka berdua sama-sama meloncat di udara, mengayunkan pedang masing-masing dan saling membentur. Ho-gae sangat bernafsu membunuh Damdeok, ia menggunakan segenap kekuatannya pada pedangnya dan dihantamkannya pada Damdeok. Tapi Damdeok bukan orang lemah, ia dengan mudah menangkisnya.

Joomochi ingin membantu Damdeok tapi ditahan oleh Cheoro, bukanlah tindakan jantan untuk mengeroyok orang yang sedang bertarung satu lawan satu.

Damdeok dan Ho-gae bertarung dengan sengit tapi kemudian terpisah ..

Damdeok: Ho-gae … tidakkah kau tahu mengapa aku kemari?? Tidakkah kau tahu mengapa aku datang tanpa membawa prajurit?  (berteriak) Tidakkah kau tahu mengapa aku harus membasmi orang-orang ini??

Ho-gae: (mengarahkan pedangnya pada Damdeok) Kau hanya ingin menertawakan diriku. Benar .. sekarang setelah kau melihatku, bagaimana menurutmu? Ataukah kau ingin aku berlutut di hadapanmu dan memanggilmu Yang Mulia? (berteriak) Hah!

Dadmeok: (menahan amarahnya) Lakukan itu! Berlututlah di hadapanku dan panggillah aku Yang Mulia!

Kali ini Damdeok yang menyerang dahulu dan dengan mudah ia menjatuhkan Ho-gae. Damdeok menunggu Ho-gae bangun .. Ho-gae segera berdiri dan menyerang Damdeok, tapi Damdeok menghindarinya kemudian menendang Ho-gae sehingga terjatuh dan terbentur pada sebuah pohon kecil. Damdeok segera mengarahkan pedangnya ke leher Ho-gae ..

Damdeok: Beri aku satu alasan untuk tidak membunuhmu!

Ho-gae: Alasan .. ? Kau membunuh ibu dan ayahku! Kau telah membunuh hati dari wanita yang kucintai. (memandang hina) Kau ingin aku melayanimu dan menganggapmu sebagai Rajaku? Jangan ragu-ragu! (berseru) Ambil saja nyawaku!

Damdeok berseru melampiaskan kemarahannya dan mengayunkan pedangnya … pohon di belakang Ho-gae patah dan tumbang, Ho-gae sendiri tak kurang suatu apapun.

Damdeok: Komandan Tinggi Goguryeo, Yeon Ho-gae … Kau telah mencapai kemenangan besar melawan Khitan selama ekspedisimu. Tapi, karena kau telah melanggar perintah Raja maka gelarmu akan dicabut dan kau akan diasingkan. Jangan pernah kembali ke Gooknaeseong lagi.

Damdeok meninggalkan Ho-gae … Cheok-hwan dan Ilsuh merasa di luar dugaan, hati mereka dipenuhi rasa hormat dan kagum pada Raja mereka.

Joomochi mengikuti Damdeok pergi … Cheoro berjalan yang paling belakang, menyusul keduanya …

Ho-gae perlahan-lahan bangun bertumpu pada pedangnya. Ia memandang pada Damdeok yang meninggalkannya.

Ho-gae: (bergumam) Berbaliklah .. Ini masih belum berakhir! (Ho-gae merasa terhina, ia berseru lantang) Tahaan!

Ho-gae melontarkan pedang di genggamannya ke arah Damdeok. Pedang itu  melesat sangat cepat seperti sebatang anak panah … Cheoro terlambat mengantisipasinya dan hanya bisa memandang pedang itu lewat di sampingnya. Joomochi segera menarik Damdeok dan menggunakan tubuhnya sebagai tameng. Pedang itu tepat menusuk ke dada Joomochi … Damdeok sangat terkejut mengetahui kejadian ini.

Damdeok terpana melihat pedang yang menusuk dada Joomohci. Joomochi sendiri juga tak menyangka … Tubuhnya lunglai dan jatuh tapi Damdeok dengan sigap menahannya.

Cheoro tak terima dengan tindakan Ho-gae, ia segera mengambil ancang-ancang dan melompat menyerang Ho-gae. Tombaknya tepat menusuk ke dada Ho-gae, tapi keudanya sama-sama terpental … sesuatu benda menahan serangan tombak dan mementalkan Cheoro jauh ke belakang.

Ilsuh dan Cheok-hwan mengelilingi Ho-gae yang kesakitan …

Ilsuh: Komandan kau tidak apa-apa?

Ho-gae hanya mengerang tapi selain itu tak ada luka di dadanya … Cheoro merasa heran dan tak habis pikir …

Damdeok masih memegang Joomochi yang tampak lemah dan sekarat …

Damdeok: (nada sedih) Joomochi …

Joomochi: (berbisik) Yang Mulia … (tangan Joomochi naik, Damdeok menggenggamnya) Yang Mulia …

Joomochi tersenyum melihat Rajanya tak apa-apa, kepalanya kemudian perlahan-lahan lunglai dan matanya terpejam … Joomochi tewas melindungi Rajanya … Damdeok sangat berduka, ia menoleh dan memandang ke arah Ho-gae yang masih mengerang kesakitan akibat tusukan dari Cheoro, yang walaupun tidak tembus tapi benturan itu tetap membuat dadanya sesak dan tulangnya seakan remuk.

Tiba-tiba …

Terlihat cahaya putih mulai bersinar dari dada Ho-gae di tempat di mana Cheoro menusuknya dengan tombak tadi. Ho-gae mengeluarkan benda di dalam saku di dadanya yang ternyata adalah Simbol Baekho. Simbol itu bercahaya dan mengeluarkan asap putih. Ho-gae merasakan panas di tangannya sehingga melepaskan Simbol itu ke tanah. Damdeok  dan Cheoro memandang semua ini dengan takjub dan heran.

Simbol Baekho bersinar semakin terang sampai akhirnya sinar seakan-akan meledak dari Simbol itu membuat mata silau … Sinar itu membentuk bayangan di langit, mengubah atmosfer di atas mereka  Awan bergulung-gulung mulai menutupi langit di atas desa …

Sementra itu, pedang Ho-gae masih tertancap di dada Joomochi, tapi dari lukanya timbul sinar putih … Damdeok yang terpesona dengan kejadian di langit tak menyadari apa yang terjadi pada Joomohci yang dipeluknya. Tapi kemudian Damdeok menoleh dan terkejut dengan apa yang dilihatnya …

Di tempat lain …

Soojinee masih memacu kudanya melewatipadangrumput …

Perkemahan Raja

Raja dan pasukannya sudah kembali, dan Joomochi diserahkan pada para tabib Geomool yang berpengalaman dalam menangani hal seperti ini, seperti saat Cheoro terluka.

Damdeok mengunjugi Ruang Perawatan untuk menjenguk para prajuritnya yang terluka karena perang. Damdeok menengok seorang prajurit dan bertanya pada Tabib.

Damdeok: Bagaimana keadaannya?

Tabib: Ia pulih dengan cepat ..

Damdeok tampak senang dan menepuk pasien itu. Lalu ia menjenguk Cheok-hwan ..

Cheok-hwan: (berusaha bangun duduk) Yang Mulia ..

Damdeok: (nada halus) Kembalilah berbaring …

Tapi Cheok-hwan justru bangun dan berlutut di hadapan Damdeok dan memandangnya dengan mata penuh penyesalan …

Cheok-hwan: (menahan sakit) Apa yang terjadi dengan Komandan?

Damdeok: Orang-orangnya membawanya pergi. Aku tidak menanyakan kemana mereka pergi.

Cheok-hwan: (nada menyesal, terbata-bata) Aku, Cheok-hwan, telah tidak setia kepadamu, tapi bolehkah aku memberanikan diri untuk meminta sesuatu?

Damdeok: (berlutut juga di hadapannya) Kau tidak pernah tidak setia padaku! Akulah yang mengirimmu kesanadan yang memerintahkanmu untuk melayani Komandan. Kau bisa mengatakannya padaku.

Cheok-hwan: (menundukkan kepalanya) Kumohon padamu untuk mengatakan kebohongan, Yang Mulia.  (Damdeok tidak paham) Suku-suku Khitan akan memburu Komandan. Aku sudah terluka parah dan tak akan hidup lama. Maukah kau mengambil kepalaku dan mengatakan pada mereka kalau itu adalah milik Komandan? (nada sangat menyesal) Kumohon padamu untuk mengampuniku karena memintamu untuk berbohong. (Damdeok memandang bawahan yang setia ini dengan simpati mendalam) Aku menyembah di hadapanmu, Yang Mulia. Kumohon berikan kepalaku pada Khitan.

Cheok-hwan memberikan penyembahan kepada Damdeok, yang tampak tak menyangka dan merasa tergerak hatinya. Ia juga telah memikirkan berulang-ualng bagaimana caranya untuk membiarkan Ho-gae tetap hidup tanpa menyinggung perasaan dari Khan Khitan. Tapi kini satu kesempatan terbuka lebar, namun demikian Damdeok masih ragu-ragu, karena jika ia benar-benar melaksanakan rencana ini maka tubuh Cheok-hwan tak akan bisa utuh lagi saat dimakamkan, yang menurut adat masa itu adalah suatu hal yang sangat memalukan dan hina.

Malam hari ..

Joomochi sudah menerima perawatan dan sekarang berbaring tidur di sebuah ruangan, ditunggui oleh Mandeuk, Ba Son, dan Dalbee, Mereka bertiga terkantuk-kantuk ^^ Joomochi mulai sadar dan mengeluarkan suara mengorok seperti babi  …^^ Orang-orang di sekelilingnya tertawa …

Dalbee: Hei dia bangun!

Mandeuk: Kau baik-baik saja?

Semua: Apa kau sudah bangun?

Joomochi membuka matanya dan melihat samar-samar ketiga orang itu. Setelah pandangannya menjadi jelas, ia memandang terus pada Dalbee, yang tersenyum padanya. Joomochi mmembalasnya dengan senyuman juga ^^

Jomochi: Dalbee ..

Tiba-tiba Joomochi teringat sesuatu dan segera bangun duduk, mengagetkan ketiga orang di dekatnya … Joomochi kemudian memeriksa dadanya yang sebelumnya tertusuk pedang dengan menepuk-nepuk

Ba Son: Apa kau tidak apa-apa?

Dalbee: Apakah masih terasa sakit?

Mandeuk: Apa kau baik-baik saja?

Joomochi: Terasa gatal …

Tiba-tiba .. terdengar suara bergemuruh dari perut Joomochi ^^ ahahaaha .. Joomchi dan yang lain memandang ke sumber suara itu ^^ Joomochi lalu menoleh dan  memandang pada Dalbee, yang tertegun ..

Dalbee: (menebak) Makanan?

Joomochi: (mengangguk-anggukan kepalanya berulangkali) Makanan! .. ahahahah lucu .. asli lucu ^^

Dalbee menatap Joomochi dengan tercengang, tapi Joomochi kembali menganggukkan kepalanya, membuat Daldbee tesenyum geli … dan tertawa kecil … ^^

[Andy: Jangan lewatkan pas adegan ini ya, asli lucu deh .. adegan favoritku untuk pasangan Joomochi dan Dalbee ^^ ]

Beberapa saat kemudian …

Di luar tenda, Joomochi dan yang lainnya berkumpul di dekat api unggun. Dalbee membawakan makanan untuk Joomochi, yang langsung makan dengan sangat lahap. Dalbee di sampingnya mengawasi Joomochi dengan perasaan lega dan puas. Tiap Joomochi memberi tanda, Dalbee segera mengunjukkan mangkuk air di tangannya ke mulut Joomochi .. oooh so sweet ^^

Ba Son mengambil Simbol Baekho yang ditempatkan di dekat api unggun, dan mengamatinya dengan seksama.

Hyon-go: (muncul) Untuk Hyunmoo, kemarahan mendalam. Untuk Chung Ryong, belas kasihan yang dingin. Baekho mewakili keberanian yang murni. Jadi Joomochi …

Joomohci mash asik makan tapi mengangkat matanya menatap pada Hyon-go

Joomochi: (mulut penuh) Apa?

Hyon-go: Pelindung terpilih dari Simbol Baekho adalah dirimu, Joomochi.

Joomochi: (mulut penuh) Jadi apa yang seharusnya kulakukan?

Hyon-go tertawa mendengar jawaban Joomochi yang cuek itu ..

Ba Son menghampiri Joomochi dengan Simbol Baekho di tangannya, mau menyerahkannya pada Joomochi, tapi Joomochi menolaknya dan memberi tanda pada Hyon-go, jadi Ba Son memberikan Simbol itu pada Hyon-go.

Hyon-go: Oh iya .. Menurutmu bagaimana dengan jenis logam ini, pandai besi Ba Son?

Ba Son: Logam ini tak dapat ditempa oleh manusia. Ini tak dapat dilebur maupun dihantam oleh manusia.

Hyon-go: (pada Joomochi) Apa kau dengar itu?  (Joomochi cuek, melanjutkan makan dan dilayani minum air oleh Dalbee) Simbol Dewa ini harus dijaga oleh Pelindungnya!

Joomochi: Omong-omong, apa yang sedang Raja kita sedang lakukan? Dia merasa tidak enak badannya sebelum ini, bukankah demikian?

Hyon-go: Ahhh … (membalikkan badan memandang ke Tenda Utama) Raja kita terlihat cukup sehat di luaran tapi aku tidak tahu mengenai hatinya.

Di Tenda Utama ..

Cheroo menemui Damdeok dan melaporkan hasil pencariannya terhadap keberadaan Soojinee. Jenderal Kho juga hadir disana.

Damdeok: Jadi kau sudah menemukannya?

Cheoro: Benar.

Damdeok: Tapi?

Cheoro: Dia memintaku untuk berpura-pura kalau aku tidak menemukannya.

Damdeok: Jadi kau meninggalkannya dia disanasendirian?

Cheoro: Itu yang dia inginkan. Ia ingin agar aku ada di sampingmu.

Damdeok: (nada berharap) Jika saja kita kembali ke tempat di mana kau telah menemukannya … akankah kita dapat menemukannya?

Cheoro: Tidak! Aku tidak akan dapat menemukannya lagi.

Damdeok termenung sambil menggenggam botol parfum …

Jenderal Kho menghampiri Cheoro, menaruh tangan di pundaknya lalu pergi. Cheoro menyusul di belakangnya, meninggalkan Damdeok sendirian di dalam tenda.

Pagi hari …

Markas Rahasia Hwacheon

Ki-ha dengan tampang lesu berjalan di halaman …

Seorang pengawalnya menghampiri Ki-ha ..

Pengawal: Ki-ha nim … Ki-ha nim ..

Ki-ha menoleh padanya …

Pengawal: (memberi hormat) Kami telah menemukannya. Dia hampir saja terbunuh oleh suku-suku Khitan, tapi ia berhasil melarikan diri dan sedang bersembunyi di kediaman Lao, tampaknya ia terluka cukup parah. Haruskah kami membawanya kemari?

Ki-ha: Aku akan menemuinya.

Pengawal: (memberi hormat) Aku akan membuat persiapan.

Si pengawal beranjak pergi …

Ki-ha: Kita seharusnya … (Si pengawal kembali)  … mengadakan upacara pemakaman untuk Sa Ryang.

Pengawal: (bersimpati) Semuanya telah dipersiapkan. Yang harus kau lakukan hanyalah mengirimnya pergi.

Ki-ha: Beritahu mereka untuk menggali lebih dalam lagi. Dia tak boleh merasakan kedinginan.

Pegnawal: Aku akan melakukan sesuai yang kau perintahkan.

Si pengawal memberi hormat dan segera pergi.

Ki-ha mengingat …

Sa Ryang: Hiduplah .. Kumohon kau harus tetap hiduup .. Anakmu …

Sa Ryang putus jiwanya, tubuhnya lunglai dan tergeletak di tanah. Ki-ha tak sanggup menahan rasa dukanya sehingga berteriak melampiaskannya …

Penginapan dekat Abullansa

Ki-ha sedang meracik obat … Ho-gae membuka matanya lalu bangun duduk dan menemukan dirinya di tempat asing .. Ki-ha memandangnya sekilas dan melanjutkan pekerjaannya.

Ki-ha: Abullansa hanya membutuhkan perjalanan sehari lagi. Semua roang sedang menunggu kita. Shaman api dan juga orang yang ia layani.

Ho-gae:: (tersenyum paksa) Aku tak bisa melakukan apapun untukmu. Aku telah menjadi orang yang tak berguna. Sekarang aku bahkan bersama dengan wanita yang telah memberikan racun pada ayahku tapi aku tak dapat menunjukkan amarahku.

Ki-ha: Aku juga tak punya sesuatu yang tersisa. Aku telah kehilangan segalanya yang paling berharga bagiku.

Ki-ha selesai meracik obat dan membawakannya ke hadapan Ho-gae.

Ki-ha: Aku akhirnya memahami semuanya sekarang setelah aku kehilangan segalanya. (duduk di hadapan Ho-gae) Kau masih tidak mengerti? Langit sama sekali tak menghiraukan orang-orang seperti kita. Langit hanya menujukan pandangannya pada satu orang. Yang penting bagi Langit hanyalah bagaimana orang itu dapat melalui ujian demi ujian. Kau dan aku .. kita hanyalah pion-pion belaka di ujian-ujian Langit itu.

Ho-hae: Kau maksudkan kalau kita adalah alat-alat yang digunakan oleh Langit dalam permainannya? Kita hanyalah pion-pion belaka?

Ki-ha: (dnegan nada penuh tekad) Aku berencana untuk berperang melawan Langit! Aku akan membuat sedemikian rupa sehingga Langit tak akan dapat lagi ikut campur dalam kehidupan manusia.

Ho-gae: Jika kita melakukanitu, apa yang akan kita raih? Jika Langit meninggalkan kita, dunia yang kita hidup sekarang mungkin menjadi neraka. Aku tidak mempercayai manusia lagi. Aku melihat diriku sendiri dan bagaimana aku berubah begitu banyak. Betapa kita bisa menjadi orang yang  sungguh hina dan kejam.

Ki-ha: Aku tak peduli jika dunia ini mejadi neraka. Yang pasti, aku akan membuat takdirku sendiri.

Ki-ha memandang pada Ho-gae, yang kemudian membuat keputusan dengan menggerakkan tangannya untuk meraih tangan Ki-ha dan menggenggamnya.

Jalanan di antara Khitan dan Gooknaeseong …

Damdeok memimpin pasukannya yang mengular di belakanngya pulang ke wilayah Goguryeo.

Hyeondong: Saat Raja pulang, 10 ribu orang dan juga tak terhitung banyaknya orang-orang nomad berkuda telah bergabung dalam Pasukan Raja. Tapi bukannya menggunakan rute yang langsung kembali ke Gooknaeseong, sebaliknya Raja mengambil jalan ke Timur, melewati wilayah perbatasan Goguryeo dengan Houyan. Ini untuk menunjukkan pada mereka kekuatan militernya dan membuat mereka mengurungkan niat untuk menyerang Goguryoe pada masa yang akan datang.

Gooknaeseong

Damdeok pulang ke Gooknaeseong dan disambut dengan gegap gempita oleh rakyatnya.

Hyeondong: Setelah Yang Mulia Raja berhasil mengumpulkan pasukan dari keempat propinsi maka semua pasukan yang ada di Goguryeo menjadi milik Raja sekarang. Dia membuat lima propinsi bersatu di bawah satu kekuasaan dan membuat seragam semua hukum di seluruh penjuru propinsi-propinsi. Dan ia menggunakan kata-kata Raja Sosurim sebagai pondasi untuk menjadi penguasa yang kuat.

Kediaman Yeon

Raja memasuki kediaman Yeon, diiringi oleh Jendral Kho. Damdeok tampak murung dan sedih setiap memikirkan nasib ayah dan anak dari keluarga Yeon. Terutama ia merasa kehilangan salah satu tangan kanan yang handal.

Hyeondong: Yang Mulia Raja sangat berduka atas kematian Yeon Garyeo untuk waktu yang sangat lama. Ia mengatakannya berulangkali bahwa ia telah kehilangan satu-satunya orang yang dapat mengurus Istana Gooknae dengan baik.

Damdeok merenung lama di kediaman Yeon, memandang kolam di hadapannya. Cheoro datang dan mengulurkan botol anggur ke hadapannya. Damdeok menerimanya, memandangnya sejenak kemudian meneguknya. Cheoro mengawasinya dengan penuh perhatian. Raja kemudian menawarkannya pada Cheoro, yang langsung mundur. Damdeok tersenyum kecil lalu meneguk lagi botol anggur itu.

Abullansa

Ki-ha disertai Ho-gae  memasuki lorong menuju ke ruangan dalam. Saat di dalam ruangan besar, keduanya mengawasi ke sekeliling dan menemukan jalan lain, yang dibukakan oleh anggota Hwacheon yang bertugas.

Ki-ha dan Ho-gae melangkah keluar ke halaman di mana Altar Suci dan Tunggul Pohon Shinsandoo berada. Sebuah bangunan besar berdiri di hadapan mereka. Ho-gae dan Ki-ha menaiki tangga menuju ke bangunan besar itu.

Pintu bangunan di buka dan Dae Jangro melangkah keluar menyambut keduanya.

Dae Jangro: Selamat datang, ibu bumi, shaman api Ka-jin. Kami telah menunggumu dalam waktu yang cukup lama. (Ki-ha ingin menghajarnya tapi dicegah Ho-gae) Oh .. dan aku adalah seorang harimau tua dari klan Ho-jok yang berani untuk menggunakan kekuatan api di dalam Jantung Joojak untuk mendapatkan kembali kemudaannya. Simbol-simbol Dewa dan juga Abullansa sekarang menjadi milikmu.

Seorang tetua datang dengna membawa dua buah Simbol Dewa di atas talam berlapiskan kain beludru. Ki-ha menatap kedua Simbol Dewa itu tapi tak mengambilnya, ia membalikan badannya.

Ki-ha: Aku bertanya pada para tetua Hwacheon, keturunan dari Ho-jok. Siapakah aku ini?

Tetua: Kau adalah shaman api, ibu dari klan Ho-jok.

Ki-ha: Lalu … siapa monster itu yang ada di hadapanku dan tak dapat mati?

Tetua: Dia sudah menjadi Tetua paling tua sejak masa yang mana kami tak dapat lagi mengingatnya.

Ki-ha: Apa yang harus kulakukan untuk dapat membunuhnya?

Tetua: (sedikit terkejut) Kami tidak tahu, Ki-ha nim.

Membalikkan badannya dan menghampiri Dae Jangro.

Ki-ha: Aku ingin bertanya padamu. Apa yang harus kulakukan supaya aku dapat membunuhmu? (Dae Jangro hanya menatapnya tajam) Dengarkan aku baik-baik! Tak peduli apapun yang ingin kulakukan, itu akan kulakukan setelah aku membunuhmu! Baru setelah itu aku memulainya.

Dae Jangro: (menatap tajam) Anakmu masih hidup! (Ki-ha dan Ho-gae terkejut) Apakah kau ingin mengkonfirmasikannya sendiri?

Kiha benar-benar ingin tahu keberadaan anaknya jika masih hdiup.

Beberapa saat kemudian ..

Dalam Kuil Abullansa

Dae Jangro menggunakan kekuatan sihirnya untuk membantu Ki-ha

Dae Jangro: Gunakanlah kekuatanku untuk sejenak. Aku akan membantumu untuk mengingat. Kembalilah ke hari itu.Hari di mana kelahiran sang bayi, siapa lagi disanayang beramamu saat itu.

Ki-ha mulai teringat dan mendapatkan kilasan-kilasan kejadian saat itu ….

Sa Ryang: (menangkap lengan Soojinee) Selamatkan si bayi.

Soojinee: (melepaskan diri) Omong kosng gila apa ini yang kau katakan?

Soojinee duduk di sebelahnya dan menggenggam tangannya saat ia tak sadarkan diri dan membutuhkan seseorang di sampingnya.

Sa Ryang: Dia adalah anak dari Rajamu dan eonni mu.

Soojinee menerima si bayi dan memandangnya dengan penuh rasa sayang.

Ki-ha: (dengan suara bergetar) Semua yang kulihat barusan .. apakah kau juga melihatnya?

Dae Jangro: (muncul) Apakah gadis itu adalah dongsaeng mu?

Ki-ha: Dongsaeng ku .. ia mengenali bayiku .. Dongsaeng ku dan bayiku, apakah mereka ada di tanganmu? Beritahu aku! Apa yang kau inginkan?

Dae Jangro: Kami hanya ingin mengambil kembali tanah Ho-jok yang telah dicuri oleh Raja Jyooshin.

Ki-ha: Dan .. ? Pasti ada sesuatu yang kau inginkan untuk dirimu sendiri!

Dae Jangro: Jantung Damdeok! Dan Simbol Hyunmoo dan Baekhoo yang ada dalam kepemilikannya. Jika itu terjadi, maka keempat Simbol Dewa akan bersatu kembali, dan aku akan mendapatkan kekuatan Langit. Itulah yang kuinginkan. Hwacheon ada di mana-mana di empat penjuru dunia ini. Ki-ha nim … Apakah kau ingin menyelamatkan nyawa anakmu?

Ki-ha: Jika kau berhasil mendapatkan semua yang kau inginkan … lalu .. apakah kau akan menyelamatkan anakku?

Dae Jangro hanya tersenyum penuh kemenangan …

Gooknaeseong

Hyeondong: Ini dari Penguasa Soogokseong. Ia mengatakan kalau Baekjae telah memulai bergerak.Parapetani merasa gelisah dan telah menunda panen hasil bumi mereka di ladang. Jadi …

Damdeok: (memotong, pada Gam Dong) Kau katakan sebelumnya kalau pasukan di wilayah Timur sedang mencari tempat latihan.

Gam Dong: Beanr, Yang Mulia!

Damdeok: Biarkan mereka melakukannya di Soogokseong. Tapi pastikan kalian membawa persediaan yang mencukupi sehingga tidak terlalu membebani mereka.

Gam Dong: Aku akan menyampaikan perintahmu.

Hyeondong: Berikutnya adalah sebuahsuratyang dikirim tanpa nama melalui orang-orang Geomool.

Dadmeok: Jendral Kho!

Jendral Kho: Ya, Yang Mulia!

[Selama percakapan dengan Jenderal Kho, Hyeondong terus membacakansurattanpa nama itu, dan Damdeok mendengarkannya tapi juga sekaligus berbicara dengan Jenderal Kho]

Damdeok: Ini adalah semua laporan yang harus aku baca dan tandatangani. Maukah kau membaginya bersamaku?

Jenderal Kho tercengang, ia menatap pada semua tumpukan laporan-laporan itu dan merasakan kepalanya langsung pusing, kemudian menatap pada Damdeok.

Jendral Kho: Yang Mulia, Aku lebih suka menyerang Baekjae sendirian.

Damdeok: Baiklah kalau begitu … (tertawa)

Hyeondong sedang asik membaca ketika Damdeok mendengar sesuatu yang menarik perhatiannya ..

Damdeok: Baca kembali bagian itu.

Hyeondong: Pangeran Mahkota Houyan ..

Damdeok: Sebelum itu…

Hyeondong: Kami telah mendengar kalau Yang Mulia adalah seseorang yang dapat membuat semua rasa sakit menghilang dalam satu hari.

Damdeok segera merebut surat itu dari Hyeodong dan membacanya sendiri .. ia teringat …

Soojinee: Jadi seorang Raja seharusnya memiliki kemampuan untuk membuat semua luka menghilang dalam satu hari. Dan aku rasa kalau ia seharusnya kembali keluar dan berperang di hari berikutnya. Dia akan mengatakan, “Ikuti Aku! Aku lah Rajamu!”

Damdeok mengingat semuanya dengan jelas … ia memikirkan siapa penulis surat ini … apakah dia?

————–

uwaaaaa … ga kerasa dah jam setengah 2 pagi >.< boboq dulu yoo .. dah kelar nih sinopsis ^^ .. besok lanjut yang 23 ..  ^^V

24 comments on “The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 22

  1. Mana bsa mrah… Cuma manyun dikit… Tpi kereen!! maju trus jgn mundur lg.. Ditggu kehebatan tarian tangannya!! Asyik hri ini ko andy BAEK bneeer…

  2. “Keren cra nulisnya,.^^ Ngbca sinopsisnya jd srasa nglihat drmanya,.
    Q ska bget ma drama ini,. Jd Trus lnjut ya,. Hwaiting,.”

    G’ bgtu bsa nulis kmentar jd hrap maklum, cma pngen ngsh smangat bwt pnulsnya,.

  3. Jiah lg seru2nya to be continue lg dech…….. Ayo cepetan kk lanjutin sampai selesai. tar klo aq mati malam ini jd penasaran dech arwah ku ga bs tenang.

  4. Jiah lg seru2nya to be continue lg dech…….. Ayo cepetan kk lanjutin sampai selesai. tar klo aq mati malam ini jd penasaran dech arwah ku ga bs tenang.

  5. Bagusss..akhirnya..dilanjutin,gak apa2 dech.gak bisa nonton lbs tv (semalem mati lampu lagi)..sinopnya aja dah cukup,.serasa nonton tv..
    lanjutannya bikin penasaran,.the legend lebih menarik dr queen seondeok….
    fighting bwt mas Andy

      • Muba..masih wilayahnya sumatera selatan (gak tau ya disini kayaknya lg ada sistem mati-matiin lampu..dr maghrib mati lampu siang gini baru idup)..
        naura tinggal dimana?

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s