Sinopsis Drama Kerajaan {Sageuk} Korea | https://sinopsisdramakorea.wordpress.com

Painter Of The Wind – Daftar Episode

Shin Yoon Bok adalah pelukis berbakat yang menyamarkan dirinya sebagai seorang anak laki-laki untuk menyelidiki pembunuh ayahnya, dan akhirnya bertemu dengan ahli lukis yang membimbingnya menjadi seorang pelukis yang hebat.

Kim Hong Do adalah pria yang mengajar Yoon Book bagaimana melukis, dan mereka menjalin hubungan persahabatan yang erat antara guru dan murid.

Baca lebih lanjut

Iklan

Painter Of The Wind – Episode 20 (Finale)

MI IN DO – POTRAIT OF BEAUTY

Matahari sore menyinari lukisan Ssireum milik Kim Hong Do. Shading pada lukisan itu mulai menampakkan efek yang berbeda. Yoon Bok melihat lukisan itu, efek 3D mulai terlihat. Juri mulai mendengar para penonton berteriak kagum.
Semua juri juga terpesona, Jo Nyeon heran, ternyata sinar matahari sore bisa mengubah sebuah lukisan, Ji Mun Ji sependapat dengannya. Perbedaan pencahayaan menimbulkan efek yang berbeda.
Hong Do: “Aku menggunakan warna sepia kuning pada lukisan ini, walaupun warna ini tidak cocok untuk ring Ssireum. Meskipun begitu, warna ini menyerap sinar matahari sore dan warnanya menjadi lebih kuat….jika dilihat sekarang, pertarungannya terlihat perjuangan dan usaha dari para pemain Ssireum. Pemenangnya akan menjadi benar-benar pemenang.”
Ji Mun Ji berkata kalau arti lukisan yang sebenarnya ada pada permainan cahaya. Myung Nyung berkata kalau kesalahan yang dibuat oleh Hong Do ternyata ada maksudnya sehingga mereka menilai ulang lukisan tersebut.
Jo Nyeon menjadi panik,”Masih ada waktu, kalian bisa menilai ulang juga lukisan Hye Won.”
Bo Young Gun menolaknya dan mereka akan memutuskan sekarang. Jo Nyeon terlihat tidak senang saat Jeong Hyang terus  menatap lukisan itu. Yoon Bok menatap Hong Do, Hong Do mengangguk meyakinkan Yoon Bok kalau semuanya akan baik-baik saja.
Jeongjo juga sedang melihat langit senja, “Malam ini kebenaran harus diungkapkan.” Hong Guk Young bertanya apakah Jeongjo  membuat keputusan. Jeongjo pun mengangguk.

Para juri masih mendengar teriakan dari penonton yang ada di luar. Mereka ingin agar para juri mengumumkan siapa yang jadi pemenangnya. Para pelayan berusaha menenangkan mereka.  Seorang pelayan berkata kalau belum ada pemenangnya. Para penontonpun semakin ramai karena mereka terlanjur memasang taruhan. Bila tidak ada yang menang, bagaimana mereka akan membagi uangnya.
Didalam Chawaseo, para juri mendengarkan keramaian di luar. Mereka khawatir kalau mereka tidak segera mengumumkan pemenangnya, maka akan timbul kekacauan. Jo Nyeon kebingungan. Myung Nyung menyuruh Jo Nyeon bertanggungjawab karena dia lah yang mengadakan pertandingan ini. Jo Nyeon masih kebingungan. Myung Nyung mengeluarkan selembar surat garansi yang di tulis oleh Jo Nyeon. Akhirnya Jo Nyeon menyerah, ia berjanji akan memberikan kompensasi pada mereka semua. Para juri pun merasa puas.
Shin Yoon Bok ada di kamarnya bersama Hong Do. Yoon Bok bingung melihat apa yang terjadi. Hong Do menenangkannya dan berkata kalau sekarang ia sedang membalaskan dendam ayahnya sedangkan Hong Do membalaskan dendam temannya. Hong Do teringat percakapannya dengan Kim Myung Nyung.
Flashback.
Myung Nyung bertanya apakah Hong Do menyuruhnya bertaruh pada orang yang tidak bisa memberinya garansi.
Hong Do: “Aku tahu dan telah memikirkannya. Aku akan bisa menghancurkan mereka dalam sekali pukulan dengan cara menghancurkan kekayaannya. Ini adalah metode yang terbaik untuk menjatuhkan mereka. Aku mohon padamu.”
Myung Nyung tidak bisa melakukannya, karena dalam penilaian juri lain akan membantah pendapatnya jika memang tidak sesuai dengan lukisannya.
Tiba-tiba putra Myung Nyung datang, ia memberikan lukisannya pada Hong Do. Hong Do memujinya bahwa lukisannya tidak jelek. Myung Nyung juga melihat lukisan itu dan tertawa, putranya meniru lukisan “Dancing Child” yang pernah dilukis Hong Do untuknya.
Karena merasa usahanya gagal, Hong Do pun meminta diri, tapi Myung Nyung menghentikannya, ia akan bertaruh kalau tidak akan ada pemenangnya. Hong Do kaget.
Kembali ke kamar Yoon Bok. Yoon Bok bertanya kenapa Hong Do tidak menceritakannya lebih awal, Hong Do hanya menjawab kalau Yoon Bok itu orangnya sangat terbuka, sehingga segala emosinya pasti akan terlihat diwajahnya. Hong Do berterimakasih karena Yoon Bok mempercayainya. Yoon Bok berkata karena Hong Do yang menyuruhnya mempercayainya.
Hong Do tersenyum, dan memberitahunya kalau ia  telah membuat rencana untuk menjaga Jeong Hyang sehingga Yoon Bok bisa memenuhi janjinya. Yoon Bok tersenyum padanya.
Tuan Gong sudah mendapatkan kompensasinya dan menemui Kim Hong Do. Ia berterimakasih padanya, karena Hong Do ia mendapatkan banyak keuntungannya. Ia ingin memberikan bagian Hong Do tapi Hong Do menolaknya, ia menyuruhnya mengambil semuanya karena ia telah membantunya menyiapkan segalanya. Tuan Gong memastikan kalau ia sudah menyiapkan segalanya.
Hong Do melihat Jo Nyeon yang sedang berjalan. Ia terlihat sangat marah karena kekayaannya hancur.
Yoon Bok mencari Jeong Hyang. Jeong Hyang bertanya kenapa Yoon Bok menyuruhnya pergi meninggalkan kota ini. Yoon Bok menjawab bahwa ini satu-satunya cara untuk menjaganya, jadi ia harus segera berkemas.
Jeong Hyang: “Ada saat ketika aku membencimu pelukis. Membencimu karena kau seorang wanita, menyembunyikan kewanitaanmu. Tapi hatiku masih menyukaimu, jadi itulah sebabnya aku membencimu.”
Yoom Bok: “Aku juga….aku membenci diriku karena aku perempuan. Tapi akhirnya aku mengerti. Karena aku seorang wanitalah aku tertarik padamu. Aku benar-benar minta maaf. Aku hanya memperhatikan perasaanku sendiri dan membiarkan diriku menerima cintamu. Kini saatnya kita berpisah, tapi didalam hatiku, kau adalah wanita yang paling cantik.”
Jeong Hyang:”Pelukis, bagiku kau juga orang yang paling cantik. Orang rendahan sepertiku bisa ada didalam hati seseorang diposisi paling berharga, kau telah mengajariku untuk mengerti hal ini. Tapi aku tidak bisa pergi sekarang, karena akan membuatmu dalam bahaya.”
Yoon Bok terus membujuk Jeong Hyang untuk pergi, karena jika Jeong Hyang sudah pergi, ia akan lebih tenang dan bisa melakukan balas dendamnya pada Jo Nyeon.
Sasuke menemui Kim Jo Nyeon. Jo Nyeon mengeluarkan sebuah surat. Ia berkata kalau ia sudah kehilangan semua kekayaannya, tapi ia masih punya satu kartu. Ia tahu rahasia Yoon Bok.
Ibu Suri Jeong Sun sedang membaca surat, tiba-tiba Jeongjo datang menemuinya. Jeongjo memberikan sebuah hadiah kepada Ibu Suri. Ia membukanya, ternyata hadiah itu adalah sebuah lukisan bunga. Ibu Suri Jeong Sun berterimakasih padanya.
Jeongjo: “Tidak peduli betapa indahnya sebuah bunga, jika ia tumbuh di tempat yang salah, ia akan  mengalami kesulitan yang akan meremukkannya bukan? Bukankah ini bunga krisan yang tumbuh di bebatuan, akarnya akan kesulitan untuk meraih tanah yang subur untuk mencari makanan. Tidak peduli betapa indahnya bunga itu.”
Ibu Suri tidak mengerti maksud perkataan Jeongjo. Jeongjo menjelaskan kalau situasi Ibu Suri sama dengan bunga krisan itu, yang tumbbuh di tempat yang salah dan bisa menjadi remuk karenanya.
Kim Jo Nyeon berniat melarikan diri malam itu, ia datang menjemput Jeong Hyang. Ia kaget ketika melihat sangkar burung itu kosong. Ia kembali kaget ketika melihat Yoon Bok menunggunya di kamar Jeong Hyang.
Ia  memarahi Yoon Bok dan bertanya dimana Jeong Hyang berada. Yoon Bok menyuruhnya untuk melihat wajahnya dan mengingat siapa dirinya. Jo Nyeon kaget.
Yoon Bok: “ 10 tahun yang lalu, dalam insiden pembunuhan yang melibatkan Pelukis besar dan orang yang menyelidiki kematiannya, pelukis Biro Seni Seo Jing telah dibunuh dengan brutal, apakah kau ingat?”
Jo Nyeon bertanya kenapa Yoon Bok tahu masalah itu. Yoon Bok berkata kalau ia adah Seo Yoon, putri Seo Jing yang telah dibunuhnya. Jo Nyeon heran kenapa ia masih hidup.
Yoon Bok: “Didepan matamu, sekarang kau melihat kalau hal-hal yang kau cintai hilang satu persatu. Bagaimana perasaanmu sekarang?”
Jo Nyeon bertambah marah, ia pun mendekati Yoon Bok dan memegang lehernya ,mencobanya mencekiknya sampai mati.
Hong Do datang menyelamatkan Yoon Bok,  Yoon Bok terjatuh ke tanah ketika tangan Jo Nyeon terlepas dari lehernya. Hong Do memarahi  Jo Nyeon karena berani mencoba membunuh Yoon Bok. Jo Nyeo bertanya apa tujuan mereka melakukan ini. Hong Do hanya menyuruhnya berpikir di penjara, karena ia telah melakukan perbuatan yang keji.
Petugas Uigembu datang untuk menahan  Jo Nyeon. Jo Nyeon berkata kalau ia tidak akan menyerah. Ia tertawa dan berjalan menuju ke arah para penjaga. Sasuke tiba-tiba datang dan membunuh mereka. Ia memegang satu penjaga sebagai tawanan dan memberi sinyal pada Jo Nyeon untuk segera melarikan diri.
Hong Do segera menghampiri Yoon Bok untuk memastikan kalau ia baik-baik saja.
Paginya, Yoon Bok mengantar Jeong Hyang yang akan pergi dengan kapal. Mereka tersenyum satu sama lain.
Jeong Hyang: “Dalam hidupku….aku tidak akan pernah melupakanmu.”
Yoon Bok: “Aku juga tidak akan melupakanmu. Aku mohon….kau harus mencari kebahagiaanmu.”
Jeong Hyang menangis saat ia akan pergi ke kapal. Ia menengok memandang Yoon Bok untuk yang terakhir kalinya. Mereka mengingat kenangan-kenangan yang pernah mereka alami bersama, dari pertemuan di sungai sampai saat mereka bermain ayunan di festival dano. Mereka saling tersenyum, kemudian Jeong Hyang naik ke atas kapal.
Hong Do dan Yoon Bok menghadap Jeongjo.  Jeongjo berterimakasih karena mereka telah berusaha keras untuk menjebak Jo Nyeon. Hong Do berkata bahwa Semoga ketika mereka berhasil menangkap Jo Nyeon, mereka juga bisa mengungkapkan orang-orang yang telah menjebak Putra mahkota Sado.
Jeongjo  berkata kalau semua ini berakhir, mereka sebaiknya kembali ke Dohwaseo. Hong Do bertanya apakah Jeongjo sudah memaafkan Hye Won, Jeongjo mengangguk, tapi Yoon Bok terlihat khawatir. Jeongjo menyuruh Hong Guk Young  untuk mencari orang-orang yang telah berkonspirasi untuk membunuh Kang So Hang dan Seo Jing. Ia berjanji akan mengadili mereka sendiri.
Jang Byeok Soo ditangkap dan dibawa oleh Uigembu. Ia melihat Shin Han Pyeong dan Yi Yin Moon. Jang Hyo Won lari dan memanggi ayahnya. Byeok Soo merasa malu dilihat oleh putranya ketika ia ditangkap Uigembu. Park Dae Su dan petugas kerajaan mencari 5 lukisan yang disimpan oleh Byeok Soo.
Ibu Suri Jeong Sun mendapat berita kalau Jeongjo  akan mengembalikan kehormatan Putra Mahkota Sado dari Jo Young Jung dan Kim Gui Joo. Ibu Suri Jeong Sun menjadi kesal. Kim Gui Joo berusaha menenangkannya. Ibu Suri berjanji kalau semua itu tidak akan terjadi. Ia akan berusaha mengagalkannya.
Kim Jo Nyeon dan Sasuke pergi menemui Jo Young Jung. Ia memintanya untuk menyelamatkannya. Tapi Jo Young Jung menolaknya karena Uigembu sudah menerbitkan surat penangkapan Jo Nyeon. Jo Nyeon berkata kalau ia tertangkap maka Jo Young Jung juga akan jatuh. Ia mengeluarkan sebuah surat, surat yang berisi perintah membunuh Kang So Hang dan Seo Jing yang dulu diberikan oleh Jo Young Jung. Jo kaget, ia marah pada Jo Nyeon. Jo Nyeon memohon padanya untuk pergi menemui Ibu Suri, supaya Ibu Suri membantunya. Jo tidak bisa melakukannya karena Ibu Suri sedang resah. Jo Nyeon berkata kalau ia punya obat untuk Ibu Suri. Ia menambahkan kalau Hye Won lah yang bisa menyelamatkan Ibu Suri.
Yoon Bok melihat penemuan aneh milik ayahnya. Ia mendesah dan melihat ayahnya sedang mengerjakan penemuan itu. Yoon Bok memanggilnya, Seo Jing  tersenyum padanya.
Lamunannya hilang ketika Hong Do datang dan memanggil namanya. Ia bertanya apakah beban di pundaknya sekarang teras ringan. Yoon Bok berkata kalau semua ini seperti mimpi. Hong Do meyakinkan kalau mereka sudah melakukan semuanya dengan baik.
Kim Hong Do berkata kalau dulu orang banyak yang bilang kalau ia mirip dengan Seo Jing. Yoon Bok berkata kalau mereka tidak mirip. Hong Do memberitahunya untuk menjadi dirinya sendiri setelah semua ini selesai. Hong Do memegang tangan Yoon Bok dan  memarahinya karena ia tidak mencuci tangannya dengan baik. Mereka pun tertawa.
Yoon Bok memegang tangan Hong Do dengan lembut dan bertanya apakah tangannya baik-baik saja. Hong Do menjawab kalau tangannya sudah tidak sakit lagi. Yoon Bok berkata kalau ia tidak ingin kembali ke Dohwaseo lagi. Hong Do hanya diam dan mereka bergandengan tangan.
Ibu Suri Jeong Sun bertemu dengan Jeongjo. Jeongjo berkata kalau ia akan mengembalikan kehormatan ayahnya sesuai keinginan raja terdahulu, dengan begitu ia bisa memantapkan posisinya sebagai raja. Ibu Suri Jeong Sun berkata kalau ia akan menyetujuinya jika itu keinginan Raja Yeongjo, ia bertanya apakah ia sudah melihat lukisan Ye Jin yang dibuat oleh Dan Won dan Hye Won. Jeongjo berkata bahwa ia sudah melihatnya dan persis seperti yang ada dalam ingatatannya.
Ibu Suri memberitahunya kalau Hye Won (Yoon Bok) adalah seorang wanita. Jeongjo kaget. Ibu Suri memarahinya dan berkata kalau ia tidak bisa menggunakan tangan seorang wanita untuk melukis Ye Jin. Ini adalah penghinaan bagi kerajaan, jadi Jeongjo tidak bisa mengembalikan kehormatan ayahnya dengan potret Ye Jin itu.
Yoon Bok membersihkan ruang kerja ayahnya. Hong Do datang dan menggodanya, mereka tertawa bersama-sama. Mereka terus bercanda dan memutuskan untuk pergi makan bersama.
Hong Guk Young datang dan memberitahunya kalau Jeongjo ingin bertemu dengan mereka.
Jeongjo bertanya apakah Yoon bok seorang wanita. Yoon Bok tidak berani menjawab, Hong  Do mencoba membantunya, tapi Jeongjo malah memarahinya. Ia berkata kalau Yoon Bok telah melakukan penghinaan terhadap keluarga kerajaan. Yoon Bok ragu-ragu, akhirnya ia mengaku kalau ia adalah seorang wanita.
Di kamarnya, Ibu Suri sedang bersama Kim Gui Joo dan Jo Young Jung. Mereka sedang membicarakan apa yang akan dilakukan Jeongjo pada Yoon Bok. Mereka sangat senang  dengan kejadian ini.
Kembali ke kamar Jeongjo, Yoon Bok dan Hong Do berlutut di hadapannya. Jeongjo kesal karena mereka membohonginya. Ia bingung bagaimana harus menghukum mereka. Yoon Bok berkata kalau ia bersalah dan pantas dihukum mati. Hong Do tidak rela, ia berkata kalau Jeongjo pernah mengampuni Yoon Bok dan memberitahunya kalau Yoon Bok sebenarnya adalah putri Seo Jing. Jeongjo sangat kaget.
Hong Do: “Dari kecil ia sudah kehilangan orangtuanya, dan tidak bisa hidup sebagai seorang wanita. Aku harap Yang Mulia bisa mengerti takdirnya yang tragis. Ia bukan seorang wanita yang membohongi rajanya, tapi seorang rakyat yang mengalami ketidakadilan dalam hidupnya. Aku mohon, tolong berikan pengampunan dan kemurahan hati untuk semua  penderitaannya. Aku mohon padamu untuk mengerti dan memahaminya.”
Jeongjo mempertimbangkannya lagi.
Ibu Suri Jeong Sun sedang minum teh, Jeongjo datang menemuinya. Ibu Suri yang penasaran bertanya apakah Jeongjo sudah memanggil Hye Won dan menyelidiki apakah ia seorang wanita. Jeongjo membenarkan dan berkata kalau Yoon Bok adalah seorang pria. Ia ingin tahu siapa yang menyebarkan rumor ini.
Setelah Jeongjo pergi, Ibu Suri Jeong Sun memanggil Kim Gui Joo dan Jo Young Jung. Ia memukul meja dan memarahi keduanya.
Ia meminta mereka untuk membawa Yoon Bok ke hadapannya. Ia ingin memastikan sendiri kalau Yoon Bok itu adalah seorang wanita. Ia juga menambhakan kalau mereka harus membereskan Hong Do dan semua orang yang terlibat dalam insiden 10 tahun yang lalu. Mereka harus menghilangkan semua saksi yang ada.
Jo Nyeon sedang berjalan bersama Sasuke, ketika sampai di jembatan, mereka di hadang oleh para pembunuh. Jo Nyeon bertanya siapa yang mengirim mereka, tapi mereka tidak mau menjawab. Sasuke berusaha melawan, tapi Jo Nyeon terkena panah. Para pembunuh langsung pergi, sedangkan Sasuke segera berlari ke arah Jo Nyeon. Sebelum meninggal, Jo Nyeon memberi Sasuke tugas terakhirnya.
Jeongjo memandang potret Ye Jin ayahnya, ia teringat percakapannya dengan Hong Do.
Flashback.
Jeongjo mempunyai satu cara untuk menyelamatkan Yoon Bok, ia menyuruhnya segera pergi dari ibukota dan menyuruh Hong Do kembali ke Dohwaseo. Hong Do tidak mau kembali ke Dohwaseo, ia ingin pergi bersama Yoon Bok karena ia satu-satunya putri dari teman baiknya, jadi ia ingin menjaganya. Jeongjo setuju dan menyuruh mereka segera pergi.
Jeongjo merasa sangat sedih. Sedangkan Yoon Bok dan Hong Do berkemas.
Yoon Bok dan Hong Do memulai perjalanan mereka. Yoon Bok bertanya apakah Hong Do tidak menyesal melepaskan semuanya demi dirinya. Hong Do berkata walaupun ia harus menjadi petani pun, ia rela. Sekarang mereka pelukis yang bebas dan bisa melukis sesuai perasaan mereka. Tiba- tiba Yoon Bok kesakitan , kelihatannya kakinya melepuh. Hong Do memarahinya, sudah berapa kali ia berkata untuk mencuci tangan dan kakinya dengan baik. Yoon Bok membalas kalau itu tidak ada hubungannya. Mereka pun duduk dan Hong Do memeriksa kaki Yoon Bok.
Hong Do mencoba melepas sepatu Yoon Bok ketika sebuah panah melesat melewati mereka dan mengenai pohon. Sekelompok pembunuh mendekati mereka. Hong Do dan Yoon Bok segera berlari. Di tengah jalan mereka bertemu Sasuke yang kemudian menyerahkan sebuah surat dari Jo Nyeon. Sasuke kenyuruh mereka pergi dan ia yang akan melawan para pembunuh itu. Sasuke melawan sekuat tenaga, tapi ia kalah jumlah. Ia dihujani panah dan akhirnya meninggal.
Jeongjo bertanya pada Hong Guk Young apakah Hong Do sudah pergi. Hong Guk Young membenarkan. Jeongjo merasa sangat sedih.
Hong Do menemukan tempat bersembunyi, ia segera membuat api. Yoon Bok berkata kalau ia ingin pergi sendiri, jika Hong Do bersamanya, maka ia akan ikut dikejar oleh para pembunuh itu.
Yoon Bok: “Seperti yang selama ini terjadi, karena diriku, banyak orang  yang terluka. Orangtuaku, Kak Young Bok, juga Jeong Hyang. Karena diriku mereka harus menderita. Chusan Chona (Jeongjo) juga….karena diriku harus mengalami bahaya. Dan sekarang dirimu guru, yang harus menghadapi bahaya. Aku harus pergi, dengan cara ini mereka tidak akan melukaimu.”
Hong Do: “Di dunia ini tidak ada yang boleh menyakiti kita…….aku tidak akan membiarkanmu pergi. Tanpamu, apakah aku harus hidup dengan lukisanku? Aku akan terus bersamamu sampai ke ujung dunia.”
Yoon Bok: “Bagimu, apa artinya diriku?”
Hong Do: “kau adalah putri sahabat baikku…..muridku…..orang yang ingin kujaga sampai akhir…..kau adalah cintaku….Jangan berpikir tentang hal-hal yang tidak penting!”
Yoon Bok senang. Ia  merebahkan kepalanya di bahu Hong Do dan tertidur. Hong Do mengeluarkan surat yang diberikan oleh Sasuke dan membacanya. Ia kaget dan membangunkan Yoon Bok.
Hong Do memberitahunya kalau ia punya rencana baru. Ia akan pergi sebentar dan menyuruh Yoon Bok untuk pergi ke bekas rumahnya, ia akan menemuinya disana. Ia memperingatkan Yoon Bok untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak perlu.
Yoon Bok memegang tangan Hong Do dengan lembut, kemudian membuka  balutannya. Ia meletakkan tangan Hong Do di pipinya. Hong Do tersenyum.
Hong Do menyelinap kembali ke ibukota, sedangkan Yoon Bok memutuskan untuk pergi sendiri. Ia mengingat kenangannya dengan Hong Do. Yoon Bok menangis, hatinya terasa sangat sakit. Tapi ia melakukan ini untuk kebaikan Hong Do.
Jeongjo marah mendengar ada orang yang menyerang Hong Do dan Yoon Bok, ia menyuruh Hong Guk Young untuk menjaga mereka. Jeongjo  bertanya tentang surat yang di bawa Hong Do. Hong Do menjelaskan kalau surat itu adalah bukti dari konspirasi yang menjebak Putra Mahkota Sado.
Jeongjo  berada di ruang tahta. Ia sedang mengembalikan kehormatan ayahnya dengan memasang potret Ye Jinnya disana.
Ibu Suri sedang berusaha menyelamatkan keluarganya. Ia menyuruh Jo Young Jung dan Kim Gui Joo untuk berhenti dari pemerintahan karena Jeongjo sudah memegang barang bukti keterlibatan mereka dalam hukuman Putra Mahkota Sado.
Kim Hong Do berjalan menuju rumah lama Yoon Bok, sambil mengingat percakapannya dengannya.
Scene berganti, Yoon Bok sedang melukis lukisan Mi In Do. Ia terlihat menggunakan baju laki-laki dan perempuan secara bergantian yang  melambangkan penyembunyian gender Yoon Bok. Hong Do sampai di rumah lama Yoon Bok, ketika ia membuka pintu, Yoon Bok mendongak. Ketika Hong Do masuk ke dalam rumah, ternyata rumah itu kosong. Ini jelas mereka ada di waktu yang berbeda. Di dalam rumah kosong itu, terdapat lukisan diri Yoon Bok yang ia beri nama “Myself”. Hong Do menyentuhnya dan menangis, kehilangan…
Hong Do: “Aku akan mulai menceritakan sebuah cerita tentang seseorang. Bila aku mengingatnya, aku akan bahagia, jika aku kehilangannya, aku akan merasa sangat sedih. Ia adalah muridku, guruku, temanku dan juga cintaku.”
Yoon Bok naik ke sebuah kapal untuk menghilang dari sejarah.

Hong Do (v/o): “Menurutmu, apa yang dimaksud dengan lukisan?”
Yoon Bok (v/o): “Arti sebuah lukisan adalah untuk  memuaskan kerinduan.”

Painter Of The Wind – Episoce 19

PERTARUNGAN
Yoon Bok mengingat kembali ketika ia merobek lukisan potret Jeongjo. Jeongjo sangat marah dan akan menghukum matinya dalam 3 hari. Hong Do berusaha keras menyelamatkannya, bahkan ia membakar tangannya sendiri supaya Jeongjo mau memaafkan Yoon Bok.
Ketika Yoon Bok akan dihukum mati, seorang utusan datang dan memberitahu kalau Yoon Bok  dibebaskan, Hong Do berlutut, berterimakasih pada Jeongjo.
Beberapa hari kemudian Jeongjo meminta mereka untuk mencari potret Putra Mahkota Sado yang hilang. Dengan susah payah, mereka berhasil menemukannya. Ketika Jeongjo melihat potret itu ia menangis, meluapkan kerinduan yang selama ini ditahannya.

Setelah itu, mereka menyelidiki kematian ayahnya dari dua lukisan yang ditinggalkannya. Setelah mengobservasi lukisan tersebut, diperoleh kata “Sal Jo Nyeon” atau dibunuh oleh Jo Nyeon. Setelah bertemu dengan Sasuke, Yoon Bok sadar kalau mata Sasuke mirip dengan mata pembunuh dalam lukisan tanpa wajah.
Ia juga mengingat ketika Jo Nyeon menyuruhnya bertanding melukis dengan Hong Do. Pertandingan akan dilakukan sepuluh hari lagi.
Malamnya, Yoon Bok menunggu Hong Do di rumah choga sambil mengingat semua kenangannya bersama Hong Do.
Ketika Hong Do datang, ia bertanya bagaimana Hong Do menyetujui permintaan Jo Nyeon. Setelah saling bertukar cerita, mereka sadar kalau sudah masuk jebakan Jo Nyeon.
Yoon Bok bertanya bagaimana kalau ia kalah. Hong Do menjawab kalau ia kalah, ia tidak bisa melukis lagi dan ia tidak mampu mengangkat kepalanya dihadapan almarhum ayahnya.
Yoon Bok bertanya apa yang terjadi bila Hong Do yang kalah. Hong Do menjawab ia menang atau kalah, maka ia tidak bisa bekerja lagi di Dohwaseo. Yoon Bok mengkhawatirkan tangan Hong Do.
Hong Do: “Tanganku baik-baik saja. Jika aku tak bisa menggunakannya, aku akan melukis dengan kakiku.Yoon Ah, dengarkan perkataanku. Seorang guru yang baik harus mampu menciptakan seorang murid yang hebat. Murid yang hebat harus mengerti apa yang diinginkan gurunya. Murid yang hebat harus mampu melampaui gurunya. Besok kau harus mengalahkanku. Jika kau tidak mengalahkanku, maka aku tidak akan mengakuimu. Satu-satunya cara agar kau selamat adalah dengan mengalahkanku.”
Jeongjo bertanya pada Hong Guk Young apakah hari ini adalah hari kompetisi melukis antara Hong Do dengan Yoon Bok. Ini adalah pertandingan kecerdikan. Jeongjo menyuruh Hong Guk Young untuk menjaga keselamatan keduanya,  ia takut Jo Nyeon akan melakukan sesuatu pada mereka berdua.
Di kamarnya, Ibu Suri Jeong Sun sedang bersama  Kim Gui Joo. Ia merasa  khawatir dengan banyaknya peristiwa akhir-akhir ini. Ia tahu kalau hari ini adalah hari kompetisi Yoon Bok dan Hong Do. Ia merasa tidak senang cara Jo Nyeon menyelesaikan permasalahan ini. Ibu Suri kemudian menyuruh Kim Gui Joo untuk mengontrol kesalahan yang mungkin terjadi.
Jo Nyeon sedang bersama dengan Jeong Hyang. Ia bertanya menurut Jeong Hyang siapa yang akan menang. Jeong Hyang berkata kalau kompetisi ini kejam dan kasar. Jo Nyeon memberitahu kalau hidup adalah permainan, terkadang orang harus mempertaruhkan segalanya untuk suatu hal, itulah yang membuat hidup jadi menarik. Ia menduga kalau Jeong Hyang akan bertaruh untuk Yoon Bok. Jeong Hyang marah, ia hanya menganggap Jo Nyeon mencari keuntungan saja. Dengan cara ini ia tidak akan dapat mendapatkan hati seseorang.
Orang-orang sudah datang ke Chawaseo, mereka ingin menonton kompetisi ini.
Yoon Bok dan Hong Do sedang memilih peralatan yang akan digunakan. Ketika mereka memilih kuas yang sama, Hong Do memberikan kuas itu pada Yoon Bok..
Yoon Bok masih tidak mengerti mengapa kompetisi ini adalah satu-satunya jalan keluar.
Hong Do: “Yoon Ah! Apakah kau mempercayaiku? Jika kau mempercayaiku, kalahkan aku. Ini satu-satunya cara agar kau bisa membalas dendam atas kematian ayahmu.”
Jang Byeok Soo, Jo Young Jung dan Kim Gui Joo sedang membicarakan kompetisi itu juga. Kim Gui Joo berkata kalau ia akan bertaruh untuk Yoon Bok karena ia tahu Jo Nyeon akan melakukan segala cara agar pelukis dari Chawaseonyalah yang menang.
Di Chawaseo, Yoon Bok dan Hong Do memasuki tempat kompetisi. Jo Nyeon segera memperkenalkan mereka pada tamu yang hadir. Ia juga memperkenalkan para jurinya.
Juri-juri itu terdiri dari 6 orang dari berbagai kelompok seni. Juri pertama adalah Bo Young Gun dari Kelompok Seni Chon Baek, Yang kedua Kim Shu Bo dari Kelompok Seni Ben Nan. Yang ketiga Yun Yi Non dari Kelompok Seni On Yang. Yang keempat Kim Sin Young dari Kelompok Seni Dan Yang Sam Bong. Yang kelima adalah Yi Mun Ji dari kelompok seni Hen Sun, dan yang terakhir adalah Kim Myung Nyung dari Kelompok Seni Oh Chuk.
Jo Nyeon juga mengumumkan tema lukisan pada kompetisi itu. Temanya adalah “Jin Twi” atau pertarungan.
Ibu Suri Jeong Sun sedang melihat lukisan Yoon Bok dan Hong Do. Ia berkata kalau ia sangat menyukai lukisan Yoon Bok, sedangkan Jeongjo lebih menyukai lukisan Hong Do. Jeongjo bertanya Ibu Suri akan bertaruh untuk siapa. Ibu Suri malah bercanda, bagaimana kalau yang kalah harus meninggalkan istana dalam? Jeongjo hanya tertawa.
Di Pasar Tuan Gong Mengumumkn kalau kompetisi telah dimulai.
Di Chawaseo, Yoon Bok dan Hong Do mulai melukis. Setelah beberapa jam, keduanya selesai dan menyerahkan lukisan pada Jo Nyeon. Mereka pun diberi waktu istirahat selama 2 jam.
Ketika akan membasuh tangannya, Hong Do merasa kesulitan. Yoon Bok segera membantu Hong Do untuk melipat baju kemudian membasuhkan tangannya. Mereka membicarakan kompetisi itu. Mereka tersenyum satu sama lain. Yoon Bok menyentuh jemari Hong Do dengan lembut.
Pada saat penjurian, Yoon Bok dan Hong Do diantar masuk ke dalam ruangan, sedangkan Jeong Hyang, duduk di belakang tirai.
Jo Nyeon memperlihatkan kedua lukisan itu pada ke enam juri. Kim Hong Do melukis “Ssireum” (gulat ala Korea), sedangkan Yoon Bok melukis “Geommu Dancers Together with Double Swords”.
Juri mulai mengomentari lukisan Hong Do, mereka sangat kagum karena lukisan itu sangat hidup, mereka seperti berada di pertandingan Ssireum itu sendiri. Hong Do memperoleh angka pertamanya.
Mereka mengomentari lukisan Yoon Bok, para juri juga berpendapat kalau lukisan Yoon Bok begitu hidup, mereka seperti melihat tarian itu didepan mereka. Karena merasakan gerakan, kecepatan dan energi dari penarinya. Yoon Bok pun mendapatkan nilai.
Kim Sin Yung berkomentar kalau lukisan Hong Do sangat brilian, semua orang dalam lukisan itu mempunyai ekspresi yang berbeda. Hong Do mendapat angka lagi.
Yi Pan berpendapat kalau lukisan Yoon Bok berbeda. Fokusnya pada kedua penari itu. Jo Nyeon berkomentar kalau Yoon Bok selalu menggunakan sudut pandang wanita. Hong Do melihatnya  dengan tidak senang.
Hasil sementara adalah Yoon Bok  nilainya 3 dan Hong Do nilainya 2. Para juri terus menilai dan memuji kedua lukisan itu. Nilai yang diperoleh Yoon Bok dan Hong Do bersaing dengan ketat. Ketika juri sudah kehabisan kata-kata, nilai mereka sama yaitu 7.
Kim Myung Nyung berkata kalau mereka harus mencari makna lukisan ini supaya dapat menentukan pemenangnya.
Karena temanya pertempuran, semua juri fokus pada kedua pegulat dalam lukisan Hong Do. Mereka mengira-ira siapa yang aka memenangkan pertandingan Ssireum itu. Hong Do menjelaskan bahwa komponen penting untuk menentukan pemenangnya adalah  dua orang penonton yang terlihat ternganga karena tahu salah satu pegulat itu akan jatuh ke arah mereka. Hong Do mendapatkan nilai lagi.
Jo Nyeon menyuruh Yoon Bok untuk menjelaskan lukisannya. Yoon Bok berkata bahwa pemenangnya dapat dilihat dari gerakan chima (rok) dan bulu hiasan kepala. Satu penari bergerak lambat sedangkan satunya bergerak cepat dan penari yang kalah adalah penari yang memakai rok biru. Yoon Bok juga mendapatkan nilai, sehingga nilai mereka sama lagi.
Di luar Chawaseo, siswa magang bertanya-tanya siapa yang akan menang.
Jeongjo bertanya tentang kompetisi itu. Hong Guk Young berkata kalau pemenangnya belum ditentukan.
Ibu Suri dan kroninya juga sedang membicarakan kompetisi itu. Ibu Suri memperingatkan, jika Jo Nyeon tidak berhasil mengatasi keduanya, maka nyawa mereka dalam bahaya.
Para juri bingung bagaimana menentukan pemenangnya. Jo Nyeon berkata kalau ia mempunyai cara untuk menentukan pemenangnya. Kedua pelukis itu harus saling mengkritik lukisan satu sama lain. Yoon Bok dan Hong Do saling memandang.
Hong Do memuji lukisan Yoon Bok. Yoon Bok juga melakukan hal yang sama. Sebenarnya ia melihat kesalahan dalam lukisan Hong Do, tapi ia tidak mengatakannya. Sayangnya, Jo Nyeon melihat kesalahan itu. Ia pun segera memberitahu juri sehingga nilai Hong Do dikurangi satu.

Saat itu hari sudah sore, Hong Do membuka jendela untuk melihat matahari sore. Sinarnya, menyinari lukisan Hong Do. Shading dalam lukisan itu membuatnya menjadi lukisan 3D. Jeong Hyang dan para juri melihatnya dngan kagum. Jo Nyeon juga kaget. Para juri berniat menambahkan nilai.
Jo Nyeon menjadi panik, ia merayu para juri untuk mengevaluasi lukisan Yoon Bok lagi.
Bo Young Gun menolaknya. Para juri akan mengumumkan pemenangnya. Hong Do mengangguk penuh kepastian ke arah Yoon Bok.

sumber: http://www.bengawanseoul,.com

Painter Of The Wind – Episode 18

PERMUSUHAN
Hong Do dan Yoon Bok mencoba memecahkan sandi yang ada dalam dua lukisan itu. Hasilnya adalah Sal Jo Nyeon atau dibunuh oleh Jo Nyeon.Yoon Bok kaget, ia pun jadi marah karena selama ini ia melukis untuk orang yang membunuh ayahnya.
Ia ingin mengkonfrontasi Kim Jo Nyeon tapi Hong Do menghentikannya dan mencoba mengembalikan akal sehatnya, karena saat ini ia dipenuhi oleh perasaan marah dan ingin balas dendam.
Tapi Yoon Bok terlalu marah, karena orang yang telah membunuh orang tuanya telah hidup nyaman selama 10 tahun ini, tanpa ada yang menghukum.
Hong Do mengingatkan tentang harapan ayahnya, jika mereka bertindak gegabah, malah akan menambah banyak masalah. Mereka tidak akan bisa mengungkapkan konspirasi dibalik semua ini.
Yoon Bok masih membantah, ia tidak ingin diam saja melihat pembunuh ayahnya bisa bebas tanpa rasa bersalah.
Hong Do menenangkannya, ia tahu perasaan Yoon Bok, tapi mereka harus mencari cara yang ampuh untuk mengalahkan mereka dalam satu tindakan. Tapi mereka harus tenang dan tidak menarik perhatian. Kemarahan Yoon Bok sedikit berkurang.

Yoon Bok kembali ke Chawaseo dengan persepsi yang baru. Ia menemukan Kim Jo Nyeon sedang menunggunya di kamar sambil melihat lukisan “Midnight Rendezvous”. Jo Nyeon bertanya kemana Yoon Bok pergi. Yoon Bok tidak mau menjawabnya. Ia malah bertanya apa tujuan Jo Nyeon menunggunya.
Jo Nyeon berkata kalau lukisan Midnight Rendezvous bercerita tentang perpisahan sepasang kekasih, jadi apa yang ia lihat tadi malam. Yoon Bok berjanji akan melukiskan apa yang dilihatnya semalam melalui lukisan.

Sasuke memberitahu Jo Nyeon kalau ada tamu yang menunggunya. Ketika Jo Nyeon membuka pintu, Yoon Bok melihat wajah  Sasuke, ia mengenali mata Sasuke sebagai pembunuh orangtuanya. Jo Nyeon pun memperkenalkan Sasuke pada Yoon Bok.
Jo Nyeon: “Ia adalah Sasuke, pengawalku. Ia orang yang tidak punya perasaan, simpati maupun keinginan. Ia adalah orang yang seperti itu.”

Hong Do menghadap Jeongjo. Ia melaporkan apa yang ia temukan bersama Yoon Bok. Jeongjo ingin menangkap Jo Nyeon dan menghukumnya, tapi Hong Do melarangnya. Ia memberitahu Jeongjo kalau pembunuhan itu adalah suatu konspirasi pemerintahan. Ia ingin mengungkap konspirasi itu, tapi mereka harus melakukannya dengan hati-hati. Ia takut orang-orang itu berhasil menghapus semua bukti yang ada. Jeongjo pun setuju, asalkan, jika keadaan terlalu berbahaya, Hong Do harus meminta tolong padanya.

Malam itu, Jeong Hyang masuk ke kamar Jo Nyeon, ternyata Yoon Bok juga ada disana. Jeong Hyang duduk dan bertanya-tanya apa yang terjadi diantara Jo Nyeon dan Yoon Bok, karena mereka terlihat bermusuhan.

Yoon Bok menyerahkan lukisan “Secret Liaison Under The Moon”. Jo Nyeon pun melihatnya. Lukisan itu bercerita tentang pertemuan seorang pria dan wanita yang disaksikan oleh seorang wanita yang bersembunyi di balik tembok.
Jo Nyeon bertanya apakah setiap malam Yoon Bok keluar untuk melihat pertemuan rahasia seperti ini. Yoon Bok bertanya apa yang dilihat Jo Nyeon dalam lukisannya. Jo Nyeon berkata bahwa pasangan yang berpelukan itu pasti bukan pasangan suami istri, sedangkan wanita yang mengintip mereka itu adalah istri dari laki-laki itu. Wanita yang mengintip, ingin menghukum suaminya, ketegangan mereka terasa dalam lukisan.

Yoon Bok tersenyum padanya, tapi Jo Nyeon kelihatan tidak senang. Yoon Bok berkata kalau Jo Nyeon melihat dengan perspektif pria yang hanya mengenal ketamakan dan nafsu. Jika dilihat dari sudut pandang perempuan, pihak wanita dari pasangan itu tidak memeluk, tetapi ingin melepaskan diri dari si pria. Sedangkan si pria, menggunakan kekuatannya untuk membuat wanita itu tetap dalam pelukannya. Sedangkan wanita yang menempel di tembok, sebenarnya ia memandang dengan simpati, karena ia tahu wanita itu sedang di paksa, tetapi ia takut ketahuan.

Jo Nyeon berpikir, berarti Yoon Bok menyamakannya dengan laki-laki di lukisan itu dan wanita yang menolak pelukannya adalah Jeong Hyang. Tapi siapa yang dimaksud Yoon Bok dengan wanita di balik tembok. Ia mulai marah karena Yoon Bok merendahkannya melalui lukisan.
Yoon Bok meneruskan perkataannya kalau sebaiknya ia tidak mengabaikan temperamen si pria juga tidak meremehkan kebencian si wanita. Jo Nyeon semakin marah mendengar kata-kata Yoon Bok itu.
Yoon Bok duduk di kamarnya, “Ini baru awalnya, ayahku, ibuku juga diriku yang hilang. Kau….aku tidak akan duduk saja disini hanya melihat, tanpa melakukan apapun.”

Di Chawaseo, Jo Nyeon sedang melelang lukisan dua ekor kepiting. Ia berkata kepada pelanggannya, kalau mereka ingin lulus ujian negara, mereka harus membeli lukisan itu. Hong Do masuk ke ruangan itu dan mendengarkan kata-kata Jo Nyeon.
Hong Do bertanya berapa harga lukisan itu. Jo Nyeon heran kenapa ia ada disini. Hong Do mengkritik cara mengomentari lukisan yang hanya asal-asalan. Sasuke maju ke depan, ia ingin menghentikan Hong Do membuat keonaran, tapi Jo Nyeon mencegahnya.
Hong Do terus berbicara tentang arti lukisan kepiting itu. Ia bertanya pada para pembeli bagaimana kepiting berjalan. Kepiting selalu berjalan ke samping. “Jadi apa arti lukisan ini. Jika kita menjaga martabat dan sopan santun kita, walaupun kita di hadapan raja, kita tetap hanya bisa berjalan ke samping, seperti kepiting. Bahkan jika kita ingin menjadi sarjana sipil, jangan menjadi sembrono, kita harus mempertimbangkan martabat serta sopan santun kita. Seorang pedagang selalu menjual, hanya membawa sutra dan barang mereka dan berjualan, walaupun kakinya patah.”
Sasuke akan menghunus pedangnya, Hong Do mengenali matanya tapi berpura-pura tidak ada apa-apa. Jo Nyeon berkata kalau pelelangan ini akan istirahat dulu dan meminta Sasuke mengantar Hong Do kekamarnya. Hong Do berjalan ke samping saat keluar ruangan.

Jo Nyeon bertanya apa yang membuat Hong Do datang. Hong Do berkata kalau ia sedang bosan. Jo Nyeon bertanya lagi apakah ia datang kesini karena murid kesayangannya berada disini. Hong Do berkata kalau ia mendengar kalau Jo Nyeon selalu memanjakan pelukis-pelukisnya, jadi ia berniat bekerja disini, tapi setelah melihat proses pelelangan tadi, ia jadi berubah pikiran. Jo Nyeon memberitahu Hong Do kalau ia terlalu meremehkan nilai uang. Hong Do hanya menyahut kalau ia kecewa.
Jo Nyeon berkeras kalau perdagangan berpengaruh terhadap segi moneter. Hong Do mendesah, ada peribahasa lama “orang yang hidup dengan uang akan jatuh karena uang juga.”
Hong Do: “Aku akan melihat bagaimana kau akan berakhir.”
Jo Nyeon sangat marah, ia menyapu semua yang ada di meja dengan tangannya.

Yoon Bok sedang membuat sketsa lukisan “Mistress Indulges in Spring”. Jeong Hyang masuk ke kamarnya. Ia bertanya kenapa Yoon Bok bersikap seperti itu. Yoon Bok hanya berkata kalau pun ia ketahuan, ia tidak akan membahayakan Jeong Hyang. Jeong Hyang bertanya lagi kenapa ia terlihat marah seperti orang yang ingin membunuh. Yoon Bok memberitahunya kalau ia ingin membalas dendam pada Jo Nyeon. Jeong Hyang mengingatkan kalau Jo Nyeon adalah orang yang mengerikan.
Jeong Hyang berkata bahwa baginya, Yoon Bok tidak pernah berubah. Ia bertanya apakah ada kesempatan bagi mereka berdua untuk melarikan diri bersama. Apakah Yoon Bok bisa melakukan itu. Yoon Bok bingung, ia tidak bisa menjawab pertanyaannya.

Jeong Hyang menemui Jo Nyeon dan memperlihatkan lukisan “Mistress Indulges in Spring”. Jo Nyeon melihat baju yang dipakai Jeong Hyang. Ia berpikir dalam hati, “Baju dengan bahan kain berkabung itu menandakan kematianku sebentar lagi. Tapi senyumnya menandakan kalau kematianku tidak akan membuatnya sedih maupun terganggu.”
Jeong Hyang bertanya apakah ia menyukainya. Jo Nyeon berkata kalau ia menyukainya dan akan menyuruh para bangsawan untuk menilainya. Jeong Hyang memberitahunya kalau lukisan ini amat penting dan meminta Jo Nyeon untuk mengembalikannya. Jo Nyeon berjanji, ketika ia akan pergi, ia melirik pada Mi Nyeon.
Di kamarnya, Jo Nyeon sangat marah, karena Jeong Hyang sudah membantu Yoon Bok untuk melawannya.

Di Dohwaseo, Hong Do masuk ke kamar Jang Byeok Soo. Byeok Soo bertanya apakah ia tidak malu datang ke tempatnya setelah menghancurkan pestanya juga mencuri lukisannya. Hong Do malah bertanya 10 tahun yang lalu kenapa tiba-tiba Byeok Soo bisa naik jabatan menjadi Pil Chul di Dohwaseo (Kepala Sekolah).
Byeok Soo bertanya kenapa ia menanyakan hal itu. Hong Do menjawab, karena seharusnya yang jadi Pil Chul adalah dirinya. Byeok Soo heran kenapa Hong Do berkata omong kosong di siang hari begini. Hong Do menjawab bahwa bila mereka bertemu lagi, maka akan jadi hari terakhirnya menjadi Pil Chul. Byeok Soo menyumpahinya.

Byeok Soo mengajak Jo Nyeon minum-minum. Ia memberitahunya kalau Hong Do datang menemuinya dan mengungkit masalah 10 tahun yang lalu. Ia meminta Jo Nyeon segera membereskannya, karena ia takut kalau Hong Do tahu kalau dia lah yang meracuni Kang Soo Hang.
Ternyata, Hong Do menguping pembicaraan mereka. Byeok Soo ingin Jo Nyeon cepat-cepat membereskannya. Ia memberitahu Jo Nyeon kalau  Hong Do memakai topeng dan menyamar untuk mencuri lukisannya, ia dibantu Yoon Bok yang menyamar jadi gisaeng. Jo Nyeon heran mendengar perkataannya. Byeok Soo juga meminta Jo Nyeon mencari putri Seo Jing yang masih hidup. Jo Nyeon menenangkannya, karena hal ini hanya ia yang tahu. Ia akan menyingkirkan Hong Do dari dunia seni melalui lukisannya.

Hong Do menemui Yoon Bok, ia memberitahunya kalau Byeok Soo ternyata bersekutu dengan orang-orang yang membunuh ayahnya. Yoon Bok kaget mendengarnya. Hong Do berkata masalah ini ternyata sangat rumit, ia menyuruh Yoon Bok segera meninggalkan Chawaseo itu, bila mereka tahu kalau ia bekerja sama dengannya, bisa membahayakan jiwannya. Yoon Bok tidak mau, ia ingin tetap disana dan mencari cara lain untuk menemukan bukti kejahatan mereka.
Jo Nyeon memikirkan kembali kata-kata Byeok Soo, ia kemudian teringat kembali kata-kata Yoon Bok.

Yoon Bok datang menemui Jo Nyeon. Jo Nyeon bertanya apakah Yoon Bok itu laki-laki atau perempuan? Melihat tubuhnya yang begitu lemah. Yoon Bok berkata dengan dingin apakah Jo Nyeon memanggilnya hanya untuk berkata seperti itu.
Jo Nyeon memberitahu untuk mengikuti kompetisi melukis, ia juga memberitahu kalau lawannya adalah Hong Do. Yoon Bok menolaknya, ia tidak mau bertanding dengan gurunya.
Jo Nyeon mengancamnya, jika ia tidak mau ikut kompetisi itu, maka ia akan menjual Jeong Hyang pada orang yang kasar. Yoon Bok tidak peduli, bukankah Jeong Hyang adalah simpanan favoritnya. Jo Nyeon berkata bahwa Jeong Hyang telah berselingkuh, makanya ia ingin membuangnya. Ia menambahkan, jika Yoon Bok menang, maka Jeong Hyang akan dibebaskan.

Jo Nyeon menemui Hong Do, ia memintanya untuk melakukan kompetisi melawan Yoon Bok. Hong Do tidak mau. Jo Nyeon mengancam akan menyebarkan rumor kalau Yoon Bok itu wanita. Hong Do tetap pada pendiriannya. Jo Nyeon berkata kalau ia akan memeriksa gender Yoon Bok, jika ia tidak datang ke kompetisi 10 hari lagi.

Jo Nyeon bertemu dengan Kim Gui Joo, Jang Byeok Soo dan Joo Young Jung. Mereka sedang membicarakan tentang kompetisi antara Hong Do dengan Yoon Bok. Mereka heran  Jo Nyeon bisa menyuruh mereka melakukan itu. Jo Nyeon hanya berkata, siapapun yang kalah, keduanya pasti tidak bisa menghadapi orang-orang di lingkungan seni lagi. Dan pada akhirnya keduanya tidak bisa melukis lagi. Yang lain bertanya-tanya apa maksud perkataannya.
Yoon Bok duduk sendirian di kamarnya. Ia bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Ia mengingat kata-kata Hong Do padanya.

Hong Do menemui Kim Jo Nyeon, ia berkata kalau ia akan ikut kompetisi itu, asalkan kalau ia memenangkannya, maka Jo Nyeon harus melepaskan Yoon Bok dari Chawaseonya. Jo Nyeon hanya berkata apakah Hong Do mencintai Yoon Bok sampai melakukan itu. Ia menambahkan kalau Yoon Bok mau melakukan kompetisi itu dengan perjanjian kalau ia menang, maka Jeong Hyang harus dibebaskan.
Mendengar hal itu, Hong Do menambahkan syaratnya, jika ia menang, ia harus memperoleh separuh dari taruhan, karena setelah kompetisi ini, ia tidak bisa kembali ke Dohwaseo, ia harus membuat Chawaseo sebagai penopang hidupnya. Jo Nyeon menyetujuinya.
Di tempat lain, Mi Nyeon memberitahu Jeong Hyang kalau Yoon Bok ikut suatu kompetisi.

Di Dohwaseo, para siswa magang sedang membicarakan kompetisi ini. Mereka sedang memperdebatkan siapa pemenangnya. Jika menng salah satunya pasti jadi kaya, jika kalah salah satunya akan di usir dari Chawaseo dan tidak bisa diterima di lingkungan sei lagi.

Hong Guk Young bertemu dengan Jeongjo. Ia melaporkan hasil penyelidikannya tentang Kim Jo Nyeon. Kim Jo Nyeon lahir dari kalangan rendah. Ia yatim piatu, tapi ia punya ambisi besar. Suatu saat, tiba-tiba ia membeli seluruh toko dipasar dan menjadi pedagang besar seperti sekarang ini karenanya. Ia membeli semua aset dari bangsawan Chokko yang bangkrut. Mulai saat itu, ia berlagak seperti bangsawan.
Jeongjo bertanya, siapa yang menjadi pendukungnya. Hong Guk Young menjawab bahwa pendukung utama Kim Jo Nyeon adalah Kim Gui Joo. Jeongjo tahu kalau Kim Gui Joo adalah kakak tertua Ibu Suri Jeong Sun. Ia meminta Hong Guk Young menyelidiki orang-orang yang bersekutu dengan mereka.

Di pasar mulai dibuka taruhan untuk kompetisi itu. Hari-hari berlalu, mereka terus membicarakan kompetisi ini dan bertaruh pada salah satu pesertanya.

Kim Jo Nyeon bertanya pada akuntannya tentang taruhan itu. Akuntannya menjawab bahwa anggota dewan seni ada 37, yang 18 bertaruh untuk Hong Do dan yang 19 untuk Yoon Bok. Ada seorang yang tidak ikut taruhan, yaitu Kim Myung Nyung.
Seseorang mengikuti mereka ketika mereka berjalan menyusuri pasar.

Jo Nyeon bertemu dengan Kim Myung Nyung. Ia bertanya kenapa Kim Myung Nyung tidak ikut taruhan. Kim Myung Nyung berkata bahwa ia akan membuat pilihan yang berbeda dari harapan orang banyak.

Jo Nyeon pergi ke tempat Jeong Hyang. Ia memberitahunya tentang kompetisi itu. Ia juga memberitahu kalau Yoon Bok meminta padanya untuk melepaskan Jeong Hyang jika ia menang. Jeong Hyang heran kenapa Jo Nyeon menyetujuinya.
Jo Nyeon berkata kalau Yoon Bok tidak akan menang, karena dalam lukisannya selalu ada Jeong Hyang. Tapi kali ini, ia tidak kan melukis Jeong Hyang lagi, jadi dia tidak akan melukis dengan maksimal.
Jo Nyeon bertanya siapa yang dicintai Jeong Hyang, Yoon Bok sebagai laki-laki atau Yoon Bok sebagai perempuan?
Jeong Hyang bertanya apa alasannya melakukan ini. Jo Nyeon: “Orang yang berani mengambil barangku, aku akan membuatnya jelas bahwa barang itu bukan miliknya. Aku akan menghukumnya sampai ia tidak bisa berdiri lagi.”

Jeong Hyang menemui Yoon Bok, ia memohon pada Yoon Bok untuk melukisnya untuk kompetisi itu. Yoon Bok menolak, ia tidak ingin membahayakan Jeong Hyang. Tapi Jeong Hyang berkeras bahwa ia ingin dilukis olehnya pada kompetisi itu.

Yoon Bok menunggu di choga, ia mengingat kenangannya dengan Hong Do. Ketika Hong Do datang, ia bertanya kenapa hong Do menyetujui untuk ikut kompetisi ini. Hong Do menjawab buklankah Yoon Bok duluan yang setuju. Mereka sadar kalau mereka sudah terperangkap tipu daya Jo Nyeon.
Yoon Bok bertanya apa yang terjadi jika ia kalah. Hong Do memberitahunya, jika ia kalah, ia tidak dapat melukis lagi dan tidak dapat menegakkan kepalanya di hadapan orang banyak. Yoon Bok bertanya bagaimana jika Hong Do kalah. Hong Do hanya berkata baik ia menang atau kalah, ia tetap akan di keluarkan dari Dohwaseo.oleh karena itu ia meminta Yoon Bok untuk mengalahkannya. Mereka kemudian saling berpandangan dengan penuh kasih sayang.

Painter Of The Wind – Episode 17

GADIS YANG DICARI SEJAK 10 TAHUN YANG LALU.
 

Di pabrik kertas Bimal Gorge Yoon Bok bertemu dengan Hong Do. Hong Do yakin kalau di tempat inilah kertas itu dibuat. Hong Do mengetuk pintu sebuah rumah, tapi tidak ada yang menjawab. Yoon Bok melihat ke sekeliling tempat itu. Tiba-tiba ia ingat kenangan bersama ayahnya, ketika ia dibawa ke pabrik itu.
Hong Do terus mengetuk pintu. Seorang pengrajin tua membuka pintu, ia marah karena mereka membuat keributan. Pengrajin itu ingat pada mereka.
Hong Do meminta maaf karena mengganggunya. Ia menunjukkan kertas itu dan meminta pengrajin itu untuk memeriksanya.

Pengrajin itu memeriksanya dan merasakan kualitas kertas itu. Pengrajin itu berkata bahwa ia biasa membuat kertas tiga lapis, tapi kertas yang ditunjukkan Hong Do ini terlalu tebal. Hong Do bertanya apakah ia bisa membuat kertas jenis ini. Pengrajin itu menjawab bahwa mereka tidak bisa melakukannya. Lagipula dengan kertas setebal itu, bagaimana ia bisa melukis. Tintanya tidak akan terserap ke dalam kertas.
Yoon Bok mengambil kertas itu, ia merasakan serta mencium baunya. Ia teringat kalau seorang pekerja menambahkan daun maple di atas lubang frame kemudian meletakkan selembar kertas diatasnya. Yoon Bok juga mengingat ketika ayahnya menggunakan mesin press itu untuk menghilangkan air dari kertas yang dibuatnya.
Seo Jing: “Dengan menggunakan tekanan dari mesin press ini, kamu dapat menekan dan menyatukan kertas lapisan demi lapisan. Mesin ini juga bisa digunakan untuk mengelupas lapisan kertas.”
Yoon Bok melihat lukisan pada kertas itu dan tersadar, pasti ada lapisan kertas yang tersembunyi dibawah kertas itu. Ia pun pergi untuk memasukkan kertas itu ke dalam air. Hong Do berusaha mencegahnya.
Yoon Bok memberitahunya kalau mereka harus mengelupas lapisan kertasnya sehingga bisa melihat apa yang tersembunyi didalamnya, lagipula tinta yang digunakan untuk melukis potret tanpa wajah ini mengandung banyak minyak, jadi tidak akan mudah terhapus.
Pengrajin tua itu mengerti maksud Yoon Bok, ia pun mengambil sebuah gentong yang berisi pasta gum. Jika mereka menambahkan sedikit sedimen aditif dari bubuk amilum pada kertas itu, maka zat itu bisa menyerap semua substansi gum dan berfungsi sebagai penghapus.
Mereka membantu pengrajin itu untuk mengoleskan zat itu ke atas kertas. Yoon Bok kemudian meletakkan kertas itu ke dalam air dan menambahkan campuran pasta penghilang, mengaduk campuran dan menunggu reaksi yang terjadi. Secara perlahan lapisan diatas area wajah mulai mengelupas.
Yoon Bok kemudian meletakkan kertas itu di atas mesin press, untuk menghilangkan cairan yang terkandung didalamnya dengan mengencangkan putarannya. Hong Do heran karena Yoon Bok bisa menggunakan alat itu dengan baik.
Lapisan di atas area wajah mulai memisah dan mengelupas membentuk  gambar bibir. Yoon Bok mengulangi proses itu lagi, dan bagian yang mengelupas membentuk gambar hidung. Yoon Bok terus melakukan proses itu. Ketika tinggal bagian mata yang belum terkelupas, Yoon Bok tiba-tiba merasa ragu. Ia meminta bantuan pada Hong Do untuk mengelupas bagaian mata. Ketika semua selesai, Yoon Bok melihat lukisan itu dan kaget, ternyata pembunuh ayahnya adalah Sasuke. Yoon Bok pingsan karena teringat kejadian  10 tahun yang lalu.
Flashback.
Disuatu malam, Seo Jing sedang membaca, istrinya Myeong sedang menjahit dan Seo Yoon (Yoon Bok kecil) tidur di pangkuan ibunya. Sasuke dan beberapa pria yang bertopeng mengepung rumah itu. Seo Jing mendengar suara yang asing serta bayangan orang.
Ia segera menyuruh istrinya membawa Seo Yoon bersembunyi. Sasuke muncul dari pintu depan, ia menyuruh pria-pria bertopeng itu untuk mengeledah rumah Seo Jing. Mereka menbakar semua lukisan yang ada wajahnya.
Myeong menyembunyikan Seo Yoon di belakang kayu bakar di dapur. Pria-pria itu menggeledah dapur, mereka menodongkan pedangnya pada Myeong. Ia dibawa ke dekat suaminya.
Sasuke bertanya pada Seo Jing dimana lukisan itu. Seo Jing tidak mau menjawab. Sasuke segera membunuh Seo Jing dan istrinya. Sebelum meninggal Myeong melihat ke arah putrinya. Seo Yun ketakutan dan menutup mulutnya supaya ia tidak bersuara.
Yoon Bok sadar, ia segera bangun dan merasa ketakutan. Hong Do menenangkannya dan bertanya sebenarnya apa yang terjadi padanya. Yoon Bok mengingat kenangannya dan berpikir sejenak, ia berkata pada Hong Do bahwa ia harus pergi.
Dokter menyuruh Hong Do untuk menjaga kekasihnya. Hong Do kaget. Ia tidak mengerti maksud perkataannya. Dokter itu menuduhnya berpura-pura bodoh dan menipunya karena ia bisa membedakan antara pria dan wanita.
Dokter itu memberi petunjuk tentang gender Yoon Bok yang sebenarnya. Hong Do memikirkan perkataannya
Ia mengingat kenangannya bersama Yoon Bok, ketika ia pertama kali membawanya ke rumah Seo Jing, dimana Yoon Bok bertanya tentang wanita yang dicarinya selama 10 tahun. Kemudian ketika mereka berganti pakaian setelah melukis pemandangan festival Dano. Juga ketika Yoon Bok berteriak saat ia masuk ke tempat mandi saat melukis Oh Ji Hwa Sa dan yang terakhir ketika Yoon Bok berdandan sebagai gisaeng saat ulangtahun Jang Byeok Soo.
Ia menghubungkan semua fakta yang diperolehnya dan terus memikirkannya
Sedangkan Yoon Bok berlari menuju bekas rumahnya dan melihat ke sekelilingnya. Ia tersadar kalau trauma karena melihat orangtuanya terbunuh membuatnya mengubur kenangan tentang mereka.
Ia melihat sebuah meja yang rusak. Dulu meja itu sering digunakan ayahnya untuk melukis dan memberinya senyum yang hangat.
Yoon Bok akhirnya ingat masa lalunya. Ia seakan-akan kembali ke masa lalu. Seo Jing sedang melukis Seo Yoon yang sedang bermain. Yoon Bok masuk ke dapur, ia melihat ibunya Myeong sedang memasak dan Seo Yoon sedang makan sesuatu. Myeong menengok ke arahnya dan tersenyum.
Yoon Bok duduk di teras belakang, ia melihat ayahnya sedang mengeringkan kertas di bawah sinar matahari saat Myeong dan Seo Yoon pulang dari mencari bunga liar dan tanaman obat. Seo Yoon datang dan duduk disebelahnya dan tersenyum. Yoon Bok menyentuh wajah Seo Yoon
Yoon Bok: “Yoon Ah!”
Yoon Bok menangis saat Seo Yoon tersenyum padanya.
Yoon Bok: “Yoon Ah…! Yoon Ah…! Yoon Ah…!”
Hong Do masih merenungkan semua. Ia mengingat cara Seo Jing menggunakan mesin press, ia juga teringat cara Yoon Bok menggunakan mesin itu dengan ahlinya. Hong Do menyimpulkan kalau Yoon Bok adalah putri Seo Jing yang dicarinya selama ini.
Yoon Bok sedang melihat naskah-naskah ayahnya tentang mesin press buatannya. Hong Do datang mencarinya. Yoon Bok sadar kalau Hong Do datang, ia menyeka air matanya dan memberi salam pada Hong Do. Hong Do berjalan pelan-pelan ke arah Yoon Bok dengan penuh air mata. Hong Do bertanya apakah ia putri Il Wyol Dan.
Hong Do tidak dapat menahan perasaannya lagi, ia segera memeluk Yoon Bok. Mereka menangis bersama.
Yoon Bok: “Guru, wanita yang kau cari selama 10 tahun itu adalah aku. Sekarang kau sudah menemukanku.”
Yoon Bok dan Hong Do duduk. Hong Do bertanya kenapa Yoon Bok tidak memberitahunya lebih cepat. Yoon Bok bertanya bagaimana Hong Do tahu kalau ia wanita.
Hong Do menjelaskan seharusnya ia tahu dari awal. Semua lukisannya menunjukkan bahwa ia melukis dengan perasaan wanita.
Jeongjo sedang bertemu dengan Hong Guk Young. Ia bertanya pakah sudah ada kabar dari Hong Do. Hong Guk Young menjawab bahwa ia belum mendapat kabar apapun. Jeongjo berharap mereka segera menemukan pelaku pembunuh Seo Jing dan Kang Soo Hang. Jeongjo memintanya untuk memperketat penjagaan istana dalam serta memperhatikan kubu Ibu Suri Jeong Sun.
Di tempat lain, Ibu Suri mengeluh karena sekarang Jeongjo sulit diprediksi, sehingga ia kesulitan untuk menentukan langkah selanjutnya.
Seorang mata-mata melapor pada Jang Byeok Soo. Byeok Soo bercerita pada kroninya kalau Hong Do sedang menyelidiki lukisan tanpa wajah. Mereka heran dan khawatir kalau itu bukti  peristiwa 10 tahun lalu. Byeok Soo menenangkan mereka, karena ini sudah 10 tahun, jadi bukti yang lain susah diperoleh. Tapi Jo Young Jung menyuruhnya untuk memberitahu Jo Nyeon untuk menyelidikinya.
Jo Nyeon pergi ke chawaseonya, ia mencari Yoon Bok. Tapi dua pelukis yang lain memberitahunya kalau Yoon Bok belum pulang dan setiap malam ia selalu pergi.
Jo Nyeon pun akhirnya pergi ke tempat Jeong Hyang. Tapi ia melihat Jeong Hyang sedang sakit. Ia ingin memanggilkan dokter, tapi Jeong Hyang mencegahnya, ia hanya demam saja. Jo Nyeon menyuruhnya beristirahat.
Hong Do pergi ke tempat Shi Han Pyeong, ia memarahinya karena telah membuat Yoon Bok menyembunyikan gendernya demi kepentingan Shin Han Pyeong.
Flashback.
Shin Han Pyeong mendengar kalau Seo Jing dibunuh. Tapi tidak disebutkan kalau putrinya juga terbunuh. Ia pun segera ke rumah Seo Jing untuk mencari Seo Yoon. Ia menemukannya sangat terguncang dan linglung. Ia segera membawa Seo Yoon ke rumahnya dan mendandaninya sebagai anak laki-laki.
Han Pyeong memberitahu Hong Do kalau Yoon Bok sangat terguncang hingga melupakan nama ayahnya. Kelihatannya ia mempunyai bakat yang sana dengan ayahnya. Ia beralasan membesarkan Yoon Bok sebagai laki-laki untuk menjaganya dan mengembangkan bakatnya.
Hong Do berkata bahwa ia membuat Yoon Bok bingung dengan gendernya. Dengan keadaannya yang sekarang, ia tidak bisa menjadi istri seseorang maupun suami seseorang. Ia menambahkan bahwa hidup Yoon Bok sekarang adalah miliknya sendiri, Han Pyeong tidak boleh memperalatnya lagi. Kalau itu terjadi, ia tidak akan memaafkannya.
Di Chawaseo, Yoon Bok melukis, sedangkan Jeong Hyang memainkan gayageumnya. Ia sedikit pucat. Yoon Bok ragu-ragu melanjutkan lukisannya, ia mendengarkan musik yang dimainkan Jeong Hyang, ia sadar kalau Jeong Hyang kehilangan konsentrasi. Yoon Bok meneruskan lukisannya “Who Will Be My Hero at The Brothel”.
Setelah selesai. Para pelanggan Jo Nyeon membahasnya cerita dibalik lukisan itu. Kim Myung Nyung memuji kalau lukisan Yoon Bok selalu punya cerita, menurutnya Yoon Bok  adalah salah satu pelukis terbaik di Joseon.
Jo Nyeon memarahi Jeong Hyang karena memaksakan diri untuk menghibur tamu. Ketika Jeong Hyang mau pergi, Jo Nyeon melihat kalau sepatu Jeong Hyang kotor, iapun segera membungkuk dan membersihkannya. Jeong Hyang mengucapkan terimakasih. Yoon Bok yang melihat itu terlihat sedih.
Sasuke menjaga di pintu Gibang, Jo Nyeon sedang mencari informasi tentang Jeong Hyang di gibang tersebut.
Mi Nyeon bertanya kepada Jeong Hyang kenapa ia tidak mau makan makanan kiriman Jo Nyeon. Padahal makanan itu adalah makanan kesukaannya. Jeong Hyang menyuruh Mi Nyeon yang memakannya. Mi Nyeon sedih melihat keadaan nonanya. Ia bertanya apakah Yoon Bok yangmenyebabkannya seperti ini. Jeong Hyang tidak menjawab, ia hanya menangis.
Yoon Bok dan Hong Do sedang berada di rumah Seo Jing. Mereka melihat naskah-naskah miliknya. Yoon Bok bertanya, “Orang seperti apa ayahku itu?”
Hong Do:” Ayahmu adalah orang yang tidak biasa dan spesial. Saat aku punya waktu luang, aku akan menemuinya. Kami mengobrol sampai pagi.”
Yoon Bok berkata kalau ia mulai mengingat ayahnya. Ayahnya juga punya ruang eksperimen sendiri.
Hong Do: “Ayahmu punya kekuatan dan kemampuan untuk mengubah dunia. Semakin aku mengenalnya, semakin aku dekat dengannya.”
Yoon Bok terlihat sedih, ia teringat kalau ayahnya memberinya pesan terakhir yang berupa cerita tentang 2 lukisan. Yoon Bok dan Hong Do pun segera ke perpustakaan Dohwaseo untuk mencari lukisan itu.
Jo Nyeon sedang berada di rumah lelangnya. Ia sedang melelang lukisan Yoon Bok. Para pelanggan sedang membahas lukisan itu. Kim Myung Nyung tidak henti-hentinya memuji Yoon Bok. Jo Nyeon segera memulai pelelangan, para pelanggan pun mulai bersaing.
Akhirnya lukisan itu terjual dengan harga yang mahal. Jo Nyeon  berkata kalau lukisan itu terjual dengan harga tertinggi selama ia punya rumah pelelangan itu. Pelanggan yang membelinya ingin bertemu dengan Yoon Bok. Jo Nyeon berjanji untuk membawanya suatu saat nanti.
Jo Nyeon pergi kekamar Yoon Bok. Tapi Yoon Bok sedang pergi, ia pun masuk ke kamar itu. Ia melihat lukisan “Midnight Rendevous”, ia pun mengambilnya dan mempelajarinya.. Ia menyuruh Sasuke untuk melihatnya juga., ia merasa ada yang aneh tentang lukisan ini. Wanita dalam lukisan itua adalah Jeong Hyang sedang pria dalam lukisan itu adalah…
Seorang pelayan mengganggu mereka. Ia berkata kalau pelayan Jeong Hyang ingin menemuinya. Mi Nyeon meminta tolong pada Jo Nyeon untuk menyelamatkan nonanya. Ia sakit karena cinta pertamanya. Mi Nyeon memberikan lukisan Jeong Hyang sedang bermain gayageum buatan Yoon Bok. Jo Nyeon mengenali kalau lukisan itu buatan  Yoon  Bok. Ia pun jadi marah.
Hong Do dan Yoon Bok sedang mempelajari 2 lukisan yang diambil dari perpustakaan Dohwaseo. Hong Do berkata kalau lukisan ini dibawah standar untuk disimpan di perpustakaan, karena banyak metode goresannya yang salah.
Ia memperhatikan bagian yang salah, kemudian tersadar kalau bagian tersebut menunjukkan sesuatu seperti sandi. Hong Do berusaha memecahkan sandi itu dan didapatkan kata “Dibunuh oleh….”Mereka pun kaget.
Kim Jo Nyeon mengingat tentang Jeong Hyang dan Yoon Bok. Ia tersadar kalau selama ini mereka berdua sering mencuri pandang. Jo Nyeon menjadi cemburu dan memukul meja.
Hong Do dan Yoon Bok berusaha memecahkan sandi pada lukisan kedua yang merupakan lukisan burung bangau. Mereka berhasil memecahkannya, hasilnya “Jo Nyeon”. Jika digabungkan dengan lukisan pertama menjadi “Dibunuh oleh Jo Nyeon”. Yoon Bok terdiam.

Painter Of The Wind – Episode 16

LUKISAN POTRET TANPA WAJAH
 

Di sebuah choga (rumah beratapkan jerami), pelayan Jang Byeok Soo memukuli Kim Hong Do, Yoon Bok melihatnya dengan ngeri.
Byeok Soo: “Apakah lukisan lebih penting dari tanganmu?”
Seorang pelayan meletakkan tangan Hong Do ke sebuah meja, sedangkan pelayan yang lain mengangkat sebuat benda dari besi yang berat untuk dipukulkan ke tangan Hong Do.
Yoon Bok berlari menahan mereka . ia melemparkan kelima gulungan lukisan itu ke lantai. Hong Do berusaha mencegahnya, tapi Yoon Bok lebih mementingkan tangan gurunya dari pada lukisan. Jang Byeok Soo heran melihat Yoon Bok yang berdandan begitu cantik, pantas saja Hong Do begitu memanjakannya. Mereka mengambil lukisan itu dan pergi.

Yoon Bok bertanya apakah ia baik-baik saja. Hong Do memarahinya karena keluar dari tempat persembunyiannya. Yoon Bok berteriak kalau tangan Hong Do lebih penting daripada semua lukisan itu. Hong Do merasa sedih, karena mereka gagal melaksanakan tugas dari Jeongjo. Yoon Bok menghiburnya, pasti ada cara lain untuk menyelesaikan lukisan ini.
Jang Byeok Soo mempersembahkan lukisan itu pada Jo Young Jung. Jo Young Jung merasa senang, ia bertanya sebenarnya dalam semua lukisan itu ada hal penting apa? Kim Gui Joo memberitahunya kalau Kim Hong Do ditugaskan untuk mencari lukisan Putra Mahkota Sado yang hilang 10 tahun yang lalu. Dalam kelima lukisan itu terdapat petunjuk tentang lukisan Yejin yang hilang. Untung saja mereka bisa mendapatkannya, mereka pun merasa puas.
Sudah tengah malam, Yoon Bok sedang membuat outline dari draft pertama lukisan Putra Mahkota Sado. Hong Do melihatnya, kemudian ia melepaskan doponya dan menyelimutkannya ke atas tubuh Yoon Bok (dopo: baju luar pada pakaian pria), Yoon Bok pun tersenyum. Yoon Bok menyelesaikan pekerjaannya, mereka pun berjanji untuk meneruskan lukisan itu keesokan harinya.
Yoon Bok melepaskan dopo yang menyelimuti badannya dan memakaikannya pada tubuh Hong Do yang membuat mereka begitu dekat dan menimbulkan perasaan berbeda pada keduanya.
Hong Do: “Ini terasa aneh….Ini seperti….Kita seperti pasangan suami istri.”
Yoon Bok menatapnya dengan penuh perasaan.
Yoon Bok: “Bagaimana jika….aku seorang wanita. Apa yang akan terjadi?”
Hong Do bingung dan kehilangan kata-kata.
Hong Do: “Jika kau seorang wanita……..”
Hong Do mencium kening Yoon Bok, Yoon Bok menangis dan memegang dopo Hong Do dengan erat.
Yoon Bok sedang merenung, ia teringat kenangannya bersama Hong Do ketika ia menggendongnya untuk mengikuti ujian negara, berdiskusi dengannya dan ketika Hong Do sedang membimbing tangannya yang terluka untuk melukis.
Hong Do juga sedang merenung, ia mengingat ketika mereka berganti pakaian setelah melukis festival dano, Yoon Bok berteriak ketakutan ketika mandi dan bayangan wajah Yoon Bok ketika mereka melukis Oh Ji Hwa Sa.
Jun Suk masuk dan membawakan makam malam Hong Do. Jun Suk ingin membantunya untuk mengganti perbannya, tapi Hong Do menolak dan menyuruhnya pergi beristirahat. Ia menambahkan, jika Jun Suk sudah menemukan pria yang baik, sebaiknya ia menikah. Jun Suk tersipu malu, ia hanya bergumam, “Orrabunim, kamu benar-benar……..orang yang ingin aku nikahi.”
Di Chawaseo, seorang pelayan mencari Yoon Bok, pelukis yang lain berkata kalau ia tidak melihatnya seharian ini. Mi Nyeon yang memata-matai mereka segera pulang ke kediaman Jeong Hyang.
Di kamarnya, Jeong Hyang terlihat sangat khawatir. Ia bertanya pada Mi Nyeon apakah Yoon Bok sudah kembali. Mi Nyeon menjawab bahwa Yoon Bok belum kembali dan Jo Nyeon mencarinya. Jeong Hyang menyuruh Mi Nyeon untuk menunggu kedatangan Yoon Bok di luar dan memberinya sebuah jangot (tutup kepala) dan membisikkan sesuatu ke telinga Mi Nyeon.
Jo Nyeon sedang bersama dengan seorang pelanggannya ketika seorang pelayan melaporkan padanya kalau Yoon Bok sedang pergi.
Jeong Hyang mondar-mandir di kamarnya, ia sangat cemas. Yoon Bok datang dan menyapanya. Jeong Hyang segera memberitahunya kalau Jo Nyeon mencarinya dan menyuruhnya untuk segera menyelesaikan lukisannya. Yoon Bok meminta maaf, ia teringat ketika pertama kali melihat Jeong Hyang mengendarai kuda di jembatan, ia meminta Jeong Hyang untuk berpakaian seperti itu untuk di lukisnya.
Yoon Bok: “Aku melihat wanita yang paling cantik dan elegan mengenakan Chonmo sambil mengendarai kuda menyeberangi jembatan.”
Jeong Hyang berganti pakaian dan berpose, sementara Yoon Bok melukisnya.
Setelah selesai, Jeong Hyang melihat lukisan itu dan berkata bahwa lukisan itu terlihat seperti dilukis selama seharian, sehingga Yoon Bok bisa menutupi kepergiannya. Yoon Bok bertanya apakah Jeong Hyang menyukai lukisannya, Jeong Hyang mengiyakan.
Jeong Hyang: “Bisakah kita bersama seperti ini. Aku ingin kembali ketika ke masa yang menyenangkan dulu, ketika kau menjadi kupu-kupu dan aku menjadi bunga. Walaupun sekarang aku hanya hiasan, tapi untukmu hatiku sangat tulus. Perasaan ini tidak akan hilang.”
Yoon Bok tersentuh dengan perkataan Jeong Hyang, ia memintanya untuk mengadakan pertemuan rahasia malam ini di gerbang timur. Ia pun pergi menemui Jo Nyeon bersama Mi Nyeon.
Jo Nyeon menyambutnya. Yoon Bok berkata bahwa ia mengikuti perintahnya untuk melukis Jeong Hyang. Mi Nyeon pun membenarkan bahwa Yoon Bok mulai melukis pukul 11 siang dan baru selesai sekarang. Mi Nyeon menyerahkan lukisan Yoon Bok. Jo Nyeon dan pelanggannya melihat lukisan itu. Mereka sangat puas.
Hong Do menunggu Yoon Bok di choga, Yoon Bok datang dan berkata kalau semuanya selesai ia ingin mengatakan sesuatu padanya. Hong Do bertanya apa yang ingin dikatakannya, Yoon Bok hanya tersenyum.
Hong Do dan Yoon Bok menghadap Jeongjo. Jeongjo bertanya apakah mereka telah melaksanakan perintahnya. Hong Do melaporkan bahwa sebelum meninggal, gurunya memberikan 5 lukisan pada perkumpulan 5 bambu dan dari setiap lukisan itu ia bisa memperoleh gambar mata, hidung, bibir dan telinga yang merupakan bagian dari lukisan Yejin. Yoon Bok menambahkan bahwa ia telah menirunya di kertas lain. Kim Soo Han membagi bagian lukisan untuk berjaga-jaga apabila terjadi sesuatu padanya.
Jeongjo ingin melihat lukisan tersebut. Yoon Bok memberikannya. Jengjo membuka kotak dan membuka sketsa lukisan. Ini pertama kalinya Jeongjo melihat lukisan potret ayahnya. Ia sangat rindu setelah ayahnya meninggal berpuluh tahun yang lalu. Jeongjo terbawa perasaannya, ia menangis dan menyentuh lukisan itu dengan lembut.
Hong Do dan Yoon Bok menatap Jeongjo yang menangis kemudian melaporkan kalau mereka tidak berhasil mendapatkan lukisan yang terakhir. Jeongjo bertanya apakah mereka mempunyai solusinya.
Yoon Bok menjawab bahwa ia akan melukis bentuk wajah Putra Mahkota Sado sesuai ingatan Jeongjo. Mereka pun memulainya, setelah beberapa kali salah, akhirnya mereka dapat menyelesaikan sketsa lukisan itu. Jeongjo merasa sangat puas.
Kim Gui Joo dan Jo Young Jung sedang berjalan di koridor, tiba-tiba seorang kasim datang dan memberitahu mereka kalau Jeongjo bertemu dengan Hong Do serta Yoon Bok. Jo Young Jung terlihat sangat kaget.
Jeongjo berterimakasih pada keduanya, karena telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Hong Do berkata pada Jeongjo bahwa ia ingin menunjukkan sesuatu. Ia berkata bahwa 10 tahun yang lalu, guru dan temannya mengalami nasib yang mengenaskan, tapi sebelum meninggal, temannya meninggalkan sebuah lukisan. Tapi lukisan itu sangat aneh, karena lukisan potret tanpa wajah. Ia menduga kalau lukisan itu adalah lukisan orang yang membunuh guru dan temannya.
Jeongjo melihat lukisan itu. Yoon Bok yang melihatnya, sadar kalau itu adalah lukisan terakhir ayahnya. Hong Do meminta persetujuan Jeongjo untuk menyelidiki masalah ini. Ia ingin mengungkap kematian guru dan sahabatnya. Jeongjo memberikan ijin dan berkata bahwa musuh mereka juga musuhnya. Yoon Bok berterimakasih dalam hati.
Kim Gui Joo dan Jo Young Jung melaporkan pada Ibu Suri Jeong Sun kalau Jeongjo bertemu dengan Hong Do dan Yoon Bok. Mereka memberitahunya kalau Jeongjo sedang mencari lukisan Yejin yang hilang 10 tahun yang lalu. Tapi cuma ada dua kemungkinan untuk mereka. Pertama, mereka berhasil menyelesaikannya dan yang kedua mereka gagal melaksanakannya. Tapi karena semua lukisan sudah di rampas Jang Byeok Soo, mereka tidak mungkin menyelesaikannya. Ibu Suri Jeong Sun merasa tidak yakin, ia akan mencari tahu.
Ibu Suri sedang makan buah peach dengan Jeongjo. Ia berkata kalau buah itu adalah buah kesukaan Putra Mahkota Sado. Ia menjadi sedih bila teringat tentang dirinya. Jeongjo menjawab bahwa orang yang telah meninggal pasti akan meninggalkan kenangan. Ibu Suri  memberitahunya bahwa ayahnya suka mempermainkan orang lain dan Yeongjo sudah menghukumnya. Ia meminta agar Jeongjo tidak membalas dendam atas kematian ayahnya pada para menteri. Jeongjo marah, tapi ia menyembunyikan emosinya, ia hanya berkata kalau seorang anak wajib mengingat orangtuanya yang telah meninggal. Ibu Suri berkomentar kalau kenangan itu hanya indah bila dikenang. Jeongjo tersenyum dan menahan kemarahannya.
Ibu Suri mengira bahwa Jeongjo tidak berhasil menemukan potret ayahnya.
Jeongjo yang sangat marah bertemu dengan Hong Guk Young. Ia menenangkan Jeongjo dan berkata bahwa mereka telah menemukan lukisan Yejin, jadi mereka bisa mengonfrontasi grup Ibu Suri.Tapi Jeongjo berkata bahwa jalan mereka masih panjang. Ia tidak mau gegabah dan juga, ia harus menemukan pembunuh Kang Soo Han serta Seo Jing. Setelah ditemukan, mereka bisa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi 10 tahun yang lalu serta menegakkan kebenaran.
Hong Do dan Yoon Bok sedang minum makgulli. Hong Do bertanya apa yang ingin ia katakan tadi pagi. Tapi Yoon Bok tidak mau mengatakannya. Ia meminta Hong Do untuk menceritakan tentang temannya Seo Jing.
Hong Do: “Ia adalah sahabat yang terbaik. Tegas, orang yang baik, hatinya luas seperti langit dan laut.”
Yoon Bok senang mendengar penjelasan Hong Do.
Hong Do: “Ia 8 tahun lebih tua dariku, tapi mau menerima perbedaan kami. Sifatnya sangat terbuka dan berterus terang.”
Yoon Bok ingin melihat lukisan terakhir ayahnya. Hong Do memberikannya. Yoon Bok bertanya, jika itu lukisan potret, kenapa wajahnya tidak dilukis dulu? Hong Do menjelaskan, jika bagian pakaiannya dilukis sedemikian detil, maka wajahnya pasti sudah dilukis, tapi mungkin disembunyikan seperti lukisan Yejin kemarin. Jadi mereka harus mencari tahu di bagian mana wajahnya tersembunyi.
Hong Do melihat ketebalan kertasnya, ia belum pernah melihat kertas yang begitu tebal, mereka harus mencari tempat kertas itu diproduksi. Yoon Bok teringat kenangan dengan ayahnya. Ia pun berteriak, “daun maple.”
Hong Do bingung apa maksudnya. Yoon Bok menjelaskan bahwa dulu ia pernah diajak ayahnya pergi ke tempat pembuatan kertas yang menggunakan cara yang berbeda. Hong Do bertanya dimana tempat itu. Yoon Bok mencoba mengingat dan berkata bahwa tempatnya di Bimal Gorge. Tiba-tiba Yoon Bok teringat sesuatu, ia pun pamit pada Hong Do dan segera pergi.
Jeong Hyang sedang melihat burung dalam sangkar, Mi Nyeon mendekatinya. Jeong Hyang bercerita bahwa Yoon Bok mengajaknya bertemu secara rahasia. Mi Nyeon bertanya apakah ia senang. Jeong Hyang merasa senang, tapi ia ingin tahu apa yang sebenarnya ingin dibicarakan Yoon Bok.
Tiba-tiba Jo Nyeon datang dan melihat bahwa mood Jeong Hyang sedang bagus. Jeong Hyang hanya menjawab bahwa setiap hari moodnya selalu sama. Jo Nyeon bertanya kapan ia akan melepaskan burung yang satunya. Jeong Hyang tidak menjawab.
Jeong Hyang mempersiapkan dirinya, kemudian pergi ke sebelah timur jembatan. Yoon Bok sudah menunggunya dengan membawa lentera. Mereka berjalan-jalan sejenak. Kemudian Jeong Hyang bertanya apa yang ingin dikatakankannya. Yoon Bok berhenti dan meminta maaf pada Jeong Hyang.
Yoon Bok: “Aku…. supaya bisa melukis…”
Jeong Hyang: “Lukisanmu benar-benar bagus.”
Yoon Bok: “Aku harus masuk ke Dohwaseo supaya bisa jadi pelukis resmi kerajaan.”
Jeong Hyang: “Kau sudah melakukannya bukan.”
Yoon Bok: “Dan juga….aku hanya bisa melakukan ini untuk mewujudkannya.”
Jeong Hyang: “Apa maksudmu?”
Yoon Bok: “Aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf.”
Yoon Bok memegang tangan Jeong Hyang dan meletakkannya ke dadanya. Jeong Hyang akhirnya sadar bahwa Yoon Bok adalah seorang perempuan. Jeong Hyang merasa tidak percaya. Yoon Bok terus meminta maaf.
Yoon Bok: “Sebagai seorang wanita, aku sangat berdosa karena telah menyimpan hatimu dalam hatiku.”
Jeong Hyang: “Kau ingin aku melakukan apa? Setelah ini apa yang akan aku lakukan?”
Jeong Hyang begitu sedih. Yoon Bok terus meminta maaf. Mereka telah sampai di pintu gerbang Chawaseo. Jeong Hyang berkata bahwa ini akhir dari segalanya, mulai besok Yoon Bok bukan lagi pelukis yang dicintainya. Mereka pun berpisah.
Yoon Bok: “Ketika aku menutup mataku, aku masih bisa melihatmu dengan jelas. Aku bisa melihat posturmu. Aku benar-benar minta maaf. Bagiku…kamu adalah orang tercantik.”
Jo Nyeon sedang memeriksa gudang penyimpanan. Salah seorang pegawainya melapor kalau Kim Myung Nyung belum memberikan dokumen pembelian. Jo Nyeon akan menyogoknya dengan lukisan Yoon Bok serta hiburan dari Jeong Hyang.
Hong Do pergi ke pabrik kertas Hanshi di Bimal Gorge. Ia bertemu dengan pengrajin yang sudah tua. Ia memberikan sampel kertas dan bertanya apakah kertas ini dibuat disini. Ia melihat sekeliling . Ada sebuah mesin press yang besar. Hong Do tahu bahwa mesin itu milik Seo Jing. Ia pura-pura bertanya tentang mesin itu. Pengrajin tua itu menjelaskan bahwa mesin itu dibuat oleh Il Wyol Dan (Seo Jing), bahkan ia sering datang bersama putrinya.
Mata-mata yang dikirim Byeok Soo melaporkan hasil pekerjaannya pada Byeok Soo. Byeok Soo bingung kenapa Hong Do pergi ke pabrik kertas, ia pun menyuruh mata-matanya untuk terus mengamatinya.
Yoon Bok keluar dari kamarnya, ia disambut oleh dua pelukis yang lain, mereka melihat  Jeong Hyang. Ia terlihat sangat sedih. Yoon Bok merasa bersalah. Jo Nyeon datang dan menyuruh pelukis yang lain pergi. Ia menyuruh Yoon Bok untuk melaksanakan perintahnya kemarin dengan baik.
Kim Myung Nyung datang ke pesta yang dibuat Jo Nyeon untuknya. Ia duduk ditemani oleh Jeong Hyang. Yoon Bok melukis “Amusing Spring Day”. Myung Nyung terlihat penasaran terhadap apa yang dilukis Yoon Bok.
Jo Nyeon bertanya tentang dokumen pembelian untuk istana, Myung Nyung berkata bahwa ia masih mempertimbangkannya. Ia menambahkan dalam pesta sebaiknya mereka tidak membicarakan bisnis. Jo Nyeon memberi isyarat pada Yoon Bok, ia pun pergi untuk mengambil bubuk pewarna. Myung Nyung terlihat kecewa.
Yoon Bok kembali sambil membawa nampan pewarna. Ia meneruskan lukisannya.  Myung Nyung terlihat senang. Jo Nyeon bertanya apakah grup dagang yang lain yang akan memperoleh dokumen itu. Myung Nyung menjawab bahwa ia belum membuat keputusan. Jo Nyeon memberi isyarat dan Yoon Bok pergi mengambil air, Myung Nyung terlihat kecewa.
Ini taktik yang digunakan Jo Nyeon untuk mengulur waktu. Yoon Bok kembali dan wajah Myung Nyung cerah lagi. Ia bertanya kapan Yoon Bok akan menyelesaikannya. Jo Nyeon berkata bahwa semua ada waktunya, ia berkata bahwa grup dagang Sandang memberikan syarat-syarat untuk memasok barang ke istana. Myung Nyung bertanya apakah ini taktiknya. Ia menyerah, ia akan ke istana dan membuat keputusan tentang dokumen pembelian. Jo Nyeon merasa senang dan memberi tanda pada Yoon Bok. Yoon Bok pun menyelesaikan lukisannya.
Yoon Bok sedang melihat lukisannya di kamarnya, ia melihat gambar Jeong Hyang yang terlihat sedih. Tiba-tiba Jo Nyeon masuk. Ia berterimakasih pada Yoon Bok karena telah melakukan pekerjannya dengan baik dan menyuruhnya beristirahat.

Setelah Jo Nyeon pergi, Yoon Bok berganti pakaian dan pergi menemui Hong Do. Mereka berjalan menuju pabrik kertas. Hong Do berteriak, “apakah ada orang disini?” Pabrik itu sepi, tidak ada orang. Yoon Bok teringat kalau ayahnya pernah membawanya kesini.

sumber: http://www.bengawanseoul.com

Painter Of The Wind – Episode 15

5 BUAH BAGIAN DARI LUKISAN POTRET

Hong Do sedang duduk di rumah Kim Myung Nyung, ia sedang berpikir keras. Yoon Bok datang sambil membawa air. Ia membisikkan sesuatu ke telinga Kim Hong Do,Yoon Bok mengikatkan kuas ke tangan kanannya, ia pun mulai melukis.

Myung Nyung melihat mereka melukis. Hong Do melukis “Dancing Child (Mudong).” Shin Yoon Bok tersenyum ketika melihat lukisannya mulai terlihat. Hong Do membutuhkan kacamatanya, Yoon Bok membantunya mengenakan kacamata itu. Ia sedikit canggung karena ia seperti istri yang sedang membantu suaminya mengenakan kacamata.
Kim Gui Joo sedang berada di rumah Jo Young Jung. Mereka sedang membicarakan Hong Do yang ingin melihat lukisan potret yang dibuat oleh almarhum gurunya. Mereka tahu berita ini dari mata-mata yang mengikuti Hong Do. Mereka yakin bahwa Myung Nyung yang eksentrik tidak akan memperlihatkan lukisannya pada Hong Do.
Hong Do telah menyelesaikan lukisannya. Ia memberikan lukisannya pada putra Myung Nyung. Ia tetap tidak berekspresi. Myung Nyung bertanya apakah lukisan itu dapat membuat putranya tertawa. Hong Do menjawab bahwa hal yang paling sulit dimengerti adalah perasaan yang ada dalam hati, ia sudah berusaha, jadi mereka tinggal melihat hasilnya.
Putra Myung Nyung mengambil lukisan itu untuk melihat lebih jelas. Ia mengobservasi lukisan itu. Ia seperti mulai mendengar musiknya dan melihat penari cilik itu menari di depannya. Ia pun tersenyum kemudian tertawa terbahak-bahak. Hong Do dan Yoon Bok merasa lega. Myung Nyung berterimakasih kepada mereka berdua.
Kim Myung Nyung bertanya kenapa mereka bisa melakukannya. Hong Do bercerita bahwa saat datang kesini ia menabrak putranya, tapi putranya tidak meminta maaf, begitu juga saat ia memperkenalkan diri, ia merasa aneh. Maka Yoon Bok bertanya pada pelayan apa yang terjadi. Karena ia menderita sakit yang lama, maka ia kehilangan pendengarannya. Ia tidak dapat tersenyum karena tidak pernah lagi mendengar suara dalam hidupnya, oleh karena itu ia melukis tentang nada dan  suara.
Myung Nyung memujinya, ia pun memenuhi janjinya untuk memperlihatkan lukisan potret miliknya.
Yoon Bok dan Hong Do melihat potret itu. Myung Nyung merasa bukan dirinya yang terlukis dalam potret itu. Yoon Bok membandingkan mata Myung Nyung dengan mata dalam potret. Ternyata berbeda.
Myung Nyung bercerita bahwa ada 5 buah lukisan yang seperti itu. Lukisan-lukisan itu dimiliki oleh anggota perkumpulan lima pohon bambu. Yoon Bok teringat lukisan pohon bambu yang ditinggalkan Kang Soo Han. Sekarang mereka mengerti maksudnya.
Di rumah Jo Young Jung, Kim Gui Joo dan Jang Byeok Soo bertemu. Jo Young Jung heran mengapa Myung Nyung memberikan lukisannya pada Hong Do dan Yoon Bok Kim Gui Joo berkata bahwa mereka tidak bisa diam saja.  Byeok Soo pun berjanji untuk menyelidikinya.
Yoon Bok berada di kamarnya, ia sedang meniru gambar mata dari lukisan Myung Nyung ke kertas lain. Tampaknya Kang Soo Han meninggalkan 5 petunjuk dalam 5 lukisan, mereka sudah mendapatkan satu, mata.
Hong Do dan Yoon Bok bertemu dengan tuan Gong untuk mencari informasi. Hong Do bertanya tentang anggota perkumpulan 5 pohon bambu. Tuan Gong pun memberitahu mereka.
Yang pertama adalah Kim Myung Nyung. Yang kedua adalah Bo Yung Gun yang suka mengkoleksi lukisan pemandangan. Hong Do melukis sebuah lukisan pemandangan dan memberikannya pada Bo Yung Gun sebagai ganti lukisan potretnya. Yoon Bok meniru petunjuk kedua, hidung.
Yang ketiga adalah Tuan Yun Eun yang menyukai lukisan vulgar dan erotis. Yoon Bok memberikan lukisannya dan memperoleh potret dari Tuan Yun Eun. Yoon Bok meniru petunjuk ketiga mulut dan jenggot.
Yang keempat adalah Tuan Hye Myeong yang menyukai lukisan binatang atau pertanian. Hong Do memberikan lukisan teratai untuk mendapatkan potretnya.
Jo Young Jung heran kenapa Hong Do mencari lukisan dari empat orang itu dan apa hubungannya dengan potret pangeran Sado. Byeok Soo menjelaskan bahwa mereka mencari anggota perkumpulan bambu. 10 tahun lalu perkumpulan ini didirikan oleh 5 pelukis. Mereka sudah mendapatkan 4 tinggal satu lagi. Byeok Soo menenangkan mereka bahwa Hong Do tidak akan mendapatkan lukisan itu karena orang kelima adalah dirinya.
Di Dohwaseo sedang diadakan rapat staff. Setelah rapat selesai, Byeok Soo bertanya pada Hong Do apakah tangannya baik-baik saja. Hong Do membenarkan. Byeok Soo berkata bahwa Hong Do adalah pelukis yang terkenal di Joseon, jika tangannya tidak sembuh, lebih baik ia meninggalkan Dohwaseo. Hong Do mengejek apakah ia takut kalau tangannya cepat sembuh?
Beberapa orang pelukis membicarakan hadiah apa yang akan mereka berikan pada ulang tahun Byeok Soo. Salah satunya bertanya apakah Han Pyeong akan datang. Ia hanya menjawab bahwa ia ingin di rumah saja. Setelah kematian Young Bok dan dipecatnya Yoon Bok, ia terlihat bertambah tua. Hong Do bertanya pada dirinya sendiri, “Byeok Soo ulang tahun? Kapan?”
Yoon Bok sedang meniru bagian telinga dari lukisan tuan Hye Myeong. Hong Do berkata bahwa mereka tinggal mencari bagian dagu dari lukisan Jang Byeok Soo, maka semuanya selesai. Tiba-tiba Jo Nyeon datang berkunjung. Yoon Bok pun panik dan menyuruh Hong Do bersembunyi. Ia tidak mau. Yoon Bok memaksanya dan menyembunyikannya di pojokan kamar, ia juga menyingkirkan barang-barang Hong Do. Ia telah mempersiapkan sebuah lukisan untuk mengantisipasi kedatangan Jo Nyeon.
Jo Nyeon melihat lukisan Yoon Bok dan memujinya. Ia baru sekali bertemu dengan Jeong Hyang, tapi ia bisa melukisnya dengan sempurna. Yoon Bok merendahkan dirinya, bahwa lukisannya masih kasar. Jo Nyeon menyuruhnya datang ke tempat Jeong Hyang, sehingga lukisannya lebih bernyawa. Ia pun pergi.
Hong Do bertanya pada Yoon Bok apakah ia kemari karena tahu Jeong Hyang ada disini? Yoon Bok berkata bahwa ia bertemu Jeong Hyang lagi setelah ia menerima tawaran Jo nyeon. Hong Do merasa sedikit tidak enak.
Jeong Hyang sedang mengganti senar gayageumnya. Jo Nyeon datang berkunjung dan bertanya apakah ia sudah tidur. Ia memberitahu bahwa ia telah menyuruh Yoon Bok untuk datang ke tempatnya supaya dapat menyelesaikan lukisannya dengan baik. Ia menambahkan bahwa ia akan menunggu sampai Jeong Hyang benar-benar mencintainya. Mi Nyeon berkata dengan gembira bahwa mulai sekarang Jeong Hyang bisa bertemu lagi dengan Yoon Bok. Jeong Hyang merasa perasaannya aneh, ia tidak tahu apakah ia menyukai atau membenci Yoon Bok karena ia tidak tahu apa yang ada di hati Yoon Bok
Yoon Bok dan Hong Do sedang mempelajari tiruan dari lukisan yang ia tiru. Mereka kemudian berpikir bagaimana cara mendapatkan lukisan dari Byeok Soo. Hong Do teringat bahwa besok adalah ulangtahun Byeok Soo jadi bakal ada banyak orang di rumahnya. Ini waktu yang tepat untuk menyusup. Tapi mereka belum tahu dimana lukisan itu disimpan. Hong Do berkata bahwa ia akan mencari cara, karena penyusupan ini terlalu berbahaya, maka ia akan melakukannya sendiri.
Di kediamannya, Byeok Soo menempatkan 2 orang pelayan untuk menjaga ruang perpustakaan
Hong Do membawa 4 buah lukisan ke bekas rumah Seo Jing. Ia tidak suka berada di kamar Yoon Bok.
Yoon Bok menemui Jeong Hyang, mreka berbicara seperti orang asing. Ia ingin meminta bantuannya. Yoon Bok ingin meminjam baju Jeong Hyang. Jeong Hyang pun setuju. Yoon Bok memegang tangannya, ia sangat berterimakasih.
Jeong Hyang mendandani Yoon Bok dengan memakai gache dan baju wanita. Jeong Hyang berkata bahwa ia akan berbicara dengan ibunya untuk mengurus semuanya. Yoon Bok melihat ke cermin, ia tampak cantik. Mi Nyeon memujinya, Yoon Bok terlihat senang. Ia pun pergi.
Jo Young Jung dan Kim Gui Joo pergi ke rumah Byeok Soo. Mereka mengucapkan selamat ulang tahun. Kim Gui Joo memuji Byeok Soo yang beruntung mempunyai anak yang berbakat yang akan membuatnya bangga. Byeok Soo terlihat senang, ia mengundang mereka masuk ke dalam untuk menikmati tarian singa (barongsai).
Tuan Gong memberikan peta rumah Byeok Soo kepada Hong Do, ia menjelaskan keadaan di dalam rumah itu. Kemudian ia melatih Hong Do untuk beberapa gerakan, karena ia nanti akan menyamar menjadi salah satu penari yang akan menari di pesta Byeok Soo. Ia juga mengajarinya bernyanyi dan memberinya sebuah topeng untuk menutupi wajahnya.
Byeok Soo menjamu tamu-tamunya yang penting, sedangkan Hyo Won menyambut tamu yang lain. Seorang siswa magang bertanya apakah mereka mengundang gisaeng. Jang Hyo Won membenarkan, mereka juga mengundang rombongan penari.
Rombongan gisaeng datang dengan Yoon Bok berada di urutan paling belakang. Hong Do mengangkat topengnya untuk melihat Yoon Bok dengan  hanbok wanita. Ia terlihat sangat cantik. Seorang gisaeng bertanya Yoon Bok berasal dari rumah gisaeng mana, karena ia merasa familiar dengan wajahnya. Yoon Bok berbohong bahwa ia berasal dari Pyeongyang, namanya Seo Ri. Ia datang khusus untuk memberi selamat kepada Byeok Soo.
Salah satu siswa magang dan Hyo Won terpesona melihat kecantikan Yoon Bok. Pemimpin gisaeng memberi selamat kepada Byeok Soo. Ia dan seluruh rombongan menghormat padanya. Karena tidak terbiasa, gerakan Yoon Bok salah, Hyo won datang untuk membantunya berdiri. Byeok Soo tiba-tiba menyuruh Yoon Bok untuk menemaninya. Yoon Bok duduk disamping Byeok Soo dan menyembunyikan wajahnya di balik chonmo (topi besar). Tarian pun mulai dipertunjukkan.
Yoon Bok meminta ijin untuk pergi ke belakang, Byeok Soo mengijinkannya. Yoon Bok pun segera pergi ke belakang rumah, Hyo Won mengikutinya. Hong Do melihat kejadian itu, ia pun memutuskan untuk mencari lukisan potret Byeok Soo. Yoon Bok bertanya pada seorang pelayan dimana pintu belakang rumah itu. Tuan Gong menggantikan Hong Do yang menyelinap pergi. Ketika sedang mencari pintu belakang, Yoon Bok bertemu Hyo Won yang bertanya kemana ia akan pergi. Yoon Bok berkata bahwa ia merasa bosan, jadi ia berjalan-jalan sebentar tetapi ia malah tersesat.
Yoon Bok memperkenalkan diri sebagai Seo Ri. Hyo Won memperkenalkan diri sebagai putra tuan rumah, Jang Hyo Won, ia menambahkan bahwa ia adalah orang termuda di Joseon yang diterima sebagai staff  Dohwaseo. Yoon Bok merasa tersedak. Ia kemudian memegang tangan Hyo Won untuk merayunya supaya diperbolehkan untuk melihat lukisan. Hyo Won yang terpesona oleh kecantikan Yoon Bok langsung menyetujuinya.
Ia membawa Yoon Bok ke perpustakaan, tapi pelayan yang menjaganya tidak memperbolehkan mereka masuk. Yoon Bok pura-pura sedih. Hyo Won pun memarahi kedua pelayan itu dan memaksa masuk. Setelah memberi uang, mereka diperbolehkan masuk.
Hong Do sedang mencari perpustakaan dengan peta yang diberikan tuan Gong. Sedangkan di saat yang sama, teman-teman Byeok Soo menyuruhnya untuk memeriksa perpustakaan, mereka takut sesuatu terjadi.
Hyo Won meunjukkan lukisan-lukisan keluarganya kepada Yoon Bok. Hyo Won mencoba memeluk Yoon Bok dari belakang, tapi Yoon Bok menghindar dan bertanya apakah keluarganya juga mempunyai lukisan potret. Hyo Won pun mengambilkannya.
Hong Do mendekati Yoon Bok dan membuka topengnya, ia bertanya kenapa Yoon Bok melakukan ini tanpa persetujuannya. Sebelum ia sempat menjawab, Hyo  Won datang, Yoon Bok menyuruh Hong Do segera pergi, ia menyambut Hyo Won untuk mengalihkan perhatiannya. Hyo Won memperlihatkan lukisan potret ayahnya, Yoon Bok ingin menyentuhnya, tapi Hyo Won melarang.
Yoon Bok pura-pura sedih dan kecewa, Hyo Won tidak tahan dan membiarkannya memegangnya.Yoon Bok bertanya lagi apakah lukisan Hyo Won juga disimpan disini. Hyo Won bergegas mengambilnya. Hong Do mendekati Yoon Bok dan memberikan lukisan pengganti. Tapi Hyo Won terlalu cepat datang, Yoon Bok segera menyembunyikan lukisan itu ke dalam chimanya (rok). Hyo Won merasa curiga, Yoon Bok beralasan bahwa korsetnya terlalu kencang sehingga ia tidak dapat bernapas, tapi Hyo Won tidak percaya, ia mendekati Yoon Bok. Hong Do melihatnya dan segera menendang agar pintu terbuka dan memakai topengnya. Ia bertanya apakah ruangan ini ada kamar mandinya. Yoon Bok segera pergi.. Hyo Won mengusir Hong Do dan menyimpan lukisan yang ditukar.
Hong Do segera pergi, tapi ia malah bertemu dengan Byeok Soo dan mata-matanya. Hong Do pura-pura mencari kamar mandi, mata-mata Byeok Soo menyuruhnya pergi. Byeok Soo merasa ada yang aneh, ia segera pergi ke perpustakaan.
Byeok Soo memeriksa kotak lukisan itu. lukisannya masih ada, ia merasa lega. Tapi baru berjalan beberapa langkah, ia merasa tidak tenang dan memeriksa lukisan itu dengan lebih teliti. Ia pun tahu bahwa lukisannya di tukar, ia segera menyuruh orang untuk mengejar Hong Do.
Byeok Soo memeriksa semua orang yang ada dalam rombongan tari itu, tapi Hong Do tidak ada disana. Seorang pelayan melihat Hong Do yang sedang berjalan, mereka mengejarnya, tapi Hong Do berhasil melarikan diri.
Yoon Bok menggantung 5 lukisan yang diperolehnya, tiba-tiba Hong Do datang dan menyuruhnya segera menurunkan lukisan itu dan pergi dari sana.Tapi mereka terlambat, Byeok Soo dan orang-orangnya telah sampai disana. Hong Do menyuruh Yoon Bok bersembunyi bersama lukisan-lukisan itu.
Byeok Soo bertanya kepada Hong Do dimana ia menyembunyikan lukisannya. Hong Do tidak mau mengaku. Mereka memukuli Hong Do, Yoon Bok melihatnya dengan ngeri. Byeok Soo akhirnya mengancam akan menghancurkan tangannya, tapi Hong Do tetap diam. Beberapa pelayan memegangi Hong Do dan menaruh tangannya di meja, sedangkan pelayan yang lain memegang benda yang terbuat dari besi untuk menghancurkan tangannya.

Yoon Bok tidak tahan lagi, ia menghambur keluar sambil melemparkan lukisan-lukisan itu ke lantai. Hong Do berteriak….

sumber: bengawanseoul.com

Painter Of The Wind – Episode 14

LUKISAN YE JIN YANG HILANG

Di istana, Hong Do dan Yoon Bok berlutut didepan Jeongjo. Jeongjo merasa sedih karena tidak bisa menjaga keselamatan mereka. Hong Do membantahnya, ia sudah begitu murah hati mengampuni kesalahan mereka. Jeongjo menyesal kenapa Dohwaseo menyia-nyiakan bakat Yoon Bok yang besar dengan memecatnya. Yoon Bok beralasan karena ia telah melakukan kejahatan yang besar.

Jeongjo menyuruh mereka mendekat, ia ingin meminta bantuan pada mereka berdua. Jeongjo menyuruh mereka untuk mencari lukisan potret kerajaan (Ye Jin) pangeran Sado yang hilang pada tahun 1766. Hong Do heran karena ia merasa pada tahun itu tidak ada lukisan Ye Jin. Jeongjo menjelaskan bahwa lukisan itu disembunyikan oleh orang-orang tertentu yang takut kejahatannya akan terungkap.
Jeongjo bercerita bahwa 10 tahun yang lalu Raja Yeongjo merasa menyesal telah menghukum putranya, oleh karena itu ia menyuruh dua orang pelukis untuk melukis potretnya, tapi sebelum potret itu diterima kakeknya, dua pelukis itu dibunuh secara kejam. Jeongjo merasa bahwa Hong Do dan Yoon Bok mampu mencari lukisan itu. Ingatan akan wajah ayahnya sudah samar-samar, ia takut kenangan itu hilang, oleh karena itu ia segera mencari lukisan Ye Jin ayahnya. Hong Do dan Yoon Bok menyetujuinya.
Hong Do dan Yoon Bok berada di perpustakaan untuk mencari referensi tentang tugas yang diberikan Jeongjo kepada mereka. Hong Do mengambil sebuah buku dan menyuruh Yoon Bok untuk mencatat apa yang dibacakannya. Ia membaca tentang berkas kematian Kang Soo Han, pelukis potret pangeran Sado.
Flashback.
Hong Do menemukan gurunya telah meninggal, petugas Uigembu pun datang untuk mencari bukti-bukti dan mengotopsi jenazah Kang Soo Han. Dohwaseo yang mengadakan upacara pemakaman. Ia meninggalkan dua putra Yu Won dan Ji Won.
Hong Do mengambil buku yang lain yang merupakan berkas kematian Seo Jing. Ketika Hong Do membacanya, Yoon Bok teringat peristiwa pembunuhan ayahnya, ia shock, kuasnya terjatuh. Hong Do heran, ia bertanya apakah Yoon Bok baik-baik saja. Yoon Bok hanya mengiyakan. Saat Hong Do membaca lagi, ia teringat kata-kata ayahnya. Yoon Bok tersadar bahwa saat itu ayahnya memberi petunjuk. Ia segera mencari diantara rak-rak dan mengambil dua buah lukisan. Hong Do mendekatinya dan melihat lukisan itu. Lukisan itu adalah lukisan burung bangau dan matahari senja sedangkan lukisan yang lain berupa lukisan pemandangan. Hong Do heran, kenapa lukisan itu ada disana. Karena tidak menemukan apapun, ia mengajak Yoon Bok pergi kerumah putra Kang Soo Han.
Ketika sampai dirumah itu, Yoon Bok khawatir apakah mereka akan diijinkan masuk, karena belum memberitahu pemilik rumah. Hong Do menenangkannya. Ketika Kang Yu Won bertemu dengan mereka, ia tidak mengenali Hong Do. Setelah ingat tentangnya, ia terlihat tidak senang dengan kedatangan mereka. Hong Do berkata ia datang karena ingin melihat lukisan gurunya. Tapi Yu Won menjawab bahwa semua lukisan ayahnya telah dibakar sebagai bekal ayahnya (tradisi Korea dan China, membakar uang kertas atau barang untuk dikirim kepada orang yang sudah meninggal.). Hong Do kaget, karena semua lukisan berharga yang seharusnya dijaga, malah dibakar. Yu Won  marah dan mengusir mereka.
Ketika akan keluar, seorang pelayan yang sudah tua menghentikan mereka dan berkata bahwa Kang Soo Han meninggalkan sesuatu untuk Hong Do. Ia memberikan sebuah amplop dan segera pergi.
Mereka membuka amplop itu dan heran karena isinya hanya sebuah lukisan pohon bambu. Yoon Bok memeriksanya, tapi tidak menemukan apapun. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, ia pun berkata pada Hong Do bahwa ia harus pergi.
Di kediaman Jo Nyeon akan diadakan pesta. Jo Nyeon bertanya pada seorang pelayan apakah ia melihat Yoon Bok atau tidak. Pelayan itu menjawab bahwa ia tidak melihatnya.
Yoon Bok bersiap-siap dikamarnya, sedangkan Jeong Hyang sedang berdandan, Ia bertanya pada Mi Nyeon apakah ia sudah terlihat cantik.
Jo Nyeon menyambut seorang tamu penting, namanya Kim Myung Nyung. Jo Nyeon berkata bahwa ia punya seorang pelukis yang berbakat, ia menginginkan Myung Nyung mengomentari lukisan Yoon Bok. Yoon Bok datang dan memberi salam pada Jo Nyeon dan tamunya
Pesta pun dimulai, Jeong Hyang memainkan geomungo (seperti kecapi, alat musik yang dimainkan Hwang Jini). Sedangkan Yoon Bok melukisnya sambil sesekali mereka bertukar pandangan. Mereka berkomunikasi lewat pandangan
Jeong Hyang (v/o): “Sekarang aku bisa bertemu denganmu lagi pelukis muda. Tolong beritahu aku tentang pengalamanmu sebagai pelukis.”
Yoon Bok (v/o): “Aku mempunyai banyak pengalaman tapi tidak tahu harus mulai darimana untuk menceritakan padamu.”
Jeong Hyang (v/o): “Perasaanku…selalu bersamamu….hanya bisa dikatakan melalui musikku.”
Yoon Bok (v/o): “Perasaanku juga hanya bisa dikatakan melalui lukisanku.”
Disaat yang sama Jo Nyeon mengira Jeong Hyang memainkan musik untuknya.
Kim Hong Do berdiri didepan Chawaseo.
Shin Yoon Bok meneruskan lukisannya (Resounding Geomungo, An Evening By The Lotus Pond), Myung Nyung memperhatikan Yoon Bok yang larut dalam lukisannya. Jeong Hyang selesai memainkan geomungonya, ketika seorang tamu yang mabuk datang mendekati Yoon Bok
Ia menghina lukisan Yoon Bok seperti lukisan anak-anak. Yoon Bok berusaha memintanya dengan baik-baik dan merebutnya. Jo Nyeon meminta maaf pada Myung Nyung dan memarahi tamu yang mabuk itu. Tamu itu berusaha merampas lukisan Yoon Bok lagi, tiba-tiba Hong Do datang dan memegang tangannya. Hong Do bertanya kenapa Yoon Bok ada disini. Yoon Bok menjawab bahwa sekarang ia bekerja di Chawaseo ini.
Tamu yang mabuk itu berusaha melepaskan tangannya, tapi Hong Do menyuruhnya diam. Jo Nyeon membenarkan bahwa Yoon Bok adalah pelukisnya yang baru. Hong Do memarahi Yoon Bok, Jo Nyeon membelanya, mereka pun berdebat. Yoon Bok yang merasa tidak enak meminta gurunya pergi.
Myung Nyung mengetuk gelasnya, mencari perhatian. Ia berkata pada Hong Do bahwa sifatnya tidak pernah berubah, ia juga marah ketika gurunya melukis untuknya. Hong Do berkata bahwa saat ini ia mempunyai hal penting yang harus diurusnya, jadi ia akan mampir ke rumahnya lain kali
Hong Do menyeret Yoon Bok pergi. Ia memarahinya lagi. Yoon Bok berkata bahwa ia ingin tetap disini karena orang-orang menghargai lukisannya. Hong Do bertanya padanya apakah ayahnya mengusirnya? Yoon Bok menjawab bahwa ia tidak punya tempat untuk pergi maupun kembali.
Yoon Bok: “Ini adalah pilihanku. Aku tidak bisa tinggal ditempat yang penuh kenangan kakakku. Mulai saat ini aku akan terus hidup dan mempergunakan kemampuanku disini. Tidak perlu bergantung pada Dohwaseo atau ayah. Akan hidup dengan kemampuanku sendiri, untuk menemukan jenis lukisanku sendiri.”
Hong Do: “Apa yang akan kau temukan di tempat yang penuh dengan orang-orang korup? Lukisan apa yang bisa kau buat? Kamu hanya menjadi seorang pelukis yang menjual jiwanya untuk uang. Apa kau pikir karena kau masih muda?”
Yoon Bok: “Aku…tidak akan menyesal.”
Mereka saling menatap.
Di kamarnya Yoon Bok menyelesaikan lukisannya. Ia teringat kata-kata Hong Do, tiba-tiba seorang pelayan datang dan memberitahunya bahwa Jo Nyeon ingin bertemu dengannya.
Yoon Bok memperlihatkan lukisannya. Jo Nyeon terlihat senang, Yoon Bok dan Jeong Hyang saling mencuri pandang.
Jo Nyeon memuji lukisannya, ia menyuruh Jeong Hyang untuk menilainya. Jeong Hyang menolak, ia beralasan karena ia tidak mengerti lukisan. Jo Nyeon memaksanya. Jeong Hyang akhirnya melihat lukisan Yoon Bok. Jo Nyeon bertanya siapa yang menjadi obyek lukisan itu. Jeong Hyang menjawab dengan ragu-ragu.
Jo Nyeon memeriksa sekali lagi dan berkata bahwa obyek lukisan itu adalah wanita yang memainkan geumungo yang duduk berhadapan dengan pelukis. Jeong Hyang merasa tidak nyaman.
Jo Nyeon bertanya apa yang terjadi pada tangan kanan Hong Do. Apakah ia dapat melukis lagi. Yoon Bok menjawab bahwa Hong Do pasti bisa melukis lagi.
Di rumah Yin Moon, Hong Do masih mengeluh tentang Yoon Bok. Yin Moon hanya berkomentar bahwa mereka adalah orang luar dan tidak berhak mencampuri urusan orang lain. Hong Do merasa khawatir dengan keadaan Yoon Bok.
Yin Moon: “Dan Won, selain dirimu, siapa lagi yang akan percaya padanya. Satu-satunya orang yang dapat ia andalkan hanyalah dirimu. Kamu pasti akan menjaganya dengan baik.”
Hong Do mendesah.
Kang Yu Won melapor pada Jo Young Jung bahwa Hong Do datang ke tempatnya untuk melihat lukisan ayahnya. Jo Young Jung meminta supaya ia melapor lagi jika Hong Do datang ketempatnya.
Kim Gui Joo heran kenapa tiba-tiba Hong Do pergi ke rumah gurunya. Jo Young Jung bertanya-tanya apakah ia mencari lukisan yang dibuat gurunya 10 tahun yang lalu. Kim Gui Joo tidak percaya. Jo Young Jung berpikir sebaiknya mereka waspada. Kim Gui Joo berkata bahwa ia akan menyuruh seseorang untuk memata-matai Hong Do.
Shin Yoon Bok dan salah satu pelukis Chawaseo sedang jalan-jalan di pasar. Yoon Bok melihat sebuah kaca pembesar, ia pun membelinya.
Di kediaman Hong Do, Yoon Bok menggunakan kaca pembesar tersebut untuk meneliti lukisan Kang Soo Han. Yoon Bok berusaha menghindari tatapan Hong Do. Hong Do bertanya kenapa ia tidak mendiskusikan hal itu terlebih dahulu dengannya sebelum ia mengambil keputusan. Yoon Bok tidak menjawab pertanyaannya dan terus meneliti lukisan pohon bambu itu. Yoon Bok mendapat ide, jangan-jangan petunjuknya berada di hutan bambu. Tapi Hong Do membantahnya karena di Joseon terdapat banyak hutan bambu.
Yoon Bok meneruskan penelitiannya. Hong Do bertanya kenapa Kim Myung Nyung datang ke pesta kemarin. Yoon Bok menjawab bahwa ia adalah pejabat tinggi pemerintahan yang diundang oleh Jo Nyeon. Tiba-tiba Yoon Bok teringat bahwa Myung Nyung berkata bahwa Kang Soo Han melukis sebuah potret untuknya. Hong Do membenarkan, tapi ia merasa ada yang aneh. Jeongjo berkata kalau gurunya meninggal ketika sedang melukis Ye Jin. Hong Do menyimpulkan bahwa ketika Kang Soo Han melukis Ye Jin, ia juga melukis untuk orang lain. Ia memutuskan akan ikut Yoon Bok ke rumah Myung Nyung  untuk mengantarkan lukisan.
Ketika Yoon Bok dan Hong Do tiba di rumah Myung Nyung, mereka bertabrakan dengan putranya yang mempunyai wajah tanpa ekspresi. Hong Do dan Yoon Bok terus masuk kedalam rumah. Yoon Bok memberikan lukisannya. Myung Nyung memuji lukisan Yoon Bok, baru kali ini ia melihat lukisan yang berani dan sedikit kurang ajar.
Myung Nyung bertanya untuk apa Hong Do datang ke tempatnya. Hong Do bertanya tentang potret yang dibuat gurunya 10 tahun yang lalu. Myung Nyung heran kenapa ia bertanya tentang hal itu. Hong Do berbohong bahwa ia sedang mengumpulkan lukisan gurunya. Myung Nyung bercerita bahwa Kang Soo Han sedang membuat potretnya, tapi beberapa hari kemudian ia meninggal.
Myung Nyung menyesal kenapa ia tidak membuang lukisan itu karena ada yang aneh didalamnya. Hong Do ingin melihat lukisan itu, tapi Myung Nyung mengingatkannya tentang peraturan. Hong Do menyanggupi.
Ketika keluar dari rumah Myung Nyung, Yoon Bok bertanya tentang peraturan itu. Hong Do menjelaskan bahwa dalan lingkungan seni jika kamu ingin melihat lukisan potret seseorang, kamu harus melukis sesuatu yang sepadan untuk diberikan kepada pemilik potret. Hong Do melihat tangannya yang diperban, ia khawatir, Myung Nyung akan memberikan topik yang aneh.
Tiba-tiba Yoon Bok teringat ia harus kembali ke Chawaseo, ia meminta Hong Do datang ketempatnya nanti malam. Hong Do tidak mau. Tapi Yoon Bok berkata bahwa ia tidak bebas bergerak, jadi sebaiknya Hong Do datang lewat pintu samping sehingga tidak ada yang melihat.
Para menteri mengadakan pertemuan. Kim Gui Joo bertanya pada Myung Nyung kenapa Hong Do datang ketempatnya. Myung Nyung menjawab bahwa Hong Do ingin melihat lukisan potretnya. Kim Gui Joo menyarankan supaya ia tidak mengijinkan mereka berdua. Myung Nyung terlihat tidak senang dan memintanya untuk tidak mencampuri urusannya.
Di kamar Ibu Suri Jeong Sun, Kim Gui Joo melaporkan bahwa Hong Do melacak lukisan gurunya 10 tahun yang lalu, ia menduga bahwa ia mulai menyelidiki kejadian 10 tahun yang lalu. Ibu Suri memerintahkan untuk mengawasinya dengan ketat. Kim Gui Joo menenangkannya, ia sudah mempunyai orang yang melakukannya.
Kim Hong Do datang ke tempat Yoon Bok.. Ia menggunakan berbagai cara untuk memanggil Yoon Bok, tapi tidak ada respon. Akhirnya ia memanggil namanya dengan keras, Yoon Bok keluar dan menyuruh Hong Do masuk kekamarnya. Hong Do kagum dengan kamar Yoon Bok yang mewah. Mereka membahas tentang subyek yang akan diberikan pada mereka oleh Myung Nyung. Hong Do menduga bahwa subyeknya adalah lukisan pemandangan, hutan pinus atau bambu. Yoon Bok menghitung jumlah bambu dalam lukisan Kang Soo Han, jumlahnya ada lima.
Hong Do bingung apa hubungan lukisan potret Myung Nyung dengan lukisan bambu itu serta arti dari semua ini. Yoon Bok masih penasaran dengan arti jumlah bambu itu, ia mencoba bertanya pada Hong Do tapi ia mengabaikannya.
Keesokan harinya Yoon Bok dan Hong Do pergi kerumah Myung Nyung. Kim Myung Nyung menyambut mereka, ia melihat tangan Hong Do yang diperban dan bertanya apakah ia bisa melukis dengan tangan seperti itu, Hong Do menjawab bahwa ia akan mencobanya.
Putra Myung Nyung yang berwajah seperti batu karena selalu tanpa ekspresi masuk kedalam ruangan. Subyek lukisannya adalah lukisan potret yang dapat membuat putranya tertawa. Hong Do dan Yoon Bok kaget, subyek itu terlalu sulit. Mereka berusaha menanyai putra Myung Nyung, tetapi ia tidak bereaksi hanya seperti patung.
Yoon Bok mengambil air untuk melukis, ia melihat dua orang pelayan wanita, ia pun bertanya kapan tuan muda berhenti tersenyum. Pelayan itu bercerita bahwa ketika tuannya masih muda, ia pergi menonton pertunjukkan bersama ibunya, setelah pulang, mereka berdua jatuh sakit. Ibunya meninggal dunia. Sejak saat itu tuan muda tidak pernah tersenyum lagi.

Yoon Bok datang ketempat Hong Do akan melukis, ia membisikkan sesuatu pada Homg Do. Myumg Nyung menyuruhnya untuk mulai melukis. Yoon Bok mengikat sebuah kuas ke tangan Hong Do yang diperban. Hong Do pun mulai melukis.

sumber: http://www.begawanseoul.com

Painter Of The Wind – Episode 13

HIDUP DAN MATI

Dengan susah payah Kim Hong Do berdiri dan berjalan menuju obor terdekat.
Hong Do: “Jika tangan seorang pelukis lebih penting dari nyawanya, aku kan mengorbankan tanganku untuk menyelamatkan Yoon Bok.”
Ia pun membakar tangannya sambil berteriak memohon pengampunan untuk Yoon Bok.

Hong Do dengan tangan kanan dibalut sedang berlutut dihadapan Jeongjo. Jeongjo heran mengapa ia melakukan itu. Hong Do bercerita bahwa pewarna Chu Sal yang akan mereka gunakan telah dirusak oleh seseorang, maka Yoon Bok meminta pada kakaknya untuk membuatkan warna yang sama. Hal itu membuatnya meninggal karena efek samping dari pembuatan warna. Oleh karena itu ketika para menteri menghina warna tersebut, Yoon Bok tidak dapat menahan kemarahan dan sakit hatinya.
Jeongjo masih belum bisa memaafkan Yoon Bok. Hong Do berkata bahwa bagi Yoon Bok, lukisan itu adalah untuk mempercayakan kelangsungan semangat dan jiwa seseorang, oleh karena itu ia menghancurkannya, ketika orang-orang mencelanya. Jeongjo pun memikirkan perkataan Hong Do.
Di Uigembu, seorang penjaga memberikan makanan terakhir bagi Yoon Bok. Ia hanya memandanginya dan teringat ketika melukis tempat minum, ia menggunakan kecap untuk menjelaskan teorinya.
Di saat yang sama Jeong Hyang sedang melihat burung dalam sangkar, ia teringat kata-kata Kim Jo Nyeon
Jo Nyeon (v/o): “Jika kamu akhirnya mau menerima hal yang sudah aku persiapkan, kamu hanya perlu melepaskan salah satu burung dalam sangkar itu.”
Jeong Hyang pun melepaskan salah satu burung itu.
Sasuke melaporkan pada Kim Jo Nyeon kalau Jeong Hyang melepaskan salah satu burung yang ada dalam sangkar.
Kim Hong Do datang ke Uigembu, ia menjenguk Yoon Bok. Yoon Bok senang melihat gurunya. Hong Do mengelus kepala Yoon Bok seperti anak kecil. Ketika melihat tangan Hong Do yang diperban, Yoon Bok bertanya apa yang telah terjadi. Hong Do hanya menjawab bahwa tidak terjadi apa-apa. Yoon Bok menangis, karena semua pasti karena dirinya.
Yoon Bok berkata bahwa ia sangat senang menjadi murid Hong Do, karena ia selalu disampingnya, selalu membelanya. Ia bertanya apakah  ia murid yang baik baginya. Hong Do mulai menangis, ia menjawab bahwa Yoon Bok bukan hanya sekedar murid baginya. Yoon Bok berterima kasih. Hong Do menyandarkan kepala Yoon Bok ke bahunya.
Hong Do: “Aku berharap bisa melukis lagi denganmu……Aku minta maaf. Aku tidak bisa menjagamu…..Aku benar-benar minta maaf!”
Hong Do memeluk Yoon Bok, mereka menangis bersama.
Kim Jo Nyeon sedang mendengarkan permainan gayageum Jeong Hyang. Ia bertanya kenapa Jeong Hyang melepaskan burung itu? Apakah ia sudah melupakan cinta pertamanya? Jeong Hyang berkata, seiring dengan permainan gayageumnya ini cintanya akan menghilang.
Jeong Hyang memuji Jo Nyeon pandai menilai seseorang, ia pasti mampu menilai kemampuan seorang pelukis. Jo Nyeon hanya tertawa, ia akan memberi hadiah bila Jeong Hyang bisa memberi contoh. Jeong Hyang menyebut Yoon Bok. Jo Nyeon mengakui bahwa Yoon Bok mempunyai bakat yang besar. Jeong Hyang menyarankan agar Yoon Bok direkrut di Chawaseo (galeri seni) miliknya, tapi sekarang mungkin terlambat. Jo Nyeon tertawa.
Jeongjo sedang berada dikamarnya, ia sedang berpikir.
Jeongjo: “Ini bukan hanya sekedar lukisan potret, tetapi untuk mempercayakan kelangsungan semangat dan jiwa seseorang.”
Para menteri berjalan menuju pavilion Shi Kang untuk bertemu dengan Jeongjo dan membicarakan masalah negara.
Kim Jo Nyeon sedang melihat lukisan festival dano karya Yoon Bok. Sasuke memberitahunya bahwa Yoon Bok adalah putra Shin Han Pyeong. Tiba-tiba Jo Nyeon mengenali gaya lukisan, goresan kuas dan pemilihan warnanya, ini seperti lukisan Yoon Bok yang pernah dijual padanya dengan nama pena Il Wyol San Nim.
Penjaga Uigembu membuka pintu penjara, ia menyuruh Yoon Bok keluar karena ia akan dieksekusi.
Di Paviliun Shi Kang, para menteri berkumpul di pintu masuk, mereka melihat lukisan potret Jeongjo tergeletak menutupi pintu, jika mereka ingin masuk, maka mereka harus menginjaknya. Mereka bingung dan takut kalau harus menginjak lukisan Jeongjo.
Jo Young Jung berpendapat bahwa Jeongjo sedang mengetes mereka, jika mereka tidak menginjak lukisan itu berarti mereka mengakui bahwa lukisan itu layak menjadi lukisan kerajaan. Dengan sombong ia segera masuk ke dalam paviliun dan menginjak lukisan itu. Menteri yang lain mengikutinya. Hong Guk Young melaporkan perbuatan para menteri ini kepada Jeongjo.

Yoon Bok dibawa ke tempat eksekusi, teman-temannya datang, mereka memanggil-manggil namanya. Yoon Bok melihat Hong Do berada diantara kerumunan. Mi Nyeon juga ada disana sedangkan Jo Nyeon dan Sasuke melihat dari jauh. Shin Yoon Bok berlutut di tempat eksekusi, ia menunggu takdirnya.
Di saat yang sama Jeong Hyang melihat hiasan kupu-kupu pemberian Yoon Bok, ia berdoa semoga ada keajaiban.

Jeongjo memasuki paviliun itu, ia bertanya siapa yang menginjak lukisannya. Jo Young Jung menjawab bahwa semua menteri yang hadir menginjaknya. Jeongjo bertanya kenapa mereka perlu menginjaknya. Jo Young Jung menjawab bahwa  Jeongjo pasti sedang mengetes mereka, apakah pendapat mereka ketika Pong Shi akan berubah. Mereka tetap tidak mengakui bahwa itu adalah lukisan kerajaan. Jeongjo bertanya sekali lagi memastikan bahwa lukisan itu bukan lukisan potret kerajaan. Jo Young Jung memastikannya.
Di tempat eksekusi, para petugas sudah datang, Pandangan Yoon Bok terlihat kosong, drum pun dibunyikan.
Di Shi Kang Paviliun, Jeongjo berkata bahwa 4 hari yang lalu ia menghukum seorang pelukis karena telah menghancurkan lukisan kerajaan, padahal sekarang mereka berkata bahwa lukisan itu bukan lukisan kerajaan, berarti keputusannya 4 hari yang lalu salah. Mereka tidak perlu menghukum pelukis itu. Jo Young Gung termakan omongannya sendiri dan tidak bisa berkata apapun.
Di tempat eksekusi, seorang petugas membacakan hukuman Yoon Bok, sedangkan seorang algojo mempersiapkan pedangnya. Orang-orang yang berkerumun mengasihani Yoon Bok, Hong Do mendesah, sedangkan Yoon Bok menangis.
Di Paviliun Shi Kang, Jeongjo menegaskan bahwa pelukis yang akan dieksekusi hari ini tidak bersalah, ia menekan Jo Young Gung untuk mengakui hal itu. Ia pun menyuruhnya untuk menghentikan eksekusi, jika ia terlambat, nyawanya ikut melayang.

Di tempat eksekusi, Hong Do tidak berani melihat, Yoon Bok memejamkan matanya, sedangkan algojo bersiap memenggalnya. Tiba-tiba seorang petugas datang ia membawa perintah kerajaan. Semua orang berlutut sambil mendengarkan perintah itu.
Menteri Uigembu: “Karena kemurahan hati Chusan Chona, eksekusi untuk pelukis Shin Yoon Bok di batalkan.”

Hong Do merasa lega, Yoon Bok menangis karena lega. Yoon Bok berterimakasih kepada Jeongjo. Petugas melepaskan tali pengikatnya, Yoon Bok terus meratap, berterimakasih. Hong Do pun memeluknya, menenangkannya, sedangkan teman-temannya melihatnya dengan iba. Jo Nyeon dan Sasuke meninggalkan tempat eksekusi.
Ibu Suri Jeong Sun marah mendengar laporan Jo Young Jung. Jo Young Jung pun minta maaf.
Yi Yin Moon memberitahu Shin Han Pyeong bahwa Yoon Bok telah diampuni, Han Pyeong hanya melihat ke suatu tempat.

Mi Nyeon memberitahu Jeong Hyang bahwa Yoon Bok masih hidup. Jeong Hyang sangat lega, ia mendekap hiasan kupu-kupunya dengan penuh rasa sayang.
Hong Do kembali ke Dohwaseo, semua jabatannya di Dohwaseo telah dikembalikan. Yoon Bok juga ada disana, ia mengumpulkan barang-barangnya, ia telah dipecat dari Dohwaseo. Ia berada dalam kamarnya, ia teringat kenangan dengan kakaknya. Yoon Bok meminta maaf pada kakaknya.

Jo Nyeon mengunjungi rumah Shin Han Pyeong, ia ingin mempekerjakan Yoon Bok di Chawaseonya. Ia menawarkan sejumlah uang sebagai kompensasi. Awalnya Han Pyeong menolak, Jo Nyeon terus merayunya.

Yoon Bok selesai berkemas. Ia pergi menemui Kim Hong Do. Hong Do menyesal, ia merasa belum mengajari Yoon Bok apapun. Yoon Bok berterimakasih atas semua kebaikan Hong Do, ia melihat tangan Hong Do dan meminta maaf. Hong Do bertanya kemana ia akan pergi. Yoon Bok menjawab bahwa ia kan pulang. Sebelum pergi, Hong Do menghadiahkan sesuatu kepada Yoon Bok sepasang segel yang di ukir. Yoon Bok menyegel lukisannya dengan Hong Do “A Story of The Route By The Stream”. Hong Do memberinya nama pena Hye Won
Hong Do: “Hye adalah sebuah spesies anggrek, Won artinya suatu tempat untuk menanam. Anggrek itu tidak begitu indah tapi mempunya wangi yang bisa tahan dalam perjalanan sampai 100 mil. Pergi dan ciptakan lukisan seni yang dapat diakui dunia.”
Yoon Bok berterimakasih.

Yoon Bok pulang ke rumahnya, ia teringat kenangannya dengan Young Bok ketika masih kecil. Ia pun pergi menemui ayahnya. Ayahnya berkata bahwa ia telah mempermalukan nama keluarga dan tidak ingin bertemu dengannya lagi. Ia memberikan sebuah alamat kepada Yoon Bok dan menyuruhnya pergi kesana dan bekerja di studio itu. Yoon Bok pun mengemasi barangnya dan pergi kesana.

Ia pergi ke Chawaseo milik Kim Jo Nyeon, disana ia dipermainkan oleh pelukis yang lain, tapi ia diselamatkan oleh seorang pembantu. Yoon Bok bertemu dengan Jo Nyeon. Jo Nyeon bertanya kenapa ia selalu melukis dengan penuh kontroversi, Yoon Bok hanya menjawab bahwa ia melukis apa yang ia suka dan ia ingin lukis. Jo Nyeon memuji keberanian Yoon Bok. Ia berkata lukisannya selalu menarik perhatian banyak orang, dan sekarang ia adalah salah satu pelukis di Chawaseo miliknya. Ia ingin menunjukkan sesuatu padanya.
Ia mengajak Yoon Bok ke tempat lelang barang seni miliknya. Jo Nyeon berkata bahwa orang-orang sekarang sangat jeli dan suka keindahan, Joseon membutuhkan pelukis berbakat untuk memenuhi permintaan mereka. Ia menganggap Yoon Bok pasti bisa melukis sesuatu yang dapat menarik perhatian banyak orang.
Jo Nyeon menunjukkan tempat tinggal Yoon Bok yang mewah. Jo Nyeon memintanya untuk membuat lukisan yang terbaik. Yoon Bok bertanya apa yang dimaksud dengan lukisan yang terbaik menurutnya. Jo Nyeon menjawab bahwa lukisan yang dapat membut orang mau membayar mahal untuknya.

Jo Nyeon pun mengajaknya pergi berjalan-jalan ke pasar. Sambil berjalan, ia menjelaskan kepada Yoon Bok
Jo Nyeon: “Apakah kau tahu kenapa orang mau mengeluarkan banyak uang?  Ini karena hati. Hati adalah sesuatu yang paling susah di taklukkan. Di dalam lukisan yang kau buat, kekuatannya dapat menggerakkan hati seseorang. Setelah ini lupakan semua masa lalumu. Aku akan membuatmu menjadi pelukis paling terkenal di Joseon.”
Jo Nyeon menanyakan nama pena Yoon Bok, Yoon bok menjawab bahwa nama penanya adalah Hye Won. Jo Nyeon memberinya sebuah tanda pengenal, dengan tanda itu ia bisa memperoleh apapun yang dibutuhkannya dan masuk kemanapun ia inginkan.

Jeongjo mengadakan pertemuan dengan menteri-menteri kepercayaannya. Mereka sedang membicarakan keinginan Jeongjo untuk membersihkan nama ayahnya. Tapi jika mereka salah langkah, maka bisa menimbulkan kekisruhan politik. Jeongjo berkata kalau sebelum meninggal, kakeknya berkata bahwa ia telah menyuruh 2 orang pelukis untuk melukis potret ayahnya, sebagai tanda penyesalan karena telah menghukum putranya yang tidak bersalah, tapi sayangnya, lukisan itu hilang.

Menteri yang mendukung Ibu Suri Jeong Sun pun mengadakan pertemuan. Mereka sedang mengamati langkah-langkah yang dibuat Jeongjo. Mereka merasa terancam karena Jeongjo mengampuni Yoon Bok dan Hong Do.

Jeongjo sedang minum teh bersama Ibu Suri Jeong Sun. Ibu Suri bertanya kenapa ia mengampuni Yoon Bok. Padahal pemerintahannya belum stabil, ia harus memperkuat dirinya sehingga banyak yang akan mengikutinya. Ia harus memperlihatkan apa yang ada dalam hatinya dan menjadi raja yang baik. Jeongjo berterimaksih atas nasehat Ibu Suri, tapi ia memandangnya seperti ia siap bertarung dengannya.
Ketika dalam perjalanan pulang bersama Hong Guk young, Jeongjo berkata padanya bahwa ini saat yang tepat untuk mencari lukisan ayahnya. Ia menyuruh Hong Guk Young untuk mencari Hong Do serta Yoon Bok dan menyuruh mereka berdua untuk menemuinya.

Jo Nyeon datang ketempat Jeong Hyang. Ia memberitahunya bahwa ia telah mempekerjakan Yoon Bok di Chawaseonya. Jeong Hyang terlihat  tidak peduli. Jo Nyeon juga memberitahunya bahwa ia akan mengadakan pameran seni, jadi Jeong Hyang harus berdandan yang cantik, ia pun pergi. Mi Nyeon bertanya kenapa Jeong Hyang begitu dingin. Jeong Hyang memberitahunya kalau ia terlihat senang, maka Jo Nyeon akan curiga dan hubungannya dengan Yoon Bok bisa ketahuan, nyawa mereka bisa dalam bahaya.
Yoon Bok sedang berjalan di jembatan, ia teringat kenangannya bersama Hong Do.
Hong Do (v/o): “Lukislah apa yang bisa kau lihat, bukan yang tidak bisa kau lihat.”
Tiba-tiba ia melihat Hong Do, tapi ternyata ia salah orang. Seorang kasim mendekatinya dan memberitahunya bahwa Jeongjo ingin bertemu dengannya.
Hong Do sedang berada di Dohwaseo, ia menemukan surat yang aneh, ternyata surat itu dari Jeongjo yang ingin bertemu dengannya.

Yoon Bok dan Hong Do bertemu di istana. Mereka terlihat senang setelah sekian lama tidak bertemu.
Hong Do dan Yoon Bok berlutut di depan Jeongjo. Mereka berterima kasih karena telah diberi pengampunan. Jeongjo memuji Hong Do yang telah begitu keras berusaha menyelamatkan Yoon Bok. Ia begitu terkesan dengan kekuatan persahabatan mereka. Ia menyuruh mereka berdua mendekat. Jeongjo meminta bantuan mereka berdua untuk menemukan lukisan ayahnya yang hilang. Hong Do dan Yoon Bok terkejut.

sumber: http://www.benwnseoul.com

Painter Of The Wind – Episode 12

PONG SHI (PENILAIAN)

Yoon Bok terbangun dari tidurnya. Ia melihat kakaknya ada di kamar. Young Bok menyuruhnya untuk tidur lebih lama lagi, ia pun beranjak pergi. Yoon Bok ingin ikut dengannya, tapi Young Bok mencegahnya. Ia membuka pintu, Sinar yang terang membuat Yoon Bok menutup matanya. Young Bok menghilang. Yoon Bok terbangun dengan keringat membasahi badannya. Ia melihat Hong Do yang tertidur di dekatnya. Ternyata ia hanya bermimpi.

Di kamar Young Bok, Shin Han Pyeong masuk, tubuh Shin Young Bok terbaring disana. Ibu Young Bok menyalahkan suaminya atas kejadian ini. Heo Ok menjelaskan Young Bok meninggal karena keracunan zat warna.
Heo Ok: “Semua ia lakukan untuk adiknya yang hebat. Ia membuat pewarna yang akan digunakan dalam Oh Ji Hwa Sa. Ia membuat banyak zat warna dalam waktu singkat. Karena itu ia terkena efek sampingnya. Teracuni oleh zat warna itu.
Han Pyeong memegang tangan anaknya, ia menangis sedih.
Hong Do bangun, ia melihat selimut yang ada dibadannya, kemudian ia melihat Yoon Bok yang sedang berkemas. Hong Do bertanya ia akan pergi kemana. Yoon Bok menjawab ia akan pulang dan menjenguk kakaknya. Hong Do heran dengan rasa persaudaraan antara keduanya. Bukan seperti kakak adik, tapi seperti sepasang kekasih. Yoon Bok tertawa dan membantahnya
Seorang kasim memberikan sebuah surat kepada Hong Do. Surat itu dari Shin Han Pyeong. Ia mengabarkan kematian Young Bok. Han Pyeong juga meminta Hong Do untuk membantunya menahan Yoon Bok disana. Ia takut kalau Yoon Bok tahu, ia akan membuat kesalahan atau keributan dalam Oh Ji Hwa Sa.
Hong Do mendekati Yoon bok yang bersiap untuk pulang. Hong Do menyuruhnya tinggal karena kesehatannya belum pulih benar. Yoon Bok mengatakan bahwa ia sudah sehat, semalam ia bermimpi aneh. Ia merasa sesuatu telah terjadi pada kakaknya, jadi ia ingin pulang dan melihat keadaannya.
Hong Do berusaha meyakinkan Yoon Bok, ia beralasan bahwa besok adalah Pong Si (penilaian), jika mereka tidak bisa menjawab pertanyaan dengan benar, nyawa mereka bisa hilang. Lagipula dalam Oh Ji Hwa Sa kali ini, Jeongjo telah melanggar semua aturan dan juga mereka tidak menggunakan pewarna Chu Sal. Jadi sebaiknya ia tinggal dan mempersiapkan diri untuk itu.
Para menteri sedang mengadakan pertemuan untuk membahas Pong Shi besok pagi. Mereka tahu bahwa Hong Do tidak menggunakan Chu Sal untuk mewarnai jubah Jeongjo, mereka menganggap hal ini mengindikasikan bahwa Jeongjo ingin membuat masalah dengan pemerintah. Menteri lain menyatakan bahwa Jeongjo pasti punya maksud tersembunyi, oleh karena itu mereka harus bersatu untuk menghadapi apa yang akan terjadi.
Shin Yoon Bok sedang menulis jurnal. Hong Do melihatnya. Setelah Yoon Bok selesai menulis, Hong Do memintanya untuk membacakan jurnal itu. Yoon Bok membacanya dengan keras, tiba-tiba seorang kasim datang memberitahu bahwa Jeongjo ingin bertemu dengannya. Hong Do pun segera berganti pakaian dengan jubah resminya. Yoon Bok membantunya memakaikan penutup kepalanya. Ia melihat penutup kepala Hong Do sudah sobek. Hong Do menyuruh Yoon Bok tetap disana mempersiapkan jawaban untuk Pong Shi besok. Setelah Hong Do pergi, Yoon Bok memutuskan untuk pergi ke Dohwaseo untuk mengambilkan penutup kepala yang baru.
Hong Do bertemu dengan Jeongjo. Jeongjo memberikan sebuah kuas padanya. Kuas itu digunakannya saat pertama kali bertemu dengan para menteri. Apapun pertanyaan mereka, Jeongjo selalu punya jawabannya. Ia berharap dengan membawa kuas itu, Hong Do dapat menghadapi setiap pertanyaan dan cecaran dari para menterinya.

 

Saat kembali dari Dohwaseo, secara tidak sengaja Yoon Bok mendengar pembicaraan beberapa siswa magang. Mereka sedang membicarakan kematian Young Bok. Yoon Bok mendekat, ia menanyakan apa yang terjadi dengan kakaknya.
Hong Do kembali dan menemukan bahwa Yoon Bok tidak ada didalam kamar. Hong Do bertanya pada penjaga, mereka menjawab bahwa Yoon Bok pergi ke Dohwaseo
Yoon Bok berlari pulang ke rumahnya. Ia tidak percaya bahwa kakaknya telah meninggal. Selama berlari, ia teringat waktu-waktu yang dihabiskannya bersamanya.
Teman Yoon Bok merasa sedih karena telah memberitahu keadaan Young Bok. Mereka menyalahkan diri sendiri. Hong Do datang. Mereka memberitahu bahwa mereka bertemu dengan Yoon Bok. Hong Do bertanya apakah mereka memberitahu keadaan Young Bok? Mereka membenarkan. Hong Do segera pergi ke rumah Shin Han Pyeong.
Yoon Bok sampai dirumahnya, ia melihat lampu pemakaman dan semua ritualnya. Yoon Bok segera berlari ke kamar Young Bok. Ia membuka pintu dan membuka penutup wajah kakaknya, kemudian menangis. Han Pyeong bertanya kenapa ia berada disini dan kemudian menyuruh Yoon Bok pergi karena sebelum Oh Ji Hwa Sa selesai ia tidak boleh pulang. Yoon Bok tidak mau, baginya Oh Ji Hwa Sa sudah tidak penting lagi. Han Pyeong berusaha menyadarkannya, bahwa Young Bok meninggal karena dirinya, oleh karena itu ia harus menyelesaikannya untuk menebus kesalahannya pada kakaknya. Yoon Bok tidak mau. Mereka saling berteriak selama beberapa lama. Akhirnya Hong Do menyuruh Yoon Bok untuk pergi, Yoon Bok masih tidak mau juga. Hong Do menariknya keluar. Ia duduk di sebelah Yoon Bok yang masih menangis.
Yoon Bok: “Kenapa kau tidak memberitahuku? Kakak sudah jadi begini. Kenapa kau tidak memberitahuku?”
Hong Do : “Aku tidak sanggup memberitahumu.”
Yoon Bok: “Karena ingin Hyung kembali ke Dohwaseo aku mengikuti Oh Ji Hwa Sa. Tapi aku tidak dapat menanggungnya lagi. Selalu karena aku……Hyung karena aku…..menjadi begini.”
Hong Do: “Sekarang kau berada disini, dapatkah kau mengubah sesuatu? Apa yang bisa kau ubah? Apakah kakakmu akan hidup lagi? Apakah kau pikir menjadi Hwa Jang (pelukis Dancheong) itu mudah? Jika senang maka senanglah, jika sedih maka sedihlah. Apakah kau akan melukis saat kau ingin melukis saja?”
Yoon Bok: “Apa yang harus kulakukan?”
Hong Do: “Apa harapan dan keinginan kakakmu untukmu? Apa kau pikir harapan dan keinginan kakakmu supaya kau duduk diam disini? Apakah kau perlu bertanya? Apakah masih perlu bertanya padaku apa yang harus kau lakukan? Kemudian….kemudian kau masih tidak mau menyelesaikan ini? Apakah kau akan berhenti melukis?
Yoon Bok menangis dan Hong Do menepuk punggungnya untuk menenangkannya. Hong Do kemudian menyandarkan kepala Yoon Bok ke bahunya.
Ibu Suri Jeong Sun sedang memainkan bulu merak di kamarnya. Ia meminta Kim Gui Jo untuk mencegah penyempurnaan Oh Ji Hwa Sa. Jo Young Jung berkata bahwa semua menteri setuju untuk bersatu melawan Jeongjo.
Shin Yoon Bok dan Kim Hong Do berjalan dengan sedih. Mereka bertemu dengan Hong Guk Young yang menanyakan apakah mereka sudah mempersiapkan semuanya. Mereka mengiyakan. Hong Do menyuruh Yoon Bok melakukan yang terbaik demi kakaknya.
Hari Pong Shi pun tiba. Jeongjo, Hong Do, Yoon Bok, semua menteri dan team penilai telah hadir. Jeongjo menyuruh mereka menilainya, mereka boleh bertanya kepada dua pelukis tapi tidak boleh membuat pernyataan maupun tidak boleh curiga sedikit pun. Lukisan pun di buka, mereka mulai mengamati lukisannya.
Seorang menteri bertanya kenapa Jeongjo dilukis sedang tersenyum?  Hong Do menjawab itu mewakili semua emosi dan senyuman itu selamanya tidak pernah berubah.
Seorang lagi bertanya kenapa pada lukisannya, Jeongjo tidak duduk ditengah-tengah. Hong Do menjawab bahwa duduk sedikit kesamping, selain memperlihatkan wajah frontal juga memperlihatkan salah satu sisi wajah. Ini mengingatkan bahwa Chusan Chona selalu melihat masalah dari kedua sisi.
Seorang menteri bertanya kenapa tangan Jeongjo kelihatan. Hong Do : “Ini menandakan bahwa semua keinginan dapat terlihat dan memperoleh pengetahuan untuk mendapatkan kekuatan.
Semua pertanyaan menteri dapat dijawab dengan baik. Akhirnya para menteri meminta untuk reses. Jeongjo mengabulkan.
Mereka berkumpul di halaman dan sepakat akan mempermasalahkan warna kali ini.
Penilaian pun dimulai lagi. Jang Byeok Soo mempermasalahkan bahwa mereka tidak mempergunakan warna Chu Sal. Hong Do menjawab bahwa pewarna yang digunakan berasal dari bunga yang ada dari Joseon, jadi warna ini benar-benar merepresentasikan Joseon, sedangkan Chu Sal berasal dari China.
Byeok Soo mempertanyakan dimana pewarna Chu Sal yang telah disediakan, apakah mereka menjualnya. Seorang menteri berkata bahwa warna ini kasar dan tidak bermutu. Yoon Bok sedih karena mereka mengkritik warna yang di buat kakaknya.
Kritikan mereka semakin tajam dan semakin menyakiti hati Yoon Bok, ia menangis tak tahan mendengarnya. Jeongjo pun tidak dapat mengendalikan situasi. Akhirnya Yoon Bok berjalan ke depan dan menyentuh lukisan itu.
Yoon Bok: “Lukisan ini vulgar dan gradasi warnanya jelek.. Bagaimana ini bisa disebut potret. Saya merasa lukisan ini bukan lukisan potret, lagipula subyek dalam lukisan ini sama sekali tidak mencerminkan diri Chusan Chona. Saya mengerti perkataan kalian.”
Dalam satu kali gerakan Yoon Bok menyobek lukisan itu. Semua kaget. Jeongjo merasa kecewa saat seorang pengawal memaksa Yoon Bok untuk berlutut di hadapan Jeongjo. Jeongjo marah menganggap Yoon Bok membodohinya. Hong Do ikut berlutut, memohon pengampunan untuk Yoon Bok. Jeongjo yang sangat marah menyuruh pengawal untuk menangkap keduanya.
Ibu Suri Jeong Sun kaget mendengar Yoon Bok menyobek potret Jeongjo. Para kroninya senang karena mereka dapat menggagalkan rencana Jeongjo tanpa banyak berusaha.
Yin Moon pergi ke rumah Han Pyeong, ia memberitahunya bahwa Yoon Bok menyobek potret Jeongjo. Han Pyeong kaget. Ia bertanya dimana Yoon Bok sekarang, Yin Moon menjawab bahwa Yoon Bok berada di Uigembu (kantor polisi). Han Pyeong segera pergi kesana.
Hong Do dan Yoon Bok ada dalam satu sel. Yoon Bok meminta maaf pada Hong Do, saat itu ia sangat marah jadi tidak bisa mengontrol dirinya. Hong Do agak kesal padanya, ia memarahinya dan menyuruhnya jangan terus menangis.
Hong Do: “Kamu perlu menguatkan hatimu dan kemauanmu. Kamu tidak boleh menyerah. Aku tidak akan pernah menyerah untukmu.”
Para menteri minta bertemu dengan Jeongjo. Mereka membahas tentang perbuatan Yoon Bok. Mereka minta keduanya dihukum mati karena dianggap pengkhianatan terhadap negara. Hong Guk Young meminta Jeongjo untuk mempertimbangkan Kim Hong Do karena ia tidak ikut menyobek potret itu. Jeongjo menjadi dilema.
Shin Han Pyeong berlari menuju Uigembu, ia bertemu  dangan Yin Moon dan Jung Suk. Hari ini keputusan Jeongjo terhadap Yoon Bok dan Hong Do akan dibacakan.
Seorang petugas membacakan keputusan itu. Hong Do dibebaskan dari penjara tapi semua titel dan jabatannya di Dohwaseo dihapus, sedangkan Yoon Bok dijatuhi hukuman mati. Pelaksanaannya tiga hari lagi.
Yoon Bok hanya menangis mendengar keputusan itu, ia meminta Hong Do untuk tidak berbuat sesuatu yang gegabah. Hong Do memohon supaya ia juga dihukum bersama Yoon Bok, ia berteriak-teriak memohon supaya Yoon Bok diselamatkan.
Para penjaga melepaskan ikatannya dan menyeretnya keluar dari Uigembu. Hong Do masih berteriak, meminta mereka menyelamatkan nyawa Yoon Bok. Shi Han Pyeong yang tahu bahwa Yoon Bok akan dihukum mati, berjalan pulang, ia merasa shock. Hong Do diseret ke jalanan, Yin Moon dan Jung Suk mencoba menahannya ketika ia ingin menggedor pintu Uigembu lagi.
Hong Do menghadap Jeongjo. Jeongjo berkata bahwa ia tidak dapat memaafkan kesalahan Yoon Bok, karena ia telah menghancurkan impian dan harapannya selama bertahun-tahun. Hong Do tetap memohon pada Jeongjo untuk menyelamatkan Yoon Bok. Jeongjo marah dan menyuruh pengawalnya menyeret Hong Do keluar dari istana.
Yoon Bok sedang duduk sendirian didalam selnya. Han Pyeong datang menjenguknya. Han Pyeong memarahinya, Yoon Bok meminta maaf pada ayahnya. Han Pyeong tidak mau mengakui Yoon Bok sebagai anaknya lagi karena ia telah mencemarkan nama keluarganya dan ia tidak ingin bertemu dengannya lagi. Yoon Bok semakin sedih. Han Pyeong keluar dari Uigembu. Ia duduk ditangga, menangis dan menyalahkan dirinya sendiri.
Kim Jo Nyeon sedang menghibur para menteri dan Jang Byeok Soo. Jeong Hyang sedang memainkan gayageumnya untuk meramaikan suasana. Mereka sedang membicarakan Yoon Bok. Jo Nyeon merasa kasihan padanya. Ia merasa Yoon Bok bukan pelukis biasa, ia mempunyai bakat yang besar. Jeong Hyang langsung menghentikan permainannya ketika mendengar nama Yoon Bok disebut. Ia bermain lagi untuk menghindari kecurigaan Jo Nyeon.
Jeong Hyang kembali ke kamarnya. Ia berkata pada pembantunya Mi Nyeon bahwa Yoon Bok akan dihukum mati, ia sangat ingin bertemu dengan Yoon Bok. Tapi Mi Nyeon mengingatkan bahwa mereka selalu diawasi oleh Jo Nyeon.
Hong Do masih ingin menyelamatkan Yoon Bok. Yin Moon mengingatkan bahwa kesalahan Yoon Bok sangat berat. Tapi Hong Do berjanji akan menyelamatkan Yoon Bok dengan berbagai cara.
Hong Do pergi ke istana, ia berlutut dan memohon agar Yoon Bok diampuni. Saat itu Jeongjo sedang berada di kamarnya, ia sedang melukis tapi kelihatannya tidak berkonsentrasi.
Hong Do masih berlutut didepan istana. Sekelompok menteri datang ke istana, mereka mengejek Hong Do.
Hong Guk Young bertemu dengan Jeongjo. Jeongjo bertanya kenapa ia datang pagi-pagi sekali. Hong Guk Young melaporkan bahwa diluar istana Hong Do sedang berlutut dan memohon agar Jeongjo mengampuni Yoon Bok. Jeongjo tidak mau mendengar tentang itu lagi, ia ingin tahu gerakan Ibu Suri dan kroninya. Ia menyuruh Hong Guk Young untuk mengawasi mereka. Kelihatannya Jeongjo sedang merencanakan sesuatu. Ia memakai Hong Do dan Yoon Bok sebagai umpannya
Saat itu, Ibu Suri Jeong Sun sedang bertemu dengan kroninya. Ia bertanya apakah Hong Do masih berlutut di depan istana, mereka membenarkannya. Byeok Soo berkata bahwa titel dan jabatan Hong Do di Dohwaseo telah dihapus. Tapi Ibu Suri masih merasa ragu. Intuisinya mengatakan ada yang tidak benar, tapi kroninya merasa sangat percaya diri bahwa Yoon Bok akan tetap dieksekusi.
Mi Nyeon menyogok pengawal Uigembu untuk mendapatkan ijin masuk. Jeong Hyang masuk ke dalam sel Yoon Bok, ia melihat Yoon Bok yang sedang tidur. Kemudian ia membangunkannya. Yoon Bok kaget melihat Jeong Hyang ada disana, ia meminta maaf padanya. Jeong Hyang bertanya kapan eksekusinya dilaksnakan, Yoon Bok pun menjawab bahwa ia akan dieksekusi dua hari lagi.
Jeong Hyang menangis. Yoon Bok berusaha menenangkannya, ia berkata bahwa Hong Do sedang berusaha untuk menyelamatkannya, jadi ia jangan khawatir. Bukankah Jeong Hyang sendiri yang berkata bahwa ia harus menggantungkan harapannya pada gurunya.
Jeong Hyang: “Jika kita bertemu lagi, aku berjanji tidak akan menangis lagi. Aku akan berusaha mencari jalan, walaupun saat ini aku dibatasi di rumah. Aku akan menggunakan semua kemampuanku untuk mengeluarkanmu dari sini.”
Yoon Bok menghapus air mata Jeong Hyang.
Malam pun tiba, Hong Do masih berlutut. Sekelompok menteri menghinanya.
Hong Do: “Semuanya…!! Apakah kalian ingin tahu artinya perasaan dan ketulusan? Apakah kalian ingin tahu arti ketulusan? Sepertinya kalian tidak punya ketulusan sedikit pun. Aku akan mengajari kalian tentang ini!”
Setelah berlutut selama beberapa lama, Hong Do jadi susah berdiri atau berjalan. Ia memaksakan dirinya pergi ke obor yang paling dekat.

Hong Do: “Tangan pelukis lebih penting dibandingkan nyawanya. Aku akan menggunakan tangan ini sebagai alat untuk menyelamatkan Yoon Bok.”
Hong Do memasukkan tangannya ke dalam api, sambil berteriak memohon ampunan untuk Yoon Bok. Para menteri kaget. Hong Guk Young keluar dari istana, kaget melihat kenekatan Hong Do.

sumber: http://www.bengawanseoul.com