The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 23

Gooknaeseong

Damdeok sedang mengunjungi Ruang Penelitian Geomool.

Hyeondong: Ini dari Penguasa Soogokseong. Ia mengatakan kalau Baekjae telah memulai bergerak. Para petani merasa gelisah dan telah menunda panen hasil bumi mereka di ladang. Jadi …

Damdeok: (memotong, pada Gam Dong) Kau katakan sebelumnya kalau pasukan di wilayah Timur sedang mencari tempat latihan.

Gam Dong: Benar, Yang Mulia!

Damdeok: Biarkan mereka melakukannya di Soogokseong. Tapi pastikan kalian membawa persediaan yang mencukupi sehingga tidak terlalu membebani mereka.

Gam Dong: Aku akan menyampaikan perintahmu.

Hyeondong: Berikutnya adalah sebuah surat yang dikirim tanpa nama melalui orang-orang Geomool.

Dadmeok: Jendral Kho!

Jendral Kho: Ya, Yang Mulia!

[Selama percakapan dengan Jenderal Kho, Hyeondong terus membacakan surat tanpa nama itu, dan Damdeok mendengarkannya tapi juga sekaligus berbicara dengan Jenderal Kho]

Damdeok: Ini adalah semua laporan yang harus aku baca dan tandatangani. Maukah kau membaginya bersamaku?

Jenderal Kho tercengang, ia menatap pada semua tumpukan laporan-laporan itu dan merasakan kepalanya langsung pusing, kemudian menatap pada Damdeok.

Jendral Kho: Yang Mulia, Aku lebih suka menyerang Baekjae sendirian.

Damdeok: Baiklah kalau begitu … (tertawa)

Hyeondong sedang asik membaca ketika Damdeok mendengar sesuatu yang menarik perhatiannya ..

Damdeok: Baca kembali bagian itu.

Hyeondong: Pangeran Mahkota Houyan ..

Damdeok: Sebelum itu…

Hyeondong: Kami telah mendengar kalau Yang Mulia adalah seseorang yang dapat membuat semua rasa sakit menghilang dalam satu hari.

Damdeok segera merebut surat itu dari Hyeodong dan membacanya sendiri .. ia teringat …

Soojinee: Jadi seorang Raja seharusnya memiliki kemampuan untuk membuat semua luka menghilang dalam satu hari. Dan aku rasa kalau ia seharusnya kembali keluar dan berperang di hari berikutnya. Dia akan mengatakan, “Ikuti Aku! Aku lah Rajamu!”

Damdeok mengingat semuanya dengan jelas … ia memikirkan siapa penulis surat ini …

Beberapa hari kemudian ..

Damdeok, diiringi Gam Dong,  melakukan pemeriksaan benteng dan bercakap-cakap dengan Jenderal Kho.

Damdeok: Pangeran Mahkota Houyang membutuhkan perlindungan dari orang-orang yang bersekongkol melawannya.

Jenderal Kho: Tapi kita tak dapat membawa prajurit kesana. Itu masih wilayah Houyan.

Damdeok: Tempatkan 5 ribu orang di Hyundoseong dan Shinseong. Mereka sudah harus bersiaga sehingga bisa diberangkatkan sewaktu-waktu ketika ada pemberitahuan.

Jenderal Kho: Apa rencanamu, Yang Mulia?

Damdeok: Kau baru saja melihatnya, laporan-laporan yang menggunung. Urus semuanya itu demi diriku, Jenderal.

Jenderal Kho: (mendesah) Yang Mulia!

Damdeok: Jika kau membantu seseorang yang mungkin akan menjadi Raja dari satu negara, itu mungkin nantinya bermanfaat bagi kita … (pada Hon-go, yang baru datang) Guru!

Hyon-go: Ya, Yang Mulia!

Damdeok: Apakah ada orang-orang Geomool di Yongseong di Houyan?

Hyon-go: Tentu saja, kami punya jumlah yang cukup banyak di sana.

Damdeok: (pada Cheoro) Kau harus pergi bersamaku.

Cheoro: Baik, Yang Mulia.

Damdeok: Aku berencana meninggalkan Joomochi di sini. Aku hanya memiliki dirimu yang bisa kupercaya.

Jenderal Kho: Yang Mulia! (Damdeok membalikkan tubuhnya.) Apakah kau berencana untuk pergi sendirian lagi?

Damdeok: Ah .. Jenderal Kho Woo Chong, kau akan membantu Joomochi. Aku rasa ia akan mengalami kesulitan di hari-hari ini … (Damdeok tersenyum geli)

Di Gudang Gooknaeseong

Dalbee sedang sibuk memeriksa barang yang masuk dan keluar … Joomochi mengintipnya dari luar ^^

Ba Son dan si pria pendek masuk ke gudang, Joomochi berpura-pura cuek tapi kemudian mendapatkan akal.

Joomochi: Ba Son, tolonglah periksa kapakku.

Joomochi berbicara dengan Ba Son tapi matanya tertuju pada Dalbee ^^ Tapi Ba Son juga bukan orang bodoh .. ia melihat Joomochi dan arah pandangannya ^^

Ba Son: Kau bodoh! Bagaimana bisa kau mengasah kapakmu setiap hari kemari!

Joomochi: Lihatlah baik-baik! Aku rasa kapakku terlalu tajam. (matanya tak lepas dari sosok Dalbee)

Ba Son: (kesal) Pergi dan bicara saja dengannya! Pergi dan pegang dia! (memeragakannya pada Joomochi sendiri) “Kaulah wanitaku! Aku akan membuatmu bahagia!” Bicaralah semacam itu!

Joomochi: Katakanlah lagi .. apa itu tadi?

Pria pendek: Tch … dasar kau pria malang! Apa gunanya kau bertarung dengan baik? Lihatlah aku! (memeragakannya pada Ba Son) Pegang dia seperti ini. Lihatlah pada matanya (Ba Son tercengang) Kau ingin menjadi milikku?

Ba Son segera menutup muka si pria pendek dengan tangannya dan mendorongnya menjauh, bulu kuduknya merinding dipandang si pria pendek ^^

Ba Som: Maaf saja ya !

Terdengar suara orang berlari … Dalbee menghampiri mereka

Joomochi: Huh?

Dalbee: Apakah kau akan pergi juga?

Joomochi: (bingung dan tergagap) Pergi? Me … memangnya aku .. aku akan pergi ke mana?

Dalbee: Kelihatannya Yang Mulia Raja akan pergi lagi. Aku sedang mempersiapkan persediaan baginya.

Joomochi: (terkejut) Dia akan pergi tanpa diriku? Dia itu ….

Joomochi segera pergi keluar dan berlari tapi baru beberapa meter ia berhenti.

Ba Son: (berdecak) Dia pergi lagi? Dia tak pernah ada di Istana beberapa waktu ini. Dua puluh sampai lima puluh hari ia ada di medan peperangan. 20 hari berikutnya ia bepergian dan 5 hari selanutnya  ia ada di tempat pelatihan.

Joomochi berlari kembali dan menghadapi Dalbee, Dalbee tertegun dan menundukkan kepalanya ..

Ba Son dan pria pendek: (memberi tanda pada Joomochi, berbisik tanpa suara) Pegang dia!

Joomochi: (ragu-ragu) Begini …

Dalbee mendongakkan mukanya .. Joomochi kelu lidahnya, ia tak ahli dalam hal seperti ini, ia segera menggerung kesal dan kemudian melangkah pergi .. tapi Dalbee mengejarnya …

Dalbee: (berseru) Kau tahu rumah kayu di dekat Donggol?

Joomochi: (membalikkan tubuh perlahan, heran) Rumah?

Dalbee: Yang Mulia memintaku untuk melihatnya, jadi aku lakukan. Jika kita menyukainya, ia katakan kalau ia akan memberikannya bagi kita. (Joomochi melongo ^^, Dalbee sedikit malu) Aku … aku menyukai rumah itu. (Joomochi bibirnya berkedut)  Saat kau kembali nanti, kau seharusnya melihatnya sendiri. Lihatlah apakah kau menyukainya atau tidak.

Jooomochi: (gugup dan tergagap) Oh .. oh … Nanti … Nanti ketika aku kembali … Aku … aku yakin aku .. akan menyukainya. (Tersenyum lebar salah tingkah) Jika Dal Ja menyukainya, maka .. aku … rumah ….

Joomochi hatinya sangat gembira mendengar perkataan Dalbee, yang artinya Dalbee punya perasaan suka padanya. Ia mulai tertawa keras dan pergi meninggalkan Dalbee dan yang lain dengan hati bahagia. Joomochi tertawa terbahak-bahak tak henti-hentinya sampai tak melihat jalan di depannya yang licin … Ia terpeleset jatuh “gedebuk” ^^ Dalbee, Ba Son, dan si pria pendek terkejut dan khawatir … tapi Joomochi segera bangun dan tertawa lebih keras lagi, melambaikan tangannya dan pergi, tawa kerasnya menggema di lorong-lorong. Dalbee tertawa kecil, Ba Son ber high-five dengan si pria pendek, senang akhirnya Joomochi berhasil merebut hati Dalbee. Tawa Joomochi masih menggema di kejauhan, Dalbee mengawasi ke arah perginya Joomochi dengan hati berbunga-bunga. Senyum manis tak lepas dari mulutnya ^^

Damdeok akan berangkat, para penasehat dan jenderalnya mengiringi sampai ke tempat kuda-kuda disiapkan.

Damdeok: Beritahu Penguasa Benteng Ga Geun di Gwanmiseong untuk menggunakan pasukan untuk membajak tanah.

Gam Dong: Ya, aku akan memberitahu dia secepatnya.

Damdeok: Sangatlah penting untuk tidak melewatkan waktu tanam.

Gam Dong: Ya, Yang Mulia.

Damdeok akan naik kudanya tapi Jenderal Kho memanggilnya ..

Jenderal Kho: Yang Mulia … (Damdeok menoleh) Kumohon, paling tidak bawalah beberapa prajurit dan juga diriku. Aku akan meminta mereka untuk berganti pakaian seperti rakyat biasa.

Damdeok: (tersenyum sabar) Apa aku seharusnya masuk ke negeri asing secara diam-diam dengan sekumpulan prajurit di sekitarku? Apakah itu akan membuatku aman? (tersenyum lebar) Aku akan segera kembali.

Damdeok naik kudanya kemudia segera berangkat dengan hanya diiringi oleh Hyon-go dan Cheoro. Jenderal Kho dan yang lainnya mengawasi kepergian mereka dengan hati khawatir akan keselamatan Rajanya.

Jenderal Kho: Aku tak pernah melihat Yang Mulia menjadi begitu tidak sabaran. Ada apa sebenarnya di dalam surat itu?

Gam Dong: Apa?

Jenderal Kho: Surat yang berasal dari Houyan. Dia bertingkah aneh sejak ia membaca itu. (pada Gam Dong) Tidakkah kau juga berpikir demikian?

Gam Dong hanya memandangnya masih tidak mengerti …

Damdeok dan kedua pengiringnya memacu kuda akan keluar dari Gooknaeeong tapi terdengar seruan orang memanggilnya.

Joomochi: (berkuda dan tertawa tergelak-gelak) Yang Mulia! Yang Mulia! Terima kasih atas rumahnya, Yang Mullia!

Joomochi tertawa girang dan lantang sambil memacu kudanya menyusul Damdeok.

Damdeok hanya tersenyum geli mendengar dan melihat tingkah Joomochi^^

Yongseong di Houyan

Raja Damdeok dan ketiga pengiringnya berkuda melewati pasar.

Kediaman Go Woon

Beberapa orang telah datang dengan berkuda, mereka segera turun dari kudanya begitu tiba di pintu gerbang.

Penyambut: Kalian telah melakukan perjalanan yang jauh.

Orang-orang tadi masuk ke dalam kediaman dipimpin penyambut tamu. Banyak orang bersenjata di dalam kediaman itu, tampaknya sedang bersiaga dan waspada.

Orang-orang yang baru datang tadi  menemui seorang pria berpakaian mewah, dia adalah Go Woon, pria Goguryeo yang diangkat anak oleh Murong Bao, kaisar dari Houyan. Dia nantinya akan menjadi Kaisar dari Beiyan [Yan Utara], salah satu dari 16 Kerajaan di Dinasti Jin Timur, melanjutkan kekuasaan Houyan [Yan Akhir].

Go Woon masuk ke sebuah ruangan belajar, di mana anak perempuannya sedang belajar dengan seorang wanita. Wanita itu adalah Soojinee, yang rambutnya sudah dipanjangkan. Soojinee melihat kedatangan Go Woon dan bangkit memberi hormat.

Go Woon: Guru, kuminta kau untuk membawa anak-anak meninggalkan tempat ini untuk sementara waktu. Aku harus membawa beberapa orang bersamaku dan pergi melakukan pengawalan terhadap Pangeran Mahkota. Ketika itu terjadi, maka hanya akan ada para wanita dan anak-anak di tempat ini. Aku akan mengirimkan beberapa pelayan bersamamu. Kumohon kau pergi ke rumahku di desa untuk sementara waktu.

Soojinee: Baik, Tuan. Sudahkah kau menerima jawaban dari Goguryeo?

Go Woon: Aku tak terlalu mengharapkannya. Jika ada konflik internal dalam Houyan, maka bukankah ini akan menjadi hal yang baik bagi Goguryeo? Jika aku yang menjadi Raja maka aku justru akan berusaha memperhebat masalahnya. Aku rasa kita melakukan hal yang sia-sia.

Gadis kecil: [berbicara bahasa mandarin] Thia, ling qi he chu …

Go Woon: Berbicaralah seperti yang diajarkan gurumu.

Gadis kecil: Ayah, apakah kau akan pergi ke suatu tempat?

Go Woon: Bagus! Aku harus pergi ke suatu tempat. Tetaplah bersama dengan gurumu dan jangan meninggalkannya, ya?

Gadis kecil: Uhm .. (mengangguk)

Go Woon: Guru .. (Soojinee memandangnya) Jika terjadi sesuatu padaku …

Soojinee: Jangan mengkhawatirkan anak-anak. Aku akan bersama-sama dengan mereka.

Go Woon merasa lega dengan janji Soojinee, ia memberi hormat, yang dibalas oleh Soojinee, lalu pergi keluar.

Soojinee: (pada gadis kecil) Mau khan pergi berjalan-jalan di luar? Gantilah bajumu dulu.

Gadis kecil itu sangat senang dan segera berlari ke luar kamar belajar …

Soojinee sendirian di ruangan belajar, ia mengangkat seorang bayi yang ditaruh di sampingnya tadi dan memandangnya dengan penuh kasih sayang.

Di luar Kediaman Go Woon

Seorang penyambut tamu keluar dan mengawasi orang-orang yang baru datang.

Penyambut tamu: Dari mana asal kalian? Aku tak pernah melihat wajah kalian sebelumnya?

Hyon-go: Apakah ini tempatnya?

Anggota Geomool: Ya, tetua. (pada penyambut tamu) Mereka berasal dari Goguryeo.

Penyambut tamu: (mengawasi mereka lebih dekat) Itu tak mungkin … !

Hyon-go: Hahaha! Itu mungkin saja! Bukankah pemilik kediaman ini telah mengirimkan sebuah pesan ke Goguryeo? (tertawa kecil)

Penyambut tamu tampak kurang percaya dan melihat kembali kepada kelimanya, Damdeok menoleh dan mengawasi kediaman Go Woon.

Tampak para prajurit Houyan melewati pasar dengan terburu-buru, membuat semua penduduk bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.  Soojinee juga ada di pasar, sedang menemani dua orang anak dari Go Woon dan menggendong si bayi. Tiba-tiba ia melihat beberapa orang berkuda dengan seragam Hwacheon. Soojinee merasa curiga dan memberikan bayinya pada seorang pembantu yang menyertainya.

Soojinee: (menyerahkan si bayi) Bawa pergi anak-anak lebih dahulu. Aku akan bergabung denganmu setelah aku menyampaikan pesan.

Si pembantu mengiyakan, Soojinee segera mengambil busurnya, yang dibungkus kain, dan pergi.

Di dalam kediaman Go Woon

Damdeok dan keempat pengiringnya sedang duduk menunggu ..

Go Woon: Jadi kalian berasal dari Goguryeo.

Damdeok dan semuanya berdiri menyambut tuan rumah.

Damdeok: Kami di sini atas perintah dari Raja.

Go Woon: Silahkan duduk.

Semua orang duduk.

Go Woon: Jadi Raja Goguryeo telah menerima pesanku. Apakah ia mengatakan akan mengirimkan pasukan?

Damdeok: Dia mengatakan kalau dia tak akan melakukannya.

Go Woon: (mengangguk mengerti dan bersandar di kursi) Ya, tentu saja. Mengirimkan pasukan ke wilayan lain sangatlah sulit. (nada kecewa) Tapi .. aku pikir kalau ia akan melakukan sesuatu. Dia memiliki pasukan bayaran terbaik. (Joomochi merasa bangga dan duduk tegak, kepalanya mendongak ^^) Aku pikir paling tidak ia akan mengirimkan mereka …

Damdeok: (curiga) Siapa yang memberitahumu itu?

Go woon: (tidak paham) Huh?

Damdeok: Siapa yang memberitahumu mengenai pasukan bayaran?

Go Woon: Ahh .. kami mempunyai seorang guru yang berasal dari Goguryeo.

Damdeok: Bolehkah aku bertemu dengan guru itu?

Go Woon: Tidak bisa, karena ia sudah pergi dengan anak-anakku.

Damdeok tampak kecewa tapi apa boleh buat …

Seorang bawahan Go Woon masuk dan memberikan laporan ..

Pria: Murong Hui telah membawa orang-orangnya menuju ke Istana Pangeran Mahkota. Kelihatannya mereka berjumlah ratusan orang.

Semua orang terkejut ..

Go Woon: Apa?

Pria: Mungkinkah ia bermaksud untuk menyerang di siang hari bolong begini?

Go Woon: Apa yang sedang Raja lakukan?

Pria: Sama sekali tak ada gerakan darinya.

Go Woon: Apa ia bermaksud mengatakan kalau ia tidak akan ikut campur dalam masalah ini?

Damdeok mendengarkan semua ini dan melipat tangannya, otaknya berputar keras memikirkan rencana yang bisa ia buat dalam kondisi seperti ini.

Go Woon: (pada bawahannya) Kita harus melindungi Pangeran Mahkota! Murong Hui adalah anak kedua dari Raja, tapi ia mencoba untuk membunuh Pangeran Mahkota. Dan Raja hanya diam saja untuk melihat siapa yang selamat. (pada Damdeok) Apakah kau akan membantuku? (Damdeok menoleh) Kau harus dapat menyelamatkannya. Aku adalah pengawalnya!

Hyon-go: Ah .. kami memang datang untuk membantumu.

Go Woon: Aku telah berhasil mengumpulkan sekitar 50 an orang. Tapi mereka bukanlah petarung sungguhan, jadi aku tak tahu berapa banyak yang bisa mereka lakukan untuk membantu kita. Berapa banyak orang dari pihak kalian?

Damdeok: Hanya kami berempat.

Go Woon tampak terkejut dan tidak percaya, ia mengawasi mereka semua … Jadi ini saja bantuan yang diberikan oleh Goguryeo?

Damdeok: Apakah Murong Hui mengomandani pasukan? Aku bertanya-tanya apakah mereka cukup baik.

Go Woon: (tersinggung dan marah) Kau mengatakan kalau Raja Goguyeo yang mengirim kalian!

Damdeok: Itu benar. Ia mengirim kami berempat.

Go Woon sangat kecewa ia menggerung kesal dan pergi meninggalkan Damdeok dan yang lainnya.

Damdeok: (berdiri dan berjalan-jalan) Aku rasa ia menganggap remeh pada kita.

Joomochi: (berdiri dan menghampiri Damdeok) Jadi aku rasa ia tak akan menyediakan makanan bagi kita?

Hyon-go: Bisa-bisanya kau lapar pada saat-saat seperti ini! (pada Raja) Apa yang akan kau lakukan, Yang Mulia?

Damdeok: Kita harus menyelamatkannya. Lagipula, aku masih punya sesuatu yang perlu kutanyakan padanya.

Damdeok segera meninggalkan ruangan itu, diikuti yang lainnya.

Soojinee sedang bercakap-cakap dengan pasukan pribadi dari Go Woon, ia kemudian beranjak pergi tapi terperanjat saat melihat beberapa orang dari kejauhan. Damdeok dan yang lain sedang berjalan di dalam pekarangan.

Damdeok: Bagaimana penilaian kalian terhadap orang-orang itu. Apakah mereka akan berguna nanti?

Joomochi: Bergantung pada lawan, tapi aku rasa separuh dari mereka bahkan tak tahu bagaimana untuk menghunuskan pedangnya.

Damdeok menemui Go Woon yang sedang berbicara dengan orang-orangnya di halaman.

Damdeok: Jadi yang harus kami lakukan hanyalah melindungi Pangeran Mahkota? (Go Woon berbalik) Dalam perjalanan kami kemari, kami melewati Istana Pangeran Mahkota. Tempat itu tak terlihat begitu besar. Seratusan orang dapat merebutnya dan hanya sedikit orang melindungi tempat itu. Itu artinya gerbang depan akan mejadi sasaran yang mudah bagi mereka.

Go Woon: Raja tidak mengijinkan Pangeran Mahkota memiliki pasukan. Aku tak tahu apa yang ia takutkan.

Damdeok: Aku benar-benar tidak ingin bertempur melawan seratusan orang. Jadi mengapa kita tidak menyusup masuk dan membawanya keluar secara diam-diam? (Go Woon memandangnya tajam) Tapi sayangnya aku tak tahu rupanya dan ia juga tak tahu rupaku. Apa kau mau pergi dengan kami?

.Go Woon menatap pada Damdeok, yang terus menyunggingkan senyumnya, dan mengawasi pada pengiring Damdeok.

Damdeok merasakan seperti ada yang sedang mengawasinya dan mengawasi ke sekelilingnya, Cheoro curiga dan menatap ke tempat di mana Damdeok mengarahkan pandangan matanya … tapi tak ada seorangpun …

Dari balik sebuah dinding, Soojinee mengintip Damdeok dan yang lain.

Terlihat Go Woon mempersilahkan Damdeok dan yang lain untuk masuk dan mendiskusikan rencana Damdeok tadi.

Damdeok mengikuti Go Woon …

Soojinee mengawasinya dengan kerinduan hati yang ditahannya dengan sekuat tenaga …

Damdeok akan masuk ke dalam ruangan tapi ia merasakan sesuatu getaran dan tarikan di hatinya, ia merasa diawasi lagi oleh seseorang. Damdeok menghentikan jalannya dan menoleh sedikit … ke arah di mana Soojinee berada …

Soojinee segera menyembunyikan dirinya …

Damdeok segera masuk ke dalam ruangan diikuti yang lain, tapi Cheoro juga merasakan hal yang sama .. ia menunggu sampai semuanya masuk baru ia menyusul … Soojinee bersembunyi di balik dinding di dekat mereka. Mereka begitu dekat tapi juga jauh … Soojinee menundukkan mukanya yang murung, matanya berkaca-kaca …

Malam hari …

Istana Murong Bo

Banyak orang berada di depan pintu gerbang utama berseru-seru meminta pintu dibuka sambil berusaha mendobraknya dengan kayu besar.

Damdeok dan yang lain berada di dekat sana, mengamati semua kejadian ini. Go Woon mengawasi mereka dengan pandangan meremehkan. Apa sih yang bisa dilakukan oleh keempat orang Goguryeo ini?

Joomochi: (tidak sabar) Aku akan mengurus separuh dari mereka jika kalian mau berdua mengurus sisanya.

Damdeok: Mereka terlalu banyak.

Joomochi: (menunjuk dengan kapaknya) Lihatlah betapa lemahnya mereka!

Damdeok: Kalau begitu lakukan saja sendiri!

Damdeok pergi meninggalkannya, Joomochi merasa apa boleh buat ^^

Joomochi: Ah … (bergumam) kita pindah  …

Damdeok dan yang lain ke pintu yang lain dan mengamati orang-orang yang akan menjadi lawan mereka nantinya. Belasan orang sedang mendobrak pintu dan yang lain berseru menyemangati.

Damdeok: Bagaimana dengan di sini?

Joomochi: Aku menyukainya! Jumlahnya hampir sama dengan jumlah kita di sini.

Damdeok segera memimpin penyerangan …

Para pasukan tidak menyadari kedatangan Damdeok dan yang lalnnya dan saat mereka menyadarinya, semuanya sudah terlambat.

Damdeok mengayunkan pedangnya dan dengan  membunuh beberapa orang dengan cepat. Joomochi di belakangnya tak ketinggalan mengayunkan kapaknya dan membantai setiap orang yang lolos dari pedang Damdeok. Cheoro di samping kiri Damdeok, tak mau kalah membunuhi semuanya yang mau melarikan diri dari jangkauan keduanya.

Pertempuran di pintu gerbang itu berlangsung sangat singkat, Go Woon sampai terpana melihat cara mereka bertiga bertempur. Damdeok hanya tersenyum simpul pada Go Woon dan kemudian membalikkan tubuhnya dan menendang pintu sampai terbuka.

Damdeok masuk diiringi dengan Joomochi dan Cheoro, di kanan dan kirinya. Damdeok mengawasi sekelilingnya sebentar dan melihat ada pintu di sebelah kanannya.

Damdeok: (pada kedua bawahannya) Kalian pergi melalui pintu itu.

Cheoro dan Joomochi menganggukkan kepala mereka lalu pergi ke pintu yang ditunjuk Raja mereka. Go Woon menyusul Damdeok.

Damdeok: Ayo kita pergi.

Damdeok pergi ke arah halaman diikuti oleh Go Woon.

Beberapa saat kemudian …

Tanda isyarat dilepaskan ke udara, Hyon-go yang ada di luar Istana melihatnya.

Hyon-go: Ah itu dia! Sekarang! Sudah waktunya sekarang! Tanda isyarat sudah dinaikkan! (berlari pada orang-orang yang berkumpul di luar) Pergi kesana, tunjukkan batang hidung kalian lalu berlarilah ke arah sebaliknya kesana.

Pria 1: Melarikan diri?

Pria 2: Kau tidak mau kami bertempur?

Hyon-go: (kesal) Apa sih yang sulit untuk dipahami? Yang harus kalian lakukan hanyalah melakukan apa yang diperintahkan pada kalian! Jadi pergi kesana, tunjukkan saja wajah kalian dan kemudian berlarilah sekuat tenaga kalian ke arah situ !

Orang-orang itu merasa enggan sehingga Hyon-go sangat kesal dibuatnya. Tapi entah bagaimana akhirnya orang-orang itu melakukan seperti yang diperintahkan.

Mereka turun ke depan pintu gerbang dan berpura-pura akan bertarung, tapi begitu pihak lawan merespon, mereka segera berlari sekuat tenaga ke arah yang telah ditunjukkan tadi. Pihak lawan mereka terpancing meninggalkan pintu dan mengejar dengan bernafsu.

Di dalam ..

Damdeok dan Go Woon mencari Pangeran Mahkota dan bertemu dengan para pengawalnya.

Go Woon: Di mana Pangeran Mahkota?

Pengawal: Dia sedang berada dalam kamar belajar.

Go Woon berpandangan dengan Damdeok lalu segera bergegas menuju ke kamar belajar Pangeran. Tapi pintu kamar di palang dari dalam

Go Woon: Yang Mulia Pangeran! Ini Go Woon! Apakah kau ada di dalam? (menggedor pintu) Yang Mulia Pangeran! Bukalah pintunya! Yang Mulia Pangeran!

Damdeok mengawasi ke sekelilingnya dan merasa kalau waktu tidak berpihak pada mereka lebih lama lagi, ini situasi yang sangat mendesak.

Damdeok: (menghentikan Go Woon) Kita tak punya banyak waktu lagi.

Damdeok tak banyak bicara segera menendang pintu sampai terbuka.

Go Woon: Yang Mulia Pangeran …

Go Woon segera masuk dan menemukan kalau si Pangeran Mahkota sedang duduk di sebuah kursi dan tangannya bertumpu pada meja, sedang minum-minum.

Go Woon: Yang Mulia Pangeran! Kami telah datang untuk menjemputmu keluar.

Murong Bo: (mendongak) Mengapa ayahku sama sekali tak melakukan apapun? Aku sedang mengalami penderitaan seperti ini, tapi mengapa ayahanda Raja sama sekali tidak melakukan apapun? (berteriak) Mengapa?

Go Woon: (berlutut) Yang Mulia Pangeran! Aku akan melindungimu dengan nyawaku.

Pangeran Mahkota Murong Bo tak mengindahkannya dan minum-minum. Damdeok merasa harus turut campur dalam situasi seperti ini ..

Damdeok: Tuan Go, kau pernah mengatakan kalau kau aslinya berasal dari Goguryeo.

Go Woon: (masih berlutut) Itu benar.

Damdeok: (tersenyum) Aku telah mendengarnya berulangkali sebelum ini.

Go Woon bangun berdiri dan menatap Damdeok, tak memahami arah tujuan perkataan Damdeok.

Damdeok: Kau katakan kalau musuh kita adalah Murong Hui. Apakah ia ada di sini sekarang?

Go Woon mengingat lagi orang-orang yang diamati mereka tadi, lalu ia teringat …

Beberapa waktu kemudian …

Damdeok keluar dari kamar belajar pergi ke halaman dan menemui Joomochi yang sudah menunggunya. Pangeran Mahkota di tuntun oleh Go Woon dan seorang pengawal.

Damdeok: Bagaimana keadaannya?

Joomochi: Mereka tidak lama lagi akan berhasil mendobrak pintu gerbang.

Damdeok menuju ke halaman di depan pintu gerbang utama, dikawal oleh Joomochi dan Cheoro.  Mereka menanti dengan sabar …

Tak berapa lama kemudian, pintu gerbang utama berhasil dibuka, sepasukan prajurit dipimpin oleh seorang berpakaian Jenderal berderap maju ke dalam.

Damdeok: Apakah orang itu yang namanya Murong Hui?

Joomochi: Bagaimana jika bukan?

Damdeok: Kau benar …

Damdeok segera berlari memapak pasukan itu, Joomochi dan Cheoro bersama-sama mengikuti di kiri dan kanannya … Damdeok meloncat menyerang ….

Di dekat Istana Murong Bo ..

Banyak prajurit yang berpatroli di jalanan …

Anggota Geomool berjalan mengendap-endap, Hyon-go memanggilnya.

Hyon-go: Hei … sini ..

Anggota Geomool: Raja akhirnya mengirimkan bantuan.

Hyon-go: Benarkah?

Anggota Geomool: Dia punya begitu banyak anak dan saudara lelaki, dan mereka selalu berperang di antara merkea sendiri. Dia pasti sudah muak karenanya.

Hyon-go: Apakah kau mencarikan informasi yang kuminta? Guru yang disebutkan oleh Tuan Go?

Anggota Geomool: Kata mereka dia adalah  seorang wanita.

Hyon-go: Benarkah?

Anggota Geomool: Mereka katakan kalau ia masih muda. Ia telah tinggal bersama dengan keluarga Go kira-kira hampir setahun dan mengajari anak-anak keluarga Go. Nyonya rumah itu telah mati sejak lama. Tuan Go menjaganya karena wanita itu juga berasal dari Goguryeo dan mengurus  anak-anaknya dengan sangat baik.

Hyon-go: (mendesah) Benarkah? .. Oh .. tidak …

Keesokan paginya …

Go Woon membuka pintu rumahnya dan sangat senang ketika menemukan anak-anaknya sudah datang di atas kereta. Damdeok mencari-cari di sekitar tapi tak menemukan guru yang disebut oleh Go Woon.

Go Woon: Mereka mengatakan kalau sang guru telah pergi untuk mengunjungi rumah saudaranya.

Damdeok: Di mana rumah saudaranya itu?

Go Woon: Aku tak begitu yakin. Dia sering membawa anaknya kesana. Tapi aku tak pernah bertanya padanya di mana itu.

Damdeok: Anak?

Go Woon: Dia seorang ibu tunggal yang membesarkan anaknya sendirian, jadi aku membantunya dengan membiarkan ia tinggal di sini. (heran) Apakah ia seseorang yang kau kenal?

[Hyon-go memeriksa kereta …]

Go Woon: Sekarang, mari masuk ke dalam! Aku telah mempersiapkan sebuah perayaan. Mari kita masuk ke dalam!

Hyon-go tampaknya menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya .. tapi ia tak berani mengatakannya pada Damdeok.

Damdeok sendiri membatalkan masuk dan menghampiri perawat kereta kuda.

Damdeok: Di mana wanita itu berpisah denganmu?

Tiba-tiba Hyon-go berseru dan berpura-pura sakit …

Damdeok (khawatir) Guru, apakah kau sakit?

Hyon-go: Jantungku …

Joomochi: Apakah kau lapar? .. ahahaha yang dipikirin Joomochi cuman perut saja …

Damdeok: Bawa ia masuk ke dalam.

[Apa yang ditemukan oleh Hyon-go? Sebuah panah Makgoong buatan Ba Son!]

Di dalam rumah, Hyon-go berbaring di tempat tidur, memejamkan matanya berpura-pura sakit …

Joomochi: (menggenggam tangannya) Guru! Maukah kau kubuatkan bubur?

Damdeok sedikit cemas melihatnya ..

Go Woon: Kita sungguh beruntung karena Raja mengirimkan Pengawal Raja untuk melindungi Pangeran Mahkota. Terima kasih atas bantuanmu. (Damdeok hanya tersenyum dan meminum teh di cawannya) Apakah kau tahu kalau Ratu Goguryeo pernah dikurung sebagai sandera di sini oleh Murong Huang pada waktu yang lampau?

Damdeok: Ya, aku pernah mendengarnya.

Go Woon: Kakekku ada di antara para sandera itu. Kakekku adalah salah satu keluarga Raja yang dibawa kemari sebagai sandera.

Damdeok: Ya, aku tahu kalau keturunannya telah tinggal di sini dan tetap melanjutkan menggunakan bahasa dan budaya kita.

Go Woon: (meletakkan sebuah gulungan di atas meja) Maukah kau melihat ini? (Hyon-go penasaran jadi ia mengintip dari balik bulu matanya^^) Ketika Ratu diculik dan dibawa kemari, ia memberikan ini pada ayahku untuk dijaganya. Dan sekarang karena kau di sini atas perintah Raja Goguryeo, aku meminta bantuan padamu. Kumohon agar kau menyampaikan ini pada Raja Goguyeo. (bangun berdiri) Sampai jumpa.

Sepeninggal Go Woon, Hyon-go segera bangun dan berdiri, membuat Joomochi melongo ^^ mungkin pikirnya, cepat banget orang ini sembuh ^^

Damdeok membuka gulungan itu dan melihat tulisan Cheon Goong [ 천궁 ]

[Catatan: Cheon Goong [ 천궁 ] adalah Busur Langit, Busur Hwan Woong yang berubah menjadi Pedang Joomong, yang berubah lagi menjadi sebuah tabung kecil, yang sekarang ada dalam kepemilikan Damdeok. tabung kecil itu juga  sewaktu-waktu bisa berubah bentuk menjadi Busur Langit kembali, seperti saat Damdeok memanah Cheoro untuk mengeluarkan Simbol Chung Ryong.]

Hyon-go menghampiri Damdeok, yang sedang membaca gulungan itu. Damdeok menyadari kehadiran Hyon-go.

Damdeok: (menoleh) Apa kau baik-baik saja?

Hyon-go: (menganggukan kepala) Ya, Yang Mulia. (memandang gulungan) Tulisan itu mengenai Cheongoong.

Damdeok: Ya, hanya ada dua karakter tulisan di sini …  Cheon Goong [ 천궁 ]

Hyon-go: Itu benar. Ini adalah gulungan rahasia. Kami memiliki bagian awal dari gulungan ini di Desa Geomool. Ini adalah bagian terakhirnya. Aku tidak tahu kalau ini memang ada.

Damdeok memandang gulungan itu, penuh rasa ingin tahu…

Beberapa hari kemudian

Hyon-go kembali ke desa Geomool sambil membawa gulungan rahasia Cheon Goong …

Malam hari ..

Para tetua Desa Geomool melakukan ritual di dalam sebuah gua …

Hyon-go telah menyatukan dua gulungan rahasia, bagian awal dan akhir, di atas sebuah meja … Seorang anggota Geomool membawakan air khusus dan menuangkannya di atas gulungan rahasia itu, Hyon-go segera mengangkatnya dan meratakan air itu sehingga membasahi seluruh gulungan rahasia itu…. Air merembes dari atas ke bawah … perlahan-lahan banyak tulisan  muncul di atas gulungan rahasia itu.

Hyon-go dan yang lain menjadi terkesima melihat hasilnya yang sungguh mengejutkan …

Gooknaeseong

Raja mengunjungi Ruang Penelitian Geomool, Hyon-go menunjukkan hasil yang telah mereka peroleh …

Damdeok: Jadi kata-kata itu sudah bisa diungkapkan artinya? Apa isinya?

Damdeok mengambil gulungan rahasia yang ditaruh dalam sebuah kotak. Tapi Hyeondok menahannya.

Hyeondok: Yang Mulia, kami datang untuk memohon dengan sangat padamu.

Damdeok: Mengapa kau sangat serius begitu?

Hyeondok: Meskipun kata-kata kuno ini tak ternilai harganya, tapi aku memohon padamu untuk segera membakarnya.

Damdeok: (tak paham, memandang pada Hyon-go)  Kau tak ingin aku membacanya?

Hyon-go: Ini adalah kata-kata yang menjelaskan penggunaan Cheon Goong, dan satu-satunya orang yang bisa menggunakannya adalah Raja Jyooshin. Tapi Cheon Goong memberikan kekuasaan untuk membunuh atau menyelamatkan dewa-dewi di Langit, berdasarkan kehendak dari Raja Jyooshin.

Damdeok: (menganggukkan kepalanya) Aku dulu pernah menggunakannya sekali.

[Kenangan Damdeok bertumpuk dengan kenaangan Hwan Woong, saat Damdeok memanah Cheoro dan saat Hwan Woong memanah Sae-oh]

Hyon-go: Yang terpenting adalah yang beriktunya: Cheon Goong memiliki kekuasaan untuk menghancurkan Simbol Dewa.

Damdeok: Jadi aku akan mengulanginya, satu-satunya benda yang dapat menghancurkan Simbol-simbol Dewa adalah Cheon Goong [Busur Langit] ?? Bagaimana caranya? Apakah kau memanah simbol-simbol itu?

Hyon-go: Itu mudah. Jika kau menghancurkan Cheon Goong maka semuanya akan hancur juga.

Damdeok mengambil Cheon Goong dari kotak dan mengujinya, memukul-mukulkannya pada tangannya, Hyon-go jadi panik ^^

Damdeok: Kelihatannya benda ini tak mudah untuk dihancurkan.

[Kenangan saat Damdeok ditusuk dengan Pedang Joomong, tapi Damdeok selamat dan Pedang Joomong menjadi Cheon Goong dengan bentuk seperti sekarang]

Hyeondok: Jika Cheon Goong dihancurkan, maka Raja Jyooshin juga akan mati! Simbol-simbol dewa, para pelindung, dan Raja Jyooshin semuanya akan mati!

Hyon-go: Itulah mengapa Cheon Goong disembunyikan di dalam Pedang Joomong sehingga hanya jantung dari Raja Jyooshin yang dapat menyingkapkannya.

Hyeondok: Rahasia ini tak boleh diungkapkan ke dunia ini. Kumohon ijinkan kami untuk membakarnya dan menghancurkan gulungan ini untuk selamanya.

Damdeok: (tersenyum) Tidakkah itu aneh?

Hyon-go: Apanya?

Damdeok: Mengapa Langit mengirimkan kekuatannya turun ke dunia dan mengapa Hwan Woong menyembunyikannya? Dan mengapa ia meninggalkan Cheon Goong?

Go Woon: Aku tak begitu yakin. Dia sering membawa anaknya kesana. Tapi aku tak pernah bertanya padanya di mana itu.

Damdeok: Anak?

Go Woon: Dia seorang ibu tunggal yang membesarkan anaknya sendirian, jadi aku membantunya dengan membiarkan ia tinggal di sini. (heran) Apakah ia seseorang yang kau kenal?

Hyon-go memeriksa kereta

Go Woon: Sekarang, mari masuk ke dalam! Aku telah mempersiapkan sebuah perayaan. Mari kita masuk ke dalam!

Hyon-go tampaknya menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya .. tapi ia tak berani mengatakannya pada Damdeok.

Damdeok sendiri membatalkan masuk dan menghampiri perawat kereta kuda.

Damdeok: Di mana wanita itu berpisah denganmu?

Tiba-tiba Hyon-go berseru dan berpura-pura sakit …

Damdeok (khawatir) Guru, apakah kau sakit?

Hyon-go: Jantungku …

Joomochi: apakah kau lapar?

Damdeok: Bawa ia masuk ke dalam.

Apa yang ditemukan oleh Hyon-go? Sebuah panah Makgoong buatan Ba Son!

Di dalam rumah, Hyon-go berbaring di tempat tidur berpura-pura sakit …

Joomochi: (menggenggam tangannya) Guru! Maukah kau kubuatkan bubur?

Damdeok sedikit cemas melihatnya ..

Go Woon: Kita sungguh beruntung karena Raja mengirimkan Pengawal Raja untuk melindungi Pangeran Mahkota. Terima kasih atas bantuanmu. (Damdeok hanya tersenyum dan meminum the di cawannya) Apakah kau tahu kalau Ratu Goguryeo pernah dikurung sebagai sandera di sini oleh Murong Huang pada waktu yang lampau?

Damdeok: Ya, aku pernah mendengarnya.

Go Woon: Kakekku ada di antara para sandera itu. Kakekku adalah salah satu keluarga Raja yang dibawa kemari sebagai sandera.

Damdeok: Ya, aku tahu kalau keturunannya telah tinggal di sini dan tetap melanjutkan menggunakan bahasa dan budaya kita.

Go Woon: (meletakkan sebuah gulungan di atas meja) Maukah kau melihat ini? (Hyon-go penasaran jadi ia mengintip dari balik bulu matanya) Ketika Ratu diculik dan dibawa kemari, ia memberikan ini pada ayahku untuk dijaganya. Dan sekarang karena kau di sini atas perintah Raja Goguryeo, aku meminta bantuan padamu. Kumohon agar kau menyampaikan ini pada Raja Goguyeo. (bangun berdiri) Sampai jumpa.

Sepeninggal Go Woon, Hyon-go segera bangun dan berdiri, membuat Joomochi melongo ^^ mungkin pikirnya, cepat banget orang ini sembuh ^^

Damdeok membuka gulungan itu dan melihat tulisan Cheon Goong [ 천궁 ]

[Catatan: Cheon Goong [ 천궁 ] adalah Busur Langit, Busur Hwan Woong yang berubah menjadi Pedang Joomong, yang berubah lagi menjadi sebuah pisau pendek, yang sekarang ada dalam kepemilikan Damdeok. Pisau itu juga  sewaktu-waktu bisa berubah bentuk menjadi Busur Langit kembali, seperti saat Damdeok memanah Cheoro untuk mengeluarkan Simbol Chung Ryong.]

Hyon-go menghampiri Damdeok, yang sedang membaca gulungan itu. Damdeok menyadari kehadiran Hyon-go.

Damdeok: (menoleh) Apa kau baik-baik saja?

Hyon-go: (menganggukan kepala) Ya, Yang Mulia. (memandang gulungan) Itu mengenai Cheongoong.

Damdeok: Ya, hanya ada dua karakter tulisan di sini, . Cheon Goong [ 천궁 ]

Hyon-go: Itu benar. Ini adalah gulungan rahasia. Kami memiliki bagian awal dari gulungan ini di Desa Geomool. Ini adalah bagian terakhirnya. Aku tidak tahu kalau ini memang ada.

Damdeok memandang gulungan itu, penuh rasa ingin tahu…

Beberapa saat kemudian …

Cheoro berjalan-jalan di luar, ia menuju ke tempat di mana sebelumnya Soojinee mengintip … Cheoro berdiri di tempat itu untuk beberapa lama ….

Damdeok sedang di kamarnya sedang membaca ditemani lilin  … Cheoro datang menemuinya sambil membawa botol minuman, meletakkannya di meja di hadapan Damdeok, lalu membuka pintu supaya cahaya bulan masuk, dan juga dengan tujuan tertentu …

Soojinee berada di seberang bangunan sedang memandang pada kamar Damdeok, mengawasi siluet Damdeok di dalam kamar … ia segera bersembunyi ketika melihat pintu dibuka dan Cheoro keluar, berdiri di depan kamar …

Soojinee kemudian memberanikan diri untuk mengintip lagi … dilihatnya kali ini Damdeok yang keluar sambil meneguk botol anggur … Soojinee merasa hatinya seperti diiris-iris … ia ingin menemui Damdeok dan melepaskan rindu dalam hatinya ini, tapi ia tidak bisa, ia harus menjauh dari Rajanya  … matanya berkaca-kaca, pandangannya terus melekat pada Damdeok.

Damdeok menawarkan botol anggur pada Cheoro, yang memandang botol itu cukup lama. Cheoro memberanikan diri untuk mencoba meminumnya tapi terbatuk-batuk … membuat Damdeok tertawa geli … Soojinee melihat ini menjadi terharu dan tersenyum kecil … Cheoro telah mengabulkan permintaannya, menemani raja sekaligus membuatnya tersenum sehari sekali …

Cheoro mengembalikan botol anggur itu pada Damdeok, yang masih tertawa geli saat menerimanya kembali.

Soojinee tak melepaskan pandangannya pada Damdeok, dan terkadang tersenyum geli sendiri melihat Damdeok …

Damdeok kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar dan memandang ke langit … lalu memandang pada botol anggur di tangannya, mengingat masa-masa ia bersama dengan Soojinee …

Saat ia bersama dengan Soojinee di Aula Besar Istana, saling bergantian minum dari satu botol anggur … Kenangan manis yang sulit Damdeok lupakan … demikian juga dengan Soojinee, yang mengingat peristiwa yang sama dan saat Damdeok memeluknya secara spontan …

Damdeok meneguk kembali botol anggurnya, berusaha menghilangknn kegundahan hatinya … Soojinee melelehkan air matanya, perlahan-lahan beranjak pergi tapi masih berat untuk meninggalkan Raja sekaligus pria yang sangat dicintainya … hatinya remuk … tapi ia harus pergi …  Soojinee mengawasi Damdeok untuk terakhir kalinya selama beberapa saat … lalu menguatkan hati dan pergi …

Beberapa hari kemudian

Hyon-go kembali ke desa Geomool sambil membawa gulugan rahasia Cheon Goong …

Malam hari ..

Paratetua Desa Geomool melakukan ritual di dalm sebuah gua …

Hyon-go telah menyatukan dua gulungan rahasia, bagian awal dan akhir, di atas sebuah meja … Seorang anggota Geomool membawakan air khusus dan menuangkannya di atas gulungan rahasia itu, Hyon-go segera mengangkatnya dan meratakan air itu sehingga membasahi seluruh gulungan rahasia itu…. Air merembes dari atas ke bawah … perlahan-lahan sebuah peta rahasia muncul di atas gulungan rahasia itu.

Hyon-go dan yang lain menjadi terkesima melihat hasilnya yang sungguh mengejutkan …

Gooknaeseong

Raja mengunjungi Ruang Penelitian Geomool, Hyon-go menunjukkan hasil yang telah mereka peroleh …

Damdeok: Jadi kata-kata itu sudah bisa diungkapkan artinya? Apa isinya?

Damdeok mengambil gulungan rahasia yang ditaruh dalam sebuah kotak. Tapi Hyeondok menahannya.

Hyeondok: Yang Mulia, kami datang untuk memohon dengan sangat padamu.

Damdeok: Mengapa kau sangat serius begitu?

Hyeondok: Meskipun kata-kata kuno ini tak ternilai harganya, tapi aku memohon padamu untuk segera membakarnya.

Damdeok: (tak pahan, memandang pada Hyon-go)  Kau tak ingin aku membacanya?

Hyon-go: Ini adalah kata-kata yang menjelaskan penggunaan Cheon Goong, dan satu-satunya orang yang bisa mengunakannya adalah Raja Jyooshin. Tapi Cheon Goong memberikan kekuasaan untuk membunuh atau menyelamatkan dewa-dewi di Langit, berdasarkan kehendak dari Raja Jyooshin.

Damdeok: (menganggukkan kepalanya) Aku dulu pernah menggunakannya sekali.

[Kenangan Damdeok bertumpuk dengan kenaangan Hwan Woong, saat Damdeok memanah Cheoro dan saat Hwan Woong memanah Sae-oh]

Hyon-go: Yang terpenting adalah yang berikutnya: Cheon Goong memiliki kekuasaan untuk menghancurkan Simbol Dewa.

Damdeok: Jadi aku akan memgulanginya, satu-satunya benda yang dapat menghancurkan Simbol-simbol Dewa adalah Cheon Goong [Busur Langit] ?? Bagaimana caranya? Apakah kau memanah simbol-simbol itu?

Hyon-go: Itu mudah. Jika kau menghancurkan Cheon Goong maka semuanya akan hancur juga.

Damdeok mengambil Cheon Goong dari kotak dan mengujinya, memukul-mukulkannya pada tangannya, Hyon-go jadi panik ^^

Damdeok: Kelihatannya benda ini tak mudah untuk dihancurkan.

[Kenangan saat Damdeok ditusuk dengan Pedang Joomong, tapi Damdeok selamat dan Pedang Joomong menjadi Cheon Goong dengan bentuk seperti sekarang]

Hyeondok: Jika Cheon Goong dihancurkan, maka Raja Jyooshin juga akan mati! Simbol-simbol dewa, para pelindung, dan Raja Jyooshin semuanya akan mati!

Hyon-go: Itulah mengapa Cheon Goong disembunyikan di dalam Pedang Joomong sehingga hanya jantung dari Raja Jyooshin yang dapat menyingkapkannya.

Hyeondok: Rahasia ini tak boleh diungkapkan ke dunia ini. Kumohon ijinkan kami untuk membakarnya dan menghancurkan gulungan ini untuk selamanya.

Damdeok: (tersenyum) Tidakkah itu aneh?

Hyon-go: Apanya?

Damdeok: Mengapa Langit mengirimkan kekuatannya turun ke dunia dan mengapa Hwan Woong menyembunyikannya? Dan mengapa ia meninggalkan Cheon Goong? Tidakkah kalian setuju? (mengawasi Hyon-go dan Hyeondok) Atau hanya aku saja?

Damdeok tersenyum masam lalu bermain-main dengan Cheon Goong, melemparkannya ke udara dan bermaksud menangkapnya tetapi meleset dan Cheon Goong terjatuh ke tanah, Hyon-go dan Hyeondok sangat kaget dan panik. Damdeok, “ups” dan segera mengambil Cheon Goong yang terjatuh itu.

Hyon-go: (nada menegur) Jangan lakukan seperti itu lagi!

Jenderal Kho datang menemui Damdeok.

Jenderal Kho: Yang Mulia, perbatasan Selatan telah mengirimkan pesan kalau Baekjae te;lah melakukan serangan. Dan sekarang mereka sedang bergerak menuju ke Soogokseong.

Damdeok wajahnya berubah serius dan menoleh pada Hyon-go, yang langsung berlari ke Ruangan Penelitian Geomool

Ruangan Penelitian Geomool

Prajurit: Yang Mulia datang ..

Semua orang memberi hormat pada Damdeok yang masuk dengan terburu-buru.

Hyon-go: Yang Mulia, Desa Geomool telah mengirimkan sebuah laporan.

Mereka segera menuju ke sebuah peta besar yang tergantung di sebuah papan.

Hyon-go: (menunjuk pada peta) Ini adalah Soogokseong. Kami berpikir kalau mereka akan pergi menuju ke Gwanmiseong, tapi ternyata perkiraan kami salah.

Damdeok: Mereka pasti menyadari kalau selama Ga Geun menjadi Penguasa Gwanmiseong maka mereka tak akan punya kesempatan untuk menang.

Jenderal Kho: (muncul) Yang Mulia! (Damdeok menoleh) Semua persiapan telah selesai. Aku telah menyediakan kuda-kuda terbaik untuk melakukan perjalanan jauh dengan cepat.

Damdeok: (menoleh pada Hyon-go) Guru, apakah Jenderal Jinmu masih mengepalai pasukan Baekjae?

Hyon-go: Raja Ashin sendiri yang memimpin sebuah pasukan kavalri berjumlah 5 ribu orang.

Damdeok: Kavalri?

Hyon-go: Tujuannya mungkin untuk mencapai targetnya lebih cepat.

Damdeok: Beritahu Soogokseong untuk berusaha mempertahankan diri dari penyerbuan ini. (berjalan keluar) Beritahu mereka kalau aku akan pergi ke sana sendiri.

Hyon-go segera memberi petunjuk pada orang-orang Geomool.

Dalam perjalanan ke kandang kuda, Jenderal Kho dan Damdeok bercakap-cakap mengenai situasi ini.

Jenderal Kho: Soogokseong dikelilingi oleh pegunungan di Timur, Barat, dan Utara. Di sebelah selatannya adalah dataran luas. Ada sungai di depan benteng dan pertahanan di sana secara umum cukup lemah. Aku tak tahu apakah mereka akan mampu bertahan dari serangan sampai kita mencapai mereka.

Damdeok: Marilah kita berkuda terus tanpa berhenti.

Joomochi berlari-lari menemui Damdeok yang sedang berjalan …

Joomochi: Yang Mulia .. Yang Mulia! Haruskah kita benar-benar memakai baju pelindung itu? Itu benar-benar tak cocok untukku dan ….

Damdeok: (memotong, tersenyum geli) Ba Son mengatakan kalau ia telah membuatkan baju pelindung khusus untuk dirimu.

Joomochi: (nada enggan) Aku lebih suka menyerahkan posisi Jendral daripada memakainya!

Damdeok: (nada menggoda) Dan jangan lupa kalau ada orang yang akan membantumu memakainya .. ^^

Joomochi langsung berhenti melongo …  lalu segera berlari tapi karena saking gugupnya ia salah arah dan segera berbalik untuk pergi dengan berlari sangat cepat, tak peduli lagi dengan Rajanya ^^

Damdeok: Kau khan tidak tahu cara memakainya jadi mintalah bantuan padanya …

Tampaknya Joomochi sudah tak mendengarnya karena larinya sudah jauh. Damdeok tertawa geli melihat tingkah Joomochi ^^

Damdeok: Mengapa kita harus terus mendorong mereka untuk bersama-sama?

Jenderal Kho: Mengapa kau tidak memberi mereka perintah Raja. Jika mereka menolaknya, maka hukumannya adalah 100 pukulan, atau semacam itulah.

Cheoro dan Damdeok, terutama Damdeok, sangat tercengang memandang pada Jenderal Kho yang ternyata bisa bercanda juga, Damdeok bahkan tertawa geli. Jenderal Kho tersenyum geli juga.

Sementara itu ..

Joomochi, sambil membawa baju pelindung yang dibuatkan oleh Ba Son khusus untuknya, bermaksud untuk menemui Dalbee dan meminta bantuannya untuk memakaikan bajunya itu. Tapi nyali Joomochi langsung ciut saat sampai di depan gudang, tempat Dalbee bekerja memeriksa barang-barang yang keluar masuk. Berulangkali ia mau masuk tapi langkahnya selalu terhenti dan mundur kembali, sampai suatu saat Mandeuk lewat dan melihatnya, ia bermaksud membantu Joomochi untuk memakaikannya tapi Joomochi segera memberi tanda kalau ia akan memminta bantuan pada Dalbee yang ada di gudang. Mandeuk menggodanya kemudian meninggalkannya sambil tertawa terbahak-bahak ….

Ba Son datang untuk menemui Dalbee dan melihat Joomochi ada di depan gudang. Joomochi juga melihatnya dan memberi isyarat pada Ba Son agar membantunya untuk meminta Dalbee memakaikan baju pelindungnya. Ba Son garuk-garuk kepala tapi ia menghampiri Dalbee yang sedang asik mencatat, dan memberi isyarat padanya dengan kepalanya kalau ada orang yang mencarinya di luar. Dalbee menoleh ke pintu luar dan melihat Joomochi sedang berdiri di sana. Dalbee segera tersenyum kecil, memberikan buku-bukunya pada Ba Son yang kelabakan^^ dan pergi menemui Joomochi.

Dalbee memberi hormat, di balas anggukan, lalu segera mengambil baju pelindung itu. Ba  Son tertawa mengikik melihat mereka dan pergi sambil menggelengkan kepalanya.

Dalbee mengenakan baju pelindung itu, memberi isyarat untuk berbalik, Joomochi dengan kaku mematuhinya, tapi wajahnya tersenyum senang, Dalbee memasangkan tali-tali di punggung. Lalu ia menyuruh Joomochi berbalik lagi dan mengangkat tangannya, yang dilakukan Joomochi ^^ ahahaha kayak robot ^^ …  Dalbee kemudian memasangkan bagian perut, melingkarkan tangannya di pinggang Jooomochi seolang-olah sedang memeluk. Joomochi tak membuang kesempatan ini ^^ dan menurunkan tangannya memeluk Dalbee, yang terkejut dan malu tapi Joomochi tertawa senang. Keduanya dalam posisi itu untuk sesaat …

Catatan Hyeondong:  

Tahun ke-3: Penyerangan Baekjae atas Gwanmiseong. Baekjae mundur setelah Goguryeo melakukan penyerangan balik. Raja Ashin Baekjae terus menyatakan perang. Setiap kali Yang Mulia Raja memimpin pasukannya sendiri dan berperang merebut kemenangan demi kemenangan.

Tahun ke-4: Penyerangan Baekjae atas Soogokseong. Yang Mulia Raja mendapatkan kemenangan dengan 5 ribu orang.

Tahun ke 5: Kemenangan besar atas Baekjae. Yang Mulia membawa 7 ribu orang melawan 30 ribu orang pasukan Baekjae dan menawan 8 ribu orang sebagai tahanan.

Perkemahan Raja

Hyeondong membawa gulungansuratberjalan menuju ke Tenda Utama … dan langsung masuk ke dalam.

Pertemuan sedang dilakukan di dalam Tenda Utama membicarakan situasi mengenai peperangan dengan Baekjae.

Hyon-go: Sekarang adalah waktu yang telah kau nanti-nantikan, Yang Mulia. Berbagai laporan menunjukkan kalau Raja Ashin sedang mencoba untuk merekrut orang masuk ke dalam pasukannya dan ia sekarang bahkan kekurangan bahan perbekalan.

Hyeondong: Tetua, ini adalah laporan dari Shilla.

Hyeondong memberikan gulungan pesan pada Hyon-go, yang menerima dan langsung membacanya.

Hyeondong: Orang-orang yang telah melarikan diri dari perekrutan Baekjae sedang berkumpul di Shilla. Shilla meminta bantuan untuk mengurus para pengungsi Bakjae.

Huk-gae: … Yang Mulia ..

Damdeok: Bagaimana dengan laporan dari Gwanmiseong?

Jenderal Kho: Semuanya sudah siap. Pasukan di sana sudah terlatih sepenuhnya.

Huk-gae: .. Yang Mulia …

Damdeok: Bagaimana dengan Khitan?

Joomochi: (berdiri) Jangan khawatir dengan mereka. Suku-suku Khitan masih sibuk bertengkar sendiri di antara mereka mengenai lokasi jalan raya.

Huk-gae: .. Yang .. Yang Mulia!

Damdeok: Shilla?

Hyeonjang: Shilla akan menggerakkan pasukan mereka menuju keGaya. Mereka akan berusaha mencegah Gaya mengirimkan bantuan kepada Baekjae.

Huk-gae tampak kesal karena ia tak dianggap sama sekali ^^ Saat Damdeok menoleh kepadanya, ia tersenyum paksa dan Damdeok tersenyum geli … ^^

Damdeok: Kalau beigtu, mari kita berurusan dengan Baekjae.

Semua orang segera berdiri, terutama Huk-gae yang berteriak kegirangan ^^ senang karena akhirnya akan berperang.

Damdeok: Pasukan pertama akan berangkat menuju ke Arisoo. Mereka akan berkemah di sana untuk menarik perhatian dari pasukan Baekjae. Armada laut kita akan meninggalkan Gwanmiseong dan mendarat di Hae An.

Pasukan ketiga akan dibentuk dari Pasukan Gaema Jyooshin dan akan berkuda tanpa henti menuju ke Hanseong.

Pasukan kedua akan berkuda langsung menuju ke Hanseong. Semua benteng-benteng yang ada di perjalanan kita hanya akan dilewati setelah kita menaikkan bendera kita.

Dengan pasukan yang telah menunggu di Arisoo, kita akan menyerang Hanseong dari semua jurusan.

Catatan Hyeondong: Pada masa pemerintahan yang keenam dari Yang Mulia, perang besar-besaran melawan Baekjae akhirnya dimulai. Moral dalam pasukan Yang Mulia Raja menembus sampai ke Langit. Dia telah mempersiapkan diri untuk peperangan ini selama empat tahun.

Seperti yang telah Yang Mulia inginkan, kekuasaan Baekjae mulai runtuh. Raja Ashin dikelilingi oleh kemarahan rakyatnya sendiri karena peperangan yang tak pernah berakhir dan berkurangnya bahan-bahan persediaan.

Sebelum musim itu berakhir, Yang Mulia berhasil menaklukkan Hanseong Baekjae. Sehari setelah kejatuhan Hanseong, Raja Ashin datang menemui Yang Mulia tanpa naik kuda maupun tandu.

Raja Ashin Baekjae datang dengan berpakaian putih bersama dengan beberapa pejabat dan keluarga Raja ke dalam perkemahan Pasukan Raja Goguryeo. Mereka berjalan dengan langkah gontai. Raja Ashin dan yang lainnya diperbolehkan untuk masuk ke dalam Tenda Utama menemui Raja Goguryeo.

Damdeok duduk di atas kursi kebesarannya di dalam Tenda Utama, menghadapi Raja Ashin dan para pengiringnya.  Raja Ashin memandang pada Damdeok kemudian menundukkan kepalanya dengan lesu dan ragu-ragu.

Jenderal Kho: Jika kau datang untuk memohon untuk nyawamu, kau seharusnya berlutut di hadapan Yang Mulia!

Raja Ashin: Sebelum aku berlutut, seorang Raja yang kalah datang untuk meminta bantuan dari Raja yang menang.

Damdeok: Aku mendengarkan.

Raja Ashin: Di antara sekutu Baekjae ada Gayadi bagian Tenggara dan Baekjae Barat di seberang lautan. Jika kau menginginkan mereka juga, kau akan harus berperang dan membunuh setahun lebih lama.

Huk-gae: (berseru lantang) Omong kosong macam apa ini? Selalu Baekjae yang memulai peperangan. Dan setiap kali kau melarikan diri, kami menyelamatkanmu dari kematian!

Raja Ashin: Kami telah mendengar kalau Raja Goguryeo yang sekarang tak tertarik dengan wilayah tapi dalam persaudaraan. Jadi ijinkanlah kami untuk mempertahankan negeri kami sebagai Baekjae dan mencegah lebih banyak lagi darah orang tak berdosa tertumpah.

Huk-gae: (tak terima) Apa? Darah orang tak berdosa?

Damdeok: (dengan nada sabar) Kau menginginkan untuk mempertahankan Baekjae sebagai negara atau kau ingin mempertahankan hidupmu?

Raja Ashin berlutut, diikuti seluruh pengirinngya ..

Raja Ashin: Aku, Ashin dari Baekjae, berlutut di hadapan Raja Goguryeo. {para pengiring Raja Ashin menangis}Aku bersumpah pada Langit bahwa aku akan selalu melayanimu dan setia padamu. Ambillah Baekjae sebagai saudara mudamu dan bawa aku sebagai budakmu.

Raja Ashin menyembah kepada Damdeok.

Damdeok: Bunuhlah dirimu sendiri. (Ashin terkejut) Maka aku akan mempertahankan Baekjae mu dan mengangkat Rajanya.

Raja Ashin: (nada pasrah dan berterima kasih) Aku akan membayar kembali kemurahanmu ini di kehidupanku yang selanjutnya. (Pada para jenderal) Maukah kalian meminjamkan padaku pedang kalian?

Damdeok menganggukkan kepalanya pada para Jenderalnya, Joomochi memberikan sebuah pedang pendek pada Jenderal Kho, yang maju dan memberikannya pada Raja Ashin.Parapengiring Raja Ashin menangis sedih. Raja Ashin menerima pedang pendek itu dan menghunuskannya. Ia menoleh pada para pengiringnya.

Raja Ashin: Raja Goguryeo akan menepati janjjinya. Percayalah padanya dan pergilah sekarang!

Damdeok memperhatikan semuanya ini dengan seksama dan melihat kesungguhan dari Raja Ashin. Semua orang memperhatikan Raja Ashin, yang memejamkan matanya, perlahan-lahan mengarahkan pedang pendek itu pada lehernya.

—————

Saat Raja Ashin akan menggerakkan pedang pendek itu untuk menggorok lehernya sendiri, sebuah pedang mementalkannya. Raja Ashin terkejut dan membuka matanya. Ternyata Damdeok sudah berdiri di hadapan Raja Ashin. Damdeok menyarungkan kembali pedangnya.

Damdeok: Bukankah Baekjae juga mengajarkan hal yang sama?

Raja Ashin mendongak menatap Damdeok …

Damdeok: Goguryeo dan Baekjae adalah negara-negara bersaudara sejak dari masa Raja Joomong. Kita semua dahulunya adalah rakyat Jyooshin.

Raja Ashin menunduk tapi Damdeok mengulurkan tangannya pada Raja Ashin, yang tercengang memandang pada Damdeok. Ashin ragu-ragu tapi ia kemudian menyambut tangan Damdoek, yang menariknya untuk berdiri.

Huk-gae: (berteriak) Yang Mulia! Bagaimana bisa kau mempercayainya? Begitu kita membalikkan punggung kita, ia akan mengumpulkan prajurit kembali. Ia akan mengumpulkan mereka semua sampai ia memiliki jumlah yang cukup untuk kembali menyerang kita.

Damdeok: (pada Ashin) Urus Baekjae bagiku. (Ashin memandangnya terharu; pada semua jenderalnya) Persiapkan pasukan. Kita akan kembali ke Gooknaeseong!

Semua Jenderal: Ya, Yang Mulia.

Damdeok segera beranjak keluar

Huk-gae: (berseru) Yang Mulia!

Huk-gae masih mau protes dan menyusulnya, tapi Cheoro menahan tangan Huk-gae sehingga ia tak bisa bergerak …^^

Raja Ashin sendiri merasa seperti dalam mimpi …

Beberapa saat kemudian …

Hyon-go menemui Damdeok yang sedang termenung sendirian di kursinya ..

Hyon-go: Apakah kau akan mengijinkan mereka tetap menjadi orang Baekjae?

Damdeok: Itulah rencanaku.

Hyon-go: Mereka akan menusuk kita dari belakang!

Damdeok: Mungkin saja.

Hyon-go: Kau akan menyesalinya nanti.

Damdeok: Aku sudah menyesalinya.

Hyon-go: Lalu mengapa kau melakukan hal semacam itu?

Damdeok: Karena … aku telah berpikir mengenai hal itu. Tapi .. aku rasa aku sedang berperang melawan Langit.

Hyon-go: Berperang melawan Langit?

Damdeok: Menjadi Raja Jyooshin dan juga ke empat Simbol Dewa. Tahukah kau betapa aku sangat membenci semua itu?

Hyon-go: Apa?

Damdeok: Tahukah kau berapa banyak kehilangan yang kurasakan karena semuanya itu? … Ibuku … Ayahku … rakyatku …

Tapi saat berkata “rakyatku”, pandangan mata Damdeok menerawang jauh, pikirannya mengingat pada Soojinee …

Hyon-go: Yang Mulia!

Damdeok: (nada sendu) Aku ingin mendirikan Negeri Jyooshin tanpa bantuan dari Langit.

Hyon-go: Bagaimana bisa seorang manusia mendirikan Negeri Jyooshin tanpa bantuan dari Langit? Bagaimana itu bisa dikerjakan dengan penuh kebenaran?

Damdeok: (menoleh pada Hyon-go) Benarkah demikian?

Hyon-go: Apa?

Damdeok: Rakyat memohon, meminta dengan sangat pengajaran dari Langt t.. berteriak memohon bantuan … apakah itu yang diinginkan oleh Langit?

Hyon-go tersentak dan tak bisa menjawab … Damdeok kembali melayangkan pandangannya ke depan dan termenung, lalu melihat pada botol parfum, yang selalu dibawanya kemanapun ia pergi, mengambil dan mengamatinya, mengingat si dia.

Damdeok: (berbisik) Di manakah dirimu dan apa yang sedang kau lakukan?

Abullansa

Ki-ha di depan bangunan utama sedang memandang pada Tunggul Sashindoo, seorang pengawal menghampirinya …

Pengawal: Kami tak dapat menemukan seseorang yang bernama Soojinee. Gooknaeseong terlihat juga sedang mencarinya, tapi mereka tak dapat menemukan di mana dirinya.

Ki-ha: Adakah kemungkinan besar kalau dia adalah Joojak Hitam …? Itukah mengapa ia harus pergi .. ? (berbalik) Dia mungkin telah mengganti namanya. Banyak orang mengatakan kalau ia sangat ahli dalam memanah. (berjalan) Carilah setiap wanita yang seumuran dengannya yang ahli memanah. Carilah dia sampai ke ujung dunia. Dia adalah adik perempuanku.

Pengawal: (memberi hormat) Baik, Ki-ha nim.

Ki-ha: Dan Sa Ryang ….  (menyadari kalau Sa Ryang sudah meninggal) .. Tak apa-apa .. Kau boleh pergi ..

Si pengawal tahu kalau Ki-ha sangat merasa kehilangan dan masih tak dapat melupakan Sa Ryang. Ia segera memberi hormat dan beranjak pergi.

Gooknaeeong

Kediaman Joomochi

Ba Son, pria pendek, dan Mandeuk sedang ramai-ramai menikmati santapan, sama-sama memandang ke satu arah ….

Wuaaaaaahahhahahhahahahahhahahahhahahahhaha ….. (ga bisa nahan tawa jadi aku tertawa duluan ^^)

Mereka bertiga sedang memandang pada Joomochi dan Dalbee di kamar yang pintunya terbuka. Tampak Joomochi sedang menundukkan kepalanya dan menyentuhkannya pada perut Dalbee yang membesar, Dalbee sudah hamil ^^ cepet banget ^^

Sinopsis Drama Kerajaan [Sageuk] Korea | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Ba Son: Semuanya berawal dari saat itu! Berawal dari saat ia [Dalbee] menjatuhkan bola nasi itu. Aku masih mengingat dengan jelas. Mata Joomochi berloncatan seperti mau keluar.

Mandeuk: (nada iri)  Mengapa tak ada wanita yang seperti itu di sekelilingku?

Mandeuk menoleh pada Ba Son dan tertawa, Ba Son mengeplak kepalanya ^^

Pria pendek: (tertawa) Ada banyak wanita di sekelilingku.

Ba Son: Dasar kalian masih bocah!

Pria pendek: (menjawil Mandeuk) Hei, omong-omong, aku dengar kalau suku kalian menolak tanah yang diberikan pada kalian! Bukankah dulunya itu menjadi cita-cita kalian? Apa yang terjadi?

Mandeuk: Kami memutuskan kalau kami ingin semua jalan di seluruh dunia.

Ba Son: Bagaimana kalian bisa memiliki jalan? Apakah kalian menuliskan nama di atasnya?

Mandeuk: (merasa kesal, berdiri) Kami memutuskan untuk menjadi klan pedagang! Sampai ke ujung dunia, kami akan pergi untuk mengantarkan, mengangkut, membeli dan menjual barang-barang ke seluruh penjuru dunia! (tertawa lalu duduk kembali)

Pria pendek: Ba Son!

Ba Son: Apa?

Pria pendek: Ini sudah delapan atau sembilan tahun?

Ba Son: Ada apa sih?

Pria pendek: Sejak Soojinee kita pergi.

Ba Son segera memukul sikut si pria pendek sehingga ia terjatuh dari meja ..

Ba Son: Dia tidak sepenuhnya pergi! Dia pasti sedang hidup dengan nyaman di suatu tempat. Dia bahkan mungkin sudah menikah sekarang dan punya seorang anak.

Mereka bertiga mengamati kembali ke arah Joomochi dan Dalbee … tapi kali ini mereka menjadi terperangah …

Tampak Joomochi berusaha mencium bibir Dalbee … tapi Dalbee memalingkan wajahnya dan mendorongnya … ^^

Pria pendek: Apa yang sedang dilakukan si tolol itu?

Ba Son menjewer telinganya si pria pendek sehingga ia mengaduh kesakitan.

Ba Son: Bagaimana ia bisa pergi dalam situasi seperti ini? Bisa-bisa ia juga akan mengepak istrinya dan membawanya pergi bersama dengannya.

Joomochi menghadapkan punggungnya pada Dalbee yang sedang mengikat tali-tali baju pelindungnya.

Dalbee: Apa yang kalu lakukan dengna baju pelindungmu? Mengapa bentuknya selalu terlipat tak keruan saat kau pulang?

Joomochi: Apalagi yang bisa kulakukan dengan baju pelindung itu? Aku khan bertarung dengan mengenakannya!

Dalbee: Ba Son membuatkannya secara khusus untuk dirimu. Tidakkah kau merasa sedikit tidak enak padanya?

Joomochi: Kalau begitu haruskah aku meninggalkannya lain kali?

Joomochi tertawa tapi Dalbee mendorongnya, membuat Joomochi hampir terjatuh.

Dalbee: Jika Yang Mulia memintamu untuk pergi, maka kau harus langsung pergi. Dan jika ia memintamu untuk berhenti, kau juga harus langsung berhenti! Jangan lakukan apapun menurut pikiranmu sendiri!

Joomochi: (menegakkan tubuhnya) Kapan aku melakukan seperti itu?

Dalbee: (membuat Joomohci membungkuk lagi) Aku seharusnya pergi juga …

Joomochi: Ohh hoo … Jangan mengatakan itu!

Joomoci berusaha membalikan tubuh tapi didorong kembali menghadap ke depan oleh Dalbee ^^

Dalbee: Berapa lama Yang Mulia akan tinggal di sini? Dia belum kembali untuk jangka waktu yang lama.

Joomochi: Istriku ..

Dalbee memutar tubuh Joomochi, yang masih membungkuk, sehingga menghadapnya …

Dalbee: (nada khawatir) Ia selalu ada di medan pertempuran. Aku bertanya-tanya bagaimana kondisi kesehatannya?

Joomochi: (nada merayu) Istriku …

Dalbee: (masih cemas) Apakah ia tak ada orang yang mengurusnya?

Joomochi tak sabar lagi dan segera menjulurkan badannya untuk mencium Dalbee di kening. Dalbee tertegun sesaat tapi dengan tersipu malu memukul dada Joomochi ^^ Joomochi memonyongkan mulutnya mau mencium bibir Dalbee, Dalbee sendiri sudah pasrah, perlahan-lahan bibir mereka akan menempel, tiba-tiba …

Terdengar pekikan suara Burumsae, Dalbee langsung meninggalkan Joomochi dan pergi ke jendela untuk melihatnya … Joomochi tersungkur ke depan ^^ ahahaha batal deh ciumannya ^^

Dalbee: Pasti itu pesan yang lain!

Joomochi: (berseru kesal) Dasar burung sialan!

Joomochi tak sengaja menyenggol istrinya sehingga hampir jatuh, tapi Joomochi sigap memeluknya … Dalbee tersenyum geli melihat kepanikan Joomochi ^^

Joomochi: Hati-hati! Hati-hati!

Joomochi dan Dalbee saling berpandangan kemudian wajah keduanya semakin mendekat, kali ini tak ada yang mengganggu mereka, Dalbee memejamkan matanya dan …. ^^

Di Ruang Penelitian Geoomol

Damdeok sedang memandang peta besar di hadapannya. Jenderal Kho masuk dan menemuinya, memberikan laporan terkini.

Jenderal Kho: Yang Mulia! Pasukan Houyan mulai melakukan gerakan. Mereka sedang menuju ke perbatasan dengan kita.

Damdeok: (menoleh) Berapa banyak jumlahnya?

Rapat Militer segera diadakan di ruang pertemuan ..

Hyon-go: Sekitar 30 ribu orang. (membaca kembali laporan) Hah? 30 ribu?

Huk-gae: (bangun berdiri) Ada sesuatu yang sungguh aneh! Bagaimana bisa Houyan begitu tak kenal takut sehingga mengirim hanya 30 ribu prajurit?

Damdeok: Bukankah mereka telah kehilangan Raja mereka dan juga sekitar 400 ribu orang dalam peperangan melawan Bukwi tahun lalu?

Hyon-go: Itu benar! Aku juga heran apa yang mendorong mereka untuk menyeberangi perbatasan kita?

Damdeok tampak berpikir …

Gam Dong muncul dengan tergesa-gesa ..

Gam Dong: Yang Mulia, beberapa orang dari Shilla ingin berbicara denganmu.

Pria Shilla: Yang Mulia! Yang Mulia!

Parapengawal segera menahan orang itu agar tidak masuk ke ruanang.

Gam Dong:Parapenyerbu ada di mana-mana di wilayah Shilla, mulai dari Namguhseong sampak ke ibukota Shilla! Mereka mengirimkan pesan dan meminta bantuan pada Yang Mulia.

Damdeok kembali berpikir mendalam.

Abullansa

Sebuah peta besar diletakkan dalam ruangan pertemuan

Ho-gae: (menunjuk pada wilayah Baekjae) Bagaimana situasi dengan Baekjae?

Tetua: Raja Ashin Baekjae bukanlah orang yang mudah untuk dimanipulasi. Dia tak akan bergerak sesuai dengan keinginan kita.

Ho-gae: Kalau begitu aku akan memberikan sebuah alasan padanya untuk menggerakkan pasukannya! Berapa banyak pasukan Wei di Gaya?

Tetua: Wei terus mengirimkan pasukanya keGaya.

Ho-gae: Teruslah menyerang Shilla sehingga mereka akan meminta bantuan pada Goguryeo. Sangatlah penting agar kita membagi kekuatan pasukan dari Goguryeo!

Gooknaeseong

Damdoek masih berpikir mendalam, semua orang menantikan keputusannya.

Huk-gae merasa bosan sehingga menguap tapi menjadi terkejut saat Dalgoo tiba-tiba masuk melapor …

Dalgoo: (berseru) Yang Mulia! Mereka telah menyerang Shinseong!

Tapi Dalgoo segera berhenti ketika melihat semua orang sedang memandangnya dengan tajam, artinya: jangan mengganggu Yang Mulia!

Damdeok memandang pada peta …

Abullansa

Ho-gae mengawasi ke sekelilingnya …

Ho-gae: Raja Goguryeo, apa yang akan kau lakukan sekarang? Akankah kau membantu Shilla? Ataukah kau akan datang untuk merebut kembali bentengmu dari Houyan? Keduanya bukanlah pilihan yang mudah untuk diambil. Bakejae akan menantimu di selatan. Buatlah keputusanmu …

Gooknaeseong

Damdeok tampak sudah mengambil keputusan ..

Damdeok: Jenderal Huk! Aku akan memberimu 50 ribu pasukan.

Huk-gae terkantuk-kantuk menunggu sehingga tak sadar kalau ia dipanggil, tapi kemudian ia menyadarinya dan menoleh ke sekelilinngya, melihat kalau orang-orang sedang memandangnya.

Huk-gae: (ragu-ragu) Aku? 50 ribu? (berseru) Kau akan memberikanku 50 ribu pasukan?

Semua orang berdiri, termasuk Raja, yang memandang mereka semua

Damdeok: 50 ribu pasukan termasuk pasukan kavalri. Bawa mereka dan kirim musuh ke ujung Gaya! Gerus mereka sampai rata dengan tanah!

Huk-gae: (sangat bersukacita, lantang) Itu adalah sesuatu yang sangat kusukai!

Damdeok: Baekjae tak akan bersedia melakukan sesuatu yang tak kita harapkan.

Huk-gae bingung dengan maksud perkataan Damdeok ..

Damdeok: Dalgoo!

Dalgoo: Ya, Yang Mulia!

Damdeok: Pergi dan bawa 2 jenderal menemuiku. Jenderal Putih [mengacu pada Baekho, si Harimau Putih] sekarang pasti ada di rumahnya. Dan Jenderal Biru [mengacu pada Chung Ryong, si Naga Biru] pasti akan ada di hutan.

Abullansa

Seorang perwira pergi menemui Ho-gae

Perwira: Raja Goguryeo sedang menuju kemari. Ia hanya membawa sejumlah kecil pasukan berjumlah 7 ribu orang.

Ho-gae: Saat mereka terlihat, gerakkan pasukan kita secepatnya! Gelombang pertama berjumlah 20 ribu orang. Setiap sepuluh hari, 20 ribu pasukan lainnya akan bergabung. Bawa mereka semua kemari, ke Abullansa.

Di dalam kuil Abullansa

Ki-ha memanggil Dae Jangro

Ki-ha: Kita akan membuat perangkap bagi Raja Goguryeo. Kita butuh umpan dan aku pikir kalau itu kau maka semuanya akan sempurna. Ada yang mengatakan kalau dua Simbol Dewa yang lain berada di Desa Geomool. (duduk di atas kursi). Maukah kau mengambilkannya untukku? (Dae Jangro memandang Ki-ha dengan tajam) Aku dengar kalau kau telah meletakkan cap mu pada beberapa orang di Desa Geomool. Kau dapat mengendalikan mereka. (Dae Jangro tampak berpikiran yang sama) Pergi dan bawalah kedua simbol itu, Simbol Baekho dan Hyunmoo. Aku akan mengembalikan tanah Ho-jok yang sangat kau inginkan.

Dae Jangro tertawa tergelak-gelak dan merasa puas.

Di suatu desa

Sekelompok orang bertopi lebar ingin melepas lelah di suatu kedai minum, mereka segera masuk dan mengambil tempat duduk masing-masing. Seorang anak laki-laki berumur sekitar 7 tahun  menghampiri mereka …

Anak kecil: Selamat datang! Kalian mau memesan apa?

Semua pendatang baru itu merasa lucu dan gemas melihat kepintaran dari si anak kecil itu sehingga tertawa geli.

Seorang wanita tua membawakan minuman bagi mereka untuk menghilangkan haus.

Pengelana: Kami sangat lapar karena kami telah melakukan perjalanan jauh. Apakah kalian punya makanan bagi kami?

Tapi si pelayan tak mempedulikannya dan segera pergi, si pengelana merasa heran …

Sinopsis Drama Kerajaan [Sageuk] Korea | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Anak kecil: Nenekku tuli. Beritahu saja padaku! Kau bisa memintaku untuk apa saja. Kami akan memberimu makanan yang terbaik yang kami miliki!

Soojinee: Ajik .. !

Si anak laki-laki tadi segera berlari menemui Soojinee dan sangat senang melihatnya ..

Ajik: Ya … !

Soojinee: (pada para pengelana) Kuminta kalian bersabar sebentar. Aku baru saja menangkap ikan segar. Kami akan mempersiapkannya bagi kalian!

Si pengelana terkejut mendengar suara Soojinee dan menoleh, ternyata si pengelana itu adalah Go Woon yang sedang menyamar, tapi sayangnya Soojinee sedang membalikkan badannya.

Soojinee sendiri merasa curiga dengan orang-orang itu dan membalikkan tubuhnya, Damdeok segera menurunkan topinya untuk menyembunyikan wajah. Soojinee semakin besar rasa curiganya, dengan berlagak tidak tahu, ia segera memanggil Ajik.

Soojinee: Ajik!

Ajik: Ya, aku disini!

Soojinee: Beritahu nenek untuk memasakkan air.

Ajik: Baiklah!

Soojinee beranjak pergi ke dapur dan memotong-motong ikan segar. Saat ia sedang mau memasak, Soojinee menjadi waspada dan mengambil pisau dapurnya.

Go Woon: (muncul) Aku mengikutimu kemari karena aku rasa kau mungkin mengenaliku.

Soojinee berbalik dan sedikit terkejut melihat bekas majikannya.

Soojinee: Apa yang membawamu kemari? (membalikkan tubuh bersiap memasak) Ini adalah wilayah Goguryeo. Jenderal besar dari Houyan seharusnya tidak berjalan-jalan dengan bebas di sekitar sini.

Go Woon: Aku datang untuk menyampaikan sebuah pesan pada Yang Mulia.

Soojinee: (sedikit terkejut) Apakah Yang Mulia datang kemari dengan pasukannya di Hyundoseong?

Go Woon: Aku juga tidak tahu detilnya, tapi kuminta kau mempercayaiku kalau Yang Mulia Raja sendiri yang memanggilku secara diam-diam sebagai seorang rekan senegara.

Soojinee: (menahan perasaan) Apakah anak-anak baik? Maafkan aku karena meninggalkan mereka tanpa pemberitahuan lebih dahulu.

Go Woon tersenyum senang … Soojinee tampak gelisah karena ini artinya ia sudah tak bisa hidup dengan tenang di tempatnya ini …

Hyundoseong

* Benteng Hyundo adalah benteng pertama di selatan Goguryeo

Go Woon beserta pengiringnya berkuda memasuki pintu gerbang Hyundoseong.

Dadmeok mengadakan pertemuan dengan Go Woon.

Go Woon:Adaseseorang lain yang mengendalikan pasukan dari Houyan. Seperti yang kalian ketahui, Pangean Mahkota yang telah kalian bantu beberapa tahun yang lalu telah menjadi Raja tapi ia diracuni seseorang dua tahun kemudian. Raja yang sekarang mudah dikatakan kalau ia menjadi pion di tangan mereka.

Damdeok: (heran) Mereka .. ?

Go Woon: Hwacheon! (Damdeok terkejut)  Mereka ternyata adalah yang ada di balik kekuatan Bukwi saat ini. Mereka juga pelakunya yang telah mengirimkan pasukan Houyan sebagai gelombang pertama penyerangan pada peperangan ini.

Jenderal Kho: Aku dengar kalau Komandan dari Bukwi asalnya dari Goguryeo.

Go Woon: Apakah maksudmu Ki Mo In? Dia dikatakan berhasil membuat pasukan Bukwi menjadi pasukan yang mengagumkan hanya dalam waktu setahun. Aku tak tahu kalau dia berasal dari Goguryeo, tapi aku dengar kalau metode pelatihannya sama persi dengan Goguryeo.

Damdeok: Apakah itu juga hasil strateginya untuk menyerang Shinseong?

Go Woon: Benar. 30 ribu pasukan Houyan seluruhnya mematuhi perintahnya. Yang Mulia, Pasukan Houyan digunakan hanya sebagai umpan belaka. Kami telah menerima perintah untuk mundur ke Ma Bol saat kau menyerang kembali ke Shinseong.

Hyon-go: (terkejut) Apa kau baru saja mengatakan Ma Bol?

Go Woon: Ya.

Hyon-go: (berdiri) Yang Mulia! Abullansa ada di tempat itu! Abullansa adalah markas besar Hwacheon! Dan markas besar mereka itu didirikan di atas puncak dari Pohon Suci, Shinsandoo!

Damdeok tampak merasakan suatu firasat yang tidak enak …

Beberapa saat kemudian …

Go Woon bertemu dengan Joomochi dan Cheoro depan ruangan pertemuan

Go Woon: (dengan nada gembira) Lama tidak berjumpa! Jadi kalian berdua ternyata adalah Jenderal Biru dan Putih dari Goguryeo! Aku sangat terkejut saat mendengarnya dan juga saat mengetahui kalau dia adalah sang Raja!

Go Woon tertawa tergelak-gelak merasa senang bisa bertemu dengan rekan lama. Joomochi sangat bangga dan senang ..

Joomochi: (senang) Dia katakan kalau kita berdua sangat terkenal! Kau mendengarkannya?

Cheoro: …

Go Woon: Aku sangar kangen untuk menemui kalian semua. Oh .. dan saat aku dalam perjalanan kemari, aku bertemu dengan guru yang dulunya pernah mengajar anak-anakku. (Cheoro tersentak) Berapa tahun ya sudah berlalu sejak itu?

Damdeok membuka jendela saat mendengar perkataan Go Woon, Sorot mata Damdoek tampak terkejut. Go Woon menoleh dan heran…

Go Woon: Ah .. guru itu yang sedang kau cari … kami tidak tahu kabar mengenai dirinya. Tapi dalam perjalanan kemari, aku bertemu dengannya …

Beberapa saat kemudian …

Damdeok diiringi oleh Cheoro, Joomchi, Go Woon serta beberapa pengawal bergegas memacu kuda mereka dengan cepat …

Mereka sampai di desa di mana Soojinee berada saat sore hari ..

Go Woon langsung mengajak Raja dan yang lainnya menuju ke tempat ia bertemu dengan Soojinee, di kedai minuman … Tapi tempat itu kosong dan sudah ditinggalkan .. Damdeok memandang ke sekeliling tempat itu … inikah tempat yang selama ini ditinggali oleh si dia selama beberapa tahun ini?

Go Woon: Aku rasa ia sudah pergi … tak ada tanda-tanda ia masih disini.

Cheoro: Kelihatannya ia belum pergi terlalu lama. Jika kita bergegas, maka kita mungkin bisa menemukannya.

Damdeok menyadari kebenaran kata-kata Cheoro, ia sudah menunggu terlalu lama dan si dia sudah berada dekat dengannya. Kalau dirinya melewatkan kesempatan ini, entah kapan ia akan bertemu lagi. Hati Damdeok sudah tak bisa menunggu lagi … ia tak mau menunggu bahkan sehari lagi untuk bertemu dengan si dia … Damdeok memutuskan untuk pergi sendiri.

Damdeok memacu kudanya ke jurusan yang diambil oleh Soojinee …

Beberapa saat kemudian di dekat dermaga kecil …

Damdeok menjalankan kudanya perlahan-lahan …

Soojinee sedang berjongkok di dekat roda keretanya, tampaknya roda keretanya bergeser tidak pada tempatnya sehingga keretanya tak bisa dijalankan.

Damdoek memandang sosoknya dari belakang sejenak lalu turun dari kudanya dan menghampiri Soojinee, yang masih belum menyadari kedatangannya. Damdeok berhenti sebentar di dekatnya dan memandang pada anak kecil yang ada di dermaga, sedang bermain dan melemparkan batu ke sungai ..

Sinopsis Drama Kerajaan [Sageuk] Korea | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Soojinee menyadari ada seseorang di dekatnya … perlahan-lahan bangkit berdiri dan membalikkan badannya. Ia tak menjadi terkejut saat melihat Damdeok ada di belakangnya sedang memandang dengan mata penuh dengan kerinduan … Soojinee  tahu kali ini ia tak akan lolos dari tangan sang Raja, dan balas menatapnya dengan mata berkaca-kaca …

Sinopsis Drama Kerajaan [Sageuk] Korea | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

47 comments on “The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 23

  1. Selesaikan aja masss…………..lanjutin..
    tebak2 buah semangka..
    nanti malem mati lampu gak ya……

    kalo sampe nanti malem mati lampu lagi…
    Riri jual tuch tv..
    ato sekalian protes ama tu PLn..

  2. ya.kalo pun lampu nya gak mati.bakal rebutan remote tv dech..ada yg nonton si madun nich..bakal gonta-ganti channel nich.hmmm nasib…
    Sedih dech T_T huhuhu

  3. sama dah.aku juga nyari yang episode 23 tapi ga nemu2.padahal aku pingin tau kaya apa soojinie waktu rambutnya panjang….
    semangat ya kak……

  4. Sojinee waktu rambutx panjang da pake baju cewe ʼnƍƍɑªĸ yah ??peNasaraN

    MaS anDi kasi iNpox ϑŭπЌ
    And bentar malem da ‎​ª∂a̲̅ lanjutan postinganx bLom ?

  5. suer deh oppa,sekarang idola ku ada dua,yakni :
    1. sujini dan damdoek
    2. yang rajin nulis sinopsisnya ini…

    • aku tahu, wong itu sumberku, tapi episode 23 yang part 2 ga ada [Ingat: MEGAUPLOAD DAH DI BAN OLEH FBI} .. cuman ada yang part 1 … kalo salah satu dari part 1 atau part 2 ga ada maka ga akan bisa dilihat, harus ada dua duanya … makanya aku cari di tempat lain … >.< dan ga dapat yang bisa di donlod, terpaksa deh nonton yang online T.T

  6. waaah kali ini lari estapet 6km nih..pegel gk tuh?? Gk papa mas andy tetep semangat yaa..yg bc jg ikut semangat nih

  7. lihat filmnya di youtube… sujini cantik banget… tapi rajanya jadi pake kumis, kerennya jadi ilang…. cuma karena ga ngerti bahasanya jadi sinopsisnya ditunggu…

  8. Selain penasaran dg klanjtn the legend, ak pnasaran gmana kak andy buat sinop kok bisa sama dg dramanya. Tajam bgt brart daya ingatnya.. Smangat kak andy, kami smua mendukung mu untk menyelesaikan sinop drama ini..

    • aku pause setiap kali ada tulisannya keluar, dan aku nulisnya di MS Word, ga langsung di blogku ini ^^ kadang pada bagian tertentu aku putar beberapa kali untuk dapat “feeling” nya, jadi ga asal buat gitu ^^ makanya butuh waktu lama untuk buatnya … 1 jam film membutuhkan waktu sekitar 8-9 jam tanpa gambar, kalo dengan gambar bisa dua hari ^^ soalnya kompiku lemot buat upload apalagi kadang gagal uploadnya T.T itu yang paling membuatku kesal >.<

  9. Bagian 4dst blom ‎​ª∂a̲̅ juga ┐(´_`)┌
    Yg semangat yah mas andi

    Moga aja hari iπi eps 23 ϑάπ 24 da ϑî posting mas andi
    ( ~ _ ~ )
    . (“)(“)
    ☆˚◦°•˚◦♥ O:) äмiπ O:) ♥◦˚•°◦˚☆

  10. Kasihan banget ama sujini berpisah dg damdeok lama bangettt sktr 7taon ya. . ?so anakx pasti uda bsr. penasaran gmn dg kiha???n gmn ya pertemuan kiha dgn sujini nanti???

    Tetap semangad ya ko andy. . . .ciao. . .^-^

  11. chayo mas andy…
    Moga hari ini selesai epd 23..
    Kami selalu menunggumu dan mendoakan semoga sehat sellu agar bsa nulis sinopsisx cepat..
    Amin….

  12. Mas semangat tinggal 1 episode lg. Oya mau ralat di sinopsis 23 ada poin yg di ulang pas di damdoek bertanya tentang sojiinee setelah dia menolong pangeran mahkota houyan

  13. tinggal 1 episode lagi kan kak??
    semangat ya kak nulis sinopsis episode terakhirnya…
    bakalan slalu nungguin kak andy dengan setia…

    • telat ^^ udah selesai tuh ^^, tapi tak coba buka deh untuk capture videonya nanti ^^ dan many thanks karin, aku akan ngeposting link ini di doramax biar orang2 ga ribut carinya ^^ btw .. darimana kamu dapetnya?? bela-belain cari seharian ya ??

      • aq dapet di dorama juga kok di reuploaded link, cuman kayaknya lom dimasukan ke list. fiuh akhinnya selesai juga sinop-nya, salut deh…

  14. hallo.. aku udah baca sinopsis the legend sampe abiisss n makasih bget yg udah ngpostnya cz udah nyari2 eh trnyata ada di sini 🙂 . oya cara donlod behind the scane nya dr mn y hyung ?? jebal bales dong, ni pertama kali aku bsa komen

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s