The Kingdom Of The Winds – Daftar Episode

Drama ini mengisahkan kehidupan cucu dari Jumong, Moo Hyul, yang dilahirkan dengan kutukan untuk membunuh kedua orangtuanya, saudara-saudarinya, anak lelakinya, dan menghancurkan Goguryo.

Baca lebih lanjut

Iklan

The Kingdom Of The Winds – Episode 08

“Aku tidak akan pernah mati karena aku masih harus membalas dendam pada seseorang.” kata Muhyul penuh amarah.
“Pada siapa?” tanya Tak Rok.
“Raja Yuri.”
“Kenapa? Bukankah kau berasal dari Goguryeo?” tanya Tak Rok. “Kau ingin membunuh Rajamu sendiri?”
“Raja Yuri sudah membunuh orang yang membesarkan aku dan teman dekatku.” jawab Muhyul. “Raja Yuri bukan lagi rajaku.”
Tak Rok memerintahkan orang untuk membawa Muhyul keluar. Seorang anggota Bayangan Hitam mengatakan bahwa Muhyul berkata jujur.
Tak Rok berpikir.

Muhyul dibawa kembali ke penjara. Ia tertawa.
“Bagaimana bisa kau tertawa dalam kondisi seperti itu?” tanya Maro cemas. “Aku benar-benar berpikir kau akan mati di luar sana.”
“Aku masih harus melakukan sesuatu, bagaimana mungkin aku mati?” ujar Muhyul, tersenyum.

Sementara tawanan lain di penjara tidur, Muhyul hanya duduk diam. Hari itu, akhirnya ia tahu bahwa Yeon adalah putra Tak Rok dan mendapat kehormatan dari Dae So sebagai putri BuYeo.
Seorang tawanan memanggil Muhyul. “Kudengar kau berasal dari Goguryeo.” katanya, berbisik. “Benarkah?”
“Ada apa?” tanya Maro, bangkit dari tidurnya.
“Ayo melarikan diri. Aku juga bersalah dari Goguryeo. Jika kau membantuku, kita bisa melarikan diri dari sini.”
Muhyul diam, bertukar pandang dengan Ma Ro.

“Tolong!” seru Maro. “Dia kejang-kejang lagi!”
Ma Ro berlari dengan cemas ke arah Muyul.
Para penjaga masuk untuk melihat. Muhyul, Maro dan seorang tawanan memanfaatkan kesempatan itu untuk melumpuhkan penjaga dan kabur.

Mareka bertiga berhasil keluar dari markan Bayangan Hitam.
“Jika kita melewati Gunung Cheontae, kita bisa mencapai perbatasan Goguryeo.” kata tawanan.
“Kami tidak akan kembali ke Goguryeo.” ujar Muhyul. “Terima kasih atas bantuanmu, tapi kita akan berpisah jalan disini.”
“Tunggu!” seri tawanan. “Aku manyusup ke markas itu untuk menyelidiki Bayangan Hitam. Aku adalah mata-mata Goguryeo. Jika kita kembali ke Goguryeo dan melapor ke istana, maka Yang Mulia akan memberi kita hadiah. Ayo pergi bersama.”
Muhyul meldak marah. Ia menarik kerah baju tawanan dengan kasar. “Raja Yuri bukan lagi rajaku!” katanya. “Sebelum aku membunuhmu, lebih baik kau cepat enyah dari hadapanku!”
“Aku tidak bisa begitu saja melepaskan pengkhianatan pada Yang Mulia!” seru tawanan itu, menyerang Muhyul.
Muhyul dan tawanan itu berkelahi. Mulanya Muhyul kalah, namun dengan bantuan Maro, mereka berdua berhasil menang.

Muhyul memukuli tawanan itu habis-habisan.
“Berhenti!” teriak seseorang. Muhyul mendongak dan melihat para anggota Bayangan Hitam datang mengepung mereka.
“Bagus.” kata salah seorang bayangan hitam pada tawanan itu.
Tawanan itu bangkit dengan susah payah karena terluka parah. Rupanya semua itu hanyalah sandiwara untuk menguji Muhyul. Apakah Muhyul benar-benar membenci Yuri atau tidak.

Muhyul dan Maro dibawa kembali ke markas Bayangan Hitam dan diberi banyak makanan.
“Mereka akan memberi kita makanan sebelum membunuh kita?” tanya Maro pada Muhyul. “Sebelum meracuni kita, mereka ingin membuat kita gemuk.”
Tapi Muhyul tidak peduli. Demi bertahan hidup dan membalaskan dendam pada Yuri. Ia akan melakukan apa saja.
Muhyul makan dengan lahap. Maro masih ragu.
“Makan.” kata Muhyul. “Makan jika kau ingin hidup.”
Maro akhirnya makan mengikuti Muhyul.
“Setelah selesai makan, pakai ini.” ujar seorang wanita seraya membawa dua buah pakaian seragam Bayangan Hitam.

Muhyul dan Maro memakai seragam Bayangan Hitam. Ketika sedang berjalan menuju suatu tempat, Muhyul berpapasan dengan Yeon dan bertukar pandang dengannya.

Muhyul dan Maro dibawa menemui Tak Rok.
“Mulai saat ini, kalian akan dilatih untuk menjadi Bayangan Hitam.” kata Tak Rok pada mereka. “Proses menjadi Bayangan Hitam bukanlah lelucon. Jika kalian gagal menahan kesulitan saat pendidikan dan latihan, kami akan mengeluarkan kalian dan menguji racun lagi pada kalian.”
Muhyul dan Maro sangat terkejut.
Tak Rok menambahkan. “Jika kalian berharap bertahan hidup, jadilah Bayangan Hitam.”

Di istana Goguryeo, Yuri memanggil Seryu.
“Seryu…” Yuri hendak mengatakan sesuatu, namun ia terlihat sangar sedih dan ragu.
Seryu tersenyum. “Aku tahu alasanmu memanggilku.” katanya. “Aku akan mematuhimu, Ayah.”
“Terima kasih karena sudah memahamiku.” kata Yuri muram.

Seryu kembali ke kamarnya. Demi politik, Seryu harus menikahi salah seorang dari suku barbar, Gisan.
“Letak gisan ratusan li dari sini.” kata dayang Seryu cemas. “Dan kau tahu betapa kejam dan garangnya mereka.”
“Tinggalkan aku sendiri.” kata Seryu. Matanya berkaca-kaca, hampir menangis.

Sangga dan Bae Geuk berunding. Persekutuan antara Gisan dan Yuri bisa menyulitkan mereka.
“Kita masih punya pilihan lain.” kata Bae Geuk, memberi saran. “Bagaimana jika kita menikahkan Pangeran Yeojin dengan seorang putri dari klan Biryu? Tidak lama lagi, Pangeran Yeojin akan menjadi Putra Mahkota dan menduduki tahta Goguryeo. Dengan begitu, kita akan lebih mudah mengendalikan segala sesuatu.”

Maro dan Muhyul diperkenalkan sebagai anggota Bayangan Hitam. Muhyul dipasangkan dengan Dojin sebagai partner latihannya, sedangkan Maro dipasangkan dengan Maenggwang.

Di tengah malam buta saat para Bayangan Hitam tidur, terdengar suara lonceng.
“Bangun!” seru Dojin.
Mereka semua bangun. Muhyul terbangun dengan kaget.
Malam itu, para Bayangan Hitam akan melakukan latihan mereka. Latihan pertama adalah berlari. Mereka semua berlari siang malam tanpa berhenti dan beristirahat.

Akhirnya mereka berhenti berlari setelah tiba di sebuah puncak bukit.
“Ini baru permulaan.” kata Pemimpin. “Kalian harus kembali lagi ke markas dalam waktu 2 hari.”
Maro mendongak. “Apakah itu mungkin?” tanyanya, terangah-engah.
“Jika ada yang gagal, maka ia akan dikeluarkan.” kata Pemimpin. “Dengan kata lain, Muhyul dan Maro, kalian akan menjadi tawanan lagi. Kalian dan pasangan kalian akan dibunuh.”
Muhyul dan para Bayangan Hitam berlari lagi.

“Aku tidak sanggup lagi.” kata Maro. “Bunuh saja aku.”
“Bangun!” seru Maenggwang.
“Aku benar-benar tidak sanggup lagi..” rengek Maro.
Maenggwang mengeluarkan pedang dan mengarahkannya ke leher Maro. “Kau ingin mati disini bersamaku?!”
Maro menggeleng takut dan menangis.

Tepat hari kedua. Belum ada satu orang pun yang datang.
“Bagaimana mungkin mereka bisa kembali dari perjalanan 3 hari dalam waktu 2 hari?” tanya Yeon pada ayahnya.
“Itulah latihan untuk Bayangan Hitam.” ujar Tak Rok. “Mereka harus memiliki kemampuan fisik dan mental lebih dari orang biasa.”
“Aku melihat seseorang!” seru salah satu Bayangan Hitam.
Tak Rok dan Yeon melihat dua orang berjalan terseok-seok. Mereka adalah Muhyul dan Dojin. Dojin memapah Muhyul yang k
“Dojin dan Muhyul berhasil menyelesaikan tugas.” lapor Dojin.
“Bagus. Kalian boleh beristirahat.” kata pemimpin.

Tidak lama kemudian, para Bayangan Hitam yang lain juga tiba. Maenggwang menggendong Maro di punggungnya. Setelah sampai, Maenggwang menjatuhkan Maro ke tanah.

“Aku sudah bertahun-tahun menjalani latihan seperti ini.” kata Dojin seraya memapah Muhyul. “Tapi aku belum pernah menemukan orang baru sepertimu.”
“Apa aku perlu melakukan latihan ini lagi?” tanya Muhyul.
“Sekali setiap bulan.” jawab Dojin. “Kau akan segera terbiasa.”
Muhyul menjatuhkan dirinya di pasir dan berbaring disana. Dojin ikut berbaring di sampingnya.
Yeon berjalan mendekati mereka.

Setelah itu, para Bayangan Hitam belajar bahasa asing. Yeon yang mengajari mereka.

Lady Mi Yoo menemui Yuri dan terus mendesaknya mengangkat Yeojin sebagai Putra Mahkota.
“Sampai kapan kau akan hidup tanpa Putra Mahkota?” tanya Lady Mi Yoo. “Yang Mulia, mengangkat Putra Mahkota akan membuat pemerintahan kita stabil dan meningkatkan keberuntungan negara Goguryeo kita. Tapi kenapa kau…”
Yuri tidak menggubris Mi Yoo. Ia bangkit dari duduknya. “Ayo.” katanya pada Goo Chu.
“Ya, Yang Mulia.”
“Yang Mulia.” panggil Lady Mi Yoo.
“Aku akan mengumumkan Putra Mahkota jika waktunya sudah tepat.” kata Yuri. “Jadi jangan ungkit lagi.”
Itu membuat Mi Yoo sangat kesal. Ia berpaling pada Yeojin setelah Yuri pergi. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya. “Kenapa kau tidak membujuk Yang Mulia?”
“Aku tidak punya keinginan untuk melakukannya.” jawab Yeojin tenang. “Ibu tidak tahu hari apa ini? Ini adalah hari kematian Kak Hae Myeong. Yang Mulia akan melakukan segalanya sesuai pertimbangan. Tolong jangan terburu-buru.”

Yuri dan rombongannya pergi untuk mendoakan Hae Myeong.
Di lain sisi, Lady Mi Yoo bertemu dengan Bae Geuk dan Sangga. Mereka membuat kesepakatan. Sangga dan Bae Geuk akan menolong Yeojin diangkat sebagai Putra Mahkota dan gantinya, Yeojin harus dinikahkan dengan seorang putri dari klan Biryu.

Yuri dan rombongannya pergi ke padang rumput tempat Hae Myeong tewas. Tanpa mereka ketahui tiga orang (Chu Bal So, Gwi Yoo dan Hye Ap) mengintai dan hendak menyerang mereka.
Gwi Yoo melepaskan anak panah ke arah Yuri, namun Tae Cheon melindunginya dan terkena panah itu.
Para pengintai menyerang rombongan Yuri. 3 lawan banyak
Goo Chu berhasil mengalahkan Hye Ap. Tae Cheon berhasil mengalahkan Chu Bal So dan menggunakannya sebagai tawanan. Gwi Yoo terpaksa menjatuhkan senjatanya.
“Apa lagi yang kalian tunggu?!” seru Tae Cheon pada prajuritnya. “Bunuh mereka semua!”
“Berhenti!” seru Yuri. Ia berjalan mendekati ketiga penyerang. “Siapa yang memerintahkan kalian?”

Ketiga penyerang diam.
“Yang Mulia bertanya padamu!” seru Goo Chu.
“Pangeran Hae Myeong yang mengirim kami.” jawab Hye Ap.
Yuri terkejut. Goo Chu membuka penutup wajah Hye Ap.
“Apakah kau Hye Ap?” tanya Yuri.
“Pangeran Hae Myeong mengirim kami untuk membalaskan dendamnya.” kata Hye Ap.

Hye Ap dan yang lainnya dibawa ke istana.
“Apa kalian benar-benar percaya bahwa Yang Mulia-lah yang mengirim Pangeran pada Raja Dae So?” tanya Goo Chu.
“Aku melihat Yang Mulia dibawa ke markas musuh oleh pasukan Goguryeo.” kata Gwi Yoo.
“Bagaimana bisa kalian salah paham pada Yang Mulia?!” seru Goo Chu.”Yang Mulia berusaha menghentikan Pangeran sampai saat terakhir!”
“Pangeran meninggal, tapi Yang Mulia masih hidup dan sehat.” kata Hye Ap. “Apa kau pikir aku akan percaya padamu?”
Goo Chu berjalan mendekati Hye Ap. Ia berkata penuh emosi kesedihan. “Kalian, orang-orang yang mengabdi pada Pangeran, tidak bisa memahami Pangeran! Demi melindungi ayahnya, Pangeran melanggar perintah dan mengorbankan hidupnya untuk negara ini!” Goo Chu berkata itu dengan mata berkaca-kaca.
“Jika itu memang benar, kenapa Yang Mulia berusaha membunuh kami?!” seru Gwi Yoo.
Goo Chu terkejut dan bingung. “Apa maksudmu?” tanyanya.
“Yang Mulia mengirim Pemimpin Jolbon, Baek Geuk untuk menangkap kami dan membunuh Jenderal Yeonbi bersama pada pengikut Pangeran!” seru Gwi Yoo.

Goo Chu menceritakan semuanya pada Yuri.
Yuri memanggil Bae Geuk ke ruangannya.
“Apa kau masih ingat?” tanya Yuri. “Hae Myeong tidak memiliki pasukan ketika menyerang Raja Dae So. Ia hanya memiliki sedikit orang dari Myeongnim dan beberapa pengikut yang mengabdi padanya. Kau tahu apa yang terjadi pada para pengikutnya itu?”
“Aku sendiri yang melenyapkan mereka.” jawab Bae Geuk tanpa rasa bersalah.
“Apa aku pernah memberi perintah seperti itu?” tanya Yuri.
“Apa alasan Pangeran harus tewas seperti itu dan kau harus menahan semua kesulitan?” tanya Baek Geuk. “Itu karena para pengikut Pangeran tidak bisa membujuknya menghentikan tindakannya itu!”
“Jika aku membunuh semua pengikutnya, bagaimana aku bisa menghadapi arwah Hae Myeong!” seru Yuri.
Bae Geuk mengatakan pada Yuri bahwa ia melakukan itu demi Goguryeo. Tapi Yuri berseru padanya, “Kau melakukan itu demi klan Biryu! Sekarang, tinggalkan aku sendiri!”

Para Bayangan Hitam berlatih bertarung.
Maro kalah dari Maenggwang dan lengannya terluka. Muhyul berlari cemas padanya.
“Maro!” teriak Muhyul. Luka Maro membuatnya sangat marah pada Maenggwang. Ditambah lagi, Maenggwang mengejek temannya itu.
Muhyul menantang Maenggwang berduel. Belum sempat terlihat siapa yang menang dan kalah, pemimpin Bayangan Hitam menghentikan pertarungan mereka.

Karena kesalahan Muhyul itu, Dojin juga kena batunya. Muhyul dan Dojin dihukum gantung dengan posisi kepala di bawah.
“Ini hukuman kalian sampai matahari terbit besok.” kata pemimpin.
Dojin dan Muhyul hanya bergantung-gantung sepanjang hari dalam diam.

Saat malam tiba, Muhyul baru membuka mulutnya. “Maafkan aku.” katanya.
“Jadilah kuat.” ujar Dojin. “Jika kau ingin melindungi orang yang berharga untukmu dan yang kau cintai, kau harus menjadi kuat. Jika tidak, kau akan mati atau hidup menderita.”
Yeon melihat mereka dari jauh.

Keesokkan harinya, Dojin dan Muhyul diturunkan.
Yeon memeriksa luka keduanya.
“Denyut nadimu normal.” kata Yeon, memeriksa Muhyul. “Dan tidak ada memar juga.”
“Dia bisa bertahan dari racun mematikan. Semua ini bukan masalah untuknya.” kata Dojin, tersenyum.
Dojin dan Muhyul mencoba bangun dengan susah payah. Pemimpin datang untuk melihat. Dojin pura-pura tidur. Yeon mendorong Muhyul agar berbaring lagi.
“Bagaimana kondisi mereka?” tanya pemimpin.
“Mereka tidak bisa mengikuti latihan hari ini.” kata Yeon. “Akan sangat berbahaya bagi mereka. Tunggu sampai kondisi mereka stabil.”
“Kenapa kau mengatakan itu padanya?” tanya Muhyul.
“Agar kalian bisa beristirahat.” jawab Yeon, tersenyum. Selain itu, ia juga ingin diantar pergi piknik karena merasa bosan.

Yeon mengajak Muhyul dan Dojin berjalan-jalan dan duduk di tepi sungai. ]
“Bagaimana kehidupanmu di Goguryeo?” tanya Dojin pada Muhyul.
“Aku adalah seorang pelukis.” jawab Muhyul.
“Pelukis? Dimana?” tanya Yeon. “Bisakah kau melukisku?”
“Aku tidak cukup baik.” jawab Muhyul canggung.
“Aku sudah membuatmu libur hari ini.” kata Yeon, pura-pura kesal. “Apa kau akan menolakku?”
“Kita harus memberi hadiah untuknya.” ujar Dojin pada Muhyul. “Lukis saja dia.”

Munyul melukis Yeon.
“Kau bilang namamu Muhyul?” tanya Yeon. “Itu nama yang aneh. Siapa yang memberi nama itu padamu? Ayahmu atau ibumu?”
Muhyul diam sejenak. “Aku belum pernah bertemu dengan mereka.” jawabnya.
Dojin menoleh pada Muhyul.

Di Benteng BuYeoo, Dae So marah-marah karena Xin tidak bersedia menemui utusan yang dikirimnya. “Kirim pasukan!” serunya. “Aku akan menyerang Chang An sekarang. Aku akan membunuh orang itu, Wang Mang atau siapapun namanya!”
“Yang Mulia, tenanglah.” ujar Sa Goo. “Jika kita mengerahkan pasukan sekarang. Goguryeo mungkin…”
“Kau ingin mengatakan bahwa Yuri mungkin saja akan menyerangku?” potong Dae So.
“Kita harus memikirkan segala kemungkinan.” ujar Sa Goo. “Mereka bersekutu dengan Hwangnyong, Yilou dan Xiongnu. Ditambah lagi dengan pernikahan damai Putri Seryu dengan seseorang dari Gisan. Jika kita berperang dengan Xin saat ini, Raja Yuri akan mengumpulkan semua pasukannya dan melewati perbatasan.”
“Bagaimana mungkin BuYeo menjadi sangat menyedihkan.” ujar Dae So. “Bagaimana bisa ini semua terjadi?! Panggil Tak Rok sekarang!”

Kabar mengenai pengangkatan Yeojin menjadi Putra Mahkota tersebar ke seluruh penjuru Goguryeo. Yeojin sendiri tidak terlihat senang.
“Yeon Hwa.” ujar Yeojin pada dayangnya. “Apa kau tahu yang kurasakan saat ini? Aku takut. Apa kau tahu bahwa semua Pangeran yang diangkat menjadi Putra Mahkota akan mati? Kakak yang tidak pernah kutemui, Dajeol, dan Hae Myeong. Apa yang kutakutkan bukanlah kematian, tapi beban yang harus kupikul di pundakku. Aku berharap, aku tidak dilahirkan sebagai seorang pangeran, tapi dilahirkan sebagai seorang pakaryan yang menghabiskan harinya di bengkel. Aku berharap bisa ada disana bersamamu.”
Yeon Hwa menangis.
“Omong kosong apa ini?!” seri Lady Mi Yoo, mendadak masuk ke ruangan. Ia berjalan mendekati Yeon Hwa dan menamparnya.
“Ibu!” seru Yeojin.
“Camkan kata-kataku.” ancam Mi Yoo. “Jika kau berani menyebarkan apa yang baru saja kau dengar, kau akan mati.”
Setelah Yeon Hwa pergi, Mi Yoo memarahi Yeojin dan memintanya mengikuti apapun yang sudah disiapkan Mi Yoo untuknya.

Saat Yuri sedang bicara dengan Maehwang, Hye Ap dan Gwi Yoo tiba.
Maehwang sangat terkejut melihat mereka.
“Kenapa kau terlihat terkejut?” tanya Yuri tenang, pada Maehwang. “Jika kau tidak ingin mengatakan apa-apa lagi, tinggalkan kami.”
Maehwang bergegas pergi meninggalkan ruangan.
“Hye Ap, sejak kematian Hae Myeong, aku mengatur pemerintahan seorang diri.” ujar Yuri. “Aku ingin mempercayakan posisi pada seseorang yang bisa kupercaya menjalankan perintahku secara rahasia. Kaulah yang akan kuberi tanggung jawab ini. Apakah kau mau menerima?”
Hye Ap dan Gwi Yoo mendongak, terkejut mendengar ucapan Yuri.

Di markas Bayangan Hitam, Muhyul, Dojin, Maro dan Maenggwang diberi misi khusus. Dojin yang akan memimpin mereka.
“Apa tujuan misi ini?” tanya Muhyul.
“Misi kita adalah untuk membunuh Pemimpin Benteng Yonggol.” jawab Dojin. “Wilayah ini sangat penting bagi strategi perang antara Goguryeo dan BuYeo. Kita harus membunuh Pemimpin Yonggol dan mengambil alih benteng. Ayo!”

Muhyul, Dojin, Maro dan Maenggwang menyusup masuk ke Benteng Yonggol.
Begitu tiba di dalam, mereka membunuh para penjaga dengan tembakan racun. Setelah itu, mereka masuk ke kamar tidur pemimpin Yonggol. Kamar tersebut kosong.
Dojin dan yang lainnya curiga, kemudian berlari ke luar.
Di luar, pasukan Yonggol sudah mengepung bangunan tersebut.
Keempat Bayangan Hitan tersudut.

Muhyul, Dojin, Maro dan Maenggwang dimasukkan ke dalam penjara. Maenggwang disiksa terlebih dahulu. Para pengawal Yonggol menyiksa Maenggwang dan menyuruhnya mengaku. “Kau adalah Bayangan Hitan dari BuYeo, bukan?!”
Di penjara, Dojin mengeluarkan tiga buah racun. Peraturan Bayangan Hitam. Jika Bayangan Hitan tertangkap, mereka harus makan racun tersebut untuk bunuh diri.
Dengan ragu, Muhyul mengambil racun tersebut dan memakannya. Maro dan Dojin melakukan hal serupa. Mereka bertiga kesakitan, lalu pingsan.

Muhyul terbangun keesokkan harinya di sebuah ruangan.
Yeon tersenyum. “Apa tidurmu nyenyak?” tanyanya.
Muhyul bingung. Ia menoleh dan melihat Dojin dan Maro tertidur disampingnya.
Tidak lama kemudian, Dojin dan Maro terbangun.
Pemimpin Bayangan Hitam masuk. “Selamat. Kalian lulus ujian terakhir.” katanya. “Ayo keluar.”

Muhyul dan yang lainnya menemui Tak Rok.
“10 hari lagi akan ada upacara untuk merayakan diangkatnya putra mahkota Goguryeo.” ujar Tak Rok. “Kalian harus menyusup ke Goguryeo dan membunuh Utusan Xin.”
Yeon mendengar semua itu dan meminta untuk ikut bergabung. Walaupun mulanya Tak Rok melarang, namun akhirnya Tak Rok setuju.
“Jika kita mau berhasil, mereka akan butuh bantuanku.” bujuk Yeon. “Jangan cemas dan biarkan aku pergi, Ayah.”

Muhyul, Dojin, Yeon, Maro dan Maenggwang pergi ke ibukota Goguryeo. Mereka hanya berdiri diam di tengah keramaian kota, menunggu mata-mata Bayangan Hitam utusan Tak Rok menemui mereka.
Tidak lama kemudian, seorang wanita mendekati mereka.
“Ban Ya!” sapa Dojin.
Wanita itu tersenyum. “Ikuti aku.”
Mereka pergi ke kediaman Ban Ya untuk merundingkan strategi mereka.

Keesokkan harinya, para utusan tiba di ibukota Goguryeo.
Seryu juga tiba di istana dan langsung menemui keluarganya.
“Seryu.” panggil Yuri, terlihat senang putrinya tiba. “Kemarilah.”
Seryu tersenyum dan berjalan mendekati ayahnya.
“Karena wabah yang terjadi di Gisan, kupikir kau tidak bisa datang.” ujar Yuri.
“Aku membawa sendiri utusan kemari.” ujar Seryu. Ia berpaling pada Yeojin dan mengucapkan selamat.
Yeojin hanya tersenyum tipis, tidak terlihat senang dengan ucapan selamat itu.
Tidak lama kemudian Tae Cheon datang dan melapor bahwa Utusan Xin sudah tiba di ibukota.

Yuri menyambut Utusan Xin, Wang Mang, dengan hangat.
Goo Chul memperkenalkan Yeojin pada Wang Mang.

Setelah menyapa Utusan Xin, Yeojin berniat kabur. Ia benar-benar tidak menyukai ‘tugas’nya yang sekarang. Namun Goo Chul memanggil dan mengatakan bahwa Yeojin harus menyapa utusan dari Yangmaek. “Jangan lari dari tanggung jawab, Pangeran.” ujarnya.
Dengan berat hati, Yeojin terpaksa menyapa utusan itu.

Utusan dari Yangmaek tidak lain adalah Dojin dan para Bayangan Hitam yang menyamar.
“Namaku adalah Mucheon.” ujar Dojin. “Aku utusan dari Yangmaek.”
Muhyul berusaha menyembunyikan wajahnya dibalik kotak-kotak hadiah agar tidak terlihat oleh Yeojin.
Dojin yang lainnya masuk ke istana. Disana, Yeon sudah menyamar menjadi seorang dayang.

Malamnya, Muhyul keluar seorang diri. Disebuah tempat di istana, ia melihat Yuri sedang berdiri seorang diri.
Dengan perasaan benci dan marah yang teramat besar, Muhyul mengeluarkan belatinya dan berniat membunuh Yuri.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

The Kingdom Of The Winds – Episode 07

Yuri terdiam. Goo Chu dan Tae Cheon cemas melihatnya.
“Pastikan agar Hae Myeong tidak menginjakkan kaki keluar dari istana ini.” kata Yuri memerintahkan mereka.
Yuri masuk ke dalam dan mengambil pedangnya.

“Apa belum ada kabar dari Yuri?” tanya Dae So pada Tak Rok.
“Belum, Yang Mulia.” jawab Tak Rok.
“Berapa jumlah tawanan yang kita miliki?” tanya Dae So. “Bunuh mereka semua!”
“Yang Mulia, ada warga biasa diantara pada tawanan.” protes Yeon. “Apa kau ingin membunuh warga tidak bersalah?”
“Mereka adalah musuh bagi kita.” kata Dae So.
“Yang Mulia, semua negara di utara menyaksikan setiap gerap-gerikmu.” kata Yeon. “Tolong dipikirkan kembali. Paling tidak, ampuni warga biasa. Jika kau ingin membuat negara yang kuat melebihi Han, kau harus mendapat simpati dari warga Goguryeo juga.”
Dae So terdiam beberapa saat, kemudian menyetujui permintaan Yeon.

Sa Goo memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi Dojin. “Jika ia tidak mau bergabung denganku, maka ia akan menjadi masalah.” katanya.

Di pihak lain, Pasukan BuYeo membunuh para prajurit Goguryeo yang tertangkap.

Yuri sangat marah setelah mengetahui bahwa para prajurit yang menjadi tawanan BuYeo dihabisi.
“Aku akan memimpin para pengawal pusat menuju Padang Pyeongcheon.” kata Yuri. “Sampaikan keinginanku ini pada dewan.”
Goo Chu sangat terkejut mendengarnya.

“Apa katamu?! Yang Mulia akan pergi ke medan perang?!” seru Hae Myeong terkejut begitu Goo Chu melapor padanya.
“Yang Mulia tidak akan pernah menyetujui permintaan Raja Dae So.” kata Goo Chu. “Ia akan bertarung dengan BuYeo sampai mati.”
“Aku akan bertanggung jawab atas semua masalah ini.” kata Hae Myeong. “Jadi tolong hentikan Yang Mulia!”
“Tidak ada yang bisa mengubah keputusan Yang Mulia.” kata Goo Chu.

Sangga menyarankan agar Yuri memenuhi permintaan Dae So dengan menyerahkan Pangeran Hae Myeong, namun Yuri menolak. “Kau memintaku mengorbankan putraku sendiri?!” seru Yuri.
“Bagaimana kau bisa menghentikan Pasukan BuYeo yang sudah mencapai Padang Pyeongcheon?!” seru Sangga.
“Aku akan menghentikannya!” teriak Yuri bertekad. “Aku akan menghentikan Pasukan BuYeo!”

“Pangeran dikurung dalam kamarnya.” kata Chu Bal So. “Para Kepala Klan sangat menekannya. Dia pasti akan mengirim Pangeran pada Raja Dae So.”
Muhyul menarik Chu Bal So marah. “Bagaimana mungkin ia akan mengirim putranya sendiri untuk mati?! Yang Mulia bukan orang seperti itu!”

Muhyul, Hye Ap dan yang lainnya merundingkan cara untuk masuk ke istana menemui Hae Myeong.
Seryu juga datang kesana. “Kakak menolak untuk bertemu denganku.” katanya. “Bagaimanapun caranya, kalian harus mengeluarkannya dari istana.”

Malam itu, Seryu, Muhyul dan yang lainnya menyusup ke dalam istana.
Mereka mencoba masuk dengan diam-diam, namun pengawal memergoki mereka sehingga mereka terpaksa bertarung.
“Pergi cari kakakku.” kata Seryu pada Muhyul. “Kau harus menemukannya!”
Muhyul mengangguk dan pergi bersama Hye Ap.

“Dimana Pangeran?” tanya Muhyul, mengancam seorang pengawal dengan pedangnya.
“Ia sudah dipindahkan ke markas BuYeo.” jawab pengawal.

Yuri duduk diam di ruangannya, berpikir.
Mendadak Goo Chu datang dengan panik. “Yang Mulia, Pangeran sedang menuju ke markas Pasukan BuYeo!” serunya.
Yuri terperanjat kaget.

Hae Myeong mengendarai kudanya menjauh dari Gungnae. Di pinggir hutan, ia turun dan bersujud pada ayahnya dari kejauhan.
“Ayah, walaupun semua darah di tubuhku mengalir di kaki Raja Dae So, aku akan tetap menjaga Goguryeo dengan jiwaku dan mewujudkan harapanmu.” kata Hae Myeong dalam hatinya, kemudian mengendarai kudanya lagi menuju Padang Pyeongcheon.

Muhyul dan yang lainnya berusaha mengejar Hae Myeong.
Disisi lain, Yuri memerintahkan pasukannya untuk menutup semua jalan. “Bagaimanapun caranya, kita harus menghentikan Pangeran!” serunya.

Hae Myeong melewati perbatasan Jolbon.
Bae Geuk terkejut melihatnya.
“Aku ingin menuju ke perkemahan BuYeo, jadi biarkan aku lewat.” kata Hae Myeong.
Bae Geuk ragu dan bingung.
“Apa lagi yang kau pikirkan?” tanya Hae Myeong. “Bukankah kau ingin aku menyerah pada BuYeo? Biarkan aku lewat.”
“Aku akan mengantarmu.” kata Bae Geuk.
Diam-diam, Bae Geuk memerintahkan anak buahnya untuk membunuh siapa saja yang berniat menghentikan Hae Myeong.

Ketika malam berlalu, Muhyul dan yang lainnya tiba di Jolbon. Dari kejauhan, mereka melihat arak-arakan pasukan Jolbon yang mengantarkan Hae Myeong menuju perkemahan BuYeo.
Mereka maju untuk menyelamatkan Hae Myeong, namun mendadak beberapa anak panah melejit ke arah mereka. Muhyul terkena panah tepat di dadanya. Ia terjatuh dari kuda.
“Muhyul!” teriak Ma Ro.
Muhyul meraung kesakitan.
Pasukan Jolbon menyerang mereka. Terjadi pertarungan sengit.
Muhyul mencoba bangkit untuk ikut berperang, namun lama kelamaan pandangannya buram dan ia pingsan.

Hae Myeong memandang langit. Mungkin inilah terakhir kalinya ia bisa memandang langit dan merasakan hembusan angin.
Yuri dan para prajuritnya berusaha mengejar Hae Myeong secepat mungkin.

“Yang Mulia, Pangeran Hae Myeong ada disini.” ujar Sa Goo, melapor pada Dae So.
“Apa Yuri yang membawanya?” tanya Dae So.
“Dia diantar oleh Pemimpin Benteng Jolbon, Bae Geuk.” jawab Sa Goo.
Dae So keluar untuk menemui Hae Myeong. Yeon dan Dojin juga ada disana.
“Aku tidak pernah menyangka Yuri akan mengirim putranya sendiri.” ujar Dae So. “Kupikir ia akan melindungi putranya sampai akhir walaupun ia harus menghadapi kematian. Jika kau berjanji untuk bersekutu dengan BuYeo, mungkin aku akan mengasihani nyawamu.”
“Bukan aku yang harus dikasihani.” kata Hae Myeong tanpa rasa takut. “Tapi kau.”
Dae So tertawa. “Aku perlu dikasihani?”
“Jika kau pernah merasakan ikatan antara ayah dan anak, kau pasti akan tahu bahwa aku tidak akan pernah membenci ayahku, walau aku mati.” kata Hae Myeong. “Tapi lihat! Kau bahkan tidak tahu ikatan kuat yang terjadi antara ayah dan anak. Bagaimana mungkin aku tidak merasa kasihan padamu.”
“Beraninya kau bersikap lancang!” seru Sa Goo.
“Kau menyinggung sesuatu yang sangat menyakitkan untukku, Nak.” ujar Dae So. “Kau benar. Seseorang yang tidak pernah memiliki anak sepertiku, tidak akan pernah tahu bagaimana cinta orang tua pada anaknya. Tapi, sebegai seorang ayah, aku tidak akan pernah mengorbankan darah dagingku sendiri demi bertahan hidup. Aku akan memberimu kesempatan terakhir. Tunjukkan kesetiaanmu padaku, maka aku akan mengampuni nyawamu. Aku akan menyerahkan tahta Goguryeo padamu.”
“Berhenti menyakiti ayahku dan rakyatku, dan bunuh aku sekarang!” seru Hae Myeong lantang. “Kau berjanji akan membayar pengorbananku dengan menarik mundur pasukanmu.”
Dae So kemudian memerintahkan Sa Goo untuk memberikan belati pada Hae Myeong dan berjanji akan meninggalkan Goguryeo begitu Hae Myeong mati.

Hae Myeong membuka baju perangnya dan mengambil belati yang diletakkan Sa Goo di tanah. Ia lalu menusukkan belati itu di dada kirinya perlahan.
“Berhenti!” teriak Yuri, muncul bersama para prajuritnya. Pasukan BuYeo menghalanginya. “Minggir!” teriak Yuri.
Hae Myeong menoleh.
Dae So tersenyum. “Aku pernah menyuruhmu untuk memperingatkan putramu yang bodoh atau dia akan menemui ajalnya di hadapan ayahnya sendiri.” katanya. “Aku tidak pernah menarik ucapanku.” Dae So memandang Hae Myeong. “Apa lagi yang kau tunggu?! Sebelum aku mengotori tanganku dengan darahmu, bunuh dirimu sendiri!”
“Tidak.” ujar Yuri. “Hae Myeong, kau tidak bisa melakukan itu!”
Hae Myeong menutup matanya, kemudian mendorong pisau masuk menembus jantungnya.

Yuri sangat terpukul dan berlari mendekati putranya. “Hae Myeong!” teriaknya.
“Pangeran!” teriak Goo Chu dan Tae Cheon.
“A… ayah…” Hae Myeong berkata lemah.
“Bukankah aku sudah berkata bahwa aku akan melindungimu?” ujar Yuri.
“Tolong… maafkan.. aku…” kata Hae Myeong. Ia jatuh dan tewas.
“Hae Myeong!” teriak Yuri, menangis. “Hae Myeong!!!”
Yeon melihat mereka dengan sedih. Bae Geuk membuang muka.

Seryu dan Hye Ap menangisi kematian Hae Myeong.

Muhyul tersadar.
Ma Ro memberikan peluit panah yang diberikan Hae Myeong padanya. “Jika bukan karena ini, panah itu pasti sudah menembus jantungmu.”
Muhyul menerima peluit panah itu dari Ma Ro. Ia diam sejenak, kemudian teringat. “Pa… pangeran.. Apa yang terjadi pada Pangeran.”
Ma Ro menangis. “Pangeran… Pangeran… membunuh dirinya sendiri di depan Raja Dae So kemudian Pasukan BuYeo mundur.” jawabnya.
Hye Ap menangis
Muhyul diam dan meneteskan air mata. “Bagaimana ini bisa terjadi?” tanyanya pada Gwi Yoo. “Apakah Pangeran melakukan kesalahan? Ia mencoba untuk membunuh pemimpin musuh, apakah itu sebuah kesalahan? Kepala dekorator, katakan padaku, kenapa seorang ayah tega membiarkan darah dagingnya sendiri mati seperti itu? Itu tidak masuk akal. Apakah seperti ini ikatan antara seorang ayah dan anaknya? Katakan sesuatu!”
Hye Ap hanya diam dan menangis.
“Yang membunuh Pangeran adalah Goguryeo, bukan BuYeo.” kata Muhyul, hatinya dipenuhi kemarahan pada Yuri. “Orang yang membunuh Pangeran bukan Raja Dae So, tapi Raja Yuri. Aku akan membalaskan dendamnya.”

Yuri duduk dengan sedih di sebelah jenazah putranya di kuil. Ia hanya duduk, diam.

Ratu Mi Yoo sangat senang dengan kematian Hae Myeong. Itu artinya Yeojin-lah yang akan menjadi putra mahkota.
“Putra Mahkota, kemarilah.” kata Ratu Mi Yoo.
Yeojin kelihatan tidak senang. “Yang Mulia masih berada bersama kakakku di kuil.katanya. “Tapi.. Putra Mahkota? Siapa yang kau panggil Putra Mahkota?”
“Apa kau tahu berapa lama aku menunggu saat ini?” tanya Ratu Mi Yoo. “Satu-satunya hal yang memenuhi pikiranku adalah kau yang menjadi Putra Mahkota dan akan memimpin negara ini. Dengan kematian Hae Myeong, keinginan ibumu ini sudah terwujud.”
“Aku tidak menginginkan gelar itu.” kata Yeojin. “Aku tidak pantas menjadi Raja!”
“Aku akan memastikan kau menduduki tahta!” seru Ratu Mi Yoo. “Yang perlu kau lakukan hanya mengikuti perintahku!”

Muhyul duduk diam, memegang peluit panah yang diberikan Hae Myeong. Kenangan-kenangan bersama Hae Myeong masih terus terbayang dipikirannya.
Hye Ap menatap Muhyul dengan sedih. “Jika terjadi sesuatu padaku.” Hye Ap teringat pesan Hae Myeong padanya. “Aku titipkan Muhyul padamu.”

Hye Ap bicara dengan Jenderal kepercayaan Hae Myeong, Yeonbi, mengenai Muhyul.
“Jadi kau tahu?” tanya Jenderal.
“Ya, Pangeran yang memberitahuku.” kata Hye Ap. “Tidakkah kita harus memberitahu orang lain bahwa Muhyul seorang Pangeran?”
“Itu tidak akan bisa mengembalikan statusnya.” jawab Yeonbi. “Dan kurasa sekarang bukan saat yang tepat.”
“Aku takut melihat kebencian Muhyul pada Yang Mulia akan membuatnya tersesat.” kata Hye Ap. ”
“Melindungi Pangeran adalah tugas kita.” kata Yeonbi. “Kita akan mulai dengan meninggalkan ibu kota.”

Mahwang meminta hal yang dijanjikan Sangga padanya. Ia berkata bahwa dialah yang membuat Hae Myeong kembali ke ibu kota. Sangga hanya tersenyum dan menyetujui permintaan Mahwang. Yah, moodnya sedang bagus karena Hae Myeong tewas.
“Sebelum itu, aku ingin kau melakukan satu hal lagi.” ujar Bae Geuk. “Pengikut Hae Myeong. Kau harus melenyapkan mereka semua.”

Baek Geuk pergi bersama pasukannya.
Mahwang hanya bisa melihat mereka dengan sedih. “Pangeran, maafkan hambamu yang menyedihkan ini.” katanya. “Kau sudah tidak ada lagi di dunia ini tapi segala sesuatunya menjadi lebih buruk bagi kami.”

Gwi Yoo berlari-lari panik. “Jenderal! Pemimpin Jolbon, Bae Geuk, ada disini!” serunya.
Di sisi lain, Chu Bal So mengatakan pada Muhyul hal yang sama.
“Sangat disayangkan Pangeran sudah tewas.” kata Baek Geuk, berpura-pura. “Tapi Yang Mulia menginginkan kalian mengabdi lagi padanya.”
Yeonbi dan yang lainnya diam.
“Jenderal!” Muhyul datang. “Jenderal, kau tidak boleh pergi.” Ia berpaling pada Bae Geuk dan menunjukkan lukanya. “Kau lihat darah ini? Ini adalah darah yang kami tumpahkan demi melindungi Pangeran. Ini adalah darah yang Pangeran tumpahkan demi Goguryeo. Tapi, bagaimana reaksi Yang Mulia? Apa yang Yang Mulia lakukan pada orang yang telah mengorbankan dirinya sendiri demi negeri ini? Sampaikan pada Yang Mulia. Katakan padanya, bahwa darahku ini akan tertumpah lagi demi membalaskan dendam Pangeran.”
“Diam!” teriak Yeonbi pada Muhyul. “Aku mengerti maksudmu, tapi aku punya alasan untuk menemui Yang Mulia.” Ia berpaling pada Bae Geuk. “Baiklah, kami akan ikut denganmu.”

Baek Geuk membawa Yeonbi, Hye Ap, Muhyul dan yang lainnya melewati hutan.
Di tengah perjalanan, mendadak Bae Geuk menyuruh mereka berhenti. “Ini waktunya menunjukkan padamu keinginan Yang Mulia.” ujarnya berbohong.
“Apa maksudmu?” tanya Yeonbi. Tiba-tiba sebuah panah melejit dan mengenai tepat di dada kiri Yeonbi.
“Jenderal!” teriak Muhyul.
Yeonbi terjatuh dari kudanya.
Pasukan dibawah pimpinan Bae Geuk muncul dan menyerang mereka.
Anak buah Bae Geuk menyerang Muhyul, namun keadaan Muhyul tidak memungkinkan baginya untuk bertarung. Ketika anak buah Bae Geuk hendak menebas Muhyul, Yeonbi melemparkan sebuah pisau dan berhasil membunuh orang itu. Beberapa prajurit menyerang Yeonbi.
Muhyul hendak bertarung menolong Yeonbi, namun tubuhnya tidak bisa digerakkan. Yeonbi ditusuk dan tewas di depan mata Muhyul.
“Jenderal!” teriak Muhyul.
Bae Geuk tertawa.
“Ma Ro!” panggil Hye Ap. “Bawa Muhyul dan pergi dari sini!”
“Aku tidak bisa pergi!” kata Muhyul. “Kita akan bertarung bersama!”
Seorang prajurit melukai Hye Ap. “Kuperintahkan kau untuk pergi!” teriaknya. “Pergi!”

Ma Ro membawa Muhyul pergi dengan kuda. Beberapa prajurit Bae Geuk mengejar mereka, namun Muhyul dan Ma Ro bersembunyi.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Ma Ro.
Muhyul diam, meneteskan air matanya. “Aku akan membunuh Raja Yuri dan membalaskan dendam Pangeran.” ujarnya seraya mengepalkan tangannya erat.

Setelah merasa keadaan aman, Ma Ro dan Muhyul keluar dari persembunyian.
“Itu mereka!” seru para prajurit, mengejar Muhyul dan Maro memasuki hutan. Di tengah hutan, mendadak panah melejit menembak para prajurit itu. Setelah itu, beberapa orang berpakaian hitam mengepung Muhyul dan Ma Ro. Mereka adalah kelompok Bayangan Hitam. Dojin ada diantara mereka.
“Bawa mereka!” perintah si pemimpin. “Kita akan kembali ke BuYeo.”

Satu tahun kemudian.
Dae So mendapat laporan bahwa pemberintah Hwangnyong masih terus menekan dan mengalahkan pasukan BuYeo. Hal tersebut membuat Dae So meledak marah.
“Yang Mulia, aku akan mencari tahu siapa yang mendukung pemberontakan itu.” kata Tak Rok.

Di suatu tempat di Goguryeo, Yuri dan Mahwang bertemu. Mahwang menyerahkan sebuah pesan dari pemimpin pemberontakan Hwangnyong.
Yuri membaca pesan itu. “Pemimpin pemberontak membutuhkan persediaan dan tunggangan.” katanya. “Kau harus pergi ke Hwangnyong untuk memenuhi permintaannya.”

“Apa kau sudah menemukan siapa orang yang mendukung mereka?” tanya Dae So.
“Ya, Yang Mulia.” jawab Tak Rok. “Orang itu adalah Raja Yuri. Ia mengirim utusan ke Xin untuk merundingkan persekutuan antara kedua negara.”
“Aku akan datang ke Goguryeo sekarang dan meminta pertanggungjawaban Yuri!” seru Dae So marah.
“Kita tidak bisa menyebar pasukan sekarang.” tolak Tak Rok. Karena keadaan BuYeo yang sedang tidak memungkinkan.
Akhirnya, Dae So memerintahkan Tak Rak untuk pergi ke markas Bayangan Hitam. “Kirim Bayangan Hitam untuk membunuh Yuri!”

Tak Rok datang ke camp Bayangan Hitam bersama Yeon.
Disana, mereka melihat seorang tawanan yang sedang diseret oleh prajurit Bayangan Hitam.
“Ia adalah bahan percobaan paling kuat.” kata pemimpin Bayangan Hitam pada Tak Rok. “Dia berhasil bertahan hidup setelah diberi lebih dari 10 racun. Hanya dialah satu-satunya orang yang bertahan hidup sampai sejauh ini.”
Yeon melihat tawanan itu dan terkejut. Tawanan itu adalah Muhyul.

Muhyul dibawa kembali ke penjara. Muhyul pingsan. Ma Ro sangat cemas dan ketakutan. “Muhyul!” panggilnya. “Muhyul! Bangun!”

Muhyul tidak bernapas. Para prajurit Bayangan Hitam memeriksanya.
“Cepat cari tahu racun apa yang terakhir kita berikan padanya.” kata pemimpin. “Dia mati. Bawa dia keluar!”
“Tidak, dia masih hidup!” seru Ma Ro, menghalangi para prajurit membawa Muhyul. “Tunggu!”
Yeon diam dan menatap Muhyul dengan iba. Tiba-tiba kepala Muhyul bergerak sedikit. “Tunggu!” katanya seraya memeriksa Muhyul. “Ia masih hidup. Bawa dia ke ruang pengobatan.”

Yeon memeriksa tubuh Muhyul. Ada luka-luka teriris disana.
“Kudengar mereka tidak hanya meminumkan racun padanya, tapi juga menyebarnya ke seluruh tubuh.” kata seorang wanita pada Yeon.
Yeon mengikat seluruh tubuh Muhyul dengan tali dan menyumpal mulut Muhyul.
“Yeon.” panggil Dojin, masuk ke ruangan itu.
“Pegang kakinya.” kata Yeon padanya.
Tanpa bertanya, Dojin memegangi kaki Muhyul.
Yeon membuka kulit Muhyul dengan besi panas. Muhyul meronta-ronta kesakitan dan ingin berteriak, tapi karena seluruh tubuhnya diikat dan mulutnya disumpal, Muhyul tidak bisa banyak bergerak. Muhyul pingsan.
Setelah itu, Yeon menghisap dan mengeluarkan racun di tubuh Muhyul.

Setelah Yeon selesai mengobati Muhyul, Dojin memberikan seguci kecil madu padanya.
“Terima kasih, Kak.” kata Yeon. “Ini akan membantunya memulihkan tenaga. Menguji racun pada manusia sangat kejam.”
“Menurut pandanganku, yang kejam adalah keinginanmu untuk menyelamatkannya.” kata Dojin. “Ia ditakdirkan untuk penderita. Jika kau menyelamatkannya, penderitaannya akan lebih panjang.”

Muhyul bermimpi buruk. Di dalam mimpinya, ia melihat Hae Myeong dan Yeonbi tewas. Ia juga melihat Hye Ap dilukai oleh prajurit. Muhyul terbangun dengan kaget.
“Apa kau mengenaliku?” tanya Yeon.
Muhyul membuka matanya dan melihat Yeon dengan bingung.

Mengetahui Muhyul bertahan hidup, Tak Rok memanggilnya.
“Kau bertahan hidup karena darahmu berhenti.” kata Tak Rok. “Kau sangat beruntung. Tapi besok, kami akan mnguji racun itu lagi padamu. Itu artinya kau akan mati.”
“Tidak akan pernah.” kata Muhyul bertekad. “Aku tidak akan mati.”
Tak Rok memandang Muhyul. “Apa ada alasan untuk itu?” tanyanya.
“Karena aku masih harus melakukan sesuatu.” jawab Muhyul. ”
“Melakukan apa?”
“Membalas dendam.” jawab Muhyul.
“Pada siapa?” tanya Tak Rok lagi. Muhyul diam. “Katakan!”
“Raja Yuri.” jawab Muhyul.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

The Kingdom Of The Winds – Episode 06

Tak Rok sangat cemas karena kedua prajurit yang dia tugaskan memeriksa wilayah sekitar tidak juga kembali. “Sampai kita bisa menemukan keberadaan mereka, kita harus menghentikan perjalanan.” katanya pada Dae So.

“Sebentar lagi kita akan tiba.” tolak Dae So. “Jika aku berhenti untuk menghindari para pengganggu itu, apa yang akan dipikirkan orang tentangku?”
“Jika kita berhenti sekarang, kita tidak akan bisa menghadiri acara di Jipaehyeol sesuai jadwal.” tambah Sa Goo.
“Apakah jadwal acara lebih penting dibanding keselamatan Yang Mulia?” tanya Tak Rok.
“Aku akan bertanggung jawab untuk perlindungan Yang Mulia.” kata Sa Goo.

Pasukan Hae Myeong bergerak dan bersiap melakukan penyergapan. Mereka dibagi dua kelompok.
Ma Ro dan Chu Bal So melihat keadaan.
Chu Bal So mengernyit ketika melihat jumlah pasukan yang mengawal Dae So. Jauh lebih banyak dibanding jumlah pasukan mereka.

“Mereka datang.” kata Chu Bal So melapor pada Gwi Yoo.
Perlahan-lahan, pasukan Gwi Yoo berjalan mendekat sampai batas bukit, kemudian menembakkan anak panah ke arah rombongan Dae So.
“Penyergapan!” teriak Tak Rok. “Lindungi Yang Mulia!”
Sementara pertarungan berlangsung, Tak Rok memerintahkan para prajuritnya untuk membawa tandu Dae So pergi. Ma Ro bergegas menembakkan panah api untuk memberi isyarat pada kelompok Hae Myeong dan Muhyul.
Melihat isyarat api tersebut, Hae Myeong bergegas menyerang.
Terjadi pertarungan yang sengit antara pihak BuYeo dan pihak Goguryeo. Kerja sama antara Muhyul dan Hae Myeong sangat solid. Mereka saling melindungi satu sama lain.

Muhyul dan Hae Myeong berlari mendekati tandu Dae So dan menusukkan tombak dan pedang dari arah berlawanan. Dae So terkejut ketika dua buah senjata melejit lewat sisi kanan dan kirinya. Untuk menyelamatkan diri, Dae So melompat keluar tandu lewat belakang. Dae So melarikan diri bersama seorang prajurit.
Seorang prajurit menembakkan anah panah ke arah Hae Myeong dan berhasil mengenai lengannya. Hae Myeong terluka. Ia memberikan sebuah tombak pada Muhyul.
Muhyul menerima tombak itu, kemudian melemparnya jauh ke arah Dae So.
Tombak tersebut tepat mengenai punggung Dae So.

Tidak lama kemudian, Pasukan BuYeo lain dibawah pimpinan Sa Goo datang. Muhyul terkejut dan langsung menolong Hae Myeong melarikan diri.
“Yang Mulia!” seru Gwi Yoo panik, melihat luka di lengan Hae Myeong yang parah.
“Mereka mengejar kita. Cepat pergi!” kata Hae Myeong. Tapi luka Hae Myeong terlalu parah dan tidak akan mungkin bisa bergerak jauh.
“Kami akan menangani pasukan itu.” kata Gwi Yoo. “Pergilah bersembunyi, Pangeran! Muhyul, Ma Ro, Chu Bal So! Kalian lindungi Pangeran!”

Muhyul berhasil membawa Hae Myeong ke gua. Kondisi Hae Myeong sangat sekarat. Begitu sampai di gua, Hae Myeong langsung pingsan tak sadarkan diri.
Hye Ap mengobati Hae Myeong di rumahnya. “Pangeran, kau tidak apa-apa?” tanyanya begitu Hae Myeong terbangun.
Hae Myeong bangkit dari tidurnya. “Muhyul, pergilah ke ibukota sekarang.” katanya. “Katakan pada Yang Mulia bahwa Raja Dae So sudah mati.” Ia menyerahkan sebuah benda. “Jika kau menggunakan ini, kau bisa bertemu dengan Yang Mulia. Apapun yang terjadi, kau harus memberitahunya.”
Muhyul menerima benda itu. “Jangan cemas.” katanya menenangkan. “Aku akan menyampaikan pesan itu apapun yang terjadi.”

Muhyul mengendarai kudanya dan pergi ke Benteng Gungnae.
Setelah sebelumnya diusir, akhirnya Muhyul bisa bertemu dengan Yuri.
“Raja Dae So sudah mati, YangMulia.” kata Muhyul.
“Apa katamu?” tanya Yuri, tidak percaya.
“Pangeran membunuhnya ketika ia dalam perjalanan ke Hwangnyong.” Muhyul menjelaskan.
“Apa ucapanmu benar?”
“Ya, aku melihatnya sendiri.” kata Muhyul.
Yuri terlihat senang, namun masih ragu.

Yuri mengumpulkan para perwiranya secara rahasia dan memberitahukan kabar tersebut. Ia meminta mereka agar tidak memberitahu pada para Kepala Klan.
Yuri memerintahkan salah seorang perwiranya untuk berjaga di perbatasan. “Jika sesuatu benar-benar terjadi pada Raja Dae So, BuYeo-lah yang pertama kali akan menyerang.”
“Ya, Yang Mulia.”
“Daebo.” panggilnya pada Goo Chu. “Peringatkan mata-mata kita di BuYeo dan perintahkan mereka untuk menyelidiki kebenaran mengenai kematian Raja Dae So.”

Salah satu perwira Yuri ternyata mata-mata Sangga. Ia melapor pada Sangga mengenai kematian Dae So.
Sangga berpikir. “Jika Raja Dae So memang mati, tanpa dukungan para Kepala Klan, Raja Yuri hanya bisa menangani BuYeo dengan menggunakan prajurit pusat.” katanya. Ia kemudian memerintahkan orang untuk mengirim pesan pada Bae Geuk agar Bae Geuk menyelidiki reaksi BuYeo.

BuYeo akan menyatakan perang pada Goguryeo. Bayangan Hitam disiagakan untuk perang tersebut.

“Apa belum ada kabar dari Muhyul?” tanya Hae Myeong.
Hye Ap menggeleng. “Ada yang ingin kutanyakan padamu, Pangeran.” katanya. “Hubungan antara Pangeran dan Muhyul. Aku ingin kau menjelaskan padaku. Aku ingin tahu kenapa Pangeran selalu memberikan perhatian khusus padanya.”
Hae Myeong diam sejenak. “Muhyul adalah seorang Pangeran Goguryeo.” katanya. “Muhyul adalah adikku.” Hae Myeong menceritakan mengenai takdir Muhyul yang menakutkan.
Hye Ap terkejut. “Lalu, apakah Muhyul harus hidup seperti ini sepanjang sisa hidupnya?”
“Tidak.” jawab Hae Myeong. “Jika waktunya tiba, aku akan mengembalikan statusnya sebagai Pangeran.”

Sudah lima hari semenjak kedatangan Muhyul di Gungnae, namun kelihatannya pihak Goguryeo tidak melakukan apapun. Muhyul menemui Yuri untuk menanyakan hal tersebut.
“Aku masih belum bisa percaya bahwa Raja Dae So sudah terbunuh.” kata Yuri, menjawab pertanyaan Muhyul.
“Tapi, aku melihatnya mati, Yang Mulia.” bantah Muhyul.
“Aku adalah seorang Raja yang dipercaya Langit untuk melindungi nyawa rakyatku.” kata Yuri. “Aku tidak akan mempertaruhkan nyawa mereka karena sebuah kesalahan.”
Dengan kesal, Muhyul berjalan pergi.
Goo Chu tertawa. “Melihat pembawaan anak itu yang berani dan perkasa mengingatkanku pada masa remaja Yang Mulia.”
Yuri tersenyum. “Sangat melegakan melihat Putra Mahkota memiliki pengikut yang setia seperti itu.”
Mendadak Tae cheon datang. “Yang Mulia, kita mendapat kabar dari mata-mata di BuYeo. Pasukan BuYeo sedang bergerak ke perbatasan.”
Yuri terkejut mendengar informasi tersebut. Dengan ini, ia yakin sesuatu pasti sudah terjadi pada Dae So. “Cepat panggil para anggota dewan.” perintahnya pada Goo Chu.

“Aku akan menyatakan perang pada BuYeo.” kata Yuri di depan para anggota dewan.
“Bagaimana kau bisa pergi berperang tanpa peluang menang?” tanya salah satu dewan.
“Kita bisa menang.” kata Yuri. “Putra Mahkota sudah membunuh Raja Dae So. Aku sudah memeriksa beberapa kali.”
Sangga diam saja. Yuri menanyakan pendapatnya.
“Aku juga sudah menerima laporan mengenai situasi Raja Dae So.” kata Sangga. “Aku tidak akan menolak perang jika kita memiliki peluang menang. Aku akan mengirim 30.000 pasukan termasuk supply perang.”

Bae Geuk dan seorang anak buahnya memeriksa perbatasan. Disana, pasukan BuYeo sudah mendirikan perkemahan mereka.
“Itu bendera Pengawal Istana.” kata Bae Geuk. “Bukankah aneh jika mereka ada disini saat Raja Dae So sudah mati?”
“Itu Raja Dae So! Raja Dae So masih hidup.” kata anak buah Bae Geuk.

“Kirimkan pesanku pada Raja Yuri.” kata Dae So pada Sa Goo. “Jika ia tidak membunuh Pangeran Hae Myeong di depan mataku, aku akan membunuh setiap orang di Goguryeo.”
Dojin dan Yeon datang untuk melihat keadaan Dae So. Rupanya yang dibunuh oleh Muhyul dan Hae Myeong bukanlah Dae So asli melainkan hanya ‘bayangan’nya. ‘Bayangan’ tersebut artinya adalah orang yang menyamar menjadi Dae So.

Di BuYeo, Yeojin mendapat izin dari Yuri untuk ikut berperang. Ia meminta Seryu mengajarinya bela diri.
“Ambilkan kami tongkat.” perintah Seryu pada Muhyul.
Muhyul mengambilkan dua buah tongkat untuk mereka. Seryu kemudian memerintahkan Muhyul bertarung melawan Yeojin.
“Kau ingin aku belajar darinya?” tanya Yeojin. “Aku ingin kau yang mengajariku, Kak.”
“Kau pikir musuhmu di medan perang akan berpikir mengenai gelar kebangsawananmu?” tanya Seryu pada adiknya. “Ingatlah baik-baik. Bahkan seorang budak bisa saja membunuhmu.” Ia berpaling pada Muhyul. “Tidak perlu mengalah hanya karena ia seorang Pangeran.”
Akhirnya Yeojin dan Muhyul bersedia bertarung. Mulanya Muhyul mengalah dan hanya menangkis serangan-serangan Yeojin.
Seryu marah. “Latihan macam apa ini?!” serunya. “Serang dia!”
Kini, Muhyul mulai serius dan menyerang Yeojin. Dengan mudah, Muhyul bisa mengalahkan Yeojin.
“Berhenti!” teriak Ratu Mi Yoo, berjalan mendekati mereka dengan marah lalu menampar Muhyul.
“Ibu!” seru Yeojin. “Akulah yang memintanya!”

Bae Geuk datang langsung ke Gungnae untuk memberi kabar bahwa Raja Dae So masih hidup.

Sa Goo tiba di Gungnae.
“Apa kau percaya bahwa Pangeran Hae Myeong membunuh Yang Mulia?” tanya Sa Goo dengan nada merendahkan. “Orang yang dibunuh Pangeran Hae Myeong hanyalah seseorang yang menyamar. Demi keselamatan Yang Mulia, kami menggunakan penyamar untuk melakukan perjalanan ke Hwangnyong. Kami menyebutnya Bayangan Raja.”
Yuri memejamkan matanya, perasaannya bercampur-baur.
“Yang Mulia sudah melewati perbatasan Goguryeo.” tambah Sa Goo. “Yang Mulia memerintahkanmu untuk membawa Pangeran Hae Myeong dan memenggalnya sendiri di di hadapannya. Jika permintaannya tidak dipenuhi, maka setiap orang di Gogurye akan dibunuh.”

Yuri sangat sedih dan terpukul. Lagi-lagi ia dihadapkan dengan masalah yang menyangkut nyawa darah dagingnya sendiri. Lagi-lagi ia dipaksa untuk membunuh putranya dengan tangannya sendiri.

Mahwang dan rombongannya mencoba pergi dari BuYeo dan kembali ke Goguryeo. Namun di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan pasukan BuYeo yang sedang mengejar-ngejar warga. Pasukan BuYeo telah menghancurkan sebuah desa di wilayah Goguryeo sebagai bentuk ancaman untuk Raja Yuri.
Mahwang terpaksa melarikan diri dengan meninggalkan semua hartanya.

Pihak Goguryeo (bukan atas perintah Yuri, melainkan atas perintah Bae Geuk) mengejar-ngejar Muhyul dan ingin menangkapnya karena hanya Muhyul-lah yang tahu mengenai keberadaan Hae Myeong.
Muhyul berusaha melarikan diri, namun gagal.
Mendadak, seseorang wanita misterius datang menyelamatkan Muhyul. Seryu.

“Katakan padanya agar melarikan diri.” pesan Seryu pada Muhyul.
Muhyul bingung. “Melarikan diri? Kenapa ia harus melarikan diri?” tanyanya.
“Mereka akan melimpahkan semua kesalahan pada Pangeran Hae Myeong.” kata Seryu. “Jika para Kepala Klan tahu keberadaannya, ia berada dalam bahaya. Pergi sekarang!”

Muhyul pergi dari Gungnae. Ia membunuh prajurit Goguryeo yang mengejarnya dan berhasil melarikan diri.

“Kita harus menyembunyikan Pangeran di tempat yang aman.” kata Tae Cheon pada Yuri.
“Apakah ada tempat yang aman di Goguryeo saat ini?” tanya Yuri dengan putus asa.
“Anak itu tidak mau memberitahukan apapun pada Kepala Keamanan.” ujar Goo Chu, membicarakan Muhyul. “Ia sangat berhati-hati dan pintar. Jangan cemas.”

Dengan panik, Muhyul berlari mencari Hae Myeong di rumah Hye Ap.
“Raja Dae So masih hidup.” kata Muhyul. “Yang kita bunuh hanyalah orang yang menyamar menjadi Raja Dae So.”
Hae Myeong sangat terpukul. “Aku harus pergi ke ibukota.” katanya.
“Kau tidak boleh pergi!” seru Muhyul melarang. “Kau harus melarikan diri!”
“Bagaimana aku bisa lari dalam situasi seperti ini?!” teriak Hae Myeong emosi.
Muhyul berusaha menjelaskan. “Raja Dae So sudah mengerahkan pasukannya di perbatasan. Kepala Klan melimpahkan kesalahan pada Pangeran. Jika sesuatu terjadi pada Pangeran, aku akan dihantui rasa bersalah seumur hidup. Akulah orang yang tahu mengenai perjalanan Raja Dae So ke Hwangnyong. Karena aku, Pangeran… mengalami masalah ini.”
“Ini semua salahku karena jatuh dalam jebakan mereka.” kata Hae Myeong.
“Pangeran, aku akan membawa Jenderal kemari.” kata Muhyul. “Tolong pikirkan mengenai keselamatanmu.”
Hae Myeong diam.

Muhyul, Ma Ro dan Chu Bal So pergi lagi ke Gungnae.

Mahwang sangat putus asa karena kehilangan semua hartanya. Ia membawa satu-satunya budak wanita yang berhasil diselamatkan dan menjualnya pada Sangga.
“5000 nyang.” kata Sangga. “Dan kau tidak perlu memberiku wanita itu. Gunakan dia untuk bisnismu.”
“Lalu, apa yang bisa kulakukan untukmu?” tanya Mahwang.
“Aku menginginkan Hae Myeong.” ujar sangga. “Raja Dae So sudah melewati perbatasan dan sedang berjalan melewati padang Pyeongsan. Jika kita ingin menyelesaikan krisis ini, kita harus menyerahkan Pangeran Hae Myeong pda Raja Dae So.”
Mahwang diam, tidak tahu harus bicara dan berbuat apa.
“Jika kau bisa membawa Pangeran Hae Myeong padaku, aku akan memulihkan harta dan bisnismu.”

Di Gungnae, seluruh kota dipenuhi oleh prajurit, membuat Muhyul, Ma Ro dan Chu Bal So sulit bergerak. Mendadak, Gwi Yoo datang dan mengajak mereka bersembunyi.
“Dimana Pangeran?” tanya Gwi Yoo.

Hae Myeong merapikan tempat tidur Hye Ap dan pergi diam-diam.

Hye Ap berjalan di luar dan bertemu dengan Mahwang.
“Ada urusan apa?” tanya Hye Ap dingin.
“Aku datang untuk bertemu Pangeran.” jawab Mahwang.
“Kenapa kau ingin menemuinya?” tanya Hye Ap curiga.
“Kau sedang bicara dengan Mahwang.” kata Mahwang. “Apakah aku butuh alasan jika ingin bertemu Pangeran?”
Hye Ap diam.
Mahwang menoleh ke belakang. “Aku tidak diikuti. Kau tidak perlu takut.” katanya. “Aku harus bicara dengan Pangeran mengenai hal yang penting. Antar aku padanya!”

Hye Ap kembali ke rumahnya dan menemukan rumah itu sudah rapi dan kosong. Ia ketakutan. “Pangeran…”
Hye Ap menemukan sebuah surat bambu di atas tempat tidur. Dengan takut-takut, ia membukanya.
“Aku tidak bisa meninggalkan masalah berat ini di bahu Yang Mulia dan bersembunyi seperti seorang pengecut.” kata Hae Myeong dalam suratnya. “Aku akan bertanggung jawab untuk semua masalah yang sudah kusebabkan. Jika sesuatu terjadi padaku, aku menitipkan Muhyul padamu. Jika suatu saat nanti ia bisa lolos dari ketidakberuntungan, maka Muhyul akan memimpin negeri ini.”
Hye Ap menangis.
“Satu-satunya hal yang membakar hatiku adalah cintaku padamu, Hye Ap.”

Malamnya, Muhyul dan yang lainnya kembali ke rumah Hye Ap.
“Dimana Pangeran?” tanya Muhyul.
Hye Ap hanya duduk diam, tidak berkata apapun.
“Apa terjadi sesuatu?” tanya Ma Ro.
“Pangeran… pergi ke Benteng Gungnae.” jawab Hye Ap lemah.

Hae Myeong kembali ke Gungnae dan menemui ayahnya.
“Apakah kau tahu kalau Kepala Klan siap mengorbankanmu?” tanya Yuri. “Kenapa kau kembali?”
“Aku membuat Yang Mulia dan Goguryeo berada dalam bahaya.” kata Hae Myeong. “Jadi aku siap mengorbankan nyawaku sebagai gantinya.”
“Ayah seperti apa yang akan mengorbankan darah dagingnya sendiri hanya untuk mempertahankan tahtanya?” tanya Yuri. What a wonderful father! “Ayah seperti apa yang akan mencelakai putranya demi melindungi dirinya sendiri?”
“Korbankan aku dan lindungi rakyat kita!” seru Hae Myeong.
Yuri terdiam sesaat. “Kau mengatakan pada orang yang pernah mengorbankan saudaramu sendiri untuk mengorbankanmu juga? Aku tidak bisa.”
Dulu, putra pertama Yuri, Dojeol, akan dikirim ke BuYeo sebagai tawanan namun menolak dan mati.
“Jika kau tidak mengorbankan aku, semua rakyatmu akan mati!” seru Hae Myeong, berusaha meyakinkan ayahnya.
“Bagaimana bisa seorang Putra Mahkota dengan mudah meminta mati?” tanya Yuri. “Kau harus tetap hidup. Aku yang akan membayar semua kesalahan ini. Aku akan membayar ini dengan nyawaku.”
“Ayah!” Hae Myeong berlutut dihadapan Yuri dan menangis.
Yuri mendekati Hae Myeong dan menyentuh bahu putranya itu.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

The Kingdom Of The Winds – Episode 05

Muhyul terkepung, kemudian dikurung dalam penjara.

Setelah berbincang dengan Dae So, Yeon berkata pada ayahnya bahwa ia melihat bayangan awan di mata Dae So. “Mungkin ada sesuatu yang menganggunya.”
“Para tabib sangat berhati-hati terhadap apapun yang dimakan dan diminum Raja.” kata Tak Rok. “Dan ia memiliki ratusan pengawal yang melindunginya. Jangan cemas.”
Tapi Yeon kelihatan ragu.

Untuk menjaga kesehatan dan memperpanjang umurnya, Dae So setiap kali berendam dengan ramuan-ramuan tertentu. Namun ada seorang pelayan wanita Dae So yang kelihatan mencurigakan.

Muhyul duduk diam di penjara. Ia melihat seorang tahanan merintih kesakitan, kemudian mendekatinya. Tahanan itu mendadak mencekik leher Muhyul.
Pria tahanan itu menyerahkan sebuah kain bertuliskan sesuatu. “Di pasar BuYeo, temukan seorang pria bernama Seong Baek dan berikan ini padanya.”
“Bagaimana aku memberikan ini padanya?” tanya Muhyul.
Belum sempat menjawab pertanyaan Muhyul, pria itu tewas.

“Bagaimana?” tanya Tak Rok pada anak buahnya. “Apa ia mengaku?”
“Ia tewas.”
“Kau membunuhnya sebelum ia memberi kita informasi?!” Tak Rok berkata marah, kemudian berjalan pergi.
Pria yang tewas tersebut merupakan mata-mata yang berhasil ditangkap di Hwangnyong.

Muhyul dibawa untuk menghadap Yeon. Yeon meminta para pengawalnya pergi agar ia bisa bicara berdua dengan Muhyul.
“Saat itu, kau mengenakan seragam Goguryeo.” ujar Yeon. “Kenapa seorang prajurit Goguryeo ada di BuYeo? Apa kau mata-mata?”
“Bukan.” jawab Muhyul. “Saat kau pertama melihatku, aku memang prajurit Goguryeo. Tapi mereka mengejarku karena melewati perbatasan, jadi aku lari ke BuYeo. Aku tanpa sengaja melihatmu. Kupikir mereka menangkapmu. Maafkan atas kelancanganku.”
“Apa kau tinggal di suatu tempat di BuYeo?” tanya Yeon. “Disini adalah kediaman Tuan Tak Rok. Aku bertanggung jawab untuk mengobatinya, jadi hubungan kami dekat.” Yeon berbohong. “Jika aku bicara dengannya, ia akan membantumu menetap di BuYeo.”
“Tidak perlu.” jawab Muhyul. “Aku tinggal bersama seorang pedagang yang kukenal dari Goguryeo. Aku hanya meminta agar kau mengizinkanku pergi dari sini.”
“Baiklah.” ujar Yeon setuju. “Jika kau butuh bantuanku, datanglah ke balai pengobatan.”

Akhirnya Hae Myeong dan Gwi Yoo kembali ke kediaman Mahwang.
“Mereka menangkap orang dan menguji racun mematikan padanya.” kata Hae Myeong iba.
“Aku mendengar desas-desus bahwa Raja Hwangnyong juga dibunuh oleh Bayangan Hitam.” kata Mahwang.
“Aku harus menemukan kemana Raja Dae So akan pergi.” kata Hae Myeong. “Aku butuh kau untuk mencari tahu kapan ia pergi dan kemana tujuannya.”
“Melakukan apa?!” seru Mahwang shock. “Apa?!”
“Ya, tebakanmu benar.” kata Hae Myeong. “Jika kita tidak bisa membunuh Raja Dae So sekarang, maka Goguryeo akan selalu berada dalam tekanan mereka.”
“Jumlah pengawal yang melindungi Raja Dae So sangat banyak.” kata Mahwang. “Bagaimana kau bisa membunuhnya?”
“Jika kita melihat jadwal kegiatannya, kita pasti bisa menemukan titik kelemahannya.” kata Hae Myeong yakin.

Muhyul berpikir di kamarnya, mengingat tahanan yang ditemuinya di penjara.
“Aku datang dari Hwangnyong untuk membunuh Raja Dae So.” kata tahanan itu.
“Bukankah Hwangnyong dan BuYeo bersekutu?” tanya Muhyul.
“Raja kami saat ini menduduki tahta karena konspirasi Raja Dae So.” jawab tahanan itu, mencoba bicara dalam keadaan sekarat. “Aku mengabdi pada Yang Mulia sebelumnya sampai kematiannya sebagai Kepala Keamanan.”
Muhyul membuka surat pemberian tahanan. Disana tertulis sesuatu dengan menggunakan kalimat yang maknanya sama sekali tidak dimengerti oleh Muhyul.
“Seseorang dengan kaki yang berada di bawah mulut, seseorang dengan kaki yang berada di bawah mata, seseorang dengan kaki yang berada dibawah mahkota sedang bergerak secara rahasia.”

Keesokkan harinya, Muhyul, dengan bantuan Ma Ro, mencari seorang pedagang bernama Seong Baek. Muhyul mendekatinya dan hendak memberikan surat tersebut, namun mendadak prajurit BuYeo dibawah pimpinan Tak Rok datang dan menangkap Seong Baek.
Muhyul mencoba kabur diam-diam, namun salah seorang prajurit melihatnya. “Tangkap orang itu!”
Para prajurit BuYeo mengejar Muhyul dan Maro. Dalam pelarian mereka, Hae Myeong dan Gwo Yoo melihat. Mereka berdua bergegas membantu dan bertarung melawan prajurit.

Pelayan wanita yang bertugas menuangkan ramuan obat pada bak mandi Dae So memasukkan racun. Sayang sekali usahanya tersebut diketahui oleh Tak Rok. Tanpa pikir panjang, wanita tersebut meminum racun untuk bunuh diri. Wanita itu tewas.
Sama seperti Seong Baek, Wanita tersebut juga berasal dari Hwangnyong.
Karena kejadian tersebut, Dae So memerintahkan semua prajuritnya untuk memeriksa pedagang dan barang-barang yang diperdagangkan.

“Pangeran, kau harus segera pergi dari sini!” seru Mahwang pada Hae Myeong. “Jika kau tertangkap disini, aku juga akan terkena imbasnya.”
Tidak lama kemudian, para prajurit BuYeo tiba di kediaman Mahwang. Hae Myeong dan yang lainnya mencoba kabur secepat mungkin dan meninggalkan kota.

Ketika Hae Myeong dan yang lainnya beristirahat di pinggir hutan, mereka melihat para prajurit BuYeo membawa dan memukuli warga Goguryeo dengan sadis. Warga itu adalah upeti prosesi yang diserahkan Goguryeo untuk BuYeo.
Muhyul bangkit hendak menyerang, namun Gwi Yoo menahannya. “Jika mereka tidak diselamatkan, mereka akan mati!” seru Muhyul.
“Ini wilayah BuYeo.” ujar Gwi Yoo. “Walaupun mereka warga Goguryeo, kau tidak boleh bertindak sembarangan.” Gwi Yoo menatap Hae Myeong, meminta dukungan.
Hae Myeong diam sesaat. “Aku akan menyelamatkan orang-orang itu.” katanya. “Jika seorang putra mahkota tidak peduli, tidakkah hal itu sangat memalukan?”
Muhyul menatap Hae Myeong dengan kagum.

Malamnya, Hae Myeong, Muhyul, Ma Ro dan Gwi Yoo menyerang perkemahan pasukan BuYeo dan menyelamatkan tawanan.
“Aku adalah Putra Mahkota Goguryeo, Hae Myeong.” ujar Hae Myeong pada para tawanan.
“Kami berterima kasih, Pangeran!” seru para tawanan seraya bersujud di hadapan Hae Myeong.
“Aku tidak pantas dihormati.” kata Hae Myeong. “Aku tidak bisa membawa kalian kembali ke Goguryeo bersamaku dan tidak bisa menjamin keselamatan kalian. Sebagai Putra Mahkota, hanya ini yang bisa kulakukan. Tapi, aku berjanji akan membuat mereka mambayar penghinaan ini dan membawa kalian kembali pada keluarga kalian.”
Para tawanan menangis.
“Pasukan BuYeo akan segera datang kemari. Pergilah sekarang juga.” Hae Myeong merasa tidak tega, tapi tidak ada lagi yang bisa dilakukannya.

Hae Myeong dan yang lainnya kembali ke Benteng Gungnae.
“Ikut aku.” ajak Hae Myeong pada Muhyul. Mereka berdua berjalan pergi.
Ma Ro memandang istana dengan kagum.
Gwi Yoo berdecak mengejek. “Lihat wajahmu!” serunya pada Ma Ro.
“Apa kau sering datang kemari?” tanya Maro.
“Tentu saja.” jawab Gwi Yoo. “Aku mengenal tempat ini seperti telapak tanganku sendiri. Aku akan mengajakmu berkeliling. Ikut aku.”

Hae Myeong makan malam bersama Yuri, Seryu, Yeojin dan Mi Yoo.
“Penguasa Jolbon berkata bahwa kau pergi ke wilayah Han.” kata Yuri pada Hae Myeong.
“Aku tidak pergi ke sana.” kata Hae Myeong seraya memerintahkan Muhyul masuk ke ruangan.
“Anak itu… Bukankah ia orang yang menggambar dinding makam Raja Jumong?” tanya Yuri.
“Ya.” jawab Hae Myeong. “Sekarang ia mengabdi padaku.”
Muhyul membawakan sebuah kotak berisi perkamen. Hae Myeong menyerahkan perkamen tersebut pada ayahnnya. “Ini adalah catatan penempatan pasukan Benteng BuYeo dan jadwal perjalanan Raja Dae So.” kata Hae Myeong.
Yuri sangat terkejut.

“Apa benar kau menyusup ke perkemahan Bayangan Hitam?!” tanya Yuri marah, bicara empat mata dengan Hae Myeong.
“Ya.” jawab Hae Myeong. “Aku memastikannya sendiri. Kelompok Bayangan Hitam menguji racun mematikan pada manusia. Ada kemungkinan kuat bahwa kudeta di Hwangnyong beberapa tahun yang lalu disebabkan oleh beberapa orang Bayangan Hitam yang dikirim oleh Raja Dae So. Cepat atau lambat, ia akan melakukan hal yang sama pada kita. Yang Mulia, izinkan aku memimpin sejumlah pasukan untuk membunuh Raja Dae So.”
Yuri terkejut mendengarnya. “Bagaimana caramu membunuh Raja Dae So?”
“Setiap satu bulan sekali, Raja Dae So melakukan inspeksi pasukan di luar Benteng BuYeo.” kata Hae Myeong. “Jika kita menyergapnya, ada kesempatan kita akan menang.”
“Mereka akan membunuh semua pasukanmu.” kata Yuri. “Aku tidak mengizinkanmu. Kau pikir untuk apa aku bersujud di depan Raja Dae So dan menelan semua penghinaan itu? Itu untuk mengulur waktu! Buang semua rencana itu.”
Ratu Mi Yoo mencuri dengar pembicaraan mereka.

Ratu Mi Yoo memanggil Sangga untuk memberitahukan apa yang di dengarnya. Jika Hae Myeong berhasil membunuh Raja Dae So, maka kedudukan Hae Myeong sebagai Putra Mahkota akan semakin kuat. “Kita tidak boleh membiarkan itu terjadi.”

Yuri sangat mencemaskan putranya, Hae Myeong. Kata-kata ancaman Dae So terus terngiang di telinganya.
“Kau tidak mendidik putramu dengan benar.” kata Dae So. “Katakan padanya, jika ia berani mengulang kesalahan seperti itu lagi, aku akan membunuhnya di depan ayahnya sendiri.”

Muhyul masih penasaran dan berpikir mengenai surat yang dititipkan padanya. Ma Ro datang dan melihat surat tersebut. “Oh? Bukankah ini Hyeon Mu?” tanyanya. Hyeon Mu adalah satu dari empat pelindung bumi kuno.
Ma Ro berpikir dan bisa menyelesaikan teka-teki itu dengan mudah.
“Raja Dae So, pada hari kesepuluh pada bulan kesepuluh, dengan rahasia akan menuju ke Jipaehyeol.” ujar Muhyul, membaca surat tersebut. Namun Muhyul masih tidak mengerti apa itu Jipaehyeol.

Yuri tidak menyetujui keputusan yang dibuat oleh Hae Myeong. Ia tidak mengizinkan Hae Myeong menyerang Raja Dae So.

Dengan diam-diam, Gwi Yoo mengintip Seryu berlatih bela diri. Ma Ro ikut mengintip bersamanya.
Seryu melihat dan memanggil mereka.
“Sepertinya kalian adalah pengawal istana yang baru.” kata Seryu. “Jika kalian bisa mengalahkan aku, aku membantu kalian.”
Gwi Yoo menerima tantangan Seryu. Ia tidak mengetahui bahwa Seryu adalah seorang putri. Dengan sikap seenaknya, ia mengalahkan dan menjatuhkan Seryu ke tanah.
“Sepertinya akulah yang akan membantumu.” kata Gwi Yoo dengan sikap sok hebat.
Tidak lama kemudian Muhyul datang. Ia terkejut melihat Seryu terduduk di tanah.
“Putri!” seru Muhyul seraya membantu Seryu berdiri. “Tolong maafkan sikapnya yang kurang ajar. Ia tidak mengetahui siapa kau, Putri.”
Gwi Yoo dan Ma Ro langsung bersujud dan meminta maaf pada Seryu.
Seryu tertawa kecil dan berjalan pergi.
“Kau bilang, kau tahu tempat ini seperti telapak tanganmu sendiri!” protes Ma Ro.

Ma Ro mengajak Muhyul berjalan-jalan di kota dan membelikan oleh-oleh untuk Hye Ap.
“Ini bagus.” kata Muhyul ketika melihat-lihat di toko aksesoris.
“Ya, itu benda asli dari Hwangnyong.” kata penjual. “Aku berasal dari sana.”
“Apa kau tahu apa itu Jipaehyeol?” tanya Muhyul.
“Jipaehyeol adalah tempat dimana istana kami berada.” jawab penjual. “Pendiri kami menyebutnya Jipaehyeol ketika Hwangnyong baru terbentuk. Tapi sekarang banyak orang Hwangnyong yang tidak mengingat itu.”
Muhyul sangat senang mendengarnya. Ia bergegas berlari menemui Hae Myeong dan menceritakan segalanya.

“Kita akan berangkat ke Jolbon.” kata Hae Myeong pada Gwi Yoo.
“Apa yang terjadi?” tanya Gwi Yoo.
“Aku akan membunuh Raja Dae So.”

Pihak BuYeo menyangka bahwa upeti prosesi yang dikirim Goguryeo disergap oleh orang-orang Hwangnyong. Tak Rok menyarankan agar Dae So menunda perjalanannya ke Hwangnyong sementara Sa Goo menyarankan sebaliknya. Dae So menyetujui saran Sa Goo.

“Bolehkah aku pergi ke tempat pelatihan Bayangan Hitam?” tanya Yeon pada ayahnya. “Dojin mengirim surat dan mengatakan bahwa banyak Bayangan Hitam yang terluka selama pelatihan. Aku ingin mlihat.”
“Lakukan apa yang kau inginkan.” kata Tak Rok setuju. “Tapi banyak hal yang berbahaya disana, kau harus berhati-hati.”

Walaupun banyak pihak yang menentang dan tidak memiliki pasukan, Hae Myeong tetap bersikeras untuk menyerang Dae So.
“Kita akan menggunakan prajurit dari hutan Myeongnim.” kata Hae Myeong. “Orang-orang yang kehilangan keluarga mereka karena pedang Dae So akan bergabung dengan kita.”
“Tapi jumlah mereka hanya sedikit.” ujar Gwi Yoo. “Jika ingin menghentikan Raja Dae So, bukankah kita membutuhkan lebih banyak?”
“Jika mereka siap mempertaruhkan nyawa, maka kita akan menang.”

Muhyul punya ide bagaimana agar mereka mendapat tambahan orang, yakni dengan mengajak Chu Bal So.
“Kau gila?!” seru Chu Bal So. “Untuk apa aku harus membahayakan nyawaku?”
“Jika kau bersedia bergabung dengan kami, kau akan mendapatkan kepercayaan Pangeran.” bujuk Muhyul. “Pangeran akan menjadi Raja kita berikutnya. Dengan begitu, hidup kalian akan berubah.”
“Kau tidak mengenalku.” kata Chu Bal So. “Aku tidak memiliki ambisi seperti itu. Aku bisa terus hidup seperti ini.”
Muhyul tersenyum dan berkata tenang. “Jika kau berubah pikiran, datanglah besok di Gunung Changcheon.”

Keesokkan harinya, Hae Myeong melatih pasukannya secara rahasia di Gunung Changcheon. Seorang mata-mata utusan Bae Geuk melihat mereka dan melapor pada Bae Geuk.

Bae Geuk datang langsung ke Gunung Changcheon untuk memeriksa. Saat itu, Ma Ro dan Muhyul tanpa sengaja melihat mereka.
“Pergi ke tempat pelatihan dan beritahu Pangeran.” perintah Muhyul pada Ma Ro. “Cepat! Aku akan memancing mereka ke tempat lain.”
Ma Ro berlari untuk memperingatkan Hae Myeong sementara Muhyul berusaha memancing perhatian prajurit Bae Geuk dan membiarkan mereka mengejarnya.

Begitu mendengar informasi dari Ma Ro, Hae Myeong memerintahkan pasukannya untuk pindah.
Di tempat lain, Muhyul seorang diri melawan para prajurit Bae Geuk. Muhyul terpojok. Tiba-tiba, beberapa orang tidak dikenal datang menyelamatkan. Rupanya mereka adalah adalah orang-orang Chu Bal So.

Ketika tiba di tempat pelatihan, Bae Geuk menemukan tempat tersebut sudah kosong. Bae Geuk curiga Hae Myeong merencanakan sesuatu.

Yeon tiba di markas pelatihan Bayangan Hitam dan mengobati orang-orang disana.
“Bagaimana kabar ayahmu?”tanya Dojin pada Yeon.
“Ia mengikuti Yang Mulia ke Hwangnyong.” jawab Yeon pelan. “Ini rahasia. Hanya sedikit orang di Benteng BuYeo yang tahu.”

Hae Myeong dan pasukannya bergerak ke medan perang.
Hae Myeong mengajak beberapa prajuritnya termasuk Muhyul untuk melihat keadaan sekitar. Ada dua orang prajurit BuYeo yang sedang melakukan inspeksi datang mendekat. Hae Myeong memberi isyarat pada Muhyul untuk membunuh mereka.

Chu Bal So menuntut penjelasan pada Muhyul. Ia bersedia ikut perang tanpa tahu perang apa itu. Muhyul hanya tersenyum. “Lihat saja besok.” katanya.
“Kau penasaran?” bisik Ma Ro. “Kita akan membunuh Raja Dae So.”
“Apa?!” seru Chu Bal So shock.

“Apa kau takut?” tanya Hae Myeong ketika Muhyul berjalan mendekatinya malam itu.
“Ya, sedikit takut.” jawab Muhyul jujur.
“Kau bisa pulang kapan saja.” kata Hae Myeong.
“Tidak. AKu takut, tapi aku bisa bertarung.” kata Muhyul. “Pangeran telah memberiku sebuah mimpi. Dulu, aku ingin sekali keluar dari gua. Aku tidak tahu kenapa dan untuk apa aku ingin keluar. Aku hanya ingin melarikan diri dari tempat itu. Tapi sejak bertemu Pangeran, aku menjadi tahu apa yang ingin kulakukan dan untuk apa aku hidup. Kau mengajarkan bahwa aku memiliki sebuah negara yang harus dicintai.”
Hae Myeong tersenyum.
“Melihat warga Goguryeo diseret ke BuYeo membuatku sangat marah.” kata Muhyul. “Kemarahanku itu berubah menjadi keberanian.”
“Kemarahan bisa menjadi sebuah keinginan untuk bertarung dan membuatmu kuat.” kata Hae Myeong. “Tapi manusia tidak bisa hidup hanya dengan kemarahan. Ada sesuatu yang lebih kuat daripada amarah.”
“Apa itu?”
“Kau akan menemukan jawabannya sendiri.” kata Hae Myeong. Ia mengeluarkan sebuah peluit panah. “Ambil ini. Jika kau menembakkan panah dengan ini, seperti mendengar seekor singa mengaum, pasukan akan mendengar perintahmu di medan perang. Raja memberikan peluit itu padaku saat pertama kali aku ikut erperang.”
“Ini terlalu berharga.” tolak Muhyul.
“Kau pantas mendapatkannya.” kata Hae Myeong. “Mungkin ini pertarungan yang sulit, tapi kau harus tetap bertahan hidup. Jika kau bisa melewati ini, aku akan mengajarkan bagaimana cara menggunakan peluit itu.”

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

The Kingdom Of The Winds – Episode 04

Muhyul membuka matanya sedikit dan dengan samar-samar melihat seorang gadis sedang mengobati lukanya. Gadis tersebut bernama Yeon.

Di pihak lain, Hae Myeong dan beberapa pengawalnya termasuk Gwi Yoo mengendarai kuda mereka menuju perbatasan.
“Jika kita melewati perbatasan, maka kita tidak akan bisa kembali.” kata pengawal Hae Myeong memperingatkan. “Tidakkah kau tahu bahwa semua Kepala Klan di ibu kota tidak akan mendengar menjelasanmu terlebih dahulu sebelum menjatuhkanmu? Ini bisa menjadi senjata mereka untuk merencanakan hal buruk.”
“Cukup.” ujar Hae Myeong, menyuruh pengawalnya diam.
“Pangeran, kau sudah memutus ikatanmu dengannya sejak lama!”
“Kita akan mengambil jalan pintas melewati Gunung Cheonma.” kata Hae Myeong, seakan tidak mendengar peringatan pengawalnya.

Muhyul dan yang lainnya diseret keluar dari tenda.
“Penggal mereka!” perintah kepala prajurit.
Para prajurit mengeluarkan pedang mereka.
“Berhenti!” teriak Muhyul lantang. “Aku adalah mata-mata. Orang-orang ini tidak ada hubungannya denganku. Ampuni mereka. Membunuh warga tidak berdosa tidak pantas dilakukan oleh kerajaan seperti BuYeo.”
“Aku tidak peduli.” kata prajurit. “Fakta yang paling penting adalah bahwa kalian telah melewati perbatasan. Kalian adalah alasan yang cukup bagi BuYeo untuk menyerang Goguryeo. Penggal mereka!”
Mendadak seorang prajurit datang dan melapor bahwa pasukan musuh menyerang. Muhyul, Chu Bal So dan yang lainnya memanfaatkan kesempatan ini untuk membebaskan diri.
“Ini.” kata Chu Bal So seraya menyerahkan kalung pemberian Seryu, kemudian melarikan diri bersama teman-temannya.

Muhyul berlari ke medan perang. Hae Myeong, Gwi Yoo, Maro dan beberapa prajurit Goguryeo menyerang perkemahan perbatasan itu.
Hae Myeong bertarung melawan prajurit BuYeo. Ketika seorang prajurit hendak menusuknya dari belakang, Muhyul melempar tombak para prajurit tersebut dan menyelamatkan nyawa Hae Myeong.

Di istana BuYeo, Dae So mengumumkan bahwa Yuri kini telah menjadi keponakannya. BuYeo dan Goguryeo akan menjadi negara saudara. Dae So menantang Yuri untuk berduel. Yuri setuju.
Pertarungan berlangsung dan diakhiri dengan kemenangan di pihak Dae So.
Dae So tertawa. “Kau telah mengalah pada pria tua ini.” katanya.
Beberapa saat kemudian, Sa Goo, orang kepercayaan Dae So, membisikkan sesuatu. Dae So lalu menoleh marah pada Yuri.
“Kurung Raja Yuri dan semua pengikutnya!” perintah Dae So pada prajuritnya.
Yuri terkejut dan bingung.

Sa Goo menyarankan agar BuYeo menghukum dan menyatakan perang pada Goguryeo sementara Tak Rok, Ketua Bayangan Hitam, menyarankan agar Dae So mengusut kebenaran dibalik masalah ini.
“Kenapa Raja Yuri melakukan tindakan seperti itu selagi ia berada di BuYeo?” tanya Tak Rok. “Pasti ada alasan yang bahkan Raja Yuri tidak mengetahuinya.”
“Yang perlu kita lakukan hanyalah membunuh Raja Yuri dan membuat perhitungan dengan Pangeran Hae Myeong.” kata Sa Goo. “Yang Mulia, kita harus membunuh Raja Yuri dan memulai perang.”
Dae So diam, belum mengambil keputusan.

Muhyul dibawa kembali ke Benteng Jolbon. Ia dan Maro berlutut di tengah lapangan, dihukum oleh Gwi Yoo.
“Bawa mereka kembali ke gua.” perintah Hae Myeong pada Gwi Yoo. “Rahasiakan kejadian kemarin dari pasukan.”

Atas perintah Hae Myeong, Gwi Yoo membawa Muhyul kembali ke gua.
“Aku akan menerima hukuman apapun, tapi tolong biarkan kami tetap di Jolbon!” kata Muhyul. “Aku tidak ingin kembali ke gua.”
Gwi Yoo menampar wajah Muhyul hingga terhempas ke tahah. “Kau masih tidak sadar masalah apa yang kalian sebabkan? Karena kalian, BuYeo dan Goguryeo terancam berperang. Kami bahkan tidak bisa melindungi Yang Mulia. Ia sedang berada di istana BuYeo, tapi kami menyerang perbatasan BuYeo! Kau pikir Raja Dae So akan membiarkan Yang Mulia hidup?! Aku tidak mengerti kenapa Pangeran mengampuni nyawamu, tapi jika kau ingin hidup, kembalilah ke gua dengan tenang.”
Muhyul merasa sangat bersalah.

Dae So memanggil Yuri.
“Apa yang harus kulakukan untuk mendapatkan kepercayaanmu?” tanya Yuri.
“Aku percaya padamu.” kata Dae So pelan.
“Lalu, apa alasan kau mengurungku?” tanya Yuri. “Apa aku melakukan kesalahan?”
“Kau tidak mendidik putramu dengan baik.” kata Dae So. “Pangeran Hae Myoeng menyerang kemah pertahanan di perbatasan kami.”
Yuri terkejut. “Itu tidak mungkin.” katanya.
“Aku juga tidak percaya.” ujar Dae So. “Tapi aku sudah memeriksanya lebih dari sekali dan itu benar. Kenapa putramu melakukan itu sementara ayahnya berada di BuYeo? Apa ia menginginkan kau mati? Apa anak itu mengincar tahtamu?”
Dae So memutuskan untuk mengampuni Yuri, tapi Yuri harus memperingatkan Hae Myeong. Jika Hae Myeong melakukan kesalahan sesperti itu lagi, maka ia akan membunuh Hae Myeong di depan mata ayahnya sendiri.

Muhyul sangat bingung dan penasaran kenapa Hae Myeong mau menyelamatkan orang biasa seperti dirinya dan menyebabkan resiko terjadi perang. Ia bertanya pada Hye Ap.
“Pangeran Hae Myeong yang kutahu sanggup melakukan itu.” jawab Hye Ap. “Ia akan melakukan melakukan apapun, termasuk menyelamatkan tumbuhan yang tidak berakar. Ia tidak akan membiarkan prajuritnya mati.”
Muhyul tidak percaya. Ia telah melanggar aturan dengan melewati perbatasan, tapi kenepa Hae Myeong tetap menyelamatkannya? “Kenapa aku mendapatkan perlakukan khusus?” tanyanya.
“Jika saatnya tepat, tanyakan sendiri padanya.” jawab Hye Ap.

Yuri datang ke Jolbon untuk menemui Hae Myeong. Tanpa berkata apa-apa, Yuri menampar wajah Hae Myeong di depan seluruh prajurit berkali-kali.
“Apapun hukumanku, aku akan menerimanya.” kata Hae Myeong, menolak menjelaskan alasannya menyerang perbatasan BuYeo.
Bagaimanapun Yuri bertanya, Hae Myeong tetap tutup mulut. Yuri marah dan mengeluarkan pedangnya. “Katakan padaku!” teriaknya emosi.
Hae Myeong tetap diam, tidak gentar sama sekali. Yuri menjatuhkan pedangnya.

Sebagai hukuman atas kesalahan Hae Myeong, Yuri menarik semua kekuasaan Hae Myeong atas Jolbon dan menarik semua kekuasaan Hae Myeong sebagai Putra Mahkota.
Semua orang terkejut dan memohon Yuri memaafkan Hae Myeong. Hae Myeong tetap diam, tidak bereaksi sama sekali.
“Aku akan melaksanakan perintahmu, Yang Mulia.” ujar Hae Myeong.
Yuri kemudian menyerahkan kekuasaan Jolbon pada Bae Geuk. Sebelum kembali ke Gungnae, ia ingin mengunjungi makam ayahnya, Jumong.
Tidak masalah bagi Hae Myeong apapun hukuman yang diperolehnya asalkan ia sudah menyelamatkan nyawa adiknya.

Muhyul melukis di gua. Ia melukis gadis yang telah mengobati lukanya di perkemahan perbatasan BuYeo.
Maro datang. Muhyul buru-buru menyembunyikan hasil lukisannya. “Yang Mulia datang ke gua.” katanya.

Yuri melihat lukisan di dinding makam Jumong dengan seksama.
Setelah itu, Yuri keluar untuk menemui para pelukis. “Siapa yang melukis gambar di dinding makam?” tanyanya pada Hye Ap.
Hye Ap meminta Muhyul maju.
“Kau mampu menggambar lukisan dinding yang menakjubkan pada umur semuda ini.” kata Yuri. “Kemampuanmu sangat luar biasa.”
Hae Myeong mendongak menatap ayahnya.

Setelah itu, Yuri pergi. Goo Chul bertanya apakah Yuri ingin mengunjungi makam Ratu juga. Tapi Yuri menolak. “Jika aku mengunjunginya lagi, bukankah akan membuka luka lama?” tanyanya sedih.
Yuri meminta pengawalnya meninggalkan ia dan Hae Myeong.
“Apakah kau tahu mengenai anak itu?” tanya Yuri.
“Maksudmu, Muhyul?” tanya Hae Myeong. “Saat itu, aku meninggalkannya pada sepasang petani.”
“Kau tidak mencarinya lagi setelah itu?” tanya Yuri.
“Ketika aku kembali ke sana, aku tidak bisa menemukan siapapun.” jawab Hae Myeong berbohong. “Jika kau ingin bertemu dengannya, aku akan mencarinya.”
“Tidak perlu.” jawab Yuri sedih. “Jika aku bertemu dengannya, apa yang akan kulakukan? Ini adalah takdir, aku harus melupakannya.”
Yuri berbalik memang Hae Myeong. “Aku ingin membuatmu menjadi penerus Goguryeo yang hebat.” katanya. “Alasanku melepaskan semua kekuasanmu adalah untuk melindungimu. Jaga dirimu baik-baik.”

Hae Myeong dan Baek Geuk berkeliling Jolbon. Yuri meminta putranya untuk membantu Baek Geuk mengenal Jolbon.
“Apa keberadaanku di Jolbon mengganggumu?” tanya Hae Myeong. “Aku suka tinggal disini. Aku lahir disini dan kenangan masa kecilku ada disini.”
“Kau harus mengingat satu hal.” kata Baek Geuk. “Kekuasaan benteng Jolbon ada padaku. Kau tidak bisa melewati perbatasan dan menyebabkan keributan lagi seperti yang kau lakukan kemarin.”
“Aku mengerti.” kata Hae Myeong. “Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku ingin melakukan perjalanan ke negara tetangga dan mempelajari keadaan mereka.”

Gwi Yoo dan Hae Myeong datang ke gua untuk menemui Muhyul dan Maro.
“Ikuti aku.” perintah Hae Myeong, berjalan mendahului.
“Karena kalian, ia kehilangan semua kekuasaannya di Jolbon dan kekuasannya sebagai Putra Mahkota.” kata Gwi Yoo. “Apa lagi yang akan kalian dapatkan selain hukuman? Ikut aku!”
Maro ketakutan.

“Tidakkah mengajaknya hanya akan menyusahkanmu?” tanya Hye Ap cemas. “Ia telah menyebabkan banyak masalah untukmu.”
“Ia telah membuatku bebas dari tugas sebagai Putra Mahkota.” kata Hae Myeong. “Ini bukanlah hukuman, tapi hadiah.”
Hye Ap terdiam.
“Aku ingin mengajak Muhyul melihat dunia.” kata Hae Myeong pada Hye Ap. “Sejak lahir, ia hanya bisa melihat gua. Melakukan perjalanan keluar akan menjadi hadiah yang besar untuknya.”

Hae Myeong, Muhyul, Maro dan Gwi Yoo melakukan perjalanan dan bermalam di tengah hutan. Hae Myeong ingin mengajak mereka ke BuYeo.
“Aku ingin melihat negara musuh dari dalam.” kata Hae Myeong. Ia menatap Muhyul, yang kelihatan sangat terkejut. “Apa kau takut?”
“Tidak.” jawab Muhyul. “Aku juga ingin melihatnya sendiri.”
“Karena kita berkeliling dengan menyamar, maka kalian tidak perlu memanggilku Pangeran.” kata Hae Hyeong. “Panggil aku kakak. Cobalah.”
“Kami tidak pantas menyebut Pangeran ‘kakak’.” kata Maro.
Hae Myeong tersenyum. “Tidak apa-apa. ” katanya. “Coba katakan.”
“Ka… Kakak.” ujar Muhyul ragu.
Hae Myeong tersenyum. “Kedengarannya sangat bagus.” katanya sedih.

Muhyul dan Hae Myeong tidak bisa tidur. Mereka berbincang.
“Kenapa kau menyelamatkan orang sepertiku?” tanya Muhyul. “Aku sungguh tidak mengerti.”
“Aku adalah Putra Mahkota.” kata Hae Myeong. “Semua rakyatku seperti anakku sendiri. Jika ayah menyelamatkan anaknya, apakah butuh alasan? Apakah kau tahu wilayah moyang?”
“Tidak.” jawab Muhyul.
“Seperti yang kau gambar di dinding. Itu adalah negara dimana ayah Raja Jumong (Hae Mo Su), hidup.” kata Hae Myeong. “Impian Raja Jumong adalah merebut kembali wilayah moyang yang hilang (GoJoSeon). Saat ini Goguryeo mengalami masalah dengan BuYeo, tapi impianku adalah… suatu saat nanti aku ingin mengembalikan wilayah moyang kita.”
Hae Myeong menatap Muhyul. “Aku berharap, kau dan aku bisa mewujudkan mimpi itu bersama.”
Muhyul berlutut di hadapan Hae Myeong, “Pangeran, kau telah menyelamatkan nyawaku. Aku berharap bisa membantumu mewujudkan impianmu.”
Hae Myeong menyentuh pundak Muhyuk. “Ingatlah ini baik-baik. Apa yang ingin kita ambil, adalah wilayah moyang kita.” katanya.

Hae Myeong dan yang lainnya tiba di BuYeo. Tanpa sengaja, Muhyul melihat Yeon dan berlari mengejarnya. Namun sayang ia kehilangan jejak Yeon.
Gwi Yoo memarahi Muhyul. “Jangan mengundang perhatian!” omelnya.

Hae Myeong menemui Mahwang yang sedang menjadi peserta lelang budak. Ia meminta bantuan Mahwang agar bisa menyusup ke markas Bayangan Hitam.
“Lebih baik bunuh aku saja.” kata Mahwang.
“Ketika aku jadi raja, semua hak pasar akan dipegang oleh Klan Biryu.” kata Hae Myeong. “Aku akan memindahkannya ke tanganmu. Bagaimana?”
Dengan sogokan itu, akhirnya Mahwang setuju.

Mahwang membantu Hae Myeong dan Gwi Yoo menyusup ke markas Bayangan Hitam dengan menyamar sebagai pedagang.

Ketika Muhyul dan Maro sedang berlatih, tanpa sengaja Mahwang melihat kalung Muhyul.
“Bagaimana ini bisa ada padamu?” tanyanya.
“Ini diberikan oleh orang tuaku.” jawab Muhyul.

Gwi Yoo dan Hae Myeong berhasil masuk ke markas Bayangan Hitam. Para prajurit Bayangan hitam dilatih dengan sangat keras. Untuk menguji efek racun yang mereka buat, mereka menggunakan para tawanan sebagai kelinci percobaan.
Hae Myeong mengintip. Ada salah seorang anggota Bayangan Hitam yang sangat pandai dan mencolok. Orang itu bernama Do Jin.

Tiba-tiba, budak yang dibeli Mahwang mencoba bunuh diri dengan menggunakan racun Seorang tabib datang bersama Yeon untuk mengobati si budak. Muhyul mengintip dari pintu.
Ketika Yeon berjalan pergi, Muhyul mengikutinya.

Yeon bekerja sebagai perawat disebuah klinik pengobatan.
“Selanjutnya.” ujar Yeon, memanggil pasiennya.
Muhyul datang berlari-lari.
Yeon melihatnya. “Apa yang sakit?” tanyanya.
Muhyul menunjuk dadanya. “Disini sakit.” katanya.
Mendadak beberapa orang prajurit datang untuk menjemput Yeon. “Nona, kami akan mengantarmu pulang. Kami diperintahkan untuk memaksamu jika kau menolak.”
“Aku mengerti.” kata Yeon. “Aku akan ikut denganmu.”

Para prajurit itu mengawal Yeon pulang. Muhyul mengikuti mereka dari belakang.
Dengan tiba-tiba, Muhyul menyerang para prajurit dan menggandeng Yeon melarikan diri.
Muhyul mengajak Yeon bersembunyi. Tanpa berkata apa-apa, Yeon menampar wajah Muhyul , kemudian berjalan pergi dengan marah. Muhyul bingung.

Yeon adalah putri Tak Rok, pemimpin Bayangan Hitam. Ia dan ayahnya berkunjung ke istana untuk bertemu dengan Dae So. Karena Dae So tidak memiliki keturunan, maka BuYeo menganggap Yeon sebagai seorang Putri.

Muhyul berjalan di kota. Para prajurit yang tadi mengantar Yeon mengejar dan mengepungnya.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

The Kingdom Of The Winds – Episode 03

Hye Ap dan Muhyul terkepung oleh para penyusup.
Seorang penyusup memukul perut Muhyul dengan keras hingga Muhyul berteriak kesakitan dan berlutut di tanah.
“Jika kau tidak menjawab pertanyaanku, maka aku akan membunuhnya.” ancam pemimpin para penyusup pada Hye Ap. “Dimana makam Jumong?”
“Makan Raja Jumong adalah tempat yang suci.” kata Hye Ap. “Jika kau masuk kesana dengan kekerasan, maka kalian semua akan mati.”
“Kau hanya perlu mengantarku kesana.” kata pemimpin.

Hye Ap terpaksa mengantar para penyusup menuju makan Jumong.
“Setelah kalian memasuki makam, kalian akan menemukan pedang milik Jumong.” kata pemimpin penyusup pada anak buahnya. “Bawa pedang itu padaku.”
“Ya.” Beberapa orang penyusup masuk ke makam Jumong.
Setelah beberapa lama menunggu, penyusup tersebut tidak juga keluar. Dari dalam makam terdengar suara-suara seseorang kesakitan.
“Apa yang terjadi?” tanya pemimpin pada Hye Ap.
“Bukankah aku sudah memperingatkanmu?” tanya Hye Ap. “Jika kau masuk dengan paksa, maka kau akan mati.”
Tiba-tiba seorang penyusup keluar dari makam dalam keadaan sekarat. “Benda aneh… ada di semua tempat…” gumamnya lemah, lalu tewas.
Pemimpin memerintahkan Hye Ap masuk, namun Hye Ap menolak. “Jika kau tidak mau, aku akan memenggalmu.” Ia mengangkat pedang untuk membunuh Hye Ap.
“Tunggu!” seru Muhyul. “Aku akan masuk. Aku akan mengambil pedang itu.”
“Muhyul!” larang Hye Ap. “Jangan melakukan tindakan bodoh.”
“Ketua, aku akan melakukannya.” kata Muhyul bersikeras. “Aku telah menghabiskan hidupku dalam gua ini. Aku tidak mau hidupku sia-sia. Aku harus hidup. Aku harus bertahan hidup dan juga menyelamatkan nyawamu.”

Muhyul masuk ke dalam makam. Ia teringat masa kecilnya dulu saat ia dan Maro masuk ke makam. Di dalam makam itu, Muhyul dan Maro bertemu dengan seorang pria tua penjaga makam. Dialah orang yang memasang jebakan di makam itu untuk melindungi barang keramat peninggalan Raja Jumong.
Perlahan-lahan Muhyul berjalan memasuki makam. Ia memeriksa langkah demi langkah dengan hati-hati. Jika ia salah langkah sedikit, maka jebakan berupa panah akan tertembak ke arahnya.

Di luar, para penyusul menunggu, namun Muhyul tidak juga keluar.
“Sepertinya ia mati.” ujar pemimpin. Ia menarik Hye Ap.
Tiba-tiba beberapa buah anak panah tertembak dan menusuk para penyusup hingga tewas. Hae Myeong dan pasukannya tiba bersama Maro.
“Kau baik-baik saja?” tanya Hae Myeong pada Hye Ap.
“Ya.” jawab Hye Ap, kelihatan merasa sangat sedih dan terpukul. Ia mengira Muhyul tewas.
“Dimana Muhyul?” tanya Maro.
“Apa ada sesuatu yang terjadi padanya?” tanya Hae Myeong cemas.
Hye Ap hanya menunduk diam.

Di dalam makam, Muhyul kelelahan, mencoba menghindari jebakan disana-sini. Akhirnya Muhyul tiba di pinggir sebuah jurang. Disana, ada sebuah jembatan kecil yang sudah rapuh, yang menghubungakan kedua tepi jurang.
Dengan perlahan dan hati-hati, Muhyul menapakkan kakinya di atas jembatan tersebut. Ketika Muhyul sampai di tengah jembatan, tiba-tiba sebatang kayu jembatan patah dan tali jembatan terputus. Muhyul berpegangan erat pada tali dan menabrak dinding jurang.
Di seberang dinding, Muhyul bisa melihat lukisan pahatan mengenai sejarah Raja Jumong.
Di mata pahatan seekor kura-kura, ada sebuah tonjolan berwarna hijau.
Dengan susah payah, Muhyul berusaha meraih tonjolan hijau itu.

Muhyul akhirnya berhasil meraih tonjolan itu dan menyentuhnya. Tonjolan itu mengeluarkan cahaya. Benda tersebut jatuh ke dasar jurang, kemudian muncul sebuah jalur batu yang menuju ke ruangan tempat tersimpannya peti dan pedang legendaris milik Raja Jumong.
Muhyul berusaha membuka peti, tapi tidak kuat. Ia melihat pedang legendaris milik Jumong di tengah ruangan, kemudian menyentuhnya.
Pedang tersebut mengeluarkan sebuah cahaya yang sangat terang, menerangi seisi ruangan dan menerangi lukisan sejarah perjuangan Jumong membangun Goguryeo.

Hae Myeong sangat mencemaskan adiknya dan ingin menyusul masuk ke makam. Tapi, Muhyul tiba-tiba muncul dengan membawa pedang Jumong. Hae Myeong menarik napas lega.
Setelah itu, Hae Myeong dan prajuritnya mengindentifikasi para penyusup, Mereka berhasil mengetahui bahwa penyusup tersebut adalah orang-orang BuYeo.

Di BuYeo, Raja Dae So ingin menguji kemampuan prajuritnya dengan melakukan pertarungan. “Jika kau berhasil mengalahkan aku, maka aku akan mengangkatmu menjadi Ketua Pasukan..” katanya pada salah seorang prajurit. “Tapi jika kau kalah, maka aku akan memenggal kepalamu.”
Dae So bertarung dengan prajurit itu. Pertarungan seperti sumo (entah apa namanya). Prajurit berhasil menjatuhkan Dae So di tanah. Dae So tertawa.
Beberapa saat kemudian, seorang pengawal melapor pada Dae So bahwa pemimpin Bayangan Hitam yang dikirim ke Goguryeo telah kembali.

“Bagaimana?” tanya Dae So pada pemimpin.
“Kami gagal.” jawab pemimpin.
“Dan prajuritmu?”
“Mereka semua tewas.”
Dae So marah besar. Ia menarik pedang kemudian membunuh si pemimpin.
“Butuh waktu bertahun-tahun untuk menemukan makam Jumong.” kata Dae So emosi. “Semua usaha yang kulakukan demi mendapatkan pedang Jumong, apakah hanya kegagalan yang kuhasilkan?! Seberapa besar usaha yang telah kita lakukan untuk menciptakan Bayangan Hitam?! Bagaimana mereka bisa tewas dengan begitu mudah?! Jika kita tidak bisa mendapatkan pedang Jumong, maka aku akan berperang dengan Goguryeo!”

Yuri memiliki seorang Ratu baru bernama Ratu Mi Yoo dan seorang putra bernama Yeo Jin.
“Yeo Jin, ambil pedangmu.” perintah Yuri. “Aku ingin menguji sejauh apa perkembangan kemampuan bela dirimu. Ambil pedang yang kuberikan padamu.”
Yeo Jin terlihat terkejut.
“Apa lagi yang kau tunggu?” tanya Ratu Mi Yoo. “Cepat ambil pedangmu.”
“Pedang yang Yang Mulia berikan tidak ada lagi padaku.” kata Yeo Jin.
“Tidak ada padamu?” tanya Yuri. “Apa kau menghilangkannya?”
“Aku tidak punya bakat dalam bela diri.” kata Yeo Jin takut-takut. “Latihan seperti apapun tidak akan membuatku pandai bela diri. Jadi, aku memberikan pedang itu pada ketua pandai besi, kemudian membuat sesuatu yang kuinginkan.”
“Bagaimana bisa seorang Pangeran Goguryeo meremehkan pedangnya sendiri?!” tanya Yuri marah. “Aku sudah mengatakan padamu bahwa kau harus menjaga pedang itu dengan nyawamu!”
Yeo Jin mengeluarkan sesuatu dari kantung bajunya. Sebuah perhiasan. “Aku membuatnya sendiri, Yang Mulia.” katanya. “Aku memberikan pedang pada ketua pandai besi, lalu belajar bagaimana caranya membuat perhiasan.”
Yuri diam sejenak, kemudian tertawa terbahak-bahak. “Dengan kemampuan seperti ini, kau bisa menjadi ketua pandai besi.” katanya memuji.
“Jika Yang Mulia mengizinkan, aku akan masuk ke bengkel sebagai penerus.” kata Yeo Jin bersemangat. “Aku akan membuat alat-alat untuk ritual.”
“Omong kosong!” Mi Yoo memarahi putranya. “Yang Mulia, berilah Yeo Jin kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.”
Yuri tersenyum. “Jika kau mau, kau bisa masuk ke bengkel dan membuat alat-alat ritual kita. Itu juga pekerjaan yang sangat berharga.”
Yeo Jin sangat senang. “Aku akan berusaha sekuat tenaga.” katanya.
Ketika Mi Yoo dan Yeo Jin berjalan pergi, Mi Yoo memarahi putranya. Ia memerintahkan putranya untuk menunjukkan kemampuan agar bisa menjadi Putra Mahkota jika Hae Myeong mati.

Seorang prajurit Jolbon bernama Gwi Yoo, memerintahkan anak buahnya agar berjaga di sekitar gua.
“Apa hubungan Kepala Dekorator dengan Pangeran Hae Myeong?” tanya Gwi Yoo penasaran pada pengawal kepercayaan Hae Myeong.
“Kepala Dekorator Hye Ap adalah pendamping Pangeran Dojeol.” jawab pengawal. Pangeran Dojeol adalah putra pertama Yuri dan kakak Hae Myeong yang sudah meninggal. “Setelah Pangeran Dojeol meninggal, ia akan dikuburkan bersamanya, tapi Pangeran menyelamatkannya. Karena itulah Pangeran dituduh mencintai kekasih kakaknya sendiri.”
Gwi Yoo tersenyum. “Bukankah mereka saling menyukai?”

Walaupun Hye Ap dan Hae Myeong saling mencintai, namun Hye Ap berusaha menjauh dari Hae Myeong. Ia merasa bersalah karena telah menyebabkan Hae Myeong mendapat penghinaan. Hye Ap tidak mau lagi menyusahkan Hae Myeong.
“Ada yang ingin kutanyakan.” kata Hye Ap. “Siapa sebenarnya Muhyul? Dia berhasil melewati jebakan di makam dan membawa pedang legendaris. Aku tahu ia bukan orang biasa. Siapa muhyul? Apa hubungannya denganmu?”
“Aku tidak bisa memberitahu apapun padamu.” jawab Hae Myeong.
“Kurasa aku tidak bisa lagi menahan Muhyul.” kata Hye Ap. “Dia ingin melihat dunia. Aku tidak bisa lagi mengentikannya. Mulai saat ini, aku akan menyerahkan dia padamu.”

Hye Ap menyuruh Muhyul dan Maro pergi dari gua dan menuju ke markas pasukan Jolbon.
“Mulai sekarang, mereka akan menjadi prajurit Jolbon.” kata Hae Myeong pada Gwi Yoo. “Aku akan mempercayakan mereka padamu. Buatlah mereka menjadi prajurit yang kuat.”

Dengan sikap semena-mena, Gwe Yoo memerintahkan Maro dan Muhyul menyerangnya dengan pedang sungguhan.
“Kau harus bisa membunuhku.” kata Gwe Yoo. “Jika tidak, aku yang akan membunuh kalian. Mulai.”
Maro dan Muhyul ragu.
Gwe Yoo menarik napas dalam-dalam. “Jika kalian tidak maju, maka aku yang akan maju lebih dulu.”
Gwe Yoo menyerang Maro dan Muhyul. Dengan beberapa gerakan saja, Gwe Yoo sudah berhasil menjatuhkan mereka.
“Bawa mereka ke kandang kuda.” perintah Gwe Yoo pada anak buahnya.

Muhyul dan Maro bekerja di kandang kuda, setelah itu mereka disuruh mencuci pakaian di sungai.
Maro mengeluh dan marah-marah. Ia mengajak Muhyul kembali ke gua, namun Muhyul menolak.
“Ada sesuatu yang harus kulakukan disini.” kata Muhyul. “Pertama-tama, aku ingin mengalahkan Gwe Yoo. Hanya itu yang kupikirkan saat ini.”

Ketika Muhyul dan Maro berjalan di kota, mereka melihat Chu Bal So dan anak buahnya masuk ke rumah judi. Muhyul bertekad mendapatkan kalungnya kembali.
Maro ketakutan. Tapi disisi lain rumah judi, Muhyul melihat Gwe Yoo. Gwe Yoo melambaikan tangan dan tersenyum pada mereka.
“Ayo!” ujar Maro, berjalan mendatangi Chu Bal So dan anak buahnya.
“Kembalikan kalungku.” kata Muhyul.
“Ini?” tanya Chul Bal So. “Datang dan ambillah.”
Muhyul dan Maro bertarung melawan anak buah Chu Bal So. Mereka berdua dikeroyok habis-habisan. Gwe Yoo sama sekali tidak membantu.

Malamnya, dalam kondisi babak-belur, Muhyul dan Maro mendatangi kamar Gwe Yoo.
“Kenapa kau melakukan itu?” tanya Muhyul. “Bukankah kau berjanji akan membantu kami?”
“Benar, tapi aku tidak tahu bahwa mereka adalah preman jalanan.” kata Gwe Yoo acuh. “Aku tidak akan menjatuhkan harga diriku dengan melawan mereka.”
Muhyul sangat marah. Ia mengalbil sebuah tombak dan ingin menusuk Gwe Yoo. Namun tetap saja Muhyul tidak bisa menandingi Gwe Yoo.
Gwe Yoo mencekik leher Muhyul. “Benar, pandangan itulah yang kucari.” katanya. “Karena aku sudah melihat apa yang ingin kulihat, maka aku akan memulai latihanmu besok.”

Ketika Hae Myeong tiba di ibukota, ia melihat adiknya, Seryu, sedang membeli sebuah busur di kota. Mereka kembali ke istana bersama-sama.

Setelah Hae Myeong menceritakan segalanya pada Yuri, Yuri memanggil seseorang bernama Bae Geuk. Bae Geuk adalah putra angkat Sangga dari klan Biryu. Yuri sangat mempercayai pria itu dan mengangkatnya menjadi Ubo, orang tertinggi yang mengontrol militer kerajaan.
“Yang Mulia bahkan membicarakan masalah penting negara dengan Bae Geuk.” kata Goo Chul pada Hae Myeong.
Hae Myeong terkejut dan khawatir.

Ketika Yuri dan Bae Geuk sedang berunding, Tae Cheon masuk dan melapor bahwa seorang utusan dari BuYeo tiba. Utusan tersebut adalah Sa Goo, orang kepercayaan Dae So.
Sa Goo menyerahkan sebuah surat dari Dae So pada Yuri.
“Yang Mulia Dae So ingin memperkuat ikatan persahabatan diantara negara kita.” kata Sa Goo. “Ia mengundang Raja Goguryeo untuk datang ke BuYeo.”
“Lancang!” teriak Goo Chun. “Memanggil Yang Mulia Raja?!”
“Hanya ada satu penguasa di wilayah utara dan itu adalah Yang Mulia Dae So!” seru Sa Goo. “Temui Yang Mulia dan terima BuYeo sebagai negara sekutu. Demi Goguryeo.”

Perdebatan intern terjadi. Antara pendapat yang setuju Yuri pergi ke BuYeo dan pendapat tidak setuju. Bae Geuk setuju, sementara Hae Myeong dan Goo Chul tidak setuju.
Yuri memutuskan untuk pergi memenuhi panggilan Dae So.
Hae Myeong menoleh tajam pada Bae Geuk.

Yuri memenuhi undangan Dae So agar datang ke BuYeo. Yuri datang bersama Goo Chul, Tae Cheon dan Bae Geuk.
Yuri dan Dae So berbincang berdua.
“Aku tumbuh bersama Jumong dan menganggapnya saudara.” kata Dae So. “Kau boleh memanggilku paman mulai saat ini. Aku seperti berhasil menemukan keponakanku yang hilang.”
Yuri tersenyum tipis.
“Kudengar, saat Jumong meninggal, seekor naga kuning muncul.” kata Dae So. “Apakah itu benar?”
“Itu hanya cerita yang dikarang oleh rakyat.” jawab Yuri.
Percakapan berlangsung. Yuri mengatakan bahwa Goguryeo akan menerima BuYeo sebagai negara sekutu.
“Bagaimana aku bisa mempercayai ucapan putra Jumong?” tanya Dae So.
Untuk membuktikan kata-katanya, Yuri bersujud di hadapan Dae So. Dae So tersenyum licik.

Gwi Yoo menantang para prajuritnya untuk bertarung. Semuanya diam, tidak ada yang bersedia.
Muhyul berdiri, menerima tantangan Gwe Yoo. “Apakah pertarungan kita sungguh-sungguh?” tanya Muhyul.
“Ya.” jawab Gwe Yoo. “Pilihlah senjatamu. Pedang, tombak, apapun boleh.”
Mendadak, Muhyul melempar segenggam bubuk ke wajah Gwe Yoo. Gwe Yoo terkejut, menutupi matanya.
Dengan cepat, Muhyul menyerang Gwe Yoo dan memukulinya habis-habisan.
Muhyul berteriak senang. Semua prajurit bersorak.
Dari jauh, Hae Myeong menonton dan tertawa.

Gwe Yoo mengirim Maro dan Muhyul ke benteng depan, perbatasan antara BuYeo dan Goguryeo untuk membawa beberapa barang.
“Mana lemak babinya?” tanya Gwe Yoo, memeriksa barang-barang yang dibawa Muhyul dan Maro. “Bagaimana kalian bisa menyalakan api hanya dengan kayu bakar?”
“Kami hanya membawa apa yang mereka beri pada kami.” kata Maro membela diri.
Gwe Yoo tidak mau mendengar alasan. Ia memerintahkan Maro dan Muhyul kembali untuk mengambil lemak babi.

Di tengah perjalanan, secara tidak sengaja Muhyul melihat Chu Bal So dan anak buahnya berjalan menuju ke luar perbatasan. Muhyul mengikuti mereka.
Rupanya Chu Bal So dan anak buahnya melakukan perdagangan gelap. Muhyul berjalan perlahan-lahan mendekati mereka.
“Muhyul!” panggil Maro ketakutan, tidak mengikuti Muhyul.
“Kalungku!” Muhyul meminta kalungnya lagi pada Chu Bal So.
Karena Muhyul telah melihat Chu Bal So melakukan perdagangan gelap, ia memerintahkan anak buahnya untuk membunuh Muhyul.
Ketika Muhyul dan anak buah Chu Bal So sedang bertarung, beberapa orang prajurit BuYeo muncul dan mengepung mereka.
Maro ketakutan dan melapor pada Gwe Yoo.

“Siapkan pasukan!” perintah Hae Myeong cemas. “Mereka akan dituduh sebagai mata-mata dan dihukum mati.”

Muhyul disiksa habis-habisan oleh prajurit BuYeo.
Setelah para prajurit pergi, seorang gadis masuk ke tenda tawanan. Gadis itu melihat para tawanan yang terluka satu per satu.
“Hei.” panggil gadis itu pada Muhyul. “Bangun.”
Muhyul membuka matanya dan terkejut melihat ada seorang gadis cantik dihadapannya.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

The Kingdom Of The Winds – Episode 02

Bagaimanapun seorang ayah tidak akan mungkin bisa membunuh putranya sendiri. Yuri menjatuhkan belatinya dan menggendong putranya ke luar dari kuil itu.
Melihat darah yang mengotori baju Yuri, Hae Myeong menjadi cemas. “Dimana peramal?” tanyanya. “Kenapa ia membunuh pengikutnya dan membawa Pangeran?”
“Peramal sudah meninggal.” jawab Yuri dengan ekspresi terpukul. Ia memerintahkan pengawalnya untuk menyiapkan pemakaman yang layak untuk peramal.

Berita kematian peramal dengan cepat menyebar dan sampai ke telinga Sangga.
“Mungkin saja ia tidak bunuh diri, melainkan Raja Yuri-lah yang telah membunuhnya.” kata pengawal Sangga.
“Tidak masalah apakah ia bunuh diri atau Raja Yuri yang membunuhnya.” ujar Sangga. “Mungkin saja masalah ini bisa kita gunakan untuk mewujudkan tujuan kita. Kumpulkan orang-orang kita sekarang. Jangan sampai menteri di istana mengetahui.”
“Ya, Sangga.”
Sangga akan merencanakan sesuatu untuk menyusahkan pihak istana. “Akan kutunjukkan bagaimana pengaruh pendapat rakyat.”

Hae Myeong membujuk ayahnya untuk menceritakan apa yang diinginkan peramal. Tapi Yuri bersikeras diam dan tidak ingin memberitahu siapapun.
“Tinggalkan aku sendiri!” perintah Yuri.
Hae Myeong dan Goo Chul takut bahwa masalah ini akan dimanfaatkan oleh para kepala klan. Hae Myeong memerintahkan pada Goo Chul untuk memperingatkan para Menteri agar mengawasi Kepala Klan lebih ketat.

Tengah malam, Yuri tidur tidak tenang dan terbangun karena sebuah firasat buruk. Goo Chul memanggil Yuri dari luar dan mengatakan ada sesuatu yang aneh sedang terjadi di istana.
Yuri bergegas keluar untuk melihat keadaan.
Di halaman istana, burung-burung gagak hitam mati bergelimpangan. Yuri sangat terkejut melihatnya.
Keesokkan harinya, muncul fenomena aneh lain. Di desa, sumur yang biasa digunakan warga sebagai sumber air berubah menjadi darah. Selain itu, hewan-hewan ternak mati.

Semua fenomena aneh tersebut menyebabkan rakyat mengetahui masalah di kuil.
“Mereka berpendapat bahwa Yang Mulia ada sangkut pautnya dengan masalah ini.” ujar Goo Chul. “Jika rakyat tidak mendukungmu, maka Kepala Klan akan memberontak lagi. Tolong beritahu kami mengenai kejadian di kuil.”
Yuri tetap diam.

Di tempat lain, Hae Myeong dan Mahwang dan pelayan Mahwang, Gong Chan, melakukan autopsi terhadap burung-burung gagak yang mati di istana.
Gong Chan menemukan sesuatu di tubuh burung gagak kemudian memakannya. “Ini jelai.” katanya.
“Jelai?” tanya Hae Myeong berpikir.
Beberapa saat kemudian Gong Chan pingsan.
Hae Myeong dan Mahwang membawa Gong Chan ke Tabib.
“Ini adalah racun serangga yang dicampurkan dengan jelai.” kata Tabib, memeriksa jelai.
“Bagaimana dengan Gong Chan?” tanya Mahwang cemas.
“Ini tidak akan membunuh manusia.” kata Tabib. “Dia akan segera sadar. Jangan khawatir.”
“Dimana kita bisa menemukan racun serangga seperti ini?” tanya Hae Myeong.
“Di Goguryeo, hanya ada satu tempat. Klan Biryu.” jawab Tabib.

Rencana Sangga berhasil. Keributan besar terjadi di masyarakat. Rakyat percaya bahwa Raja Yuri yang telah membunuh Peramal. Hal tersebut akan membawa kemarahan Langit pada Goguryeo.
“Pemberontakan rakyat akan segera dimulai.” kata pelayan Sangga.
Sangga tertawa menang. “Pasti.” katanya.

Sangga menemui Yuri di istana. Ia meminta penjelasan pada Yuri mengenai kematian Peramal.
“Apakah karena ia mengatakan mengenai kutukan mengerikan yang dimiliki oleh Pangeran yang baru lahir, maka kau mengarahkan pedang padanya?” tanya Sangga.
“Peramal tidak dibunuh.” kata Yuri. “Ia mengakhiri hidupnya sendiri.”
“Apa yang dikatakan Peramal?” tanya Sangga. “Begitu mengerikankah nasib Pangeran sehingga Peramal membuat keputusan seperti itu?”
Yuri tidak menjawab.
Tae Cheon masuk dan melaporkan bahwa Ratu tiba-tiba pingsan.

Yuri bergegas menuju kamar Ratu. Sampai disana, Ratu sudah meninggal.
“Apa yang terjadi?” tanya Yuri.
“Yang Mulia, demam Ratu terlalu tinggi, jadi Ratu….” kata Tabib, menangis.
Yuri menarik kerah pakaian tabib. “Kau harus menyelamatkannya!” teriak Yuri. “Kau harus menyelamatkannya bagaimanapun caranya!”
“Maafkan aku, Yang Mulia..”
“Istriku…” Yuri berjalan gontai ke arah istrinya. “Ratu…” Yuri melihat Pangeran kecil terbaring di samping Ratu.

Tiga hari telah berlalu, Yuri tidak juga keluar dari ruangan pemakaman Ratu.
Hae Myeong mendengar para Kepala Klan mengadakan pertemuan lagi. Ia bergegas mengerahkan pasukan mengepung tempat itu.
“Ada apa, Pangeran?” tanya Sangga.
Hae Myeong menumpahkan biji-bijian ditanah. Ia kemudian memerintahkan pengawalnya membawa dua ekor ayam agar memakan biji-bijian itu. Ayam-ayam tersebut mati.
“Apa yang ditakutkan rakyat akan hukuman dari Langit, ternyata berasal dari biji-bijian beracun.” kata Hae Myeong tajam. “Semua ini pasti hanya rekayasa seseorang. Aku tahu, matinya hewan ternak, air darah disumur adalah sesuatu yang dilakukan oleh satu diantara kalian.”
“Lancang sekali kau!” seru salah seorang Kepala Klan.
“Kalian menyebarkan desas-desus kutukan untuk membahayakan masa depan Goguryeo!” seru Hae Myoeng.
Sangga tertawa. “Semua yag kudengar sepertinya sangat berlebihan.” katanya. “Kami berkumpul untuk berdoa atas kematian Ratu.”
“Apakah kau sudah lupa pada janji yang kau buat?” tanya Hae Myeong. “Sebelum upacara pemakaman Ratu selesai, kalian para Kepala Klan tidak bisa keluar dari penjagaan.”
“Jika itu keinginanmu, kami akan menuruti.” ujar Sangga. “Tapi jangan lupa, bahwa kami juga berduka atas kematian Ratu.”
Hae Myeong pergi.

Sangga tahu persis siapa orang yang bisa menjatuhkan Kerajaan, yakni rakyat. Jika rakyat memberontak, maka sudah pasti pihak kerajaan akan jatuh.
Keesokkan harinya, di dinding kota muncul lukisan-lukisan misterius. Lukisan itu diantaranya bergambar seseorang dengan pedang yang bermandikan darah, membunuh semua orang. Gagak-gagak mati, air sumur berganti air darah, rakyat mulai memberontak pada pihak kerajaan.

Yuri berpikir keras sembari berlutut di hadapan jenazah istrinya. Ucapan Goo Chul dan Peramal terus terngiang di telinganya. Perihal pemberontakan rakyat dan nasib jahat Pangeran kecil. Yuri akhirnya keluar dari ruangan pemakaman Ratu dan mengadakan pertemuan anggota dewan.

“Sangga, kau bertanya mengenai pertanda yang diperoleh Peramal, bukan?” tanya Yuri. “Sekarang, aku akan memberi jawaban. Ia mengatakan bahwa Pangeran baru telah lahir di bawah kutukan yang akan membawa Goguryeo pada kehancuran. Agar kutukan tersebut dapat dicegah, maka putra langit harus membunuh Pangeran baru dengan tangannya sendiri. Jadi, akulah yang harus membunuhnya.”
“Yang Mulia!” seru Hae Myeong. “Apakah pantas langit meminta seorang ayah membunuh putranya sendiri?! Hanya karena nasibnya buruk, bukan berarti kau harus membunuhnya!”
“Sesuatu yang harus kuakhiri bukanlah nyawa putraku, melainkan api kutukan yang mengancam negeri ini!” seru Yuri. “Buka gerbang kuil dan siapkan upacara!”
“Yang Mulia! Kau tidak boleh melakukannya!” teriak Hae Myeong.
“Kurung Pangeran dalam penjara!” perintah Yuri.
“Ayah!” teriak Hae Myeong, ditarik pergi oleh pengawal. “Ayah, kau tidak bisa melakukannya!”

Sangga keluar dengan ekspresi kekalahan.
“Jika Raja Yuri melakukan itu, tidak akan ada orang yang akan berpihak pada kita.” kata Sangga. “Aku kalah dari Raja Yuri.”

“Aku ingin melihat adikku. Bolehkah?” tanya Seryu, masuk ke kamar Pangeran kecil.
“Tentu saja.” kata pengasuh. “Masuklah.”
“Siapa namanya?” tanya Seryu.
“Ia belum punya nama.” jawab pengasuh.
“Bayi, aku adalah kakakmu, Seryu.” kata Seryu pada adiknya. “Mulai sekarang, aku ingin menjadi seperti ibu. Aku akan melindungimu.”
Yuri masuk ke dalam ruangan. “Ayah, aku berjanji pada adikku bahwa aku akan melindunginya sebagai pengganti ibu.”
“Itu pemikiran yang baik, tapi bayi ini akan pergi ke tempat yang jauh.” kata Yuri. “Sebentar lagi ia akan pergi, ucapkan selamat tinggal.”
Seryu menangis. Ia melepas kalungnya dan memberikan pada adiknya. “Ini hadiah untukmu. Kelak.. jika.. aku lupa wajahmu, aku akan mengenalimu dengan kalung ini.” katanya sedih.

Upacara pengorbanan Pangeran kecil dimulai. Yuri menggendong putranya dan meletakkannya di sebuah peti, kemudian menutup peti tersebut.
“Disini, terbaring seorang putra langit.” seru Yuri pada rakyatnya yang menonton. “Dengan darahnya, aku akan menghentikan kutukan yang mencekik kehidupan kita. Para pengikut kuil, majulah dan laksanakan tugas kalian.”
Para pengikut kuil ragu.
“Apa lagi yang kalian tunggu?!” seru Yuri. “Apakah kalian ingin melawan kehendak langit?!”
Masih tidak ada yang bergerak.
“Jika kalian tidak bisa melakukannya, maka aku yang akan melakukannya!” seru Yuri. Ia meminta Goo Chul memberinya pedang.
Goo Chul diam.
“Lakukan!” teriak Yuri.
Goo Chul terpaksa maju dan membawakan pedang itu pada Yuri.
“Aku akan melaksanakan kehendak langit dengan tanganku sendiri!” teriak Yuri. Yuri memejamkan mata, kemudian menusuk peti tersebut. Darah mengalir dari dalam peti.
Semua orang terkejut. Mereka tidak menyangka Yuri tega melakukan itu pada putra kandungnya sendiri.

Setelah rakyat di tempat persembahan sepi, dua orang penyusup dengan menggunakan penutup wajah menjatuhkan dan membuat pinngsan semua orang kuil.
Yuri keluar. Kedua orang penyusup tersebut tidak lain adalah Goo Chun dan Tae Cheon, yang menyusup atas perintah Yuri.
“Mereka bilang ia tidak akan sadar sampai senja.” kata Tae Cheon. “Tapi, jika ia belum juga sadar sampai senja, kita mungkin tidak akan bisa membuatnya bangun lagi.”
Yuri menarik pedang yang menusuk peti, kemudian dengan takut dan cemas membuka tutup peti itu.
Yuri tersenyum lega melihat putranya masih hidup dan membuka matanya. Yuri menangis.

Di tengah hutan, Yuri memerintahkan Goo Chun membawa Hae Cheon menemuinya.
“Bawa ia kemari.” ujar Yuri.
Tae Cheon muncul dan membawa Pangeran kecil dalam keadaan hidup. Hae Myeong menggendong adiknya.
“Mulai saat ini, anak itu bukan lagi putraku atau adikmu.” kata Yuri. “Bawa anak ini ke Jolbon. Biarkan ia tumbuh menjadi orang biasa. Anak itu tidak lagi menjadi bagian dunia, karena itulah aku akan memberinya nama… Muhyul. Ia tidak memiliki detak jantung pun darah di pembuluh darahnya. Karena itu adalah satiu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawanya.”
“Ayah…” Hae Myeong menangis.
“Pergilah.”
Setelah sampai di istana, Yuri menangis.

Hae Myeong membawa Muhyul pergi dengan menaiki perahu menuju ke sebuah gua.
“Hye Ap!” panggil Hae Myeong. “Hye Ap, dimana kau?”
“Aku sudah mengatakan padamu bahwa aku tidak ingin melihatmu lagi, Pangeran.” terdengar suara seorang gadis.
“Aku ingin meminta bantuanmu.” kata Hae Myeong seraya meletakkan adiknya dengan hati-hati di lantai gua. “Aku akan meninggalkan anak ini disini. Tolong besarkan dan lindungi dia.”
“Siapa anak itu?” tanya Hye Ap, tanpa menunjukkan dirinya.
“Aku tidak bisa memberitahukan padamu. Tapi, nama anak ini adalah Muhyul.” jawab Hae Myeong.
“Jika akan itu menciptakan ikatan antara aku dan kau, aku tidak bisa membantu. Bawa ia pergi.”
“Tidak akan.” ujar Hae Myeong. “Mulai saat ini, aku akan memutuskan segala ikatanku dengan anak ini. Aku tidak akan pernah kembali untuknya. Karena itu, tolong jaga dia.”
Hae Myeong pergi.
Seorang gadis keluar dari dalam gua mendekati Muhyul.

Beberapa tahun kemudian.
Secara tidak sengaja, Mahwang dan Hae Myeong bertemu di Jolbon. . Mahwang memberitahu Hae Myeong mengenai Bayangan Hitam. Bayangan Hitam adalah pasukan rahasia milik Raja Dae So. Pekerjaan mereka adalah membunuh anggota kerajaan negara lain.
“Mungkin ia mereka ada di Jolbon.” ujar Mahwang. “Berhati-hatilah.”
Hae Myeong diam.
Mahwang tersenyum. “Sudah lama sejak Putri Mahkota meninggal.” katanya. “Kenapa kau masih juga lajang? Apakah kau masih belum bisa melupakan Hye Ap?”
Hae Myeong hanya tersenyum.

Hye Ap adalah seorang gadis yang bekerja sebagai kepala pelukis di sebuah gua makam Raja Jumong.
“Muhyul!” teriak salah seorang pekerja. “Maro!”
Tapi orang yang mereka cari tidak bisa ditemukan dimanapun.

Muhyul dan Maro saat itu sedang berada di rumah judi. Mereka melihat perlombaan kura-kura dan berniat ikut bertaruh.
“Apa kau yakin akan melakukannya?” tanya Maro ragu.
“Jangan takut dan ikuti saja perintahku.” kata Muhyul.
Maro dan Muhyul ikut taruhan lomba kura-kura. Muhyul melakukan sedikit kecurangan sehingga kura-kura yang lain lemas sedangkan kura-kura yang ia pertaruhkan selalu menang.
Tanpa sepengetahuan mereka, seorang pria mengawasi gerak-gerik mereka.
“Mereka sudah menang lima kali berturut-turut.” kata anak buah pria itu. “Kita sudah rugi 50 nyang.”
Pria itu tersenyum. “Biarkan saja mereka.”

Dalam perjalanan pulang, Muhyul dan Maro diikuti dan dikejar-kejar oleh seorang pria.
Ketika Muhyul berhasil menangkap pengintai itu, beberapa orang lain datang. Pemimpin mereka adalah pria yang mengawasi Muhyul di rumah judi.
“Berikan itu kembali.” kata pria itu. “Haruskah aku memotong tangan kalian?!”
Muhyul dan Maro menyerahkan kantong uang tersebut.
“Ini tidak cukup.” kata si pemimpin. “Geledah mereka!”
Anak buahnya menggeledah tubuh Muhyul dan Maro. Mereka menemukan sebuah kalung di leher Muhyul. Kalung yang diberikan oleh Seryu. Si pemimpin hendak mengambilnya.
“Tidak, jangan yang ini.” larang Muhyul.
Si pemimpin memukul perut Muhyul hingga Muhyul terjatuh. Muhyul tidak mau menerima begitu saja. Ia berlari dan menerjang si pemimpin, ingin merebut kalungnya kembali. “Berikan!” teriaknya.
Pada akhirnya, Muhyul-lah yang menjadi bahan keroyokan anak buah si pemimpin.
Mendadak Hye Ap datang dan menyelamatkan Muhyul. Dengan mudah, ia berhasil mengalahkan pria-pria itu hingga mereka lari terbirit-birit.

Muhyul dan Maro dibawa kembali ke gua dan dihukum pukul habis-habisan.
“Orang seperti kalian tidak pantas menggambar dinding makan Raja Jumong.” ujar Hye Ap. “Orang yang melakukan kesalahan seperti kalian harus dihukum. Kalian akan dikurung disini sampai pikiran kalian jernih.” Hye Ap berpaling pada para pekerjanya. “Kurung mereka.”
“Jika aku tidak pantas menggambar dinding, bukankah aku hanya perlu berhenti?” tanya Muhyul. “Biarkan kami keluar dari tempat ini.”
“Muhyul! Apa yang kau katakan?!” seru asisten Hye Ap. “Tunggu apa lagi? Cepat bawa mereka!”
“Lepaskan kami!” seru Muhyul. “Aku lebih memilih hidup dengan nasib yang mengerikan diluar dibandingkan dikurung di tempat ini. Aku tidak ingin lagi hidup di sini.”

Muhyul dan Maro dikurung dalam penjara. Muhyul kesal, kemudian mencari cara melarikan diri. Mereka berjalan melewati sungai perlahan-lahan untuk menuju keluar.
Ketika mereka sedang berada dalam perjalanan kabur, mendadak mereka melihat beberapa orang penyusup membunuh para penjaga makam.
“Mmmm… Muhyul…” gumam Maro ketakutan.Muhyul menutup mulutnya agar tidak berisik.
Setelah para penyusup membunuh semua penjaga, mereka masuk ke gua.
“Muhyul, kita harus memperingatkan Kepala Dekorator.” kata Maro.
“Jika kita melakukannya, mereka akan tahu kalau kita mencoba kabur.” ujar Muhyul menolak. “Aku yakin mereka akan mengatasinya. Kita tidak melihat apapun. Mengerti?”
Maro mengangguk dengan berat hati.
“Muhyul, tapi bagaimana jika mereka tidak bisa mengatasinya?” tanya Maro cemas. “Semua orang di gua akan mati!”
Muhyul hendak berjalan pergi.
“Paling tidak kita memberitaku Kepala Dekorator.” bujuk Maro. “Muhyul!”

Akhirnya Muhyul setuju untuk memberi tahu Hye Ap. Mereka segera berlari sekuat tenaga menuju ke rumah Hye Ap.
Setelah menceritakan segalanya, Hye Ap memerintahkan Maro agar mengirimkan pesan ke Benteng Jolbon dan memberikannya pada Pangeran Hae Myeong. “Tunjukkan ini dan mereka akan mengizinkanmu bertemu dengannya.” Hye Ap menyerahkan sebuah papan.
Maro pergi.
Hye Ap mengambil pedangnya dan pergi menuju gua. “Kau, jangan pergi dari sini.” katanya pada Muhyul.

Ketika Hye Ap sampai di gua, semua penjaga depan sudah tewas. Di dalam, terjadi pertarungan. Hye Ap bergegas membantu membunuh pada penyusup itu.
Dengan diam-diam, Muhyul ikut menyusul ke gua. Ia mengintip ketika Hye Ap melawan seorang penyusup dan kalah.
Penyusup itu mengarahkan pedangnya ke leher Hye Ap. “Dimanamakam Jumong?” tanya penyusup itu.
Hye Ap diam.
Dengan perlahan-lahan, Muhyul mengambil sebatang kayu dan memukul penyusup yang mengancam Hye Ap. Tapi, banyak penyusup lain yang datang dan mengarahkan pedang mereka pada Muhyul.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

The Kingdom Of The Winds – Episode 01

Tahun ke-23 Masa Pemerintahan Raja Yuri dari Gogyuro

Raja Yuri berdiri sendiri di atas tebing. Ia melihat sekelompok kecil bunga yang tumbuh disana. Disentuhnya bunga itu perlahan.
“Yang Mulia!” seorang Jenderal datang. Jenderal tersebut bernama Goo Chu.
“Diantara bau darah yang menyengat, beberapa bunga mekar.” gumam Yuri.
“Kita ada di dekat wilayah musuh.” ujar Goo Chu. “Tidak seharusnya kau berada disini sendirian.”
“Bagaimana pergerakan musuh?” tanya Yuri.
“Kami sudah mengirim pasukan pengintai.” kata Goo Chu. “Jadi kita akan tahu pergerakan mereka secepatnya.”
“Untuk perang kali ini, aku ingin memimpin pasukan berkuda.” kata Yuri.
“Itu… terlalu berbahaya, Yang Mulia.” ujar Goo Chu.
“Aku ingin mempersembahkan kemenangan ini untuk Ratu.” kata Yuri, pandangannya menerawang jauh pada tebing-tebing dihadapannya. “Dan juga untuk anakku yang akan segera lahir.”

Di istana Goguryeo, Seryu mengintip proses kelahiran adiknya. Ia ketakutan mendengar jeritan ibunya yang kesakitan. Tiba-tiba, kakak Seryu, Hae Myeong, datang dan menyuruhnya kembali ke kamar.
“Kakak, kapan adikku akan lahir?” tanyanya.
“Kita belum tahu.” jawab Hae Myeong, tersenyum pada adiknya.
“Kenapa ibu sangat kesakitan?”
“Ketika bayi akan lahir, semua ibu di dunia akan mengalami rasa sakit yang sama.” kata Hae Myeong.
“Apa itu akan terjadi padaku juga?”
Hae Myeong tertawa. “Tentu saja.” jawabnya. “Semakin cantik bayi yang akan lahir, maka kau akan merasa semakin sakit.”
“Melihat sakitnya ibu, adikku pasti sangat cantik.” kata Seryu.

Di medan perang, Yuri dan pasukannya sudah siap berperang.
“Sudah satu tahun berlalu sejak kita meninggalkan benteng Gungnae.” seru Yuri. Benteng Gungnae adalah ibukota Goguryeo saat itu. “Setelah perang ini, kita akan kembali ke Gungnae. Tidak akan ada lagi tidur di medan perang dan teriris angin. Kita juga tidak akan lagi menghilangkan lapar dengan nasi dingin!”
Para prajurit bersorak.
“Kiat semua harus hidup!” seru Yuri. “Dan kembali ke pelukan hangat keluarga kita yang menunggu di Benteng Gungnae!”


Pasukannya berangkat ke medan perang di sebuah lembah melawan suku Gi San. Mereka tidak dipimpin oleh Yuri, melainkan dipimpin oleh Jenderal kepercayaan Yuri, Goo Chu. Di hadapan mereka, suku Gi San mengendarai kuda menuju ke arah mereka.

Suku Gi San melempar batu ke arah Pasukan Goguryeo, dan berhasil menjatuhkan beberapa prajurit. Setelah itu, suku Gi San mengendarai kuda mereka menyerang secara langsung.
“Formasi!” perintah Jenderal. Pasukan membentuk formasi, kemudian mengarahkan anak panah pada suku Gi San. Suku Gi San berjatuhan terkena tembakan panah.
Pemimpin suku Gi San memerintahkan pasukannya untuk mundur.
“Ayo!” teriak Goo Chu, memerintahkan pasukannya mengejar mereka.

Ketika pasukan Goguryeo mengejar dan sampai di tengah tebing, suku Gi San tiba-tiba menghilang.
Mendadak, pasukan barbar yang lebih banyak lagi datang, muncul dengan tali dari berbagai sisi tebing. Mereka berteriak-teriak ‘Auuuu’ dan berlari membawa sabit.
Pasukan Goguryeo terkepung. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk bertarung dengan kaum barbar itu.
Di tengah kesulitan melawan pasukan barbar, pasukan berkuda Goguryeo yang dipimpin oleh Yuri tiba.
Pemimpin suku Gi San marah melihat Yuri. Ia berteriak dan menyerang Yuri. Yuri menangkis pedangnya, kemudian menebas tubuh pemimpin suku Gi San. Pemimpin suku Gi San tewas.
Pasukan Goguryeo bersorak. Mereka memenangkan pertarungan itu.

Di perkemahan Pasukan Goguryeo, para prajurit mengobati luka mereka. Jenderal masuk ke tenda Yuri.
“Yang Mulia, utusan dewan istana tiba dari Benteng Gungnae.” lapor Goo Chu.
Yuri keluar untuk menyambut utusan itu.
“Aku datang untuk mendukung usahamu atas nama anggota dewan.” ujar Utusan. “Aku membawa cukup kebutuhan untuk pasukanmu.”
“Kupikir dewan sudah melupakan kami.” kata Yuri tenang, namun tajam.
Utusan tertawa. “Perang terjadi sejak tahun lalu dan berlangsung sangat lama. Dewan meminta kami mengirimkan kebutuhan untuk pasukan.”
Yuri berpaling pada Goo Chu. “Siapkan jamuan untuk merayakan kemenangan kita.” katanya. “Katakan pada pasukan agar minum dan makan sampai mereka puas.”
Utusan kelihatan tidak senang.

Malamnya, pasukan Goguryeo berpesta untuk merayakan kemenangan mereka.
Yuri masuk ke dalam tendanya untuk beristirahat.
Utusan dewan masuk ke dalam tenda Yuri.
“Apa kau baik-baik saja, Yang Mulia?” tanya Utusan. “Aku akan memanggil Tabib.”
“Kau ingin mengatakan sesuatu padakku?” tanya Yuri tanpa basa-basi.
“Anggota dewan ingin tahu kapan kau akan kembali ke ibu kota.” kata Utusan.
“Karena kami berhasil menaklukkan suku Gi San, aku berencana untuk kembali ke ibukota.” jawab Yuri.
“Maaf?”
“Kenapa?” tanya Yuri. “Apakah para Kepala Klan berharap aku lebih lama berada di medan perang? Kami mendapatkan sedikit keuntungan dari perang ini. Aku ingin kembali ke ibukota untuk menunjukkan pada para anggota dewan apa yang berhasil kami dapatkan.”
“Apa maksudmu?”
“Alasan kenapa Goguryeo tidak bisa melawan BuYeo adalah karena para Kepala Klan tidak menghormati kedudukanku dan mereka terlalu sibuk mendapatkan kekuasaan dan kekayaan untuk diri mereka sendiri.” kata Yuri tajam. “Aku tidak akan menerima sikap kalian yang sewenang-wenang lagi.”
“Jika kau berani melawan anggota dewan, maka nyawamu dan dan istrimu akan berada dalam bahaya.” ancam Utusan.
Yuri merasa sangat marah karena utusan tersebut berani mengancamnya. Ia berlari mendekati Utusan dan menarik kerahnya. “Jika kau barani mengancamku lagi, maka kau adalah orang pertama yang akan kupenggal.”
“Biarkan aku menjadi yang pertama…” Dengan diam-diam, utusan mengeluarkan pisau dari balik bajunya, kemudian menusuk perut Yuri. “Maafkan aku, Yang Mulia.” katanya.
Yuri terjatuh.

Sangga menemui Mahwang di Benteng Gungnae.
Sangga adalah Kepala Klan dan tetua anggota dewan Goguryeo. Sedangkan Mahwang adalah seorang pedagang.
“Jadi kau baru saja kembali dari BuYeo?” tanya Sangga.
“Ya, aku mengunjungi BuYeo dan Chang An.” jawab Mahwang.
“Bagaimana keadaan di BuYeo?” tanya Sangga.
“Biarpun mereka tidak ingin memulai perang, tapi negara dan klan-klan sekitarnya gemetar ketakutan.” kata Mahwang. “Aku cemas Goguryeo mungkin akan ditelan oleh kekuasaan mereka. Raja Dae So itu… Saat Raja Jumong masih hidup dia tidak bisa bergerak, bukan?”
“Benar.” jawab Sangga.
“Tapi sekarang, ini kenyataan yang harus kita terima.”
Empat orang wanita masuk ke dalam ruangan. Sangga melihat keempat wanita tersebut, tapi malah memilih pelayan Mahwang.
“Ah!” Mahwang terkejut. “Tapi dia hanyalah pelayan rendahan.”
“Apakah kau berniat mengirimnya pada orang lain?” tanya Sangga.
“Bu… bukan begitu.”
“Kalau begitu, aku akan membelinya 200 koin perak.” kata Sangga.
“Ti.. tidak bisa.” larang Mahwang.
“250, dan aku tidak ingin berunding lagi.” kata Sangga.
Seorang anak buah sangga masuk dan membisikkan sesuatu. Sangga kemudian keluar bersamanya.
Mahwang memukul kepala pelayan laki-lakinya. “Kenapa kau menunjukkan dia pada pria tua itu?” omelnya. “Dia milik orang lain!”

Sangga datang menemui para anggota dewan yang sedang berkumpul. Para anggota dewan itu menyarankan agar mereka melakukan pemberontakan.
“Raja Yuri memegang kendali seluruh pasukan di medan perang.” kata Sangga. “Kalian memberontak saat ia tidak ada, tapi apa yang akan kalian lakukan jika ia kembali?”
“Raja Yuri… tidak akan pernah kembali ke Benteng Gungnae.” kata seorang anggota dewan. “Dia sudah mati.”
“Apa itu benar?” tanya Sangga ragu.
“Aku mengirim utusan untuk membunuhnya.” kata anggota dewan. “Pasukan Pangeran Hae Myeong yang melindungi Benteng Gungnae hanya ada ratusan prajurit. Semua Kepala Klan setuju untuk bergabung. Kita akan mengumpulkan pasukan di Mangparyeong, lalu menyerang ibukota. Apakah kau akan bergabung? Apakah klan BiRyu akan bergabung?”
Sangga terdiam. Ia tidak yakin bahwa Yuri benar-benar telah mati.

Ratu tidak juga bisa melahirkan. Hae Myeong sangat mengkhawatirkan ibunya yang sangat menderita.
“Lakukan segala cara untuk menolong kelahirannya.” pinta Hae Myeong pada Tabib.
Tiba-tiba pengawal Hae Myeong datang dan melaporkan bahwa para anggota dewan bertemu dengan diam-diam. Hae Myeong merasakan ada sesuatu yang mencurigakan.

Untuk mencari tahu, Hae Myeong menemui Mahwang.
“Semua orang sedang cemas, tapi sepertinya hanya kau yang bisa bernapas dengan tenang.” kata Hae Myeong ketika ia melihat Mahwang sedang menghitung uangnya.
“Pangeran!” seru Mahwang terkejut, buru-buru menyimpan uangnya ke dalam peti.
“Aku harus bicara denganmu.” kata Hae Myeong. “Para Kepala Klan melakukan pertemuan rahasia. Cobalah cari tahu alaan kenapa mereka melakukan itu.”
“Pertemuan rahasia?” tanya Mahwang. “Aku akan berpura-pura tidak pernah mendengar itu. Bagaimana jika kau minum? Aku akan membawakan beberapa gadis cantik.” Mahwang tertawa.
Hae Myeong menatap Mahwang tajam.
“Pangeran, kita sedang membicarakan para anggota dewan.” kata Mahwang, berhenti tertawa. “Bagaimana aku bisa terus hidup di Goguryeo? Aku akan melakukan segalanya untukmu, kecuali…”
“Kau takut pada mereka, tapi tidak merasa takut di depan calon raja?” tanya Hae Myeong.
Mahwang menarik napas. Ia tidak punya pilihan lain.

Keesokkan harinya, Mahwang mengantarkan gadis yang dibeli Sangga ke kediamannya.
“Sangat cantik.” kata Sangga. Ia berpaling pada Mahwang. “Mulanya, kepada siapa kau akan mengirim gadis ini?”
“Pangeran Hae Myeong.” jawan Mahwang. “Ia akan menjadi Raja kita kelak.”
“Bagaimana kau tahu dia akan jadi raja atau tidak?” tanya Sangga marah.
Mahwang kesal.

Mahwang mencoba mencari tahu dari seorang anggota dewan lain. Agar punya kesempatan bicara dengan pria itu, Mahwang membawakan kain yang sangat mahal dari Chang An.
Mahwang membawa pria itu ke sebuah rumah. Disana, Hae Myeong sudah menunggu.
“Katakan padaku, apa yang kau rencanakan?!” seru Hae Myeong, memukuli pria itu habis-habisan.
“Aku tidak tahu.” kata pria itu.
Hae Myeong menyuruh Mahwang memegangi si pria. “Kau punya 10 jari. Aku akan memberimu 10 kesempatan.” Ia memberi isyarat pada Mahwang agar mematahkan satu jari pria itu.
Pria itu tidak juga bicara. Mahwang hendak mematahkan satu jari yang lain.
“Hentikan!” teriak pria itu. “Hentikan!”
“Bukan itu yang ingin kudengar.” kata Hae Myeong. Mahwang mematahkan satu jari lagi.
“Di Mangparyeong…” kata si pria. “Kepala Klan menyiapkan penyerangan. Mereka akan segera menyerang ibukota.”
“Pemberontakan!” seru Mahwang.

Hae Myeong bergegas datang melihat ke Mangparyeong. Kepala Klan memiliki lebih dari 3000 pasukan sementera pihak istana hanya memiliki kurang dari 300 prajurit.
“Kita tidak akan bisa menghentikan mereka.” kata pengawal Hae Myeong, Tae Cheon.
“Perintahkan pengawal untuk menutup semua gerbang istana dan kirim pesan pada Yang Mulia.” perintah Hae Myeong. “Kita harus mengulur waktu sampai Yang Mulia kembali.”

Sangga tidak ikut bergabung dengan para Kepala Klan dengan alasan ia sedang memimpin pasukan untuk menaklukkan benteng di Utara. Padahal kenyataannya, Sangga sedang mandi di kolam air panas bersama para pelayan wanitanya.
Seorang Kepala Klan mengirimkan seorang prajurit untuk memberi ultimatum pada Hae Myeong.
“Kepala Klan Gwanna, Hwanna, Yunna dan Biryu sudah mengumpulkan pasukan di Mangparyeong.” kata prajurit pada Hae Hyeong. “Sebelum matahari terbenam besok, buka semua gerbang dan biarkan pasukan masuk tanpa pertumpahan darah. Jika kau menuruti perintah kami, maka kami akan mengampuni nyawamu.”
“Tutup mulutmu!” bentak pengawal Hae Myeong. “Beraninya kau mengancam Pangeran!”
“Hanya dengan beberapa ratus pasukan, bagaimana kalian bisa melawan anggota dewan?” tanya prajurit utusan.
“Pangeran, biarkan aku memenggal pemberontak itu!” seru pengawal Hae Myeong.
Hae Myeong melarang. “Walaupun hanya dengan sedikit pasukan, kami akan berusaha melawan. Kalian tidak akan pernah bisa melewati kami. Dan jika Yang Mulia kembali, yang akan jatuh bukan kami, tapi kepalamu!”
“Hilangkan harapan untuk melihat Yang Mulia lagi.” kata prajurit utusan. “Yang Mulia sudah mati. Kau punya waktu sampai besok. Jika kau tidak membuka gerbang, akan terjadi pertumpahan darah di istana dan Ratu bersama bayinya tidak akan selamat.”
Hae Myeong terpukul mendengar kematian ayahnya.

Hae Myeong berpikir dan menimbang-nimbang apa yang harus ia lakukan. Ditambah lagi, beberapa prajurit istana melarikan diri. Hae Myeong justru mengizinkan para prajurit yang masih ada di istana untuk pergi menyelamatkan diri.
Hae Myeong duduk sendirian di kamarnya, merasa putus asa. Ia mengambil sebuah belati kecil dan berniat mengakhiri hidupnya. Ketika ia ingin menusuk tubuhnya dengan belati tersebut, Seryu datang sambil menangis.
“Kakak!” tangisnya. “Semua orang pergi. Aku takut.”
Hae Myeong memeluk Seryu, menenangkannya. “Semua akan baik-baik saja.” katanya menenangkan. Jangan khawatir, Seryu.”

Akhirnya Hae Myeong mengambil keputusan. Untuk menyelamatkan semua orang, termasuk Ratu, Seryu dan adik barunya yang belum lahir, Hae Myeong memerintahkan semua orang pergi meninggalkan istana.
Di tengah perjalanan pergi, ia melihat sekelompok pasukan berarak-arak menuju ke arah berlawanan. Hae Myeong berhenti.

Keesokkan harinya, Pasukan dibawah pimpinan kepala klan menemukan istana telah kosong. Tidak ada seorang pun disana.
Ketika mereka sudah berada di tengah bangunan istana, mendadak beberapa pasukan pemanah muncul dan mengepung mereka. Pasukan tersebut menembakkan panah pada pasukan pemberontak. Banyak pemberontak yang tewas.
Yuri muncul bersama Hae Myeong, Goo Chu dan Tae Cheon. Ia dan Hae Myeong berjalan mendekati Kepala Klan. “Lama tidak bertemu.” katanya.
“Yang Mulia.” Kepala Klan menunduk.
“Turunkan senjata kalian.” perintah Yuri. Karena Kepala Klan ragu untuk menurunkan senjatanya, Yuri membunuh Kepala Klan tersebut hingga tewas.
“Yang Mulia!” seru prajurit utusan ketakutan. “Turunkan senjata kalian!”
Semua pasukan menurunkan senjatanya dan bersujud pada Yuri.

Yuri mengumpulkan semua anggota dewan di ruangan pertemuan. Ia juga memanggil Sangga.
“Aku berencana menghukum semua tindakan pemberontakan dengan nyawa mereka.” kata Yuri. “Katakan padaku, Sangga. Bagaimana aku harus menyelesaikan masalah ini?”
“Yang Mulia, umur negara ini belum terlalu tua.” kata Sangga. “Melenyapkan semua orang yang merupakan dasar negara ini bukan merupakan hal yang baik. Dimasa lalu, Heng In dan OkJo melakukan pemberontakan melawan Raja Jumong, tapi ia memaafkan mereka. Setelah itu, dua negara tersebut menjadi pilar Goguryeo yang setia. Jadi, belajarlah dari Raja sebelumnya dan maafkan Para Kepala Klan agar mereka setia padamu.”
“Ini tidak bisa diterima, Yang Mulia!” seru Hae Myeong. “Bagaimana kita bisa menutup mata pada pemberontakan yang mereka lakukan? Sangga, kau seharusnya tahu bahwa kau juga bersalah sama seperti mereka. Bagaimana tetua anggota dewan tidak mengetahui rencana pemberontakan itu?!”
Sangga terdiam.
“Yang Mulia, pengal semua orang yang memberontak!” seru Hae Myeong. “Dan tunjukkan hukummu pada semua orang!”
“Diamlah, Pangeran.” ujar Yuri. “Aku akan mengambil pelajaran dari Raja sebelumnya dan memaafkan Kepala Klan. Tapi, aku akan mengirim menteri di tiap klan dan mengawasi tindak-tanduk kalian. Selain itu, kalian juga harus mengirim putra sulung kalian. Aku akan mengawasi mereka dan mengajari mereka agar hal seperti ini tidak terjadi lagi. Sangga, apa kau menerima keputusanku?”
Sangga terdiam. Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain setuju. Demikian pula dengan Kepala Klan lain.

Akhirnya Ratu berhasil melahirkan bayinya. Bayi tersebut laki-laki.
Raja Yuri sangat senang dan membagikan biji-bijian untuk merayakan kelahiran Pangeran Goguryeo yang baru.

Tanpa sepengetahuan Yuri, Peramal datang ke istana dan meminta pelayan menyerahkan Pangeran kecil padanya untuk didoakan. Pelayan yang menjaga Pangeran ragu dan takut karena ia melihat darah di baju si peramal.
“Darah ini berasal dari kambing yang dijadikan persembahan.” kata peramal menjelaskan.
Peramal menggendong Pangeran kecil. “Katakan pada mereka bahwa kami membawa Pangeran ke kuil.” Ia kemudain pergi.

Di sisi lain, Yuri, Goo Chu dan Tae Cheon tiba di kuil istana. Ia melihat orang-orang di kuil tersebut tewas. Yuri menjadi curiga dan cemas. Ia memerintahkan Goo Chu untuk menutup jalan ke kuil dan melarang siapapun masuk. Selain itu, ia juga meminta Tae Cheon untuk mencari sang peramal.
Akhirnya Yuri berhasil mengetahui kalau Peramal pergi meninggalkan istana bersama Pangeran kecil.
“Dengarkan kata-kataku baik-baik.” ujar Yuri. “Cari dimana keberadaan peramal, tapi jangan sampai Kepala Klan tahu dan menyadari masalah ini. Setelah kalian berhasil mengetahui, segera beritahu aku.”

Setelah beberapa saat berlalu, Tae Cheon, mendapat kabar dari Hae Myeong bahwa ia berhasil menemukan Peramal di sebuah kuil di Gunung Cheon Ryeong.
Yuri bergegas pergi.
“Yang Mulia, biarkan aku ikut denganmu.” pinta Ratu. Namun Yuri menolak.

Yuri bergegas pergi ke kuil. Pasukan sudah mengepung kuil tersebut.
Ketika Yuri memaksa masuk ke kuil, terjadi pertarungan antara pihak Peramal dan pihak Yuri. Dengan kemenangan di pihak Yuri.
Peramal membaringkan Pangeran kecil di atas batu persembahan, kemudian mengambil sebuah belati kecil.
Di luar, Yuri masuk sendirian ke dalam kuil. Hae Myeong, Goo Chu dan Tae Cheon sangat mencemaskannya.

“Apakah aku yang kau inginkan?” tanya Yuri pada Peramal ketika ia melihat peramal memegang sebuah belati. “Jika itu yang diinginkan langit, maka bunuh aku. Apa kesalahan yang dilakukan seorang bayi? Aku akan membawa bayi itu.”
“Langit memberiku perintah, tapi aku tidak bisa melakukannya dengan tanganku sendiri.” kata peramal.
“Apa maksudmu?” tanya Yuri. “Kenapa langit memerintahkan hal yang kejam?”
“Pangeran ini lahir dibawah nasib jahat yang akan membawa kehancurkan bagi Goguryeo.” kata peramal. “Dia akan menyebabkan kematian saudara-saudaranya, ibunya dan ayahnya sendiri. Pada akhirnya, ia bahkan ditakdirkan untuk membunuh putranya sendiri.”
“Diam!” teriak Yuri. “Bagaimana mungkin seorang bayi bisa membawa sekian banyak kutukan?!”
“Aku hanya menyampaikan pesan langit padamu.” kata peramal. “Yang Mulia, hanya kau yang bisa menghentikan kutukan ini. Demi Goguryeo. Demi masa depan negeri ini. Kau harus membunuh Pangeran sekarang juga.”
“Aku tidak bisa.” ujar Yuri.
Peramal terus menerus berteriak dan memojokkan Yuri. “Kau harus melaksanakan tugasmu. Hanya karena rasa cintamu pada Pangeran ini, apakah kau ingin duduk saja dan melihat kehancuran negeri ini?!”
Peramal berbalik dan mengangkat belatinya. Ia kemudian menusuk dirinya sendiri. “Maafkan aku karena aku telah mengatakan kata-kata yang mengerikan padamu.” katanya pada Yuri. “Tolong laksanakan perintah langit.”
Yuri merasa sangat terpukul. Ia mengambil belati di tubuh peramal, kemudian mengangkatnya ke arah Pangeran kecil.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com