Iljimae – Daftar Episode

Iljimae [The Phantom Thief] - Sinopsis Drama Kerajaan [Saeguk] Korea - https://sinopsisdramakorea.wordpress.com
  • Judul : Iljimae
  • Judul Lain : Iljimae, The Phantom Thief
  • Jumlah Episode: 20
  • Wiki D- Addicts: http://wiki.d-addicts.com/Iljimae
  • Ringkasan:

Berlatar belakang di Dinasti Joseon, Yong berlaku sebagai seorang preman di pasar sehari-harinya, tetapi sebenarnya dia adalah seorang pencuri yang merampok para pejabat pemerintah yang korupsi dan memberikan hasil rampokannya kepada rakyat miskin, seperti Robin Hood di Inggris. Setelah merampok dia selalu meninggalkan lukisan sebuah ranting pohon plum sebagai simbolnya dan karena itulah dia disebut sebagai Iljimae.

Tujuan utamanya sebenarnya bukanlah untuk meranpok tapi mencari pemilik dari pedang yang didesain secara khusus, yang pernah ia lihat ketika masih kecil. Pedang itu digunakan untuk membunuh ayahnya, seorang bawahan yang setia dari Raja.

Eun Chae adalah puteri dari pejabat pemerintah yang walaupun seorang nona bangsawan namun berempati terhadap rakyat miskin. Dia bertemu dengan Iljimae karena kebetulan dan memujanya atas apa yang dilakukan oleh Iljimae walaupun dirinya tidak pernah melihat wajah dari Iljimae.

Baca lebih lanjut

Iklan

Iljimae – Episode 20 (Finale)

“Kau…” Raja menunduk untuk melihat wajah Ryung lebih jelas. “Benar. Aku masih ingat matamu. Kau adalah orang yang dulu datang kemari untuk menyatakan ketidakbersalahan temanmu. Tapi kenapa kau ada di sini?”
“Ya… Yang Mulia…” jawab Ryung. “Aku mendaftar menjadi pengawal istana dan mengabdi pada warga Chosun.”
“Benarkah?” Raja kembali berdiri. “Tapi kenapa pengawal istana melakukan pekerjaan ini?”
“Karena tidak ada cukup orang untuk menyiapkan perjamuan, jadi…”
“Begitu?” Raja mengangguk. “Siapa namamu?”
Ryung berpikir. Ia mendongak dan melihat sulaman naga di baju Raja. Ia mendapat ide. “Namaku Oh Ryung, Yang Mulia.”
Raja tersenyum. “Matamu masih kelihatan cemerlang, seperti sebelumnya.” Raja dan para pengawalnya berjalan pergi.
Hee Bong berlari mendekati Ryung. “Kenapa kau bilang namamu Oh Ryung. Namamu kan Na Ryung. Kau mengubah nama keluargamu?”
“Bagaimana bisa aku menyebutkan nama asliku?” ujar Ryung. “Aku melihat sulaman naga di baju Yang Mulia. Naga itu punya 5 jari, jadi disebut Oh Ryung (Lima Naga).”
“Kak, cepat lakukan tugasmu.” kata Eun Bok. “Aku akan membawa gerobak ini.”
“Aku bergantung pada kalian.” kata Ryung seraya berjalan pergi.

Shi Hoo melihat Dae Shi dengan pandangan curiga. “Aku yakin sekali.” gumamnya. “Ia pasti akan datang kemari.”
Tiba-tiba salah satu pengawal berlari-lari memanggil Shi Hoo. “Ayo kita pergi ke Ruang Penyimpanan Makanan. Disana kecurian!”
“Apa?!” seru Shi Hoo. Ia meminta kepala pengawal untuk menjaga tempat itu selagi ia pergi karena Iljimae pasti datang ke situ.
Shi Hoo pergi. Di Ruang Penyimpanan Makanan, Shi Wan sedang menurunkan kantong besar yang disangkutkan dengan jala ke sudut atap ruangan. Kantong tersebut berisi pengawal yang dikalahkan oleh Iljimae.
Ryung, yang menyamar sebagai pengawal, berlari-lari memanggil kepala pengawal yang menjaga Dae Shi dan para sukarelawan lain. “Iljimae…” katanya terengah-engah. “Para pengawal sedang bertarung melawan Iljimae di Ruang Penyimpanan Makanan. Kalian semua diperintahkan ke sana!”
“Apa kau yakin?” tanya kepala pengawal. “Kalian semua! Ayo!”
Kepala pengawal datang ke Ruang Penyimpanan Makanan.
“Apa yang kaulakukan disini?” tanya Shi Hoo.
“Seseorang bilang kalau para pengawal sedang bertarung melawan Iljimae dan menyuruh kami datang kemari.”
“Siapa yang mengatakannya?” tanya Shi Hoo.
Kepala pengawal berpikir, baru menyadari kalau ternyata ia memang tidak pengenal orang itu.
Shi Hoo, Shi Wan, dan pengawal yang lain berlari ke tempat Dae Shi. Dae Shi dan para sukarelawan yang lain sudah lenyap.

Ryung datang ke bangunan dengan lambang Jeonwoohoe milik Kim Ik Hee. Ia membuka-buka laci, mencari pedang, namun tidak menemukan apapun.

Dae Shi dan para sukarelawan lain berusaha menggali tanah dengan cepat.
“Jika kita menggali di sini, apa kita bisa keluar?” tanya salah satu orang.
Dae Shi menunjukkan bagian dalam topengnya. “Lihat ini! Jika kita menggali disini, kita bisa keluar! Iljimae yang bilang!”
Di lain sisi, Shi Hoo bertanya pada seorang pustakawan dan melihat peta. “Apakah ada terowongan yang menuju ke luar istana?”
Flashback. Ryung menunjuk ke peta. “Di sini, dulunya adalah danau teratai.”
“Terowongan? Tentu saja tidak ada.” jawab pustakawan.
“Apa kau punya peta yang lama? Yang dibuat sebelum peta yang ini?” tanya Shi Hoo.
Pustakawan mengambil peta lama. Shi Hoo melihatnya dengan teliti.
“Apa ini?” tanya Shi Hoo. “Kenapa disini ada sementara di peta yang baru tidak ada?”
“Ini adalah danau teratai. Danau ini sudah diuruk.”
Flashback. Ryung menjelaskan rencananya pada teman-temannya. “Dibawah ini ada terowongan saluran air yang menuju ke luar istana di Gerbang Wol Gun.” Ryung menoleh ke arah ketua geng, teman Hee Bong. “Kakak, tugasmu adalah…”

Shi Hoo berlari mencari Shi Wan dan menyuruhnya ke Gerbang Wol Gun.
Di sana, Shi Wan melihat ketua geng dan anak buahnya berjongkok dekat sebuah lubang, mencari sesuatu.
“Hey!” seru Shi Wan, melihat lubang saluran. “Siapa kalian? Kalian merencanakan sesuatu!” Ia tertawa. “Pengawal, jaga mereka! Aku akan masuk ke dalam!”
Shi Wan masuk ke dalam terowongan itu bersama beberapa pengawal.
Di sisi lain, Dae Shi dan sukarelawan lain juga sudah berada di dalam terowongan . Mereka menemui dua cabang. “Kemana? Yang mana? Yang mana arah kita?” tanya Dae Shi. Dia melihat cahaya di kanan terowongan. “Ah! Ke sana! Cepat!”

Shi Hoo masuk ke terowongan yang sama melalui jalan yang dilewati sukarelawan. Di dalam terowongan itu, ia melihat topeng Dae Shi terjatuh di tanah. Dibalik topeng itu terdapat tulisan, “Galilah tanah di dekat tiang batu di sebelah paviliun Gwang Bong.”

Tiga orang pengawal menjaga ketua geng dan anak buahnya. Mereka penasaran dan mengintip ke lubang saluran. Pemburu Jang dan Ayah Heung Kyun mendorong mereka dari belakang hingga mereka terjatuh dan masuk ke dalam lubang saluran. Shim Deok dan ayah Seung Seung juga ada di sana.
Setelah itu, mereka menutup lubang dengan batu dan menguburnya dengan tanah hingga lubang tersebut tertutup.
Selain lubang yang itu, ternyata masih ada lubang lain yang tersembunyi. Pemburu Jang membuka lubang itu. Dae Shi dan yang lainnya keluar dari sana. “Dae Shi!” seru Deok senang.
Flashback. “Untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi, kita akan menggali lubang yang lain.” Ryung menjelaskan rencananya. Di sebelah Gerbang Wol Gun, ada saluran pembuangan dari istana.”

Shi Wan dan dan pengawalnya berjalan masuk menyusuri terowongan.
“Bau apa ini?” tanya Shi Wan, menutup hidungnya. “Bau busuk apa ini?”
“Sepertinya ini bau kotoran manusia (a.k.a e’ek).” jawab pengawal.
“Apa?!” seru Shi Wan, ingin muntah.
“Di sana ada jalan keluar!”
Di pihak lain, Shi Hoo mengejar lewat jalur yang sama dengan sukarelawan dan keluar lewat lubang yang benar. Namun dia sudah terlambat.

Giliran bangunan dengan lambang Jeonwoohoe milik Suh Young Soo, yang juga merupakan tempat penyimpanan harta.
Ryung melihat pedang satu per satu, dan tentu saja tidak menemukan pedang yang dimaksud.
Hee Bong, Eun Bok dan Heung Kyun memasukkan barang-barang berharga ke dalam kantong besar.
Ryung menyalakan api di sumbu bahan peledak.
“Apakah itu akan meledak?” tanya Eun Bok ketakukan.
“Tenang saja.” jawab Ryung, tersenyum. “Ini akan meledak dalam waktu setengah jam.”

Selesai sudah tugas mereka.
Mereka menunggu di dekat kolam. Di permukaan kolam tersebut sudah ada beberapa yang berbentuk seperti bunga teratai.
Kini waktunya Hee Bong dan yang lainnya keluar dari istana semantara Ryung melakukan tugasnya sendiri.
“Kalian semua sudah bekerja keras.” kata Ryung. “Kita akan bertemu lagi nanti, di luar istana.”
“Kau harus berhasil keluar dari istana dengan selamat.” kata Hee Bong seraya menyerahkan sebuah kunci.
Heung Kyun juga menyerahkan kunci. “Kuharap kau bisa menemukan jawaban atas apa yang kau cari selama ini.”

Di luar gerbang istana, para warga berkurumun. Mereka sepertinya merencanakan sesuatu. Dan Ee juga ada di sana.
Ayah Heung Kyun memanggil Dan Ee. “Semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Dae Shi sudah berhasil lolos.”
“Benarkah?” tanya Dan Ee, lega.
“Para warga datang kemari untuk mendukung Iljimae. Kami yang mengumpulan mereka. Jangan khawatir, bibi.”
Dan Ee cemas. Ia menoleh ke arah tembok istana. Tidak sengaja, ia melihat Nyonya Han berdiri tidak jauh darinya.

Shi Wan mengomel sendirian, mencium badannya yang bau. Ia kemudian melihat Hee Bong dan Eun Bok datang.
“Hey, kemari!” panggil Shi Wan pada mereka. “Cepat kemari! Apa itu? Cepat buka.”
Eun Bok membuka karung menutup gerobak yang didorongnya. Tidak ada apa-apa di situ.
“Pergi!” Shi Wan memerintahkan mereka.

Utusan Ming, Kim Min Young menemui Raja dan bertanya kenapa pasukan sukarelawan tiba-tiba menghilang.
“Aku sudah mengirim orang untuk mencari mereka.” kata Raja, frustasi. “Jangan khawatir.”
“Kalau begitu, tolong stempel kertas ini. Yang Mulia telah berjanji untuk menyerahkan Chosun pada Ming untuk membangun kembali kekaisaran Ming. Para Jenderal Ming sangat berterima kasih, Yang Mulia.”
Setelah memberikan stempel, Raja memerintahkan Min Young pergi.

Di Jeju, Byun Shik memancing.
“Ck ck ck…” Byun Shik melihat Eun Chae, yang sedang bermain dengan anak-anak. “Sepertinya dia memang ditakdirkan untuk menjadi pemimpin para pencuri.” Byun Shik menggeleng-gelengkan kepalanya dan ngedumel. “Bajingan Jung Myung Seo itu menerima batu berhargaku, tapi kenapa sampai sekarang belum ada kabar apapun darinya?”
Pelayan Byun Shik datang berlari-lari. “Tuan! Di istana sedang ada masalah besar!” katanya.
Byun Shik tertawa. “Ha ha ha… Putra Lee Won Ho sudah berhasil masuk ke istana.” ujarnya senang. “Dia pasti sedang berseenang-senang dengan Yang Mulia. Ha ha ha.. Sudah jelas sekarang, mereka memang memiliki hubungan darah. Ck ck ck. Jangan sebut-sebut nama kelelawar itu di depan Eun Chae, mengerti? Hah! Memecatku dari istana? Yang Mulia pantas mati!”

Acara perjamuan dimulai. Raja dan para bangsawan duduk di bawah tenda.
Tiba-tiba terdangat suara ledakan. Orang-orang istana panik. Beberapa saat kemudian, selembar kain putih besar terbuka di tempat perjamuan. Kain tersebut berlukiskan bunga Mae Hwa. Setelah itu, kayu penyangga tenda patah. Kain tenda tersebut jatuh dan menimpa Raja beserta pada pejabatnya.

Hee Bong dan Eun Bok menunggu di jembatan. Mereka melihat ke bawah. Benda-benda berbentuk bunga teratai hampir sampai di dekat jaring yang dipasang oleh Eun Bok sebelumnya.

Flashback.
Ryung sudah menyiapkan beberapa benda berbentuk bunga teratai yang dibuat dari kertas Han. Ryung menyuruh Eun Bok dan Hee Bong untuk meniup sesuatu seperti balon, kemudian memasukkan balon tersebut ke dalam kertas bunga teratai.
“Bukankah ini kertas Han?” tanya Eun Bok. “Ini akan basah jika terkena air.” “Setelah dilapisi minyak wijen dan dikeringkan, kertas ini tidak ada basah lagi.” kata Ryung.
Mereka menggunakan kertas bunga teratai dengan balon ditengahnya untuk menyembunyikan barang hasil curian dan menghayutkannya di kolam. Setelah itu, mereka menahan hanyutan barang curian tersebut dengan jaring. Kantong yang dipergunakan untuk membungkus barang-barang curian adalah kantong kedap air. Sepertinya sih dilapisi minyak wijen juga. Aku kurang yakin.
Setelah selesai mengangkat barang-barang hasil curian, Shi Wan mengepung mereka.
“Kau pikir aku bodoh?” tanya Shi Wan pada Hee Bong. “Kau pikir dengan menyamar seperti ini aku tidak akan mengenali kalian?”
Hee Bong menoleh ke belakang. Di sana, sudah ada anak buahnya yang menyamar menjadi pengawal.
Hee Bong dan Eun Bok mendorong Shi Wan dan melarikan diri ke arah para pengawal di seberang.
Shi Wan hanya tertawa, mengira para pengawal itu adalah pihak istana. “Hey! Tangkap dia!” teriaknya.
Namun para pengawal itu malah ikut kabur bersama Hee Bong, melarikan diri keluar istana.
Shi Wan kaget. Ia mengejar mereka. Begitu sampai di gerbang, para warga yang berkerumun di sana melempari Shi Wan dan pengawal lain dengan benda berapi.
Mereka semua sukses!

Hari sudah malam.
Raja, dengan frustasi berpikir. Ia menyebut nama bangunan yang didatangi Iljimae satu per satu. “Apa sebenarnya yang dia cari?”

Kini saatnya bangunan dengan lambang Jeonwoohoe milik Lee Won Ho. Bangunan tersebut dinamakan Byulgo.
Ryung menyelinap masuk, dan berusaha membuka gembok.
“Jika kau ingin masuk, kau membutuhkan 3 kunci.” Ryung teringat Heung Kyun berkata. “Memangnya barang berharga apa yang disimpan disana?” tanya Ryung. “Kudengar, di sana ada ruangan rahasia. Yang Mulia membangunnya saat perang karena takut. Tapi ini belum pasti. Mungkin hanya gosip.”
Ryung mengkombinasikan ketiga kunci yang dimilikinya untuk membuka gembok. Sulit sekali. “Bagaimana membuka gembok ini?

Flashback. Hee Bong, Heung Kyun dan Eun Bok, masing-masing mencuri satu kunci dari tiga orang prajurit tinggi istana.

Raja memerintahkan Chun untuk memeriksa Byulgo, satu-satunya tempat yang belum didatangi Iljimae.

Ryung panik. Dengan tidak sabar, ia buka gembok tersebut dengan kasar menggunakan ketiga kunci yang dimilikinya. Ryung gagal membukanya. Ia hampir menyerah dan ingin menghancurkan pintu itu, tapi mendadak ia teringat sesuatu. Diambilnya besi pembuka gembok milik Swe Dol.
Ryung gemetaran, mencoba membuka gembok.
Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh keningnya. “Lihat, kau berkeringat.” kata orang itu.
Ryung menoleh dan melihat ayahnya ada disampingnya.
Swe Dol tersenyum menenangkan. “Apa kau ingin hal yang pernah kukatakan padamu?” Swe Dol memegang tangan Ryung. “Jangan gemetaran. Buka saja pelan-pelan. Tenanglah. Ada aku di sini.”
Ryung mengangguk. Swe Dol mengajarinya cara membuka gembok, sama seperti hal yang pernah diajarinya dulu.
“Lihat, kau bisa membukanya.” kata Swe Dol. “Kau memang penerus keluarga. Tidak ada gembok yang tidak bisa dibuka.”
Tiba-tiba Ryung mendengar seseorang datang.
Chun masuk. Ia melihat gembok pintu masih terkunci, kemudian pergi.
Ryung sudah ada di dalam.
“Ryung memang hebat!” kata Swe Dol, menunjukkan ibu jarinya.

Chun membunuh Kim Min Young dan mengambil surat Kwon Do Hyun, kemudian menyimpan surat tersebut di dalam laci.
Shi Hoo mengintip mereka.
Setelah Chun keluar, ia masuk dan membuka laci. Dilihatnya surat Kwon Do Hyun. Surat tersebut berisi, “Aku harus mengatakan sesuatu padamu, jadi aku menulis surat ini sebelum aku mati. Orang yang membunuh ayahmu adalah…”
Shi Hoo teringat masa kecilnya, saat pertemuannya dengan Lee Geom dan Lee Won Ho.
Di samping surat Kwon Do Hyun, terdapat sebuah surat lain. Surat darah yang digunakan untuk menfitnah Lee Won Ho.
Shi Hoo kembali teringat masa lalunya, saat ia menguburkan surat yang sama di bawah rumah Lee Won Ho.
“Rumah itu…” Shi Hoo bergumam shock. “Dengan tanganku sendiri, aku…” Shi Hoo hampir menangis.

Ryung masuk ke sebuah ruangan yang penuh jebakan. Jika ada orang yang memasuki ruangan tersebut, maka lonceng akan berbunyi.
Ryung menembakkan tali ke seberang ruangan dan melewati tali tersebut. Di seberang, ia melihat lukisan Raja. Di lantai terukir lambang Jeonwoohoe utuh.
Ryung lemas dan terjatuh di lantai. Di lukisan itu, Raja sedang memegang sebuah pedang. Di ujungnya terukir lambang Jeonwoohoe utuh.
“Yang… Yang Mulia!” Ryung berkata shock. Ia menangis. “Pembunuh ayahku adalah… Orang yang membunuh ayahku adalah… Yang Mulia…”
Ryung mengepalkan tangannya dengan marah.

Raja berpikir. Ia bertanya-tanya siapa Iljimae ini.
“Benar.” gumamnya, teringat Ryung. “Aku bertemu dengannya di depan Ruang Penyimpanan Makanan. Benar… Matanya… Matanya sama dengan mata Won Ho. Anak itu adalah Geom.”
“Orang itu akan mendapat dukungan masyarakat.” Raja teringat si peramal buta berkata. “Ia seperti matahari yang bersinar.”
Raja juga teringat kata-katanya sebelum ia membunuh Lee Won Ho. “Bagaimana bisa ada dua matahari di langit yang sama?”
Ia berteriak pada Chun. “Tangkap Lee Geom dan bawa dia kesini!”

Ryung keluar dari ruangan tadi dan berlari di atas genting istana terlarang.
Di lain pihak, Shi Hoo juga keluar. Ia melihat Raja berlari menuju sebuah bangunan, hendak bersembunyi.
Ryung menuju ke bangunan milik Raja. Ia bertarung melawan banyak prajurit yang datang menyerangnya.
Setelah berhasil mengalahkan prajurit istana, Ryung masuk ke ruangan Raja, namun sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sana.
Makin banyak prajurit yang datang dan menyerangnya. Ryung melawan mereka semua sekuat tenaga.
Shi Hoo melihat dari jauh. Ia merobek pakaiannya dan melukai jarinya, menuliskan sesuatu pada sobekan kain tersebut dengan darahnya.
Mulanya, Shi Hoo berpura-pura bertarung dengan Ryung. “Aku juga putra Lee Won Ho.” katanya. Ia menyerahkan sobekan kain pada Ryung, kemudian melawan para prajurit istana sendirian.
Ryung pergi. Ia membaca tulisan Shi Hoo, “Di dalam Byulgo”
Ryung masuk ke bangunan. Ia menyebrangi ruangan dengan tali, seperti sebelumnya. Mendadak besi pembuka gembok Swe Dol terjatuh. Lonceng berbunyi.
Pintu rahasia di depan lukisan raja terbuka. Beberapa prajurit keluar dari sana.
Ryung masuk melewati pintu rahasia itu dan lari.

Chun dan Moo Yi bertemu dengan Kong He.
Kong He berlutut. “Tolong ampuni nyawa anak itu.” katanya.
“Beraninya kau menipu dan mengkhianati Tuhan kita!” seru Chun marah.
“Tuhan?” tanya Kong He. “Sa Chun, berpikirlah baik-baik. Apakah pria itu Tuhan bagimu? Kau bersedia mempertaruhkan nyawamu karena dia adalah orang yang menurutmu benar? Apa yang sudah dia lakukan? Menurunkan Gwang Hae dari tahta. Seorang pembunuh yang kejam. Dia tidak pantas menjadi Raja. Bukankah begitu?” Kong He mendongak, menatap Chun. “Agar bisa mempertahankan tahta, dia tega membunuh adiknya sendiri, membunuh teman-temannya. Ia bahkan tega membunuh putranya sendiri.”
“Aku akan melakukan apapun untuk Yang Mulia. Sejak aku menjadi seperti ini, aku hanyalah seorang pembunuh.”
“Chun!”
“Aku akan melindungi Yang Mulia dengan seluruh kekuatanku!” tekad Chun. Ia memerintahkan Moo Yi untuk membunuh Kong He.
Kong He menunduk sedih. Ia bertarung dengan Moo Yi dan dengan mudah mengalahkannya.
Kong He mengampuni Moo Yi dan berlari pergi.

Bong Soon berjalan terpincang-pincang ke markas persembunyian Ryung.
Flashback. Ryung menangis di depan pakaian hitam Iljimae yang digantung. “Bong Soon.. Bong Soon masih hidup…” katanya, tersenyum.
“Ryung..” gumam Bong Soon seorang diri. “Kau akan kembali dengan selamat kan? Kau akan membawaku pergi dari sini, kan? Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan tetap di sini menunggumu. Capatlah kembali.”

Raja bersembunyi di ruangan rahasianya. Ia memanggil-manggil Chun, ketakutan. “Chun! Chun!”
Ryung masuk.
“Beraninya kau masuk kemari!” seru Raja. “Kau hanya seorang pencuri. Apa kau berpikir bahwa kau benar-benar seorang raja hanya karena masyarakat yang bodoh itu menyebut kau sebagai raja mereka?”
Raja mengambil pedangnya dan mengarahkannya pada Ryung.
Ryung melihat pedang itu. Ada sebuah lambang terukir di sana. “Kenapa kau membunuh ayahku?” tanya Ryung.
“Seharusnya aku membunuhmu juga.” kata Raja. “Matahari itu bukan Lee Won Ho, melainkan kau. Karena kau, adikku yang tidak bersalah… adikkku Won Ho mati.”
“Adik? Adik apa? Jadi… jadi…” Ryung mencoba mengendalikan emosinya. “Kenapa kau membunuh ayahku?!”
“Demi melindungi tahta ini, aku akan melakukan apapun.”
“Karena itu, kau bahkan membunuh putramu sendiri?!” tanya Ryung. “Karena itu, kau membunuh banyak orang?!”
“Adikku.. atau putraku.. Siapapun yang mengancam tahtaku, aku akan membunuh mereka semua, termasuk kau!”
Raja mengayunkan pedangnya untuk menebas Ryung. Ryung mengelak dan mengarahkan pedang ke leher Raja.
“Kau tidak pantas menjadi raja.” ujar Ryung tajam. “Masyarakat tidak butuh raja seperti kau! Kau harus mati! Mati!!!”
Ryung menarik Raja. “Aku berjanji pada ayahku bahwa aku akan membuatmu berlutut dihadapannya. Ikut denganku!”
Ryung membawa Raja keluar. Para prajurit tidak berani melakukan apa-apa karena Iljimae menjadikan Raja tawanan.

Di luar gerbang istana.
“Saat ini Iljimae sedang menawan Yang Mulia.” kata seseorang. “Ia dikepung oleh semua prajurit istana! Kematiannya hanya tinggal menunggu waktu!”
Dan Ee cemas bukan main dan berteriak histeris. “Ryung! Ryung!”
Nyonya Han melihat Dan Ee, menyadari bahwa yang dimaksud wanita itu dalah putranya. Nyonya Han terjatuh lemas.
Dan Ee melihatnya terjatuh, dan menolongnya. “Nyonya! Nyonya!”
Nyonya Han berbisik, “Geom.. Geom..” Lalu pingsan.

Shi Hoo datang, berdiri di sisi Ryung. Beberapa saat kemudian, Kong He datang dan berdiri di sisi yang lain.
“Kita selesaikan semua ini.” kata Kong He. Ryung mengangguk.
Shi Hoo dan Kong He maju bertarung melawan para prajurit istana.
“Serahkan semua ini pada kami!” seru Kong He. “Kau pergilah!”
Ryung membawa raja pergi. Chun mengikuti mereka.

Ryung membawa Raja ke rumah Lee Won Ho. Ia mendorong Raja agar berlutut di depan pohon Mae Hwa.
“Akui kesalahanmu!” perintah Ryung, mengarahkan pedang milik Raja ke leher Raja.
“Adikku…” Raja berlutut dan menangis. “Aku bersalah. Tolong maafkan aku.”
“Ketidakadilan yang dialami ayahku dan semua anggota keluargaku, luruskan semuanya!” ujar Ryung.
“Baik..”
“Dan satu lagi. Kau harus memohon maaf pada semua warga yang telah kau bunuh.”
“Baik…”
Ryung membuka topengnya. “Aku punya dua orang ayah. Yang satu mengajarkan aku kebajikan. Yang satunya lagi selalu menyayangi dan berkorban untukku.” Ryung meneteskan air matanya. “Lalu kau.. kau ayah yang seperti apa? Untuk putramu? Untuk wargamu? Kau sungguh tidak pantas… Tinggalkan tahta! Berjanjilah!”
“Baik…”
“Jika kau tidak menepati janjimu, aku akan menyusup ke istana lagi.”
“Kenapa kau tidak membunuhku?” tanya Raja.
“Pergi!” seru Ryung, menusukkan pedang yang dipegangnya ke tanah.
Raja bangkit dan berjalan pergi. “Won Ho…” gumamnya. “Won Ho…”

Ryung berlutut di depan pohon Mae Hwa dan menangis. “Ayah!” tangisnya. “Aku tidak cukup kejam, karena itulah aku mengampuni nyawanya. Apakah aku melakukan hal yang benar? Apakah aku benar?”
“Beraninya kau menghina Tuhanku!” Chun berteriak seraya menyerang Ryung dari belakang.
Ryung menghindar dan mengeluarkan pedanganya.
Mereka berdua bertarung. Pertarungan yang cukup sengit.
Chun berhasil membuat pedang Ryung terlempar.
Ryung melawan Chun dengan tangan kosong, berhasil mengalahkannya. Ia merebut pedang Chun, namun lagi-lagi Ryung tidak bisa membunuh.
Ia melempar pedang tersebut dan berbalik.
Chun mengambil pedangnya dan menebas Ryung dari belakang.
Ryung terjatuh di tanah.

Eun Chae memandang lautan, memikirkan sesuatu.
Bong Soon memutar proyektor tradisional pemberian Ryung.

Setelah menebas Ryung, Chun berjalan pergi.
Tiba-tiba Shi Hoo muncul dan dengan secepat kilat menebas leher Chun.. “Tidak peduli siapapun.” ujar Shi Hoo, mengulang kata-kata yang pernah diajarkan Chun. “Jika ia menghalangi jalanku, aku akan membunuhnya.
Chun tewas.
Shi Hoo memandang mayat gurunya. “Aku… juga adalah putra Lee Won Ho.”


Ryung berbaring tak bergerak di tanah, menangis sedih. “Ayah… Ayah…”
Kilatan kenangan itu muncul lagi.

4 tahun kemudian.
Seorang pedagang buku mengusir seorang anak kecil bergigi ompong.
“Nak, pergilah.” katanya. “Berama umurmu?”
“5 tahun.” jawab anak itu.
“Kenapa kau tinggi sekali?” tanya si pedagang.
“Karena aku mirip ibuku.” jawab anak ompong.
“Lalu gigimu itu?” tanya si pedagang lagi.
“Karena aku mirip ayahku.” jawab anak ompong.
Pedagang buku itu mengusir si anak. Anak ompong itu lari dan menabrak Bong Soon.
“Siapa namamu?” tanya Bong Soon.
“Namaku Kedong.” jawab si anak. Kedong berarti kotoran anjing. Nama itulah yang dulu ingin diberikan Swe Dol pada Ryung, namun tidak jadi.
“Kedong?”
“Ayahku bilang, naga akan keluar dari kotoran anjing. Jadi ia memberiku nama Kedong.” ujar Kedong kesal, memperlihatkan gigi ompongnya. “Kenapa dia memberiku nama Kedong? Dia merusak image-ku!”
Bong Soon tertawa. “Kenapa kau sangat mirip dengan Ryung?”
“Ryung? Ah, jika namaku Ryung, itu akan kedengaran lebih bagus.” keluh Kedong.
“Kedong!” panggil seorang wanita.
“Ibu!” seru Kedong senang, berlari menuju ke dua orang wanita. “Dan Ee cantik!”
Kedong memeluk Dan Ee dan Nyonya Han.
Dan Ee terkejut melihat Bong Soon.
Dengan terpincang-pincang, Bong Soon berjalan mendekati mereka. Ia menunduk, memberi hormat.
“Sudah lama tidak bertemu.” kata Dan Ee. “Bagaimana kabarmu?”
“Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan bibi?” Bong Soon menoleh menatap Nyonya Han.
“Kakakku Dae Shik!” seru Kedong. Ia menarik Dan Ee dan Nyonya Han pergi. “Ayo kita melihat pertunjukkannya.”

Eun Chae kembali ke Nam Mun. Ia mengunjungi penginapannya.
“Sudah 4 tahun.” Eun Chae berkata pada Ayah Seung Seung.
“Ya, sudah lama sekali.” kata Ayah Seung Seung. “Apakah Tuan Besar sehat?”
Eun Chae tersenyum dan mengangguk.
“Nona!” panggil Seung Seung berlari-lari menyambut. Hee Bong mengikutinya dari belakang sambil menggendong seorang bayi. “Nona, kenapa tidak pernah memberiku kabar?”
Eun Chae hanya tersenyum.
Seung Seung menoleh ke Hee Bong. “Kenapa kau biarkan bayi itu menangis terus?” omelnya.
“Dia mengompol.” jawab Hee Bong, berusaha menenangkan si bayi. “Yeon… sayang…” Hee Bong berpaling melihat Eun Chae. “Nona, kau sehat-sehat saja, kan?”
Eun Chae tersenyum dan mengangguk. Seung Seung menyuruh Hee Bong pergi untuk menggantikan popok Yeon.
“Ayo kita pergi, Yeon-ku yang imut.” ujar Hee Bong penuh kasih sayang, kemudian berjalan pergi.
“Putrimu sangat cantik.” kata Eun Chae. “Namanya juga cantik.”
“Kurasa itu adalah nama dari gadis cinta pertama Hee Bong, tapi dia bilang tidak ingin membicarakannya.” kata Seung Seung, merasa cemburu. “Siapa ya gadis itu?”
Eun Chae bertanya hati-hati, “Orang itu… apa yang dia kerjakan akhir-akhir ini?”
Seung Seung bingung. “Siapa?”
Eun Chae menunduk. “Apakah dia…”
“Si… siapa?” tanya Ayah Seung Seung, bertingkah sedikit aneh. “Maksud Nona, Ryung? Dia hidup dengan baik.”
Seung Seung dan ayahnya bertukar pandang penuh arti. Ayah Seung Seung mengisyaratkan agar putrinya itu mengalihkan pembicaraan.
“Kau kelihatan lelah, Nona, ayo masuk dan beristirahat.” Seung Seung berkata dan tertawa memaksa.
Eun Chae tersenyum. “Baiklah.” kata Eun Chae. Ia menoleh lagi pada Ayah Seung Seung. “Bagaimana dengan kak Shi Hoo?”
“Dia baik-baik saja.” jawab Ayah Seung Seung cepat.
Eun Chae tersenyum, namun kemudian wajahnya berubah muram, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Kalau menurut pendapatku, sebenarnya Eun Chae sudah tahu tentang Ryung. Kalau dia belum tahu, pasti dia akan tanya soal Iljimae lebih dulu, bukan Ryung.

Shi Hoo tinggal di sebuah pulau di tepi pantai. Ia melihat murid-muridnya berlatih bela diri.
“Kembalilah ke istana bersamaku.” ajak Moo Yi. “Tidak ada orang yang melihat kejadian saat itu.”
Shi Hoo tersenyum. “Tidak.” jawabnya. “Aku ingin membesarkan anak-anak itu. Aku sangat bahagia saat ini.” Wajah Shi Hoo menjadi cerah dan penuh kebahagiaan, sangat berbeda dengan Shi Hoo yang dulu, yang sangat pemurung dan jarang tersenyum.
“Kau tetap tidak mau menyerahkan surat darah itu?”
“Menyimpan kerahasiaan surat itu adalah satu-satunya cara untuk melindungi mereka…” kata Shi Hoo. “Orang-orang… yang ingin dilindungi oleh adikku.”
Shi Hoo tertawa. (Ganteng sekali. Hehehe…)

Eun Chae mengunjungi pohon Mae Hwa besar.
Ketika ia berbalik dan hendak pergi, terdengar kicauan burung.
“Burung-burung itu sangat malang.” Ia teringat Geom kecil berkata.
“Malang? Kenapa?” tanya Eun Chae kecil.
“Ketika bunga Mae Hwa mekar, mereka akan datang. Terbang di sekitar pohon Mae Hwa siang dan malam.”
Suara Ryung terngiang ditelinganya, “Aku yakin, walaupun dia sudah mati, dia akan tetap merasa bahagia.”
Eun Chae menangis.

Kedong, Dan Ee dan Nyonya Han melihat pertunjukkan akrobat Dae Shi dan ayahnya. Ayah Dae Shi sudah kembali dari Cing.
Seseorang bergosip. “Apa kalian sudah dengar? Rumah pejabat istana tadi malam kemasukan maling.” katanya. “Yang anehnya adalah pencuri itu mencuri dengan cara yang sama dengan yang telah dilakukan Iljimae 4 tahun lalu.”
“Berarti, Iljimae sudah hidup kembali?” tanya Ayah Dae Shi.
“Tentu saja tidak!” jawab Ayah Seung Seung. “Lukisan yang digambar bukan bunga Mae Hwa merah, melainkan bunga Shindarae merah.”
“Benar!” seru Deok. “Iljimae sudah mati.”
“Memangnya kau melihat dia mati?” tanya orang itu.
“Ada gosip yang mengatakan bahwa dia dijual ke negara Cing.” kata Ayah Seung Seung, melirik penuh arti pada Deok. Mereka mencoba melindungi rahasia Ryung.
“Dan ada gosip lain.” tambah Deok. “Gosip itu mengatakan kalau Iljimae terluka sangat parah dan menjadi orang cacat.”
Kedong maju dan menyimpulkan ceritanya sendiri, sama seperti yang pernah dilakukan Swe Dol. “Iljimae terluka parah dan bersembunyi ke gunung. Di sana, dia melihat bunga Shindarae. Setelah itu, dia jadi menggambar bunga Shindarae.”

Kong He menyepi di pinggir pantai. Heung Kyung mengantarkan sepatu pesanan Kong He.
“Bibi Shim Deok bilang, jika kau berani memanggil Myung Wol ke sini lagi, dia akan menjual kedai dan pindah kemari.” kata Heung Kyun.
Kong He tertawa. “Bagaimana kabar ayahmu yang bodoh itu?”
“Dia baik-baik saja. Sekarang dia sudah menemukan pekerjaan baru sebagai pendongeng.”

Ayah Heung Kyun bekerja sebagai pendongeng. Kedong datang, membuatnya kesal.
“Cerita hari ini, berjudul ‘Kembalinya Iljimae’.” katanya memulai. “Dimulai pada suatu malam gerimis di Gerbang Saengsun…”
“Salah!.” potong Kedong. “Seharusnya di Gerbang Hong Hwa. Dan malam itu tidak gerimis. Saat itu, ada sebuah panah melayang di Gerbang Hong Hwa…”

Iljimae mengirimkan lukisan bunga Mae Hwa ke istana. Raja menjadi panik dan ketakutan. Raja juga sepertinya bermasalah dengan kewarasannya.
“Chun, apa kau sudah menangkapnya?” tanya Raja pada Moo Yi. “Iljimae muncul lagi.”
“Yang Mulia, Iljimae dan kakak Chun sudah mati.” kata Moo Yi.
“Dimana Chun? Panggil Chun kemari! Dia datang lagi. Dia bilang, jika aku tidak menepati janjinya, dia akan mencuri lagi. Dia akan kembali.”

Adegan kembali ke awal episode. Iljimae memecahkan balok es untuk mengambil pakaiannya. Ia menyusup dan mencuri di istana. Setelah berhasil mencuri, ia meninggalkan lukisan bunga Mae Hwa.

~~~ THE END ~~~

My Personal Opinion
Mungkin banyak yg bingung sama ending Iljimae yang ngegantung ini. Tapi, kalian ga akan bingung jika kalian ingat episode pertama.
Di episode pertama, kan diceritain saat Iljimae mau mencuri di istana, trus Iljimae inget masa lalunya. Masa lalu Iljimae inilah yg diceritain di drama ini.
Nah, setelah Geom/Ryung jadi Iljimae, dia ditebas sama Chun. 4 tahun kemudian adegan kembali ke episode awal dimana Ryung mau mencuri ke istana.
Jadi intinya, drama Iljimae ini menceritakan masa lalu Iljimae.
Kesimpulannya: Iljimae masih hidup.
sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Iljimae – Episode 19

Chun memutuskan untuk tidak membunuh Shi Hoo. Ia menatap Shi Hoo sejenak , kemudian berjalan pergi meninggalkannya.
“Saat ini pasukan sedang mengejar Iljimae.” lapor Moo Yi pada Chun.

Ryung datang ke kedai untuk mencari Bong Soon. “Bong Soon!” panggilnya.
Deok mendekati Ryung dan mengeluarkan selembar kertas dari dalam bajunya. “Suamiku terburu-buru menyuruhku memberikan ini padamu. Apa ada sesuatu yang terjadi?”
Ryung membuka kertas itu. “Ryung…” ujar Kong He dalam surat tersebut. “Bong Soon selalu ingin mencari orang yang membunuh keluarganya untuk balas dendam. Dia hidup dengan tujuan itu. Namun dia, bukan saja ingin balas dendam… Demi kau, dia memutuskan untuk mengorbankan nyawanya.”
Ryung terkejut.
“Aku… Putriku…” Kong He melanjutkan dalam suratnya. “Putriku Bong Soon yang malang… Aku tidak bisa membiarkannya mati seperti itu. Ryung… tidak lama lagi aku akan mati. Tolong jaga putriku Bong Soon.”
Ryung bergegas berlari mencari Bong Soon dan Kong He. “Tidak… Tidak, Bong Soon… Kau tidak boleh melakukan itu!”

Kong He mengikuti pasukan yang mengejar Bong Soon. Sementara Bong Soon tersudut di sebuah jurang yang menuju laut. Ia mengeluarkan pedangnya. Ia melihat Moo Yi dan Chun datang, memutuskan untuk melawan pasukan Chun semampunya.
“Bunuh dia!” perintah Chun pada Moo Yi.
Moo Yi menyerang Bong Soon dan dengan mudah mengalahkannya. Ia mengangkat tombaknya tinggi-tinggi dan…
“Tunggu!” Kong He berseru. “Biar aku yang membunuhnya!”
Chun terkejut melihat Kong He.
“Karena Iljimae… putriku…” Kong He menatap Bong Soon. “Putriku mati. Chun, biarkan aku membunuhnya dengan tanganku sendiri.”
Chun ragu. Moo Yi berkata, “Ia memang punya seorang putri.”
“Baiklah.” ujar Chun akhirnya. “Sudah lama sekali aku tidak melihat sorotan seperti itu di matamu. Kau adalah kau yang dulu. Berikan pedang padanya!”
Anak buah Chun menyerahkan sebuah pedang pada Kong He.
Kong He berdiri menghadapi Bong Soon. Bong Soon melawan Kong He, namun tidak bisa berbuat banyak. Ia kalah telak. Bong Soon menangis, namun terus berusaha mengangkat pedangnya.
Kong He membuang pedang Bong Soon jauh-jauh, mencoba menahan tangisnya. Ia teringat ketika Bong Soon kecil ingin ikut bersamanya. “Bong Soon, jangan takut.” ujar Kong He dalam hati. “Aku akan selalu bersamamu.”
Kong He menusukkan pedang diantara badan dan lengan Bong Soon, kemudian jatuh ke dalam jurang bersamanya. Kong He dan Bong Soon tercebur ke laut.
Ryung datang saat itu. “Bong… Bong Soon…” Ryung menangis.
“Turun dan bawa mayat mereka.” perintah Chun pada anak buahnya.

Seorang utusan Ming bernama Kim Min Young mengatakan bahwa Ming ingin berperang dengan Cing untuk mengembalikan kejayaan mereka. Oleh karena itu, Ming butuh Chosun untuk memancing peperangan. “Mereka ingin meminta bantuanmu, Yang Mulia.” katanya.
Mulanya Raja menolak, namun Min Young berusaha membujuknya dengan mengancam secara halus.
“Bukankah Yang Mulia sudah menyiapkan pasukan dan makanan untuk membantu Cing?” tanya Min Young. Min Young meminta agar Raja membantu Ming. “Jika bukan karena Ming, Yang Mulia tidak akan bisa berada di sini saat ini. Ketika kau mengalahkan Gwang Hae, kekaisaran Ming-lah yang telah membantu Yang Mulia.”
Raja terlihat putus asa. “Rakyat sudah kehilangan kepercayaan mereka padaku.” katanya. “Jangan bicarakan perang lagi. Kau boleh pergi.”
“Yang Mulia, aku menemukan sebuah benda di sungai.” kata Min Young, mulai mengancam Raja dengan tajam.
Benda yang dimaksud adalah sebuah tabung berisi sesuatu. Ingat kan, saat Moo Yi mengejar-ngejar orang, lalu orang tersebut membuang sebuah tabung ke air terjun? Tabung itulah yang ditemukan oleh Kim Min Young. Ternyata tabung itu berisi surat yang ditulis oleh Kwon Do Hyun.
Min Young mengancam Raja. Bila Raja bersedia membantu Ming, maka ia akan memberikan surat Kwon Do Hyun.
Raja tidak punya pilihan lain kecuali menuruti kemauan Kim Min Young.

Ryung mengurung dirinya dalam kamar selama berhari-hari dan bersedih. Ia menutup semua jendela dan sumber cahaya hingga kamarnya gelap gulita.
Heung Kyun menjenguknya. Ia membuka jendela kamar Ryung.
“Sampai kapan kau akan seperti ini?” tanya Heung Kyun, cemas melihat Ryung. “Perjamuan di istana akan dilaksanakan lusa. Bukankah kau ingin menyusup ke istana?”
“Kakak Bong Soon…” Ryung berkata lemah. “mati karena aku. Sekarang, Bong Soon… Bong Soon…”
“Apa kau pikir Bong Soon dan paman Kong He akan senang melihatmu murung seperti ini?” bujuk Heung Kyun. “Bagaimana dengan Dae Shi? Apa kau mau membiarkannya pergi ke Cing seperti itu? Apa kau ingin melihatnya menjadi tameng? Bukan hanya itu, seluruh Chosun akan bersedih karena kematianmu. Ayahku tidak mau makan dan jatuh sakit.”
Ryung tidak bergeming.
Heung Kyun menghela nafas. “Berita peperangan sudah tersebar di istana. Kelihatannya Yang Mulia menyetujui permintaan Ming untuk memberikan Chosun sehingga mereka bisa menggunakannya untuk menyatakan perang pada Cing.”
Ryung tetap tidak bergeming.
Heung Kyun menyerah. Ia kecewa pada Ryung dan kemudian keluar.

Ryung pergi ke markas persembunyiannya. “Seharusnya aku tidak mengingat masa laluku… dengan begitu, Bong Soon dan paman… kakak dan ayah… tidak mati.” Ryung menatap lukisan keluarganya. “Ayah… aku akan menemukan orang itu… Aku pasti akan menangkapnya… Untuk membalaskan dendam…”
Ryung berjalan ke arah meja untuk melihat peta yang tergulung di atasnya. Ia membuka gulungan peta itu, dan menyadari sesuatu. Ia mendongak melihat pakaian Iljimae-nya yang tergantung di dinding, dan menjadi terkejut. (belum dikasih tahu kenapa Ryung terkejut).

Byun Shik mencoba membeli Jung Myung Seo. Ia memberikan sebuah batu berharga padanya.
Jung Myung Seo senang menerima hadiah tersebut, lalu berkata, “Kudengar kau dikirim ke Jeju untuk bekerja sebagai Penjaga Hewan Istana. Dimana lagi dia bisa menemukan orang setia seperti Tuan Byun Shik?”
“Aku sudah mengabdi untuk Yang Mulia sejak lama!” ujar Byun Shik kesal.
“Bersabarlah sebentar, aku akan mencoba bicara pada Yang Mulia.” kata Jung Myung Seo.
Byun Shik senang mendengarnya.

Ryung mendapatkan kembali semangatnya. Ia memanggil Heung Kyun ke markas persembunyiannya.
“Kenapa kau datang lama sekali?” tanya Ryung. “Perjamuan akan diadakan sebentar lagi di istana.”
Heung Kyun tertawa lega. “Ryung!”
Ryung membuka petanya dan menunjukkan pada Heung Kyun. “Enam anggota Jeonwoohoe masing-masing memiliki satu lambang, yang diukir ditubuh mereka.” kata Ryung menjelaskan, menunjuk ke lambang yang ada di peta. “Kim Ik Hee, Kwon Do Hyun, Lee Kyung Sub, Suh Young Soo, yang ini mungkin Shim Ki Yoon, dan yang ini… ini simbol yang diukir di tubuh ayahku.”
“Apa kau pernah melihatnya?”
“Ya, ketika aku kecil.” jawab Ryung, mengangguk. “Lambang di pedang orang yang membunuh ayahku adalah gabungan dari enam lambang tadi.”
“Berarti, masih ada satu orang lagi?”
“Aku berpikir bahwa orang itu adalah orang yang telah membunuh Lee Kyung Sub dan juga orang yang telah membunuh ayahku.” ujar Ryung.
Heung Kyun berpikir. “Bisakah kita menemukan pembunuh itu di bangunan utama?”
“Mungkin pedang orang yang membunuh ayahku ada di sana.” jawab Ryung, tidak terlalu yakin. “Aku yakin, paling tidak kita bisa menemukan petunjuk.”
“Bagaimana kau bisa menyusup ke bangunan utama?” Heung Kyun ragu. “Ada ratusan penjaga di istana. Itu hal yang mustahil.”
“Aku bisa melakukannya.” ujar Ryung yakin.
“Kalau begitu, cari seseorang yang bisa membantumu.”
Ryung menggeleng. “Tidak perlu, aku akan melakukannya sendiri. Aku tidak mau membahayakan hidup orang lain lagi demi aku.”
“Kau! Ini bukan tentang dirimu saja!” seru Heung Kyun. “Ini juga untuk membantu Dae Shi dan para warga yang dipaksa pergi ke Cing. Jika kau terlalu sombong dan menyusup ke dalam istana sendirian, lalu gagal, bukan hanya kau sendiri yang akan mati, tapi juga Dae Shi dan yang lainnya. Bagaimana jika kau ditangkap? Bagaimana dengan ibumu?”
Ryung berpikir.

Anak buah Hee Bong berlari-lari panik. “Ketua! Ryung berkelahi dengan geng Niu Dou.” serunya panik.
“Anak ini… Kenapa kau bicara omong kosong seperti itu?” tanya Hee Bong tidak percaya. “Bukankah Ryung mengurung diri di kamarnya selama berhari-hari karena Bong Soon? Tapi ngomong-ngomong, sejak kapan mereka punya hubungan khusus?”
“Aku sungguh-sungguh. Ryung sendiri yang bilang ketika ia mengambil senjata.”
Hee Bong terkejut. “Benarkah? Jadi, si Bong Soon itu jatuh cinta pada Niu Dou?” Hee Bong mengambil kesimpulan sendiri dan memerintahkan anak buahnya untuk pergi membantu Ryung.

Di markas persembunyian, Heung Kyun membantu Ryung memasang kostum Iljimaenya. Ia menceritakan pada Ryung bahwa tabib mengambil ramuan beracun, Ia curiga bahwa tabib tersebut diperintahkan oleh raja untuk membunuh Putra Mahkota.
Ryung tertawa. “Tidak mungkin. Mana ada orang yang ingin membunuh putranya sendiri? Pikiranmu terlalu negatif.”
Heung Kyun ikut tertawa. “Kau benar.” katanya.
Aku mau ngasih tahu nih,, Pas Ryung memakai pakaian Iljimae-nya, di dinding ternyata masih ada pakaian Iljimae yang lain.
Ryung dan Heung Kyun mendengar pintu dibuka dengan kasar di rumah pandai besi, kemudian terdengar suara Hee Bong, “Dimana geng Niu Dou itu?!” tanyanya. “Apa mereka benar-benar disini?”
Ryung tertawa, lalu berkata pada Heung Kyun. “Jika aku tertangkap, kau akan kehilangan nyawamu. Lalu bagaimana dengan paman Ha Dou?”
Heung Kyun tertawa. “Bagus sekali kau memikirkan itu.”
Ryung pergi ke atas untuk menemui Hee Bong dan anak buahnya. Hee Bong terkejut dan berteriak marah. “Kau! Dimana Ryung?!”
Ryung diam saja.
“Ah! Apa kau adalah ketua geng Niu Dou?” tanya Hee Bong, mengancam. “Kau akan mati disini!”
Anak buah Hee Bong berbisik, “Dia adalah Iljimae. Iljimae.”
“Bukankah dia sudah mati?” tanya anak buah Hee Bong yang satu lagi. “Iljimae.”
“Apa kau.. kau.. kau Iljimae?” tanya Hee Bong terbata-bata. “Di.. di.. dimana Ryung?”
Ryung mengibaskan rambutnya. “Kau.. benar-benar merusak image-ku.” Ryung membuka topengnya. “Aku Ryung.”
“Hah!!!” Hee Bong berteriak kaget. “Ryu.. Ryung!”
Ryung tertawa, melambaikan tangannya pada Hee Bong dan kedua anak buahnya. “Halo, kakak!
Salah satu anak buah Hee Bong menunduk memberi hormat pada Ryung. “Sungguh kehormatan besar bagiku! Kakak Iljimae!”
“Kehormatan untukku juga!” anak buah Hee Bong yang lain tidak mau kalah, menyalami tangan Iljimae. “Ryung adalah Iljimae!”
Hee Bong terpaku, melongo.
Ryung tersenyum padanya. “Aku butuh bantuanmu, Kak!”

Di lain sisi, pihak istana melatih pasukannya dengan intensif.

“Jangan khawatir!” kata Hee Bong. “Aku akan mengerahkan geng! Termasuk geng Guma!”
“Terima kasih, Kak!” kata Ryung.
“Terima kasih apa? Ini kehormatan bagiku.” Hee Bong tertawa senang. “Tapi.. orang yang menyamar menjadi Iljimae dan mati… Siapa dia?”
Ryung maupun Heung Kyun tidak menjawab.
Ryung bersikap seolah tidak mendengar apapun dan menjelaskan rencananya. “Kita akan membagi kelompok menjadi dua. Yang satu bersiaga di dalam istana dan yang satu lagi di luar istana. Kelompok yang di dalam istana termasuk aku dan Hee Bong.”
“Aku di dalam juga.” kata Heung Kyun memutuskan.
“Baiklah.” Hee Bong setuju.
“Geng Guma dan geng Bong Dou akan bertanggung jawab pada segala sesuatu di luar istana.” Ryung melanjutkan.
Tiba-tiba terdengar suara dari rumah pandai besi. “Geom, apa kau di dalam? Geom?” Rupanya itu adalah pemburu Jang.
Ryung dan Hee Bong ke atas untuk menemuinya.
“Mau apa kau kemari?” tanya Hee Bong, siap tempur.
“Kali ini… bisakah kau mengizinkan aku bergabung dengan kalian?” tanya pemburu Jang.
“Apa?!” seru Hee Bong. “Tidak! Kau terlalu tua untuk bergabung dengan kami. Pergi!”
“Aku tahu kalau aku akan ditolak, karena itulah aku membawa seorang pemuda kemari.” Pemburu Jang tersenyum menang. “Kemari, anakku.”
Eun Bok masuk dan memberi hormat. “Apa kabar, kakak?” Ia terperanjat kaget dan ketakutan melihat Hee Bong.
Anak buah Hee Bong masuk dan berkata bahwa Shi Wan mencari Ryung. Ryung tersenyum. Kebetulan sekali, ia sedang butuh informasi.

“Hari ini orang tuaku akan berangkat ke Jeju, jadi aku meminta waktu keluar istana sebentar.” kata Shi Wan menjelaskan.
“Jeju?” tanya Ryung bingung. “Apa seluruh anggota keluargamu ikut?”
“Ya.” jawab Shi Wan sedih. “Ayahku dipecat.”
Ryung menghibur Shi Wan. “Akan terjadi perang disini, pergi ke Jeju mungkin adalah hal yang baik untuknya.”
“Dari mana kau tahu?” tanya Shi Wan.
“Gosip itu tersebar dimana-mana.” kata Ryung. “Tapi gosip itu salah, kan?”
Shi Wan berbisik pada Ryung. “Kurasa gosip itu tidak salah. Kim Min Young, utusan Ming, menemui Yang Mulia. Aku melihatnya sendiri. Hush, ini rahasia.”
Ryung memancing Shi Wan agar memberi tahu jumlah pasukan di istana. Shi Wan menjawab, “Jumlah pengawal di Gerbang Hong Hwa ada 30 orang. Bukan hanya itu, pengawal yang berpatroli di istana ada 100 orang. Pengawal khusus pelindung Yang Mulia, seperti aku, ada 15 orang.” Masih banyak pasukan yang lain yang menjaga masing-masing wilayah istana.

Sebelum pergi, Byun Shik berbincang dengan Shi Hoo. Ia melihat jari kelingking Shi Hoo yang terpotong.
“Aku sudah mendengar dari Eun Chae…” kata Byun Shik, merasa bersalah. “Shi Hoo.. apa kau sangat membenci ayahmu ini? Kau berusaha keras untuk mendapat posisimu yang ini. Aku harap kau akan terus seperti itu.”
“Ya.”
“Aku… memiliki putra sepertimu.. membuatku bangga.” Byun Shik memandang Shi Hoo dengan perasaan sayang. “Tolong jaga Shi Wan. Dia tidak pernah melakukan segala sesuatu dengan benar. Oleh karena itulah ia sangat iri padamu. Tolong kau jangan membencinya.”
“Ya. Aku pergi dulu.”
Byun Shik meminta Shi Hoo untuk menemui Eun Chae terlebih dahulu, namun Shi Hoo menolak. “Jaga dirimu dan hati-hati di perjalanan.” Shi Hoo pamit pergi, namun kemudian berbalik lagi dan bertanya., “Ibuku… orang seperti apa dia?”
“Itu…” Byun Shik ragu sejenak. “Di Jeonwoohoe, ada seorang anggota bernama Lee Won Ho. Ibumu adalah pelayannya. Aku melihat ibumu dengan tidak sengaja dan aku ingin memilikinya.”
“Lee Won Ho?”
“Dia dibunuh karena melakukan pemberontakan.” Byun Shik menjelaskan. “Rumah yang sekarang ditempati bibimu adalah rumah Lee Won Ho.”
Shi Hoo kemudian pergi ke rumah Lee Won Ho.
“Jadi ini adalah tempat ayahku tinggal?” gumamnya. “Tapi rumah ini sepertinya tidak asing lagi bagiku. Sepertinya aku pernah datang kemari sebelumnya.”

Shi Wan menarik dan menyeret Ryung dengan paksa.
‘Tuan, aku sedang terburu-buru pergi ke suatu tempat.” kata Ryung, mencoba kabur. “Aku benar-benar harus pergi.”
Shi Wan tersenyum penuh arti. “Kau… kau menyukai Eun Chae, kan? Kau pernah berkata pada Eun Chae tentang takdir atau semacamnya.”
Ryung terdiam.
“Hari ini adalah kesempatan terakhir untuk bertemu.” kata Shi Wan. “Jadi aku ingin mengajakmu menemuinya.”
Ryung tersenyum pahit dan mencoba pergi. “Tapi aku harus melakukan sesuatu yang sangat penting.”
Shi Wan memeganginya.
“Shi Wan!” Byun Shik memanggil Shi Wan dan menyuruhnya mendekat. Byun Shik menasehati Shi Wan agar tidak membuat keributan dan hidup dengan tenang. Shi Wan nyengir.
Ryung melihat mereka dari jarak yang agak jauh. Eun Chae memandang Ryung sekilas.
Shi Hoo mengantar ayah dan ibunya keluar, kemudian mendorong Ryung ke depan Eun Chae. “Cepat ucapkan selamat tinggal.” bisiknya pada Ryung.
Ryung menundukkan kepala, sulit menatap mata Eun Chae.
“Jaga dirimu.” kata Eun Chae, tersenyum, lalu berjalan pergi melewati Ryung.
Ryung menatapnya dari belakang. Eun Chae berhenti berjalan dan menoleh pada Ryung. Ryung memalingkan kepalanya.

Flashback “Sekali… Hanya sekali ini saja…” Eun Chae memeluk Iljimae dari belakang. “Izinkan aku melihat wajahmu.” Ryung berbalik. Eun Chae mengulurkan tangan untuk membuka topengnya, namun Ryung memegang tangan Eun Chae, mencegahnya. Ryung membelakangi Eun Chae dan meneteskan air matanya.

Eun Chae menatap Ryung sejenak, kemudian berjalan pergi.

Shi Hoo mengunjungi Dan Ee, yang saat itu sedang menjahit baji Iljimae milik Ryung.
“Apa benar dia sudah mati?” tanya Shi Hoo. Ia kemudian masuk dan mengambil baju tersebut. “Kudengar putramu telah mati, karena itu aku khawatir dan mengunjungimu. Tapi ternyata sia-sia aku kemari. Benar, bukan?” Dia tidak akan mati semudah itu.”
“Ja Dol… Tolong…”
Shi Hoo melempar baju Iljimae. “Jika dia masih hidup dan masih tetap ingin menyusup ke istana, maka aku akan menangkapnya.”
Shi Hoo bertanya pada Dan Ee, kenapa Dan Ee masih terus mencintai Lee Won Ho, pria yang telah mencampakan Dan Ee dan anaknya sendiri. Sebegitu besarkah cinta Dan Ee hingga ia rela membesarkan anak pria itu (Ryung)?
“Bagiku, dia bukan siapa-siapa.” kata Shi Hoo. “Dia hanyalah seorang pencuri!”
Shi Hoo pergi dan melaporkan pada Chun bahwa Iljimae masih hidup. Chun kemudian memerintahkan Moo Yi untuk memanggil semua pengawal yang berada di luar istana untuk berjaga di istana.
“Kenapa kau tidak membunuhnya?” tanya Moo Yi.
“Lukanya terlalu banyak.” kata Chun. “Ia mengingatkan aku pada diriku sendiri ketika aku masih muda.”
“Bukankah kau bilang bahwa kita tidak boleh punya perasaan?” tanya Moo Yi.
Chun terdiam.

Iljimae mengirimkan lukisan bunga Mae Hwa ke istana, peringatan pada pihak istana bahwa ia akan datang untuk mencuri.

Ryung, Heung Kyun, Hee Bong dan Eun Bok berunding.
“Hwang Ha Dang adalah wilayah pribadi Raja.” Heung Kyun menjelaskan. “Disini adalah bangunan tempat para pejabat berunding dan mengadakan rapat, sedangkan disini adalah bangunan tempat penyimpanan rahasia.”
“Lalu, dimana kita akan mencuri?” tanya Hee Bong.
“Di dua wilayah pusat istana.” jawab Ryung. “Ruang Penyimpanan Harta dan Ruang Penyimpanan Makanan. Di luar banyak warga yang mati karena kelaparan, sementara di istana makanan melimpah. Ruang Penyimpanan Harta juga sangat penuh berisi. Selain itu, Dae Shi dan yang lainnya juga dikumpulkan di dekat sana.”
Tanpa mereka tahu, Ayah Heung Kyun mencuri dengar dari rumah pandai besi. “Ryung… Bajingan kecil itu…”
“Aku akan memberi tahu Dae Shi.” Ryung melanjutkan. “Kelompok di luar istana akan bertanggung jawab menjaga keamanan.”
“Beres!” seru Hee Bong.
“Saat aku pergi untuk melihat pedang di gedung utama, Hee Bong dan Eun Bok akan menuju Ruang Penyimpanan makanan. Setelah itu, semua orang berkumpul di dekat Ruang Penyimpanan Harta. Ketika aku pergi ke ruang penyimpanan yang lain, kalian semua harus menyerbu keluar istana.”
“Tapi, bagaimana cara kita masuk ke istana?” tanya Hee Bong.
Ryung mengeluarkan papan tanda masuk yang dibuatkan Bong Soon. “Ini untukmu. Baik, kelihatannya rencana kita sudah cukup sempurna.”
“Lalu jika kita sudah masuk istana, kita akan bagaimana?” tanya Eun Bok. “Bagaimana kita bisa mencuri jika tidak punya kunci?”
Ryung dan Heung Kyun saling berpandangan dan tertawa. Rupanya Heung Kyun sudah memikirkan hal itu.
Sebelumnya, Heung Kyun berpura-pura menabrak penjaga yang memegang kunci hingga kunci tersebut jatuh. Setelah itu, Heung Kyun menggunakan sepatu buatannya untuk mencetak kunci tersebut.
“Wah, hebat.” kata Eun Bok kagum, melihat cetakan kunci di telapak sepatu buatan Heung Kyun. “Bagaimana kau melakukannya?”
“Aku melapisi alas sepatuku dengan lumpur, kemudian menggunakan usus babi untuk melapisi bagian atasnya.” Heung Kyun menjelaskan.
“Ini dia kuncinya.” Ryung menyerahkan kunci pada Hee Bong dan Eun Bok.

Ayah Heung Kyun berlari menemui Pemburu Jang, Shim Deok dan Ayah Seung Seung. “Bagaimana? Bagaimana?” tanya mereka penasaran.
“Jangan berisik!” bisik Ayah Heung Kyun, melihat sekeliling seolah-olah ada orang yang sedang memata-matai mereka. “Pertama, Raja dan istrinya sudah tidur.”
“Hah?” Shim Deok bingung. “Aku menyuruhmu melihat situasi dan kau kembali dengan informati seperti itu?”
Mereka kecewa dan hendak mengusir Ayah Heung Kyun. Namun Ayah Heung Kyun melanjutkan, “Lalu mengambil jantungnya.”
“Mengambil jantung apa?!” seru Ayah Seung Seung kesal.
“Benar! Bukan jantung, tapi mencuri sepasang sepatu.” kata Ayah Heung Kyun tidak jelas juntrungannya.
Mereka memukulinya dengan kesal.
“Kita harus menyusun strategi sendiri.” kata Ayah Heung Kyun.

Hari perjamuan tiba.
Hee Bong menyamar menjadi pengantar tenda perjamuan.
“Buka.” kata si Penjaga, menyuruh Hee Bong menunjukkan isi peti yang dibawanya.
Hee Bong mengangguk, memberikan isyarat.
Tiba-tiba dua orang pedagang bertengkar dan membuat keributan. Penjaga menyuruh Hee Bong masuk dan memisahkan dua orang pedagang yang bertengkar tersebut.

Ryung bersiap pergi. Terlebih dahulu ia melihat lukisan keluarga Lee Won Ho. “Ayah, aku pasti akan menemukan orang itu.” janjinya. Ryung berbalik dan mengambil besi pembuka gembok pemberian Swe Dol. “Ayah, kau akan berada di sisiku, bukan?”
Ketika Ryung hendak berjalan pergi, Dan Ee masuk. “Jangan pergi!” katanya.
“Ibu..”
“Jika sesuatu terjadi padamu, aku… aku…”
“Aku akan baik-baik saja, ibu.” Ryung menenangkan. “Aku pasti akan berhasil. Aku akan menyelamatkan Dae Shi… dan aku juga akan menemukan pembunuh ayahku.”
“Kalau begitu berjanjilah padaku.” kata Dan Ee. “Kau harus hidup dan kembali pulang.”
“Ya, ibu. Aku tidak akan mati.” janji Ryung.
Dan Ee menyerahkan baju Iljimae yang dijahitnya. “Pakailah pakaian yang layak. Kau adalah Iljimae. Bagaimana bisa kau merusak image-mu seperti itu?”
Ryung terharu.
“Berjanjilah. Berjanjilah kau akan kembali dengan selamat.”
“Ya.” janji Ryung. “Jangan cemas, ibu! Di sini…” Ryung mengenggam besi pembuka gembok yang dikalungkan di lehernya. “Aku dan Ayah Ryung akan bersama.”
Dan Ee tersenyum dan mengangguk.

Nyonya Han terkejut melihat perhiasan milik Lee Won Ho dikenakan oleh salah satu gadis penghibur. “Ini… dari mana kau mendapatkan ini?” tanyanya.
“Ini pemberian kepala pengawal.” jawab si gadis penghibur. “Namanya Tuan Shi Wan. Dia memberiku ini sebagai bayaran minum arak.”
Nyonya Han mengambil perhiasan itu dan berlari pergi.
“Kembalikan, itu milikku!” teriak gadis penghibur.

Nyonya Han pergi ke gerbang istana, mencari Shi Wan.
“Ada apa?” tanya Shi Wan kesal.
“Tuan Muda, ini…” Nyonya Han menunjukkan perhiasan yang dipegangnya.
Shi Wan marah-marah. “Jadi kau kemari menggangguku bekerja hanya untuk menagih uang arak? Kau takut aku tidak membayar?”
“Bukan itu. Tuan, milik siapa perhiasan ini?” tanya Nyonya Han.
“Itu milik Ryung, sahabatku.” jawab Shi Wan.
“Ryung?”
“Laki-laki yang malam itu aku gendong di punggungku.” Shi Wan menjawab tidak sabar.
Nyonya Han mengingat malam itu.
Shi Wan mendorong Nyonya Han dengan kesal sehingga Nyonya Han hampir jatuh dan perhiasan yang dipegangnya terlempar ke tanah, hampir ke tengah jalan. Nyonya Han berlari untuk mengambil perhiasan itu.
“Beri jalan!” seru penjaga gerbang padanya. “Duta Besar Cing, Ba Eum So, akan segera tiba.”
Rombongan Duta Besar Cing berjalan menuju gerbang. Nyonya Han berusaha mengambil perhiasan itu.

Rombongan Duta Besar Cing itu ternyata adalah Ryung dan kawan-kawannya yang sedang menyamar.
Ryung menyamar menjadi Ba Eum So sementara Eun Bok menjadi juru bicara dan penerjemahnya.
Ketika penjaga gerbang hendak membuka perkamen yang berisi lukisan wajah Ba Eum So, Eun Bok berpura-pura batuk dan sengaja menjatuhkan perkamen. Ia mengambil perkamen tersebut dan menggantinya dengan perkamen yang sudah disiapkan Ryung.
Flashback. Hee Bong mengajari Eun Bok trik mengganti perkamen.

“Maafkan aku.” kata Eun Bok, menyerahkan perkamen palsu.
Penjaga membuka perkamen itu dan melihat wajah Ryung disana. Ia mengangguk, pertanda bahwa ia adalah mereka diizinkan masuk.

Nyonya Han mengambil perhiasan Lee Won Ho.
Ryung tidak sengaja menoleh dan melihat wanita itu sedang membersihkan perhiasan milik ayahnya dengan hati-hati.
Ryung membuka tirai tandunya lebih lebar untuk melihat wanita itu. Nyonya Han melihat Ryung.
“Ibu!” gumam Ryung, terkejut.
Nyonya Han menangis. “Geom…”
Tandu berjalan masuk melewati gerbang istana.
“Ibu…” Ryung menangis dan terus mencoba melihat ibunya.
Nyonya Han tersenyum lega. “Geom… Kau masih hidup…”
“Ibu… Bagaimana kau mengenaliku?” ujar Ryung dalam hati. “Sudah 14 tahun…”
“Geom-ku…” Nyonya Han tidak bisa menahan air matanya. “Geom-ku… tidak berubah… tidak berubah sama sekali…”
“Bertemu dengan ibu seperti ini… tapi aku masih meninggalkanmu… Sama seperti saat itu… Ibu, semuanya akan segera berakhir. Tunggulah aku sebentar lagi. Sebentar saja.”

Rombongan Ryung masuk ke dalam istana. Di jembatan, Eun Bok berpura-pura tersandung dan sepatunya lepas. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk memasang jaring di bawah jembatan.

Hee Bong memasang tenda untuk perjamuan istana. Dengan diam-diam, ia menggergaji tiang kayu penyangga tenda. Heung Kyun menutupinya agar tidak terlihat.

Ryung diantar ke salah satu bangunan dengan lambang Jeonwoohoe milik Shim Ki Yoon.
Di sana adalah ruang hadiah. Eun Bok menyerahkan sebuah hadiah untuk Raja pada salah satu pejabat.
“Bisakah kami melihat hadiah tersebut terlebih dahulu?” tanya pejabat itu.
“Tentu.” Eun Bok membuka peti hadiah. Di dalamnya terdapat beberapa guci keramik berharga. Si pejabat terkagum-kagum melihat hadiah itu.
“Kami akan meletakkan hadiah tersebut disini.” kata Eun Bok. “Setelah perjamuan dimulai, kami akan menyerahkannya langsung pada Yang Mulia.”
Sebelum perjamuan dimulai, Ryung meminta diberi waktu untuk beristirahat. Pejabat dan para pengawalnya keluar.
Ryung melihat pedang yang ada di sana satu per satu, namun tidak menemukan lambang Jeonwoohoe utuh. Ia kemudian membuka peti hadiah yang dibawanya dan mengeluarkan guci keramik. Di balik kain alas guci tersebut, tersimpan pakaian Iljimae.
Iljimae menyimpan semua hadiah dan barang berharga yang ada di ruangan itu ke dalam peti-peti.
Di saat yang sama, Raja sedang berjalan untuk menemui Duta Besar Cing. “Yang Mulia tiba!” ujar penjaga mengumumkan.
Raja masuk ke dalam ruangan hadiah itu dan melihat lukisan bunga Mae Hwa di sana. Iljimae mengganti semua barang berharga yang dicurinya dengan sebuah mangkuk tempat makan anjing yang diambilnya dari rumah Ayah Heung Kyun, sebuah guci arak milik kedai minum Shim Deok dan sebuah akar pohon yang mirip ginseng.
Raja marah, merasa dibodohi.
Saat itulah Ba Eum So yang asli tiba di depan gerbang istana.

Chun mengumumkan pada para sukarelawan tameng bahwa mereka tidak jadi dikirim ke Cing, melainkan menjadi pasukan Ming dalam peperangan melawan Cing. Di sini.
“Siapa yang berani menentang perintah Raja, maka ia akan dibunuh!” ancam Chun.
Dae Shi memegang sebuah topeng. “Aku.. aku pikir kita akan pergi ke Cing.” katanya merengek. “Aku ingin pulang! Aku kelaparan!”
Moo Yi mengarahkan tombak padanya. Ryung mengintip mereka.

Ryung menyelinap ke sebuah bangunan dengan lambang Jeonwoohoe milik Lee Kyung Sub. Ia melihat pedang satu per satu dan mencari lambang Jeonwoohoe utuh, namun tidak juga menemukannya. Ryung meninggalkan lukisan bunga Mae Hwa, kemudian pergi.

Kini giliran bangunan dengan lambang Jeonwoohoe milik Kwon Do Hyun. Ia tetap tidak menemukan pedang yang dicarinya.
Ryung menyiapkan sebuah jebakan panah yang ujungnya diikatkan dengan tali dan didekatkan ke lilin. Jika lilin tersebut meleleh dan membakar tali, maka busur secara otomatis akan melepaskan anak panah.
Ia pergi ke perpustakaan di bangunan tersebut dan mencari sesuatu.
Shi Wan dan beberapa pengawal tiba-tiba datang dan menyerang Ryung. Namun anak panah tumpul melesat dengan sendirinya, mengalihkan perhatian Shi Wan dan yang lainnya. Mereka menunduk untuk menghindari panah.
Ryung memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi.

Shi Hoo melihat kekacauan yang dialami Shi Wan, kemudian pergi mengawasi para sukarelawan. Sikap Dae Shi menarik perhatiannya.
Dae Shi memegangi sebuah topeng dan merengek-rengek. “Ayah, aku ingin pergi ke Cing.” katanya sedih, membersihkan topeng itu dengan seksama. Dae Shi membalik bagian dalam topeng dan terkejut melihat sesuatu.
Dae Shi menjadi salah tingkah. Ia memakai topeng itu dan melihat ke arah para pengawal, dengan sikap yang aneh. Shi Hoo curiga.

Eun Bok berjalan mengendap-endap. Tiga orang pengawal memergokinya. “Tunggu! Angkat tanganmu!”
Eun Bok mengangkat kedua tangannya. Tiba-tiba sebuah jaring jatuh dari atas dan mengurung ketiga pengawal.
Eun Bok membungkuk. “Maafkan aku.” Lalu menginjak-injak ketiga pengawal. “Maafkan aku.” Dan menginjak mereka lagi.
Hee Bong dan Ryung berlari datang.
“Kerjamu bagus, Eun Bok!” puji Ryung.
Eun Bok tersipu malu dan menginjak pengawal lagi.

Target selanjutnya, Ruang Penyimpanan Makanan.
Ryung, Eun Bok dan Hee Bong masuk ke Ruang Penyimpanan Makanan.
“Saat rakyat kelaparan, mereka menyimpan banyak sekali makanan di sini.” omel Hee Bong.
Eun Bok memandangnya kesal. “Kau bisa bicara begitu?” tanya Eun Bok. “Kau juga ikut membantu mereka mengisi ruangan ini!”
Mereka bergegas memasukkan makanan-makanan tersebut ke dalam sebuah kantong/karung besar.
Hee Bong dan Eun Bok menyamar sebagai penjaga.
Beberapa pengawal berpatroli. “Apa ada hal yang aneh?” tanya kepala pengawal.
“Tidak!” teriak Hee Bong keras. “Tidak ada yang aneh!”
Kepala pengawal itu hendak berjalan pergi, tapi tiba-tiba berhenti. Ia melihat ke arah sepatu Eun Bok yang berbulu, bukan sepatu yang biasa dikenakan penjaga. “Ada apa dengan sepatumu?” tanyanya.
Eun Bok menunduk melihat sepatunya dan terperanjak panik.
Kepala pengawal curiga. Ia menyuruh Eun Bok membuka pintu Ruang Penyimpanan Makanan.
Di dalam, Ryung masih sibuk berkutat dengan hasil curiannya.
Eun Bok sengaja mendentingkan kunci dan gembok untuk memperingatkan Ryung.
Kepala pengawal tidak sabar dan membuka gembok itu sendiri.
Mereka masuk. Semua makanan sudah lenyap, digantikan dengan sebuah lukisan bunga Mae Hwa yang ditempel di dinding.
Hee Bong berteriak dan menunjuk. “Di sana! Iljimae! Iljimae! Iljimae pergi ke sana!”
Para pengawal berlari ke arah yang ditunjuk Hee Bong untuk mengejar Iljimae.
Hee Bong dan Eun Bok masuk ke dalam Ruang Penyimpanan Makanan dan mendongak ke atas. Di sana, kantong/karung yang berisi makanan disangkutkan oleh Ryung dengan jala. Ryung bersembunyi juga di sana.
Hee Bong melingkarkan telunjuk dan ibu jarinya. Aman.

Ryung menyamar menjadi pengawal.
Mereka bertiga meletakkan kantong/karung berisi makanan tersebut ke atas gerobak dan mendorongnya. Mereka hendak menyembunyikan makanan tersebut di suatu tempat untuk sementara.
Chun, Moo Yi dan beberapa anak buahnya lewat. Ryung melihat Moo Yi dan mengikuti mereka diam-diam. Ini di luar rencana.
“Benar.” pikir Ryung. Ia teringat saat Moo Yi membawanya ke tengah danau yang membeku dan bertanya apakah Ryung adalah Geom. “Orang itu adalah…”
Ryung mengikuti Moo Yi sampai ke bangunan utama tempat Raja, kemudian berbalik lagi ke tempat teman-temannya.

“Ada apa?” tanya Hee Bong.
“Aku melihatnya. Orang yang dulu bertanya apakah aku Geom atau bukan dan mengancam akan membunuhku” jawab Ryung.
“Jadi dia adalah orang istana?” tanya Hee Bong.
“Ya.” kata Ryung. “Juga orang-orang yang ingin membunuhku saat di belakang pagoda. Pembunuh ayahku pasti salah satu orang istana. Ayo kita pergi.”
Ryung, Hee Bong dan Eun Bok mendorong gerobak makanan lagi. Beberapa apel terjatuh dan menggelinding ke jalan. Ryung berlari menngambil apel itu.
Tiba-tiba seseorang berdiri di hadapannya. Ia adalah Raja. Hee Bong dan Eun Bok bersujud.
Ryung mendongak untuk melihat orang itu, kemudian ikut bersujud.
“Itu buah-buahan untuk perjamuan, kan?” tanya Raja.
“Ya, Yang Mulia.” jawab Ryung.
“Berhati-hatilah.” Raja berkata seraya berjalan pergi diikuti para pengawalnya.
Ryung lega. Namun Raja berbalik dan kembali.
“Kau…” Raja menunduk untuk melihat wajah Ryung lebih jelas.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Iljimae – Episode 18

Eun Chae mengarahkan pedangnya pada Iljimae.
“Aku tidak akan pernah memaafkanmu.” kata Eun Chae. “Aku akan membunuhmu!”
“Eun Chae, apa yang kau lakukan?” tanya Byun Shik cemas. “Cepat berikan pedang itu padaku.”
Eun Chae memejamkan mata dan hendak menusuk Iljimae. Iljimae mengelak dan menangkap Eun Chae. Ia mengarahkan pedang ke leher Eun Chae.
“Jangan, jangan!” seru Byun Shik ketakutan. “Tolong lepaskan putriku. Aku mohon.”
“Jika kau tidak ingin putrimu mati, jawab pertanyaanku!” kata Ryung mengancam. “Siapa yang memerintahkanmu?!”
“Itu… itu…” Byun Shik ragu sejenak. Bila ia bicara, maka Raja-lah yang akan membunuhnya. Maka ia berbohong, “Lee Kyung Sub… Yang memerintahkan aku adalah Lee Kyung Sub.”
“Lee Kyung Sub? Pria yang baru saja mati?”
“Benar, benar. Le Won Ho adalah anggota pusat Jeonwoohoe. Lee Won Ho, Shim Ki Yoon, Kwon Do Hyun, Kim Ik Hee, Lee Kyung Sub, dan Suh Young Soo… Mereka semua adalah anggota pusat Jeonwoohoe.”
“Tapi kenapa Lee Kyung Sub menusuk Lee Won Ho dari belakang?” tanya Ryung.
“Mereka semua adalah pejabat tingkat atas.” kata Byun Shik mengarang cerita. “Dan Lee Won Ho mendapat kepercayaan dari Yang Mulia. Lee Kyung Sub merasa cemburu dan menfitnah Lee Won Ho sehingga menyebabkan kematiannya.”
“Tapi kenapa kalian membunuh pencuri yang masuk ke rumah Suh Young Soo?”
“Mungkin karena pencuri itu mendengar percakapan antara Lee Kyung Sub dan Suh Young Soo.” jawab Byun Shik, mengarang cerita yang lain dan berbohong. “Lee Kyung Sub mengejar pencuri itu ke istana terlarang. Ketika aku sampai ke sana, pencuri itu sudah tidak bernafas.”
“Lalu kenapa kau membunuh Lee Kyung Sub?!” tuntut Iljimae.
“Bukan aku.. bukan aku… Aku tidak membunuhnya. Untuk apa aku membunuhnya? Percayalah padaku. Aku berkata jujur. Bunuh saja aku. Putriku… tolong ampuni nyawanya.”
Iljimae merobek baju Byun Shik dengan pedangnya untuk melihat dada kiri Byun Shik. Tidak ada lambang Jeonwoohoe di sana.
Eun Chae terjatuh lemas.
“Siapa lagi? Siapa lagi anggota pusat organisasi itu?” tanya Iljimae.
“Selain keenam orang itu, aku tidak tahu lagi. Aku sungguh tidak tahu.” jawab Byun Shik. “Apa kau… putra Lee Won Ho… Lee Geom?”
Eun Chae terkejut dan menatap Iljimae.
“Beraninya kau mengubur surat palsu dan menyalahkan orang itu atas pemberontakan yang tidak pernah ia lakukan!” teriak Ryung penuh emosi.
“Aku tidak punya pilihan lain…” kata Byun Shik, menangis. “Jika aku tidak mengubur surat itu, aku dan keluargaku akan dibunuh. Aku tidak punya pilihan lain. Tolong ampuni nyawaku.”
Eun Chae menangis dan berlutut di kaki Iljimae. “Tolong ampuni nyawa kami. Aku mohon padamu tolong lepaskan kami kali ini.”
Iljimae mengarahkan pedang lagi ke leher Eun Chae.
“Jangan! Jangan… Eun Chae!” teriak Byun Shik panik.
“Jika kau berani menyebarkan hal ini, kepala putrimu akan hilang.” ancam Iljimae.
“Jangan khawatir, jangan khawatir! Aku tidak melihat apapun. Aku tidak tahu apapun. Aku…” Byun Shik menutup mulutnya dengan tangan. Pertanda bahwa ia akan tutup mulut.
Iljimae pergi. Eun Chae dan Byun Shik menangis ketakutan.

“Aku ingin membawanya kemari agar ia berlutut padamu, Ayah…” ujar Ryung sedih ketika ia sudah berada di markas persembunyiannya. “Tapi aku tidak bisa melakukannya. Ayah…”
Ryung membakar buku daftar anggota Jeonwoohoe, kemudian memasukkan baju Iljimaenya ke dalam sebuah peti.
Ryung menatap lukisan kedua keluarganya, keluarganya bersama Swe Dol dan keluarganya bersama Lee Won Ho, kemudian melipat dan memasukkan lukisan tersebut ke dalam peti yang sama dengan pakaian Iljimae.
Ia pergi ke tengah hutan dan mengubur peti tersebut.

Bong Soon menangis sendiran dibawah pohon Mae Hwa yang dibelinya. Ia melihat Ryung datang, dan bersembunyi di balik batang pohon itu.
Ryung berlutut di depan pohon Mae Hwa, tempat ia mengukir lambang utuh Jeonwoohoe milik Raja. Ia tidak mengatakan apapun. Hanya berlutut dan menangis di sana.
Ryung kemudian berjalan mendekati pohon Mae Hwa besar. Di pohon itu, ada sebuah papan bertuliskan, “Pohon Mae Hwa ini milik Ryung. Tidak boleh masuk.”
Ryung menoleh, memandang sekeliling untuk mencari seseorang. Lalu ia melihat baju Bong Soon dan mengintip.
“Bagaimana kau tahu tempat ini?” tanya Ryung.
“Aku tahu secara tidak sengaja.” jawab Bong Soon.
“Tidak sengaja?” tanya Ryung curiga. “Lalu papan apa itu?”
“Aku membeli pohon ini sebagai hadiah untukmu.” kata Bong Soon. “Sebenarnya, aku ingin membeli rumah ini, tapi uangku tidak cukup. Rumah ini sangat mahal. Tapi aku berjanji, aku akan mengumpulkan uang untuk membeli rumah ini.”
“Bagaimana kau tahu tempat ini?”
“Aku mengikutimu kemari.” jawab Bong Soon, tersenyum. “Aku membeli pohon ini karena aku tahu bahwa pohon ini sangat berharga untukmu. Aku pernah melihatmu menyentuh pohon ini dengan sayang.”
“Aku tidak pernah melakukannya.” kata Ryung berbohong. “Kenapa kau begitu baik padaku?”
Bong Soon mengenggam tangan Ryung. “Jangan pernah melepas tanganku.” katanya. “Aku akan melindungimu.”
Ryung bingung dan berpikir.
“Apa kau ingat?” tanya Bong Soon. “Ketika aku melihat perhiasan milikmu, aku tahu bahwa anak itu kau.”
Ryung tiba-tiba teringat. “Kau adalah…”
Bong Soon tersenyum, memandang Ryung.

Karena Bong Soon tidak bisa pulang, maka Ryung membawanya ke rumah pandai besi.
Ryung meletakkan sebuah tikar di lantai untuk Bong Soon tidur. “Tinggallah disini malam ini sampai kau berbaikan dengan ayahmu.” kata Ryung. “Aku akan meminta ibuku datang dan membawakanmu baju dan makanan.”
Bong Soon tersenyu. “Ryung-ku memang yang paling baik.” ujarnya senang seraya tidur di tikar.
Ryung dudu di sampingnya. “Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Ryung. “Bukankah kau bilang ingin balas dendam?”
“Belum.” jawab Bong Soon sedih. “Aku akan membalaskan dendamku nanti.”
Setelah itu, Bong Soon merapikan tempat itu. Ia membawa bantal, meja, mangkuk, tungku, bahkan vas bunga. Ryung tertawa. “Apa kau akan tinggal di sini selamanya?” tanyanya heran.

Kong He kelabakan mencari Bong Soon. Ia bahkan mencari Bong Soon sampai ke desa tempat tinggal Bong Soon dulu, namun tidak menemukannya dimana pun.

Byun Shik mengalami dilema. Ia bingung bagaimana harus bertindak. Jika ia melaporkan hal itu pada Raja, maka nyawa Eun Chae dalam bahaya.
Tiba-tiba utusan Raja datang dan mengirimkan sebuah pesan padanya. Shi Hoo dan Shi Wan dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi dan ditempatkan di dalam istana Byun Shik senang sekali.

Jung Myung Seo datang mengunjungi Raja untuk menghadiri pemakaman putra mahkota. Ia menngancam dengan halus perihal kematian putra mahkota. “Kaisar Cing sangat sedih mendengar kematian Putra Mahkota.” katanya. “Aku heran, ketika Putra Mahkota ada di Cing, ia sangat sehat. Tapi kenapa setelah 2 bulan pulang tiba-tiba ia…”
Raja terdiam. Ia dan para pejabatnya mengadakan rapat, bagaimana cara agar mereka bisa bersekutu dengan Cing.
“Kudengar Cing sedang berusaha keras menyatukan daerahnya.” kata Byun Shik. “Jika kita bisa membantu Cing dengan tenaga dan makanan, maka kita dapat mengambil keuntungan.”
Raja segera memerintahkan orang membuat pengumuman pada warga. Barang siapa yang mau dengan sukarela menjadi tameng yang dikirimkan ke Cing, maka mereka akan diberi 10 karung beras dan 10 gulung sutera.
Warga menertawai pengumam itu dan sedikit sekali yang tertarik, salah satunya adalah Dae Shi. Ia berniat ikut berpartisipasi.
Karena sedikit sekali orang yang mau ikut serta sebagai tameng, maka Raja menculik banyak pemuda miskin untuk dijadikan tameng secara paksa.
Dae Shi sudah mendaftar. Deok menangis histeris karenanya. “Dia bilang, ia ingin pergi ke Cing agar bisa bertemu dengan ayahnya.” kata Deok menangis.

Heung Kyun melihat Dae Shi di istana, menjadi salah satu sukarelawan. Ia menarik Dae Shi.
“Apa kau tahu bahwa biaya pergi ke Cing sangat mahal?” tanya Dae Shi marah. “Aku tidak bisa membayarnya walaupun aku menjual diriku. Ini adalah kesempatan yang baik agar aku bisa pergi ke Cing secara gratis. 10 karung beras cukup membantuku menemukan ayahku yang dibawa ke Cing!”
“Dae Shi!”
“Jangan khawatir.” kata Dae Shi. “Sebelum aku bertemu dengan ayahku, aku tidak akan mati. Pergilah!”
Heung Kyun menyerah. Ia keluar istana dan bertemu dengan Ryung, yang saat itu sedang membujuk para penjaga agar membiarkannya bertamu Dae Shi.
“Dia ingin sekali pergi ke Cing dan mencari ayahnya.” kata Heung Kyun. “Tidak ada gunanya membujuknya.”
Seorang pria tua mendekati mereka berdua dan menceritakan bahwa putranya dipaksa ikut sebagai sukarelawan. “Jika terjadi sesuatu dengan anakku, aku tidak bisa hidup lagi!” tangis pria tua itu.
Keadaan menjadi kacau. Para prajurit ingin mengirimkan bantuan makanan ke Cing, namun para warga menentang.
“Kalian membiarkan anak-anak kami menjadi tameng dan sekarang kalian juga ingin kami mati kelaparan disini?” tanya seorang pria, menahan para prajurit.
“Saat ini sedang masa-masa kelaparan.” seru pria yang lain, menangis histeris. “Sangat sulit bagi kami menemukan makanan. Bunuh aku dulu sebelum kau membawa pergi makanan itu!”

Bong Soon menikmati masa-masa pelariannya dan tinggal di rumah pandai besi milik Ryung. Ia pergi ke tengah hutan untuk menanam sayuran. Ketika ia sedang menggali, ia menemukan sebuah peti yang berisi baju Iljimae, juga lukisan keluarga Ryung.
Ryung pulang, sangat terkejut karena Bong Soon sedang membuka petinya.
Bong Soon berjalan keluar, Ryung menahannya.
“Lepaskan aku.” kata Bong Soon. “Saat aku membawa peti itu, aku tidak sengaja menjatuhkan lukisan bunga Mae Hwa. Aku ingin mengambilnya.”
Bong Soon membantu Ryung merapikan lagi barang-barangnya di markas persembunyian Ryung di bawah tanah rumah pandai besi.
“Bong Soon, pergilah.” kata Ryung.
“Kenapa?” tanya Bong Soon kecewa. “Aku tidak akan bilang siapa-siapa.”
“Ayahmu sangat mengkhawatirkanmu. Cepatlah pulang. Aku ingin sendirian.”
“Aku mengerti.” kata Bong Soon sedih. “Aku pergi sekarang.”
Ryung memandang lukisan Swe Dol. “Ayah, masih ada satu hal lagi yang harus kulakukan, kan?”
Ryung menulis sesuatu di kertas. Target selanjutnya, Istana.

Ryung mengirimkan lukisan bunga Mae Hwa ke istana dan memperingatkan pihak istana bahwa ia akan datang setengah bulan lagi.

Hee Bong menjadikan Iljimae sebagai objek untuk berbisnis.
“Jika kalian merasa Iljimae akan berhasil menyusup ke istana, kalian ambil bunga berwarna merah.” kata Hee Bong. “Jika kalian merasa Iljimae akan gagal, kalian ambil bunga putih.”
Semua orang mengambil bunga berwarna merah.
Ryung datang dan mengambil bunga putih. “Gunakan otak kalian untuk berpikir.” katanya. “Kalian pikir, istana itu tempat apa? Apa mereka akan menyambutmu saat kau datang dan mengantarmu saat kau pergi? Jangan menganggap remeh istana.”
Ayah Heung Kyun memukul kepala Ryung memarahinya. “Kaulah yang harus menggunakan otakmu!” katanya. “Jangan menganggap remeh Iljimae kami!”
“Hidup Iljimae! Hidup Iljimae!” teriak orang-orang bersamaan.

Chun menyelidiki awal mula munculnya Iljimae sampai akhir kemunculannya. Hal menarik yang ia dapatkan adalah bahwa Iljimae memiliki hubungan khusus dengan Eun Chae.
Ia melaporkan hal tersebut pada Raja.
Raja mengirimkan perintah pada Byun Shik agar Byun Shik dimutasi ke daerah lain. Ia menemui Chun dan marah-marah.
“Kenapa ia melakukan semua ini padaku?” omel Byun Shik. “Aku selalu membantu Yang Mulia. Mulai dari kasus pemberontakan Lee Won Ho sampai kasus kematian Putra Mahkota! Ia telah memanfaatkan aku, sekarang ia mau membuangku?!”
Chun menjadi tidak sabar. “Salahmu sendiri kenapa kau tidak membesarkan putrimu dengan baik.”
Byun Shik tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Heung Kyun berpikir dan mulai curiga pada Ryung. Ia teringat saat Swe Dol memintanya membacakan kertas, dan malamnya rumah bangsawan yang ada dikertas tersebut kecurian.
“Apa kau adalah pencuri itu?” tanya Heung Kyun langsung pada Ryung.
“Kakak…” Ryung tidak bisa menjawab.
“Benarkah? Jadi kau… Kau adalah Iljimae?” seru Heung Kyun kaget.

Ryung pulang ke markas persembunyiannya. Di sana, dilihatnya Bong Soon sedang mengerjakan sesuatu.
“Lihat ini!” Bong Soon menunjukkan sebuah papan. “Ini adalah papan tanda masuk. Sangat mirip dengan aslinya, kan? Tembok pagar istana tidak sama dengan tembok pagar rumah bangsawan. Kau tidak akan bisa masuk dengan melompatinya. Gunakan papan tanda masuk ini dan masuk dengan benar.”
Ryung tersenyum, berterima kasih. “Bagaimana kau bisa membuat ini?”
“Ini adalah salah satu keahlian khusus seorang pedagang.” jawab Bong Soon tersenyum licik.
Bong Soon membuat beberapa papan tanda masuk ke istana sementara Ryung menyiapkan persiapan yang lain.

Bong Soon kelelahan dan tertidur. Ryung mendekati dan menatapnya.
“Bong Soon, maafkan aku.” kata Ryung sedih. “Karena aku, kakakmu… Aku kan melindungimu.” Ryung meraih tangan Bong Soon dan menggenggamnya. “Aku tidak akan melepaskan tanganmu.”

Hari sudah malam. Ryung membangunkan Bong Soon. Ia ternyata sudah menyiapkan sebuah kain putih besar yang hendak dipergunakannya sebagai layar.
Ryung mengeluarkan sebuah benda berbentuk persegi enam. Benda itu terbuat dari kaca dengan lukisan di masing-masing sisi. Di tengahnya terdapat lilin.
Benda tersebut berputar dan memperlihatkan gambar besar di layar kain putih, menceritakan kisah Bong Soon dan Ryung. Saat Bong Soon menyuapi Ryung. Saat Bong Soon dan Ryung memandang langit. Saat Bong Soon merawat Ryung yang terluka. Saat Ryung menggendong Bong Soon. Saat Geom kecil menggenggam tangan Bong Soon kecil.
“Apa kau menyukainya?” tanya Ryung.
Bong Soon terharu. Ia tertawa dan menangis sekaligus. Bong Soon mengangguk.
“Setelah aku masuk ke istana dan membebaskan Dae Shi serta warga yang lain, dan setelah aku menemukan ibu kandungku… Bersama dengan Dan Ee… Kami akan meninggalkan Hanyang.”
“Benarkah?” tanya Bong Soon, tersenyum pahit.
“Apa kau mau… ikut bersama kami?” tanya Ryung. Ia menundukkan kepalanya. “Aku… masih belum bisa melupakan gadis itu dari dalam hatiku. Mungkin membutuhkan waktu yang lama.. atau bahkan aku tidak akan bisa melupakan dan tetap menyimpannya dalam hatiku. Apa kau masih setuju ikut denganku setelah mengetahui ini?”
Bong Soon tersenyum dan mengangguk dengan pasti.

Heung Kyun membawakan Ryung peta istana yang dicurinya dari perpustakaan. Bong Soon membawa makanan dan meneteskan kotoran di atas peta tersebut.
“Apa kau tahu bahwa sulit sekali mencuri peta ini?” omel Heung Kyun.
Ryung melihat peta itu baik-baik. Di bagian yang terkena tetesan air, muncul salah satu lambang Jeonwoohoe.
Ryung mencoba metode tersebut di bagian yang lain. Lambang Jeonwoohoe muncul satu per satu di peta tersebut. Jika digabungkan maka membentuk lambang utuh yang dilihat Ryung di pedang orang yang membunuh ayahnya.
“Lambang itu…” gumam Ryung. “Lambang yang terukir di pedang orang yang membunuh ayah. Itu adalah gabungan lambang para anggota pusat Jeonwoohoe. Benar. Pasti masih ada satu orang lagi.”

Chun memerintahkan Shi Hoo untuk menculik Eun Chae dan ingin memotong salah satu jari Eun Chae sebagai ancaman untuk Iljimae.
“Biar aku saja yang melakukannya.” kata Shi Hoo.
“Tapi dia adalah adikmu.” ujar Chun.
“Dia tidak berarti apa-apa bagiku.” Shi Hoo mendekati dan memegang tangan Eun Chae.
“Aku tanya sekali lagi. Dimana Iljimae?” tanya Chun pada Eun Chae.
“Aku tidak tahu.” jawab Eun Chae. “Aku tidak punya urusan dengan pencuri itu.”
Chun mengangguk, memberi isyarat pada Shi Hoo untuk memotong jari Eun Chae. Eun Chae menangis.

Bong Soon bersembunyi di belakang Kong He untuk membunuhnya, namun Bong Soon merasa ragu. Kong He mengetahui keberadaan Bong Soon dan pura-pura tidak tahu. Deok berteriak-teriak memanggilnya. “Untuk menangkap Iljimae… istana… menculik putri Tuan Byun Shik.” kata Deok cemas.

Gosip bahwa Eun Chae adalah kekasih Iljimae menyebar di masyarakat. Eun Chae bahkan diculik untuk memancing Iljimae.
Ryung bergegas berlari ke kandang kuda milik Eun Chae. Di sana, ia menemukan sebuah jari dan surat. Surat tersebut berisi, jika Iljimae ingin menyelamatkan Eun Chae, maka Iljimae harus datang ke sebuah rumah di belakang Pagoda Won Eun di Gunung Moon Yeo.
Ryung berlari ingin menyelamatkan Eun Chae, namun Bong Soon menghalangi.
“Jangan pergi.” katanya. “Mereka akan membunuhmu.”
“Jika tidak pergi, ia akan mati.”
“Ia tidak akan mati. Itu hanya pancingan agar kau ke sana.”
Ryung menunjukkan jari Eun Chae pada Bong Soon. “Maaf, Bong Soon. Aku tidak bisa membiarkan dia mati karena aku.”
“Jika kau pergi, mereka akan membunuhmu. Baik. Aku akan ikut denganmu. Jika bersamamu, aku tidak takut bahkan jika kehilangan nyawaku.”
“Bong Soon, tetaplah hidup.. Demi aku.” bujuk Ryung.
“Apa nona itu begitu berarti untukmu?” tanya Bong Soon, menangis.
Ryung menunjuk dada kiri dengan tangannya, seakan berkata, dia adalah jantungku.
Bong Soon menangis dan mengangguk. “Baik. Pergi dan temukan jantungmu!”
Ryung berlari pergi.
“Tapi… bagaimana dengan jantungku?” bisik Bong Soon seorang diri.

Ryung, sebagai Iljimae, datang ke tempat yang ditunjukkan dalam surat. Di sana, sudah ada banyak prajurit yang berjaga, termasuk Chun dan Shi Hoo. Mereka mengepung Iljimae.
Iljimae tidak bisa melakukan apa-apa karena Eun Chae ada ditangan mereka. Eun Chae pingsan, digantung di atas sebuah bak besar berisi air panas.
Chun membuka topeng Iljimae. “Ikat dia!” perintah Chun pada Shi Hoo.
“Aku tidak ingin ia melihat wajahku.” kata Ryung pada Shi Hoo. Shi Hoo kemudian memasang kembali topeng Ryung.
Eun Chae sadar dan melihat Iljimae.
“Apa yang kau inginkan saat mencuri di rumah bangsawan?” tanya Chun.
“Warga tidak bersalah hidup menderita. Bahan makanan dicuri.” jawab Iljimae.
“Apa tujuanmu yang sebenarnya ingin menyusup ke istana?” tanya Chun lagi. “Apa yang ingin kau curi?”
“Aku ingin mencari tahu kebenaran.”
“Kebenaran apa?”
“Kebenaran yang sedang kucari dan aku tahu kalau kau tahu.” kata Iljimae tanpa rasa takut.
“Sepertinya satu jari tidak cukup.” Chun tersenyum. “Apa kau ingin aku mencabut nyawanya?”

Bong Soon mencari Kong He dan memintanya menolong Ryung. “Tolong selamatkan Ryung-ku.”
Kong He berpikir sejenak dan segera berlari pergi.

Ryung digantung dengan tali dan diberikan tiga beban. Tali tersebut disambungkan dengan tali yang mengikat Eun Chae.
“Katakan hal yang sebenarnya.” kata Chun. “Aku hitung sampai tiga. Satu.”
Salah satu anak buah Chun melepaskan satu beban yang terikat ke badan Ryung. Eun Chae turun mendekati bak air panas.
“Siksa saja aku.” teriak Ryung.
“Dua.” Satu lagi beban dibadan Ryung diambil. Eun Chae merosot lagi.
“Turunkan dia dulu dan aku akan menjawab pertanyaanmu!” teriak Ryung.
“Tiga.”
“Tidak, tidak!” seru Ryung panik.
Anak buah Chun menahan Ryung. Eun Chae selamat.
“Aku beri kau satu kesempatan lagi.” kata Chun. “Apa yang ingin kau curi?”
Ryung diam.
“Sepertinya gadis ini tidak penting untukmu. Bagus sekali. Aku akan membunuhnya.”
“Baik!” Akhirnya Ryung berkata. “Hal yang ingin aku temukan… ada disini… di dadaku. Aku tidak berbohong!”
Chun mengangguk pada anak buahnya, mengisyaratkan agar mereka menurunkan Ryung dan mencari benda tersebut di dalam baju Ryung.
Ryung memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang anak buah Chun dan mengikat tali itu ke badan salah satu prajurit, namun ia tidak bisa berbuat banyak karena ia dikepung. Chun berjalan mendekati dan mengeluarkan pedangnya untuk memotong tali. Shi Hoo menghempaskan pedang Chun.
“Jangan bunuh dia.” kata Chun pada pasukannya. “Kita butuh dia hidup-hidup.” Ia kemudian berpaling pada Shi Hoo. “Apa yang kau lakukan?”
Shi Hoo mengarahkan pedang ke leher Chun.
Dengan secepat kilat, Ryung menghajar pasukan Chun dan mengalahkan mereka satu per satu.
Tali yang menggantung Eun Chae makin menurun dan Eun Chae makin mendekati bak. Shi Hoo menahan tali itu. Ryung melompat dan menangkap Eun Chae, kemudian menariknya pergi.
Kong He datang terlambat. Ketika sampai di tempat itu, Ryung dan Eun Chae sudah tidak ada.

Ryung menggandeng Eun Chae, melarikan diri. Shi Hoo mendadak menyerang Ryung.
“Kenapa kau menolongku?” tanya Ryung.
“Aku tidak menolongmu.” jawab Shi Hoo dingin. “Aku ingin menangkapmu.”
“Ada hal yang harus kucari. Sebelum aku menemukannya, aku tidak akan membiarkan siapapun menangkapku. Tidak akan pernah.”
Ryung bertarung melawan Shi Hoo. Shi Hoo kalah. “Bunuh aku!”
“Jangan!” teriak Eun Chae. “Tolong ampuni nyawa kakakku!”
Ryung terdiam. “Aku tidak akan membunuh siapapun.” katanya. “Aku ingin menggunakan pedangku untuk menyelamatkan orang. Ayahku yang mengajarkan itu padaku.”
Ryung mengajak Eun Chae pergi.
“Jangan pernah kau menunjukkan punggungmu lagi padaku seperti itu!” seru Shi Hoo. “Jika tidak, aku akan membunuhmu walaupun itu berarti aku harus menyerangmu dari belakang! Aku akan menghabisi siapapun yang berdiri di jalanku!”

Ryung membawa Eun Chae ke markas persembunyiannya dan mengobati lukanya.
“Mungkin luka itu akan membekas.” kata Ryung. Ia mengeluarkan potongan jari Eun Chae yang disimpannya. Namun jari Eun Chae masih utuh.
Ternyata itu adalah jari kelingking Shi Hoo. Ia memotong jarinya sendiri.

“Beraninya kau lakukan itu padaku!” ujar Chun pada Shi Hoo. “Kau mencintai gadis itu, bukan?”
Chun mengangkat pedangnya, hendak menebas Shi Hoo.

Rumah pandai besi Ryung dikepung oleh Moo Yi dan pasukannya.
Bong Soon, yang menyamar menjadi Iljimae, mengintip mereka. Ia kemudian keluar, agar para pasukan itu melihat dan mengejarnya.
Moo Yi dan pasukannya mengejar Bong Soon. Kong He melihat hal itu dan berlari mengikuti.

“Di sini aman. Tetaplah tinggal.” kata Ryung, bangkit dari duduknya. “Aku akan memanggil seseorang untuk menemanimu.”
“Jangan pergi!” seru Eun Chae. “Diluar sangat berbahaya.”
“Aku harus pergi. Aku harus mencari sesuatu. Saat ini, aku hampir menemukannya.”
Ryung berbalik dan hendak berjalan pergi. Eun Chae memeluknya dari belakang.
“Kau adalah cinta pertamaku.” ujar Eun Chae. “Juga cinta terakhirku. Sekali… Hanya sekali ini saja… Izinkan aku melihat wajahmu. Walaupun aku hanya bisa merindukan dan mencintaimu dalam hati sepanjang hidupku… Izinkan aku untuk hidup seperti itu.”
Ryung berbalik menghadap Eun Chae.
Eun Chae mengulurkan tangan, menyentuh topeng yang dikenakan Iljimae..

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Iljimae – Episode 17

Shi Wan dan kedua anak buahnya mengantarkan seseorang yang diangkat dengan tandu pada Shi Hoo. Ia menunduk dan bersalah. “Kita tidak tahu apa yang dia dengar.” ujar Shi Wan, melihat iba ke orang yang tertutup kain itu.
Shi Hoo membuka penutup kain. “Ayah!” serunya seketika ketika melihat Swe Dol sekarat dan babak belur. Ia mendongak marah pada Shi Wan. “Apa maksud semua ini?!”
“Aku.. aku tidak tahu.” kata Shi Wan.
“Ayah!” Shi Hoo bergegas membawa dan membopong Swe Dol di punggungnya. Shi Wan membantunya.

Ryung kembali ke markas persembunyiannya, dan terkejut melihat kertas target yang ada di dinding menghilang. Baju hitamnya yang digantung pun ikut menghilang. Di sana, ia juga melihat pembuka gembok tergeletak di meja.
Ryung teringat peristiwa saat ia menyandari pintu dan terjatuh, kemudian bagaimana ayahnya mengajarinya membuka gembok
“Ayah!” serunya, lalu berlari keluar.

“Aku tidak bisa bernafas…” gumam Swe Dol ketika Shi Hoo menggendongnya.
“Bertahanlah sebentar lagi.” kata Shi Hoo cemas. “Aku akan membawamu ke tabib.”
“Jangan! Bawa aku pulang.” kata Swe Dol. “Aku ingin melihat Dan Ee. Bawa aku pada Dan Ee.”
Shi Hoo menangis.
“Ja Dol, jangan terlalu keras pada ibumu.” kata Swe Dol. “Ibumu tidak melakukan sesuatu yang salah. Salahkan saja semuanya padaku.”
“Jangan bilang begitu, Ayah.” tangis Shi Hoo. “Bicara akan membuatmu makin lelah. Tolong jangan katakan apa-apa lagi.”
“Ja Do, Ryung bergantung padamu.” kata Swe Dol, berusaha sekuat tenaga untuk bicara. “Tolong jaga dia. Dia adalah anak yang sangat malang. Ja Dol… dan Ryung… kalian berdua adalah putraku. Kalian adalah saudara kandung. Bersikaplah seperti saudara kandung. Jangan bertengkar. Kalian berdua harus saling menyayangi.”

Ryung berlari menuju rumah Suh Young Soo. Di sana, ia mendengar kedua pelayan di rumah tersebut berbincang. “Beraninya dia menyamar menjadi Iljimae kita.” kata seorang pelayan. “Dia hanyalah seorang maling yang pendek dan ompong.”
Ryung menjadi cemas bukan main dan menemui Shi Wan. Shi Wan ikut merasa sedih untuknya. “Cepatlah pulang dan lihat apa yang terjadi.” katanya pada Ryung.

Shi Hoo membawa Swe Dol pulang.
“Ada apa?” tanya Dan Ee pada Shi Hoo. Ia melihat orang yang dibawa Shi Hoo, kemudian panik. “Bagaimana? Bagaimana bisa?”
Mereka membawa Swe Dol masuk ke rumah.
“Aku akan memanggil tabib.” kata Dan Ee. Shi Hoo memegang tangan Dan Ee untuk menahannya, kemudian menggeleng.
“Kau pasti masih sangat sibuk.” ujar Swe Dol pada Shi Hoo, berusaha mengerahkan kekuatannya untuk bicara. “Kembalilah.”
Shi Hoo menangis. “Ayah…”
“Aku tidak akan mati. Jangan khawatir. Aku… ingin mengatakan sesuatu pada ibumu.”
“Aku akan datang lagi besok.” kata Shi Hoo seraya beranjak pergi.
Dan Ee mengenggam tangan Swe Dol.
“Dan Ee-ku yang cantik…” Swe Dol tersenyum. “Maafkan aku. Aku selalu menginginkan kau, Ryung dan aku… hidup bahagia… sampai hembusan nafas kita yang terakhir.”
“Kita akan hidup bahagia selamanya.” kata Dan Ee meyakinkan.
“Maafkan aku… Aku sungguh minta maaf.. Aku telah membuatmu hidup dalam kesengsaraan selama ini…”
“Jangan bilang begitu.” Dan Ee menangis. “Kau tidak pernah melakukan hal yang salah. Akulah… Akulah yang tidak pernah memperlakukanmu dengan baik.”
“Tuan itu… Tuan itu…” Swe Dol mulai tidak bisa membuka matanya. Tuan yang dia maksud adalah Lee Won Ho. “Tuan itu tidak memerintahkan siapapun untuk membunuhmu. Dia bahkan memberiku uang… kemudian menggenggam tanganku erat… dan berkata bahwa kau sangat berharga. Dia juga menyuruhku membawamu pulang dan hidup bahagia bersamamu…” Swe Dol kehilangan napasnya sejenak, kemudian melanjutkan. “Tapi aku tidak pernah mengatakannya padaku.. karena… aku takut kau tidak akan pernah membuka hatimu untukku… Aku minta maaf.. Aku benar-benar minta maaf…”
“Itu tidak penting lagi… Hanya ada kau di hatiku… Sudah lama aku merasa seperti itu…”
“Dan Ee…”
“Aku takut..” tangis Dan Ee makin merebak. “Aku takut jika berpikir mungkin kau akan pergi meninggalkan orang seperti aku… Jika kau meninggalkan aku… entah akan menjadi seperti apa aku…”
“Terima kasih… Terima kasih karena sudah hidup bersama orang tidak berguna sepertiku… Dan Ee yang cantik… Dan Ee-ku yang cantik…”
Dan Ee panik melihat Swe Dol mulai kehabisan napas dan memejamkan matanya. “Jangan tidur.. Tolong jangan tidur!” serunya. Dan Ee dengan panik mengambil lipstik dan mengenakannya. “Lihat! Lihatlah bibirku! Bibirku.. Apakah bibirku cantik?”
Swe Dol tidak menjawab. Ia mengangkat tangannya untuk menghapus air mata Dan Ee.
“Ya.. kau cantik… kau sangat cantik…” ujar Swe Dol berbisik. “Apa kau sudah memasak nasi kering?”
“Apa?”
“Ryung… Saat ia pulang besok pagi, ia pasti ingin makan nasi kering.”
“Aku tahu.” ujar Dan Ee menenangkan. “Aku akan memasak nasi untuk Ryung.”
“Ya… Anakku yang sangat malang… Dua anakku yang sangat malang… Aku akan membawa semua kesalahanku ke dunia lain…”
Swe Dol meninggal.

Hari sudah cerah. Shi Hoo datang lagi ke rumah Swe Dol dan menangis mengetahui ayahnya itu sudah meninggal. Ketika mendengar Ryung tiba, ia bersembunyi.
Ryung berlari pulang ke rumah. Ia menyembunyikan perasaannya dan berteriak dengan suara serak, “Ayah! Dan Ee! Aku lapar!”
Tidak ada jawaban dari dalam. Ryung bergegas berlari masuk dan ketakutan melihat Swe Dol berbaring diam tak bergerak.
“Ayah!” panggil Ryung seraya menggoncang-goncangkan tubuh Swe Dol untuk membangunkannya. “Ayah! Apa yang terjadi padamu? Kenapa dengan wajahmu?”
Ryung menggoncang-goncangkan tubuh Swe Dol makin keras. “Ayah! Buka matamu!” Ryung menangis semakin keras. “Ayah, bangun! Kenapa kau masih tidur saat matahari sudah terbit? Tolong bangun, ayah! Bangun… Bangun, ayah…”
Ryung memeluk ayahnya dan menangis sangat keras. Dan Ee memeluk Ryung untuk menenangkan.

Di tempat yang berbeda, Raja (pura-pura) menangisi kematian putranya. “Putraku!” teriaknya sedih.

Dan Ee dan Ryung membawa pergi jenazah Swe Dol.
Dae Shi, Kong He, Bong Soon, ayah Heung Kyun dan teman-teman Swe Dol yang lain mengantar kepergian Swe Dol.
“Mereka menuduhnya memberontak.” kata Ayah Heung Kyun, menangis. “Mereka juga tidak mengizinkannya untuk dimakamkan dengan layak.”
“Kenapa mereka begitu kejam?” tanya Ayah Seung Seung menangis menatap kepergian Swe Dol.
“Swe Dol!” teriak Ayah Heung Kyun. “Swe Dol!”
“Paman…” Dae Shi menangis sedih, memegangi Deok yang terjatuh lemas.
Shi Hoo menatap kepergian Swe Dol dari jauh.

Dan Ee terpuruk dalam kesedihan, namun mencoba bersikap tegar di depan orang lain.
Shi Hoo menatap ibunya dengan sedih, namun tidak bisa menghiburnya.

Shi Wan menemani dan mencoba menghibur Ryung dengan mengajaknya minum. Namun Ryung tidak bisa melupakan ayahnya dan terus menangis.
Nyonya Han mengantarkan minum pada mereka dan melihat Ryung menutupi wajahnya sambil menangis. Penasaran, namun Nyonya Han tidak bisa bertanya.

Nyonya Han kemudian mengantarkan minuman pada Shi Hoo, yang juga minum di tempat yang sama, namun beda kamar.
Di kamar itu, Shi Hoo juga menangis.
“Ada apa, Tuan Muda?” tanya Nyonya Han.
“Maafkan aku, Ayah… Maafkan aku…” gumam Shi Hoo.

Ryung mabuk berat dan tertidur. Shi Wan mencoba membangunkannya, namun Ryung tidak bergerak sama sekali. “Teman baikku, aku minta maaf. Aku lupa mambawa uang.” gumamnya. Ia mencari-cari uang di badan Ryung dan menemukan sebuah perhiasan di dalam baju Ryung.
“Apa ini?” gumamnya. Ia berpaling pada gadis menghibur. “Apa ini bisa dipakai sebagai pembayaran? Aku akan membawa uangnya nanti.”
“Ya, tentu saja.” jawab si gadis penghibur itu, menerima perhiasan milik Lee Won Ho.
Shi Wan menggendong Ryung dipunggungnya dan hendak pulang. Nyonya Han tiba-tiba memanggil mereka. “Tuan, tunggu sebentar. Di luar sangat dingin dan berangin. Tolong pakai ini.” Nyonya Han menyampirkan sebuah mantel di badan Ryung.

Ryung terbangun keesokan hari di kamarnya. Saat bangun ia sudah melihat sebuah meja berisi makanan di sampingnya. Ryung melihat makanan itu. Ada nasi, sup, sayur, lauk dan nasi kering. Melihat nasi kering itu, Ryung teringat masa kecilnya ketika Swe Dol menyuapinya nasi kering. Ryung memakan nasi kering tersebut dan menangis.

“Kenapa kau membunuh ayahku?” tanya Ryung, bicara pada dirinya sendiri. “Memang apa yang ayahku dengar? Aku tidak akan melepaskan tangamu, Ayah!”
Ryung menusukkan pisau ke kertas target di dinding. Jenderal Suh Young Soo.

Malamnya, Iljimae menyusup ke rumah Suh Young Soo, namun menemukan pria itu sudah mati. Suh Young Soo memang tidak tahu-menahu tentang kematian Swe Dol.
Ketika Iljimae menyadari bahwa Suh Young Soo sudah mati, para penjaga memergokinya sehingga mereka berpikir Iljimae-lah yang telah membunuh Tuan Besar mereka.

Keesokkan harinya, sebuah kertas pengumuman di tempel. Di sana tertulis, ‘Iljimae Pembunuh Suh Young Soo’.
“Kita semua dibodohi!” seru Dae Shi. “Dia bertindak seolah-olah dia adalah pencuri berbudi, seorang pahlawan.”
“Bukankah kau pernah bilang kalau Iljimae adalah pahlawan di hati masyarakat?” tanya Ryung.
“Memangnya aku pernah bilang?” tanya Dae Shi mengelak.
“Aku yakin mereka salah menuduh pahlawan kita!” kata Ayah Heung Kyun.
Ryung bingung dan berpikir keras. “Siapa yang membunuhnya?” pikirnya. “Aku menemukan orang yang membunuh ayahku, tapi… Siapa yang membunuhnya?”

Ryung berlari untuk menemui Shi Wan agar ia bisa ikut melihat jenazah Suh Young Soo. Di sana, Ryung terkejut melihat lambang Jeonwoohoe di dada kiri Suh Young Soo.
“Setelah membuatnya kaku,” Shi Hoo menjelaskan. “Dia membunuhnya dengan menusuk titik daerah vital di dada.”
Flashback. Chun membunuh Suh Young Soo.
“Dia adalah pembunuh profesional.” kata tabib yang memeriksa jenazah Suh Young Soo.

“Kita hanya melempar satu batu, namun kita berhasil membunuh dua burung.” ujar Byun Shik, tertawa menang.
Raja tersenyum sinis. “Kita akan membuka topeng Raja para rakyat itu.” Ia berpaling pada Chun. “Sa Chun, bawa Lee Kyung Sub kemari.”
Lee Kyung Sub masuk dan berlutut di depan Raja.
“Aku sudah mecoba untuk membujuk Suh Young Soo, namun is tidak mau mendengar.” kata Lee Kyung Sub ketakutan. “Yang Mulia, kau harus percaya pada kesetiaanku.”
“Aku juga mendengarnya.” ujar Raja. “Aku tidak akan menyakitimu. Jangan khawatir. Mereka semua mati karena mengkhianatiku. Situasi menjadi seperti ini, aku juga merasa sedih. Orang yang memuatku marah saat ini bukan kau, melainkan Iljimae. Kita harus menangkapnya agar hati masyarakat menjadi tenang. Kau harus membantuku.
“Ya, Yang Mulia.”
“Kau boleh pergi!” ujar Raja. Ia berpaling pada Chun. “Chun…”
“Ya, Yang Mulia. Aku sudah menyiapkan anak buahku.” kata Chun, mengerti yang dimaksud Raja.

Shi Hoo berpikir di perpustakaan dan mencoba memecahkan teka teki lambang yang terukir di dada kiri para anggota Jeonwoohoe korban pembunuhan.
Shi Wan masuk ke perpustakaan itu dan melihatnya. Tiba-tiba seorang pengawal memanggil Shi Hoo dan mengajaknya keluar.
Shi Wan memanfaatkan kesempatan ini untuk melihat kertas yang sedang ditulis oleh Shi Hoo.
Shi Wan membawa kertas tersebut keluar dan menunjukkannya pada Ryung.
“Aku benar-benar tidak mengerti!” kata Shi Wan. “Dia melihat gambar ini dan berpikir dalam-dalam. Aku yakin pasti ada sesuatu pada gambar ini.”
Ryung berpikir, kemudian tersenyum. “Aku juga tidak tahu.”

Malam harinya, Iljimae menyusup ke rumah Lee Kyung Sub, satu-satunya anggota pusat Jeonwoohoe yang masih hidup.
Lee Kyung Sub tahu Iljimae akan datang. Ia kemudian masuk ke dalam baju perang yang dipajang di ruangan itu, hendak menangkap Iljimae agar nyawanya diampuni Raja.
Iljimae menuju ruang penyimpanan senjata dan mencari pedang dengan lambang. Mulanya ia tidak menyadari kalau Lee Kyung Sub bersembunyi di dalam baju perang yang dipajang di ruangan itu dan memata-matainya. Namun ia akhirnya tahu dan mengganjal kotak tempat baju perang dipajang agar Lee Kyung Sub tidak bisa keluar.
Iljimae tidak menemukan pedang yang dimaksud. Ia kemudian mencuri salah satu barang berharga dan kemudian pergi.

Di lain sisi, Shi Hoo masih terus berpikir tentang lambang di dada kiri para korban pembunuhan. Ia berniat pergi menemui anggota pusat Jeonwoohoe yang tersisa, yaitu Lee Kyung Sub.

Dengan diam-diam, Iljimae membuka ganjalan kotak baju perang. Lee Kyung Sub keluar dan Iljimae mengarahkan pedang padanya.
“Kenapa kau membunuhnya?” tanya Iljimae.
“Siapa?” tanya Lee Kyung Sub bingung.
“Pencuri yang masuk ke rumah Suh Young Soo saat kau ada di sana!” seru Iljimae. “Memangnya kesalahan apa yang sudah dilakukannya?!”
Lee Kyung Sub diam-diam mengambil pedang dan bertarung dengan Iljimae.
Pelayan Lee Kyung Sub, yang merupakan anak buah Chun, memata-matai mereka dan sudah bersiap dengan pedang di tangannya. Pelayan itu berlari menemui Moo Yi.
“Apa kau sudah membunuhnya?”tanya Moo Yi.
“Aku baru mau membunuhnya, tapi tiba-tiba Iljimae muncul.” kata pelayan itu.
Moo Yi berniat mengambil tindakan.

“Apa kau tahu bahwa dia adalah orang yang sangat penting untukku?!” seru Iljimae pada Lee Kyung Sub ditengah-tengah pertarungan mereka. Iljimae menyerang Lee Kyung Sub dengan membabi-buta. “Dia adalah tanganku! Dia adalah kakiku! Dia adalah jantungku! Dia segalanya bagiku!” Pada kenyataannya memang Lee Kyung Sub tidak tahu apa-apa.
Iljimae menyerang Lee Kyung Sub dan tidak sengaja merobek bajunya. Ia melihat lambang di dada kiri pria itu, kemudian menunjukkan lambang di dada kirinya sendiri.
“Jadi, kau adalah… putra Lee Won Ho…” Lee Kyung Sub terkejut dan hendak mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba sebuah pisau melayang dari belakang mereka dan membuat Lee Kyung Sub terbunuh.
Iljimae mengejar si pembunuh.
Shi Hoo melihat Iljimae lari dan kemudian mengejarnya.
Terjadi pertarungan antara Moo Yi dan Iljimae. Dengan mudah, Iljimae bisa mengalahkan Moo Yi, namun Moo Yi lari bersembunyi. Ditambah lagi masalah baru muncul. Shi Hoo tiba-tiba datang dan menyerang Iljimae sehingga mmebuat Moo Yi punya kesempatan untuk kabur.
Iljimae melawan Shi Hoo. Kemampuan bela diri Ryung berada jauh di atas Shi Hoo dan berhail mengalahkannya.
Ryung menatap benci pada Shi Hoo, teringat bahwa Shi Hoo-lah yang telah menyebabkan kematian kakaknya. Terbesit keinginan kuat untuk membunuh Shi Hoo, namun Ryung menahan keinginan tersebut dan mengampuni Shi Hoo, lalu berjalan pergi.
Shi Hoo tidak bisa terima. Ia mengambil pedang dan menyerang Ryung dari belakang. Ia menebas dada Ryung dan tanpa sengaja memotong tali ikatan topeng Ryung.
Ryung memegang topengnya yang hampir terjatuh dan bergegas lari sebelum Shi Hoo sempat melihat wajahnya.

Ryung melarikan diri ke tengah hutan. Di sana, ia bertemu dengan Pemburu Jang.
“Ryung!” seru Pemburu Jang, melihat Ryung. Ryung segera memasang topeng yang dipegangnya, namun terlambat. “Ryung! Geom!”
Ryung berniat lari, namun Pemburu Jang menahannya. “Jangan khawatir.” katanya. “Aku tidak akan menyerahkanmu. Kau telah menyelamatkan putraku, Eun Bok. Kau adalah penyelamat kami. Aku tidak melihat apapun.” Pemburu Jang menyentuh dada Ryung. “Darah! Apa kau sedang dikejar? Cepat lari ke arah sana!”
Beberapa saat kemudian, Shi Hoo muncul dan bertanya apakah ia melihat seseorang berpakaian hitam. Pemburu Jang menunjuk ke arah yang berlawanan dengan arah Ryung pergi. Namun sayang sekali, Eun Bok datang dan dengan polosnya berkata, “Tapi tadi aku melihat orang berpakaian hitam ke sebelah sana!” Tunjuknya ke arah jalan Ryung pergi.
Pemburu Jang memberi isyarat pada putranya yang bodoh itu agar diam, tapi Eun Bok terus bicara. “Ia jalan terpincang-pincang. Aku sangat takut.”
“Itu pasti babi liar.” kata Pemburu Jang. “Kau pasti salah lihat.”
Shi Hoo bergegas berlari ke arah yang ditunjuk Eun Bok.
Pemburu Jang memukul kepala putranya.

Ryung sekarat dan merasa tidak mampu bertahan. Ia terjatuh di tanah.
“Ryung! Ryung!” terdengar sebuah suara dari alam bawah sadarnya. Itu adalah suara Dan Ee. “Ryung, bertahanlah. Kau tidak boleh mati di sini.”
“Ibu…” Ryung berusaha berdiri.
Shi Hoo melihatnya dari belakang dan mengikutinya diam-diam.

Ryung, masih dengan memakai kostum Iljimae, sampai di rumahnya saat matahari sudah muncul. Dan Ee keluar dan melihatnya.
“Ryung! Ryung!” teriak Dan Ee panik. “Bangun, Ryung!”
Shi Hoo terkejut melihat Iljimae yang diikutinya ternyata adalah Ryung.
Dan Ee membawa Ryung masuk dan mengganti bajunya. Ia hendak menyembunyikan baju Iljimae, namun Shi Hoo muncul di hadapannya.
“Ja Dol…”
“Ibu, serahkan dia padaku.” ujar Shi Hoo, menggenggam erat pedangnya.
Dan Ee melihat darah di pedang Shi Hoo. “Ja Dol, jangan lakukan itu! Tolong jangan lakukan itu!” Dan Ee menghalangi Shi Hoo membawa Ryung.
“Minggir, Ibu! Apa kau tahu hukumannya bila menyembunyikan pencuri ini!”
“Ja Dol, aku mohon padamu, jangan lakukan ini!” teriak Dan Ee. “Tolong ampuni Ryung!”
“Kau memperlakukan anak ini dengan baik dan menganggapnya sebagai anakmu sendiri!” seru Shi Hoo. “Ayahku mati karena dia! Alasan kenapa ayah memakai pakaian hitam dan menyusup ke rumah itu… Akhinya aku mengerti! Dia melakukannya untuk melindungi anak ini!”
“Ja Dol..”
Shi Hoo mengempaskan ibunya. “Minggir! Jika kau tidak mau minggir, aku akan membunuhnya di sini sekarang juga!” Shi Hoo mengangkat pedanganya.
“Dia adalah adik kandungmu!” teriak Dan Ee panik. “Kau dan anak ini… memiliki darah yang sama.”
Shi Hoo menurunkan pedangnya. “Bukankah kau bilang bahwa kau mengadopsi dia?”
Dan Ee tidak menjawab. Ia memanggil tabib Song untuk mengobati Ryung. Setelah tabib Song pergi, Dan Ee bicara dengan Shi Hoo.
“Kau pikir aku akan mempercayai kata-katamu?” ujar Shi Hoo. “Pertama, kau bilang aku anak bangsawan Byun Shik. Setelah itu, kau bilang aku anak Swe Dol. Sekarang… kau bilang bahwa aku adalah anak seorang pemberontak. Siapa pemberontak itu?”
“Aku tidak bisa mengatakannya.” jawab Dan Ee. “Ini untuk kebaikanmu sendiri. Juga untuk kebaikan anak itu.”
“Apapun yang terjadi, kau selalu memperhatikan anak itu.”
“Dia adalah anak yang sangat malang.” kata Dan Ee sedih.
“Ayah juga bilang dia anak yang sangat malang!” Shi Hoo mulai merasakan kemarahan yang lebih dalam dirinya.
“Kau harus menjaga anak itu.”
“Menjaganya?” Shi Hoo memandang ibunya. “Dengar baik-baik ibu, dia adalah pencuri paling dicari di Chosun, dan aku adalah pengawal Istana Terlarang. Hanya dengan menangkapnya, maka aku bisa menjadi seorang bangsawan seperti yang kau inginkan.”
“Dia adik kandungmu.”
“Sejak kau mencampakkan aku, aku bukan lagi putramu, tapi aku adalah putra bangsawan Byun Shik. Hari ini aku akan mengampuninya. Tapi jika ia mencuri dan aku menangkapnya lagi, maka aku akan membunuhnya tanpa ragu!”
Shi Hoo berjalan pergi tanpa menoleh lagi.

Iljimae lagi-lagi dituduh melakukan pembunuhan. Kali ini ia dituduh membunuh Lee Kyung Sub.
Kong He melihat papan pengumuman dengan curiga.
Saat itu, Moo Yi dan Chun sedang berjalan di kota. Moo Yi melihat Kong He dari jauh dan mendekatinya (Chun tidak melihat Kong He).
Chun mendengar pembicaraan dua orang pengawal yang memasang pengumuman. Mereka berkata bahwa Iljimae lebih baik dibanding Raja yang sekarang.
Chun marah mendengarnya. “Beraninya kau menertawai Tuhan-ku!” seru Chun seraya membunuh kedua pengawal itu.

Kong He membersihkan kandang kuda. “Kenapa kau hidup seperti ini?” tanya Moo Yi. “Kau meninggalkan istana untuk hidup seperti ini?”
Kong He tertawa. “Memangnya ada yang salah dengan hidupku?”
“Ayo kita kembali ke istana bersama.” ajakr Moo Yi. “Yang Mulia pasti sangat senang.”
“Bagiku, ini adalah istanaku.” tolah Kong He.
“Kakak!” protes Moo Yi.
“Ayah! Kemari!” panggil Bong Soon dari jauh.
“Aku akan kesana!” jawab Kong He. Ia berpaling lagi pada Moo Yi. “Pergilah. Aku tidak ingin putriku melihatmu.”
“Dia adalah gadis yang waktu itu?” tanya Moo Yi. “Apa dia tahu bahwa kita telah membunuh kakaknya? Jika dia tahu dan tetap bersedia tinggal bersamamu…”
“Pergi! Jangan pernah menemuiku lagi. Aku yang dulu sudah lama mati.”
Bong Soon mendengar pembicaraan mereka. “Apa yang dia katakan?” tanya Bong Soon shock. “Membunuh kakakku?”
“Bong Soon…”
“Ayah, jadi kaulah orang yang membunuh kakakku?” tanya Bong Soon, menatap Kong He dalam-dalam. “Dan ingin membunuhku juga? Membunuh ayahku? Ibuku? Warga desa? Mereka semua dibunuh olehmu?”
Kong He menunduk.
“Kenapa?!” teriak Bong Soon menangis. “Kenapa kau membunuh mereka semua?”

Ryung akhirnya sadar. “Benar!” serunya, mulai menyadari duduk permasalahan. “Orang yang telah membunuh ayah, adalah orang yang sama dengan yang membunuh mereka semua!”
Ryung bergegas bangkit dari tidurnya dan menemui Shi Wan.
“Kudengar Iljimae membunuh lagi?” tanya Ryung. “Apa ada saksi mata?”
“Ya.” jawan Shi Wan. “Pelayannya melihat pembunuhan itu. Katanya, Iljimae menusuk Lee Kyung Sub dengan sebuah pisau kecil.”
“Apa pisau itu langsung menusuk lurus?” tanya Ryung.
“Pisau itu miring.”
“Aku mencium sesuatu di sini.” Ryung memberi petunjuk.
“Mencium apa?” Shi Wan mencium tangan dan bajunya.

Ryung mengajak Shi Wan untuk memperagakan teknik melempar pisau. “Lihat, Tuan!” kata Ryung. “Yang ini adalah posisi pisau jika ditusukkan langsung, sedangkan yang ini adalah posisi pisau jika pisau tersebut dilempar dari jauh. Jika pisau yang ditusukkan langsung, maka pisau tersebut akan menusuk lurus ke dalam. Apalagi jika kau memang berniat membunuh seseorang. Kau pasti akan menggunakan seluruh kekuatanmu.”
Ryung menunjuk ke pisau yang satu lagi. “Sedangkan pisau yang dilempar, tidak peduli sehebat apapun si pembunuh dalam melempar, ia pasti tidak akan bisa menusuk sedalam pisau yang ditusukkan langsung.”
“Oh!” Shi Wan akhirnya mengerti. Ia menjelaskan trik tersebut di depan seluruh aparat kepolisian dan pengawal.
“Kau!” tuding Shi Wa pada pelayan Lee Kyung Sub. “Kenapa kau berbohong dan mengatakan bahwa Iljimae-lah yang membunuh Lee Kyung Sub?”
Pelayan itu ketakutan.
“Kau, kan? Kaulah yang telah membunuh Tuan Lee Kyung Sub.”
“A.. a.. aku hanya melakukan apa yang diperintahkan.” kata si pelayan gemetaran. Sebelum pelayan itu sempat bicara lebih jauh, sebuah pisau melayang dari belakang dan membunuh pelayan tersebut.
Shi Hoo dan yang lainnya mengejar si pembunuh keluar. Ryung mendekati pelayan itu.
“Siapa yang menyuruhmu?!” tanya Ryung.
“Byun… Shik…” jawab si pelayan, kemudian meninggal.

Ryung kembali ke markas persembunyiannya. Dilihatnya sejenak sapu tangan milik Eun Chae, lalu membuang sapu tangan tersebut ke perapian. “Dia.. adalah putri musuhku..”
Ryung melempar panah ke kertas target di dinding. Byun Shik.

Iljimae mengirim kertas berlukiskan bunga Mae Hwa ke rumah Byun Shik, pertanda bahwa ia akan mencuri di rumah itu.
Ia kemudia pergi melihat pohon Mae Hwa besar dan mengingat kenangannya bersama Eun Chae. Ia memanggil Eun Chae agar datang ke sana.
“Apa kau ingin mengatakan sesuatu padaku?” tanya Eun Chae, tersenyum senang karena melihat Iljimae.
“Kita tidak akan saling bertemu lagi mulai sekarang.” kata Iljimae dingin.
“Maaf?” tanya Eun Chae tidak mengerti.
“Kupikir kau adalah seorang putri bangsawan yang cerdas, tapi ternyata maksudku yang begini saja kau tidak mengerti.” kata Iljimae, menatap Eun Chae tajam. “Yang ingin kukatakan adalah bahwa kau sudah tidak berguna lagi untukku.”
“Kenapa kau bersikap aneh seperti ini?”
“Apa kau benar-benar percaya bahwa aku adalah seorang pahlawan?” Iljimae terus berkata sinis. “Luka ditanganku saat itu, akulah yang membuatnya sendiri. Aku melakukannya untuk melihat buku di kamarmu. Kau mengerti sekarang? Aku hanya ingin memanfaatkan putri bangsawa Byun Shik.”
“Jadi.. hatimu.. juga kebohongan?”
“Dari awal memang tidak ada yang nyata.” jawab Iljimae acuh. “Aku hanya ingin bermain denganmu untuk bersenang-senang. Kupikir putri bangsawan Byun Shik yang cerdas pasti sulit didapatkan, tapi ternyata sangat mudah.”
Eun Chae mengepalkan tangan dan meneteskan air matanya.
“Terima kasih.” Iljimae melanjutkan. “Berkat kau, aku berhasil mendapatkan uang yang sangat banyak.”
Iljimae pergi.
Eun Chae menangis.

Shi Wan dan para pengawal menjaga rumahnya. Eun Chae sampai ke rumah dan bertanya pada kakaknya apa yang terjadi.
“Iljimae akan datang.” jawab Shi Wan.
Byun Shik menjaga barang-barang berharganya dengan hati-hati, kemudian bersembunyi di sebuah ruangan rahasia.
Iljimae menyusup masuk dan berhasil menemukan ruangan rahasia tempatnya bersembunyi. Ia mengarahkan pedang ke leher Byun Shik.
“Kelelawar…” gumam Byun Shik ketakutan. “Tolong ampuni nyawaku. Aku akan memberikan semua barang berhargaku. Tolong ampuni nyawaku…”

Eun Chae mencari ayahnya di kamarnya, namun Byun Shik tidak ada di sana. Ia mengambil pedang dan bergegas menuju ruangan rahasia.

“Kenapa kau membunuh orang-orang itu?” tanya Iljimae.
“Membunuh? Apa maksudmu?” tanya Byun Shik ketakutan.
“Suh Young Soo, Lee Kyung Sub!”
“Kau… Siapa kau sebenarnya?”tanya Byun Shik. “Tunjukkan wajahmu yang sebenarnya!”
“Shim Ki Yoon, Kwon Do Hyun dan Kim Ik Hee!” Iljimae menyebut nama para anggota Jeonwoohoe yang terbunuh. “Kau membunuh mereka semua, bukan?”
Byun Shik mencoba kabur, namun Iljimae menjatuhkan dan kemudian menginjaknya agar tidak bisa bergerak.
“Dan Lee Won Ho… apa kau juga membunuhnya?!” teriak Iljimae.
“Lee… Lee Won Ho…” Byun Shik bergumam, gemetaran. “Kau… kau…”
Iljimae mengarahkan pedang ke leher Byun Shik.
“Benar.. Benar.. Aku menyuruh orang untuk mengubur surat darah di rumahnya. Tapi saat itu, aku hanya menjalankan perintah orang lain.”
“Jangan berbohong!”
“Walaupun aku sangat tamak, tapi aku bukan pembohong!” ujar Byun Shik, berbohong. “Aku mengatakan yang sebenarnya.”
“Siapa yang memerintahkanmu?!”
“Itu… Itu…”
“Siapa yang memerintahkanmu?!!!” teriak Iljimae tidak sabar.
Tiba-tiba sebuah pedang terarah ke leher Iljimae. Eun Chae-lah yang mengarahkan pedang itu padanya.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Iljimae – Episode 16

“Kenapa dinding penjara bisa begitu mudah hancur?!” seru Shi Wan marah-marah.
Shi Hoo mengamati air kolam yang sudah habis, kemudian berjalan menuju penjara. Di sana, ia melihat ada selang yang mengarah ke dinding penjara agar lunak dan mudah dihancurkan.

Lagi-lagi Iljimae menyelamatkan warga dan berhasil memulangkan Jung Myung Seo dan Jung Yi Jong ke Cing. Popularitas Iljimae makin meningkat dikalangan masyarakat.
Mendengar itu, Swe Dol berlari ke rumah tabib Song untuk menlihat Ryung.
“Ini aneh.” ujar tabib Song pada Swe Dol. “Lukanya sudah hampir sembuh, tapi kenapa tiba-tiba jadi parah begini hanya dalam waktu satu malam?”
Swe Dol tidak menjawab dan hanya bisa menangis sedih.
“Apa kau menangis?” tanya tabib Song.
“Tidak.” jawab Swe Dol berbohong seraya mengusap air matanya.
“Kau ini.. Tenang saja, putramu tidak akan mati.” hibur tabib Song.
Ryung memejamkan mata dan menangis.

Pihak istana dibuat kalang kabut dengan masalah Jung Myung Seo ini. Banyak pihak yang bertanya mengapa istana membiarkan sikap semena-mena Jung Myung Seo pada rakyat. Bukan hanya itu. Karena pihak istana tidak menepati janji pada rakyat untuk menghukum Jung Yi Jong, maka banyak warga yang melakukan protes di depan kedutaan Cing.
“Kita tidak punya pilihan lain selain memulangkan Jung Myung Seo.” ujar Byun Shik.
“Menangkap dan menginterogasi rakyat, serta salah menuduh rakyat sebagai sekutu Iljimae merupakan kejahatan yang sangat serius.” kata Raja. Ia akhirnya TERPAKSA memutuskan untuk memulangkan Jung Myung Seo dan putranya kembali ke negeri Cing dengan alasan melakukan tindakan semena-mena pada rakyat Chosun. Selain itu, Raja juga TERPAKSA merombak ulang sistem pemerintahan. Para pejabat seperti Lee Myung, yang menggunakan jabatan untuk kepentingannya sendiri, Jung Hyun Kyu, Kim Woo Jin, dan Oh Gak Soo akan diturunkan dari jabatannya untuk membayar kesalahan mereka pada rakyat.
“Bajingan Iljimae…” gumam Raja, merasa tertekan. “Beraninya kau…”

Rakyat sangat senang melihat kepergian Jung Myung Seo dan putranya.
“Ini semua berkat Iljimae.” kata Hee Bong. “Aku akan mengangkatnya menjadi kakakku.”
Swe Dol tersenyum bangga.
“Iljimae ada raja kita!” kata ayah Heung Kyun. “Dia adalah matahari yang bersinar untuk kita.”
Kong He terdiam, kata-kata itu mengingatkannya pada sesuatu. “Raja? Apakah itu berarti…”
“Bagaimana mungkin ada 2 matahari di langit yang sama?” Kong He teringat Raja pernah berkata pada Lee Won Ho sebelum membunuhnya.
“Dimataku, dia adalah matahari yang bersinar, yang menebarkan kehangatan di hati rakyat.” Kong He teringat si peramal buta pernah berkata. “Dia dihormati oleh seluruh rakyat.”

Putra Mahkota, anak Raja, dan istrinya telah kembali dari perjalanannya. Raja menyambut mereka dengan hangat, namun pada kenyataannya ia merasa terancam.
“Jung Myung Seo telah kembali ke Cing dan pada saat yang sama Putra Mahkota kembali kemari.” kata Raja pada Byun Shik. “Aku yakin pemerintah Cing melakukan perjanjian dengan Putra Mahkota untuk menjatuhkan aku dari tahta. Sangat sulit untukku menduduki tahta ini dan sangat sulit pula untuk mempertahankannya. Aku tidak akan pernah menyerahkan tahta ini pada siapapun.”

Ryung mendapatkan kabar baik. Heung Kyun telah diterima bekerja di istana sebagai pembuat sepatu untuk anggota kerajaan
“Kau sangat hebat, kakak!” seru Ryung senang.
“Aku pasti akan merindukan kak Heung Kyun.” ujar Dae Shi sedih.
“Aku pasti akan sering keluar membeli bahan untuk membuat sepatu.” kata Heung Kyun.
“Selamat! Selamat!” seru ayah Heung Kyun menggebu-gebu. “Selain itu, kita juga punya kabar baik yang lain.” Ia menunjuk ke arah Kong He dan Shim Deok yang sedang mesra-mesranya. “Mereka akan segera merayakan pernikahan.”
“Pesta pernikahan?” seru Ryung kaget. “Mereka terlalu tua untuk menikah! Sangat memalukan!”
Ayah Heung Kyun berkata pada Ryung agar dia merencanakan sesuatu untuk kedua orang tuanya, Swe Dol dan Dan Ee.
“Merencanakan apa?” tanya Ryung, sama sekali tidak sensitif. “Oh! Apa maksudmu kedua orang tuaku tinggal bersama tanpa pernah mengadakan pesta pernikahan?”
“Bukan itu maksudku.” kata ayah Heung Kyun. “Maksudku.. mereka… maksudku kau harus merencanakan sesuatu agar mereka menghabiskan malam sebagai sepasang suami istri. Itulah kewajiban seorang anak.”

Ryung menemui Dan Ee. “Ibu, aku dengar kau dan ayah tidak pernah mengadakan pesta pernikahan.” kata Ryung.
“Kenapa tiba-tiba membicarakan hal itu?”
“Kenapa kau tidak pernah bilang padaku?” tanya Ryung, tersenyum. “Jangan khawatir, ibu! Aku akan… Setelah lenganku sembuh, aku akan meminjam uang dari geng ajik dan menyiapkan pesta pernikahan yang besar untuk kalian!”
“Apa yang akan kau lakukan dengan uang kotor itu? Kau belum keluar dari geng itu?”
“Ibu, aku hanya ingin menjalankan kewajibanku sebagai seorang anak.” Ryung berkata memelas. “Jika kau tidak suka, aku akan…”
Ryung bangkit dari duduknya dan beranjak pergi. Dan Ee kemudian mengeluarkan sekantung uang.
“Apa ini, Ibu?” tanya Ryung. Dan Ee tidak menjawab. Ryung tersenyum, menggoda Dan Ee. “Aaahh… ibu ternyata sudah mempersiapkan ini, ya? Berapa lama ibu menabung uang sebanyak ini? Ibu, aku pasti akan mengganti uang ini. Mulai sekarang, calon pengantin tidak perlu melakukan apa-apa.”
“Ingat, kau harus mempersiapkan semuanya dengan benar.” ujar Dan Ee, mencoba tidak terlihat malu-malu.
“Aku mengerti, ibu!” kata Ryung, beranjak mencari Swe Dol.

Swe Dol sedang berada di dapur, menangis seorang diri.
“Ini semua salahku.” tangisnya. “Akulah yang menyebabkan karma ini. Ryung-ku yang malang. Apa yang harus aku lakukan sekarang?”
Tiba-tiba Ryung membuka pintu. “Ayah, apa yang kau lakukan di situ?”
Swe Dol menghapus air matanya. “Ada apa, Ryung?”
“Apa ayah sudah dengar kalau paman Kong He dan bibi Shim Deok akan menikah?” tanya Ryung. “Lihat! Ayah iri pada mereka. Jangan khawatir ayah, kau masih memiliki putramu, Ryung. Aku akan menyiapkan pesta pernikahan untukmu dan Dan Ee.”
“Pernikahan apa?” protes Swe Dol. “Kami sudah terlalu tua. Jika kau bosan dan tidak ada kerjaan, lebih baik tidur saja.”
“Bukan begitu ayah, aku ingin…”
“Jangan ribut!” bentak Swe Dol. “Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok!” Lalu pergi keluar dan meninggalkan Ryung.
“Benar. Kita memang tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok.” gumam Ryung sedih. “Tapi paling tidak, aku ingin memberi sebuah pesta pernikahan untuk ayah dan ibu. Dengan begitu, aku bisa merasa sedikit lega.”

Ryung dan kawan-kawannya mulai merencanakan tugas masing-masing untuk persiapan pernikahan Dan Ee dan Swe Dol.
“Aku dan Heung Kyun akan menyiapkan pakaian pengantin dan mengatur jalannya pesta pernikahan.” kata ayah Heung Kyun.
“Aku akan mengurus makanan dan minuman.” kata Shim Deok.
“Kami akan membuat malam pengantin mereka lebih menggairahkan.” kata Kong He dan Bong Soon.
“Aku akan menyiapkan pertunjukan hiburan.” ujar Dae Shi.
Swe Dol tiba-tiba muncul dan bertanya apa yang mereka lakukan. Ryung dan yang lainnya bergegas bubar dan melakukan kegiatan masing-masing. Swe Dol terheran-heran melihat tingkah mereka.
Eun Chae mendengar tentang pesta pernikahan itu dan menawarkan penginapannya sebagai tempat perayaan pesta.
Pemburu Jang dan putranya datang ke kedai dan membawakan babi hutan untuk makanan di pesta pernikahan nanti.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Dan Ee, melihat Swe Dol duduk diam di depan rumah.
“Mereka tidak mau bermain denganku.” kata Swe Dol. Ia mengangkat ketiaknya. “Apa bau badanku aneh?”
Dan Ee tidak menjawab. Swe Dol melihat pakaian yang dibawa Dan Ee. “Apa kau menjahitkan pakaian pengantin untuk Kong He?”
Dan Ee diam saja dan masuk ke rumah.
“Ya Tuhan! Bahkan Dan Ee memperlakukan aku seperti itu? Apa aku melakukan sesuatu yang salah? Badanku tidak bau, kan? ”

Ayah Seung Seung memberi tahu Shi Hoo bahwa Swe Dol dan Dan Ee akan menikah besok. Ia meminta Shi Hoo untuk datang, namun Shi Hoo menolak. “Aku tidak ingin datang ke acara seperti itu.” tolaknya dingin.

Heung Kyun sedang bekerja di istana. Ia bertanya-tanya dalam hati apakah persiapan pesta pernikahan berjalan lancar. Tidak sengaja tangannya tertusuk pisau dan berdarah. Ia bergegas pergi ke ruang obat untuk mengobati tangannya.
Tiba-tiba seseorang berjalan masuk. Heung Kyung bersembunyi.
Pria itu membuka salah satu laci obat dan mengambil sesuatu dari dalam laci tersebut dengan diam-diam, lalu berjalan pergi.
“Dia adalah tabib istana.” gumam Heung Kyun. “Kudengar Putra Mahkota sedang sakit. Obat apa yang diambilnya diam-diam?”
Heung Kyun penasaran dan membuka laci. Laci itu ternyata berisi bagol, sejenis ramuan berbahaya yang bisa menyebabkan kematian.

Ryung menyiapkan air di dalam bak agar Swe Dol bisa mandi. “Ayah bilang semua orang menghindari ayah, kan? Itu karena ayah bau.”
Ryung membantu Swe Dol mandi. “Ayah, kanapa kau sangat kurus?” tanya Ryung sedih. “Kau pasti sangat lelah karena membesarkan aku.”
“Ada apa? Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu?” tanya Swe Dol. “Lihat, aku jadi merinding.”
“Ayah, jika… aku tidak lagi ada di dunia ini, kau harus hidup bahagia dengan Dan Ee. Janji?”
Swe Dol menjadi sedih, namun tetap bicara dengan nada santai. “Apa kau akan mati atau semacamnya? Sekarang giliranmu. Jika aku sudah tidak ada di dunia ini, kau harus hidup bahagia dengan ibumu. Mengerti?”
Ryung tertawa pahit, menahan tangis. “Bagaimana aku bisa hidup tanpamu?”
“Aku juga tidak bisa hidup tanpa Ryung!” seru Swe Dol. “Bisakah kau menggosok badanku lebih keras?”
“Maafkan aku, Ayah.” gumam Ryung dalam hati.
“Kau pasti sangat menderita, Putraku.” ujar Swe Dol dalam hati.

Hari pernikahan tiba. Ryung dan yang lainnya sibuk mempersiapkan segala sesuatu di penginapan Eun Chae untuk pernikahan.
Ryung menjemput Swe Dol dan menyuruhnya mengenakan pakaian yang dijahitkan Dan Ee.
“Ini pakaian milik Kong He.” kata Swe Dol. “Ibumu akan marah jika aku memakainya.”
“Dan Ee khawatir bahwa pakaian ini terlalu kecil untuk Kong He.”
“Benarkah? Dan Ee tidak pernah membuat kesalahan sebelumnya.” ujar Swe Dol seraya memakai pakaian tersebut. “Ini pas sekali untukku. Tunggu! Pakaian ini terlalu kecil jika dipakai oleh Kong He.”
Tiba-tiba Hee Bong keluar dari persembunyiannya dan menutup kepala Swe Dol dengan kain. “Apa yang kau lakukan?” teriak Swe Dol panik.
Hee Bong membopong Swe Dol menuju penginapan Eun Chae. Swe Dol berteriak-teriak di sepanjang jalan.

Ryung membuka penutup kepala Swe Dol ketika mereka sudah sampai ke tempat upacara pernikahan. Swe Dol terkejut melihat Dan Ee sudah siap dengan pakaian pengantinnya.
“Sambutlah pengantin pria, Na Swe Dol dan pengantin wanita yang cantik, Dan Ee!” teriak Ryung, memperkenalkan pengantin.
Swe Dol tertawa senang.
Upacara pernikahan di mulai.
Shi Hoo diam-diam melihat pernikahan itu dari luar selama beberapa saat, lalu pergi.

“Terima kasih.” kata Dan Ee pada Swe Dol ketika mereka sudah berada di dalam kamar. “Terima kasih karena kau sudah bersedia hidup bersama wanita sepertiku.”
“Apa yang kau katakan? Aku tidak pernah melakukan apapun untukmu. Akulah yang seharusnya berterima kasih. Terima kasih karena bersedia hidup dengan pria konyol sepertiku. Mulai saat ini, kau, aku dan Ryung akan hidup bahagia.”
Dan Ee tersenyum dan mengangguk.
Kong He, Shim Deok, Bong Soon, ayah Seung Seung dan ayah Heung Kyun mengintip mereka dari luar.

Raja menyuapi Putra Mahkota yang sedang sakit. Ia bertanya pada istri Putra Mahkota, “Bukankah kau bilang ia hanya demam biasa?”
“Benar. Tapi kesehatannya memburuk setelah ia meminum obat dari tabib.”

Malam itu, Iljimae menyusup lagi ke rumah salah satu bangsawan. Namun Iljimae mengalami kesulitan untuk membuka gembok pintu sehingga para penjaga berhasil menemukannya.
Iljimae melarikan diri, dibantu oleh para pelayan di rumah itu.

Kabar gagalnya Iljimae membuka gembok pintu dengan cepat tersebar ke penjuru kota. Swe Dol menjadi khawatir. Ia pergi ke rumah bangsawan itu dan mencuri gembok pintunya.

Dan Ee memberitahu Ryung bahwa Swe Dol ingin bertemu dengannya di rumah pandai besi. Ryung panik dan bergegas berlari, memeriksa apakah ruangan rahasianya yang berada dibawah rumah itu telah diketahui Swe Dol atau belum.
Ia lega saat melihat ruangan rahasianya masih sama seperti sebelumnya, tidak tersentuh siapapun.
Swe Dol datang. Ryung berpura-pura sudah lama tidak mengunjungi rumah itu.
“Hari ini, aku harus mengatakan sesuatu padamu.” kata Swe Dol serius. “Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak memiliki apapun untukmu, namun aku berharap kau bisa meneruskan usaha kunciku.”

Di lain pihak. Pria yang memata-matai Dan Ee dan Swe Dol menemui Shi Hoo dan menceritakan segalanya tentang latar belakang Shi Hoo yang sebenarnya.
“Jadi kau tidak tahu apa-apa?” tanya pria itu. “Saat ibumu menyerahkanmu pada Tuan Byun Shik, dia membodohimu. Kelihatannya ibumu memang budak yang tidak punya hati.”
Shi Hoo marah dan memukul pria itu hingga jatuh.
“Jika aku memberi tahu Tuan Byun Shik, kau dan ibumu tidak akan bisa hidup lagi. Sebelum tengah malam, kau harus membawa uang ke penginapan Myung Wol.”

Swe Dol mengajak Ryung ke sebuah ruangan berisi peti besar yang terkunci.
“Kau tahu apa ini?” tanya Swe Dol. “Ini adalah gembok terbaru yang dibawa dari barat. Gembok ini adalah satu-satunya gembok yang tidak bisa dibuka oleh Iljimae tadi malam.”
“Tapi kenapa ayah…”
“Hush! Untuk keperluan bisnis keluarga kita, aku meminjamnya sementara waktu.” kata Swe Dol. “Jika kau ingin mempertahankan usaha kita, kau harus bisa membuat gembok yang tidak bisa dibuka oleh Iljimae. Dan gembok yang tidak bisa dibuka itu, kau harus mempelajari bagaimana cara membukanya.”
Swe Dol mengeluarkan alat pembuka gembok dari dalam bajunya, kemudian mencontohkan cara membuka gembok tersebut pada Ryung. Dengan mudah dan cepat, Swe Dol bisa membuka gembok tersebut.
“Bagaimana ayah bisa membukanya begitu mudah?” tanya Ryung kagum.
Swe Dol tersenyum dan menyerahkan alat pembuka gembok tersebut pada Ryung. “Itu adalah alat yang biasa kugunakan saat aku masih muda. Sekarang alat itu menjadi milikmu. Itu adalah alat yang kubuat sendiri. Dengan alat itu, tidak akan ada gembok yang tidak bisa kau buka.”
Swe Dol lalu mengajarkan mekanisme trik membuka gembok tersebut. “Ah, itu mudah!” ujar Ryung menganggap enteng.
“Mudah? Baik, ayo kita coba.” Swe Dol masuk ke dalam peti dan menyuruh Ryung mengunci peti tersebut. “Kau akan lebih cepat belajar jika berada dalam situasi yang genting.” katanya seraya masuk ke dalam peti.
Ryung menggembok peti itu.
“Sekarang buka gemboknya.” ujar Swe Dol dari dalam peti. “Aku hanya bisa keluar jika kau berhasil membuka gembok itu. Jika kau gagal, maka aku akan mati di sini.”
“Aku mengerti!” ujar ryung percaya diri. Ia mencoba membuka gembok tersebut, namun tidak semudah yang ia perkirakan.
“Kenapa? Kau tidak bisa membukanya?” tanya Swe Dol. “Bukankah tadi kau bilang mudah? Mengkombinasikan besi-besi itu bukanlah hal yang mudah. Karena itu diperlukan keahlian khusus. Teruslah berusaha. Aku akan tidur sebentar.”

Shi Hoo berjalan cepat ke rumah Dan Ee.
“Anak siapa aku?!” tanya Shi Hoo pada Dan Ee. “Aku bukan anak kandung Byun Shik, bukan?”
“Darimana kau dengar itu?”
“Aku tahu semuanya!” seru Shi Hoo marah. “Kau tidak bisa menyembunyikan hal itu lagi dariku.”
Dan Ee terduduk lemas.
“Siapa ayah kandungku?” tanya Shi Hoo. “Apa pria yang tinggal di sini adalah ayah kandungku?”
“Benar.” jawab Dan Ee. “Aku ingin kau menjadi bangsawan, bukan menjadi anak seorang pencuri.”
“Kenapa.. Kenapa kau lakukan itu padaku?!”
“Jika saat itu aku tidak berbohong, kau dan ayahmu akan mati!”
“Lalu kenapa? Kenapa kalian tidak berkata apapun padaku?” tanya Shi Hoo, perasaan marah dan sedih bercampur aduk. “Apa kau tahu bagaimana hidupku di rumah itu?”
“Lalu, apakah kau bisa kembali? Bisakah kau kembali?”
“Kenapa?! Kenapa aku harus kembali?!” teriak Shi Hoo. “Segalanya sudah berjalan seperti ini dan kau memintaku kembali dan hidup bersamamu? Saat aku memohon padamu, kau mencampakkan aku! Lalu untuk apa aku harus kembali kesini? Kalian berdualah yang sudah membuangku!”

Beberapa saat sudah berlalu, namun Ryung belum juga berhasil membuka gembok itu.
“Kau belum berhasil?” tanya Swe Dol, terengah-engah. “Aku… aku mulai tidak bisa bernapas… Ryung, disini sangat gelap. Di sini seperti di dalam peti mati. Berapa lama lagi?”
Ryung mulai panik. “Sebentar lagi. Aku akan segera membebaskanmu.”

Ryung terus mencoba membuka gembok dan mengajak Swe Dol bicara. Namun kelamaan, Swe Dol tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
“Ayah!” panggil Ryung cemas. “Ayah! Apa kau baik-baik saja? Ayah! Tunggu sebentar lagi.”
Ternyata, saat itu Swe Dol sudah berada di luar. Ia keluar lewat sisi belakang peti dan berjalan pulang ke rumah. Disana, ia melihat Dan Ee sedang menangis. Dan Ee menceritakan bahwa Ja Dol sudah mengetahui segalanya dan Dan Ee mengatakan pada Ja Dol bahwa Swe Dol adalah ayah kandungnya.

Byun Shik lagi-lagi memarahi Eun Chae karena kelakuan putrinya itu. Eun Chae membiarkan penginapan miliknya menjadi tempat beristirahat untuk orang-orang miskin yang sedang sakit.
“Kalau penginapan kita mengalami kerugian, kau harus bertanggung jawab!” seru Byun Shik geleng-geleng kepala. “Malam ini Iljimae akan mati. Tetaplah berada di dalam rumah.”
“Apa maksud Ayah?”
“Para polisi dan pengawal dari Istana Terlarang dan Departemen Penangkapan Penjahat memasang penyergapan.” kata Byun Shik. “Malam ini, Iljimae pasti akan mati.”
Eun Chae menjadi khawatir.

Swe Dol pergi ke istana untuk menemui Shi Hoo dan menjelaskan semuanya. Tapi ia tidak menemukan Shi Hoo karena Shi Hoo sedang pergi menjalankan tugas menangkap Iljimae.
“Iljimae? Dimana?” tanya Swe Dol. “Aku benar-benar harus menemuinya. Tolong beritahu aku dimana dia.”
“Pergi sana!” seru penjaga seraya mendorong Swe Dol hingga jatuh.
Saat itu kepala pengawal datang dan bertanya tentang status penyergapan di rumah Tuan Suh Young So. Swe Dol mendengar hal itu dan mengikuti rombongan pengawal dari belakang.
Di rumah bangsawan tersebut, ia melihat banyak sekali pengawal yang bersiap melakukan penyergapan.

Di tempat lain, Iljimae yang sedang mereka tunggu masih berkutat dengan gembok yang sulit sekali dibuka. Ia panik dan terus-menerus memanggil Swe Dol yang dipikirnya masih ada di dalam peti.
Ryung terus mencoba dan akhirnya berhasil membuka gembok tersebut. Ia segera membuka tutup peti, namun ternyata Swe Dol sudah tidak ada di dalamnya.
“Ayah!” seru Ryung terengah-engah. Ia berlari ke sisi belakang peti dan melihat sisi tersebut terbuka. “Ayah…”

Swe Dol berlari menuju rumah pandai besi untuk mencari Ryung.
“Jangan pergi dari sana! Jangan pergi kemana pun!” gumam Swe Dol seraya berlari sekuat tenaga. “Ryung… Ryung!”
Di saat yang sama, Ryung sedang bersiap-siap pergi, kemudian berjalan perlahan melewati hutan.

Untuk mempersingkat waktu, Swe Dol memotong jalan. Sayang sekali karena Ryung justru sudah berjalan di jalan utama.

Swe Dol mencari-cari Ryung, namun tidak menemukannya dimana pun. Ia melihat kertas target Ryung di dinding dan mengambil kertas tersebut. Ia kemudian melihat baju hitam Iljimae dan membawa baju tersebut pergi.

Di saat yang sama juga, Eun Chae menyuruh orang-orang di penginapannya untuk pergi karena akan terjadi sesuatu. Beberapa saat kemudian, terjadi kebakaran di penginapan tersebut. Seung Seung bilang Eun Chae masih ada di dalam.
Ryung bergegas berlari menuju penginapan dan masuk untuk menyelamatkan Eun Chae. Namun Eun Chae tidak mau ditolong. “Jangan pedulikan aku!” kata Eun Chae. “Aku tidak akan pergi kemana pun. Aku sedang menunggu seseorang.”
“Ayo cepat pergi!” tanpa mendengar jawab Eun Chae, Ryung menggendong Eun Chae dan membawanya keluar. “Kau sedang dalam bahaya, Nona!”
Eun Chae sengaja membuat penginapan kebakaran agar Iljimae datang menolongnya, sehingga Iljimae tidak pergi mencuri ke rumah bangsawan Suh Young So.

Swe Dol menemui Heung Kyun dan meminta tolong Heung Kyun untuk membaca tulisan Ryung. “Tuan Suh Young So.” kata Heung Kyun.
“Begitu? Terima kasih! Aku harus pergi sekarang!”

Swe Dol, yang menyamar menjadi Iljimae, menyusup masuk ke rumah bangsawan Suh Young So. Para pengawal yang berjaga di luar bergegas masuk dan mengepung rumah tersebut.
Dua bangsawan, yaitu Suh Young So dan Lee Kyung Sub, masuk ke dalam rumah. Swe Dol bersembunyi di dekat atap dan tertidur. Di sisi lain ruangan, Moo Yi mencuri dengar pembicaraan kedua bangsawan.
Kedua bangsawan berbincang tentang penyakit yang dialami Putra Mahkota sangat mencurigakan. “Dia bahkan tega membunuh adik kandungnya sendiri.” kata bangsawan Suh Young So. “Dan kini guliran putranya… Tuan, pergilah ke negeri Cing dan beritahu aku apa yang terjadi selama kau disana.”
“Apa maksudmu?” tanya bangsawan Lee Kyung Sub. “Yang Mulia setuju untuk mengampuni kita. Kenapa kau melakukan tindakan kontroversi lagi?”
Suh Young So menggeleng. “Yang Mulia adalah orang yang sangat menakutkan. Ia tidak akan mengampuni kita. Bukan hanya adik kandungnya sendiri yang dibunuh, namun teman seperjuangannya seperti Shim Ki yoon, Kwon Do Hyun, Kim Ik Hee.. semuanya.. dan kini hanya tinggal kita berdua.”

Setelah kedua bangsawan pergi, Swe Dol terbangun dan keluar dari persembunyiannya. Saat ia hendak melarikan diri, tiba-tiba para pengawal mengepung dan menyerangnya. Swe Dol cukup sulit ditangkap karena ia sangat lincah.
“Jika aku membiarkan putraku menangkapku, maka ia akan dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi.” pikir Swe Dol. Ia kemudian mendekati Shi Hoo dan membiarkan putranya itu untuk menangkapnya.
Shi Hoo membuka penutup wajah si Iljimae palsu. Swe Dol tersenyum, memperlihatkan gigi ompongnya. Shi Hoo terkejut.
“Apa kau terkejut?” tanya Swe Dol, tertawa. “Aku adalah Iljimae.”

Iljimae asli mengamati para penjaga dari luar. Ia heran melihat tindak-tanduk para pengawal. “Apa yang terjadi?” pikirnya. “Sepertinya aku tidak bisa beraksi malam ini.”
Ryung berjalan pergi.

Swe Dol ditangkap dan dibawa ke penjara. Walau ditangkap, Swe Dol terlihat senang dan terus-menerus tersenyum.
Shi Hoo mengunjunginya di penjara. “Kenapa kau berbohong, mengatakan kau adalah Iljimae?”
Swe Dol tersenyum. “Karena jika kau menangkap Iljimae, kau bisa menjadi bangsawan yang terkenal, kan? Kau akan berada di tingkat yang sama dengan laki-laki itu.”
“Jadi kau melakukan ini untukku?”
“Tidak.” ujar Swe Dol. “Aku mencuri botol tinta dan pena. Kemudian aku merusak beberapa barang antik. Kurasa itu bukan kejahatan besar. Aku sudah sering dipukuli. Aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir, Nak.” Tiba-tiba ekspresi wajah Swe Dol menjadi sedih. “Aku tahu ibumu sudah menceritakan semuanya. Aku benar-benar minta maaf, karena menjadi ayah yang sangat tidak berguna untukmu.”
“Kau seharusnya mencampakkan aku juga, seperti yang dilakukan ibu.” kata Shi Hoo sedih. “Kau selalu bersikap baik padaku, karena itulah aku merasa lebih membencimu.”
“Itu semua karena aku sangat tidak berguna.” kata Swe Dol, menangis. “Aku bersalah padamu, Ja Dol…”
Shi Hoo meneteskan air mata dan pergi.
Shi Wan datang dan memerintahkan anak buahnya untuk membawa Swe Dol.

Iljimae menemui Eun Chae. “Jangan pernah lagi melakukan hal konyol seperti tadi, Nona.” katanya. “Bagaimana jika kebarakan itu menyebar? Jangan pernah lagi melakukannya.”

Swe Dol disiksa habis-habisan.
“Apa yang kau dengar?” tanya Chun.
“Ketika aku bangun, sudah tidak ada siapa-siapa lagi disana.” jawan Swe Dol. “Memangnya hal apa yang kau harapkan kudengar? Kenapa kau memperlakukan aku seeperti ini?”
Chun memerintahkan pengawal untuk menyiksa Swe Dol.
“Dengan umur dan wajahnya itu, dia terlalu menganggap tinggi dirinya dengan menyamar menjadi Iljimae.” kata Byun Shik. “Aku pasti lebih mirip dengan Iljimae jika aku menyamar. Kalau menurut pendapatku, dia memang tidak mendengar apa-apa.”
“Mungkin saja ia mendengar, tapi pura-pura tidak tahu.” kata Chun bersikeras. “Kita tidak bisa membiarkan seorang pun mendengar hal itu.”
“Tidak mungkin.” kata Byun Shik.
“Tidak penting ia mendengar atau tidak. Yang Mulia pasti tidak akan suka bila kita mengambil resiko.” kata Chun. “Bunuh dia!”

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Iljimae – Episode 15

Swe Dol terbangun di tengah malam dan melihat Ryung masih berbaring di sampingnya. “Anak yang malang.” ujarnya seraya mengusap rambut Ryung, lalu kembali tidur.

“Rumah Tuan Jung Hyung Gu, Oh Gok So dan Kim Woo Jin kecurian.” ujar Shi Wan, tersenyum merendahkan pada Shi Hoo. “Aku sudah menjaga rumah para anggota Jeonwoohae, namun ketiga orang tersebut tidak termasuk dalam list. Apa artinya semua ini? Pencuri itu hanya masuk ke rumah anggota Jeonwoohoe? Hahaha. Warna darah pada bunga Mae Hwa itu sedang mengincarmu.”

Iljimae memberikan ginseng berumur 300 tahun pada tabib Song untuk menyembuhkan para pasien. Ryung dengan seenaknya datang dan mencicipi bubur ginseng. Bong Soon menariknya pergi.
Iljimae sedang sangat populer dikalangan para warga desa. Anak-anak mengenakan kostum hitam Iljimae dan bermain-main.
Ryung memarahi anak-anak yang terus-menerus menyebut nama Iljimae. Anak-anak tersebut menusuk pantat Ryung dengan pedang kayu. “Rasakan Jung Yi Jong! Aku adalah Iljimae, Raja para warga!” teriak salah seorang anak.

Ryung datang ke kedai Dae Shi.
“Woi Iljimae, bawakan aku teh bunga Mae Hwa!” teriak salah satu pelanggan. Dae Shi keluar dengan mengenakan kostum Iljimae dan mengantarkan teh tersebut.
Ryung tertawa melihat tingkah para warga.
Kong He akhirnya kembali. Dia terkejut melihat Dae Shi mengenakan pakaian besi. “Apa disini ada perang saat aku pergi?” tanya Kong He. “Apa kau pergi ke medan perang?”
Deok berlari-lari senang menyambut kekasihnya, Kong He, kembali ke Nam Mun. “Sayang, kau sudah pulang!” serunya. “Wajahmu kurus sekali. Apa kau merindukan aku?”
Kong He mengangguk. Ryung tersenyum iseng dan mendekati Kong He. “Kemana saja kau, Paman? Oh iya, rumah bordir sudah dibuka di samping dermaga itu.”
“Rumah bordir?” tanya Deok marah. “Apa selama ini kau ada disana? Cepat bicara!”
“Kau pikir siapa suamimu ini, hah?”
Deok menjewer telinga Kong He dan mengajaknya masuk.

Shi Wan mengajak Ryung ke tempat terjadinya pencurian. Di sana, Ryung melihat abu bakaran tali masih tersisa di lantai. Dengan diam-diam, Ryung membersihkan abu tersebut, namun Shi Wan melihatnya. “Apa itu?” tanyanya.
“Ini seperti abu.” kata Ryung, memberi petunjuk. “Ya, ini memang abu. Adanya abu menandakan bahwa ada sesuatu yang dibakar. Mungkin saja tali. Sesuatu jatuh dari atap dan kemudian kembali lagi ke atas.”
Shi Wan menjentikkan jari tangannya, pertanda bahwa ia sudah mengerti trik si pencuri. Ia memanggil Shi Hoo dan kepala pengawal untuk menceritakan persepsinya. “Pencuri itu datang dari atap. Dia melompat dari atap dengan menggunakan tali. Setelah berhasil mencuri, dia kembali ke atap dengan tali tersebu, kemudian membakar tali untuk menghilangkan bukti.”
“Lalu kenapa pintu itu rusak?” tanya kepala pengawal.
“Itu karena… Itu karena… Itu karena dia turun lewat tali, setelah itu dia merusak pintu dan keluar melewati pintu itu.” kata Shi Wan.
“Tidak mungkin.” ujar Shi Hoo. “Iljimae tidak mungkin masuk lewat atap. Ia pasti masuk lewat pintu.” Shi Hoo berjalan ke arah pintu. “Pintu ini tidak dirusak lewat dalam, melainkan lewat luar.”
Ryung menoleh melihat pintu tersebut.
“Sepertinya tebakan Tuan Byun salah kali ini.” kata kepala pengawal, tersenyum.
“Lalu bagaimana dengan abu di sana?” tanya Shi Wan.
“Apa yang dikatakan Tuan Byun mungkin benar.” kata Shi Hoo. “Pencuri melompat turun dengan tali. Tapi pintu itu sudah terpotong dari luar. Jadi, pencuri itu pasti membawa temannya.”
Ryung terkejut.

Swe Dol bekerja di pasar untuk membuat gembok. Antrian sudah panjang, namun Swe Dol sepertinya sedang banyak pikiran dan tidak memedulikan pada pelanggannya.
Tiba-tiba Heung Kyun datang untuk mencari ayahnya.
“Dia sedang melakukan kerja sambilan.” kata Swe Dol.
Ayah Heung Kyun ternyata sedang memperbaiki genteng dinding pagar. “Bukankah aku sudah memberitahu agar tidak menggunakan genteng yang lincin seperti ini?!” serunya marah. “Jika Iljimae datang ke rumah ini dan terpeleset, apa kalian mau bertanggung jawab?!”

Byun Shik menghadiahi Eun Chae seekor kuda dengan harapan Eun Chae tidak lagi membuat masalah.
“Kuda ini mirip seseorang.” ujar Seung Seung, tertawa. “Nona, apa kau sudah memberi kuda ini nama? Bolehkah aku yang memberinya nama? Bagaimana jika Iljima?”
“Iljima?”
“Benar! Dia hitam dan cepat. Iljima.”

Kim Ik Hee datang menemui pemburu Jang. “Aku sudah bilang padamu. Dia pernah bertemu dengan Shim Ki Yoon. Ia juga ada saat budah wanita itu dihukum gantung.” kata pemburu Jang.
“Benarkah?”
“Aku yakin sekali.” kata pemburu Jang. “Kau harus segera menemuinya.”
Kim Ik Hee mengangguk. “Tolong katakan padanya. Jika ia ingin mengetahui tentang pembunuh ayahnya, datang ke tempat ini besok pagi.” Kim Ik Hee menyerahkan sekantung uang pada pemburu Jang.
“Ya, Tuan.”
“Jika informasi ini benar, aku akan memberikan sisa uangnya. Tapi ingat, kau harus merahasiakan ini. Jika hal ini sampai tersebar, kau dan putramu akan mati.”
Kim Ik Hee kembali ke istana. Byun Shik mendekatinya dan berbisik, “Apa kau sudah mendengar?” tanya Byun Shik. “Putra Lee Won Ho masih hidup. Kau punya hubungan yang sangat baik dengan Lee Won Ho, bukan? Kau tidak boleh membiarkan Yang Mulia tahu.”
Byun Shik hendak memancing Kim Ik Hee.
“Aku juga mendengar gosip itu.” kata Kim Ik Hee. “Setelah mendengar gosip itu, aku juga mencarinya. Tapi…”
“Apa kau menemukannya?”
“Benar. Aku menemukannya.” jawab Kim Ik Hee. “Tapi dia sudah mati.”
“Ma… mati?”
“Ya. Setelah kematian kakaknya, dia terlibat pertarungan antar geng dan terbunuh dengan pedang.”
“Ah, kenapa nasibnya begitu buruk?” ujar Byun Shik. “Jika aku menemukannya lebih awal, aku pasti akan memperlakukan dia seperti anakku sendiri. Aku akan menyayanginya dan membesarkannya dengan baik.”
Kim Ik Hee memandang Byun Shik dengan muak.
Byun Shik melaporkan kematian putra Lee Won Ho pada Raja. “Kim Ik Hee yang mengatakannya sendiri padaku.”

Pemburu Jang menemui Ryung dan menyampaikan pesan Kim Ik Hee padanya.
“Sudah kubilang ayahku masih hidup!” ujar Ryung bersikeras.
“Terserah padamu. Yang penting aku sudah menyampaikan pesan.”
Ryung kembali ke markas persembunyiannya dan mencari nama Kim Ik Hee di di buku anggota Jeonwoohoe. Ternyata memang ada.

Swe Dol berubah menjadi pemurung. Dan Ee mengkhawatirkannya. “Apa lukamu belum sembuh? Kenapa kau tidak tidur?”
“Lukaku sudah sembuh dan sudah tidak sakit lagi.” kata Swe Dol sedih. “Jika anak itu sudah pulang, aku baru bisa tidur. Apapun yang terjadi malam ini, aku tidak akan membiarkan dia keluar lagi. Aku harus memastikan bahwa dia tidur dan beristirahat.”
“Terserah padamu.” ujar Dan Ee seraya masuk ke kamarnya. Di dalam, ia ternyata sudah mempersiapkan tempat tidur untuknya dan Swe Dol bersama. Ia juga sudah mengenakan lipstik pemberian Swe Dol, namun di pikiran Swe Dol saat ini hanya ada Ryung.

Ryung menemui Bong Soon dan melihatnya bekerja keras di kedai. Ia duduk dan mengisyaratkan agar Bong Soon duduk disebelahnya. Ia mengeluarkan kertas perjanjian dan merobeknya. “Kau bebas sekarang.” kata Ryung.
“Kenapa?” tanya Bong Soon heran, tidak terlihat senang.
“Kenapa bertanya ‘kenapa’? Aku membebaskanmu. Kenapa kau tidak senang?” tanya Ryung balik.
“Aku tidak senang. Aku ingin menjadi budak dan memasak untukmu selamanya.” kata Bong Soon sedih.
“Kau.. Siapa yang menyuruhmu berbuat itu?” Ryung menghancurkan kertas penjanjian itu. “Cepat pergi! Jika kau tidak pergi, aku akan melaporkanmu pada polisi!”
Ryung berjalan pergi, namun Bong Soon menariknya ke suatu tempat.
“A.. apa yang kau lakukan?” tanya Ryung panik.
“Apa yang kau takutkan?” tanya Bong Soon, memojokkan Ryung ke dinding. “Karena majikanku sudah membebaskan aku, maka aku harus membayar kebaikan hatinya.”
“Apa kau sudah gila?!”
Bong Soon memegang pergelangan tangan Ryung ke tembok agar Ryung tidak bisa bergerak, kemudian memaksa untuk mencium Ryung. Ryung mengelak dari Bong Soon, namun gagal. Bong Soon berhasil mencium bibir Ryung.
Ryung mendorong Bong Soon. “Kau benar-benar sudah gila!” seru Ryung marah seraya meludah dan membersihkan bibirnya.
“Lihat, wajahmu merah.” goda Bong Soon. “Tunggu! Apa ini ciuman pertamamu? Ini ciuman pertamamu, kan? Aaahh, kau benar-benar laki-laki yang polos.”
Ryung tidak mengatakan apa-apa dan bergegas kabur.

Ryung kembali ke markas persembunyiannya dan memutuskan untuk menemui Kim Ik Hee. “Aku akan menemui Kim Ik He besok. Semuanya akan segera berakhir.”

Iljimae menemui Eun Chae dan menebarkan kelopak bunga Mae Hwa. “Kemampuan memanahmu tidak buruk.” kata Iljimae.
“Apa kau tidak tahu betapa kerasnya aku berusaha mencarimu?” tanya Eun Chae, terlihat sedikit marah. “Apa kau tahu sudah berapa lama sejak kau terluka saat itu?”
“Aku datang untuk mengucapkan terima kasih karena kau sudah menyelamatkan aku.”
“Aku tahu.” kata Eun Chae. Ia naik ke atas kudanya dan pergi.
Ryung hanya diam dan menunduk sedih, namun beberapa saat kemudian Eun Chae kembali. Ryung naik ke atas kuda Eun Chae dan mengedarai kuda tersebut.
“Apa kau tahu, setiap kali bunga Mae Hwa mekar, pemandangan menjadi sangat indah di sini.” ujar Eun Chae, melihat rumah keluarga Lee Won Ho dari luar.
Ia kemudian mengajak Iljimae duduk di atas batang pohon Mae Hwa besar. “Pohon ini sangat istimewa untukku. Karena itu aku mengajakmu kemari.” kata Eun Chae, tersenyum. “Ketika aku masih kecil, aku bertemu seorang anak laki-laki di pohon ini. Dia adalah cinta pertamaku. Tapi, dia sudah meninggal. Sampai sekarang pun dia masih ada dalam ingatanku.”
“Walaupun dia sudah meninggal, dia pasti sangat bahagia.” kata Iljimae.
“Aku juga pernah bertemu dengan seorang laki-laki di pohon ini.” kata Eun Chae melanjutkan. “Aku sempat berpikir, mungkin saja anak itu masih hidup dan kembali kemari. Itu sangat konyol.” Eun Chae tertawa pahit. Ia kemudian berpaling menatap Iljimae. “Wajahmu… Bolehkah aku melihatnya?”
Eun Chae mengulurkan tangan untuk membuka topeng Iljimae, namun Ryung memegang tangannya untuk menghalangi. “Mungkin kita tidak akan bisa bertemu lagi.” kata Iljimae sedih.
“Kenapa?”
Ryung tidak menjawab. Ia membuka ikat kepalanya dan menutup mata Eun Chae dengan ikat kepala itu. Ia kemudian membuka topengnya dan mencium bibir Eun Chae.

Bong Soon mengeluarkan uang tabungannya. “Aku ingin memberi kejutan pada Ryung.” ujarnya.
Bong Soon pergi ke rumah keluarga Lee Won Ho dan menemui bibi Eun Chae. “Tolong jual rumah ini padaku.” kata Bong Soon.
“Tidak. Cepat pergi!”
Bibi Eun Chae menyuruh pelayannya untuk menebang pohon Mae Hwa yang ada di halaman rumahnya. Bong Soon menghalanginya.
“Jangan! Tolong jangan tebang pohon ini!” teriak Bong Soon. “Jual pohon ini padaku! Aku akan memberikan semua uang ini. Tolong jual pohon ini.”
“Baiklah.” kata bibi Eun Chae, hendak mengambil uang Bong Soon.
“Kau tidak boleh melakukan apa-apa pada pohon itu!” ujar Bong Soon.
Tiba-tiba Eun Chae datang berlari-lari. “Bibi!” panggilnya. Ia kemudian melihat pohon Mae Hwa kesayangannya masih utuh. “Syukurlah… Bibi, kenapa kau ingin menebang pohon ini? Kau tidak boleh melakukannya.”
“Nona, tolong minggir tiga langkah dari situ!” seru Bong Soon, tertawa. “Pohon ini milikku.”
“Bibi!” Eun Chae menatap bibinya, minta penjelasan. Setelah bibinya menjelaskan Eun Chae menawarkan uang 10 kali lipat dari uang yang diberikan Bong Soon.
“Kau sudah terlambat, Nona.” ujar Bong Soon. “Sejak saat ini, pohon ini sudah menjadi milik Bong Soon.”
Eun Chae kesal.

Pagi itu, Raja mengajak para pejabatnya untuk berburu bersama. Kim Ik Hee terpaksa ikut serta.
Di lain pihak, Ryung sedang menunggu Kim Ik Hee di tempat yang sudah dijanjikan, namun pria itu tidak juga datang.
“Dia benar-benar Geom.” gumam pemburu Jang, mengintip Ryung dari jauh.

Acara perburuan anggota kerajaan di mulai. Ternyata acara ini adalah salah satu konspirasi untuk membunuh Kim Ik Hee agar terlihat seperti sebuah kecelakaan. Kim Ik Hee tewas, terjatuh di sebuah tebing. Ini juga merupakan suatu ancaman bagi para pejabat lain yang berani menentang Raja dan sekutunya.

Ryung menunggu sampai larut malam, namun Kim Ik Hee tidak juga datang. Ryung bergegas berlari ke rumah Kim Ik Hee untuk mencari tahu. Ternyata Kim Ik Hee sudah meninggal.
“Tuanku mengalami kecelakaan saat acara perburuan.” kata salah satu orang, menangis.
Ryung berpikir dan kejadian dimasa lalu. Setiap kali ada orang yang hendak memberi tahu tentang kematian ayahnya, orang tersebut selalu meninggal.
“Siapa… siapa yang bertanggung jawab atas hal ini?” gumam Ryung marah.

Anggota pusat Jeonwoohoe tinggal dua orang. Mereka bersujud di depan Raja untuk meminta ampun.
“Lee Won Ho, Shin Ki Yoon, Kwon Do Hyun, Lee Ik Hee… dan kalian berdua… Jika bukan karena bantuan kalian berenam, aku tidak akan bisa menggulingkan Raja Gwang Hae dan duduk di tahta ini.” kata Raja. “Jangan khawatir. Kalian boleh pergi.”
“Aku akan segera menghabisi mereka, Yang Mulia.” ujar Chun.
“Tidak perlu.” kata Raja. “Mereka adalah orang-orang setia yang membantuku duduk di tahta ini. Selama mereka tidak mengancam kekuasaanku, kita tidak perlu membunuh mereka. Awasi saja mereka.”

Jung Myung Seo kesal setengah mati dan ingin menangkap Iljimae dengan tangannya sendiri. Ia memerintahkan Byun Shik untuk menangkap para pemuda di desa.
Dae Shi bersembunyi di dalam gentong besar. Bong Soon menyuruh Ryung ikut bersembunyi, namun Ryung menolak.
Anak pemburu Jang, Eun Bok, di keroyok karena menolak ikut. Ryung menolongnya, dan mereka berdua di bawa ke istana.
“Kalian semua akan digunakan untuk memancing Iljimae.” kata pengawal istana.

Swe Dol murung dan tidak punya semangat hidup. Gembok-gembok yang dipasang Swe Dol tidak ada yang benar. Teman-temannya heran melihatnya.
“Kenapa kau? Apa Dan Ee menyakiti perasaanmu lagi?” tanya ayah Heung Kyun.
“Aku ingin pensiun.” ujar Swe Dol lemah. “Aku juga ada dipihak Iljimae. Aku tidak bisa membiarkannya ditangkap karena gembok yang kubuat.”
“Benar!” ujar ayah Heung Kyun setuju. “Aku akan membuatkan sepatu gratis untukmu sepanjang sisa hidupmu.”
“Aku juga!” seru Kong He. “Aku akan memberikan makanan gratis padamu!”

Seorang pria tua mengamati Dan Ee dan Swe Dol. Pria itu tidak lain adalah orang yang dulu hendak membunuh Dan Ee saat Swe Dol muda menculik Dan Ee dari rumah keluarga Lee Won Ho. Pria itu tersenyun licik.
Bong Soon berlari panik dan memberi tahu Swe Dol kalau Ryung ditangkap. Mereka bergegas berlari ke pintu gerbang istana. Hee Bong juga ikut ambil bagian. Ia marah-marah mengetahu Ryung ditangkap.
“Tidak perlu khawatir!” kata ayah Heung Kyun. “Tidak mungkin Iljimae akan diam saja membiarkan ini terjadi!”
Bong Soon mengangguk setuju.
“Iljimae ada di dalam sana.” kata Swe Dol.
“Dimana? Dimana dia?”
Kong He hanya diam, menarik napas cemas.

Jung Myung Seo dan Jung Yi Jong menemui para pemuda yang ditangkap dan tertawa. “Kenapa kalian begitu tegang?” tanya Myung Seo. “Ini hanya sebuah permainan. Apa kalian takut terluka? Hahahahaha. Di negara Cing, kemampuan memanah putraku adalah yang terbaik. Kalian tidak perlu khawatir.”
“Ayo bersenang-senang!” seru Yi Jong.
Satu per satu pemuda yang ditangkap diperintahkan berdiri di depan sebuah batang kayu, yang diatasnya terdapat lukisan bunga Mae Hwa milik Iljimae. Jung Yi Jong memanah ke arah lukisan di atas kepala para pemuda tersebut.

Shi Wan marah-marah karena melihat Ryung ditangkap. “Beraninya mereka menangkap teman baikku!” Ia hendak menyelamatkan Ryung, namun kepala pengawal menahannya.
Shi Hoo kelihatan tidak senang dengan pancingan semacam ini. Ia khawatir melihat Ryung dan hendak menghentikan permainan tersebut, namun pengawal yang lain menghalangi.

Ryung menoleh ke Eun Bok, yang ada disebelahnya. Eun Bok terlihat sangat ketakutan dan Ryung berusaha menenangkannya. “Kemampuan memanahnya tidak biasa. Terlebih lagi, karena kecelakaan yang kemarin, dia tidak akan berani menyakiti siapapun. Ini hanyalah pancingan untuk Iljimae. Tenanglah.”
Kini giliran Eun Bok untuk maju. Jung Yi Jong kelihatan lelah. Ia meminum beberapa teguk arak. Ryung menjadi cemas.
Eun Bok mengompol di celana. Ia menatap Ryung takut, dan Ryung mengangguk untuk menenangkan. “Berdiri saja dan jangan bergerak.” ujar Ryung.
Ryung melihat baik-baik ke arah Jung Yi Jong. Ia merasa bahwa panahan Yi Jong kali ini akan meleset dan melompat untuk menyelamatkan Eun Bok. Memang benar, panah yang dilepaskan Yi Jong tidak menusuk lukisan bunga Mae Hwa melainkan mengenai punggung Ryung yang berusaha menyelamatkan Eun Bok.
Shi Hoo bergegas berlari untuk menolong dan membopong Ryung keluar.
“Ryung!” teriak Swe Dol dan yang lainnya panik.
“Biar kubawa dia!” teriak Kong He. Mereka bergegas membawa Ryung pada tabib Song.

Keadaan diputarbalikkan. Pihak istana mengumumkan bahwa para pemuda yang ditangkap itu berniat membunuh Jung Yi Jong. Jung Yi Jong sedang berada dalam kondisi kritis (bohong banget!). Jika Iljimae tidak muncul juga dalam waktu tiga hari, maka para pemuda tersebut akan dihukum mati karena dianggap berkomplot dengan Iljimae.
“Apa benar mereka mengaku bahwa Iljimae-lah yang menyuruh mereka?” tanya Dae Shi pada Hee Bong.
“Benar.” jawab Hee Bong. “Jika Iljimae tidak muncul, maka mereka semua akan dibunuh!”

Para pemuda yang ditangkap menoleh marah pada Eun Bok.
“Mereka bilang jika aku mengaku seperti yang mereka perintahkan, maka kita semua akan dibebaskan.” Eun Bok menangis histeris.
Malam itu, Iljimae menyusup diam-diam. Ia meletakkan sebuah selang ke dalam kolam, belum jelas ingin merencanakan apa.

Swe Dol mengobati punggung Ryung.
“Hari ini adalah hari ketiga.” ujar Swe Dol hati-hati. “Jangan gunakan lengan kirimu. Kau harus lebih hati-hati malam ini.”
Ryung menoleh ke arah ayahnya, namun tidak berkata apa-apa.

Byun Shik menakut-nakuti para pemuda dan menyuruh para pengawal untuk bersiaga.
“Apa benar mereka akan dibunuh, Ayah?” tanya Shi Wan, protes. “Jung Yi Jong tidak sedang dalam keadaan kritis!”
“Hush!” Byun Shik menyuruh Shi Wan diam. “Apa yang kau katakan? Jangan sampai kelelawar (Iljimae) itu mendengar!”

Iljimae menyusup ke istana. Ia memberi sebuah surat pada para pemuda yang ditangkap.
Selang yang diletakkannya di kolam dipergunakan untuk membuang air dari kolam teratai.
Para pengawal menemukan Iljimae di atas atap dan mengejarnya.
“Hancurkan dinding dekat kolam teratai.” salah seorang pemuda membaca surat dari Iljimae.
“Ayo kita lakukan seperti yang Kak Iljimae perintahkan.” kata Eun Bok. “Kita hancurkan dinding ini.”
Mereka menghancurkan dinding tersebut dan berhasil lolos.
Iljimae cukup kesulitan menghadapi para pengawal yang jumlahnya sangat banyak, namun pada akhirnya ia berhasil lolos juga.

Keesokkan harinya di dermaga, dari dalam sebuah kotak besar terdengar rintihan seseorang. Penjaga membuka kotak tersebut dan melihat Jung Myung Seo dan Jung Yi Jong ada didalamnya, siap dikirimkan pulang ke negara Cing.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Iljimae – Episode 14

Para protestan meneruskan aksinya di depan gerbang istana. Bong Soon dan Eun Chae membagikan makanan untuk para protestan yang sedang berjuang.

Di lain sisi, Ibu Eun Chae sangat panik mengetahui putrinya tidak pulang semalaman dan menyuruh pengawal untuk mencari Eun Chae.
Byun Shik terkejut mengetahui bahwa para protestan kembali ke depan gerbang istana. Jung Myung Seo marah besar dan memutuskan untuk menangani sendiri para protestan tersebut.

Jung Myung Seo menemui Raja. “Tolong bantu kami, Yang Mulia.” katanya. “Menyerang Duta Besar Cing sama dengan menghina Kaisar Besar Cing.”
“Tapi apa yang bisa aku lakukan untuk meredam kemarahan warga?” tanya Raja, menolak secara halus.
Jung Myung Seo mengancam dengan terselubung, “Apa kau ingat, Putra Mahkota telah berhasil membebaskan banyak budak dari Sim Yang Nam Tak, serta mengatur aktivitas pertanian dalam skala besar. Putra Mahkota tidak hanya bisa menghasilkan banyak uang, bahkan dia juga berhasil membebaskan para budak Chosun. Kaisar Cing Shunzhi sangat mengaguminya. Jika Putra Mahkota menduduki tahta, aku yakin masa depan Chosun pasti akan sangat gemilang.”
“Apa kau mengancamku?” tanya Raja.
“Menghina aku dan putraku sama halnya dengan menghina Negeri Cing. Kau harus membubarkan para protestan di depan gerbang…”
“Kau boleh pergi!”
“Aku akan menyerahkan masalah ini pada Yang Mulia.” kata Jung Myung Seo. “Aku pergi.”

Swe Dol, Dae Shi, Heung Kyun dan ayah Heung Kyun diam-diam merencanakan sesuatu. Mereka membawa benda berbau ke dalam sebuah gerobak.
“Tidak ada yang mengikuti kalian, kan?” tanya Swe Dol berbisik.
“Benda apa itu, bau sekali?” tanya Ryung, berteriak. Swe Dol menutup mulutnya agar tidak berteriak-teriak.
“Apa itu?” tanya penjaga. “Buka sekarang!”
Swe Dol dan yang lainnya ragu dan terdiam sejenak, kemudian Swe Dol memegang penutup gerobak, membukanya.

Shi Wan mendapat titah untuk mengumumkan sesuatu pada para protestan. Ia malah menyuruh Shi Hoo yang melakukannya.
“Aku tidak mau.” ujar Shi Hoo. “Aku tidak mau bicara kebohongan.”
“Bicara kebohongan?” Shi Wan berkata marah dan menendang kaki Shi Hoo. “Ini perintah! Pengawal biasa yang melanggar perintah, kau tahu konsekwensinya kan?”
“Serahkan Jung Yi Jong!” seru para protestan. “Serahkan Jung Yi Jong!”
Shi Hoo keluar dari balik gerbang, membawa titah. “Aku, mewakili semua pejabat Istana, akan mengumumkan hasil kasus ini. Kecelakaan ini tidak disengaja. Jung Yi Jong sudah berteriak untuk memperingatkan anak itu untuk minggir, namun anak tersebut tidak mendengar. Karena itulah kecelakaan menyedihkan ini terjadi.”
“Apa?!” seru Bong Soon. “Hanya kecelayaan yang menyedihkan? Dia sudah melihat Nyang Soon, tapi dia tidak berhenti. Aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku! Bajingan itu sama sekali tidak berteriak untuk memperingatkan!”
Shi Hoo menunduk, kemudian berkata melanjutkan isi titah, “Semuanya bubar dan kembali ke rumah masing-masing! Jika kalian tidak kembali, kalian akan dikurung dalam penjara. Kepala Pengawal Istana Terlarang.”
Para warga tidak mau mundur begitu saja. Mereka terus berteriak meminta sang pembunuh untuk keluar dan meminta maaf.
“Katakan pada Jung Yi Jong agar keluar!” teriak mereka. “Apa yang dilakukan Raja pada saat seperti ini?! Apa Jung Myung Seo begitu pengecut?!”
Ryung mulai berakting. Ia berteriak memprovokasi di depan. “Serahkan pembunuh itu!” teriaknya. “Serahkan! Serahkan!”
Eun Chae menatap Ryung dari jauh, kaget melihat ia sudah kembali.
Ryung dengan sikap acuh dan seenaknya mendatangi Eun Chae. “Kau juga di sini, Nona? Kita memang sudah ditakdirkan untuk bersama.” katanya.
Bong Soon melihat mereka dan merasakan ada sesuatu. Ia terlihat sedikit cemburu.

Byun Shik memberitahu Raja bahwa pengawal menemukan para protestan (Swe Dol dkk) membawa kotoran kuda. “Selama kotoran kuda itu tidak basah, tidak akan ada masalah.”
“Lalu bagaimana jika kotoran kuda kering?” tanya Raja.
“Kotoran kuda yang kering sangat mudah terbakar. Itu mudah menimbulkan api.” kata Byun Shik. “Sedangkan kotoran kuda basah sangat bau namun tidak mudah terbakar.”
“Begitukah?” tanya Raja.
Chun menanggapi. “Kotoran kuda kering bisa menimbulkan ledakan.”
“Ledakan?”
Raja sengaja memanggil seluruh pejabat istana untuk membicarakan hal ini. Mereka berkesimpulan bahwa para warga hendak melakukan pemberontakan dan membawa senjata berbahaya yang bisa membunuh seseorang.
“Lalu apa yang bisa dilakukan seorang Raja yang bersalah seperti aku?” tanya Raja, sudah memasang skenario. “Ini semua salahku.”
“Ambil keputusan segera, Yang Mulia!”

Kong He datang mengunjungi desa tempat peramal buta tinggal, yang dulu pernah dibantai olehnya dan Chun.
Ia melihat beberapa papan nisan yang dibuat Bong Soon untuk orang tua dan keluarganya.
“Maaf aku datang terlambat lagi.” kata Kong He. “Bong Soon hidup dengan baik.”

Malam sudah tiba. Para protestan mulai mempersiapkan rencana mereka dan membagikan kotoran kuda pada masing-masing warga.
Ryung hanya berdiri di depan gerbang dan mengamati para penjaga. Ia melihat Shi Wan keluar dan membisikkan sesuatu pada penjaga gerbang. Ia merasa curiga.
“Kepala pengawal!” seru Ryung, pura-pura senang melihat Shi Wan.
“Ryung!” Shi Wan berlari mendekati Ryung, namun mundur lagi. “Kenapa kau bau?” Shi Wan menarik Ryung. “Kau, jangan pergi kemana-mana. Tetap dekat denganku!”
“Tapi aku anak dari salah seorang protestan.”
“Apa?!” tanya Shi Wan panik. “Orang tuamu ada disini juga? Cepat bawa mereka pergi. Akan terjadi hal buruk disini.”
“Kenapa?” tanya Ryung, berpura-pura polos.
Shi Wan membisikkan sesuatu padanya dan menyuruhnya untuk segera pergi. Swe Dol menarik Ryung dan menggenggam tangan Ryung erat-erat. “Jangan melepaskan tanganku, mengerti?”
Shi Wan tiba-tiba melihat Eun Chae. “Eun Chae! Eun Chae! Kau bisa mati jika ada disana!”
Shi Hoo keluar dan mendengarnya. “Mati? Mati kenapa?”
“Lepaskan aku! Eun Chae!” teriak Shi Wan, mengelak dari pegangan Shi Hoo. Shi Wan bergegas menarik Eun Chae masuk ke dalam istana.
Tiba-tiba banyak pasukan pemanah keluar dari istana dan membentuk formasi di depan gerbang.
Swe Dol dan Dan Ee panik, mencari Ryung yang tiba-tiba menghilang.

“Mereka adalah pemberontak yang berniat mengambil alih negara kita.” kata salah seorang pejabat. “Jika mereka melempar peledak itu, kita semua akan…”
“Haruskan kita memanah mereka?” tanya Raja dengan sikap santai dan acuh. “Aku tidak berharap warga ataupun pengawal ada yang terluka. Aku takut para pengawal akan memanah mereka sampai mati.”

“Satu!” teriak kepala pengawal mengomandani para pemanah agar bersiap-siap menembak.
“Dua!” Para protestan mulai panik.
“Tiga!”
“Tunggu!” terdengar suara tidak dikenal dari atas. Semua orang mendongak dan melihat satu sosok berbaju hitam dan mengenakan topeng. Itu adalah Iljimae. (Dengan penampilan baru)
Di lain pihak, rumah Duta Besar Cing sudah berantakan. Para pengawal yang menjaga tempat itu pingsan dan Jung Yi Jong sudah tidak ada. Jung Myung Seo panik setengah mati dan kaget melihat lukisan bunga Mae Hwa di dekat tempat tidur putranya.

Iljimae menarik keluar Jung Yi Jong dan menunjukkannya pada semua warga.
“Itu Iljimae!” seru para warga senang. “Iljimae! Iljimae! Iljimae!”
Eun Chae mendongak ke atas dan sangat senang melihat Iljimae muncul lagi. Shi Hoo menatap sorotan mata Eun Chae yang penuh kekaguman pada Iljimae.
Eun Chae melihat salah satu pengawal mengendap-endap di genteng untuk menyerang Iljimae secara diam-diam. Dengan spontan, Eun Chae merebut busur dan panah milik Shi Hoo lalu memanah di pengawal. Iljimae mengangguk pada Eun Chae, isyarat berterima kasih.
Iljimae mengikatkan pita merah jambu milik Nyang Soon ditangan kanannya, pertanda ia sedang mencari keadilan untuk kematian Nyang Soon.
Para pengawal mulai naik satu per satu untuk menangkap Iljimae, dan satu per satu dari pengawal itu pun bisa dikalahkan oleh Iljimae. Warga terus berteriak-teriak mendukung.
Iljimae merentangkan busur, memanahkan tali ke seberang. Dari bawah, Swe Dol melihat pita merah jambu yang ada di tangan kanan Iljimae. Ia menjadi teringat dengan pita merah jambu yang pernah ia lihat ada bersama Ryung saat Ryung pulang. Swe Dol terdiam.
Iljimae membopong Jung Yi Jong melewati tali menuju seberang bangunan.
“Ada apa?” tanya Dan Ee, melihat Swe Dol tiba-tiba menjadi diam.
“Tidak ada apa-apa.” jawab Swe Dol, manatap Iljimae tanpa berkedip.

Iljimae menggantung Jung Yi Jong di atas sebuah gerbang. Para warga melemparinya dengan kotoran kuda.
“Aku bersalah.” ujar Jung Yi Jong, ketakutan.
“Akui kesalahanmu dengan mulutmu sendiri!” seru Bong Soon. “Katakan!”
“Ya.. Aku mengendarai kudaku setelah minum arak dan melewati Gerbang Selatan.”kata Jung Yi Jong, menangis. “Ketika aku melihat seorang anak sedang berdiri di tengah jalan, aku ingin melompatinya… Aku takut dan kemudian melarikan diri.”
Orang tua Nyang Soon membawa mayat putrinya ke depan Ji Yong.
“Aku bersalah. Aku pantas mati beratus-ratus kali.” Yi Jong berlutut di depan mereka.
“Bunuh dia! Bunuh dia!”
“Jika kita membunuhnya, maka kita tidak ada bedanya dengan mereka.” kata ibu Nyang Soon.
Namun warga bersikeras. Raja tega memerintahkan pengawal untuk membunuh warga tidak berdosa seperti mereka. “Raja seperti apa dia?!”, “Kita tidak akan mengembalikan orang ini sampai Raja meminta maaf pada kita!”, “Kami tidak butuh Raja seperti dia!”, “Raja kita adalah Iljimae!”

Mendengar keributan diantara para warga, maka Raja mengirimkan titah yang berisi bahwa Jung Yi Jong akan dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku. Raja juga meminta maaf pada keluarga korban dan memberi kedua orang tua Nyang Soon 30 tael perah dan 20 gulung kain.
“Katakan ini pada Yang Mulia!” seru ayah Nyang Soon. “Kami tidak butuh perak dan kain! Kami akan sangat senang jika penjahat itu dihukum dengan hukuman yang setimpal!”
“Benar! Benar!” seru warga lain menanggapi.
“Aku juga merasa marah.” kepala pengawal melanjutkan pembacaan titah. “Mereka berencana melakukan kejahatan tidak terampuni dengan mengarahkan panah pada rakyat yang kucinta. Aku sangat kecewa dan hatiku menjadi sakit. Bukan hanya para pengawal tidak mendengar protes rakyat, tapi mereka juga hendak menembak rakyat dengan panah. Aku akan mengusut masalah ini dan menghukum mereka seberat-beratnya.”
“Apa dia pikir kita bodoh?” gumam warga marah. “Iljimae! Iljimae! Iljimae!”

Kasus protes sudah berakhir. Ryung akhirnya muncul dan berjalan mendekati ayahnya. “Ayah!”
“Ryung, pergi kemana kau tadi malam?” tanya Swe Dol dengan wajah cemas.
“Aku pergi ke belakang.” jawab Ryung ceria. “Kenapa kau melepas tanganku, Ayah? Untung saja aku bisa kabur! Iljimae sangat keren tadi malam. Aku merasa sangat senang. Dia hebat sekali!”
Swe Dol hanya diam mendengar Ryung mengoceh. Dari balik ikat pinggang Ryung, Swe Dol menarik selembar pita merah jambu. “Apa ini? Apa kau membelinya untuk ibumu?”
“Ah, ini milik Nyang Soon.” ujar Ryung. “Aku mengambilnya di jalan.Dimana ibu?” Ryung pergi dan berteriak-teriak mencari Dan Ee.
Swe Dol berlari menuju ke rumah kecil di tengah hutan tempat dulu ia bekerja sebagai pandai besi, dan sekarang ditempati Ryung sebagai markas persembunyiannya.
“Bukan dia. Bukan dia.” gumam Swe Dol, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Tiba-tiba ia terjatuh karena tersandung sesuatu, dan melihat sebuah kait untuk membuka sesuatu. Swe Dol menarik kait itu. Pintu rahasia terbuka dari bawahnya, menuju ke sebuah ruang rahasia di bawah tanah.

Ryung dan semua warga desa mengantar kepergian Nyang Soon di sungai. Ryung memegang obor, membakar peti mati Nyang Soon, kemudian menghanyutkannya di sungai. Ryung menangis dan melempar pita merah jambu ke sungai.

Swe Dol masuk ke ruang rahasia itu dan melihat banyak kertas di tempel di dinding. Di meja, ia melihat beberapa warna cat lukis. Cat yang sebelumnya digunakan Ryung untuk melukis keluarganya. Lukisan keluarganya itu digantungkan di dekat meja.
“Ya Tuhan!” seru Swe Dol kaget, melihat lukisan sebuah keluarga yang dikelilingi bunga Mae Hwa. “Apa yang harus kulakukan sekarang?” Di samping lukisan itu, ada baju milik Iljimae. Swe Dol gemetaran dan menangis. “Tidak… Ia sudah memperoleh kembali ingatannya… Dia sudah ingat semuanya… Apa yang harus kulakukan? Benar… Dia sedang mencari pembunuh ayahnya… Tidak! Ja Dol dan aku akan… Apa.. apa yang harus kulakukan?” Swe Dol terjatuh di tanah dan menangis histeris.
Tiba-tiba Ryung masuk ke ruangan rahasia itu. Swe Dol bersembunyi.
Ryung membaca daftar anggota Jeonwoohoe dan mulai membidik target selanjutnya.
Setelah Ryung pergi, Swe Dol keluar dari tempat persembunyiannya dan melihat tiga lembar kertas di dinding. “Apa ini nama rumah bangsawan yang akan dimasukinya?” gumam Swe Dol. Karena tidak bisa membaca, maka Swe Dol meniru tulisan tersebut di kertas yang lain.

Byun Shik memarahi Eun Chae karena Eun Chae bergabung dengan para protestan. Eun Chae tidak bergeming oleh kemarahan Byun Shik. Ia malah bertanya siapa orang yang tega memerintahkan pasukan untuk memanah warga.
“Apa ayah yang memerintahkan mereka?” tanya Eun Chae.
“Bukan aku!” seru Byun Shik cepat. “Kalian percaya padaku, kan? Kubilang, BUKAN AKU! Sudah, jangan tanya lagi. Cepat kembali ke kamarmu dan beristirahat. Kau juga tidak diizinkan keluar dari kamar, mengerti?!”
Pihak istana menjadi kalang kabut. Byun Shik kemudian memerintahkan Shi Hoo untuk berjaga intensif di rumah para anggota Jeonwoohoe.

Swe Dol menemui Heung Kyun untuk membantunya membacakan tulisan yang dibuatnya.
“Ini seperti nama seseorang, tapi tulisannya benar-benar…”
“Nama siapa ini?” tanya Swe Dol tidak sabar.
“Siapa ini?” tanya Heung Kyun.
“Ini.. Ah, seseorang memintaku membuat gembok dan kunci pintu, tapi aku tidak bisa membaca.” kata Swe Dol. “Cepat baca ini untukku!”
“Oh Gak So. Jung Hyung Gu. Pejabat Kim Woo Jin di Seung Hung Won.” kata Heung Kyun membaca tulisan itu. “Wah, mereka semua pejabat tingkat tinggi yang memesan kuncimu.”

Swe Dol secara gratis memasangkan gembok di rumah para pejabat tersebut. “Kau tidak akan bisa mencuri apapun lagi.” gumam Swe Dol. “Kau tidak akan bisa membuka gembok ini.”

Swe Dol masuk ke kamar Ryung dan merangkak mendekatinya.
“Aku Ryung, bukan Dan Ee.” ujar Ryung ketakutan.
“Kau tahu berapa anak yang ku punya?” tanya Swe Dol, nyengir dan terus mendekati Ryung. “Apa kau tahu seberapa besar aku menyayangimu?”
Swe Dol menyentuh badan Ryung. Ryung memukulinya dengan bantal.
“Cepat kemari, mumpung aku masih baik!” seru Swe Dol, mulai menggunakan paksaan.
Semalaman, Swe Dol tidur bersama Ryung. Swe Dol mengikatkan kakinya dan kaki Ryung dengan tali agar Ryung tidak bisa kabur.
Ryung melepaskan tali itu dan keluar.

Iljimae menyusup ke rumah bangsawan dan berusaha membuka kunci. Namun ia gagal. Iljimae kemudian menyusup masuk lewat atap dengan tali dan mencuri ginseng 300 tahun yang sangat berharga.
Tiba-tiba terdengar pintu hendak dibuka. Iljimae membakar talinya yang menggantung dan bersembunyi.
“ini adalah hadiah untuk Duta Besar Jung Myung Seo.” kata seorang pejabat, menunjuk kotak tempat ginseng berada. “Saat matahari terbit, tolong bungkus itu untukku.” Mereka pergi.
Ryung keluar dari tempat persembunyiannya dan memeriksa pintu. Pintu tersebut digembok dari luar. Ryung pasrah, tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan. Ia bersandar pada pintu dan tiba-tiba pintu tersebut terbuka, membuat Ryung terjatuh.

Ternyata sambungan pintu sebelah kiri telah digergaji oleh Swe Dol karena pemilik rumah bilang bahwa pintu sebelah kiri tersebut tidak pernah dibuka. “Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, aku harus memberi jalan keluar untuk putraku.” gumam Swe Dol.

Iljimae berlari keluar melewati atap. Shi Hoo mengikutinya dari belakang dan bersiap menangkap. Namun Iljimae tiba-tiba menghilang dan berhasil lolos.

Ketika Iljimae sudah mencapai pagar depan, segerombolan orang yang bersembunyi tiba-tiba menyerangnya. Dengan mudah, Iljimae berhasil mengindari mereka, melompat dan pergi.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Iljimae – Episode 13

Pembangunan penginapan milik Eun Chae akhirnya selesai dan dilakukan acara pembukaan penginapan tersebut. Duta Besar Cing, Jung Myung Seo, dan putranya, Jung Ji Yong, yang menyebalkan datang juga ke pembukaan tersebut. Seung Seung sangat kesal melihat sikap Jung Ji Yong yang angkuh.
“Wajahnya yang menyebalkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan laki-laki yang sering datang kemari (Ryung).” kata Seung Seung mengomel. “Saat dia (Ryung) datang kemari, aku ingin sekali menendangnya keluar, tapi dia sudah lama tidak datang, aku jadi merindukannya. Kau penasaran juga kan, Nona?” Seung Seung bertanya pada Eun Chae ketika melihat wajah Eun Chae menunduk.
“Apa?” Eun Chae bertanya, pura-pura acuh.
“Kudengar dia sedang pergi ke gunung untuk belajar dan mempersiapkan ujian.” kata Seung Seung. “Apa mungkin dia menyukaiku? Apa dia sedang jatuh cinta?”
Eun Chae tertawa. “Apa masih tidak ada kabar dari Iljimae?”
“Tidak. Banyak gosip berbeda di masyarakat. Ada yang mengatakan Iljimae sudah mati atau ada juga yang mengatakan kalau Iljimae sudah pergi ke Cing.” jawab Seung Seung muram.
Eun Chae sedih dan khawatir mendengar itu.

Ryung masih terus dilatih oleh Kong He dan Shi Hoo masih dilatih oleh Chun. Ryung dan Shi Hoo makin meningkat kemampuan bela dirinya, namun apa yang diajarkan oleh kedua guru mereka berbeda.
Kong He mengajarkan Ryung bahwa bertarung bukanlah untuk membunuh, melainkan untuk mempertahankan diri dan menyelamatkan orang lain. Sedangkan Chun mengajarkan Shi Hoo bahwa bertarung adalah membunuh.

Shi Hoo masih berlatih memanah hingga larut malam. Eun Chae berjalan mendekatinya. Karena Shi Hoo bersikap dingin padanya, Eun Chae meminta Shi Hoo mengajarinya memanah.

Kong He mengajari Ryung memanah. Kong He menyuruh Ryung memanah seekor kelinci sedang panah tumpul, sehingga kelinci tersebut tidak akan terbunuh.
Chun juga mengajarkan Shi Hoo memanah seekor kelinci, namun Chun dan Shi Hoo menggunakan panah sesungguhnya sehingga kelinci tersebut mati terpanah.

“Ini adalah pedang yang pernah aku gunakan.” kata Chun seraya memberikan pedang pada Shi Hoo. “Jika mereka berdiri di jalanmu, bunuh mereka semua.”

“Apa ini?” Ryung menatap pedang yang diberikan Kong He padanya dengan bingung.
“Itu pedang.” jawab Kong He. “Itu adalah hartaku yang paling berharga. Aku khusus meminta pandai besi membuatkannya untukku.”
“Kenapa kau membuat pedang ini tidak tajam, Paman?” tanya Ryung. “Mana ada pedang yang seperti ini?”
“Bukankah aku gurumu? Kau memanggilku Paman lagi setelah kau selesai berlatih denganku?” tanya Kong He mengomel. Namun tiba-tiba wajahnya menjadi serius. “Ryung, ada dua jenis pedang di dunia ini. Yang satu digunakan untuk membunuh…
Ryung terdiam. Ia teringat seseorang pernah berkata hal yang sama seperti ini sebelumnya. Ayahnya.
“Sedangkan yang satu lagi digunakan untuk menyelamatkan seseorang.” Ryung teringat Lee Won Ho pernah berkata. “Aku berharap kau tidak akan pernah menyentuh pedang seumur hidupmu. Namun jika itu terjadi, kau harus menggunakan pedang untuk menyelamatkan dan membebaskan orang lain. Kau mengerti?”
“Kau mengerti?!” teriak Kong He.
Ryung tersadar dari lamunannya. “Ya. Aku mengerti, Guru.”
“Walau pedang itu tidak tajam, namun masih tetap bisa membunuh jika kau memang berniat membunuh.” kata Kong He. “Membunuh tidak bergantung pada senjata, namun pada hati seseorang.” Kong He berjalan pergi.
Ryung menatap pedang pemberian Kong He. “Ayah, aku akan terus mengingat kata-katamu untuk selamanya. Aku tidak akan pernah melupakannya.”

Ryung kembali pulang ke Nam Mun sementara Kong He memutuskan untuk tinggal lebih lama. Kong He bertanya pada pria pemulik kapal yang mengantarkan Ryung, “Apa Iljimae sudah muncul?”
Pria pemilik kapal mengatakan bahwa Iljimae sudah lama tidak muncul.
Kong He melirik Ryung dengan pandangan penuh arti dan berkata bahwa ia yakin Iljimae mempunyai motif terselubung dibalik aksi pencuriannya.
Ryung menunduk, tidak berani menatap mata Kong He.

Bong Soon mengumumkan pada semua orang bahwa Ryung akan kembali. Ia pergi ke pasar membeli sayuran untuk Ryung dan bertemu dengan Nyang Soon.
“Pita ini bagus kan?” tanya Nyang Soon. “Suamiku yang memberikannya.”
“Suami?” gumam Bong Soon kesal. “Anak ini…”
Di saat yang sama Putra Duta Besar Cing, Jung Ji Yong, minum dan mabuk.
“Apa kau yakin bisa mengendarai kuda dengan kondisi seperti itu?” tanya salah seorang pengawal Jung Ji Yong saat itu. “Bagaimana kalau terjadi sesuatu?”
“Apa kau tidak tahu siapa ayahku? Ayahku adalah Duta Besar Cing. Bahkan Rajamu saja memberi hormat padanya.” ujar Jung Ji Yong sombong. “Percayalah padaku.”
Jung Ji Yong dan para pengawalnya mengendarai kuda dengan kecepatan tinggi melewati pasar.
Bong Soon dan Nyang Soon saat itu sedang ribut-ribut berebutan Ryung. Pita Nyang Soon terjatuh di tengah jalan. Nyang Soon menunduk untuk mengambilnya.
Jung Ji Yong melihat Nyang Soon di tengah jalan dan berniat untuk melompati Nyang Soon dengan kudanya, namun gagal. Kuda Jung Ji Yong menabrak Nyang Soon dan membuat gadis kecil itu meninggal saat itu juga.
Jung Ji Yong dan para pengawalnya kabur. Bong Soon marah besar dan mengejar Jung Ji Yong. “Berhenti! Berhenti kau, Bajingan!” teriak Bong Soon.
Jung Ji Yong tiba di istana dan bersembunyi di sana.
“Buka pintu!” teriak Bong Soon.

Ryung sudah tiba di Nam Mun. Ia berteriak-teriak di sepanjang jalan, “Ryung yang Menawan dari Nam Mun sudah kembali!” Namun keadaan pasar saat itu sangat sepi. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan bingung.
Tiba-tiba ia melihat kerumunan orang dan berjalan mendekati. Dilihatnya pita merah jambu milik Nyang Soon tergeletak di tengah jalan.
Ryung menerobos ke keramaian itu dan melihat Nyang Soon sudah berbaring tak bernyawa.
Ryung sangat terkejut dan bergegas berlari ke gerbang istana. Di sana, ia melihat Bong Soon mencoba masuk namun dihalangi oleh pengawal.
“Serahkan pembunuh itu!” teriak Bong Soon. “Serahkan orang itu!”
Ryung menarik tangan Bong Soon dan mengajaknya pergi, namun Bong Soon menolak. “Bajingan yang membunuh Nyang Soon sedang bersembunyi di dalam!” ujar Bong Soon, menangis. “Apa kau tahu kenapa Nyang Soon mati? Karena dia mengambil pita yang kau berikan padanya! Kenapa kau tidak punya hati?”
Ryung menarik Bong Soon dengan paksa, namun Bong Soon menahan sekuat tenaga dan menghempaskan tangan Ryung.
Ia berjalan perlahan dan duduk di depan gerbang. “Aku tidak akan pergi dari sini sampai bajingan itu keluar.” katanya.
Ryung menahan tangisnya dan berkata acuh. “Baik! Terserah padamu! Aku pergi.”

Bong Soon duduk di depan gerbang siang dan malam tanpa bergerak sedikitpun. Beberapa warga membawakan makanan untuknya. “Makanlah sedikit.” ujar mereka, namun Bong Soon tetap tidak bergerak.
Ryung mengawasinya dari jauh. “Walau dia duduk disana selamanya, tidak akan ada yang memperhatikannya.” gumam Ryung. Ia menoleh dan kaget melihat beberapa warga berdatangan.
Orang tua Nyang Soon datang dengan gerobak, membawa jenazah putrinya. Heung Kyun, Dae Shi, Ibu angkat Dae Shi dan ayah Heung Kyun ikut dalam rombongan itu.
“Tolong katakan pada orang yang telah membunuh putri kami agar keluar dan meminta maaf pada kami.” kata ibu Nyang Soon, menangis. “Ia hanya perlu mengatakan maaf. Kami tidak mau arwah putri kami menjadi tidak tenang.”
Mereka duduk di samping Bong Soon.

Ryung berjalan menuju rumahnya. Saat itu Swe Dol sedang cemas menunggu putranya datang. “Ryung sudah datang!” seru Swe Dol senang ketika melihat Ryung. Ia bergegas berlari dan memeluk Ryung.
Dan Ee keluar dan membawakan makanan untuk Ryung. Walaupun bersikap dingin, namun terlihat bahwa Dan Ee senang Ryung telah kembali.
Ketika Ryung makan, Swe Dol dan Dan Ee bergegas pergi, ingin bergabung dengan Bong Soon untuk meminta keadilan atas kematian Nyang Soon.

Makin banyak warga yang bergabung dengan Bong Soon, duduk di depan gerbang istana. Eun Chae pun datang ikut serta.
Jung Ji Yong mengintip takut-takut lewat celah pintu gerbang.
“Jangan khawatir.” kata Jung Myung Seo. “Kembalilah ke kamarmu.”
“Tapi mereka sangat banyak.” ujar Jung Ji Yong takut.
Jung Myung Seo mendatangi Byun Shik. “Ini bukanlah masalah besar, tapi mereka meributkan hal ini.” katanya. “Tampaknya kami butuh bantuan istana untuk menyelesaikan hal ini.”
Byun Shik sedikit kesal dan hendak menolak dengan halus. Namun Jung Myung Seo mengingatkan Byun Shik bahwa ia telah banyak menolongnya dan dengan menggunakan sedikit ancaman, Byun Shik terpaksa menyetujui permintaannya.

Para pengawal istana diperintahkan keluar dan menjaga gerbang. Warga mulai ricuh dan memaksa masuk.
“Kalian para pengawal! Kalian melindungi penjahat yang telah membunuh anak ini!” Eun Chae maju diantara kericuhan itu. “Bagaimana bisa kalian melakukan ini pada orang-orang tidak berdosa! Keinginan warga adalah keinginan langit yang tidak bisa ditentang! Yang harus dilakukan pembunuh itu hanyalah membungkukkan kepalanya dan meminta maaf!”
Para pengawal terdiam. Bong Soon bangkit dan menatap Eun Chae.

Shi Wan masuk ke istana dan melihat Jung Ji Yong sedang berjudi bersama teman-temannya. Ia menatap Jung Ji Yong dengan pandangan muak.

Byun Shik memerintahkan kepala pengawal untuk menangkap para pemimpin aksi protes dan menyiksa mereka.
“Pukuli mereka!” perintah kepala pengawal.
Para pengawal ragu sejenak, namun kemudian maju dan menghajar pada protestan.
Bong Soon, Swe Dol, Heung Kyun, Dae Shi dan yang lainnya di ikat dan dipukuli.
Dan Ee dan ibu angkat Dae Shi tiba-tiba datang dengan membawa gerobak berisi alat-alat persenjataan amatir seperti sapu lidi, penggorengan, dan cangkul.
Para warga mengambil senjata itu dan berbalik memukuli para pengawal.

Gagal dengan rencana yang satu, Byun Shik menjalankan rencana yang lain, yaitu memanggil semua anggota geng di kota itu untuk turun tangan.
Anggota geng Ajik datang ke depan gerbang istana dengan persenjataan lengkap.
Para warga berdiri, mulai panik dan ketakutan.
“Teman-teman, hajar mereka!” teriak Hee Bong memerintahkan para anggota gengnya.
“Sam Deok!” tiba-tiba terdengar suara marah seorang wanita.
“Ibu!” Sam Deok terkejut melihat ibunya. “Kenapa ibu disana? Cepat kemari! Sangat berbahaya disana!”
“Kemari kau anak nakal!” panggil ibunya. “Bukankah kau warga kota ini? Kenapa kau ada di sana?!” Ibu Sam Deok marah dan menjewer telinga anaknya.
“Kang Woo!” panggil seorang pria tua.
“Kakek…” laki-laki anggota geng bernama Kang Woo mundur ketakutan dan bersembunyi di balik punggung Hee Bong. Si kakek menjewer telinga Kang Woo dan mengajaknya ke pihak para warga desa.
“Yoo Kam!”, “Bong Da!”
Demikian seterusnya. Ayah, Ibu, Kakek dan keluarga para anggota geng satu per satu diajak ke pihak warga desa.
Hee Bong diberitahu oleh seseorang bahwa ini bukanlah tindakan pemberontakan.
“Byun Shik kurang ajar! Dia menipu kita!” ujar Hee Bong marah. “Teman-teman! Kita bergabung dengan warga desa!”

Gagal lagi rencana Byun Shik. Ia merencanakan rencananya yang lain.
Saat warga desa sedang makan dan beristirahat, tiba-tiba pasukan misterius bercadar keluar dan memukuli warga desa habis-habisan dan tanpa ampun.
Ryung, yang saat itu sedang menyelinap ke dalam istana untuk melihat keadaan, keluar dan menolong para warga desa, namun sayang tidak ada satu orang pun warga desa yang menyadari keberadaannya saat itu karena suasana sedang sangat kacau.
Para warga terluka parah dan terpaksa mundur sementara waktu untuk mengobati luka mereka.

“Kau bodoh!” ujar Dan Ee, mengobati Swe Dol yang terluka parah karena melindunginya. “Jika kau mati, aku juga tidak bisa hidup lagi.” Dan Ee hampir menangis dan beranjak menolong yang lain.
Swe Dol tersenyum senang.
“Maafkan aku.” kata Eun Chae pada Dan Ee. “Aku satu-satunya yang tidak terluka.”
“Jangan salahkan dirimu, Nona.” ujar Dan Ee.
“Tolong pinjamkan aku bajumu. Aku merasa tidak nyaman dengan pakaian ini.” ujar Eun Chae.

Ryung kembali ke markas persembunyiannya untuk membuat sesuatu dari besi dan baja. Ia hendak membuat persenjataan, baju dan topeng.
“Tunggu saja.” gumam Ryung. “Lihat apa yang akan aku ambil kali ini.”

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Iljimae – Episode 12

Keadaan Ryung sudah cukup membaik. Bong Soon merawat Ryung dengan sangat perhatian. “Itu menyakitkan ya?” tanya Bong Soon, melihat Ryung menggeliat-geliat kesakitan. “Aku tahu kau menderita. Hidupmu sangat menderita.”
Ryung akhirnya sadar, wajahnya pucat pasi. Bong Soon menyuruh Ryung minum obat.
“Apa ini?” tanya Ryung melihat ke dalam mangkuk.
“Darah sapi.” jawab Bong Soon.
“Darah sapi?!” seru Ryung, belum apa-apa dia sudah ingin muntah. “Bawa itu pergi. Aku tidak mau minum.”
“Aku lari ke rumah hakim di utara untuk meminta ini.” kata Bong Soon. “Besok dia akan pergi ke Wei. Karena itulah keluarganya memotong sapi.”
“Hakim?” Ryung berpikir. Ia teringat saat menyalin buku yang dipinjamnya dari Eun Chae secara diam-diam. Ada nama hakim tersebut. “Kenapa dia pergi ke Wei?”
“Mana aku tahu! Cepat minum!”

Ryung bertanya pada Hee Bong kenapa hakim tersebut pergi ke Wei. Hee Bong menjawab, “Beberapa hari yang lalu, di pantai Pulau Jin, datang sebuah kapal milik Negara Wei dan kapal kemudian tersebut disita. Pihak istana berdebat apakah kapal tersebut merupakan mata-mata dari Wei atau bukan. Karena itulah hakim melakukan perjalanan ke Wei.”
“Berapa lama dia pergi?”
“Tidak bisa diperhitungkan.” jawab Hee Bong. “Bisa beberapa bulan, atau beberapa tahu. Kemarin aku datang ke rumahnya dan dia sudah berbenah.”
“Dia pergi besok, bukan?”
“Ya, tapi kenapa kau ingin tahu?” tanya Hee Bong.
Ryung tersenyum, “Tidak apa-apa.”

Byun Shik meminta Shi Hoo mengambilkan buku laporan di kamar Eun Chae. Eun Chae mengambil buku tersebut di lemari.
“Kenapa buku ini di atas?” gumam Eun Chae.
“Ada apa?” tanya Shi Hoo.
“Tidak apa-apa.” jawab Eun Chae. “Aku biasanya meletakkan buku daftar anggota Jeonwoohoe di bagian bawah, tapi rupanya aku salah meletakkan.”
Shi Hoo curiga. “Apa kau pernah mengajak si pencuri itu masuk ke kamarmu?” tanyanya. Eun Chae tidak bisa menjawab. “Bagaimana kau bisa melakukan kesalahan seperti itu! Berikan buku itu padaku!”
Shi Hoo membolak-balik halaman buku Jeonwoohoe. Ia kemudian menemui Byun Shik. “Apa itu Jeonwoohoe?” tanyanya. “Aku mencurigai sesuatu.”
“Jeonwoohoe adalah ikatan persaudaraan yang terdiri dari para pemberontak, termasuk para pejabat istana.” jawab Byun Shik. “Tapi sekarang mereka bukan lagi kelompok pemberontak. Semua orang yang berkuasa bisa ikut ambil bagian dalam kelompok tersebut. Kenapa kau ingin tahu?”
Untuk lebih gampangnya, Jeonwoohoe adalah kelompok pemberontak yang dulu berusaha menurunkan raja sebelumnya, Gwang Hae, kemudian mengangkat Raja yang sekarang.
“Semua rumah yang dimasuki oleh pencuri itu adalah rumah para anggota Jeonwoohoe.”
Byun Shik terkejut. “Apa?!”
Akhirnya, Byun Shik memerintahkan di rumah masing-masing anggota Jeonwoohoe harus dijaga oleh para pengawal istana.

Karena hakim akan pergi ke Wei besok dan belum tentu bisa kembali dengan cepat, maka mau tidak mau Ryung harus menyelinap ke rumah hakim tersebut malam ini. Ia memaksakan diri walau kondisi tubuhnya belum sembuh betul.
Ryung menyusup ke rumah sang hakim dan melihat pedang yang dimiliki hakim tersebut. Tidak ditemukan lambang pada pedang manapun.

Shi Wan saat itu sedang berjaga di rumah sang hakim. Ia tidak benar-benar berjaga, malah memanggil wanita penghibur ke sana. Ryung mengerjainya. Ia mengikat Shi Wan dan mencelupkannya ke sumur. Wanita penghibur yang dibawa Shi Wan berteriak.
Shi Hoo dan para pengawal berlari-lari datang.
“Ke sebelah sana!” seru Shi Wan menunjuk ke arah Iljimae pergi. Pengawal lain melihatnya dan si wanita penghibur dengan heran. “Ke sana!!”
Shi Hoo dan pengawal yang lain mengejar Iljimae. Shi Hoo berhasil melukai kaki Ryung, namun Ryung berhasil kabur dan naik ke tandu milik seseorang wanita.
Shi Hoo menemukan wanita pemilik tandu disekap di dalam sebuah gudang, kemudian bergegas memerintahkan orang untuk mengejar tandu tersebut.

Pengawal akhirnya berhasil menemukan tandu dan membukanya. Iljimae sudah tidak ada di sana.
Shi Wan membalik tandu, mencari lewat mana Iljimae kabur. Ternyata di bawah tandu itu ada lubang yang menjurus ke tempat penyimpanan biji-bijian. Shi Wan bergegas pergi ke ruang penyimpanan biji-bijian. Ia membuka pintu ruangan penyimpanan dan masuk ke dalamnya, namun tidak ada seorangpun di sana.
Ryung menutup dan mengunci pintu ruangan itu dari luar agar Shi Wan dan pengawal yang lain tidak bisa keluar.
Shi Wan naik ke atas, ke saluran yang menuju tempat Iljimae tadi menghilang dari tandu. Namun Ryung sudah meletakkan sebuah batu besar di atasnya. Shi Wan tidak bisa keluar.
Ruang penyimpanan biji-bijian tersebut adalah sebuah ruangan dingin (seperti kulkas).
Shi Hoo, yang akhirnya menyusul Shi Wan ke ruangan tersebut, sudah menemukan para pengawal telanjang karena Shi Wan memakai semua baju mereka.
“Kenapa kau lama sekali datang?” tanya Shi Wan pada Shi Hoo. “Apa kau sengaja melakukannya?”

Shi Hoo menemui Eun Chae. “Dia muncul lagi.” kata Shi Hoo.
Eun Chae lega mendengarnya. “Berarti dia masih hidup.” ujarnya senang.
“Apa kau tidak mengerti? Ia mencoba memperalatmu!” seru Shi Hoo. “Dia datang ke rumah para anggota Jeonwoohoe .
“Ini kesalahpahaman, kakak.” bela Eun Chae.
“Kesalahpahaman? Baik, aku akan menangkapnya dengan tanganku sendiri dan membuka topengnya di hadapanmu!”

Ryung tidur di rumah. Swe Dol masuk ke kamarnya dan menyentuh kening Ryung. “Kau demam!” seru Swe Dol, mengoceh dan menasehati Ryung banyak hal tentang ini itu.
“Ayah, aku ingin istirahat sebentar.” kata Ryung, menyuruh ayahnya diam.
“Ya, istirahatlah.” kata Swe Dol. “Tapi kenapa para pengawal memeriksa setiap rumah seperti itu? Mereka bahkan memaksa laki-laki muda di desa untuk membuka baju.”
Ryung cemas. Ia kemudian bangkit dan pergi keluar.

Di jalan, Ryung melihat Shi Hoo dan pengawal lain sedang berjalan ke arahnya. Ryung hendak melarikan diri, namun kemudian ia melihat sebuah geng sedang tawuran melawan geng lain. Ryung ikut ambil bagian.
Kong He geleng-geleng kepala melihat tawuran itu. Tapi begitu melihat Ryung sedang dipukuli orang, Kong He bergegas membantunya. “Nak, aku menyuruhmu beristirahat!” kata Kong He pada Ryung. “Kenapa kau malah berkelahi di sini?”
Kong He melawan semua orang disana dengan ilmu bela dirinya yang hebat. Ryung menjadi sangat terkesan. Ia memegangi kakinya yang sakit dan banyak mengeluarkan darah.
Para pengawal datang. Mereka menyuruh orang-orang yang terluka kakinya untuk maju. Ternyata karena tawuran tersebut, banyak orang yang terluka kakinya.
“Dia juga terluka di bagian perut.” kata Shi Hoo.
Kong He menoleh ke Ryung, menyadari apa yang terjadi. Ia kemudian memukul seseorang yang paling dekat dengannya. “Apa kau tidak punya orang tua?!” omelnya, mencari keributan. “Pukul aku sekali lagi! Pukul aku sampai mati! Pukul aku sampai mati!”
Kong He memberi isyarat pada Ryung agar pergi. Ryung mengangguk, namun sayang Shi Hoo tidak terpengaruh pada kejadian tersebut dan terus memeriksa mereka.
Ryung membuka bajunya perlahan, Kong He sudah siap bertindak. Tapi tiba-tiba…
“Ryung!” Shi Wan melambai, memanggil Ryung. “Apa yang terjadi?! Kau terluka?!” seru Shi Wan khawatir, melihat kaki Ryung yang terluka.
Ryung langsung berteriak kesakitan. “Bukan begitu, Tuan. Aku dilukai oleh Bongdo saat berkelahi.”
“Kau!” Shi Wan marah pada Bongdo dan mengeluarkan pedangnya, namun memasukkannya kembali. Ia kemudian mengajak Ryung pergi. “Ayo! Lukamu harus diobati terlebih dahulu.”
“Dia salah satu orang yang dicurigai.” kata kepala polisi.
“Apa maksudmu?” tanya Shi Wan. “Dia adalah orang kepercayaanku. Ayo pergi!”
Shi Wan memapah Ryung dan berjalan pergi.

Ketidakmampuan Ryung dalam bela diri membuatnya ingin berlatih. Ia teringat kemampuan Kong He dan mencoba mendekatinya.
Ryung membersihkan kandang kuda, tugas yang seharusnya dikerjakan oleh Kong He. Ia kemudian membawakan Kong He satu guci arak dan menyuapinya makan. Ryung memohon dan menyembah-nyembah agar Kong He mau mengajarinya.
Bong Soon memandang Ryung dari jauh dengan pandangan terpesona. Nyonya Kedai mengagetkannya. “Kenapa kau memandang seperti itu? Memangnya ada yang menarik?”
“Kurasa aku kena gangguan perncernaan.” kata Bong Soon. “Walaupun aku belum makan, tapi aku selalu merasa penuh di sini.” Ia memegang dadanya. “Apa yang terjadi denganku? Apa aku terkena penyakit yang tidak bisa disembuhkan?”
“Anak ini… Benar, kau memang kena penyakit. Penyakit cinta! Apa kau sedang jatuh cinta?”
“Apa? Sakit cinta?” Bong Soon terlihat takut, kemudian melarikan diri.
“Sepertinya memang benar.” kata Nyonya Kedai, mencari-cari laki-laki terdekat. Ia melihat Ryung. “Masa…”

Byun Shik melihat Shi Hoo berlatih bela diri dengan keras. “Kenapa dia?” tanyanya pada kepala polisi.
“Dia hampir saja menangkap Iljimae dua kali, tapi Iljimae selalu berhasil lolos. Hatinya jadi dipenuhi kemarahan.”
Byun Shik mengangguk, kemudian memanggil Shi Hoo.
Shi Hoo diperintahkan untuk mengirim surat pada Chun. Shi Hoo melihat kemampuan bela diri Chun yang hebat, lalu berlutut dihadapannya. “Tolong ajari aku bela diri.” Chun menolak. Shi Hoo tetap berlutut disana sepanjang hari.
Chun membaca surat dari Byun Shik. “Kim Ik Hee pergi menemui Jung Myung So. Aku harus bertemu dengan Raja secara rahasia.”
Chun mendatangi Shi Hoo, yang masih berlutut walaupun hujan turun dengan deras. “Aku harus menangkap seseorang.” kata Shi Hoo.
“Kenapa kau sangat ingin menangkapnya?” tanya Chun.
“Karena itu adalah satu-satunya jalan untukku agar bisa hidup sebagai seorang manusia.” kata Shi Hoo. “Caraku untuk mencapai tempat tertinggi.”

Kong He diam-diam berniat pergi. Bong Soon menghadang jalannya. “Mau kemana kau?” tanya Bong Soon. “Kenapa akhir-akhir ini wajahmu kelihatan sedih?”
“Aku harus menghindari seseorang.” jawab Kong He.
Kong He berjalan pergi. Ryung melihat Kong He hendak pergi, kemudian menutup jalannya. “Mau kemana kau, Guru? Bawa aku bersamamu.”
“Aku memutuskan pergi karena aku tidak ingin melihatmu.”
“Kau tidak boleh pergi! Tidak boleh!” seru Ryung bersikeras.
“Minggir!”
“Kau tidak boleh pergi!” teriak Ryung, menahan Kong He. Kong He mendorongnya hingga terjatuh.
Ryung tidak mau menyerah. Ia memegangi kaki Kong He. “Kau tidak boleh pergi! Bawa aku bersamamu!” Lagi-lagi Kong He menghempaskan Ryung ke tanah. “Kau tidak boleh pergi!”
Luka di perut Ryung berdarah lagi, namun Ryung tidak memedulikan rasa sakitnya. “Tolong izinkan aku ikut…” Ryung merangkak di kaki Kong He.
“Kenapa kau sangat ingin belajar bela diri?” tanya Kong He.
“Karena… Aku harus menyelesaikan sesuatu. Jadi aku… Aku tidak boleh mati!”

Ryung menemui Nyang Soon, anak si pedagang sayur. “Taaaraaaa!!” Ryung menunjukkan sebuah pita pink padanya. “Aku menggunakan uangmu untuk membeli ini.”
“Uang?” tanya Nyang Soon, tersenyum senang.
“Kakak tampan ini akan mengikatkannya di rambutmu. Bagaimana?” tanya Ryung.
Nyang Soon mengangguk.
Ryung mengikatkan pita itu ke rambut Nyang Soon. “Nyang Soon-ku tersayang sudah cantik sekarang!” ujar Ryung ceria. “Walau kau tidak bertemu denganku beberapa hari ke depan, kau tidak boleh menyukai orang lain.”
“Kemana kau akan pergi, Kakak?”
“Aku akan bekerja keras agar bisa menikahi Nyang Soon.” kata Ryung. “Laki-laki harus punya kekuatan.”
“Tapi kemana kau akan pergi?”
“Ke tempat yang sangat jauh. Kau harus menuruti kata-kata orang tuamu, ya? Aku pergi sekarang!”
“Hati-hati di jalan.” kata Nyang Soon. “Aku tidak akan menyukai orang lain. Aku akan menjadi anak yang baik dan menunggumu pulang.” Ryung tertawa dan melambaikan tangan padanya.
Bong Soon mengintip dan kesal setengah mati melihat pita itu diberikan pada Nyang Soon.

Ryung kemudian berkunjung ke rumah lamanya.
“Ayah.” kata Ryung di depan pohon Mae Hwa. “Aku tidak bisa mengunjungimu untuk sementara waktu. Tapi aku akan menjadi sepertimu. Aku akan menjadi laki-laki yang kuat saat aku kembali.”
Ryung berjalan ke pohon Mae Hwa besar dan menyentuh batangnya.
Bong Soon mengikuti Ryung dan mengintipnya dari balik tembok pagar. “Jadi ini adalah rumahmu.” Bong Soon melihat Ryung sedang memandang pohon Mae Hwa dengan sedih.

Ryung meninggalkan surat untuk Swe Dol. Karena Swe Dol tidak bisa membaca, Heung Kyun menolongnya. “Dia bilang, dia ingin pergi ke gunung dan belajar keras untuk ujian yang akan datang.”
“Apa dia meninggalkan pesan khusus padaku?” tanya Swe Dol berharap.
Heung Kyun tersenyum dan memanggil Dan Ee. “Bibi, Ryung bilang kau tidak perlu cemas. Dan ia menyuruhmu menjaga kesehatanmu.”
Swe Dol tersenyum. “Kau sangat dingin padanya, tapi yang dia pikirkan hanya ibunya. Aku jadi iri.”

Kong He dan Ryung menaiki sebuah kapal melewati laut. Sesampainya di pantai, Kong He sengaja membuang barang bawaannya ke laut dan menyuruh Ryung mengambilnya.
Ryung melompat ke laut. “Dingin sekali!” teriaknya. “Aduh, image-ku benar-benar sudah hancur!”
Ryung mengangkat barang bawaan Kong He, namun barang tersebut sangat berat sehingga membuatnya kesulitan mengangkat barang-barang tersebut.
Ryung mengikuti Kong He berjalan dari belakang. Lama mereka berjalan, Ryung mulai menyadari sesuatu. “Paman!” panggilnya. “Bukankah tadi kita sudah melewati tempat ini?”
“Siapa yang menyuruhmu mengikutiku?” tanya Kong He. “Pergi sana!”
Ryung bingung. Ia melihat dermaga kecil tempat rakit tadi, namun kapal itu sudah tidak ada. “Aku ikut denganmu!” teriaknya.
Mereka akhirnya sampai ke sebuah gubuk kecil. Kong He duduk dengan santai dan berseru pada Ryung, “Keringkan bajuku!”
Ryung mengomel sendiri dan melakukan perintah Kong He.

Kim Ik Hee adalah pejabat yang menemukan surat dari Kwon Do Hyun. Raja merencanakan sesuatu untuk menghabisinya dengan memasang pancingan.
Kim Ik Hee dan kedua pejabat melihat mayat di tengah hutan. “Pihak istana mulai mencari putra Lee Won Ho.”
“Kita harus menemukan putra Lee Won Ho.” kata Kim Ik Hee. “Itulah satu-satunya kesempatan kita agar bisa selamat. Kita harus menggunakan Geom untuk menjatuhkan Raja.”
“Jadi, kita akan melakukan rencana pemberontakan?”

Kong He menyuruh Ryung membersihkan rumah dan mencari kayu bakar, sedangkan dia sendiri bermain-main dengan seorang wanita penghibur bernama Myung Wol. Ryung melihat Kong He dengan kesal.
“Cepat potong kayu bakar!” perintah Kong He padanya.

Ryung belum makan, ia mengendap-endap ke belakang rumah untuk makan. “Laparnya.” gumam Ryung.
Baru makan satu gigitan, mendadak Kong He muncul dan merebut makanannya. “Pencuri ini… Kau lebih buruk daripada Iljimae! Myung Wol membawakan makanan ini untukku…”
Ryung melihat Kong He dengan kesal.
Kong He mendekati Ryung. “Myung Wol bilang, Iljimae tidak muncul belakangan ini.” katanya curiga.
Ryung mencoba mengalihkan pembicaraan. “Aahh, ayam ini terlalu tua. Gigiku hampir copot!”
“Tapi kelihatannya tujuan utama Iljimae bukan untuk mencuri.” kata Kong He, tidak terpengaruh.
“Apa lagi tujuan seorang pencuri kalau bukan untuk mencuri?” protes Ryung.
“Mungkinkah dia sedang mencari sesuatu?” pikir Kong He. “Dia mencuri hanya untuk menutupi tujuan yang sesungguhnya.”
Ryung terus menerus mengelak dan meyakinkan Kong He bahwa Iljimae memang benar-benar ingin mencuri. Kong He tidak mau mendengarkan.

Setiap hari, Ryung selalu mengangkat kayu bakar dan membersihkan rumah.
Ryung membersihkan rumah. Saat Ryung membersihkan bagian sebelah kiri, Kong He mengotori bagian sebelah kanan. Saat Ryung membersihkan bagian sebelah kanan, Kong He mengotori langu bagian sebelah kiri.
Ryung berteriak frustasi. “Aku tidak mau melakukannya lagi!! Aku membersihkan, kau mengotorinya lagi! Sebenarnya apa yang kau mau?!”

Ryung kemudian mengangkat air. Kong He melemparkan kain ke wajahnya hingga Ryung terjatuh dan menumpahkan air yang dibawanya.

Ryung memasak sesuatu di dapur. Kong He lalu melemparkan kain lagi ke wajahnya. Ryung membalas lemparannya dan Kong He menangkap kain itu dengan gesit.
“Wajahku akan tergores!” seru Ryung marah.
“Gerakanmu terlalu lambat!”
“Kapan kau akan mengajarkan aku bela diri?”
“Aku tidak akan mengajarkanmu kecuali kau bisa menghindari kain ini.”
“Benarkah?” tanya Ryung senang. Kong He melempar kain itu lagi ke wajah Ryung.

“Mereka termakan pancingan, bukan?” tanya Raja pada Chun.
“Ya, Yang Mulia. Setelah mereka berhasil menemukan putra Lee Won Ho, aku akan membunuh mereka secepatnya.” jawab Chun.

Bong Soon datang menjenguk Ryung dan Kong He.
“Bong Soon!” panggil Kong He, senang melihat Bong Soon.
Bong Soon tidak memedulikannya dan mencari-cari Ryung. “Ryung!” Bong Soon memberikan makanan padanya, namun Ryung menolak.
“Aku harus memotong kayu bakar dan membersihkan rumah” katanya dengan wajah memelas. “Pundakku…”
Bong Soon melihat tumpukan kayu bakar yang dibawa Ryung, wajahnya berubah marah. “Kau pendeta tidak punya hati!” teriak Bong Soon pada Kong He.
Bong Soon mengajak Ryung makan dan menyuruh Kong He mencuci piring. “Tidak ada gunanya membesarkan seorang anak.” Kong He ngedumel.
Bong Soon menyuapi Ryung makan. “Ini bagus untuk laki-laki. Laki-laki butuh kekuatan.” Bong Soon melihat wajah Ryung terbaret. Ia menoleh pada Kong He. “Kau melempar kain lagi, kan?!”
Kong He melempar kain. Bong Soon mengelak. Kain tersebut tepat mengenai wajah Ryung.
“Ryung, kau tidak apa-apa?” tanya Bong Soon, mengambil kain tersebut dari wajah Ryung. “Wajahmu yang tampan jadi bengkak begini.”
“Tidak ada gunanya membesarkanmu!” Kong He ngambek dan pergi keluar.
Ryung kesal. “Tapi, bagaimana caramu menghindari kain itu?”
Bong Soon tersenyum jahil. “Di dunia ini, tidak ada makan siang yang gratis.” Ia kemudian memonyongkan bibirnya, minta dicium.
Ryung melempar kain ke wajah Bong Soon, kemudian pergi keluar.

Ryung belajar ilmu bela diri sendirian. Bong Soon menantangnya. “Kau ingin aku mengajarimu?”
“Kau?”
“Kenapa? Kau meremehkan aku?” tanya Bong Soon. “Ayo berduel.”
Ryung hendak menolak, tapi Bong Soon tiba-tiba menonjok wajahnya sekali. Ryung langsung jatuh dan hidungnya berdarah.
Ryung marah dan menyerang Bong Soon, namun Bong Soon dengan mudah bisa menghindari dan membuat Ryung jatuh di sana sini.
“Bagaimana kau menghindari kain itu?”” tanya Ryung ketika mereka selesai berlatih dan beristirahat.
“Itu mudah.” kata Bong Soon. “Kau hanya perlu menganggap kain itu sebagai kotoran.”
“Kotoran?!” seru Ryung. “Kulihat kau bisa bela diri.”
“Aku belajar sendiri.”
“Kenapa kau belajar bela diri?” tanya Ryung. Saat itu, Kong He dengan diam-diam mendengar pembicaraan mereka.
Wajah Bong Soon berubah sedih. “Aku ingin balas dendam pada seseorang.”
“Kau ingin membunuhnya?”
“Tentu saja.” jawab Bong Soon. “Kau tidak boleh mengatakan hal ini pada ayahku. Jika kau mengatakan padanya, aku akan membunuhmu!”
Bong Soon dan Ryung berbaring di rumput, memandang bintang.
“Ryung, apa kau lelah?” tanya Bong Soon.
“Apa aku lelah?” Ryung bertanya pada dirinya sendiri.
“Ini semua karma.” gumam Kong He.
Mereka bertiga berbaring bersama dalam satu ranjang kayu, namun tidak satupun dari mereka yang tidur. Bergulat dengan pikiran masing-masing.

Esoknya, Kong He memaksa Bong Soon pergi. “Ryung! Aku tidak mau pergi!” seru Bong Soon minta dukungan.
“Kenapa kau tidak mau pergi?” tanya Ryung santai. “Cepat pergi sana! Jangan pernah kembali ke sini lagi!”
Bong Soon terpaksa pergi. Ia melambaikan tangan pada Ryung.
“Apa yang kau lakukan pada putriku?” tanya Kong He marah pada Ryung. “Dulu dia hanya perhatian padaku. Kenapa dia jadi seperti ini?” Kong He kesal dan melempar kain ke arah Ryung, namun Ryung menghindari kain itu dengan spontan.
“Aku bisa menghindarinya!” seru Ryung senang. “Sekarang kau akan mengajarkan aku bela diri kan?!”

Kong He berpikir. “Benar. Akulah yang menyebabkan karma ini. Aku harus bertanggung jawab.”
Kong He akhirnya bersedia mengajari Ryung. “Aku akan mengajarkanmu menggunakan pedang!”
“Seharusnya kau mengajarkan aku dasarnya dulu.” ujar Ryung.
“Kau sudah mengangkat air, memotong kayu bakar dan membersihkan rumah beberapa hari ini. Jika itu bukan latihan dasar, lalu apa namanya?” kata Kong He. “Bisa menghindari kain dan pedang kayu, artinya kau sudah menguasai setengah dari ilmu pedang.”
Kong He dan Ryung mulai berlatih dengan menggunakan pedang kayu.
“Gunakan pedangmu untuk menghentikan pedang lawan.” ujar Kong He. “Mulai sekarang, aku akan menyerangmu.”

Ayah Heung Kyun mengeluarkan pendapatnya tentang Iljimae. “Iljimae adalah seorang wanita.” katanya. “Kenapa dia bisa lolos dari pemeriksaan badan waktu itu? Karena yang diperiksa hanya laki-laki.”
Swe Dol mendengarkan dengan seksama. “Kenapa dia tidak muncul belakangan ini?”
“Aku tidak tahu mana yang benar.” kata Ayah Heung Kyun. “Apa mungkin dia dibawa ke negeri Cing, atau mungkin dia bunuh diri, atau mungkin juga dia menikah?”
Swe Dol membuat cerita versinya sendiri. “Dengar ya! Iljimae menikah, kemudian pergi ke negeri Cing. Setelah sampai disana, pernikahannya berantakan dan dia bunuh diri. Begitu!”

Swe Dol pulang dan menceritakan gosip tentang Iljimae versinya sendiri. Ia dan Dan Ee makan, namun Dan Ee kelihatan banyak pikiran. “Aku bertanya-tanya apakah Ryung sudah makan saat ini.” ujarnya khawatir.

Kong He terus melatih Ryung.
“Ada 9 teknik untuk menyerang dengan sebuah pedang.” kata Kong He. “Tidak peduli secepat dan seindah apa permainan pedangmu, semua itu berasal dari 9 teknik tersebut. Selama kau mengerti teknik-teknik ini, siapapun yang bertarung melawanmu, kau tidak akan pernah kalah.”

Kong He mengajari kesembilan trik ini dengan menjadikan Ryung objek serangan.
Di lain pihak, Chun juga sedang mengajari Shi Hoo. Namun objek serangan Shi Hoo adalah sebuah boneka jerami.

Sedikit demi sedikit, Ryung mulai bisa menangkis serangan-serangan Kong He.
“Guru, apa boleh besok kita berlatih dengan menggunakan pedang sungguhan?” tanya Ryung.
“Tidak!” jawab Kong He. “Kau tidak boleh menggunakan pedang untuk menyakiti orang. Dulu, aku adalah seorang pembunuh. Semakin aku berpikir bahwa itu hal yang benar, aku makin berpikir pula bahwa membunuh orang bukanlah hal yang buruk. Wanita, orang tua, bahkan anak-anak. Aku membunuh mereka semua tanpa ampun. Dengan tangan ini.”
“Bagaimana caramu berpikir tentang kebenaran?” tanya Ryung.
“Benar. Apa itu kebenaran? Seseorang yang membunuh orang lain bukanlah orang yang benar. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, tapi ketika kau membunuh seseorang, semua kebenaran itu tidak lagi ada.”

“Semua orang menyebutku pembunuh.” kata Chun oada Shi Hoo. “Tapi aku tidak peduli. Aku akan membunuh siapapun yang menghalangi jalanku. Itulah yang kusebut kebenaran bagiku.”
“Guru, seperti apa kebenaran yang kau percayai?” tanya Shi Hoo.
“Raja adalah kebenaran yang aku percayai.”

Kong He melatih Ryung lagi. Ia memukuli Ryung habis-habisan sampai Ryung bisa mengelak sendiri dari serangannya.
Musim panas sudah berlalu, musim gugur, musim dingin, musim semi….
Kini Ryung sudah bisa melawan Kong He dengan seimbang.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com